Anda di halaman 1dari 23

CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DENGAN STRATEGI REACT

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembelajaran Matematika Sekolah II yang dibina oleh Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc

Oleh: Surya Turangga Tedy Zainul A

UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM PASCA SARJANA PROGRAMSTUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JANUARI 2014

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Pengertian CTL dan Pengembangannya Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Selain itu juga memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, warga masyarakat dan tenaga kerja nantinya (http://www.cord.org/contextual-teaching-and-learning/, 2014). Saat ini banyak sekolah di Amerika Serikat yang mengadopsi prinsip-prinsip CTL. Sebenarnya konsep pembelajaran kontekstual bukan konsep baru. Konsep ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1916 oleh John Dewey, yang memaparkan kurikulum dan metodologi pengajaran sangat erat hubungannya dengan minat dan pengalaman siswa. Proses belajar akan sangat efektif bila pengetahuan baru diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya dan ada hubungan yang erat dengan pengalaman sesungguhnya (pengalaman nyata). Selanjutnya diikuti oleh Katz (1981) dan Howey & Zipher (1989). Ketiga pakar terakhir ini menyatakan bahwa program pembelajaran bukanlah sekedar deretan satuan pelajaran. Agar pembelajaran menjadi efektif, guru harus menjelaskan dan mempunyai pandangan yang sama tentang beberapa konsep dasar seperti peran guru, hakikat pengajaran dan pembelajaran, serta misi sekolah dalam masyarakat. Apabila guru menyepakati bahwa ketiga konsep tersebut bermuara pada Contextual Teaching and Learning, barulah Contextual Teaching and Learning akan berhasil baik. 2. Tujuh Komponen CTL 1) Konstruktivisme (Construktivism) Konstruktivisme (constructivisvism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak diperoleh dengan tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

2) Menemukan (Inquiry) Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Adapun siklus dari inkuiri adalah: a. Obsevasi (Observation) b. Bertanya (Questioning) c. Mengajukan dugaan (Hyphotesis) d. Pengumpulan data (Data Gathering) e. Penyimpulan (Conclussion) 3) Bertanya (Questioning) Bertanya meruapakan kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Sedang bagi siswa, bertanya merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk : a) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis b) mengecek pemahaman siswa c) membangkitkan respon kepada siswa d) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa f) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru g) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa h) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa 4) Masyarakat Belajar (Learning Community) Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Ketika seorang anak baru belajar meraut pensil dengan peraut elektronik, ia bertanya kepada temannya Bagaimana caranya? Tolong bantu aku! Lalu temannya yang sudah biasa, menunjukkan cara mengoperasikan alat itu. Maka, dua orang anak itu sudah membentuk masyarakat belajar (learning community).

5) Pemodelan (Modelling) Komponen CTL selanjutnya adalah pemodelan. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang bagaimana cara belajar Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa bisa ditunjuk untuk memberikan contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa contoh tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapainya. 6) Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. 7) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment) Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. 3. Pendekatan Belajar Kontekstual Belajar kontekstual adalah suatu konsep yang telah terbuktikan yang memasukkan banyak sekali penelitian terkini dalam sains kognitif. Konsep ini juga merupakan suatu reaksi terhadap teori-teori yang mendasar bagi para behavioris yang telah mendominasi dunia pendidikan di Amerika Serikat selama beberapa dekade. Pendekatan kontekstual memandang belajar sebagai proses yang bersifat kompleks dan multi-segi yang jauh melampaui metodologi-metodologi stimulus dan respon yang berorientasi drill.
4

Berdasarkan teori belajar kontekstual, belajar terjadi hanya bila para siswa (pelajar) memproses informasi baru atau pengetahuan dalam suatu cara sedemikian hingga informasi baru atau pengetahuan itu bermakna (dipahami) bagi mereka dalam kerangka-kerangka acuan mereka sendiri. Pendekatan belajar mengajar ini berasumsi bahwa pikiran secara alamiah mencari makna dalam konteks-maksudnya, sehubungan dengan lingkungan saat ini dari seseorang dan bahwa pikiran melakukannya dengan mencari hubungan-hubungan yang bermakna dan ternyata berguna. 4. Teori yang Mendukung Strategi REACT Banyak teori yang berkaitan dengan pembelajaran matematika. Namun teori belajar yang relevan dengan pembelajaran dengan strategi REACT adalah teori belajar konstruktivisme. Menurut pandangan konstruktivisme, dalam pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk menggunakan strateginya sendiri, dalam belajar secara sadar, dan guru membimbing ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Siswa harus membangun sendiri informasi dan pengetahuan awal yang dimilikinya. Clements & Battista (dalam Abdussakir, 2009) menyatakan bahwa prinsipprinsip dasar pandangan konstuktivisme adalah sebgai berikut: a. Pengetahuan dibentuk dan ditemukan oleh siswa secara aktif, tidak sekedar diterima secara pasif dari lingkungan. Ide ini dapat diilustrasikan bahwa ide-ide matematika dibentuk oleh siswa, tidak sekedar ditemukan sebagai barang jadi atau diterima dari orang lain sebagai hadiah. b. Siswa mengkonstruk pengetahuan matematika dengan melakukan refleksi mental, yaitu berbuat dan berfikir.ide-ide dikonstruksikan secara bermakna dengan cara diintegrasikan ke dalam struktur pengetahuan yang telah ada. c. Tidak ada realitas yang sebenarnya, siswa sendirilah yang membuat interpretasi mengenai dunia. Interpretasi ini dibentuk dengan pengalaman dan interaksi sosial. Jadi belajar matematika harus berupa proses bukan hasil. d. Belajar adalah proses sosial. Ide-ide dan kebenaran matematika baik dalam penggunaan dan makananya ditetapkan secara bersama oleh anggota suatu kelompok masyarakat (budaya).

BAB II STRATEGI REACT

1. Pengertian Strategi REACT Pada dasarnya semua strategi yang searah dengan penciptaan suasana pembelajaran yang konteks merupakan elemen pembelajaran kontekstual. Ada lima strategi yang harus tampak yaitu (1) mengaitkan/menghubungkan (relating); (2) mengalami (experiencing); (3) menerapkan (applying); (4) strategi bekerjasama (cooperating); dan (5) mentransfer (transferring). Strategi tersebut disingkat dengan REACT yang terfokus pada pembelajaran konteks. Semua strategi tersebut harus digunakan selama proses pembelajaran. 1) Relating (mengaitkan/menghubungkan) Relating (mengaitkan/menghubungkan) merupakan strategi pembelajaran kontekstual yang paling kuat, sekaligus inti konstruktivis (Crawford dalam Abdussakir, 2041). Dalam pembelajaran siswa melihat dan memperhatikan keadaan lingkungan dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, kemudian dikaitkan kedalam informasi baru atau persoalan yang akan dipecahkan. Jadi mengaitkan adalah belajar dalam konteks pengalaman kehidupan nyata seseorang atau pengetahuan yang ada sebelumnya. Guru menggunakan strategi relating ketika siswa mengaitkan konsep bari dengan sesuatu yang benar-benar sudah tidak asing lagi bagi siswa, dengan mengaitkan apa yang telah diketahui oleh siswa dengan informasi yang baru. Dalam memulai pembelajaran, guru yang menggunakan strategi relating harus selalu mengawali dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab oleh hampir semua siswa dari pengalaman hidupnya di luar kelas. Jadi pertanyaan yang diajukan selalu dalam fenomena-fenomena yang menarik dan tidak asing lagi bagi siswa, bukan menyampaikan sesuatu yang abstrak atau fenomena yang berada diluar jangkauan persepsi, pemehaman dan pengetahuan para siswa. Ada tiga sumber utama untuk mengetahui pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki oleh siswa sebelumnya yaitu: - Pengalaman, yaitu pengalaman guru sendiri dengan siswa yang memiliki latar belakang serupa atau dari pengalaman kolektif guru dan para koleganya.

- Peneliti, yaitu bukti yang didokumentasi tentang gagasan-gagasan yang dipegang siswa secara umum - Penyelidikan, yaitu suatu bentuk pertanyaan-pertanyaan atau tugas-tugas yang dirancang secara cermat yang mengungkapkan pengetahuan dan keyakinan siswa

Relating menurut Center for Occupational Research and Development (CORD) (diakses pada tanggal 25 Januari 2014). Belajar dalam konteks pengalaman hidup, atau menghubungkan, adalah jenis belajar kontekstual yang biasanya terjadi pada anak-anak kecil. Bagi mereka, sumbersumber belajar telah tersedia dalam bentuk mainan, permainan, dan peristiwa seharihari seperti waktu makan, perjalanan ke pusat perbelanjaan, dan berjalan-jalan di lingkungan sekitar rumah. Namun demikian, saat anak-anak tumbuh semakin besar, memberikan konteks yang sedemikian bermakna untuk belajar kepada mereka menjadi lebih sulit. Kita adalah suatu masyarakat di mana dunia kerja sangat terpisah dari kehidupan rumah tangga, di mana anggota-anggota dari keluarga besar terpisahkan jarak yang jauh, serta di mana para remaja tidak memiliki peran atau tanggung jawab kemasyarakatan yang jelas yang sesuai dengan kemampuan-kemampuan mereka. Pada kondisi-kondlsi ideal, para guru sekedar mengarahkan para siswa dari satu aktilitas berbasis masyarakat ke satu aktifitas lainnya, mendorong mereka untuk menghubungkan apa yang sedang mereka pelajari dengan pengalaman kehidupan nyata. Namun demikian, pada sebagian besar kasus, sebagai akibat dari rentang dan kompleksitas konsep-konsep yang diajarkan dan keterbatasan sumber daya, pengalaman-pengalaman hidup akan harus dijabarkan melalui teks, video, ceramah, dan aktivitas ruang kelas. Kurikulum yang berupaya menempatkan belajar dalam konteks pengalamanpengalaman hidup hendaknya, terlebih dulu, menggugah perhatian siswa ke arah Pemandangan, peristiwa, dan kondisi keseharian.Kurikulum itu hendaknya kemudian Menghubungkan situasi-situasi keseharian pada informasi baru yang akan diserap atau permasalahan yang akan dipecahkan.

2) Experiencing (mengalami) Dalam mempelajari suatu konsep, siswa mempunyai pengalaman terutama langkah-langkah dalam mempelajari konsep tersebut. Hal ini bisa diperoleh pada saat siswa mengerjakan LKS, latihan penugasan, dan kegiatan lain yang melibatkan keaktifan siswa dalam belajar. Sehingga dengan mengalami siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep. Relating dan experiencing merupakan dua strategi untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari berbagai konsep baru. Tetapi guru harus tau kapan dan bagaimana caranya mengintegrasikan strategi-srategi dalam pembelajaran dan hal tersebut tidaklah sederhana. Disini guru memerlukan ketelitian, kolaborasi, cermat dlam menyajikan materi-materi pembelajaran yang sangat tepat untuk mengetahui kapan saatnya mengaktifkan pengelaman dan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, sehingga dapat membantu menyusun pengetahuan baru bagi siswa. Experiencing (Menurut CORD). Mengalami-belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaanpenciptaan merupakan jantung dari belajar kontekstual. Betapapun para siswa menjadi termotivasi atau terlibatkan sebagai hasil dari strategi-strategi pembelajaran lainnya seperti video, naratif, atau aktifitas-aktifitas berbasis teks, semua itu relatif masih merupakan bentuk-bentuk belajar yang pasif. Dan belajar tampak "terjadi" jauh lebih cepat bila para siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentukbentuk penelitian aktif lainnya. Pada teks-teks keilmuan akademik yang kontekstual, laboratorium seringkali didasarkan pada tugas-tugas dunia kerja yang sebenarnya. Tujuannya bukanlah melatih para siswa untuk pekerjaan tertentu, tetapi untuk memberi mereka kesempatan untuk mengalami aktifitas-aktifitas yang langsung berkaitan dengan kerja dunia nyata. Banyak dari aktifitas dan skill yang dipilih untuk laboratorium bersifat lintaspekerjaan, maksudnya, yang digunakan dalam spektrum luas dari pekerjaan-pekerjaan.

3) Applying (menerapkan) Pembelajaran yang dilakukan dengan menerapkan adalah belajar ubtuk menerapkan konsep-konsep ketika melaksanakan aktivitas pemecahan soal-soal, baik melalui LKS, latihan penugasan, maupun kegiatan lain yang melibatkan keaktifan siswa dalam belajar.
8

Untuk lebih memotivasi dalam memahami konsep-konsep, guru dapat memberikan latihan-latihan yang realistik, relevan, dan menunjukkan manfaat dalam suatu bidang kehidupan. Agar proses pembelajaran dapat menunjukkan motivasi siswa dalam mempelajari konsep-konsep serta pemahaman yang lebih mendalam, Crawford (2001) merekomendasikan hal-hal sebagai berikut: - Fokuskan pada aspek-aspek aktivitas pembelajaran yang bermakna - Rancanglah tugas-tugas untuk sesuatu yang baru, variasi keragaman dan menarik - Rancanglah tugas-tugas yang menantang tetapi masuk akal dalam kaitannya dengan kemampuan siswa.

Applying (Menurut CORD). Menerapkan konsep-korsep dan informasi dalam konteks yang berguna seringkali mengarahkan siswa ke suatu sosok masa depan yang dibayangkannya (sebuah karier yang mungkin) dan/atau ke suatu lokasi yang masih asing baginya (tempat kerja). Di dalam mata pelajaran-mata pelajaran belajar kontekstual, aplikasiaplikasi seringkali didasarkan pada aktifitas-aktifitas dunia kerja. Seperti dikemukakan lebih awal, para remaja masa kini pada umumnya memiliki akses yang terbatas ke dunia kerja; tidak seperti generasi-generasi sebelumnya, mereka tidak melihat padanan zaman modem dari pandai besi di tempat penempatan atau petani-petani di ladang pada masa lalu. Secara mendasar terisolasi di permukiman kota atau di daerah pinggiran, banyak siswa memiliki pengetahuan lebih banyak tentang bagaimana caranya menjadi seorang bintang musik rock atau model daripada tentang bagaimana caranya menjadi seorang dokter pemafasan atau operator pembangkit daya. Jika mereka dikehendaki memperoleh pemahaman koneksi yang realistik di antara persekolahan dan pekerjaan-pekerjaan di kehidupan nyata, maka konteks dunia kerja hendaknya dihadirkan kepada mereka. Ini terjadi paling lazim melalui teks, video, laboratorium, dan aktifitas, meski, di banyak sekolah, pengalaman-pengalaman belajar kontekstual tersebut akan diikuti dengan pengalaman langsung seperti studi wisata ke sebuah pabrik atau semacamya, penyelengaraan mentoring, dan jalinan keikutsertaan kerja di lapangan.

4) Cooperating (bekerja sama) Belajar dengan bekerjasama, saling tukar pendapat (sharing), merespon, dan berkomunikasi dengan pembelajar lainnya akan sangat membantu siswa dalam mempelajari suatu konsep. Hal ini sesuai dengan pendapat slavim(1995) yang member pengertian bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbang pikiran dan bertanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar. secara individu maupun kelompok. Untuk menghindari adanya siswa yng idak berpartisipasi dalam aktivitas kelompok, menolak atau menerima tanggung jawab atas pekerjaan kelompok, kelompok mungkin terlalu tergantung pada bimbingan guru, atau kelompok dapat terlihat dalam konflik. Oleh karena itu Johnson (dalam Crawford, 2001) memberikan beberapa petunjuk untuk menghindari berbagai kondisi negative dan menciptakan lingkungan pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep yang lebih mendalam. Adapun petunjuk tersebut: Menyusun kesalingtergantungan positif dalam kelompok belajar siswa. Kesalingtergantungan positif berarti bahwa masing-masing siswa merasa bahwa dia tidak dapat sukses jika para anggota kelompok semuanya tidak sukses. Dengan demikian siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok dan juga mempunyai andil suksesnya kelompok. Meminta siswa berinteraksi dalam menyelesaikan tugas-tugas dan memastikan bahwa interaksi-interaksi tersebut berkaitan dengan tugas.interaksi mencakup pemberian bantuan dan dorongan dari siswa ke siswa, penjelasan gagasan-gagasan dan berbagai strategi pemecahan soal, dan pembahasan terhadap gagasan-gagasan lain yang berkaitan dengan tugas. Memastikan semua kelompok belajar membahas seberapa efektif kelompok berfungsi. Cooperating (Menurut CORD). Bekerja sama-belajar dalam konteks berbagi, merespon, dan berkomunikasi dengan pelajar-pelajar lain adalah sebuah strategi pembelajaran utama dalam pembelajaran kontekstual. Pengalaman bekerja sama tidak saja membantu mayoritas siswa mempelajari materi, tetapi pengalaman seperti itu juga sejalan dengan fokus dunia nyata dari pembelajaran kontekstual.

10

Wawancara penelitian bersama para pengusaha mengungkap bahwa pekerjapekerja yang dapat berkomunikasi secara efektif, yang dapat berbagi informasi secara bebas, dan yang dapat bekerja dengan nyaman dalam sebuah latar tim sangatlah dihargai di lapangan kerja. Dengan demikian, kita memiliki cukup alasan untuk mendorong para siswa membangun skill-skill kooperatif ini saat mereka masih di ruang kelas. Metode laboratorium, salah satu metode pembelajaran utama dalam akademika terapan, pada dasarnya bersilat kooperatif. Lazimnya, para siswa bekerja secara berpasangan untuk melakukan latihan laboratorium; pada beberapa kasus, mereka bekerja dalam kelompok tiga atau empat orang. Menuntaskan kerja laboratorium secara berhasil menuntutkan delegasi, observasi, saran, dan diskusi. Di banyak laboratorium kualitas data yang dikumpulkan oleh sebuah tim sebagai kesatuan tergantung pada kinerja individual dari tiap anggota tim. Para siswa juga harus bekerja sama untuk menyelesaikan banyak aktifitas kelompok kecil yang tercakup di dalam mata pelajaran-mata pelajaran akademik terapan. Bekerja secara berpasangan (partnering) dapat menjadi sebuah strategi yang efektif untuk mendorong para siswa bekerja sama.

5) Transferring (mentransfer) Pembelajar sebagai pengguna pengetahuan dalam konteks baru atau situasi baru. Pembelajaran diarahkan untuk menganalisis dan memecahkan suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan dengan menrapkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Selain hal di atas, guru tampaknya memiliki kemampuan alamiah untuk memperkenalkan gagasan-gagasan baru yang dapat memberikan motivasi terhadap siswa secara intrinsic dengan memancing rasa penasaran atau emosi. Oleh karena itu, guru secara selektif menggunakan latihan-latihan untuk memancing rasa penasaran dan emosi sebagai motivator dalam mentransfer gagasan-gagasan matematika dari satu konteks ke konteks lain. Dengan demikian rasa bermakna yang timbul dalam pembelajaran dengan strategi ini dapat melibatkan emosi siswa. Transfering (Menurut CORD). Belajar dalam konteks pengetahuan yang telah ada, atau mentransfer, menggunakan dan membangun pada apa yang telah diketahui siswa. Metode semacam
11

ini serupa dengan relating, dalam hal bahwa metode ini melibatkan apa yang telah akrab bagi siswa. Sebagai orang dewasa, banyak dari kita pandai menghidari situasi-situasi yang asing-bagian kota yang kita tidak ketahui, makanan aneh yang tidak pernah kita makan, toko yang tidak pernah kita kunjungi, dan sebagainya. Kadang-kadang kita pun menghindari situasi-situasi di mana kita harus mendapatkan informasi baru atau membangun skill baru (terutama jika kemungkinan terdapat orang-orang menyaksikan) memanfaatkan sebuah jenis perangkat lunak computer yang baru atau berurusan disebuah Negara lain dengan skill bahasa asing kita yang belum memadai. Namun demikian, kebanyakan siswa di sekolah menengah yang menerapkan pembelajaran tradisional jarang memiliki kesempatan untuk menghindari situasi-situasi belajar yang baru; mereka dihadapkan pada situasi-situasi demikian setiap hari. Kita dapat membantu mereka mempertahankan rasa harga diri dan membangun kepercayaan diri jika kita mengupayakan pembangunan pengalaman-pengalaman belajar baru pada apa yang telah mereka ketahui.

2. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis REACT Langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaran kontekstual REACT pada dasarnya mengikuti tahapan-tahapan dari model tersebut, yaitu terdiri dari lima fase (1) relating atau mengaitkan, (2) experiencing atau mengalami, (3) applying atau menerapkan, (4) cooperating atau kerjasama, dan (5) transfering atau pemindahan. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kontekstual REACT merupakan suatu siklus kegiatan. Artinya, proses tersebut tidak pernah terputus, seperti yang disajikan pada gambar di bawah.

Pembelajaran diawali dengan tahap relating. Pada tahap ini guru mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan baru yang akan dibahas dengan
12

memumnculkan permasalahan-permasalahan autentik yang akrab dengan keseharian siswa. Tahap kedua adalah experiencing. Pada tahap ini guru mengajak siswa untuk menemukan konsep melalui aktivitas laboratorium (kegiatan eksperimen). Setelah siswa menemukan konsep pada tahap experiencing, pembelajaran dilanjutkan ke tahap applying yaitu penerapan konsep melalui latihan soal yang sifatnya autentik dan realistik. Tahap pembelajaran keempat adalah cooperating, yaitu kerjasama kelompok untuk mencari solusi pemecahan masalah yang terbaik. Tahap pembelajaran paling akhir adalah transfering. Pada tahap ini guru mencoba membimbing siswa mentransfer pengetahuan atau konsep yang sudah didapatkan dalam proses pembelajaran ke konteks pengetahuan lain yang lebih kompleks

13

BAB III PENUTUP

1) Kelebihan strategi REACT a) Memperdalam pemahaman siswa Dalam pembelajaran siswa bukan hanya menerima informasi yang disampaikan oleh guru, melainkan melakukan aktivitas mengerjakan LKS sehingga bisa mengaitkan dan mengalami sendiri prosesnya. b) Mengembangkan sikap menghargai diri siswa dan orang lain Karena dalam pembelajaran, siswa bekerjasama, melakukan aktivitas dan menemukan rumusnya sendiri, maka siswa memiliki rasa menghargai diri atau percaya diri sekaligus menghargai orang lain c) Mengembangkan sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki Belajar dengan bekerja sama akan melahirkan komunikasi sesama siswa dalam aktivitas dan tanggung jawab, sehingga dapat menciptakan sikap kebersamaan dan rasa memiliki d) Mengembangkan keterampilan untuk masa depan Belajar dengan mengalami dituntut suatu keterampilam dari siswa untuk memanipulasi benda konkrit. Kegiatan tersebut merupakan bekal untuk mengembangkan keterampilan masa depan. e) Membentuk sikap mencintai lingkungan Pembelajaran dengan memperhatikan keadaan lingkungan dan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, dikaitkan dengan informasi baru. Oleh karena itu, siswa dengan sendirinya membentuk sikap mencintai lingkungannya. f) Membuat belajar secara inklusif Pembelajaran yang dilaksanakan secara menyeluruh, sempurna dan menyenangkan

14

2) Kelemahan strategi REACT a) Membutuhkan waktu yang lama untuk siswa Pembelajaran dengan strategi REACT membutuhkan waktu yang cukup lama bagi siswa dalam melakukan aktivitas belajar, sehingga sulit mencapai target kurikulum. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pengaturan waktu selektif mungkin. b) Membutuhkan waktu yang lama untuk guru Pembelajaran dengan strategi REACT membutuhkan waktu yang cukup lama bagi guru dalam melakukan aktivitas belajar, sehingga kebanyakan guru tidak mau melakukannya c) Membutuhkan kemampuan khusus guru Kemampuan guru yang paling dibutuhlan adalah adanya keinginan untuk melakukan kreatif, inovatif dan komunikasi dalam pembelajaran sehingga tidak semua guru dapat melakukan atau menggunakan strategi ini. d) Menuntut sifat tertentu dari guru Pembelajaran dengan strategi REACT tidaklah mudah, memerlukan persiapan tambahan dan menuntut kerja keras serta bekerja sama dengan guru lain dalam menghadapi kendala. Hal ini juga menyebabkan guru harus rela bekerja keras.

15

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Nama Sekolah Mata Pelajaran Materi Pokok Kelas/Semester Alokasi Waktu : : : : : MTs ATTARAQQIE Matematika Peluang VII/Dua 2 x Pertemuan (4 x 40 menit)

A. Kompetensi Inti 1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya 2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya 3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata 4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret menggunakan, mengurai, merangkai, modifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori B. Kompetensi Dasar 1.1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya 2.1. Menunjukkan sikap logis, kritis, analitik, konsisten dan teliti, bertanggung jawab, responsif, dan tidak mudah menyerah dalam memecahkan masalah. 2.2. Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika serta memiliki rasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, yang terbentuk melalui pengalaman belajar. 2.3. Memiliki sikap terbuka, santun, objektif, menghargai pendapat dan karya teman dalam interaksi kelompok maupun aktivitas sehari-hari. 3.10. Menemukan peluang empirik dari data luaran (output) yang mungkin diperoleh berdasarkan sekelompok data; 4.9 Melakukan percobaan untuk menemukan peluang empirik dari masalah nyata serta menyajikannya dalam bentuk tabel dan grafik C. Indikator Pencapaian Kompetensi Siswa mampu: 3.10.1. Menemukan banyaknya ruang sampel 3.10.2. Menentukan banyaknya kejadian 3.10.3. Menentukan banyaknya ruang sampel 3.10.4. Menentukan banyaknya kejadian jumlah dua mata dadu 5 dari pelemparan dua mata dadu secara bersamaan 3.10.5. Menghitung peluang empirik suatu kejadian 3.10.6. Menemukan peluang teoritik dari suatu kejadian 3.10.7. Menjelaskan komplemen suatu peluang

16

D. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti pembelajaran materi peluang, siswa dapat: 2.1.1 Menunjukkansikap yang teliti dan jujur 2.2.1 Menunjukkan sikap ingin tahu dan percaya diri 3.10.1.a. Menemukan banyaknya ruang sampel melempar sebuah dadu 3.10.1.b. Menemukan banyaknya ruang sampel melempar sebuah mata uang logam 3.10.2. Menentukan banyaknya kejadian 3.10.3. Menentukan banyaknya ruang sampel 3.10.4. Menghitung peluang empirik suatu kejadian 3.10.5. Menemukan peluang teoritik dari suatu kejadian 3.10.6. Menjelaskan komplemen suatu peluang 4.9.1. Melakukan percobaan pacuan kuda (horse race) 4.9.2. Menyajikan dengan grafik hasil pacuan kuda (horse race) 4.9.3 Memecahkan persoalan pacuan dengan memberikan penjelasan yang ilmiah 4.9.4. Memiliki ketrampilan mempresentasikan temuan hasil eksperimen E. Materi Pembelajaran 1. Kejadian dan ruang sampel 2. Peluang empirik 3. Peluang teoritik 4. Komplemen peluang F. Metode Pembelajaran 1. Pendekatan Scientific approach 2. Model REACT 3. Metode Ceramah 4. Metode Diskusi 5. Metode Presentasi G. Media Pembelajaran 1. Papan pacuan kuda dari kertas manila FINISH

2. Sebelas buah koin sebagai kuda 3. Dua mata dadu pejal H. Sumber Pembelajaran Kemendikbud, 2013, Buku Matematika SMP/MTs Kelas VII (Buku Siswa), Jakarta: Kemendikbud. Kemendikbud, 2013, Buku Matematika SMP/MTs Kelas VII (Panduan Guru), Jakarta: Kemendikbud

17

I. Langkah-langkah Pembelajaran Kegiatan Pendahuluan Deskripsi Kegiatan Komunikasi 1. Memimpin doa (Meminta seorang siswa untuk memimpin doa) 2. Mengecek kehadiran siswa dan meminta siswa untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan yang diperlukan, misalnya buku siswa. 3. Meminta siswa untuk menanyakan kesulitan mengenai materi sebelumnya dan /atau pekerjaan rumah 4. Meminta siswa untuk memberi tanggapan terhadap kesulitan yang muncul 5. Memberikan penguatan terhadap jawaban siswa atau memberikan scaffolding untuk menyelesaikan masalah tersebut, apabila tidak ada siswa yang memberikan jawaban yang benar. Apersepsi 1. Guru memberikan gambaran tentang pentingnya memahami ruang sampel dan kejadian dari suatu fenomena, yaitu materi ini akan sangat penting untuk pembelajaran selanjutnya, misalnya menentukan banyak kejadian dan peluang dari suatu kejadian. 2. Sebagai apersepsi untuk mendorong rasa ingin tahu dan berpikir kritis, siswa diajak memecahkan masalah mengenai permainan pacuan kuda mengapa kuda tertentu yang menang? 3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu (1) menentukan kejadian dan ruang sampel dari suatu fenomena, dan (2) menentukan peluang suatu fenomena Inti Fase 1: Orientasi siswa pada masalah: (a) Guru mengajukan masalah 1 yang tertera pada Lembar Aktivitas Siswa (LAS) dengan bantuan IT (power point). (b) Guru meminta siswa mengamati (membaca) dan memahami masalah secara individu dan mengajukan hal-hal yang belum dipahami terkait masalah yang disajikan. (c) Jika ada siswa yang mengalami masalah, guru mempersilahkan siswa lain untuk memberikan tanggapan. Bila diperlukan, guru memberikan bantuan secara klasikal melalui pemberian scaffolding.
18

Alokasi Waktu 10 menit

60 menit

(d) Guru meminta siswa menuliskan informasi yang terdapat dari masalah tersebut secara teliti dengan menggunakan bahasa sendiri. Fase 2: Mengorganisasikan siswa belajar (a) Guru meminta siswa membentuk kelompok heterogen (dari sisi kemampuan, gender, budaya, maupun agama) sesuai pembagian kelompok yang telah direncanakan oleh guru. (b) Guru menyediakan logistik (media) untuk setiap kelompok berupa, misalnya papan perlombaan, dan dua mata dadu. (c) Guru membagikan Lembar Aktivitas Siswa (LAS) yang berisikan masalah dan langkah-langkah pemecahan serta meminta siswa berkolaborasi untuk menyelesaikan masalah. (d) Guru berkeliling mencermati siswa bekerja, mencermati dan menemukan berbagai kesulitan yang dialami siswa, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya hal-hal yang belum dipahami. (e) Guru memberi bantuan (scaffolding) berkaitan kesulitan yang dialami siswa secara individu, kelompok, atau klasikal. (f) Meminta siswa bekerja sama untuk menghimpun berbagai konsep dan aturan matematika yang sudah dipelajari serta memikirkan secara cermat strategi pemecahan yang berguna untuk pemecahan masalah. (g) Mendorong siswa agar bekerja sama dalam kelompok. Fase 3: Membimbing penyelidikan individu dan kelompok (a) Meminta siswa melihat hubungan-hubungan berdasarkan informasi/data terkait membangun (b) Guru meminta siswa melakukan eksperimen dengan media yang disediakan untuk menyelesaikan masalah fenomena pacuan kuda (c) Guru meminta siswa mendiskusikan cara yang digunakan untuk menemukan semua kemungkinan dari jenis pesanan tersebut, misalnya dengan tabel, diagram pohon, koordinat kartesius, cara mendaftar. Bila siswa belum mampu menjawabnya, guru memberi scaffolding dengan mengingatkan siswa mengenai cara mereka menentukan jenis pesanan.
19

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya (a) Guru meminta siswa menyiapkan laporan hasil diskusi kelompok secara rapi, rinci, dan sistematis. (b) Guru berkeliling mencermati siswa bekerja menyusun laporan hasil diskusi, dan memberi bantuan, bila diperlukan. (c) Guru meminta siswa menentukan perwakilan kelompok secara musyawarah untuk menyajikan (mempresentasikan) laporan di depan kelas. Fase 5: Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. (d) Guru meminta semua kelompok bermusyawarah untuk menentukan satu kelompok yang mempresentasikan (mengkomunikasikan) hasil diskusinya di depan kelas secara runtun, sistematis, santun, dan hemat waktu. (e) Guru memberi kesempatan kepada siswa dari kelompok penyaji untuk memberikan penjelasan tambahan dengan baik. (f) Guru memberi kesempatan kepada siswa dari kelompok lain untuk memberikan tanggapan terhadap hasil diskusi kelompok penyaji dengan sopan. (g) Guru melibatkan siswa mengevaluasi jawaban kelompok penyaji serta masukan dari siswa yang lain dan membuat kesepakatan, bila jawaban yang disampaikan siswa sudah benar. (h) Guru memberi kesempatan kepada kelompok lain yang mempunyai jawaban berbeda dari kelompok penyaji pertama untuk mengkomunikasikan hasil diskusi kelompoknya secara runtun, sistematis, santun, dan hemat waktu. Apabila ada lebih dari satu kelompok, maka guru meminta siswa bermusyawarah menentukan urutan penyajian. (i) Langkah (c), (d), dan (e) sebagai satu siklus dapat dilaksanakan lagi dan disesuaikan dengan waktu yang tersedia. (j) Selanjutnya, guru membuka cakrawala penerapan ide dari penyelesaian masalah tersebut untuk menemukan rumus (ide) umum untuk menentukan banyak kemungkinan yang terjadi dari suatu fenomena. Misalkan terdapat n orang dan m jenis makanan. Setiap orang memesan satu jenis makanan. Berapa banyak variasi jenis makanan yang dapat dipesan oleh semua orang tersebut?
20

(k) Guru mendorong agar siswa secara aktif terlibat dalam diskusi kelompok serta saling bantu untuk menyelesaikan masalah tersebut. (l) Selama siswa bekerja di dalam kelompok, guru memperhatikan dan mendorong semua siswa untuk terlibat diskusi, dan mengarahkan bila ada kelompok yang melenceng jauh pekerjaannya. (m) Salah satu kelompok diskusi (tidak harus yang terbaik) diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Sementara kelompok lain, menanggapi dan menyempurnakan apa yang dipresentasikan. (n) Guru mengumpulkan semua hasil diskusi tiap kelompok (o) Dengan tanya jawab, guru mengarahkan semua siswa pada kesimpulan mengenai permasalahan tersebut. Penutup 1. Siswa diminta menyimpulkan tentang bagaimana menentukan banyak ruang sampel dan kejadian. 2. Dengan bantuan presentasi komputer, guru menayangkan apa yang telah dipelajari dan disimpulkan mengenai cara menentukan banyak ruang sampel dan kejadian. 3. Guru memberikan tugas PR beberapa soal mengenai penerapan rumus yang diperoleh. J. Penilaian Teknik penilaian pengamatan, tes tulis, dan ketrampilan 1. Tes Tertulis 1. 2. Hitunglah peluang muncul jumlah 9 dari pelemparan dua buah mata dadu! Hitunglah peluang muncul mata dadu Prima dan Angka pada pelemparan sebuah dadu dan sekeping mata uang logam? 10 menit

2. LembarPengamatan No 1 Aspek Jujur Pernyataan a. Siswa menjalankan kuda secara tertib sesuai jumlah mata dadu yang muncul b. Siswa melempar dadu secara random c. Siswa menyajikan data eksperimen secara apa adanya a. Siswa mengemukakan pendapat dalam kelompok diskusinya b. Siswa mempresentasikan hasil dalam diskusi kelas
21

Kriteria Ya Tidak

Percaya Diri

Teliti

Rasa InginTahu

c. Siswa menjawabpertanyaan yang diajukan oleh temannya a. Siswa melakukan penjumlahan dua mata dadu dengan benar b. Siswa menentukanbanyaknyakejadiandenganbenar c. Siswa menentukan banyaknya ruang sampel dengan tepat d. Siswa menghitung peluang kejadian dari jumlah dua mata dadu tertentu dengan benar a. Siswa menanyakan hal-hal yang belum diketahui b. Siswa mencoba menemukan cara pemecahan masalah dengan praktek sendiri

Rumus Penskoran: Skor = (JumlahYa : Jumlah Pernyataan) x 100 Kategori: Sangat kurang : jika skor berada antara 0 sampai dengan 25 Kurang : jika skor berada antara 26 sampai dengan 50 Cukup : jika skor berada antara 51 sampai dengan 75 Baik : jika skor berada antara 76 sampai dengan 100 3. Keterampilan No 1 2 3 4 5 Pernyataan Membuat papan pacuan Menyajikan dalam grafik Kemampuan menjelaskan Kemampuan menjawab pertanyaan Kemampuan memvisualisasikan dengan IT Rumus Penskoran: Skor = (JumlahYa : Jumlah Pernyataan) x 100 Kategori: Sangat kurang : jika skor berada antara 0 sampai dengan 25 Kurang : jika skor berada antara 26 sampai dengan 50 Cukup : jika skor berada antara 51 sampai dengan 75 Baik : jika skor berada antara 76 sampai dengan 100 Malang, 25 Januari 2014 Guru Mata Pelajaran Kategori Ya Tidak

Kepala Sekolah

Prof. Drs. Gatot Muhsetyo, M.Sc NIP. 195005071974031002

Surya Turangga, S.Si

22

DAFTAR PUSTAKA

Abdussakir. 2009. Pembelajaran Keliling dan Luas Lingkaran dengan Strategi REACT pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 6 Kota Mojokerto. Makalah Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, 5 Desember 2009 http://www.cord.org/the-react-learning-strategy/, diakses pada tanggal 25 Januari 2014

23