Anda di halaman 1dari 28

1

SKENARIO
Seorang remaja 19 tahun dibawa ke IGD RS YARSI karena pingsan setelah berolah raga. Pada
pemeriksaan fisik : tampak lemas, bibir dan lidah kering. Sebelum dibawa kerumah sakit,
temannya telah memberikan larutan pengganti cairan tubuh. Di RS, penderita segera diberikan
infus cairan elektrolit. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan : Kadar Natrium : 130
mEq/l ( Normal : 135-147 ) , Kalium : 2,5 mEq/l ( Normal : 3,5-5,5 ) dan Klorida : 95 mEq/l (
Normal : 100-106 ). Setelah kondisi membaik pasien diperboleh kan pulang dan dianjurkan
untuk minum sesuai dengan etika Islam.

IDENTIFIKASI KATA-KATA SULIT
1. Cairan tubuh : cairan sel di dalam tubuh yang memiliki fungsi fisiologis tertentu
2. Larutan : campuran zat homogen yang terdiri dari dua zat atau lebih yang terdiri dari
solute dan solvent
3. Cairan elektrolit : cairan yang biasanya terdiri atas asam dan basa, dan dapat
menghantarkan arus listrik karena mengandung muatan

BRAINSTORMING PROBLEM
1. Apa definisi dari kekurangan cairan atau dehidrasi?
2. Apa saja macam-macam larutan elektrolit?
3. Apa penyebab dehidrasi?
4. Bagaimana mekanisme dehidrasi?
5. Apa saja akibat dari dehidrasi?
6. Bagaimana penanganan yang tepat dalam menangani penderita dehidrasi?
7. Apa saja gangguan yang terjadi pada ketidakseimbangan elektrolit?
8. Apa saja komposisi cairan elektrolit di dalam tubuh?
9. Apa fungsi cairan di dalam tubuh?
10. Apa saja macam-macam dehidrasi?
11. Apa saja klasifikasi larutan tubuh?
12. Apa saja faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan?
13. Apa perbedaan cairan dan larutan?
14. Bagaimana etika minum dalam syariat Islam?

ANALISA MASALAH
1. Dehidrasi adalah keadaan dimana volume air di tubuh berkurang tetapi cairan
elektrolitnya tetap
2. Cairan intrasel (40%) : - kalium sebagai kation utama
- fosfat dan protein sebagai anion utama.
Cairan ekstrasel (20%) : - 15% cairan interstisial
- 5% plasma darah
- 1 2 liter cairan transeluler
2

- Natrium, kalium, klorida, bikarbonat sebagai
elektrolit penting.
3. Insufisiensi pemasukan H2O yang disebabkan karena kurang minum, kelaparan, dan
puasa berkepanjangan
- Pengeluaran H2O yang berlebihan yang disebabkan oleh diare, muntah, keringat
berlebih, pendarahan.
4. Tubuh yang kekurangan air menyebabkan kelenjar hipofisa di otak mengeluarkan
hormon ADH yaitu vasopresin yang merangsang ginjal untuk menahan air sebanyak
mungkin di dalam tubuh sehingga membuat air berpindah ke aliran darah untuk
mempertahankan volume dan tekanan darah sampai mendapatkan pengganti asupan
cairan.
5. Kandungan natrium yang tinggi di dalam ekstrasel menyebabkan cairan inrasel masuk ke
ekstrasel.
6. minuman isotonik
- Infus cairan elektrolit
7. Gangguan keseimbangan natrium = a. hiponatremia
b. isonatremia
c. hipernatremia
Gangguan keseimbangan kalium = a. hipokalemia
b. hiperkalemia
8. Cairan intrasel (40%) : - kalium sebagai kation utama
- fosfat dan protein sebagai anion utama.
Cairan ekstrasel (20%) : - 15% cairan interstisial
- 5% plasma darah
- 1 2 liter cairan transeluler
- Natrium, kalium, klorida, bikarbonat sebagai
elektrolit penting.
9. mengatur proses metabolisme
mengatur suhu tubuh
bantalan organ-organ penting
melarutkan garam-garam dalam makanan
10. Dehidrasi berdasarkan penyebabnya : a. hipertonisitas
b. hipotonisitas
c. isotonisitas
Dehidrasi berdasarkan banyak cairan tubuh yang hilang: a. dehidrasi ringan
b. dehidrasi sedang
c. dehidrasi berat.
11. berdasarkan fasa
- berdasarkan kejenuhan
- berdasarkan kemampuan daya hantar listrik
3

12. volume cairan ekstraselular dan osmolaritasnya yang dikontrol oleh tekanan darah
13. larutan adalah campuran homogen antara pelarut dan zat terlarut yang dimana zat
terlarutnya tidak dapat dibedakan lagi. Sedangkan cairan adalah campuran heterogen
yaitu antara pelarut dan zat terlarut dan masih dapat dibedakan.
14. membaca basmalah dan hamdalah
- tidak bernafas ketika minum
- disunahkan minum dengan tangan kanan
- dilakukan dengan posisi duduk
- tidak menggunakan bejana dari emas atau perak

HIPOTESA SEMENTARA
Sebagian besar tubuh manusia terdiri dari cairan. Cairan di dalam tubuh berfungsi untuk
membantu mekanisme kerja tubuh. Oleh karena itu, menjaga pergerakan dan
keseimbangan cairan sangatlah penting. Gangguan keseimbangan cairan dapat terjadi
dengan atau tanpa gangguan keseimbangan elektrolit. Dehidrasi adalah gangguan yang
disebabkan kekurangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi dapat ditangani dengan
memberikan minuman isotonik yang sesuai dengan syariat Islam dan atau infus cairan
elektrolit sesuai dengan derajat keparahan dehidrasi.















4

SASARAN BELAJAR
1. Memahami dan Menjelaskan Cairan dan Larutan dalam Tubuh
1.1 Definisi
1.2 Klasifikasi
1.3 Fungsi
1.4 Pergerakan Cairan
1.5 Keseimbangan cairan
1.6 Komposisi
2. Memahami dan Menjelaskan Dehidrasi
2.1 Definisi
2.2 Macam
2.3 Penyebab
2.4 Mekanisme
2.5 Gejala
2.6 Akibat
2.7 Penatalaksanaan
3. Memahami dan Menjelaskan Elektrolit
3.1 Definisi
3.2 Komposisi dan kadar
3.3 Fungsi
3.4 Gangguan Kesetimbangan
4. Memahami dan Menjelaskan Etika Minum menurut Syariat Islam
4.1 Al-Quran
4.2 Hadits














5

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Larutan dan Cairan di dalam Tubuh
1.1 Definisi Larutan dan Cairan di dalam Tubuh

Definisi Larutan
Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih
zat. Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut zat terlarut atau solut,
sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan
disebut pelarut atau solven. Baik solute maupun solvent dapat berwujud padat,cair,
atau gas. Solute dapat berupa atom, ion, atau molekul yang mengalami dispersi.
Dengan demikian, larutan = pelarut (solvent) +zat terlarut (solute). Khusus untuk
larutan cair, maka pelarutnya adalah volume terbesar.

Definisi Cairan
Cairan merupakan substansi yang bebas mengalir secara alamiah, mudah mengalir
dan bukan berupa padat atau gas. Cairan tubuh merupakan larutan yang terdiri dari air
dan zat yang terlarut. Air merupakan pelarut dari semua zat terlarut dalam tubuh baik
dalam bentuk suspensi maupun larutan. Cairan tubuh terdiri dari air pelarut dan
substansi terlarut. Istilah yang dipakai dalam kedokteran untuk menyebutkan cairan-
cairan tubuh,sebenarnya lebih tepat didefenisikan sebagai campuran yang bersifat
heterogen. Sifat heterogen ini terlihat dari partikel-partikel pembentuknya(solute dan
solvent) yang masih menunjukkan sifat dari masing partikel-partikel pembentuk
tersebut.

1.2 Klasifikasi Larutan dan Cairan di dalam Tubuh

Klasifikasi Larutan

a. Berdasarkan Kepekatan :
Larutan Encer : Larutan yang menganduang relatif sedikit solute(zat yang
dilarutkan ) di dalam larutan
Larutan pekat : Larutan yang mengandung banyak solute(zat yang
dilarutkan) di dalam larutan
Larutan Jenuh : Larutan dimana ada keseimbangan antara solute padat dan
solute dalam larutan
Larutan Tidak Jenuh: Larutan yang mengandung jumlah solute yang
kurang dari Larutan jenuh.
b. Berdasarkan Daya Hantar Listrik:
1. Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik,
dibedakan atas:
a) Elektrolit Kuat
Larutan elektrolit kuat adalah yang mempunyai daya hantar listrik
yang kuat, karena zat terlarutnya didalam pelarut (umumnya air),
seluruhnya berubah menjadi ion-ion (alpha = 1)
Asam-asam kuat seperti : HCL,HC10
3
, H
2
S0
4
, HNO
3
Dan
lain-lain.
6

Basa-basa kuat yaitu basa-basa golongan alkali dan alkali
tanah, seperti NaOH, KOH, Ca(OH)
2
, Ba(OH)
2
dan lain-
lain.
Garam-garam yang mudah larut seperti : NaCl, Al
2
(SO
4
)
3

dam lain-lain.

b) Elektrolit Lemah
Larutan elektrolit lemah adalah larutan yang daya hantar listriknya
lemah dengan harga derajat ionisasinya sebesar : 0 < alpha < 1
Asam-asam lemah seperti : CH
3
COOH,HCN.H
2
CO
3
,H
2
S
dam lain-lain.
Basa-basa lemah seperti : NH
4
OH. Ni(OH)
2
dan lain-lain.
Garam-garam yang sukar larut seperti AgCl,CaCrO
4
,PbI
2

dan lain-lain

c) Larutan non elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan
arus listrik, karena zat terlarutnya didalam pelarut tidak dapat
menghasilkan ion-oin (tidak beion)
Tergolong kedalam jenis ini misalnya :
1. Larutan Urea
2. Larutan Sukrosa
3. Larutan Glukosan
4. Larutan Alkohol
d) Berdasarkan Kemampuan Menyerapnya :
1. Larutan ideal yaitu larutan yang memenuhi Hukum Roult.
Pada larutan ideal tidak terjadi penyerapan atau pelepasan
kalor pada saat pencampuran larutan
2. Larutan tidak ideal yaitu larutan yang tidak memenuhi
hukum Roult. Larutan tak ideal ini dapat dibagi dua yaitu :
a) Larutan yang mengalami pelepasan kalor pada
saat pencampuran sehingga merupakan larutan
yang mengalami penyimpangan positif dari
hukum Roult.
b) Larutan yang mengalami penyerapan kalor
pada saat pencampuran yang menghasilkan
penyimpangan negatif dari hukum Roult.










7

e) Berdasarkan Wjud / Fasanya :

No
Solvent Solute
Larutan
Fasa Contoh Fasa Contoh
1 Cair Air Cair Alkohol Spiritus
2 Cair Aseton Gas Asetilen Zat Untuk Las
3 Cair Air Padat Garam Larutan Garam
4 Padat Pd Gas H
2
Gas Oven
5 Padat Cd Cair Hg Amalgam Gigi
6 Padat Au Padat Ag Sinsin
7 Gas O
2
Gas He Gas Untuk Menyelam
8 Gas Udara Cair Minyak Wangi Spray
9 Gas O
2
Padat Naftalen Kamfer

Klasifikasi Cairan

a. Cairan Intrasel : Cairan yang terdapat didalam sel tubuh manusia. Volumenya
Lebih kurang dari 33 % berat badan (60% air tubuh total). Kandungan air intrasel
lebih banyak dibandingkan ektrasel. Contoh : Kalium sebagai kation utama, fosfat
sebagai anion
b. Cairan Ektrasel : Cairan yang terdapat diluar tubuh. Cairan ektrasel terdiri:
Cairan Intersisium atau cairan antar sel yang berada diantara sel
Cairan Intravaskular, yang berada dalam pembuluh darah yang merupakan
bagian air dari plasma darah
Cairan Transeluler, yang berada dalam rongga-rongga khusus, misalnya
cairan
otak ( likuor serebropinal), bola mata, sendi.

1.3 Fungsi Larutan dan Cairan di dalam Tubuh
Fungsi Larutan:
Secara umum larutan berfungsi untuk membentuk suatu zat baru antar solute (zat
yang dilarutkan) dan solven ( zat pelarut).

Faktor Faktor yang mempengaruhi kelarutan:

1. Suhu
Makin tinggi suhunya makin besar kelarutannya

2. Sifat solut dan solvent
8

Berdasarkan polar dan non polarnya seperti hukum like disolve like. Suatu
solut polar akan larut pada solvent yang polar juga.

3. Tekanan
Perubahan gas dalam cair menjadi tekanan parsial diatur oleh hukum Henry.

C = kp

Semakin tinggi tekanan, semakin kecil kelarutannya.

4. Pengaruh ion sejenis
Adanya ion sejenis akan memperkecil kelarutan.

Fungsi Cairan
a) Proses Metabolisme
- Pembawa zat-zat nutrisi seperti karbohidrat, vitamin dan mineral
- Sebagai pembawa oksigen (O
2
) ke dalam sel-sel tubuh
- Mengeluarkan produk sampe hasil metabolisme seperti
karbondioksida (CO
2
) dan senyawa nitrat
- Regulasi hormon dan molekul

Penjelasan: Air membersihkan racun dalam tubuh melalui
keringat, air seni dan pernapasan. Konsumsi air yang cukup akan
membantu kerja sistem pencernaan di dalam usus besar karena
gerakan usus besar menjadi lebih lancar.

b) Pelembab jaringan-jaringan tubuh seperti mata, mulut, hidung, dan
pelumas pada cairan sendi tubuh.
Penjelasan: Cairan tubuh melindungi dan melumasi gerakan
pada sendi otot. Otot tubuh akan mengempis apabila tubuh
kekurangan cairan. Oleh sebab itu, perlu minum air dengan cukup
selama beraktifitas untuk meminimalisasi resiko kejang otot dan
kelelahan

c) Katalisator Biologik Sel
Penjelasan: Pada reaksi kimia seperti pemecahan karbohidrat
dan pembentukan protein.

d) Pelindung organ dan jaringan tubuh

e) Membantu dalam menjaga tekanan darah dan konsentrasi zat
terlarut
Penjelasan: Jika tubuh kekurangan cairan, maka darah akan
mengental. Hal ini disebabkan cairan intravaskuler keluar
memasuki cairan ekstraselular

9

f) Pengatur panas untuk menjaga suhu tubuh tetap berada pada
kondisi ideal yaitu 37
Penjelasan: Cairan tubuh mampu menyerap panas dalam jumlah
besar, membuang panas dari jaringan yang menghasilkan panas

1.4 Pergerakan Cairan di dalam Tubuh
Pergerakan cairan tubuh (hidrodinamika) mencakup penyerapan air di dalam usus,
masuk ke pembuluh darah, dan beredar ke seluruh tubuh. Pada pembuluh kapilar, air
mengalami filtrasi ke ruang interstisium dan selanjutnya masuk ke dalam sel melalui
proses difusi, sebaliknya air di dalam sel keluar kembali ke ruang interstisium dan
masuk ke pembuluh darah.

Pergerakan air juga meliputi filtrasi air di ginjal, ekskresi air ke saluran cerna sebagai
liur pencernaan serta pergerakan air ke kulit dan saluran napas yang keluar sebagai
keringat dan uap air. Pergerakan cairan tersebut bergantung kepada tekanan
hidrostatik dan tekanan osmotik.

a. Tekanan Hidrostatik
Tekanan hidrostatik adalah tekanan di dalam pembuluh darah yang
sangat ditentukan oleh tekanan darah. Tekanan ini semakin menurun ke
arah perifer.

b. Tekanan Osmotik
Tekanan osmotik terdiri dari 2 macam, yaitu tekanan osmotic kristaloid
dan tekanan osmotic koloid atau disebut juga tekanan onkotik.
1) Tekanan Osmotik Kristaloid
Tekanan osmotic kristaloid merupakan tekanan osmotic yang
ditimbulkan oleh mineral dan ionnya.

2) Tekanan Osmotik Koloid/Onkotik
Tekanan osmotic koloid atau disebut juga tekanan onkotik
merupakan tekanan osmotic yang dihasilkan oleh molekul koloid
yang tidak dapat berdifusi. Perpindahan cairan dari ruang
intravascular ke interstisium atau sebaliknya sangat dipengaruhi oleh
kadar albumin dalam plasma. Albumin adalah protein utama didalam
plasma (80% protein plasma) dan memberikan 85% tekanan onkotik
plasma. Protein plasma menghasilkan tekanan onkotik sekitar 25
mmHg.

Membran sel bersifat permeable selektif. Pergerakan cairan yang terjadi
melalui difusi terdiri dari dua mekanisme, yaitu transport pasif dan transport
aktif.




10

a. Transpor Pasif
Transport pasif adalah proses osmosis sederhana berdasarkan perbedaan
tekanan osmotic yang tidak memerlukan energy. Molekul kecil tak
bermuatan seperti air dapat melewati membrane sel dengan transport
pasif. Transport pasif membawa air dari tekanan osmotic rendah ke
tekanan osmotic tinggi dan membawa molekul lain dari tekanan osmotic
rendah ke tekanan osmotic tinggi sehingga terjadi suatu keseimibangan.

Transport cairan keluar masuk sel melintasi membran plasma
merupakan proses difusi. Berpindahnya cairan dari intrasel ke ekstrasel
dan sebaliknya dipengaruhi oleh perbedaan osmolalitas. Cairan akan
berpindah dari daerah yang memiliki osmolalitas lebih rendah ke daerah
yang memiliki osmolalitas lebih tinggi.

b. Transpor Aktif
Transpor aktif adalah proses difusi yang memerlukan bantuan suatu zat
pembawa atau carrier atau melalui suatu kanal tertentu yang
memerlukan energy. Transpor aktif membawa molekul ke daerah yang
memiliki konsentrasi lebih tinggi sehingga sel dapat mempertahankan
komposisi lingkungan internal yang berbeda dengan lingkungan di
sekitarnya. Contoh transport aktif adalah pompa natrium-kalium-
ATPase.

1.5 Keseimbangan Cairan di dalam Tubuh
Keseimbangan cairan didalam tubuh adalah salah satu bagian dari fisiologi
homeostatis. Keseimbangan cairan melibatkan komposisi dan perpindahan
berbagai cairan tubuh. Keseimbangan cairan berarti adanya distribusi yang normal
dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh bagian tubuh. Keseimbangan
cairan saling bergantung satu dengan yang lainnya, jika salah satu terganggu
maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan di dalam tubuh
yaitu:
1. Sifat dari solute dan solvent
Solute yang polar akan larut dalam solvent yang polar pula. Misalnya
garam-garam anorganik larut dalam air. Solute yang nonpolar larut dalam
solvent yang nonpoar pula. Misalnya alkaloid basa (umumnya senyawa
organik) larut dalam kloroform.

2. Cosolvensi
Cosolvensi adalah peristiwa kenaikan kelarutan suatu zat karena adanya
penambahan pelarut lain atau modifikasi pelarut. Misalnya luminal tidak larut
dalam air, tetapi larut dalam campuran air dan gliserin atau solutio petit.

11


3. Kelarutan
Zat yang mudah larut memerlukan sedikit pelarut, sedangkan zat yang sukar
larut memerlukan banyak pelarut. Kelarutan zat anorganik yang digunakan
dalam farmasi umumnya adalah :
a. Dapat larut dalam air
Semua garam klorida larut, kecuali AgCl, PbCl2, Hg2Cl2. Semua garam
nitrat larut kecuali nitrat base. Semua garam sulfat larut kecuali BaSO4,
PbSO4, CaSO4.
b. Tidak larut dalam air
Semua garam karbonat tidak larut kecuali K2CO3, Na2CO3. Semua
oksida dan hidroksida tidak larut kecuali KOH, NaOH, BaO, Ba(OH)2.
semua garam phosfat tidak larut kecuali K3PO4, Na3PO3.

4. Temperatur
Zat padat umumnya bertambah larut bila suhunya dinaikkan, zat padat tersebut
dikatakan bersifat endoterm, karena pada proses kelarutannya membutuhkan
panas.

Zat terlarut + pelarut + panas larutan.

Beberapa zat yang lain justru kenaikan temperatur menyebabkan tidak larut,
zat tersebut dikatakan bersifat eksoterm, karena pada proses kelarutannya
menghasilkan panas.
Zat terlarut + pelarut larutan + panas
Contoh : KOH dan K2SO4

5. Salting Out
Salting Out adalah Peristiwa adanya zat terlarut tertentu yang mempunyai
kelarutan lebih besar dibanding zat utama, akan menyebabkan penurunan
kelarutan zat utama atau terbentuknya endapan karena ada reaksi kimia.
Contohnya : kelarutan minyak atsiri dalam air akan turun bila kedalam air
tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh.

6. Salting In
Salting in adalah adanya zat terlarut tertentu yang menyebabkan kelarutan zat
utama dalam solvent menjadi lebih besar. Contohnya : Riboflavin tidak larut
dalam air tetapi larut dalam larutan yang mengandung Nicotinamida.

7. Pembentukan Kompleks
Pembentukan kompleks adalah peristiwa terjadinya interaksi antara senyawa
12

tak larut dengan zat yang larut dengan membentuk garam kompleks.
Contohnya : Iodium larut dalam larutan KI atau NaI jenuh.

1.6 Komposisi Larutan dan Cairan dalam Tubuh
Cairan dalam tubuh meliputi lebih kurang lebih 60% total berat badan laki-laki
dewasa. Prosentase cairan tubuh ini bervariasi antara individu sesuai dengan jenis
kelamin dan umur individu tersebut. Pengaruh terbesar berhubungan dengan jumlah
lemak tubuh. Kandungan air di dalam sel lemak lebih rendah dibandingkan
kandungan air di dalamm sel otot, sehingga persentase cairan tubuh total pada orang
yang gemuk lebih rendah dibanding orang yang tidak gemuk.

Persentase H2O tubuh juga dipengaruhi oleh jenis kelamin dan usia individu. Wanita
memiliki persentase H2O yang lebih rendah daripada pria, terutama karena hormon
seks wanita, esterogen, mendorong pengendapan lemak di payudara, bokong, dan
tempat lain. Hal ini tidak saja menghasilkan bentuk tubuh wanita, tetapi juga
menganugerahi wanita proporsi jaringan lemak yang lebih banyak dan karenanya,
proporsi H2O yang lebih kecil. Persentase H2O tubuh juga berkurang progresif
seiring usia. Pada wanita dewasa, cairan tubuh meliputi 50% dati total berat badan.
Pada bayi dan anak-anak, prosentase ini relative lebih besar dibandingkan orang
dewasa dan lansia.


Persentase cairan tubuh total
Bayi premature 80% BB
Bayi dan anak normal 70-75%
Pra pubertas 65-70%
Dewasa 55-60%

H2O tubuh tersebar antara 2 kompartemen cairan utama: cairan didalam sel, cairan
intrasel (CIS), dan cairan yang mengelilingi sel, cairan ekstrasel (CES).
Cairan tubuh total normal sekitar 60% berat badan :
20% cairan ekstraseluler: 15% cairan interstisial dan 5% plasma darah.
40% cairan intraseluler.

Cairan tubuh total adalah 100% cairan tubuh :
33% cairan ekstrasel (CES): 26.4% cairan interstisium (80% dari CES)
dan 6.6% plasma (20% dari CES).
67% cairan intrasel (CIS).
13


Kompartemen CIS membentuk sekitar 2/3 dari H2O tubuh total. 1/3 sisanya
dari H2O total tubuh yang terdapat di kompartemen CES dapat dibagi lagi menjadi
plasma dan cairan interstisium. Plasma, yang membentuk sekitar 1/5 dari volume
CES, adalah bagian cair dari darah. Cairan interstisium, yang mewakili 4/5 dari
kompartemen CES, adalah cairan di ruang antar sel. Cairan ini merendam dan
melakukan pertukaran dengan sel.
Dua kategori minor lain masuk dalam kompartemen CES adalah cairan limfe dan
cairan trans-sel. Limfe adalah cairan yang dikembalikan dari cairan interstisium ke
plasma melalui sistem pembuluh limfe, tempat cairan ini difiltrasi melalui kelenjar
limfe untuk kepentingan pertahanan imun. Cairan trans-sel terdiri dari sejumlah
volume cairan khusus kecil, yang semuanya disekresikan oleh sel spesifik ke dalam
rongga tubuh tertentu untuk melakukan fungsi khusus.
Kompartemen Cairan Intrasel
Cairan Intrasel adalah cairan yang terdapat dalam sel tubuh. Volume cairan intrasel
lebih kurang 33% BB atau 60% dari jumlah air tubuh total. Kandungan air di intrasel
lebih banyak dibanding di ekstrasel dan persentase volume cairan intrasel pada anak
lebih kecil dibandingkan orang dewasa karena jumlah sel lebih sedikit dan ukuran sel
lebih kecil. Cairan intrasel dipisahkan dari cairan ekstrasel oleh membrane sel yang
sangat permeable terhadap air, tetapi tidak permeable terhadap sebagian besar
elektrolit dalam tubuh.

Dalam cairan intrasel, kation utama adalah kalium, sedangkan anion utama adalah
fosfat dan protein. Ion K+, Mg2+, dan PO42+ merupakan solut yang dominan untuk
menimbulkan efek osmotik pada cairan intrasel. Ion K+ juga penting dalam proses
biolistrik. Konsentrasi ion kalsium intrasel sangat rendah.

Cairan intrasel berperan menghasilkan, menyimpan, dan penggunaan energi serta
proses perbaikan sel. Selain itu, cairan intrasel juga berperan dalam proses replikasi
dan berbagai fungsi khusus antara lain sebagai cadangan air untuk memoertahankan
volume dan osmolalitas cairan ekstrasel.


Kompartemen Jumlah % BB % jumlah
cairan
Volume intraseluler 24.0 L 33 60
Volume ekstraseluler 16.0 L 22 40
Terdiri atas:
Volume interstisium 11,2 L 15,4 28
Volume plasma 3,2 L 4,4 8
Volume trans seluler ** 1,6 L 2,2 4
14

Kompartemen Cairan Ekstrasel
Cairan ekstrasel adalah cairan yang terdapat di luar sel tubuh. Cairan ekstrasel terdiri
dari:
A. Cairan interstisium atau cairan antar sel yang berada di antara sel-sel.
B. Cairan intravaskular atau cairan yang ada dalam pembuluh darah yang
merupakan bagian air dari plasma darah.
C. Cairan transelular atau cairan yang ada dalam rongga-rongga khusus.
Jumlahnya relatif sedikit.
Cairan trans-sel mencakup :
Cairan serebrospinal (mengelilingi, membentuk bantalan, dan
memberi makan otak dan medulla spinalis).
Cairan intraokulus (mempertahankan bentuk dan memberi makan
mata).
Cairan sinovium (melumasi dan berfungsi sebagai peredam kejut
untuk sendi).
Cairan perikardium, intrapleura, dan peritoneum (masing-masing
melumasi gerakan jantung, paru, dan usus).
Getah pencernaan (mencerna makanan).

Cairan ekstrasel berperan sebagai :
pengantar semua keperluan sel (nutrien, oksigen,berbagai ion, trace
minerals, dan regulator hormon / molekul).
pengangkut CO2, sisa metabolisme, bahan toksik atau bahan yang
telah mengalami detoksifikasi dari sekitar lingkungan sel.

Kation utama dalam cairan ekstrasel adalah natrium (Na
+
). Kation ekstasel
lainnya adalah kalium (K+),Kalsium (Ca
2+
)dan magnesium (Mg
2+
).Anion
adalah klorida,bikarbonat,dan albumin.

LI 2. Memahami dan Menjelaskan Dehidrasi

2.1 Definisi
Dehidrasi adalah keadaan dimana volume air berkurang tanpa disertai berkurangnya
elektrolit (Na
+
) atau berkurangnya air jauh melebihi berkurangnya Na
+
dicairan
elektrolit. Akibatnya terjadi peningkatan Na
+
di ekstrasel, sehingga cairan intra sel
akan masuk kecairan ekstrasel (volume intra sel berkurang). 40% hilang dari ekstra
sel dan 60% hilang di intrasel. Selain mengganggu keseimbangan tubuh, pada tingkat
yang sudah sangat berat, dehidrasi bisa pula berujung pada penurunan kesadaran,
koma, hingga meninggal dunia
2.2 Macam-macam Dehidrasi
a. Dehidrasi Hipertonik
Kondisi dimana kehilangan volume air lebih besar dibandingkan volumenatrium.
Dehidrasi ini terjadi bila konsentasi elektrolit darah naik,biasanya disertai dengan
rasa haus dan gejala neorologi. Hal ini terjadibila kadar natrium dalam plasma
15

lebih dari 150 mEq/l .dehidrasi jenisini juga disebut sebagai dehidrasi
hipernatremia

b. Dehirasi Isotonik
Kondisi dimana kehilangan volume air sama dengan volume natrium.Dehidrasi
ini tidak menyebabkan terjadi perubahan konsentrasi elektrolitdarah. Hal ini
terjadi bila kadar natrium dalam plasma 130-150 mEq/l.

c. Dehidrasi Hipotonik
Kondisi dimana kehilangan natrium lebih besar dibandingkan denganvolume air.
Dehidrasi ini terjadi bila konsentasi elektrolit darahmenurun. Hal ini terjadi bila
kadar natrium dalam plasma kurang dari130 mEq/l. Dehidrasi jenis ini juga
disebut sebagai dehidrasihiponatremia.

Jenis-jenis dehidrasi berdasarkan tingkatannya ada 3 :

1.Dehidrasi ringan, yaitu kehilangan volume cairan sekitar 5 % dari
beratbadan tubuh.
2.Dehidrasi sedang, yaitu kehilangan volume cairan sekitar 5 - 10 %
dariberat badan tubuh.
3.Dehidrasi berat, yaitu kehilangan volume cairan lebih dari 10% dari
beratbadan tubuh

2.3 Penyebab Dehidrasi
Dehidrasi dapat terjadi karena hal-hal berikut :

1. Aktivitas
Orang yang banyak aktivitasnya lebih banyak mengeluarkan cairan tubuh
melalui keringat dari pada orang yang tidak beraktivitas.

2. Muntah
Muntah sering menyebabkan dehidrasi karena sangat sulit
untuk menggantikan cairan yang
keluar dengan cara minum.

3. Berkeringat
Tubuh kehilangan banyak cairan saat berkeringat. Kondisi lingkunganyang
panas akan menyebabkan tubuh berusaha mengatur suhu tubuh dengan
mengeluarkan keringat. Bila keadaan ini berlangsung lama sementara
pemasukan cairan kurang maka tubuh dapat jatuh ke dalam kondisi
dehidrasi.

4. Diabetes.
Peningkatan kadar gula darah pada penderita diabetes atau kencing
manisakan menyebabkan banyak gula dan air yang dikeluarkan melalui
16

kencing sehingga penderita diabetes akan mengeluh sering kebelakang
untuk kencing.

5. Luka bakar
Penderita luka bakar dapat mengalami dehidrasi akibat keluarnya cairan
berlebihan pada pada kulit yang rusak oleh luka bakar.

6. Kesulitan minum
Orang yang mengalami kesulitan minum oleh karena suatu sebabrentan
untuk jatuh ke kondisi dehidrasi.

7. Gastroenteritis
Ini adalah penyebab paling umum dehidrasi. Jika disertai muntah dan
diare, dehidrasi akansemakin mudah terjadi.

8. Diabetic ketoasidosis (DKA).
Dehidrasi ini disebabkan oleh diuresis osmotik.Penurunan berat badan
disebabkan oleh kehilangan cairan yang berlebihan dankatabolisme jaringan.
Rehidrasi cepat, dapat menimbulkan hasil neurologis yangburuk. DKA
sangat spesifik dan memerlukan perawatan yang intensif.

9. Demam penyakit
Demam mengakibatkan peningkatan insensible loss water dan dapat
mempengaruhi nafsu makan.

10. Diabetes insipidus.
Output urin yang berlebihan yang sangat encer dapat mengakibatkan kerugian
besar air bebas dan hipernatremia.

2.4 Mekanisme Dehidrasi
Kekurangan cairan atau dehidrasi terjadi jika cairan yang dikeluarkan tubuh melebihi
cairan yang masuk. Tentu, mekanisme tubuh manusia yang sangat dinamis menjaga
manusia untuk terhindar dari kekurangan banyak cairan. Ketika keseimbangan cairan
dalam tubuh mulai terganggu, misalnya rasa haus akan muncul.

Tubuh lalu menghasilkan hormon anti-diuretik (ADH) untuk mereduksi produksi
kencing diginjal. Tujuannya menjaga agar cairan yang keluar tidak banyak. Air yang
kita minum umumnya cukup untuk mengganti cairan yang hilang saat beraktivitas
normal seperti bernapas, berkeringat, buang air kecil, atau buang air besar. Saat
dehidrasi, tubuh tidak hanya kehilangan air, tapi juga kehilangan elektrolit dan
glukosa.

2.5 Gejala Dehidrasi
Gejala dan tanda-tanda dehidrasi secara umum :
1. Mulut kering dan lidah bengkak
Mulut kering dan lidah menjadi sedikit bengkak adalah sinyal tubuh mengalami
17

dehidrasi. Cara terbaik untuk menghindari dehidrasi adalah minum ketika haus.
Tapi jika sudah minum masih ada tanda-tanda dehidrasi, bisa jadi ada faktor lain
yang menjadi masalahnya.

2. Urine berwarna kuning pekat
Jika tubuh mengalami dehidrasi, ginjal akan mencoba menghemat air atau
menghentikan produksi urine. Akibatnya urine akan berwarna menjadi lebih
gelap atau kuning pekat.

3. Sembelit (sukar buang air besar)
Ketika tubuh cukup air, makanan yang dimakan akan bergerak bebas. Usus
besar (kolon) akan menyerap air dari makanan yang dimakan dan kemudian
mengeluarkan limbah berupa feses.Ketika mengalami dehidrasi, usus besar akan
menghemat air yang menyebabkan feses menjadi keras dan kering. Hasilnya
adalah sembelit.

4. Kulit menjadi kurang elastic
Dokter dapat menggunakan elastisitas kulit untuk mengetes dehidrasi dengan
cara mencubitnya. Jika kondisi normal, maka saat mencubit kulit di punggung
tangan lalu dilepaskan lagi akan kembali normal. Tapi ketika kulit mengalami
dehidrasi, saat dicubit lalu dilepaskan akan lambat normalnya. Meskipun ini
bukan tes terbaik dehidrasi tapi elastisitas kulit masih merupakan tanda yang
baik jika terjadi dehidrasi.

5. Jantung Berdebar-debar
Jantung membutuhkan tubuh yang sehat dan normal agar berfungsi dengan
benar. Jika terjadi penurunan aliran darah dan perubahan kadar elektrolit karena
dehidrasi, biasanya jantung akan berdebar-debar.

6. Kram otot atau Kejang-kejang
Meski belum diketahui pasti bagaimana dehidrasi mempengaruhi fungsi otot
tapi diduga terkait dengan ketidakseimbangan elektrolit. Elektrolit seperti
natrium dan kalium adalah ion yang bermuatan listrik yang membuat otot
bekerja.
Jika mengalami dehidrasi kronis, maka terjadi ketidakseimbangan elektrolit
yang dapat menyebabkan kram otot atau kejang yang terus menerus. Kondisi ini
banyak terjadi setelah orang selesai melakukan latihan atau olahraga.

7. Pusing
Dehidrasi juga bisa menyebabkan pusing atau pingsan. Salah satu tanda-tanda
dehidrasi adalah tubuh merasa melayang ketika buru-buru berdiri dari posisi
duduk atau tidur.

8. Lelah
Dehidrasi kronis akan membuat volume darah dan tekanan darah ikut turun
yang membuat pasokan oksigen ke darah juga turun. Tanpa oksigen yang
18

cukup, otot dan fungsi saraf akan bekerja lambat sehingga orang menjadi lebih
mudah lelah.

9. Air mata kering
Air mata digunakan untuk membersihkan dan melumasi mata. Jika cairan di
tubuh kurang, bisa membuat produksi air mata terhenti.

10. Badan selalu merasa kepanasan
Air memainkan peran kunci dalam mengatur suhu tubuh. Ketika tubuh mulai
panas kulit akan berkeringat. Dengan berkeringat, maka suhu tubuh akan turun
lagi. Karena keringat sebagian besar terdiri dari air, maka saat mengalami
dehidrasi, tubuh akan berhenti mengeluarkan keringat yang membuat badan
akan merasa kepanasan.

Gejala dehidrasi berdasarkan tingkat dehidrasi yaitu :

1. Dehidrasi Ringan
Dehidrasi ringan (defisit 4 %BB) Keadaan umum sadar dan baik, rasa haus (+),
sirkulasi darah/nadi normal, pernapasan biasa, mata agak cekung, turgor/tonus
biasa, kencing biasa.

2. Dehidrasi Sedang
Dehidrasi sedang (defisit 8 %BB) Keadaan umum gelisah, rasa haus (++),
sirkulasi darah/nadi cepat (120-140 kali/menit), pernapasan agak cepat, mata
cekung, turgor/tonus agak berkurang, kencing sedikit, kulit keriput, misalnya
kita cubit kulit dinding perut, kulit tidak segera kembali ke posisi semula.

3. Dehidrasi berat
Dehidrasi berat (defisit 12 %BB) Keadaan umum apatis/koma, rasa haus (+),
sirkulasi darah/nadi cepat sekali (lebih dari 140 kali/menit), pernapasan kusmaul
(cepat dan dalam), mata cekung sekali, turgor dan tonus kurang sekali, kencing
tidak ada.

2.6 Akibat Dehidrasi
Hasil studi terbaru tahun 2010 yang dilakukan oleh 2 pakar gizi Amerika Serikat,
Lawrence E. Armstrong, PhD dan Harris R. Lieberman, PhD. Dalam penelitian
tersebut menunjukkan bahwa dehidrasi dapat berdampak negatif pada tingkat kinerja,
kognitif dan mood.

Kemampuan kognitif sendiri merupakan kemampuan intelektual kita. Jika kinerja
kognitif kita menurun biasanya konsentrasi dan kewaspadaan kita berkurang.
Berdasarkan studi tersebut, dari sisi kemampuan fisik, jika kita kekurangan air 0,5%,
hal ini akan mengganggu kinerja jantung; kekurangan air 1% akan mengurangi
stamina tubuh; kekurangan air 3% akan mengurangi ketahanan otot; kekurangan air
4% akan melemahkan kekuatan otot dan kemampuan gerak serta mengakibatkan heat
cramp; kekurangan air 5% akan mengakibatkan kelelahan akibat haus, kram,
19

penurunan kemampuan mental; kekurangan air 6% akan mengakibatkan kelelahan
fisik, heatstroke dan koma.

Sedangkan dari sisi kognitif, dehidrasi sebesar 1,5% pada pada pria menyebabkan
sulit berkonsentrasi dan mengingat, lelah serta tegang. Sementara wanita lebih cepat
terkena dampak negatif dehidrasi yaitu ketika terjadi dehidrasi sebesar 1,3% dan
menyebabkan lelah, mudah marah, bingung, mengantuk, hilang konsentrasi, pusing
dan kesulitan dalam menyelesaikan tugas.

2.7 Penatalaksanaan Dehidrasi
Prinsip utama pengobatan dehidrasi adalah penggantian cairan . Penggantian cairan
ini dapat berupa banyak minum, bila minum gagal maka dilakukan pemasukan cairan
melalui infus. Tapi yang utama disini adalah penggantian cairan sedapat mungkin dari
minuman. Keputusan menggunakan cairan infus sangat terggantung dari kondisi
pasien berdasarkan pemeriksaan dokter. Keberhasilan penanganan dehidrasi dapat
dilihat dari produksi kencing. Penggunaan obat obatan diperlukan untuk mengobati
penyakit penyakit yang merupakan penyebab dari dehidrasi seperti diare, muntah dan
lain lain.

A. Dehirasi Isotonik
Bila kalium telah dikoreksi dan kembali ke dalam sel, natrium akan keluar dan masuk ke
ruang ekstraseluler. Oleh karena masuknya natrium ke ruang ekstraseluler yang berlebihan
maka tidak diperlukan koreksi natrium ekstraseluler pada terapi ini fase kedua, dan secara
umum hanya diberikan dua per tiga dari perkiraan defisin natrium dan air dalam 24 jam
pertama. Air dan natrium yang diberikan pada fase pertama dihitung dari sisa kebutuhan
dalam 24 jam pertama. Jumlah total koreksi cairan yang diberikan dalam 24 jam pertama
dihitung dari kehilangan cairan yang masih berlangsung dan kebutuhan normal pasien
ditambah dengan defisitnya.

B. Dehidrasi Hipotonik
Prinsip penanganan merip dengan dehidrasi isotonic, kecuali terapi yang dibuat untuk
mengganti kehilangan natrium tambahan, melebihi pemberian natrium pada te rapi
dehidrasi normanahemi.

Bila natrium akan diberikan dalam bentuk (garam kering), misal garam hipotonik,
dehidrasinya agar berubah dari hiponatremik menjadi isonatremik. Dalam praktek ini tidak
dianjurkan meningkatkan natrium secara mendadak, dantambahan natrium dapat
ditambahkan ke dalam cairan infus dalam beberapa hari(kecuali pasien mengalami
hiponatremik, yang jarang terjadi bila kadarnya > 20mmol/L )3.

C. Dehidrasi Hipertonik
Secara sirkulasi diperbaiki, penurunan konsentrasi natrium plasma dan osmolalitas yang
terlalu cepat, dapat menyebabkan air bergeser ke sel otak, yang sering kali menimbulkan
kejang. Penurunan natrium plasma tidak boleh lebih dari10 mmol/L/24 jam. Berikan dua
per tiga kebutuhan cairan rumatan dan setengah dari cairan penggantidengan larutan
dekirasa 5% natrium 0,45% tambahkan setiap ada kehilangancairan yang abnormal.
20

Atasi kejang dengan pemberian manitra intravena selama dehidrasi dapat terjadi
hypokalemia dan koreksi jenaan pemberian kalsium glukonar intravena

LI 3. Memahami dan Menjelaskan Elektrolit

3.1 Definisi

Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan.. Elektrolit yang terdapat pada cairan
tubuh akan berada dalam bentuk ion bebas (free ions). Secara umum elektrolit dapat
diklasifikasikan menjadi 2 jenis yaitu kation dan anion. Jika elektrolit mempunyai
muatan positif (+) maka elektrolit tersebut disebut sebagai kation sedangkan jika
elektrolit tersebut mempunyai muatan negatif (-) maka elektrolit tersebut disebut
sebagai anion.

Contoh dari kation adalah natrium (Na) dan kalium (K), kalsium (Ca), dan
magnesium (Mg). Contoh dari anion adalah klorida (Cl), fosfat (HPO) dan
bikarbonat (HCO).


























21

3.2 Komposisi dan Kadar


Kalium dan fosfat adalah elektrolit utama dalam cairan intrasel
Natrium dan klorida adalah elektrolit utama dalam cairan ekstrasel









































22

Komposisi dan Kadar Elektrolit di dalam Tubuh

Kation :
- Natrium : 135-145 mEq/L
- Kalium : 3,5-5 mEq/L
- Kalsium : 4,5-5,8 mEq/L
- Magnesium : 1,3-2,1 mEq/L

Anion :
- Klorida : 95-108 mEq/L
- Fosfat : 2,5-4,5 mEq/L
- Bikarbonat : 22-26 mEq/L

3.3 Fungsi Elektrolit
Fungsi dari larutan elektrolit adalah:
1. Menjaga tekanan osmotik tubuh
2. Mengatur pendistribusian cairan ke dalam kompartemen badan air (bodys
fluid compartement).
3. Menjaga pH tubuh dan juga akan terlibat dalam setiap reaksi oksidasi dan
reduksi.
4. Ikut berperan dalam setiap proses metabolisme


Fungsi berdasarkan larutan elektrolit:

a. Na (Natrium)
Natrium adalah kation utama ekstrasel, penting dalam mempertahankan tekanan
darah, kerja persarafan dan otot dan berperan dalam menentukan status volume
cairandan osmolalitas.
Fungsi natrium:
1. Solute utama yang secara osmotic aktif bertanggung jawab mempertahankan
volume intravaskuler dan interstitial
2. Natrium intraseluler berperan dalam memodifikasi aktivitas enzim
intraseluler tertentu.
3. Menentukan status volume air dalam tubuh.

b. K (Kalium)
Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan
penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit.

Fungsi Kalium:
1. Mempertahankan membrane potensial elektrik dalam tubuh
2. Mengatur tonisitas intra sel
23

3. Mengaturbeda potensial dalam posisi istirahat sel

c. Klorida (Cl)

Klorida merupakan anion terbesar dalam cairan ekstra sel dan komponen utama dari
sekresi kelenjar gaster. Sumber ion klorida banyak terdapat pada garam dapur.

Fungsi klorida
1. Mempertahankan tekanan osmotic
2. Distribusi air pada berbagai cairan tubuh dan keseimbangan anion dan
kation dalam cairan ekstra sel


3.4 Gangguan Keseimbangan Elektrolit
Gangguan Keseimbangan Natrium

Hiponatremia ( Na < 135 mEq/L[135 mmol/l])

Penyebab paling sering dari hiponatremi yang berkaitan dengan rendahnya
osmolaritas serum adalah sekresi ADH yang berlebihan. Hiponatremi juga dapat
terjadi akibat adanya larutan non natrium, seperti glukosa dan mannitol.
Penyebab Hiponatremi:
a. Diuretik
b. Defisiensi aldosteron
c. Diare
d. Muntah
e. Diabetes insipidus

Hipernatremia (Na >145 mEq/L [145 mmol/l])

Hipernatremia disebabkan oleh kondisi-kondisi yang mengakibatkan masukan
natrium berlebihan,atau sebagai akibat kehilangan air tubuh yang lebih besar dari
kehilangan natrium. Penyebab hypernatremia yang lebih sering terjadi adalah
disebabkan oleh deficit air primer, yaitu kehilangan air tubuh total melebihi
kehilangan natrium. Penyebab lainnya, yaitu:
a. Kehilangan air
b. Intake air kurang intake natrium berlebihan
c. Diare
d. Muntah
e. Keringat berlebihan
f. Diuresis
g. Intake garam


24

Gangguan Keseimbangan Kalium
Hipokalemia (Kalium <3,5 mEq/L)
Disebabkan oleh:
a. Asupan makanan
- rendahnya kadar K di makanan kurang dari 3.5 mEq/L
- malnutrisi, kelaparan, diet yang tidak seimbang
- anoreksia nervosa
- Alkoholisme

b. Keluarnya kalium dari saluran pencernaan
- muntah, diare, aspirasi dari saluran cerna
- operasi saluran cerna, fistula saluran cerna
- Bulimia

c. Keluarnya kalium dari ginjal
- fase diuresis (poliuria) gagal ginjal akut
- diuretik, terutama diuretik yang tidak hemat kalium
- hemodialisis, peritoneal dialysis

d. Pengaruh hormone
- penggunaan steroid, terutama kortison dan aldosteron dapat
meningkatkan ekskresi kalium dan retensi natrium
- stress, menyebabkan peningkatan produksi steroid di dalam tubuh
- penggunaan licorice (mengandung asam gliserat) yang berlebihan,
memiliki efek seperti aldosterone

e. Gangguan fungsi selular
- trauma, kerusakan jaringan, luka bakar, operasi
- menyebabkan banyak kalium yang dilepaskan ke dalam cairan intra
vascular

f. Redistribusi kalium
- alkalosis metabolik, menarik kalium masuk ke dalam sel
- insulin, menarik glukosa dan kalium ke dalam sel

g. Gangguan saluran cerna : anoreksia, mual, muntah, diare, distensi
abdomen, gangguan peristaltik dan ileum

h. Gangguan ginjal : poliuria dan polydipsia

Hiperkalemia (Kalium >5 meq/L)
Disebabkan karena defisiensi aldosteron, deplesi natrium, asidosis, trauma,
hemolysis sel darah merah, diuretik pengganti kalium


25

Gangguan Keseimbangan Klorida
a. Hipokloremia (Cl < 100 meq/L)
Kekurangan klorida sebagai penyebab alkalosis metabolik terjadi bila kekurangan
klorida tubuh melebihi kehilangan natrium. Contohnya: drainase lambung dan
pada diare klorida, suatu kelainan kongenital yang jarang terjadi dimana terjadi
defek transpor klorida usus, serta kistik fibrosis. Selain itu, dapat terjadi pada
pasien diare, meningitis, dan pasien AIDS.

b. Hiperkloremia (Cl > 106 meq/L)
Terjadi pada pasien nefritis dan kanker prostat dan dapat terjadi bila klorida di
konservasi di ginjal melebihi Na dan K atau terbentuknya urin basa selama ginjal
mengoreksi alkalosis. Penyebabnya: hemokonsentrasi akibat dehidrasi, asidosis
metabolik, asupan/absorbsi klorida berlebihan akibat tercernanya amonium
klorida yang berlebihan.


LI 4. Memahami dan Menjelaskan Etika Minum menurut Syariat Islam
1. Memakan makanan dan minuman yang halal.
Allah Taala telah memerintahkan kepada kita agar memakan makanan yang halal
lagi baik. Allah Taala telah berfirman (yang artinya), Hai para rasul, makanlah
yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mu`minun: 51)

2. Tidak makan dan minum dengan menggunakan wadah yang terbuat dari emas dan
perak.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Orang yang minum pada
bejana perak sesungguhnya ia mengobarkan api neraka jahanam dalam perutnya.
(HR. Bukhari dan Muslim) Dalam salah satu riwayat Muslim disebutkan,
Sesungguhnya orang yang makan atau minum dalam bejana perak dan emas

3. Jangan menyantap makanan dan minuman dalam keadaan masih sangat panas
ataupun sangat dingin karena hal ini membahayakan tubuh.
Mendinginkan makanan hingga layak disantap akan mendatangkan berkah
berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam , Sesungguhnya yang
demikian itu dapat mendatangkan berkah yang lebih besar. (HR. Ahmad)

4. Makan dan minum dengan tangan kanan dan dilarang dengan tangan kiri.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Apabila salah seorang dari
kalian makan, makanlah dengan tangan kanan dan minumlah dengan tangan
kanan , karena sesungguhnya setan makan dan minum dengan tangan kirinya.
(HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wa salam mendoakan keburukan bagi orang yang
tidak mau makan dengan tangan kanannya. Seseorang makan di hadapan
Rasulullah shallallahu alaihi wa salam dengan tangan kirinya, maka beliau
26

bersabda, Makanlah dengan tangan kananmu. Orang itu menjawab, Saya tidak
bisa. Beliau bersabda, Semoga kamu tidak bisa! Orang tersebut tidak mau
makan dengan tangan kanan hanya karena sombong. Akhirnya dia benar-benar
tidak bisa mengangkat tangan kanannya ke mulutnya. (HR. Muslim)

5. Buruknya makan sambil berdiri dan boleh minum sambil berdiri, tetapi yang lebih
utama sambil duduk.
Dari Amir Ibn Syuaib dari ayahnya dari kakeknya radhiyallahu anhum, dia
berkata, Saya melihat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam minum sambil
berdiri dan sambil duduk. (HR. Tirmidzi, hadits hasan shahih) Nabi shallallahu
alaihi wa sallam melarang seorang laki-laki minum sambil berdiri. Qatadah
radhiyallaberkata, Kami bertanya kepada Anas, Kalau makan? Dia menjawab,
Itu lebih buruk -atau lebih jelek lagi-. (HR. Muslim)

6. Minum tiga kali tegukan seraya mengambil nafas di luar gelas.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam minum sebanyak tiga kali, menyebut
nama Allah di awalnya dan memuji Allah di akhirnya. (HR.Ibnu As-Sunni dalam
Amalul Yaumi wallailah (472) ) Apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam
minum, beliau bernafas tiga kali. Beliau bersabda, Cara seperti itu lebih segar,
lebih nikmat dan lebih mengenyangkan. (HR. Bukhari dan Muslim) Bernafas
dalam gelas dilarang oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya,
Apabila salah seorang dari kalian minum, janganlah ia bernafas di dalam gelas.
(HR. Bukhari)

7. Tidak meniup makan yang masih panas atau bernafas di saat minum.
Hadits Ibnu Abbas menuturkan "Bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam
melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya ". (HR.At-Turmudzi
dan dishahihkan oleh Al-Albani).

8. Jangan minum langsung dari bibir bejana
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas beliau berkata, " Nabi Shallallaahu alaihi wa
Sallam melarang minum dari bibir bejana wadah air. " (HR. Al Bukhari)

9. Disunnatkan minum sambil duduk, kecuali jika udzur
Karena di dalam hadits Anas disebutkan " Bahwa sesungguhnya Nabi
Shallallaahu alaihi wa Sallam melarang minum sambil berdiri". (HR. Muslim).

10. Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang Kami
berikan kepada kalian. (Q.S. Al-Baqarah : 172)
Yang dimaksud rezeki yang baik ialah halal, yang tidak ada kotoran didalamnya.



27

KESIMPULAN
Cairan di dalam tubuh manusia terdiri dari 40% cairan intrasel dan 20% cairan ekstrasel. Cairan
ekstrasel terdiri dari 15% cairan interstisium, 5% plasma dan sedikit cairan transeluler. Cairan di
dalam tubuh yang berfungsi untuk membantu mekanisme kerja tubuh harus dijaga pergerakan
dan keseimbangan cairannya. Pergerakan cairan tubuh sangat dipengaruhi oleh tekanan
hidrostatik dan tekanan osmotic.
Kekurangan cairan di dalam tubuh dapat mengakibatkan dehidrasi. Dehidrasi terbagi menjadi
dehidrasi hipertonik, dehidrasi isotonic, dan dehidrasi hipotonik. Berdasarkan derajat kehilangan
cairannya, dehidrasi terbagi menjadi dehidrasi ringan, dehidrasi sedang, dan dehidrasi berat.
Dehidrasi dapat ditangani dengan memberikan minuman isotonic yang jenis dan cara pemberian
minumnya sesuai dengan syariat Islam. Dehidrasi juga dapat ditangani dengan memberikan
infuse cairan elektrolit sesuai dengan jenis dehidrasinya.





















28

DAFTAR PUSTAKA
A.Graber Mark et al,(2006),Buku Saku Dokter Keluarga ed 3,Jakarta,EGC
Anonim. (2012). Dehidrasi. http://smadapalapare.com/dehidrasi.html diakses tanggal 11 Februari
2014
Anonim. 2011. Dehidrasi dan Rencana Terapi. http://bukujaga.com/dehidrasi-dan-rencana-
terapi.html diakses tanggal 11 Februari 2014
E. S .Dorothy ; Inti Sari Biokimia, Bina aksara, 1993

John Mc Murray,Robert C.Fay,1998 Chemistry II ed, Prentice- Hall International,Inc.
Kamianti,Sukmariah,1990, Kimia Kedokteran edisi II,,Binarupa Aksara,Jakarta
Kee JL, Paulanka BJ. Extracellular Fluid Volume Deficit. In : Kee JL, Paulanka BJ, ed.
Handbook of Fluid, Electrolyte and Acid-Base Imbalance. Canada : Delmar, Thomson Learning,
2000; 9-18

Kee JL, Paulanka BJ. Fluid and their influence on the body. In : Kee JL, Paulanka BJ, ed.
Handbook of Fluid, Electrolyte and Acid-Base Imbalance. Canada : Delmar, Thomson Learning,
2000; 1-8

Machmud, Amir. (2013). Fiqhul Miyah dan Asi Menurut Pandangan Islam. Jakarta,Yarsi.
Madjid, Sjariffudin Amir et al. (2008). Gangguan Keseimbangan Air-Elektrolit dan Asam-Basa.
Edisi Kedua. Jakarta, FKUI.
Sherwood Lauralee; Fisiologi Manusia dari sel ke system, edisi 6
th
, 2012, EGC, Jakarta

Singer GG, Brenner BM. Fluid and Electrolyte Disturbances. In : Fauci, et al, ed. Harrisons
Principles of Internal Medicine 14
th
ed. New York: Mc Graw Hill, 1998; 265-276

W.A, Newman Dorland. (2009). Dorlands Pocket Medical Dictionary, 28
th
ed. Jakarta, EGC