Anda di halaman 1dari 18

TUGAS KEPERAWATAN ANAK

HIPERAKTIF

Disusun oleh :
1. Djumiati
2. Martha Kristina
3. Kuswanto

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


ANTARIKSA JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR
PUJI SYUKUR KAMI PANJATKAN KEPADA ALLAH SWT,KARENA BERKAT
HIDAYAH DAN TAUFIQ NYA KAMI MAMPU MENYELESAIKAN PENYUSUNAN
MAKALAH YANG SEDERHANA INI,YANGKAMI BERJUDUL AUTISME DAN
HIPERAKTIF . SHOLAWAT BESERTA SALAM SEMOGA TETAP TERCURAH PADA
PANGKUAN NABI AGUNG MUHAMMAD SAW.
MAKALAH INI DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
KEPERAWATAN ANAK. YANG DIHARAPKAN BIAS MENAMBAH WAWASAN DAN
DAPAT BERMANFAAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN.KAMI MENGUCAPKAN
BANYAK TERIMA KASIH KEPADA PIHAK- PIHAK YANG TELAH MEMBANTU
MENYUSUN DALAM MENYELESAIKAN MAKALAH INI,TERUTAMA KEPADA IBU
DESRIDIUS CHALID,S.KEP.,M.KES, SELAKU DOSEN MATA KULIAH ,DAN JUGA
KEPADA TEMAN-TEMAN YANG TELAH MEMBERIKAN SEMANGAT DAN MOTIVASI
KEPADA PENYUSUN.
KAMI MENYADARI SEPENUHNYA BAHWA DALAM PENULISAN MAKALAH
INI,MASIH JAUH DARI SEMPURNA,SERTA MASIH BANYAK KEKURANGAN DAN
KESALAHAN. HARAPAN PENULIS DENGAN SEDIKIT INI BISA MEMBERIKAN
MANFAAT BAGI KITA SEMUA,TERUTAMA BAGI TIM PENYUSUN,DAN MUDAH
MUDAHAN MAKALAH INI,DAPAT MENDORONG PENULIS UNTUK LEBIH GIAT
BELAJAR DALAM PROSES MENIMBA ILMU DENGAN SEBAIK BAIKNYA. AMIN YA
ROBBAL ALAMIN
BEKASI,APRIL 2014

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perilaku siswa-siswi usia sekolah saat ini beragam, salah satu perilakunya adalah anak-anak
yang sangat sulit di atur, tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di
kelas. Anak-anak tersebut biasanya mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu
gangguan hiperkinetik yang secara luas di masyarakat disebut sebagai anak hiperaktif.
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan
hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini
juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain
dysfunction syndrome. Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat
susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk
tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong
pembicaraan guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang
diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa
maksimal. Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak yang
hiperaktif tersebut supaya mereka dapat memaksimalkan potnsi diri dan meningkatkan
prestasinya.
Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang
disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian.
Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian.
Gangguan ini disebabkan kerusakan kecil pada system saraf pusat dan otak sehingga rentang
konsentrasi penderita menjadi sangat pendek dan sulit dikendalikan. Penyebab lainnya
dikarenakan temperamen bawaan, pengaruh lingkungan, malfungsi otak, serta epilepsi. Atau

bisa juga karena gangguan di kepala seperti geger otak, trauma kepala karena persalinan sulit
atau pernah terbentur, infeksi, keracunan, gizi buruk, dan alergi makanan.
Pendekatan ini yaitu dengan adanya bimbingan konseling berupa layanan / treatment yang
sesuai dengan kebutuhannya. Sehingga dengan demikian, diharapkan setiap anak akan
memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik tanpa terkecuali, karena
pengajaran yang diberikan telah disesuaikan dengan kemampuan dan kesulitan yang
dimilikinya.
Di Indonesia angka kejadiannya masih belum angka yang pasti, meskipun tampaknya
kelainan ini tampak cukup banyak terjadi. Di Indonesia, belum ada data nasional karena
belum banyak dilakukan penelitian. Penelitian di kecamatan Gamping, kabupaten Sleman,
DIY, mendapatkan prevalensi 3%. Kejadian GPP dengan atau tanpa hiperaktivitas lebih
banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Data yang diperoleh dari Pusat pengkajian
dan Pengamatan Tumbuh Kembang Anak RSUD Dr. Sardjito dalam kurun tahun 1992-1998,
menunjukkan 17,685 dari total pasien adalah anak yang mengalami GPP dengan atau tanpa
hiperaktivitas. Atau, 9,56% dari total pasien adalah anak-anak yang mengalami GPP dengan
atau tanpa hiperaktivitas. Penelitian yang dilakukan oleh Gamayanti, Kumara, dan Firngadi
(1999) pada murid Tk kelas A se-Kotamadya Yogyakarta menunjukkan dari 3233 anak,
ditemui 215 penyandang GPP dengan atau tanpa hiperaktivitas (6,68%). Dari jumlah tersebut,
82,4% atau 177 anak menyandang GPP dan 17,6% atau 38 anak menyandang GPPH.
(Perilaku Anak Usia Dini; hal:147)
Terkadang seorang anak hanya dianggap 'nakal' atau 'bandel' dan 'bodoh', sehingga seringkali
tidak ditangani secara benar, seperti dengan kekerasan yang dilakukan oleh orang tua dan
guru akibat dari kurangnya pengertian dan pemahaman tentang ADHD. Terdapat
kecenderungan lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan. Secara
epidemiologis rasio kejadian dengan perbandingan 4 : 1. Namun tampaknya semakin lama
tampaknya kejadiannya semakin meningkat saja. Sering dijumpai pada anak usia pra sekolah
dan usia sekolah, terdapat kecenderungan keluhan ini akan berkurang setelah usia Sekolah
Dasar. Meskipun tak jarang beberapa manifestasi klinis tersebut dijumpai pada remaja atau
orang dewasa. ADHD adalah gangguan perkembangan yang mempunyai onset gejala
sebelum usia 7 tahun. Setelah usia anak, akan menetap saat remaja atau dewasa. Diperkirakan
penderita ADHD akan menetap sekitar 15-20% saat dewasa. Sekitar 65% akan mengalami
gejala sisa saat usia dewasa atau kadang secara perlahan menghilang. Angka kejadian ADHD
saat usia dewasa sekitar 2-7%. Predisposisi kelainan ini adalah 25 persen pada keluarga

dengan orang tua yang membakat. (hiperaktif/152-deteksi-dini-adhd-attention-deficithyperactive-disorders.htm)


Berdasarkan hal di atas maka kelompok kami mengambil kasus tentang anak hiperaktif untuk
memenuhi tugas keperawatan anak dan untuk lebih mengenal anak hiperaktif dengan ciricirinya serta mengetahui penyebab dan penanganan untuk anak hiperaktif. Sehingga kita
dapat mengaplikasikannya dalam memberikan asuhan keperawatan kepada anak hiperakti.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.

PENGERTIAN
1.

Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan perhatian


menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada anak-anak, yang sampai
saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas, hiperkinesis, kerusakan otak minimal
atau disfungsi serebral minimal. (Nelson, 1994).

2.

Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya Mengatasi Problem Anak Sehari-hari


mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah : Hiperaktif menunjukkan
adanya suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai
dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak
hatinya atau impulsif.

3.

Sani Budiantini Hermawan, Psi., Ditinjau secara psikologis hiperaktif adalah


gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan
gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian.

4.

Definisi hiperaktifitas adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada


tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada
dua tempat dan suasana yang berbeda.

5.

Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami Gangguan Pemusatan Perhatian


dengan Hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit and hyperactivity Disorder
(ADHD).

B.

ETIOLOGI
Pandangan-pandangan serta pendapatpendapat mengenai asal usul, gambaran
gambaran, bahkan mengenai realitas daripada gangguan ini masih berbedabeda serta
dipertentangkan satu sama lainnya. Beberapa orang berkeyakinan bahwa gangguan
tersebut mungkin sekali timbul sebagai akibat dari gangguangangguan di dalam
neurokimia atau neurofisiologi susunan syaraf pusat. Istilah gangguan kekurangan
perhatian merujuk kepada apa yang oleh banyak orang diyakini sebagai gangguan yang
utamanya. Sindroma tersebut diduga disebabkan oleh faktor genetik, pembuahan ataupun
racun, bahayabahaya yang diakibatkan terjadinya prematuritas atau immaturitas,
maupun rudapaksa, anoksia atau penyulit kelahiran lainnya.
Telah dilakukan pula pemeriksaan tentang temperamen sebagai kemungkinan
merupakan faktor yang

mempermudah timbulnya gangguan tersebut, sebagaimana

halnya dengan praktek pendidikan serta perawatan anak dan kesulitan emosional di dalam
interaksi orang tua anak yang bersangkutan. Sampai sekarang tidak ada satu atau
beberapa faktor penyebab pasti yang tidak dapat diperlihatkan. (hiperaktif/asuhankeperawatan-sindroma-hiperaktivitas.html)
Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah :
a. Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan
(ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi
protein melalui urin), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
b. Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala
anak.
c. Faktor lingkungan, kondisi lingkungan yang buruk, seperti adanya timah atau
nitrat dalam air keran, buangan uap atau gas, pestisida, dan zat kimia lain juga
dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Tingkat keracunan timbal yang
parah dapat mengakibatkan kerusakan otak. Hal ini ditandai dengan kesulitan
konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri
peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat
untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan dibawah
pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat tinggi, karena
obat tersebut mempunyai efek samping.

d. Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak


dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi
tidak terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi
dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut : perkembangan bahasa yang
lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak
berreaksi terhadap perubahan mimik & isyarat.
e. Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan
dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula
menjadi penyebab hiperaktivitas. Contoh kasus, orang tua yang bersikap
sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk
mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak
malah mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih
negatif dibanding kesalahan sebelumnya.
f. Kekurangan asam lemak esensial, dari hasil penelitian di Inggris dan Amerika
Serikat ditemukan beberapa anak hiperaktif juga menderita kekurangan sam
lemak esensial. Gejala kekurangan asam lemak esensial adalah rasa haus yang
hebat, kulit dan rambut kering, sering buang air kecil, serta ada riwayat alergi
seperti asma dan eksema.
g. Kekurangan zat gizi, beberapa anak hiperaktif menderita kekurangan zinc,
magnesium, atau vitamin B12.
h. Makanan, zat penambah makanan, pewarna, pengawet makanan, coklat, gula,
makanan dari susu, gandum, tomat, nitrat,jeruk, telur, dan makanan lain
diduga sebagai penyebab hiperaktif.
(Toddlercare Pedoman Merawat Balita; hal:89)
C.

PATOFISIOLOGI
Kurang konsentrasi/gangguan hiperaktivitas ditandai dengan gangguan konsentrasi,
sifat impulsif, dan hiperaktivitas. Tidak terdapat bukti yang meyakinkan tentang sesuatu
mekanisme patofisiologi ataupun gangguan biokimiawi. Anak pria yang hiperaktiv, yang
berusia antara 6 9 tahun serta yang mempunyai IQ yang sedang, yang telah memberikan
tanggapan yang baik terhadap pengobatanpengobatan stimulan, memperlihatkan derajat
perangsangan yang rendah (a low level of arousal) di dalam susunan syaraf pusat mereka,
sebelum pengobatan tersebut dilaksanakan, sebagaimana yang berhasil diukur dengan

mempergunakan elektroensefalografi, potensialpotensial yang diakibatkan secara


auditorik serta sifat penghantaran kulit. Anak pria ini mempunyai skor tinggi untuk
kegelisahan, mudahnya perhatian mereka dialihkan, lingkup perhatian mereka yang buruk
serta impulsivitas. Dengan 3 minggu pengobatan serta perawatan, maka angkaangka
laboratorik menjadi lebih mendekati normal serta penilaian yang diberikan oleh para guru
mereka memperlihatkan tingkah laku yang lebih baik. (hiperaktif/asuhan-keperawatansindroma-hiperaktivitas.html)

D.

MANIFESTASI KLINIK
Ciri utama anak yang menderita Sindroma Hiperaktivitas , yaitu:
1. Tidak ada perhatian
Ketidakmampuan

memusatkan

perhatian

atau

ketidak

mampuan

untuk

berkonsentrasi pada beberapa hal seperti membaca, menyimak pelajaran. Dan sering
tidak mendengarkan perkataan orang lain.

2. Hiperaktif
Mempunyai terlalu banyak energi. Misalnya berbicara terus menerus, tidak mampu
duduk diam, selalu bergerak, dan sulit tidur.
3. Impulsif
Sulit untuk menunggu giliran dalam permainan, sulit mengatur pekerjaannya,
bertindak tanpa dipikir, misalnya mengejar bola yang lari ke jalan raya, menabrak
pot bunga pada waktu berlari di ruangan, atau berbicara tanpa dipikirkan terlebih
dahulu akibatnya.
4. Menentang
Anak

dengan

gangguan

hiperaktivitas

umumnya

memiliki

sikap

penentang/pembangkang atau tidak mau dinasehati. Misalnya, penderita akan marah


jika dilarang berlari ke sana kemari, coret-coret atau naik-turun tak berhenti.
Penolakannya juga bisa ditunjukkan dengan sikap cuek.
5. Destruktif
Perilakunya bersifat destruktif atau merusak. Ketika menyusun lego misalnya, anak
aktif akan menyelesaikannya dengan baik sampai lego tersusun rapi. Sebaliknya
8

anak hiperaktif bukan menyelesaikannya malah menghancurkan mainan lego yang


sudah tersusun rapi. Terhadap barang-barang yang ada di rumah, seperti vas atau
pajangan lain, kecenderungan anak untuk menghancurkannya juga sangat besar.
Oleh karena itu, anak hiperaktif sebaiknya dijauhkan dari barang-barang yang
mudah dipegang dan mudah rusak.
6. Tanpa tujuan
Semua aktivitas dilakukan tanpa tujuan jelas. Kalau anak aktif, ketika naik ke atas
kursi punya tujuan, misalnya ingin mengambil mainan atau bermain peran sebagai
Superman. Anak hiperaktif melakukannya tanpa tujuan. Dia hanya naik dan turun
kursi saja.
7. Tidak sabar dan usil
Yang bersangkutan juga tidak memiliki sifat sabar. Ketika bermain dia tidak mau
menunggu giliran. Ketika dia ingin memainkan mobil-mobilan yang sedang
dimainkan oleh temannya, dia langsung merebut tanpa ba-bi-bu, komentar Sani.
Tak hanya itu, anak hiperaktif pun seringkali mengusili temannya tanpa alasan yang
jelas. Misalnya, tiba-tiba memukul, mendorong, menimpuk, dan sebagainya
meskipun tidak ada pemicu yang harus membuat anak melakukan hal seperti itu.
8.

Intelektualitas rendah
Seringkali intelektualitas anak dengan gangguan hiperaktivitas berada di bawah ratarata anak normal. Mungkin karena secara psikologis mentalnya sudah terganggu
sehingga ia tidak bisa menunjukkan kemampuan kreatifnya.
Ciri-ciri khusus anak yang hiperaktif diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering
menggeliat.
2. Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk manis.
3. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang tidak
selayaknya.
4. Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
5. Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga, tenaganya
tidak pernah habis.
6. Sering terlalu banyak bicara.
7. Sering sulit menunggu giliran.
8. Sering memotong atau menyela pembicaraan.
9

9. Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap apatis
terhadap lawan bicaranya).
E.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang akan menegakkan diagnosis gangguan
kekurangan perhatian. Anak yang mengalami hiperaktivitas dilaporkan memperlihatkan
jumlah gelombang-gelombang lambat yang bertambah banyak pada elektorensefalogram
mereka, tanpa disertai dengan adanya bukti tentang penyakit neurologik atau epilepsi
yang progresif, tetapi penemuan ini mempunyai makna yang tidak pasti. Suatu EEG yang
dianalisis oleh komputer akan dapat membantu di dalam melakukan penilaian tentang
ketidakmampuan belajar pada anak itu.

F.

KOMPLIKASI
6.

Diagnosis sekunder- gangguan konduksi, depresi dan penyakit ansietas.

7.

Pencapaian akademik kurang, gagal di sekolah, sulit membaca dan


mengerjakan aritmatika (sering kali akibat abnormalitas konsentrasi).

8.

Hubungan dengan teman sebaya buruk (sering kali akibat perilaku agresif dan
kata-kata yang diungkapkan).

10

G.

PENATALAKSANAAN
1. Medis
Rencana pengobatan bagi anak dengan gangguan ini terdiri atas penggunaan
psikostimulan, modifikasi perilaku, pendidikan orang tua, dan konseling keluarga.
Orang tua mungkin mengutarakan kekhawatirannya tentang penggunaan obat. Resiko
dan keuntungan dari obat harus dijelaskan pada orang tua, termasuk pencegahan
skolastik dan gangguan sosial

yang terus menerus karena pengunaan obat-obat

psikostimulan. Rating scale Conners dapat digunakan sebagai dasar pengobatan dan
untuk memantau efektifitas dari pengobatan.
Psikostimulan-

metilfenidat

(Ritalin),

amfetamin

sulfat

(Benzedrine),

dan

dekstroamfetamin sulfat (Dexedrine)- dapat memperbaiki rentang perhatian dan


konsentrasi anak dengan meningkatkan efek paradoksikal pada kebanyakan anak dan
sebagian orang dewasa yang menderita gangguan ini.
2. Keperawatan
Beberapa terapi yang dapat diberikan pada anak hiperaktif:
a. Terapi Bermain
Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan ketrampilan, kemampuan
gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam
melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana
persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain
digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut
dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan
terapi.
b. Terapi Perilaku
Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku
negatif yang sering muncul pada anak hiperaktif dan mencari solusinya dengan
merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk
memperbaiki perilakunya,
c. Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap
sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan
tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional

11

dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti


ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
Selain itu beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan
membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
a. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
b. Kenali kelebihan dan bakat anak
c. Membantu anak dalam bersosialisasi
d. Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan
penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib),
memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku ana
e. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan
kelebihan energinya
f. Menerima keterbatasan anak
g. Membangkitkan rasa percaya diri anak
h. Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak
yang sebenarnya
i. Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri
dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang
baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua
mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua
sebelumnya.

ASUHAN KEPERAWATAN
A.

Pengkajian
1.

Kaji riwayat keluarga melalui wawancara atau genogram.


Data yang dapat diperoleh apakah anak tersebut lahir premature, berat badan lahir
rendah, anoksia, penyulit kehamilan lainnyan atau ada faktor genetik yang diduga
sebagai penyebab dari gangguan hiperaktivitas pada anak.
12

2.

Kaji riwayat perilaku anak.


Riwayat perkembangan, dimana dulu seorang bayi yang gesit,

aktif dan banyak menuntut, yang mempunyai tanggapan tanggapan yang


mendalam dan kuat, dengan disertai kesulitan kesulitan makan dan tidur, kerap
kali pada bulan bulan pertama kehidupannya, sukar untuk menjadi tenang pada
waktu akan tidur serta lambat untuk membentuk irama diurnal. Kolik dilaporkan
agak umum terjadi pada mereka.
Laporan guru tentang permasalahan permasalahan akademis

serta tingkah laku di dalam kelas.


B.

Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan interaksi social
2. Gangguan konsep diri
3. Resiko tinggi penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif
4. Resiko tinggi perubahan peran menjadi orang tua
5. Resiko tinggi kekerasan
6. Resiko tinggi mencederai diri sendiri

C.

Perencanaan
Intervensi keperawatan umumnya diimplementasikan pada pasien rawat jalan dan
komunitas.
1.

Bantu orang tua dalam mengimplementasikan program perilaku agar


mencakup penguatan yang positif.
a.

Latih kefokusan anak


Jangan tekan anak, terima keadaannya. Perlakukan anak dengan hangat dan sabar,
tapi konsisten dan tegas dalam menerapkan norma dan tugas. Kalau anak tidak
bisa diam di satu tempat, coba pegang kedua tangannya dengan lembut, kemudian
ajak untuk duduk dan diam. Mintalah agar anak menatap mata anda ketika bicara
atau diajak berbicara. Berilah arahan dengan nada lembut.

b.

Telatenlah
Jika anak telah betah untuk duduklebih lama, bimbinglah anak untuk melatih
koordinasi mata dan tangan dengan cara menghubungkan titik titik yang
membentuk angka atau huruf. Selanjutnya anak diberi latihan menggambar
bentuk sederhana dan mewarnai. Bisa pula mulai diberikan latihan berhitung
13

dengan berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.


Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan dengan angka-angka di bawah
10. Setelah itu baru diperkenalkan konsep angka 0 dengan benar.
c.

Bangkitkan kepercayaan diri anak


Gunakan teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif.
Misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib. Tujuannya untuk
meningkatkan rasa percaya diri anak.

d.

Kenali arah minatnya


Jika anak bergerak terus jangan panik, ikutkan saja dan catat baik-baik, kemana
sebenarnya tujuan keaktifan dari anak. Yang paling penting adalah mengenali
bakat anak secara dini.

e.

Minta anak bicara


Anak hiperaktif cenderung susah berkomunikasi dan bersosialisasi. Karena itu
Bantu anak dalam bersosialisasi agar ia mempelajari nilai nilai apa saja yang
diterima di kelompoknya.

2.

Sediakan struktur kegiatan harian


Anak hendaknya mempunyai daftar kegiatan harian yang berjalan dengan teratur
menurut jadwal yang ditetapkan dan hendaknya segera mengikuti serta melaksanakan
kegiatan rutinnya itu, sebagaimana iharkn dari dirinya dan untuk itu anak dihadiahi
kata kata pujian.
Perangsangan yang berlebihan serta kelelahan yang sangat hebat hendaknya
dihindarkan. Anak membutuhkan saat santai setelah bermain, terutama setelah ia
melakukan kegiatan fisik yang kuat dan keras. Periode sebelum tidur harus
merupakan masa tenang, dengan cara menghindarkan acara televisi yang merangsang,
permainan yang keras dan jungkir balik.

3.

Beri obat stimulans sesuai instruksi.


a.

Stimulans dapat dihentikan sementara pada akhir pekan dan


hari libur. Di mana untuk menentukan apakah kemampuan pengendalian yang
dimiliki oleh anak itu sendiri telah mengalami suatu kemajuan.

b.

Stimulans tidak diberikan sesudah pukul 3 atau 4 sore,


dimana efek samping stimulans adalah insomnia. Insomnia dapat dicegah dengan
tidak lagi memberikan pengobatan perangsang setelah jam 3 sore serta mengatur

14

sedemikian rupa, sehingga periode sebelum tidur itu merupakan saat yang tenang
serta tidak merangsang.
D.

Perencanaan Pemulangan (Discharge Planning) dan Perawatan di


Rumah
1.

Didik dan bantu orang tua dan anggota keluarganya.

2.

Berkolaborasi dengan guru dan libatkan orang tua. Dorong orang tua untuk
menjamin bahwa guru dan perawat sekolah mengetahui tentang nama, dosis dan
waktu minum obat.

3.

Pastikan bahwa anak mendapatkan evalusi dan bimbingan akademik yang


diperlukan. Memasukkan anak dalam kelas pendidikan khusus sering kali diperlukan.

4.

Pantau kemajuan dan respons anak terhadap pengobatan.

5.

Rujuk ke spesialis perilaku dan orang tua untuk mengembangkan dan


mengimplementasikan rencana perilaku.

E.

Hasil yang Diharapkan


1.

Prestasi di sekolah meningkat, dibuktikan oleh nilai dan tugas-tugas yang


diselesaikan anak.

2.

Perilaku anak semakin baik menurut penilaian guru dan orang tua.

3.

Anak menunjukkan hubungan yang positif dengan teman sebaya.

BAB III
PENUTUP

15

i.

Kesimpulan
Sindroma hiperaktivitas merupakan istilah gangguan kekurangan
perhatian menandakan gangguan-gangguan sentral yang terdapat pada
anak-anak, yang sampai saat ini dicap sebagai menderita hiperaktivitas,
hiperkinesis, kerusakan otak minimal atau disfungsi serebral minimal.
(Nelson, 1994).
Ciri utama anak yang menderita sindroma hiperaktivitas yaitu tidak ada perhatian,

hiperaktif, impulsif, menentang, destruktif, tanpa tujuan, tidak sabar dan usil, intelektualitas
rendah.
Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah :
1. Kondisi saat hamil dan persalinan.
2. Cedera otak sesudah lahir.
3. Faktor lingkungan
4. Lemah pendengaran
5. Faktor psikis.
6. Kurang asam lemak esensial.
7. Kekurangan zat gizi.
8. makanan
Beberapa terapi yang dapat diberikan pada anak hiperaktif:
1. Terapi Bermain
2. Terapi Perilaku
3. Terapi Perkembangan
Selain itu beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan
membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
1. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas
2. Kenali kelebihan dan bakat anak
3. Membantu anak dalam bersosialisasi
4. Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat
positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan tertib), memberikan
disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku ana
16

5. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk menyalurkan
kelebihan energinya
6. Menerima keterbatasan anak
7. Membangkitkan rasa percaya diri anak
8. Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi anak
yang sebenarnya
9. Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri dengan
bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang baik kepada
anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua mengingatkan anak
tentang contoh yang pernah diberikan orang tua sebelumnya.
ii.

Saran
Dalam memberikan perawatan kepada anak dengan gangguan hiperaktivitas ditujukan
kepada keadaan sosial lingkungan rumah dan ruangan kelas penderita serta kepada
kebutuhan-kebutuhan akademik dan psikososial anak yang bersangkutan, dengan disertai
pemakaian obat-obat yang bijaksana. Perawat harus memberikan penjelasan yang terang
mengenai keadaan anak tersebut kepada kedua orang tuanya dan kepada anak itu sendiri.

17

DAFTAR PUSTAKA
J.I.G.M. Drost, S.J, dkk. Perilaku anak Usia Dini. Jakarta. Familia. 2001
L. Betz, Cecily, A. Sowden, Linda. Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 3. Alih Bahasa
Jan Tambayong. Jakarta, EGC, 2002
Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian 1. Alih Bahasa Hunardja S. Jakarta, Widya Medika,
2002
Nelson, Ilmu Pediatri Perkembangan. Alih Bahasa Moelia Radja Siregar. Jakarta, EGC, 1994
Pilliteri, Adelle, Child Health Nursing Care of The Child and Family. Philadelphia,
Lippincott, 1999
Thompson, june. Toddlecare Pedoman Merawat Balita. Alih Bahasa dr. Novita Jonathan,
MPH. Jakarta. Erlangga. 2003
Penanganan Anak Hiperaktif. 2004. http://www.republika,co.id
HIPERAKTIF/152-DETEKSI-DINI-ADHD-ATTENTION-DEFICIT-HYPERACTIVE-DISORDERS.HTM

hiperaktif/asuhan-keperawatan-sindroma-hiperaktivitas.html
HIPERAKTIF/MAKALAH-ANAK-HIPERAKTIF.HTML
HIPERAKTIF/MAKALAH%20ATTENTION%20DEFICIT%20HYPERACTIVITY%20DISORDER

%20%28ADHD%29%20%C2%AB%20UMMI%20SAMAN%20M.HTM
HIPERAKTIF/MAKALAH-GANGGUAN-PEMUSATAN-PERHATIAN.HTML

18