Anda di halaman 1dari 9

1.

Inhibitor adalah molekul yang mengikat enzim dan dapat


menurunkan aktivitasnya . Tidak semuamolekul yang mengikat adalah
inhibitor enzim; enzim aktivator mengikat enzim danmeningkatkan
aktivitas enzimatik .Pengikatan inhibitor dapat menghentikan sebuah
substrat dari enzim memasuki situs aktif dan / ataumenghalangi enzim
dari reaksi katalisisnya.Hampir semua enzim dapat diracuni atau
dihambat oleh senyawa kimiawi tertentu. Dari penelitianmengenai
senyawa penghambat enzim, telah diperoleh informasi yang berguna
mengenai spesifisitassubstrat enzim, sifat-sifat alamiah gugus
fungsional pada sisi aktif, dan mekanisme aktivitas katalitik.Senyawa
penghambat enzim juga amat berguna dalam menjelaskan lintas
metabolic di dalam sel.Lebih lanjut, beberapa obat yang bermanfaat di
dalam dunia kedokteran nampaknya berfungsi karenasenyawa ini
dapat menghambat enzim-enzim tertentu yang mengganggu kerja
sel.Jenis-jenis penghambat enzim :1. 1. Hambatan yang bekerja
secara tidak dapat balik (irreversible inhibitor)yaitu golongan yang
bereaksi dengan, atau merusakkan suatu gugus fungsional pada
molekul enzimyang penting bagi aktivitas katalitiknya. Suatu contoh
dari penghambat tak dapat balik adalahsenyawadiisoprofilfluorofosfat
(DFP), yang menghambat enzim asetilkolinesterase, yang penting
didalam transmisi impuls syaraf.Apabila penggabungan tidak bersifat
reversibel maka pendekatan Michaelis-Menten tidak dapatdilakukan.
Hambatan tidak reversible ini dapat terjadi karena inhibitor bereaksi
tidak reversibeldengan bagian tertentu pada enzim, sehingga
mengakibatkan berubahnya bentuk enzim. Dengandemikian
mengurangi aktivitas katalitik enzim tersebut. Sebagai contoh inhibitor
dalam hal ini ialahmolekul iodoase-tamida yang dapat bereaksi dengan
gugus SH suatu enzim tertentu.Enzim-SH + ICH2CONH2 enzim-S-
CH2CONH2 + HIReaksi ini berlangsung tidak reversible sehingga
menghasilkan produk reaksi dengan sempurna.Inhibitor lain ialah
diisopropil fosfofluoridat. Inhibitor ini termasuk senyawa fosfor organic
yang bersifatracun, karena dapat berkaitan dengan asetilkolin esterase
yang terdapat dan berfungsi pada systemsyaraf pusat.Dengan
terbentuknya ester ini maka enzim tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya, sehinggadapat mengganggu kerja sel syaraf pusat. Ester
yang terbentuk barsifat stabil dan tidak mudahterhidrolisis. Dengan
demikian hambatan ini diakibatkan oleh diisopropilfosfoflouridat ini
merupakanhambatan tidak reversible.1. 2. Hambatan yang bekerja
secara dapat balik (reversible inhibitor)1. a. Hambatan kompetitif
(competitive inhibition)Suatu penghambat kompetitif berlomba dengan
substrat untuk berikatan dengan sisi aktif enzim.Tetapi, sekali terikat
tidak dapat diubah oleh enzim tersebut. Ciri penghambat kompetitif
adalahpenghambatan ini dapat dibalikkan atau diatasi hanya dengan
meningkatkan konsentrasi substrat.Sebagai contoh, jika suatu enzim
50% dihambat pada konsentrasi tertentu dari substrat danpenghambat
kompetitif, kita dapat mengurangi persen penghambat dengan
meningkatkankonsentrasi substrat.Penghambat kompetitif biasanya
menyerupai substrat normal pada struktur tiga dimensinya.
Karenapersamaan ini, penghambat kompetitif menipu enzim untuk
berikatan dengannya. Sebenarnya,
2. penghambatan kompetitif dapat dianalisa secara kuantitatif oleh teori
Michaelis-Menten. Penghambatkompetitif (I) hanya berikatan secara
dapat balik dengan enzim, membentuk suatu kompleks EIE + I
EIAkan tetapi, penghambat tidak dapat dikatalisa oleh enzim untuk
menghasilkan produk yang baru.Pengaruh inhibitor bersaing ini tidak
tergantung pada konsentrasi inhibitor semata, tetapi juga
padakonsentrasi substrat. Pengaruh inhibitor dapat dihilangkan dengan
cara menambah substrat dalamkonsentrasi besar. Pada konsentrasi
substrat yang sangat besar, peluang terbentuknya kompleks ESjuga
makin besar. Kecepatan reaksi maksimum (Vmaks) dapat tercapai
pada konsentrasi substrat yangbesar. Hubungan antara kecepatan
reaksi V dengan konsentrasi substrat [S] pada reaksi yangdihambat
oleh inhibitor bersaing terlihat pada Gambar 6-8.Hubungan antara 1/V
dengan l/[S] pada reaksi yang dihambat oleh inhibitor bersaing
dijelaskandengan persamaan Lineweaver- Burk sebagai
berikut:Persamaan Lineweaver-Burk tersebut menunjukkan hubungan
linear 1/V terhadap 1/[S] sebagaimanatampak pada Gambat 6-9.Jadi
makin besar konsentrasi inhibitor, makin besar pula sudut kemiringan
garis grafik tersebut danbila [I ]= 0, artinya reaksi tanpa inhibitor,
kemiringan garis dinyatakan dengan harga K m/Vmaks. Titikpotong
grafik dengan sumbu -X besarnya ialah:Untuk reaksi tanpa inhibitor
atau [I] = 0, maka titik ,potong dengan sumbu -x besarnya ialah -
1/Km.Apabila harga titik potong grafik dengan sumbu -x dapat
ditentukan dari hasil eksperimen, sedangkanharga Km dan[I] telah
diketahui, dapat dihitung harga K1. Untuk memperoleh grafik
Lineweaver-Burktersebut dapat dilakukan serangkaian eksperimen
dengan [I] yang sama dengan harga [S] yangberbeda-beda. Untuk
membandingkan suatu hasil eksperimen, dapat pula dilakukan
serangkaianeksperimen lagi dengan harga [I] lain yang tetap dan harga
[s] yang berbeda-beda.1. b. Hambatan Nonkompetitif (noncompetitive
inhibition)Pada penghambatan nonkompetitif, penghambat berikatan
pada sisi enzim selain sisi tempat substratberikatan, mengubah
konformasi molekul enzim, sehingga mengakibatkan inaktifasi dapat
balik sisikatalitik. Penghambatan nonkompetitif berikatan secara dapat
balik pada kedua molekul enzim bebasdan kompleks ES, membentuk
kompleks EI dan ESI yang tidak aktif :E + I EIES + I ESI
(Lehninger. 1982 :251-255)Hambatan tidak bersaing ini (non
competitive inhibition) tidak dipengaruhi oleh besarnya
konsentrasisubstrat dan inhibitor yang melakukannya disebut inhibitor
tidak bersaing. Dalam hal ini inhibitordapat bergabung dengan enzim
pada suatu bagian enzim diluar bagian aktif.Hambatan tidak bersaing
ini dapat pula diketahui grafik yang menggambarkan hubungan antara
Vdengan [S], atau hubungan antara1/V dengan 1/[S]. Bila digambarkan
hubungan antara V dengan [S]maka akan terjadi grafik seperti gambar
6-10.
3. Adanya inhibitor akan memperkecil harga Vmaks, sedangkan harga
Km tidak berubah. Grafik yang terjadibila digambarkan hubungaa
antara 1/V terhadap 1/[S] seperti pada gambar 6-11.Dari grafik
tersebut, tampak bahwa baik grafik reaksi tanpa inhibitor maupun
dengan inhibitormemotong sumbu x pada titik yang sama, yaitu pda
harga -1/ Km. Titik potong grafik denga sumbu yuntuk rekasi tanpa
inhibitor terdapat pada harga 1/ Vmaks, sedangkan untuk reaksi
dengan inhibitor tidakbersaing terdapat pada harga :Baik dari grafik
Michaelis-Menten (Gambar 6-10) maupun grafik Lineweaver-Burk
(Gambar 6-11)tampak bahwa pada harga [S] yang sangat besar pun
harga Vmaks untuk reaksi dengan inhibitor ataudengan kata lain
hambatan tidak bersaing pada suatu reaksi tidak dapat diatasi dengan
jalanmemperbesar konsentrasi substrat.Contoh inhibitor tidak bersaing
yang banyak dikenal ialah ion-ion logam berat (Cu++, Hg++ dan
Ag+)yang dapat berhubungan dengan gugus -SH yang terdapat pada
sistein dalam enzim.1. c. Hambatan UnkompetitifPada inhibisi
unkompetitif, inhibitor tidak dapat berikatan dengan enzim bebas,
namun hanya dapatdengan komples ES. Kompleks EIS yang terbentuk
kemudian menjadi tidak aktif. Jenis inhibisi inisangat jarang, namun
dapat terjadi pada enzim-enzim multimerik.1. 3. Hambatan
AlosetrikModel Michaelis-Menten dapat digunakan untuk menerangkan
terjadinya hambatan bersaing maupunhambatan tidak bersaing.
Namun ada beberapa enzim yang sifat kinetiknya tidak dapat
diterangkandengan model Michaelis-Menten. Sebagai contoh bila
dibuat grafik kecepatan reaksi terhadapkonsentrasi substrat, maka
untuk beberapa enzim tersebut tidak terbentuk hiperbola seperti
halnyadengan enzim-enzim yang telah dibahas sebelumnya, tetapi
akan terjadi grafik yang berbentuksigmoida (Gambar 6-12). Kelompok
enzim yang mempunyai sifat demikian ini disebut alosterik.Hambatan
yang terjadi pada enzim alosterik dinamakan hambatan alosterik,
sedangkan inhibitor yangmenghambat dinamakan inhibitor
alosterik.Bentuk molekul inhibitor alosterik ini berbeda dengan molekul
substrat. Lagipula inhibitor alosterikberikatan dengan enzim pada
tempat diluar bagian aktif enzim. Dengan demikian hambatan ini
tidakakan dapat diatasi dengan penambahan sejumlah besar substrat.
Terbentuknya ikatan antara enzimdengan inhibitor mempengaruhi
konformasi enzim, sehingga bagian aktif mengalami perubahanbentuk.
Akibatnya ialah penggabungan substrat pada bagian aktif enzim
terhambat. Model hipotetissuatu hambatan alosterik dapat dilihat pada
Gambar 6-13.Treoin sebaai substrat tidak dapat bergabung dengan
enzim karena bentuk bagian aktif enzimberubah setelah enzim
berikatan dengan isoleusin sebagai inhibitor.Kinetika Artikel utama
untuk bagian ini adalah: Kinetika enzim
4. Mekanisme reaksi enzimatik untuk sebuah subtrat tunggal. Enzim
(E) mengikat substrat (S) dan menghasilkan produk(P).Kinetika enzim
menginvestigasi bagaimana enzim mengikat substrat dengan
mengubahnya menjadiproduk. Data laju yang digunakan dalam
analisis kinetika didapatkan dari asai enzim. [43]Pada tahun 1902,
Victor Henri mengajukan suatu teori kinetika enzim yang kuantitatif,
namun dataeksperimennya tidak berguna karena perhatian pada
konsentrasi ion hidrogen pada saat itu masihbelum dititikberatkan.
Setelah Peter Lauritz Srensen menentukan skala pH logaritmik dan
[44]memperkenalkan konsep penyanggaan (buffering) pada tahun
1909 , kimiawan Jerman LeonorMichaelisdan murid bimbingan
pascadokotoralnya yang berasal dari Kanada, Maud Leonora
Menten,mengulangi eksperimen Henri dan mengkonfirmasi persamaan
Henri. Persamaan ini kemudiandikenal dengan nama Kinetika Henri-
Michaelis-Menten (kadang-kadang juga hanya disebut kinetika
[45]Michaelis-Menten). Hasil kerja mereka kemudian dikembangkan
lebih jauh oleh G. E. Briggs dan J.B. S. Haldane. Penurunan
persamaan kinetika yang diturunkan mereka masih digunakan secara
[46]meluas sampai sekarang .Salah satu kontribusi utama Henri pada
kinetika enzim adalah memandang reaksi enzim sebagai duatahapan.
Pada tahap pertama, subtrat terikat ke enzim secara reversible,
membentuk kompleksenzim-substrat. Kompleks ini kadang-kadang
disebut sebagai kompleks Michaelis. Enzim kemudianmengatalisasi
reaksi kimia dan melepaskan produk.Kurva kejenuhan suatu reaksi
enzim yang menunjukkan relasi antara konsentrasi substrat (S) dengan
kelajuan (v).Enzim dapat mengatalisasi reaksi dengan kelajuan
mencapai jutaan reaksi per detik. Sebagai contoh,tanpa keberadaan
enzim, reaksi yang dikatalisasi oleh enzimorotidina 5-fosfat
dekarboksilase akanmemerlukan waktu 78 juta tahun untuk mengubah
50% substrat menjadi produk. Namun, apabila [47]enzim tersebut
ditambahkan, proses ini hanya memerlukan waktu 25 milidetik. Laju
reaksibergantung pada kondisi larutan dan konsentrasi substrat.
Kondisi-kondisi yang menyebabkandenaturasi protein seperti
temperatur tinggi, konsentrasi garam yang tinggi, dan nilai pH yang
terlalutinggi atau terlalu rendah akan menghilangkan aktivitas enzim.
Sedangkan peningkatan konsentrasi
5. substrat cenderung meningkatkan aktivitasnya. Untuk menentukan
kelajuan maksimum suatu reaksienzimatik, konsentrasi substrat
ditingkatkan sampai laju pembentukan produk yang terpantau
menjadikonstan. Hal ini ditunjukkan oleh kurva kejenuhan di samping.
Kejenuhan terjadi karena seiringdengan meningkatnya konsentrasi
substrat, semakin banyak enzim bebas yang diubah menjadikompleks
substrate-enzim ES. Pada kelajuan yang maksimum (Vmax), semua
tapak aktif enzim akanberikatan dengan substrat, dan jumlah kompleks
ES adalah sama dengan jumlah total enzim yangada. Namun, Vmax
hanyalah salah satu konstanta kinetika enzim. Jumlah substrat yang
diperlukanuntuk mencapai nilai kelajuan reaksi tertentu jugalah
penting. Hal ini diekspresikan olehkonstantaMichaelis-Menten (Km),
yang merupakan konsentrasi substrat yang diperlukan oleh suatu
enzim untukmencapai setengah kelajuan maksimumnya. Setiap enzim
memiliki nilai Km yang berbeda-beda untuksuatu subtrat, dan ini dapat
menunjukkan seberapa kuatnya pengikatan substrat ke enzim.
Konstantalainnya yang juga berguna adalah kcat, yang merupakan
jumlah molekul substrat yang dapat ditanganioleh satu tapak aktif per
detik.Efisiensi suatu enzim diekspresikan oleh kcat/Km. Ia juga disebut
sebagai konstanta kespesifikan danmemasukkan tetapan kelajuan
semua langkah reaksi. Karena konstanta kespesifikan
mencermikankemampuan katalitik dan afinitas, ia dapat digunakan
untuk membandingkan enzim yang satu denganenzim yang lain,
ataupun enzim yang sama dengan substrat yang berbeda. Konstanta
kespesifikan 8 9 -1 -1maksimum teoritis disebut limit difusi dan nilainya
sekitar 10 sampai 10 (M s ). Pada titik ini, setiappenumbukkan enzim
dengan substratnya akan menyebabkan katalisis, dan laju
pembentukan produktidak dibatasi oleh laju reaksi, melainkan oleh laju
difusi. Enzim dengan sifat demikian disebut secarakatalitik sempurna
ataupun secara kinetika sempurna. Contoh enzim yang memiliki sifat
seperti iniadalah karbonat anhidrase, asetilkolinesterase, katalase,
fumarase, -laktamase, dan superoksidadismutase.Kinetika Michaelis-
Menten bergantung pada hukum aksi massa, yang diturunkan
berdasarkanasumsi difusi bebas dan pertumbukan acak yang didorong
secara termodinamik. Namun, banyakproses-proses biokimia dan
selular yang menyimpang dari kondisi ideal ini, disebabkan
olehkesesakan makromolekuler (macromolecular crowding),
perpisahan fase enzim/substrat/produk, dan [48]pergerakan molekul
secara satu atau dua dimensi. Pada situasi seperti ini, kinetika
Michaelis- [49][50][51][52]Menten fraktal dapat diterapkan.Beberapa
enzim beroperasi dengan kinetika yang lebih cepat daripada laju difusi.
Hal ini tampaknyasangat tidak mungkin. Beberapa mekanisme telah
diajukan untuk menjelaskan fenomena ini.Beberapa protein dipercayai
mempercepat katalisis dengan menarik substratnya dan melakukan
pra-orientasi substrat menggunakan medan listrik dipolar. Model
lainnya menggunakan penjelasan [53][54]penerowongan kuantum
mekanika, walaupun penjelasan ini masih kontroversial.
Penerowongan [55]kuantum untuk proton telah terpantau pada
triptamina.
6. Reaksi EnzimatikMekanisme reaksi enzimatik untuk sebuah subtrat
tunggal. Enzim (E) mengikat substrat (S) danmenghasilkan produk
(P).Kinetika enzim menginvestigasi bagaimana enzim mengikat
substrat dengan mengubahnya menjadiproduk. Data laju yang
digunakan dalam analisa kinetika didapatkan dari asai enzim.Pada
tahun 1902, Victor Henri mengajukan suatu teori kinetika enzim yang
kuantitatif, namun dataeksperimennya tidak berguna karena perhatian
pada konsentrasi ion hidrogen pada saat itu masihbelum
dititikberatkan. Setelah Peter Lauritz Sorense menentukan skala pH
logaritmik danmemperkenalkan konsep penyanggaan (buffering) pada
tahun 1909, kimiawan Jerman LeonorMichaelis dan murid bimbingan
pascadokotoralnya yang berasal dari Kanada, Maud Leonora
Menten,mengulangi eksperimen Henri dan mengkonfirmasi persamaan
Henri. Persamaan ini kemudiandikenal dengan nama Kinetika Henri-
Michaelis-Menten (kadang-kadang juga hanya disebut
kinetikaMichaelis-Menten). Hasil kerja mereka kemudian
dikembangkan lebih jauh oleh G.E. Briggs dan J. B.S. Haldane.
Penurunan persamaan kinetika yang diturunkan mereka masih
digunakan secara meluassampai sekarang.Salah satu kontribusi utama
Henri pada kinetika enzim adalah memandang reaksi enzim sebagai
duatahapan. Pada tahap pertama, subtrat terikat ke enzim secara
reversible, membentuk kompleksenzim-substrat. Kompleks ini kadang-
kadang disebut sebagai kompleks Michaelis. Enzim
kemudianmengatalisasi reaksi kimia dan melepaskan produk.Kurva
kejenuhan suatu reaksi enzim yang menunjukkan relasi antara
konsentrasi substrat (S) dengankelajuan (v).Enzim dapat mengatalisasi
reaksi dengan kelajuan mencapai jutaan reaksi per detik. Sebagai
contoh,tanpa keberadaan enzim, reaksi yang dikatalisasi oleh enzim
orotidina 5-fosfat dekarboksilase akanmemerlukan waktu 78 juta tahun
untuk mengubah 50% substrat menjadi produk. Namun, apabilaenzim
tersebut ditambahkan, proses ini hanya memerlukan waktu 25
milidetik. Laju reaksi bergantungpada kondisi larutan dan konsentrasi
substrat. Kondisi-kondisi yang menyebabkan denaturasi proteinseperti
temperatur tinggi, konsentrasi garam yang tinggi, dan nilai pH yang
terlalu tinggi atau terlalurendah akan menghilangkan aktivitas enzim.
Sedangkan peningkatan konsentrasi substrat cenderungmeningkatkan
aktivitasnya. Untuk menentukan kelajuan maksimum suatu reaksi
enzimatik,konsentrasi substrat ditingkatkan sampai laju pembentukan
produk yang terpantau menjadi konstan.Hal ini ditunjukkan oleh kurva
kejenuhan di samping. Kejenuhan terjadi karena seiring
denganmeningkatnya konsentrasi substrat, semakin banyak enzim
bebas yang diubah menjadi komplekssubstrate-enzim ES. Pada
kelajuan yang maksimum (Vmax), semua tapak aktif enzim akan
berikatandengan substrat, dan jumlah kompleks ES adalah sama
dengan jumlah total enzim yang ada.Namun, Vmax hanyalah salah
satu konstanta kinetika enzim. Jumlah substrat yang diperlukan
untukmencapai nilai kelajuan reaksi tertentu jugalah penting. Hal ini
diekspresikan oleh konstantaMichaelis-Menten (Km), yang merupakan
konsentrasi substrat yang diperlukan oleh suatu enzimuntuk mencapai
setengah kelajuan maksimumnya. Setiap enzim memiliki nilai Km yang
berbeda-beda untuk suatu subtrat, dan ini dapat menunjukkan
seberapa kuatnya pengikatan substrat keenzim. Konstanta lainnya
yang juga berguna adalah kcat, yang merupakan jumlah molekul
substratyang dapat ditangani oleh satu tapak aktif per detik.Efisiensi
suatu enzim diekspresikan oleh kcat/Km. Ia juga disebut sebagai
konstanta kespesifikan danmemasukkan tetapan kelajuan semua
langkah reaksi. Karena konstanta kespesifikan
mencermikankemampuan katalitik dan afinitas, ia dapat digunakan
untuk membandingkan enzim yang satu denganenzim yang lain,
ataupun enzim yang sama dengan substrat yang berbeda. Konstanta
kespesifikanmaksimum teoritis disebut limit difusi dan nilainya sekitar
108 sampai 109 (M-1 s-1). Pada titik ini,setiap penumbukkan enzim
dengan substratnya akan menyebabkan katalisis, dan laju
pembentukanproduk tidak dibatasi oleh laju reaksi, melainkan oleh laju
difusi. Enzim dengan sifat demikian disebutsecara katalitik sempurna
ataupun secara kinetika sempurna. Contoh enzim yang memiliki
sifatseperti ini adalah karbonat anhidrase, asetilkolinesterase, katalase,
fumarase, -laktamase, dan
7. superoksida dismutaseKinetika Michaelis-Menten bergantung pada
hokum aksi massa, yang diturunkan berdasarkan asumsidifusi bebas
dan pertumbukan acak yang didorong secara termodinamik. Namun,
banyak proses-proses biokimia dan selular yang menyimpang dari
kondisi ideal ini, disebabkan oleh kesesakanmakromolekuler
(macromolecular crowding), perpisahan fase enzim/substrat/produk,
dan pergerakanmolekul secara satu atau dua dimensi. Pada situasi
seperti ini, kinetika Michaelis-Menten fraktaldapat diterapkan.Beberapa
enzim beroperasi dengan kinetika yang lebih cepat daripada laju difusi.
Hal ini tampaknyasangat tidak mungkin. Beberapa mekanisme telah
diajukan untuk menjelaskan fenomena ini.Beberapa protein dipercayai
mempercepat katalisis dengan menarik substratnya dan melakukan
pra-orientasi substrat menggunakan medan listrik dipolar. Model
lainnya menggunakan penjelasanpenerowongan kuantum mekanika,
walaupun penjelasan ini masih kontroversial. Penerowongankuantum
untuk proton telah terpantau pada triptamina.