Anda di halaman 1dari 274

I

PENDAHULUAN

anah merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki banyak fungsi dalam ekosistem, diantaranya adalah sebagai pertumbuhan tanaman, habitat bagi jasad tanah, media bagi kontruksi (rekayasa), sistem daur-ulang bagi unsur hara dan sisa-sisa organik serta sistem bagi pasokan dan penyaringan/penjernihan air. Tanpa tanah, manusia tidak dapat bertahan hidup. Mengingat tanah memainkan peranan sangat penting dalam ekosistem kita, maka kita harus berhati-hati dalam mengelola dan melindunginya dari kerusakan. Setiap tahun beratus-ratus bahkan beribu-ribu ton tanah hilang karena erosi. Prediksi sifat-sifat tanah dan tanggapannya terhadap pengelolaan sangat diperlukan dalam bidang pertanian dan kehutanan, untuk kajian kelayakan dan perencanaan pada proyek-proyek pengembangan wilayah serta untuk berbagai pekerjaan keteknikan (rekayasa). Menurut Dent dan Young (1991), tujuan utama survei tanah adalah untuk memprediksi lebih banyak serta lebih teliti berbagai tujuan yang lebih spesifik mengenai pengolahan tanah. Untuk mencapai maksud tersebut, sangatlah perlu menentukan pola tutupan tanah dan membagi pola-pola tersebut ke dalam satuansatuan yang relatif homogen; memetakan sebaran satuan-satuan tersebut sehingga memungkinkan diprediksinya daerah-daerah tersebut dan menentukan karakteristik satuan peta demikian rupa sehingga dapat di buat pernyataan yang bermanfaat tentang penggunaan lahan potensial dan tanggapannya terhadap perubahan pengelolaan. Dalam kaitannya dengan sumber daya alam, di kenal istilah tanah dan lahan yang pengertiannya seringkali rancu. Sesungguhnya pengertian

lahan lebih luas daripada tanah, sebagaimana dalam pengertian berikut ini. Sumber daya lahan merupakan suatu limgkungan fisik yang terdiri atas iklim, topografi, tanah, hidrologi dan vegetasi dimana pada batasbatas tertentu mempengaruhi kemampuan penggunaan lahan (FAO,1976). Dengan demikian dalam pengertian lahan, tanah termasuk di dalamnya. Menurut FAO (1955), lahan memilki banyak fungsi yaitu ; Fungsi produksi Sebagai basis bagi berbagai sistem penunjang kehidupan, melalui produksi biomassa yang menyediakan makanan, pakan ternak, serat, bahan kayu bakar dan bahan biotik lainnya bagi manusia, baik secara langsung melalui binatang termasuk budidaya kolam dan tambak ikan. Fungsi lingkungan biotik Lahan merupakan basis bagi keragaman daratan (terrestrial) yang menyediakan habitat biologi dan plama nutfah bagi tumbuhan, hewan dan jasad-mikro diatas dan dibawah permukaan tanah. Fungsi pengatur iklim Lahan dan penggunaannya merupakan sumber (source) dan rosot (sink) gas rumah kaca dan menetukan neraca energi global berupa pantulan , serapan, dan transformasi dari energi radiasi matahari dan daur hidrologi global. Fungsi hidrologi Lahan mengatur simpanan dan aliran sumber daya air tanah dan air permukaan serta mempengaruhi kualitasnya. Fungsi penyimpanan Lahan merupakan gudang (sumber) berbagai bahan mentah dan mineral untuk di manfaatkan oleh manusia. Fungsi pengendali sampah dan polusi Lahan berfungsi sebagai penerima, penyaring, penyangga, dan pengubah senyawa-senyawa berbahaya. Fungsi ruang kehidupan Lahan menyediakan sarana fisik untuk tempat tinggal manusia, industri dan aktivitas sosial seperti olahraga dan rekreasi.

Fungsi peninggalan dan penyimpanan Lahan merupakan media untuk menyimpan dan melindungi benda-benda bersejarah dan sebagai suatu sumber informasi tentang kondisi iklim dan penggunaan lahan masa lalu. Fungsi penghubung spasial Lahan menyediakan ruang untuk transportasi manusia, masukan dan produksi serta untuk pemindahan tumbuhan dan binatang antara daerah terpencil dari suatu ekosistem alami. Kesesuaian lahan untuk berbagai fungsi tersebut sangat beragam di seluruh penjuru bumi. Satuan lansekap, sebagai satuan sumber daya alami, memiliki dinamisme masing-masing tetapi campur tangan manusia mempengaruhi dinamika tersebut secara amat luas dalam ruang dan waktu kualitas lahan bagi satu atau lebih fungsi tersebut dapat di tingkatkan (misalnya melalui tindakan-tindakan pengendali erosi) tetapi seringkali lahan telah atau tengah mengalami degradasi karena tindakan manusia. Sumber daya tanah oleh sementara kalangan di anggap sebagai sumber daya yang termasuk non renewable yaitu yang tidak mudah di perbaharui, atau yang jika sekali mengalami kerusakan atau kehilangan akan membutuhkan waktu pemulihan yang relatif lama. Berdasarkan kenyataan di atas, sangatlah penting untuk meneliti sifat-sifat tanah serta sebarannya sekaligus mengetahui tingkat kesesuaian dan faktor-faktor pembatasnya untuk penggunaan lahan tertentu. Survei tanah meliputi penelitian dan pengumpulan informasi dalam rangka : 1. Menentukan karakteristik-karakteristik penting dari tanah. 2. Mengklasifikasikan tanah ke dalam satuan taksa sesuai dengan sistem klasifikasi tanah baku. 3. Menentukan dan mendelineasi batas taksa-taksa tanah pada peta. 4. Mengolerasikan dan memprediksi kesesuaian (adaptabilitas) tanah untuk berbagai macam penggunaan, baik di bidang pertanian maupun non pertanian (pemukiman, pariwisata dan lain-lain).

Hasil dari survei tanah tersebut dapat di gunakan untuk meemprediksi karakteristik tanah untuk bidang pertanian, kontruksi atau teknik/rekayasa, pariwisata maupun pemanfaatan lainnya, yang lebih di kenal dengan evaluasi lahan. Evaluasi lahan merupakan proses pendugaan keragaan (performance) lahan apabila lahan digunakan untuk tujuan tertentu (FAO,1985) atau sebagai metode yang menjelaskan atau memprediksi kegunaan potensial dari lahan (van diepen et all.,1991). Apabila potensi lahan sudah dapat di tentukan, maka perencanaan penggunaan lahan dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan yang rasional, paling tidak mengenai apa yang dapat ditawarkan oleh sumber daya lahan tersebut (FAO, 1993). Dengan demikian, evaluasi lahan merupakan alat perencanaan penggunaan lahan lahan yang strategis. Evaluasi lahan memprediksi keragaan lahan mengenai keuntungan yang diharapkan dari penggunaan lahan dan kendala penggunaan lahan yang produktif serta degradasi lingkungan yang di perkirakan akan terjadi karena penggunaan lahan. Alasan mengapa evaluasi lahan sangat penting di kemukakan oleh Rosisster(1996) sebaagi berikut: 1. Lahan memiliki sifat fisik, sosial, ekonomi dan geografi yang bervariasi. (lahan di ciptakan tidak sama). 2. Variasi tersebut mempengaruhi penggunaan lahan. Untuk masingmasing penggunaan lahan, ada daerah (areal) yang lebih atau yang kurang sesuai dalam pengertian fisik dan/atau ekonomi. 3. Variasi tersebut paling tidak sebagian terjadi secara sistematik dan sebab-sebab yang dapat di ketahui dengan pasti. 4. Variasi tersebut (fisik, politik, ekonomi dan sosial) dapat dipetakan dengan jalan survei, (daerah yang di survei di bagi menjadi satuansatuan yang relatif homogen). 5. Sifat-sifat lahan jika digunakan untuk penggunaan tertentu dapat diramalkan dengan tingkat kepastian tertentu, tergantung pada kualitas data sumber daya lahan dan kedalaman pengetahuan mengenai hubungan antara lahan deabgan penggunaan lahan.

6. Kesesuaian lahan bagi berbagai penggunaan lahan aktual dan yang diusulkan dapat dideskripsikan dan dipetakan secara sistematis. 7. Pengambil keputusan seperti perencana penggunaan lahan (Badan Pertahanan Nasional), Bapedda, Dinas Pertanian, Lembaga pemberi kredit bidang pertanian dan lain-lain, dapat menggunakan perdiksi yang di hasilkan oleh evalusi lahan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

1.1

Tujuan Dan Pengertian Survei Tanah

Jika kita mangamati tanah pada suatu tempat dan membandingkannya dengan tanah di tempat lain, maka akan terlihat beberapa perbedaan warna , tekstur keadaan permukaan dan lain-lain. Belum lagi jika kita mengamati dan mendeskripsikan profil tanahnya, jelas sekali akan terlihat perbedaan dalam susunan dan sifat horison tanah. Perbedaan-perbedaan itu kadang-kadang dapat terjadi di tempat-tempat yang berdekatan yang hanya berjarak beberapa meter saja. Adanya perbedaan tersebut menimbulkan adanya perbedaan potensi masing-masing tanah bagi pengembangan suatu tanaman atau komoditas tertentu maupun untuk kepentingan di luar pertanian. Untuk dapat membedakan tanah satu dengan yang lain yang kemudian disajikan dalam suatu peta tanah, perlu dilakukan serangkaian kegiatan yang disebut survei tanah atau inventarisasi sumber daya tanah . oleh karena tanah tidak bisa berdiri sendiri dan selalu terkait dengan lingkungannya seperti iklim, topografi (lereng), hidrologi dan lainlain maka kegiatan inventarisasi ini lebih tepat disebut inventarisasi sumber daya lahan. Survei tanah dapat didefinisikan sebagai penelitian di lapangan dan di laboratorium, yang dilakukan secara sistematis dengan metode-metode tertentu terhadap suatu daerah (areal) tertentu, yang di tunjang oleh informasi dari sumber-sumber lain yang relevan (SCSA, 1982). Survei tanah adalah pengamatan yang dilakukan secara sistematis, disertai dengan mendeskripsikan, mengklasifikasikan dan memetakan tanah disuatu daerah tertentu (Brady and Weil, 2002). Menurut Rosisster

(2000), survei tanah adalah proses menentukan pola tutupan tanah, menentukan karakteristik tanah dan menyajikannya dalam bentuk yang dapat dipahami dan diinterpreasi oleh berbagai kalangan pengguna. Menurut Soil Survey Division Staff (1993), survei tanah mendeskripsikan karakteristik tanah-tanah di suatu daerah, mengklasifikasikannya menurut sistem klasifikasi baku, memplot batas tanah pada peta dan membuat prediksi tentang sifat tanah. Perbedaan penggunaan tanah dan bagaimana tanggapan pengelolaan mempengaruhi tanah itulah yang terutama perlu di perhatikan (dalam merencanakan dan melakukan survei tanah). Informasi yang dikumpulkan dalam survei tanah membantu pengembangan rencana penggunaan lahan dan sekaligus mengevaluasi dan memprediksi pengaruh penggunaan lahan terhadap lingkungan. Hasil dari survei tanah adalah peta tanah beserta legenda peta dan laporan. Peta tanah menyajikan informasi tentang jenis (klasifikasi tanah), lokasi (sebaran) dan luasan masing-masing tanah yang terdapat pada masing-masing satuan peta. Uraian beberapa sifat tanah yang penting untuk tiap satuan peta disajikan pada legenda peta tanah. Dalam laporan hasil survei tanah, disajikan latarbelakang dan tujuan dilakukannya survei, metode serta hasil interpretasi tanah yang terdapat di daerah tersebut. Hasil interpretasi tanah merupakan prediksi tentang prilaku tanah sebagai respon terhadap berbagai jenis tanaman serta respons tanah terhadap pengelolaannya. Dengan demikian, tujuan utama survei tanah adalah; 1. Membuat semua informasi spesifik yang penting tentang tiap-tiap macam tanah terhadap penggunaannya dan sifat-sifat lainnya sehingga dapat di tentukan pengelolaannya. Menyajikan uraian satuan peta sedemikian rupa sehingga dapat diinterpretasikan oleh orang-orang yang memerlukan fakta-fakta mendasar tentang tanah.

2.

Biasanya untuk memudahkan melihat sebaran tanah, masing-masing satuan peta di beri simbol simbol dan bahkan warna yang berbeda. Tiap-

tiap simbol tercatat secara sistematisdalam legenda peta, yang mendeskripsikan tanah secara ringkas dan satuan petanya, serta membangun hubungan antara peta dan laporan. Informasi yang terdapat pada masing-masing peta, ditentukan oleh skala peta. Oleh karena itu peta berdasarkan skalanya mempunyai nama (tipe) yang berbeda-beda (lihat bab 2). Pelaksanaan survei tanah pada skala yang berbeda dilakukan dengan cara yang berbeda pula. Semakin besar skala peta yang dihasilkan, semakin banyak jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu. Demikian pula sebaliknya. Menurut Eyk dalam rosisster (2001) tujuan utama survei tanah adalah mengenali dan mengidentifikasikan tubuh tanah tiga dimensi yang memiliki arti penting untuk berbagai tujuan dan menentukan batas sebaran geografi tanah-tanah tersebut pada peta dasar. Menurut Walmsley (1995), ada dua tujuan utama survei tanah yaitu: 1. Mengidentifikasi, mendeskripsi dan mengklasifikasikan tanah-tanah yang berbeda di suatu daerah. 2. Mengidentifikasi, memprediksi dan delineasi berbagai jenis atau kombinasi tanah dengan cara yang konsisten. Berikut ini diuraikan lebih tanjut kegiatan yang tercakup dalam survei tanah: 1. Mendeskripsi karakteristik tanah di suatu daerah Mengingat bahwa tanah merupakan objek kajian maka karakteristiknya harus diamati dengan teliti. Tujuannya adalah mendeskripsikan 'tanah bukan mendeskripsikan geologi, geomorfologi, landform, iklim, penggunaan lahan atau yang lainnya. Memang diakui bahwa cara yang efisien untuk memetakan dan memahami tanah adalah dengan mengacu kepada geomorfologi atau

yang lainnya, tetapi pada akhirnya, survei tanah harus menyajikan kondisi tanah di daerah tersebut. Kegiatan ini dilakukan di lapangan terhadap profil tanah, profil-mini (minipit), pemboran atau irisan (tebing) jalan dengan menggunakan pedoman-pedoman tertentu. Kegiatan ini harus disertai dengan pengambilan contoh tanah serta analisis laboratorium. 2. Mengklasifikasi tanah menurut sistem klasifikasi Tanah baku.

Tahap ini bertujuan mengorelasikan tanah di daerah tertentu dengan tanah tanah di tempat lain dan juga untuk membakukan pemetaan dalam setiap daerah yang disurvei. Pengertian sistem di klasifikasi tanah baku dapat berupa sistem klasifikasi lokal nasional ataupun internasitnal. Tujuan utama korelasi menurut Rossiter (2001) adalah agar transfer tekhnologi lebih efisien, dalam pengertian pengalamanpengalaman di suatu daerah dapat diterapkan -di daerah lain. Beberapa kasus tanah dengan sifat serupa (yang diharapkan klasifikasinya juga sama) dapat terjadi dalam daerah geografi yang sangat luas, bahkan dapat berada pada pulau atau benua yang berlainan (discontinued) sehingga pengalaman-pengalaman disuatu daerah dapat diterapkan di daerah lain yang tanahnya 'sama' tersebut. Klasifikasi tanah dilakukan dengan mengikuti cara-cara baku yang didasarkan pada hasil pencatatan (deskripsi) dan pencirian tanah serta data-data yang diperoleh dari analisis laboratorium. 3. Mendelineasi batas tanah pada peta Pada hampir semua aplikasi survei tanah, perbedaan jenis (taksa) tanah harus dibedakan pada peta, yaitu yang menunjukan lokasi geografis tanah yang kemungkinan akan menjadi perhatian pengguna lahan. Kegiatan ini meliputi penggambaran ke dalam bentuk satuan geografis pada suatu peta dasar yang biasanya dibuat dari peta topografi (rupa bumi) atau mosaik-foto. Masing-masing satuan peta di tandai dengan simbol.

Di dalam legenda peta, masing-masing simbol tersebut dijelaskan dalam bentuk uraian. Di samping itu, dalam legenda juga disajikan informasi-informasi penting tentang sifat-sifat masing-masing jenis tanah yang terdapat dalam setiap satuan peta. 4. Memprediksi perilaku/sifat tanah (Interpretasi Survei Tanah) Survei tanah pada dasarnya merupakan aktivitas yang mengarah kepada aspek pemanfaatan tanah. Tahap ini dapat didefinisikan secara sempit, yaitu hanyamenggunakan data tanah untuk memprediksi sifat tanah untuk tujuan aplikasi yang seringkali diistilahkan dengan interpretasi survei tanah. Dapat pula mencakup aktivitas yang lebih luas yaitu evaluasi lahan, yang mempertimbangkan karakteristik lahan yang lain selain tanah yaitu iklim, penggunaan lahan, lereng dan lainlain. Prediksi dapat dilakukan oleh pakar dalam bidang lain, bukan oleh penyurvei tanah atau oleh penyurvei bersama-sama dengan pakar lain (yang bertugas melakukan interpretasi) yang bekerja secara bersama-sama. Umumnya dalam survei tanah selain mengamati tanah juga harus mengumpulkan informasi tentang karakteristik lahan yang penting untuk membuat prediksi.

1.2

Survei Tanah Bertujuan Umum dan Bertujuan Khusus

Peta tanah yang dihasilkan dari survei tanah jika dilakukan cukup detail, dengan penentuan sifat yang memadai untuk masing-masing satuan peta, pada umumnya dapat diinterpretasikan untuk berbagai tujuan tanpa perlu melakukan survei-ulang untuk menjawab masalah-masalah pengelolaan yang timbul kemudian. Namun demikian untuk dapat memenuhi tujuan pengguna, tujuan-tujuan tersebut harus diwujudkan dalam suatu konsep survei (pemilihan satuan peta, skala peta, intensitas pengamatan dan-jenis laporan). Menurut Dent dan Young (1981), ada dua strategi dalam melakukan survei tanah, yaitu surveitanah untuk tujuan umum dan untuk tujuan khusus (special purpose).

Survei tanah untuk tujuan umum ditujukan untuk memberikan data sebagai dasar interpretasi untuk berbagai penggunaan yang berbeda, bahkan beberapa dari penggunaan tersebut belum diketahui. Satuan peta harus didasarkan pada morfologi tanah. Satuan yang sangat cocok adalah sekelompok tanah dengan susunan horizon yang sama, berkembang pada bahan induk serupa dan di bawah kondisi eksternal serupa. Yang terakhir merupakan definisi dari seri tanah. Tanah-tanah yang dikelompokkan dengan cara ini memiliki banyak persamaan dan seri-seri- tanah telah terbukti sebagai satuan yang bermanfaat untuk interpretasi bertujuan umum dan sebagai dasar untuk melakukan riset yang berkaitan dengan hubungan tanah tanaman. Survei tanah bertujuan umum meliputi pembuatan peta pedologi yang menyajikan sebaran satuan-satuan tanah yang ditentukan menurut morfologi serta data sifat fisik, kimia dan biologi yang dikumpulkan di lapangan dan di laboratorium. Peta tanah bertujuan umum diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk keperluan tahap interpretasi berikutnya, yaitu evaluasi lahan yang tidak hanya mencakup berdasarkan karakteristik satuan tanah saja, melainkan juga berdasarkan atas faktorfaktor fisik, ekonomi dari sosial lainnya yang berkaitan. Survei tanah untuk tujuan khusus dilakukan apabila tujuannya telah diketahui sebelumnya dan bersifat spesifik, misalnya untuk irigasi, reklamasi lahan atau penanaman jenis tanaman tertentu seperti teh, tebu atau tanaman lainnya. Survei tanah untuk tujuan khusus dapat dilakukan asalkan sebelumnya tujuan penggunaannya dikemukakan secara jelas, karakteristik tanah yang berkaitan dengan tujuan tersebut telah diketahui dan dapat dipetakan baik melalui pendugaan atau penarikan kesimpulan dari sifat-sifat yang dapat diamati atau jika sulit dilakukan, maka perlu dilakukan pengamatan secara grid dan disertai analisis contoh tanah. Hal ini dapat dilakukan misalnya dalam pengembangan irigasi, mengingat sifat-sifat tanah yang terkait telah diketahui serta nilai-nilai pembatas masing-masing faktor yang akan digunakan telah ditentukan, serta adanya investasi ekonomi dimungkinkan untuk melakukan survei lapangan secara intensif.

Survei tanah bertujuan umum sangat bermanfaat untuk diterapkan pada wilayah-wilayah yang masih belum berkembang, yang faktor fisik lingkungannya (potensi penggunaan lahannya) belum banyak diketahui. Kisaran penggunaan-penggunaan lahan sangat luas, meliputi penggunaan untuk pertanian dan non-pertanian. Dengan demikian, informasi dasar tentang tanah harus dikumpulkan sebelum dilakukan pengambilan keputusan penggunaan lahan yang paling menguntungkan. Survei tanah untuk tujuan khusus sangat bermanfaat apabila mencantumkan informasi tentang daerah tersebut berikut pengunaan lahan yang berpotensi untuk dikembangkan telah diketahui, sehingga penggunaan khusus dapat direncanakan. Keadaan seperti ini umumnya menjadi kasus di wilayahwilayah berkembang atau wilayah yang berpenduduk padat. Kelemahan survei tanah bertujuan khusus ini adalah ketidakmampuannya dalam memenuhi semua tujuan atau keperluan, tidak seperti yang berlaku pada survei bertujuan umum. Dalam survei bertujuan khusus, suatu survei khusus dilakukan untuk tujuan tertentu saja, misalnya survei yang dirancang untuk perkebunan teh, sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk merencanakan tujuan lain, misalnya untuk perkebunan tebu atau sawah irigasi. Apabila nantinya membutuhkan informasi lebih lanjut, maka perlu. Dilakukan survei tanah tambahan untuk mendapatkan informasi yang belum tersedia.

1.3

Pendekatan Mutahir dalam Survei Tanah dan Evaluasi Lahan

Rossiter (2000) mengemukakan bahwa disiplin survei sumber daya lahan kini memasuki era baru karena munculnya teknologi dan metode baru berikut: Satelit penginderaan jauh (yang dalam waktu dekat hampir sama detailnya dengan foto udara) yang sangat bermanfaatuntuk persiapan peta dasar dan klasifikasi tutupan lahan. GPS (global positioning system?) yang sangat bermanfaat untuk menentukan lokasi secara akurat, mampu menemukan teknologi

pemetaan bawah-pemukaan, serta berkembangnya model elevasi digital (DEM) untuk memprediksi karakteristik medan. Geostatistik dan teknik interpolasi lainnya. Sistem inforrnasi geografi (GIS) untuk penyimpanan, transfomasi, analisis dan pencetakan peta. Dengan teknologi baru ini, umumnya tutupan tanah (maupun sumber daya lahan lainnya) dipersepsikan sebagai bidang spasial (yaitu dengan menentukan nilai pada masing- masing titik sehingga secara kontinyu terjadi keragaman dalam ruang), yang berbada dengan satuan peta yang digunakan dalam survei tanah tradisional.

Metode baru ini juga berkerja secara langsung pada titik-titik pengamatan terkuantifikasi yang berbeda dengan satuan taksonomi berhirarki, sebagaimana yang dilakukan dalam klasifikasi tanah tradisional. Sumber daya lahan juga dapat diambil contohnya beberapa kali untuk menyusun pola atau tren musiman. Dengan demikian, kita tertantang untuk mengembangkan metode rutin yang dapat diakses oleh semua kolega pelaku survei tanah yang didasarkan pada field spatial dan time-

series serta tradisional.

mengintegrasikannya

dengan

pendekatan-pandekatan

1.4

Peranan Survei Tanah dalam Pengambilan Keputusan Pengelolaan Sumber Daya Lahan

Survei tanah dapat memberikan informasi tentang sumber daya alam, terutama tentang sifat-sifat dan faktor-faktor pembatas tanah untuk suatu tujuan-tujuan tertentu. Informasi ini sangat diperlukan untuk keputusan pengembangan sumber daya lahan, baik untuk pertanian maupun untuk kepentingan lain, agar bermanfaat secara optimal dan berkesinambungan. Setiap tanah mempunyai sifat dan keterbatasan masing-masing yang akan menentukan kapabilitas atau kemampuannya, sehingga untuk mengembangkannya diperlukan suatu tindakan khusus yang berbedabeda untuk tiap-tiap jenis tanah. Misalnya untuk memutuskan tindakan konservasi dan rehabilitasi lahan yang benar dan tepat, informasi tentang tanah dan kesesuian lahannya untuk suatu penggunaan tertentu sangat diperlukan. Anjuran untuk menanam tanaman tertentu untuk konservasi lahan hanya akan berhasil jika tanaman yang dianjurkan itu memang sesuai ditanam di tempat tersebut. Kalaupun hendakmenanam tanaman tertentu karena memang dianjurkan dari segi konservasi tanah, agar tanaman tersebut bisa tumbuh dengan baik, maka informasi yang diperoleh dari hasil survei tanah dapat membantu pertumbuhan tanaman tersebut dengan resiko kegagalan yang rendah. Kebenaran informasi akan sangat menentukan ketepatan tindakan yang akan diambil untuk pengembangan sumber daya alam yang langka itu. Untuk mendapatkan informasi yang benar dan teliti, perlu dilakukan dengan cara-cara atau metodologi tertentu yang akan dibahas dalam uraian selanjutnya.

1.4.1 Pandangan Pengguna Survei Tanah


Survei tanah haruslah menghasilkan produk berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi satu atau beberapa kelompok pengambil keputusan.

Beberapa pertanyaan tentang metode survei pada akhirnya dapat dipecahkan dengan jalan menyesuaikan metode survei dengan keinginan dan anggaran yang tersedia dari pihak pengambil keputusan. Rossiter (2000), mencoba memerinci beberapa pengguna survei tanah, seperti yang diuraikan berikut; Pengelola lahan, yaitu petani, peternak, pengelola hutan dan pengelola perkebunan. Kelompok ini akan memutuskan apa yang sebaiknya dilakukan atas lahannya, misalnya untuk apa dan bagaimana sistem pengelolaan yang tepat. Penyuluh lapangan. Kelompok ini bertugas memberikan penyuluhan kepada pengelola lahan. Industri jasa yang berhubungan dengan penggunaan Iahan, misalnya lembaga pemberi kredit, bank dan kelompok investor. Kelompok ini memfasilitasi penggunaan lahan dan membutuhkan informasi apakah lahan tersebut menghasilkan dan menguntungkan secara ekonomi. Perencana penggunaan lahan pedesaan dan perkotaan.kelompok pengguna ini merekomendasikan atau memfasilitasi jenis-jenis pengunaan lahan tertentu di daerah yang berbeda. lembaga pengendali penggunaan lahan, merupakan kelompok perencana penggunaan dengan kewenangan khusus untuk mengatur penggunaan lahan. Sebagai contoh, di Belanda jumlah pupuk kandang yang boleh diberikan setiap hektar lahan ditentukan oleh jenis tanah untuk menghindari polusi air tanah. Badan otoritas pajak. Di beberapa negara, pajak atas lahan didasarkan pada produksi potensial lahan. semakin subur tanahnya semakin tinggi pajak yang harus di bayar pemilik lahan tersebut. Pakar dalam bidang rekayasa. Ahli-ahli rekayasa (keteknikan) sangat memerlukan hasil survei tanah untuk menentukan apa yang harus diperhatikan dalam membangun gedung, jalan maupun pipapipa saluran minyak dan gas bumi agar tidak mudah mengalami korosi. Pengelola lingkungan yang menggunakan tanah sebagai unsur ekologi landskap. Hasil survei tanah dapat menunjukkan lokasi-

Iokasi dalam suatu daerah yang memiliki resiko tinggi jika digunakan untuk kepentingan tertentu. Peneliti, mengkaji tanggapan lahan terhadap berbagai penggunaan lahan dan strategi pengelolaannya. Termasuk dalam kelompok ini adalah peneliti pada plot percobaan, yang berharap bahwa satuan tanah yang berbeda akan memberikan tanggapan (respons) yang berbeda pula terhadap macam pengelolaan yang diterapkan. Dengan demikian,hasil evaluasi lahan tidak hanya bermanfaat bagi mereka yang bergerak dalam bidang pertanian, seperti yang selama ini kita ketahui. Hasil survei tanah dan evaluasi lahan secara umum mendasari kegiatan-kegiatan perencanaan dan pengembangan wilayah. Dalam masing-masing kasus, pengguna hanya akan bersedia menggunakan hasil survei tanah dan evaluai lahan, jika hal itu dapat meningkatkan produktivitas mereka. Dengan demikian tuntutan pengguna atas hasil survei tanah adalah: 1. Seberapa teliti dan seberapa tepat hasil survei itu dapat menjawab pertanyaan pengguna 2. Berapa banyak nilai tambah yang diberikan oleh pengambilan keputusan yang benar, yaitu yang didasarkan dari hasil survei tanah, dibandingkan dengan pengambilan keputusan yang keliru (tanpa menggunakan hasil survei tanah). Tentu saja hal ini harus disadari sepenuhnya oleh pelaku survei tanah dan evaluasi lahan. Pengguna tidak akan memanfaatkan hasil survei dan evaluasi lahan jika ternyata tidak dapat menjawab kebutuhan mereka. untuk itulah, perlu pemahaman serta metode yang benar, yang harus diterapkan sebaik-baiknya dalam melakukan kegiatan ini.

1.4.2 Informasi Apa Saja yang Diperlukan oleh Penggambil Keputusan


Berikut adalah beberapa pertanyaan yang dapat dijawab hasil survei tanah yang dilakukan olah Rossiter (2000):

1. Menyimpulkan keseluruhan daerah kajian. a) Apa kelas (taksa) tanah yang dijumpai di daerah yang dikaji? b) Bagaimana proporsi masing-masing kelas yang ada didaerah tersebut? c) Berapa persen dari daerah tersebut yang diduduki oleh tanah dengan sifat-sifat tertentu? (Misalnya tanah yang berbatu pada kedalaman kurang dari 50 cm.) Kelompok pertanyaan pertama ini hanya memerlukan prosedur pengambilan contoh secara statistik (titik atau daerah) dan tidak memerlukan peta. Pertanyaan ini hanya bermanfaat untuk memberikan informasi di tingkat nasional. Yang dikehendaki oleh pihak pangambil kaputusan adalah informasi tentang sebaran geografis tanah, sehingga harus ditampilkan dalam suatu peta. Dengan menggunakan peta, diharapkan mampu men jawab beberapa pertanyaan yang akan diuraikan di bawah ini. 2. Pada lokasi tertentu (pada suatu daerah yang dipilih). a) Apa kelas (taksa) tanah pada lokasi tersebut? b) Bagaimana sifat tanah pada lokasi tersabut? c) Bagaimana pola spasial dari kelas tanah pada dan di sekitar lokasi tersebut? d) Bagaimana pola spasial dari sifat-sifat tanah pada atau di sekitar lokasi tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus diajukan oleh pihak pengelola lahan yang sudah memiliki atau yang sedang mengelola daerag tertentu serta oleh pihak perencana yang telah mengidentifikasi daerah tertetu yang akan dirancang penggunaan lahannya. 3. Memilih lokasi daerah yang diinginkan. a) Dimana lokasi kelas-kelas (taksa) tanah tertentu (misalnya Mollisol) didaerah tersebut dapatdijumpai?

b) Dimana lokasi tanah-tanah yang memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya berdrainase baik, KTK tinggi, pH netral, KB > 50% dll) dapat dijumpai? c) Dimana sifat-sifat tanah dengan pola spasial tertentu (misalnya yang berdrainase baik, KB > 50%, tidak berkerikil dan lain-lain, yang berdekatan dengan tanah yang memiliki drainase buruk, KB > 50%, dekat sumber air dan lain-lain) dapat di jumpai? Kelompok pertanyaan di atas harus dijawab oleh pihak perencana atau pengguna lahan yang akan mencari dan menggunakan lahan sesuai dengan kebutuhan mereka. Lahan tersebut dapat berupa lahan yang sudah di miliki atau telah dikelola atau bisa juga berupa lahan yang dicari untuk dikelola. Untuk dapat menjawab dua kelompok pertanyaan terakhir di atas diperlukan peta tanah. Tanpa adanya peta tanah, mustahil pertanyaanpertanyaan tersebut dapat dijawab. Melalui survei dan pemetaan tanah yang benar dapat di buat peta tanah yang akurat sehingga sangat bermanfaat dalam perencanaan penggunaan lahan.

1.5 Perkembangan Survei Tanah di lndonesia


Survei tanah dimulai tahun 1999 di Amerika Serikat, yang merupakan kegiatan penelitian dalam kaitannya dengan tanah-tanah pertanian, serta penelitian hubungan antara tanah dengan iklim dan bahan organik (Soil Survei staff, 1951). Survei tanah berkembang sejalan dengan perkembangan bidang klasifikasi tanah dan teknik survei tanah. Kegiatan survei dan pemetaan tanah di Indonesia, menurut Pusat Penelitian dan Pengernbangan Tanah dan Agroklimat (2005), dimulai sejak pemerintahan Belanda. Namun investigasi secara intensif untuk mengkaji potensi tanah di Indonesia baru dimulai pada tahun 1905, yaitu dengan berdirinyaLaboratorium voor Agrogeologie en Grondonderzoek Pada tahun 1883, R.D.M. Verbeek melaporkan hasil pemetaan tanah yang mendeskripsikan topografi dan geologi tanah di Pantai Barat sumatera. Konsep pemetaan tanah skala 1 : 1.000.000 untuk Madura dan Jawa disusun oleh E.c.J Morhr pada tahun 1912.

Pada tahun 1927, survei tanah dimulai di Pulau Sumatera, yaitu di sumatera selatan, dengan aspek agrogeologi skala 1: 200.000. Pada tahun 1930 survei tanah untuk Jawa dan Madura dimulai. survei ini bertujuan untuk pertanian dan untuk pengembangan industri bata merah dan genteng, serta untuk infrastruktur jalan raya dan rel kereta api. Pada tahun 1955, Balai Penelitian Tanah ditugaskan untuk melakukan survei secara sistematis ke seluruh Indonesia untuk kepentingan pertanian, dengan penekanan pada skala eksplorasi (1:1.000.000). Untuk pulau Jawa dan Madura, dilakukan survei skala 1:250.000 untuk mendapatkan informasi dalam rangka penggunaan lahan, perbaikan lahan dan program pemupukan. Pada tahun 1979 - 1986 survei diprioritaskan untuk persiapan daerah transmigrasi melalui proyek Penelitian pertanian Menunjang Transmigrasi (P3MT). Setelah itu dilanjutkan dengan Proyek land resources and evaluation planning (LREP) fase I (1985-1990) dan fase II (1991-L997). Penilitian ini bertujuan mengetahui potensi lahan untuk tujuan pembangunan pertanian secara umum pada skala 1:250.000 (LREP I) dan skala 1:50.000 (LREP II). Hampir 50% wilayah Indonesia, terutama bagian Barat Indonesia, telah dipetakan selama periode 1955 - 2004. Kegiatan pemetaan di rawa pasang surut dilakukan melalui kerjasama pusat penelitian Tanah dengan Departemen Pekerjaan Umum pada Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut (P4S). Sejak tahun 1957, sistem klasifikasi tanah di Indonesia menggunakan klasifikasi Dudal dan Supraptohardjo, yang kemudian mengalami penyempurnaan oleh suhadi (1961) dan soepraptohardjo,(1961) pada skala besar. sistem ini masih dijumpai dalam peta-peta tanah terbitan Pusat Penelitian Tanah hingga tahun 1978. Setelah kongres HITI II, diperkenalkan sistem Klasifikasi Tanah Nasional yang tidak banyak berbeda dari sistem sebelumnya dan hanya menguraikan sampai pada tingkat marga (great-group).

Untuk keperluan survei dan pemetaan tanah daerah transmigrasi, Pusat Penelitian Tanah menerbitkan panduan tentang jenis dan macam talah di Indonesia beserta kuncinya (Suhardjo dan Soepraptohardjo, 1981). Beberapa penamaan jenis dan macam tanah, sebagian besar diambil dari definisi sistem FAO-UNESCO, dengan berbagai penyesuaian terhadap kondisi di Indonesia (Sitorus, 1986). Sejak kongres HITI ke IV di Medan bulan Desember 1989, menurut USDA-SCS, (1989) tetah diputuskan untuk menggunakan sistem taksonomi tanah (Soil Taxonomy) untuk semua kegiatan survei dan penelitian tanah di Indonesia. HaI ini dilakukan secara konsekuen oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimatologi (Puslittanak) dalam kegiatan survei dan pemetaan tanah dalam proyek LREP I (skala 1 : 250.000) pada tahun 1989 yang menerapkan metode fisiografi dengan satuan tanah menggunakan taksonomi tanah pada kategori sub-grup. Pada kegiatan survei dan pemetaan semi detail (skala 1: 50.000) dalam LREP II (1993 - 1995), tetap digunakan taksonomi tanah (Soil Survey Staff, I992;1994) sebagai satuan tanah pada kategori 'seri' (Hardjowigeno, 2003). Sejak krisis moneter yang melanda Indonesia dan dunia secara umum pada tahun 1998, kegiatan survei tanah di Indonesia praktis mengalami stagnasi. Seri tanah yang direncanakan untuk diolah menjadi seri publikasi hingga saat ini (2005) terhenti sama sekali. Hal ini tentu sangat disayangkan, mengingat informasi sumber daya lahan yang akurat dan lengkap dari seluruh wilayah di Indonesia sangat menentukan keberhasilan bidang pembangunan pertanian maupun bidang rekayasa yang menunjang pengembangan wilayah. ***

II
TANAH, PETA TANAH DAN LEGENDA PETA

stilah tanah menurut Arsyad (1999) memiliki 3 pengertian, yaitu: (1) tanah sebagai media tumbuh tanaman, (2) tanah sebagai benda alami tiga dimensi di permukaan bumi yang terbentuk dari interaksi antara bahan induk, iklim, organisme topografi dalam kurun waktu tertentu, (3) tanah sebagai ruangan atau tempat di permukaan bumi yang digunakan oleh manusia untuk melakukan segala macam aktivitasnya. Dalam pengertian yang pertama, perhatian lebih ditekankan kepada kualitas tanah. Dalam pengertian yang kedua, tanah diperlakukan sebagai bahan galian atau tambang dan bahan nyatakan dalam berat (ton, kg) atau volume (m3), sedangkan pada pengertian yang ketiga tanah dinilai berdasarkan luas (ha, m2). Dalam Bahasa Inggris, dua pengertian yang pertama setara dengan kata soil sedangkan pengertian yang ketiga setara dengan istilah land.

2.1 Tanah Sebagai Objek Survei


Sifat tanah berubah secara berangsur ke arah vertikal dan horizontal di mana perubahan satu sifat tidak selalu setahap dengan perubahan sifat lainnya, sehingga kombinasi yang identik jarang ditemukan pada bentang alam. Meskipun demikian, tanah sebagai suatu individu juga diakui batas-batasnya, baik sebagai suatu transisi maupun sebagai intergrades. Sebagai suatu individu, tanah sangat berbeda dengan dunia hayati yang tiap individunya mempunyai ciri tersendiri. Masing-masing spesies

mempunyai kisaran sifat yang sempit, sehingga mudah dibedakan satu dengan lainnya. Tanah menurut SoiI Survey Staff (1999; 2003) adalah kumpulan benda alami di permukaan bumi yang dimodifikasi atau bahkan dibuat oleh manusia dari bahan-bahan tanah, mengandung gejala-gejala kehidupan dan mampu menopang pertumbuhan tanaman di lapangan. Tanah meliputi horizon-horizon tanah yang terletak di atas bahan batuan dan terbentuk sebagai hasil interaksi sepanjang waktu dari iklim, mahluk hidup (organisme), bahan induk dan relief. Pada umumnya, tanah kearah bawah beralih ke batuan yang kukuh (amat keras) atau ke bahan tanah (yang tidak kukuh) yang tidak mengandung akar tanaman, hewan atau tanda-tanda kegiatan biologi lainnya. Konsep tanah menurut sistim taksonomi tanah merupakan suatu kontinum' dan mempunyai pengertian yang lebih luas, karena mencakup juga danau yang dangkal serta tanah pertanian tua buatan manusia seperti yang terdapat di Belanda. Batas atas tanah adalah batas antara tanah dan udara, air dangkal, tumbuhan hidup atau bahan-bahan tumbuhan yang belum mulai melapuk. Daerah yang dianggap tidak mempunyai tanah adalah apabila permukaannya secara permanen tertutup oleh air yang terlalu dalam (lebih dalam dari 2,5 meter) untuk pertumbuhan tumbuhan berakar. Batas-batas horizontal tanah adalah wilayah di mana tanah berangsur beralih ke air dalam, daerah-daerah tandus, batuan atau es (Gambar 2.1) Padasebagian wilayah, pemisahan antara tanah dan bukan-tanah sedemikian berangsur sehingga sulit ditentukan. Batas bawah yang memisahkan tanah dari bahan bukan tanah yang terletak di bawahnya adalah yang paling sulit ditetapkan. Tanah terdiri atas horizon-horizon dekat permukaan bumi yang sangat berbeda dengan bahan induk di bawahnya dan telah mengalami alterasi (perubahan) oleh interaksi antara iklim, relief, dan jasad hidup selama kurun waktu tertentu. Pada umunyanya, pada batas bawah tanah beralih berangsur ke batuan keras atau ke bahan-bahan tanah yang sama sekali bebas dari fauna tanah, perakaran, atau tanda-tanda kegiatan biologis lain. Meskipun demikian, batas terbawah kegiatan biologis sulit dilihat dan seringkali terjadi secara

berangsur. Untuk tujuan klasifikasi, batas bawah tanah ditetapkan pada kedalaman 200 cm. Pada tanah yang kegiatan biologis atau proses-proses pedogeniknya sedang berlangsung dan dapat mencapai kedalaman rebih dari 200 cm, batas bawah tanah untuk tujuan klasifikasi masih tetap 200 cm. Dalam beberapa hal, batuan-batuan yang tersementasi Iernah (bahan paralitik) harus dideskripsikan dengan teliti dan digunakan untuk membedakan seri tanah (penggal penentu seri), sekalipun bahan-bahan paralitik yang terletak di bawah kontak paralitik tidak dapat dianggap sebagai tanah dalam pengertian yang sesungguhnya. Pada wilayah di mana tanah mempunyai horizon-horizon tersementasi tipis yang tidak tembus akar, tanah meluas ke bawah hingga sedalam horizon tersementasi yang terdalam, tetapi tidak lebih dari 200 cm. Untuk tujuan-tujuan pengelolaan tanah tertentu, lapisan-lapisan yang terletak lebih dalam dari batas bawah tanah yang diklasifikasi (200 cm), harus juga dideskripsi apabila lapisan tersebut memengaruhi kandungan dan gerakan air serta udara atau apabila lapisan tersebut memengaruhi penggunaan tanah.

Mengacu kepada definisi tanah yaitu bahwa tanah harus mampu menopang tumbuhan di lapangan (outsites), maka daerah yang tidak

mampu menyokong pertumbuhan tanaman di lapangan tidak termasuk dalam pengertian tanah. Daerah yang dimaksud adalah daerah pantai, daerah perkotaan, habitat perairan dalam, singkapan batuan dan glasier. Daerah-daerah ini dutu* laporan survei tanah dipetakan sebagai daerah aneka (miscellaneous areas) . Tanah sebagai satuan tiga dimensi dengan variasi internal disajikan dengan cara multifactorial' dalam bentuk peta tanah, sebagai satuan dua dimensi digambarkan pada peta tanah, sedang dimensi vertikal (kedalaman) serta sifat-sifat internalnya disajikan dalam legenda Peta. Peta tanah merupakan peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi. Gambar 2.2 menyajikan ilustrasi sederhana tentang tanah di alam dan kenampakannya pada Peta tanah.

Pada setiap peta tanah digambarkan garis-garis batas (delineasi) tanah-tanah yang dijumpai di lapangan. Garis batas tersebut berupa poligon-poligon yang digambarkan pada peta tanah yang lazim disebut satuan peta tanah (SPT), merupakan tubuh tanah yang mewakili keadaan sebenarnya di lapangan (serupa dengan polipedon).

Dalam setiap peta tanah selalu berisikan lebih dari satu satuan peta tanah. Pada setiap satuan peta tanah, dapat terdiri atas satu satuan (taksa) tanah tertentu atau dapat pula terdiri atas dua atau lebih taksa tanah, baik berupa asosiasi maupun kompleks tanah yang didefinisikan dalam istilah taksonomi tanah atau sistem klasifikasi tanah lainnya. Hal ini perlu ditegaskan, karena dengan demikian, peta yang hanya menyajikan karakteristik-tunggal (single value) bukanlah merupakan peta tanah.

2.2 Macam-macam Peta Tanah


Survei tanah menghasilkan sebaran geografi kelas-kelas (taksa) tanah atau sifat-sifat tanah yang disajikan dalam peta. Peta tanah dapat dibedakan atas bermacam-macam jenis, tergantung dari berbagai sudut pandang yaitu berdasarkan penyajian, tujuan (intensitas pengamatan) dan teknik pelaksanaannya.

2.2.1 Berdasarkan Cara Penyajian


Berdasarkan cara penyajiannya, peta tanah dapat dibedakan sebagai berikut: 1. Peta tanah bersimbolkan titik (Point soil maps). Peta yang menunjukkan lokasi titik-titik pengamatan yang sesungguhnya dilakuaan, disertai dengan nama taksa (kelas) tanah atau satu atau lebih sifat-sifat tanah. Peta ini memberikan beberapa keuntungan, yaitu dapat menyajikan secara langsung apa saja dan di mana telah dilakukan pengamatan. Pengamatan hanya dilakukan pada beberapa lokasi, sehingga tidak seluruh daerah survei diamati. Pada peta ini tidak dapat diberlakukan pemodelan keragaman spasial. 2. Peta tanah poligon kelas-areal. Daerah survei dibagi atas beberapa poligon dengan menggunakan garis batas secara tegas. Masingmasing- poligon diberi simbol dengan nama kelas dan tiap-tiap kelas dalam legenda. Hampir semua peta survei tanah disajikan dalam bentuk peta dalam kelompok dengan model vektor dalam Sistem Informasi Geografi (SIG). Secara konseptual, peta ini

memenuhi model diskrit variasi spasial. Variasi yang memotong lansekap dapat dibedakan dengan batas yang tegas dalam daerah yang di petakan ke dalam m kelas dan kemudian ke dalam delineasi individual. Masing-masing delineasi termasuk dalam hanya satu kelas legenda. Nama lain dari peta ini adalah peta tanah chloropleth (yaitu peta yang menggunakan gradasi rona atau warna yang berbeda untuk menyajikan perbedaan satuan peta. Misalnya peta kebutuhan kapur, peta kesesuaian tahan untuk tanaman tertentu dan lainlain). 3. Peta Lapangan Kontinyu yang dibuat dengan metode interpolasi. Peta ini umumnya di sajikan dengan isoline atau pada grid halus (Model Raster pada SIG). Peta ini memperlihatkan kontinyuitas sebaran sifat tanah yang diduga dengan jalan interpolasi. Secara konseptual, peta ini memenuhi model kontinyu dari variasi spasial. Tidak ada batas yang tegas, semua variasi yang memotong lansekap dianggap kontinyu 4. Peta Lapangan Kontinyu yang dibuat melalui pengamatan langsung diseluruh daerah survei. Pada peta ini terdapat pengukuran aktual yang dilakukan pada tiap-tiap titik (dalam prakteknya yang relatif tidak luas). Peta ini umumnya disajikan dengan peta grid (model raster dalam SIG). Peta ini memperlihatkan sebaran sifat tanah kontinyu yang diukur. Peta semacam ini sudah jarang digunakan dan saat ini, peta semacam ini banyak digunakan dari parsel individu untuk precision farming . Contoh yang umum adalah peta elevasi, indeks vegetasi (bukan peta tanah) yang menggunakan bantuan wahana satelit atau pesawat terbang atau bahkan dengan survei lapangan.

2.2.2 Berdasarkan Teknik Pelaksanaannya


Terdapat dua pendekatan yang dapat ditempuh oleh pemeta,dalam membagi permukaan tanah sebagai suatu 'kontinum' kedalam suatu satuan-satuan tertentu dalam membuat peta tanah. Kedua pendekatan tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Mengamati, mendeskripsi dan mengklasifikasikan profil-profil tanah (pedon) pada beberapa lokasi di daerah survei. Kemudian membuat (mendelineasi) batas di sekitar daerah yang mempunyai profil tanah yang serupa (memiliki taksa tanah yang sama), sesuai dengan kriteria klasifikasi yang digunakan. Pendekatan ini disebut pendekatan sintetik (synthetic approach). 2. Membagi kontinum' atas persil-persil atau satuan-satuan berdasarkan pada pengamatan,perubahan dalam sifat-sifat tanah 'eksternal' (sifat bentang-alam), melalui interpretasi foto udara, yang diteruskan dengan melakukan pengamatan dan pengklasifikasian tanah untuk masing-masing satuan yang dibuat tersebut. Pendekatan ini disebut pendekatan analitik (analytical approach). Gambar 2.3 menyajikan teknik pelaksanaan (cara pengamatan tanah) survei tanah. Pendekatan sintetik (gambar paling atas) biasanya dilakukan dengan menggunakan metode survei grid, sedangkan pendekatan analitik menggunakan metode fisiografi, yaitu dengan jalan menentukan batas (mendelineasi) satuan fisiografi/wujud-lahan (landform) terlebih dahulu sebelum ke lapangan (gambar paling bawah). Pada survei skala kecil, pendekatan kedua lebih sering digunakan, sedangkan pada skala besar biasanya digunakan pendekatan sintetik. Namun demikian, dalam praktiknya biasanya kombinasi keduanya digunakan (gambar bagian tengah).

2.2.3 Berdasarkan Tujuan (lntensitas Pengamatan)


Tanah yang diamati dalam kegiatan survei tanah, setelah diklasifikasikan berdasarkan sistem klasifikasi tanah yang digunakan perlu digambarkan penyebarannya dalam peta tanah. Sebagai dasar pembuatan peta tanah digunakan peta dasar yang umumnya berupa peta topografi atau peta rupa bumi. Jenis informasi dan tingkat ketelitian yang diperlukan sangat ditentukan oleh tingkat survei tanah yang diterapkan.

Survei dan pemetaan tanah tidak hanya dapat memberikan gambaran tentang macam tanah yang dijumpai, tetapi harus dapat menggambarkan secara tepat di mana tanah tersebut dijumpai. Hal ini tidak berarti bahwa tanah yang dijumpai haruslah homogen, melainkan harus dapat menggambarkan bahwa pada suatu poligon yang dicantumkan dalam satuan peta tanah (SFT) dapat diketahui satuan tanah utama (yang mendominasi) dan satuan tanah pendamping. Untuk menghindari rumitnya satuan dalam peta tanah, Van Wambeke (1986) menyarankan luasan terkecil suatu satuan peta tanah (SPT) yang masih diperbolehkan untuk disajikan dalam peta tanah adalah seluas 0,4 cm2. Berdasarkan tujuannya (yang akan menentukan intensitas pengamatan), survei tanah dibedakan atas 6 macarn, yaitu peta tanah bagan, eksplorasi, tinjau, semi-detail, detail dan sangat detail (Tabel 2.1). Masing-masing peta tersebut memiliki skala peta yang berbeda-beda. Skala peta menunjukkan perbandingan jarak antara dua tempat (titik) pada peta, dengan jarak sebenarnya di lapangan. Berikut ini akan diuraikan secara singkat tentang masing-masing peta tersebut. 1. Peta Tanah Bagan Peta ini dibuat sebagai hasil kompilasi dan generalisasi peta-peta tanah eksplorasi atau peta tanah tinjau. Peta ini hanya digunakan untuk memperoleh gambaran umum tentang sebaran tanah secara nasional. Dalam pembuatannya tidak dilakukan pengamatan lapangan. Skala peta sama atau lebih kecil dari 1: 2.500.000. 2. Peta Tanah Eksplorasi Peta ini menyajikan keterangan yang sangat umum tentang keadaan tanah dari suatu daerah. Biasanya peta ini dibuat dengan survei yang dilakukan sepanjang jalan atau menggunakan helikopter pada tempat-tempat tertentu yang dianggap mempunyai perbedaan jenis tanah, yang ditunjukkan oleh bentang-alam yang berbeda.

Biasanya survei ini dilakukan dengan bantuan interpretasi foto udara atau citra satelit, dengan intensitas pengamatan lapangan yang sangat rendah.

Skala peta bervariasi dari 1:500.000 hingga 1:5.000.000. Peta ini hanya menggambarkan sebaran tanah secara umum untuk penyusunan atlas nasional dan tidak dapat digunakan untuk keperluan praktis, karena informasi tentang sifat-sifat tanah sangat minim. 3. Peta Tanah Tinjau Umumnya peta ini dibuat pada skala 1:250.000. Satuan peta didasarkan atas satuan tanah-bentuk lahan atau sistem lahan yang didelineasi melalui interpretasi foto udara dan atau citra satelit. Pengamatan di lapangan kurang lebih 1 untuk 12,5 km2. Peta ini dapat menggambarkan daerah-daerah yang berpotensi untuk dapat dikembangkan lebih lanjut. 4. Peta Tanah Semi-detail Peta ini umumnya dibuat dengan skala 1:50.000, dengan intensitas pengamatan sekitar 1 untuk setiap 50 hektar, tergantung dari kerumitan bentang lahan. Biasanya dilakukan dengan sistim grid yang dibantu oleh hasil interpretasi foto udara dan citra satelit. Peta ini memberi gambaran tentang potensi daerah secara lebih terperinci serta dapat menunjukkan lokasiproyek yang akan dilaksanakan. Peta ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang potensi pertanian serta penggunaannya untuk berbagai bentuk pengelolaannya 5. Peta Tanah Detail Peta ini biasanya dibuat dengan skala 1:25.000 dan 1:10.000 serta ditujukan untuk mempersiapkan pelaksanaan suatu proyek termasuk proyek konservasi tanah (misalnya teknik-teknik konservasi yang bisa dan cocok diterapkan pada masing-masing satuan peta atau pada suatu demplot). Oleh karena itu, sifat dan ciri tanah hendaklah diuraikan sedetail mungkin.

Batas satuan peta tanah didelineasi di lapangan dengan bantuan foto udara yang didasarkan pada kemiringan lereng. Jumlah pengamatan untuk adalah sekitar 1 untuk setiap 2 ha hingga 12,5 ha (Tabel2.1). 6. PetaTanah Sangat Detail Peta tanah sangat detail mempunyai skala Pengamatannya atau lebih untuk setiap hektarnya. Peta ini ditujukan untuk penelitian khusus, misalnya untuk petak percobaan pertanian guna mempelajari variabilitas responstanaman terh adap pemupukan atau perlakuan tertentu dan lain-lain.

2.3 Legenda Peta Tanah


Setiap peta tanah selalu disertai dengan suatu daftar atau tabel penjelasan yang disebut legenda peta yang sangat bermanfaat, untuk memudahkan dalam membaca peta tersebut. Legenda peta tanah berfungsi mengidentifikasikan satuan peta serta memberikan informasi tentang satuan-satuan yang terdapat dalam suatu peta tanah. satuan peta tanah dalam setiap peta ditandai dengan simbol yang unik yang dapat berupa warna, nama atau atribut lainnya. Legenda peta tanah terdiri atas dua bagian, yaitu simbol dan uraian atau deskripsi. Di dalam uraian terkandung informasi penting mengenai tanah masing-masing satuan yang digambarkan oleh simbol satuan peta. Informasi tersebut meliputi: Keadaan drainase, Kedalaman tanah Keadaan erosi Tekstur tanah Keadaan batuan Warna dan karatan Aspek kesuburan (pH, salinitas) Konsistensi tanah

Relif mikro Informasi di atas sangat diperlukan oleh pemakai yang bukan ahti tanah. Sedangkan informasi lain yang sangat penting bagi ahli tanah ialah nama taksa tanah yang ditunjukkan oleh nama tanah menurut sistem klasifikasi tanah yang digunakan (misalnya menurut Taksonomi Tanah USDA atau Klasifikasi Tanah FAO) yang terdapat dalam satuan tersebut. Pada satuan peta majemuk (lihat Bab 3), komposisi satuan klasifikasi tanah, haruslah dijelaskan. Perlunya mencantumkan klasifikasi tanah ini adalah memudahkan tujuan korelasi dengan tanah-tanah di tempat lain. Dalam pemetaan tanah yang menggunakan metode fisiografi (dengan bantuan interpretasi foto udara atau citra inderaja lainnya), biasanya menggunakan legenda eksptilatif,sedangkan dalam survei dengan metode grid, umumnya menggunakan legenda taksonomikal dan kadang legenda mekanikal. Metode grid dan fisiografi akan dijelaskan dalam Bab 3. Tabel-tabel berikut ini menyajikan contoh unsur-unsur yang harus ada dalam suatu legenda peta tanah tinjau skala 1:250.000 (Tabet 2.2), semidetail (Tabel 2'3), dalam Proyek LREP-II, dan peta tanah detail (Tabef 2.4).

2.4 Peta Dasar


Peta dasar adalah peta yang digunakan sebagai dasar untuk membuat peta tanah atau wadah untuk menggambarkan delineasi satuan peta tanah. Sebagai peta dasar dapat digunakan peta vegetasi/ penggunaan lahan, peta iklim atau peta lainnya yang tersedia, asal diterbitkan oleh instansi resmi dan mempunyai ketelitian yang tinggi baik isi maupun skalanya. Dalam praktik umunnya menggunakan peta topografi atau peta rupa bumi sebagai peta dasar. Namun demikian, karena belum seluruh daerah di Indonesia terliput oleh peta topografi (rupa bumi), kadang-kadang perlu disediakan peta dasar dari citra penginderaan jauh (remote sensing), baik dari foto udara (untuk skala besar) maupun citra satelit (untuk skala kecil). Instansi pemerintah maupun swasta yang bergerak dalam pembuatan peta di Indonesia, umunnya menghasilkan peta yang berbeda kualitas maupun akurasinya untuk peta daerah yang sama. Hal ini disebabkan karena belum adanya keseragaman di antara instansi-instansi tersebut. Pembuatan peta terpaksa dilakukan tanpa koordinasi karena terdesak oleh kebutuhan akan peta. Sekalipun peta dasar ini bukan merupakan tanggung jawab ahli (pemeta) tanah, tetapi karena alasan di atas, pemeta tanah harus dapat menyediakan peta dasar untuk pembuatan peta tanah yang menjadi tujuan utamanya. Pengetahuan tentang pembuatan mosaik foto perlu dikuasai untuk dapat menghasilkan peta yang baik. Bantuan perangkat-lunak komputer seperti PCI Geomatic akan membantu menyediakan peta dasar untuk peta tanah berupa peta mosaik orthofoto. Gambar 2.6 menyajikan contoh mosaik-foto yang digunakan sebagai peta dasar dalam menyajikan hasil survei tanah. Peta tanah berskala besar (detail hingga sangat detail) umumnya disarankan untuk menggunakan mosaik ortofoto sebagai peta dasar, karena akan memudahkan pengguna peta dalam melakukan orientasi di lapangan.

Saat ini Bakosurtanal (Badan Koordinasi Pemetaan Nasional) yang merupakan instansi yang bertanggung jawab dalam penyediaan peta (topografi/rupa bumi), telah dapat menyediakan peta rupa bumi untuk sebagian besar wilayah di Indonesia sekalipun dengan skala yang beragam. Beberapa diantara peta tersebut juga tersedia dalam format peta digital. Pada Gambar 2.4 disajikan contoh liputan peta rupa bumi untuk Pulau sumatera yang diterbitkan oleh Bakosurtanal (2004).

Dalam memutuskan memilih peta dasar untuk pembuatan peta tanah, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: 1. Waktu pembuatan Peta. Semakin muda umur peta, semakin baik karena tanda-tanda yang terdapat pada peta umumnya lebih sesuai dengan kondisi lapangan. 2. Akurasi Peta

Hal ini terutama terkait dengan pengukuran-pengukuran di lapangan yang menyangkut jarak, luasan dan lain-lain. 3. Skala Idealnya skala peta yang digunakan untuk pengamatan lapangan adalah dua kali lebih besar dari skala peta publikasi.

2.5 Kualitas Peta Tanah


Pusat Penelitian Tanah dan agroklimat (1995) mengemukakan bahwa kualitas peta tanah ditentukan oleh sifat mudah dibaca, batas ukuran minimum, dan tekstur peta. uraian rebih rinci akan dikemukakan di bawah ini.

2.5.1 Sifat mudah Dibaca (Map legibility)


Sifat mudah dibaca menunjukkan mudah tidaknya pengguna peta membaca informasi yang terdapat pada petal peta tanah harus dapat menyajikan infomasi secara jelas, padat dan menarik. Mudah tidaknya suatu peta tanah untuk dibaca ditentukan oleh: Jumlah poligon satuan peta tanah Warna yang membedakan satuan peta yang satu dengan lainnya Gambaran topografi yang digambarkan pada peta Kualitas penyajian peta Peta yang menyajikan banyak poligon berukuran kecil sulit dibaca. Warna yang dipilih untuk masing-masing satuan peta dibuat agar menarik dan sedapat mungkin mencerminkan sifat tanah. Misalnya Mollisol diberi warna hijau, oxisol berwarna merah dan sebagainya. Pada peta tanah harus disajikan informasi yang memudahkan untuk orientasi peta di lapangan seperti sungai, jalan, gunung, desa, garis kontur, nama-nama (tempat, sungai, gunung dan sebagainya). Namun demikian, gambaran topografi tersebut jangan disajikan terlalu banyak karena akan menyulitkan pembacaan peta. Selain itu map legibitity dipengaruhi oleh kualitas cetakan, kertas, layout dan sebagainya. Kaidah-kaidah di dalam kartografi harus menjadi perhatian dalam menyajikan peta tanah.

2.5.2 Delineasi Ukuran Minimal (Minimum Size Delineation)


Delineasi atau batasan ukuran minimal merupakan suatu luasan terkecil yang masih dapat digambarkan pada peta. Pada dasarnya ukuran tersebut merupakan parameter kartografi, karena setiap poligon pada suatu peta harus tertulis simbol satuan petanya. Simbol tersebut harus tertulis dengan ukuran tertentu, sehingga masih dapat dibaca. Batasan ukuran poligon minimal sebagaimana dikemukakan sebelumnya adalah 0,4 cm2 (untuk yang berbentuk bulat), sedangkan untuk poligon berbentuk memanjang dan sempit, harus lebih besar (dari aspek luasannya) agar dapat memuat simbol satuan peta.

2.5.3 Tekstur Peta Tanah


Tekstur peta tanah mencerminkan banyaknya sebaran poligon-poligon satuan peta tanah yang terdapat pada suatu peta. Suatu peta dikatakan bertekstur kasar apabila poligon-poligonnya berukuran besar, sedangkan jika sebagian besar poligonnya merupakan poligon-poligon kecil, disebut bertekstur halus. Selain itu apabila poligon-poligon yang ada di dalam peta tersebut merata disebut ber"intensitas mono", sedangkan apabila dalam suatu peta terdapat dua atau lebih kelompok tekstur peta tanah maka disebut berintensitas multi". Tekstur peta tanah tersebut mencerminkan kerumitan keadaan tanah di lapangan. wilayah yang homogen akan memperlihatkan intensitas mono, sedangkan wilayah yang variasi landformnya sangat beragam akan menunjukkan intensitas multi. Peta tanah bertekstur halus sulit dibaca, sebaliknya peta tanah yang bertekstur kasar mudah dibaca. ***

III
PRINSIP-PRINSIP SURVEI TANAH

alam melakukan survei tanah, terdapat beberapa prinsip dasar yang harus dipahami. Prinsip-prinsip tersebut akan diuraikan di bawah ini.

3.1 Satuan Peta Tanah dan Satuan Taksonomi


Satuan peta tanah (satuan peta) dan satuan taksonomi merupakan dua istilah yang berbeda. satuan peta tanah merupakan satuan yang dibatasi di lapangan berdasarkan pada kenampakan bentang alam (Iandscape). Satuan taksonomi (satuan tanah) merupakan satuan yang diperoleh dari menentu-kan suatu selang sifat (range in characteristic) tertentu dari sifatsifat tanah yang didefinisikan oleh suatu sistem klasifikasi tanah. Setiap satuan peta tanah bisa berisi satu atau lebih satuan taksonomi tanah.

3.1.1 Satuan peta Tanah


Satuan peta tanah (soil mapping unit) atau satuan peta terdiri atas kumpulan semua delineasi yang di tandai oleh simbol, warna, nama atau lambang yang khas padi suatu peta. Delineasi tanah (soil delineation) adalah daerah yang dibatasi oleh suatu batas tanah pada suatu peta. umumnya peta tanah terdiri atas lebih dari satu satuan peta. Data atau informasi dari masing-masing satuan peta yang terdapat dalam peta tanah dijelaskan dalam legenda peta. Satuan peta ialah satuan lahan yang mempunyai sistem fisiografi/landform yang sama, yang dibedakan satu sama lain dilapangan oleh batas-batas alami dapat dipakai sebagai satuan evaluasi lahan. Satuan-satuan yang dihasilkan umumnya berupa tubuh lahan yang

memiliki ciri-ciri tertentu yang dibedakan oleh batas-batas alami di tempat terjadinya perubahan ciri-ciri yang paling cepat ke arah lateral. Pendekatannya merupakan pendekatan fisiografis. Satuan peta tanah disusun untuk menampung informasi penting dari suatu luasan (poligon) tentang hal-hal yang berkaitan dengan survei tanah. Satuan peta tanah harus dengan mudah dapat dikenali, diukur, dan dapat dipetakan pada skala yang tersedia dari peta dasarnya, waktu yang tersedia, kemampuan dari para pemetanya, dan tujuan dari survei tersebut. Dalam taksonomi tanah dikenal istilah pedon dan poipedon. Pedon dianggap terlalu kecil untuk dapat menunjukan kenampakan yang lebih luas seperti lereng dan permukaan berbatu. Polipedon, seperti dikemukakan dalam taksonomi tanah, merupakan suaatu satuan klasifikasi, tubuh tanah dan homogen pada tingkat seri dan cukup luas untuk menggambarkan semua karakteristik tanah yang dipertimbangkan dalam deskripsi dan klasifikasi tanah (Gambar). Polipedon jarang bertindak sebagai sesuatu yang nyata untuk klasifikasi karena amat sangat sulit menemukan batas suatu polipedon di lapangan dan karena adanya kontradiksi dan circular nature dari konsep tersebut. Ahli tanah mengklasifikasikan pedon tanpa memperhatikan batasan ukurannya, yang secara sadar atau tanpa disadari mengaitkan berbagai sifat-sifat yang lebih luas yang dibutuhkan dari daerah sekitar tanah tersebut ke pedon. Polipedon mengaitkan tubuh tanah nyata di alam kepada konsep mental dari klas taksonomi. Oleh karena itu, batasan dari polipedon ini secara konsepsional awal sama dengan batasan dari seri tanah, yaitu yang merupakan kategori terendah dari sistem klasifikasi taksonomi tanah. Dengan demikian, setiap polipedon dapat diklasifikasikan kedalam seri tanah, hanya saja bahwa seri tanah mempunyai selang sifat yang lebih lebar daripada polipedon. Polipedon memiliki luasan minimal > 1 m2 dan maksimalnya tidak terbatas.

Menurut Soil Survei Division Staff (1998), satuan peta merupakan kumpulan daerah-daerah (area) yang didefinisikan dan komponen tanah atau daerah aneka atau kelua-duanya di beri nama yang sama. setiap satuan peta tanah berbeda dalam beberapa dengan yang lainnya dalam suatu daerah survei dan secara unik didefinisikan pada suatu peta tanah.

Masing-masing daerah (luasan) pada peta tersebut disebut delineasi. Satuan peta terdiri atas 1 atau lebih komponen (taksa) tanah. Komponen individu dari suatu satuan peta mewakili kumpulan polipedon-polipedon atau bagian-bagian dari polipedon yang merupakan anggota dari taksa tersebut atau macam dari daerah aneka. Pada Gambar 3.1 disajikan ilustrasi kaitan antara bentang lahan (soilscape), polipedon (tanah individu), pedon, dan profil tanah. Lanskap dapat disamakan dengan satuan peta tanah. Satuan peta (mapping unit) berbeda dengan satuan taksonomi tanah (taxonomic unit), seperti yang akan diuraikan pada Gambar 3.1.

3.1.2 Satuan Taksonomi


Satuan taksonomi adalah sekelompok tanah dari suatu sisten klasifikasi tanah; masing-masing di-wakili oleh suatu profil tanah yang mencerminkan 'central concept' (konsep pusat) dengan sejumlah kisaran penyimpangan sifat-sifat dari konsep pusat tersebut. Jadi satuan taksonomi tanah menentukan suatu selang tertentu dari sifat-sifat tanah dalarn kaitannya dengan selang sifat tanah secara total dalam suatu sistem klasifikasi tanah tertentu. Pendekatannya merupakan pendekatan morfologik. Satuan taksonomi tanah seringkali dibuat tanpa mempertimbangkan fakta-fakta yang ada di lapangan. Misalnya kita dapat saja mengelompokkan tanah-tanah dengan lapisan-bawah berwarna kelabu sebagai kelas tersendiri dan yang memiliki kontak litik yang dangkal sebagai keras yang lain. Pengelompokan ini mungkin dapat didelineasi pada peta, tetapi pada umumnya sangat sukar dilakukan karena tidak terlihat di lapangan secara langsung. orang yang melakukan klasifikasi atau pengelompokkan tadi menciptakan konsep yang abstrak. yang dapat diterima sebagai anggota suatu kelas hanyalah tanah-tanah yang memenuhi sifat-sifat tertentu. Kelas yang berwarna kelabu merupakan suatu taksa di dalam sistem taksonomi, sebagai suatu pembagian lebih lanjut dari tanah yang universal. Masing-masing nama tersebut akan menunjuk semua tanah yang mempunyai sifat-sifat yang telah ditentukan.

Hampir tidak mungkin mendelineasi secara akurat padapeta daerahdaerah yang benar-benar termasuk ke dalam satu kelas taksonomi di lapangan. Artinya tidak seorangpun yang mampu memetakan tanah dengan satuan taksonomi. Semua tanah tersembunyi dibawah permukaan. Hanya kenampakan permukaan dan sifat-sifat permukaan tanah yang terlihat. Dengan demikian tidak mungkin menelusurinya di lapangan.

Menurut van Wambeke dan Forbes (19g6), perbedaan yang prinsip antara satuan taksonomi dan satuan peta adalah satuan taksonomi merupakan suatu konsep yang dihasilkan dari membagi tanah sejagat (soil universal), sedangkan satuan peta merupakan hasil dari pengelompokan delineasi tanah yang mempunyai nama, simbol, warna, atau lambang khas lainnya yang sama pada suatu peta yang dapat dikenali, diukur, dan dipetakan di lapangan dengan mudah. Komponen dari satuan peta tanah berbeda-beda, tergantung pada skala survei tanah. Semakin besar skala peta tanah semakin banyak jumlah

pengamatan yang dilakukan dan semakin rendah kategori dari satuan taksonomi. Untuk menggambarkan perbedaan keduanya, dapat dilihat pada Gambar 3.3 dan Gambar 3.4. Kenampakan permukaan bentang-alam sangat membantu pemeta dalam mendelineasi satuan peta tanah. Tanahtanah yang berada dalam suatu delineasi (satuan) peta, seringkali tidak semuanya dapat dikelompokkan kedalam satu satuan taksonomi, melainkan termasuk dua atau lebih satuan taksonomi yang berbeda. Karena satuan peta mengikuti kenampakan bentang-alam, dapat dikatakan bahwa satuan peta itu benar-benar terdapat di alam dan dapat dilihat serta diraba, sedangkan satuan taksonomi merupakan sesuatu yang abstrak. Klasifikasi (taksonomi) tanah merupakan pengembangan konsep fikiran manusia. Dalam hal ini satuan taksonomi tanah adalah buatan mantsia, sedangkan satuan peta merupakan batas tanah sesungguhnya (merupakan tubuh tanah alami). Berikut adalah fungsi sistem klasifikasi tanah: Sebagai media komunikasi bagi para pakar tanah, penyuluh, Peneliti, dan lain-lain. Mengekstrapolasikanhasil-hasil penelitian.

Beberapa sistem klasifikasi tanah yang digunakan sebagai satuan taksonomi di Indonesia antara lain sistem Puslittan (1981) yang merupakan penyempurnaan dari sistem Dudal dan Suprptohardjo (1957), sistem FAO-Unesco (1974; 1998) dan sistem Soil Taxonomy menurut USDA (SoiI Survey staff, 1999, 2003). Padanan nama tanah ketiga sistem klasifikasi tanah tersebut akan dibahas dalam Bab 6.

3.2 Satuan Peta Tanah dalam Survei Tanah


Satuan peta tanah (SPT) dibuat tergantung tingkat ketelitian survei atau tingkat pemetaan yang dilakukan, sehingga satuan peta tanah dapat memiliki kisaran karakteristik yang luas maupun sempit. Macam satuan peta tanah menurut (Wambeke dan Forbes, 1986) ada ,yaitu konsosiasi, asosiasi, kompleks, dan kelompok tak dibedakan ('undifferentiated groups) yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:

1. Satuan peta tanah sederhana (simple mapping unit). Satuan peta ini hanya mengandung satu satuan tanah saja atau terdapat tanah lain yang disebut sebagai inklusi. Satuan peta tanah ini banyak dijumpai pada survei tanah detail, dari daerah yang relatif seragam. Satuan peta ini disebut konsosiasi. Menurut Wambeke dan Forber (1986), konsosiasi merupakan satuan peta yang didominasi oleh satu satuan tanah dan tanah yang mirip (similar soil). Sekurang-kurangnya 50% dari pedon-pedon yang ada di dalam satuan peta tersebut sama dengan yang tertulis dalam satuan peta tanah, sedangkan pedonpedon atau tanah-tanah yang berbeda (dissimilar soil) yang disebut inklusi, dalam satuan peta konsosiasi tidak lebih dari 25%, l5% atau l0%, tergantung dari sifatnya yang diuraikan sebagai berikut: Jika tanah yang berbeda tersebut lebih baik atau sama dengan tanah utamanya, maka diperkenankan 25%. Jika tanah yang berbeda tersebut bersifat sebagai pembatas untuk penggunaannya, maka hanya diperkenankan hingga 15%. Jika tanah yang berbeda tersebut berbeda kontras dan merupakan faktor pembatas yang berat, maka hanya diperbolehk an hingga 10%. Sedangkan sisanya merupakan tanah-tanah yang serupa (similar soil). Gambar 3.5 menyajikan ilustrasi komposisi antara nama tanah yang tercantum daram legenda, similar soils dan dissimilar soils dalam satuan peta tanah.

2. Satuan peta tanah majemuk (compound mapping unit),terdiri atas dua satuan tanah atau lebih yang berbeda (dissimilar soil). Biasanya satuan peta tanah ini digunakan pada survei tinjau atau survei lainnya yang berskala kecil pada daerah yang rumit/ heterogen. Satuan peta tanah majemuk dibedakan menjadi: a. Asosiasi tanah, yaitu sekelompok tanah yang berhubungan secara geografis, tersebar dalam suatu satuan peta menurut pola

tertentu yang dapat diduga posisinya, tetapi karena kecilnya skala peta, taksa-taksa tanah itu tidak dapat dipisahkan. Setiap komponen dideskripsi secara terperinci tanpa ada perbedaan. Posisi geografis masing-masing anggota satuan peta dalam bentang-alam diterangkan dengan jelas, sehingga memungkinkan untuk diperhalus oleh pemakai peta. b. Kompleks tanah, merupakan sekelompok tanah dari taksa yang berbeda, yang berbaur satu dengan lainnya dalam suatu delineasi (satuan peta) tanpa memperlihatkan pola tertentu atau menunjukkan pola yang tidak beraturan. Meskipun ada komponen tanah yang berasosiasi secara geografis, tetapi tidak dapat dipisahkan kecuali pada tingkat amat detail. Menurut Wambeke dan Forbes (1986), satuan peta tanah dikatakan kompleks jika komponen utama dalam satuan peta kompleks tidak dapat membentuk satuan peta tersendiri jika dipetakan pada skala 1 : 24.000. Pada skala tersebut luasan 0,4 cm2 pada peta adalah 2,3 ha dilapangan. Komponen utama dalam satuan peta asosiasi jika dipetakan pada skala tersebut dapat membentuk satuan peta tersendiri. Dengan perkataan lain, jika komponen satuan-satuan tanah dalam satuan tanah tersebut didelineasi dan luasnya lebih dari 2,3 hektar maka satuan tanah tersebut adalah asosiasi; sedangkan apabila kurang dan2,3 hektar maka termasuk ke dalam kompleks. c. Kelompok tak dibedakan (undifferentiated groups), terdiri atas dua atau lebih tanah yang secara geografis tidak selalu berupa konsosiasi tetapi termasuk dalam satuan peta yang sama karena penggunaan dan pengelolaannya sama atau mirip. Tanahtanah tersebut dimasukkan ke dalam satuan peta yang sama karena sama-sama mempunyai sifat sebagai berikut: berlereng

terjal, berbatu, mengalami pengaruh banjir yang cukup parah sehingga membatasi penggunaan dan pengelolaaanya. Ketentuan proporsi dari masing-masing tanah yang menyusunnya sama dengan asosiasi atau kompleks. Beberapa kriteria untuk menetukan satuan peta menurut Dent dan Young (1991) adalah: 1. Satuan peta hendaknya sehomogen mungkin (tidak perlu mempunyai karakteristik yang seragam, tetapi variasi dalam satu satuan peta dipertahankan dalam batasan yang telah dibuat). Macam variasi hendaklah tetap konsisten dengan semua satuan peta yang mempunyai nama yang sama. 2. Pengelompokan hendaknya mempunyai nilai praktis. 3. Harus memungkinkan untuk memetakan satuan secara konsisten. 4. Pemetaan hendaklah diselesaikan dalam waktu yang layak dan dengan peralatan yang umum. Sifat tanah yang digunakan dalam pemetaan haruslah (terutama) dapat diamati dan dirasakan seperti warna dan tekstur. Banyak sifat-sifat tanah penting didalam praktek seperti unsur hara misalnya, tidak dapat langsung diamati dan dipetakan di lapangan. Hubungan sifat tanah yang dapat diamati dan sifat tanah penting lainnya harus ditemukan selama survei. 5. Sifat tanah yang reratif stabil, seperti tekstur dan litologi, hendaklah digunakan untuk memberi batasan satuan taksonomi, bukan sifat yang cepat berubah dengan pengelolaan, seperti struktur atau bahan organik tanah-atas. Satuan taksonomi tanah pada masing-masing satuan peta tanah, baik satuan sederhana maupun majemuk, tergantung dari skala peta final yang akan dihasilkan. Makin besar skala makin rendah kategori klasifikasi (taksonomi) tanah yang digunakan (lihat Tabei 2.1). Dalam survei tanah detail, satuan peta yang sering digunakan adalah:

1. Seri tanah, merupakan sekelompok tanah yang memiliki ciri dan perilaku serupa, berkembang dari bahan induk yang sama dan mempunyai sifat-sifat dan susunan horizon, terutama di bagian bawah horizon olah dan sama dalam rezim kelembaban dan suhu tanah. Nama seri diambil dari nama lokasi pertama kali ditemukan seri tanah tersebut. Misal Seri Labuanteratak. 2. Fase tanah, merupakan pembagian lebih lanjut dari seri tanah sesuai dengan ciri-ciri penting bagi pengelolaan/penggunaan lahan, seperti drainase, erosi. Fase dapat juga digunakan pada tingkat kategori lainnya seperti famili, sub-group dan lain-lain. Uraian selanjutnya disajikan dalam subbab 3.3. 3. Soil variant, merupakan tanah-tanah yang sangat mirip dengan seri yang sudah ditemukan, tetapi berbeda dalam beberapa sifat penting. Hal ini mengurangi banyaknya seri tanah yang mungkin ditemukan dalam suatu survei, dimana perbedaannya tidak terlalu besar. 'Soil variant' dapat menjadi seri tersendiri, jika pengkajian lapangan telah dilakukan lebih intensif.

3.3 Penamaan Satuan Peta Tanah


Penamaan satuan tanah yang dikemukakan dalam hal ini adalah penamaan menggunakan sistem klasifikasi Taksonomi Tanah USDA (Soil Survey Staff, 1990; 2003), seperti dikemukan dalam Hardjowigeno, Marsoedi dan Ismangun (1993). Satuan peta tanah terdiri atas satuan tanah dan fasenya. Kategori untuk penamaan satuan tanah tergantung dari skala pemetaan skala besar (pemetaan detail) menggunakan kategori rendah (famili atau seri), sedangkan skala,kecil menggunakan kategori tinggi (sub-grup, greatgroup, sub-ordo atau ordo). Masing-masing kategori dapat menggunakan satuan fase. Fase merupakan segala sifat tanah atau faktor lingkungan yang mempengaruhi penggunaan tanah dan pertumbuhan tanaman. Biasanya merupakan sifat-sifat atau corak tambahan suatu seri tanah atau satuan

tanah lainnya dalam kategori klasifikasi tanah. Misalnya tekstur lapisan atas, kemiringan lahan (lereng), batuan di atas permukaan maupun di dalam profil tanah dan sebagainya. 1. Konsosiasi Cara penamaannya mengikuti ketentuan sebagai berikut: Nama pertama terdiri dari satuan tanah atau taxon yang kemudian diikuti dengan fase. Untuk fase tekstur lapisan atas atau lapisan bahan organik di permukaan tidak disertai dengan tanda koma. Contoh: Ciawi liat. Tidak ditulis Ciawi,liat. Jika fase tekstur lapisan atas juga berbatu, berkerikil dan sebagainya, maka penulisannya adalah Cobanrondo skeletal berliat. Jika fase tekstur lapisan atas tidak digunakan tetapi karena berbatu, berkerikil dsbnya, maka penulisannya menggunakan 'koma'. Contoh: Cobanrondo, berbatu. Untuk dua atau tiga fase, digunakan 'koma'. Contoh: Pujian liat, lereng 15-20%, tererosi. Penulisan fase erosi, ditulis paling belakang. Penulisan fase lereng ditulis paling belakang kecuali jika ada fase erosi. contoh: Pujian skeletal berliat, substratum padas, lereng l530%o, tererosi. 2. Kompleks Ditulis kata 'kompleks; jika fase dari masing-masing taxon tersebut tidak sama, misalnya tekstur lapisan atas tidak sama. Contoh : Kompleks Cobanrondo-Sebaluh. Kata 'kompleks' tidak ditulis jika fase tekstur lapisan atas seri-seri tanah yang menyusunnya sama. Contoh: Jeho-Cula liat. Perhatikan beberapa contoh berikut:

Kompleks Sedep-Pali, berbatu (kedua seri tsb mempunyai fase berbatu di permukaan). Kompleks Batu-Tandem, Iereng 5 8% (keduanya mempunyai fase lereng sama). Tandem-Toki liat, lereng 5 8% (keduanya mempunyai fase tekstur lapisan atas dan lereng sama). Kompleks Toki berbatu-Lante (hanya seri Toki yang mempunyai fase berbatu). 3. Asosiasi Berbeda dengan kompleks, maka kata Asosiasi selalu digunakan. Perhatikan contoh berikut: Asosiasi Cangar-Batu, terjal (dua seri tanah dengan fase lereng terjal). Asosiasi Cangar, terjal-Batu (fase lereng terjal hanya pada seri Cangar). Asosiasi Typic Fragiochrepts-Aeric Fragioaquepts (asosiasi subgrup). 4. Kelompok tak dibedakan ('Undifferentiated groups') Untuk penamaan, digunakan kata dan guna menggabungkan satu seri dengan seri lainnya. Atau digunakan kata 'tanah' didepan nama seri tanah tersebut. Contoh: Batu dan Cangar lempung berdebu, atau tanah Batu dan Cangar Tanah Ciasem dan ldo, sangat terjal Tanah Pendem dan Dau, sangat berbatu.

3.3.1 lnklusi dalam Satuan Peta Tanah


Dalam setiap satuan peta tanah, hampir selalu mengandung satuan tanah lain yang di dalam Legenda Peta Tanah namanya tidak muncul. Satuan tanah ini disebut inklusi.

Inklusi tersebut terlalu kecil untuk dideliniasi tersendiri, atau kadang memang tidak teramati dengan metode survei yang dilakukan. Hal ini berkaitan dengan ketentuan bahwa deliniasi terkecil datam peta adalah 0'4 cm2 (USDA, 1989). Inklusi dapat berupa tanah yang serupa atau tanah yang tidak serupa dengan tanah yang digunakan sebagai nama satuan peta tersebut. Tanah yang tidak serupa dapat pula berupa tanah tanah penghambat (limiting) atau tanah yang bukan penghambat (non limiting). 1. Inklusi tanah serupa Mempunyai beberapa sifat penciri yang sama dengan sifat tanah utama. Berperilaku dan berpotensi serupa dengan tanah utama. Memerlukan usaha konservasi dan pengelolaan yang sama dengan tanah utama. Contoh: Typic Argiaquolls dan Udollic Ochraqualfs. Kedua tanah ini mempunyai persamaan sifat dalam hal: Kelembaban tanah Kejenuhan basa Kandungan bahan organik Memiliki perbedaan tidak lebih dari 2 atau 3 kriteria. Kesamaan sifat dapat terjadi pada sembarang tingkat kategori (fase, seri, famili, subgroup) 2. Inklusi tanah tidak serupa Tidak mempunyai kesamaan terhadap sifat-sifat peneiti penting atau memerlukan pengelolaan yang berbeda dengan tanah utama. Perbedaan antara tanah yang tidak serupa dapat dalam arti banyaknya sifat tanah yang berbeda atau besarnya tingkat perbedaan, atau kedua-duanya. Perbedaan dapat terjadi pada tingkat fase, seri, famili atau kategori yang lebih tinggi. Tanah tidak serupa dapat sebagai penghambat atau bukan penghambat.

Contoh: Tanah sempit dengan lereng I5 - 25 persen yang merupakan inklusi dalam satuan peta tanah dengan lereng dominan 4 8 persen dapat merupakan penghambat serius penggunaan tanah di daerah tersebut. Inklusi ini disebut inklusi penghambat. Berikut adalah keterangan dari dua macam inklusi, yaitu: Inklusi penghambat Adalah inklusi tanah tidak serupa yang mempunyai faktor penghambat lebih besar dari tanah utama atau memengaruhi tingkat pengelolaannya. Inklusi bukan penghambat Adalah inklusi tanah tidak serupa dengan faktor penghambat lebih rendah daripada tanah utama. Tidak akan mempengaruhi interpretasi terhadap potensi satuan peta tersebut.

3.3.2 Fase Tanah


Fase merupakan pengelompokan tanah secara fungsional yang bermanfaat untuk memprediksi potensi tanah di daerah yang disurvei. Semua sifat yang memengaruhi potensi tanah yang tidak digunakan sebagai pembeda pada tingkat seri tanah atau kategori yang lebih tinggi, dapat digunakan sebagai pembeda untuk fase. Fase yang biasa digunakan untuk seri tanah menurut Hardjowigeno, Marsoedi dan Ismangun (1993) adalah sebagai berikut: 1. Tekstur lapisan atas tanah mineral Fase tekstur diambil dari nama tekstur lapisan atas. Bila terdapat lapisan tipis bahan organik di permukaan, maka nama tekstur diambil dari tekstur setelah lapisan sampai kedalaman paling sedikit 12 cm(tetapi tidak lebih dari25 cm dicampur). Untuk tanah yang mempunyai desert pavement (umumnya tanah daerah Arid) adalah tekstur setelah dicampur dengan horizon A dan E.

Contoh: Bogor lempung berliat; Cibinong liat berdebu. Catatan: Seri tanah yang diikuti dengan fase tidak perlu ditulis kata seri di depannya 2. Lapisan organik di permukaan tanah Fase lapisan organik diberi narna sebagai berikut: bergambut kasar (peat), bergambut sedang (mucky peat), bergambut halus (muck). Peat, setara dengan bahan fibrik (bahan organik kasar). Mucky peat, setara dengan bahan hemik (bahan organik dengan tingkat dekomposisi sedang). Muck, setara dengan bahan saprik (bahan organik halus). Contoh: Cintamanis bergambut kasar. Banjar lempung berdebu, bergambut halus (lapisan mineral di permukaan yang banyak mengandung bahan organik halus) 3. Fragmen batuan di dalam tanah atas Digunakan untuk fragmen batuan (kerikil) di dalam tanah atas yang jumlahnya lebih dari 15% volume. Contoh: Pakem lempung berkerikil (fragmen batuan 15 - 35 %). Kaliurang lempung sangat berkerikil (fragmen batuan 35 60%). Tempel lempung amat sangat berkerikil (fragrnen batuan lebih 60%). 4. Batu di permukaan tanah Digunakan untuk batu atau batuan dipermukaan tenah yang jumlahnya lebih dari 0.01 pers'en volume. Batu tersebut akan

memengaruhi pengolahan tanah, panen, penggunaan mesin-mesin pertanian dan sebagainya. Tidak berbatu Berbatu Sangat berbatu Amat sangat berbatu Berbatuan (Rubly) Lahan batuan Contoh: < 0.01 % 0.01-0.1% 0.1-3.0% 3.0-15.0% 15-75% >75%

Cangkringan lempung, lereng 10 -20 persen, amat sangat berbatu. Ciapus lempung, lereng 15 - 30 persen, berbatuan (rubly). 5. Fase lereng Fase lereng digunakan baik sebagai lereng tunggal maupun sebagai lereng majemuk. Lereng majemuk (kompleks) adalah lereng dengan lebih dari satu arah dan ditunjukkan oleh daerah punggung dan lembah dalam satu deliniasi, sedangkan lereng tunggal relatif mempunyai arah lereng yang seragam. Satuan peta dengan lereng tunggal menggunakan nama fase dengan selang lereng dalam persen. Contoh: o o Darmaga lempung berdebu, lereng 4 - 8 persen, tererosi. Kompleks Seri Darmaga Cimulang, lereng 8 - 15 persen.

Satuan peta dengan seri majemuk, biasanya menggunakan adjective. Contoh o Asosiasi Darmaga Cimulang, berbukit o Seri Pakem dan Kaliurang, bergelombang. 6. Erosi Tanah

Fase erosi tanah digunakan untuk menunjukan besarnya erosi yang telah terjadi dan bukan untuk potensi terjadinya erosi. Fase erosi tanah di tentukan berdasar atas kelas-kelas erosi yang di definisikan Soil-Survey Manual (USDA,1989) berikut: Agak tererosi - Kelas 2 erosi. Sangat tererosi - Kelas 3 erosi. Gullied, tanah yang mengalami erosi parit kurang dari 10%. Bila yang mengalami erosi parit lebih dari 10%, satuan peta menjadi lebih kompleks atau daerah aneka. Agak tererosi angin - Kelas I erosi angin. Sangat tererosi angin - Kelas 2 atau3 erosi angin. Contoh: Turgo lempung berdebu, lereng 10 - 15 persen, sangat tererosi. 7. Fase Pengendapan Fase pengendapan digunakan untuk bahan-bahan yang diendapkan oleh air atau angin diatas tanah lain yang tidak memenuhi syarat sebagai tanah tertimbun.(Tebal kurang dari 30 cm atau antara 30 -50 cm, tetapi kurang dari setengah dari tebal horizon penciri tanah yang tertimbun).

Contoh: Cibinong lempung berpasir, lereng 2-8 persen, endapan air. 8. Fase kedalaman Yang dimaksud kedalaman dalam tingkat fase adalah kedalaman sampai ke lapisan dengan sifat- sifat tertentu yang berpengaruh nyata

terhadap tujuan survei tersebut, dan belum digunakan sebagai pembeda dalam seri tanah atau kategori yang lebih tinggi. Kelas kedalaman: Sangat dangkal Dangkal Agak dalam (agak dangkal) Dalam Sangat dalam <25 cm 25 - 50 cm 50 - 100 cm 100 - 150 cm lebih dari 150 cm.

Sebutkan di atas bahan apa kedalaman yang dimaksud! Misalnya: Agak dalam di atas kerikil. Agak dalam di atas pasir. Agak dalam di atas liat. Dangkal di atas skist. Dalam di atas basalt.

Contoh Kaliwanglu lempung berdebu, dangkal di atas kerikil. 9. Fase substratum Digunakan untuk substratum yang terletak dibawah control section dari seri dan famili. Biasanya digunakan untuk substratum yang tidak padu dibawah kedalaman 100 cm. Jenis fase substratum: Substratumkalkareus. Substratum kapur (batu gamping-lunak).

Substratum liat. Substratumberkerikil. Substratumbergipsum. Substratum endapan danau (lakustrin). Substratum bernapal (marly). Substratumberpasir. Substratumberdebu. Substratum serpih (shale). Contoh: Wonosari lempung berdebu, substratum bernapal, lereng 6 20 persen. 10. Fase yang berhubungan dengan air Fase ini digunakan untuk membedakan sekuen dari status air tanah, permukaan air tanah dan drainase tanah. Pada beberapa tanah, status air tanah yang ada tidak dicerminkan oleh sifat-sifat tanah yang milikinya. Misalnya tanah yang tidak menunjukkan sifat-sifat drainase buruk, padahal. tanah tersebut tergenang. Contoh: Imogiri lempung berdebu, basah. Dalam keadaan lain, ada tanah yang masih mencerminkan pengaruh air, tetapi sudah tidak tergenang lagi karena telah dilakukan perbaikan drainase. Contoh: Rawapening lempung berdebu, didrainase. Beberapajenis fase yang berhubungan dengan air adalah: o Basah o agak basah o cukup basah o tergenang o didrainase o muka air tanah tinggi 11. Fase salin Digunakan untuk membedakan derajad salinitas yang penting untuk penggunaan dan pengelolaan tanah di dalamkisaran suatu seri tanah. Berikut adalah kelas-kelas salin: sedikit agak salin <0.4 mmho

agak salin cukup salin sangat salin

0.4-0.8 mmho 0.8-1.6 mmho > 1.6 mmho

Contoh: Kupang lempung berdebu, cukup salin. 12. Fase sodik Beberapa tanah mempunyai sifat salin dan sodik; untuk itu fase sodik perlu ditambahkan. Contoh: Dili lempung berdebui sangat salin, sodik. 13. Fase Fisiografi Fase ini digunakan untuk mengelompokkan tanah yang mem punyai sifat yang sama (masuk dalam seri yang sama) tetapi ditemukan dalam satuan fisiografi yang berbeda. Misalnya tanah berpasir dari loess di atas teras dan tanah berpasir dari loess di atas dataran aluvial termasuk dalam seri yang sama, tetapi dalam peta perlu dibedakan dalam fase fisiografi. Contoh: o o Parangtritis lempung berpasir, teras, lereng 0 - 5 persen. Parangtritis lempung berpasir, dataran aluvial, lereng 03persen.

14. Fase iklim Fase iklim didasarkan pada suhu udara, evapotranspirasi potential (PE) dan curah hujan. Fase iklim digunakan bila perbedaannya cukup nyata untuk tujuan survei dan dapat diidentifikasi dan dipetakan secara konsisten di lapangan. Ada dua kemungkinan keadaan iklim untuk seri yang sama o Keadaan iklim yang sama dengan keadaan iklim seri yang dimaksud, sehingga fase iklim tidak digunakan.

Terdapat penyimpangan keadaan iklim dari iklim yang biasa ditemukan pada seri yang dimaksud. Untuk itu fase iklim perlu digunakan.

Contoh: Tawangsari lempung berpasir, dingin. 15. Fase-fase lain Semua sifat pembeda yang berguna untuk tujuan survei dan dapat dipetakan dengankonsisten, dapat digunakan sebagai fase. Contoh: sering banjir kadang-kadang banjir jarang banjir terbakar (gambut) kalkareus (berkapur) permukaan tercuci

Jenis-jenis fase yang telah diuraikan di atas biasanya digunakan untuk seri tanah dalam pemetaan tanah detail (skala 1: 10.000), sehingga dalam satu satuan peta tanah mungkin dapat ditemukan satu jenis fase secara homogen. Dalam Proyek LREP II yang pemetaan tanah dilakukan pada tingkat semi detail skala 1: 50:000, maka cukup kecil kemungkinan ditemukannya satu jenis fase yang homogen dalam satu satuan peta. Karena itu penggunaan fase seri tanah dalam peta tanah semi detail Proyek LREP II perlu lebih hati-hati. Hanya fase yang jelas penyebaranya dan dominan dalam satuan peta yang bersangkutan dapat digunakan sebagai fase seri tanah dalam satuan peta tersebut.

3.4 Peranan Korelator dalam SurveiTanah


Survei tanah umumnya dilaksanakan oleh suatu tim yang terdiri dari beberapa regu. Pada dasarnya suatu peta tanah merupakan hasil interpretasi yang subyektif dari masing-masing regu (penyurvei), sehingga masing-masing penyurvei mempunyai interpretasi yang berbeda-beda terhadap konsep model hubungan tanah-bentang alam yang dipetakan.

Dengan demikian peta tanah yang dihasilkan pun berbeda bagi masingmasing pemeta. Berdasarkan kenyataan tersebut hasil kerja masing-masing regi hendaklah dikorelasikan satu dengan lainnya oleh seorang korelator yang bertanggung jawab terhadap peta yang dihasilkan. Tugas penting korelator ini antara lain (Barneveld, 1986): menyusun beberapa standar seperti keseragaman dalam interpretasi foto udara. menyusun legenda peta semetara merencanakan operasi lapangan dan prosedur pemetaan selama sunrei lapangan, korelator hendaklah menguji standar dan prosedur yang telah digariskan sebelumnya. Semua regu secara bergiliran diikuti oleh korelator, sehingga ia yakin bahwa semua regu mempunyai standar yang sama. mengkorelasi semua satuan peta, serta mengevaluasi apakah sistem klasifikasi tanah telah di terapkan dengan benar secara konsisten oleh sema regu. menguji hasil survei bersama-sama pemakai peta dan tim survei untuk meyakinkan kebenaran hasil survei. Menyusun dan mengembangkan kerangka dan prosedur evaluasi lahan. menyiapkan dan memeriksa kembali konsep peta dan laporan.

Mengingat pentingnya peran korelator, maka pada setiap survei tanah, haruslah ditunjuk seorang korelator yang dipilih dari penyurvei yang sudah berpengalaman, baik dibidang interpretasi foto udara maupun di bidang survei tanah dan evaluasi lahan. ***

IV
METODE SURVEI TANAH

ertanyaan utama dalam survei tanah adalah bagaimana bisa menghasilkan peta tanah yang akurat yang dapat mencerminkan karakteristik atau sifat-sifat tanah di lapangan dalam suatu daerah, sehingga dapat diprediksi potensinya baik untuk pengembangan pertanian maupun untuk nonpertanian. Masalah yang mendasar adalah bahwa jumlah peng amatan yang dilakukan oleh penyurvei sangat terbatas, dan pengambilan contoh tanah (menggunakan bor atau sekop) biasanya bersifat merusak (destructive), dalam arti begitu contoh tanahnya diambil, sifat asal tanah menjadi rusak. Dalam praktiknya, penyurvei mengandalkan sifat-sifat (ekternal) yang dianggap berasosiasi dengan genesis tanah, yaitu mengapa tanah yang berada di tempat tersebut memiliki sifat-sifat seperti itu. Diantara sifatsifat eksternal tersebut, yang terpenting di antaranya adalah sifat geomorfologi (analisis landfom) dan vegetasi atau penggunaan lahan. Dengan demikian, sekalipun penyurvei mengamati tanah tersebut dalam proporsi yang amat kecil dari volume totalnya, tetapi dengan menghubungkan sifat tanah dengan kenampakan landsekap yang dapat dilihat, akan dapat diprediksi sifat-sifat tanah di atas seluruh lansekap dengan kepercayaan yang tinggi. Ketika penyurvei mencoba membagi lanskap ke dalam satuansatuan peta, terdapat dua pendekatan mendasar, yaitu pendekatan sintetik (synthetic approach) dan pendekatan analitik (analytic approach) (Rossiter, 2000). Dalam pendekatan sintetik, dilakukan pengamatan di lapangan terlebih dulu, kemudian dilakukan pengelompokkan berdasarkan kisaran sifat-sifat terentu, sehingga dihasilkan satuan peta sebanyak keragaman

yang ada. Pendekatan sintetik berasal dari kata 'synthesis' atau sintesa yang berarti penentuan satuan spasial (peta) berdasarkan hasil pengamatan pada titik-titik pengamatan. Dengan demikian tahapannya adalah: 1. Melakukan pengamatan pada beberapa titik di lapangan. 2. Mengelompokkan titik-titik pengamatan tersebut ke dalam satuan peta sehingga keragaman antara unit terjadi maksimal dan keragaman di dalam unit adaiah minimal. Dalam pendekatan analitik, pertama lansekap dibagi ke dalam tubuh tanah 'alami', berdasarkan karakteristik eksternal seperti landform, vegetasi dan tanah perrnukaan. Setelah itu dilakukan penentuan karakteristik. tanah pada masing-masing satuan tersebut melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah. Pendekatan analitik berasal dari kata 'analisis' yang berarti membagi tubuh tanah 'alami' yang didasarkan pada petunjuk-petunjuk (sifat-sifat) eksternal. Dengan demikian tahapan dalam pendekatan ini adalah: 1. Membagi lansekap ke dalam komponen-komponen sedemikian rupa yang diperkirakan akan memiliki tanah yang berbeda. 2. Melakukan karakterisasi satuan-satuan yang dihasilkan melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah dilapangan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendekatan sintetik adaiah pendekatan 'buttom-up' atau 'memberi nama terlebih dahulu, baru kemudian mengelompokkannya', sedangkan pendekatan analitik adalah pendekatan 'top -down' atau pendekatan yang dilakukan dengan cara 'membagi terlebih dulu kemudian baru memberi nama'. Dalam praktiknya kedua pendekatan itu dilakukan secara bersama-sama. Dalam pendekatan sintetik, penempatan pengamatan seringkali mengikuti petunjuk eksternal yang mengarahkan di mana batasbatas antara tanah-tanah yang berbeda akan terjadi, dimana dalam kenyataannya petunjuk ini sama dengan karakteristik eksternal yang digunakan dalam pendekatan analitik. Dalam pendekatan analitik,

penempatan garis batas seringkali didukung dengan pengamatan pemboran, juga dua tubuh tanah 'alami' seperti yang terlihat pada foto udara yang dalam kenyataannya dapat menghasilkan satuan serupa dengan yang dikelompokkan dalam pendekatan sintetik. Pendekatan sintetik diterapkan pada daerah dengan tingkat prediksi rendah (low predictabilitry) yaitu petunjuk eksternal tidak membantu memisahkan tanah yang berbeda).

4.1 Beberapa Metode SurveiTanah


Berdasarkan kedua pendekatan tersebut, dalam survei tanah dikenal 3 macam metode survei, yaitu metode grid (menggunakan prinsip pendekatan sintetik), sistem fisiografi dengan bantuan interpretasi foto udara (menggunakan prinsip pendekatan analitik), dan grid bebas yang merupakan penerapan gabungan dari kedua pendekatan tersebut. Berikut akan diuraikan 3 macam survei utama yang umum dikenal dalam kegiatan survei tanah, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Beberapa modifikasi dari ketiga metode maupun yang berbeda sama sekali akan diuraikan kemudian.

4.1.1 Survei Grid


Metode survei ini disebut juga metode grid kaku. Skema pengambilan contoh tanah secara sistematik dirancang dengan mempertimbangkan kisaran spasial autokorelasi yang diharapkan. Jarak pengamatan dibuat secara teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur segi . empat (rectangular grid) diseluruh daerah survei. Pengamatan tanah dilakukan dengan pola teratur (interval titik pengamatan berjarak sama pada arah vertikal dan horizontal). Jarak pengamatan tergantung dari skala peta. Titik-titik pengamatan tanah ditempatkan di lapangan dan diamati karakteritiknya. Dengan menggunakan metode statistik baku atau geostatistik, dilakukan estimasi variabilitas tanah.

Metode ini sangat cocok untuk survei intensif dengan skala besar, dimana penggunaan interpretasi foto udara sangat terbatas dan intensitas pengamatan yang rapat memerlukan ketepatan penempatan titik pengamatan di lapangan dan pada peta. Metode ini juga sangat cocok diterapkan di daerah yang belum tersedia foto udara atau peta topografi (peta rupa bumi) untuk navigasi. selain itu, pada daerah-daerah be rhutan lebatatau di daerah pasang-surutdi mana penggunaan interpretasi fotoudara seringkali sangat terbatas, sehingga cara termudah untuk mengetahui posisi atau lokasi pengamatan di lapangan adalah dengan melakukan pengukuran jarak (sitorus, 1986). Namun demikian, untuk menentukan posisi pengamatan saat ini semakin mudah dengan bantuan GPS. Survei grid juga cocok dilakukan pada daerah yang mempunyai pola tanah yang kompleks dimana pola detail hanya dapat dipetakan pada skala besar yang kurang praktis. Survei ini sangat cocok diterapkan pada daerah yang posisi pemetanya sukar ditentukan dengan pasti. Selain itu, survei ini sangat dianjurkan pada survei intensif (detail sangat detail) dan penggunaan hasil interpretasi foto udara sangat terbatas (misalnya pada daerah dengan konfigurasi permukaan kurang beragam/daerah yang relatif datar) atau di daerah yang belum ada foto udaranya. Atau daerah yang sudah terliput foto udara, akan tetapi hasilnya tidak maksimal karena sebab-sebab berikut: Skalanya terlalu kecil. Mutunya sangat rendah. Daerah survei tertutup awan. Kenampakan permukaan tidak jelas/daerah sangat homogen dan datar. Daerah tertutup vegetasi rapat dan lebat. Daerah berawan, padang rumput/savana, tanpa gejala . permukaan Keuntungan metode survei grid:

Tidak memerlukan penyurvei yang berpengalaman, karena lokasi titik-titik pengarnatan sudah diplot pada Peta Rencana Pengamatan. Sangat baik diterapkan pada daerah yang luas yang memerlukan penyurvei dalam jumlah besar. Cukup teliti dalam menentukan batas satuan peta tanah pada daerah survei yang relatif datar. Dengan menerapkan teknik analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis) dapat memperkecil atau mengurangi sejumlah sifat tanah pada suatu variate yang menggambarkan proporsi yang besar dari data yang tersedia. Kerugian metode survey grid; Memerlukan waktu yang lama, terutama pada medan yang berat. Pemanfaatan seluruh titik-titik pengamatan sehingga tidak efektif. Sebagian lokasi pengamatan tidak mewakili satuan peta yang dikehendaki, misalnya tempat pemukiman, daerah peralihan dua satuan lahan dan lain-lain.

4.1.2 Survei Fisiografi (lFU)


Survei ini diawali dengan melakukan interpretasi foto udara (IFU) untuk mendelineasi landform yang terdapat di daerah yang disurvei, diikuti dengan pengecekan lapangan terhadap komposisi satuan peta, biasanya hanya di daerah pewakil. Tidak semua delineasi dikunjungi. contoh metode Fisiografi adalah pendekatan Geopedologi yang dikembangkan oleh ITC Belanda. Survei ini umumnya diterapkan pada skala 1:50.000 - 1:200.000. Pada skala kecil, hanya satuan lansekap dan landform yang luas saja yang dapat digambarkan. Metode survei ini hanya dapat diterapkan jika tersedia foto udara yang berkualitas tinggi. Batas satuan peta sebagian besar atau seluruhnya didelineasi dari hasil IFU. Pengamatan lapangan dengan kerapatan rendah dilakukan untuk mengecek batas satuan peta dan mengidentifikasi sifat dan ciri tanah di

setiap satuan peta. Pengecekan batas fisiografi/landform dilakukan terutama jika batas-batas tersebut tidak begitu jelas yang disebabkan lansekap yang relatif datar. Jumlah pengamatan setiap satuan peta ditentukan oleh : ketelitian hasil intetpretasi foto udara dan keahlian/kemampuan penyurvei dalam memahami hubungan fisiografi dan keadaan tanah. Kerumitan satuan peta; semakin rumit semakin banyak pengamatan. Luas satuan peta; semakin luas semakin banyak pengamatan.

4.1.3 Metode Grid Bebas


Merupakan perpaduan metode grid-kaku dan metode fisiografi. Metode ini diterapkan pada survei detail hingga semi-detail, foto udara berkemampuan terbatas dan di tempat-tempat yang orientasi di lapangan cukup sulit dilakukan. Pengamatan lapangan dilakukan seperti pada grid-kaku, tetapi jarak pengamatan tidak perlu sama dalam dua arah, tergantung fisiografi daerah survei. Jika terjadi perubahan fisiografi yang menyolok dalam jarak dekat, perlu pengamatan lebih rapat, sedangkan jika landform relatif seragam maka jarak pengamatan dapat diiakukan berjauhan. Dengan demikian, kerapatan pengamatan disesuaikan menurut kebutuhan skala survei yang dilaksanakan serta tingkat kerumitan pola tanah dilapangan. Survei ini sangat baik dilakukan oleh penyurvei yang belum banyak berpengalaman dalam interpretasi foto udara. Menurut Rossiter, (2000), metode survei ini merupakan kelanjutan dari survei fisiografi dan biasanya dilaksanakan pada skala 1 : 12.500 sampai dengan 1:25.000. pelaksanaan survei ini diawali dengan analisis fisiografi melalui interpretasi foto udara secara detail. semua batas harus dilakukan pengecekan di lapangan dengan teliti dan dilakukan beberapa modifikasi sesuai dengan hasil pengamatan lapangan.

Pemeta mengunjungi sebagian besar landskap, biasanya berada pada suatu transek yang 'memotong satuan peta dengan berkonsentrasi pada daerah bermasalah (daerah yang hubungan antara lanskap dan tanah sulit diprediksi). Di daerah yang memiliki korelasi tanah-geomorfologi yang kurang jelas, pengamatan lapangan sangat diperlukan untuk mendelineasi batas dengan tepat. Dari pengamatan tersebut, diharapkan dapat diperoleh informasi hubungan yang baik antara keragaman internal tanah dengan kenampakan eksternal (fisiografi). Dalam metode survei bebas, pemeta 'bebas' memilih lokasi titik pengamatan dalam mengkonfirmasikan secara sistematis model mental hubungan tanah-lansekap, menarik batas dan menentukan komposisi satuan peta. Untuk dapat melakukan survei bebas, pertimbangan dan pengalaman pemeta sangat penting. Di daerah dengan pola tanah yang dapat diprediksi dengan mudah (sesuai dengan model mental), pengamatan dapat dilakukan lebih sedikit, sedangkan daerah lainnya (terutama daerah yang bermasalah) perlu di lakukan pengamatan lebih banyak (lebih mendetail). Dengan jumlah sampling yang sama, dapat dihasilkan peta yang baik, dengan berkonsentrasi pada tanah bermasalah. Selain ketiga metode yang baku tersebut, Rossiter (2000) mengemukakan dua survei tanah yang lain, yaitu (1) Survei Nonsistematik (Non-systematic survey) dan (2) Survei Kontinu (Continuous survey).

4.1.4 Survei Nonsistematik


Dalam survei ini batas tanah ditentukan dari peta lain, peta geologi dan peta fisiografi. pengecekan lapangan hanya di lakukan di beberapa tempat dengan intensitas sangat rendah untuk menentukan sifat-sifat tanah tipikal. Dalam metode ini tidak dipertimbangkan keragaman internal

tanah. Metode survei ini diterapkan pada skala lebih kecil dari 1:500.000. peta yang dihasilkan bukanlah peta tanah, melainkan peta bagan dan tidak dapat digabungkan dengan Sistem Informasi Geologi (SIG).

4.1.5 Survei Kontinu


Survei kontinu merupakan hasil interpretasi citra penginderaan jauh terhadap tanah atau terhadap sifat-sifat yang berhubungan dengan tanah (misal rona kelabu, vegetasi, produksi tanaman). Resolusi sensor menentukan skala survei, sekalipun hasil dapat digeneralisir menjadi skala kecil. Survei kontinu dapat memberikan estimasi internal paling akurat.

4.2 Active Field Survey


Survei itu merupakan bagian dari survei bebas. Penyurvei menciptakan suatu model mental dari faktor-faktor pembentukan tanah dan menetukan lokasi pengamatan untuk memperkuat atau memodifikasi hipotesishipotesis yang dibuat sebelumnya. Pengamatan bisa lebih jarang dilakukan pada daerah-daerah dimana hipotesis sesuai dengan fakta di lapangan dan jika faktor-faktor tersebut terlihat teratur. Pengamatan lebih banyak dilakukan pada daerah-daerah'bermasalah'. Rossiter (2000) menyajikan contoh dataran pantai Atlantik di tanah North carolina yang berada di dataran tinggi yang merupakan hasil dari: 1. Permukaan geomorfik (= umur singkapan), yang dengan mudah terlihat oleh adanya gawir di antara permukaan. 2. Adanya keragaman (Granulometry) dari bahan sedimen (dari kasar hingga liat). 3. Air tanah (sekuen drainase) yang diperkirakan dari jarak horizontal dan vertikal terhadap drainase dan yang dapat dengan mudah disimpulkan dari kebasahan/lengas permukaan yang terlihat pada foto udara yang dipotret di musim dingin (tanpa tanaman, lembab dan dingin).

Berdasarkan 3 hal tersebut dapat dikemukakan bahwa (1) sangat mudah diduga, (2) biasanya mudah diamati pada foto dan hanya memerlukan beberapa pengecekan lapangan untuk memperkuat batas antara kelas drainase (dengan melakukan pemboran guna melihat kedalaman karatan atau glei), (3) merupakan daerah yang bermasalah. Pada dasarnya pengecekan lapangan dimaksudkan untuk menentukan sebaran ukuran butir tanah yang sangat berhubungan dengan kelas ukuran butir pada kategori famili dalam taksonomi tanah (berlempung halus, berlempung kasar, berdebu halus, berliat, atau berpasir). Penyurvei tanah memetakan pola sedimen. Pada beberapa lokasi hal ini sangat konsisten dan pemetaan dapat dilakukan dengan cepat, sedangkan di lokasi yang lain mereka berbaur dan penyurvei harus melakukan banyak pengecekan untuk menentukan batas dan atau komposisi satuan peta (dalam kasus sedimentasi yang berpola halus). Survei grid akan menghabiskan waktu di beberapa lokasi, terutama pada daerah dengan sedimentasi yang rumit, tetapi tetap dapat memberikan hasil yang baik. Dalam Gambar 4.1 disajikan contoh lain, seperti dikemukakan oleh Elbersen (1985), Seorang pemeta mengkaji ketebalan horizon A pada bagian cekung dari suatu relief (bentuk wilayah) yang bergelombang, mulai dari nomor 1-7. Sambil melakukan itu, ia mencoba merumuskan hipotesis tentang ketebalan horizon A yang dijumpainya. Informasi baru selalu muncul untuk menyempurnakan model atau teorinya selama survei, hingga sesui dengan semua keadaan yang dijumpainya. Pada Tabel 4.1 dikemukakan hipotesis pada berbagai titik pengamatan. Dari ilustrasi tersebut dapat disimpulkan bahwa pada daerah lembah yang bahan induknya berasal dari batuan basalt dan tanpa vegetasi, akan dijumpai horizon A yang tebal, sedangkan pada daerah dengan bahan induk yang berasal dari granit, horizon A tidak terpengaruh. Dengan bantuan interpretasi foto udara, dapat diprediksi daerah mana saja yang lembahnya dapat dijumpai horizon A yang tebal.

***

V
PELAKSANAAN SURVEI TANAH

Dalam pelaksanaan survei tanah, ada 3 tahap kegiatan yang perlu dilakukan agar survei tanah dapat berjalan lancar, sistematis, dan efektif, yaitu: 1. Tahap persiapan 2. Tahap survei lapangan, yang dibedakan atas: a. Pra-survei b. Survei utama 3. Analisis data dan pembuatan peta dan laporan. Uraian masing-masing tahap tersebut, dikemukakan di bawah ini.

5.1 Tahap Persiapan


Dalam tahap persiapan ini, ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan. Kegiatan.kegiatan tersebut akan diuraikan satu persatu sebagai berikut:

5.1.1 Menentukan Tujuan Survei Tanah


Secara umurn, berdasarkan tujuannya survei tanah dibedakan atas survei bertujuan umum dan survei bertujuan khusus. Survei bertujuan umum ditujukan untuk dapat memberi keterangan dan data sebagai dasar penafsiran untuk berbagai penggunaan yang berbeda. Biasanya survei ini menghasilkan peta pedologi, diperuntukkan bagi daerah yang kurang berkembang atau daerah-daerah yang informasi mengenai tanahnya masih sangat kurang. Survei bertujuan khusus dilakukan jika telah diketahui tujuan dan kegunaan survei tersebut, misalnya untuk irigasi, penanaman tanaman

tertentu seperti tebu, kopi dan lain-Iain. Sifat dan kualitas tanah yang sesuai untuk tujuan khusus tersebut telah diketahui dan dapat dipetakan, baik melalui 'dugaan' sifat-sifat yang dapat diamati maupun dari hasil analisis contoh tanahnya. Survei ini biasanya dilakukan berkembang (berpenduduk padat). pada daerah yang sudah

5.1.2 Mengestimasi Biaya Survei Tanah


Macam survei dan skala peta yang akan dihasilkan sangat berhubungan dengan intensitas pengamatan lapangan, dengan demikian sangat menentukan besarnya biaya yang diperlukan. Semakin detail survei (semakin besar skala peta yang dihasilkan) maka semakin tinggi intensitas pengamatan lapangan yang diperlukan sehingga biaya per satuan luas semakin tinggi. Gambaran atau contoh hubungan antara macam survei, skala peta dan biaya yang diperlukan disajikan pada Tabel 5.1.

Secara umum, komponen biaya survei dibedakan ke dalam 2 kelompok, yaitu upah atau gaji dan biaya survei. Upah atau gaji meliputi antara lain gaji tenaga ahli dalam anggota tim, upah tenaga kerja lokal, juru gambar, dan tenaga administrasi. Biaya survei antara lain biaya transportasi dan akomodasi ke dan di daerah survei, pembelian bahan dan alat seperti peta, foto udara, citra satelit, bahan dan alat gambar alat tulis, peralatan survei, peralatan berkemah, bahan kimia analisis contoh tanah, perbanyakan laporan-dan peta-peta, lumpsum tenaga pelaksana, asuransi dan biaya lak terduga (overheads). Sebagian besar biaya survei biasanya dialokasikan untuk membiayai pekerjaan survei di lapangan.

5.1.3 Merumuskan Kerangka Reference)

Acuan (TOR = Terms of

Perumusan kerangka acuan perlu dilakukan agar pihak pelaksana survei maupun pihak pengguna (pihak yang menghendaki survei tanah), mencapai kesepakatan tentang beberapa hal yang berkaitan dengan pelaksanaan survei tanah tersebut. Dalam kerangka acuan ini, diuraikan secara jelas tentang tujuan survei, bahan dan alat yang digunakan, metode survei, macam analisis, susunan organisasi, dana yang diperlukan, macam peta dan laporan yang dihasilkan dan lain-lain.

5.1.4 Membuat Surat Perjanjian Kerjasama

Surat Perjanjian Kerjasama perlu dilakukan agar kedua belah pihak mempunyai landasan dan kekuatan hukum, seandainya salah satu pihak (pihak pelaksana atau peminta survei) tidak menempati hal-hal yang telah disetujui bersama, sesuai dengan yang telah disepakati dalam TOR. Dalam surat perjanjian kerjasama juga ditentukan kapan laporan survei harusdiserahkan, serta macam sanksi seandainya terjadi pelanggaran dari salah satu pihak.

5.1.5 Mengurus Perijinan


Sebelum dapat melaksanakan survei di suatu daerah, terlebih dahulu penyurvei harus mengurus surat-surat ijin dari penguasa wilayah yang daerahnya tercakup dalam daerah yang disurvei. Ijin harus diperoleh mulai dari pemerintah daerah tingkat I, hingga ke Kepala desa yang tercakup dalam daerah survei tersebut.

5.1.6 Mengumpulkan Data-data (Laporan dan Peta) Sekunder


Data-data sekunder yang perlu dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan daerah survei yangmeliputi: keadaan iklim dan hidrologi keadaan geologi dan bahan induk keadaan topografi (relief dan lereng) keadaan vegetasi dan penggunaan lahan keadaan tanah keadaan sosial ekonomi daerah survei, seperti penduduk (kepadatan, laju perkembangan, mata-pencaharian), kepemilikan tanah dan sebagainya Data-data ini dikumpulkan dari laporan-laporan dan peta-peta yang ada, maupun langsung pada instansi-instansi yang terkait. (a). Iklim dan Hidrologi Informasi mengenai iklim diperlukan dalam, mendukung perencanaan dan dan pelaksanaan pertanian, meliputi penilaian kesesuaian lahan,

penentuan tempat dan waktu tanam, pola tanam dan analisis resiko pertanian yang mungkin dapat terjadi Data iklim diambil dari semua stasiun iklim atau stasiun penakar curah hujan yang ada di daerah survei maupun dari publikasi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika. Stasiun pewakil ditetapkan berdasarkan pada pertimbangan kesamaan ekosistem meliputi: tanah, ketinggian, geografis/fisiografis dan penggunaan lahan. Data iklim yang dikumpulkan meliputi: curah hujan (mm), suhu maksimal, suhu minimal, dan suhu rata-rata (oC), intensitas radiasi (Joule/m2/hari), lama penyinaran (jam/hari), kecepatan angin (km/jam), kelembaban (%), dan suhu tanah (oC). Data iklim yang dibytuhkan maupun hasil analisis data iklim yang akan disajikan dalam laporan survei tanah tergantung pada tingkat survei dan pemetaan tanahnya. Periode pengamatan dalam iklim sebaiknya 15 tahun. Keluaran berupa isohyet curah hujan tahunan, isoihyet curah hujan bulanan, neraca air, zone agroklimat (Oldeman, 1975), tipe hujan (Schmidt & Ferguson,1941), pola curah hujan (Troser, 1976), suhu maksimal, suhu minimal, peluang hujan, length to growing period (LGP), frekuensi penyimpanan iklim, ramalan bulan kering dan banjir. (b) Keadaan geologi dan bahan induk Informasi geologi dan pengetahuan tentang litologi setempat menentukan penetapan nama bahan induk. Bahan induk merupakan massa lunak bersusunan anorganik atau organik yang menjadi awal pembentukan tanah. Bahan induk bersusunan anorganik berasal dari pelapukan batuan induk, sedangkan bahan induk bersusunan organik berasal dari bahan induk organik. Bahan induk tanah dibedakan dalam 2 grup yaitu bahan lepas/lunak dan bahan kukuh. Bahan induk berupa bahan lepas/lunak adalah sebagian besar bahan sedimen atau bahan lapukan yang terdapat di atas batuan keras. Sedangkan bahan kukuh berupa batuan yang keras seperti batuan vulkanik, lava, atau batuan-batuan intrusi serta sebagian batuan sedimen dan metamorfik.

(c) Keadaan topografi (relief dan lereng) Keadaan topografi daerah tercermin dari peta topografi atau peta rupa bumi. Keadaan lereng suatu daerah sangat mempengaruh penggunaan lahan di daerah tersebut. (d) Keadaan vegetasi dan penggunaan lahan Vegetasi dan penggunaan lahan secara umum sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah dan ketersediaan air. Tipe penggunaan lahan yang dapat dikembangkan di daerah survei sangat ditentukan oleh keadaan sifat tanah dan fisik lingkungannya. Kriteria utama yang digunakan dalam menentukan klasifikasi vegetasi dan penggunaan lahan diutamakan pada jenis dan vegetasi permanen yang terdapat di daerah yang bersangkutan. Informasi ini perlu untuk mendapatkan gambaran tentang keadaan penggunaan lahan yang ada pada saat survei dilakukan (present land use). (e) Keadaan tanah Informasi awal tentang keadaan tanah dari suatu daerah sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai pembanding atau rujukan tentang tanah-tanah yang akan dijumpai di daerah. Biasanya informasi ini diperoleh dari peta tanah yang lebih kecil dari yang telah dipublikasikan sebelumnya. (f) Keadaan sosial ekonomi penduduk Data-data tentang keadaan ekonomi penduduk di daerah disurvei sangat diperlukan, terutama dalam penggunaan lahan yang akan diusulkan di daerah tersebut. data tersebut meliputi keadaan penduduk (kepadatan, perkembangan), kepemilikan tanah dan sebagainya.

5.1.7 Melakukan Pengadaan Foto Udara dan Citra Satelit


Tergantung pada skala dan tujuan survei tanah, citra satelit diperlukan untuk memberikan informasi tambahan bagi foto udara. Umumnya foto udara selalu diperlukan dalam setiap survei tanah karena dapat memberikan beberapa keuntungan (lihat Bab 4).

Idealnya skala foto udara yang digunakan untuk survei tanah adalah 2 kali lebih besar dari skala peta publikasi (peta yang akan dihasilkan).

5.1.8 Menyiapkan Peta Dasar


Seperti diuraikan sebelumnya, sebagai peta dasar dapat digunakan peta topografi (peta rupa bumi) atau mosaik-foto (jika tidak tersedia peta topografi/rupa bumi). Peta dasar dari peta rupa bumi harus disederhanakan dengan menghilangkan detail-detail yang tidak perlu, seperti garis kontur yang terlalu rapat, dan lain-lain. Informasi maupun obyek yang terdapat pada peta dasar harus diperbaharui, sesuai dengan informasi baru yang diperoleh. Akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk menggunakan peta foto (orthophoto map) sebagat peta dasar untuk menyajikan peta tanah, terutama untuk skala besar.

5.1.9 Melakukan lnterpretasi Foto Udara dan Citra Satelit


Interpretasi foto udara dan citra satelit dilakukan untuk menghasilkan peta interpretasi foto-udara, baik berupa peta wujud lahan (landform), peta liputan lahan dan lain-lain. Hasil interpretasi ini kemudian dipakai sebagai dasar dalam pembuatan peta rencana rintisan atau rencana pengamatan, sehingga digunakan sebagai peta lapangan. Metode analisis wujud-lahan dapat mengacu pada Dessaunettes (1977) untuk skala tinjau atau Marsoedi et al,(1994) untuk skala lebih besar. Hasil inperpretasi wujud lahan di plot ke peta dasar, sehingga akan dihasilkan Peta Wujud-lahan (Peta Landform). Selain itu dari hasil interpretasi foto udara dapat dibuat Peta Vegetasi dan Penggunaan Lahan.

5.1.10 Menyiapkan Peta Lapangan


Peta lapangan merupakan peta rencana rintisan (rencana pengamatan). Peta ini dibuat pada peta Wujud-lahan. Perlu diperhatikan letak sebaran dan proporsi 'daerah kunci' atau key area (jika diperlukan).

Dalam membuat rencana rintisan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: rintisan utama hendaklah tegak-lurus terhadap pola wujud-lahan (tidak boleh sejajar dengan pola wujud-lahan). hendaklah semaksimal mungkin memanfaatkan aksesibilitas yang ada. kedudukan rintisan awal hendaklah diketahui secara pasti, baik pada peta maupun di lapangan. jumlah pengamatan, tergantung pada skala peta final (peta yang akan dihasilkan).

5.1.1 1 Menyusun Jadwal Pelaksanaan


Penyusunan jadwal pelaksanaan (kegiatan) survei harus diperhitungkan dengan matang, karena akan membawa konsekuensi apabila terjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan, terutama saat survei lapangan. Sekalipun jadwal secara garis besar sudah tercantum dalam TOR, namun sebaiknya ketua tim perlu menyusun jadwal yang lebih rinci dan harus diketahui oleh semua anggota yang terlibat dalam kegiatan survei tersebut.

5.1.11 Menyiapkan Alat dan Bahan Survei


Segala peralatan untuk pelaksanaan survei tanah disiapkan selengkap mungkin, disesuaikan dengan jumlah regu yang ada. Daftar alat dan bahan yang umumnya diperlukan dalam kegiatan survei tanah disajikan dalam Tabel b.2. Pada Gambar 5.1. disajikan foto beberapa peralatan yang diperlukan dalam survei tanah.

5.2 Tahap Survei Lapangan


5.2.1 Pra-survei
Pra-survei dilakukan oreh koordinator atau ketua tim survei dan anggota inti lainnya, yang akan bertanggung-jawab dalam pelaksanaan dan hasil survei-tanah. Kegiatan ini dilakukan sebelum survei utama dilaksanakan. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan survei utama dapat berjalan lancar dan efisien. Beberapa hal yang dilakukan di dalam pra-survei antara lain: Mengurus ijin di daerah survei, mulai dari tingkat desa, kecamatan,kabupaten hingga ke tingkat propinsi. Melakukan 'overview' ke seluruh daerah survei dengan melakukan pengecekan terhadap hasil interpretasi-foto udara atau batasbatas yang ada pada peta dasar dan peta rencana rintisan guna mendapat gambaran menyeluruh dari daerah survei, sehingga dapat dilakukan beberapa perbaikan pada peta wujud-lahan peta rencana rintisan. Menyiapkan 'base-camp' dan tenaga kerja untuk pelaksanaan survei utama serta akomodasi lainnya.

Memantapkan perencanaan survei utama; kapan survei dimulai, berapa kali pindah base-camp, biaya yang diperlukan dan lain-lain.

5.2.2 Survei Utama


Survei utama dilakukan oleh tim lengkap, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan oleh ketua tim survei berdasarkan hasil pra-survei. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam survei-utama ini adalah: 1. Mengadakan Pengamatan Lapangan Terdapat tiga pengamatan lapangan, yaitu pengamatan identifikasi, pengamatan detail (pada minipit) dan deskripsi profil penuh. Ketiganya secara skematis dilukiskan pada Gambar 5.2. Keterangan masing-masing pengamatan akan diuraikan dibawah ini. Pengamatan identifikasi, dilakukan dengan jalan pemboran atau pengamatan lainnya, misalnya pengamatan pada tebing jalan atau tebing parit yang bertujuan mengenal (mengidentifikasikan) satuan taksonomi. Setiap pengamatan bertujuan untuk mengetahui masuk ke dalam kelompok pedon yang manakah daerah tempat titik pengamatan tersebut. Karakteristik tanah yang penting diamati meliputi tebal horizon, warna, tekstur, keadaan batuan, kedalaman efektif tanah, keadaan drainase tanah dan lain-lain. Morfologi lahan yang diamati ialah lereng, relief, elevasi dan wujud-lahan, singkapan batuan dan lain-lain. Disamping itu, macam vegetasi dan penggunaan lahan di sekitar pengamatan juga dicatat. Contoh kartu pemboran, disajikan pada Gambar 5.3. Pengamatan detail, dilakukan pada minipit yaitu lubang pengamatan tanah yang dibuat menggunakan skop denganukuran kurang lebih 40 cm x 40 cm dan kedalaman 50 dacm. Pengamatan ini hampir sama dengan pengamatan pada profil tanah (yang akan diuraikan dibawah), tetapi dalam versi yang lebih ringkas. Contoh kartu minipit disajikan pada gambar 5.4.

Pengamatan bermanfaat untuk membuat kisaran karakteristik satuan taksonomi tanah untuk menentukan pedon tipikal maupun pedon satelit. Kedua pedon tersebut dideskripsi pada profil tanah

Deskripsi Profil Tanah, dilakukan menurut pedoman yang berlaku. Umumnya digunakan pedoman yang diterbitkan oleh Soil Survey Division Staff (1993), FAO (1990), Puslittanak (2004). Untuk pengamatan tanah di lapangan dengan komputer, dianjurkan menggunakan formulir atau kartu deskripsi profil tanah, berikut panduannya dalam buku Coding Instructions for site and Horizon Description yang disusun oleh Hoff et al. (1994). Contoh kartu deskripsi profil tanah disajikan pada Gambar 5.5. Deskripsi profil berfungsi mengilustrasikan konsep-sentral' satuan-taksonomi yang terdapat di daerah survei. Hal ini sangat penting untuk kolerasi tanah. profil atau penampang tanah dibuat dengan ukuran panjang kurang-lebih 1,5 - 2 meter, lebar 1 meter dan kedalaman sampai dengan 2 meter atau hingga kedalaman batuan induk tanah (jika tanah tersebut lebih dangkal).

Cara Pengamatan Dalam Suatu Survei Berikut ini disajikan cara-cara pengamatan yang umum dilakukan dalam setiap survei tanah. Intensitas pengamatan pada berbagai skala survei tanah dijelaskan dalam subbab 5.3. a) Pada taraf permulaan survei pengamatan detail (minipit) dilakukan lebih dahulu, dengan tujuan membangun' kisaran karakteristik bagi satuan taksonomi. Setiap pengamatan tanah pada minipit langsung diklasifikasikan menurut sistem klasifikasi tanah yang digunakan (dalam hal ini sistem Taksonomi Tanah) hingga kategori tertentu (subgrup, famili atau seri) tergantung skala dan tujuan survei seperti tertuang dalam Kerangka Acuan. b) Dilakukan seleksi untuk menentukan modal-profile dengan jalan membuat kisaran sifat masing-masing satuan tanah yang sama yang dihasilkan dari pengamatan minipit dan pemboran. setelah itu dilakukan deskiripsi profil tanah yang disertai dengan pengambilan contoh tanah setiap horizon pada pedon tipikal diikuti dengan klasifikasi tanah. Deskripsi profil tanah dan pengambilan contoh tanah dengan cara yang sama juga dilakukan pada pedon satelit. Cara menentukan modal-profile' dijelaskan dalam Bab 6.

Melalui kegiatan ini legenda peta tanah sementara dapat di susun. Dengan demikian setiap satuan peta tanah telah dapat di tentukan satuan taksonomi atau komponen tanahnya, apakah berupa asosiasi, kompleks atau konsosiasi.

c) Pada tahap akhir survei tanah dilakukan tambahan pengamatan berupa pemboran dan minipit secara bergantian untuk melakukan pengecekan apakah komponen tanah pada setiap satuan peta tanah, telah sesuai dengan yang tercantum dalam legenda peta tanah sementara. Idealnya juga dibuat beberapa profil tanah, sebagai tambahan, terutama jika ditemukan tanah-tanah yang berbeda dari yang ditemukan. Biasanya kegiatan (a) dan (b) dilakukan lebih dulu pada daerah kunci (key area), tergantung pada beberapa hal yang akan diuraikan di bawah ini. 2. Pengamatan pada Daerah Kunci (Key-area) Daerah kunci atau daerah pewakil merupakan daerah terpilih dalam suatu daerah survei yang di dalamnya secara berdekatan, terdapat sebanyak mungkin satuan peta yang ada di seluruh daerah survei tersebut. Daerah kunci berfungsi untuk: Mempelajari tanah secara lebih detail dari peta final. Membuat definisi satuan peta dengan jalan menyusun legenda peta sementara. Membuat korelasi antara satuan peta tanah dengan citra foto. Mengumpulkan data sumber daya lahan seperti data pola tanam, penggunaan lahan, produksi tanaman, dosis pupuk dan lain-lain secara lebih lengkap. Beberapa persyaratan untuk daerah kunci adalah: Harus dapat mewakili sebanyak mungkin satuan peta yang ada di daerah survei. Harus dibuat pada daerah di mana hubungan antara tanah dengan kenampakan bentang-alam atau landform dapat dipelajari dengan mudah. Daerah kunci tidak boleh terlalu kecil. (Untuk survei tanah skala semi detail, sekitar 10 - 30 % dan skala tinjau kurang-lebih 5 20 % dari luas total.) Harus mudah diakses atau tidak sulit dikunjungi.

Transek juga merupakan daerah kunci sederhana dalam bentuk jalur atau rintisan yang mencakup sebanyak mungkin satuan peta atau satuan wujud-lahan. Transek tidak boleh sejajar dengan batas wujud-lahan. Dalam setiap survei tanah, umumnya selalu diperlukan bantuan daerah kunci, kecuali: daerah survei relatif sempit. jika bentang-alamnya telah diketahui dengan baik. jika seluruh daerah harus didatangi secara intensif (misalnya untuk survei irigasi). pada survei skala kecil, dimana delineasi wujud-lahannya sangat mudah. Gambar 5.7 menyajikan contoh sebaran macam-macam pengamatan tanah pada survei semi-detail dengan daerah pewakil.

3. Pengambilan Contoh Tanah Setelah dilakukan deskripsi profil, diteruskan dengan pengambilan contoh tanah masing-masing horizon.

Contoh tanah diambil mulai dari horizon bawah ke horizon paling atas. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya 'pencemaran' contoh tanah dari horizon yang lain. Contoh tanah diambil sekitar 1-1,5 kg dan sebaiknya mencakup seluruh horizon yang bersangkutan. Contoh dimasukkan kedalam kantong plastik yang kuat dan diberi label yang mencakup hal-hal berikut: Nomor kode profil Tanggal pengambilan Simbol Horizon Kedalaman (cm) Pemeta :..... :..... :..... :..... :.....

Dalam rangka menekan keragaman musiman, terutama dalam lapisan tanah atas yang banyak mengandung bahan organik, kegiatan pengambilan contoh tanah harus dilakukan pada periode dengan aktivitas biologi yang rendah misalnya pada musim dingin atau musim kemarau. Pada setiap horizon juga perlu dilakukan pengambilan contoh tanah utuh dengan menggunakan 'ring-sample' disertai dengan pemberian label. Contoh ini diperlukan untuk mengukur bobot isi tanah, kurva pF dan lan-lain. Penilaian status kesuburan tanah pada survei tanah tinjau (skala 1:250.000) lebih didasarkan pada profil pewakil dengan sebaran terbatas, disesuaikan dengan variasi satuan fisiografi dan macam bahan induk tanah. Untuk survei tanah semi-detail dan detail (skala > 1: 50.000), penilaian kesuburan tidak hanya didasarkan pada profil pewakil tetapi juga terhadap contoh khusus berupa contoh komposit, pada ke dalaman 0 20 cm dan 20 - 60 cm. Sebaran pengambilan contoh ini disesuaikan dengan keadaan fisiografi, bahan induk dan satuan taksonomi tanahnya.

4. Pembuatan Peta Tanah Sementara Titik-titik pengamatan baik berupa minipit, pemboran maupun profil tanh langsung diplot pada foto udara atau peta pengamatan lapangan pada saat pengamatan, sesuai dengan kode pengamatannya. Hasil pengamatan dari masing-masing regu begitu sampai di base-camp langsung diplot pada peta rekapan.

Diskusi mengenai temuan pada setiap hari pengamatan dilakukan di base-camp oleh semua regu, dipimpin oleh ketua tim. Yang sangat penting didiskusikan adalah mengenai penamaan tanah sesuai dengan sistem klasifikasi tanah yang disunakan, serta sebaran dan proporsi tanah tersbut dalam satuan wujud-lahan. setiap minipit hams telah diputuskan klasifikasi tanahnya. Dari hasil diskusi semua regu, semua pengamatan minipit dan pemboran yang mempunyai satuan tanah yang sama dikumpulkan dalam suatu arsip untuk kemudian dibuat kisaran sifat masing-masing satuan, guna menentukan pedon tipikal. Langkah selanjutnya adalah menyusun legenda peta tanah sementara, sesuai dengan ketentuan yang telih dirumuskan dalam

kerangka acuan. Dengan demikian setelah seluruh pengamatan dilakukan dan sebelum tim kembali dari lapangan, tim survei telah menghasilkan peta tanah sementara berikut legendanya. Beberapa perubahan batas satuan peta tanah, kelas lereng atau relief yang diiumpai di lapangan langsung diperbaiki pada saat pengamatan, untuk kemudian segera dilakukan revisi pada peta rekapan.

5.3

Pelaksanaan survei pada Berbagai skala survei Tanah

Dibawah ini diuraikan peiaksanaan survei tanah beserta metodenya yang diusulkan oleh puslittanak (1995) untuk dibakukan secara nasional pada skala survei tinjau, semi detail dan detail. Untuk survei tanah skala eksplorasi dan bagan, karena pada dasarnya berupa kompilasi dan interpretasi dari faktor pembentuk tanah yang ada dan dari ketiga skala survei lebih detail, tidak dibahas dalam uraian ini.

5.3.1 Survei Tanah Tingkat Tinjau (Reconnaissance Soil Survey)


Survei tanah tingkat. tinjau dengan skala 1:250.000 umumnya merupakan suatu kegiatan untuk keperluan perencanaan tingkat Regional atau Propinsi. Pelaksanaan lapangannya harus menggunakan peta dasar berskala lebih besar (1:50.000 atau 1:100.000). Satuan tanah yang digunakan adalah Grup (Great group) atau Subgrup dari sistem Taksonomi Tanah (Soil survey staff, 1999;2003). Dalam setiap satuan peta, dapat dijumpai satu atau lebih satuan tanah dalam proporsi : asosiasi atau kompleks. Batas satuan peta disusun berdasarkan hasil analisis atau interpretasi data peninderaan jauh (remote sensing). Citra satelit (Landsat, SPOT, IKONOS, Radar dan lain-lain) berskala 1:250.000 atau 1:100.000 digunakan sebagai sumber analisis utama disertai dengan analisis atau interprestasi foto udara berskala lebih besar (1:100.000 - 1:50.000) pada beberapa bagian wilayahnya sebagai daerah kunci (key area).

Satuan peta yang disusun umumnya mengikuti satuan fisiografi atau landform (Balsem dan Buurman, 1990) yang disesuaikan dengan skala petanya ( 1 : 250. 000). Pembuatan peta tanah tingkat tinjau dapat dilakukan dengan cara: a. Penyederhanaan dari peta tanah berskala lebih besar (tinjau mendalam atau semi-detail) yang sudah ada. b. Apabila belum tersedia peta tanah skala lebih besar, maka metode dan prosedur survei dan pemetaan tanahnya adalah sebagai berikut: (i) Interpretasi citra penginderaan jauh berupa Citra satelit (Landsat, SPOT, IKONOS, Radar dan lain-lain) dengan skala 1:250.000 untuk mendelineasi landform di daerah survei (physiographic approach). Jika pada beberapa bagian dari wilayah tersebut tersedia foto udara skala yang lebih besar (1:50.000-1:100.000), maka dapat digunakan interpretasi landform dengan pendekatan yang sama. Hasil analisis landform dituangkan pada peta dasar skala 1:250.000 atau lebih besar (1:100.000) dengan menggunakan Pantograf. (ii) Pemilihan daerah kunci yang diharapkan mewakili sebagian besar satuan fisiografi (landform) yang dijumpai di daerah survei. Luas daerah kunci, minimal 2O% dari total luas daerah survei). (iii) Survei laPangan terdiri atas: Survei atau pengamatan intensif pada daerah kunci dengan menggunakan "Sistem Transek" mengikuti "toposekuen" untuk mendapatkan komposisi" satuan tanah pada setiap satuan landform. Untuk wilayah datar, pengamatan dilakukan tegak lurus terhadap arah aliran sungai. Survei atau pengamatan di luar daerah kunci dilakukan lebih jarang untuk menambah data pengamatan dan "mengamati" secara cepat. (iv) Selama survei atau pengamatan lapangan, pengamatan batas-batas interpretasi foto udara secara terus-menerus

(v) (vi)

dilakukan berdasarkan fakta lapangan dan interpretasi ulang data penginderaan jauh. Luasan minimal daerah yang dapat digambarkan pada Peta Tanah Tinjau adalah 0,4 cm2 atau 250 ha dilapangan. Peta dasar untuk penyajian Peta Tanah Tinjau adalah Peta Topografi atau Peta Rupabumi skala 1:250.000 dengan proyeksi UTM.

Komponen penyusun satuan peta tanah terdiri atas (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g) Satuan tanah tingkat subgrup atau great group. Komposisi dari satuan tanahnya. Landform (grup atau subgrup). Torehan(dissection). Lereng atau bentuk wilayah. Ketinggian tempat. Bahan induk. (h) Luas (dalam hektar dan %).

5.3.2 Survei Tanah Tingkat Semi Detail (Semi Detailed Soil Map)
Peta Tanah Semi Detail dengan skala 1:50.000 sampai 1:25.000, digunakan untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan pada tingkat kabupaten atau proyekproyek pengembangan. peta dan naskah yang disajikan cukup detail dan rinci sehingga penyusunannya melalui kegiatan survei/pemetaan tanah yang juga harus, terinci dengan baik. Uraian lebih rinci dapat dilihat dalam CSAR, (1994). Satuan tanah yang digunakan adalah tingkat famili dan atau seri. Setiap seri tanah hanrs diwakili paling tidak oleh 2 pedon pewakil. Untuk menJrusun selang sifatnya (range of characteristics) digunakan semua data minipit dan pemboran. Delineasi satuan peta tanah diperoleh dari pengamatan lapangan dengan bantuan interpretasi foto udara skala besar (>1:25.000). Foto udara tersebut diinterpretasi berdasarkan physio-graphic approach

menggunakan stereoskop cermin. Satuan landform yang digunakan adalah sedetail mungkin sampai dengan tingkat land facet atau land elemen sesuai dengan skala peta publikasi (1:50.000-1:25.000), seperti dijelaskan dalam Marsoedi et al. (1994). Pengamatan lapangan dilakukan di seluruh daerah survei dengan menggunakan pendekatan "toposekuen" dan atau "grid bebas" (flexible grid). Jarak pengamatan berkisar antara 50 250 m, disesuaikan dengan kondisi lapangan. Macam satuan peta yang digunakan dapat berupa konsosiasi, asosiasi atau kompleks tanah-tanah pada kategori famili dan atau seri tanah. Jumlah pengamatan yang disarankan adalah 1 pengamatan per 25 100 ha. Ukuran luas lahan minimal yang dapat didelineasi pada peta tanah adalah 10 ha di lapangan.

5.3.3 SurveiTanah Tingkat Detail


Survei tanah ini untuk keperluan operasional lapangan, misalnya pembagian suatu perkebunan ke dalam blok-blok, keperluan budidaya pertanian (pembuatan teras, pemupukan, rotasi, dll) dan perencanaan detail dari suatu wilayah desa hingga tingkat kecamatan. Skala yang dihasilkan antara 1:10.000 - 1:25.000. Satuan tanah yang digunakan adalah fase dari seri tanah. Pewakil tanah dibuat untuk masing-masing seri tanah sebanyak 2 pedon pewakil dan untuk mendapatkan selang sifat, dibuat dari hasil pengamatan minipit serta pemboran. Pengamatan lapangan dilaksanakan dengan menggunakan foto udara skala 1:5.000 atau 10.000. Batas satuan peta tanah langsung didelineasi pada foto udara. Delineasi didasarkan atas "physiographic approach" dengan satuan fisiografi berupa "faset (lereng atas, leieng tengah, lereng bawah, dan seterusnya) yang ditunjang oleh hasil pengamatan tanah di lapangan.

Pengamatan lapangan dilakukan pada transek dari setiap faset yang ada. Pelaksanaan untuk semua faset diseluruh wilayah survei, dilakukan dengan metode grid berjarak 50 x 100 m untuk wilayah-wilayah datar dan "flexible grid" melalui transek toposekuen pada faset-faset yang berlereng. Satuan peta tanah adalah fase dari seri tanah. Contoh : "Seri Lopok lempung liat berdebu, lereng C (8-15%), erosi 2 (sedikit erosi), lereng bawah, tuf andesit". Peta dasar yang digunakan adalah peta rupa bumi, peta planimetri (hasil pengukuran) atau peta photo (photomap) yang kemudian dibuat peta orthophoto.

5.4 Analisis Laboratorium contoh Tanah, Pembuatan Peta, dan Pelaporan


Contoh tanah yang telah diambil sebelum dianalisis di laboratorium perlu dilerlakukan secara khusus seperti diuraikan dalam berbagai panduan. (sudjadi et a1., 1971; Staf Jurusan Tanah FP Unibraw (1989), USDA-NCRS (1996);. Analisis kesuburan tanah meliputi tekstur, pH, bahan organik, nitrogen, fosfat, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), Aldan H-ditukar dan besi bebas. Beberapa analisis khusus seperti kandungan unsur mikro dan lain-lain kadang-kadang diperlukan, tergantung tujuan survei. Analisis fisika tanah terdiri atas tekstur, bobot isi, nilai pF, permeabilitas, indeks plastisitas serta nilai COLE. Analisis susunan mineralogi tanah meliputi mineral fraksi pasir (menggunakan mikroskop polarisasi) dan analisis mineral liat/ debu (menggunakan alat difraktometer sinar-X). Analisis ini diperlukan untuk menunjang penetapan bahan induk tanah, klasifikasi tanah, kesuburan tanah serta untuk evaluasi lahan.

Macam-macam analisis yang diperlukan. untuk tujuan klasifikasi tanah (Taksonomi Tanah) menurut Eswaian (1981) disajikan dalam Tabel 5.3. dan 5.4. Uraian mengenai pembuatan peta tanah dan laporan disajikan dalam Bab 6 dan Bab 7.
Tabel 5.3 Jenis analisis tanah untuh keperluan klasifikasi berdasarkan taksonomi tanah

Tabel 5.4 Macam analisis tanah untuk tujuan khusus

***

VI
PENANGANAN DATA SURVEI TANAH

6.1 Penanganan Data Hasil Survei Lapangan

Data-data hasil pengamatan di lapangan harus ditangani secara sistematis agar lebih mudah dalam melakukan kompilasi data. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa setelah selesai melakukan deskripsi minipit di lapangan, akan langsung dilakukan klasifikasi tanah pada kategori yang telah ditentukan (seri/famili/subgroup) dan nama taksa tanah tersebut harus tercatat pada setiap kartu minipit. Karena setiap survei tanah selalu terdiri dari beberapa regu, maka keragaman di antara regu-regu tersebut akan selalu ada, terutama dalam penamaan tanah. Oleh karena itu sebelum dilakukan proses lebih lanjut, perlu dilakukan penyeragaman dan pemilahan tanah-tanah yang memiliki taksa yang sama. Kegiatan selama operasi lapangan (sebelum kembali dari lapangan) adalah sebagai berikut: 1. Melakukan plotting titik-titik pengamatan dari semua regu, pada peta kerja (peta lapangan) atau peta rekapan hasil pengamatan. 2. Melakukan korelasi terhadap narna taksa tanah dari semua regu yang terlibat dalam survei tanah tersebut, dengan mengacu pada buku Keys to Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 2003 atau versi lebih baru) pada tingkat/kategori yang telah ditentukan sebelumnya dalam TOR. 3. Mengelompokkan semua kartu minipit yang memiliki nama taksa tanah yang sama.

4. Membuat kisaran sifat tanah dalam seri/famili/subgroup yang sama, berdasarkan hasil pengamatan yang terdapat pada kartu minipit. 5. Menentukan lokasi pedon 'tipikal' dan'satelit' pada salah satu lokasi minipit, yaitu yang memiliki sifat yang berada ditengah-tengah kisaran sifat yang ada. 6. Melakukan penggalian dan deskripsi profil tanah pada pedon tipikal (dan satelit), diikuti dengan melakukan klasifikasi tanah, serta pengambilan contoh tanah pada setiap horizon. 7. Membuat peta tanah lapangan (peta tanah tentatif) beserta legenda peta, yang menunjukkan komponen (taksa) tanah pada setiap satuan peta yang dijumpai di daerah survei tersebut. Informasi yang harus disajikan pada legenda peta tanah sangat tergantung dari skala peta, seperti telah dijelaskan pada sub-bab 2.3. 8. Menyeleksi pedon yang contoh tanahnya akan dianalsis dilaboratorium. Dibawah ini akan diuraikan secara singkat beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, terutama yang menyangkut klasifikasi tanah dan pem-buatan peta tanah. Untuk evaluasi lahan dan pembuatan laporan disajikan dalam bab tersendiri.

6.1.1 Melakukan Plotting Lokasi Pengamatan pada Peta Kerja


Hasil pengamatan semua regu dalam tim survei tersebut diplot (dipindahkan) pada peta kerja (Peta Rekapan Hasil Pengamatan Lapangan), yang berupa peta landform yang ketak akan menjadi peta publikasi. Peta ini di dalam Laporan Survei Tanah akan menjadi Peta Lokasi Pengamatan, yang harus disajikan dalam lampiran. Gambar 6.1. menyajikan contoh plotting semua pengamatan dari semua regu, yang ditandai dengan kode singkatan ketua regu. Dalam plotting tersebut dibedakan antara pengamatan minipit, pemboran dan profil tanah. Masing-masing pengamatan memiliki koordinat yang tercatat dalam kartu minipit atau kartu profil tanah. Dengan bantuan GPS, posisi

pengamatan dapat dilakukan dengan amat teliti, sekaligus dapat ditentukan ketinggian titik pengamatan dari permukaan laut.

6.1.2 Melakukan Penamaan Tanah Berdasarkan Taksonomi Tanah USDA


Penamaan tanah dilakukan dengan mengacu pada buku Keys to Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 2003 atau versi lebih baru) pada tingkat atau kategori yang telah ditentukan sebelumnya dalam Kerangka Acuan atau TOR (misalnya kategori seri, famili atau subgroup). Dalam Gambar 6.2 disajikan ilustrasi tahapan krasifikasi tanah di lapangan menggunakan Taksonomi Tanah.

Hasil deskripsi minipit, profil tanah, singkapan jalan atau tebing sungai dicatat secara lengkap dalam kartu minipit atau kartu profil tanah dan diteruskan dengan menentukan horizon penciri (epipedon, horizon bawah atau endopedon, maupun penciri lain), menggunakan kriteria dalam buku

Keys to Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 2003 atau versi lebih baru). Setelah itu diteruskan dengan identifikasi kelas taksonomi tanah dimulai dari kategori ordo hingga seri (tergantung skala survei tanah). Sebaiknya dalam setiap pengamatan minipit dan profil tanah dibuatkan sketsa yang menunjukan jenis dan kedalaman masing-masing horizon, seperti yang disajikan dalam Gambar 6.8. Krasifikasi tanah ini harus dilakukan di lapangan sebelum meninggalkan lokasi pengamatan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar jika ada pengamatan atau data yang kurang lengkap, segera bisa dilengkapi. Apabila mengalami kesulitan dalam menentukan epipedon, endopedon ataupun penciri lainnya karena harus menunggu hasil analisis laboratorium, maka untuk memprediksi sifat tersebut dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa sifat kimia tanah yang mudah diukur dilapangan. Misalnya nilai kejenuhan basa (yang menjadi salah satu kriteria epipedon molik) dapat di prediksi dari nilai PH tanah. Beberapa sifat tanah yang lain dapat di prediksi dilapangan dengan menggunakan prosedur yang dikemukakan dalam Notohadiprawiro (1985).

6.1.3

Mengelompokkan Pemboran

Hasil

Pengamatan

Minipit

dan

Setelah melakukan klasifikasi tanah, maka semua data minipit yang memiliki nama yang sama harus dikelompokkan tersendiri dalam suatu file yang terpisah dengan taksa tanah yang lain. Sebelum itu, terlebih dahulu perlu dilakukan korelasi penamaan taksa tanah yang dilakukan oleh korelator berpengalaman untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang ada sebagai akibat dari banyaknya regu yang terlibat dalam kegiatan survei tanah. Setelah itu dibuat daftar nomor-nomor (kode) pengamatan yang memiliki taksa sama dan kemudian digunakan sebagai dasar dalam membuat kisaran sifat tanah.

6.1.4

Membuat Kisaran Sifat Tanah dalam Kategori Seri atau Famili

Pembuatan kisaran sifat tanah dalam kategori seri atau famili atau subgrup dilakukan dengan cara sebagai berikut: Buat sketsa profil tanah dari hasil pengamatan minipit, yang menunjukkan simbol horizon dan kedalaman masing-masing (Gambar 6.3).

o o

Tentukan jenis dan kedalaman epipedon, endopedon (horizon bawah). Tentukan jenis dan kedalaman sifat penciri lain jika ada (misalnya, sifat tanah andik, bahan sulfidik, nilai COLE dan lain-lain).

Tentukan rezitn lengas tanah dan rezim suhu tanah (data iklim + pengamatan lapangan). o Untuk kategori seri, kumpulkan pedon yang sama pada kategori famili. Amati perbedaan yang ada pada sketsa pedon yang dibuat (tebal horizon, ada tidaknya serta berapa % kandungan kerikiVbatu, karatan, konkresi dan lain-lain). Tentukan pembeda seri pada penggal penentu (control section) seperti dikemukakan dalam Keys to SoiI Taxonomy (KST) o

6.1.5

Menentukan Lokasi Pedon 'Tipikal' dan Pedon 'Satelit'

Pedon yang dipilih sebagai pedon tipikal harus memenuhi kriteria seri atau famili tanah yang dimaksud. Pedon tipikal dan atau pedon satelit dipilih berdasarkan kisaran sifat masing-masing seri tanah (range in characteristic = RIC), yaitu yang mempunyai kisaran sifat kira-kira berada di tengah-tengah dan dalam satuan peta (delineasi) yang luas. Penentuan lokasi pedon tipikal dipilih lokasi minipit yang sedapat mungkin memiliki sifat di tengah-tengah kisaran sifat yang ada. Setelah memutuskan lokasi, dilakukan penggalian, deskripsi dan klasifikasi serba pengambilan contoh tanah.

6.1.6

Membuat Peta Tanah Lapangan (Peta Tanah Tentatif)

Sebelum kembali dari lapangan harus sudah dihasilkan peta tanah tentatif (sementara) beserta legendanya. Nama satuan taksonomi tanah dari masing-masing satuan peta tanah (SPT) didasarkan pada klasifikasi tanah di lapangan (sebelum melakukan analisis contoh tanah di laboratorium). Penentuan komposisi tanah dalam masing-masing satuan peta tanah (SPT), dilakukan dengan cara translk atau dengan grid untuk daerah yang datar. Adanya tanah yang berbeda mula-mula diprediksi dari perbedaan-perbedaan bahan induk, landform, relief lereng dan lain-lain. prosentase luas masing-masing seri tanah dalam setiap SPT didasarkan pada komposisi seri tanah yang terdapat dalam SPT yang bersangkutan. Dibawah ini disajikan cara penentuan seri tanah di lapangan.

Seri tanah ditentukan berdasarkan perbedaan sifat-sifat utama sebagai berikut: a. Seri tanah dafam famili yang sama ditentukan dengan jalan menentukan lebih dahulu pembeda utama (1 atau 2 sifat pembeda), kemudian ditentukan kisaran sifat berdasarkan pengamatan-pengamatan yang dilakukan (ditentukan dulu sifat pembeda utama, baru kisaran sifat lainnya). b. Jika satu famili hanya terdiri atas satu seri, maka langsung dapat dibuat kisaran sifat, tetapi tidak boleh terlalu lebar untuk memungkinkan seri baru dalam famili dan tidak boleh melampaui sifat famili. pembedaan seri tanah dalam satu famili didasarkan atas pertimbangan pengelolaannya. c. Kisaran sifat masing-masing seri tanah disusun dari hasil pengamatan yang dilakukan. Pemilihan lokasi pengamatan tanah (minipit dan pemboran) dilakukan berdasarkan transek (toposekuen dan litosekuen) dengan perbedaan kenampakan lapangan. Posisi dalam landform, lereng, relief dan kenampakan lainnya yang mungkin menunjukkan perbedaan sifat tanah, dipakai sebagai patokan. Peta tanah tentatif ini akan menjadi dasar dalam pembuatan peta tanah final, setelah dilakukan analisis laboratorium.

6.1.7

Memilih Contoh Tanah yang Akan Dianalisis

Dari semua horizon dalam setiap profil pewakil (pedon tipikal) dan satelitnya, diambil 1 kg contoh tanah untuk dianalisis dilaboratorium. Macam analisis yang dilakukan terdiri atas: tekstur, C-organik, N-total, Ptersedia, KTK (NH4OAc pH 7), Basa-basa tukar (NH4OAc pH 7), Al 1N KCI (bila pH H2O <5.0), pH H2O dan pH KCl (1:1) dan lain-lain seperti dijelaskan dalam subbab 5.4. Analisis laboratorium dilakukan menurut metoda baku (ISRIC, 1992; USDA-NCRS, 1996; Puslittan Bogor, 1971), atau lainnya.

Evaluasi kesuburan tanah dilakukan terhadap seri-seri tanah yang dijumpai di daerah survei. Kriteria penilaian sifat dan penentuan kendala tanah mengacu pada sistem klasifikasi kemampuan kesuburan tanah (FCC) (Sanchez, et al., 1982 dan Sanchez and Buol, 1985; Sanchez, et al.,2003). Data-data yang digunakan dalam evaluasi kesuburan, selain berasal dari hasil analisis contoh tanah di laboratorium, sebagian diperoleh langsung melaliri deskripsi profil pewakil dan minipit dari masing-masing seri atau famili tanah serta dari data penunjang berupa hasil wawancara dengan beberapa petani setempat dalam rangka mendapatkan informasi tentang penerapan teknologi pengelolaan tanah dan budidaya tanaman pada lahan-lahan yang telah diusahakan untuk pertanian. Contoh tanah untuk evaluasi kesuburan tanah diambil dari profil pewakil dan minipit dari seri-seri tanah yang ada pada kediaman lapisan olah (0-20 cm) dan lapisan bawah (20-50 cm).

6.2

Klasifikasi Tanah

Seperti telah dikemukakan dalam bab terdahulu bahwa Taksonomi Tanah USDA merupakan satu-satunya sistem klasifikasi tanah yang digunakan di Indonesia dalam kegiatan survei dan pemetaan tanah sejak diputuskan dalam Kongres HITI pada bulan Desember 1989 yang lalu. Dengan demikian, klasifikasi tanah yang dibahas dalam buku ini adalah sistem Taksonomi Tanah. Padanan nama beberapa sistem klasifikasi tanah yang telah dikenal dilndonesia dan masih digunakan dalam peta-peta tanah yang beredar hingga saat ini disajikan dalam Tabel 6.1. Untuk dapat mengklasifikasikan tanah, data deskripsi minipit dan atau profil tanah disertai data iklim seperti rezim lengas tanah dan rezim suhu tanah. harus diperoleh terlebih dahulu. Kemudian dengan mengacu pada buku Keys to Soil Taxonomy yang diterbitkan oleh Soil Survey Staff (2003 atau versi lebih baru), dapat dilakukan klasifikasi tanah mulai dari kategori ordo hingga seri, tergantung dari tujuan survei atau macam peta tanah yang akan dibuat. Klasifikasi tanah final dilakukan setelah

memperoleh data hasil analisis laboratorium dari contoh-contoh tanah yang diambil dari pedon pewakil. Di bawah ini diuraikan beberapa prinsip dasar untukmengenal sistem Taksonomi Tanah USDA

6.2.1 Kategori dalam Taksonomi Tanah Sistem USDA


Dalam sistem Taksonomi Tanah USDA, terdapat 6 kategori yang tersusun secara berhirarki, yaitu ordo (order), sub-ordo (sub-order), Grup (greatgroup), Sub-grup (sub-group), Famili (family) dan seri. Dari kategori tertinggi (ordo) ke kategori terendah (seri), uraian mengenai sifat-sifat tanahsemakin detil, seperti contoh dibawah ini. Sifat-sifat penciri untuk berbagai katego disajikan dalam Tabel 6.1.
Ordo Sub-ordo lnceptisol (inceptum = permulaan, tanah baru berkembang). Ustept : Ust dan ept (ustic = daerah yang relatif kering; ept merupakan singkatan untuk lnceptisol). Haplustept (Hapl dari haplaous = sederhana, minimal horilon). Fluventic Haplustept (fluvium = dataran banjir). Coarse-loamy, mixed, active, isohyperthermic, Fluventic Haplustept (kelas besar butirnya adalah berlempung kasar, terdiri atas berbagai macam jenis mineral liat (mixed); nisbah kapasitas tukar kation : % liat adalah antara 0,4 - 0,6 ; isohyperthermic menunjukan rezim suhu tanah rata-rata tahunan >220C, dengan perbedaan suhu musim panas dan musim dingin < 60C. ) Moyo (Nama tempat, yaitu lempat pertama kali seri ini dijumpai.)

Grup Sub-group Famili

Seri

Penggolongan tanah dalam ordo, subordo dan grup ditekankan pada sifat-sifat tanah yang merupakan hasil proses pembentukan tanah yang dominan dan menentukan tingkat perkembangan tanah yang bersangkutan. Tabel 6.3. menyajikan sifat-sifat penciri tanah, untuk masingmasing kategori dalam Taksonomi Tanah (USDA).

6.2.2 Ordo Tanah

Ordo tanah dibedakan berdasarkan ada tidaknya serta jenis horizon penciri (diagnostic horizon) atau sifat-sifat tanah lain yang merupakan hasil dari proses pembentukan tanah. Berdasarkan morfologi horizonhorizon penciri dan sifat-sifai penciri lainnya, tanah di permukaan bumi ini dapat dikelompokkan kedalam 12 ordo (Tabel 6.3)

6.2.3

Subordo Tanah

Subordo tanah merupakan pembagian lebih lanjut dari ordo yang didasarkan pada keseragaman genetik yang lebih besar. Faktorpencirinya adalah sebagai berikut: a. Faktor-faktor penting yang berpengaruh terhadap genesis tanah dan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, seperti pengaruh lengas tanah sebagai akibat iklim yang berbeda, misalnya: Udalf, Xeroll dan lain-lain; besarnya pengaruh air seperti Aquept, Aquent dan lain-lain.

b. Sifat-sifat tanah yang sangat menonjol dalam ordo, seperti Psamments (Entisol yang sangat terpasir).

6.2.4

Grup Tanah (Great group)

Grup atau great group merupakan pembagian lebih lanjut dari sub-ordo dan dibedakan berdasarkan kriteria sebagai berikut; 1. Persamaan dalam susunan dan tingkat perkembangan horizon, atau sifat penciri tanah yang lain pada horizon yang tidak terlalu dalam dari permukaan, karena lebih mencerminkan proses pembentukan tanah, misalnya Plinthaquept, Fragiudalf . 2. Persamaan dalam rezim suhu atau rezim lengas tanah, misalnya Epiaquept, Udifluvent. 3. Persamaan dalam niai kejenuhan basa, misalnya Dystrudept, Eutrudox dan lain-lain.

6.2.5

Subgrup Tanah

Subgrup merupakan pembagian lebih lanjut dari Grup dan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: 1. Subgrup typic, merupakan konsep dasar dari great-group, sehingga mempunyai-sifat yang tidak menyimpang dari great-group-nya atau tidak menunjukkan adanya sifat-sifat tambahan yang nyata selain sifat-sifat dasar yang dimiliki great-group-nya. Misalnya Typic Eutrudepts, Typic Fragiudult. 2. Subgroup intergrade. selain mempunyai sifat-sifat dasar great-groupnya, subgroup ini memiliki sifat-sifat lain yang terdapat pada ordo, sub-ordo atau greatgrup lain, sehingga merupakan sifat peralihan dari jenis-jenis tanah tersebut seperti jenis-jenis horizon atau sifat-sifat tanah yang digunakan sebagai penciri pada kategori lain. Misalnya Andic Dystrudept (memiliki beberapa sifat Andisol, tetapi memperlihatkan sifat penciri Dystrudept), Mollic Hapludalf, Plinthic Haplustox Vertic Torrifluvent, Fluvaquentic Humaquept dan lain-lain.

3. Subgroup extragrade. Selain memiliki sifat-sifat dasar great-group nya, subgroup ini memiliki sifat-sifat lain yang tidak dimiliki oleh taksa tanah lain, misalnya Lithic Hapludalf, Humulic Humaquepts.

6.2.6

Famili Tanah

Klasifikasi pada tingkat Famili tanah didasarkan atas sifat-sifat fisik dan kimia tanah yang memengaruhi interpretasi untuk penggunaan dan pengelolaan tanah, kemampuan tanah dan pertumbuhan tanaman, maupun untuh bidang rekayasa. Sifat-sifat tersebut tidak harus merupakan suatu proses pembentukan tanah. Sifat-sifat pembeda nama famili menurut soil survey staff (2003) berturut-turut adalah sebagai berikut: kelas besar butir pada horizon di bawah horizon olah yang mempunyai aktivitas biologi utama kelas mineralogi, yaitu susunan mineral (liat) dari horizon-horizon tersebut kelas aktivitas tukar katio, kelas kalkareus dan reaksi tanah kelas suhu tanah Kelas kedalaman tanah yang dapat ditembus akar tanaman Kelas ketahanan kerapuhan Kelas penyelaputan (pada pasir) Kelas rekahan tetap (permanen) Pengunaan sifat-sifat pembeda famili tergantung pada nama subgrupnya (lihat soil survey staff, 2003), tapi sifat-sifat yang umumnya hampir selalu ada adalah kelas: besar butir, kelas mineralogi, dan rezim suhu tanah. Sifat-sifat pembeda di atas merupakan sifat pada penggal penentu (control section) yang merupakan bagian tanah-bawah yang miliki sifat yang stabil, umumnya pada kedalaman 25 - 100 cm. Penggal

penentu tidak pernah termasuk bagian dari horizon Ap atau lapisan penghambat perakaran. Contoh nama famili: Anthraquic Eutrudept, berlempung kasar, campuran, aktif, isohiperthermik. Aquic Udipsamment, campuran, isohiperthermik. Histic Humaquept, berdebu halus, kaolinitik, tidak masam, isohiperthermik. Oxiaquic Hapldalf, halus, illitik, isohiperthermik.

6.2.7

SeriTanah

Seri tanah merupakan sekumpulan tanah yang berasal dari bahan induk yang sama dan mempunyai sifat-sifat dan susunan horizon yang sama, terutama di bagian bawah horizon olah. suatu seri tanah dapat berbeda dalam hal lereng, tingkat erosi, sifat-sifat lapisan olah dan lain-lain, selama faktor tersebut tidak menyebabkan perbedaan dalam susunan horizon di bawahnya. Dalam Buku Keys to Soil Taxonomy (Soil Survey Staff, 1999; 2003) tidak ada kunci untuk penamaan seri tanah. Dengan demikian penamaan seri tentatif diserahkan kepada Tim survei masing-masing dengan memeperhatikan beberapa panduan umum yang dikemukakan dalam Soil Survey Staff(1999; 2003). Tanah lapisan olah tidak dipakai sebagai pembeda karena sifatnya mudah berubah. sifat untuk menentukan seri tanah dipilih dari beberapa sifat solum di bawah lapisan olah tersebut. Sifat pembeda seri adalah: (1) jenis, tebal dan susunan horizon, (2) sifat morfologi horizon (warna, tekstur, struktur, konsistensi dan lain-lain) (3) kandungan fragmen batuan (4) komposisi mineralogi horizon-horizon. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penamaan seri tanah adalah : Seri tanah tidak boleh melanggar batas kriteria dari famili tanah Nama-nama seri tanah diambil dari nama tempat pertama kali seri terseebut dijumpai. Misal seri Lopok, seri Pagak, dan lain-lain.

Contoh cara membedakan seri tanah dalam famili yang sama disajikan dalam Tabel 6.4.

6.2.8

Horizon Penciri

Horizon penciri dibedakan atas epipedon dan endopedon atau disebut juga horizon bawah (subsurface horizons). Berikut ini adalah uraian ringkas masing-masing epipedon dan horizon bawah. Uraian lebih detil mengacu pada Soil Survey Staff (2008).

1. Epipedon
Epipedon merupakan horizon permukaan (tidak sama dengan horizon A), dapat mencakup seluruh horizon A atau lebih tipis dari horizon A. Kadangkadang juga termasuk sebagian atau seluruh horizon B (jika horizon B

berwarna gelap yaitu value 3, tidak masif dan kandungan C-organik memenuhi kriteria epipedon mollik). Beberapa epipedon yang penting dan umum ditemukan di Indonesia adalah mollik, umbrik dan ochrik. Di tanah organik (gambut) juga dijumpai epepedon histik. Sedangkan di daerahvolkan, kemungkinan dijumpai melanik. Ringkasan sifat masing-masing epipedon dikemukakan di bawah ini. Uraian lebih detil harus mengacu pada Soil Survey Statr(2008, atau versi lebih baru). a. Epipedon mollik merupakan horizon permukaan yang memiliki sifat-sifat berikut: perkembangan struktur cukup kuat, sehingga tanah tetap lembut jika kering warna gelap (value dan chroma 3 jika lembab dan value 5 jika kering) kandungan bahan organik >1 % atau > 0,6 % C-organik tebalnya harus 18 cm mempunyai nilai kejenuhan basa (dengan NH4OAc) >50% beberapa bagian dari epipedon lembab > 90 hari (kumulatif)/tahun kadar P larut dalam asam sitrat < 1.500 ppm nilai n <0,7 b. Epipedon umbrik, sama seperti epipedon mollik, kecuali nilai kejenuhan basa (dengan NH4OAc) <50%. c. Epipedon okrik, seperti epipedon mollik dan umbrik, kecuali Warna 'value' dan' chroma' >3 jika lembab dan value >5 jika kering. Kandungan bahan organik < 1%. ketebalannya tidak memenuhi kriteria untuk mollik dan umbrik. Nilai n > 0,7 Masif jika kering warna seperti mollik tetapi tebal tidak memenuhi kriteria mollik.

d. Epipedon histik, horizon permukaan yang jenuh air > 30 hari dan tereduksi, tersusun dari bahan organik dengan tebal20 - 60 cm. e. Epipedon mekanik, horizon yangmemiliki sifat tanah andik tebal > 30 cm, berwarna gelap (value dan chroma < 2 ), indeks melanik < 1,70 pada seluruh ketebalan, kandungan C-organik > 6%. f. Epipedon anthropik, horizon permukaan yang memiliki sifat seperti epipedon mollik, tetapi kadar P larut dalam asam sitrat > 1.500 ppm. g. Epipedon folistik, lapisan pennukaan yang terdiri atas bahan organik dengan tebal > 2O cm (bahan organik kasar) atau 15% (bahan organik sedang atau halus). h. Epipedon plaggen, horizon permukaan berwarna gelap dengan tebal > 50 cm sebagai akibat dipupuk dengan pupuk organik seeara terus-menerus selama bertahun-tahun. 2. Horizon Bawah Penciri Berikut ini disajikan sifat-sifat penting beberapa horizon bawah yang umum dijumpai di Indonesia. Definisi rengkap serta jenis horizon selengkapnya agar mengacu pada Soil Survey Staff(2003, atau versi lebih baru). a. Horizon argilik, merupakan horizon iluviasi yang mempunyai sifatsifat berikut : Mengandung lebih banyak liat dari pada horizon eluviasi. Jika horizon eluviasi < 15%, maka liat di horizon argilik harus >3%. Jika horizon eluviasi 15 40%, maka liat di horizon argilik harus >1,2 %. Jika horizon eluviasi >40%, maka liat di horizon argilik harus > 8%. Jika horizon eluviasi >60%, maka liat halus di horizon argilik harus > 8%. Penambahan liat di atas harus dalam jarak vertikal <30 cm. Ketebalannya >1/10 dari jumlah tebal horizon-horizon diatasnya.

Terdapat selaput liat pada permukaan gumpalan struktur. b. Horizon Kambik, merupakan horizon yang menunjukkan indikasi yang lemah tentang adanya argilik atau spodik, tetapi tidak memenuhi syarat untuk kedua horizon tersebut. Ciri-cirinya adalah: Tekstur pasir sangat halus, pasir sangat halus berlempung, atau lebih halus. Struktur tanah telah terbentuk. Bukan merupakan bagian dari horizon Ap, tidak memenuhi warna epipedon mollik atau umbrik. Horizon Kandik, seperti horizon argilik tetapi KTK efektif jumlah basa yang diekstraksi dengan NH4OAc pH 7 + Al dapat ditukar yang diekstraksi dengan 1N KCI) < 12 cmol (+) /kg liat dan KTK dengan NH4OAc pH 7 < 16 cmol (+) /kg liat. Horizon kalsik, mempunyai tebal > 15 cm, mengandung CaCO3 setara> 15%. Horizon oksik, merupakan horizon yang terdapat pada tanah-tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut. Horizon tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: Tebal > 30 cm Kandungan mineral lapuk <10%. Tidak memenuhi kriteria horizon argilik. KTK efektif jumlah basa yang diekstraksi dengan NH4OAc pH 7 + Al-tukar yang diekstraksi dengan 1N KCI) < 12 cmol (+) / kg liat dan KTK dengan NH4Oac pH 7 < 1-6 cmol (+) /kg liat. Horizon gipsik, horizon yang banyak mengandung gipsum (CaSO4), minimal 5% lebih tinggi dari horizon dibawahnya, tebal > 15 cm. Horizon petrokalsik,horizon kalsik yang mengeras. Horizon petrogipsik, horizon gipsik yang mengeras. Horizon natrik, seperti horizon argilik, tetapi mempunyai struktur prismatik atau kulumnar dan mengandung Natrium yang tinggi. Horizon plakik, horizon tipis ( 1 - 25 mm), padat, berwarna coklat kemerahan - hitam, berupa padas besi dan mangan, dengan kedalaman < 30 cm.

c.

d. e.

f. g. h. i. j.

k. Horizon spodik, horizon akumulasi seskuioksida bebas dan bahan organik. Jika > 50% memadas disebut orstein. l. Horizon sulfurik, horizon tanah mineral atau tanah organik dengan pH < 3,5, banyak mengandung sulfat dengan karatan jarosit (berwarna kuning). Terbentuk sebagai hasil oksidasi bahan yang mengandung pitit (FeS2). m. Horizon albik, horizon berwarna pucat dengan warna value > 4 (lembab) atau > 5 (kering). 3. Penciri Khusus Selain horizon penciri di atas, terdapat beberapa penciri khusus sebagai berikut: a. Konkresi, merupakan senyawa tertentu (seperti kapur, besi, mangan, silikat), yang berlapis-Iapis memusat dan mengeras. b. Padas (pan), merupakan horizon yang pada/mengeras, biasanya karena tersementasi oleh besi, bahan organik, silikat, kapur liat dan debu (bentukan genetis atau karena adanya tekanan). c. Fragipan, ialah lapisan tanah yang teguh tetapi mudah pecah, tetapi dengan kepadatan tinggi. Jika lembab mudah pecah dan tampak memadas jika kering. d. Duripan,merupakan lapisan tanah yang kokoh/teguh, tidak mudah pecah, tidak tembus air dan akar. e. Plintit, merupakan bahan liat lapuk kaya seskuioksida miskin humus, berbentuk poligonal menyerupai karataan-karatan besar berwarna merah; memadat atau beralih secara 'irreversible' ke konkresi dalam keadaan basah atau kering berulang-ulang. f. Slickenside, merupakan permukaan-permukaan licin dan mengkilap disebabkan oleh massa tanah yang saling bergesekan satu dengan lainnya. g. Selaput liat, merupakan selaput yang mengkilap bahan liat alumunium silikat, biasanya terdapat bidang-bidang belahan struktur atau pada bekas akar. h. Kontak litik, merupakan batas tanah dengan dibawahnya yang keras dan padu.

i.

Kontak Paratithik, merupakan batas tanah dengan dibawahnya yang lunak dan padu.

6.2.9

Sifat-sifat Penciri Lain

1. Rezim Suhu Tanah Rezim suhu dalam hal ini merupakan rezim suhu tanah kedalaman sekitar 50 cm. Jika tidak dilakukan pengukuran tanah, maka suhu tanah untuk daerah tropis dapat diperkirakan dari suhu udara rata-rata + 2,5 0C. Beberapa rezim suhu tanah yang penting adalah: Mesic : merupakan suhu tanah rata-rata tahunan 8 0C- 15 0C Thermic : suhu tanah rata-rata tahunan 15 0C 22 0C Hyperthermic : suhu tanah rata-rata tahunan > 22 0C Rezim suhu yang berawalan iso, misalnya iso-mesic, iso-thermic dan lain-lain, yang menunjukkan suhu tanah rata-rata musim panas dan musim di <6 0C.

2. Rezim Lengas Tanah Biasanya ditentukan pada kedalaman antara 10 90 cm. Beberapa rezim kelembaban yang penting adalah: a. Aquic, tanah hampir selalu jenuh air, sehingga terjadi reduksi dan ditunjukkan oleh adanya karatan dengan chroma rendah (chroma 2, value 4). b. Perudic, curah hujan setiap bulan selalu evapotranspirasi. c. Udic, tanah tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya. d. Ustic, tanah setiap tahunnya kering lebih dari 90 hari (kumulatif) tetapi kurang dari 180 hari.

Sifat sifat Tanah Andik Bahan tanah harus mengandung <25 % C-organik dan memenuhi satu atau lebih persyaratan berikut: 1. Dalam fraksi tanah-halus, harus memenuhi semua syarat berikut: Jumlah Al + 1/2 Fe (dengan amonium-oksalat masam ) 2,0% Berat volume, adalah 0,90 g/cm3 Retensi fosfat 85% 2. Dalam fraksi tanah-halus yang mengandung partikel 0,02- 2,0 mm sebesar 30% , memilki retensi fosfat 25 % dan salah satu berikut: a. Jika jumlah Al + 1/2 Fe (dengan amonium-oksalat masam) 0,40 %, kandungan gelas volkan 30% , atau b. Jika jumlah Al + 1/2 Fe (dengan amonium-oksalat masam) 2,0% , kandungan gelas volkan 5%, atau c. Jika jumlah Al + 1/2 Fe (dengan amonium-oksalat masam) antara 0,40 - 2,0 %, kandungan gelas volkan cukup banyak sehingga % gelas volkan, jika di plot terhadap nilai jumlah Al + 1/2 Fe, masuk dalam bagian yang diarsir pada Gambar 6.4

6.3

Penanganan Data Pasca Survei Lapangan

Penanganan data setelah pengamatan lapangan terdiri dari: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penanganan awal contoh tanah yang akan dianalisis (pra-analisis). Analisis contoh tanah di laboratorium. Klasifikasi-ulang tanah berdasarkan data hasil analisis laboratorium. Pembuatan peta tanah final serta legenda peta Melakukan evaluasi lahan dan pembuatan peta evaluasi lahan. Penyusunan laporan akhir.

Contoh tanah yang telah dipilih untuk dianalisis diperlakukan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Jenis analisis tanah yang diperlukan disesuaikan dengan taksa tanah, sesuai dengan yang telah dijelaskan dalam Bab 5. Hasil analisis contoh tanah digunakan untuk mengklasifikasi-ulang pedon tipikal dan pedon satelit. Jika terjadi perubahan dalam klasifikasi tanah, maka akan langsung direvisi. Bersamaan dengan itu, legenda peta tanah final dapat disusun. Langkah berikutnya adalah melakukan evaluasi lahan yang diteruskan dengan pembuatan peta evaluasi lahan dan penyusunan laporan akhir, seperti yang akan dibahas dalam Bab 7 hingga 12.

6.4

Pembuatan Peta Tanah

Peta tanah final (peta yang dipublikasikan) dibuat di atas peta dasar. Skala peta dasar ini harus mempunyai skala yang sama dengan peta tanah final. Menurut Soil Survey Division Staff (1993), peta dasar ini dapat berupa produk dari penginderaan jauh (foto udara, citra satelit dan radar) dan yang berasal dari pengukuran secara manual (peta planimetri, peta topografi dan lain-lain). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan peta dasar telah dikemukakan dalam Bab 2. Jika peta dasar telah memenuhi syarat di atas, maka semua batas satuan peta tanah yang diperoleh pada saat kegiatan survei lapangan harus dapat diplot dengan teliti pada peta dasar publikasi. Beberapa karakteristik penting peta tanah yang harus diperhatikan adalah kemudahan dibaca (map legibility), batasan ukuran minimal dan tekstur peta. Sifat kemudahan pembacaan peta dipengaruhi oleh beberapa hal berikut: Jumlah poligon batasan satuan peta tanah. Pemilihan warna untuk membedakan satuan peta.

Tanda-tanda alam yang digambarkan pada peta. Kualitas penyajian peta. Peta tanah yang baik harus mudah dibaca, berketelitian tinggi, mempunyai satuan peta tanah (SPT) yang jelas, serta simbol dan legenda yang lengkap dan sistematis (Bab 2). Contoh beberapa peta yang dipublikasikan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat disajikan dalam Gambar 6.5 dan 6.6.

Pada Gambar 6.7 disajikan ilustrasi tingkat kerumitan peta tanah berdasarkan skala yang berbeda. Penyajian legenda peta masing-masing skala pada Gambar 6.7. disajikan dalam Tabel 6.7. Contoh ini menunjukkan bahwa semakin besar skala peta tanah maka satuan peta tanah semakin banyak atau semakin rinci. Demikian pula halnya dengan keterangan yang disajikan dalam legenda peta tanah. Pada Tabel 6.6 disajikan tanah-tanah pertanian utama pada kategori subgroup (grup tanah).

VII
EVALUASI LAHAN

alam memanfaatkan sumber daya lahan untuk penggunaan lahan tertentu, diperlukan perbimbangan yang matang dalam mengambil keputusan mengingat tingginya persaingan dalam penggunaan lahan, baik untuk kepentingan produksi pertanian maupun untuk keperluan nonpertanian seperti pemukiman dan industri. OIeh karena itu lahan perlu diklasifikasikan berdasarkan kelas kemampuan atau kelas kesesuaiannya untuk penggunaan tertentu. Dengan tersedianya data dan informasi yang diperoleh dari survei tanah seperti yang telah dikemukakan dalam Bab 1-6, maka akan diketahui potensi suatu lahan atau suatu satuan peta lahan (SPL) serta kesesuaiannya sekaligus tindakan pengelolaan yang diperlukan untuk setiap satuan peta tersebut. Hal ini dapat diketahui melalui kegiatan evaluasi sumber daya lahan. Evaluasi lahan merupakan suatu proses pendugaan potensi sumber daya lahan untuk berbagai penggunaan. Proses klasifikasi lahan pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua pendekatan atau metode, yaitu metode faktor pembatas dan metode parametrik. Pada metode faktor pembatas, setiap sifat-sifat lahan atau kualitas lahan disusun berurutan mulai dari yang terbaik (yang memiliki pembatas paling rendah) hingga yang terburuk atau yang terbesar penghambatnya. Masing-masing kelas disusun tabel kriteria untuk pengunaan tertentu demikian rupa, sehingga faktor pembatas terkecil untuk kelas terbaik dan faktor pembatas terbesar jatuh ke kelas terburuk. Contoh evaluasi lahan yang menggunakan metode

ini adalah klasifikasi kemampuan lahan (Klingebiel dan Montgomery, 1961), evaluasi lahan FAO (FAO, 1976). Pada metode parametrik, sifat-sifat lahan yang menentukan kualitas lahan diberi nilai dari 10 hingga 100. Kemudian setiap nilai digabung dengan jalan penambahan, pengurangan (Indeks = A + B + C D ...) atau perkalian (Indeks = A x B x C x D x ...) dan ditentukan selang nilai untuk setiap kelas. Nilai tertinggi untuk kelas terbaik dan nilai terendah untuk kelas terburuk. contohnya adalah Indeks storie (Storie, 1933), Indeks Produktivitas Riquier et al, (FAO, 1970). Berdasarkan pada tujuan evaluasi, klasifikasi lahan dapat berupa klasifikasi kemampuan lahan atau klasifikasi kesesuaian lahan. Klasifikasi kesesuaian lahan bersifat spesifik untuk suatu tanaman atau untuk penggunaan tertentu, misalnya klasifikasi kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah, kesesuaian lahan untuk tanaman jati, dan sebagainya. Klasifikasi kemampuan lahan (land and Capability Clasification) adalah penilaian lahan (komponen-komponen lahan)secara sistematik dan pengelompokkannya kedalam beberapa kategori berdasarkan atas sifat-sifat yang merupakan potensi dan penghambat dalam penggunaannya secara lestari (FAO, 1976; Arsyad, 1973). Metode evaluasi lahan yang banyak digunakan dalam penelitian maupun dalam proyek evaluasi lahan adalah adalah adalah Kerangka Kerja Evaluasi Lahan FAO (1976). Evaluasi lahan nonFAO antara lain Evaluasi Kemampuan Lahan USDA (USDA Land Capability Classification), Sistem Evaluasi lahan untuk irigasi (USBR Land Suitability for Irrigation), Soil Survey Interpretations, Evalusi Lahan Parametrik, (Parametric Indices), Pendugaan Hasil Produksi (Yield Estimates), Zona Agro Ekologi (AgroEcological Zones, AEZ), Klasifikasi Kapabilitas Kesuburan Tanah (The Fertility capabilitty Soil Classification System, FCC), Land Evaluation and Assessment (LESA) dan Soil Potential Ratings. Di Indonesia beberapa evaluasi lahan lain yang pernah digunakan dan dikembangkan oleh instansi-instansi untuk memenuhi kebutuhannya antara lain Land Capability Appraisal System for Agricultural Uses in

Indonesia (Soepratohardjo dan Robinson, 1975), Sistem Evaluasi Lahan untuk Transmigrasi (Pusat Penelitian Tanah, 1983) yang merupakan modifikasi dari evaluasi lahan FAO (1976), Evaluasi Lahan untuk Tataguna Hutan Kesepakatan (TGHK) dari Departemen Pertanian (1980;1981), Klasifikasi Wilayah Tanah Usaha dari Badan Pertanahan Nasional dan lainlain yang bersifat lokal. Aplikasi evaluasi lahan untuk berbagai komoditas yang dikelompokkan atas Evaluasi Lahan untuk Pertanian (Evaluasi Lahan untuk Tanaman Lahan Kering, Evaluasi Lahan untuk Irigasi, Evaluasi Lahan untuk Daerah Pasang Surut) dan Evaluasi Lahan untuk Nonpertanian (Evaluasi Lahan untuk Parisiwisata, Evaluasi Lahan untuk Pertambakan Air Payau, Evaluasi Lahan untuk Pemukiman). Berdasarkan pertimbangan bahwa untuk melakukan evaluasi lahan menggunakan kerangka kerja FAO (1976) melibatkan banyak sekali data, beberapa pakar mencoba membuat program komputer untuk memudahkan analisis data. Di antara program-program tersebut adalah LECS dan ALES. LECS (Land Evaluation Computer System) dikembangkan oleh pakar FAO bekerjasama dengan pakar evaluasi lahan di Pusat Penelitian Tanah Bogor (kini namanya berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Agroklimat) pada tahun 1983, yang merupakan pengembangan dari Atlas Format untuk Evaluasi Lahan yang diperuntukkan untuk survei tanah skala 1:250.000. ALES (Automated, Land. Eualuation System), merupakan program komputer yang dikembangkan oleh Rossiter dan van Wambeke dari Department of Soil, Crop & Atmospheric Sciences (SCAS), Cornell University, Amerika Serikat pada tahun 1988. Selain kedua program komputer di atas, di Spanyol dikembangkan program MicroLEIS DSS (A Land Evaluation Decision Support System for Agricultural SoiI Protection) khusus untuk daerah Mediteran, dibawah koordinasi Prof. D. de la Rosa dari IRNAS, Instituto de Recursos Naturales y Agrobiotogia de Sevilla dan CSIC. Consejo Superior de Investigaciones Cientificas, sevilla, spanyol, yang mulai dikembangkan pada tahun 1995.

Dalam buku ini, tidak semua metode evaluasi lahan tersebut dibahas, melainkan dipilih beberapa yang umum digunakan di Indonesia. untuk evaluasi lahan menggunakan komputer, hanya akan dibahas program ALES karena saat ini banyak digunakan dalam penelitianpenelitian evaluasi lahan (baik di Indonesia maupun di luar negeri). LECS, karena memiliki beberapa kelemahan, sudah jarang digunakan iagi.

7.1

Permasalahan lndonesia

dalam

Evaluasi

Lahan

di

Seperti dikemukakan di atas, ada berbagai macam metode evaluasi lahan yang digunakan di Indonesia, sehingga seringkali karena tidak adanya metode evaluasi lahan yang baku, tanah-tanah yang sama seringkali dikrasifikasikan ke dalam kelas kesesuaian lahan yang berbeda, bahkan kadang-kadang saling bertentangan. sebagai contoh, penilaian kelas kesesuaian lahan suatu komoditas tertentu dalam suatu satuan peta tanah yang sama, menurut metode evaluasi lahan yang satu termasuk kelas S1 (sangat sesuai), tetapi dengan menggunakan metode yang lain, tanah tersebut termasuk kelas N (tidak sesuai). Bagi pengguna peta, hal ini tentu sangat membingungkan, karena sulit memilih sistem mana yang harus diikuti. Terjadinya perbedaan-perbedaan dalam hasil krasifikasi kesesuaian lahan tersebut dijelaskan oleh Hardjowigeno dan Widiatmoko (2001) sebagai berikut: a. Perbedaan Terhadap Faktor-faktor yang Dinilai Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman sangat banyak, tetapi hanya faktor-faktor tertentu saja (yang diwujudkan dalam karakteristik dan kualitas lahan) yang dapat dikumpulkan datanya untuk dinilai kesesuaiannya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka dalam menyusun metode evaluasi lahan hanya faktor-faktor tertentu saja yang dinilai, di mana setiap penyusun memilih faktor yang berbeda-beda. Penilaian yang hanya didasarkan pada faktor morfologi (fisik) lahan saja mungkin akan menghasilkan tanah S1, tetapi bila unsur-unsur hara atau unsur

kimia tanah juga dinilai, mungkin akan termasuk S3 atau N, karena kadar hara yang sangat rendah atau unsur-unsur yang beracun menjadi faktor pembatas. b. Perbedaan Pengharkatan dalam Penilaian. Pengharkatan yang berbeda dalam menilai masing-masing sifat tanah akan menghasilkan kelas kesesuaian lahan yang berbeda pula, meskipun faktol-faktor yang dinilai adalah sama. Misalnya, faktor kedalaman tanah, ada yang menganggap bahwa tanah yang baik untuk tanaman tahunan (S1) adalah yang memiliki kedalaman lebih dari 75 cm, sementara yang lain berpendapat harus lebih dari 100 cm, atau bahkan ada yang berpendapat harus lebih dari 120 cm. Oleh karena kriteria yang digunakan berbeda , sudah dapat dipastikan hasil klasifikasinya pun akan berbeda. c. Perbedaan dalam Sistem Klasifikasi. Suatu metode klasifikasi yang menggunakan empat kelas kesesuaian (kelas S1, S2 S3, N) tentu akan memberikan hasil yang berbeda dengan metode klasifikasi yang menggunakan 6 kelas kesesuaian (kelas S1, S2, S3, S4, N1, N2). Hal ini tentu akan sangat berbeda pula bila digunakan kelas I-VIII. d. Perbedaan dalam Metode Pengambilan Keputusan. Dalam mengambil keputusan untuk klasifikasi kesesuaian lahan, dapat digunakan berbagai cara seperti metode penghambat maksimum, metode parametrik dengan pemberian angka nilai untuk masing-masing faktor, kemudian dijumlahkan atau dikalikan dan sebagainya. Dengan menggunakan metode yang berbeda, tentu akan menghasilkan kelas yang berbeda-beda pula. Permasalahan-permasalahan tersebut di atas tentu akan semakin kompleks jika dalam melakukan survei tanah yang merupakan kegiatan yang mengawali kegiatan evaluasi lahan, terdapat banyak sekali keragaman dari instansi atau organisasi pelaksana survei tanah. Masalahmasalah tersebut menurut Hardjowigeno dan Widiatmoko (2001) antara lain dalam hal sistem klasifikasi tanah yang digunakan, metode delineasi satuan peta tanah (SPT), penyusun legenda peta tanah, tenaga surveyor, peta dasar dan alat-alat survei yang digunakan.

7.2

Tingkat lntensitas dan Pendekatan Evaluasi Lahan

Dalam Bab II telah dijelaskan beberapa jenis survei tanah berdasarkan tingkat ketelitian atau skala peta yang dihasilkan. Ada 6 tingkat survei mulai dari survei bagan hingga sangat detail. Jenis survei tersebut berlaku pula dalam evaluasi lahan. Namun demikian, pada umumnya dalam evaluasi lahan dibedakan tiga intensitas detail, yaitu reconnnissance (tinjau), semi-detail (sedang) dan detail. Masing-masing tingkat survei tersebut akan menentukan jumlah dan jenis kualitas/karakteristik lahan yang akan dipertimbangkan. Semakin detail peta kelas kesesuaian lahan yang di hasilkan, akan semakin banyak dan semakin rinci kualitas atau karakteristik lahan yang dievaluasi. Tingkat Tinjau (Reconnaissance) Umumnya, evaluasi lahan pada tingkat tinjau ini dilakukan dalam skala nasional. Evaluasi lahan dapat dilakukan secara kualitatif, dan analisis ekonomi hanya dilakukan dengan sangat umum. Hasil evaluasi dapat digunakan untuk perencanaan secaranasional dimana dapat ditentukan skala prioritas untuk masing-masing daerah. Tingkat Semi-Detail (Tingkat Sedang) Evaluasi lahan dengan intensitas ini dilakukan untuk tujuan-tujuan yang lebih khusus, misalnya studi kelayakan (feassibility study) untuk suatu proyek. Survei pertanian dan analisis sosial-ekonomi yang merupakan faktor penting dari evaluasi lahan sebaiknya dilakukan secara kuantitatif. Hasil evaluasi dapat memberi keterangan untuk pengambilan keputusan, penelitian proyek, dan perubahan-perubahan yang mungkin diperlukan terhadap proyek yang direncanakan. Tingkat Detail Evaluasi lahan pada tingkat detail merupakan survei yang ditujukan untuk membuat perencanaan untuk implementasi, misalnya untuk pembuatan

desain atau rekomendasi. Biasanya dilakukan setelah ada kepastian keputusan untuk melaksanakan suatu proyek. Perbedaan informasi pada masing-masing tingkat detail tersebut dikemukan oleh Dijkerman, dan Widianingsih (1985) dalam Gambar 7.1.

7.3

Beberapa Pengertian

Evaluasi lahan merupakan suatu proses menduga potensi sumber daya lahan untuk berbagai penggunaannya. Kerangka dasar evaluasi lahan adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan suatu penggunaan lahan tertentu, dengan sifat l kualitas lahan yang bersangkutan. Lahan sebagaimana telah dikemukan dalam Bab I, merupakan bagian dari lansekap (landscape) yang mencakup lingkungan fisik

termasuk iklim, topografi/relief, tanah, hidrologi, dan vegetasi alami (natural vegetation) yang semuanya mempengaruhi potensi penggunaannya (FAO, 1976). Lahan, dalam pengertian yang lebih luas, termasuk kegiatan manusia baik di masa lalu maupun yang sedang berlangsung, seperti reklamasi lahan pantai atau rawa pasang surut, penebangan hutan atau tindakan konservasi tanah, akan memberikan karakteristik lahan yang spesifik. Termasuk juga dalam hal ini adalah akibat yang merugikan, seperti terjadinya erosi dan salinisasi tanah. Masalah sosial dan ekonomi tidak termasuk dalam konsep lahan. Evaluasi lahan dalam hal ini menyediakan data untuk perencanaan penggunaan lahan. Tugas ahli evaluasi lahan adalah menunjukkan konsekuensi dari berbagai macam penggunaan lahan dan menyediakan data bagi ahli ekonomi untuk melakukan perhitungan. Keputusan perencanaan penggunaan lahan biasanya dibuat oleh ahli politik. Pada dasarnya evaluasi sumber daya lahan membutuhkan informasi yang mencakup tiga aspek utama, yaitu lahan, penggunaan lahan dan aspek ekonomi. Data tentang lahan diperoleh dari hasil survei tanah, yang disajikan untuk masing-masing satuan peta tanah (SPT). Informasi mengenai penggunaan lahan yang meliputi persyaratan atau kebutuhan ekologi dan teknik dari berbagai jenis penggunaan lahan diperoleh dari ahli agronomi, irigasi, kehutanan atau lainnya. Aspek ekonomi yang mencakup perhitungan biaya produksi dan analisis usaha tani diperoleh dari ahli sosial ekonomi pertanian. Jenis informasi sumber daya lahan yang perlu dievaluasi terdiri atas 5 kelompok, yaitu tanah, iklim, topografi dan geologi, vegetasi dan sosial ekonomi. Aspek tanah yang penting adalah kedalaman lapisan penghambat perakaran, (kedalaman efektif tanah), drainase, tingkat kesuburan tanah, retensi hara, salinitas tanah, ada tidaknya unsur yang bersifat racun bagi tanaman, keadaan lengas tanah, kapasitas air dan kemungkinan mengalami penggenangan/banjir. Erosi tanah dapat diprediksi dengan menggunakan rumus USLE atau model lainnya.

Dari segi iklim selain data bulanan dan harian dari masing-masing stasiun krimatologi, yang lebih penting adalah menghitung lama periode pertumbuhan LGP (length growth periods) dan neraca air untuk menentukan pola tanah yang ideal dari suatu wilayah. Informasi tentang keadaan topografi dan geologi sangat penting dalam evaluasi lahan. Derajat kemiringan dan panjang lereng, posisi dalam bentang lahan dan ketinggian tempat berpengaruh secara tidak langsung terhadap kualitas lahan. Struktur dari formasi geologi berpengaruh terhadap lereng serta bahan induk tanah yang berkembang. Vegetasi peting dipertimbangkan dalam evaluasi lahan karena dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui potensi lahan maupun kesesuaian lahan bagi penggunaan tertentu melalui kehadiran tanaman-tanaman indikator. Jenis vegetasi tertentu yang tumbuh di suatu daerah mencerminkan bahwa vegetasi tersebut dapat dikembangkan di daerah tersebut. Dengan demikian kita dapat memprediksi tanaman yang memerlukan persyaratan tumbuh yang hampir serupa dengan tanaman indikator. Informasi keadaan sosial ekonomi penting dipertimbangkan dalam menilai kesesuaian suatu lahan, karena dapat memberikan gambaran seberapa jauh keuntungan akan diperoleh jika dilakukan penanaman atau pengembangan suatu tanaman tertentu dalam suatu lahan. Meskipun dalam suatu lahan memberikan kesesuaian yang tinggi dari segi agroekologi, tetapi jika dari segi ekonomi kurang menguntungkan karena biaya produksi terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan keuntungan yang akan diperoleh karena pemasarannya sulit dan lain sebagainya maka sebaiknya tanaman tersebut tidak dikembangkan di lahan tersebut. Selain untuk keperluan di bidang pertanian, evaluasi lahan juga dapat digunakan untuk aspek-aspek nonpertanian seperti untuk pemukiman, pembangunan jalan, pariwisata dan lain-lain yang sangat penting sebagai dasar untuk pengembangan wilayah.

7.4 Metodologi Evaluasi Lahan FAO

Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi suatu lahan untuk penggunaan-penggunaan spesifik yang dilakukan dengan cara-cara tertentu, yang nantinya akan menjadi dasar pertimbangan dalarn pengambilan keputusan penggunaan lahan Evaluasi lahan didasarkan pada analisis hubungan antara lahan dan penggunaan lahan, mengestimasi input yang dibutuhkan serta output yang diinginkan. Evaluasi lahan mencakup 2 aspek pokok, yaitu: Sumber daya fisik tanah, topografi, iklim. Sumber daya sosial ekonomi (sosek): ukuran lahan petani, tingkat pengelolaan, ketersediaan tenaga kerja, letak pasar dan aktivitas manusia lainnya. Sumber daya fisik dapat dianggap sebagai sifat yang relatif stabil, sedangkan sumber daya sosek lebih beragam dan tergantung pada keputusan sosial dan politik. Tujuan utama evaluasi lahan adalah menyeleksi penggunaan lahan yang optimal untuk masing-masing satuan lahan tertentu dengan mpmpertimbangkan faktor fisik dan sosial ekonomi serta konservasi surnber daya lingkungan untuk penggunaan yang lestari. Di samping itu, terdapat tujuan yang lebih detail yang sangat beragam tergantung pada keinginan dan skala evaluasi lahan. Memperkenalkan teknik budi daya yang baru atau menata ulang sistem pertanian yang telah ada memerlukan perencanaan yang serius di bidang sumber daya lahan, kondisi sosial ekonomi, sumber daya air, status pertanian serta kondisi eko-klimatologi. Survei tanah dan penggunaan lahan merupakan salah satu aspek dalam bidang evaluasi lahan yang harus direalisasikan melalui suatu tim antar disiplin. Beberapa informasi yang diharapkan dari ahli tanah dalam kaitannya dengan evaluasi lahan adalah: 1. Apa jenis (taksa) tanah yang terdapat di daerah tersebut?

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Di mana tanah-tanah tersebut berada? Apa jenis tanaman rang ditanam atau dapat ditanam di tanahtanah tersebut? Berapa produksi yang diharapkan dari masing-masing tanah yang berbeda? Apa jenis dan dosis pupuk yang diberikan? untuk tanah-tanah di daerah kering, bagaimana bentuk pengairan yang disarankan dan berapa jumlah air irigasi yangdiperlukan? Apa saja praktek pengelolaan yang direkomendasikan?

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu mengelaborasi suatu sistem klasifikasi lahan di mana evaluasi dari satuan lahan, didasarkan pada informasi yang disediakan oleh laporan survei tanah. Oleh karena itu dasar dari evaluasi lahan adalah survei tanah. Menurut Rossiter (1994), dasar pertimbangan diperlukannya evaluasi lahan adalah: 1. Sifat lahan beragam (physical and human-geographic properties). 2. Keragaman tersebut mempengaruhi jenis penggunaan lahan; masingmasing penggunaan lahan terdapat satuan-satuan lahan yang lebih sesuai atau kurang sesuai dari segi fisik dan/atau ekonomi. 3. Keragaman tersebut bersifat sistematik 4. Keragaman tersebut (secara fisik, politik, ekonomi dan sosial) dapat dipetakan. 5. Perilaku (kesesuaian) lahan jika diusahakan untuk penggunaan tertentu dapat diprediksi dengan tingkat kepastian tertentu, tergantung kualitas data sumber daya lahan tersebut dan tingkat pengetahuan hubungan antara sifat-sifat lahan dan penggunaan lahan yang direncanakan. 6. Kesesuaian lahan bagi berbagai penggunaan lahan aktual dan yang diusulkan dapat dideskripsikan dan dipetakan secara sistematis. 7. Pengambil keputusan (pemakai lahan, perencana tata-guna lahan dan penyuluh pertanian) dapat menggunakan prediksi tersebut (peta kesesuaian lahan) sebagai panduan untuk pengambilan keputusan.

Evaluasi Lahan menurut FAO (1926) harus dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: 1. Bagaimana pengelolaan lahan saat ini dan apa yang akan terjadi bila praktek pengolahan saat ini tidak diubah sama sekali? 2. Perbaikan apa yang mungkin dilaksanakan dalam praktek pengelolaan pada penggunaan sekarang? 3. Jenis penggunaan lahan yang bagaimana lagi yang secara fisik memungkinkan dan relevan secara ekonomi dan sosial? 4. Penggunaan yang bagaimana yang memberikan potensi produksi yang berkelanjutan dan menghasilkan keuntungan lain? 5. Pengaruh merusak apa (baik secara fisik, ekonomi dan sosial) yang berasosiasi dengan masing-masing penggunaan? 6. Masukan apa yang dibutuhkan secara berulang (recurrent input) untuk mencapai produksi dan meminimalkan pengaruh yang bersifat merusak? 7. Apakah keuntungan masing-masing bentuk penggunaan? Jika diperkenalkan suatu jenis penggunaan lahan baru yang akan melibatkan perubahan yang nyata pada lahan tersebut, seperti skema irigasi, maka pertanyaan berikut juga wajib dijawab. 1. Perubahan kondisi lahan apa yang layak dan diperlukan serta bagaimana hal ini dapat dilaksanakan? 2. Masukan tetap (non-recurrent input) apa yang diperlukan untuk implementasi perubahan ini. Kesembilan pertanyaan tersebut harus dapat dijawab dalam kegiatan evaluasi lahan. Akibat-akibat yang terjadi harus diperhitungkan apabila penggunaan lahan disuatu daerah tidak berubah. Misalkan daerah volkan yang berlereng curam diusahakan untuk sayur-sayuran yang penanamannya dilakukan searah lereng. Tentu saja masalah erosi akan sangat dominan dan berdampak kepada degradasi lahan dan lingkungan. Untuk itu perlu diusulkan suatu praktek pengelolaan baru untuk mencegah tejadinya erosi, misalnya dengan pembuatan dan perbaikan teras disertai dengan prinsip-prinsip konservasi tanah yang sudah umum.

Pada tempat-tempat (satuan peta lahan) yang mengalami erosi paling parah, perlu diusulkan penggunaan lahan yang lain, misalnya sistem agroforestri, hutan lindung, kawasan wisata atau yang lainnya, tergantung pada kondisi yang ada. Masing-masing penggunaan lahan dapat dihitung secara ekonomi dari aspek lingkungan mana yang paling memberikan keuntungan. Perhitungan ekonomi harus dilakukan secara benar dengan melibatkan ekonom. Masukan berulang merupakan masukan yang selalu harus diberikan kembali paha setiap musim, misalnya biaya bibit, tenaga kerja, dan pupuk. Dengan membandingkan masukan dengan keluaran (kuantitas dan kualitas produksi), akan diketahui penggunaan lahan mana yang memberikan keuntungan lebih tinggi. Apabila berencana memperkenalkan penggunaan lahan baru yang akan mengakibatkan pengaruh signifikan pada wilayah tersebut, maka harus dilakukan analisis yang cermat sehingga dampak lingkungan sosial ekonominya tidak berakibat buruk. Masukan tetap (non-reccurent input) yaitu biaya yang dibutuhkan hanya sekali, misalnya pembuatan bendungan dan fasilitas irigasi, pembuatan jalan dan lain-lain, harus dihitung lamanya waktu yang diperlukan sebelum investasi tersebut dapat dikembalikan. Perlu disadari bahwa proses evaluasi tidak menentukan cara bagaimana perubahan perencanaan penggunaan lahan (tata guna lahan) harus dilaksanakan, tetapi menyediakan data dan informasi sebagai dasar pengambilan keputusan. Agar lebih efektif, hasil evaluasi lahan biasanya memberi informasi mengenai dua atau lebih bentuk penggunaan yang potensial bagi suatu lahan, terrnasuk konsekuensi, keuntungan dan kerugian bagi masingmasing.

7.4.1 Evaluasi Lahan dan Perencanaan penggunaan Lahan


Urutan kegiatan perencanaan penggunaan lahan adalah sebagai berikut: 1. Diketahuinya kebutuhan akan perubahan. 2. Identitas tujuan

3. Memformulasikan usulan, termasuk pilihan penggunaan lahan dan pengenalan mengenai persyaratannya. 4. Pengenalan dan definisi berbagai tipe lahan. 5. Melakukan perbandingan dan evaluasi dari setiap tipe lahan dari peruntukan berbagai penggunaan 6. Melakukan pemilihan yang paling cocok bagi setiap tipe lahan 7. Desain proyek - dapat berupa suatu Feasibility Study 8. Keputusan untuk implementasi 9. Implementasi 10. Pemantauan Pekerjaan Evaluasi lahan memegang peranan utama pada tahap 3, 4, dan 5 dari urutan di atas, dan memberikan sumbangan pada aktivitas lebih lanjut. Dengan demikian, evaluasi lahan diawali dengan pengenalan kebutuhan akan perubahan-perubahan pada penggunaan lahan yang sedang dilaksanakan, hal ini mungkin merupakan pengembangan penggunaan produktif yang baru, seperti skema pembangunan pertanian atau pengusahaan hutan tanaman, atau penyediaan pelayanan seperti taman nasional atau daerah rekreasi. Pengenalan kebutuhan akan perubahan, harus bersumber dari hasil analisis secara teliti, baik analisis ekonomi, sosial, budaya, lingkungan secara. nasional dan telah memperhitungkan konsekuensi secara global. Pengenalan kebutuhan akan perubahan diikuti dengan identifikasi tujuan dan perubahan yang diusulkan dan formulasi usulan umum maupun yang spesifik. Proses evaluasi sendiri mencakup deskripsi sederetan penggunaan lahan yang memberikan harapan (promising), dan penilaian serta perbandingan dari kesemuanya dari setiap tipe lahan daerah yang bersangkutan.

7.4.2 Prinsip-prinsip Dasar


Prinsip dasar yang digunakan dalam proses evaluasi lahan adalah (FAO, 1976) :

1. Kesesuaian lahan dinilai berdasarkan jenis penggunaan lahan yang spesifik. Penggunaan lahan yang berbeda memerlukan syarat yang berbeda pula. 2. Evaluasi lahan memerlukan pembandingan antara keuntungan yang diperoleh dengan masukan yang diperlukan. 3. Memerlukan pendekatan multidisiplin dari para ahli ilmu-ilmu alam, teknologi penggunaan lahan, ekonomi, sosiologi dan lain-lain. Evaluasi hampir senantiasa memasukkan pertimbanganpertimbangan ekonomi. 4. Evaluasi dilakukan sesuai dengan kondisi-kondisi fisik lahan, sosial ekonomi daerah yang dikaji serta kondisi nasional. 5. Kesesuaian didasarkan atas penggunaan yang lestari. Aspek kerusakan atau degradasi ringkungan diperhitungkan pada saat menilai kesesuaiannya agar jangan sampai menyebabkan kerusakan lingkungan di kemudian hari, meskipun dalam jangka pendek usaha tersebut sangat menguntungkan. 6. Evaluasi melibatkan perbandingan lebih dari satu jenis penggunaan lahan. Jika hanya satu jenis yang dipertimbangkan, maka akan menimbulkan kerugian karena beberapa jenis penggunaan lain yang lebih menguntungkan tidak teramati. Berikut diuraikan secara ringkas masing-masing prinsip dasar tersebut. Prinsip pertama menegaskan bahwa evaluasi lahan harus ditujukan untuk menilai kesesuaian rahan dari sebidang lahan (suatu satuan peta lahan) untuk penggunaan yang lebih spesifik. Berbeda dengan klasifikasi kemampuan lahan USDA yang mengklasifikasikan lahan untuk pertanian secara umum atau untuk membedakan lahan-lahan yang dapat diusahakan untuk pertanian. Klasifikasi kemampuan lahan USDA lebih mengarah kepada pendekatan konservasi tanah yang mengarahkan ke pengguna lahan, lahan-lahan mana yang dapat diusahakan untuk ditanami tanpa secara rinci menentukan jenis tanaman apa yang paling sesuai. Persyaratan tumbuh masing-masing tanaman berbeda-beda, sehingga misalnya pada sebidang lahan yang berdrainase terhambat (sering tergenang air), tanaman padi dapat tumbuh dan berproduksi dengan

baik,sedangkan tanaman jagung sekalipun dapat tumbuh tetapi produksinya sangat rendah sehingga tidak menguntungkan. Dengan perkataan lain, sebidang lahan yang sama bisa dikatakan tidak sesuai untuk tanaman tertentu, tetapi sangat sesuai untuk tanaman yang lain. Prinsip yang kedua perlu penegasan mengenai besarnya keuntungan yang diperoreh dari budidaya tanaman tertentu atau penerapan suatu penggunaan lahan yang spesifik dengan cara membandingkan tingkat produksi tanaman yang diinginkan, dengan masukan yang diberikan (pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, dan lain-lain) untuk mencapai tingkat produksi sebut. Prinsip ketiga menjelaskan bahwa perlu kerjasama antar-disiplin mengingat hasil evaluasi lahan akan berdampak kepada masyarakat di wilayah yang dievaluasi. Apabila hanya dilakukan oleh ahli tanah, maka aspek-aspek lain seperti ekonomi, sosiologi, lingkungan dan lain-lain akan terabaikan. Prinsip keempat terutama ditujukan kepada tenaga ahli atau konsultan asing yang jika melakukan evaluasi lahan di suatu wilayah di negara lain, harus melibatkan tenaga ahli setempat di negara yang bersangkutan yang lebih mengetahui aspek-aspek lain, terutama masalahmasalah di luar bidang tanah. Prinsip kelima mengingatkan bahwa dampak jangka panjang dari kegiatan evaluasi-lahan harus ikut di pertimbangkan. Jangan sampai kegiatan ini hanya memberi keuntungan dalam jangka pendek semata. Aspek yang perlu mendapat perhatian adalah kerusakan atau degradasi lingkungan fisik (erosi, salinisasi lahan), masalah kesehatan penduduk (misalnya nyamuk malaria atau demam berdarah) dan sebagainya. Prinsip keenam mengharuskan adanya evaluasi berbagai jenis penggunaan lahan, tidak hanya pada satu komoditas tertentu, karena akan menutup kemungkinan akan komoditas lain yang mungkin lebih menguntungkan untuk dikembangkan didaerah tersebut.

7.5 Cara-cara Pendekatan dalam Evaluasi Lahan FAO

Menurut (FAO, 1976) hubungan antara sifat-sifat lahan dan analisis sosial ekonomi serta perumusan penggunaan lahan tergantung dari cara pendekatan yang dilakukan. Terdapat dua cara pendekatan dalarn evaluasi lahan FAO, yaitu pendekatan dua tahap dan pendekatan paralel (Gambar 7.2).

7.5.1 Pendekatan Dua Tahap (Two Stage Approach)


Tahap pertama dari pendekatan ini adalah merupakan evaluasi lahan secara kualitatif yang kemudian diikuti tahapan kedua (yang kadangkadang tidak diperlukan) yang terdiri atas analisis ekonomi dan sosial. Pendekatan dua tahap seringkali digunakan untuk evaluasi perencanaan penggunaan lahan secara umum dalam tingkat survei tinjau. Pendekatan dua tahap sering digunakan dalam pekerjaanpekerjaan inventarisasi sumber daya untuk keperluan perencanaan secara luas. Klasifikasi kesesuaian lahan pada tahap pertama didasarkan atas kesesuaian lahan untuk berbagai penggunaan yang telah diseleksi pada permulaan survei. Kontribusi dari analisis ekonomi dan sosial pada tahap pertama tersebut terbatas untuk mengetahui relevansi dari jenis-jenis penggunaan lahan tersebut.

Setelah tahap pertama diselesaikan dan hasil-hasil disajikan dalam bentuk laporan dan peta-peta, hasil-hasil ini kemudian dapat dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu analisis ekonomi dan sosial, yang dapat dikerjakan segera atau kemudian setelah kurun waktu tertentu.

7.5.2 Pendekatan Paralel (Parallel Approach)


Dalam pendekatan paralel (sejajar), analisis ekonomi terhadap suatu penggunaan dilakukan bersamaan dengan analisis sifat-sifat fisik dan lingkungan lahan tersebut. Hasil dari pendekatan ini biasanya memberi petunjuk mengenai modifikasi penggunaan lahan, guna memperoleh hasil yang sebaik-baiknya. untuk usaha pertanian, modifikasi ini dapat berupa pemilihan jenis-jenis tanaman, estimasi terhadap modal dan tenaga kerja, dan penentuan besarnya lahan pertanian yang optimum. Dalam bidang kehutanan, modifikasi meliputi pemilihan spesies, pemilihan waktu tanam, penjarangan atau penebangan, atau usaha-usaha untuk melindungi kerusakan hutan dan hasil hutan. Metode ini dianjurkan untuk rencanarencana khusus dalam pengedaan suatu proyek dalam tingkat semi-detail hingga detail. Pendekatan paralel diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih tepat dalam waktu yang lebih cepat. Ini merupakan cara yang lebih baik untuk memusatkan kegiatan survei dan pengumpulan data pada keterangan-keterangan yang diperlukan untuk evaluasi. Pendekatan dua tahap tampaknya lebih sistematis karena mempunyai kegiatan yang jelas terpisah dengan analisis ekonomi, sehingga memungkinkan penjadwalan kegiatan dan penggunaan staf. Dalam pendekatan sejajar, analisis ekonomi dan sosial dari jenis penggunaan lahan dilakukan secara bersama-sama dengan pelaksanaan survei dan penilaian faktor-faktor fisik lahan. Prosedur ini umumnya lebih disukai untuk usulan-usulan yang spesifik dalam hubungan dengan proyek-proyek pembangunan pada tingkat semi-detail dan detail. Pendekatan sejajar ini diharapkan dapat memberikan hasil-hasil yang diinginkan pada kurun waktu yang relatif singkat.

Kedua strategi tersebut disajikan secara diagram pada Gambar 7.2.

7.6 Konsep Dasar dalam Evaluasi Lahan


Pemahaman konsep dasar, terutama yang menyangkut definisi sangat diperlukan untuk pembahasan lebih lanjut. Beberapa definisi yang harus disepakati adalah lahan, kualitas lahan dan jenis-jenis perbaikan lahan yang akan dilakukan terhadap lahan yang dievaluasi, penggunaan lahan (landuse) atau tipe penggunaan lahan. Klasifikasi kesesuaian lahan atau kemampuan lahan merupakan pengelompokan lahan (dalam bentuk satuan peta tanah atau satuan peta lahan) berdasarkan kesesuaian atau kemampuannya untuk tujuan penggunaan tertentu. Satuan peta lahan (land mapping unit) merupakan daerah yang dipetakan berdasarkan sifat-sifat yang ditentukan (dispesi fikasi) yang dapat didasarkan dari suatu survei sumber daya alam seperti survei tanah. Tingkat homogenitas dan variabilitas internal sangat beragam dengan skala dan intensitas studi. Dalam kasus tertentu, suatu satuan peta lahan dapat terdiri atas dua atau lebih tipe lahan yang berbeda kesesuaiannya. Misalnya dataran banjir dalam sistem aluvial yang pada skala tinjau dipetakan menjadi satu satuan peta, tetapi diketahui mengandung bagian yang berdrainase baik (tanggul sungai) dan bagian yang berdrainase buruk (rawa-balik/backswamp). Sebagaimana telah dikemukan dalam Bab I, konsep lahan mengandung pengertian yang lebih luas dari tanah maupun medan (terrain). Variasi dalam hal tanah atau tanah dan landform sering menyebabkan perbedaan antara satuan peta lahan dalam suatu daerah, sehingga seringkali survei tanah digunakan sebagai dasar bagi pendefinisian dari satuan peta lahan. Namun demikian harus disadari bahwa kesesuaian suatu tanah untuk suatu penggunaan lahan tertentu tidak dapat dinilai secara terpisah dari aspek lingkungan lainnya, oleh karena itu sebaiknya lahanlah yang digunakan sebagai dasar dari evaluasi lahan.

Dalam kegiatan survei dan pemetaan sumber daya alam, antara lahan satu dengan lainnya dibedakan berdasarkan perbedaan sifat yang terdiri atas iklim, landform (termasuk bahan indu/litologi, topografi/relief) tanah dan atau hidrologi sehingga terbentuk satuansatuan lahan. Pemisahan satuan lahan sangat penting untuk keperluan analisis dan interpretasi dalam menilai potensi atau kesesuaian lahan bagi suatu tipe penggunaan lahan (Land Utilization Type = LUT). Dalam melakukan evaluasi lahan, sifat-sifat fisiklingkungan daerah yang akan dievaluasi dibagi atas beberapa satuan lahan dan setiap satuan lahan dibedakan ke dalam beberapa kualitas lahan (land qualities). Setiap kualitas lahan pada umumnya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics). Beberapa karakteristik lahan umumnya berhubungan satu sama lain di dalam pengertian kualitas lahan dan akan berpengaruh terhadap jenis penggunaan dan atau pertumbuhan tanaman maupun komoditas lain yang berbasis lahan (peternakan, perikanan, kehutanan).

7.6.1 Penggunaan Lahan (Landuse)


Evaluasi kesesuaian lahan melibatkan hubungan antara kualitas tahan masing-masing satuan peta lahan (SPL) bagi penggunaan lahan yang spesifik yang akan diusahakan di suatu daerah. Tipe penggunaan lahan yang dipertimbangkan sebaiknya dibatasi kepada yang relevan dengan keadaan fisik, ekonomi dan sosial secara umum menonjol di daerah yang disurvei. Macam penggunaan lahan ini sangat berperan sebagai sasaran evaluasi lahan dan dapat terdiri atas penggunaan lahan secara (major kind) atau tipe penggunaan lahan (land utilization type / LUT). 1) Penggunaan Lahan Secara Umum Penggunaan lahan secara umum (major kinds of land ase) adalah Penggolongan penggunaan lahan secara umum, seperti pertanian tadah hujan, pertanian beririgasi, padang rumput, kehutanan, atau daerah rekreasi. Penggunaan lahan secara umum biasanya digunakan untuk evaruasi lahan secara kualitatif atau dalam survei tinjau (reconaissance).

Dalam studi evaluasi lahan, setiap jenis penggunaan lahan dirinci ke dalam tipe-tipe penggunaan lahan. Tipe penggunaan lahan bukan merupakan tingkat kategori dari kiasifikasi penggunaan lahan, melainkan mengacu kepada penggunaan lahan tertentu yang tingkatannya di bawah kategori dan klasifikasi lahan secara umum karena berkaitan dengan aspek masukan, teknologi, dan keluarannya. Di bawah ini dikemukan uraian lebih rinci tentang tipe penggunaan lahan (TPL). 2) Tipe Penggunaan Lahan Tipe penggunaan lahan (land utilization type) merupakan penggunaan lahan yang diuraikan secara lebih terperinci sesuai dengan syarat-syarat teknis untuk suatu daerah dengan keadaan fisik dan sosial ekonomi tertentu, yaitu menyangkut pengelolaan, masukan yang diperlukan, dan keluaran yang diharapkan secara spesifik. Atribut dari tipe penggunaan lahan (land utilization type) meliputi data atau atribut sebagai berikut (FAO, 1976) : Produksi, meliputi benda (tanaman, ternak, kayu), fasilitas pelayanan (fasilitas rekreasi) atau keuntungan lain (suaka mergasatwa). Orientasi pasar, untuk kebutuhan sendiri atau untuk dijual. Tingkat ketersediaan modal. Tingkat penggunaan tenaga kerja. Sumber tenaga (manusia, hewan atau mesin). Penguasaan teknis dan sikap pengguna lahan. Teknologi yang diterapkan,(penggunaan mesin, pupuk, pestisida, jenis ternak, metode penebangan kayu. Persyaratan infrastruktur (misalnya penggergajian, pabrik teh, pelayan, pelayanan penyuluhan). Ukuran dan konfigurasi kepemilikan lahan, tersebar dimana-mana atau mengumpul dalam suatu lokasi. Hak-hak atas lahan. Tingkat penghasilan yang dinyatakan dalam per kapita, per satuan produksi atau per satuan luas.

Sebagai contoh, Tanaman pangan tadah hujan dengan tanaman padi sebagai tanaman utama, diikuti dengan penanaman jagung, untuk kebutuhan sendiri, modal terbatas, pengolahan tanah dengan ternak, menggunakan banyak tenaga kerja, lahan sempit 0,5-2 ha. Tipe penggunaan lahan secara terperinci (tipe penggunaan lahan) dapat terdiri atas satu jenis tanaman atau lebih dari satu jenis tanaman. Tipe penggunaan lahan ini dibedakan dalam (a) tipe penggunaan lahan ganda (multiple land utilization type) dan (b) tipe penggunaan lahan majemuk (compound land utilization type) (a) Tipe Penggunaan Lahan Ganda (Multiple Land Utilization Type) Tipe penggunan lahan yang tergolong ganda (multiple) terdiri atas lebih dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan secara serentak pada suatu areal yang sama dari suatu bidang lahan. setiap penggunaan memerlukan masukan dan kebutuhan, serta memberikan hasil tersendiri. Misalnya cengkeh ditanam secara bersamaan dengan kakao atau kopi di areal yang sama ada satu bidang lahan. Demikian juga untuk tanaman kopi dan vanili atau pisang yang sudah umum dilakukan secara diversifikasi. Contoh lain adalah perkebunan apel yang juga berfungsi sebagai daerah rekreasi (agrowisata). (b) Tipe Penggunaan Lahan Majemuk (Compound Land Utilization Type) Tipe penggunaan lahan yang tergolong majemuk terdiri atas lebih dari satu jenis penggunaan (komoditas) yang diusahakan pada areal-areal satu bidang lahan dimana untuk tujuan evalusi diberlakukan sebagai unit tunggal. Perbedaan jenis penggunaan bisa terjadi pada suatu sekuen atau urutan waktu, dalam hal ini ditanam secara rotasi atau secara serentak (berbarengan) tetapi pada areal yang berbeda pada satu bidang lahan yang dikelola dalam unit organisasi yang sama. Sebagai contoh, pada suatu perkebunan besar, sebagian area secara terpisah (blok) digunakan untuk tanaman karet dan blok lainnya untuk kelapa sawit. Kedua komoditas ini dikelola oleh suatu perusahaan yang sama.

7.6.2 Kualitas Lahan (Land Qualtty), Karakteristik Lahan (Land Characteristic) dan Kriteria Penciri
1. Kualitas Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat atau attribute yang bersifat kompleks dari satu bidang lahan. setiap kualitas lahan mempunyai keragaan (performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan, tetapi pada umumnya ditetapkan dari pengertian karakteristik lahan (FAO, 1976). Kualitas lahan merupakan karakteristik lahan (biasanya majemuk dan kompleks) yang mempunyai pengaruh langsung terhadap persyaratan dasar dari penggunaan lahan dan diharapkan dapat mempengaruhi kesesuaian lahan dengan tidak tergantung pada kualitas lahan yang lain. Menurui Beek (1978), kualitas lahan (KL) terdiri atas: a. Kualitas lahan ekologi (mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hewan), misalnya ketersediaan air, ketersediaan hara, ketersediaan oksigen, bahaya banjir, suhu, lama musim tanam dan lain-lain. b. Kualitas lahan pengelolaan (mempengaruhi pengelolaan usaha pertanian), misalnya kemungkinan untuk mekanisasi, lokasi dalam hubungannya dengan pasar dan lain-lain. c. Kualitas lahan konservasi (mempengaruhi degradasi lahan), misalnya bahaya erosi, salinitasi, alkalinisasi, pemadatan tanah dan lain-lain. d. Kualitas lahan perbaikan (kemungkinan untuk merubah kondisi), misalnya sifat dapat diairi, tanggapan terhadap pemupukan dan lain-lain. Kualitas lahan kemungkinan berperan positif atau negatif terhadap penggunaan lahan tergantung dari sifai-sifatnya. Kualitas lahan yang berperan positif adalah yang sifatnya menguntungkan bagi suatu penggunaan lahan. Sebaliknya kualitas lahan yang bersifat negatif karena keberadaannya yang merugikan (merupakan kendala) terhadap

penggunaan tertentu, sehingga merupakan faktor penghambat atau pembatas. Setiap kualitas lahan pengaruhnya tidak selalu terbatas hanya pada satu jenis penggunaan. Kenyataan menunjukkan bahwa kualitas lahan yang sama bisa berpengaruh terhadap lebih dari satu jenis penggunaan. Demikian pula satu jenis penggunaan lahan tertentu akan dipengaruhi oleh berbagai kualitas lahan. sebagai contoh bahaya erosi dipengaruhi oleh keadaan sifat tanah, keadaan medan/terrain (lereng) dan iklim (curah hujan). Ketersediaan air bagi kebutuhan tanaman dipengaruhi antara lain oleh faktor iklim, topografi, drainase, tekstur, struktur dan konsistensi tanah, zona perakaran, dan pecahan batuan/bahan kasar (batu, kerikil) di dalam profil tanah. Jumlah kualitas lahan cukup banyak, namun untuk kepentingan evaluasi lahan bisa dipilih dan ditentukan sesuai dengan keperluan dan kondisi wilayah setempat yang akan dievaluasi. Jumlah dan jenis kualitas serta karakteristik lahan sebagai parameter yang akan digunakan dalam evaluasi lahan pada skala kecil (tingkat tinjau skala 1:250.000) dengan skala besar (tingkat detail skala 1:10.000) sudah tentu berbeda. Parameter untuk evaluasi lahan pada survei tingkat tinjau, tentu lebih terbatas dibandingkan dengan untuk tingkat detail karena berkaitan dengan ketersediaan dan kualitas data pada masing-masing tingkat pemetaan tanah tersebut. Di dalam FAO (1976) diberikan contoh 4 kelompok kualitas lahan yang berpengaruh terhadap beberapa aspek sebagai berikut: a. Kualitas lahan yang berhubungan dan/atau berpengaruh terhadap hasil atau produksi tanaman, antara lain terdiri atas: Ketersediaan air Ketersediaan hara Ketersediaan oksigen dalam zona perakaran tanaman Media untuk perkembangan akar (kondisi sifat fisik dan morfologi tanah) Kondisi untuk perkecambahan

Kemudahan lahan untuk diolah (kemudahan untuk ditanami) Salinitas atau alkalinitas Toksisitas tanah (misalnya aluminium, pirit) Ketahanan terhadap erosi Hama dan penyakit tanaman yang berhubungan dengan kondisi lahan Bahaya banjir (frekuensi dan periode genangan) Rezim temperatur Energi Fradiasi dan foto periodisitas Bahaya unsur iklim terhadap pertumbuhan tanaman (angin, kekeringan) Kelembaban udara yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman Periode kering untuk pemasakan (ripening) tanarnan b. Kualitas lahan yang berhubungan dengan produktivitas hewan domestik, antara lain terdiri atas: Produktivitas lahan penggembalaan (merupakan pengaruh gabungan dari berbagai kualitas lahan dalam butir a di atas) Pengaruh buruk iklim terhadap ternak Hama dan penyakit endemik Nilai nutrisi dari lahan penggembalaan Toksisitas lahan penggembalaan Ketahanan terhadap degradasi vegetasi Ketahanan terhadap erosi pada kondisi lahan penggembalaan Ketersediaan air minum untuk ternak c. Kualitas lahan yang berhubungan dengan produktivitas hutan antara lain terdiri atas: Rata-rata penambahan spesies kayu per tahun (merupakan pengaruh gabungan dari berbagai kualitas lahan dalam butir a di atas) Jenis dan jumlah spesies kayu setempat (indigeneous) Faktor lokasi yang mempengaruhi pertumbuhan pohon muda Hama dan penyakit Bahaya kebakaran

d. Kualitas lahan yang berhubungan dengan manajemen dan masukan yang diperlukan, antara lain terdiri atas: Faktor terrain (keadaan medan) yang mempengaruhi pengelolaan lahan terutama bila mengunakan alat-alat mesin (mekanisasi), Faktor medan yang mempengaruhi pembuatan dan pemeliharaan jalan penghubung. Ukuran satuan pengelolaan potensial. Lokasi dalam hubungannya untuk penyediaan sarana produksi (input), dan pemasaran hasil (aspek ekonomi). Fasilitas yang berkaitan dengan aspek ekonomi merupakan penentu kesesuaian lahan secara ekonomi atau economy land suitability class (Rossiter, 1995). Dalam hal ini pertimbangannya adalah bagaimanapun berpotensinya suatu wilayah secara fisik, apabila tanpa ditunjang oleh sarana ekonomi yang memadai, maka tidak akan banyak memberikan konstribusi terhadap pengembangan wilayah tersebut. 2. Karakteristik Lahan Karakteristik lahan merupakan sifat lahan yang dapat diukur atau diduga. Menurut FAO(1976), karakteristik lahan terdiri atas: a. Karakteristik tunggal, misalnya total curah hujan, kedalaman tanah, lereng dan lain-lain. b. Karakteristik majemuk, misalnya permeabilitas tanah, drainase, kapasitas tanah menahan air, dan lain-lain. Setiap satuan peta lahan yang dihasilkan dari kegiatan survei dan/atau pemetaan sumber daya lahan, karakteristiknya dirinci dan diuraikan yang mencakup keadaan fisik lingkungan dan tanahnya. Data tersebut digunakan untuk keperluan interpretasi dan evaluasi lahan bagi komoditas tertentu. Setiap karakteristik lahan yang digunakan secara langsung dalam evaluasi lahan, biasanya saling berinteraksi satu sama lainnya. Oleh karena itu dalam melakukan interpretasi perlu dipertimbangkan atau

diperbandingkan antara lahan (kualitas lahan) dengan penggunaannya. Misalnya ketersediaan air sebagai kualitas lahan di daerah lahan kering, ditentukan oleh curah hujan rata-rata tahunan dan jumlah bulan kering, tetapi air yang dapat diserap tanaman sangat tergantung pula pada kualitas lahan lainnya seperti kondisi media perakaran, (yang ditentukan antara lain oleh tekstur tanah dan kedalaman zona perakaran tanaman yang dievaluasi). Dari berbagai kualitas lahan yang telah dikemukakan diatas untuk keperluan evaluasi lahan dirinci lagi secara sistematis dihubungkan dengan aspek agroekologi (agro-ecologiocal), pengelolaan (management), perbaikan lahan (land improvement), serta konservasi dan bahaya lingkungan atau conservation and environmental risk (FAO, 1983; Djaenudin et al, 1997). Dalam Tabel 7.1, disajikan contoh kualitas dan karakteristik lahan yang digunakan dalam Atlas Format procedures (CSR/FAO, 1983) yang juga digunakan dalam evaluasi lahan menggunakan komputer (Land Evaluation Computer System yang disingkat dengan LECS). Macam dan jumlah kualitas lahan dan karakteristik lahan dapat ditambah atau dikurangi sesuai dengan skala dan tujuan evaluasi serta kondisi lahan di daerah yaang di evaluasi. Penentuan nilai-nilai karakteristik lahan yang berhubungan dengan kedalaman tanah seperti tekstur, kedalaman efektif, kapasitas tukar kation (KTK), reaksi tanah atau derajat kemasaman (pH), unsur hara dalam tanah

(N, P2O5, K2O) yang disesuaikan dengan kedalaman zona perakaran dari tanaman yang dievaluasi. Sebagai contoh untuk tanaman semusim yang berakar serabut (monokotil) cukup sampai kedalaman 30 cm, tetapi untuk berbagai tanaman tahunan yang berakar tunggang (dikotil) perlu lebih dalam (biasanya sampai kedalaman antara 60 sampai 100 cm). Untuk kualitas lahan retensi hara (KTK pH) dan ketersediaan hara karena relatif mudah diatasi tidak merupakan pembatas utama, sehingga hasil penilaian kalau ada pembatas tersebut tidak akan menjatuhkan pada kelas N (tidak sesuai).

3.

Sifat-sifat Penciri (Diagnostic Criterion)

Sifat-sifat penciri (diagnostic criterion) adalah variabel yang telah diketahui mempunyai pengaruh nyata terhadap masukan-keluaran yang diperlukan untuk penggunaan tertentu, dan digunakan sebagai dasar untuk menafsirkan kesesuaian lahan untuk jenis penggunaan lahan tersebut. Variabel ini dapat berupa kualitas lahan (land quality), karakteristik lahan (land chalacteristics) atau fungsi dari beberapa karakteristik lahan. Untuk masing-masing sifat penciri, perlu ditentukan pengharkatannya bagi masing-masing kelas kesesuaian lahan. Kualitas lahan ketersediaan oksigen di daerah perakaran tanaman misalnya, dapat diestimasi dari sering tidaknya daerah tersebut tergenang air, yang dicerminkan oleh kelas drainasenya. Kualitas lahan ketersediaan air dapat dihitung dari curah hujan, evapotranspirasi, tersedianya air irigasi dan sebagainya. 4. Syarat-syarat Penggunaan Lahan dan Sifat Pembatas Syarat-syarat penggunaan lahan adalah pengelompokan kualitas lahan yang menentukan produksi dan pengeloraan suatu jenis penggunaan lahan. Sifat-sifat pembatas adalah kualitas lahan yang mempunyai pengaruh yang merugikan bagi suatu jenis penggunaan lahan. 5. Perbaikan Lahan Perbaikan lahan (land improvement) adalah kegiatan-kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan yang menguntungkan terhadap kualitas lahan. Dibedakan atas perbaikan besar dan kecil. Perbaikan besar (major land improvement) merupakan perbaikan yang besar dan permanen, misalnya pembuatan jaringan irigasi, atau pembuatan saluran-saluran drainase di daerah rawa, yang tentu saja memerlukan biaya investasi yang sangat tinggi.

Perbaikan kecil (minor land improvement) adalah perbaikan yang relatif mempunyai pengaruh yang kecil atau yang tidak permanen, yang dapat dilakukan sendiri oleh petani. Contohnya adalah, perbaikan pematang sawah, pemungutan batu-batu di permukaan, pemberantasan gulma dan sebagainya.

7.6.3 Persyaratan penggunaan Lahan/ persyaratan Tumbuh Tanaman


Persyaratan Penggunaan Lahan dari sebuah tipe penggunaan lahan (LUT) adalah suatu perangkat kualitas lahan yang dibutuhkan agar tipe penggunaan lahan yang spesifik dapat berfungsi dengan baik. persyaratan tersebut dapat berupa persyaratan ekologis, pengelolaan, konservasi dan perbaikan. Semua jenis komoditas, termasuk tanaman pertanian, peternakan, dan perikanan yang berbasis lahan, untuk dapat tumbuh atau hidup dan berproduksi memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu, yang mungkin berbeda satu sama lain. Persyaratan tersebut terutama terdiri atas energi radiasi, temperatur (suhu), lengas (kerembaban), oksigen, dan hara. Persyaratan temperatur dan kelembaban umumnya digabungkan, dan selanjutnya disebut sebagai periode pertumbuhan (FAO,1983). Persyaratan tumbuh tanaman lainnya adalah yang tergolong sebagai kualitas lahan media perakaran. Media perakaran ditentukan oleh drainase, tekstur, struktur dan konsistensi tanah, serta kedalaman efektif tanah. Pada umumnya tanaman menghendaki drainase yang baik sehingga aerasi tanah cukup baik. Dengan demikian akan tanah cukup tersedia oksigen dalam tanah dan akar tanaman dapat berkembang dengan baik serta mampu menyerap unsur hara secara optimal. Selain itu terdapat tanaman yang memerlukan drainase terhambat seperti jenis tanaman air (padi sawah). Persyaratan tumbuh atau persyaratan penggunaan lahan yang diperlukan oleh masing-masing komoditas (pertanian, peternakan dan perikanan, kehutanan) mempunyai batas kisaran minimum, optimum, dan maksimum. Untuk menentukan kelas kesesuaian lahan, persyaratan

tersebut dijadikan dasar dalam menyusun kriteria kelas kesesuaian lahan, yang dikaitkan dengan kualitas dan karakteristik lahan. Kualitas lahan yang optimum bagi kebutuhan tanaman atau penggunaan lahan tersebut merupakan batasan bagi kelas kesesuaian lahan yang paling sesuai (s1). Sedangkan kualitas lahan yang di bawah optimum merupakan batasan kelas kesesuaian lahan antara kelas yang cukup sesuai (s2), dan atau sesuai marginal (s3). Di luar batasan tersebut di atas merupakan lahanlahan yang secara fisik tergolong tidak sesuai (N). ***

VIII
KLASIFIKASI KESESUAIAN LAHAN FAO

esesuaian lahan adalah kecocokan suatu lahan untuk penggunaan tertentu, sebagai contoh lahan untuk irigasi, tambak, pertanian tanaman tahunan atau pertanian tanaman semusim. Lebih spesifik lagi kesesuaian lahan tersebut ditinjau dari sifat-sifat fisik lingkungannya, yang terdiri atas iklim, tanah, topografi, hidrologi dan atau drainase yang sesuai untuk usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif. Pengertian kesesuaian lahan (land suitability) sebagaimana dikemukakan dalam Bab 7 berbeda dengan kemampuan lahan (land capability). Kemampuan lahan lebih menekankan kepada kapasitas berbagai penggunaan lahan secara umum yang dapat diusahakan di suatu wilayah. Jadi semakin banyak jenis tanaman yang dapat dikembangkan atau diusahakan di suatu wilayah, semakin tinggi kemampuan lahan tersebut. Misalnya suatu lahan yang topografi atau reliefnya datar, tanahnya dalam, tidak terpengaruh oleh banjir dan iklimnya cukup basah,

biasanya memiliki kemampuan lahan yang cukup baik untuk pengembangan tanaman semusim maupun tanaman tahunan. Namun jika kedalaman tanahnya kurang dari 50 cm, lahan tersebut hanya mampu untuk mengembangkan tanaman semusim atau tanaman lain yang mempunyai mintakat perakaran dangkal. Sedangkan kesesuaian lahan adalah kesesuaian dari satu bidang lahan untuk tujuan penggunaan atau komoditas spesifik, misalnya padi, jagung, kedelai, kelapa sawit, rambutan, durian, mahoni, akasia, meranti dan sebagainya.

8.1 Struktur Klasifikasi Kesesuaian Lahan FAO (1976)


Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu bidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Kelas kasesuaian lahan suatu kawasan dapat berbeda-beda, tergantung pada penggunaan lahan yang dikehendaki. Klasifikasi Kesesuaian Lahan menyangkut perbandingan (matching) antara kualitas Iahan dengan persyaratan penggunaan lahan yang diinginkan. Struktur klasifikasi kesesuaian lahan, menurut kerangka kerja FAO (1976), terdiri atas 4 katagori, yaitu: 1. Ordo (Order) : menunjukkan keadaan kesesuaian secara umum. 2. Kelas (Class) : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo. 3. Sub-kelas : menunjukkan keadaan tingkatan dalam kelas yang didasarkan pada jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas. 4. Satuan (Unit) : menunjukkan tingkatan dalam subkelas didasarkan pada perbedaan-perbedaan kecil yang berpengaruh dalam pengelolaannya.

8.1.1 Kesesuaian Lahan pada Tingkat Ordo


Ordo kesesuaian lahan, menurut kerangka-kerja avaluasi lahan FAO (1976), dibedakan atas: 1. Ordo S : Sesuai (Suitable)

Lahan yang termasuk dalam ordo ini dapat digunakan untuk penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Dengan kata lain, keuntungan lebih besar dari masukan yang diberikan. 2. Ordo N : Tidak Sesuai (Not suitable) Lahan yang termasuk dalam ordo ini mempunyai pembatas demikan rupa sahingga mencegah penggunaan secara lestari untuk suatu tujuan yang direncanakan. Lahan dapat digolongkan tidak sesuai untuk penggunaan tertentu karena beberapa alasan. Hal ini dapat terjadi karena panggunaan lahan yang diusulkan secara teknis tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, misalnya membangun irigasi pada lahan curam yang berbatu, atau karena dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang parah, seperti penanaman pada lereng yang curam. Seringkali pula didasarkan pada pertimbangan ekonomi yaitu nilai keuntungan yang diharapkan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan.

8.1.2 Kesesuaian pada Tingkat Kelas


Kelas kesesuaian lahan merupakan pembagian lebih lanjut dari Ordo dan menggambarkan tingkat kasesuaian dari suatu ordo. Tingkat dalam kelas ditunjukkan oleh angka (nomor urut) yang ditulis di belakang simbol ordo. Nomor urut tarsebut menunjukkan tingkatan kelas yang menurun dalam suatu Ordo. Pada dasarnya jumlah kalas dalam tiap Ordo tidak terbatas, tetapi dianjurkan untuk memakai 3 (tiga) kelas dalam Ordo S dan 2 (dua) kelas dalam Ordo N. Pembagian dan definisi secara kualitatif masing-masing kelas jika menggunakan 3 kelas untuk ordo sesuai dan 2 kelas untuk ordo tidak sesuai, adalah sebagai berikut: Kelas S1 : sangat sesuai (highly suitable)

Lahan tidak mempunyai pembatas yang berat untuk penggunaan secara lestari atau hanya mempunyai pembatas tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi serta tidak menyebabkan kenaikan masukan yang diberikan pada umumnya. Kelas S2 : cukup sesuai (moderately suitable) Lahan mempunyai pembatas agak berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan, serta meningkatkan masukan yang diperlukan. Kelas S3 : Sesuai Marginal (Marginally Suitable) Lahan mempunyai pambatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan. Perlu ditingkatkan masukan yangdiperlukan. Dalam klasifikasi lahan kuantitatif, masukan dan keuntungan barus dinyatakan dengan istilah-istilah umum yang dapat diukur, yaitu pada umumnya menggunakan nilai ekonomi. Dalam lingkungan yang berbeda, variabel-variabel mengenai tingkat kesesuaian dapat dinyatakan secara lebih tegas misalnya kisaran penghasilan bersih yang diharapkan per satuan luas atau per satuan pengelolaan yang baku atau keuntungan bersib per satuan air irigasi yang diterapkan pada berbagai jenis lahan yang berbeda untuk penggunaan tertentu. Kelas N1 : Tidak Sesuai Saat Ini (Currently not Suitable) Lahan mempunyai pembatas yang lebih berat, tapi masih mungkin untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pangetahuan sekarang ini dangan biaya yang rasional. Faktor-faktor pembatasnya begitu berat sehingga menghalangi keberhasilan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang. Kelas N2 : Tidak Sesuai Selamanya (Permanently not Suitable)

Lahan mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin digunakan bagi suatu panggunaan yang lestari.

8.1.3 Kesesuaian pada Tingkat Sub Kelas


Subkelas kesesuaian lahan menunjukkan jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam suatu kelas kesesuaian. Masing-masing kelas dapat dibagi manjadi satu atau lebih subkelas kesesuaian tergantung pada jenis pembatas yang ada. Jenis pembatas dicerminkan oleh simbol huruf kecil yang diletakkan setelah simbol kelas. Misalnya S2n, artinya lahan tersebut mempunyai kelas kesesuaian S2 (cukup sesuai) dengan pembatas n (ketersediaan bara). Untuk kelas S1 tidak ada pembagian subkelas. Jika terdapat lebih dari satu faktor pembatas, maka pembatas yang paling utama (dominan) ditempatkan lebih awal. Misal S2tn berarti lahan tersebut mempunyai kelas S2 dengan faktor pembatas yang dominan, yaitu t (lereng) dan faktor pembatas tambahan, yaitu n (ketersediaan hara).

8.1.4 Kesesuaian pada Tingkat Unit


Kesesuaian pada tingkat unit merupakan pembagian lebih lanjut dari subkelas kesesuaian lahan yang didasarkan atas besarnya faktor pembatas. Dengan demikian, semua unit dari subkelas yang sama memiliki tingkat kesesuaian yang sama dalam kelas dan memiliki jenis pembatas yang sama pada tingkat subkelas. Perbedaan antara satu unit dengan unit yang lain merupakan perbedaan dalam sifat-sifat atau gatra tambahan dari pengelolaan yang diperlukan dan seringkali merupakan perbedaan detail dari pembataspembatasnya. Jumlah unit dalam sub-kelas tidak dibatasi. Pemberian simbol kesesuaian lahan pada tingkat unit dilakukan dengan angka setelah simbol subkelas yang dipisahkan oleh tanda penghubung, misalnya S2n-1, S2n-2.

8.1.5 Kesesuaian Bersyarat (Conditionally Suitable)


Penunjukkan kesesuaian bersyarat dilakukan dalam hal-hal tertentu untuk menyingkat atau menyederhanakan penyajian. Hal ini perlu dilakukan untuk melayani kondisi dimana suatu daerah dari lahan yang sempit di daerah survei yang mungkin tidak sesuai atau kurang sesuai untuk penggunaan tertentu dibawah pengelolaan tertentu bagi penggunaan tcrsebut, tetapi akan menjadi sesuai jika kondisi-kondisi tertentu dipenuhi. Pada dasarnya Sesuai Bersyarat merupakan fase dari ordo Sesuai, yang ditandai dengan huruf kecil c di antara simbol ordo dan kelas misalnya Sc2. Fase Sesuai Bersyarat (yang dibagi ke dalam kelas jika memang diperlukan), selalu ditempatkan dibagian bawah (terakhir) dari daftar dalam kelas S. Fase menunjukkan kasesuaian jika kondisi (e) telah dipenuhi. Menurut FAO (1976), sedapat mungkin pengunaan fase bersyarat ini dihindari dalam survei tanah, kecuali jika: a. Tanpa adanya kondisi yang dipenuhi, maka lahan tersebut termasuk tidak sesuai atau termasuk ke dalam kelas sesuai yang paling rendah. b. Jika kondisi dipenuhi (misalnya dengan melakukan perbaikan terhadap faktor pembatas), maka kelas kesesuaian lahan menjadi nyata meningkat (biasnya paling sedikit meningkat 2 kelas). c. Jika dibandingkan dengan luas daerah survei secara keseluruhan, maka luas lahan yang sesuai bersyarat tersebut sangat kecil.

8.2 Prosedur Evaluasi Lahan


Dalam evaluasi lahan, suatu daerah yang akan dievaluasi, harus dibagi ke dalam beberapa satuan peta lahan (SPL) yang merupakan daerah yang dipetakan dengan karakteristik ter-tentu. Biasanya SPL ini, didasarkan atas satuan peta tanah (SPT) dari hasil survei tanah. Seperti halnya satuan peta tanah, maka satuan peta lahan (SPL) jarang yang benar-benar homogen, oleh karena itu dibedakan atas: SPL tunggal: mengandung hanya satu jenis lahan. SPL majemuk: mengandung lebih dari satu jenis lahan. Selain SPL, dikenal pula istilah satuan evaluasi lahan (SEL) yang merupakan satuan yang menawarkan kemungkinan yang sama untuk tipe penggunaan lahan yang spesifik. Hubungan antara SPL dan SEL disajikan dalam Gambar 8.1.

Data yang diperlukan dalam evaluasi lahan meliputi data iklim, tanah (termasuk lereng, relief, drainase dan lain-lain) serta S data tanaman. Data iklim meliputi data stasiun, iklim (nama, lokasi, elevasi dan sebagainya), serta data curah-hujan, suhu, lengas, evaporasi (rata-rata bulanan dan tahunan). Data tanah yang diperlukan meliputi komposisi satuan peta lahan (SPL), sebaran SPL (administrasi, lembar peta, luasan) serta satuan evaluasi lahan (komposisi satuan tanah dalam masing-masing SPL dan sebaran masing-masing SPL. Data tanaman meliputi data referensi persyaratan tumbuh dan pengelolaannya. tentang tanaman,

Data tanah dan data iklim setiap SPL dikalompokkan ke dalam kualitas lahan masmg-masing satuan tanah dalam SPL tersebut. Persyaratan tumbuh setiap tanaman yang akan dievaluasi dibuat dalam tabel persyaratan tumbuh (contoh dalam Tabel 8.2.). Dengan melakukan 'matching' (pembandingan) antara kualitas lahan dan persyaratan tumbuh tanaman, akan dapat ditentukan kelas kesesuaian lahan dari suatu SPL. Pada Tabel 8.3 diberikan contoh cara penentuan kelas suatu satuan peta

lahan (SPL Tm 32), untuk tanaman jagung. Rating kesesuaian ditentukan berdasarkan tabel persyaratan tumbuh tanaman (Tabel 8.2).

8.3 Ragam Klasifikasi Kesesuaian Lahan FAO


Dalam kerangka kerja evaluasi lahan FAO (1976), dikenal empat macam klasifikasi kesesuaian lahan, yaitu: Kesesuaian lahan yang bersifat kualitatif. Kesesuaian lahan yang bersifat kuantitatif. Kesesuaian lahan aktual.

Kesesuaian lahan potensial. Masing-masing klasifikasi kesesuaian lahan merupakan penilaian dan pengelompokan satuan lahan dalam pengertian kesesuaian untuk penggunaan tertentu.

8.3.1 Klasifikasi Kualitatif dan Kuantitatif 1. Klasifikasi kesesuaian lahan kualitatif


Klasifikasi kesesuaian lahan kualitatif merupakan kesesuaian lahan untuk suatu penggunaan tertentu yang dinyatakan dalam istilah kualitatif tanpa perhitungan yang teliti dari biaya dan pendapatan. Klasifikasi kualitatif terutama didasarkan pada potensi produksi fisik lahan, dengan gatra ekonomi hanya sebagai latar belakang belaka. Klasifikasi kualitatif biasanya diterapkan dalam survei skala tinjau (1: 250.000) yang dimaksudkan sebagai penilaian umum dari suatu daerah yang luas. 2. Klasifikasi kesesuaian lahan kuantitatif Klasifikasi kesesuaian lahan kuantitatif merupakan kesesuaian untuk penggunaan tertentu yang didasarkan atas faktor-faktor fisik dan pertimbangan ekonomi (biaya produksi dan keuntungan yang diperoleh).

Klasifikasi kuantitatif umumnya diterapkan pada proyek pembangunan tertentu, seperti studi yang berkaitan dengan proyekproyek yang memerlukan penanaman modal yang besar. Evaluasi kualitatif memungkinkan intuisi untuk mengintegrasikan berbagai aspek keuntungan sosial, lingkungan maupun ekonomi, yang tidak dapat dilakukan pada evaluasi kuantitatif. Meskipun demikian, klasifikasi kuantitatif menyediakan data sebagai dasar untuk menghitung keuntungan bersih ataupun parameter ekonomi lainnyadari daerah yang berbeda, serta pada penggunaan lahan yang berbeda. Klasifikasi kuantitatif umunya cepat mengalami kedaluwarsa daripada klasifikasi kualitatif, karena perubahan biaya dan keuntungan dapat terjadi dengan cepat.

8.3.2 kesesuaian lahan aktual dan potensial


1. kesesuaian lahan aktual kesesuaian lahan aktul disebut juga kesesuaian lahan saat ini (current suitability) atau kesesuaian lahan alami. Kesesuaian ini menunjukan kesesuaian pada kondisi saat dilakukan evaluasi lahan, tanpa perbaikan yang berarti dan tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala atau faktor pembatas yang ada dalam suatu lahan (satuan peta lahan). Faktor-faktor pembatas dalam evaluasi lahan di bedakan atas faktor pembatas yang bersifat permanen dan non-permanen (dapat diperbaiki). Faktor pembatas yang bersifat permanen merupakan pembatas yang tidak memungkinkan untuk diperbaiki dan kalaupun dapat diperbaiki, secar ekonomis sangat tidak menguntungkan. Faktor pembatas yang dapat diperbaiki merupakan pembatas yang mudah diperbaiki dan secara ekonomis masih dapat memberikan keuntungan dengan masukan teknologi yang tepat. 2. Kesesuaian Lahan Potensial Kesesuaian lahan potensial menunjukan kesesuaian terhadap penggunaan lahan yang ditentukan dari satuan lahan dalam keadaan yang akan dicapai,

setelah diadakan itu usaha-usaha perbaikan tertentu yang diperlukan, terhadap faktor-faktor pembatasnya. Dalam hal ini hendaklah diperinci faktor-faktor ekonomis yang disertakan dalam menduga biaya yang diperlukan untuk perbaikan-perbaikan tersebut. Jenis usaha perbaikan karakteristik kualitas lahan yang akan dilakukan disesuaikan dengan tingkat pengelolaan yang akan diterapkan . Tabel 8.4 menyajikan jenis-jenis perbaikan dan tingkat pengelolaan yang diperlukan untuk memperbaiki beberapa karakteristik kualitas lahan, sedangkan Tabel 8.5 menyajikan asumsi tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk beberapa kualitas/ karakteristik lahan. Kegiatan matching dapat dilakukan secara manual maupun dengan bantuan komputer. Jika dilakukan secara manual akan memakan waktu yang sangat lama. Untuk membantu proses 'matching', dapat digunakan program Excell dari MS Office atau jenis spreadsheet yang lain. Beberapa pakar mencoba menyusun suatu program komputer untuk mempercepat proses ini serta menyusun suatu basis data yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukanevaluasi lahan. Beberapa contoh program komputer tersebut misalnya program LECS (Wood dan Dent, 1983) dan ALES (Rossiter dan Wambeke (1994). Evaluasi lahan menggunakan komputer dengan program ALES akan dibahas dalam Bab 12.

Keterangan : Tingkat pengelolaan rendah: pengelolaan dapat diilakukan oleh petani dengan biaya yang relatif rendah. Tingkat pengelolaan sedang: pengelolaan dapat dilakukan pada tingkat petani menengah, memerlukan modal yang cukup besar dan teknik pertanian sedang. Tingkat pengelolaan tinggi: pengelolaan hanya dapat dilakukan dengan modal yang relatif besar, umumnya dilakukan oleh pemerintah atau perusahaan besar atau menengah.

Keterangan :
- tidak dapat digunakan perbaikan + perbaikan dapat dilakukan dan akan dihasilkan kenaikan kelas satu tingkat lebih tinggi (S3 menjadi S2) ++ kenaikan kelas dua tingkat lebih tinggi (S3 menjadi S1) +++ kenaikan kelas tiga tingkat lebih tinggi (N1 menjadi S1)

8.4 Hasil Evaluasi Kesesuaian Lahan


Hasil evaluasi lahan menurut FAO (1976) biasanya mencakup beberapa jenis informasi seperti dikemukakan di bawah ini, dimana cakupan masing-masing informasi tersebut tergantung dari skala dan intensitas kajian.

1. Kaitan fisik, sosial dan ekonomi yang mendasari dilakukannya evaluasi. Hal ini menyangkut data dan asumsi. 2. Deskripsi tipe pengunaan lahan atau macam utama penggunaan lahan yang relevan dengan daerah survei. Semakin intensif tingkat kajian, semakin detail dan akurat deskripsi tersebut. 3. Peta, tabel dan bahan-bahan berupa naskah harus memperlihatkan tingkat kesesuaian satuan peta lahan dari masing-masing macam penggunaan lahan yang dinilai, beserta kriteria pencirinya. Masingmasing macam penggunanan lahan dievaluasi secara terpisah. Contoh peta keseuaian lahan disajikan dalam Gambar 8.2 dan Tabel 8.8. 4. Spesifikasi tingkat pengelolaan dan perbaikan masing-masing LUT harus ditentukan untuk setiap satuan peta lahan (SPL) yang sesuai. Semakin detail survei, semakin rinci dan semakin akurat pula spesifikasi tersebut. Pada survei semi-detail kebutuhan akan drainase harus dijelaskan, sedangkan pada survei detail, sifat dan biaya pembuatan saluran drainase harus dikemukakan. 5. Analisis ekonomi dan sosial sebagai akibat beragamnya jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan. 6. Data dan peta dasar yang menjadi pertimbangan dalam evaluasi. Hasilnya, terutama klasifikasi kesesuaian lahan, didasarkan pada berbagai informasi yang penting bagi pengguna individu. Informasiinformasi tersebut harus tersedia baik sebagai lampiran dari laporan utama atau sebagai dokumentasi tersendiri. 7. Informasi tingkat kepercayaan dari estimasi kesesuaian lahan. Informasi ini berkaitan langsung dengan keputusan perencanaan. Juga membantu langkah-langkah ke arah perbaikan klasifikasi kesesuaian lahan berikutnya, dengan menunjukan beberapa kelemahan dari data dan aspek-aspek yang harus dilengkapi dalam penelitian selanjutnya.

8.5 Prosedur Evaluasi Lahan


Menurut FAO (1976), kegiatan utama dalam evaluasi lahan adalah sebagai berikut: 1. Konsultasi pendahuluan 2. Identifikasi jenis penggunaan lahan yang dipertimbangkan dan persyaratan-persyaratan yang diperlukan

3. 4. 5. 6. 7.

Deskripsi satuan peta lahan dan kualitas lahan Pembandingan penggunaan lahan dengan lahan Klasifikasi kesesuaian lahan Penyajian hasil evaluasi Di bawah ini diuraikan lebih rinci masing-masing kegiatan tersebut.

8.5.1 Konsultasi Pendahuluan


Konsultasi antara pihak perencana yang menghendaki studi evaluasi lahan dengan organisasi yang melaksanakan evaluasi lahan merupakan tahap awal yang sangat panting dalam suatu evaluasi lahan. Kedua pihak harus menyepakati tujuan survei dan jenis evaluasi untuk mencapai tujuan tersebut. TOR dibuat lebih fleksibel sehingga memungkinkan beberapa kali modifikasi yang disesuaikan dengan temuan-temuan selama pelaksanaa survei. Beberapa di antara yang harus diputuskan dalam tahap ini adalah: Tujuan evaluasi. Data dan asumsi yang akan digunakan sebagai dasar dalam melakukan evaluasi. Luasan dan batas daerah yang akan dievaluasi. Jenis penggunaan lahan yang yang relevan untuk dipertimbangkan. Penetapan untuk menggunakan pendekatan dua tahap atau paralel. Jenis klasifikasi kesesuaian lahan yang akan di gunakan. Skala dan intensitas survei. Tahap-tahap kegiatan dalam evaluasi. Dalam LREP II di kemukakan beberapa hal yang perlu dinyatakan dalam asumsi evaluasi lahan semi-detail sebagai berikut: Prosedur evaluasi lahan: secara fisik atau lainnya Data: merupakan data tapak (site) atau rata-rata dari SPL Kependudukan, sosial budaya: tidak dipertimbangkan dalam evaluasi. Infrastruktur dan assesibilitas: tidak dipertimbangkan.

Pemilikan tanah: tidak dipertimbangkan. Tingkat pengelolaan: dibedakan atas rendah, sedang, dan tinggi. Dijelaskan pula kriteria dari masing-masing tingkatdan usaha perbaikan yang dapat dilakukan untuk mencapai kesesuaian lahan potensial. Aspek ekonomi: hanya pertimbangan secara garis-besar, termasuk dalam aspek ekonomi adalah faktor pemasaran, nilai-nilai inputoutput serta keuntungan bersih.

8.5.2 Jenis Penggunaan Lahan yang Dipertimbangkan dan Persyaratan yang Diperlukan
1. Deskripsi jenis penggunaan lahan Beberapa kendala terhadap rentang penggunaan lahan yang relevan untuk dipertimbangkan ditentukan oleh tujuan dan asumsi. Ada 2 situasi yang dapat dijumpai yaitu : Jenis penggunaan lahan ditentukan pada awal prosedur evaluasi. Jenis penggunaan lahan secara garis-besar ditentukan pada awal prosedur evaluasi, tetapi dapat di modofikasi dan di sesuaikan sejalan dengan temuan dilapangan. Situasi pertama dijumpai pada survei kualitatif yang dimaksudkan untuk untuk mengevaluasi jenis penggunaan lahan utama (major kind of land use) . jenis penggunaan lahan ini juga diterapkan pada studi untuk menentukan lahan hanya untuk satu Tipe Penggunaan Lahan (TPL) atau yang jumlah TPL-nya terbatas, misalnya untuk pohon buah-buahan beririgasi atau untuk hutan lindung dan lain-lain. Situasi kedua diterapkan pada proyek pembukaan lahan yang mencakup berbagai macam usaha pertanian, peternakan, dan kehutanan. Pada awalnya TPL dinyatakan dalam istilah yang umum, misalnya pertanian untuk petani kecil (smallholder). Dengan teman-temuan selama survei,dilakukan penentuan yang lebih rinci mengenai jenis tanaman yang akan diusahakan, rotasi tanaman, tindakan konservasi tanah yang akan diterapkan, luasan lahan petani yang optimal dan lain-lain, sehingga pada

akhir studi LUT diuraikan secara lebih rinci. Dalam praktiknya, kedua situasi tersebut tidak terlalu tegas perbedaannya. 2. Identifikasi Persyaratan dan Kendala Penggunaan Lahan Setiap jenis penggunaan lahan memerlukan kondisi lingkungan yang berbeda untuk dapat berproduksi secara lestari dan menguntungkan dari segi ekonomi. Misalnya kebanyakan tanaman tahunan memerlukan ketersediaan lengas sepanjang tahun dalam zona perakarannya, padi irigasi memerlukan lahan yang datr atau dapat di datarkan dengan biaya yang layak, dan hutan memerlukan tempat berpijak tertentu untuk perakarannya, sekalipuan tanaman hutan biasanya toleran pada lereng curam. Pembatas untuk masing-masing LUT merupakn persyaratan yang harus diperhatikan selama melakukan survei. Kunjungan Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx xx

I -l

bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas tanah masih tetap diperlukan.

9.3.2 Kelas II
Tanah-tanah dalam kelas II memiliki beberapa kendala yang mengurangi pilihan penggunaannya atau memerlukan praktik/tindakan konservasi yang sedang.

Tanah-tanah dalam kelas ini membutuhkan pengelolaan tanah secara hati-hati, termasuk tindakan konservasi tanah untuk mencegah kemerosotan tanah atau untuk meningkatkan hubungan air dan udara jika tanah digunakan pertanian. Faktor penghambat pada kelas II adalah sedikit, dan tindakan yang diperlukan mudah dilakukan. Tanah-tanah ini dapat gunakan untuk tanaman semusim, padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung dan cagar alam. Penghambat yang ada dalam kelas II adalah salah satu atau kombinasi dari pengaruh berikut: (1) lereng landai, (2) kepekaan erosi atau bahaya erosi sedang atau telah mengalami erosi sedang, (3) kedalaman efektif tanah agak dalam, (4) struktur tanah dan kemampan tanah untuk diolah agak kurang baik, (5) salinitas ringan sampai sedang atau terdapat garam natrium yang mudah diatasi, tetapi mungkin dapat timbul kembali, (6) kadang-kadang mengalami luapan air (banjir) yang merusak, (7) kelebihan air yang dapat diatasi dengan drainase, tetapi air tetap ada sebagai pembatas yang tingkatannya sedang, dan (8) keadaan iklim agak kurang sesuai bagi tanaman dan pengelolaan. Tanah-tanah dalam kelas ini mungkin memerlukan sistem penanaman konservasi khusus, tindakan-tindakan pencegahan erosi, pengendarian air yang berlebihan, atau metode pengolahan tanah jika akan digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman yang memerlukan pengolahan tanah. Misalnya, tanah yang dalam dengan lereng landai dan memiliki bahaya erosi sedang jika digunakan untuk tanaman semusim mungkin memerlukan salah satu atau kombinasi tindakan-tindakan berikut: teras, penanaman dalam bidang-bidang teratur (strip-cropping), pengolahan menurut kontur, pergiliran tanaman deengan rumput dan tanaman legum, mulsa, pemupukan dan pengapuran.

9.3.3 Kelas III


Tanah-tanah dalam kelas III mempunyai kendala yang berat sehingga mengurangi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan konservasi khusus atau keduanya.

Tanah-tanah dalam kelas III mempunyai pembatas yang lebih berat dari tanah-tanah kelas II dan jika digunakan untuk tanaman yang memerlukan pengolahan tanah, tindakan konservasi yang diperlukan biasanya lebih sulit diterapkan dan dipertahankan. Lahan kelas III dapat digunakan untuk tanaman semusim, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung, dan suaka margasatwa. Kendala yang terdapat pada tanah dalam kelas III adalah terbatasnya waktu penggunaan dan waktu pengolahan, pilihan jenis tanaman bagi tanaman semusim atau kombinasi dari ketiganya. Kendalakendala tersebut dapat disebabkan oleh salah satu atau lebih dari sifat berikut: (1) lereng yang agak curam, (2) peka terhadap erosi atau telah mengalami erosi yang agak berat, (3) seringkali mengalami banjir yang merusak tanaman, (4) lapisan bawah tanah berpermeabilitas sangat lambat, (5) terlalu basah atau terus-menerus jenuh air setelah didrainase, (6) kedalaman yang dangkal terhadap batuan, lapisan padas keras (hardpan), fragipan atau claypan yarrg menghambat perakaran dan simpanan air, (7) kapasitas menahan air rendah, (8) tingkat kesuburan rendah dan tidak mudah diatasi, (9) salinitas atau kandungan natrium sedang, atau(10) hambatan iklim sedang. Tanah yang selalu basah, berpemeabililas rendah tetapi hampir datar, termasuk dalam kelas III. Jika diusahakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian, tanah ini memerlukan drainase dan pengelolaan tanah yang dapat memelihara atau memperbaiki struktur sehingga memudahkan pengolahan tanah.Untuk menghindari terjadinya pelumpuran dan pemadatan serta memperbaiki permeabilitas tanah, tambahan bahan organik dan disarankan untuk tidak mengolah tanah dalam keadaan basah. Di beberapa daerah beririgasi, beberapa tanah kelas III memiliki penggunaan yang terbatas karena muka air-tanah dangkal, permeabilitas rendah dan adanya bahaya akumulasi garam atau sodik.

9.3.4 Kelas IV

Tanah-tanah dalam kelas IV mempunyai kendala yang sangat berat sehingga membatasi pilihan penggunaan atau memerlukan tindakan pengelolaan yang sangat hati-hati atau keduanya. Faktor penghambat dan bahaya kerusakan pada tanah-tanah di dalam lahan kelas IV lebih berat daripada tanah-tanah di dalam kelas III, sehingga pilihan penggunaannya juga lebih terbatas. Jika digunakan untuk semusim, tanah ini memerlukan pengelolaan yang lebih hati-hati dan tindakan konservasi yang lebih sulit untuk diterapkan dan dipertahankan. Tanah di dalam kelas IV dapat digunakan untuk tanaman semusim dan tanaman pertanian, padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau suaka alam. Tanah-tanah kelas IV mungkin hanya cocok untuk dua atau tiga macam tanaman pertanian atau tanaman yang memiliki produksi rendah. Beberapa kendala disebabkan oleh salah satu atau kombinasi faktor-faktor berikut: (1) lereng curam, (2) sangat peka terhadap erosi, (3) telah mengalami masalalu yang parah, (4) tanah dangkal, (5) kapasitas menahan air rendah, (6) sering tergenang yang menimbulkan kerusakan berat pada tanaman, (7) kelebihan air bebas dan bahaya genangan setelah didrainase, (8) salinitas atau kandungan natrium yang tinggi, dan (9) keadaan iklim yang cukup merugikan. 9.3.5 Kelas V Tanah-tanah dalam keras V tidak atau sedikit memiliki bahaya erosi, tetapi memiliki pembatas lain yang sulit dihilangkan sehingga pilihan penggunaannya menjadi sangat terbatas, yaitu untuk padang rumput, padang penggembalaan, hutan produksi atau suaka-alam. Tanah-tanah ini menyulitkan pengolahan tanah bagi tanaman semusim, biasanya. terletak pada topografi datar atau hampir datar, tetapi tergenang air, sering dilanda banjir, atau berbatu, atau iklim yang kurang mendukung, atau memiliki kombinasi penghambat tersebut. Ciri-cirinya adalah (1) terletak di dasar lembah yang sering kebanjiran sehingga sulit digunakan untuk penanaman tanaman semusim

secara normal, (2) tanah-tanah yang hampir datar tetapi keadaan iklim tidak memungkinkan tanaman untuk berproduksi secara normal, (3) hampir datar tetapi berbatu-batu, dan (4) tanah-tanah rawa yang tidak memungkinkan didrainase untuk tanaman semusim, akan tetapi dapat ditanami rumput atau tanaman pohon dengan pengelolaan yang tepat. 9.3.6 Kelas Vl Tanah-tanah dalam kelas VI memiliki penghambat yang berat sehingga tanah-tanah ini tidak sesuai untuk pertanian. Penggunaan tanah ini hanya terbatas untuk padang rumput atau padang penggembalaan, hutan produksi, hutan lindung atau cagar alam. Tanah-tanah dalam kelas VI mempunyai penghambat atau bahaya kerusakan yang tidak dapat dihilangkan, berupa salah satu atau kombinasi faktor-faktor berikut: (1) lereng curam, (2) bahaya erosi berat, (3) telah tererosi berat, (4) berbatu, (5) zona perakaran dangkal, (6) kelebihan air atau kebanjiran, (7) kapasitas menahan air rendah, (8) salinitas atau kandungan Na tinggi, atau (9) iklim yang tidak mendukung. Tanah-tanah kelas VI yang terletak pada lereng yang agak curam jika akan digunakan untuk penggembalaan dan hutan produksi harus dikelola dengan baik untuk menghindari erosi. Beberapa tanah di dalam kelas VI yang daerah perakarannya dalam, tetapi terletak pada lereng agak curam dapat digunakan untuk tanaman semusim dengan tindakan konservasi yang berat. Tergantung pada sifat-sifat tanah dan iklim setempat tanah dalam kelas VI dimungkinkan untuk hutan produksi. 9.3.7 Kelas VII Tanah-tanah dalam kelas VII memiliki pembatas yang berat sehingga tidak sesuai untuk pertanian dan penggunaannya sangat terbatas untuk padang rumput, hutan produksi dan suaka-alam. Jika tanah-tanah ini digunakan untuk padang rumput atau hutan produksi, maka harus dilakukan usaha pencegahan erosi yang berat. Tanah-tanah kelas VII memiliki beberapa penghambat atau bahaya

kerusakan yang berat dan tidak dapat dihilangkan, seperti (1) lereng sangat curam, (2) mengalami erosi sangat berat, dan (3) tanah dangkal, (4) berbatu, (5) tanah selalu tergenang (6) kandungan garam dan Na tinggi, (7) iklim yang tidak mendunkung, atau (8) pembatas-pembatas lain yang menyebabkan tidak sesuai untuk pertanian. 9.3.8 Kelas VIII Tanah dan landform dalam kelas VIII memiliki pembatas yang menghalangi penggunaan tanah ini untuk produksi tanaman secara komersial dan membatasi penggunaannya hanya untuk pariwisata dan suaka alam. Tanah-tanah ini sebaiknya dibiarkan dalam keadaan alami. Pembatas yang ada sulit atau tidak dapat diperbaiki akibat dari satu atau lebih sifat berikut: (1) erosi dan bahaya erosi sangat berat, (2) iklim sangat tidak mendukung, (3) tanah selalu basah, (4) sangat berbatu, (5) kapasitas menahan air sangat rendah, dan (6) salinitas dan kandungan Na tinggi. Contoh lahan kelas VIII adalah tanah-tanah yang telah rusak atau sangat terdegradasi (badland), tanah-tanah dengan singkapan batuan, pantai berpasir, tempat pembuangan sisa-sisa bahan tambang dan lahanlahan hampir gundul lainnya.

9.4 Subkelas Kemampuan Lahan


Subkelas merupakan pembagian lebih lanjut dari kelas dan dibedakan berdasarkan jenis faktor pembatas atau bahaya kerusakan. Subkelas merupakan pengelompokkan satuan-satuan kemampuan lahan yang mempunyai jenis pembatas atau bahaya dominan yang sama jika dipergunakan untuk pertanian sebagai akibat sifat-sifat tanah dan iklim. Beberapa tanah akan mengalami erosi jika tidak dilindungi, sedangkan tanah lainnya selalu tergenang atau kelebihan air secara alami sehingga harus didrainasekan agar dapat ditanami. Beberapa tanah memiliki kedalaman efektif yang dangkal atau mudah kekeringan atau memiliki kekurangan-kekurangan lain. Selain itu terdapat tanah yang terletak di

daerah yang mempunyai iklim yang tidak mendukung, sehingga membatasi penggunaan tanah. Ada beberapa jenis hambatan atau bahaya yang dikenal pada subkelas, yaitu bahaya erosi (e); keadaan drainase atau kelebihan air atau bahaya banjir (w); kedalaman efektif tanah menghambat perakaran (s); dan hambatan iklim(c). Subkelas memberikan informasi tentang tingkat dan jenis pembatas. Lahan atau tanah-tanah Keras I tidak memiliki subkelas, karena tidak memiliki pembatas yang berarti. Di bawah ini dijelaskan lebih rinci masing-masing faktor penghambat yang menentukan subkelas kemampuan lahan. Subkelas erosi (e), menunjukkan bahaya erosi atau tingkat erosi yang telah terjadi merupakan masalah utama. Bahaya erosi disebabkan oleh lereng yang curam dan kepekaan erosi (erodibilitas) tanah yang tinggi. Subkelas kelebihan air (w), menunjukkan bahwa tanah memiliki penghambat yang disebabkan oleh drainase buruk, atau kelebihan air dan bahaya banjir yang dapat merusak tanaman. Subkelas daerah perakaran (s), menunjukkan bahwa tanah memiliki penghambat di daerah perakaran, yang meliputi kedalaman tanah terhadap batu atau lapisan menghambat perkembangan akar, batuan di permukaan lahan , kapasitas menahan air yang rendah, sifat-sifat kimia yang sulit diperbaiki seperti salinitas atau kandungan natrium atau senyawa-senyawa kimia lainnya yang menghambat pertumbuhan dan sulit diatasi. Subkelas iklim (c), menunjukkan faktor iklim (temperatur dan curah hujan) yang tidak mendukung akan menjadi pembatas penggunaan lahan. Macam faktor penghambat tersebut ditulis di belakang angka kelas, misalnya IIe, IIIw, IVs dan lain-lain. Faktor penghambat atau bahaya yang disebabkan oleh bahaya erosi, kelebihan air, tanah dangkal, berbatu,

kapasitas menahan air yang rendah, salinitas atau kandungan garam, dapat diubah atau sebagian dapat diatasi dan merupakan pembatas yang didahulukan dari pada iklim dalam menentukan subkelas, dari subkelas diberikan pada tanda e, w atau s. Tanah-tanah yang tidak ada pembatas, kecuali iklim, ditandai dengan subkelas c. Apabila terdapat dua jenis penghambat bernilai sama yang dapat diperbaiki, maka penetapan subkelas dilakukan menurut prioritas berikut: e, w, s. Artinya jika suatu tanah di daerah beriklim basah memiliki bahaya erosi dan pembatas kelebihan air, maka tanah tersebut dimasukkan ke dalam subkelas e. Jika suatu tanah memiliki pembatas drainase dan kedalaman efektif dangkal, maka tanah tersebut dimasukkan ke dalam subkelas w. Tanah-tanah di daerah beriklim agak basah dan agak kering dengan bahaya erosi dan penghambat iklim dikelompokan dalam subkelas e. Tanah-tanah yang mempunyai penghambat perakaran dan iklim tanah dikelompokan dalam subkelas s. Jika suatu tanah memiliki dua penghambat, maka kedua penghambat tersebut dapat ditulisjika diperlukan untuk penggunaan secara lokal dengan menuliskan ygang dominan terlebih dahulu dan yang dominan ditulis terlebih dahulu.

9.5 Satuan Kemampuan (Capability Unit)


Satuan atau unit kemampuan lahan, memberikan informasi yang lebih spesifik dan terinci daripada subkelas. Satuan kemampuan merupakan pengelompokan lahan yang sama atau hampir sama kesesuaiannya bagi tanaman sehingga akan memerlukan pengelolaan yang sama atau memberikan tanggapan yang sama terhadap pengelolaan yang diberikan. Tanah-tanah yang dikelompokkan dalam satuan kemampuan yang sama harus memiliki keseragaman sifat-sifat tanah dan lingkungan yang mempengaruhi kualitas lahan sehingga akan mempunyai potensi dan penghambat yang sama. Lahan di dalam suatu satuan kemampuan memiliki sifat-sifat yang sama dalam (1) kemampuan memproduksi

tanaman pertanian atau rumput makanan tenak di bawah tindakan pengelolaan yang sarna, (2) kebutuhan akan tindakan konservasi dan pengelolaan yang sama di bawah vegetasi penutup yang sama, dan (3) kesetaraan dalam potensi produksi (perbedaan hasil rata-rata di bawah sistem pengelolaan yang sama tidak lebih dari 25 persen). Penulisan tingkat satuan kemampuan lahan, menggunakan tambahan angka Arab di belakang simbol sub-kelas, misalnya IIIw-1, IIe-2 dan sebagainya. Angka-angka tersebut menunjukkan besarnya tingkat dan faktor penghambat yang terdapat dalam subkelas tersebut.

9.6 Kriteria Klasifikasi


Pengelompokan dalam kelas kemampuan lahan diniiai untuk setiap satuan peta yang diperoleh dari hasil survei tanah. Dalam setiap satuan peta terdapat informasi tentang taksa tanah (pada kategori yang tergantung dari skala peta tanah) dan komponen lahan lainnya seperti bentuk lahan, lereng, hidrologi dan iklim dalam hubungannya dengan penggunaan lahan, pengelolaan dan produktivitas lahan. Informasi tersebut terdapat pada legenda peta. Kelas kemampuan di dasarkan atas tingkat atau intensitas dan jumlah faktor pembatas atau bahaya kerusakan yang mempengaruhi jenis penggunaan lahan, resiko kerusakan tanah jika salah kelola, keperluan pengelolaan tanah, dan resiko kegagalan tanaman. Untuk membantu klasifikasi, di perlukan kriteria yang jelas yang memungkinkan pengelompokan tanah pada setiap kategori, yaitu kelas, subkelas dan satuan kemampuan. Oleh karena pengaruh sifat-sifat dan kualitas lahan berbeda dengan sangat luas menurut iklim, maka kriteria disusun dengan asumsi meliputi berbagai tanah untuk iklim yang sama. Di bawah ini dikemukakan kriteria faktor pembatas yang menentukan kelas atau sub-kelas maupun satuan kemampuan lahan seperti dikemukakan oleh Arsyad (1989). Kriteria ini diharapkan dapat diterapkan untuk lahan-lahan di Indonesia.

9.6.1 lklim

Ada dua komponen iklim yang paling mempengaruhi kemampuan lahan, yaitu temperatur dan curah hujan. Di daerah tropis, faktor yang memengaruhi temperatur udara adalah elevasi (ketinggian tempat dari permukaan laut). Braak (1928) dalam Mohr et al (1972) berdasarkan hasil penelitiannya di Indonesia memprediksi suhu menggunakan persamaan berikut: T=26.30C - 0.61h Keterangan: T = temperatur (0C);

26.3C = temperatur rata-rata pada permukaan laut, h = ketinggian tempat dalam hektometer (100 meter).

Penyediaan air secara alami berupa curah hujan yang terbatas atau rendah di daerah agak basah (sub-humid), agak kering (semi-arid), dan kering (arid) memengaruhi kemampuan tanah. Oleh karena klasifikasi pada setiap lokasi didasarkan atas penampilan tanaman, maka pengaruh interaksi antara iklim dengan tanah harus diperhitungkan. Misalnya, di daerah iklim agak basah, tanah berpasir, dapat diklasifikasikan dalam VI atau kelas VII, sedangkan tanah yang mempunyai kapasitas menahan air sama di daerah yang beriklim lebih basah diklasifikasikan dalam kelas III atau IV. Di daerah beriklim kering, air hujan tidak cukup memenuhi kebutuhan tanaman. Oleh karena itu lahan beriklim kering hanya dapat diklasifikasikan sebagai kelas I, II, III, III atau IV jika masalah kekurangan air dapat diatasi dengan pemberian air irigasi. Jika masalah kekurangan air dihilangkan dengan cara ini, maka tanah diklasifikasikan menurut pengaruh sifat-sifat atau bahaya perrnanen lainnya yang merupakan masalah atau bahaya penggunaan setelah pembangunan fasilitas irigasi tersebut. Beberapa sistem klasifikasi iklim atau hujan dapat dipergunakan dalam menelaah masalah iklim. Di antara berbagai sistem tersebut yang

umum dipergunakan adalah sistem klasifikasi iklim Koppen, sistem klasifikasi tipe hujan Schmidt dan Ferguson, dan sistem klasifikasi agroiklim Oldeman (1975) dan Oldeman, Las dan Darwis (1979).

9.6.2 Lereng, Bahaya Erosi, dan Erosi yang Telah Terjadi


Kecuraman lereng, panjang lereng dan bentuk lereng (cekung atau cembung) dapat memengaruhi besarnya erosi dan aliran permukaan. Kecuraman lereng tercantum dalam legenda peta tanah. Panjang dan bentuk lereng tidak tercatat pada peta tanah, akan tetapi lereng seringkali dapat menjadi petunjuk jenis tanah tertentu dan pengaruhnya pada penggunaan dm pengelolaan tanah dapat dievaluasi sebagai bagian satuan peta. Jika data hasil penelitian tentang besarnya erosi di bawah sistem pengelolaan tertentu atau kepekaan tanah (nilai K) tersedia, maka data tersebut dapat digunakan untuk mengelompokkan tanah pada tingkat kelas. Pengelompokkan kecuraman lereng adalah sebagai berikut: A B C D E F G = < 3% (datar) = 3 8% (landai atau berombak) = 8 - 15%(agak miring atau bergelombang) = 15 30% (miring atau berbukit) = 30 45% (agak curam) = 45 65%(curam) = > 65% (sangat curam)

Kepekaan erosi tanah (nilai K) dibedakan atas: KE1 KE2 KE3 = 0,00 - 0,10 (sangat rendah) = 0,11- 0,20 (rendah) = 0,21- 0,32 (sedang)

KE4 KE5 KE6

= 0,38 - 0,48 (agak tinggi) = 0,44 - 0,55 (tinggi) = 0,56 - 0,64 (sangat tinggi)

Kerusakan erosi yang telah terjadi (erosi masa lalu) dibedakan atas: e0 e1 e2 = tidak ada erosi = ringan (<25% lapisan atas hilang) = sedang (25 sampai 75% lapisan atas hilang)

e3 = agak berat (> 75% lapisan atas sampai < 25% lapisan bawah hilang) e4 e5 = berat (> 25% lapisan bawah hilang) = sangat berat: erosi parit

9.6.3 Kedalaman Tanah


Kedalaman efektif tanah adalah kedalaman tanah yang baik bagi pertumbuhan akar tanaman, yaitu sampai pada lapisan yang tidak dapat ditembus oleh akar tanaman. Lapisan tersebut dapat berupa kontak lithik, lapisan padas keras, padas liat, padas rapuh atau lapisan phlintit. Kedalaman efektif tanah diklasifikasikan sebagai berikut: k0 = dalam (> 90 cm) k1 = sedang (90 - 50 cm) k2 = dangkal (50 - 25 cm) k3 = sangat dangkal (< 25 cm) 9.6.4 Tekstur Tanah

Tekstur tanah mempengaruhi kapasitas tanah untuk menahan air dan permeabilitas tanah serba berbagai sifat fisik dan kimia tanah lainnya. Definisi kelas tekstur tanah mengacu pada sistem USDA. Untuk menentukan klasifikasi kemampuan lahan tekstur lapisan atas tanah (0 - 30 cm) dan lapisan bawah (30 - 60 cm), perhatikan pengelompokkan berikut: t1 : tanah bertekstur halus, meliputi tekstur liat berpasir, liat berdebu dan liat. t2 t3 t4 t5 : tanah bertekstur agak halus, meliputi tekstur lempung liat berpasir, lempung berliat dan lempung liat berdebu. : tanah bertekstur sedang, meliputi tekstur lempung, lempung berdebu dan debu. : tanah bertekstur agak kasar, meliputi tekstur lempung berpasir, lempung berpasir halus dan lempung berpasir sangat halus. : tanah bertekstur kasar, meliputi tekstur pasir berlempung dan pasir.

9.6.5 Permeabilitas (p)


Permeabilitas tanah dikelompokkan sebagai berikut: P1 P2 P3 P4 P5 = lambat (< 0,5 cm/jam) = agak lambat (0,5 - 2,0 cm/jam) = sedang (2,0 - 6,25 cm/jam) = agak cepat (6,25 - 12,5 cm/jam) = cepat (> 12,5 cm/jam)

9.6.6 Drainase (d)


Drainase tanah diklasifikasikan sebagai berikut:

d0

= berlebihan (excessively drained); air yang berlebihan segera keluar dari tanah dan tanah hanya akan menahan sedikit air sehingga tanaman akan segera mengalami kekurangan air. = baik; tanah memiliki peredaran udara (aerasi) yang baik seluruh profil tanah dari atas sampai ke bawah > 150 cm) berwarna terang yang seragam dan tidak terdapat karatan (bercak-bercak kuning, coklat atau kelabu). = agak baik; tanah beraerasi baik di daerah perakaran. Tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, coklat atau kelabu pada lapisan atas dan bagian lapisan bawah (sampai sekitar 60 cm dari permukaan tanah). = agak buruk; lapisan atas tanah beraerasi baik; tidak terdapat bercak-bercak berwarna kuning, kelabu atau coklat. Bercak-bercak terdapat pada seluruh, lapisan bagian bawah (sekitar 40 cm dari permukaan tanah/. = buruk; bagian bawah lapisan atas (dekat permukaan) terdapat warna atau bercak-bercak berwarna, coklat dan kekuningan. = sangat buruk; seluruh lapisan sampai permukaan tanah berwarna kelabu dan tanah lapisan bawah berwarna kelabu atau terdapat bercak-bercak berwarna kebiruan, atau terdapat air yang menggenang di permukaan tanah dalam waktu yang lama sehingga menghambat pertumbuhan tanaman.

d1

d2

d3

d4 d5

9.6.7 Faktor-faktor Khusus


Faktor-faktor penghambat lain yang mungkin ada adalah batu, bahaya banjir dan salinitas. 1. Batu dan Kerikil Bahan kasar dapat berada di dalam lapisan tanah atau di atas permukaan tanah. Bahan kasar yang terdapat di dalam lapisan 20 cm atau di

bagian,atas tanah yang berukuran lebih besar dari 2 mm dibedakan sebagai berikut: a. Kerikil, adalah bahan kasar yarrg berdiameter > 2 mm 7,5 cm (iika berbentuk bulat) atau sampai 25 cm sumbu panjang (jika berbentuk pipih). Kerikil di dalam lapisan 20 cm permukaan tanah dikelompokkan sebagai berikut b0 = tidak ada atau sedikit (<15% volume tanah) b1 = sedang (15-50% volume tanah) b2 = banyak (50 -90% volume tanah) b3 = sangat banyak (> 90% volume tanah) b. Batu kecil, adalah bahan kasar atau batu berdiameter 7,5 cm sampai 25 cm (iika berbentuk bulat), atau sumbu panjangnya berukuran 15 - 40 cm (iika berbentuk pipih). Jumlah batu kecil dikelompokkan sebagai berikut: b0 = tidak ada atau sedikit (0 15% volume tanah). b1 = sedang (15-50% volumetanah); pengolahantanah mulai agak sulit dan pertumbuhan tanaman agak terganggu. b2 = banyak (50 90% volume tanah); pengolahan tanah sangat sulit dan pertumbuhan tanaman terganggu. b3 = sangat banyak (> 90% volume tanah); pengolahan tanah tidak mungkin dilakukan dan pertumbuhan tanaman terganggu. Batu di atas permukaan tanah-tanah ada dua macam, yaitu batuan lepas yang terletak di atas permukaan tanah (dalam bahasa Inggris disebut stone), dan batuan tersingkap yang berada di atas permukaan tanah yang merupakan bagian batuan besar yang terbenam di dalam tanah. Pengelompokan batuan diatas permukaan tanah adalah sebagai berikut: a. Batuan lepas, adalah batu yang tersebar di atas permukaan tanah dan berdiameter > dari 25cm (berbentuk bulat) atau bersumbu memanjang lebih dari 40 cm (berbentuk pipih). Penyebaran batuan lepas di atas permukaan tanah dikelompokkan sebagai berikut b0 = tidak ada (<0,01 % luas areal).

b1 = sedikit (0,01% - 3% permukaan tanah tertutup); pengolahan tanah dengan mesin agak terganggu tetapi tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. b2 = sedang ,(3% -15% permukaan tanah tertutup); pengolahan tanah mulai agak sulit dan luas daerah produktif berkurang. b3 = banyak (15% - 90% permukaan tanah tertutup); pengolahan tanah dan penanaman menjadi sangat sulit. b4 = sangat banyak ( >90% permukaan tanah tertutup); tanah sama sekali tidak dapat digunakan untuk produksi pertanian. b. Batuan tersingkap (rock). penyebaran batuan tersingkap dikelompokkan sebagai berikut: bo = tidak ada (< dari 2% permukaan tanah tertutup). b1 = sedikit (2%- 10% permukaan tanah tertutup); pengolahan tanah dan penanaman agak terganggu. b2 = sedang ,(10%-50% permukaan tanah tertutup); pengolahan tanah dan penanaman terganggu. b3 = banyak, (50% - 90% permukaan tanah tertutup); pengolahan tanah dan penanaman sangat terganggu. b4 = sangat banyak (> 90% permukaan tanah tertutup); tanah sama sekali tidak dapat diolah. 2. Bahaya Banjir/Genangan Bahaya banjir atau penggenangan dikelompokkan sebagai berikut: O0 = tidak pernah (dalam periode satu tahun tanah tidak pernah kebanjiran selama > 24 jam). O1 = kadang-kadang (tanah kebanjiran tergadinya tidak teratur dalam periode < satu bulan). O2 = selama waktu satu bulan dalam setahun tanah secara teratur kebanjiran untuk selama > 24 jam. O3 = selama 2 - 5 bulan dalam setahun, secara teratur selalu dilanda banjir yang lamanya lebih dari 24 jam.

O4 = selama waktu > 6 bulan tanah selalu dilanda banjir secara teratur yang lamanya > 24 jam. 3. Salinitas (g) Salinitas tanah dinyatakan dalam kandungan garam larut atau hambatan listrik ekstrak tanah berikut: g0 = bebas (<0,15% garam larut; 0-4 (EC x 103) mmhos/cm pada suhu 25 0C). g1 = sedikit terpengaruh (0,15 0,35% garam larut; 4 8 (EC x 103) mmhos/cm pada suhu 25 0C ). g2 = cukup terpengaruh (0,35 - 0,65% garam larut; 8-15 (EC x 103 ) mmhos/cm pada suhu 25 0C). g3 = sangat terpengaruh (> 0,65% garam larut; > 15 (EC x 103 mmhos/cm pada suhu 25 0C) Berdasarkan definisi kelas dan subkelas kemampuan lahan serta pengelompokan sifat-sifat atau kualitas lahan, maka hubungan antara kelas kemampuan dan kriteria klasifikasi lahan, oleh Arsyad (1989) disusun menjadi suatu matriks seperti tertera pada Tabel 9.8 yang berlaku secara umum untuk daerah beriklim basah dan panas.

***

X
KLASIFIKASI KESUBURAN TANAH KAPABILITAS

enelitian dan pengelolaan kesuburan tanah, terutama berkaitan dengan unsur hara tanaman esensial yang meliputi jumlah, ketersediaan bagi tanaman, reaksi kimia yang terjadi dalam tanah, mekanisne kehilangan, proses-proses yang menyebabkan ketidaktersediaan atau kurang tersedianya bagi tanaman dan cara penambahannya dalam tanah. Kesuburan tanah dari segi pertanian dinilai dari produksi tanaman (bobot kering t/ha) dan kualitas tanaman (kandungan karbohidrat,

protein dan vitamin) yang merupakan hasil rata-rata dari beberapa tahun. Tanah yang subur merupakan tanah yang secara terus-menerus memberikan hasil yang baik tanpa penambahan, pupuk. Kesuburan tanah dibedakan atas: (1) Kesuburan tanah potensial, yaitu sifat yang menunjukkan kemampuan suatu tanah untuk menyediakan unsur hara, menurut jumlah dan keseimbangan tertentu secara berkesinambungan menunjang pertumbuhan tanaman pada lingkungan dengan faktor pertumbuhan lainnya berada dalam keadaan yang optimal. (2) Kesuburan tanah aktual, yaitu keadaan kesuburan tanah alami tanpa dilakukan upaya perbaikan tingkat kesuburannya. Dengan demikian, suatu tanah pada suatu satuan lahan tertentu dapat memiliki kesuburan alami yang tinggi, namun tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut berproduksi rendah karena faktor produksi yang lain membatasi pertumbuhan tanaman. Evaluasi kesuburan tanah ditujukan untuk menilai karakteristik lahan dan menentukan kendala utama kesuburan tanah serta alternatif pemecahannya dalam upaya meningkatkan produktivitas tanah. penilaian sifat dan penentuan kendala kesuburan tanah dapat dilakukan dengan klasifikasi kapabilitas kesuburan tanah atau Fertility Capability Classificatton, disingkat dengan FCC, yang dikembangkan oleh Sanchez, Couto dan Buol, (1982). FCC dikembangkan dalam upaya menjembatani kesenjangan antara klasifikasi tanah dan kesuburan tanah (Sanchez, Couto dan Buol, (1982). Sebagaimana diketahui, Taksonomi Tanah USDA (Soil Survey Staff, 1999, 2003) dan the World Reference Base for Soil Resources (Deckers et al,, 1998) hanya menitikberatkan pada sifat-sifat tanah sebagai tubuh alami yang lebih menekankan pada sifat-sifat tanah lapisan bawah (yang relatif lebih tetap) daripada sifat-sifat tanah lapisan atas. Dalam kenyataannya, kebanyakan praktek pengelolaan tanah sangat ditentukan oleh lapisan tanah atas, seperti dikemukakan dalam hasil penelitian di Amerika oleh Sopher dan McCracken (1973) dalam Sanchez, Couto dan Buol, (1982), yang menyatakan bahwa 70% keragaman hasil tanaman disebabkan oleh sifat-sifat tanah yang terdapat dalam lapisan olah.

Berdasarkan sifat-sifat kuantitatif lapisan tanah-atas dan taksonomi tanah, sistem FCC merupakan titik awal yang baik untuk pendekatan kualitas tanah daerah tropis yang kini banyak digunakan. FCC tidak berkaitan dengan sifat tanah yang dapat berubah karena pengelolaan kurang dari 1 tahun, melainkan sifat-sifat yang bersifat dinamis dalam kurun waktu setahun atau dalam bilangan dekade, seperti sifat inheren yang tidak berubah dalam kurun waktu satu abad. Sifat-sifat FCC dapat negatif atau positif tergantung pada penggunaan lahan dan skala waktu dan ruang yang dimaksud. Menurut Anonymous (2001), perubahan sifat-sifat tanah tergantung dari waktu, seperti disajikan dalam Tabel 10.1. Pelapukan kimia dan fisik sekalipun daiam kondisi ideal memerlukan ratusan atau bahkan ribuan tahun untuk berkembang menjadi tanah dewasa.

Pedologi kuantitatif didasarkan pada taksonomi tanah (Soil Survey Staff, 1999, 2003; the World Reference Base for Soil Resources (Deckers et al.,1998). parameter yang diukur dalam taksonomi tanah telah secara cermat dipilih yang penting untuk mengklasifikasikan tanah sebagai suatu tubuh alami. Melalui survei tanah dan sistem informasi geografi, data pedon di-scale-up ke dalam skala spasial yang lebih luas. salah satu keterbatasan taksonomi tanah maupun world. Reference Base for soil Resources adalah hanya mempertimbangkan sifat-sifat permanen tanah, yang sebagian besar terletak di lapisan tanah bawah. Pencarian informasi bertujuan untuk mengidentifikasi tanah-tanah yang tidak bermasalah maupun tanah-tanah yang digarap untuk pertanian dalam taksa yang

sama. Taksonomi ini mengabaikan banyak sifat-sifat yang melekat (inherent) atau yang bersifat dinamik yang penting untuk produktivitas tanaman . Sifat-sifat tersebut umumnya berada di dalam lapisan tanah atas, di tempat kebanyakan akar tumbuhan berada, baik dalam ekosistem alami maupun dalam agro-ekosistem (Sanchez, palm dan Buol, 2003). Untuk mengatasi kendala ini, sekitar 30-an tahun yang lalu telah dikembangkan sistem FCC untuk mengintepretasi taksonomi tanah dan sifat-sifat tanah tambahan sehingga relevan dengan pertumbuhan tanaman (Buol et al., 1975; Buol and Couto, 1981; Sanchez et al., 1982). Versi awal FCC dimulai tahun 1975, yang dikemukakan dalam beberapa publikasi, antara lain Buol et al., (1975); Buol and Couto (1981), Sanchez, Couto dan Buol, (1982). Disusul oleh versi kedua yang secara spesifik mengikutsertakan interpretasi yang khas untuk tanah sawah (Sanchez dan Buol, 1985; Buol, 1986). Kemudian dalam versi ketiga ditambahkan kondisi modifier untuk permafrost dan penambahan beberapa subdivisi dari divisi yang sudah ada. Pada versi keempat (Sanchez, palm dan Buol, 2003), terdapat beberapa perubahan. Perubahan yang pertama adalah menggabungkan kondisi modifier yang sebelumnya disebut h (masam tetapi tidak keracunan Al) dengan tanpa kendala kimia utama. Hal ini dilakukan karena pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa terjadi sedikit perubahan antara keduanya. Perubahan yang kedua adalah penambahan kondisi modifier yang baru, yaitu m, yang menunjukkan terjadinya penurunan bahan organik tanah yang kritis. Perubahan selanjutnya adalah mengubah simbol kerikil, dari tanda apostrof () menjadi r, agar lebih jelas dan untuk mempertahankan keseragaman, serta menggeser (sedikit merubah kisaran) beberapa nilai pH tanah. FCC pada skala nasional dan provinsi telah digunakan secara luas di beberapa negara seperti Brasil, Venezuela, Taiwan, Amerika serikat, Tailand, Peru, Kamboja, Indonesia dan lain-lain. Di Indonesia, FCC antara lain digunakan dalam penyusunan basis-data dan informasi potensi sumber daya tanah pada skala semi-detail (1 : 50.000) dalam proyek LREP II-part C untuk beberapa daerah di Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara

(Tim Kelti Kesuburan Tanah, 1995). Dalam survei tersebut klasifikasi tanah dilakukan hingga kategori seri. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah FCC masih relevan dengan kualitas tanah? salah satu aspek penting dari kualitas tanah adalah berkaitan dengan sifat tanah yang melintasi skala waktu dan ruang. Sekalipun mudah berubah (dinamis), sifat-sifat kuantitatif yang sangat sensitif terhadap perubahan penggunaan lahan merupakan sifat yang dikehendaki sebagai indikator kualitas lahan (Doran and Parkin, 1996). Sifat-sifat tanah inherent, walaupun statis, dikenal sebagai komponen penting dari kualitas tanah (Karlen et al., 1997). Semula FCC dipahami sebagai sesuatu yang berkaitan dengan sifat-sifat inherent tanah yang merupakan hasil dari genesis tanah dan tidak mudah berubah dengan waktu (Sanchez et al., 1982). FCC mempertimbangkan parameter lapisan tanah atas sebagaimana sifat lapisan tanah bawah yang spesifik. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa sistem FCC tidak menyertakan uji tanah rutin yang digunakan untuk rekomendasi pemupukan N dan P. Alasan lainnya adalah, uji tanah semacam itu tidak terlalu bermanfaat dalam sistem pertanian dimana penggunaan pupuk bukanlah merupakan sumber masukan hara yang utama. Pertanyaannya sekarang adalah skala waktu apa yang digunakan sebagai acuan (hari, bulan, tahun, dekade atau abad)? Sistem FCC dapat menunjukkan suatu pendekatan yang bermanfaat untuk menangani kualitas tanah tropis yang berbasis kuantitatif. FCC tidak setara dengan kualitas tanah yang dalam banyak hal merupakan konsep yang sulit untuk diterapkan dalam praktik dengan dukungan ilmiah yang memadai (Sanchez, Palm dan Buol,2003). Sistem klasifikasi kapabilitas kesuburan tanah (FCC) terdiri atas tiga kategori, yaitu tipe (tekstur tanah atas), sub tipe atau tipe substrata (tekstur tanah-bawah) dan modifier (Buol et al, 1975; Sanchez, Palm dan Buol, 2003). Kombinasi ketiga kategori tersebut menghasilkan unit-unit klasifikasi kemampuan kesuburan tanah yang dapat diinterpretasikan dengan penaksiran sifat tanah dan penentuan alternatif teknofogi pengelolaan yang diperlukan untuk mengatasi kendala utama kesuburan tanah.

10.1 Kriteria Kelas dalam Masing-masing Kategori


Uraian masing-masing kategori disajikan dalam Tabel 10.2, mengacu pada FCC versi IV yang dikemukakan dalam Sanchez,Palm dan Buol (2003).

Keterangan:

semua nilai pH diukur dengan nisbah tanah dan air 1 : 1, kecuali dinyatakan lain. Parameter yang digunakan mengacu pada parameter dalam taksonomi tanah USDA, kecuali dinyatakan lain. Kejenuhan Al atau kejenuhan asam dihitung dengan rumus [(1 M KCl Al3+/ Ca2+ + Mg2+ + K+ + Na+-tukar)100]. Kapasitas Tukar Kation Efektif (KTKE) = jumlah basa-basa + 1 M KCl Al3+ yang dinyatakan dalam cmol kg-1. BS7 dan BS8,2 = persen kejenuhan basa dalam larutan penyangga masingmasing pada pH 7 dan 8,2.

10.2 Cara Pemberian Simbol dalam Unit Klasifikasi Kemampuan Kesuburan Tanah
Unit merupakan kelas kemampuan kesuburan tanah yang ditulis dengan kombinasi simbol dari tipe, subtipe dan modifier secara beruntutan. simbol subtipe hanya ditulis bila dalam lapisan bawah (20 - 50 cm) bertekstur berbeda dengan tekstur pada tipe dalam lapisan olah (0 20cm) atau terdapat lapisan yang tidak tembus akar (R). Simbol tipe dan subtipe ditulis dengan huruf kapital, sedangkan untuk modifier ditulis dengan huruf kecil. Jumlah simbol kelas modifier yang ditulis dalam unit tergantung dari jumlah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas. Simbol kelas modifier (dan) yang menyatakan keadaan butir tanah berukuran > 2 mm yang terdapat dalam lapisan olah maupun lapisan bawah. Bila dikehendaki dapat ditulis langsung di belakang kode kelas tipe maupun subtipe. Demikian juga angka kisaran lereng bila diperlukan dapat ditulis dalam tanda kurung ( ) yang diletakkan paling belakang dari kode kelas modifier. Contoh penulisan kode unit klasifikasi kemampuan kesuburan tanah adalah sebagai berikut: LCdvb, Lgh, CLdv, SCgd dan L'C"geak(1 3%).

10.3 lnterpretasi Kelas-kelas dalam Kategori


10.3.1 lnterpretasi Tipe dan Subtipe (Sanchez et al., 1982)
S = Laju infiltrasi tinggi dan kemampuan menahan air (water holding capacity) rendah. L = Laju infiltrasi sedang dan kemampuan menahan air sedang. Q = Laju infiltrasi rendah, kemampuan menahan air tinggi, jika lahan miring potensial aliran permukaan tinggi. Tanah sukar diolah kecuali mempunyai modifier. (Ci) = Tanah mudah diolah, laju infiltrasi tinggi dan kemampuan menahan air rendah. O = Diperlukan drainase buatan dan berpotensi untuk terjadinya subsiden (amblesan), kemungkinan dijumpai kahat unsur mikro dan biasanya diperlukan herbisida berdosis tinggi. SC, LC, LR, SR = Kemungkinan terjadi degradasi tanah cukup besar akibat erosi terutama bila lahan miring.

10.3.2 lnterpretasi Modifier


Interpretasi modifier untuk tanah-tanah yang tergolong mempunyai rezim lengas akuik seperti banyak dijumpai pada tanah-tanah yang disawahkan perlu dibedakan dengan tanah-tanah yang tergolong tidak mempunyai rezim lengas akuik. Jika dalam unit klasifikasi kemampuan kesuburan tanah hanya dijumpai satu simbol modifier saja, maka faktor pembatas atau cara pengelolaan yang diperlukan terhadap tanah tersebut dalam interpretasi berikut dapat dipakai. Interpretasi boleh berbeda bila dalam unit terdapat simbol modifier lebih dari 1 atau tekstur dalam tipe dan subtipe berbeda.

1. Contoh Interterpretasi Modifier untuk Tanah-tanah yang Tidak Mempunyai Rezim Lengas Akuik (Sanchez et al., 1982)
g = Denitrifikasi sering terjadi dalam lapisan tanah bawah yang anaerob;,sering sulit melakukan pengolahan tanah dan penanaman akibat keadaan air yang berlebihan sehingga dibutuhkan

d=

e=

a=

h= i=

x= v=

k=

b=

s=

perbaikan drainase; kondisi lengas tanah baik untuk budidaya padi. Lengas tanah merupakan pembatas dalam musim kering kecuali jika tanah diairi; hujan di awal musim sering tidak menentu sehingga mengganggu perkecambahan; perlu pemilihan waktu tanam dan waktu pemberian pupuk N yang tepat . Kemampuan menyerap unsur hara rendah; terutama terhadap K, Ca dan Mg sehingga diperlukan pemupukan unsur hara tersebut dan pemupukan N dengan cara pemberian yang bertahap; perlu dihindari pengapuran yang berlebihan. Kemungkinan besar menimbulkan keracunan Al pada tanaman yang peka. Namun hal tersebut dapat dihindari dengan melakukan pengapuran. Kemungkinan terjadi keracunan Mn ada. Kemasaman tanah rendah hingga sedang sehingga diperlukan pengapuran untuk tanaman yang peka terhadap keracunan Al. Kemampuan mengikat P tinggi sehingga diperlukan dosis pupuk P tinggi atau cara pengelolaan pupuk P yang khusus dengan penggunaan jenis sumber pupuk P dengan cara pemberian yang tepat. Kemampuan mengikat p tinggi sehingga perlu diperhatikan dalam penggunaan dosis dan jenis sumber pupuk P yang tepat. Tekstur tanah lapisan olah berliat dan bila kering banyak terjadi retakan. Tanah sukar diolah bila kondisi tanah kering atau terlalu basah. Potensi produktivitas tanah tinggi; umumnya kahat hara P. Kemampuan menyediakan hara K rendah; ketersediaan hara K sebaiknya sering dipantau dan mungkin dibutuhkan pemupukan K; kemungkinan ketersediaan K-Ca-Mg tidak seimbang. Tanah berkapur; penggunaan pupuk fosfat alam dan fosfat lain yang tidak larut dalam air perlu dihindari; kemungkinan besar terjadi kekahatan unsur mikro terutama Fe dan Zn. Garam larut tinggi sehingga dibutuhkan drainase dan pengelolaan khusus untuk tanaman yang peka terhadap kadar garam tinggi atau penggunaan jenis dan varietas tanaman yang toleran.

n = Kadar Na tinggi; dibutuhkan teknik pengelolaan khusus untuk tanah alkalin seperti penggunaan gipsum sebagai bahan pembenah tanah dan perlu perbaikan drainase. c = Tanah sulfat masam potensial; perlu teknik drainase yang khusus dan penggunaan tanaman yang toleran.

2. Contoh Interpretasi Modifier untuk Budidaya Padi pada Tanah-tanah yang Mempunyai Rezim Lengas Akuik (Sanchez and Buol, 1985)
g = Tanah lahan basah, lengas tanah baik untuk bercocok-tanam padi. g* = Pengenangan dalam waktu lama menyebabkan kahat Zn. d = Lengas tanah merupakan pembatas dalam musimkering, kecuali jika tanah diairi. Umumnya sawah tadah hujan hanya dapat ditanami padi satu kali dalam setahun. Penanaman padi selama musim kering yang diberi irigasi akan memberikan hasil yang lebih tinggi dan respons terhadap pemupukan N dosis tinggi juga tinggi. e = Kapasitas tukar kation efektif rendah; kurang mampu melepaskan N secara lambat sehingga perlu pengelolaan hara N yang tepat. Menunjukkan tanah-tanah sawah yang terdegradasi seperti yang tergolong dalam Sla atau LCa dan kadar bahan organik rendah. Dengan demikian potensial terjadi keracunan H2S bila pupuk (NH4)2S04 digunakan sebagai sumber N. Potensial keracunan Fe jika dekat dengan lahan kering yang tanahnya kaya Fe. a = Kemungkinan akan terjadi keracunan Al bila tanah dalam kondisi aerob. Perlu dilakukan uji tanah untuk mengetahui kekahatan hara P. h = pH pada kondisi aerob sangat optimal untuk bercocok-tanam padi sawah. i = Fiksasi fosfat (P) oleh Fe tinggi, umumnya kahat hara P. Tanah berpotensi mengalami keracunan Fe; tanah sukar menjadi lumpur karena tanah akan secara cepat kembali ke struktur aslinya. x = Banyak mengandung bahan volkan yang menunjukkan kesuburan tinggi dengan tidak kahat Si; umumnya kahat N dan P dan tanah sukar dilumpurkan. v = Dalam keadaan kering tanah mengalami retakan sehingga menyebabkan kehilangan air: perkolasi berlebihan. Tanah mudah

k=

b=

s= n= c=

dilumpurkan tetapi strukturnya sukar diperbaiki. Tanah dapat mengikat NH4 yang ditambahkan dan kemudian akan dilepaskan untuk tanaman padi berikutnya. Kesuburan tanah rendah karena cadangan mineral mudah lapuk rendah. Tanah ini memerlukan pengelolaan yang lebih tinggi daripada tanah lainnya yang tanpa faktor pembatas k ini. Potensial kekurangan hara K tergantung pada kandungan basa-basa dari air irigasi. pH tinggi merangsang terjadinya kahat Fe bila dalam kondisi aerob dan kahat Zn bila kondisi anaerob atau tergenang. Potensial kehilangan N tinggi melalui penguapan bila pemberian pupuk N disebar. Kemungkinan terjadi fiksasi NH4 oleh liat tipe 2:1. Adanya keping-keping Mollusca dapat digunakan sebagai petunjuk kahat Zn. Tanah salin. Drainase diperlukan tetapi harus mempertimbangkan kecepatan aliran air irigasinya. Tanah alkalin. Mungkin diperlukan tindakan reklamasi melalui drainase dan pemberian gipsum. Tanah sulfat masam; berpotensi mengalami keracunan Fe dan S bila dalam kondisi anaerob dan keracunan Al bila kondisi aerob. Kedalaman faktor pembatas c dari permukaan tanah menentukan kesesuaian tanah untuk bercocok-tanam padi. Kekahatan P dan keracunan AI akan nampak bila kondisi aerob.

3. Modifier
Modifier adalah sifat tanah yang menjadi faktor pembatas atau kendala kesuburan tanah. Terdapat beberapa penciri yang digunakan dalam modifier (Tabel 10.1). Penciri yang disebutkan pertama adalah yang sebaiknya digunakan bila data tersedia, tetapi apabila data tidak tersedia dapat juga digunakan penciri yang disajikan selanjutnya. Masing-masing kondisi modifier ditulis dengan huruf kecil. Tanda + dan - (+ dan - yang ditulis diatas atau sebagai tanda pangkat) menunjukkan, ungkapan lebih besar atau lebih kecil dari modifier tersebut. Tipe/tipe substrata dan kondisi modifier merupakan sifat tanah dalam kaitannya dengan kapabilitas untuk pertumbuhan tanaman. setiap

unit dapat mencerminkan kapabilitas kesuburan tanah suatu lahan, sehingga dapat diprediki tindakan lebih lanjut yang dapat dilakukan. Cara interpretasi unit kapabilitas kesuburan tanah mengacu pada kunci interpretasi menurut Sanches (1982) dalam Hardjowigeno dan Widiatmaka (2001) yang mencotohkan bahwa unit SSdb (2 %) diartikan dengan laju infiltrasi tinggi dan kemampuan menahan air (water holding capacity) rendah. Lengas tanah merupakan pembatas dalam musim kering kecuali tanah diairi; hujan di awal musim sering tidak menentu dan mengganggu perkecambahan; perlu pemilihan waktu tanam dan waktu pemberian pupuk N yang tepat. Tanah berkapur, sehingga penggunaan pupuk fosfat alam dan fosfat lain yang tidak larut dalam air perlu dihindari; kemungkinan besar terjadi kekahatan unsur mikro terutama Fe dan Zn.

10.4 Contoh Aplikasi FCC


Di bawah ini disajikan contoh aplikasi klasifikasi kapabilitas kesuburan tanah menggunakan kriteria versi Sanchez and Buol (1985). Dalam Tabel 10.2 disajikan unit kapabilitas kesuburan tanah setiap SPL. Cara penilaian (penentuan) unit untuk setiap SPL disajikan dalam Tabel 10.3, sedangkan peta sebaran unit kapabilitas kesuburan tanah disajikan dalam Gambar 10.1.

***

XI
PENDEKATAN PARAMETRIK UNTUK EVALUASI LAHAN
11.1 Pendahuluan
Istilah pendekatan atau sistem parametrik untuk evaluasi lahan pertama kali diusulkan oleh Require et al. (1970 dalam Sys et al., 1991). Sistem ini merupakan sistem klasifikasi pembagian lahan atas dasar pengaruh atau nilai ciri lahan tertentu dan kemudian mengkombinasikan pengaruhpengaruh tersebut untuk menyimpulkan tingkat kesesuaiannya.

Menurut Young (1976), telah dilakukan berbagai upaya untuk menemukan sistem yang dapat memberikan indeks produktivitas atau pengharkatan (rating) menggunakan metode parametrik. Dalam metode tersebut, pengaruh dari lahan individu atau karakteristik tanah dinilai secara individu, kemudian dikombinasikan secara matematika. Beberapa di antaranya adalah Indeks Storie (Storie Index Rating) yang dikembangkan diCalifornia pada tahun 1950 dan 1954; metode pengharkatan produktivitas tanah yang diusulkan oleh Riquier et al. pada tahun 1970; serta Sys dan Frankart pada tahun 1971. Borden dan Warkentin mengembangkan Sys dan Frankart untuk daerah tropis dan pengharkatan irigasi tanah di daerah Antiqua, India Barat pada tahun 1974. Struktur umum dari sistem parametrik tersebut pada dasarnya sama. Pengaruh gabungan dari faktor-faktor individu lebih bersifat perkalian daripada bersifat penambahan, terutama untuk tanah-tanah dengan beberapa kualitas yang sangat baik. Sebagai contoh, tanah yang bersolum dalam dan berdrainasi baik dengan kandungan hara yang tinggi dapat menjadi tidak produktif karena terdapat satu faktor yang bersifat merugikan, misalnya keberadaan garam-garam yang dapat larut yang besifat racun bagi tanaman. Praktik yang umum dilakukan daram sistem parametrik adalah mengestimasi penilaian (pengharkatan) dalam persen (%) untuk masingmasing karakteristik pada suatu skala yang berkisar dari 0 hingga 100. Angka 100% menunjukkan kondisi optimal, misalnya kedalaman efektif profil tanah >150 cm. Angka 0 % menujukkan kondisi yang tidak menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman sehingga menyebabkan tanah menjadi hampir tidak produktif sama sekali, misalnya kedalaman efektif tanah < 20 cm. Angka-angka pengharkatan karakteristik tanah individu tersebut kemudian dikalikan. Jika hasilnya adalah 100%, berarti indeks produktivitas tanah tersebut 100% . Demikian pula jika jumlahnya 0%, maka indeks produktivitasnya pun nol. Nilai ini berhubungan dengan penggunaan faktor pembatas dalam klasifikasi FAO atau USDA. Sekalipun

demikian, pelaksanaan metode parametrik berbeda dengan penggunaan faktor pembatas, yaitu pengaruh kombinasi beberapa faktor yang agak merugikan dapat menghasilkan indeks yang lebih rendah dari sembarang pengharkatan individu tunggal. Berikut adalah contoh indeks produktivitas dari Riquire et al (1970) yang menggunakan rumus dasar: Indeks produktivitas = H x D x P x T x N atau S x O x A x M Keterangan: H D P T N S O A M = lengas; = drainase; = kedalaman efektif tanah; = tekstur/struktur tanah = kejenuhan basa; atau = konsentrasi garam-garam larut, = kandungan bahan organik; = KTK/ sifat lain; = cadangan mineral.

Proses konversi karakteristik tanah menjadi nilai produktivitas terdiri dari dua tahap. Tahap pertama masing-masing karakteristik diklasifikasikan pada skala ordinal dengan suatu bilangan yang beragam dari kelas-keras. Misalnya kedalaman efektif dikelompokkan sebagai p1 = kedalaman efektif tanah sangat dangkal, P2 = tanah dengan kedalaman < 30 cm, P3 = 30-60 cm, P4 = 60 - 90 cm, P5 = 90 - 120 cm, dan P6 = >120cm. Masing-masing kelas ini dinyatakan dalam persen, dimana kelas tersebut berbeda-beda tergantung pada jenis penggunaan lahan yang akan dinilai. Misalnya untuk pertumbuhan tanaman perkebunan, P1 adalah 5 %, P2 =

20%, P3 = 50 %, P4 = 80 %, P5 dan P6 = 100% sedangkan untuk padang rumput, P1 = 20 %, dan P2 = 60%. Kesulitan yang timbul karena adanya interaksi tertentu antara faktor-faktor dapat dilayani dengan bantuan beberapa tabel tambahan. Metode ini diperuntukkan untuk memperoleh indeks produktivitas tanah pada kondisi saat ini (saat evaluasi dilakukan) dan indeks potensial yang menunjukkan produktivitas potensial jika dilakukan perbaikan (misalnya irigasi, drainase, pengolahan tanah dalam). Kerugian metode ini adalah terlalu kaku dan penerapannya sangat terbatas. Hasil yang diperoleh menunjukkan korelasi yang baik antara indeks produktivitas dengan produksi dari tanaman tertentu di daerah tempat indeks tersebut dikembangkan (sangat bersifat lokal). Jika sistem ini diterapkan di tempat lain yang iklimnya berbeda, maka diperlukan perubahan nilai pengharkatan iklim agar sesuai dengan pengalaman petani di tempat tersebut. Menurut Young (1976), indeks ini lebih sesuai untuk menduga produktivitas tanah dari pada produktivitas lahan dan hanya berlaku pada lingkungan yang terbatas. Indeks ini lebih bemanfaat untuk riset dan untuk tujuan fiskal (yang berhubungan dengan keuangan, misalnya untuk penetapan pajak bumi), tetapi tidak cocok digunakan untuk tujuan perencanaan pengembangan wilayah.

11.2 Beberapa Pendekatan Parametrik


Pendekatan parametrik (parametric approach) menentukan kelas lahan atas dasar sejumlah sifat lahan tertentu, dimana pemilihan sifat tersebut ditentukan oleh macam peruntukan atau penggunaan lahan yang sedang dievaluasi. Pendekatan ini biasanya digunakan apabila individu dari sifat lahan dianggap lebih penting daripada sifat lahan secara keseluruhan. Penggunaannya sangat luas dan dapat berkisar dari survei untuk keperluan yang sifatnya umum dengan mempertimbangkan bermacam sifat sampai ke klasifikasi dengan dasar yang lebih sempit untuk penggunaan-penggunaan yang bersifat khusus. pendekatan parametrik ini berdasarkan atas nilai numerik, sehingga penilaian yang bersifat subyektif

dapat dihindarkan. Hal ini menyebabkan metode evaluasi ini banyak menarik perhatian dalam pengembangannya. Pendekatan parametrik terdiri atas beberapa tahapan berikut: 1. Mengevaluasi sifat-sifat tanah yang berbeda secara terpisah dan memberikan nilai numeriknya secara terpisah pula menurut kepentingannya di dalam atau di antara sifat-sifat tersebut. 2. Mengkombinasikan nilai-nilai numerik dari faktor-faktor tersebut menurut hukum matematik dengan mempertimbangkan hubungan dan interaksi antara faktor-faktor dalam menghasilkan indeks penampilan akhir (final index of performance). 3. Gunakan hasil kombinasi tesebut untuk menggolongkan tanah menurut tingkat kesesuaiannya untuk pertanian. Interpretasi yang lebih spesifik dari pendekatan parametrik telah diuraikan oleh Riquier (dalam FAO, 1974). Proses ini meliputi pemilihan ciri tanah yang dievaluasi dan diberi nilai; kemudian nilai rata-rata dari ciri-ciri ini disubstitusikan ke dalam rumus matematik untuk menghasilkan indeks penampilan akhir. Nilai-nilai hasil perhitungan rumus tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan penilaian, seperti menetapkan urutan tanah dalam hubungan dengan nilai pertaniannya. Metode parametrik yang digunakan secara luas adalah Indeks Storie (Storie, 1950; 1954). Metode ini diperoleh dengan jalan mengalikan nilai dari sejumlah faktor-faktor tertentu seperti seri tanah, lereng dan faktor-faktor lainnya. Metode parametrik awalnya dikembangkan untuk membantu pemerintah dalam menilai lahan untuk keperluan perpajakan di California. Satuan lahan yang dibatasi dengan sejumlah kriteria nampaknya mempunyai batas yang tidak pasti. Untuk mengatasi ketidakpastian ini, terdapat dua prosedur. Pertama, dengan melakukan tumpang tindih petapeta dari berbagai sifat yang berbeda, batas komposit dapat dipilih sebagai kompromi di antara batas-batas masing-masing sifat tersebut. Kedua, sifat dapat diurutkan menurut urutan kepentingannya. Sifat yang paling

penting digunakan untuk menentukan batas-batas satuan lahan dan sifat selanjutnya digunakan untuk membatasi satuan yang lebih kecil (subdivisions) di dalam satuan lahan. Pendekatan parametrik berbagai keuntungan, yaitu kriteria yang dapat dikuantifikasikan dapat dipilih, sehingga memungkinkan data yang obyektif: keandalan, kemampuan untuk dikembangkan lebih lanjut (reproducibility) dan ketepatannya tinggi. Kelemahan dalam pendekatan parametrik ialah dalam hal pemilihan sifat, penarikan batas-batas kelas, waktu yang diperlukan untuk mengkuantifikasikan sifat, serta kenyataan bahwa masing-masing klasifikasi hanya diperuntukan bagi penggunaan lahan tertentu. Sistem klasifikasi lahan dengan pendekatan parametrik di dalam menyusun sistem-sistem klasifikasi kemampuannya biasanya berbedabeda dalam memilih dan menggunakan faktor-faktor yang diikutsertakan dalam pertimbangan serta manipulasi matematik yang digunakan. Sedikitnya, terdapat tiga jenis manipulasi matematik yang sering digunakan dalam mengkombinasikan faktor-faktor tersebut (FAO, l971), yaitu: Penjumlahan (additive) dan atau pengurangan (substractive) ; misalnya = A + B C Perkalian (Multiplicative) ;misalnya P= A x B x C Persamaan parametrik kompleks; misalnya : P = A (B x C x D) P adalah indeks atau nilai parametrik yang berhubungan dengan produksi (kg/ha), dan A, B, C, dan D adalah ciri tanah dan lokasi seperti kedalaman tanah, tekstur, dan sebagainya. Tahapan penerapan pendekatan parametrik dapat dikemukakan sebagai berikut: Menentukan satuan yang akan dievaluasi, misalnya satuan peta. Mengumpulkan data yang diperlukan dari profil tanah dan atau data laboratorium sesuai dengan faktor yang akan dievaluasi. Data yang dikumpulkan kemungkinan terdapat keragaman yang cukup besar dalam ciri tanah dan lokasi di daerah yang akan dinilai, sehingga

harus dipilih apakah akan menggunakan nilai rata-rata atau nilai-nilai yang dapat mewakili secara keseruruhan dari daerah tersebut. Data mentah tersebut dikonversikan ke dalam skala kode (coding scale). Melakukan perhitungan-perhitungan matematik. Memberlakukan indeks yang diperoleh ke seluruh daerah yang dievaluasi. Kombinasi yang ideal dari ciri tanah dan lokasi diharapkan akan mencapai nilai maksimum pada lahan-lahan subur dan berangsur-angsur menurun untuk lahan-lahan yang lebih miskin.

11.3 lndeks Storie


Menurut Buol et al. (2003), Indeks Storie menyatakan secara numerik tingkat relatif dari kesesuaian tanah untuk penggunaan pertanian intensif secara umum pada saat evaluasi dilakukan. Pengharkatan atau penilaian dilakukan terhadap karakteristik tanah dan diperoleh dengan jalan mengevaluasi sifat-sifat fisik permukaan tanah dan lapisan bawah serta kenampakan permukaan lansekap. Dalam pengharkatannya tidak dipertimbangkan ketersediaan air untuk irigasi, iklim setempat, ukuran maupun aksesibilitas daerah yang dipetakan, jarak dari pasar dan faktorfaktor lain yang dapat menentukan sifat yang diinginkan untuk menumbuhkan tanaman tertentu dalam lokasi terbentu. Oleh karena itu, indeks tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya indikator dari nilai lahan. Namun demikian, di tempat dimana faktor ekonomi dan geografi dikenal baik oleh pengguna, Indeks Storie dapat memberikan informasi tambahan yang obyektif bagi perbandingan nilai jejak lahan (land track value comparison). Terdapat empat faktor yang umum digunakan untuk menentukan pengharkatan indeks, yaitu A = permeabilitas, kapasitas air tersedia dan kedalaman tanah; B = tekstur tanah atas; C = lereng dominan dari tubuh tanah, dan X = kondisi-kondisi lain yang seringkali menjadi subjek pengelolaan atau modifikasi oleh pengguna lahan. Kondisi-kondisi tersebut meliputi drainase, genangan/banjir, salinitas, alkalinitas,

kesuburan, kemasaman, erosi, dan relief-mikro. Persamaan Storie Index Rating (SIR) (Storie, 1944 dalam Sitorus, 1985), adalah sebagai berikut: SIR= A x B x C x X Keterangan: A B C = sifat-sifat dari profiI tanah; = tekstur permukaan tanah; = lereng dan

X = faktor-faktor lain (seperti drainase, alkalinitas, kemasaman, erosi dan lain-lain). Untuk beberapa tanah, lebih dari satu dari kondisi X tersebut yang digunakan untuk menentukan pengharkatan. Pengharkatan 100 % menunjukan kondisi yang sangat sesuai (menguntungkan) untuk produyksi tanaman secara umum. Nilai persen yang lebih rendah menunjukan kondisi yang kurang menguntungkan. Nilai faktor dalam persen dipilih dari tabel yang disiapkan dari data dan pengamatan yang menghubungkan sifat tanah dengan pertumbuhan dan hasil tanaman. Dari Tabel 11.1 disajikan faktor-faktor yang dipertimbangkan beserta nilainya menurut Storie (1944,dalam Sitorus, 1985).

Masing-masing faktor dinyatakan sebagai persen tetapi dalam perkalian dinyatakan dalam bentuk desimal. Indeks akhir dinyatakan dalam persen. Sebagai contoh adalah perhitungan SIR untuk Satuan Peta Tanah Altamont di California sebagai berikut: Faktor A : Tanah upland coklat Seri Altamont, bahan induk napal (shale), batuan induk pada kedalaman 90 cm, profit grup VIII sehingga mempunyai nilai 70 %. Faktor B : Tekstur lempung berliat sehingga mempunyai nilai 85 %. Faktor C : Topografi bergelombang sehingga mempunyai nilai 90 %. Faktor X : Erosi permukaan sedang dengan parit dangkal sehingga mempunyai nilai 70 %. Dengan demikian maka Index Rating = 0.70 x 0.85 x 0.90 x 0.70 = 0.37 dilaporkan sebagai 37 %. Produk akhir dari faktor perkalian diubah menjadi persen antara 0 - 100%. Dalam contoh di atas, nilai Indeks Rating adalah 37%. Satuansatuan peta dinyatakan dalam kelas (grade) menurut kesesuaiannya untuk

pertanian secara umum, seperti yang diperlihatkan oleh nilai Indeks Storie.

11.4 lnterpretasi Nilai Parametrik


Storie (1978 dalam Sitorus, 1985) membedakan enam kelas tanah di California dengan jalan mengkombinasikan tanah dengan kisaran Storie Index Rating (SIR) sebagai berikut: 1. Kelas 1 (baik sekali) : tanah-tanah yang mempunyai nilai 80-100 % cocok untuk penggunaan yang luas, seperti alfalfa, buah-buahan, dan field crops. 2. Kelas 2 (baik) : tanah-tanah yang mempunyai nilai antara 60- 79 % cocok untuk sebagian besar tanaman. Hasil umumnya baik hingga baik sekali. 3. Kelas 3 (sedang) : tanah-tanah yang mempunyai nilai antara 40 - 59 % umumnya mempunyai kualitas sedang dengan kisaran penggunaan atau kesesuaian lebih sempit daripada kelas 1 dan 2. Tanah dalam kelas ini mungkin dapat memberikan hasil yang baik untuk tanaman tertentu. 4. Kelas 4 (miskin) : tanah-tanah yang mempunyai nilai antara 20 - 39 % mempunyai kisaran/kemungkinan penggunaan pertanian yang terbatas. Sebagai contoh, tanah yang termasuk kelas ini mungkin baik untuk padi tetapi kurang baik untuk penggunaan lainnya. 5. Kelas 5 (sangat miskin): tanah yang mempunyai nilai antara 10 - 19 %.mempunyai kemungkinan penggunaan yang sangat terbatas, kecuali untuk padang rumput, karena kondisi-kondisi yang membatasi, seperti kedangkalan tanah. 6. Kelas 6 (bukan untuk pertanian): tanah yang mempunyai nilai kurang dari 10 %. sebagai contoh, tanah pasang surut; tanah dengan kadar basa-basa tinggi; dan tanah dengan lereng yang curam. FAO dalam mengevaluasi proyek-proyek pembangunan (Bramao dan Riquier, 1967; Riquier, Bramao dan Cornet, 1970) telah mengusulkan penggunaan Indeks koduktivitas Tanah (Index of Soil Productivity) dengan persamaan sebagai berikut:

Indeks produktivitas tanah = P x T x (N atau S) x O x A x M x D x H Keterangan : P T A;N S O A, ; A B;M B; D = kedalaman tanah efektif ; = tekstur dan struktur horison = status basa-basa; = kandungan garam-garam terlarut; = bahan organik horison = kapasitas pertukaran mineral dan keadaan liat di horison = cadangan mineral yang dapat diubah di horison = drainase; H = kadarairtanah.

Pengujian yang sebenarnya dari setiap sistem evaluasi lahan secara tidak langsung adalah sampai seberapa jauh sistem tersebut dapat memprediksi pertumbuhan atau hasil tanaman yang sebenarnya. Beberapa penelitian yang terbatas untuk menghubungkan indeks parametrik dengan hasil tanaman cenderung menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sys dan Frankart (1971) menunjukkan korelasi yang erat antara indeks parametrik kemampuan tanahnya dengan hasil coklat (r = 0.98) dan kapas (r = 0.93) di lembah Congo. Frankart, Sys dun Verheye (1972) juga menunjukkan hal yang sama untuk tanaman padi di Thailand (r = 0.98). Bramao dun Riquier (1967) memperoleh korelasi (r = 0.83) antara hasil tanaman kacang tanah dengan indeks perkalian (a multiplicatiue index), sementara Riquier et al (1970) menyajikan beberapa contoh hasil tanaman yang berkorelasi baik dengan indeks yang lebih kompleks. Analisis perubah ganda (Multiuariate analysis) dapat digunakan untuk mengoptimumkan sistem parametrik. ***

XII
EVALUASI LAHAN SISTEM KOMPUTER
Dalam upaya mempercepat matching antara kualitas lahan suatu satuan peta dengan persyaratan penggunaan lahan serta meningkatkan ketelitian, beberapa pakar mencoba menggunakan komputer agar proses tersebut dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Beberapa program komputer dalam evaluasi lahan adalah LECS (Land Evaluation Computer System) yang dirancang oleh Dent dan Wood (1978) ketika menjadi konsultan FAO di Lembaga Penelitian Tanah (kini Puslitbangtan). Selain LECS, program yang saat ini banyak digunakan adalah ALES. Bab ini hanya membahas mengenai program ALES.

12.1 Program ALES


The Automated Land Evaluation System, yang disingkat dengan ALES, di Indonesia lebih dikenal sebagai Sistem Otomatisasi Evaluasi Lahan (SOEL). Program ini merupakan program komputer yang memungkinkan pengevaluasi lahan membangun sistem pakar untuk mengevaluasi lahan menurut metode Kerangka Kerja Evaluasi Lahan (FAO, 1976). Semula program ini hanya diperuntukkan bagr proyek evaluasi lahan berskala regional atau proyek (skala detail). Entitas yang dievaluasi oleh ALES adalah satuan peta yang dapat didefinisikan secara luas (seperti dalam skala tinjau/rekonaisan) atau lebih sempit (seperti dalam survei sumberdaya detail dan perencanaan pada skala petani). Mengingat bahwa setiap model dibangun oleh pengevaluasi yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan daerah setempat yang berbeda-beda pula, maka dalam program ini tidak disediakan suatu daftar persyaratan penggunaan lahan yang tetap (baku) untuk mengevaluasi penggunaan lahan. Selain itu, program ini juga tidak disediakan daftar seperangkat karakeristik lahan yang harus digunakan secara tetap untuk

menyimpulkan atau menentukan kualitas lahan karena alasan di atas.. Dalam ALES, daftar-daftar tersebut ditentukan pelaku evaluasi untuk disesuaikan dengan kondisi setempat serta tujuan evaluasi. Yang harus disadari, pelaku evaluasi lahan biasanya membangun sistem pakarnya sendiri menggunakan program ALES dengan mempertimbangkan kondisi setempat serta tujuan evaluasi lahan yang dilakukan. ALES bukanlah suatu sistem pakar dan tidak memasukkan secara otomatis pengetahuan tentang lahan dan penggunaan lahan. ALES merupakan suatu kerangka kerja yang dapat digunakan pelaku evaluasi untuk mengekspresikan pengetahuan lokalnya masing-masing. Menurut Rossiter dan van Wambeke (1997) program ALES memiliki 7 komponen, yaitu: 1. Kerangka basis pengetahuan (knowledge base) yang mendeskripsikan penggunaan lahan yang diusulkan, baik dalam pengertian fisik maupun ekonomi. 2. Kerangka basisdata yang mendeskripsikan lahan (satuan peta lahan) yang dievaluasi. 3. Mekanisme pengambilan kesimpulan untuk menghubungkan keduanya (penggunaan lahan dan satuan peta lahan) dalam rangka menghitung kesesuaian secara fisik dan ekonomi dalam beberapa satuan peta untuk berapa penggunaan lahan yang diusulkan. 4. Fasilitas yang dapat memberikan penjelasan sehingga memungkinkan pembuat model untuk memahami sehingga mampu menyempurnakan (fine-tune) model yang dibuat. 5. Fasilitas konsultasi yang memungkinkan pengguna awam untuk mengajukan pertanyaan kepada sistem ini, tentang penggunaan lahan yang ada (at a time). 6. Penyajian laporan pada layar monitor, printer atau CD (compact disk). 7. Modul impor-ekspor yang memungkinkan pertukaran data dengan basisdata dari luar (eksternal), sistem informasi geografi dan lembar kerja (spreadsheets, seperti excel, dBase dan lain-lain), termasuk interface untuk berhubungan dengan sistem informasi geografi seperti IDRISI, AicInfo dan ArcView.

ALES bukanlah suatu Sistem Informasi Geografi (SIG) dan tidak dapat menyajikan hasil evaluasi lahan dalam bentuk peta. Untuk dapat menyajikan hasil ALES dalam bentuk peta harus diekspor menggunakan fasilitas SIG. ALES dapat menganalisis karakteristik geografi jika satuan peta didefinisikan dengan tepat dan dapat secara langsung mengklasifikasi-ulang peta IDRISI atau Arc/View dengan legenda satuan peta yang sama sebagai basis-data ALES. Pada Gambar 12.1 disajikan diagram alir program ALES untuk evaluasi lahan secara kuantitatif fisik dan ekonomi. Program ALES sangat interaktif dalam memanfaatkan monitor dan keyboard komputer. Program ini dirancang untuk dapat menjelaskan sendiri dan membantu pengguna melalui serangkaian menu, bentuk masukan data, penjelasan tentang hasil keputusan, serta dialog-dialog yang disertai dengan fasilitas bantuan. Pengguna program ini dapat memilih bahasa yang akan digunakan karena sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Selain itu, program ini juga dilengkapi dengan pembuatan, penyuntingan dan penampilan pohon keputusan yang merupakan cara agar evaluator dapat mengemukakan kepakarannya (expert knowledge) tentang hubungan antara lahan dan penggunaan lahan.

12.1.1Tujuan dan Manfaat program ALES


Tujuan ALES adalah memungkinkan pengevaluasi lahan mengumpulkan, menyusun dan menginterpretasi informasi yang bermacam-macam menggunakan prinsip dasar Kerangka Kerja Evaluasi Lahan FAO (1976) dan untuk menyajikan informasi yang diinterpretasikan (yaitu hasil dari menjalankan evaluasi lahan) dalam bentuk yang secara langsung

bermanfaat bagi perencana penggunaan lahan. Metode dalam ALES adalah membuat program komputer untuk digunakan oleh pengevaluasi lahan yang hasilnya disampaikan ke perencana penggunaan lahan. Program ini dirancang untuk memungkinkan dukungan dari semua sumber pengetahuan yang relevan. Tujuan ALES berikutnya adarah menggunakan informasi yang telah dikumpulkan dalam survei tanah-dan inventarisasi sumber daya lahan lainnya, yang sebagian besar tidak dimanfaatkan. Tujuan utama ALES adalah memungkinkan penggunaan data lahan dalam segala macam format yang berbeda dan memudahkan tukar-menukar data dari sumber basis data tanah atau sumberdaya lahan lainnya. pekerjaan ini terutama ditujukan untuk diaplikasikan di negara sedang berkembang, mengingat peluang untuk perencanaan lebih terbuka daripada negara maju. Perencanaan, keinginan untuk berubah di negara=negara dengan pertanian yang maju yang biasanya terjadi pada tingkat petani, tidak mencakup perencanaan dalam skala luas

12.1.2 Pengguna program ALES


Rossiter dan van Wambeke (1997) mengelompokkan pengguna program ALES serta perannya masing-masing sebagai berikut: Pembuat model, bekerja bersama-sama dengan pakar penggunaan lahan, membangun model ALES dengan benar dan cermat untuk sejumlah tipe penggunaan lahan (TPL) yang akan dipertimbangkan dalam suatu studi. Pengguna model, bertugas memasukkan data dan menjalankan program ini untuk menentukan hasil evaluasi. Pemakai hasil evaluasi, menggunakan hasil evaluasi untuk memutuskan penggunaan lahan yang akan diusahakan. Pengelola sistem, bertugas menjamin agar sistem komputer termasuk ALES bekerja dengan benar.

Peran-masing kelompok tersebut diuraikan di bawah ini:

Pembuat model Pembuat model merupakan orang yang membangun sistem pakar dalam kerangka kerja ALES. Orang ini dapat merupakan pakar evaluasi lahan atau pakar lain yang bekerja bersama dalam suatu tim evaluasi lahan Pembuat model tidak harus seorang programmer komputer atau analis sistem, akan tetapi lebih diutamakan yang memahami prinsip-prinsip sistem analis. Pembuat model seringkali merupakan pakar di bidang sumber daya alam (misalnya ahli tanah) yang bertugas melakukan evaluasi lahan. Karena tidak seorang pun yang ahli dalam semua bidang, maka pembuat model harus menyusun tim dari pakar penggunaan lahan untuk membantu membuat keputusan dalam pembuatan model. Karena pakar-pakar ini tidak perlu menguasai istilah dalam ALES maupun dalam metode evaluasi, maka pembuat model harus menerjemahkan pertimbangan pakar dalam bentuk yang dapat digunakan oleh ALES (misalnya dalam bentuk pohon keputusan). Pembuat model harus berdiskusi dengan pengguna evaluasi lahan sejak awal proyek untuk menentukan tujuan dan prioritas. Pakar penggunaan lahan Pakar penggunaan lahan merupakan ahli-ahli penggunaan lahan yang bersama-sama dengan pembuat model menentukan tipe penggunaan lahan (TPL) yang akan dipertimbangkan dalam model, membuat persyaratan penggunaan lahan dan menentukan seperangkat karakteristik lahan yang diperlukan untuk menilai kualitas lahan. Mereka dapat berasal dari beberapa disiplin ilmu, seperti agronomi, kehutanan, tanah, hidrologi, ekonomi, sosiologi, klimatologi dan lain-lain. Pakar penggunaan lahan tidak diharuskan mengunakan ALES secara langsung, tetapi mereka harus meresensi atau memeriksa model yang sedang dibuat dengan bantuan pembuat model. Pengguna model Jika model telah selesai dibuat, maka pembuat model akan menyerahkannya ke pengguna model yang akan memasukan definisi satuan peta dan data untuk semua satuan lahan yang ada di daerah studi dengan menggunakan data entry templates yang

dirancang pembuat model. Pengguna model menjalankan dan mencetak hasil evaluasi. Pengguna model tidak memiliki kemampuan untuk mengubah model yang ada, karena mereka hanya memasukkan data ke dalam basis-data seperti data karakteristik lahan dan parameter ekonomi (misalnya harga, bunga bank dan lain-lain). Pemakai hasil evaluasi Hasil evaluasi kesesuaian lahan akan disampaikan ke pemakai hasil evaluasi. Mereka termasuk perencana penggunaan lahan, petani, penyuluh maupun orang yang nantinya berperan dalam membuat keputusan yang mempengaruhi penggunaan lahan. Pemakai hasil evaluasi harus terlibat sejak awal. Merekalah yang menentukan prioritas dan tujuan dari evaluasi lahan. pemakai hasil evaluasi tidak perlu menggunakan ALES secara langsung, tetapi pembuat model harus menyiapkan bahan yang menyajikan hasil evalusi, termasuk melihat di monitor dan mengapa terjadi keputusan seperti itu. Dengan kata lain, pemakai hasil evaluasi dapat melihat bagaimana model tersebut dibuat. Yang menarik dari penggunaan ALES adalah adanya fasilitas konsultasi. Dalam hal ini, program akan menanyakan nilai untuk masing-masing karakteristik lahan yang relevan sampai diperoleh cukup informasi untuk menentukan kesesuaian masing-masing satuan lahan untuk suatu tipe penggunaan lahan. Pengelola sistem Pengelola sistem bertanggung jawab dalam mempertahankan agar ALES tetap jalan dengan baik, termasuk menginstal program ALES, membuat backup data, menambah atau mengurangi perangkat keras dan lain-lain.

12.2 Bagan Proses Evaluasi Lahan Menggunakan ALES


Struktur keseluruhan dari evaluasi lahan disajikan dalam Gambar 12.2. Dalam gambar tersebut terlihat bahwa program ALES hanya berperan dalam langkah ketujuh hingga kesebelas (yang diarsir). Terdapat 5 pelaku dalam proses evaluasi lahan, yaitu:

1. Pihak yang terkait (stakeholder) : semua kelompok yang akandipengaruhi oleh keputusan perencanaan yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi lahan 2. Pelanggan (client): orang atau organisasi yang mengajukan permohonan untuk melakukan evaluasi lahan dan yang akan menerapkan hasil evaluasi lahan 3. Pelaku evaluasi (evaluator): orang yang melakukan evaluasi lahan. Pelaku evaluasi harus memahami konsep-konsep dan metodologi serta harus mampu menggunakan komputer. Ia bertindak sebagai perantara antara pengguna dan pakar. Pelaku evaluasi lahan adalah orang yang menggunakan ALES secara langsung 4. Pakar pengunaan lahan (land-use expert): orang yang memiliki informasi tentang penggunaan lahan dan kualitas lahan dalam kaitannya dengan lahan, misalnya ahli tanah agronomi, kehutanan dan lain-lain. 5. Pakar sumber daya lahan (land resource expert): seorang yang memiliki informasi tentang sumberdaya lahan, misalnya penyurvei tanah, ahli klimatologi, petugas sensus dan lain-lain.

12.3 Struktur Program ALES


Dalam ALES setiap evaluasi terdiri atas sejumlah tipe penggunaan lahan (TPL), yaitu penggunaan lahan yang diusulkan dan sejumlah satuan peta lahan (SPL) yaitu satuan luasan lahan yang akan dievaluasi. Setiap satuan peta dievaluasi untuk setiap TPL sehingga menghasilkan suatu matriks kesesuaian lahan. Keseluruhan program ALES disajikan dalam Gambar 12.1. Ada dua macam kesesuaian dalam kerangka kerja evaluasi lahan FAO, yaitu kesesuaian secara fisik dan kesesuaian secara ekonomi. ALES dapat mengevaluasi keduanya sebagai mana dijelaskan di bawah ini.

12.3.1 Evaluasi Lahan Fisik


Evaluasi kesesuaian secara fisik menunjukkan tingkat kesesuaian untuk suatu penggunaan lahan tanpa memperhatikan kondisi ekonomi. Dalam

klasifikasi ini hanya ditekankan pada aspek kesesuaian yang relatif tetap, seperti kondisi iklim, tanah dan bukan pada aspek yang mudah bembah seperti harga. Evaluasi lahan secara fisik cenderung menekankan pada risiko dan bahaya seperti terhadap lingkungan atau terhadap pembataspembatas mutlak seperti iklim. Pertimbangannya adalah bahwa jika suatu penggunaan terlalu beresiko atau secara fisik tidak memungkinkan, maka tidak perlu dilakukan analisis ekonomi. Dalam ALES jika suatu satuan peta yang dinyatakan secara fisik tidak sesuai, maka satuan peta tersebut tidak akan dievaluasi secara ekonomi. Lahan-lahan yang secara ekonomi tidak termasuk N2, dapat dianalisis menggunakan evaluasi fisik untuk membagi lahan ke dalam tingkat kesesuaian. Keuntungannya adalah bahwa kesesuaian fisik tidak berubah dengan cepat. Namun, evaluasi tersebut juga memiliki kerugian, diantaranya: (1) Keputusan penggunaan lahan sangat sering didasarkan pada pertimbangan ekonomi. (2) Tanpa pertimbangan ekonomi, tidak ada kejelasan mengenai bagaimana menentukan tingkat kesesuaian. (3) Tanpa analisis ekonomi, tidak ada kejelasan mengenai bagaimana membandingkan dua TPL yang berbeda, tetapi memiliki kesesuaian fisik yang sama. Evaluasi fisik juga dapat digunakan untuk membagi satuan peta ke dalam kelompok pengelolaan. Dalam hal ini subkelas kesesuaian fisik dirancang untuk memperlihatkan tingkat keparahan (kerawanan) relatif dari berbagai penghambat untuk penggunaan dan jenisnya. Misalnya subkelas 3e/c dapatmenunjukkan bahwa satuan peta yang dinilai memiliki pembatas sedang, (3) untuk penggunaan lahan yang dinilai dengan pembatas utama yang disebabkan bahaya erosi (e) dan iklim(c).

12.3.2 Penghitungan Kesesuaian Lahan dari Aspek Ekonomi


ALES bertujuan membekali perencana penggunaan lahan dengan estimasi ekonomi yang realistis dari kelas kesesuaian lahan masing-masing satuan lahan untuk setiap penggunaan lahan yang diusulkan. Evaluasi kesesuaian

lahan didasarkan atas pertimbangan keuntungan ekonomi, apabila suatu tipe penggunaan lahan diterapkan di suatu daerah. Kesesuaian lahan ekonomi dapat dievaluasi melalui ukuran-ukuran ekonomi (penghitungan nilai), seperti yang dikemukakan dalam Marwan et al. (1998) berikut: Gross Margin. Prediksi keuntungan ekonomi didasarkan pada prediksi jumlah pendapatan dikurangi jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan pada suatu luasan lahan tertentu (misalnya per hektar) dalam jangka waktu tertentu suatu proyek/usaha tani (misalnya per tahun), tanpa mempertimbangkan harga lahan usaha. Gross margin merupakan pendapatan hasil pertanian (produksi x. harga) dikurangi biaya produksi. Net present Value (NPV). NPV dari suatu tipe penggunaan lahan (TPL) merupakan nilai pendapatan sekarang (akhir usaha) dikurangi nilai biaya sekarang. NPV adalah nilai uang sekarang yang diperoleh sebagai hasil penerapan suatu TPL pada suatu luasan tertentu selama waktu penggunaan lahan tersebut, bukan per tahun pembukuan seperti pada gross margin. Benefit - Cost Rasio. B/C ratio merupakan nilai pendapatan sekarang di bagi dengan nilai biaya sekarang. (Jika nilai B/C ratio <1, maka biaya lebih besar dari pendapatan; B/C ratio = 1, biaya sama dengan pendapatan; dan B/C ratio >1, maka pendapatan lebih besar dari biaya). Internal Rate of Return (IRR) IRR merupakan besarnya potongan agar nilai pendapatan sekarang sama dengan nilai biaya sekarang. Apabila IRR lebih tinggi dari bunga bank, maka TPL yang diterapkan pada satuan peta tersebut adalah menguntungkan. Secara matematis, IRR adalah discount rate (bunga) dimana NPV adalah positif. IRR merupakan positif risiko keuangan suatu TPL. Dengan demikian, semakin tinggi IRR risiko semakin berkurang karena pendapatan lebih pasti.

Discounted Cash Flow Jumlah nilai uang sekarang yang lebih kecil dari yang akan datang sesuai dengan besarnya bunga pinjaman yang berlaku. Nilai sekarang = Nilai akan datang [ 1000 diperoleh dalam 10 tahun dengan bunga 21% ] 10 = 1.000 * 0,826410 = 148,64 ] lama usaha

100 + 21 [ Catatan:

Sekali pun B/C > 1 dan nilai NPV positif, belum menjamin bahwa proyek tersebut menguntungkan. Perlu dicek dengan besaran lain, yaitu IRR. Hal ini penting terutama jika proyek tersebut menggunakan dana pinjaman. Nilai rupiah yang diinvestasikan harus menghasilkan nilai rupiah yang lebih tinggi untuk jangka waktu tertentu. IRR (dinyatakan dengan %) merupakan tolok ukur keberhasilan proyek. Jika IRR > b (tingkat bunga pinjaman) dalam kondisi NPV = 0 dan B/C >1, maka proyek tersebut lebih menguntungkan.

12.3.3 Evaluasi Lahan Secara Ekonomi Menggunakan ALES


Dalam model ALES, tipe penggunaan lahan (TPL) dapat memiliki berbagai jumlah keluaran dengan berbagai jumlah tanaman dari masing-masing keluaran dalam suatu cakrawala perencanaan. Masukan dialokasikan untuk tahun-tahun spesifik dalam perencanaan atau mungkin berhubungan dengan tingkat produksi dari berbagai keluaran. ALES dapat menganalisis biaya ekonomi dari rotasi, sistem tumpang-sari dan multiplecropping. Keluaran dapat memiliki nilai negatif (harga), sehingga misalnya kehilangan lapisan tanah atas dapat digambarkan dalam perhitungan

ekonomi. Degradasi lingkungan di luar kawasan daerah studi dapat dilakukan dengan cara yang sama. Ada 3 macam biaya, yaitu: 1. Biaya yang melekat (inherent) dalam implementasi LUT, dalam disebut biaya S1. 2. Biaya yang hanya dikeluarkan pada satuan lahan tertentu memiliki kendala, yaitu tingkat kualitas lahan tidak optimal dalam ALES disebut biaya tambahan. 3. Biaya yang berhubungan dengan tingkat produksi yang dalam disebut biaya tergantung produksi. ALES yang yang ALES

Contoh ketiga macam biaya tersebut secara berurutun adalah sebagai berikut: 1. Praktek budidaya yang baku, seperti pembajakan, penanaman, pemupukan dan lain-lain, jika dilakukan pada semua lahan yang digunakan untuk TPL tersebut. 2. Penambahan kapur diperlukan untuk meningkatkan pH tanah masam sehingga sesuai bagi suatu tanaman. Catatan : masukan ini tidak diperlukan pada tanah yang netral, sehingga biaya hanya diberikan pada lahan-lahan tertentu yang tidak-optimal. (Dalam hal ini, deskripsi TPL harus dibuat spesifik sehingga petani mengetahui perbedaan tersebut (dalam jumlah kapur yang diberikan) di antara satuan lahan yang berbeda dan akan memperlakukan setiap satuan lahan menurut kebutuhannya). 3. Tenaga-kerja manusia untuk panen yang tergantung jumlah panenan, bukan berdasarkan luas lahan yang ditanami tanaman tersebut. Analisis ekonomi ALES umumnya tidak memasukkan biaya tetap dari satuan ekonomi (misalnya tanah pertanian) karena tidak tergantung pada luasan lahan pertanian. Namun, jika TPL diasumsikan memiliki ukuran tipikal, biaya tetap dapat dibagi berdasarkan ukuran ini dan dimasukkan sebagai biaya S1 per hektar untuk TPL tersebut. Dalam hal ini gross margin ALES merupakan net margin (dari biaya tetap).

Kaitan antara biaya produksi dengan persyaratan penggunaan lahan adalah semakin meningkat tingkat kendala (misalnya tingkat kerawanan yang lebih tinggi dari kualitas lahan yang setara) semakin meningkat biaya produksi (biaya tambahan yang dikemukakan sebelumnya) atau semakin menurun hasil produksi, atau bisa keduanya. Biaya produksi mungkin berulang (yang dalam ALES disebut biaya tahunan atau dalam tahun spesifik dalam skema perencanaan. Biaya dinyatakan oleh daftar sejumlah satuan masukan yang diperlukan, tetapi harga satuan dibuat dalam tabel terpisah. Jika harga dari masukan (input) berubah maka biaya total produksi dapat dihitung-ulang. ALES dengan mudah dapat menghitung hasil dan keuntungan ekonomi. Dengan demikian, evaluasi ekonomi yang dianggap memiliki kelemahan karena kondisi ekonomi dapat berubah dengan cepat dan dapat diatasi. Dalam beberapa menit, pengguna ALES dapat memasukkan parameter ekonomi yang baru ke dalam model ALES untuk kemudian menghitungulang, mengevaluasi dan mencetak hasil perhitungan nilai slenemi yang baru. Kelas Kesesuaian Lahan Secara Ekonomi Sekalipun ALES menyatakan hasil ekonomi dalam jumlah moneter yang pasti, tetapi kerangka kerja evaluasi lahan FAO (1976) mendefinisikan 2 ordo kesesuaian (S dan N) dan 5 kelas kesesuaian (S1, S2, S3, N1 dan N2). Agar konsisten dengan kerangka kerja FAO, maka ALES memungkinkan untuk mengklasifikasikan 4 kelas kesesuaian ekonomi. Kelas N2 merupakan lahan yang secara fisik tidak sesuai, sehingga tidak perlu dianalisis secara ekonomi. Djaenudin dan Hendrisman (2005), membedakan kelas kesesuaian lahan ekonomi dan pengertiannya sebagai berikut:

Lahan yang termasuk kelas S1 adalah lahan yang tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti atau nyata pengaruhnya terhadap suatu penggunaan atau pertumbuhan dan produksinya secara berkelanjutan, atau lahan terdapat faktor pembatas tetap yang hanya bersifat minor sehingga tidak akan mereduksi produktivitasnya secara nyata. Lahan yang tergolong S2 memiliki faktor pembatas yang akan berpengaruh terhadap produktivitas, sehingga untuk mengatasinya diperlukan tambahan masukan (input). Lahan yang tergolong S3 memiliki faktor pembatas yang berat yang akan berpengaruh terhadap produktivitas lahan. Untuk mengatasinya diperlukan tambahan input dan teknologi yang lebih banyak daripada lahan yang termasuk S2. Lahan yang termasuk ordo N mempunyai faktor pembatas sangat berat, yang kalau secara ekonomi tidak sesuai maka digolongkan sebagai kelas N1. Sedangkan jika secara fisik tidak sesuai maka digolongkan sebagai kelas N2. Penelitian evaluasi lahan secara kuantitatif fisik mencakup dua aspek. Yang pertama adalah aspek sumber daya lahan, terdiri atas pengumpulan dan interpretasi data iklim, tanah dan keadaan medan (kualitas/karakteristik lahan). Yang kedua adalah aspek agronomi yang berkaitan dengan tipe penggunaan lahan (mencakup persyaratan tumbuh tanaman dan input tingkat manajemen serta produksi (output) yang diharapkan). Adapun evaluasi lahan ekonomi harus mencakup aspek ke-3, yaitu yang berkaitan dengan parameter dan analisis sosial ekonomi serta budaya petani setempat.

12.4 Hal-hal Penting Menggunakan ALES

dalam

Evaluasi

Lahan

Berikut ini diuraikan beberapa hal yang penting diperhatikan dalam menggunakan program ALES, yaitu: (1) ALES mengevaluasi satuan Peta, (2) ALES umumnya menggunakan data yang diklasifikasikan, (3) ALES umumnya menggunakan pohon keputusan untuk menyimpulkan kelas kesesuaian lahan (4) ALES mengestimasi hasil dalam bentuk nilai optimal.

12.4.1Evaluasi Satuan peta dengan ALES


Salah satu keterbatasan ALES adalah tidak memiliki kemampuan georeferencing (acuan tentang posisi geografi) dan tidak dapat menghasilkan peta, sehingga analisis mengalami kesulitan dalam menghitung persyaratan proximity or adjacency (kedekatan atau ketepatan). ALES umumnya membuat pernyataan tentang satuan peta, yaitu seperangkat delineasi pada suatu peta dan beranggapan bahwa sifatsifat dari semua delineasi dengan nama yang sama adalah identik (serupa) dalam deskripsi satuan peta. Oleh karena delineasi satuan peta mempunyai lokasi yang menyebar, maka sulit untuk menetapkan suatu nilai terhadap karakteristik lahan secara geografi. Satuan peta dalam ALES secara tipikal merupakan satuan-satuan alami yang didefinisikan berdasarkan hasil inventarisasi sumberdaya alam yaitu tanah, geomorfologi atau fisiografi. Sistem informasi geografi (SIG) merupakan alat yang ideal untuk melakukan analisis spasial dan sebagai hasil dari analisis ALES dan dapat digunakan sebagai lapisan data dalam sistem ini. Namun demikian, sangat memungkinkan menggunakan ALES untuk mengevaluasi delineasi atau satuan pengelolaan yang memiliki lokasi yang spesifik dan untuk mendefinisikan karakteristik lahan spasial, misalnya letak dari pasar, kedekatannya dengan daerah yang dilindungi dan lain-lain. ALES juga sangat memungkinkan untuk digunakan sebagai Persyaratan Penggunaan Lahan spasial, misalnya kedekatan (adjacency), dan dalam pohon keputusan. Karena ALES tidak memiliki masukan atau keluaran dalam

bentuk peta, maka nilai data dari karakteristik lahan harus diperoleh dari peta atau SIG dan dimasukkan ke dalam basisdata ALES secara manual.

12.4.2 Penggunaan Data yang Diklasifikasikan dalam ALES


Dalam ALES, entitas yang digunakan sebagai basis untuk membangun model (yaitu karakteristik lahan) sebaiknya diperlakukan sebagai data yang diklasifikasikan, yaitu nilai data yang berasal dari penggunaan small finite set of possibilities. Data ini dapat berupa data ordinal yang berskala kontinyu, seperti kelas lereng atau nominal (dengan atau tanpa harkat), sebagai contoh kelas tekstur. ALES juga memungkinkan, pembuat model untuk mendefinisikan karakteristik lahan kontinyu, yaitu nilai data dari seperangkat kemungkinan tidak terhingga dalam beberapa selang (range) dari bilangan real. Misalnya lereng yang dinyatakan dalam persen atau derajat, sebagai lawan dari kelas lereng. ALES menghendaki agar nilai-nilai tersebut dikonversi ke dalam klasifikasi data analog dengan jalan mendefinisikan apa yang disebut karakteristik lahan sepadan (commensurrate). (yaitu dengan skala pengukuran yang sama), sebelum kualitas lahan dapat ditentukan. Ada beberapa pertimbangan dalam menggunakan data skala yang diklasifikasikan sebagai dasar untuk menyusun model. Yang penting adalah bahwa ALES mengevaluasi dari lahan, bukan titik pengamatan individu, sehingga nilai tunggal pada skala kontinyu tidak memiliki arti sebagai suatu kelas. Kelas ordinal mewakili selang di mana kebanyakan dari keragaman dalam suatu satuan pita diperkirakan akan termasuk. Tentu saja data nominal tidak memiliki analog yang kontinyu. Dalam ALES, pembuat model ALES dapat mengkombinasikan nilai karakteristik lahan ke dalam nilai komposit dengan rumus tertentu yang baku (misalnya persamaan kehilangan tanah atau model regresi). Dengan demikian, suatu karakteristik lahan yang kontinyu dapat berasal dari rumus seperangkat karakteristik lahan kontinyu lainnya. Karakteristik yang diturunkan dari suatu rumus tertentu dapat digunakan dalam rumus lain atau langsung

dikonversi menjadi suatu karakteristik lahan yang diklasifikasikan untuk digunakan dalam pohon keputusan.

12.4.3 Penggunaan Pohon Keputusan (Decision Trees) untuk menyimpulkan Kelas Kesesuaian Lahan dalam ALES
Cara pembuat model ALES mempertimbangkan data yang diklasifikasikan adalah dengan membangun pohon keputusan. Pohon keputusan merupakan kunci hirarki beragam cara di mana daun merupakan hasil pengharkatan (rating) faktor tunggal. Kualitas lahan (tingkat kerawanan) dan ruas bagian dalam (titik-titik cabang) pohon merupakan kriteria keputusan seperti nilai karakteristik lahan. Pohon ini dibangun oleh pembuat model yang berlangsung selama perhitungan hasil evaluasi dengan menggunakan data lahan aktual untuk setiap satuan peta yang dievaluasi. Gambar 12.4 memperlihatkan pohon keputusan sederhana menggunakan logika dari Sanchez et al. (1982) yang memungkinkan ALES untuk menentukan nilai kualitas lahan potensial untuk fiksasi P oleh besi dari karakteristik lahan; (1)Fe2O3 terhadap liat dalam tanah atas, (2) persentase liat dalam tanah atas, (3) warna hue dari matriks tanah atas dan (4) struktur tanah atas. Sebagai catatan, pohon keputusan ALES memungkinkan data yang kosong (tidak diketahui) digantikan oleh kriteria lain, tetapi kriteria tersebut harus ditentukan secara tepat oleh pembuat model. Dalam ALES, pohon keputusan digunakan untuk menentukan: 1. Faktor harkat atau tingkat (dalam ALES disebut tingkat kerawanan) kualitas lahan yang berasal dari nilai-nilai karakteristik lahan. 2. Proporsi hasil yang diharapkan dari keluaran yang berasal dari nilainilai kualitas lahan (hasil proporsional dapat juga ditentukan oleh faktor pembatas atau faktor yang meningkatkan produksi). 3. Subkelas kesesuaian fisik nilai-nilai kualitas lahan. (Subkelas kesesuaian lahan fisik dapat juga ditentukan menggunakan metode pembatas maksimum.)

4. Nilai-nilai dari karakteristik lahan yang diklasifikasi, yang berasal dari seperangkat karakteristik lahan 1 yang diklasifikasi lainnya. Pohon keputusan memiliki beberapa keuntungan sebagai suatu metode untuk menyimpulkan. Pertama, model dan penggunanya mempunyai gambaran yang jelas mengenai proses untuk membuat kesimpulan atau keputusan. pohon dapat ditelusuri secara manual atau dengan bantuan ALES melalui penjelasan yang dapat dilihat pada monitor dengan menekan tombol tertentu yang mengindikasi pertanyaan Mengapa/Why terjadi keputusan/kesimpulan seperti itu. Dengan demikian, pembuat model dapat melihat secara tepat bagaimana ALES mencapai kesimpulan tersebut, yang tentu saja didasarkan pada logika pembuat model.

Jika banyak faktor yang harus dipertimbangkan, pohon keputusan dapat menjadi tidak praktis, karena akan bertumbuh secara eksponensial

dengan semakin banyak faktor yang di pertimbangkan. Oleh karena itu, ALES memungkinkan penggunaan multiplikatif (proporsional) dan faktor pembatas hasil serta metode pembatas maksimum untuk kesesuaian fisik selain pohon keputusan dalam lingkungan yang tepat. Selain itu, pelaku evaluasi dapat memperkenalkan karakteristik lahan antara (intermediate atau inferred) dalam rangka menguraikan satu pohon menjadi beberapa komponen yang lebih kecil. Alur penggunaan pohon keputusan dalam bentuk bagan dikemukakan oleh Djaenudin dan Hendrisman (2005) seperti dalam Gambar 12.4.

12.4.4 Hasil Estimasi ALES dalam Bentuk Nilai Optimal


ALES tidak dapat mengestimasi hasil melalui simulasi model yang dinamik atau model statisik empiris. Dalam hal ini, pelaku evaluasi lahan menggunakan data riwayat produksi dari lahan yang dievaluasi, model atau pertimbangan ahli (expert judgment) untuk menentukan hasil optimal dari setiap keluaran masing-masing TPL. Pelaku evaluasi lahan juga dapat

menentukan bagaimana hasil optimal diturunkan pada lahan yang kurang optimal, baik melalui faktor pembatas hasil atau faktor yang melipat gandakan hasil untuk kualitas lahan yang dapat mempengaruhi hasil. Selain itu, pelaku evaluasi dapat menggunakan pohon heputusan produksi yang sebanding atau sepadan..(a proportional yield decision tree) dan kualitas lahan. Penentuan faktor-faktor hasil ini atau pembuatan hasil dan pohon keputusan aspek penting evaluasi ekonomi ALES. ***

XIII
PELAPORAN

ada Bab 1 telah disebutkan bahwa hasil dari suatu kegiatan inventarisasi sumber daya lahan (survei tanah) adalah peta dan laporan. Dalarn kegiatan inventarisasi sumber daya lahan, laporan merupakan tahapan akhir pekerjaan. Pelaporan merupakan suatu penyajian produk dari suatu kegiatan dalam bentuk naskah, gambar, tabel, grafik, dan peta. Kegiatan inventarisasi sumber daya lahan di Indonesia semakin beragatn dan berkembang dengan gaya pelaporan yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut terjadi karena adanya perbedaan dalam hal tingkat pemetaan, skala, tujuan penggunaan, dan instansi pelaksana atau pelaku kegiatan. Selain itu, belum ada pembakuan pedoman pelaporan yang dapat digunakan sebagai acuan secara nasional. Oleh karena itu, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1995) mengusulkan perlu disusun suatu pedoman untuk pembuatan laporan hasil inventarisasi sumber daya lahan, sehingga para pengguna dengan mudah dapat memahami dan memanfaatkan laporan hasil kegiatan tersebut yang harus akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan tersedianya buku pedoman baku pelaporan hasil survei dan pemetaan tanah, diharapkan siapapun pelaksana kegiatan inventarisasi sumber daya lahan dapat mengikuti norma-norma yang telah ditetapkan. Dalam setiap laporan hasil survei dan pemetaan tanah, penyajiannya dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu naskah laporan dan lampiran yang berupa peta-peta. Laporan survei hendaklah disusun secara sistematis, jelas dan akurat dengan bahasa dan istilah yang mudah dipahami, sehingga pengguna dapat dengan mudah membaca dan memanfaatkan data serta informasi yang terdapat dalam laporan tersebut. Kegiatan survei yang dilakukan di lapangan dengan susah payah yang dilanjutkan dengan analisis contoh tanah di laboratorium yang dilakukan secara hati-hati dan akurat serta memakan biaya yang tidak sedikit, akan kurang bernilai jika laporan disajikan kurang teliti dan seadanya. Format laporan survei tanah sangat beragam dan ditentukan oleh banyak faktor antara lain oleh skala, tingkat pemetaan, tujuan survei dan pengguna. Dalam setiap kegiatan inventarisasi sumber daya lahan pada umumnya, laporan terdiri atas 4 tahap, yaitu: (1) Laporan pendahuluan; (2) Laporan Kemajuan; (3) Konsep Laporan Akhir; dan (4) Laporan Akhir. Laporan pada masing-masing tahap berbeda isi (kandungan) maupun kelengkapannya. Laporan Pendahuluan berisi persiapan-persiapan yang dilakukan menjelang dilakukannya kegiatan lapangan. Dalam laporan ini disajikan hasil-hasil pengumpulan data sekunder, peta-peta hasil interpretasi foto udara maupun citra penginderaan jauh yang lain. Peta yang disajikan berupa peta wujud-lahan (peta landform) serta peta vegetasi dan penggunaan lahan. Selain itu yang terpenting adalah peta rencana pengamatan. Laporan Kemajuan dibuat setelah kegiatan survei lapangan dilakukan. Laporan ini terdiri atas naskah dan atlas peta-peta. Dalam naskah disajikan hasil pengolahan data sekunder berupa data iklim,

hidrologi dan pertanian. Peta-peta yang di laporkan adalah peta pengamatan, peta tanah, legenda peta sementara (sebelum diperoleh data analisis laboratorium), serta peta vegetasi dan penggunaan lahan. Konsep Laporan Akhir memiliki format yang sama dengan laporan akhir, tetapi masih berupa konsep yang perlu dibahas bersama-sama dengan tim korelator/evaluator. Pada tahap ini beberapa hasil analisis laboratorium sudah disajikan meskipun belum seluruhnya selesai. Klasifikasi tanah dan hasii evaluasi lahan serta peta-peta dibahas secara mendalam. Dalam Laporan Akhir, sebaiknya data dan peta hasil diskusi telah dibahas dengan cermat bersama tim korelator sehingga kesalahankesalahan yang ada telah dapat direvisi. Dalam suatu laporan biasanya pembaca menghendaki dalam waktu yang relatif singkat dapat mengetahui keseluruhan isi laporan serta kesimpulan dan saran-saran, sebelum mendalami hal-hal yang detail dalam tiap-tiap bagian laporan. Untuk itu perlu dibuatkan ringkasan (summary) dalam buku naskah laporan. Hal-hal yang lebih detail yang bersifat teknis disajikan dalam bagian Lampiran atau dalam buku yang terpisah. Peta-peta publikasi (sesuai dengan skala pemetaan) sebaiknya disajikan dalam buku tersendiri. Pada umumnya laporan akhir suatu survei tanah terdiri atas beberapa buku yang terpisah, misalnya Laporan survei dan Pemetaan Tanah LREP II terdiri atas Buku I: Naskah; Buku: II Atlas Peta-peta; dan Buku III: Lampiran. Dalam Buku I diuraikan kegiatan yang dilakukan dalam survei tanah yang meliputi latar belakang dan tujuan survei, metodologi, hasil dan pembahasannya, serta kesimpulan dan rekomendasi. Dalam Buku II disajikan peta-peta yang terdiri atas: (1)Peta Topografi, (:2) Peta Wujud-lahan, (3) Peta Pengamatan, (4) Peta Tanah, (5)

Peta Vegetasi dan Penggunaan Lahan, (6) Peta Kesesuaian Lahan dan (7) Peta Rekomendasi. Peta ini berskala sesuai dengan yang disajikan dalam Kerangka Acuan (TOR). Buku III menyajikan lampiran-lampiran yang sangat penting bagi ahli tanah dan konsultan, berisi deskripsi seri/deskripsi profil tanah berikut data-data hasil laboratorium, contoh tanah, kurva neraca air, data analisis mineral liat, data-kimia dan kesuburan tanah, data fisika dan konservasi tanah, data hasil analisis contoh air dan lain-lain yang menunjang kegiatan survei. Di bawah ini disajikan uraian yang dikemukakan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1995) dalam upaya membakukan bentuk-bentuk laporan dan peta-peta yang dihasilkan dalam suatu kegiatan survei dan pemetaan tanah diIndonesia.

13.1 Penyajian Naskah Laporan


13.1.1 Jenis Laporan
Di atas telah disebutkan bahwa Laporan Inventarisasi sumber Daya Lahan (survei tanah) dapat dibedakan atas 4 tahap, yaitu Tahap I (persiapan), Tahap II (kemajuan), Tahap III (konsep akhir), dan Tahap IV (akhir). Tahap I (Persiapan) Laporan tahap I merupakan laporan hasil dari persiapan yang telah dilakukan dan hasil kegiatan pra survei. Hasil tersebut berupa pengumpulan data sekunder dan peta-peta hasil interpretasi foto udara dan citra satelit, sesuai dengan kebutuhan tingkat survei yang dilakukan. Bagan (outline) dari laporan tahap I disajikan dalam Tabel 12.1. Tahap II Laporan Kemajuan Laporan Tahap II dibuat setelah dilakukan kegiatan lapangan. Hasil yang disajikan berupa naskah laporan dan peta-peta hasil pengamatan lapangan. pada tahap ini dilakukan pengolahan data sekunder (antara lain:

iklim, hidrolog i, dan data pertanian) dan pengajuan analisis tanah dan air. Bagan (outline) dari laporan tahap II disajikan dalam Tabel 12.2. Tahap III Laporan Konsep Akhir Laporan tahap III merupakan laporan konsep akhir yang sudah dilengkapi data analisis, akan tetapi masih memerluka perbaikan-perbaikan sesuai dengan saran-saran tim korelasi/evaluasi. Dalam evaluasi ini dilakukan korelasi akhir terhadap klasifikasi tanah (satuan tanah/satuan taksonomi tanah). Bagan (outline) dari laporan tahap III disajikan dalam Tabel 12.8. Tahap lV Laporan Akhir Laporan akhir merupakan laporan final dan semua uraian yang disampaikan telah didukung data hasil analisis laboratorium. Dalam iaporan akhir harus disampaikan arahan atau rekomendasi yang diperlukan sesuai dengan maksud dan tujuan dari survei tanah tersebut. Bagan (outline) dari iaporan tahap IV disajikan dalam Tabel 12.4.

13.1.2 Peta-peta dalam laporan Survei Tanah


Jenis dan format peta dikemukakan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (1995) sepedi di bawah ini. 1. Jenis Peta a. Peta penunjang 1. Peta situasi yangmenggambarkan situasi daerah survei. 2. Peta indeks, terdiri atas indeks peta dasar dan jalur (garis) terbang foto udara dan atau indeks citra satelit lain yang meliput daerah survei. 3. Peta iklim menurut Oldeman et al (1975 -1980), Schmidt &Ferguson (1951) dan neraca air menurut Thornwaite dan Mather (1957).

4. Peta geologi yang dikutip dari peta georogi Direktorat Geologi, Bandung. b. Peta utama Penyajian peta utama dibedakan menurut tahap pelaporan (persiapan kemajuan, konsep akhia akhir). Laporan persiapan terdiri atas : 1. Peta landform (wujud lahan) hasil interpretasi foto udara 2. Peta vegetasi dan pertanian 3. Peta rencana pengamatan tanah (dapat disatukan dengan peta landform) Laporan kemajuan terdiri atas : 1. Peta landform dan pengamatan tanah 2. Peta tanah tentatif 3. Peta vegetasi dan pertanian Konsep laporan final terdiri atas: 1. 2. 3. 4. 5. Peta pengamatan tanah Peta vegetasi dan pertanian Peta tanah Peta kesesuaian lahan t Peta rekomendasi

Laporan final, terdiri atas: 1. 2. 3. 4. 5. Peta pengamatan tanah Peta vegetasi dan pertanian Peta tanah Peta kesesuaian lahan Peta rekomendasi

13.2 Format Peta


Format peta menurut pembakuan nasional Rupa Bumi adalah tata letak muka berdasarkan pembagian geografis yang sudah dibakukan (Bakosurtanal). Indonesia menggunakan sistem proyeksi Transverse

Mercator (TM) dengan sistem grid Universal Transverse Mercator (UTM). Pembagian lembar atau format peta berseri ditentukan oleh skala peta. Format peta hasil inventarisasi sumber daya lahan menurut tingkat ketelitian atau skala peta dapat disusun berdasar peta berseri atau peta kelompok. a. Peta berseri, mengacu kepada peta Rupa Bumi baku yaitu : (i). Peta Tanah Tinjau skala 1:250.000 ukuran format 1o 3o x 10 0 (ii). Peta Tanah Semi detail skala 1:100.000 ukuran format 30' x 30', 1:50.000 ukuran format 15' x 15' (iii). Peta Tanah Detail skala 1:25.000 ukuran format 7'30" x 7'30" b. Peta kelompok dibuat atau disajikan menurut pembagian administratif dan dibedakan atas: (i) Peta Tanah Tinjau skala 1:250.000: propinsi, kabupaten, kecamatan; (ii) Peta Tanah Semi detail skala 1: 100.000-1:50.000: kabupaten, kecamatan; (iii) Peta Tanah Detail skala 1:25.000: kecamatan. c. Peta kelompok menurut daerah survei atau wilayah survei, tergantung pada tingkat pemetaan dan skala peta tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2001. Soil Morphogenesis. Agro/Hort 100 Intro to Plant Science Soil. http://weather.nmsu.edu/TeachingMaterial/soil350/Soil%20Morp hogenesis.htm. Diakses tanggal 1 juli 2003 Arsyad, S., 1989. Konservasi Tanah dan Air. penerbit IPB.

Bakosurtanal, 2002. Indeks Peta Rupa Bumi Pulau Sumatera. Bakosurtanal. Cibinong, Jabar. Balsem, T and P. Buurman, 1988. Jenis Analisa Kimia dan Fisika yang Disyaratkan untule Klasifikasi Tanah. Lap. Tenis No. 11a. Versi 1.1." Puslitan-LREP. Balsem, T and P. Buurman, 1990. Guidelines for Land Unit Description Center for Soil and Agrocrimate Research, Bogor. Technical Report 13. LREP-I. Beek, K.J. 1978. Land Evaluation for Agricultural Development. ILRI Publication 28, Wageningen: ILRI. Brady, N. C. and R. R. Weil. 2004. Elements of the Nature and, Properties of Soils. Prentice-Hall, Inc., NJ. Buol, S. W., R. J. Southard , R.C. Graham and P.A. McDaniel, 2003. Soil Genesis and Classification, 5th ed. Iowa state University Press. pp 494. Buol, S.W., 1986. Fertility Capabitity Classification System and Its Utilization. Soil Management Under Humid Conditions in Asia and Pacific. ASIALAND. IBSRAM, Bangkok, pp. 318-331. Buol, S.W., Couto, W., 1981. Soil Fertility Capability Assessment for Use in The Humid, Tropics. In : Greenland, D.J. (Ed.), Characterization of Soils in Relation to their Management for Crop Production: Examples from the Humid Thopics. Clarendon Press, London, pp. 254-261. Buol, S,W., Sanchez, P.A., Cate, R.8., Granger, M.A., 1975. Soil Fertility Capability Classification. In: Bornemisza, E., Alvarado, A. (Eds.), Soil Management in Tropical America. North Carolina State University, Raleigh, pp. 126 - 141. Burt, Rebecca (ed), 1995., "Soil Survey Laboratory Information Manual". National Soil Survey Center (NSSC. Soil Survey Laboratory Lincoln, Nebraska. Soil Survey Investigation Report No 45. Version 1.0, May 1995.

Buurman, P. and J. Dai, 1989. "The SoiI Database and Its Role in Soil Science and Agricultural Development. Indonesian Agricultural Research and Development Journal. Vol 11, No 2: 47-56. Carating, R. and T. Ohkura (eds), 1998. "The Soil Productivity Capability Classification Sistem", Prepared as Part of the Work Program Under the Tentative Schedule of Implementation, SRDC-JICA Technical Cooperation Program, Phase II. Published as SPCC Technical Information Series No. 3, Third Edition, June 1998. CSAR, 1994. Kerangka Acuan Survei Tanah Semi-Detail Daerah Prioritas." TOR 1. LREP-II Part C. CSAR, Bogor. Dent, D, and A. Young, 1981. Soil Survey and Land Evaluation. George Allen and Unwin. London. Desaunettes, J.R., 1977. "Catalogue of Landforms for Indanesia." Working Paper no. 13. SRI, Bogor. Dijkerman, J.C. and J. Widianingsih, 1985. "Evaluasi Lahan". Communications Soil Sciences Unibraw No. 2. Jurusan Tanah FP Unibraw. Djaenudin, D., H. Basuni, S. Hardjowigeno, H. Subaryo, M. Sukardi, Ismangoen, Marsoedi Ds., N. Suharta, L. Hakim. Widagdo, J. Dai, V. Suwandi, S. Bachri, E.R. Jordens, 1994. "Kesesuaian Lahan Untuk Tanaman pertanian dan Tanaman Kehutanan". (Land Suitabitity for Agricultural and Silvicultural Plants). Laporan Teknis No. 7. Versi 1.0. LREP-II Part C. CSAR, Bogor. Djaenudin. D. H. Marwan, H. Subag;ro, A. Mulyani., 1997, Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Komoditi pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Djaenudin. D., Marwan H., Hidayatullah, K. Nugroho, E.R. Jordens, AJ.J. v.d. Eelaart and D.G. Rossiter, 1997. "Standard Procedures for Land Evaluation. Technical Report No. 18 Version 3.0 LREP-II part C. CSAR, Bogor.

Djaenudin, D. dan M. Hendrisman, 2005."Evaluasi Lahan Secara Kuantitatif: Studi Kasus pada Tanaman Jagung, Kacang Tanah dan Kacang Hijau di Daerah paguyaman, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo." Jurnal Tanah dan Lingkungan. Vol 7 No. 1: 27-35 Dorronsoro, C., 2006. Soil Evaluation; The Role of Soil Science in Land Evaluation Available at URL HTTP://edafologia.ugr.es/comun/congres/cartart.htm. Diakses tgl 30 Januari 2006 Elbersen, G.W.W., 1984. Syllabus Soil Survey Methodology. ITC, Enschede EUROCONSULT. 1989. Agricultural Compendium for Rural Development in The Tropics and Subtropics. Amsterdam: Elsevier. 740 pp. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, 1995. , Survei dan Pemetaan Tanah Semi Detil Daerah Pantai Dompu, Nusa Tenggara Barat; untuk Pengembangan pariwisata. Laporan Akhir. Buku I. Naskah. Kerjasama Fak. Pertanian Unibraw dengan Bag. Proyek pengelolaan Sumber Daya Tanah LREP II Part C. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, 1995. "Survei dan Pemetaan Tanah Semi Detil Daerah Pantai Tambora dan Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat; untuk Pengembangan Peternalean dnn Pariwisata". Laporan Akhir. Buku I, II dan III. Naskah. Kerjasama Fak. Pertanian Unibraw dengan Bag. Proyek Pengelolaan Sumber Daya Tanah LREP II Part C. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor. FAO, 1976. "A Framework for Land Evaluation" FAO Soil Bulletin 32. Soil Resources Management and Conservation Service Land and Water Development Division. Rome, Italy: FAO FAO, 1983. "Guidelines Land Evaluation for Rainfed Agriculture. Soil Resources Management and Conservation Service Land and Water Development Division". FAO Soil Bulletin No 52.

FAO, 1984. "Land Evaluation for Forestry". Forestry Paper 48, Rome,Italy: FAO. 123 pp. FAO, 1985. "Guidelines: Land Evaluation for Irigated. Agriculture". Soils Bulletin 55, Rome, Italy: FAO. 231 pp. FAO, 1990."Guidelines for Soil Description".3rd Edition. (revised) Soil Res. Dev. and Coserv.derwice. Land and Water Dev. FAO, Rome. FAO, 1991."Guidelines: Land Evaluation for Extensive Grazing. Soils Bulletin 58, Rome, Italy: FAO. 158 pp. FAO, 1995. "Planning for Sustainable Use of Land Resources: Towards A New Approach." FAO Land and Water Bulletin 2. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Viale belle Terme di Caracalla, 00100 Rome, Italy. Fanning D.S. and M.S.B. Fanning, 1989. Soil Morphology, Genesis and Classification. John Wiley & Sons. New York. Forbes, T.R., Rossiter, D., & Van Wambeke, A. 1982. Guidelines for Evaluating the Adequacy of Soil Resource Inventories. 1987 Printing ed. SMSS Technical Monograph #4, Ithaca, NY: Cornell University Department of Agronomy. Goosen, D., 1967. "Aerial photo Interpretation in soil survey. FAO Bulletin No. 6. FAO, Rome. Hardani, Y., 2004. "Analisis Spasial Kapabilitas Kesuburan Tanah Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Skripsi Jurusan Tanah FP Unibraw. Hardjowigeno, S, Ismangun, D. Djaenudin dan V, Suwandi 1994. Pedoman Klasifikasi Seri tanah." Laporan Teknis No. 1. CSAR, Bogor. Hardjowigeno, S, Marsoedi Ds, dan Ismangun , 1994. Satuan Peta Tanah dan Legenda peta." Laporan Teknis No. 3. CSAR, Bogor.

Hardjowigeno, S, 2003. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Edisi Revisi. Penerbit Akademika Pressindo, Jakarta. Hardjowigeno. S., Widiatmaka, 2001, Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Tata Guna Lahan,Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hardjowigeno, S. dan M. L. Rayes. Tanah sawah: Karakteristik, Kondisi, dan Permasalahan Tanah Sawah di Indonesia. Bayumedia Publishing Hoff.J., J. Dai, K Nugroho, N. Suharta. E.R. Jordens, S. Hardjowigeno and U.Wood-Sichra, 1994. Coding Instructians for site and Horizons Descriptions. Technical Report No.6. Ver. 2. CSAR, Bogor. ISRIC, FAO, ISSS, 1998. "World Reference Base for Soil Resources," FAO Klingibiel, A. A. and Montgomery, (2002). "Land Capability Classification." USDA., Soil Conservation. Service. Agric. Handbook. No. 210. Issued September 1961, Scanned and formatted for MS-Word February 2002. Available at URL http://soils.usda.gov/technical/handbook/contents/part622p2.htm l Landon, J.R. (Ed.) 1984. Booker Tropical SoiI Manual. A Handbook for Soil Survey and Agricultural Land Evaluation in The Tropics and Subtropics. Booker Agriculture International Limited. London. Marsoedi, Ds, Widagdo, J. Dai, N. Suharta, Darul SWP, S. Hardjowigeno dan J. Hof, 1994. "Pedoman Klasifikasi Landform", Laporan Teknis No. 5. CSAR, Bogor. Marwan H., D.Djaenudin, Subagyo H., S. Hardjowigeno, dan E.R. Jordens, 1998. "Petunjuk Teknis Pengoperasian Program. Sistem Otomatisasi Penilaian Lahan (Automated Land Evaluation System (ALES). Versi 2, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Mohr, E,C.J., F.A. van Baren & J. Schuylenborgh, 1972. Tropical Soils. A Comprehensive Study of Their Genesis. Third revised and enlarged edition. Moution-Ichtiar Baru-Van Hoeve. The Hague- Paris-Djakarta. Mongkolsawat P, C., Thirangoon and P. Kuptawutinan., 1997. A Physical Evaluation of Land Suitability for Rice: A Methodological Study Using GIS." Available at URL http://www.gisdevelopment.net/aars/acrs/1997/ts11/ts11004.shtml Mongkolsawat P., C., Thirangoon and P. Kuptawutinan, 1999."Land Evaluation for Cambining Economic Crops Using GIS and Remotely Sensed Data." Available at URL http://www.gisdevelopment.net/aars/acrs/1999/ts1/ts1028.shtml Notohadiprawiro, R. M. T., 1985. Selidik Cepat Ciri Tanah diLapangan. Ghalia Indonesia. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1998 . Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan. Pusat Penelitian dan pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2005. Satu Abad Kiprah Lembaga Penelitian Tanah Indonesia 1905-2005. Puslitbanetanak, Badan penelitian dan pengembangan pertanian Dep. Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1995. Konsep Pembakuan Sistem Survei dan Pemetaan Nasional. Badan penelitian dan pengembangan pertanian. Bogor. Rayes, M.L., 1994. Foto Udara dalam pemetaan Tanah. Jur. Tanah, Fak. pertanian, Unibraw.Diktat Kuliah Rayes, M..L., 2006. Deskripsi Profil Tanah di Lapangan. Unit Penerbitan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Rossiter, D.G. & van Wambeke. A.R., 1995 ALES (Automated Land Evaluation System) version 4.5 Users Manual. SCAS Teaching Series

No. T93-2 Revision 5. Cornell University Departement of Soil, Crop & Atmospheric Science,Ithaca, NY. Rossiter, D.G. 1994. Lecture Notes: "Land Evaluation. College of Agriculture and Life Sciences. Dept. of Soil, Crop & Atmospheric sciences. SCAS Teaching Series T94-1. Cornell University. Rossiter, D.G., 1996. A Theoretical Framework for Land, Evaluation GEODERMA, 72 (1996): 165-202 Rossiter, D.G-, 2000. Methodologi for soil Resource Inventories. ITC Lecture Notes & Reference. Soil Science Division International Institute for Aerospace Survey & Earth Sciences (ITC). March 2000. Sanchez, P.A., C. A. palma, S. W. Buol, 2003. Fertility Capability Soil Classification: A Tool to Help Assess soil Quality in The Tropics. Geoderma 114 (2003) 157-185. Sanchez, P.A., Couto, W., Buol, . S.W., 1982. The Fertility Capablity so Classification System: Interpretation Applicability and Modification. Geoderma 27, 283- 309. Schoeneberger P.J., D. A. Wysocki, E.C. Benham, and W.D. Broderson. 1998. "Field Book for Describing and Sampling Soils" National Soil Survey Service U.S . Department of Agriculture, Lincoln, Nebraska. Sichra, U. Wood, 1994. SHDE4 ver 2.0. "A site and Horizon Data Base Using Data Ease 4.2. Technical Report No. 12. Ver. 2.0. CSAR, Bogor. Sitorus, S.R.P., 1985. Evaluasi Sumberdaya Lahan. TARSITO Bandung. Sitorus, S.R.P., 1986. Survei Tanah dan Penggunaan Lahan. Lab. Survei Tanah dan Evaluasi Lahan, Jur. Tanah ,IPB Soil Survey Division staff. 1993. Soil survey Manual. Soil Conservation Service." U.S.Department of Agriculture Handbook 18.

Soil Survey Staff. 1999. National Soil survey Handbook, title 430-VI. USDA Naturai Resource Conservation Service. US Government printing Office. Washington DC, USA. Soil Survey Staff. 2003. The Keys to Soil Taxonomy, Ninth Edition. USDA, Natural Resources Conservation Service. Soil Survey Staff. 1999. Soil Taxonomy: A Basic System of Soil Classification for Making and Interpreting Soil Surveys, 2nd edition . Agriculture Handbook No. 436. Washington: United States Department of Agriculture. Soil Survey Team, FP Unibraw., 1982. "Soil Survey Kali Sereng Watershed Area (DAS KaIi Konto - East Java). " An Interim Report. NUFFIC UNIBRAW Soil Science Project. Malang. Subaryo, H., N. Suharta dan A. B. Siswanto,2004. Tanah-tanah Pertanian di Indonesia. Dalam: Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Bogor. Sys C., E. Van Ranst, J. Debaveye, and F. Beernaert, 1993. Land Evaluation Part I - III Crop Requirements. International Training Centre for PostGraduate Soil Scientists University Gent. Agricultural Publication - No. 7. Tim Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1994. Survei dan Pemetaan Sumberdaya Lahan untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Hutan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagian Proyek Pengelolaan Sumberdaya Tanah. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Tim Survei Tanah DAS Brantas, Puslittan, 1988. Laporan Survei dan Pemetaan Tanah Detil DAS Brantas Hulu, Kab. Malang, Blitar, Tulungagung dan Trenggalele Propinsi Jawa Timur. Proyek Pertanian Lahan Kering dan Konservasi Tanah. Bappeda JatimPuslittan Bogor.

Tisdale, S.L., Nelson, W.L., & Beaton, J.D. 1985. Soil Fertility and Fertilizers, 4th ed. New York: Macmillan. Unibraw, Malang Agric. Univ., Wageningen, 1984. Soils and Soil Conditions KaIi Konto Upper Watershed, East Java. Unibraw-Kali Konto Project. USDA-NCRS, 1995. "SoiI Survey Laboratory Information Manual." Soil Survey Investigations Report No. 45, Version 1.0. National Soil Survey Center, Soil Survey Laboratory, Lincoln, NE, p. 305 USDA-NCRS, 1996. "Soil Survey Laboratory Methods Manual." Soil Survey Investigations Report No. 42, Version 3.0, p. 693 USDA-NRCS. 2003. National Soil Survey Handbook, title 430-VI. Available at URL http://soils.usda.gov/technical/handbook/ (last verified 3/25/20O4). Diakses tanggal: 5 Mei 2005. Wambeke van A., P. Hasting, & M. Tolomeo, 1986. Newhall Simulation Model. Computer program. Departement of Agronomy. Bradfield Hall. Cornell University. Ithaca NY 14851. Copyright 1986. van Diepen, C.A., Van Keulen, H., Wolf, J., & Berkhout, J.A.A. 1991. Land Evaluation: from Intuition to Quantification, in Advances In Soil Science, Stewart, B.A., Editor. New york: Springer. p. 139-204. van Wambeke, A. and T. Forbes, 1986 (Eds). Guidelines for Using Soil Taxonomy in the Names of Soil Map Units. SMSS Technical Monograph no. 10. SMSS-SCS, USDA- Cornell University. Walmsley (1997). Soil Inventory Methods for British Columbia. The Resources Inventory Committee (RIC). http://srmwww.gov.bc.ca/risc/pubs/teecolo/soil/index.htm Wood, S.R. and F.J. Dent, 1983. LECS, A Land, Evaluation Computer System. Methdodology. Min. Agric. Govt. Of Indonesia/ FAO, AGOF/INS/78/006. Manual 5.

Young, A., 1976. Tropical Soils and Soil Survey. Cambridge University Press. Cambride. M. Luthfi Rayes lahir di Sumbawa, 5 Mei 1954. Memperoleh gelar Sarjana (S1) dari Jurusan Tanah dan Pemupukan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Januari 1978. Pada tahun 1985 mengikuti pendidikan Postgraduate Diploma bidang Survei Tanah di International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC) di Enchede, The Netherlands. Pada tahun 1987 di perguruan tinggi yang sama mengikuti Program Master of Science dan mendapat gelar M.Sc. pada tahun 1988. Memper-oleh gelar Doktor (S3) dari Institut Pertanian Bogor, Program Studi Ilmu Tanah pada tahun 2000. Bekerja sebagai Dosen di Jurusan Tanah Fakultas pertanian Universitas Brawijaya sejak tahun 1980 dan kini menjabat sebagai Ketua Jurusan Tanah. Selain itu, penulis juga menjadi dosen pada Program Pascasarjana, unversitas Brawijaya. Sejak tahun 1980-an, penulis ikut terlibat dalam berbagai kegiatan survei dan pemetaan tanah di beberapa daerah di Indonesia, mulai dari proyek P3MT, LREP I hingga LREP II. Penulis mengajar beberapa mata kuliah untuk mahasiswa S1 Universitas Brawijaya, antara lain Dasar-dasar Ilmu Tanah, Morfologi dan Klasifikasi Tanah, Survei Tanah dan Evaluasi Lahan, Taksonomi Tanah, Dasar-dasar Penginderaan Jauh dan Interpretasi Foto Udara, Sistem Informasi Sumber Daya Lahan serta Dasar-dasar Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Pada Program Pascasarjana Unibraw, penulis mem-beri mata kuliah Pedologi, Evaluasi Lahan dan Penggunaan Lahan, serta Sistem Informasi Geografi . Buku yang sudah diterbitkan adalah Tanah Sawah, (bersama prof.Dr. Ir. H. Sarwono Hardjowigeno, M.Sc.), Deskripsi ProfiI Tanah di Lapangan.