Anda di halaman 1dari 54

Definisi: diskolonisasi kuning pada kulit atau organ lain akibat penumpukan bilirubin Penyebab: terjadinya hiperbilirubinemia secara

a garis besar adalah produksi bilirubin berlebih, gangguan proses uptake dan konjugasi hepar, gangguan transportasi dalam metabolisme dan gangguan dalam ekskresi

Warna kulit tubuh tampak kuning, paling baik dengan pengamatan dengan cahaya matahari dan menekan sedikit kulit untuk menghilangkan warna karena pengaruh sirkulasi darah Gejala klinis kern-ikterus: bayi tidak mau menghisap, letargi, mata berputar, gerakan tak menentu, kejang tonus otot meninggi, leher kaku

Derajat ikterus di tentukan dgn melihat kadar bilirubin direk dan indirek, atau secara klinis menurut Kraemer dibawah sinar biasa

Daerah 1 2 3 4 5

Luas Ikterus Kepala dan leher Daerah 1+ badan bagian atas Daerah 1, 2 + badan bagian bawah dan tungkai Daerah 1, 2, 3+ lengan dan kaki dibawah lutut Daerah 1, 2, 3, 4 + tangan dan kaki

Kadar Bilirubin (mg%) 5 9 11 12 16

Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987): 1. Timbul pada hari kedua-ketiga 2. Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.

3. 4. 5. 6.

Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg % Ikterus hilang pada 10 hari pertama Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu

suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus bila tidak ditanggulangi dengan baik, o atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. o Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
o

Disertai dengan tanda sbb: BB < 2000 gr Masa gestasi < 36 minggu Asfiksia Hipoksia Sindrom gawat nafas neonatus (SGNN) Infeksi Trauma lahir pada kepala Hipoglikemia

suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada dasar Ventrikulus IV.

Imaturitas BBLR Hipoksia Trauma Infeksi Hipoglikemia hiperosmolalitas

Ikterus

yang terjadi pada 24 jam pertama sebagian besar disebabkan oleh : Inkompatibilitas darah Rh,ABO, atau golongan lain Infeksiintra uterine Kadang-kadang karena defisiensi enzim G-6-PD

Biasanya ikterus fisiologis Masih ada kemungkinan inkompatibilitas darah Rh, ABO atau golongan lain Defisiensi enzim G-6-PD atau enzim eritrosit lain juga masih mungkin. Policitemia Hemolisis perdarahan tertutup *(perdarahan subaponerosis,perdarahan hepar, sub capsula dll)

Sepsis Dehidrasi dan asidosis Defisiensi G-6-PD Pegaruh obat-obatan Sindroma Criggler-Najjar , sindroma Gilbert

Ikterus obtruktive Hipotiroidisme Breast milk jaundice Infeksi Hepatitis neonatal Galaktosemia

Proses pengelolaan dengan mengendalikan konsentrasi bilirubin supaya tidak mencapai nilai tertentu yang dapat menyebabkan terjadinya kern-ikterus Cara pengendalian hiperbilirubinemia yang dapat dilakukan adalah menstimulasi konjugasi bilirubin, misalnya dgn glukose atau pemberian albumin,

menambah zat-zat yang kurang dalam transportasi dan metabolisme bilirubin misalnya albumin dan glukosa, melakukan fotoisomerisasi dengan terapi sinar Membatasi siklus enterohepatik, misalnya dengan memberikan minum oral secara dini, pemberian kolesteramin, mengeluarkan bilirubin secara mekanis dengan trasnfusi tukar

Tali pusat atau funiculus umbilicalis adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan. Dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama kehamilan menyuplai zat-zat gizi dan oksigen ke janin. Tetapi begitu bayi lahir, saluran ini sudah tak diperlukan lagi sehingga harus dipotong dan diikat atau dijepit.

Letak : Funiculus umbilicalis terbentang dari permukaan fetal plasenta sampai daerah umbilicus fetus dan berlanjut sebagai kulit fetus pada perbatasan tersebut. Funiculus umbicalis secara normal berinsersi di bagian tengah plasenta. Bentuk : Funiculus umbilicalis berbentuk seperti tali yang memanjang dari tengah plasenta sampai ke umbilicus fetus dan mempunyai sekitar 40 puntiran spiral.

Ukuran : Pada saat aterm funiculus umbilicalis panjangnya 40-50 cm dan diameternya 1-2 cm. Hal ini cukup untuk kelahiran bayi tanpa menarik plasenta keluar dari rahim ibu. Tali pusat menjadi lebih panjang jika jumlah air ketuban pada kehamilan trimester pertama dan kedua relatif banyak, diserta dengan mobilitas bayi yang sering. Sebaliknya, jika oligohidromnion dan janin kurang gerak (pada kelainan motorik janin), maka umumnya tali pusat lebih pendek. Kerugian apabila tali pusat terlalu panjang adalah dapat terjadi lilitan di sekitar leher atau tubuh janin atau menjadi ikatan yang dapat menyebabkan oklusi pembuluh darah khususnya pada saat persalinan.

Satu vena umbilicalis membawa oksigen dan memberi nutrien ke sistem peredaran darah fetus dari darah maternal yang terletak di dalam spatium choriodeciduale. Dua arteri umbilicalis mengembalikan produk sisa (limbah) dari fetus ke plasenta dimana produk sisa tersebut diasimilasi ke dalam peredaran darah maternal untuk di ekskresikan.

Jeli Wharton : Merupakan zat yang berkonsistensi lengket yang mengelilingi pembuluh darah pada funiculus umbilicalis. Jeli Warthon merupakan subtansi seperti jeli, juga berasal dari mesoderm seperti halnya pembuluh darah. Jeli ini melindungi pembuluh darah tersebut terhadap kompresi, sehingga pemberian makanan yang kontinyu untuk janin dapat di jamin. Selain itu juga dapat membantu mencegah penekukan tali pusat. Jeli warthon ini akan mengembang jika terkena udara. Jeli Warthon ini kadang-kadang terkumpul sebagai gempalan kecil dan membentuk simpul palsu di dalam funiculus umbilicalis. Jumlah jeli inilah yang menyebabkan funiculus umbilicalis menjadi tebal atau tipis.

Sebagai saluran yang menghubungkan antara plasenta dan bagian tubuh janin sehingga janin mendapat asupan oksigen, makanan dan antibodi dari ibu yang sebelumnya diterima terlebih dahulu oleh plasenta melalui vena umbilicalis. Saluran pertukaran bahan-bahan kumuh seperti urea dan gas karbon dioksida yang akan meresap keluar melalui arteri umbilicalis.

a) Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi kecuali tali pusat. b) Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari umbilikus bayi. c) Melakukan urutan pada tali pusat kearah ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama. d) Memegang tali pusat diantara 2 klem menggunakan tangan kiri, dengan perlindungan jarijari tangan kiri, memotong tali pusat diantara kedua klem. (JNPKR, Depkes RI, 2004). Sisa potongan tali pusat pada bayi inilah yang harus dirawat, karena jika tidak dirawat maka dapat menyebabkan terjadinya infeksi.

Perawatan tali pusat secara intensif diperkenalkan pada tahun 1950 - 1960an dimana pada saat itu angka infeksi pada proses kebidanan sangat tinggi. Akan tetapi pada beberapa Negara berkembang masih sering dijumpai terjadinya infeksi tali pusat walaupun antiseptic jenis baru telah diperkenalkan. Selain infeksi, pendarahan pada tali pusat juga dapat berakibat fatal. Akan tetapi pendarahan dapat dicegah dengan melakukan penjepitan tali pusat dengan kuat dan pencegahan infeksi. Peralatan yang digunakan dalam pemotongan tali pusat juga sangat berpengaruh dalam timbulnya penyulit pada tali pusat. Saat dipotong tali pusat terlepas dari suply darah dari ibu.

Tali pusat yang menempel pada pusat bayi lama kelamaan akan kering dan terlepas. Pengeringan dan pemisahan tali pusat sangat dipengaruhi oleh aliran udara yang mengenainya. Jaringan pada sisa tali pusat dapat dijadikan tempat koloni oleh bakteri terutama jika dibiarkan lembab dan kotor. Sisa potongan tali pusat menjadi sebab utama terjadinya infeksi pada bayi baru lahir. Kondisi ini dapat dicegah dengan membiarkan tali pusat kering dan bersih. Tali pusat dijadikan tempat koloni bakteri yang berasal dari lingkungan sekitar. Pada bayi yang dirawat di rumah sakit bakteri Streptococcus aureus adalah bakteri yang sering dijumpai yang berasal dari sentuhan tenaga kesehatan yang tidak steril. Selain Streptococcus aerus, bakteri Escheseria colli juga sering dijumpai berkoloni pada tali pusat.

Pastikan tali pusat dan area sekelilingnya selalu bersih dan kering. Selalu cuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun sebelum membersihkan tali pusat Selama belum tali pusatnya puput, sebaiknya bayi tidak dimandikan dengan cara dicelupkan ke dalam air. Cukup dilap saja dengan air hangat. Alasannya, untuk menjaga tali pusat tetap kering. Bagian yang harus selalu dibersihkan adalah pangkal tali pusat, bukan atasnya. Untuk membersihkan pangkal ini, Anda harus sedikit mengangkat (bukan menarik) tali pusat. Tali pusat harus dibersihkan sedikitnya dua kali dalam sehari. Tali pusat juga tidak boleh ditutup rapat dengan apapun, karena akan membuatnya menjadi lembab. Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi. Kalaupun terpaksa ditutup tutup atau ikat dengan longgar pada bagian atas tali pusat dengan kain kasa steril. Pastikan bagian pangkal tali pusat dapat terkena udara dengan leluasa.

1.
2. 3.

4.

Lepasnya tali pusat dipengaruhi oleh beberapa ha diantaranya adalah : Timbulnya infeksi pada tali pusat Cara perawatan tali pusat Kelembaban tali pusat Kondisi sanitasi lingkungan sekitar neonatus

Perdarahan

yang terjadi pada tali pusat bisa timbul sebagai akibat dari trauma pengikatan tali pusat yang kurang baik atau kegagalan proses pembentukkan trombus normal Selain itu perdarahan pada tali pusat juga bisa sebagi petunjuk adanya penyakit pada bayi.

1. a. b.

c.

d.

Robekan umbilikus normal, biasanya terjadi karena Partus precipitatus Adanya trauma atau lilitan tali pusat Umbilikus pendek, sehingga menyebabkan terjadinya tarikan yang berlebihan pada saat persalinan Kelalaian penolong persalinan yang dapat menyebabkan tersayatnya dinding umbilikus atau placenta sewaktu sectio secarea

2. a.

b. c.

Robekan umbilikus abnormal, biasanya terjadi karena : Adanya hematoma pada umbilikus yang kemudian hematom tersebut pecah, namun perdarahan yang terjadi masuk kembali ke dalam placenta. Hal ini sangat berbahaya bagi bayi dan dapat menimbulkan kematian pada bayi Varises juga dapat menyebabkan perdarahan apabila varises tersebut pecah Aneurisma pembuluh darah pada umbilikus dimana terjadi pelebaran pembuluh darah setempat saja karena salah dalam proses perkembangan atau terjadi kemunduran dinding pembuluh darah. Pada aneurisme pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah rapuh dan mudah pecah

3.

a.

b.

c.

Robekan pembuluh darah abnormal Pada kasus dengan robekan pembuluh darah umbilikus tanpa adanya trauma, hendaknya dipikirkan kemungkinan adanya kelainan anatomik pembuluh darah seperti : Pembuluh darah aberan yang mudah pecah karena dindingnya tipis dan tidak ada perlindungan jely wharton Insersi velamentosa tali pusat, dimana pecahnya pembuluh darah terjadi pada tempat percabangan tali pusat sampai ke membran tempat masuknya dalam placenta tidak adda proteksi. Umbilikus dengan kelainan insersi ini sering terdapat pada kehamilan ganda Placenta multilobularis, perdarahan terjadi pembuluh darah yang menghubungkan masingmasing lobus dengan jaringan placenta karena bagian tersebut sangat rapuh dan mudah pecah

4.

Perdarahan akibat placenta previa dan abrotio placenta. Perdarahan akibat placenta previa dan abrutio placenta dapat membahayakan bayi. Pada kasus placenta previa cenderung menyebabkan anemia, sedangkan pada kasus abrutio placenta lebih sering mengakibatkan kematian intra uterin karena dapat terjadi anoreksia. Pengamatan pada placenta dengan teliti untuk menentukan adanya perdarahan pada bayi baru lahir, pada bayi baru lahir dengan kelainan placenta atau dengan sectio secarea apabila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan hemoglobin secara berkala.

1.

2.

3.

Penanganan disesuaikan dengan penyebab dari perdarahan tali pusat yang terjadi Untuk penanganan awal, harus dilakukan tindakan pencegahan infeksi paa tali pusat. Segera lakukan inform consent dan inform choise pada keluarga pasien untuk dilakukan rujukan.

Kejadian yang paling menonjol dari disfungsi neurologis pada periode neonatal Kebanyakan kejang neonatal terjadi selama hanya beberapa hari, dan kurang dari setengah dari bayi yang terkena mengalami kejang di kemudian hari

Imaturitas fisiologik dan anatomik ini menyebabkan lepas muatan listrik yang lambat dan tidak merata, serta cenderung tetap fokal di satu hemisfer; suatu lepas muatan yang bilateral dan sinkron jarang terjadi.

Pada otak yang belum matur tersebut aktivitas listrik berjalan antara substansia grisea yang terletak superfisial dengan substansia alba yang terletak lebih dalam, berlainan dengan otak yang telah matur yang aktivitasnya terutama berjalan antar korteks.

Gangguan metabolisme seperti hipoglikemia, hipokalemia, hipomagnesia, hipokalsemia, hiper/ hiponatremia, hiperbilirubinemia, dll Infeksi seperti meningitis, meningoensefalitis, dll Perdarahan intrakranial akibat trauma lahir atau hipoksia kelainan susunan syaraf pusat dll.

Kejang subtle; manifestasinya tidak jelas, bentuknya hampir tidak terlihat, terutama bila tidak biasa mengenal dan menangani neonatus normal Gerakan yang timbul bermacammacam, seperti menghisap, gerakan bola mata yang tidak terkoordinasi, gerakan anggota gerak yang tidak terkoordinasi, apnea berulang dll

Ekstensi kedua tungkai yang sering disertai gerakan fleksi anggota gerak atas Kejang ini dijumpai pada bayi dengan BBLR

Kejang Klonus Multifokal Gerakan klonus pada satu atau beberapa anggota gerak yang berpindah-pindah Gerakan seperti refleks moro dengan fleksi semua anggota gerak Kejang Mioklonus Kejang ini menunjukkan adanya kerusakan luas dari susunan syaraf pusat

Refleks moro adalah reflek normal pada bayi yang baru lahir ketika ia terkejut atau merasa seperti akan terjatuh. Bayi akan menunjukkan muka terkejut dengan kedua tangan melebar ke samping, telapak tangan ke atas dan ibu jarinya meregang.

Sebelum penyakit primer atau sebabnya diketahui, kejang harus segera ditolong dengan pemberian anti kolvusan misalnya phenobarbital dengan dosis 8 -10 mg/Kg BB/hari Atau diazepam 0,25-0,5 mg/kgBB/hari intravena atau intramuskular

Setelah penyakit primer diketahui, maka pengobatan ditujukan untuk mengatasinya Pemberian kortikosteroid pada kejang masih menjadi kontroversi Pemberian vitamin K intramuskuler pada trauma persalinan sangat dianjurkan Koreksi terhadap elektrolit, cairan dan gangguan metabolisme yang ada

Appearance (warna kulit) 0 Seluruh tubuh bayi berwarna kebirubiruan atau pucat 1 Warna kulit tubuh normal, tetapi tangan dan kaki berwarna kebiruan 2 Warna kulit seluruh tubuh normal

Pulse (denyut jantung) 0 Denyut jantung tidak ada 1 Denyut jantung kurang dari 100 kali per menit 2 Denyut jantung lebih atau diatas 100 kali per menit

Grimace (respon refleks) 0 Tidak ada respon terhadap stimulasi 1 Wajah meringis saat distimulasi 2 Meringis, menarik, batuk, atau bersin saat stimulasi

Activity (tonus otot) 0 Lemah, tidak ada gerakan 1 Lengan dan kaki dalam posisi fleksi dengan sedikit gerakan 2 Bergerak aktif dan spontan

Respiration (pernapasan) 0 Tidak bernapas 1 Menangis lemah, terdengar seperti merintih, pernapasan lambat dan tidak teratur 2 Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur