Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PERPAJAKAN 1

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP)




Dosen pembimbing:
Dudi Pratomo.SET.,M.Ak
Oleh Kelompok 7 :
Farradita Kemala Husnedy (1202120013)
Muhammad Azuli Rizki (1202120022)
Zulfandi R Rangkuti (1202120035)
Septian Putra Wicaksono (1202114033)
Dimas Imam Octavian (1202110009)


S1 AKUNTANSI
TELKOM ECONOMIC AND BUSINESS SCHOOL
TELKOM UNIVERSITY
2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur yang dalam kami sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat
kemurahan-Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan.

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah
perpajakan satu oleh Bapak Dudi.

Dalam makalah ini kami akan membahas Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP),
yaitu tentang tata cara atau aturan dalam perpajakan.

Makalah ini tidaklah luput dari suatu kesalahan, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan
sarannya agar makalah ini menjadi lebih sempurna.

Terimakasih kepaada Bapak Dudi yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.





Bandung, Februari 2014






Bab 1 Pendahuluan
A. Latar belakang
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bidang perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan
menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) baik masa maupun tahunan, terkait hasil
penghitungan dan pembayaran pajak yang terutang. Penyampaian SPT harus dilaksanakan
sebelum jatuh tempo pelaporan pajak, sedangkan pembayaran pajak harus dilaksanakan sebelum
jatuh tempo pembayaran. Pelanggaran terhadap jatuh tempo pelaporan maupun pembayaran akan
berakibat pada timbulnya sanksi administrasi berupa denda, bunga, atau kenaikan.
Waib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan system self assessment
wajib melakukan sendiri perhitungan, pembayaran, dan pelaporan pajak terutang.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah. Sebagai
berikut :
a. Apa itu pengertian dari Surat Pemberitahuan (SPT) ?
b. Apa itu fungsi Surat Pemberitahuan (SPT)?
c. Menjelaskan tentang tata cara penyelesaian Surat Pemberitahuan (SPT)?
d. Menjelaskan tentang batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT)?
e. Apa saja sanksi dalam penyelesaian Surat Pemberitahuan (SPT)?
f. Menjelaskan tentang pembentukan Surat Pemberitahuan (SPT)?
g. Apa itu pengertian dan fungsi Surat Setoran Pajak (SSP)?
h. Menjelaskan tentang petunjuk pengisian dan batas waktu penyetoran Surat Setoran
Pajak (SSP)?
C. Tujuan
Berdasarkan dasarkan rumusan masalah diatas diharapkan mahasiswa dapat menjelaskan
tentang Surat Pemberitahuan (SPT) dan Surat Setoran Pajak (SSP











PENGERTIAN SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku di bidang perpajakan, Wajib Pajak diwajibkan menyampaikan
Surat Pemberitahuan (SPT) baik masa maupun tahunan, terkait hasil penghitungan dan pembayaran pajak
yang terutang. Penyampaian SPT harus dilaksanakan sebelum jatuh tempo pelaporan pajak, sedangkan
pembayaran pajak harus dilaksanakan sebelum jatuh tempo pembayaran. Pelanggaran terhadap jatuh
tempo pelaporan maupun pembayaran akan berakibat pada timbulnya sanksi administrasi berupa denda,
bunga, atau kenaikan.
Surat Pemberitahuan (SPT) adalah surat yang oleh Wajib Pajak (WP) digunakan untuk melaporkan
penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak dan/atau harta dan
kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan.

FUNGSI SURAT PEMBERITAHUAN (SPT)
1. Wajib Pajak PPh
Sebagai sarana WP untuk melaporkan dan mempertanggung-jawabkan penghitungan jumlah pajak yang
sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :
a. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri atau melalui pemotongan atau
pemungutan pihak lain dalam satu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak;
b. penghasilan yang merupakan objek pajak dan atau bukan objek pajak;
c. harta dan kewajiban;
d. pemotongan/pemungutan pajak orang atau badan lain dalam 1 (satu) Masa Pajak.

2. Pengusaha Kena Pajak
Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggung-jawabkan penghitungan jumlah PPN dan PPnBM
yang sebenarnya terutang dan untuk melaporkan tentang :
a. pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran;
b. pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri oleh Pengusaha Kena Pajak dan/atau
melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.

3. Pemotong/ Pemungut Pajak
Sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggung-jawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan
disetorkan.
Fungsi SPT bagi wajib pajak juga merupakan sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan
perhitungan jumlah pajak yang sebenarnyaterutang dan untuk melaporkan tentang :
1. Pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dan/ melalui pemotongan atau
pemungutan pihak lain dalam satu tahun pajak atau bagian tahun pajak
2. Penghasilan yang merupakan objek pajak atau bukan objek pajak
3. Harta dan kewajiban
4. Pembayaran dari pemotongan atau pemungut tentang pemotongan atau pemungutan pajak orang
pribadi atau badan lain dalam satu masa pajak sesuia dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku

TEMPAT DAN TATA CARA PENYELESAIN SPT

Pasal 3 ayat (2) UU KUP menyatakan, WP mengambil sendiri SPT ditempat yg ditetapkan oleh Dirjen
(pada kantor DJP atau tempat lain yg diperkirakan mudah terjangkau oleh WP) atau mengambil dgn cara
lain yg tata cara pelaksanaannya diatur dgn atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Dalam
PMK No. 181/PMK.03/2007 tgl 28-12- 2007 diatur :
SPT berbentuk formulir kertas (hardcopy) dapat diambil secara langsung di tempat yang ditetapkan oleh
Dirjen Pajak.SPT berbentuk e-SPT dapat diambil secara langsung oleh WP dengan cara mengunduh
format SPT atau aplikasi e-SPT dari situs DJP.

Tata cara pengisian dan penyampaian SPT
1. Wajib pajak wajib mengisi dan menyampaikan surat pemberitahuan dengan benar, lengkap,
jelas, dan menandatanganinya
2. Surat pemberitahuan wajib pajak badan harus ditandatangani olleh pengurus atau direksi
3. Dalam hal wajib pajak menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk mengisi
dan menandatangani surat pemberitahuan, surat kuasa khusus tersebut harus dilampirkan
pada surat pemberitahuan
4. Surat pemberitahuan tahunan pajak penghasilan wajib pajak yang wajib menyelenggarakan
pembukuaan harus dilampirkan dengan laporan keuangan berupa neraca dam laporan laba
rugi serta keterangan lain yang diperlukan untuk menghitung besarnya penghasilan kena
pajak
5. Dala hal laporan keuangan audit oleh akuntan public tetapi tidak dilampirkan dengan laporan
pada surat pemberitahuan, surat pemberitahuan dianggap tidak lengkap dan tidak jelas,
sehingga surat pemberitahuan dianggap tidak disampaikan
BATAS WAKTU PENYAMPAIAN
a. SPT Masa, paling lama dua puluh hari setelah akhir Masa Pajak, kecuali untuk SPT Masa
PPh Pasal 22, PPN dan PPnBM yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai
yaitu secara mingguan paling lama pada hari kerja terakhir minggu berikutnya, dan SPT
Masa PPh Pasal 22, PPN dan PPnBM yang dipungut oleh Bendahara paling lama 14 hari
setelah Masa Pajak berakhir. Untuk WP dengan kriteria tertentu yang melaporkan
beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa, paling lama 20 hari setelah berakhirnya
Masa Pajak terakhir.

b. SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan
setelah akhir Tahun Pajak, sedangkan untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib
Pajak badan, paling lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.


Waktu pembayaran dan pelaporan PPh ada batasnya, Berikut ini adalah batas waktu pembayaran
dan pelaporan untuk PPh 21 dan PPh 22.
A. PPh pasal 21 selambat-lambatnya adalah tanggal 10 bulan berikutnya.

B. PPh pasal 22 :
Impor harus dilunasi oleh wajib pajak bersamaan dengan pembayaran bea pajak.
Pajak yang pemungutannya dilakuakn oleh bea cukai disetor dalam jangka waktu satu
hari.
Bendahharawan disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran.
Penyerahan dari bilog dan pertamina dilunasi sendiri oleh wajib pajak sebelum Delivery
order ditebus.
Penyerahan yang dilakukan selain oleh pertamina dan bulog harus disetor paling lambat
tanggal 10 bulan takwim berikutnya.
Jika sudah membayar angsuran PPh, pelaporan pembayaran ke KPP adalah sebagai berikut:

A. PPh pasal 21 selambat-lambatnya adalah tanggal 20 bulan berikutnya.

B. PPh pasal 22:
Direktoral jendral Bea dan cukai selambat-lambatnya tujuh hari setelah batas waktu
penyetoran berakhir.
Direktorat jendral anggaran, Bendaharawan pemerintah, BUMN/BUMD selambat-
lambatnya 14 hari setelah masa pajak berakhir
Badan usaha yang bergerak dibidang industri semen, rokok, kertas, baja, dan otomotif
yang ditunjuk oleh kepala KPP atas penjualan hasil produksinnya didalam negri.
Selambat-lambatnya 20 hari setelah masa pajak berakhir.
Pertamina dan badan usaha lain selain pertamina yang bergerak dibidang bahan bakar
minyak jenis premiks dan gas dan atas penyerahan gula pasir dan tepung terigu oleh
bulog selambat-lambatnya tanggal 20 bulan berikutnya.

SANKSI DAN PEMBENTUKAN SURAT PEMBERITAHUAN
Pembetulan SPT
1. WP dengan kemauan sendiri dapat membetulkan Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan
dengan menyampaikan pernyataan tertulis, dengan syarat Direktur Jenderal Pajak belum
melakukan tindakan pemeriksaan, kecuali untuk SPT Rugi atau SPT Lebih Bayar paling lama 2
tahun sebelum daluwarsa, sepanjang belum dilakukan pemeriksaan.Dalam hal Wajib Pajak
membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi
lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per
bulan atas jumlah pajakyang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian Surat
Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung
penuh 1 (satu) bulan.
Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Masa yangmengakibatkan
utang pajak menjadi lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar
2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak jatuh tempo
pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu)
bulan.

2. Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan
mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak, terhadap ketidakbenaran
perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan, apabila Wajib Pajak dengan
kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai
pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi
administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang
kurang dibayar.

3. Walaupun Direktur Jenderal Pajak telah melakukan pemeriksaan, dengan syarat Direktur
Jenderal Pajak belum menerbitkan surat ketetapan pajak, Wajib Pajak dengan kesadaran sendiri
dapat mengungkapkan dalam laporan tersendiri tentang ketidakbenaran pengisian Surat
Pemberitahuan yang telah disampaikan sesuai keadaan yang sebenarnya, yang dapat
mengakibatkan:
a. pajak-pajak yang masih harus dibayar menjadi lebih besar atau lebih kecil;
b. rugi berdasarkan ketentuan perpajakan menjadi lebih kecil atau lebih besar.
Ketentuan Tentang Pengisian SPT
SPT wajib diisi secara benar, lengkap, jelas dan harus ditandatangani. Dalam hal SPT diisi dan
ditandatangani oleh orang lain bukan WP, harus dilampiri surat kuasa khusus. Untuk Wajib
Pajak Badan, SPT harus ditandatangani oleh pengurus/direksi.
F. Ketentuan Tentang Penyampaian SPT
1. Penyampaian SPT oleh WP dapat dilakukan :
a. Secara langsung ke KPP/KP2KP atau tempat lain yang ditentukan (Drop Box, Pojok Pajak,
Mobil Pajak Keliling);
b. Melalui pos dengan pengiriman surat atau;
c. Dengan cara lain yaitu melalui perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan bukti
pengiriman surat atau e-Filing melalui penyedia jasa aplikasi atau ASP (Application Service
Provider);
d. Untuk SPT PPh Wajib Pajak Orang Pribadi dengan menggunakan formulir 1770S atau
1770SS, dapat menggunakan aplikasi pada situs DJP (www.pajak.go.id) berupa aplikasi e-Filing
(efiling.pajak.go.id).

2. Bukti penerimaan SPT untuk yang disampaikan :
a. secara langsung adalah tanda penerimaan surat;
b. e-Filing melalui ASP atau situs DJP adalah bukti penerimaan elektronik;
c. Pos dengan bukti pengiriman surat adalah bukti pengiriman surat; dan
d. Perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir dengan adalah tanda penerimaan surat.

3. Batas waktu penyampaian :
a. SPT Masa, paling lama dua puluh hari setelah akhir Masa Pajak, kecuali untuk SPT Masa PPh
Pasal 22, PPN dan PPnBM yang dipungut oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yaitu secara
mingguan paling lama pada hari kerja terakhir minggu berikutnya, dan SPT Masa PPh Pasal 22,
PPN dan PPnBM yang dipungut oleh Bendahara paling lama 14 hari setelah Masa Pajak
berakhir. Untuk WP dengan kriteria tertentu yang melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu
SPT Masa, paling lama 20 hari setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir.
b. SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi, paling lama 3 (tiga) bulan setelah
akhir Tahun Pajak, sedangkan untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan, paling
lama 4 (empat) bulan setelah akhir Tahun Pajak.
G. Penyampaian SPT melalui Elektronik (e-Filing)
Wajib Pajak dapat menyampaikan Surat Pemberitahuan secara elektronik (e-Filling) melalui
perusahaan ASP yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak. Wajib Pajak yang telah
menyampaikan Surat Pemberitahuan secara elektronik (e-Filling), wajib menyampaikan induk
Surat Pemberitahuan yang memuat tanda tangan basah dan Surat Setoran Pajak (bila ada) serta
bukti penerimaan secara elektronik ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar
melalui Kantor Pos secara tercatat atau disampaikan langsung, paling lama 14 (empat belas) hari
sejak tanggal penyampaian Surat Pemberitahuan secara elektronik.

Penyampaian Surat Pemberitahuan secara elektronik dapat dilakukan selama 24 (dua puluh
empat) jam sehari dan 7 (tujuh) hari seminggu. Surat Pemberitahuan yang disampaikan secara
elektronik pada akhir batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan yang jatuh pada hari libur,
dianggap disampaikan tepat waktu.
H. Perpanjangan Waktu Penyampaian SPT Tahunan
Apabila Wajib Pajak baik orang pribadi maupun badan ternyata tidak dapat menyampaikan Surat
Pemberitahuan dalam jangka waktu yang telah ditetapkan karena luasnya kegiatan usaha dan
masalah-masalah teknis penyusunan laporan keuangan, atau sebab lainnya sehingga sulit untuk
memenuhi batas waktu penyelesaian danmemerlukan kelonggaran dari batas waktu yang telah
ditentukan, Wajib Pajak dapat memperpanjang penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan
dengan caramenyampaikan pemberitahuan secara tertulis atau dengan cara lain misalnya
denganpemberitahuan secara elektronik kepada Direktur Jenderal Pajak.

Pemberitahuan perpanjangan penyampaian SPT Tahunan Pajak Penghasilan harus disertai
dengan penghitungan sementara pajak yang terutang dalam 1 (satu) Tahun Pajak dan Surat
Setoran Pajak sebagai bukti pelunasan kekurangan pembayaran pajak yang terutang, dan
disampaikan sebelum batas waktu penyampaian berakhir.
I. Sanksi Tidak Atau Terlambat Menyampaikan SPT
SPT yang tidak disampaikan atau disampaikan tidak sesuai dengan batas waktu yang ditentukan,
dikenakan sanksi administrasi berupa denda :
1. SPT Tahunan PPh orang pribadi Rp 100 ribu;
2. SPT Tahunan PPh badan Rp 1 juta;
3. SPT Masa PPN Rp 500 ribu;
4. SPT Masa Lainnya Rp 100 ribu.

Pengenaan sanksi administrasi berupa denda tersebut tidak dilakukan terhadap :
1. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia;
2. Wajib Pajak orang pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas;
3. Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai warga negara asing yang tidak tinggal lagi di
Indonesia;
4. Bentuk Usaha Tetap yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia;
5. Wajib Pajak badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku;
6. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi;
7. Wajib Pajak yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri
Keuangan; atau
8. Wajib Pajak lain yaitu Wajib Pajak yang dalam keadaan antara lain : kerusuhan massal,
kebakaran, ledakan bom atau aksi terorisme, perang antar suku atau kegagalan sistem komputer
administrasi penerimaan negara atau perpajakan.

Bagi Wajib Pajak yang alpa tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya
tidak benar atau tidak lengkap dan dapat merugikan negara yang dilakukan pertama kali tidak
dikenai sanksi pidana tetapi dikenai sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 200% dari pajak
yang kurang dibayar.

Sanksi pidana juga dikenakan terhadap setiap orang karena kealpaannya tidak menyampaikan
SPT atau menyampaikan SPT tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat
menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan
setelah perbuatan yang pertama kali, didenda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang
yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak
atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1
(satu) tahun.

Setiap orang yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT tetapi
isinya tidak benar atau tidak lengkap dan dapat merugikan negara, sehingga dapat menimbulkan
kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan
dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang
tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4(empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar.
Sanksi karena tidak menyampaikan SPT.
Sanksi bagi WP yang tidak menyampaikan SPT, dapat berupa sanksi administrasi ataupun sanksi
pidana. Sanksi administrasi dapat berupa denda sebagaimana diatur dalam Pasal 7 UU KUP atau
berupa kenaikan sebagaimana diatur dalam Pasal 13 ayat 3 UU KUP. Sanksi pidana dapat berupa
kurungan atas tindak pidana kealpaan sebagaimana diatur dalam Pasal 38 UU KUP ataupun
penjara atas tindak pidana kesengajaan sebagaimana diatur dalam Pasal 39 UU KUP.

A. Surat Teguran atas SPT yang tidak disampaikan.
Apabila SPT tidak disampaikan sesuai batas waktu yang ditentukan atau batas waktu
perpanjangan penyampaian SPT Tahunan, dapat diterbitkan Surat Teguran (Pasal 3 ayat 5a UU
KUP). Penerbitan Surat Teguran, disamping merupakan bentuk pembinaan terhadap WP, juga
merupakan syarat bagi dikenainya WP yang bersangkutan dengan sanksi administrasi berupa
kenaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat 1 huruf b dan Pasal 13 ayat 3 UU KUP.

B. Sanksi administrasi berupa denda.
Pasal 7 ayat (1) UU KUP menyatakan apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka waktunya
atau batas waktu perpanjangan penyampaian SPT, dikenai sanksi administrasi berupa denda
sebesar:
Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk SPT Masa PPN,
Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Masa lainnya,
Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Badan
Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Tahunan PPh WP Orang Pribadi.
Ayat (2) menyatakan bahwa sanksi administrasi berupa denda diatas tidak dilakukan
terhadap:

a. WP Orang Pribadi yang telah meninggal dunia;
b. WP Orang Pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas;
c. WP Orang Pribadi yg berstatus sebagai W N A yg tidak tinggal lagi di Indonesia;
d. BUT yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia;
e. WP Badan yg tidak melakukan usaha lagi tetapi belum bubar sesuai dgn ketentuannya
f. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi;
g. WP yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Per. Menkeu; atau
h. WP lain yg diatur dengan atau berdasarkan PMK.

Yg dimaksud dgn WP lain tersebut pada huruf h berdasarkan PMK No. 186/PMK.03/2007
adalah WP yg tidak dapat menyampaikan SPT dalam jangka waktu yg telah ditentukan karena
keadaan antara lain : a. kerusuhan massal; b. kebakaran; c. ledakan bom atau aksi terorisme; d.
perang antar suku; atau e. kegagalan sistem komputer administrasi penerimaan negara atau
perpajakan.
Penetapan WP tersebut dilakukan dengan Keputusan Dirjen Pajak.

C. Sanksi administrasi berupa kenaikan.
Sanksi administrasi berupa kenaikan dapat dikenakan melaui penerbitan SKP KB apabila SPT
tidak disampaikan dalam jangka waktunya dan setelah ditegur secara tertulis, tetap tidak
disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran (Pasal 13 ayat 1 huruf
b UU KUP). Dari Jumlah pajak dalam SKP KB yang diterbitkan ditambah dengan sanksi
administrasi berupa kenaikan sesuai dengan Pasal 13 ayat 3 UU KUP.

D. Sanksi pidana kurungan.
Pidana kurungan dalam Pasal 38 UU KUP dikenakan terhadap setiap orang yang karena
kealpaannya tidak menyampaian SPT.
Pasal 38 UU KUP tersebut berbunyi: Setiap orang yang karena kealpaannya:
a. tidak menyampaikan SPT; atau
b. menyampaikan SPT, tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan
keterangan yg isinya tidak benar sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara
dan perbuatan tersebut merupakan perbuatan setelah perbuatan yang pertama kali sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13A,
didenda paling sedikit 1 kali jumlah pajak terutang yg tidak atau kurang dibayar dan paling
banyak 2 kali jumlah pajak terutang yg tidak atau kurang dibayar, atau dipidana kurungan paling
singkat 3 bulan atau paling lama 1 tahun.
Yang dimaksud dengan perbuatan yang pertama kali sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13A
adalah WP yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPT atau menyampaikan SPT, tetapi
isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya tidak benar
sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, tidak dikenai sanksi pidana
apabila kealpaan tersebut pertama kali dilakukan oleh WP dan WP tersebut wajib melunasi
kekurangan pembayaran jumlah pajak yang terutang beserta sanksi administrasi berupa kenaikan
sebesar 200 % dari jumlah pajak yg kurang dibayar yang ditetapkan melalui penerbitan SKP
KB.
E. Sanksi pidana penjara.
Pasal 39 ayat 1 huruf c dan d UU KUP menyatakan Setiap orang yang dengan sengaja:
c. tidak menyampaikan SPT;
d. menyampaikan SPT dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, terkena
sanksi pidana antara 6 bulan s/d 6 tahun dan denda antara 2 s/d 4 kali.





























PENGERTIAN SURAT SETORAN PAJAK (SSP)
Surat setoran pajak adalah surat yang oleh wajib pajak digunakan untuk melakukan pembayaran
atau penyetoran pajak yang terutang ke kas negara melalaui kantor penerima pembayaran.
Fungsi Surat Setoran Pajak (SSP) adalah sebagai bukti pembayaran paajak apabila telah disahkan oleh
pejabat kantor penerima pembayaran yang berwenang atau apabila telah mendapatakan validasi.
a. Pembayaran Pajak dan Surat Setoran Pajak.
Pembayaran pajak di lakukan dengan beberapa cara sebagai berikut:
Membayar sendiri pajak yang terutang
Melalui pemotongan dan pemungutan oleh pihak lain
Melalui pembayaran pajak di luar negeri
Pemungutan PPN olenh pihak penjual atau oleh pihak yang di tunjuk pemerintah
Pembayaran pajak lainnya seperti:
- Pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB)
- Pembayaran bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB)
- Pembayaran bea materai.

b. Surat Setoran Pajak (SSP) Standar
SSP Standar adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan atau berfungsi untuk melakukan pembayaran
atau penyetoran pajak yang terutang ke Kantor Penerima Pembayaran dan digunakansebagai bukti
pembayaran dengan bentuk, ukuran dan isi sebagaimana ditetapkan dengan Peraturan Direktur Jenderal
Pajak (Per-01/PJ./2006)
SSP Standar dapat digunakan untuk pembayaran semua jenis pajak yang dibayar melalui Kantor
Penerima Pembayaran yang belum terhubung secara on line tapi masih berhak menerima pembayaran
pajak, dan untuk penyetoran/pemungutan PPh Pasal 22 Bendaharawan dan atau PPN Bendaharawan.
SSP Standar dibuat dalam rangkap 5 (lima), yang peruntukannya sebagai berikut :
Lembar ke-1: Untuk Arsip Wajib Pajak;
Lembar ke-2 : Untuk Kantor Pelayanan Pajak (KPP) melalui Kantor Pelayanan Perbendaharaan
Negara (KPPN);
Lembar ke-3: Untuk dilaporkan oleh Wajib Pajak ke KPP;
Lembar ke-4 : Untuk arsip Kantor Penerima Pembayaran;
Lembar ke-5: Untuk arsip Wajib Pungut atau pihak lain sesuai dengan ketentuan
perundangan perpajakan yang berlaku.
SSP Standar diisi sesuai dengan Buku Petunjuk Pengisian SSP sebagaimana ditetapkan dalam
lampiranII Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. Per-01/PJ./2006
Wajib Pajak dapat mengadakan sendiri SSP Standar sepanjang bentuk, ukuran dan isinya sesuai dengan
lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.

c. SSP Khusus
SSP Khusus adalah bukti pembayaran atau penyetoran pajak terutang ke Kantor Penerima Pembayaran
yang dicetak oleh Kantor Penerima Pembayaran dengan menggunakan mesin transaksi dan atau alat
lainnya yang isinya sesuai dengan yang ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak nomor PER-
01/Pj./2006, dan mempunyai fungsi yang sama dengan SSP Standar dalam administrasi perpajakan. SSP
Khusus dicetak oleh Kantor Penerima Pembayaran yang telah mengadakan kerja sama Monitoring
Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3) dengan Direktorat Jenderal Pajak.
SSP Khusus dicetak :
pada saat transaksi pembayaran atau penyetoran pajak sebanyak 2 (dua) lembar, yang berfungsi
sama dengan lembar ke-1 dan lembar ke-3 SSP Standar;
terpisah sebanyak 1 (satu) lembar, yang berfungsi sama dengan lembar ke-2 SSP Standar untuk
diteruskan ke KPPN sebagai lampiran Daftar Nominatif Penerimaan (DNP).

d. SSPCP (Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak dalam Rangka Impor)
SSPCP adalah SSP yang digunakan importir atau wajib bayar dalam rangka impor. SSPCP dibuat dalam
rangkap delapan yang diperuntukannya sebagai berikut:
Lembar ke 1a. Untuk KPBC melalui penyetor
Lembar ke 1b. Untuk penyetor
Lembar ke 2a. Untuk KPBC melalui KPPN
Lembar ke 2b dan ke 2c. Untuk KPP melalui ke KPPN
Lembar ke 3a dan ke 3b. Untuk KPP melalui penyetor
Lembar ke 4 untuk Bank Devisa persepsi, Bank Perserpsi atau PT POS Indonesia

e. SSCP (Surat Setoran Cukai atas Barang Kena Cukai dan PPN hasil tembakau buatan dalam negeri)
SSCP adalah SSP yang digunakan oleh pengusaha untuk cukai atas barang kena cukai dan PPN hasil
tembakau buatan dalam negeri. SSCP di buat dalam 6 rangkap:
Lembar ke 1a. Untuk KPBC melalui penyetor
Lembar ke 1b. Untuk penyetor
Lembar ke 2a. Untuk KPBC melalui KPPN
Lembar ke 2b. Untuk KPP melalui KPPN
Lembar ke 3 untuk KPP melalui Penyetor
Lemabar ke 4 untuk bank persepsi





















Bab 3 Penutup

A. KESIMPULAN
Dari makalah diatas dapat kita simpulkan bahwa materi Perpajakan 1 bab tentang perpajakan
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP) menjelaskan tentang pengertian, fungsi tata
cara serta penjelasan Surat Pemberitahuan (SPT) dan pengertian, fungsi serta petunjuk
pengisian dan batas waktu penyetoran Surat Setoran Pajak (SSP)


































DAFTAR PUSTAKA
Siti, 2013. Perpajakan Indonesia : Pembahasan sesuai dengan Ketentuan Pelaksanaan
Perundang-undangan Perpajakan Terbaru, Jakarta : Penerbit Salemba Empat
http://pelayanan-pajak.blogspot.com/2009/04/surat-pemberitahuan-spt.html
http://www.pajak.go.id/content/seri-kup-surat-pemberitahuan-dan-batas-pembayaran-pajak
http://zoemanzie.blogspot.com/2013/03/pengertian-spt-tahunan-fungsi-dan.html