Anda di halaman 1dari 13

1

Dairotul Fitria (13130016)


Muhammad Harun Rosyd (13130028)

SERAT CARIYOS SEWU SATUNGGAL DALU 2
A. SUMBER IDENTITAS
Universitas Negeri Surakarta
http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=showview&id=13711
B. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk budaya. Hal ini mengandung pengertian bahwa
kebudayaan merupakan ukuran dalam hidup dan tingkah laku manusia. Dalam
kebudayaan tercakup hal-hal bagaimana tanggapan manusia terhadap dunianya
(Ki Hajar Dewantara dalam Budiono Herusatoto, 2008 : 11). Sebagai makhluk
budaya, manusia harus terus-menerus menggali, menggiatkan dan
mengembangkan semua bakat yang ada padanya, bahkan menciptakan
kemungkinan-kemungkinan baru dalam kehidupannya; yang berupa atau terdiri
dari gagasan-gagasan, simbol-simbol dan nilai-nilai sebagai hasil karya dan
perilaku manusia (Jose Ortega dalam Budiono Herusatoto, 2008 : 16).
Membahas mengenai sastra tulis, banyak sekali ragamnya. Salah
satunya berupa naskah. Naskah merupakan peninggalan tertulis dari nenek moyang
kita pada kertas, dluwang, lontar, kulit kayu, kulit binatang, bambu, dan rotan.
Tulisan tangan pada kertas biasa digunakan pada naskah-naskah yang berbahasa
Melayu dan Jawa, lontar pada naskah-naskah yang berbahasa Jawa dan Bali,
sedangkan kulit kayu dan rotan biasa digunakan pada naskah-naskah berbahasa
Batak. Dikarenakan bahan-bahan naskah yang tersebut di atas adalah bahan-
bahan yang tidak tahan lama sehingga rawan rusak, maka didapati kenyataan
bahwa banyak naskah yang telah rusak. Selain faktor bahan naskah, ternyata
faktor-faktor lain seperti bencana alam (banjir), dan peperangan (yang
2



menyebabkan pembakaran dan pemusnahan terhadap naskah), faktor
cuaca, dan iklim tropik seperti Indonesia ini juga dapat membuat naskah-
naskah tersebut semakin memprihatinkan kondisinya.
Beberapa faktor tersebut di atas sangat mengancam keberadaan suatu
naskah.Tidak hanya secara fisiknya, namun juga kandungan isi yang terdapat di
dalam teksteksnya. Harsya W Bachtiar (1973) menyatakan bahwa, naskah-naskah
yang menjadi sasaran perhatian para filolog adalah peninggalan pikiran para
nenek moyang kita, perwujudan dari pemikiran yang dihasilkan oleh akal-akal
yang tidak ada lagi. Naskah dapat mencakup segala bidang, tidak hanya
kesusastraan dan kebudayaan saja, melainkan juga mencakup bidang yang lain
seperti sejarah, agama, ekonomi, sosial, dan politik. Apabila naskah-naskah
tersebut tak terselamatkan, bahaya musnahnya sumber kebudayaan kita yang
sangat penting tersebut semakin besar dengan kata lain, kita sebagai pewaris
budaya akan kehilangan salah satu warisan budaya nenek moyang yang tak
ternilai harganya. Sebab suatu naskah akan berharga apabila masih dapat dibaca
dan dipahami.
Untuk itu perlu dilakukan suatu penanganan dan penyelamatan terhadap
naskah, sebagai upaya pelestarian budaya. Upaya-upaya tersebut meliputi
penyelamatan, pelestarian, penelitian, pendayagunaan serta penyebarluasan.
Berkaitan dengan hal tersebut, filologi sebagai bidang ilmu erat kaitannya
dengan upaya penanganan naskah, sebab filologi merupakan suatu disiplin ilmu
pengetahuan yang bertujuan memahami kebudayaan suatu bangsa melalui teks-
teks tertulis di dalam naskah-naskah klasik (Bani Sudardi, 2003 : 7). Penelitian
filologi mempunyai tujuan utama yaitu mendapatkan kembali naskah yang asli,
bersih dari kesalahan, atau yang mendekati aslinya.
Mengingat pentingnya peranan filologi dalam melestarikan warisan
budaya bangsa yang dituangkan lewat tulisan tangan, serta berdasarkan pada
kesadaran tentang pelestarian budaya tersebut, maka timbullah keinginan
penulis untuk melakukan penelitian terhadap naskah. Dalam hal ini, naskah
3



yang akan diteliti adalah salah satu jenis karya sastra yang berjudul Serat Cariyos
Sewu Satunggal Dalu 2.
Berkaitan dengan penjenisan naskah yang dilakukan oleh Nancy K.
Florida tersebut, maka Serat Cariyos Sewu Satunggal Dalu 2 termasuk dalam
jenis naskah dongeng. Penulis sependapat dengan penjenisan tersebut, sebab Serat
Cariyos Sewu Satunggal Dalu 2 berisi sebuah kisah dongeng yang masuk dalam
lingkup Dongeng Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights dari Persia.
Mengingat banyaknya permasalahan yang ada dalam Serat Cariyos
Sewu Satunggal Dalu 2 seperti yang tersebut di atas dan mencegah meluasnya
bahasan, maka penelitian ini hanya menekankan pada 2 (dua) kajian. Yaitu kajian
filologis dan kajian isi. Kajian filologis menekankan pada penyajian suntingan
naskah yang bersih dari kesalahan atau yang mendekati asli, sedangkan kajian
isi dalam penelitian ini adalah penyajian terjemahan bebas dan pengungkapkan
ajaran-ajaran moral yang terkandung dalam teks Serat Cariyos Sewu Satunggal
Dalu 2 ini.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan analisis permasalahan di atas adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana suntingan teks Serat Cariyos Sewu Satunggal 2 yang bersih dari
kesalahan atau yang mendekati asli sesuai dengan cara kerja filologi?
2. Bagaimana nilai ajaran moral yang terkandung dalam Serat Cariyos Sewu
Satunggal Dalu 2?
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan jawaban yang hendak dijabarkan dari
permasalahan yang telah dirumuskan. Adapun tujuan yang hendak dicapai
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
4



1. Menyajikan suntingan teks Serat Cariyos Sewu Satunggal Dalu 2 yang
bersih dari kesalahan atau yang mendekati asli sesuai dengan cara kerja
filologi.
2. Mengungkapkan nilai ajaran moral yang terkandung dalam Serat Cariyos
Sewu Satunggal Dalu 2.
4. Manfaat Penulisan
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini terbagi menjadi 2 (dua),
yakni manfaat praktis dan manfaat teoretis. Yakni :
1. Manfaat Teoretis
a. Memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan lain
dan membantu peneliti lain untuk mengkaji lebih lanjut naskah Serat
Cariyos Sewu Satunggal Dalu 2 pada khususnya dan naskah Jawa
pada umumnya dari berbagai disiplin ilmu.
b. Menambah kajian terhadap naskah Jawa yang masih banyak dan
belum semua terungkap isinya.
2. Manfaat Praktis
a. Menyelamatkan data dalam naskah Serat Cariyos Sewu Satunggal
Dalu 2 dari kerusakan dan hilangnya data dalam naskah tersebut,
sehingga secara tak langsung melestarikan keberadaan sastra lama
terutama karya sastra Jawa, dalam hal ini Serat Cariyos Sewu
Satunggal Dalu 2.
b. Mempermudah pemahaman isi teks naskah Serat Cariyos Sewu
Satunggal Dalu 2, sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat.
5




C. LANDASAN TEORI
1. Pengertian Filologi
Filologi adalah suatu disiplin ilmu pengetahuan yang bertujuan memahami
kebudayaan suatu bangsa melalui teks-teks tertulis di dalam naskah-naskah klasik
(Bani Sudardi, 2003 : 7). Secara etimologi filologi berasal dari bahasa Latin yang
terdiri dari dua kata, philos dan logos. Philos artinya cinta dan logos artinya
kata (logos berarti juga ilmu). Jadi filologi secara harafiah berarti cinta pada kata-
kata. Itulah sebabnya filologi selalu asyik dengan kata-kata.
Seperti halnya disiplin ilmu yang lain, filologi juga mempunyai obyek
penelitian. Filologi mempelajari kebudayaan masa lalu melalui teks-teks tertulis.
Teks-teks tertulis di atas suatu bahan yang disebut naskah. Jadi obyek penelitian
filologi adalah teks dari masa lalu yang tertulis di atas naskah yang mengandung
nilai budaya (Bani Sudardi, 2003 : 9).
Dalam filologi dibedakan antara pengertian naskah dan teks. Naskah
adalah tempat teks-teks ditulis. Naskah berwujud konkret, nyata. Di dalam naskah
terdapat tulisan-tulisan yang merupakan simbol-simbol bahasa untuk
menyampaikan dan mengekspresikan hal-hal tertentu. Teks dalam filologi
diartikan sebagai tenunan kata-kata, yakni serangkaian kata-kata yang berinteraksi
membentuk satu kesatuan makna yang utuh, dan teks menunjuk kepada sesuatu
yang abstrak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa objek konkret filologi adalah
naskah, namun hakikatnya yang dituju dari naskah tersebut bukanlah fisik naskah
tersebut, melainkan teks yang tersimpan di dalam naskah (Bani Sudardi, 2003:
10-11). Dengan demikian filologi berusaha mengungkapkan hasil budaya suatu
bangsa lewat kajian-kajian naskah yang ada.
2. Obyek Filologi
Seperti halnya disiplin ilmu yang lain, filologi juga mempunyai obyek
penelitian. Filologi mempelajari kebudayaan masa lalu melalui teks-teks tertulis.
6



Teks-teks tertulis di atas suatu bahan yang disebut naskah. Jadi obyek penelitian
filologi adalah teks dari masa lalu yang tertulis di atas naskah yang mengandung
nilai budaya (Bani Sudardi, 2003 : 9).
Dalam filologi dibedakan antara pengertian naskah dan teks. Naskah
adalah tempat teks-teks ditulis. Naskah berwujud konkret, nyata. Di dalam naskah
terdapat tulisan-tulisan yang merupakan simbol-simbol bahasa untuk
menyampaikan dan mengekspresikan hal-hal tertentu. Teks dalam filologi
diartikan sebagai tenunan kata-kata, yakni serangkaian kata-kata yang berinteraksi
membentuk satu kesatuan makna yang utuh, dan teks menunjuk kepada sesuatu
yang abstrak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa objek konkret filologi adalah
naskah, namun hakikatnya yang dituju dari naskah tersebut bukanlah fisik naskah
tersebut, melainkan teks yang tersimpan di dalam naskah (Bani Sudardi, 2003:
10-11). Dengan demikian filologi berusaha mengungkapkan hasil budaya suatu
bangsa lewat kajian-kajian naskah yang ada.
3. Cara Kerja Penelitian Filologi
Tugas utama seorang filolog dalam penelitian adalah untuk mendapatkan
kembali naskah-naskah yang bersih dari kesalahan dan mendekati aslinya.
Penelitian fillologi dalam melakukan kegiatannya melalui beberapa langkah kerja.
Langkah kerja yang perlu dilakukan dalam penelitian filologi menurut Edwar
Djamaris (2002 : 10) yaitu, inventarisasi naskah, deskripsi naskah, perbandingan
naskah, dasar-dasar penentuan naskah yang akan ditransliterasi, singkatan naskah,
dan transliterasi naskah. Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan, namun juga
harus disesuaikan dengan naskah yang akan diteliti. Khusus untuk naskah Serat
Cariyos Sewu Satunggal 2, perbandingan naskah dan dasar-dasar penentuan naskah
yang akab ditransliterasikan ditiadakan.
Terkait dengan hal tersebut, maka langkah-langkah kerja yang dilakukan
dalam penelitian ini, antara lain, inventarisasi naskah, deskripsi naskah,
transliterasi, kritik teks, suntingan teks dan aparat kritik, dan sinopsis. Langkah
langkah tersebut didasarkan pada 2 (dua) alasan. Pertama, data penelitian
7



merupakan naskah Jawa. Kedua, data penelitian berupa naskah tunggal, walaupun
pada awalnya ditemukan 4 (empat) naskah. Dikarenakan berbeda versi (versi
bentuk) dan atas pertimbangan tertentu (filologis), akhirnya hanya dilakukan
penelitian terhadap 1 (satu) judul naskah saja yakni Serat Cariyos Sewu Satunggal
Dalu 2. Walaupun sedikit berbeda, namun langkah-langkah kerja dalam penelitian
ini tetap mengacu pada cara kerja penelitian filologi. Berikut rinciannya:
a. Inventarisasi Naskah
Langka awal dalam suatu penelitian naskah adalah inventarisasi naskah, yaitu
mendata dan mengumpulkan semua naskah yang akan diteliti di berbagai daerah
tempat naskah disimpan.
b. Deskripsi Naskah
Setelah langkah awal dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah
mendeskripsikan naskah, mulai dari judul naskah, nomor naskah ukuran naskah,
tebal naskah, tempat penyimpanan naskah, asal naskah, bahasa dan aksara yang
digunakan, bentuk karangan, jenis karangan, tempat dan waktu penyusunan /
penulisan, identitas penyusun atau penulis, status naskah, isi naskah, dan lain-lain
yang dipandang perlu. Kelengkapan catatan itu tergantung pada data yang
terdapat pada naskah yang bersangkutan (Edi S. Ekadjati, 1980 : 3).
c. Transliterasi Naskah
Transliterasi selanjutnya menjadi tahap ketiga dalam penelitian suatu naskah,
karena pekerjaan dalam penelitian naskah yang diutamakan adalah transliterasi.
Transliterasi adalah pemindahan macam tulisan, misalnya dari tulisan Jawa ke
tulisan Latin (Darusuprapta, 1989 : 16). Bani Sudardi (2003 : 66) berpendapat
bahwa transliterasi adalah pengalihan dari huruf ke huruf dari sistem abjad yang
satu ke sistem abjad yang lain. Transliterasi dilakukan menurut ejaan yang
disepakati namun tetap menjaga kemurnian bahasa lama dalam naskah, dan
transliterasi dalam penelitian ini adalah alih huruf dari aksara Jawa ke Latin.
Karakter huruf Jawa dan tradisi menyalin di masyarakat Jawa menuntut daya
interpretasi dalam kerja transliterasi ini. Interpretasi sebagian didasarkan pada
8



resepsi penulis sebagai orang berbahasa ibu Jawa dibantu dengan kamus bahasa
Jawa.
d. Kritik Teks
Selanjutnya, tahap ke empat yaitu kritik teks. Kritik teks adalah kegiatan filologi
yang paling utama. Kritik teks dilakukan setelah naskah-naskah yang
ditemukan dideskripsikan dan ditransliterasi. Menurut pengertian ilmiah, kata
kritik mengandung arti sikap menghakimi dalam menghadapi sesuatu,
sehingga dapat berarti menempatkan sesuatu sewajarnya atau memberikan
evaluasi. Jadi mengadakan kritik teks berarti menempatkan teks pada tempat
yang sewajarnya, memberikan evaluasi terhadap teks meneliti atau
mengkaji lembaran naskah, lembaran bacaan yang mengandung kalimat-kalimat
atau rangkaian kata-kata tertentu (Maar 1972 dalam Darusuprapta, 1989 : 20).
Bani Sudardi (2003 : 55) berpendapat kritik teks adalah penilaian terhadap
kandungan teks yang tersimpan dalam naskah untuk mendapatkan teks yang
paling mendekati asli (constitution textus). Tujuan kritik teks dalam penelitian
filologi adalah berusaha mendapatkan bentuk teks yang asli, utuh, atau bila
memungkinkan berusaha mendapatkan teks yang ditulis oleh pengarang sendiri.
e. Suntingan Teks dan Aparat Kritik
Rekonstruksi teks pada akhirnya mengarah pada dihasilkannya bentuk
suntingan yang bersih dari kesalahan-kesalahan. Metode yang digunakan untuk
menyunting teks Serat Cariyos Sewu Satunggal Dalu 2 adalah metode naskah
tunggal edisi standar. Metode yang dipilih ini bergantung pada pertimbangan yang
didasarkan atas keadaan naskah yang bersangkutan. Suntingan diwujudkan dalam
bentuk transliterasi dari huruf daerah (Jawa) ke huruf Latin, tujuannya agar
masyarakat yang tidak memahami huruf daerah dapat pula membacanya dalam
bentuk transliterasi dalam huruf Latin. Dalam proses penyuntingan ini, penulis
memperhatikan mengenai pemisahan kata, ejaan, dan tanda baca (pungtuasi).
Hal ini dilakukan mengingat sifat huruf naskah yang ditransliterasikan berbeda
dengan huruf Latin, yakni tidak mengenal pemenggalan antar kata (scriptio
9



continua). Pada intinya suntingan naskah berusaha menyajikan naskah dalam
bentuk yang sebaikbaiknya dan memberikan keterangan tentang teks, baik sifat
maupun isinya seterang-terangnya (Darusuprapta, 1989 : 20).
Aparat kritik teks digunakan karena untuk menemukan perbedaan kesalahan-
kesalahan dalam perbandingan naskah. Maka dari itu, aparat kritik berisi tentang
segala bentuk perubahan (conjecture), pengurangan (eliminatio), atau
penambahan (divinatio) yang dilakukan oleh penulis. Maksud diadakan aparat
kritik supaya pembaca bisa mengontrol langsung bagaimana bacaan naskah, dan
bila perlu membuat penafsiran sendiri, sehingga hasil dari aparat kritik dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
D. METODE PENELITIAN
1. Bentuk dan Jenis Penelitian
Bentuk penelitian Serat Cariyos Sewu Satunggal Dalu 2 ini adalah penelitian
filologi dengan cara kerja filologi. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif,
yakni penelitian yang berpandangan bahwa semua hal yang berupa sistem tanda
tidak ada yang boleh diremehkan, semuanya penting dan semuanya memiliki
pengaruh dan kaitan antara yang satu dengan yang lain (Bogdan R. C. dan S. K.
Biklen dalam M. Attar Semi 1993 : 24). Jenis penelitian yang digunakan adalah
penelitian pustaka (library research), yakni penelitian yang menitik beratkan pada
bahan-bahan pustaka. Jadi data-datanya dapat kita peroleh di perpustakaan-
perpustakaan. Penelitian pustaka bertujuan untuk mengumpulkan data-data, info
dengan bantuan buku-buku, majalah, naskah-naskah, cetakan-cetakan, kisah
sejarah, dokumen, dan lain sebagainya (Kartini-Kartono, 1993 : 28). Sehingga
hasil penelitian ini tidak bisa digunakan sebagai pembenaran semua kasus
(generalisasi).
2. Sumber Data dan Data
a. Sumber Data
10



Sumber data yang dipilih merujuk pada Perpustakaan Sasana Pustaka Karaton
Kasunanan Surakarta. Sebab, ditempat inilah informasi naskah yang tersimpan
diteliti.
b. Data
Data dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan
data sekunder. Data primer adalah data utama yang digunakan dalam penelitian
ini, dalam hal ini adalah naskah dan teks Serat Cariyos Sewu Satunggal Dalu
2 dengan nomor katalog 102 na. Data sekunder adalah data yang digunakan
sebagai penunjang atau pendukung dari pelaksanaan penelitian ini, yaitu buku-
buku, majalah, maupun artikel-artikel yang ada hubungannya dengan Serat Cariyos
Sewu Satunggal Dalu 2.
3. Teknik Pengumpulan Data
Cara kerja atau langkah-langkah yang diterapkan dalam penelitian ini
yang pertama adalah menentukan sasaran penelitian. Urutan dalam penelitian ini
yaitu, (1) menentukan sasaran penelitian, (2) inventarisasi naskah yaitu mendaftar
semua katalog, (3) mengontrol naskah langsung ke tempat penyimpanan
(observasi), (4) mendeskripsikan naskah, dan (5) mengumpulkan naskah dengan
teknik fotografis.
4. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan suatu upaya pengolahan data dan menempatkan data
sesuai dengan cara kerja penelitian filologi. Teknik analisis data yang dilakukan
dalam penelitian ini meliputi teknik analisis deskriptif, analisis komparatif, dan
analisis interpretasi. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan naskah
secara keseluruhan. Analisis deskriptif menjabarkan data secara apa adanya.
Selanjutnya karena data dalam penelitian berupa naskah tunggal, maka
dilakukan identifikasi naskah secara rinci dari mulai judul naskah, nomor
katalog, sampai pada ikhtisar atau deskripsi isi naskah.
11



Analisis komparatif digunakan untuk menindak lanjuti hasil deskripsi.
Tujuannya adalah untuk membandingkan naskah dengan rinci dimulai dari hal
yang paling umum ke yang paling khusus, sehingga akan diketahui persamaan
dan perbedaannya. Dalam penelitian ini, penulis tetap menggunakan teknik
komparatif untuk menganalisis data, meski awalnya menggunakan edisi naskah
tunggal. Karena pada awalnya, banyak ditemukan naskah dengan versi yang
berbeda.
Analisis interpretasi digunakan untuk menginterpretasikan isi naskah melalui
berbagai sudut pandang penulis. Teknik ini dilakukan, karena data dalam
penelitian ini berupa naskah tunggal sehingga tidak ada naskah pembanding, maka
kesalahan bacaan yang ada dibetulkan menurut interpretasi penulis sendiri
dengan menggunakan pedoman dasar linguistik termasuk ejaan, tata bahasa,
dan konteks kalimat serta konvensi tembang gedhe.
E. HASIL PENELITIAN
1. Simpulan
Dari berbagai uraian penelitian diatas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Sumber data penelitian SCSSD 2 berasal dari koleksi Perpustakaan Sasana
Pustaka Karaton Kasunanan Surakarta dengan nomor katalog 102 na, yang
telah melalui seluruh proses tahapan penelitian sesuai dengan cara kerja
filologi. Maka, dalam penelitian ini diperoleh suatu hasil (temuan) bahwa
suntingan teks SCSSD 2 dalam penelitian ini bersih dari kesalahan.
b. Dilihat dari segi isi, naskah SCSSD 2 ini memuat empat ajaran pokok,
yakni (1) Ajaran tentang Ketuhanan, berisi tentang pengakuan ke-Esa-an
Tuhan dan ajaran untuk selalu bersyukur serta berserah diri kepada Tuhan.
(2) Ajaran Tentang kepemimpinan. Seorang pemimpin hendaknya dapat
memahami kondisi rakyat, dan bertanggungjawab atas apa yang ia lakukan,
katakan dan putuskan, serta tidak mempergunakan kekuasaan demi
kepentingan pribadi atau golongan. (3) Ajaran hidup berumah tangga,
yaitu memperlakukan pasangan dengan baik dengan tidak berlaku kasar
12



dan bisa saling mengendalikan diri. (4) Ajaran berperilaku baik meliputi
cara menyikapi permasalahan hidup, yaitu bijaksana dalam
mempergunakan harta benda, sabar dan berpikiran positif.
F. SINOPSIS
Isi cerita ini akan digambarkan secara umum serta akan dicuplik dari kisah yang
pertama atau epsode pertama. Karena, cerita ini terdapat 4 kisah, yaitu: Kisah
Sobehidhe dan Amine (pupuh 1-pupuh 14 bait 16), Kisah Sinbad Si Pelaut (Sinbad
Si Petualang Tujuh Samudra) (Pupuh 14 bait 16 - Pupuh 43 bait 10), Kisah Tiga
Buah Jeruk, dan keempat atau terakhir Kisah Nuridin Ali dan Bedredin Hasan.
Kesemuanya, cerita diatas dibintangi oleh Serah Sadhe yang bercerita kepada Raja
Sehriyar.
...
Raja Harun Al Rasid jalan-jalan bersama para pengawalnya. Namun,
ditengah-tengah perjalanan, Raja Harun Al Rasid singgah di rumah Sobehidhe.
Karena, ada kejadian aneh yaitu kenapa sobehidhe memukul kedua anjing
betinanya, dan kenapa diantara salah satu mereka ada bekas luka tembam. ...
segeralah Raja Harun Al Rasid kebingungan dan meminta pulang ke istananya. Dan
sesampainya, sang Raja pun tidur dikamarnya. Saat di rumah Sobehidhe, sang Raja
mengenakan baju biasa untuk menyamarkan identitas aslinya.
Keesokan harinya, sang Raja memerintahkan pengawalnya untuk
membawakan Sobehidhe dan saudara-saudaranya (dalam hal ini masih berwujud
anjing) untuk menanyakan beberapa hal yang aneh yang ada pada diri Sobehidhe.
Sang Raja pun ingin menyatakan bahwa, setiap perempuan seharusnya memiliki
ilmu, seperti ilmu yang dimiliki Sobehidhe.
...
Setelah kedua kakaknya menikah, keinginan Sobehidhe selanjutnya adalah
memiliki kapal dagang, yang akan digunakan berdagang sampai ke Persia hingga
sampai ke tanah Hindu-Buddha. Dia melihat berbagai orang yang terbuat dari batu-
13



bebatuan hingga akhirnya dia menemukan patung besar yang berkalung emas dan
memakai mahkota, dia menyangka patung itulah ratunya.
......
Penggalan cerita terakhir,
Sesudah berkata demikian, penyihir itu pamit kepada Raja Harun Alrasid lalu
menghilang. Sang Raja senang melihat anjing betina itu kembali ke bentuk
semula. Raja lalu memerintahkan untuk memanggil Pangeran Amin, dan memberi
tahu jikalau sudah mengetahui semuanya. Belum sampai diperintahkan oleh sang
ayah untuk menyunting Amine sebagai istri kembali, keluar sendiri ucapan
Pangeran Amin bahwa ingin menyunting kembali Amine sebagai istri. Sobehidhe
akhirnya disunting raja sebagai istri. Ketiga fekir kemudian dinikahkan dengan
Safi dan kedua saudara Sobehidhe yang sudah berubah seperti semula. Kemudian
Sang Raja Harun Alrasid memberi ketiga fekir tersebut rumah besar yang masih di
lingkup negeri Bahdad, dan juga diberi kedudukan sebagai punggawa kerajaan.
Pada akhirnya mereka semua menikah secara bergantian dalam sehari.