Anda di halaman 1dari 15

BILFAHMI PUTRA

SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM


1

A. Pendahuluan
Pemikiran seseorang tidak bisa lepas dari pengaruh zaman dan tempat
dimana orang itu berada. Pengaruh zaman dan tempat itu akan memberikan ciri khas
atau corak dari pemikiran itu sendiri.
Demikian pula dalam sejarah filsafat. Meskipun pada dasarnya sumber
filsafat adalah satu yaitu rasio, namun, tidak pelak pemikiran filosofis dari para
filosof memiliki ciri dan karakter yang berbeda. Dapat kita lihat bahwa telah terjadi
perbedaan yang cukup signifikan antara pemikiran Al Ghazali dengan Ibnu Rusyd.
Makalah ini secara spesifik ingin mengetahui ciri atau corak pemikiran salah
satu filosof muslim yang terkenal dengan roman filosofisnya: Hayy ibn Yaqzhan.
Adalah ibnu Thufail, seorang filosof muslim yang hidup pada masa khalifah Abu
Yakub Yusuf, Dinasti Al Muwahhid Spanyol.
Penulis berharap, adanya makalah yang singkat ini dapat memberikan
pengetahuan dan pencerahan bagi kita semua. Amin.
B. Pembahasan
1. Riwayat hidup dan karyanya
Nama lengkap Ibnu tufail adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Abd Al Malik
Ibnu Muhammad ibnu Muhammad Ibnu Thufail. Lahir di Cadix, provinsi Grada
sepanyol pada tahun 506/1110 M. Ia termasuk dalam keluarga suku Arab terkemuka,
Qais. Dalam bahasa lain ia terkenal dengan Abu Bacer
1
.
Sebagaimana Filosof Muslim di masanya, Ibnu Tufail memiliki disiplin ilmu
dalam berbagai bidang
2
. Selain terkenal sebagai filosof muslim yang gemar
menuangkan pemikirannya dalam kisah-kisah ajaib dan penuh dengan kebenaran, ia
juga seorang dokter, ahli matematika dan kesastraan (penyair) dari dinasti Al-
Muwahhid Spanyol. Dia memulai kariernya sebagai dokter praktik di Granada.

1
Sirajuddin Zar (Filsafat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007) hal. 205) dikutip
dari Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II, (Jakarta: Universitas Indonesia,
1985) hal. 55
2
Ibid.
BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
2

Lewat ketenarannya sebgai dokter ia diangkat menjadi sekretaris gubernur di
provinsi itu. Kemudian, Ibnu Thufail menjadi sekretaris pribadi Gubernur Cueta
(Arab: Sabtah) dan Tangier (Arab : Thanjah / Latin : Tanger) oleh putra Al Mukmin,
penguasa Al Muwahhid Spanyol. Selanjutnya menjadi dokter pemerintah dan
sekaligus menjadi qadhi
3
.
Pada masa Khalifah Abu Yakub, Ibnu Thufail mempunyai pengaruh yang
besar dalam pemerintahan. Disisi lain, khalifah sendiri memang seorang pecinta ilmu
pengetahuan dan secara khusus adalah peminat filsafat dan memberi kebebasan
4
. Dari
sini dapat kita pahami bahwa transformasi filsafat dan keilmuan Ibnu Thufail dapat
dilakukan dengan mudah. Sikapnya itu menjadikan pemerintahannya sebagai
pemuka pikiran filosofis dan membuat spanyol seperti apa yang dikatakan R.
Briffault, yang dikutib Bakhtiar Husain Siddiqi dalam bukunya A History of Muslim
Philosophy sebagai tempat kelahiran kembali negeri Eropa. Posisi Ibnu Thufail
disini adalah pakar dalam pemikiran filosofis dan ilmiah
5
.
Adapun Karier Ibnu Thufail sebagai dokter berakhir pada tahun 587/1182
hijriah karena usianya yang sudah lanjut. Dan ia menganjurkan kepada khalifah
supaya muridnya, Ibnu Rusyd menggantikan kedudukannya. Khalifah meluluskan
permintaannya dan langsung mengangkat Ibnu Rusyd sebagai dokter istana
6
. Tapi dia
tetap mendapatkan penghargaan dari Abu Yaqub dan setelah dia meninggal pada
tahun 581 H / 1185 M) di Marakesh (Maroko) dan dimakamkan disana, Al-Mansur
sendiri hadir dalam upacara pemakamannya
7
.
Adapun mengenai karya-karyanya, Buku-buku biografi menyebut bahwa
karangan ibnu Thufail menyangkut beberapa lapangan filsafat, seperti filsafat fisika,
metafisika, kejiwaan dan lain sebagainya, disamping surat-surat yang dikirimkan

3
Ibid.

4
Ibid.
5
Ibid.
6
Ibid.
7
Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997, h. 272
BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
3

kepada Ibnu Rusyd. Namun karangan-karangan itu tidak sampai kepada kita kecuali
risalah Hayy bin Yaqadhan yang merupakan intisari pemikiran filsafat Ibnu Thufail
8
.
Risalah ini ditulis atas permintaan salah seorang kawannya untuk
mengintisarikan filsafat timur. Karya ini merupakan suatu kreasi yang unik dari
pemikiran filsafatnya. Sebelumnya, judul ini telah diberikan oleh ibnu Sina kepada
salah satu bukunya. Demikian juga nama tokoh dalam cerita itu. Bahkan, sebelum
Ibnu Sina, kisah ini sudah ada seperti kisah arab kuno, Hunain Ibnu Ishaq, Salman
dan Absal, Ibnu Arabi. Namun, Ibnu Thufail berhasil menjadikan kisah ini menjadi
kisah roman filosofis yang unik
9
.
Keunikan itu terlihat pada ketajaman filosofisnya yang menandai kebaharuan
kisah tersebut. Kisah ini merupakan kisah paling asli dan indah pada abad
pertengahan. Terbukti, buku ini telah diterjemahkan kedalam beberapa bahasa seperti,
Ibrani, Latin, Ingrgris, Belanda, Prancis, Spanyol, Jerman dan lain-lain
10
.
2. Filsafat Ibnu Thufail
Filsafat Ibnu Thufail merupakan pemikiran yang baru dalam filsafat islam
yang belum pernah dilakukan para filosof muslim sebelumnya. Terutama dalam hal
pembuktian adanya tuhan. Penjabaran yang diberikan Ibnu Thufail cukup gamblang
dan dapat dipahami oleh semua golongan orang. Berbeda dengan Ibnu Sina.
Pembagian wajib al wujud min ghairih dan mumkin al wujud bi dzatihi, seperti yang
dikatakan Prof. Dr. H . Sirajudin Zar, yang dikutib dari Muhammad Athif Al Iraqiy,
agak membingungkan. Karena dalam konsep Wajib ada unsur mumkin
11
.
Secara umum, pemikiran filsafat Ibnu Thufail dapat kita lihat dalam karyanya: Hay
Ibnu Yaqhan. Roman Filsafat itu menggambarakan orang yang mempunyai akal
fikiran sebagai fitroh bagi setiap manusia. Absal merupakan orang yang berilmu dan

8
Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990) hal. 161
9
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007) hal. 207
10
Ibid

11
Penjelasan Lebih lengkap, lihat Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2007) hal. 98

BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
4

beragama Islam, dimana ilmunya telah dilengkapi dengan wahyu. Sedangkan Salman
menggambarkan tentang masyarakat
12
. Sebagaimana diketahui, Ibnu Thufail tidak
merasa puas dengan filsafat Al Ghazali untuk mencari kebahagiaan dan kebenaran
tuhan, tetapi lebih cendrung kepada perenungan fikiran sebagaimana dilakukan Al
Farabi. Ibnu Thufail termasuk pengikut aliran Kontemplatif filsafat arab yang disebut
isyrok, suatu teori neo platonisme kuno dan dekat dengan aspirasinya kepada mistik
modern
13
. Menurut Amir Ali, sebagaimana dikutip oleh Muslim Ishak dalam buku
Tokoh-tokoh Filsafat Islam Dari Barat, Filsafat Kontemplatif Ibnu Thufail tidak
didasarkan atas exsaltasi mistik, tetapi atas suatu mode yang mana intuisi
digabungkan dengan pencarian akal. Hal ini dapat dilihat sebagaimana dalam kisah
Hay, dimana, akal memiliki perkembangan yang berangsur-angsur dan berturut-turut
dari seseorang yang tidak mendapat asupan pendidikan dari luar.
1. Metafisika (Ketuhanan)
Seperti para filosof sebelumnya, Ibnu Thufail memulai filsafatnya dengan
filsafat ketuhanan. Dalam membuktikan adanya tuhan Ibnu Thufail mengemukakan
tiga argument sebagai berikut
14
:
a. Argumen Gerak
Gerak alam menjadi bukti adanya Allah. Baik bagi orang yang meyakini
alam baharu maupun bagi orang yang meyakini alam qadim. Bagi orang yang
meyakini alam itu baharu, gerak alam berarti dari ketiadaan hingga alam itu ada
(diciptakan). Oleh karena itu, keberadaan alam dari ketiadaan itu mestilah
membutuhkan pencipta yaitu Allah. Sementara bagi orang yang mengatakan
bahwa alam itu qadim, gerak alam berarti tidak berawal dan tidak berakhir.
Karena zaman tidak mendahuluinya, arti gerak ini tidak didahului oleh diam.

12
Muslim Ishak, Tokoh-tokoh Filsafat Islam Dari Barat, (Bina Ilmu: surabaya), hal. 40.

13
Ibid.

14
Op, cit, hal. 212
BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
5

Disini, penggerak alam (Allah) berfungsi mengubah materi dari alam potensial
ke actual. Mengubah dari satu bentuk kebentuk yang lain
15
.
Sirajuddin Zar dalam buku filsafat islam, Filosof dan filsafatnya
mengatakan, inilah letak keistimewaan argumen gerak Ibnu Thufail, yakni dapat
dipahami oleh semua golongan. Dengan argumen diatas, secara tidak langsung,
Ibnu Thufail memperkuat argumentasi bahwa tanpa wahyu akal dapat
mengetahui adanya Allah.
b. Argumen Materi
Argumen gerak Ibnu Thufail juga digunakan untuk mebuktikan adanya
tuhan. Argumen ini didasarkan pada ilmu fisika yang masih ada korelasinya
dengan argumen yang pertama (al harakat). Hal ini dikemukakan Ibnu Thufail
dalam kelompok pikiran yang terkait satu sama lain, yakni segala yang ada
tersusun dari materi dan bentuk, setiap materi membutuhkan bentuk, bentuk tidak
mungkin bereksistensi penggerak dan segala yang ada untuk bereksistensi
membutuhkan pencipta.
Bagi yang meyakini alam itu qadim, pencipta ini berfungsi
mengeksistensikan wujud dari suatu bentuk ke bentuk yang lain. Sementara bagi
yang meyakini alam itu baru, pencipta berfungsi menciptakan dari ketiadaan
menjadi ada. Pencipta disini, merupakan ilat (sebab) dan alam merupakan malul
(akibat).
c. Argumen Alghaiyyat dan Al-inayat al ilahiyat
Argumen ini sebenarnya pernah dikemukakan oleh Ibnu Sina. Tiga sebab
yang dikemukakan oleh aristoteles yaitu materi, bentuk dan pencipta. Ibnu sina
melengkapinya dengan ilat al ghaliyat, sebab tujuan.
Menurut Ibnu Thufail, bahwa segala yang ada di alam ini memiliki
tujuan. Tertentu. Ini merupakan inayah dari Allah. Ibnu thufail yang berpegang
pada argument ini sesuai dengan Al quran, menolak bahwa alam diciptakan

15
Ibid. dikutip dari Al Iraqy, Al Mitafisika, hal 128

BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
6

secara kebetulan. Alam ini, masih menurut ibnu Thufail, sangat rapi dan sangat
teratur. Semua planet, begitu juga jenis hewan dan anggota tubuh pada manusia
memiliki tujuan tertentu. Demikian tiga argument yang dikemukakan Ibnu
Thufail.
Adapun mengenai Dzat Allah, Ibnu Thufail sependapat dengan kaum
Mutazilah sifat-sifat Allah yang Maha Sempurna tidak berlainan dengan Dzat-
Nya. Allah berkuasa bukan dengan sifat ilmu dan kudrat yang dimiliki,
melainkan dengan Dzat Allah itu Sendiri.
2. Fisika
Pada pembahasan sebelumnya telah disinggung mengenai golongan yang
mengakui bahwa alam itu baru atau mereka yang mengakui alam itu qadim.
Mengenai alam ini, Ibnu Thuifail merupakan penganut keduanya. Ia mempercayai
bahwa alam itu baharu sekaligus alam itu qadim. Alam itu qadim, menurut Ibnu
Thufail, karena ia diciptakan sejak azali, tanpa di dahului zaman. Alam disebut baru
karena ia membutuhkan dan bergantung pada Dzat Allah
16
.
Ibnu Thufail mencontohkan, ketika seseorang menggenggam suatu benda,
kemudian ia gerakkan benda tersebut, maka benda itu mesti bergerak mengikuti gerak
tangan orang tersebut. Gerakan benda tersebut tidak terlambat dari segi zaman dan
hanya terlambat dari segi zat. Demikian alam ini, keseluruhan merupakan akibat dan
diciptakan Allah tanpa zaman
17
.
3. Jiwa
Jiwa menurut Ibnu Thufail adalah makhluk yang tertinggi martabatnya.
Manusia Terdiri dari dua Unsur yakni jasad dan roh (al-madat al ruh). Badan
tersusun dari unsur-unsur sedangkan jiwa tidak. Jiwa bukan jisim dan bukan pula
sesuatu yang ada didalam jisim. Setelah badan hancur atau mengalami kematian,

16
Ibid hal. 216

17
Ibid.
BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
7

jiwa lepas dari badan, dan selanjutnya jiwa yang pernah mengenal Allah yang berada
di dalam jasad akan hidup dan kekal
18
.
Jiwa terdiri dari tiga tingkat: jiwa tumbuhan (an-nafs al nabawiyat), jiwa jiwa
hewan dan jiwa manusia
19
. Ketiga jiwa tersebut merupakan sebuah tingkatan dari
yang terendah hingga tertinggi yaitu jiwa manusia. Dalam menjabarkan hal ini, Ibnu
Thufail kemudian mengelompokkan jiwa hubungannya dengan Allah kedalam tiga
golongan:
a. Jiwa yang sebelum mengalami kematian jasad telah mengenal Allah,
mengagumi kebesaran dan keagungannya, dan selu ingat kepadanya, maka
jiwa seperti ini akan kekal dalam kebahagiaan.
b. Jiwa yang mengenal Allah Namun bermaksiat, akan abadi dalam
kesengsaraan.
c. Jiwa yang tidak mengenal Allah selama hidupnya, akan berakhir seperti
hewan.
Dalam hal ini, Sirajudin Zar dalam buku Filsafat Islam berkomentar:
Agaknya Ibnu Thufail meletakkan tanggung jawab manusia dihadapan Allah atas
dasar pengetahuannya tentang Allah. Orang yang tahu kepada Allah dan menjalankan
kebaikan, akan kekal dalam kebahagiaan.
4. Epistimologi
Ibnu Thufail mengatakan, seperti tersirat dalam kisah Hay Ibnu Yaqdhan,
Bahwa marifat dimulai dari panca indra. Hal yang bersifat metafisis dapat diketahui
dengan akal dan intuisi. Marifat dapat dilakukan dengan dua cara: pemikiran atau
renungan akal seperti yang dilakukan filosof muslim dan tasawuf seperti yang
dilakukan oleh kaum sufi
20
, kesesuaian antara nalar dan intuisilah yang membentuk
epistimologi Ibnu Thufail.

18
Ibid 217

19
Ibid. dikutip dari Al Iraqy, Al Mitafiziqa, hal. 91.
20
Ibid 218
BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
8

Menurut Ibnu Thufail, Marifat dengan tasawuf dapat dilakukan dengan
latihan-latihan rohani dengan penuh kesungguhan. Semakin tinggi latihan itu, maka
semakin jelas dan hakikat semakin tersingkap.
5. Rekonsiliasi antara Filsafat dan Agama
Hubungan filsafat dan agama yang dikemukakan oleh Ibnu Thufail adalah
filsafat sebagai bagian kebenaran yang esoteric hanya diperuntukkan bagi orang-
orang tertentu yang memiliki kemampuan untuk memahami pengetahuan-
pengetahuan murni. Sementara masyarakat umumnya cukup dengan agama dalam
makna literalnya. Agama dalam pengertian seperti ini diperuntukkan bagi semua
orang, tetapi filsafat hanya bagi orang-orang yang berbakat yang sedikit jumlahnya.
Agama dipruntukkan bagi orang-orang awam, karna mereka tidak memiliki
kemampuan untuk kluar dari sbatas penjelasan-penjelasan lahiriah agama
21
.
3. Kisah Hay bin Yaqadhan
Kisah Hay merupakan cara khusus yang dipakai oleh Ibnu Thufail untuk
menjelaskan filsafatnya. Sebagaimana dikatakan diawal, penulisan kisah ini
merupakan jawaban atas permintaan temannya yang ingin mengetahui hikmah
ketimuran. Adapun ringkasan kisah tersebut sebagai mana ditulis oleh Ahmad
hanafi dalam bukunya Pengantar Filsafat Islam sebagai berikut:
Seorang anak tinggal di sebuah pulau
22
yaitu Hayy Ibn Yaqadhan, ia
disusui dan di asuh oleh seokor rusa
23
. Ketika sudah besar ia mempunyai

21
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh filsuf Muslim pebuka Pintu Gerbang Filsafat Barat dan
Modern, ( Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hal 179.
22
Ada yang meneyebut kepulawan India. Pulau terpencil dan beriklim sedang, terletak di
garis katulistiwa yang oleh harus nasution di sebut pulau indonesia. Lih. Sirajuddin Zar, Filsafat Islam,
(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 209.
23
Hay adalah bayi yang terlahir cecara alamiah, tidak memiliki ayah dan ibu. Namun, dalam
versi lain disebutkan bahwa ada seorang perempuan yang kawin rahasia dengan sorang laki-laki. Dari
perkawinan itu ia melahirkan bayi laki-laki. Karena takut kepada kakaknya yang menjadi raja
ditempatnya, perempuan itu memasukkannya kedalam peti dan melemparkannya ke laut. Dengan
hempasan ombak, peti itu tersangkut disebuah pulau terpencil yang tak berpenghuni. Seekor rusa
yang anaknya baru saja mati segera mendekati peti itu. Bayi yang ada dalam peti itu dikira anaknya.
Sebagai lazimnya seorang ibu, rusa menyusui bayi itu dan sebaliknya bayi itu memandang rusa sebagi
ibunya. Lih. Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 210

BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
9

hasrat yang kuat untuk mengetahui dan menyelidiki tentang sesuatu yang
tidak dapat dimengerti olehnya. Ia menyadari hewan-hewan mempunyai
pakain alami dan alat pertahan bagi dirinya, sedang ia telanjang dan tidak
bersenjata. Oleh karena itu, ia menutup dirinya pertama-tama denga kulit
hewan yang telah mati serta memakai tongkat sebagai alat pertahanan diri.
Lambat laun ia mengenal kebutuhan hidup yang lain, mengetahui cara
memakai api, manfaat bulu, tahu menenun dan akhirnya membangun gubuk
sebagai tempat berteduhnya dan rusa pengasuhnya semakin lama semakin tua
dan akhirnya mati. Pikiran manusia yang serba hendak ingin tahu itu, ingin
mengetahui sebab terjadinya perubahan besar pada rusa itu, oleh karna itu ia
membedah salah satu bagian tubuh dari hewan tersebut, dan dengan
cermatnya ia menyelidiki bagian bagia tubuhnya. Kemudian ia berkesimpulan
bahwa jantung merupakan pusat bagi anggota tubuh
24
.
Sesudah itu ia mempelajari bahan-bahan logam, tumbuh-tumbuhan
dan hewan-hewan yang terdapat di pulau kediamannya, mempelajari suara
yang bermacam-macam dan menirukannya pula. Kemudian ia mempelajari
gejala-gejala di angkasa, dan karena tertarik oleh keragaman yang terdapat
pada alam maka ia berusaha untuk menemukan keseragaman pada
kesemuanya.
Akhirnya ia memastikan bahwa dibalik keanekaragman itu tentu ada
keseragaman dan kekuatan yang tersembunyi dan ganjil, suci dan tidak
terlihat. Ia menyebutnya sebab pertama atau pencipta dunia. Kemudian ia
merenungkan dirinya sendiri dan alat yang dipakai untuk memperoleh
pengetahuan. Kemudian arah penyelidikannya berubah menjadi perenungan
terhadap dirinya sendiri. akhirnya ia menemukan unsur-unsur pertama atau

24
Dalam satu literatur disebutkan bahwa Hayy mencari organ tubuh yang rusak, ternyata
dalam tubuh rusa itu masih itu. Dari sini pula Hayy meyakini bahwa adanya pengaruh dari luar yang
menyebabkan kematian itu, yaitu allah. Lih. Purwotanntana dkk, Seluk beluk filsafat, (Rosda Offset:
Bandung, 1998), hal. 183

BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
10

substansi pertama, susunannya, benda, bentuk, dan akhirnya jiwa dan
keabadiannya.
Dengan memperhatikan aliran air dan menyusuri sumbernya sampai
kepada suatu sumber air yang memamcar dan melimpah sebagai sungai, maka
ia terbimbing untuk mengatakan bahwa manusia juga mesti mempunyai suatu
sumber bersama.
Selanjutnya ia merenungkan tentang langit, gerakan bintang-bintang,
peredaran bulan dan pengaruhnya atas bumi. Ia kemudian menemukan garis
pemikirannya sendiri dan menjahui pembunuhan hewan-hewan, kemudian ia
sudah puas dengan makan buah-buahan yang masak dan tumbuh-tumbuhan
dan hanya dalam keadaan terpaksa ia memakan daging hewan.
Dari sini ia beralih dari hanya sekedar pengamat alam menjadi sorang
yang mencari tuhan, dan sebagai ganti dari mencari pengetahuan dengan
mengetahui dalil-dalil dan kesimpulan logika, atau dengan perkataan lain,
pengetahuan obyektif, kemudian ia tenggelam dalam perenungan rohani. Ia
memandang keseluruhan alam semesta sebagai pantulan (refleksi) dari satu
tuhan, dan selanjutnya ia senang melakukan ekstasi (semedi
)25
.
Didekat pulau yang didiaminya itu, terdapat suatu pulau lain dan
seorang pandai yang bernama Absal yang secara kebutulan berkunjung
kepulau tempat kediaman Hay. Ia bertemu dengan Hay dan mengajarkan
bahasa kepadanya.
Melaui informasi yang diperoleh dari Absal, Hay menyadari bahwa
metode filsafi yang ia miliki telah membawa dirinya ke tingkat marifat yang
sejalan dengan ajaran agama. Ia pun tahu bahwa orang yang membawa
keterangan-keterangan dan ucapan yang benar itu adalah Rosul dan ia percaya

25
Sirajuddin Zar dalam bukunya Filsafat Islam (2007) menyebutkan, untuk mencapai marifat
hakiki dan kebahagiaan sejati ia melatih diri dengan berpuasa selama 40 hari di dalam gua.

BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
11

kepadanya dan mengakui kerasulannya. Sebaliknya Hay juga menjelaskan
pengalamannya dengan Allah kepada Absal
26
.
Ketika keduanya mebandingkan pikirannya, dimana yang satu belajar
dari alam, dan yang satunya adalah filosofis dan pemeluk agama, ternyata
keduanya memiliki simpulan yang sama.
Dari Ringkasan cerita tersebut sebenarnya Ibnu Thufail ingin mengemukakan
kebenaran-kebenaran. Adapun kebenaran yang dimaksud sebagaimana disimpulkan
oleh Nadhim al-Jisr dalam buku Qissat al Imam yang juga dikutib Ahmad Hanafi
dalam buku Pengantar Filsafat Islam yaitu:
1. Urutan Tangga Makrifat yan ditempuh oleh akal dimulai dari obyek
indrawi yang khusus kepada pikiran universal.
2. Tanpa pengajaran dan tanpa petunjuk, akal manusia dapat mengetahui
tanda-tanda pada makhluknya dan menegakkan dalil-dalil atas wujudnya.
3. Akal manusia kadang-kadang mengalami ketumpulan dan
ketidakmampuan dalam mengemukakan dalil-dalil pikiran, yaitu ketika
hendak ingin menggambarkan keazalian mutlak, ketidak-akhir-an, zaman
qadim, hudus dan dalil yang sejenis dengan itu.
4. Baik Akan menguatkan qadimnya alam atau baharunya, namun
kelanjutan dari kepercayaan tersebut adalah satu juga yaitu tuhan.
5. Manusia dengan akalnya sanggup menemukan dasar-dasar keutamaan
dan dasar-dasar akhlak yang bersifat amali dan kemasyarakatan, serta
berhiaskan diri dengan keutamaan-keutamaan dasar akhlak tersebut,
disamping menundukkan keinginan-keinginan badan pada hukum pikiran,
tanpa ,melalaikan hak badan atau meninggalkan sama sekali.
6. Apa yang diperintahkan oleh syariat islamdan apa yang diketahui oleh
akal yang sehat dengan sendirinya, berupa kebenaran, kebaikan dan

26
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 210

BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
12

keindahan dapat bertemu kedua-duanya dalam satu titik, tanpa
dipersilisihkan lagi.
7. Pokok dari semua hikmah ialah apa yang ditetapkan oleh syara yaitu
mengarahkan pembicaraan kepada orang lain menurut kesanggupan
akalnya, tanpa membuka kebenaran dan rahasia-rahasia filsafat kepada
mereka. Juga pangkal dari segala kebaikan ialah menetapi batas-batas
syara dan meninggalkan pendalaman sesuatu.
C. Penutup

Dari beberapa pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Ibnu Thufail Merupakan salah seorang filosof muslim yang memiliki corak
pemikiran yang berbeda yang tidak dimiliki oleh filosof sebelumnya. Hal ini dapat
dilihat dari corak filsafatnya, terutama dalam membuktikan eksistensi tuhan
2. Dalam berfilsafat, meskipun Ibnu Thufail mengakui bahwa tanpa wahyu akal bisa
mencapai tuhan, Ibnu Thufail tidak menafikan wahyiu sebagai salah satu sumber
pengetahuan tidak menuhankan akal secara mutlak. Ia masih mengakui adanya peran
wahyu.
3. Keselarasan antara peran akal dan wahyu merupakan inti dari filsafat Ibnu Thufail











BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
13

Daftar Bacaan
Sirajuddin Zar (Filsafat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007)
Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997, h. 272
Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990) hal. 161
Muslim Ishak, Tokoh-tokoh Filsafat Islam Dari Barat, (Bina Ilmu: surabaya), hal. 40.
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh filsuf Muslim pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat dan
Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hal 179.




[1] Sirajuddin Zar (Filsafat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 205)
dikutip dari Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II,
(Jakarta: Universitas Indonesia, 1985) hal. 55
[2] Ibid.
[3] ibid
[4] ibid
[5] Ibid
[6] Ibid
[7] Mustofa, Filsafat Islam, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997, h. 272
[8] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990) hal. 161
[9] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 207
[10] Ibid
[11] Penjelasan Lebih lengkap, lihat Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 98
[12] Muslim Ishak, Tokoh-tokoh Filsafat Islam Dari Barat, (Bina Ilmu: surabaya),
hal. 40.
[13] Ibid
[14] Op, cit, hal. 212
BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
14

[15] Ibid. dikutip dari Al Iraqy, Al Mitafisika, hal 128
[16] Ibid hal. 216
[17] Ibid
[18] Ibid 217
[19] Ibid. dikutip dari Al Iraqy, Al Mitafiziqa, hal. 91.
[20] Ibid. 218
[21] Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh filsuf Muslim pembuka Pintu Gerbang Filsafat
Barat dan Modern, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2004), hal 179.
[22] Ada yang meneyebut kepulawan India. Pulau terpencil dan beriklim sedang,
terletak di garis katulistiwa yang oleh harus nasution di sebut pulau indonesia. Lih.
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 209.
[23] Hay adalah bayi yang terlahir cecara alamiah, tidak memiliki ayah dan ibu.
Namun, dalam versi lain disebutkan bahwa ada seorang perempuan yang kawin
rahasia dengan sorang laki-laki. Dari perkawinan itu ia melahirkan bayi laki-laki.
Karena takut kepada kakaknya yang menjadi raja ditempatnya, perempuan itu
memasukkannya kedalam peti dan melemparkannya ke laut. Dengan hempasan
ombak, peti itu tersangkut disebuah pulau terpencil yang tak berpenghuni. Seekor
rusa yang anaknya baru saja mati segera mendekati peti itu. Bayi yang ada dalam peti
itu dikira anaknya. Sebagai lazimnya seorang ibu, rusa menyusui bayi itu dan
sebaliknya bayi itu memandang rusa sebagi ibunya. Lih. Sirajuddin Zar, Filsafat
Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal. 210
[24] Dalam satu literatur disebutkan bahwa Hayy mencari organ tubuh yang rusak,
ternyata dalam tubuh rusa itu masih itu. Dari sini pula Hayy meyakini bahwa adanya
pengaruh dari luar yang menyebabkan kematian itu, yaitu allah. Lih. Purwotanntana
dkk, Seluk beluk filsafat, (Rosda Offset: Bandung, 1998), hal. 183
[25] Sirajuddin Zar dalam bukunya Filsafat Islam (2007) menyebutkan, untuk
mencapai marifat hakiki dan kebahagiaan sejati ia melatih diri dengan berpuasa
selama 40 hari di dalam gua.
BILFAHMI PUTRA
SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM
15

[26] Sirajuddin Zar, Filsafat Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hal.
210