Anda di halaman 1dari 18

Home Skripsi Judul Skripsi One Piece Movie Listrik Elektro contact me

Home listrik elektro Contoh Makalah - PERENCANAAN SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK

Contoh Makalah - PERENCANAAN SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK PERENCANAAN SISTEM PENGETANAHAN GARDU INDUK

MAKALAH SISTEM PENTANAHAN (PERENCANAAN SISTEM PENGETANAHAN GARDU INDUK)


Oleh: Irwanto Sirait / 0645031033

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2009
PERENCANAAN SISTEM PENGETANAHAN GARDU INDUK PENDAHULUAN

Sebuah Gardu Induk Tegangan Tinggi (GITT) harus memiliki sistem pentanahan yang handal yang memenuhi standard aman bagi manusia dan peralatan yang berada di area gardu induk. Sistem pentanahan yang digunakan harus benar-benar dapat mencegah bahaya ketika pada saat gangguan terjadi, di mana arus gangguan yang mengalir ke bagian peralatan dan ke piranti pentanahan dapat diketanahkan sehingga gradien tegangan disekitar area pentanahan

menjadi merata sehingga tidak menimbulkan beda potensial antara titik-titik disekitar terjadinya gangguan. Sistem pentanahan peralatan gardu induk yang umum digunakan saat ini adalah sistem pentanahanDriven Rod, Counterpoise, menggunakan kisi (Grid) dan gabungan antara sistem pentanahan Grid danRod. Ketiga model sistem pentanahan ini sistem Grid-Rod paling sering digunakan untuk Gardu Induk Tegangan Tinggi . Untuk pembangunan gardu induk yang baru dibutuhkan disain yang baru pula. Disain dilakukan dengan membuat kombinasi antara jumlah mesh dan rod-nya, kedalaman penanaman konduktor dengan mempertimbangkan nilai dari tahanan jenis tanah, pengaruh tahanan jenis tanah untuk beberapa jenis tanah yang berbeda dengan kedalaman yang sama serta dimensi area pentanahan yang akan digunakan sehingga menghasilkan nilai tahanan pentanahan (R), tegangan sentuh (Em) dan tegangan langkah (Es) yang lebih baik dan lebih aman. Pada makalah ini akan dilakukan perhitungan untuk mendapatkan suatu disain sistem gridrod yang baik dan efektif serta aman dengan cara membuat suatu kombinasi antara jumlah mesh dan jumlah rod yang digunakan terhadap kedalaman penanaman konduktor serta terhadap nilai tahanan jenis tanah untuk beberapa jenis tanah yang berbeda dan juga pengaruh dari dimensi area pentanahan yang digunakan. Untuk melakukan semua perhitungan tersebut dengan cepat, maka dibangun sebuah program perhitungan melalui bantuan komputer yakni dengan menggunakan program MS Visual Basic.

11. UMUM Sistem pengetanahan peralatan-peralatan pada gardu induk biasanya menggunakan konduktor yang ditanam secara horisontal, dengan bentuk kisi-kisi (grid). Konduktor pengetanahan biasanya terbuat dari batang tembaga kertas dan memiliki konduktivitas tinggi, terbuat dari kabel tembaga yang dipilin (bare stranded copper) dengan luas penampang 150 mm2 dan mempunyai kemampuan arus hubung tanah sebesar 25 kA selama 1 detik. Konduktor ini ditanam sedalam kira-kira 30 cm-80 cm atau bila dibawah kepala pondasi sedalam kira-kira 25 cm. Luas kisi-kisi di daerah swicthyard, sesuai peralatan-peralatan yang ada, dibatasi maksimum 10 m 5 cm. kisi-kisi pengetanahan bersambungan satu dengan lainya dan dihubungankan dengan batang pengetanahan yang terdiri dari batang tembaga. Batang tembaga ini berdiameter 15 mm, panjang 3,5 m, ditanam dengan kedalaman minimal sama dengan panjang batang iti sendiri. Selanjutnya batang pengetanahan ini disebut pengetanahan. Untuk pengetanahan rangka / badan dari peralatan dan struktur digunakan luas penampang kisi-kisi pengetanahan. Semua dasar isolator-isolator. Terminal terminal pengetanahan dan pemisah pengetanahan, netral trafo arus dan trafo tenaga, dasar penagkap petir (lighthing arrester) dan struktur

dihubungkan dengan kisi-kisi pengetanahan. Pagar swithyard yang ter buat dari besi/logam dan terisolir dari tanah diketanahkan melalui batang tembaga (35 mm2) panjang 1 meter serta ditanam diluar pagar sedalam 50 cm dengan jarak lebih dari5 meter terhadap kisi-kisi pengetanahan utama.

11.2 PERENCANAAN PENGETANAHAN SWITCHYARD 11.2.1. Pendahuluan Seperti telah dijelaskan dalam bab 9 arus gangguan tanah yang mengalir di tempat gangguan maupun di tempat pengetanahan gardu induk menimbulkan perbedaan tegangan di permukaan tanah yang dapat mengakibatkan terjadinya tengangan sentuk dan tegangan langkah yang melampaui batas-batas keamanan manusia dan binatang. Sistem pengetanahan pada gardu induk membuat permukaan tanah di lokasi gardu induk mempunyai perbedaan tegangan yang serendah-rendahnya pada waktu terjadi gangguan hubung tanah atau membuat tanah serendah-rendahnya. Pengetanahan peralatan pada gardu induk biasanya menggunakan sistem pengetanahan kiskisi (grid) dan di lokasi switchyard di beri lapisan koral untuk mengurangi besar perbedaan tengangan pada permukaan tanah. 11.2.2. Langkah-langkah Perhitungan Perencanaan sistem pengetanahan pada gardu induk didasarkan pada Standard IEEE 80, IEEE Guide for Safety in Substation Grounding, dengan urutan / langkah- langkah perhitungan sebagai berikut:26 1. Pemeriksaan tahanan jenis tanah. 2. Perencanaan pendahuluan tata letak (layout) dan data-data 3. Menghitung arus fibrilasi 4. Menghitung jumlah batang pengetanahan yang diperlukan 5. Menghitung arus gangguan hubung tanah 6. Menghitung tahanan batang 7. Menghitung ukuran konduktor kisi-kisi 8. Menghitung tegangan sentuh 9. Menghitung tegangan kisi-kisi (grid) 10. Menghitung tegangan mesh 11. Menghitung tegangan langkah yang diizinkan 12. Menghitung tegangan langkah yang sebenarnya. 13. Pemeriksaan tegangan transfer (trasferred potensial).

11.2.3. Tata Letak (Layout) kisi-kisi (grid) pengetanahan mengunakan konduktor tembaga bulat yang ditanam pada seluruh batas gardu induk. Pengetanahan tata letak sistem pengetanahan pada gardu induk dapat dilihat pada gambar 11.1. pada gambar tersebut diberikan panjang konduktor termasuk batang pengetanahan = 1.600. 11.2.4. Tahanan Jenis Tanah Pengukuran tahanan jenis tanah pada lokasi gardu induk diambil pada beberapa titik lokasi. Tahanan jenis dapat di hitung dengan menggunakan persamaan (10.4) dan dapat ditulis sebagai: =2aR Di mana : a R = tahanan jenis rata-rata tanah (ohm-meter) = jarak antara batang elektroda yang terdekat (meter) = besar tahanan yang terukur (Ohm)

Misalkan hasil pengukuran di lokasi gardu induk tersebut diperoleh besar tahanan jenis tanah rata-rata : 750 Ohm-meter. 11.2.5 Arus Fibrasi Menyebabkan jantung mulai fibrilasi, dapat dihitung berdasarkan persamaan (9.5) atau (11.2),

Di mana: Ik = arus fibrilasi (amp) t = lama waktu gangguan (detik) = 0,75 detik. (*) Lama waktu gangguan t terganggu dari beberapa faktor, antara lain stabilitas sistem tipe switchgear dan tipe rele dan pemutus daya yang digunakan. Sebegitu jauh sebelum ada standar mengenal lama waktu gangguan. Waktu yang dianggap realistis berkisar antara 0,5 detik sampai 1,0 detik. Pengambilan waktu 0,75 detik di atas dianggap sudah memenuhi persyaratan dan cukup realistis. Bila harga-harga tersebut dimasukkan pada persamaan (11.2) diperolah: Ik = 0,134 amp 11.2.6. Jumlah Batang Pengatanahan Yang Diperlukan Pada waktu arus gangguan mengalir antara batang pengetanahan dan tanah, tanah akan menjadi panas akibat arus I 2 .suhu tanah harus di bawah 1000C untuk menjaga sampai terjadi penguapan pada air kandungan dalam tanah dan kenaikan tahanan jenis.

Kerapatan arus yang yang diizinkan pada permukaan batang pengetanahan dapat dihitung persamaan: I = 3,1414 10-2 d Di mana : i d = kerapatan arus yang diizinkan (amp/cm) = diameter batang pengetanahan (mm) = 15 mm (diambil tiap m3 tiap 0p). = kenaikan suhu tanah yang diizinkan (0C) t = tahanan jenis tanah (Ohm-meter) = lama waktu gangguan = 0,75 detik. (11.3)

= panas spesifik rata-rata tanah (kutang lebih 1,75 106 watt-detik,

Kenaikan suhu tanah yang diizinkan adalah antara perbedaan temperatur rata-rata tahanan dan 1000C. misalkan kenaikan suhu diambil =50 0C, maka kerapan arus i. i = 0,186 amp/cm ( = 750 Ohm-meter). Seluruh panjang batang pengetanahan yang diperlukan dihitug dari pembagian arus gangguan ke arah tanah dengan kerapatan arus yang diizinkan, sedangkan jumlah batang pengetanahan yang diperlukan diperoleh dari pembagian panjang total dengan panjang satu batang. Jadi bila besar arus gangguan 1200 Ampere (lihat pasal 2.7) maka jumlah batang pengetanahan minimum dengan panjang 3,5 meter. = 19 batang 11.2.7. Arus Gangguan Besar arus gangguan tanah maksimum didasarkan pada nilai pemutusan (interrupting rating) dari peralatan pengetanahan gardu induk. Misalkan tegangan sistem 70 KV dan diketanahkan dengan petersen yang dilengkapi dengan tahanan shunt. Besar arus gangguan tanah diambil 30% dari arus hubung singkat tiga fasa, yaitu setelah kumparan petersen dipararel oleh tahanan. Dalam disain ini dimisalkan arus gangguan sebesar 1200 amp. 11.2.8 Ukuran Konduktor Kisi-Kisi Rumus berikut yang dikembangkan oleh I.M.Onderonk, dapat digunakan untuk menentukan ukuran dalam ukuran dari konduktor tembaga minimum yang dipakai sebagai kisi-kisi pengetanahan.

Di mana :

A = penampang konduktor (circular mils). (*) I t = arus gangguan ( = 1200 Amp) = lama gangguan ( = 0,75 detik)

Tm = lama maksimum konduktor yang diizinkan (= 10830C). Ta = suhu sekeliling tahanan maksimum (=302C). Dengan menggunakan harga-harga tersebut diatas pada persamaan (11.4) diperoleh A= 7146 circular mils atau A = 3,62 mm2. Luas penampang/diameter untuk sambungan-sambungan dengan pengelasan atau dengan baut dapat ditentukan dengan mensubtitusikan Tm dalam persamaan (11.4) yaitu : Untuk pengelasan, Tm = 4500C. Untuk baut Untuk baut Tm = 2500C. A = 5,90 mm2 Sehingga, Untuk pengelasan , A = 4,71 mm2

11.2.9. Tengangan Sentuh yang Diizinkan Besar tegangan sentuh yang diizinkan dapat ditentukan dengan persamaan (9.2) atau (11.5). Es = Ik (Rk + 1,5 s). Dimana : Ik = arus fibrilasi ( = 0,134 Amp) Rk = tahanan badan manusia (= 1000 Ohm) s = tahanan jenis permukaan batu kerikil basah dimana orang berdiri = 3000 Ohm-meter (untuk tanah yang dilapisi hamparan batu koral). Dengan memasukkan harga-harga tersebut diperoleh: Es = 737 Volt

Tabel Tegangan sentuh yang diizinkan dan lama gangguan berdasarkan IEEE Std 801986.

Lama Gangguan (t) (detik) 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 1 2 3

Tegangan Sentuh Yang Diizinkan (Volt) 1980 1400 1140 990 890 626 443 362

Untuk pentanahan grid dengan model bujur sangkar maupun empat persegi panjang (rectangular grid) menurut IEEE Std 80-1986 mempunyai batasan : 1. Jumlah konduktor parallel dalam satu sisi kurang dari 25 (n<25), 2. 0.25 < h < 2.5 dengan h adalah kedalaman penanaman konduktor (m), 3. d < 25 m, d adalah diameter penghantar (m), 4. D > 2.5 m, D adalah jarak antar konduktor parallel (m). 11.2.10. Tengangan Mesh Atau Sentuh Maksimum Sebenarnya Tegangan mesh merupakan salah satu bentuk tegangan sentuh. Tegangan mesh ini didefenisikan sebagaitegangan peralatan yang diketanahkan terhadap tengah-tengah daerah yang dibentuk konduktor kisi-kisi (center of mesh) selama gangguan tanah .tegangan mesh ini menyatakan tegangan tertinggi yang mungkin timbul sebagai tegangan sentuh yang dapat dijumpai dalam sistem pengetanahan gardu induk, dan inilah yang diambil sebagai tegangan untuk disain yang aman. Tegangan mesh itu secar pendekatan sama dengan i, dimana tahanan jenis tanah dalam Ohm-meter dan i arus yang melalui konduktor kisi-kisi. Tetapi tahanan jenis tanah nyatanya tidak merata. Demikian juga arus i tidak sama pada semua konduktor kisi-kisi. Oleh karena itu untuk mencakup pengaruh-pengaruh jumlah konduktor pararel n , jarak-jarak konduktor pararel, D. diameter konduktor, d, dan kedalaman penanaman, h, tegangan mesh itu dihitung dari persamaan (11.6). Em = Km Ki Dimana,

Kn = ln

ln dengan jarak

Ki = factor koreksi untuk ketidak merataan kerapatan arus, yang dihitung rumus emperis : = 0,65 + 0,172 n (= 3,402) D = jarak antara konduktor-konduktor pararel pada kisi-kisi (=4m) h = kedalam penanaman konduktor (=0,8 m) d = diameter konduktor kisi-kisi (=0,016)

n = jumlah konduktor pararel dalam kisi-kisi utama, tidak termasuk sambungan melintang (=16) = tahanan jenis rata-rata tanah (=750 Ohm-meter) I = besar arus gangguan tanah (=1.200 Amp) L = panjang konduktor pengetanahan yang ditanam termasuk semua batang pengetanahan (= 1.600 m). Tegangan sentuh maksimum yang timbul dalam rangkain (mesh) tidak terletak di pusat kisikisi (daerah persegi empat yang dibentuk konduktor kisi-kisi), dimana tegangan mesh diatas dihitung, tetapi terletak agak dibagian kuar kisi-kisi (grid). Tetapi bila kisi-kisi mempunyai delapan konduktor pararel atau kurang perbedaan tegangan sentuh maksimum yang ada dan tegangan mesh di bagian luar kisi-kisi tidak akan melebihi 10%. Oleh karena itu, untuk kisikisi dengan delapan konduktor pararel atau kurang tidak dibutuhkan perhitungan yang eksak (teliti) bila dipergunakan factor keselamatan yang sesuai dalam perbandingan antara tegangan mesh tegangan sentuh yang diizinkan. Jadi bila kisi-kisi mempunyai delapan konduktor pararel atau kurang, tegangan mesh dapat dihitung dengan persamaan (11.6) dan (11.7). tetapi bila jumlah konduktor pararel melebihi 8, persamaan sehari-hari sudah cukup menggunakan persamaan (11.6) dan (11.7) diatas. Maka, Em = 0,3695 3,402 750 ( 1.200 / 1.600) = 707 Volt. Jadi tegangan sentuh sebenarnya (707 Volt) lebih kecil dari tegangan sentuh yang diizinkan (737 Volt), dengan demikian jaraj antara kisi-kisi serta panjang total konduktor sudah memenuhi persyaratan.

11.2.11 Tegangan Langkah Yang Diizinkan Tegangan langkah yang diizinkan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (9.3) atau (11.8) E = Ik (Rk + 6 s) Dimana : I = arus fibrilasi (= 0,134 Amp)

R = tahanan tubuh menusia (= 1000 Ohm) s = tahanan jenis permukaan tanah (=300 Ohm-meter) makan diperoleh E = 2546 Volt

Tabel Tegangan Langkah yang diijinkan dan lama gangguan berdasarkan IEEE Std 801986.
Lama Gangguan (t) (detik) 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 1 2 3 Tegangan Langkah yang Diijinkan (Volt) 7000 4950 4040 3500 3140 2216 1560 1280

11.2.12. Tegangan langkah Sebenarnya Tegangan langkah sebenarnya adalah peredaan tegangan yang terdapat diantara kedua kaki bila manusia berjalan diatas tanah system pengetanahan pada keadaan terjadi gangguan. Tegangan langkah maksimum sebenarnya dapat dihitung persamaan (11.9) Em = Ks Ki Di mana : = tahanan jenis rata-rata tanah (=750 Ohm-meter) Ki = 0,65 + 0,172 n = 3,402 (n = 16) I = arus gangguan tanah maksimum (= 1200 Amp). L = panjang total konduktor yang ditahan , termasuk batang pengetanahan = . 1.600 meter.

Ks = = 0,4014 (n = 16). Dimana: h = kedalaman penanaman konduktor pengetanahan (=0,8m) D = jarak antara konduktor-konduktor pararel (=5 m). Maka, Em = 0,4014 3,402 750 (1.200 / 1.600) = 768 Volt. Jadi tegangan langkah sebenarnya. 768 Volt, sedang tegangan langkah yang diizinkan : 2546. Dengan demikian pemilihan jarak-jarak kisi-kisi serta panjang total konduktor sudah memenuhi sudah memenuhi persyaratan. Hasil-hasil perhitungan tegangan-tegangan mesh dan tegangan langkah untuk gardu induk tersebut dikumpulkan Tabel 11.1

Tabel 11.1 perhitungan tegangan sentuh dan tegangan langkah


No. 1 Spesifikasi Tahanan jenis tanah Jumlah 2 3 4 konduktor pararel konduktor m sentuh yang Volt 737 1600 0,4014 16 0,3695 3,402 Satuan Ohm-meter Harga 750

dalam kisi-kisi utam (n) Koeffisien Km Ki = 0,65 + 0,172n Panjang

5 6

pengetanahan yang ditanam (L) Koefisien Ks Tegangan

diizinkanEs Tengangan langkah

8 9

diizinkan E Tegangan mesh Em Tegangan langkah

Volt Volt

2.546 707

10

sebenarnyaEm

Volt

768

Dari Tabel 11.1 dapat dilihat, bahwa disain pengetanahan tersebut telah diperoleh tegangan mesh Emyang lebih kecil dari tegangan sentuh Es, dan tegangan langkah Elm lebih kecil dari

tegangan langkah yang diizinkan, E. dengan demikian disain pegetanahan yang dilakukan telah memenuhi persyaratan. Bila seandainya estimasi yang diambil menghasilkan panjang konduktor yang terlalu kecil, maka perencanaan harus diulang lagi dengan jarak kisi-kisi yang lebih kecil. Sama halnya, bila estimasi yang diambil menghasilkan panjang konduktor yang terlalu besar, maka perencanaan harus diulang lagi dengan jarak kisi-kisi yang lebih besar.

Gambar 11.1. system pentanahan gardu induk n = jumlah konduktor pararel pada kisi-kisi utama = 16. panjang konduktor kisi-kisi utama lain-lain panjang batang-batang pengetanahan panjang total konduktor = = 16 50 = 800 meter = 110 meter = 68 3,5 = 238 meter L = 1.600 meter. panjang konduktor kisi-kisi melintang = 6 75 = 450 meter

Supaya lebih ekonomis. Dalam kedua hal di atas harga-harga Km, Ks dan K1 harus dihitung kembali. Jadi perencanaan pengetanahan ini pada hakekatnya adalah proses dengan demikian sangat baik bila menggunakan computer. Selanjutnay dapat dihitung tahanan ekivalen system pengetanahan switchyard tersebut dari persamaan (9.4), Ro = Dimana ; r = jari-jari ekivalen dari luas switchyard (daerah pentanahan) dalam meter, jadi. r2 = 75 50, atau r = 34, 55 meter Maka :

Hasil Disain Sistem Pentanahan Grid Rod Untuk Tiga Jenis Tanah Yang Berbeda Yakni : Tanah Bebatuan, Tanah Pertanian, dan Tanah Pasir Basah. Dengan menggunakan program untuk menentukan disain sistem pentanahan grid rod maka diperoleh disain yang tepat untuk tiga jenis tanah yang berbeda yaitu : tanah bebatuan, tanah pertanian, dan tanah pasir basah. Pada tabel 3 dapat dilihat disain sistem pentanahan grid rod untuk ketiga jenis tanah yaitu bebatuan, tanah pertanian dan pasir basah.
Tabel . Disain sistem grid rod untuk jenis tanah bebatuan, tanah pertanian dan jenis tanah pasir basah
Tanah Bebatuan Luas Area Pentanahan 400 x 500 m2 h = 0.3 m Rho = 302.44 Ohm-m N M D1 D2 Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt) 19 19 28 22 60 0,319 644 336 h = 0.8 m Rho = 333.18 Ohm-m N M D1 D2 Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt) 19 19 28 22 60 0,351 648 149 h = 1.5 m Rho = 392.527 Ohm-m N M D1 D2 Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt) 21 21 25 20 80 0,41 662 100

Tanah Pertanian Luas Area Pentanahan 60 x 115 m2 h = 0.3 m Rho = 59,73 Ohm-m N M D1 D2 12 12 10 5 h = 0.8 m Rho = 58.47 Ohm-m N M D1 D2 12 12 10 5 h = 1.5 m Rho = 55.45 Ohm-m N M D1 D2 10 10 13 7

Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt)

44 0,345 573 462

Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt)

44 0,334 498 206

Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt)

36 0,317 568 134

Tanah Pasir Basah Luas Area Pentanahan 120 x 230 m2 h = 0.3 m Rho = 158.87 Ohm-m N M D1 D2 Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt) 18 18 14 7 32 0,451 653 497 h = 0.8 m Rho = 137,86 Ohm-m N M D1 D2 Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt) 16 16 15 8 56 0,391 570 194 h = 1.5 m Rho = 133,63 Ohm-m N M D1 D2 Q R (Ohm) Em (Volt) Es (Volt) 14 14 18 9 52 0,379 612 122

Pada tabel dapat dilihat hasil disain untuk ketiga jenis tanah di Lampung. Disain yang dihasilkan merupakan disain dengan memilih jumlah konduktor paralel sisi panjang, jumlah paralel sisi lebar, jarak antar konduktor sisi panjang, jarak antar konduktor sisi lebar, jumlah batang rod, dan luas area. Hasil disain yang dipilih adalah disain yang membutuhkan bahan konduktor yang paling sedikit dan luas area yang paling sempit tetapi nilai tahanan pentanahan, tegangan mesh, dan tegangan langkah masih memenuhi standard IEEE Std 801986.,

Perbandingan Hasil Program dengan Data Gardu Induk Tegangan Tinggi Dengan menggunakan data acuan, program ini dikomparasi validitasnya dengan parameter pentanahan Gardu Induk Tegangan Tinggi untuk memperoleh hasil perbandingan antara

hasil perhitungan menggunakan program dengan data pengukuran yang ada yang hasilnya ditunjukkan pada tabel

Tabel . Perbandingan hasil program dengan data GITT 150 kV Sutami


Parameter Pentanahan Tahanan Jenis Tanah (Ohm-m) Diameter Konduktor (m) Jumlah Grounding Rod Panjang Grounding Rod (m) Jumlah Konduktor Paralel Sisi Panjang Jumlah Konduktor Paralel sisi Lebar Jarak Antar Konduktor Paralel Sisi Panjang (m) Jarak Antar Konduktor Paralel Sisi Lebar (m) Panjang Total Konduktor (m) Resistansi (Ohm) Simbol Hasil Program GI 150 kV Sutami 50 0.0157 26 3.5 24 7 5 10 2525 0,1

d Q S m n D1 D2 L R

50 0,0157 26 3.5 24 7 5 10 2336 0,2888

Arus Grid Maksimum (A) Tegangan Mesh (Volt) Tegangan Langkah (Volt) Kriteria Tegangan Sentuh (Volt) Kriteria Tegangan Langkah (Volt)

IG Em Es Et50 Et70 Es50 Es70

18900 470 454 504 682 1668 2257

23625 Kondisi (Ok) Em < Kriteria Et Kondisi (Ok) Es < Kriteria Es 626 2216

Dari tabel dapat dilihat bahwa terdapat selisih nilai antara tahanan pentanahan yang dihasilkan program dengan tahanan pentanahan yang diperoleh dari data GITT 150 kV Sutami, hal ini disebabkan adanya perbedaaan panjang total konduktor yang dihasilkan program dengan panjang total konduktor yang digunakan untuk sistem pentanahan GITT 150 kV Sutami. Untuk tegangan mesh yang dihasilkan program, nilainya telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh IEEE/ANSI Std 80-1986 dimana nilai tegangan mesh lebih kecil dari kriteria tegangan sentuhnya sedangkan tegangan mesh pada GITT 150 kV dalam kondisi baik atau aman dan memenuhi kriteria yang ditetapkan begitu juga dengan tegangan langkah yang masih dalam kondisi baik dan aman bagi keselamatan manusia dan juga peralatan yang berada di daerah gardu induk. Berdasarkan hasil perhitungan program, nilai tegangan langkah jauh lebih kecil dari kriteria tegangan langkah yang diijinkan. Hasil Validasi ini telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Standard IEEE Std 801986 antara lain : a. Nilai tahanan pentanahan 1 Ohm,
3.

b. Em < Kriteria Et, Es < Kriteria Es.

Tabel 2. Tahanan Jenis Tanah Untuk Tanah Pasir Basah


Kedalaman (m) 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 Tahanan Jenis Tanah (Ohm-m) 156,48 157,39 158,87 152,72 148,38 143,99 140,25 137,86 135,87

1 133,43 1,1 131,24 1,2 130,03 1,3 132,45 1,4 131,3 1,5 133,63 2 132,1 2.5 131,01 Sumber : Ilahi, A., Hasil Pengukuran.

Tabel 3. Tahanan Jenis Tanah Untuk Tanah Bebatuan


Kedalaman Tahanan Jenis Tanah (m) (Ohm-m) 0,1 296,78 0,2 301,87 0,3 302,44 0,4 307,485 0,5 317,72 0,6 321,46 0,7 331,57 0,8 333,18 0,9 338,75 1 341,09 1,1 350,86 1,2 360,965 1,3 375,367 1,4 386,072 1,5 392,527 2 511,04 2.5 595,13 Sumber : Ilahi, A., Hasil Pengukuran.

KESIMPULAN 1. Program yang dihasilkan dapat mendisain sistem pentanahan grid rod yang baik dalam merancang suatu gardu induk tegangan tinggi untuk berbagai jenis tanah seperti tanah pertanian, pasir basah, dan tanah bebatuan dengan disain yang diperoleh untuk ketiga kondisi tanah tersebut adalah :

a.

Untuk tanah bebatuan diperoleh jenis Grid R324 untuk kedalaman 0.3 m dengan luas area penatanahan 400 x 500 m2.

b. Untuk tanah pertanian diperoleh jenis Grid R121 untuk kedalaman 0.8 m dengan luas area pentanahan 60 x 115 m2. c. Untuk tanah pasir basah diperoleh jenis Grid R225 untuk kedalaman 0.8 m dengan luas area pentanahan 120 x 230 m2.

2. Berdasarkan perbandingan hasil program dengan data salah satu gardu induk yang ada menunjukkan bahwa nilai dari tahanan pentanahan, tegangan langkah, dan tegangan mesh keduanya sesuai dengan standard IEEE/ANSI Std 80-1986 yang berarti aman untuk manusia dan peralatan yang berada pada area gardu induk pada keadaan normal maupun gangguan tanah.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Hutahuruk, T.S., 1991, Pengetanahan Netral Sistem Tenaga dan Pengetanahan Peralatan, Penerbit Erlangga Ilahi, A., 2005, Studi Sistem Pembumian Batang Tunggal Dengan Menganalisis Resistans Tanah (Sistem Driven Rod), Tugas Akhir. Bandar Lampung. IEEE, 1986, IEEE Guide For Safety In AC Substation Grounding. American National Standards Institute / IEEE Standards 80-1986, IEEE Power Enginering Society. Verma, R., 1984 dan Mukhedkar, D., 1984, Fundamental Consideration and Impuls Impedance of Grounding Grid, IEEE Vol. PAS-100 No.3, pp1023-1030.

2.

3.

4.

sumber
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori listrik elektro dengan judul Contoh

Makalah -

PERENCANAAN SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK . Anda bisa bookmark halaman ini
dengan URLhttp://ichaltecnik.blogspot.com/2013/01/perencanaan-sistem-pengetanahan-gardu_2176.html. Terima kasih!
0 0 0 0 281

Ditulis oleh: ichal pratama - Thursday, January 10, 2013

Belum ada komentar untuk "Contoh Makalah - PERENCANAAN SISTEM PENTANAHAN GARDU INDUK " Post a Comment
Newer Post

Older Post Home

Subscribe to: Post Comments (Atom) Label

Download (22) Gadget (1) judul skripsi (14) lainnya (4) listrik elektro (42) Makalah (20) Olahraga (9) One Piece Movie (12) skripsi (31) Tahu Nggak Sih (6) Template (1) tips dan trik (4) Pengikut
Copyright 2012 IchalTecnik | Design by Mas Sugeng | Powered by Blogger

ShareThis Copy and Paste - See more at: http://ichaltecnik.blogspot.com/2013/01/perencanaan-sistem-pengetanahangardu_2176.html#sthash.XH3iWn0N.dpuf