Anda di halaman 1dari 7

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
DKI Jakarta adalah salah satu kota
yang mengalami masalah pencemaran udara
yang cukup serius. Laju pertumbuhan
penduduk yang tinggi serta pembangunan fisik
di DKI Jakarta ikut memberikan kontribusi
yang cukup besar terhadap terjadinya
pencemaran udara di wilayah ini. Keadaan
tersebut diperburuk pula dengan semakin
banyaknya buangan kendaraan bermotor,
kegiatan industri dan kegiatan lain yang
melebihi batas aman bagi lingkungan.
Pembangunan fisik kota dan
berdirinya pusat-pusat industri disertai dengan
meningkatnya produksi kendaraan bermotor,
mengakibatkan peningkatan kepadatan
lalulintas dan hasil produksi sampingan, yang
merupakan salah satu sumber pencemaran
udara. Pencemaran udara terjadi apabila, laju
emisi yang dibuang ke udara melebihi
kemampuan udara menyerap pada kondisi mutu
udara yang sudah mendekati baku mutu udara
ambien.
Pencemaran udara diantaranya
disebabkan oleh polutan

O
3
dan Partikel PM
10

dan sudah menjadi permasalahan lingkungan
hidup di daerah perkotaan, terutama DKI
Jakarta, yang dihasilkan oleh berbagai kondisi
dan aktivitas dalam menunjang kehidupannya.
Aktivitas berkendara misalnya, merupakan
suatu kegiatan yang tidak bisa dihindari karena
dalam menjalani kehidupan sehari-hari
membutuhkan kendaraan untuk mempermudah
kelangsungan hidupnya, atau bisa juga dari
industri-industri. Masalah pencemaran udara
memang cukup luas dengan berbagai aspeknya,
baik yang menimbulkan dampak negatif
maupun usaha-usaha pencegahan serta
penanggulangan yang dapat dilaksanakan dari
segi teknis, institusional dan sosial ekonomi.
Maka dari itu penduduk Jakarta perlu
mengetahui seberapa baik kualitas udara dari
segi pencemar O
3
dan PM
10
yang akan
mempengaruhi kesehatan.
Penyajian informasi kualitas udara
sebagai salah satu informasi lingkungan hidup
masih terbatas keberadaannya, padahal
masyarakat memiliki hak untuk mengetahui
lebih jauh mengenai informasi lingkungan
hidupnya. Sejauh ini infomasi kualitas udara
yang disajikan hanya berupa table-tabel dalam
laporan pemantauan kualitas udara dan angka-
angka yang termuat pada layer informasi stasiun
pemantau kualitas udara ambien otomatis,
sehingga fenomena kualitas udara secara spasial
belum terungkap dengan jelas.
Masuknya bahan-bahan polutan
dengan konsentrasi tertentu akan mempengaruhi
kualitas udara di suatu wilayah. Tingkat kualitas
udara tersebut bervariasi, tergantung pada
sumber pencemar, kondisi wilayah persebaran,
faktor-faktor meteorologis, terutama keadaan
musim yang sedang terjadi, apakah itu musim
hujan hujan atau terkering.

1.2 Asumsi
Ketinggian permukaan di DKI Jakarta
sama di setiap wilayah.
Ketinggian gedung - gedung di DKI
Jakarta dianggap sama di setiap
wilayah.
Faktor yang mempengaruhi persebaran
polutan hanya faktor meteorologis.

1.3 Tujuan
1. Mengetahui seberapa besar pengaruh
musim terhadap konsentrasi polutan di
DKI Jakarta.
2 Melihat korelasi antara faktor
meteorologi dan polutan menggunakan
analisis regresi.
3 Melihat kualitas udara DKI Jakarta
berdasarkan ISPU.
4 Mengetahui persebaran polutan di DKI
Jakarta antara bulan terbasah dan
terkering.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keadaan Umum DKI Jakarta
2.1.1 Luas dan Letak Geografis
Secara geografis wilayah Daerah
Khusus Ibukota (DKI) Jakarta terletak pada
posisi 10622`42" BT sampai 10658`18" BT
dan 519`12" LS sampai 623`54" LS. DKI
Jakarta mempunyai luas wilayah berdasarkan
SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 1227 tahun
1989 adalah berupa daratan seluas 661,52 km
dan berupa laut seluas 6.977,5 km, terdapat
tidak kurang dari 110 buah pulau yang tersebar
di Kepulauan Seribu, terdapat pula sekitar 27
buah sungai/saluran/kanal yang digunakan
1
sebagai sumber air minum, usaha perikanan dan
usaha perkotaan (BPS Jakarta, 2004).

Batas-batas wilayah DKI Jakarta, yaitu
sebelah utara membentang pantai dari Barat ke
Timur sepanjang 35 km yang menjadi tempat
bermuaranya 9 buah sungai dan 2 buah kanal,
sementara di sebelah Selatan dan Timur
berbatasan dengan wilayah provinsi Jawa
Barat, sebelah Barat dengan Provinsi Banten,
sedangkan di sebelah Utara berbatasan dengan
Laut Jawa.
Wilayah administrasi provinsi DKI
Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah kotamadya
dan satu kabupaten administratif yaitu
kotamadya Jakarta Selatan, Jakarta Pusat,
Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara
serta kabupaten Kepulauan Seribu. Tiap
kotamadya dikepalai oleh seorang Walikota
yang membantu mempersiapkan perencanaan
wilayahnya, sedangkan Kepulauan Seribu
dikepalai oleh seorang Bupati yang
bertanggung jawab dalam bidang keuangan.
Masing-masing wilayah kota membawahi
sejumlah kecamatan dan kelurahan. Di seluruh
DKI Jakarta terdapat 43 kecamatan dan 265
kelurahan.
Gambar 1 Faktor-faktor yang mempengaruhi
kondisi iklim di bumi
(sumber : BPLHD Jatim, 2008)

2.1.2 Keadaan Topografi
Provinsi DKI Jakarta dikategorikan
sebagai daerah datar dan landai, dengan
ketinggian tanah dari pantai sampai ke banjir
kanal antara 0 10 meter di atas permukaan
laut (dari titik 0 Tanjung Priok), sedangkan dari
banjir kanal sampai batas paling selatan
wilayah DKI Jakarta antara 5 - 50 meter di atas
permukaan laut. Daerah pantai merupakan
daerah rawa atau daerah yang tergenang air
pada musim hujan. Bagian Selatan banjir kanal
terdapat perbukitan rendah dengan ketinggian
antara 50 sampai 75 meter.

2.1.3 Keadaan Iklim
Jakarta beriklim tropis, suhu rata-
ratanya mencapai 27
o
C dan kelembaban (nisbi)
80-90 %. Karena terletak di dekat garis
khatulistiwa, arah angin dipengaruhi oleh angin
musim. Angin musim barat bertiup antara
November dan April, sedangkan angin musim
timur antara Mei dan Oktober, selain hal
tersebut karena letak kota Jakarta dekat dengan
laut, maka keadaan sehari-hari dipengaruhi
angin laut dari Utara-Selatan. Curah hujan rata-
rata tahunan 2.000 mm dengan curah hujan
tertinggi pada bulan Januari dan terendah pada
bulan September (Pemda DKI Jakarta, 2005).

2.2 Pengertian pencemaran udara
Udara sebagai salah satu unsur
lingkungan merupakan campuran beberapa
macam gas yang perbandingannya tidak tetap,
tergantung pada keadaan suhu udara, tekanan
udara dan lingkungannya sekitarnya. Udara juga
merupakan atmosfer yang berada di sekeliling
bumi yang fungsinya sebagai pelindung bagi
kehidupan di dunia ini (Rahmawati, 1997).
Pencemaran udara adalah masuknya
zat pencemar baik berbentuk gas maupun
partikel kecil/aerosol ke dalam udara
(Soedomo, 2001). Menurut kementerian
lingkungan hidup (1988) pencemaran udara
adalah masuk atau dimasukkannya makhluk
hidup, zat, energi dan/atau komponen lain ke
dalam udara dan/atau berubahnya tatanan
(komposisi) udara oleh kegiatan manusia atau
proses alam, sehingga kualitas udara menjadi
berkurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai
dengan peruntukannya.
Pencemaran udara dapat terjadi
dimana-mana, misalnya di dalam rumah,
sekolah, kantor atau pencemaran yang biasa
disebut pencemaran dalam ruang (indoor
pollution) ataupun juga terjadi di luar ruang
(outdoor pollution) mulai dari tingkat
lingkungan rumah, perkotaan, hingga ke tingkat
2
regional bahkan saat ini sudah menjadi gejala
global. Pencemaran udara pada tingkat tertentu
dapat merupakan campuran dari satu atau lebih
bahan pencemar/polutan yang masuk
terdispersi ke udara dan kemudian menyebar ke
lingkungan sekitarnya. Beberapa diantara
sekian banyak polutan udara yang menjadi
kajian dalam penelitian ini adalah O
3
dan PM
10

(partikel debu dengan diameter kurang dari 10
mikrometer).

2.3 Suber Pencemaran Udara
Sumber pencemar udara dibedakan
menjadi sumber pencemar primer dan sumber
pencemar sekunder. Pencemar primer adalah
substansi pencemar yang ditimbulkan langsung
dari sumber pencemaran udara. Pencemar
sekunder adalah substansi pencemar yang
terbentuk dari reaksi pencemar-pencemar
primer di atmosfer. Sumber pencemaran dapat
merupakan kegiatan yang bersifat alami
(natural) dan kegiatan antropogenik (Soedomo,
2001). Contoh sumber alami adalah akibat
letusan gunung berapi, kebakaran hutan,
dekomposisi biotik, debu, spora tumbuhan dan
lain sebagainya. Pencemaran udara akibat
aktivitas manusia (antropogenik), secara
kuantitatif jauh lebih besar. Aktivitas manusia
yang menghasilkan zat-zat pencemar antara lain
transportasi (merupakan sumber utama),
industri, pembakaran sampah, industri rumah
tangga dan aktivitas lainnya.

2.4 Indeks Standar Pencemar Udara
Indeks Standar Pencemar Udara adalah
angka yang tidak mempunyai satuan yang
menggambarkan kondisi kualitas udara ambien
di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan
kepada dampak terhadap kesehatan manusia,
nilai estetika dan makhluk hidup lainnya
(Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999).
Baku mutu udara ambien dapat dilihat pada
Lampiran 8.
Pedoman Teknis Perhitungan dan
Pelaporan serta Informasi Indeks standar
pencemar udara diperlukan sebagai pedoman
teknis dalam pelaksanaan perhitungan,
pelaporan dan sistem informasi indeks standar
pencemar udara bagi instansi terkait dan
Gubernur Kepala Daerah tingkat I, serta Bupati
atau Walikota.
Indeks Standar Pencemar Udara dapat
digunakan sebagai bahan informasi kepada
masyarakat tentang kualitas udara ambien
dilokasi dan waktu tertentu dan bahan
pertimbangan pemerintah pusat dan pemerintah
daerah dalam melaksanakan pengelolaan dan
pengendalian pencemaran udara. Nilai ISPU
dan pengaruhnya terhadap manusia dan
makhluk hidup lainnya dapat dilihat pada Tabel
1.

2.5 Partikulat 10 (PM
10
)
Partikulat dengan diameter kurang dari
10 mikrometer atau PM
10
merupakan campuran
yang sangat rumit dari berbagai senyawa
organik dan anorganik yang tersebar di udara.
Secara alamiah PM
10
dapat dihasilkan dari debu
tanah kering yang terbawa oleh angin atau
berasal dari muntahan letusan gunung berapi.
Pembakaran yang tidak sempurna dari bahan
bakar yang mengandung senyawa karbon akan
murni atau bercampur dengan gas-gas organik
seperti halnya penggunaan mesin disel yang
3

Tabel 1. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU)
Indeks Kategori Warna Penjelasan
1-50 Baik Hijau Tingkat kualitas udara yang tidak memberi efek bagi
kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada
tumbuhan, bangunaan ataupun nilai estetika
51-100 Sedang Biru Tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada
kesehatan manuisa ataupun hewan tetapi berpengaruh pada
tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika.
101-199 Tidak Sehat Kuning Tingkat kualitas udara yang bersifat merugikan pada
manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa
menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun
200-299 Sangat
Tidak Sehat
Merah Tingkat kualitas udara yang dapat merugikan kesehatan
pada sejumlah segemen populasi yang terpapar
>300 Berbahaya Hitam Tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat
merugikan kesehatan yang seius pada populasi.
Sumber : MENLH dalam BPLHD, 2006

tidak terpelihara dengan baik juga dapat
menghasilkan PM
10
. PM
10
juga dihasilkan dari
pembakaran batu bara yang tidak sempurna
sehingga terbentuk aerosol kompleks dari butir-
butiran tar. Dibandingkan dengan pembakaran
batu bara, pembakaran minyak dan gas pada
umumnya menghasilkan PM
10
lebih sedikit.
Kepadatan kendaraan bermotor dapat
menambah asap hitam pada total emisi
partikulat debu. Demikian juga pembakaran
sampah domestik dan sampah komersial bisa
merupakan sumber PM
10
yang cukup penting.
Berbagai proses industri seperti proses
penggilingan dan penyemprotan, dapat
menyebabkan abu berterbangan di udara,
seperti yang juga dihasilkan oleh emisi
kendaraan bermotor (Soedomo, 2001).
PM
10
yang melayang dan berterbangan
dibawa angin akan menyebabkan iritasi pada
mata dan dapat menghalangi daya tembus
pandang mata (Visibility). Adanya ceceran
logam beracun yang terdapat dalam PM
10
di
udara merupakan bahaya yang terbesar bagi
kesehatan. Pada umumnya udara yang tercemar
hanya mengandung logam berbahaya sekitar
0,01% sampai 3% dari seluruh partikulat debu
di udara. Akan tetapi logam tersebut dapat
bersifat akumulatif dan kemungkinan dapat
terjadi reaksi sinergistik pada jaringan tubuh,
Selain itu diketahui pula bahwa logam yang
terkandung di udara yang dihirup mempunyai
pengaruh yang lebih besar dibandingkan
dengan dosis sama yang berasal dari makanan
atau air minum. Oleh karena itu konsentrasi
logam di udara yang terikat pada partikulat
patut mendapat perhatian.

2.6 Ozon (O
3
) Permukaan
Ozon termasuk kedalam pencemar
sekunder yang terbentuk di atmosfer dari reaksi
fotokimia NOx dan HC. Ozon bersifat
oksidator kuat, karena itu pencemaran oleh
ozon troposferik dapat menyebabkan dampak
yang merugikan bagi kesehatan manusia.
Emisi gas buang berupa NOx adalah
senyawa-senyawa pemicu (precursor)
pembentukan ozon. Senyawa ozon di lapisan
atmosfer bawah (troposfer bawah, pada
ketinggian 0 2000m) terbentuk akibat adanya
reaksi fotokimia pada senyawa oksida nitrogen
(NOx) dengan bantuan sinar matahari. Oleh
karena itu potensi produksi ozon troposfer di
daerah beriklim tropis seperti Indonesia sangat
tinggi (Bappenas, 2008). Reaksi O
3
yang
terbentuk dari polutan Nox adalah sebagai
berikut.
NO
2
+ sinar matahari NO + O
O + O
2
O
3

Ozon di muka bumi terbentuk oleh
sinar ultraviolet yang menguraikan molekul O
3

membentuk unsur oksigen. Unsur oksigen ini
bergabung dengan molekul yang tidak terurai
dan membentuk O
3
. Kadangkala unsur oksigen
akan bergabung dengan N
2
untuk membentuk
nitrogen oksida, jika bercampur dengan cahaya
mampu membentuk ozon. Di atmosfer ozon
berguna sebagai pelindung dari radiasi
ultraviolet. Namu ada ancaman yang diketahui
dapat mengganggu keseimbangan ozon, yaitu
kloroflorokarbon (CFC) buatan manusia yang
meningkatkan kadar penipisan ozon
menyebabkan kemerosotan berangsur-angsur
dalam tingkat ozon global. CFC digunakan oleh
masyarakat modern dengan cara yang tidak
terkira banyaknya, dalam kulkas, bahan dorong
dalam penyembur, pembuatan busa dan bahan
pelarut terutama bagi kilang-kilang elektronik.
Masa hidup CFC berarti 1 molekul yang
dibebaskan hari ini bisa ada 50 hingga 100
tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan.
Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak
naik dengan perlahan ke dalam stratosfer (10
50 km). Di atas lapisan ozon utama,
pertengahan julat ketinggian 20 25 km,
kurang sinar UV diserap oleh ozon. Molekul
CFC terurai setelah bercampur dengan UV, dan
membebaskan atom klorin. Atom klorin ini juga
berupaya untuk memusnahkan ozon dan
menghasilkan lubang ozon (Wikipedia, 2008).
Ozon berwarna biru pucat, dan
merupakan gas yang sangat beracun, serta
berbau sangit. Ozon mendidih pada suhu -119
o
c
(-162.52
o
F), mencair pada suhu -192.5
o
c (-
314.5
o
F), dan memiliki gravitasi 2.144; ozon
terbentuk ketika percikan listrik melintas dalam
oksigen. Adanya O
3
dapat dideteksi melalui bau
(aroma) yang ditimbukan oleh mesin-mesin
bertenaga listrik. Secara kimiawi O
3
lebih aktif
ketimbang oksigen biasa dan juga merupakan
agen oksidasi yang lebih baik (BPLHD, 2005).
Ozon bersifat unik karena sebagai polutan
sekunder dan juga bersifat oksidator. Sebagai
polutan sekunder ozon mengalami pembentukan
yang cepat dimana membutuhkan waktu
selama satu jam (Sudrajad, 2005).
Sinar UV matahari berenergi tinggi
dengan panjang gelombang lebih dari 240 nm
menabrak molekul O
2
maka ia akan terurai
4
menjadi dua atom oksigen tunggal, atom
oksigen bebas ini kemudian bergabung dengan
molekul oksigen dan membentuk molekul ozon
(O
3
) :
O
2
+ cahaya ( < 240 nm) O + O
O + O
2
+ M O
3
+ M
M adalah faktor kesetimbangan dan momentum
energi
Pada siang hari radiasi surya sangat
tinggi sehingga mempercepat terjadinya proses
fotokimia. Sinar UV matahari mengenai NO
2
di
udara menyebabkan NO
2
dan atom Oksigen
radikal (O). Atom Oksigen radikal ini akan
bereaksi dengan Oksigen (O
2
) membentuk
senyawa ozon dipermukaan bumi.
Kontak dengan ozon pada konsentrasi
1,03,0 ppm selama 2 jam pada orang-orang
yang sensitif dapat mengakibatkan pusing berat
dan kehilangan koordinasi. Pada kebanyakan
orang, kontak dengan ozon dengan konsentrasi
9,0 ppm selama beberapa waktu akan
mengakibatkan edema pulmonari. Sekitar 57
spesies tanaman rentan terhadap ozon. Ozon
berdifusi melalui stomata dan mematikan sel
palisade menghasilkan bercak-bercak kuning
kecoklatan. Konsentrasi O
3
0.08-0.10 ppm
selama 4 jam menyebabkan kerusakan yang
serius pada tanaman tembakau (Santosa, 2004).

2.7 Pengaruh Faktor Meteorologis
Kondisi iklim di DKI Jakarta yang
tropis mempengaruhi persebaran polutan di
udara. Pencemaran yang diemisikan dari setiap
sumber yang ada akan tersebar di atmosfer
melalui proses difusi, dispersi, transformasi
kimiawi dan pengenceran. Pencemaran tersebut
dapat berpindah tempat dari sumbernya melalui
pergerakan angin. Pergerakan polutan di dalam
atmosfer terjadi secara horizontal, vertikal dan
transvesal. Tingkat pencemaran udara di suatu
daerah akan mempengaruhi kualitas udara
lingkungan sekitar pada sistem atmosfer yang
merupakan hasil dari faktor alami maupun
faktor manusia.

2.7.1 Curah Hujan
Curah hujan adalah bentuk air cair dan
padat (es) yang jatuh ke permukaan bumi
(Tjasjono, 1999). Kabut, embun, dan embun
beku mempunyai sifat yang sama seperti curah
hujan, yaitu berperan sebagai alih kebasahan
dari atmosfer ke permukaan bumi, tapi tidak
ditinjau sebagai endapan. Bentuk endapan
adalah hujan, gerimis, salju dan batu es. Curah
hujan diukur dalam satuan milimeter dan
biasanya waktu pengukurannya harian. Jumlah
curah hujan 1 mm artinya tinggi air yang
menutupi permukaan 1 mm, jika air tersebut
tidak meresap ke dalam tanah atau menguap ke
atmosfer. Proses hujan dalam mengurangi
konsentrasi zat pencemar di udara terdiri dari
dua mekanisme, yaitu rain out dan wash out.
Mekanisme rain out terjadi pada saat
pembentukan butiran air dan zat pencemar
tersebut bertindak sebagai inti kondensasi.
Sedangkan mekanisme wash out merupakan
proses penyapuan zat pencemar pada saat air
hujan turun. Kedua proses ini sangat efektif
mengurangi partikel-partikel padat dan gas
pencemar dari udara (Liu, dan Liptak, 2000).

2.7.2 Radiasi Matahari
Radiasi matahari merupakan sumber
utama energi di atmosfer, pengendali cuaca dan
iklim, penyebab utama perubahan dan
pergerakan di atmosfer serta sebagai sumber
energi dari segala kehidupan di bumi. Radiasi
matahari yang diterima di permukaan bumi
mengalami pengurangan, baik jumlah maupun
kualitas spektrumnya. Radiasi matahari
mempengaruhi polusi udara secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu
mempangaruhi proses-proses kimia di atmosfer
dengan interaksi antarmolekul yang bertindak
sebagai fotoreseptor seperti aldehid, asam nitrit,
(HNO
2
), dan Ozon (O
3
). Sedangkan secara tidak
langsung mempengaruhi persebaran polusi
udara yaitu sebagai energi penggerak udara
karena menyebabkan perbedaan pemanasan
permukaan bumi sehingga menimbulkan angin
dan turbulensi dan sebagai input energi dari
kesetimbangan energi sehingga mempengaruhi
terjadinya inversi dan stabilitas udara
(Suharsono, 1985).

2.7.3 Angin
Angin merupakan gerak udara yang
sejajar dengan permukaan bumi dan bergerak
dari daerah bertekanan udara tinggi ke daerah
bertekanan udara rendah (Tjasjono, 1999).
Konsentrasi polutan di suatu tempat banyak
dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin.
Semakin tinggi kecepatan angin maka
pengenceran dan pencemaran polutan dari
sumber emisi di atmosfer semakin besar.
Adanya bangunan-bangunan yang tinggi di
dalam kota, mengakibatkan kecepatan angin
berkurang dan arah angin berubah.
5
2.7.4 Suhu udara
Suhu udara berperan penting dalam
proses biofisika dan biokimia. Di dekat
permukan, suhu memiliki karakterisitik yang
berbeda dengan suhu udara. Hal ini disebabkan
pertukaran bahang yang terjadi di dekat
permukaan berlangsung melalui proses
konveksi bebas yang ditunjukkan dengan
pergerakan laminar dan konveksi paksa dengan
gerakan turbulen.
Pada siang hari, penerimaan bahang
oleh permukaan menyebabkan suhu pemukaan
akan lebih tinggi dibandingkan dengan suhu
pada lapisan di atasnya. Turbulensi mempunyai
pengaruh yang besar terhadap persebaran
polutan di udara dimana pengaruhnya akan
bertambah kecil dengan bertambahnya
ketinggian, khususnya untuk debu.

2.7.5 Kelembaban Udara
Kelembaban udara (RH) juga salah
satu unsur cuaca yang memegang peranan
dalam proses polusi udara. RH tinggi akan
menyebabkan terhalangnya radiasi matahari ke
bumi karena terbentuknya awan di atmosfer.
Selain itu, konsentrasi partikel yang tersuspensi
yang meningkat di udara juga akan berakibat
pada berkurangnya jarak pandang (visibilty)
karena udara yang berkabut (Oke, 1987).

2.8 Pengaruh Musim terhadap Persebaran
Polutan Udara
Konsentrasi polutan di udara
bervariasi dari periode musim yang memiliki
rata-rata curah hujan yag relatif selalu tinggi,
rata-rata curah hujan relatif selalu rendah atau
kering, hingga rata-rata jumlah curah hujan
yang relatif berfluktuasi tinggi. Adanya variasi
pada beberapa periode musim yang
bersangkutan disebabkan oleh perbedaan curah
hujan sebagai faktor pengencer atau pencuci
polutan di udara (Munn dan Engelmann dalam
Rahmawati, 1999).

2.9 Analisis Regresi
Analisis regresi sangat berguna bagi
penelitian karena dapat digunakan untuk
mengukur kekuatan hubungan antara variabel
respons (y) dan variabel prediktor (x) dan dapat
digunakan untuk mengetahui pengaruh
serta memprediksi suatu atau beberapa
variabel prediktor terhadap variabel respons
(Iriawan dan Astuti, 2006). Variabel respons
adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel
prediktor atau dapat disebut juga variabel tidak
bebas, sedangkan variabel prediktor disebut
juga variabel bebas. Kedua variabel
dihubungkan dalam bentuk persamaan
matematika yang dinyatakan sebagai berikut:
5 5 4 4 3 3 2 2 1 1
x b x b x b x b x b a y + + + + + = ...... (1)
a adalah nilai variabel respons ketika variabel
prediktor bernilai nol, sedangkan b
1
, b
2
, ...
adalah konstanta atau parameter model pada
variabel x
1
, x
2
, ...
Persamaan 1 dapat disebut juga
persamaan regresi berganda. Dalam regresi
berganda antarvariabel prediktor tidak boleh
berkorelasi, jika ada korelasi maka taksiran
parameter model tidak tepat. Kejadian ini
disebut juga multikolinear.
Cara mendeteksi multikolinear adalah
membuat korelasi antar variabel, parameter
model adalah 0, atau tanda parameter model
regresi berganda berlawanan dengan tanda nilai
korelasi antara variabel prediktor dengan
variabel respons (Iriawan dan Astuti, 2006).
Jika ada multikolinear maka regresi linier
berganda tidak tepat, maka untuk mengatasinya
dilakukan regresi stepwise. Dalam regresi
stepwise tiadak semua variabel dimasukkan
dalam model regresi, cukup memasukkan salah
satu variel karena sudah mewakili variabel lain.

2.10 Uji t
Untuk membuktikan bahwa suatu
pernyataan benar atau salah, penelitian
memerlukan uji hipotesis secara statistik. Uji
hipotesis statistik adalah pernyataan mengenai
populasi yang digunakan untuk mengevaluasi
informasi yang diperoleh dari populasi. Dalam
statistika, uji hipotesis dilakukan untuk
membandingkan rata-rata suatu populasi
(Iriawan dan Astuti). Dalam penelitian ini yang
hipotesis statistik yang digunakan adalah uji t
karena ragamnya tidak diketahui (Iriawan dan
Astuti, 2006). Ada beberapa elemen uji
hipotesis statistik, yaitu:
Hipotesis awal (H
0
)
Hipotesis alternatif (H
1
)
Statistik uji yang diperoleh dari data
sampel
Daerah penolakan yang menunjukkan nilai
statistik uji berarti menolak hipotesis awal.
Pernyataan dalam suatu hipotesis bisa benar
atau salah dan dinyatakan dalam hipotesis awal
6
1 2
2 2
1 2
1 2
X X
S S
n n
thit

=
+

No Nama
Lokasi
Wilayah Peruntukan Ketinggian
(m)
1 Walikota
madya
Jakarta
Timur
(JAF1)
Penggilingan Pemukiman 3.0
2 Kemayoran
(JAF2)
Kemayoran pemukiman 6.0
3 Masjid
Pondok
Indah (JAF3)
Pondok
Indah
Campuran 3.0
4 Walikota
madya
Jakarta Barat
(JAF4)
Kembangan Perkantoran 3.0
5
(H
0
) pernyataan benar dan hipotesis alternatif
(H
1
) adalah pernyataan salah.
Untuk melakukan uji t yang dilakukan
adalah:
menentukan hipotesis nol (H
0
) dan
hipotesis tandingannya (H
1
) untuk
alternatif dua sisi
menghitung nilai rata-rata ( ) X dan
standar deviasi (s) masing-masing data
dengan rumus:

2
( )
2
1
1
n
X X
i
i
S
n

=
=



........... (2)


menghitung t hitung dengan menggunakan
rumus:
Gambar 2. Peta lokasi stasiun dan data
display ISPU di DKI Jakarta
(Sumber : BPLHD, 2006)



........... (3)





menghitung derajat bebas (v) dengan
rumus:

Gel. Senayan
(JAF5)
Senayan Sarana
Olahraga
3.0
(Sumber : BPLHD, 2006).

.......... (4)



menetapkan level toleransi , nilai yang
biasa digunakan adalah 5% dengan tingkat
kepercayaan 95% serta daerah kritis
(daerah penolakan H
0
) dan titik kritis (titik
batas suatu hipotesis H
0
akan diterima atau
ditolak) mengggunakan kurva distribusi t

kesimpulan berupa penolakan H
0

jika nilai t hitung > t tabel
(Iriawan dan Astuti, 2006).




III. METODOLOGI

3.1 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
1. Data ambien ozon (O
3
) dan partikulat 10
(PM
10
) selama 30 menitan. Lokasi stasiun
dapat dilihat pada Gambar 2 dan
peruntukannya pada Tabel 2.
2. Data Indeks Standar Pencemar Udara
(ISPU).
3. Data meteorologi, yaitu radiasi matahari,
suhu udara, kelembaban udara, serta
kecepatan dan arah angin selama 30
menitan.
( ) ( )
2 2 2
1 / 1 2 / 2
2 2
2 2
1 / 1 2 / 2
1 1 2 1
S n S n
v
S n S n
n n
+
=
+


4. Data curah hujan. Data curah hujan hanya
digunakan untuk menentukan bulan


Tabel 2. Lokasi pemantauan kualitas udara ambien
di provinsi DKI Jakarta
















7

Anda mungkin juga menyukai