Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

MATERIAL TEKNIK




Disusun Oleh :

KELOMPOK 4
HENDRA LISTIONO
FRANKY ADI CANDRA
MUHAMMAD RIFAN
ERIKSON SIREGAR
M. AKHIRUL NOPAN


PROGRAM STUDI S1 TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2014
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Uji impak adalah pengujian dengan menggunakan pembebanan yang cepat
(rapid loading). Agar dapat memahami uji impak terlebih dahulu mengamati fenomena
yang terjadi terhadap kapal titanik yang berada pada suhu rendah ditengah laut,
sehingga menyebabkan materialnya menjadi getas dan mudah patah. Disebabkan laut
memiliki banyak beban (tekanan) dari arah manapun. Kemudian kapal tersebut
menabrak gunung es, sehingga tegangan yang telah terkonsentrasi disebabkan
pembebanan sebelum sehingga menyebabkan kapal tersebut terbelah dua.
Dalam Pengujian Mekanik, terdapat perbedaan dalam pemberian jenis beban
kepada material. Uji tarik, uji tekan, dan uji punter adalah pengujian yang menggunakan
beban statik. Sedangkan uji impak (fatigue) menggunakan jenis beban dinamik. Pada uji
impak, digunakan pembebanan yang cepat (rapid loading). Perbedaan dari pembebanan
jenis ini dapat dilihat pada strain ratenya. Pada pembebanan cepat atau disebut dengan
beban impak, terjadi proses penyerapan energi yang besar dari energi kinetik suatu
beban yang menumbuk ke spesimen. Proses penyerapan energi ini, akan diubah dalam
berbagai respon material seperti deformasi plastis, efek histerisis, gesekan, dan efek
inersia.
Kelelahan (Fatigue) adalah salah satu jenis kegagalan (patah) pada komponen
akibat beban dinamis (pembebanan yang berulangulang atau berubah-ubah).
Jadi, di sini kita akan menjelaskan tentang uji Impak dan uji Fatik dalam mata
kuliah material teknik.
PENGUJIAN IMPAK DAN FENOMENA PERPATAHAN

1. Sejarah Pengujian Impak
Sejarah pengujian impak terjadi pada masa Perang Dunia ke 2, karena ketika itu
banyak terjadi fenomena patah getas yang terjadi pada daerah lasan kapal-kapal perang
dan tanker-tanker. Diantara fenomena patahan tersebut ada yang patah sebagian dan ada
yang benar-benar patah terbeah menjadi 2 bagian, fenomena patahan ini terjadi terutama
pada saat musim dingin-ketika diaut bebas ataupun ketika kapal sedang berabuh. Dan
contoh yang sangat terkenal tentang fenomena patahan getas adalah tragedi Kapal
TITANIC yang melintasi samudera Atlantik.
Dasar pengujian impak ini adalah penyerapan energi potensial dari pendulum beban
yang berayun dari suatu ketinggian tertentu dan menumbuk benda uji sehingga benda
uji mengalami deformasi.
2. Prinsip Kerja Uji Impak
Prinsip pengujian impak ini adalah menghitung energy yang diberikan oleh beban
(pendulum) dan menghitung energy yang diserap oleh specimen. Pada saat beban
dinaikkan pada ketinggian tertentu, beban memiliki energy potensial maksimum,
kemudian saat akan menumbuk specimen energy kinetic mencapai maksimum.
Energy kinetic maksimum tersebut akan diserap sebagian oleh specimen hingga
specimen tersebut patah.

Gambar 1 Alat uji impak.
Nilai Harga Impak pada suatu specimen adalah energy yang diserap tiap satuan luas
penampang lintang specimen uji. Persamaannya sebagai berikut:

Keterangan:
m = massa bandul pemukul
g = percepatan grafitasi
h1 = tinggi pusat bandul sebelum pemukulan
h2 = tinggi pusat bandul setelah pemukulan
Bentuk patahan specimen akan menimbulkan dua jenis patahan, yaitu patahan
ulet dan patahan getas. Factor-faktor yang mempengaruhi bentuk dua patah tersebut
dipengaruhi oleh beberapa hal. Yaitu:
a. Temperatur
Pada temperature yang sangat rendah, specimen dapat bersifat getas. Hal
tersebut disebabkan butiran-butiran atom specimen berotasi lebih cepat dan
bervibrasi sehingga lebih leluasa untuk melakukan slip system.
b. Jenis material
Jenis material yang atom-atomnya membentuk struktur FCC cenderung
lebih ulet dibandingkan yang membentuk struktur BCC. Hal tersebut terjadi
karena atom-atom pada struktur FCC lebih banyak melakukan slip system
sehingga banyak menyerap energy ketika dilakukan uji impak.
c. Arah butiran specimen
Arah butiran specimen yang tegak lurus dengan arah pembebanan
menyebabkan harga impak suatu specimen lebih tinggi daripada arah spesimen
yang sejajar dengan arah pembebanan. Hal tersebut terjadi karena pembebanan
memerlukan energy lebih untuk memecah butiran-butiran specimen tersebut.
d. Kecepatan pembebanan
Pembebanan yang terlalu cepat menyebabkan specimen mempunyai
lebih sedikit waktu yang diperlukan untuk menyerap energy sehingga hal
tersebut mempunyai pengaruh harga impak yang berbeda pada kecepatan yang
berbeda.
e. Tegangan triaxial
Tegangan triaxial adalah tegangan tiga arah yang hanya terjadi di
takikan(notch). Tegangan pada specimen akan berpusat pada takikan tersebut
sehingga bentuk takikan akan mempengaruhi nilai harga impak yang didpat.
Patah ulet disebabkan oleh tegangan geser dengan ciri-ciri antara lain: berserat,
permukaanya kasar, gelap, dan terlihat sempat terjadi deformasi palstis. Hal
tersebut terjadi disebabkan oleh kekuatan butir yang lebih kuat dari kekuatan
batas butir sehingga jalur patahan terletak pada batas butir.
Patah getas disebabkan oleh tegangan normal dengan cirri-ciri antara
lain: tidak berserat, permukaannya halus, mengkilap, dan tidak terlihat adanya
deformasi plastis. Hal tersebut disebakan oleh kekuatan batas butir yang lebih
kuat dari kekuatan butir sehingga jalur patahan membelah butir-butir pada
specimen tersebut.
3. Jenis-jenis Metode Uji Impak
Secara umum metode uji impak terdiri dari 2 jenis yaitu :
a. Metode Charpy
Pengujian tumbuk dengan meletakkan posisi spesimen uji pada tumpuan
dengan posisi horizontal/ mendatar, dan arah pembebanan berlawanan dengan
arah takikan.


b. Metode Izod
Pengujian tumbuk dengan meletakkan posisi spesimen uji pada tumpuan
dengan posisi , dan arah pembebanan serah dengan arah takikan.

Gambar 2 Ilustrasi skematik pembebanan impak pada benda uji Charpy dan Izod
Dan berikut ini adalah bentuk standar benda uji pada pengujian impak menurut
standar ASTM E 23 yaitu sebagai berikut :

Gambar 3 stadarisasi benda uji metode charpi menurut standar ASTM E 23

Gambar 4 Spesimen metode izzod.

3. Perpatahan Impak
Secara umum sebagaimana analisis perpatahan pada benda hasil uji tarik maka
perpatahan impak digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:
a. Perpatahan berserat (fibrous fracture), yang melibatkan mekanisme pergeseran
bidangbidang kristal di dalam bahan (logam) yang ulet (ductile). Ditandai
dengan permukaan patahan berserat yang berbentuk dimpel yang menyerap
cahaya dan berpenampilan buram.
b. Perpatahan granular/kristalin, yang dihasilkan oleh mekanisme pembelahan
(cleavage) pada butir-butir dari bahan (logam) yang rapuh (brittle). Ditandai
dengan permukaan patahan yang datar yang mampu memberikan daya pantul
cahaya yang tinggi (mengkilat).
c. Perpatahan campuran (berserat dan granular). Merupakan kombinasi dua jenis
perpatahan di atas.

Gambar 5 Ilustrasi permukaan patahan (fractografi) benda uji impak Charpy.
Informasi lain yang dapat dihasilkan dari pengujian impak adalah temperature
transisi bahan. Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi
perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-beda.
Pada pengujian dengan temperatur yang berbeda-beda maka akan terlihat bahwa pada
dideformasi pergerakan dislokasi menjadi lebih mudah dan benda uji menjadi lebih
mudah dipatahkan dengan energi yang relatif lebih rendah serta temperatur tinggi
material akan bersifat ulet sedangkan pada temperatur rendah material akan bersifat
rapuh atau getas. Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan pada
temperatur yang berbeda dimana pada temperatur kamar vibrasi itu berada dalam
kondisi kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila temperatur dinaikkan.
Vibrasi atom inilah yang berperan sebagai suatu penghalang terhadap pergerakan
dislokasi pada saat terjadi deformasi kejut/impak dari luar. Dengan semakin tinggi
vibrasi itu maka pergerakan dislokasi mejadi relatif sulit sehingga dibutuhkan energi
yang lebih besar untuk mematahkan benda uji. Sebaliknya pada temperatur di bawah
nol derajat celcius, vibrasi atom relatif sedikit sehingga pada saat bahan dideformasi
pergerakan dislokasi menjadi lebih mudah dan benda uji menjadi lebih mudah
dipatahkan dengan energi yang relatif lebih rendah.

Gambar 6 temperatur terhadap ketangguhan impak beberapa material.

4. Patah Getas dan Patah Ulet
Secara umum perpatahan dapat digolongkan menjadi 2 golongan umum yaitu :
a. Patah ulet/liat
Patah yang ditandai oleh deformasi plastis yang cukup besar, sebelum
dan selama proses penjalaran retak.
b. Patah getas
Patah yang ditandai oleh adanya kecepatan penjalaran retak yang tinggi,
Tanpa terjadi deformasi kasar, dan sedikit sekali terjadi deformasi mikro.
Terdapat 3 faktor dasar yang mendukung terjadinya patah dari benda ulet
menjadi patah getas :
1. Keadaan tegangan 3 sumbu/ takikan.
2. Suhu yang rendah.
3. Laju regangan yang tinggi/ laju pembebanan yang cepat.
c. Patah campuran
Merupakan gabungan dari patah ulet dan patah getas.

5. Ketangguhan bahan
Ketangguhan suatu bahan adalah kemampuan suatu bahan material untuk menyerap
energi pada daerah plastis atau ketahanan bahan terhadap beban tumbukan atau kejutan.
Penyebab ketangguhan bahan adalah pencampuran antara satu bahan dengan bahan
lainnya. Misalnya baja di campur karbon akan lebih tangguh dibandingkan dengan baja
murni. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi ketangguhan bahan adalah :
a. Bentuk Takikan
Bentuk takikan amat berpengaruh pada ketangguahan suatu material, karena
adanya perbedaan distribusi dan konsentrasi tegangan pada masing-masing
takikan tersebut yang mengakibatkan energi impact yang dimilikinya berbeda-
beda pula. Ada beberapa jenis takikan berdasarkan kategori masingmasing.
Berikut ini adalah urutan energi impact yang dimiliki oleh suatu bahan
berdasarkan bentuk takikannya.


Takikan dibagi menjadi beberapa macam antara lain adalah sebagai berikut :
1. Takikan segitiga
Memiliki energi impact yang paling kecil, sehingga paling mudah
patah. Hal ini disebabkan karena distribusi tegangan hanya
terkonsentrasi pada satu titik saja, yaitu pada ujung takikan.
2. Takikan segi empat
Memiliki energi yang lebih besar pada takikan segitiga karena
tegangan terdistribusi pada 2 titik pada sudutnya.
3. Takikan Setengah lingkaran
Memiliki energi impact yang terbesar karena distribusi tegangan
tersebar pada setiap sisinya, sehingga tidak mudah patah.

Gambar 7 Bentuk-bentuk takikan.
b. Beban
Semakin besar beban yang diberikan , maka energi impact semakin kecil
yang dibutuhkan untuk mematahkan specimen, dan demikianpun
sebaliknya. Hal ini diakibatkan karena suatu material akan lebih mudah
patah apabila dibebani oleh gaya yang sangat besar.
c. Temperatur
Semakin tinggi temperature dari specimen, maka ketangguhannya
semakin tinggi dalam menerima beban secara tiba-tiba, demikinanpun
sebaliknya, dengan temperature yang lebih rendah. Namun temperature
memiliki batas tertentu dimana ketangguhan akan berkurang dengan
sendirinya.
d. Transisi ulet rapuh
Hal ini dapat ditentukan dengan berbagai cara, misalnya kondisi struktur
yang susah ditentukan oleh system tegangan yang bekerja pada benda uji
yang bervariasi, tergantung pada cara pengusiaannya.
e. Efek komposisi ukuran butir
Ukuran butir berpengaruh pada kerapuhan, sesuai dengan ukuran
besarnya. Semakin halus ukuran butir maka bahan tersebut akan semakin
rapuh sedangkan bila ukurannya besar maka bahan akan ulet.
f. Perlakuan panas dan perpatahan
Perlakuan panas umumnya dilakukan untuk mengetahui atau mengamati
besar-besar butir benda uji dan untuk menghaluskan butir.
g. Pengerasan kerja dan pengerjaan radiasi
Pengerasan kerja terjadi yang ditimbulkan oleh adanya deformasi plastis
yang kecil pada temperature ruang yang melampaui batas atau tidak
luluh dan melepaskan sejumlah dislokasi serta adanya pengukuran
keuletan pada temperature rendah.

FATIGUE
Fatik adalah kerusakan material yang diakibatkan oleh adanya tegangan yang
berfluktuasi yang besarnya lebih kecil dari tegangan tarik (tensile) maupun tegangan
luluh (yield) material yang diberikan beban konstan.
salah satu jenis kegagalan (patah) pada komponen akibat beban dinamis
(pembebanan yang berulang-ulang atau berubah-ubah). Diperkirakan 50%-90%
(Gambar.1.1) kegagalan mekanis adalah disebabkan oleh kelelahan.

Gambar 8 Distribusi mode kegagalan.
Modus kegagalan komponen atau struktur dapat dibedakan menjadi 2 katagori
utama yaitu :
1. Modus kegagalan quasi statik (modus kegagalan yang tidak tergantung pada
waktu, dan ketahanan terhadap kegagalannya dinyatakan dengan kekuatan).
2. Modus kegagalan yang tergantung pada waktu (ketahanan terhadap
kegagalannya dinyatakan dengan umur atau life time).
Jenis- jenis modus kegagalan quasi statik yaitu:
1. Kegagalan karena beban tarik.
2. Kegagalan karena beban tekan.
3. Kegagalan karena beban geser.
Patahan yang termasuk jenis modus kegagalan ini adalah patah ulet dan patah
getas. Sedangkan jenis-jenis modus kegagalan yang tergantung pada waktu yaitu:
1. Kelelahan (patah lelah).
2. Mulur.
3. Keausan.
4. Korosi.
Pelopor dalam penelitian mengenai kelelahan logam adalah Wohler (Jerman) dan
Fairbairn (Inggris) tahun 1860. Pengamatan yang lebih mendetail terhadap kelelahan
logam, dilakukan sejak 1903 oleh Ewing dan Humparey yang mengarah pada lahirnya
teori Mekanisme Patah Lelah. Hingga saat ini, mekanisme patah lelah adalah terdiri
atas 3 tahap kejadian yaitu:
1. Tahap awal terjadinya retakan (crack inisiation).
Mekanisme fatik umumnya dimulai dari crack initiation yang terjadi di
permukaan material yang lemah atau daerah dimana terjadi konsentrasi tegangan
di permukaan (seperti goresan, notch, lubang-pits dll) akibat adanya
pembebanan berulang.
2. Tahap penjalaran retakan (crack propagation).
Crack initiation ini berkembang menjadi microcracks. Perambatan atau
perpaduan microcracks ini kemudian membentuk macrocracks yang akan
berujung pada failure.
3. Tahap akhir (final fracture).
Perpatahan terjadi ketika material telah mengalami siklus tegangan dan regangan
yang menghasilkan kerusakan yang permanen.

Tiga jenis siklus tegangan yang umum terjadi diperlihatkan pada gambar 1:
a. pembalikan sempurna (gambar a) dimana fluktuasi tegangan berkisar suatu
rata-rata (mean) nol dengan amplitudo konstan;
b. pengulangan (gambar b) dimana fluktuasi tegangan berkisar suatu rata-rata
(mean) tidak sama dengan nol tetapi dengan amplitudo konstan; dan
c. rumit (gambar c) dimana kedua pertukaran dan rata-rata beban berubah, bisa
secara acak maupun berpola tertentu.

Gambar 9 Gambar 3 jenis siklus.
Fatik dibagi menjadi dua, yaitu :
Siklus Lelah Tinggi = Regangan hampir seluruhnya elastic, 103 (sampai 107-
108 siklus)
Siklus Lelah Rendah = Regangan hampir seluruhnya plastis, Siklus tinggi > 10
(sampai 10 -10 siklus)

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Fatigue Life
Tegangan Siklik
Besarnya tegangan siklik tergantung pada kompleksitas geometri dan
pembebanan.
Geometri
Konsentrasi stress akibat variasi bentuk geometri merupakan titik dimulainya
fatigue cracks.
Qualitas permukaan
Kekasaran permukaan dapat menyebabkan konsentrasi stress microscopic yang
menurunkan ketahanan fatik Tipe material. Fatigue life setiap material berbeda
beda, contohnya composit dan polymer memiliki fatigue life yang berbeda
dengan metal.
Tegangan sisa
Proses manufaktur seperti pengelasan, pemotongan, casting dan proses lainnya
yang melibatkan panas atau deformasi dapat membentuk tegangan sisa yang
dapat menurunkan ketahanan fatik material.
Besar dan penyebaran internal defects
Cacat yang timbul akibat proses casting seperti gas porosity, non-metallic
inclusions dan shrinkage voids dapat nenurunkan ketahanan fatik.
Arah beban
Untuk non-isotropic material, ketahanan fatik dipengaruhi oleh arah tegangan
utama.
Besar butir
Pada umumnya semakin kecil ukuran butir akan memperpanjang fatigue life.
Lingkungan
Kondisi lingkungan yang dapat menyebabkan erosi, korosi dapat mempengaruhi
fatigue life.
Temperatur
Temperatur tinggi menurunkan ketahanan fatik material.

Fatigue life dapat ditingkatkan dengan :
1. Mengontrol tegangan
a. Peningkatan tegangan menurunkan umur fatik
b. Pemicunya dapat secara mekanis (fillet atau alur pasak) maupun
metalurgi (porositas atau inklusi).
c. Kegagalan fatik selalu dimulai pada peningkatan tegangan
2. Mengontrol struktur mikro
a. Meningkatnya ukuran benda uji, umur fatik kadang-kadang menurun
b. Kegagalan fatik biasanya dimulai pada permukaan
c. Penambahan luas permukaan dari benda uji besar meningkatkan
kemungkinan dimana terdapat suatu aliran, yang akan memulai
kegagalan dan menurunkan waktu untuk memulai retak
3. Mengontrol penyelesaian permukaan
a. Dalam banyak pengujian dan aplikasi pemakaian, tegangan maksimum
terjadi pada permukaan.
b. Umur fatik sensitif terhadap kondisi permukaan.
c. Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah tegangan sisa permukaan