Anda di halaman 1dari 4

Pada proses trauma mekanik akan terjadi beberapa collision (benturan), mekanisme dari benturan ini bisa membantu

dalam memprediksi bagian tubuh mana saja yang mungkin cedera. 1. Primary collision Benturan yang bermula dari pergerakan sebuah benda dengan benda yang lain tanpa menghiraukan keadaan luar. Cth : Mobil dengan Mobil lainnya 2. Secondary collision Benturan yang terjadi dari manusia terhadap benda yg bergerak maupun tidak bergerak. Cth : Manusia dengan Stir Mobil 3. Tertiary collision Benturan yang terjadi didalam organ manusia karena efek benturan yang terjadi diluar tubuh manusia. Cth : Paru dengan Costae 4. Subsidary collision Benturan yang terjadi akibat adanya partikel atau benda tambahan yang mengenai manusia. Cth : Botol, Helm dengan Kepala manusia

2.3 Penatalaksanaan Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka adalah 1. Obati fraktur terbuka sebagai suatu kegawatan 2. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan kematian 3. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat,di kamar operasi dan setelah operasi 4. Segera dilakukan debridemen dan irigasi yang baik 5. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya 6. Stabilisasi fraktur 7. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari 8. Lakukan bone graft autogenous secepatnya 9. Rehabilitasi anggota gerak lainnya 2.3.1 Tahap-Tahap Pengobatan Fraktur terbuka 1. Pembersihan luka

Hal ini dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. 2. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen) Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit,jaringan subkutaneus,lemak,fasia,otot dan fragmen-fragmen yang lepas 3. Pengobatan fraktur itu sendiri Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu traksi skeletal atau reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna tulang. Fraktur grade II dan II sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna. 4. Penutupan kulit Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai dari terjadinya kecelakaan),maka sebaiknya kulit ditutup. Hal ini tidak dilakukan apabila penutupan membuat kulit sangat tegang. Dapat dilakukan split thickness skin-graft serta pemasangan drainasi isap untuk mencegah akumulasi darah dan serum pada luka yang dalam. Luka dapat dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak lebih dari 10 hari. Kulit dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure. Yang perlu mendapat perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang mengakibatkan kulit menjadi tegang. 5. Pemberian antibiotik Hal ini bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dalam dosis yang adekuat sebelum,pada saat dan sesudah tindakan operasi. 6. Pencegahan tetanus Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid tapi bagi yang belum,dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia). 2.4 Komplikasi Fraktur Terbuka Komplikasi fraktur dapat terjadi secara spontan,karena iatrogenik atau oleh karena tindakan pengobatan. Komplikasi umumnya akibat tiga faktor utama,yaitu penekanan lokal, traksi yang berlebihan dan infeksi. Komplikasi oleh akibat tindakan pengobatan (iatrogenik) umumnya dapat dicegah. 1. Perdarahan, syok septik sampai kematian 2. Septikemia,toksemia oleh karena infeksi piogenik

3. Tetanus 4. Gangren 5. Perdarahan sekunder 6. Osteomielitis kronik 7. Delayed union 8. Nonunion dan malunion 9. Kekakuan sendi 10. Komplikasi lain oleh karena perawatan yang lama 2.5 Perawatan Lanjut dan Rehabilitasi Fraktur Ada lima tujuan pengobatan fraktur: 1. Menghilangkan nyeri 2. Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang memadai dari fragmen fraktur 3. Mengharapkan dan mengusahakan union 4. Mengembalikan fungsi secara optimal dengan cara mempertahankan fungsi otot dan sendi,mencegah atrofi otot,adhesi dan kekakuan sendi,mecegah terjadinya komplikasi seperti dekubitus,trombosis vena,infeksi saluran kencing serta pembentukan batu ginjal. 5. Mengembalikan fungsi secara maksimal merupakan tujuan akhir pengobatan fraktur. Sejak awal penderita harus dituntun secara psikologis untuk membantu penyembuhan dan pemberian fisioterapi untuk memperkuat otot-otot serta gerakan sendi baik secara isometrik (latihan aktif statik) pada setiap otot yang berada pada lingkup fraktur serta isotonik yaitu latihan aktif dinamik pada otot-otot tungkai dan punggung. Diperlukan pula terapi okupasi.

Brunner dan Suddarth, ( 2002 ), Buku Ajar Perawatan Medikal Bedah, Volume 2, Edisi 8, Alih Bahasa : dr. Andry Hartono, dr. H.Y.Kuncara, Elyna S. Laura Siahan, S.kp dan Agung waluyo, S.Kp. Jakarta : EGC

Corwin, Elizabeth. J, ( 2001 ), Buku Saku Patofisiologi, Jakarta : EGC Doenges, Marilynn. E. at al, ( 2000 ), Rencana Asuhan Keperawatan : PedomanPerencanaan Pendokumentasaian Perawatan Pasien, edisi 3, Alih Bahasa : I Made Kariasa, S. Kp, Ni Made Sumarwati,S. Kp, Monica Ester, S. Kp, Yasmin Asih, S. Kp. EGC, Jakarta

Muttaqin,Arif. (2011).Buku Saku Gangguan Muskuloskeletal: Aplikasi Pada Praktik Klinik Keperawatan. Jakarta : EGC