Anda di halaman 1dari 23

PHILIP HEGAN EUDIA (31101238)

DWSANTI O KAWEKES (31120005)


YONALITHA DUWIT (31120010)
SANDY BOY C (31120013)

Indonesia merupakan salah satu negara yang sedang
menghadapi persoalan energi yang serius akibat
ketergantungan yang sangat besar terhadap energi fosil,
sementara pengembangan bioenergi sebagai alternatif
masih kurang mendapat perhatian.
Salah satu potensi yang relatif besar adalah
pengembangan bioetanol berbahan baku tebu.
Latar belakang
Sejak tahun 1986 pabrik ethanol BPPT
di Lampung mengubah bahan bakunya
dari ubi jalar dan ubi kayu dengan Mollase
atau tetes.

Di Indonesia pada saat ini ethanol di
produksi dari tetes untuk keperluan bahan
farmasi oleh PTPN XI, PG Rajawali II,
Molindo Raya Industrial, Indo Lampung
Distilerry, Indo Acidatama, Aneka Kimia
Nusantara.
PENGEMBANGAN BIOETANOL DI
INDONESIA
Etanol disebut juga etil-alkohol atau alkohol saja,
adalah alkohol yang paling sering digunakan
dalam kehidupan sehari-hari, hal ini disebabkan
karena memang etanol yang digunakan sebagai
bahan dasar pada minuman tersebut, bukan
metanol, atau grup alkohol lainnya.
Sedangkan bioetanol adalah etanol (alkohol yang
paling dikenal masyarakat) yang dibuat dengan
fermentasi yang membutuhkan faktor biologis
untuk prosesnya.
PENGERTAN BIOETANOL
RUMUS BIOETANOL
Bahan Baku
Kandungan Gula
Dalam Bahan
Baku
Jumlah Hasil
Konversi
Perbandingan
Bahan Baku
dan
Bioetanol
Jenis
Konsumsi
(Kg)
(Kg)
Bio-etanol
(Liter)
Ubi Kayu 1000 250-300 166.6 6,5:1
Ubi Jalar 1000 150-200 125 8:1
Jagung 1000 600-700 200 5:1
Sagu 1000 120-160 90 12:1
Tetes Tebu 1000 500 250 4:1
BAHAN-BAHAN UNTUK PRODUKSI
BOETANOL
Secara singkat teknologi proses produksi ethanol
/bioethanol tersebut dapat dibagi dalam tiga tahap,
yaitu:


GELATINISASI
FERMENTASI
DISTILASI
Reaksi yang terjadi pada proses produksi ethanol/bio-
ethanol secara sederhana ditujukkan pada reaksi 1 dan
2.

(C6H10O5)n ------------------------- N C6H12O6 (1)
enzyme
(pati) (glukosa)



(C6H12O6)n ------------------------ 2 C2H5OH + 2 CO2. (2)
(glukosa) yeast (ragi) (ethanol)
Proses produksi Bioetanol
1.GELATINISASI
C
6
H
10
O
5
+ n H
2
O n C
6
H
12
O
6

Terdiri dari 2 proses :


a. Likuifaksi
b. Sakarifikasi

Enzim amiloglukosidase (AMG)
klasifikasi Saccharomyces cerevisiae sebagai berikut :
Phylum : Eumycetes
Class : Ascomycetes
Ordo : Saccharomycetales
Famili : Saccharomycetaceae
Subfamili : Saccharomycetoideae
Genus : Saccharomyces

C
6
H
12
O
6
2C
2
H
5
OH + 2CO
2
+ Energi
Glukosa etanol

Suhu fermentasi
pH
Oksigen
Media fermentasi

Bioetanol mempunyai titik didih 78,4 C dan Air :
100 C , sehingga jika Campuran air-etanol ketika
di panaskan pada temperature 100 C , kemudian
didinginkan pada temp. 79 C , maka air akan
mencair dan Etanol masih berupa uap.

Produksi bioetanol dengan biji nangka
+ Air 1 L
Biji nangka
Mengurangi kebutuhan BBM, khususnya
Premium.
Mengurangi efek rumah kaca.
Bebas zat berbahaya seperti Co, Nox dan UHC
Diversifikasi Energi
Menciptakan Teknologi berwawasan
Lingkungan.
Diversifikasi Industri, yang berujung pada
penciptaan lapangan kerja.

Manfaat Penggunaan Bioetanol
Rencana pengembangan lahan untuk tanaman
penghasil bahan baku bioethanol yang dibuat oleh
Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan
belum terkait langsung dengan rencana
pengembangan bioethanol di sektor energi;
Rencana Pemerintah dalam pengembangan energi
dan instrumen kebijakan yang diperlukan dalam
pengembangan bio-ethanol belum terkait langsung
dengan rencana dari para pihak pelaku bisnis bio-
ethanol dan pengelola lahan pertanian yang sangat
luas untuk menghasilkan bahan baku; dan
Ketidakpastian resiko investasi dalam komersialisasi
pengembangan bioethanol dan belum terbentuknya
rantai tata niaga bio-ethanol.
Hambatan Penggunaan Bioetanol di
Indonesia
Ethanol/bio-ethanol apabila dicampur dengan
premium dapat meningkatkan nilai oktan,
dimana nilai oktan untuk ethanol/bio-ethanol
98% adalah sebesar 115, selain itu mengingat
ethanol/bio-ethanol mengandung 30%
oksigen, sehingga campuran ethanol/bio-
ethanol dengan gasoline dapat masuk
katagorikan high octane gasoline (HOG),
dimana campuran sebanyak 15% bioethanol
setara dengan pertamax (RON 92) dan
campuran sebanyak 24% bioethanol setara
dengan pertamax plus (RON 95).

POTENSI PEMANFAATAN BIO-ETANOL
Di INDONESIA