Anda di halaman 1dari 26

PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI SERBUK BIJI MIMBA

UNTUK MENGENDALIKAN HAMA Aphis craccivora Koch


PADA KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.)

Karya Tulis Ilmiah

Oleh :
ANGGARAYAN ALAMANDA
BP.1301322024













Program Studi Budidaya Tanaman Pangan
Jurusan Budidaya Tanaman Pangan
Politeknik Pertanian Universitas Andalas
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunianya, seiring dengan itu shalawat serta salam
kepada junjungan kita yaitu Rasulullah SAW, atas ilmu yang diwariskan dan
salam kepada para sahabat yang meneruskan perjuangan beliau sampai akhir
zaman.
Karya tulis ilmiah yang berjudul Penggunaan pestisida nabati serbuk
biji mimba untuk mengendalikan hama Aphis craccivora Koch pada
tanaman kacang tanah ini, merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan
mata kuliah Teknik Penulisan Laporan dan Seminar pada semester I Program
Studi Budidaya Tanaman Pangan Jurusan Budidaya Tanaman Pangan Politeknik
Pertanian Negeri Universitas Andalas.
Sebagai makhluk yang tak luput dari khilaf dan salah, saya mengharapkan
kritik serta saran dari saudara/i sekalian demi sempurnanya penulisan Karya Tulis
Ilmiah ini. Akhir kata saya ucapkan terima kasih.

Payakumbuh, 8 November 2013
Anggarayan Alamanda

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
DAFTAR TABEL .................................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................ iv
I. PENDAHULUAN ........................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2. Tujuan ....................................................................................................... 2
II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 3
2.1. Karekteristik tanaman kacang tanah .................................................... 3
2.2. Morfologi kacang tanah .......................................................................... 4
2.3. Benih kacang tanah ................................................................................. 9
2.4. Kutu Aphis ............................................................................................... 11
2.5. Pestisida nabati ........................................................................................ 12
2.6. Pemanfaatan biji mimba sebagai pestisida nabati ............................... 13
III. METODE PENULISAN ................................................................................ 16
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................... 17
4.1. Hasil .......................................................................................................... 17
4.2. Pembahasan ............................................................................................. 19
V. KESIMPULAN ............................................................................................... 21
5.1. Kesimpulan ............................................................................................... 21
5.2. Saran ......................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 22

DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1. Pengamatan kematian ulat terhadap pestisida nabati........................................ 17
2. Pengamatan pengaruh pestisida nabati terhadap telur yang menetas ............... 18
3. Pengaruh pestisida nabati terhadap predator .................................................... 18

DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1. Pohon mimba .................................................................................................... 13
2. Buah dan biji mimba ......................................................................................... 14
3. Pestisida nabati yang siap diguanakan .............................................................. 15

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kacang tanah merupakan salah satu komoditi tanaman pangan bernilai
ekonomis dan strategis dalam upaya meningkatkan pendapatan dan perbaikan gizi
masyarakat. Pentingnya peran kacang tanah tersebut terlihat dengan semakin
meningkatnya permintaan didalam negeri dan semakin beragamnya produk-
produk olahan yang berbahan baku kacang tanah yang dihasilkan oleh industri
berskala rumah tangga maupun oleh industri sedang dan industri besar.
Berdasarkan luas pertanaman, kacang tanah menempati urutan keempat
setelah padi, jagung, dan kedelai. Dari segi produktivitasnya, Indonesia dinilai
masih rendah, yaitu hanya sekitar 1,0 ton/ha. Tingkat produktivitas hasil yang
dicapai ini baru separuh dari potensi hasil riil apabila dibandingkan dengan
Amerika, Cina, Argentina yang sudah mencapai lebih dari 2,0 ton/ha.
(Adisarwanto, 2001).
Perbedaan tingka produktivitas ini sebenarnya bukan semata-mata
disebabkan oleh perbedaan teknologi produksi yang sudah diterapkan petani,
tetapi juga karena adanya pengaruh faktor hama pada tanaman kacang tanah.
Masalah besar yang dihadapi petani dalam bidang pengendalian hama
adalah mahalnya harga pestisida kimia sintetis maupun biologi dan timbulnya
pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida kimia sintesis secara
bijaksana. Untuk mengatasi masalah tersebut, penulis mencoba untuk memberikan
solusi untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh para petani saat ini yaitu
dengan menggunakan pestisida nabati.
1.2. Tujuan
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah adalah (1) melatih mahasiswa dalam
membuat suatu karya tulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan
benar sesuai dengan buku Pedoman Penulisan Politeknik Pertanian Universitas
Andalas dan (2) mempelajari penggunaan pestisida nabati serbuk biji untuk
mengendalikan hama Aphis pada tanaman kacang tanah.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Tanaman Kacang Tanah
2.1.1. Klasifikasi Tanaman Kacang tanah
Dalam sistem taksonomi atau ilmu penggolongan makhluk hidup,
klasifikasikacang tanah dalam tata binominal sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Leguminales
Famili : Papilionaceae
Genus : Arachis hipogeae L.

2.2. Morfologi Kacang Tanah
Bagian-bagian kacang tanah dapat dideskripsikan sebagai berikut.
2.2.1. Daun
Daun pertama yang tumbuh adalah kotiledon. Daun pertama tersebut
terangkat ke atas permukaan tanah selagi biji kacang berkecambah. Daun
berikutnya merupakan daun tunggal dan berbentuk tunggal. Pada pertumbuhan
selanjutnya tanaman kacang tanah membentuk daun majemuk bersirip genap,
terdiri atas empat anak daun dengan tangkai daun agak panjang. Helaian anak
daun ini beragam : ada yag berbentuk bulat, elips dan agak lancip, tergantung
varietasnya. Permukaan daun ada yang tidak berbulu dan adayang berbulu. Bulu
daun ada ang sedikit dan pendek, banyak dan pendek, ataupun banyak dan
panjang.
2.2.2. Batang
Batang tanaman kacang tanah tidak berkau dan berbulu halus, ada yang
tumbuh menjalar dan ada yang tegak. Tinggi batang rata-rata sekitar 50 cm,
namun ada yang mencapai 80 cm. Tanaman yang bertipe menjalar tumbuh ke
segala arah dan dapat mencapai garis tengah 150 cm. Bagian bawah batang
merupakan tempat menempelnya perakaran tanaman. Batang di atas permukaan
tanah berfungsi sebagai tempat pijakan catang primer, yang masing-masing dapat
membentuk cabang sekunder. Tanaman tipe tegak membentuk percabangan antara
3-6, sedangkan tipe menjalar dapat membentuk 10 cabang primer. Pada cabang
primer berbeentuk cabang sekunder dan kemudian tumbuh cabang tersier.
2.2.3. Akar
Kacang tanah berakar tunggang yang tumbuh lurus ke dalam tanah hingga
kedalaman 40 cm. Pada akar tunggang tersebut tumbuh akar cabang dan di ikuti
oleh akar serabut. Akar kacang berfungsi sebagai penopang berdiriya tanaman
serta alat penyerap air dan zat-zat hara serta mineral dari dalam tanah. Cabang dan
akar rambut berperan untuk memperluas permukaan akar guna meningkatkan
daya serap akar tanaman tersebut. Pada pangkal dan cabang akar tunggang kacang
tanah biasanya terdapat bintil-bintil bakteri rhizobium yang berperan dalam
penyerapan nitrogen dari udara bebas.
Pada varietas bertipe menjalar, terdapat perakaran tanaman yang munculdari
buku-buku cabang dan menjalar menyentuh tanah. Dengan adanya akar ini ,
daerah penyerapan unsur hara akan lebih luas karena akar adventive ini juga
berfungsi sebagai alat peghisap atau penyerap air dan hara dari dalam tanah.
2.2.4. Bunga
Bunga akar kacang tanah mulai muncul dari ketiak daun pada bagian bawah
tanaman yang berumur antara 4-5 minggu dan berlangsung hingga umur sekitar
80 hari setelah tanam. Bunga berbentuk kupu-kupu (papilionaceus), berukuran
kecil, dan terdiri atas lima daun tajuk. Dua diantara daun tajuk tersebut
bersatuseperti perahu. Di sebelah atas terdapat sehelai daun tajuk yang paling
lebar yang dinamakan bendera (vexilium), sementara di kanan dan kiri terdapat
dua tajuk daun yang disebut sayap (ala). Setiap bunga bertangkai berwaana putih.
Tangkai bunga sebenarnya adalah tabung kelopak. Mahkota bunga (corolla)
berwarna kuning atau kuning kemerah-meraahaan. Benderaa dri maahkotaa bunga
bergaris-garis merah pada pangkalnya.
Bunga kacang tanah padaa umumnya melakukan penyerbukan sendiri.
Penyerbukan terjadi menjelang pagi, sewaktu bunga masih kuncup (kleistogami)
(Sumarno, 1986). Penyerbukan silang dapat terjadi, namun persentasenya sangat
kecil, sekitar 0,5 %.
Umur bunga tidak lama, setelah terjadi penyerbukan, daun mahkota mekar
penuh, dan pada hari berikutnya akan layu dan gugur. Bunga yang berhasil
menjadi polong biasanya hanya bunga yang terbentuk pada sepuluh hari pertama.
Bunga yang muncul selanjutnya sebagian besaar akan gugur sebelum menjadi
ginofora (bakal buah).
2.2.5. Buah
Buah kacang tanah berada di dalam tanah. Setelah terjadi pembuahan, bakal
buah tumbuh memanjang dan nantinya akan menjadi tangkai polong. Mula-mula,
ujung ginifora yang runcing mengarah ke atas, kemudian tumbuh mengarah
kebawah dan selanjutnya masuk ke dalam tanah sedalam 1-5 cm. Pada waktu
menembus tanah, pertumbuhan memanjang ginofora akan terhenti. Panjang
ginifora ada yang mencapai 18 cm. Tempat berhentinya ginofora masuk kedalam
tanah tersebut menjadi tempat buah kacang tanah. Ginofora yang terbentuk di
cabang bagian atas dan tidaak masuk ke dalam tanah akan gagal membentuk
polong.
Setiap polong kacang tanah berisi 1-4 biji, namun kebanyakan 2-3 biji.
Setiap pohon memiliki jumlah dan isi pilong beragam, tergantung pada varietas
dan tanaman yang di budidayakan. Polong kacang tanah dapat dibedakan
berdasarkan beberapa hal, yaitu :
a. Berdasarkan ukuran panjangnya, polong kacang tanah dapat dibedakan
menjadi lima : sangat kecil (<1,5 cm); kecil (<2 cm); sedang (<2,5 cm); besar (<3
cm); dan sangat besar (<3,5 cm).
b. Bedasarkan beratnya, polong kacang tanah dapat dibedakan menjadi lima :
sangat kecil (<50 g); kecil (<65 g); sedang (<105 g); besar (<155 g); dan sangat
besar (>155 g).
c. Berdasarkan bentuk paruhnya, polong kacang tanah dapat dibedakan
menjadi lima tipe : tidak berparuh, sedikit berparuh, agak berparuh, berparuh, dan
sangat berparuh.
d. Berdasarkan bentuk pinggangnya, polong kacang tanah dapat dibedakan
menjadi enam tipe : tidak berpinggang, sedikit berpinggang, agak berpinggang,
berpinggang, berpinggang dalam dan berpinggang sangat dalam.
e. Berdasarkan lukisan jaringan pada kulitnya, polong kacang tanah dapat
dibedakan menjadi empat tipe : halus, agak halus, sedang dan kasar.
2.2.6. Biji
Biji kacang tanah terdapat di dalam polong. Kulit luae (testa) bertekstur
keras, berfungsi untuk melindungi biji yang berada di dalamnya. Biji terdiri atas
lembaga dan keping biji, diliputi oleh kulit ari tipis (tagmen). Biji berbentuk bulat
agak lonjong atau bulat dengan ujung agak datar karena berhimpitan dengan butir
biji yang lain selagi di dalam polong. Warna kulit biji bervariasi : merah jambu,
merah, coklat, merah tua dan ungu. Biji kecil berukuran sekitar 20 g/100 biji, biji
sedang sekitar 50 g/100 biji. Varietas lokal pada umumnya memiliki biji kecil
yaitu 30-40 g/100 biji. Rendemen biji dari polong berkisar antara 50%-70%.
2.3. Benih Kacang Tanah
Berdasarkan undang-undang Republik Indonesia nomor 12 tahun 1992
tentang Sistem Budidaya Tanaman, batasan tentang benih tanaman (selanjutnya
disebut benih) adalah tanaman atas bagiannya yang digunakan untuk
memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman. Benih varietas ubggul
yang telah di lepas oleh pemerintah sebagai benih bina, apabila akan diperbanyak
dan diedarkan harus melalui proses sertifikasi serta harus memenuhi standart mutu
yang ditetapkan oleh pemerintah. Benih kacang tanah pada hakikatnya adalah biji
bontanis. Di Indonesia, benih kacang tanah dibedakan berdasarkan mutu
genetiknya menjadi empat kelas, yaitu benih penjenis (BS), benih dasar (BD),
benih pokok (BP) dan benih sebar (BR).
a. Benih penjenis adalah benih yang diproduksi dan di awasi serta di
evaluasi oleh pemulia tanaman kacang tanah ditandai dengan label putih.
b. Benih dasar adalah benih keturunan pertama dari benih penjenis. Benih
tersebut diproduksi oleh lembaga atau penangkar, di bawah bimbingan serta
pengawasan ketat dari pemulia tanaman kacang tanah. Benih dasar ditandai
dengan label putih.
c. Benih pokok adalah keturunan pertama dari benih dasar atau keturunan
kedua dari benih penjenis. Benih tersebut diproduksi oleh lembaga atau penangkar
benih di bawah pengawasan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih. Benih
tersebut ditandai dengan label ungu.
d. Benih sebar adalah benih keturunan pertama dari benih pokok. Benih sebar
diproduksi oleh penangkar dan di awasi oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi
Benih. Di tandai dengan label biru.
Benih kacang tanah secara fisik dipersyaratkan sebagai berikut: memiliki
embrio, keping biji atau kotiledon, dan kulit ari; murni, tidak bercampur benih
varietas yang lain, seragam, bernas, tidak keriput, dan kulit ari tidak rusak; embrio
dan kotiledon tidak rusak; kadar air kurang dari 10%; dan daya tumbuh benih
lebih dari 80%. Adapun sifat benih kacang tanah pada umumnya, yaitu sebagai
berikut.
a. Sangat higrokopis, karena mengisap air dari lingkungan sekelilingnya
sehingga kadar air biji akan cepat naik mengikuti pola kelembaban udara/tanah di
tempat benih tersebut diletakkan.
b. Proses metabolisme dan respirasi dalam benih sangat tinggi sehingga pada
kondisi penyimpanan yang bersuhu tinggi daya tumbuhnya akan cepat
menurunnya.
c. Kulit ari biji umumnya tipis sehingga mudah terinfeksi oleh cendawan,
bakteri maupun virus.

2.4. Kutu Aphis
Kutu Aphis berukuran 0,8 mm. Serangga ini berkembang biak dengan cepat
secara partenogenesis dan siklus hidupnya berlangsung selama 6 hari. Serangga
dewasa umumnya tidak bersayap, tetapi apabila kualitas pakan menurun atau
ruang geraknya semakin menyempit, maka Aphis akan membentuk sayap untuk
tujuan migrasi. Proses pembentukan sayap sudah terjadi sejak stadium nimfa.
Kacang tanah merupakan salah satu tanaman inang Aphis.
Kehadiran Aphis di pertanaman kacang tanah terjadi mulai tanaman muncul di
atas permukaan tanah sampai menjelang panen, Kutu ini lebih menyukai bagian
tanaman yang muda, seperti pucuk dan tangkai daun muda, tetapi pada keadaan
populasi tinggi dapat tersebar sampai ke bagian tanaman yang tua.
Faktor lingkungan, seperti hujan, keadaan pertanaman, dan musuh alami
mempengaruhi keberadaan Aphis di lapang. Kacang tanah yang ditanam pada
musim kemarau terserang lebih berat bila dibandingkan dengan yang ditanam
pada musim hujan karena curah hujan yang tinggi dapat menurunkan
populasi Aphis secara drastis. Aphis dapat terbunuh oleh hujan atau secara tidak
langsung, hujan menyebabkan kelembaban udara meningkat sehingga merangsang
tumbuhnya cendawan yang mengganggu perikehidupan Aphis.
Gejala yang ditimbulkan dari serangan Aphis diantaranya, hilangnya hasil
polong mencapai sekitar 40%. Serangga dewasa dan nimfa biasanya menghisap
cairan pada ujung tanaman dan daun muda. Padaserangan yang berat, tanaman
berwarna kuning dengan daunnya keriting. Di samping itu, juga dapat menyerang
bunga dan polong muda.
2.5. Pestisida Nabati
Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tanaman
atau tumbuhan. Pestisida nabati sudah lama digunakan oleh petani. Hal tersebut
disebabkan oleh mahalnya harga pestisida kimia. Sejak terjadinya krisis moneter,
harga pestisida kimia naik menjadi 2-3 kali lipat. Selain itu, penyemprotan dengan
menggunakan pestisida kimia secara tidak bijaksana telah menyebabkan hama
kebal terhadap pestisida. Karena beberapa hama telah kebal terhadap pestisida,
petani cenderung menggunakan dosis pestisida yang lebih tinggi dan dilakukan
berulang-ulang. Kondisi yang demikian dapat menimbulkan pencemaran
lingkungan.
Salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut
adalah penggunaan pestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati selain dapat
mengurangi pencemaran lingkungan, harganya relatif lebih murah apabila
dibandingkan dengan pestisida kimia.
Pestisida nabati dapat dibuat dengan menggunakan teknologi tinggi dan
dikerjakan dalam skala industri. Namun, dapat pula dibuat dengan menggunakan
teknologi sederhana oleh kelompok tani atau perorangan. Pestisida nabati yang
dibuat secara sederhana dapat berupa larutan hasil perasan, rendaman, ekstrak,
dan rebusan bagian tanaman atau tumbuhan, yakni berupa akar, umbi, batang,
daun, biji, dan buah. Apabila dibandingkan dengan pestisida kimia, penggunaan
pestisida nabati relatif lebih murah dan aman, serta mudah dibuat sendiri.

2.5. Pemanfaatan Biji Mimba sebagai Pestisida Nabati
Tanaman mimba tumbuh di daerah subhumid sampai semiarid, dengan
kondisi curah hujan 450-750 mm/tahun dan ketinggian tempat 0-670 m diatas
permukaan laut. Namun demikian, tanaman ini juga dapat tumbuh di daerah
kering dan panas tanpa irigrasi. Mimba dapat tumbuh di tanah kering dan miskin
hara, dangkal, bahkan tanah salin. Di Indonesia, pohon mimba antara lain
dijumpai di sepanjang Pantai Utara Jawa dari Inframayu sampai Banyuwangi,
Pasuruan, Lamongan, Nganjuk, Jombang, Blitar, Ponorogo, Madiun dan Lombok
Timur.
Di Indonesia, pohon mimba kebanyakan tumbuh liar dan belum banyak
dimanfaatkan, kecuali kayunya digunakan sebagai bahan bakar. Petani tampaknya
kurang menaruh perhatian terhadap keberadaan pohon mimba yang tumbuh liar
tersebut. Padahal, sebenarnya pohon ini dapat dimanfaatkan sebagai pestisida ,
sabun, pupuk, pakan ternak, bahan obat, cat, dan lain-lain.

Gambar 1. Pohon mimba

Satu pohon mimba yang berumur 8-10 tahun dapat menghasilkan biji sekitar
9 kg, pohon yang berumur 15-20 tahun dapat menghasilkan biji sekitar 13 kg, dan
pohon yang berumur lebih dari 20 tahun dapat menghasilkan biji sekitar 19 kg.

Gambar 2. Buah dan biji mimba

Biji mimba memiliki kandungan bahan aktif pestisida lebih banyak
dibandingkan dengan daunnya. Biji mimba mengandung beberapa komponen
aktif, antara lain azadirachtin, salannin, azadiradion, salonnol, salanolacetate, 3-
deacetyl salannin, 14-epoxy-azadiradion, gedunin, nimbinen, dan deacetyl
nimbinen. Dari beberapa komponen aktif tersebut ada empat senyawa yang
diketahui berfungsi sebagai pestisida, yaitu azadirachtin, salannin, nimbinen, dan
meliantriol.

Ekstraksi serbuk biji mimba sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan
teknologi sederhana yang dapat di praktikkan oleh petani. Dengan cara
pemanfaatan yaitu biji mimba yang telah jatuh ke tanah dibersihkan, selanjutnya
di tumbuk atau di giling hingga menjadi serbuk, kemudian direndam dalam air
selama semalam. Sebelum disemprotkan, larutan mimba disaring dengan kain
penyaring.

Gambar 3. Pestisida nabati yang siap digunakan

III. METODE PENULISAN
Metode yang dilakukan dalam menyusun Karya Tulis Ilmiah ini adalah
dengan studi pustaka. Dengan mengumpulkan referensi-referensi dari buku
perpustakaan dan dengan bantuan literatur di internet.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Untuk mengetahui efektivitas serbuk biji mimba sebagai pestisida, telah
dilakukan penelitian dengan mengambil dua contoh serangga uji, yaitu kutu Aphis
dan ulat grayak.
4.1.1. Larvisida (Pembunuh Ulat).
Tabel 1. Pengamatan kematian ulat terhadap pestisida nabati
Perlakuan Konsentrasi Kematian ulat
Dengan SBM
5g/Liter air 48,33%
40g/Liter air 98,33%

Jika dilihat dari tabel 1 diatas, serbuk biji mimba secara tidak langsung
menyebabkan mortalitas ulat karena ulat tidak mau makan. Serbuk biji mimba
mengandung azadirachtin berkisar antara 2-45%. Azadirachtin menyebabkan efek
fisiologis terhadap serangga, yaitu mempengaruhi sintesis ekdisteroid.
4.1.2. Ovisida ( Perusak Telur).
Serbuk biji mimba juga dapat berperan sebagai ovisida. Serbuk biji mimba
yang disemprotkan pada telur akan menyebabkan penurunan persentase telur
menetas.
Tabel 2. Pengamatan pengaruh pestisida nabati terhadap telur yang menetas

4.1.3. SBM Aman terhadap predator.
Tabel 3. Pengamatan pestisida nabati aman terhadap predator
Perlakuan Predator Populasi
Insektisida Kimia Laba-Laba
25,4 ekor/25
tanaman
Dengan SBM Laba-Laba
29,75 ekor/25
tanaman
Insektisida Kimia Paederus sp.
5,94 ekor/25
tanaman
Dengan SBM Paederus sp.
4,13 ekor/25
tanaman

Dari pengamatan tabel 3 diatas, serbuk biji mimba aman terhadap predator
karena bahan aktif azadirachtin mempunyai efek kontak yang relatif lemah dan
cara kerja yang spesifik.
Perlakuan Konsentrasi Telur Menetas
Tanpa SBM 96%
Dengan SBM
10g/Liter air 67%
20g/Liter air 60%
4.2. Pembahasan
Serangan hama dan penyakit pada kacang tanah merupakan salah satu
kendala dalam upaya meningkatkan produksi kacang tanah. Pestisida adalah salah
satu alternatif yang diandalkan di beberapa daerah sentra produksi. Mengingat
harga pestisida semakin mahal, upaya pengendalian hama penyakit pada kacang
tanah perlu menerapkan sistem terpadu, yaitu kombinasi antara pengendalian
biologis, kimiawi dan mekanis. Hal ini dilakukan untuk dapat mempertahankan
keseimbangan alami. Salah satunya ialah dengan menggunakan pestisida nabati
serbuk biji mimba untukmengendalikan hama Aphis pada tanaman kacang tanah.
Biji mimba memiliki kandungan bahan aktif pestisida, antara lain
azadirachtin, salannin, azadiradion, salannol, salanolacetat, 3-deacetyl salannin,
14-epoxy-azadiradion, gedunin, nimbinen, dan deacetyl nimbinen. Dari beberapa
komponen aktif tersebut ada empat senyawa yang diketahui berfungsi sebagai
pestisida, yaitu azadirachtin, salannin, nimbinen, dan melintriol. Komponen
lainnya belum diketahui secara pasti.
Azadirachtin merupakan senyawa yang paling banyak terdapat dalam biji
mimba. Satu gram biji mimba mengandung 2-4 mg azadirachtin, bahkan ada yang
mencapai 9 mg. Senyawa ini tidak mematikan serangga secara langsung, tetapi
melalui mekanisme menolak makan serta mengganggu pertumbuhan dan
reproduksi serangga. Selannin mempunyai daya kerja sebagai penghambat makan
serangga. Nimbinen mempunyai daya kerja sebagai anti virus. Sementara,
meliantriol mempunyai daya kerja penolak serangga.
Ekstrak mimba memengaruhi serangga melalui berbagai macam cara,
antara lain: (1) menghambat perkembangan telur, larva, atau pupa; (2)
menghambat pergantian kulit pada stadium larva; (3) mengganggu kopulasi dan
komunikasi seksual serangga; (4) mencegah betina untuk meletakkan telur; (5)
menghambat reproduksi atau menyebabkan serangga mandul; (6) meracuni larva
dan dewasa; dan (7) mengurangi nafsu makan atau memblokir kemampuan
makan.
Tujuan penggunaan pestisida nabati serbuk biji mimba yaitu untuk
mengurangi terhadap ketergantungan terhadap pestisida kimia yang harganya
mahal dan tidak ramah lingkungan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Hasil pembahasan diatas dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut yaitu
dengan adanya tanaman mimba tersebut, para petani tidak akan mengalami
kesulitan lagi dalam menanggulangi hama yang menyerang tanaman kacang
tanah. Dan penggunaan pestisida nabati serbuk biji mimba ini memiliki beberapa
keuntungn diantaranya biayanya relatif murah dan tidak mencemari lingkungan.
5.2. SARAN
Dalam melakukan budidaya kacang tanah, tidak sepenuhnya kita harus
menggunakan bahan-bahan yang berasal dari kimia. Karena penggunaan bahan
kimia terlalu berlebihan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan. Bahan
yang berasal dari alami dapat dimanfaatkan dan hasilnya pun cukup memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA
Pracaya. 2009. Hama dan penyakit tanaman. Penebar Swadaya, Jakarta. 428 hal.
Adisarwanti,T. 2001. Meningkatkan produksi kacang tanah dilahan sawah dan
lahan kering. Penebar Swadaya, Jakarta. 88 hal.
Sudarmo, S. 2005. Pestisida nabati pembuatan dan pemanfaatannya. Kanisius,
Yogyakarta. 58 hal.
Deptan, L. Penyuluhan pemupukan dan pemberantas hama penyakit kacang tanah.
http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/pemupukan-dan-pemberantasan-
hama-penyakit-kacang-tanah. (8 oktober 2013).