Anda di halaman 1dari 9

EVALUASI ERGONOMI BIOMEKANIKA TERHADAP

KENYAMANAN KERJA PADA PERAJIN GERABAH


KASONGAN YOGYAKARTA
Sritomo Wignjosoebroto, Dyah Santhi Dewi dan Muhammad Yusuf
Teknik Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Abstrak
Peralatan kerja yang kurang memperhatikan kenyamanan akan sangat berpengaruh terhadap
produktivitas kerja manusia. Untuk merancang peralatan kerja harus memperhatikan peranan
fungsi dan komponen sistem kerja yang terlibat yaitu manusia, mesin/peralatan kerja dan
lingkungannya.
Proses pembuatan gerabah yang dilakukan perajin di Kasongan Yogyakarta dalam melakukan
kerjanya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip ergonomi. Dalam pengujian awal diperoleh hasil
energi expenditure berada dalam kondisi menengah (ringan/moderat) sehingga perlu dilakukan
analisis biomekanika untuk melihat seberapa besar gaya tekan pada tulang belakang
khususnya L5/S1, selain itu dari Nordic Body Map diketahui ada banyak keluhan rasa sakit
pada beberapa bagian anggota tubuh perajin.
Setelah dilakukan perbaikan peralatan kerja serta hasil uji analisis diketahui bahwa kondisi kerja
setelah perbaikan jauh lebih baik dan nyaman dari pada sebelumya, karena peralatan kerja
telah sesuai data anthropometri perajin selain itu energi yang dikeluarkan juga relatif lebih kecil.
Hasil yang diperoleh ini selain penurunan tingkat keluhan rasa sakit juga dapat meningkatkan
produktivitas kerja.
Kata kunci : Ergonomi, Energi Expenditure, Biomekanika
1. PENDAHULUAN
Dusun Kasongan Yogyakarta merupakan sentra industri gerabah, membuat aneka ragam guci
serta asesoris lain terbuat dari tanah liat yang dibentuk dan dibakar pada suhu dan waktu
tertentu kemudian dilakukan finishing dengan cara diberi warna. Dari observasi awal diperoleh
informasi bahwa umumnya para perajin gerabah dalam melakukan aktivitas pembuatan guci
dilakukan dengan posisi yang kurang nyaman, karena posisi kerja mereka adalah duduk dilantai
dengan salah satu atau kedua kaki dilipat dengan posisi salah satu kaki memutar perboard
dalam posisi seperti ini sering terjadi keluhan sakit pada bagian leher, punggung dan pinggang.
Kondisi seperti ini kalau dibiarkan dapat menurunkan tingkat efektivitas dan efisiensi kerja,
dalam jangka waktu 2
yang lama akan berakibat turunnya produktivitas kerjanya, serta dapat berakibat kecacatan
pada tubuh.
Keluhan rasa sakit terjadi karena saat tubuh manusia mengangkat beban maka terjadilah kerja fisik
dimana seluruh otot tubuh akan mengalami kontraksi. Otot-otot tubuh pada dasarnya berfungsi untuk
menegakkan tubuh manusia. Dan jika otot ini diberi beban kerja tambahan maka dampaknya akan segera
terasa karena otot-otot tubuh akan meregang dan pembuluh darah menjadi mengecil (strain). Sehingga
mengurangi aliran darah yang membawa oksigen dan gula keseluruh tubuh, dan menghambat
terbuangnya metabolisme (sisa pembakaran) dalam tubuh. Akibatnya akan merasa letih
sehingga tulang belakang bagian bawah ototnya akan terasa sakit.
Pada gerakan mengangkat atau menarik beban, bagian tubuh yang paling terpengaruh
mengalami cedera adalah tulang belakang bagian bawah. Hal ini disebabkan karena adanya
gaya tekan pada tulang belakang bagian bawah khususnya pada lempeng Lumbar nomor 5
(L5) dan Sacrum nomor 1 (L5/S1). Akibat dari cedera pada lempeng ini adalah rasa sakit pada
tulang belakang bersifat permanen, bahkan akibat yang lebih buruk adalah bisa menyebabkan
kelumpuhan.
2. PENDEKATAN PEMECAHAN
MASALAH
2.1. Ergonomi
Untuk menghindari terjadinya kecelakaan akibat kerja, manusia harus diberikan alat
kerja/mesin dan atau lingkungan kerja yang berada dalam batas kemampuan, kebolehan dan
keterbatasannya (Wignjosoebroto,2000) Sehingga nantinya diharapkan akan terjadi proses
kerja yang efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien (ENASE).
Disiplin Human Engineering atau ergonomi banyak diaplikasikan dalam berbagai perancangan
produk (man-made objects) ataupun operasi kerja sehari-harinya, merupakan suatu
pengetahuan yang utuh tentang permasalahan interaksi manusia dengan teknologi dan
produknya, sehingga dimungkinkan adanya suatu rancangan sistem manusia-mesin (teknologi)
yang optimal. Disiplin ergonomi khususnya berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh
manusia 3
(anthropometri) telah menganalisa, mengevaluasi dan membakukan jarak jangkau yang
memungkinkan manusia untuk melaksanakan kegiatannya dengan mudah dan dengan
gerakan yang sederhana.
Melalui pendekatan ergonomi dapat dilihat bahwa kondisi perajin saat ini melakukan aktifitas
pembuatan gerabah dengan menggunakan meja perboard terlihat sangat tidak nyaman,
sehingga perlu dibuat rancangan peralatan kerja yang lebih sesuai dan nyaman digunakan.
Pada rancangan peralatan yang baru perajin dalam melakukan aktifitasnya menggunakan kursi
yang bisa disesuaikan (adjustable) dan meja perboard yang telah dipasang dinamo mesin jahit
sehingga untuk memutar meja cukup dengan menekan pedal dan perajin tidak perlu lagi
memutar menggunakan tangan atau kaki lagi (lihat gambar 1). Nantinya dari hasil implementasi
diharapkan secara mayoritas perajin menyatakan kesenangannya atas kemudahan dan
kenyamanan dalam melakukan kerja, karena tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memutar
meja perboard namun cukup menekan pedal saja serta tidak ada gangguan anggota tubuh
berupa rasa nyeri terutama pada leher, punggung dan pinggang saat melakukan kerja.
Gambar 1 Detail Desain Rancangan Dinamo mesin jahit AC 220 Volt Pedal mesin jahit baut mur Besi
ulir Adjustable 38 - 44 cm. 48 cm. 20 cm. 34 cm. Meja perboard diameter 40 cm. 30 cm. 42,4 cm. 29 cm.
2.2 Nordic Body Map
Adanya keluhan otot skeletal yang terkait dengan ukuran tubuh manusia lebih disebabkan oleh
tidak adanya kondisi keseimbangan struktur rangka di dalam menerima beban, baik beban
berat tubuh maupun beban tambahan lainnya. Misalnya tubuh yang tinggi rentan terhadap
beban tekan dan tekukan, oleh sebab itu mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap
terjadinya keluhan otot skeletal.
Melalui pendekatan Nordic Body Map dapat diketahui bagian-bagian otot yang mengalami
keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari rasa tidak nyaman (agak sakit) sampai sangat sakit
(Corlett, 1992). Dengan melihat dan menganalisis peta tubuh 4
maka dapat diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja.
Untuk menekan bias yang mungkin terjadi, maka sebaiknya pengukuran dilakukan sebelum dan
sesudah melakukan aktivitas kerja (pre and post test).
Pada gambar 2 terlihat bahwa keluhan utama yaitu nyeri pada leher, punggung, pinggang dan
pergelangan kaki sebelum dan sesudah perbaikan peralatan kerja terjadi banyak penurunan.
05 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Leher Punggung Pinggang Pergelangan kaki sebelum sesudah
Gambar 2 Keluhan rasa nyeri sebelum dan sesudah perlakuan
2.3 Konsumsi Energi

Tubuh manusia dirancang untuk dapat melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari, dengan
bekerja berarti tubuh akan menerima beban baik fisik maupun mental dari luar tubuhnya. Dari
sudut pandangn ergonomi, setiap beban kerja yang diterima oleh seseorang harus sesuai atau
seimbang baik terhadap kemampuan fisik, kemampuan kognitif maupun keterbatasan manusia
yang menerima beban tersebut. Menurut Sumamur (1984) bahwa kemampuan kerja seseorang
akan berbeda dengan lainnya dan sangat tergantung pada tingkat ketrampilan, kesegaran
jasmani, keadaan gizi, jenis kelamin, usia dan ukuran tubuh pekerja yang bersangkutan.
Kerja fisik seringkali juga dikonotasikan sebagai kerja berat atau kasar, sehingga kerja fisik
dapat dirumuskan sebagai kegiatan yang memerlukan usaha fisik manusia selama periode
kerja berlangsung, sedang energi pada dasarnya berasal dari makanan yang disantap. Setelah
melewati berbagai tahap metabolisme pada sistem pencernaan, zat-zat yang mengandung
energi disimpan dalam bentuk lemak dan glikogen.
Dalam hal kerja fisik ini maka konsumsi energi merupakan faktor utama yang menjadi tolok
ukur. Dalam kedaan istirahat yaitu diam secara fisik pada keadaan duduk, tubuh membutuhkan
sekitar 1,5 kilokalori 5
setiap menitnya. Pada saat tubuh mulai terbebani dengan pekerjaan, energi yang dikeluarkan
naik mengikuti kebutuhannya. Akibatnya pada saat-saat yang sama kebutuhan O2 naik dengan
sendirinya menyebabkan sistem pernafasan dan peredaran darah bekerja lebih keras.
Gejalanya terlihat dalam bentuk pernafasan dan denyut jantung yang lebih cepat.
Besarnya energi yang dihasilkan/dikonsumsikan akan dinyatakan dalam unit/satuan kilo kalori
atau Kcal atau Kilojoules (KJ) bilamana akan dinyatakan dalam satuan Standard Internasional
(SI); dimana :
1 Kilocalorie (Kcal) = 4,2 kilojoules (KJ)
Nilai konsumsi tersebut dapat digunakan apabila nilai konsumsi energi dalam satuan watt (1
watt = 1 joule/detik).
Dalam fisiologi kerja konsumsii energi diukur secara tidak langsung melalui konsumsi oksigen.
Hubungan energi dengan kecepatan jantung merupakan regresi kuadratis (Sutalaksana, 1985),
Y = 1,80411 0,0229038 X +
4,71733.10 . X
Dengan :
Y = Energi (kkal / menit)
X = Kecepatan denyut jantung
(denyut / menit)
Setelah besaran kecepatan denyut jantung dikonversikan ke kkal/menit, maka pengeluaran
energi untuk kerja dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Ke = Et Ei
Dengan :
Ke = Konsumsi energi (kkal/menit)
Et = Pengeluaran energi setelah kerja
(kkal/menit)
Ei = Pengeluaran energi saat istirahat
(kkal/menit)
Selain mengukur dnyut jantung, besarnya energi selama melakukan aktifitas dapat diprediksi
berdasarkan jumlah oksigen yang dikonsumsi seorang pekerja, dengan menggunakan
spirometer atau menggunakan respirometer Max-Planck. Secara praktis diasumsikan hubungan
antara energi yang dikeluarkan dengan konsumsi oksigen adalah, jumlah energi yang
dikeluarkan (kkal/menit) = 5 x konsumsi oksigen (liter/menit).
Energi yang dikeluarkan meningkat secara linier sesuai dengan 6
berat badan. Karena itu pengeluaran energi umumnya berdasarkan pada standar manusia
dengan berat badan rata-rata 70 kg. (Pheasan, 1986).
2.4 Biomekanika
Biomekanika adalah suatu ilmu pengetahuan yang merupakan kombinasi dari ilmu fisika
(khususnya mekanika) dan teknik, dengan berdasar pada biologi dan juga pengetahuan
lingkungan kerja. Oleh Winter (1990), mendefinisikan bahwa biomekanika dari gerakan manusia
adalah ilmu yang menyelidiki, menggambarkan dan menganalisis gerakan manusia.
Biomekanika umum adalah bagian dari biomekanika yang berbicara mengenai hukum-hukum
dasar yang mempengaruhi tubuh organik manusia baik dalam posisi diam maupun bergerak.
Biostatik adalah bagian dari biomekanika umum yang hanya menganalisa bagian tubuh dalam
keadaan diam maupun bergerak pada garis lurus dengan kecepatan seragam (uniform).
Biodinamik adalah bagian dari biodinamika umum yang berkaitan dengan gerakan-gerakan
tubuh tanpa mempertimbangkan gaya yang terjadi (kinematik) dan gaya yang disebabkan gaya
yang bekerja dalam tubuh (kinetik). Occupational Biomechanics didefinisikan sebagai bagian
dari mekanik terapan yang mempelajari interaksi fisik antara pekerja dengan mesin, material,
dan peralatan dengan tujuan untuk meminimumkan keluhan pada sistem kerangka otot agar
produktivitas kerja dapat meningkat (Chaffin & Anderson, 1984).
Pendekatan Biomekanika memandang tubuh sebagai suatu sistem yang terdiri dari elemen-
elemen yang saling berkaitan dan terhubung satu sama lain melalui sendi-sendi dan jaringan
otot yang ada. Prinsip-prinsip fisika digunakan untuk menyatakan tegangan mekanik pada
tubuh dan gaya otot yang diperlukan untuk mengimbangi tegangan-tegangan tersebut.
Dalam melakukan analisis biomekanik, tubuh manusia dipandang sebagai suatu sistem yang
terdiri dari link (penghubung) dan joint (sambungan). Tiap link mewakili segmen tubuh tertentu
dan tiap joint menggambarkan sendi yang ada. Menurut Chaffin & Anderson (1984), tubuh
manusia terdiri dari link, yaitu :
1. Link lengan bawah yang dibatasi joint telapak tangan dan siku
7

2. Link lengan atas yang dibatasi joint siku dan bahu
3. Link punggung yang dibatasi joint bahu dan pinggul
4. Link paha yang dibatasi joint pinggul dan lutut
5. Link betis yang dibatasi joint lutut dan mata kaki
6. Link kaki yang dibatasi joint mata kaki dan telapak kaki

Analisis biomekanika ada 2 (dua) yaitu secara statis berupa analisis besarnya gaya dan momen
yang terjadi pada bagian-bagian tubuh tertentu, saat tubuh dalam kondisi tanpa gerakan.
Sedangkan analisis biomekanika secara dinamis adalah analisis besarnya gaya dan momen
yang terjadi pada bagian-bagian tubuh tertentu saat tubuh dalam kondisi bergerak.
Menurut Winter (1990), terhadap tiga jenis gaya bekerja di dalam tubuh manusia, yaitu :
1. Gaya Gravitasi yaitu gaya yang melalui pusat massa dari segmen tubuh manusia dengan
arah ke bawah. Besar gayanya adalah massa di kali percepatan gravitasi (F = m.g).
2. Gaya Reaksi yaitu gaya yang terjadi akibat beban pada segmen tubuh atau berat segmen
tubuh itu sendiri.
3. Gaya Otot yaitu gaya yang terjadi pada bagian sendi, baik akibat gesekan sendi atau akibat
gaya pada otot yang melekat pada sendi, dan gaya ini menggambarkan besarnya momen otot.

Dengan mendefinisikan jenis pekerjaan dan postur tubuh didalam melakukan pekerjaan
tersebut, dapat dihitung besarnya gaya dan momen yang terjadi pada setiap link dan sendi
melalui analisa mekanik. Baik pada saat tubuh dalam posisi diam (biostatic) maupun pada saat
bergerak (biodynamic).
Hukum Kesetimbangan Gaya menyatakan bahwa penjumlahan aljabar dari semua gaya yang
bekerja pada suatu benda dalam keadaan kesetimbangan statis adalah sama dengan nol ( F =
0). Untuk mendapatkan kesetimbangan gaya secara keseluruhan, maka gaya-gaya dibedakan
sedikitnya dalam dua arah, yaitu vertikal dan horizontal. Sehingga diperoleh rumus
kesetimbangan gaya sebagai berikut :
= 0 ; untuk arah horizontal
= 0 ; untuk arah vertikal
Kemudian dari Hukum Kesetimbangan Momen menyatakan bahwa penjumlahan aljabar
momen-momen dari semua gaya yang bekerja pada satu suatu benda dalam keadaan
kesetimbangan statis adalah sama dengan nol ( = 0).
Prinsip-prinsip dasar yng diaplikasikan pada mekanika di atas, dapat dilakukan analisis
biomekanika pada berbagai segmen tubuh manusia dengan memandang tubuh sebagai sistem
multiple link, maka hasil perhitungan gaya dan momen pada suatu link akan dipengaruhi link
sebelumnya dan akan mempengaruhi link selanjutnya. Oleh sebab itu link terakhir (link kaki)
akan menahan beban yang berasal dari berat seluruh link sebelumnya, baik beban eksternal
maupun beban link itu sendiri. Dalam menganalisis biomekanika khususnya pada perajin
gerabah perlu digambarkan secara diagram segment-segment tubuh yang akan dianalisis yaitu
pada bagian lengan yang bertujuan memudahkan dalam menentukan gaya-gaya yang
berpengaruh pada sistem anatomi tubuh manusia dibagi beberapa organ sesuai dengan
fungsinya (lihat Tabel 1) sebagai berikut :
Tabel 1 Data Model
Antrophometri Segment
Tubuh
(digunakan dalam
contoh kerja)
Segment Panjang
(Fraksi H*)
Segment Berat
(Fraksi W*)
Kepala dan leher 0.17 0.08
Lengan bawah 0.20 0.02
Lengan atas 0.20 0.03
Tangan 0.40 0.05
Kepala, leher dan
kedua lengan
- 0.18
Thorax dan perut 0.30 0.36
Panggul - 0.16
Kaki dan betis 0.29 0.05
Paha 0.24 0.10
Kaki 0.53 0.15
Kepala, leher, kedua
lengan, thorax, perut,
dan panggul tiga per
delapan
- 0.60
Satu kaki dan panggul
lima perdelapan
- 0.25