Anda di halaman 1dari 11

TUGAS GEOTHERMAL

LAPANGAN GEOTHERMAL CIBEUREUM-PARABAKTI, GN. SALAK

Oleh

Gerson Yosef Tappang 270110110048 Kelas B

FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2014

I. Kajian Geologi Gunung Salak


A. Geologi Regional Jabar Pergerakan lempeng Samudera Hindia ke arah lempeng benua Eurasia, yaitu pada Kapur Akhir- Tersier Awal menghasilkan jalur penunjaman yang lengkung dan disertai kegiatan magmatic (Asikin, 1974; Katili, 1974 dan Suparka, 1988). Gunung salak termasuk zona vulkanik quarter; Produk dari gunungapi Kwarter ada dua macam, yaitu batuan CalcAlkali dan batuan Alkali, dimana produk G. Salak merupakan Calc-Alkali.

Pada lapangan panasbumi Parabakti zonasi mineral ubahan terlihat berupa zona argilitik, propilitik dan potasik. Zona propilitik ada yang bersifat reservoir dengan permeabilitas baik, dan yang tidak bersifat reservoir dengan permeabilitas jelek-sedang, dimana zona sirkulasi dicirikan oleh kumpulan zona propilitik. Sedangkan zona Argilitik dicirikan oleh kandungan mineral ubahan dengan permeabilitas kecil, dan berfungsi sebagai lapisan penutup. Kumpulan mineral propilitik antara lain dihadiri oleh epidot, klorit, kwarsa, kalsit, dimana persentase mineral epidot dan klorit mencapai puncaknya pada sirkulasi hilang.

B. Sistem Dominasi Air Panas Seluruh tipe air reservoir dari sumur-sumur bor adalah Khlorida dengan nilai >7000 ppm. Sedangkan dipermukaan, hampir seluruh sumur bor berada pada daerah dengan tipe air asam sulfat, dengan kandungan klorida hampir <5ppm, dan sebagian kecil pada daerah tipe bikarbonat dengan kandungan khlorida antara5-50 ppm. Hal tersebut diperkirakan karena fluida yang berpindah dari reservoir kepermukaan mengalami pengenceran dan interaksi dengan fluida pada zona lapisan akifer yang mengalir dari daerah recharge ke daerah discharge. Juga dipengaruhi interaksi dengan variasi batuan yang juga mengalami ubahan oleh proses panas dari reservoir yang berpindah secara konveksi maupun konduksi kepermukaan. Proses masuknya air kedalam zona panas, selanjutnya dapat mengurangi atau menaikkan permeabilitas batuan yang telah terubah karena panas maupun yang belum terubah pada zona konduktif. Masuknya air kedalam zona konduktif pada sistim panasbumi, akan melarutkan batuan ubahan dan juga merubah komposisi kimia fluida. Kimia fluida reservoir dan permukaan perlu diperhatikan dampak negatifnya, antara lain korosi, scaling dan pencemaran lingkungan, dimana komposisi kimia fluida sangat dipengaruhi oleh batuan (Grindley dan Browne, 1976; Grant dkk, 1982; Ellis dan Mahon, 1977). Lapangan panasbumi Parabakti telah terbukti menghasilkan uap dengan system dominasi air panas. Maka oleh sebab itu perlu adanya pengkajian lebih mendalam mengenai karaktetistik model geologi reservoir panasbumi sistem airpanas. Tujuannya adalah agar dapat memberikan masukan alternatif eksplorasi dan eksploitasi tetap panasbumi disekitar Parabakti, G.Salak secara optimum. Dengan dasar pengkajian adalah petrologi dan hidrogeologinya. Pengkajian juga menggunakan data temperatur reservoir terukur dari sumur bor disekitar lapangan panasbumi Parabakti yang berkisar antara 215-281oC atau 420-538oF, dimana temperatur bertambah ke arah barat. Luas daerah reservoir adalah sekitar 7km2, dengan rata-rata ketebalan 1700 meter. lnterference test memperlihatkan volume total reservoir 65 dan 100 km3. Variasi tekanan antara 85 bar pada -100 meter, kecuali AW-05, dimana tekanan lebih rendah 5 bar dan kemungkinan AW-05 berada di daerah outflow dari fluida yang mengalir dari reservoir ke arah tenggara.

C. Geokimia Komposisi kimia fluida sangat mempengaruhi petrologi batuan ubahan(Grindley dan Browne, 1976; Ellis dan Mahon, 1977).Mineral ubahan di Lapangan panasbumi Parabakti adalah berupa kwarsa, kalsit, korit, epidot dan jenis mineral lempung yang merupakan penciri temperatur dan permeabilitas. Klorit muncul sejak kedalaman 500 feet sedangkan epidot muncul dekat puncak reservoir. Persentase bertambahnya epidot dan korit (5-10%) kemudian mengikuti kedalaman. Klorit berkurang setelah memasuki zona reservoir, sedangkan persentase epidot masih 5-10% mengikuti kedalaman reservoir, dimana batas bawah hilangnya epidot tidak diketahui. Puncak tingginya persentase epidot diperlihatkan dengan temperatur terukur 462483 F, dimana mirip dengan kisaran temperatur pada daerah panasbumi lain yaitu 464-500 F. Zona argilik di Lapangan panasbumi Parabakti merupakan zona lapisan penutup yang sifatnya impermeable, sedangan zona propilitik dibawahnya bersifat p ermeable dan merupakan zona produksi dimana zona argilik mulai hadir dan puncak persentase mineral klorit dan epidot. Zona potasik juga bersifat produksi dijumpai setempat-setempat. Kimia fluida pemunculan panasbumi di Lapangan panasbumi Parabakti didominasi oleh tipe asam sulfat (kompleks Cibeureum,Cipamanukan dan Awibengkok). Tipe bikarbonat muncul di Cikarang, Muhinin dan Ciseupan, sedangkan mata air panas Sarimaya adalah berupa tipe khlorida. Kimia fluida reservoir memperlihatkan ratio C1B berkisar 26-30 yang memperlihatkan berasal dari reservoir yang sama, sedangkan C1/C03, Geothermometer dan C1/S04 memperlihatkan pada AWI-07, 08, 09 dan 10-1 yang berada dibagian barat Parabakti lebih panas dibanding dengan daerah timurnya. Geothermometer menunjukkan angka 470-622 F yang sama dengan temperatur terukur dan pembentukan mineral ubahan pada zona propilitik dan potasik.

II. Metode Dalam Eksplorasi


Kegiatan eksplorasi dan pengembangan lapangan panas bumi yang dilakukan dalam usaha mencari sumberdaya panas bumi, membuktikan adanya sumberdaya serta memproduksikan dan memanfaatkan fluidanya dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 1. Eksplorasi pendahuluan atau Reconnaisance survei 2. Eksplorasi lanjut atau rinci (Pre-feasibility study) 3. Pemboran Eksplorasi 4. Studi kelayakan (Feasibility study) 5. Perencanaan 6. Pengembangan dan pembangunan 7. Produksi 8. Perluasan

A. Eksplorasi Pendahuluan Eksplorasi pendahuluan atau Reconnaisance survey dilakukan untuk mencari daerah prospek panas bumi, yaitu daerah yang menunjukkan tanda-tanda adanya sumberdaya panas bumi dilihat dari kenampakan dipermukaan, serta untuk mendapatkan gambaran mengenai geologi regional di daerah tersebut. Secara garis besar pekerjaan yang dihasilkan pada tahap ini terdiri dari : 1. Studi Literatur 2. Survei Lapangan 3. Analisa Data 4. Menentukan Daerah Prospek 5. Spekulasi Besar Potensi Listrik 6. Menentukan Jenis Survei yang Akan Dilakukan Selanjutnya

B. Eksplorasi Lanjut Tahap kedua dari kegiatan eksplorasi adalah tahap pre-feasibility study atau tahap survey lanjut. Survei yang dilakukan terdiri dari survei geologi, geokimia dan geofisika. Tujuan dari survei tersebut adalah :

Mendapatkan informasi yang lebih baik mengenai kondisi geologi permukaan dan bawah permukaan

Mengidentifikasi daerah yang diduga mengandung sumberdaya panasbumi. Dari hasil eksplorasi rinci dapat diketahui dengan lebih baik mengenai penyebaran

batuan, struktur geologi, daerah alterasi hydrothermal, geometri cadangan panas bumi, hidrologi, system panasbumi, temperatur reservoir, potensi sumberdaya serta potensi listriknya. Untuk mencapai tujuan tersebut diatas, survei umumnya dilakukan di tempat-tempat yang diusulkan dari hasil survei pendahuluan. Luas daerah yang akan disurvei tergantung dari keadaan geologi morfologi, tetapi umumnya daerah yang disurvei adalah sekitar 5001000 km2, namun ada juga yang hanya seluas 10-100 km2. Waktu yang diperlukan sangat tergantung pada luas daerah yang diselidiki, jenis-jenis pengujian yang dilakukan serta jumlah orang yang terlibat. Bila sumberdaya siperkirakan mempunyai temperature tinggi dan mempunyai potensi untuk pembangkit listrik biasanya luas daerah yang diselidiki cukup luas, sehingga untuk menyelesaikan tahap pre-feasibility study (survei lapangan, interpretasi dan analisis data, pembuatan model hingga pembuatan laporan) diperlukan waktu sekitar satu tahun. Ada dua pendapat mengenai luas daerah yang diselidiki dan waktu yang diperlukan untuk eksplorasi rinci di daerah yang sumberdayanya diperkirakan mempunyai termperatur sedang. Sekelompok orang berpendapat bahwa apabila sumberdaya mempunyai temperatur sedang, maka dengan pertimbangan ekonomi luas daerah yang diselidiki bisa lebih kecil dan didaerah tersebut cukup hanya dilakukan satu jenis survey geofisika saja. Dengan demikian waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tahap pre-feasibility study menjadi lebih pendek, yaitu hanya beberapa bulan saja. Sementara kelompok lain berpendapat bahwa untuk daerah panasbumi dengan tingkatan prospek lebih rendah (sedang) dan akan dikembangkan justru memerlukan survey yang lebih lengkap dan lebih teliti untuk menghindarkan terlalu banyaknya kegagalan pemboran.

Survei Geologi Lanjut/Rinci

Survei geologi umumnya yang pertama dilakukan untuk memahami struktur geologi dan stratigrafi maka survei geologi rinci harus dilakukan di daerah yang cukup luas. Lama waktu penyelidikan tergantung pada luas daerah yang diselidiki serta jumlah orang yang terlibat dalam penyelidikan, tetpi hingga penulisan laporan biasanya diperlukan sekitar 3-6 bulan. Survei geologi ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran batuan secara mendatar maupun secara vertikal, struktur geologi, tektonik dan sejarah geologi dalam kaitannya dengan terbentuknya suatu sistem panas bumi termasuk memperkirakan luas daerah prospek dan sumber panasnya. Survei Geokimia Lanjut

Pekerjaan yang dilakukan pada suatu survei geokimia lanjut pada dasarnya hamper sama dengan pada tahap survei pendahuluan, tetapi pada tahap ini sampel harus diambil dari semua manifestasi permukaan yang ada di daerah tersebut dan di daerah sekitarnya untuk dianalisis di tampat pengambilan sampel dan atau di laboratorium. Analisis geokimia tidak hanya dilakukan pada fluida tau gas dari manifestasi panas permukaan, tetapi juga pada daerah lainnya untuk melihat kandungan gas dan unsureunsur tertentu yang terkadanga dalam tanah yang terbentuk karena aktivitas hydrothermal. Selain itu juga perlu dibuat manifestasi permukaan, yaitu peta yang menunjukkan lokasi serta jenis semua manifestasi panas bumi di daerah tersebut. Hasil analisis kimia fluida dan isotop air dan gas dari seluruh manifestasi panas permukaan dan daerah lainnya berguna untuk memperkirakan sistem dan temperature reservoir, asal sumber air, karakterisasi fluida dan sistem hidrologi di bawah permukaan. Hasil analisis air dapat juga digunakan untuk memperkirakan problema-problema yang munkin terjdadi (korosi danscale) apabila fluida dari sumberdaya panas bumi tersebut dimanfaatkan dikemudian hari. Survei Geofisika

Survei geofisika dilakukan setelah survei geologi dan geokimia karena biayanya lebih mahal. Dari sember geologi dan geokimia diusulkan daerah-daerah mana saja yang harus disurvei geofisika. Survei geofisika dilakuakn untuk mengetahui sifat fisik batuan mulai dari permukaan hingga kedalaman beberapa kilometer di bawah permukaan.

Dengan mengetahui sifat fisik batuan maka dapat diketahui daerah tempat terjadinya anomali yang dosebabkan oleh sistem panas buminya dan lebih lanjut geometri prospek serta lokasi dan bentuk batuan sumber panas dapat diperkirakan. Ada beberapa jenis survei geofisika, yaitu : 1. Survei resistivity 2. Survei gravity 3. Survei magnetic 4. Survei Macro Earth Quake (MEQ) 5. Survei aliran panas 6. Survei Self Potential Pemilihan jenis survei tergantung dari keadaan geologi dan struktur di daerah yang akan diselidiki, serta batasan anggaran untuk pengukuran di lapangan dan intrepetasi data. Survei geofisika yang pertama kali dilakukan umumnya adalah survei resistivity Schlumberger, gravity dan magnetickarena perlatannya mudah didapat dan biayanya murah. Dari ketiga survei geofisika ini diusulkan daerah prospek panas bumi untuk disurvei lebih detail dengan metoda yang lebih mahal yaitu magnetotelluric (MT) atau Control Source Audio (CSMT) untuk melihat struktur fisik batuan dengan kedalaman yang jauh lebih dalam dari maksimum kedalaman yang dicapai oleh metode Schlumberger yang hanya mampu untuk mendeteksi kedalaman sampai beberapa ratus meter saja.

III. Cadangan Dan Prospek Geothermal

Ini merupakan tabel yang menunjukan cadangan dan prospek geothermal di Indonesia, salah satunya termasuk lapangan Cibeureum-Parabakti, Gn. Salak.

IV. Manfaat Panansbumi di Gunung Salak


Sumber daya geothermal atau panas bumi sebagai sumber energi yang sustainable telah banyak dimanfaatkan baik secara langsung maupun secara tidak langsung. 1. Pemanfaatan sumber daya panas bumi secara langsung adalah pemanfaatan yang menggunakan panas dari fluida panas bumi secara langsung, misalnya kolam pemandian air panas, pemanas ruangan, pengeringan sayuran, dsb. 2. Pemanfaatan secara tidak langsung adalah dengan mengkonversi energi panas yang dimiliki fluida panas bumi menjadi listrik. Contohnya adalah adanya pengeboran energi panas bumi di daerah ini.

V. Daftar Pustaka
http://id.shvoong.com/internet-and-technologies/1934257-kekayaan-luar-dalam-dari-gunung/ http://www.esdm.go.id/berita/panas-bumi/45-panasbumi/4464-management-reserfouir-kuncikeberlanjutan-pemanfaatan-panas-bumi.html http://www.scribd.com/doc/90639144/Potensi-Panas-Bumi-Di-Gunung-Salak-Arif-Rochman http://www.scribd.com/doc/76769233/Rangkuman-Panas-Bumi-Gunung-Salak http://www.scribd.com/doc/214557832/Geothermal-Panas-Bumi-Indonesia http://nooradinugroho.wordpress.com/2008/10/15/kegiatan-eksplorasi-panas-bumi/