Anda di halaman 1dari 4

Advokasi Pesisir dan Laut

Wilayah pesisir memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan


antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan
jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Namun, karakteristik laut tersebut
belum sepenuhnya dipahami dan diintegrasikan secara terpadu. Kebijakan
pemerintah yang sektoral dan bias daratan, akhirnya menjadikan laut
sebagai kolam sampah raksasa. Dari sisi sosial-ekonomi, pemanfaatan
kekayaan laut masih terbatas pada kelompok pengusaha besar dan
pengusaha asing. Nelayan sebagai jumlah terbesar merupakan kelompok
profesi paling miskin di Indonesia.
Kekayaan sumberdaya laut tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai
pihak untuk memanfaatkan sumberdayanya dan berbagai instansi untuk
meregulasi pemanfaatannya. Kekayaan sumberdaya pesisir, meliputi pulau-
pulau besar dan kecil sekitar !."## pulau, yang dikelilingi ekosistem pesisir
tropis, seperti hutan mangro$e, terumbu karang, padang lamun, berikut
sumberdaya hayati dan non-hayati yang terkandung di dalamnya.
%kan tetapi, kekayaan sumberdaya pesisir tersebut mulai mengalami
kerusakan. &ejak awal tahun ''#-an, fenomena degradasi biogeofisik
sumberdaya pesisir semakin berkembang dan meluas. (aju kerusakan
sumberdaya pesisir telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, terutama
pada ekosistem mangro$e terumbu karang dan estuari )muara sungai*.
+usaknya ekosistem mangro$e, terumbu karang, dan estuari berimplikasi
terhadap penurunan kualitas lingkungan untuk sumberdaya ikan serta erosi
pantai. &ehingga terjadi kerusakan tempat pemijahan dan daerah asuhan
ikan, berkurangnya populasi benur, nener, dan produkti$itas tangkap udang.
&emua kerusakan biofisik lingkungan tersebut adalah gejala yang terlihat
dengan kasat mata dari hasil interaksi antara manusia dengan sumberdaya
pesisir yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian dan daya dukung
lingkungannya. &ehingga persoalan yang mendasar adalah mekanisme
pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tidak efektif untuk memberi
kesempatan kepada sumberdaya hayati pesisir yang dimanfaatkan pulih
kembali atau pemanfaatan sumberdaya non-hayati disubstitusi dengan
sumberdaya alam lain dan mengeliminir faktor-faktor yang menyebabkan
kerusakannya.
&ecara normatif, kekayaan sumberdaya pesisir dikuasai oleh Negara untuk
dikelola sedemikian rupa guna mewujudkan kesejahteraan masyarakat,
memberikan manfaat bagi generasi sekarang tanpa mengorbankan
kebutuhan generasi yang akan datang. Ironisnya, sebagian besar tingkat
kesejahteraan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir justru
menempati strata ekonomi yang paling rendah bila dibandingkan dengan
masyarakat darat lainnya.
&elama ini, kegiatan ekonomi yang berlangsung di wilayah pesisir hanya
dilakukan berdasarkan pendekatan sektoral yang didukung ,, tertentu yang
menguntungkan instansi sektor dan dunia usaha terkait. %kibatnya,
pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil cenderung eksploitatif, tidak efisien,
dan sustainable )berkelanjutan*. -anyak faktor-faktor yang menyebabkan
ketidakefektifan pengelolaan sumberdaya pesisir ini, antara lain ambiguitas
pemilikan dan penguasaan sumberdaya, ketidakpastian hukum, serta konflik
pengelolaan.
%mbiguitas pemilikan dan penguasaan sumberdaya pesisir masih sering
terjadi di berbagai tempat. -iasanya sumberdaya pesisir dianggap tanpa
pemilik )open access property*, tetapi berdasarkan pasal .. ,,D '/", dan
,, 0okok 0erairan No. 12''1, dinyatakan sebagai milik pemerintah )state
property*. Namun, ada indikasi di beberapa wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil terjadi pemilikan pribadi )quasi private proverty*. Di beberapa wilayah
pesisir atau pulau masih dipegang teguh sebagai milik kaum atau masyarakat
adat )common property*.
0erbedaan penerapan konsep pemilikan dan penguasaan sumberdaya ini
mendorong ambiguitas atau ketidakjelasan siapa yang berhak untuk
mengelolanya. 3al ini mendorong berbagai stakeholder untuk
mengeksploitasi sumberdaya wilayah pesisir ini secara berlebihan, kalau tidak
maka pihak lain yang akan memanfaatkannya, dan tidak ada insentif untuk
melestarikannya, sehingga terjadi the tragedy of commons yang baru.
0ada dasarnya, hampir di seluruh wilayah pesisir Indonesia terjadi konflik-
konflik antara berbagai pihak yang berkepentingan. 4asing-masing
mempunyai tujuan, target, dan rencana untuk mengeksploitasi sumberdaya
pesisir. 0erbedaan tujuan, sasaran, dan rencana tersebut mendorong
terjadinya konflik pemanfaatan dan konflik kewenangan.
Dari kajian terhadap peraturan perundang-undangan, terdapat 5# undang-
undang, " kon$ensi internasional yang telah diratifikasi Indonesia, yang
memberi legal mandat terhadap / sektor pembangunan dalam meregulasi
pemanfaatan sumberdaya pesisir, baik langsung maupun tidak langsung.
Kegiatan diatur dalam perundang-undangan tersebut umumnya bersifat
sektoral dan difokuskan pada eksploitasi sumberdaya pesisir tertentu.
,ndang-undang tersebut terdikotomi untuk meregulasi pemanfaatan
sumberdaya pesisir di darat saja atau di perairan laut saja.
Keempat belas sektor tersebut, meliputi sektor pertanahan, pertambangan,
perindustrian, perhubungan, perikanan, pariwisata, pertanian, kehutanan,
konser$asi, tata ruang, pekerjaan umum, pertahanan, keuangan, dan
pemerintahan daerah. 6isi sektoral pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-
jasa lingkungan pesisir, telah mendorong departemen-departemen atau
instansi teknis berlomba-lomba membuat peraturan pelaksanaan pengelolaan
sumberdaya pesisir sesuai dengan kepentingannya.
%da juga kecenderungan 0emerintah Daerah untuk membuat peraturan
daerah berdasarkan kepentingannya dalam meningkatkan pendapatan asli
daerah. 0engaturan demikian, telah dan akan melahirkan 7ketidakpastian8
hukum bagi semua kalangan yang berkaitan dan berkepentingan dengan
wilayah pesisir. -erdasarkan hasil re$iew terhadap perundang-undangan dan
kon$ensi yang telah diratifikasi pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan
pengelolaan wilayah pesisir, maka dijumpai tiga permasalahan hukum yang
krusial, yaitu9
Konflik antar ,ndang-,ndang:
Konflik antara ,, dengan 3ukum %dat:
Kekosongan 3ukum: dan
Konflik antar ,, terjadi pada bidang pengaturan tata ruang wilayah
pesisir dan laut.
Di dalam ,, No. 5/ ;ahun ''5 tentang 0enataan +uang ditentukan bahwa
penataan ruang diatur secara terpusat dengan ,, )0asal '*. &ebaliknya, di
dalam ,, No. 552''' tentang 0emerintah Daerah ditentukan bahwa
penataan ruang wilayah laut sejauh 5 mil merupakan kewenangan propinsi
dan sepertiganya kewenangan kabupaten2kota.
Konflik antara ,, dengan hukum adat terjadi pada persoalan status
kepemilikan sumberdaya alam di wilayah pesisir. Di dalam ,, No. 12''1
tentang 0erairan Indonesia 0asal /, status sumber daya alam perairan pesisir
dan laut, secara substansial, merupakan milik negara )state property*.
&ebaliknya, masyarakat adat mengklaim sumber daya di perairan tersebut
dianggap sebagai hak ulayat )common property* berdasarkan hukum adat
yang telah ada jauh sebelum berdirinya Negara Indonesia.
Ketidakpastian hukum yang terjadi pada bidang penguasaan2pemilikan
wilayah perairan pesisir dan pulau-pulau kecil. Di dalam ,, No. "2'1# terjadi
Ketentuan Dasar 0okokpokok %graria ),,0%* hanya diatur sebatas
pemilikan2penguasaan tanah sampai pada garis pantai. 4emang, ada
ketentuan tentang 3ak 0emeliharaan dan 0enangkapan Ikan di dalam ,, ini,
tetapi baru sekadar disebutkan saja tanpa ada rincian pengaturannya.
Ketiga masalah krusial tersebut, bermuara pada ketidakpastian hukum,
konflik kewenangan, dan pemanfaatan, serta kerusakan bio-geofisik
sumberdaya pesisir. Ketiga masalah tersebut merupakan suatu kesatuan,
sehingga solusi yuridisnya pun harus terpadu melalui undang-undang baru
yang mengintegrasi pengelolaan wilayah pesisir. &aat ini, 0emerintah dalam
proses menyusun +,, 0engelolaan Wilayah 0esisir dan akan
mengusulkannya ke D0+ +I tahun 5##. ini.
Pulau-Pulau Kecil
0ulau-pulau kecil memiliki karakteristik dan tingkat kerentanan yang berbeda
dibandingkan dengan pulau besar. Namun, demikian selama ini pengetahuan
mengenai karakteristik pulau-pulau kecil sangat minim. &ehingga
pengelolaan, pola pembangunan, dan regulasi disusun sama dengan cara
pandang kita terhadap pengelolaan pulau besar )mainland*. &ebagian besar
dari pulau-pulau tersebut merupakan pulau-pulau kecil yang memiliki
kekayaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan )environmental
services* yang sangat potensial untuk pembangunan ekonomi.
-atasan dan karakteristik pulau-pulau kecil adalah sebagai berikut9
. 0ulau yang ukuran luasnya kurang atau sama dengan #.### km5,
dengan jumlah penduduknya kurang atau sama dengan 5##.###
orang:
5. &ecara ekologis, terpisah dari pulau induknya )mainland island*,
memiliki batas fisik yang jelas, dan terpencil dari habitat pulau induk
sehingga bersifat insular:
4empunyai sejumlah besar jenis endemik dan keanekaragaman yang
tipikal dan bernilai tinggi:
.. Daerah tangkapan air )catchment area* relatif kecil, sehingga sebagian
besar aliran air permukaan dan sedimen masuk ke laut:
/. Dari segi sosial, ekonomi, dan budaya, masyarakat pulau-pulau
bersifat khas dibandingkan dengan pulau induknya.
Keragaman hayati, sumberdaya perikanan, dan nilai estetika yang tinggi
merupakan nilai lebih ekosistem pulau-pulau kecil. Di sinilah ekosistem
dengan produkti$itas hayati tinggi, seperti terumbu karang, padang lamun
)sea grass*, rumput laut )sea weeds* dan hutan bakau )mangrove*
ditemukan. &elain itu, pulau-pulau kecil ini juga memberikan jasa-jasa
lingkungan yang tinggi nilai ekonomisnya dan sekaligus sebagai kawasan
berlangsungnya kegiatan kepariwisataan.
0ada sisi yang lain, pulau-pulau kecil memiliki tingkat kerentanan yang cukup
tinggi, khususnya menyangkut ketersediaan air yang rendah dan resiko erosi
)penenggelaman*. <leh karena itu, pilihan pembangunan pulau-pulau kecil
merupakan gabungan dari 5 sisi ini. Kegiatan yang bersifat ekstraktif
)eksploitatif*, seperti pertambangan, industri yang rakus konsumsi air, dan
sebagainya, merupakan pilihan yang harus dihindari. %ktifitas ekstraktif justru
cenderung hanya mengeksploitasi satu jenis sumberdaya lain, dan
mengabaikan2merusak sumberdaya lain yang beragam. Negara-negara
yang telah maju dalam mengelola pulau-pulau kecilnya, di antaranya =iji,
mengandalkan pariwisata dan budidaya perikanan berbasis masyarakat
sebagai strategi pembangunannya.