Anda di halaman 1dari 4

Keindonesiaan Itu

Written by Administrator

Negara bukan bangunan jadi, melainkan realitas dinamis menegara dan membangsa. Negara
menyelenggarakan ketertiban umum dan menciptakan kesejahteraan bersama.

Bangsa melepaskan diri dari nilai-nilai primordial yang sempit dan merangkul nilai-nilai
kewargaan. Etnisitas atau agama yang tadinya cukup untuk manusia pra-Indonesia kini tak
cukup lagi untuk manusia Indonesia. Bukan kebetulan para pendiri republik ini serius
membicarakan sebuah dasar negara sebelum proklamasi kemerdekaan. Di atas fondasi
ideologis itu akan dibangun negara yang mempersatukan ragam suku dan aspirasi.

Jalan Indonesia menegara dan membangsa adalah Pancasila. Warganya beragama dengan
menjunjung peri kemanusiaan dan persatuan. Persoalan bangsa diselesaikan dengan
musyawarah untuk mufakat, bukan dengan logika mayoritas. Kaya dan miskin tanpa
kesenjangan sosial yang ekstrem. Mimpi Indonesia berakar pada kolektivisme sekaligus
individualisme, berbeda dari mimpi Amerika yang berakar pada individualisme. Idealisme
Pancasila bukan kesejahteraan individual, melainkan masyarakat adil sejahtera. Keadilan sosial
adalah muara keempat sila, demikian Driyarkara.

Awalnya Indonesia adalah nama alternatif untuk Kepulauan Hindia, Hindia-Belanda,
Malayunesia, atau Insulinde. Namun, Indonesia merdeka bukan sekadar nama pengingat
keindahan dan kekayaan alam, melainkan kedaulatan negara kesatuan. Pejabat berintegritas
berani mengatasnamakan kepentingan nasional di atas kepentingan asing, kepentingan
nasional di atas kepentingan daerah.

Kebanggaan menjadi bagian dari Indonesia bukan berapa banyak teroris yang tewas ditembak,
melainkan Indonesia tak lagi identik dengan korupsi. Aktivitas menegara dan membangsa tak
pernah selesai, bahkan bisa gagal. Yugoslavia dan Uni Soviet akhirnya berdisintegrasi. Lebih
banyak lagi kasus gagal negara.Sierra Leone kini ibarat kapal karam meski ekonominya dulu
lebih baik daripada India dan China. Betapa penting peran negara menyejahterakan rakyat.

Layanan publik masih jauh dari efisien dan memuaskan sehingga tingkat kepuasan publik
terhadap pemerintah terus menurun sejak 2009. Terlena oleh kondisi positif makroekonomi
dalam negeri, pemerintah abai menyejahterakan petani yang terjerat kemiskinan. Malah impor
1 / 4
Keindonesiaan Itu
Written by Administrator
dan konsumsi kita menyejahterakan petani negeri lain.

Tiga sektor ekonomi strategis bagi masa depan bangsa dan negara dikuasai asing: keuangan,
pangan, dan energi. Begitu juga sektor pariwisata, pertanian, perikanan, dan telekomunikasi.
Indonesia hanya jadi negara pemburu rente. Itulah kenyataan neokolonialisme tanpa senjata,
secara ekonomi terjajah.

Dengan serbuan produk impor yang menyebabkan deindustrialisasi dan peningkatan
penganggur, pemerintah harus bekerja keras memangkas berbagai pungutan yang mematikan
daya saing industri dalam negeri serta memberi insentif agar Indonesia menjadi bangsa
produktif. Indonesia tak boleh merasa nyaman jadi pasar bagi produk asing dan bangsa
konsumtif.

Reideologisasi

Liberalisme ekonomi menjadi penggerak globalisasi. Ekonomi pasar mendikte politik,
masyarakat, dan kebudayaan. Nilai-nilai baru yang konsumtif dan sekuler dipaksakan secara
halus. Ekses selanjutnya adalah tumbuh suburnya korupsi di negara berkembang. Pasar bebas
memproduksi barang, jasa, dan pekerjaan, tetapi mandul menciptakan solidaritas, identitas, dan
kohesi sosial.

Soalnya memang bukan kapitalisme itu sendiri, melainkan ketiadaan sistem nilai lain sebagai
pengimbang. Dengan memberi label tak demokratis bagi tradisionalisme, tak dengan sendirinya
kapitalisme mendukung demokrasi. Malah, demikian Noreena Hertz, proses politik yang
dikontrol perusahaan multinasional mematikan demokrasi. Sebagai reaksi kepada proses yang
meruntuhkan jati diri warga dan mencampakkan nilai-nilai tradisional, tradisionalisme kembali
dalam bentuk ultranasionalisme dan fundamendalisme agama. Ini juga, menurut Benjamin R
Barber, ancaman yang sama berbahaya bagi kehidupan demokrasi.

Jalan Indonesia untuk kuat dan mandiri adalah pemberlakuan ideologi Pancasila secara
konsisten. Kehidupan bangsa tak boleh merosot dan kembali pada primordialisme
pra-Indonesia. Di situlah sejatinya ujian bagi kesaktian Pancasila. Orde Lama melakukan
eksperimen ideologi. Orde Baru memakai Pancasila untuk melanggengkan kekuasaan dan
korupsi. Orde Reformasi memuseumkan Pancasila dan melanjutkan korupsi.
2 / 4
Keindonesiaan Itu
Written by Administrator

Kini kisruh berbangsa lebih serius daripada soal relasi agama dan negara. Rivalitas agama dan
negara. Agama menjadi saingan ideologi negara. Warga menolak keberlakuan hukum negara
atas nama hukum agama, membenarkan tindakan kriminal atas nama agama, menyusun
miniatur negara, merayakan negara dalam negara. Kisruh itu sebagai akibat dominasi agama di
ruang publik, sekolah negeri, dan birokrasi.

Daripada sebagai penyelenggara negara yang mengambil jarak sama dengan setiap warga,
pemerintah bermain api dengan agama, bukan dalam rangka pengamalan sila ketuhanan.
Pemerintah berkepentingan membiarkan masyarakat asyik beragama dan bertikai. Bangsa
dibiarkan tak bersatu agar lemah menggugat buruknya akuntabilitas dan tata kelola
pemerintahan.

Tiada korelasi antara keberagamaan dan kemangkusan layanan publik. Tiada korelasi antara
keberagamaan dan penurunan tingkat korupsi. Tiada korelasi antara keberagamaan dan
konsistensi penegakan hukum. Orang makin berani melanggar hukum, terutama jika tak ada
petugas. Di jalan, polisi lalu lintas terus permisif. Orang kian berani menyuap penegak hukum
dan membusukkan komisi-komisi negara yang independen bentukan era reformasi.

Sengaja dibiarkan kacau antara moralitas individual dan moralitas bangsa, seolah-olah
beragama sama dengan jadi warga yang baik. Seharusnya agama membentuk moralitas
individu, tetapi Pancasila membentuk moralitas bangsa. Kerapuhan moralitas bangsa dimulai
dari pembusukan politik yang berimbas pembusukan bangsa. Masyarakat mudah saling curiga.
Pembangunan rumah ibadah begitu dipersoalkan. Terkait rumah ibadah, wali kota berani
mengabaikan putusan Mahkamah Agung.

Pancasila baru sakti jika negara berdaulat atas aset dan kekayaan sumber daya alam negeri,
jika jati diri Indonesia sebagai bangsa tak tersandera westernisasi atauarabisasi, jika partai
penguasa dan koalisinya tak jadi tempat koruptor berlindung, jika pejabat dan wakil rakyat
mampu menahan diri menikmati fasilitas berlebihan saat sebagian besar rakyat tanpa jaminan
kesehatan dan pendidikan.

Pembusukan bangsa bukan soal hilangnya pendidikan Pancasila dalam kurikulum atau
pembentukan lembaga baru untuk sosialisasi Pancasila. Itu terutama soal konsistensi
penyelenggara negara mengamalkan semua sila dalam kebijakan publik dan penegakan
3 / 4
Keindonesiaan Itu
Written by Administrator
hukum. Pancasila harus nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Yonky Karman Pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/06/01/03502681/keindonesiaan.itu


4 / 4