Anda di halaman 1dari 2

Obat-obatan yang dapat menyebabkan inkontinensia urin 1.

Obat hipertensi Orang yang memiliki tekanan darah tinggi dan mengonsumsi obat hipertensi jenis alpha-blocker seperti doxazosin mesylate, prazosin hidroklorida, terazosin hydrochloride, mungkin berisiko mengalami inkontinensia. Mengapa? Karena alpha-blocker bekerja untuk menurunkan tekanan darah dengan mengendurkan dinding pembuluh darah. Masalahnya, obat ini ternyata juga mengendurkan kandung kemih bersamaan dengan pembuluh darah. Hal ini membuat Anda rentan terhadap stres inkontinensia, yang memungkinkan urin keluar tanpa sengaja ketika Anda bersin, batuk, tertawa, berlari, atau melompat. Apa yang harus dilakukan? Anda dapat memulai dengan melakukan latihan kegel untuk meningkatkan kemampuan Anda untuk mengontrol otot-otot kandung kemih. Kontrol otot yang baik mungkin bisa mengatasi efek relaksasi dari alfa-blocker. 2. Terapi hormon Terapi hormon yang dimaksud bisa dalam bentuk pil oral estrogen saja atau kombinasi antara estrogen dan progesteron. Sejauh ini para peneliti tidak mengetahui secara pasti kenapa hal ini bisa terjadi. Bahkan sampai saat ini, terapi hormon masih dianggap dapat membantu mengobati masalah inkontinensia, tapi sekarang justru dapat memicu atau memperburuk inkontinensia. Untuk beberapa wanita yang menggunakan hormon estrogen dalam bentuk krim atau patch, cara ini dapat membantu mencegah atau mengurangi inkontinensia. 3. Antidepresan dan obat mental lainnya Seperti obat dengan efek antikolinergik, yang berarti obat yang menghambat neurotransmitter seperti nortriptylene, amitriptyline, desipramine, benztropine, haloperidol dan risperidone.Obatobatan tersebut mempengaruhi elastisitas kandung kemih sehingga urin terus memasuki kandung kemih, yang menyebabkan inkontinensia. Menariknya, beberapa antidepresan trisiklik diketahui dapat membantu masalah inkontinensia. 4. Diuretik Berbagai macam obat diuretik dengan nama merek Bumex, Lasix, Aldactone atau jenis generik seperti bumetanide, spironolactone, furosemid, teofilin, dan semua jenis "thiazides" (seperti hydrochlorothiazide), adalah obat lini pertama yang paling sering diresepkan untuk hipertensi. Namun obat ini diketahui juga dapat memicu inkontinensia. Obat-obatan diuretik dapat merangsang ginjal untuk membuang kelebihan air dan garam dari dalam tubuh. Karena tubuh memproduksi lebih banyak urin, hal ini membuat adanya peningkatan tekanan pada kandung kemih. Cara mengatasi, Anda dapat mengambil obat diuretik ketika pagi hari, bukan pada malam hari. 5. Dekongestan dan antihistamin Obat dengan kandungan zat aktif seperti pseudoefedrin, diphenhydramine juga dapat merangsang Anda untuk mengompol. Cara kerja: Dekongestan yang mengandung pseudoefedrin dapat memicu kontraksi sfingter uretra, menyebabkan retensi urin, yang pada wanita sering disertai dengan inkontinensia overflow mendadak. Namun, pada pria yang memiliki kebocoran setelah operasi prostat, konsumsi obat Sudafed justru dapat menekan otot-otot kandung kemih, sehingga mencegah

kebocoran. Beberapa jenis antihistamin juga dapat membuat Anda mengantuk, yang dapat menyebabkan inkontinensia pada orang tua khususnya. Apa yang harus dilakukan: Cobalah mengambil dekongestan yang berbeda, seperti loratadine, yang tidak memiliki efek samping pada kandung kemih. 6. Obat penenang dan obat tidur Beberapa obat penenang atau tidur seperti Ativan, Valium, Dalmane, Lunesta, Ambien, diazepam, flurazepam, lorazepam, eszopiclone dan zolpidem dapat menjadi pemicu terjadinya inkontinensia. Cara kerja: Konsumsi obat sedatif dapat memperlambat refleks Anda, sehingga Anda tidak mengenali sinyal bahwa sudah waktunya untuk pergi ke kamar mandi. Kebiasaan mengompol mempengaruhi sekitar 10 persen orang dengan inkontinensia, dan para ahli memperkirakan bahwa konsumsi obat tidur turut berkontribusi dalam memicu hal tersebut. Apa yang harus dilakukan: Daripada harus mengambil obat penenang dan tidur, cobalah solusi alami untuk mengatasi masalah kecemasan dan gangguan tidur Anda. Konsumsi melatonin satu jam sebelum tidur dapat menjadi cara yang efektif untuk mengatasi masalah gangguan tidur, karena melatonin merupakan hormon alami yang dapat memberitahu otak Anda untuk segera tidur. 7. Obat penghilang rasa sakit Setiap obat penghilang rasa sakit berbahan dasar opium dapat mengganggu kemampuan kandung kemih untuk berkontraksi penuh. Hal ini dapat menyebabkan retensi urin dan inkontinensia overflow. Obat penghilang rasa sakit opioid juga menyebabkan sembelit. Apa yang harus dilakukan? Hindari obat penghilang rasa sakit opioid jika Anda bisa. Jika Anda memang memerlukan obat penghilang sakit setelah menjalani operasi (pembedahan), mintalah ke dokter Anda untuk memilih obat nonopioid.