Anda di halaman 1dari 62

1

Kasus 4
Penyakit Lingukungan
Seorang anak perempuan berusia 3 tahun dibawa ibunya ke puskesmas
karena diare. Pasien telah mengalami diare sebanyak 2 kali dalam sebulan ini,
sementara ibu pasien juga habis dirawat karena demam berdarah dua minggu yang
lalu. Dokter bertugas di puskesmas memperhatikan adanya peningkatan angka
kunjungan karena penyakit lingkungan. Dokter tersebut mengamati adanya
beberapa wilayah kerja puskesmas memiliki masalah lingkungan seperti sumber
air bersih, pengelolaan sampah. Namun, puskesmas tidak rutin melakukan survey
perumahan dan lingkungan dan data yang dikumpulkan tidak lengkap, sehingga ia
sulit melakukan evaluasi kondisi kesehatan lingkungan di wilayah kerja
puskesmas sesuai dengan standar pemerintah.

STEP 1
a. Penyakit : suatu kondisi patologis berupa kelainan fungsi suatu
organ/jaringan
b. Lingkungan: - Interaksi dari komponen biotik dan abiotik
- Sesuatu yang ada di sekitar benda hidup-mati serta
suasana yang terbentuk karena terjadi interaksi antara
elemen-elemen tersebut.
c. Penyakit lingkungan: suatu kondisi patologis berupa kelainan
fungsi/morfologi suatu organ tubuh yang disebabkan oleh interaksi
manusia dengan segala sesuatu disekitarnya yang memiliki potensi
penyakit.
d. Investigasi :
- Investigasi/studi untuk mendapatkan inti yang
dikumpulkan secara sistematik untuk menjawab tentang
hipotesa yang berhubungan.
- Suatu teknik pengumpulkan info dengan menyusun
daftar pertanyaan yang diberikan kepada koresponden.
2

e. Evaluasi: suatu kegiatan yang membandingkan antara hasil interpretasi
dengan criteria dan studi yang dihasilkan dengan ketetapan yang
sudah ada untuk melihat keberhasilan.
STEP 2
1. Macam-macam penyakit lingkungan ?
2. Apa saja sumber penyakit yang menyebabkan penyakit lingkungan ?
3. Patogenesis penyakit lingkungan ?
4. Faktor-faktor penyakit lingkungan ?
5. Kondisi lingkungan yang bagaimana ?
6. Program puskesmas (apa saja) untuk penyakit lingkungan (survey) ?
7. Supaya lengkap, survey apa saja yang lengkap ?
8. Bagaimana cara pengumpulannya ?
9. Standar pemerintah untuk kesehatan lingkungan ?
10. Penatalaksanaan penyakit lingkungan ?
11. Peran pemerintah dalam program ini ?
STEP 3
1. Penyakit lingkungan di Indonesia yang penting ada 10 :
- Diare
- ISPA
- TBC
- DBD
- Cacingan
- Penyakit kulit
- Malaria
- Keracunan makanan
- Sakit mata
2. Sumber penyakit
- Biologis: batuk, diare, cacingan, parasit, jamur.
- Kimia: logam berat, air, debu.
- Fisika: radiasi, kebisingan, suhu.
3

- Tanah
- Udara
- Air
- Individu
- Agen penyakit
- Lingkungan










3. Faktor penyebab:
- Pencemaran pangan
- Pencemaran udara
- Pencemaran air
- Sanitasi
- Hygiene
- Triangle epidemiology
- Perubahan iklim
- Perubahan sistem hidrologi
- Dan pasokan air tawar
Sumber penyakit
Komponen
lingkungan:
Langsung
Tidak
langsung
Variabel yang
berpengaruh
Media transmisi
Sakit/sehat
4








4. Kondisi lingkungan yang menyebabkan penyakit lingkungan
- Sanitasi yang buruk
- Pencemaran udara
- Makanan yang terkontaminasi
- Pemeliharaan/pencegahan penyakit yang buruk
- Vektor penyakit yang meningkat
- Limbah pabrik
- Perilaku masyarakat
- Prilaku penduduk
- Ledakan penduduk
5. Program puskesmas
- Penyuluhan PHBS
- Konseling sanitasi
- Survey untuk melihat keadaan lingkungan sekitar
- STBM
6. Data yang harus dilengkapi
- Jumlah penduduk
- Letak geografi
- Jumlah yang terkena penyakit lingkungan
- Penggunaan sumber air
- Macam-macam penyakit lingkungan yang sering timbul
- Pekerjaan
Host
Environment Agen
5

- Kebiasaan masyarakat
- MKC dari jumlah dan jarak
7. Cara mengumpulkan data survey
- Membandingkan angka pasien positif terkena penyakit dengan
pasien yang diduga mengidap penyakit tersebut
- Questioner
- Observasi
- Survey
8. Studi pemerintah
Pasal 13 ayat 3 UU.NO23 tahun 1992
9. Penatalaksanaan
- Promotif: Penyuluhan PHBS
- Preventif:
o Menyediakan akses air bersih
o Menjaga sanitasi yang baik
- Kuratif
- Rehabilitatif
10. Peran pemerintah diatur UU dalam pemenkes, Dinkes, UU Rumah Sakit.









6

STEP IV














Pathogenesis






HOST
Environment
Manusia:
Umur
Jenis kelamin
RAS
Status gizi
Bentuk anatomi tubuh
Imunitas
Pekerjaan
Budaya
Kebiasaan
Komponen lingkungan:
Air
Udara
Makanan
Kriteria:
Biologi: hewan,
tumbuhan
Sosial: organisasi, adat
Fisika: keadaan udara
Agen
Sumber penyakit:
Fisika
Kimaia
Biologi
Faktor yang mempengaruhi:
Habitat
Cara penularan
Jumlah agen
Virulensi
Sumber penyakit Komponen lingkungan
Sakit/sehat
Media transmisi:
Langsung
Tidak
langsung
Agen
Environment
Host
7

Program puskesmas :
- PHBS
- STBM
- Konseling sanitasi
- KIA
- Gizi
- P2M
- Poli Umun
Data survey penularan penyakit lingkungan:
- Air bersih
- Perilaku hidup
- MCK: Macam bentuk jamban
Jarak
- Ventilasi
- Sanitasi
- Pencahayaan
- Jumlah anggota keluarga: Berapa ruang tidur
Luas
- Lantai: Tanah
Cluster
- Dinding: Tembok
Kayu
- Tinggi atap
- Genteng cahaya
- Jarak antara rumah
- Tanaman
- Tempat pembuangan sampah
- Pembuangan air
Cara pengumpulan data survey
Observasi
Questioner

Dibandingkan dengan standar
8

Standar pemerintah
- Kondisi lingkungan
- Peran pemerintah
- Penatalaksanaan
Promotif
Preventif
Kuratif
Rehabilitatif
STEP V











Sasaran Belajar :
1. Standar kondisi kesehatan lingkungan ?
2. Program peningkatan kesehatan lingkungan ?



Sehat/sakit
Environment
Host :
Umur
Jenis kelamin
RAS
Status gizi
Bentuk anatomi tubuh
Imunitas
Pekerjaan
Budaya
Kebiasaan
Komponen lingkungan:
Air
Udara
Makanan
Agen
Sumber penyakit:
Fisika
Kimaia
Biologi


Faktor yang mempengaruhi:
Habitat
Cara penularan
Jumlah agen
Virulensi
9

3. Penyakit yang timbul karena kesehatan lingkungan ?
Etiology
Epidemiologi
Penularan
patogenesis
4. Penatalaksanaan secara umum ?
Promotif
Preventif
Kuratif
Rehabilitatif
5. Metoda surveilens epidemiologi ?
Definisi
Tujuan
Metode
Pengukuran epidemiologi
6. Penyakit menular ?
7. Siapa yang melakukan survey ?
STEP 6
Belajar Mandiri










10

STEP 7
1. Standar kondisi kesehatan lingkungan
Indikator Rumah Sehat adalah sebagai berikut,
Letak rumah yang sehat:
Tidak didirikan di dekat tempat sampah yang dikumpulkan atau yang
dibuang;
Dekat dengan air bersih;
Jarak kurang lebih 100 meter dari tempat buangan sampah;
Dekat sarana pembersihan;
Di tempat di mana air hujan dan air kotor tidak menggenang.
Ruangan yang sehat:
Cukup luas ditempati, cukup bersih, cukup penerangan alami dalam
rumah (dapat membaca koran tanpa penerangan tambahan di pagi hari)
Tata ruang yang sehat:
Disediakan cara tersendiri untuk membuang air limbah atau mungkin
untuk menyirami tanaman-tanaman di kebun;
Disediakan tempat khusus (kandang di luar rumah) untuk binatang
peliharaan;
Bebas dari binatang penular antara lain bebas jentik, bebas tikus, dan
bebas kecoa;
Ventilasi atau sirkulasi udara yang lancar:
Ruangan yang cukup di mana penghuninya tidak terlalu banyak,
terutama saat mereka sedang tidur;
Kandang peliharaan sekurang-kurangnya 10 meter dari rumah;
Terdapat tempat untuk mandi dan mencuci pakaian serta alat-alat ruah
tangga lainnya dengan limbah rumah tangga digunakan untuk
menyirami tanaman di halaman atau kabun;
Mempunyai tempat khusus untuk menyimpan makanan dan minuman
yang mudah dijangkau serta aman dari debu, tikus, serangga, dan
binatang lainnya;
11

Mempunyai tempat khusus memasak serta lubang atau saluran
pembungan asap
Mempunyai jendela yang memungkinkan udara segar masuk sehingga
udara kotor atau asap yang berada di luar dapat segera terbawa keluar;
Memiliki tempat-tempat terlindung guna menyimpan barang-barang
atau apapun yang harus dijauhkan dari jangkauan anak-anak.
Lantai dan dinding yang aman:
Mudah dibersihkan;
Permukaan halus dan rata;
Lantai terbuat dari kayu, bambu, ubin, ataun plester.
UU kesehatan
Kesehatan lingkungan dalam Undang-undang ini termasuk dalam bagian
kelima dari enam belas bagian pada Bab mengenai Penyelenggarakan Upaya
Kesehatan.
Dalam pasal 22 tentang kesehatan lingkungan dijelaskan:
a. Kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas
lingkungan hidup
b. Kesehatan lingkungan dilaksanakan terhadap tempat umum, lingkungan
pemukiman, lingkungan kerja, angkutan umum dan lingkungan lainnya
c. Kesehatan lingkungan meliputi penyehatan air bersih dan udara,
pengamanan limbah padat, limbah cair, limbah gas, radiasi dan kebisingan,
pengendalian vektor penyakit dan penyehatan atau pengamanan lainnya.
d. Setiap tempat atau sarana pelayanan umum wajib memelihara dan
meningkatkan lingkungan yang sehat sesuai dengan standar dan pelayanan
Dalam penjelasan ketentuan di atas dikemukakan bahwa untuk mencapai
kesehatan masyarakat yang optimal, perlu ditingkatkan sanitasi lingkungan, baik
pada lingkungan tempatnya maupun terhadap wujud atau bentuk substantifnya
yang berupa fisik, kimiawi atau biologik, termasuk perubahan perilaku.
12

Mengenai tempat umum dimaksud antara lain hotel, pasar, pertokoan,
pasar swalayan, mal, bioskop dan lain-lain. Demikian pula dengan lingkungan
kerja, lingkungan pemukiman dan angkutan umum sama saja dengan yang diatur
pada undang-undang kesehatan lingkungan/hygiene yang lama.
Penyehatan air dan udara untuk meningkatkan kualitas, termasuk
penekanan pada masalah polusi. Pengamanan ditujukan untuk limbah padat, cair
dan gas serta pengamanan terhadap limbah yang berasal dari rumah tangga dan
industri, begitu pula pengamanan dan penetapan standar penggunaan alat yang
menghasilkan radioaktif, gelombang elektromagnetik, listrik tegangan tinggi,
sinar inframerah dan ultra violet.
Demikian pula pengamanan terhadap ambang batas bising yang dapat
mengganggu kesehatan di pabrik-pabrik serta pengendalian vektor penyakit
seperti serangga dan binatang pengerat.
Dalam undang-undang ini juga diatur tentang sanksi hukum bagi yang
melanggar ketentuan tentang kesehatan lingkungan terdapat pada pasal 84 yang
diatur sebagai berikut:
menyelenggaraan tempat atau saran pelayanan umum yang itdak memenuhi
ketentuan standar dan atau persyaratan lingkungan yang sehat sebagaimana
dimaksud dalam pasal 23 ayat (4) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp. 15.000.000,00 (lima belas
juta rupiah)
ketentuan-ketentuan hukum yang diterbitkan pemerintah di atas perlu
diketahui dan dipahami oleh kalangan kesehatan terutama yang bertugas dalam
bidang kesehatan masyarakat, dokter puskesmas dan para dokter perusahaan agar
dapat menunjang dan mengamankan usaha pemerintah mencapai derajat
kesehatan yang optimal bagi setiap masyarakat.


13

Pengelolaan sampah
Sampah erat kakitannya dengan kesehatan masyarakat, karena sampah tersebut
akan hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit (bacteri pathogen), dan
juga serangga penyebar penyakit (vector). Oleh karena itu sampah harus dikelola
dengan baik sampai sekecil mungkin tidak mengganggu atau mengancam
kesehatan masyarakat.
Yang dimaksud dengan pengelolaan sampah disini adalah meliputi pengumpulan,
pengangkutan, sampai dengan pemusnahan atau pengolahan sampah sedemikian
rupa sehingga sapah tidak menjadi gangguan kesehatan masyarakat dan
lingkungan hidup.
Cara-cara pengelolaan sampah antara lain :
a. Pengumpulan dan pengangkutan sampah
Pengumpulan dan pengangkutan sampah menjadi tanggung jawab dari
masing-masing rumah tangga atau institusi yang menghasilkan sampah.
Oleh sebab itu, harus mengadakan tempat sampah khusus untuk
menggumpulkan sampah. Kemudian dari masing-masing tempat
pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke tempat penampungan
sementara (TPS) sampah, dan selanjutnya ke tempat penampungan akhir
(TPA).
b. Pemusnahan dan pengolahan sampah.
Pemusnahan dan atau pengolahan sampah padat ini dapat dilakukan
dengan berbagai cara, antara lain :
- Ditanam (landfill), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang
di tanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah.
- Dibakar (inceneration), yaitu memusnahkan sampah dengan jalan
membakar didalam tungku pembakaran (incenerator)
- Dijadikan pupuk (composting), yaitu pengolahan sampah menjadi
pupuk (kompos), khususnya untuk sampah menjadi daun-daunan, sisa
makanan, dan sampah lain yang mudah membusuk. Di daerah
pedesaan hal ini sudah biasa, sedangkan di daerah perkotaan hal ini
14

perlu dibudidayakan, apabila setiap rumah tangga biasa untuk
memisahkan sampah organik dan anorganik kemudian sampah organik
diolah menjadi pupuk tanaman dapat dijual atau dipakai sendiri,
sedangkan sampah anorganik dibuang dan akan segera dipungut oleh
pemulung, dengan demikian masalah sampah akan berkurang.
2. Program Peningkatan Kesehatan Lingkungan
a. Program pokok Puskesmas merupakan program pelayanan kesehatan yang
wajib di laksanakan karena mempunyai daya ungkit yang besar terhadap
peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Ada 6
Program Pokok pelayanan kesehatan di Puskesmas yaitu :
- Program pengobatan (kuratif dan rehabilitatif) yaitu bentuk
pelayanan kesehatan untuk mendiagnosa, melakukan tindakan
pengobatan pada seseorang pasien dilakukan oleh seorang dokter
secara ilmiah berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh selama
anamnesis dan pemeriksaan
- Promosi Kesehatan yaitu program pelayanan kesehatan puskesmas
yang diarahkan untuk membantu masyarakat agar hidup sehat
secara optimal melalui kegiatan penyuluhan (induvidu, kelompok
maupun masyarakat).
- Pelayanan KIA dan KB yaitu program pelayanan kesehatan KIA
dan KB di Puskesmas yang ditujuhkan untuk memberikan
pelayanan kepada PUS (Pasangan Usia Subur) untuk ber KB,
pelayanan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan bayi dan
balita.
- Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menular dan tidak menular
yaitu program pelayanan kesehatan Puskesmas untuk mencegah
dan mengendalikan penular penyakit menular/infeksi (misalnya TB,
DBD, Kusta dll).
- Kesehatan Lingkungan yaitu program pelayanan kesehatan
lingkungan di puskesmas untuk meningkatkan kesehatan
lingkungan pemukiman melalui upaya sanitasi dasar, pengawasan
15

mutu lingkungan dan tempat umum termasuk pengendalian
pencemaran lingkungan dengan peningkatan peran serta
masyarakat,
- Perbaikan Gizi Masyarakat yaitu program kegiatan pelayanan
kesehatan, perbaikan gizi masyarakat di Puskesmas yang meliputi
peningkatan pendidikan gizi, penanggulangan Kurang Energi
Protein, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kekurangan Yaodium
(GAKY), Kurang Vitamin A, Keadaan zat gizi lebih, Peningkatan
Survailans Gizi, dan Perberdayaan Usaha Perbaikan Gizi
Keluarga/Masyarakat.
b. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang disebut juga
Community-led Total Sanitation (CLTS) merupakan pendekatan untuk
merubah pola pikir dan perilaku higiene dan sanitasi melalui
pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. STBM merupakan
salah satu konsep untuk mempercepat pencapaian target MDGs poin
ketujuh.
Saat ini STBM adalah sebuah program nasional di bidang sanitasi
berbasis masyarakat yang bersifat lintas sektoral. Program ini dicanangkan
pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri Kesehatan RI. Pada bulan
September 2008 STBM dikukuhkan sebagai Strategi Nasional melalui
Kepmenkes No 852/Menkes/SK/IX/2008bahwa dalam rangka memperkuat
upaya pembudayaan hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran
penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat,
sertamengimplementasikan komitmen Pemerintah untuk meningkatkan
akses air minum dan sanitasi dasar yang berkesinambungan dalam
pencapaian Millenium DevelopmentGoals (MDGs) tahun 2015. Strategi
Nasional STBM memiliki indikator outcome yaitu menurunnya kejadian
penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan
dengan sanitasi dan perilaku.


16

STBM memiliki 5(lima) pilar utama yakni :bebas buang air besar
sembarangan atau Open Defecation Free (ODF),mencuci tangan pakai
sabun,pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan
sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.
c. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan
pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalan komunikasi,
memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi),
bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat
(empowerman) sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat
mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, dalam tatanan masing-
masing, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat, dalam rangka
menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatan.
- Tatanan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Tatanan adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain,
berinteraksi dan lain-lain.Terdapat 5 tatanan PHBS yaitu rumah tangga,
sekolah, tempat kerja, sarana kesehatan dan tempat-tempat umum.

PHBS di Rumah Tangga
PHBS di rumah tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota
rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup
bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di
masyarakat.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS
rumah tangga yaitu:
1) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.
2) Memberikan ASI ekslusif pada bayi.
3) Menimbang balita setiap bulan.
4) Menggunakan air bersih.
5) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun.
17

6) Menggunakan jamban sehat.
7) Memberantas jentik di rumah sekali seminggu.
8) Makan buah dan sayur segar setiap hari.
9) Melakukan aktivitas fisik setiap hari.
10) Tidak merokok di dalam rumah.

PHBS di Sekolah
PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan
olehpeserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar
kesdaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu
mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif
dalam mewujudkan lingkungan sehat.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS
sekolah yaitu:
1) Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun.
2) Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah.
3) Menggunakan jamban yang bersih dan sehat.
4) Olahraga yang teratur dan terukur.
5) Memberantas jentik nyamuk.
6) Tidak merokok di sekolah.
7) Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan.
8) Membuang sampah pada tempatnya.

PHBS di Tempat Kerja
PHBS di tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja
agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan
sehat serta berperan aktif dalam mewujudkan tempat kerja sehat.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS
tempat kerja yaitu:
1) Tidak merokok di tempat kerja.
2) Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja.
3) Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik.
18

4) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan
sesudah buang air besar dan buang air kecil.
5) Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja.
6) Menggunakan air bersih.
7) Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar.
8) Membuang sampah pada tempatnya.
9) Mempergunakan alat pelindung diri (APD) sesuai jenis pekerjaan.
10) Menggunakan alat kerja yang ergonomis.

PHBS di Institusi Kesehatan
PHBS di institusi kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien,
masyarakat pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk
mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta berperan
aktif dalam mewujudkan institusi kesehatan sehat dan mencegah penularan
penyakit di institusi kesehatan
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS
institusi kesehatan yaitu:
1) Menggunakan air bersih.
2) Menggunakan Jamban.
3) Membuang sampah pada tempatnya.
4) Tidak merokok di institusi kesehatan.
5) Tidak meludah sembarangan.
6) Memberantas jentik nyamuk.
7) Membuang limbah sesuai tempatnya

PHBS di Tempat-tempat Umum
PHBS ditempat umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat
pengunjung dan pengelola tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk
mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat
umum sehat.

19

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS
tempat umum yaitu:
1) Menggunakan air bersih.
2) Menggunakan jamban.
3) Membuang sampah pada tempatnya.
4) Tidak merokok di tempat umum.
5) Tidak meludah sembarangan.
6) Memberantas jentik nyamuk.
7) Makan makanan higienis
8) Terhindar dari suara bising
9) Terhindar dari pantulan sinar
10) Ventilasi yang baik

3. Penyakit yang timbul karena kesehatan lingkungan
Diare
- Etiologi :
a. Infeksi: Diare adalah gejala dari infeksi yang disebabkan oleh sejumlah
organisme bakteri, virus dan parasit, yang sebagian besar ditularkan
melalui tinja yang terkontaminasi air. Infeksi lebih umum bila ada
kekurangan air bersih untuk minum, memasak dan
membersihkan. Rotavirus dan Escherichia coli adalah dua penyebab
paling umum diare di negara berkembang.
b. Malnutrisi: Anak-anak yang meninggal akibat diare sering menderita
kekurangan gizi yang mendasari, yang membuat mereka lebih rentan
terhadap diare. Setiap episode diare, pada gilirannya, membuat mereka
kekurangan gizi bahkan lebih buruk. Diare merupakan penyebab utama
gizi buruk pada anak di bawah lima tahun.
c. Sumber: Air yang terkontaminasi dengan kotoran manusia, misalnya,
dari limbah, tangki septik dan jamban, menjadi perhatian
khusus. Kotoran hewan juga mengandung mikroorganisme yang dapat
menyebabkan diare.
20

d. Penyebab lain: penyakit diare juga dapat menyebar dari orang-ke-orang,
diperburuk oleh kebersihan pribadi yang buruk. Makanan merupakan
penyebab utama diare bila diolah atau disimpan dalam kondisi yang
tidak higienis. Air dapat mengkontaminasi makanan selama irigasi. Ikan
dan seafood dari air tercemar juga dapat menyebabkan penyakit.
- Epidemilogi
Setiap tahun ada sekitar dua miliar kasus penyakit diare di seluruh
dunia.Penyakit diare merupakan penyebab utama kematian anak dan
morbiditas di dunia, dan sebagian besar hasil dari makanan yang
terkontaminasi dan sumber air.Di seluruh dunia, sekitar 1 miliar orang
tidak memiliki akses terhadap air minum dan 2,5 miliar tidak memiliki
akses terhadap sanitasi dasar. Diare akibat infeksi tersebar luas di seluruh
negara-negara berkembang.
Pada tahun 2004, penyakit diare adalah penyebab utama kematian
ketiga di negara berpenghasilan rendah, menyebabkan 6,9% dari semua
kematian. Pada anak-anak di bawah lima tahun, penyakit diare adalah
penyebab utama kedua kematian - kedua setelah pneumonia. Dari 1,5 juta
anak terbunuh oleh penyakit diare pada tahun 2004, 80% berada di bawah
dua tahun.
Di negara berkembang, anak di bawah tiga tahun pengalaman
berusia rata-rata tiga episode diare setiap tahun. Setiap episode
menghalangi anak dari nutrisi yang diperlukan untuk
pertumbuhan. Akibatnya, diare merupakan penyebab utama kekurangan
gizi, dan anak-anak kurang gizi lebih mungkin untuk menderita sakit
karena diare.
- Penularan
Infeksi menular melalui makanan yang terkontaminasi atau air
minum, atau dari orang ke orang sebagai akibat dari kebersihan yang
buruk.



21

- Patogenesis
Diare akut infeksi diklasifikasikan secara klinis dan patofisiologis
menjadi diare non inflamasi dan Diare inflamasi.
Diare Inflamasi disebabkan invasi bakteri dan sitotoksin di kolon
dengan manifestasi sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan
darah. Gejala klinis yang menyertai keluhan abdomen seperti mulas
sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus, serta gejala
dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin secara makroskopis
ditemukan lendir dan/atau darah, serta mikroskopis didapati sel leukosit
polimorfonuklear.
Pada diare non inflamasi, diare disebabkan oleh enterotoksin yang
mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan
darah. Keluhan abdomen biasanya minimal atau tidak ada sama sekali,
namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul, terutama pada kasus yang
tidak mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak
ditemukan leukosit.
Diare dapat terjadi akibat lebih dari satu mekanisme. Pada infeksi
bakteri paling tidak ada dua mekanisme yang bekerja peningkatan sekresi
usus dan penurunan absorbsi di usus. Infeksi bakteri menyebabkan
inflamasi dan mengeluarkan toksin yang menyebabkan terjadinya diare.
Infeksi bakteri yang invasif mengakibatkan perdarahan atau adanya
leukosit dalam feses.
Pada dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat kuman
enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada sel epitel dengan atau
tanpa kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi enterotoksin atau
sitotoksin. Satu bakteri dapat menggunakan satu atau lebih mekanisme
tersebut untuk dapat mengatasi pertahanan mukosa usus.
Penyakit yang ditularkan melalui air yang disebabkan oleh patogen
mikroorganisme yang secara langsung ditularkan ketika air tawar yang
terkontaminasi dikonsumsi. Air tawar tercemar, yang digunakan dalam
persiapan makanan, bisa menjadi sumber penyakit bawaan
makanan melalui konsumsi mikroorganisme yang sama.
22


TBC
- Etiologi : Bakteri Mycobacterium tuberculosis.
- Epidemiologi
TB terjadi di setiap bagian dari dunia. Pada tahun 2011, jumlah
terbesar kasus TB baru terjadi di Asia, akuntansi untuk 60% dari kasus
baru secara global. Namun, Sub-Sahara Afrika membawa proporsi terbesar
kasus baru per penduduk dengan lebih dari 260 kasus per 100 000
penduduk pada tahun 2011.
Pada tahun 2011, sekitar 80% dari kasus TB yang dilaporkan
terjadi di 22 negara.Beberapa negara mengalami penurunan besar dalam
kasus, sementara kasus yang ditinggalkan sangat lambat pada orang lain.
- Penularan
Bisa dari orang ke orang melalui tetesan dari tenggorokan dan
paru-paru orang dengan penyakit pernapasan aktif. TBC tersebar dari
orang ke orang melalui udara. Ketika orang-orang dengan paru-paru batuk
bersin TB, atau meludah, mereka mendorong kuman TBC ke
udara.Seseorang perlu menghirup hanya beberapa dari kuman menjadi
terinfeksi.
- Patogenesis
Perjalanan kuman TBC dalam tubuh adalah sebagai berikut.
Strain virulen mikobakteri masuk ke dalam endosom makrofag
diperantarai reseptor manosa makrofag yang mengenali glikolipid
berselubung manosa di dinding sel tuberkular. Setelah itu, organisme
dapat menghambat respon mikrobisida normal dengan memanipulasi pH
endosom dan menghentikan pematangan endosom. Dengan terganggunya
pembentukan fagolisosom efektif, mikobakteri dapat berproliferasi tanpa
gangguan.
Polimorfisme pada gen NRAMP1 (natural resistance-associated
machrophage protein-1)dibuktikan berkaitan dengan peningkatan insiden
tuberkulosis. Dipostulasikan bahwa variasi genotipe NRAMP1 tersebut
menurunkan fungsi mikrobisida. Berdasarkan proses di atas, fase dini TB
23

primer (<3 minggu) pada orang yang belum tersensitisasi ditandai dengan
proliferasi basil tanpa hambatan di dalam makrofag alveolus dan rongga
udara sehingga terjadi bakterimia dan penyebaran ke berbagai tempat.
Namun, pada tahap ini kebanyakan masih asimptomatik atau mengalami
gejala mirip flu. Imunitas seluler umumnya muncul dalam 3 minggu
setelah pajanan.
Antigen mikobakterium diproses kemudian mencapai kelenjar
getah bening regional dan disajikan dalam konteks histokompatibilitas
mayor kelas II oleh makrofag ke sel TH0 CD4+ uncommited yang
memiliki reseptor sel T. Selanjutnya, sel tersebut akan mengalami
pematangan menjadi sel T CD4+ subtipe TH1 dengan bantuan IL-12. IL-
12 itu sendiri dihasilkan oleh makrofag yang menampilkan antigen
M.tuberculosis tersebut. Subtipe TH1 tersebut dapat mengeluarkan TNF-
yang penting untuk mengaktifkan makrofag. Selanjutnya, makrofag akan
mengeluarkan mediator seperti TNF (yang berperan untuk merekrut
monosit) dan IFN- yang bersama TNF akan mengaktifkan gen inducible
nitric oxide synthase (iNOS). Monosit nantinya akan mengalami
pengaktifan dan differensiasi menjadi histiosit epiteloid yang menandai
respon granulomatosa.
Sementara itu, iNOS akan menyebabkan peningkatan nitrat oksida di
tempat infeksi. Nitrat oksida dapat menimbulkan kerusakan oksidatif pada
beberapa konstituen mikobakteri dari dinding sel sampai DNA. Selain
mengaktifkan makrofag, sel T CD4+ juga mempermudah terbentuknya sel
T sitotoksik CD8+ yang dapat mematikan makrofag yang terinfeksi
tuberkulosis. Selain sel T, ada juga sel T yang tidak hanya
mengeluarkan IFN- tetapi juga sebagai sel efektor sitotoksik.Defek atau
gangguan pada setiap langkah pada respon TH1 (termasuk pembentukan
IL-12, IFN- atau nitrat oksida) menyebabkan granuloma tidak terbentuk
sempurna, tidak adanya resistensi dan dapat terjadi perkembangan
penyakit. Subtipe TH1 tersebut dapat mengeluarkan TNF- yang penting
untuk mengaktifkan makrofag. Selanjutnya, makrofag akan mengeluarkan
mediator seperti TNF (yang berperan untuk merekrut monosit) dan IFN-
24

yang bersama TNF akan mengaktifkan gen inducible nitric oxide synthase
(iNOS).
Monosit nantinya akan mengalami pengaktifan dan differensiasi
menjadi histiosit epiteloid yang menandai respon granulomatosa.
Sementara itu, iNOS akan menyebabkan peningkatan nitrat oksida di
tempat infeksi.
Nitrat oksida dapat menimbulkan kerusakan oksidatif pada beberapa
konstituen mikobakteri dari dinding sel sampai DNA. Selain mengaktifkan
makrofag, sel T CD4+ juga mempermudah terbentuknya sel T sitotoksik
CD8+ yang dapat mematikan makrofag yang terinfeksi tuberkulosis.
Selain sel T, ada juga sel T yang tidak hanya mengeluarkan IFN-
tetapi juga sebagai sel efektor sitotoksik.
Defek atau gangguan pada setiap langkah pada respon TH1 (termasuk
pembentukan IL-12, IFN- atau nitrat oksida) menyebabkan granuloma
tidak terbentuk sempurna, tidak adanya resistensi dan dapat terjadi
perkembangan penyakit.

TBC tersebar dari orang ke orang melalui udara. Ketika orang-orang
dengan paru-paru batuk bersin TB, atau meludah, mereka mendorong
kuman TBC ke udara.Seseorang perlu menghirup hanya beberapa dari
kuman menjadi terinfeksi.
ISPA
- Etiologi:
Penyakit ISPA atau merupakan singkatan dari Infeksi Saluran
Pernapasan Akut adalah penyakit infeksi akut yang mencakup organ
saluran pernapasan, hidung, sinus, faring dan laring. Penyakit ISPA ini
disebabkan oleh virus dan bakteri namun kebanyakan yang menyebabkan
penyakit ISPA adalah virus Rhino. Sedangkan 15% dari faring yang
terinfeksi secara akut disebabkan oleh bakteri bernama Streptococcus atau
dikenal juga sebagai Step Throat. Pada beberapa kondisi tertentu,
penyakit ISPA juga disebabkan oleh jamur.
25

- Epidemiologi
Salah satu penyakit yang di derita oleh masyarakat terutama adalah
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), yaitu meliputi infeksi akut
saluran pernafasan bagian atas dan akut saluran pernafasan bagian bawah.
ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak di derita oleh anak; baik di
negara berkembang maupun di negara maju dan sudah mampu banyak
diantara mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup
gawat. Penyakit-penyakit saluran pernafasan pada masa bayi dan anak
dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa.
- Penularan
ISPA merupakan penyakit yang mudah sekali menular. Penularan
ISPA terutama droplet (partikel-partikel kecil) yang keluar saat penderita
batuk atau bersin. Penularan ISPA juga dapat terjadi melalui kontak
langsung (menyentuh penderita langsung) dengan penderita maupun
kontak tidak langsung yaitu menyentuh benda yang terkontaminasi droplet
infeksius.
- Patogenesis
ISPA terjadi dapat karena masuknya virus kedalam saluran
pernafasan atas, kemudia virus bereplika (membelah) pada sel epitel
kolumner bersilia (hidung, sinus, faring) menyebabkan radang pada tempat
tersebut. Peradangan itu merangsang pelepasan mediator histamin dalam
sekresi hidung sehingga permeabilitas vaskuler naik dan akibatnya terjadi
odema pada mukosa dan hidung menjadi tersumbat akibat akumulasi
mukus, dari kejadian itu menimbulkan masalah inefektif bersihan jalan
nafas.
Perubahan yang terjadi adalh edema pada mukosa, infiltrat sel
mononuler yang menyertai, kemudian fungsional silia mengakibatkan
pembersihan mukus terganggu. Pada infeksi berat sampai sedang epitel
mengelupas, ada produksi mukus yang banyak sekali, mula-mula encer,
kemudian mengental dan biasanya purulen. Dapat juga ada keterlibatan
anatomis saluran nafas atas, masuk oklusi dan kelainan rongga sinus.

26

- Hubungan dengan kesehatan lingkungan
Penularan ISPA sering melalui droplet dan inhalasi, maka perlu diprhatkan
mengenai kehigientasan seseorang yang telah terinfeksi dalam rangka
menekan penyebaran penyakit ini secara meluas, dengan cara
menggunakan masker, tidak membuang ludah sembarangan pada suatu
tempat dan hal-hal yang sekiranya dapat meningkatkan penularan ISPA.
Malaria
- Etiologi : Plasmodium falcifarum, plasmodium vivax, plasmodium
malariae, plasmodium ovale.
- Epidemiologi
Papua, NTT, Maluku, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat,
Bangka Belitung, Bengkulu dan Riau, serta timur-timur merupakan
daerah endemis malaria dengan plasmodium falcifarum dan plasmodium
Vivax.
- Penularan
Gigitan nyamuk anopheles betina
- Patogenesis
Setelah melalui jaringan hati P.falcifarum melepaskan 18-24
merozoit kedalam sirkulasi. Merozoit yang dilepaskan akan masuk ke
dalam sel RES di limpa dan mengalami fagositosis serta filtrasi. Merozoit
yang lepas dari fagosit serta filtrasi. Merozoit yang lepas dari filtrasi serta
fagositosis dari limpa akan menginvasi eritrosit . selanjutnya parasit
berkembang biak secara aseksual dalam eritrosit. Bentuk aseksual parasit
dalam eritosit (EP) inilah yang bertanggung jawab dalam patogenesis
terjadinya malaria pada manusia. Patogenesis yang banyak di teliti adalah
patogenesis malaria yang disebabkan oleh malaria P.falcifarum.
Patogenesis malaria falcifarum di pengaruhi oleh factor parasit dan
factor penjamu (host). Yang termaksud dalam factor parasit adalah
intensitas transmisi, densitas parasit dan virulensi parasit. Sedangkan yang
dimaksud dengan factor penjamu adalah tingkat endemisitas daerah tempat
tinggal, genetic, usia, status nutrisi dan status immunologi. EP secara garis
27

besar mengalami 2 stadium, yaitu stadium cincin pada 24 jam I dan
stadium matur pada 24 II. Permukaan stadium cincin akan memampilkan
antigen RESA (Ring-erythrocyte surgace antigen) yang menghilang
setelah parasit masuk stadium matur.
Permukaan membran EP stadium matur akan mengalami
penonjolan dan membentuk knob dengan histidin rich-protein-1 (HRP-1)
sebagai komponen utamanya.
Selanjutnya bila EP tersebut mengalami merogoni, akan dilepaskan
toxin malaria berupa GPI yaitu glikosilfosfatidilinasitol yang merangsang
pelepasan TNF- dan interleukin-1 (IL-1) dari makrofag.
- Rangsangan Hipotalamik terhadap Menggigil
Terletak pada bagian dorsomedial dari hipotalamus posterior dekat
dinding ventrikel ketiga yang merupakan area pusat motorik primer untuk
menggigil. Area ini normalnya dihambat oleh sinyal dari pusat panas pada
area preoptik-hipotalamus anterior, tapi dirangsang oleh sinyal dingin dari
kulit dan medulla spinalis.
Ketika terjadi peningkatan yang tiba-tiba dalam produksi panas,
pusat ini teraktivasi ketika suhu tubuh turun bahkan hanya beberapa
derajat dibawah nilai suhu kritis. Pusat ini kemudian meneruskan sinyal
yang menyebabkan menggigil melalui traktus bilateral turun ke batang
otak, ke dalam kolumna lateralis medulla spinalis, dan akhirnya, ke neuron
motorik anterior. Sinyal ini tidak teratur, dan tidak benar-benar
menyebabkan gerakan otot yang sebenarnya. Sebaliknya, sinyal tersebut
meningkatkan tonus otot rangka diseluruh tubuh. Ketika tonus meningkat
diatas tingkat kritis, proses menggigil dimulai. Selama proses menggigil
maksimum, pembentukan panas tubuh dapat meningkat sebesar 4-5 kali
dari normal.
- Hubungan dengan kesehatan lingkungan
Penyakit malaria ditularkan melalui nyamuk Anopheles betina,
maka untuk menekan penyebaran penyakit ini, harus diawali dengan
memberantas vektor beserta sarangnya, kegiatan ini sangat efektif,
28

karena jelas bahwa malaria merupakan penyakit yang endemis di
Indonesia, dan diharapkan dengan adanya pemberantasan vektor dan
sarangnya, dapat membuat penyakit ini eradikasi.
Keracunan makanan
- Etiologi
Keracunan makanan adalah istilah yang diberikan kepada infeksi dengan
bakteri, parasit, virus, atau racun dari kuman yang mempengaruhi manusia
melalui terkontaminasi makanan atau air. Organisme kausatif yang paling
umum adalah Staphylococcus atau E. coli.
- Epidemiologi
Asia tenggara, amerika selatan, afrika
- Penularan
Makanan yang tercemar
- Pathogenesis
Makanan yang telah terkontaminasi toksik sampai di lambung,lalu
lambung akan mengadakan perlawanan sebagai adaptasi pertahanan diri
terhadap benda atau zat asing yang masuk ke dalam lambung dengan
gejala mual, lalu lambung akan berusaha membuang zat tersebut dengan
cara memuntahkannya.Karena seringnya muntah maka tubuh akan
mengalami dehidrasi akibat banyaknya cairan tubuh yang keluar bersama
dengan mumtahan.Kerena dehidrasi yang tinggi maka lama kelamaan
tubuh akan lemas dan banyak mengeluarkan keringat dingin.
Banyaknya cairan yang keluar, terjadinya dehidrasi,dan keluarnya
keringat dingin akan merangsang kelenjar hipopisis anterior untuk
mempertahankan homeostasis tubuh dengan terjadinya rasa haus. Apabila
rasa haus tidak segera diatasi maka dehidrasi berat tidak dapat dihindari,
bahkan dapat menyebabkan pingsan sampai kematian.
- Hubungan dengan kesehatan lingkungan
Keracunan makanan dapat dengan mudah dicegah, yakni diantaranya
dengan cara memasak makanan dengan matang agar dapat dipastikan
mikroorganisme yang terkandung dapat mati dan juga perlu diperhatikan
29

zat-zat kimia yang ditambahkan kedalam makanan, harus dipastikan
terkontrol dan dalam takaran yang tidak akan menghambat fungsi
fisiologis tubuh.
DBD
- Etiologi
Virus dengue termasuk group B arthropod borne virus (Arboviruses)
dan sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, famili Flaviviridae, yang
mempunyai 4 jenis serotipe yaitu den-1, den-2, den-3 dan den-4. Infeksi
dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi seumur hidup
terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan
terhadap serotipe yang lain. Seseorang yang tinggal di daerah endemis
dengue dapat terinfeksi dengan 3 atau bahkan 4 serotipe selama hidupnya.
Keempat jenis serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di
Indonesia.
- Epidemiologi
Di Indonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975
di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotipe ditemukan
dan bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe den-3 merupakan serotipe yang
dominan dan banyak berhubungan dengan kasus berat
- Penularan
Melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty
- Patogenesis
erdasarkan data yang ada, terdapat bukti yang kuat bahwa mekanisme
imunopatologis berperan dalam terjadinya demam berdarah dengue dan
sindrom renjatan dengue.
Respons imun yang diketahui berperan dalam patogenesis DBD adalah:
a. Respons humoral berupa pembentukan antibodi yang berperan dalam
proses netralisasi virus, sitolisis yang dimediasi komplemen dan
sitotoksisitas yang dimediasi antibodi. Antibodi terhadap virus
dengue berperan dalam mempercepat replikasi virus pada monosit
atau makrofag. Hipotesis ini disebut Antibody Dependent
Enhacement (ADE).
30

b. Limfosit T baik T-helper (CD4) dan T-sitotoksik (CD8) berperan
dalam respon imun seluler terhadap virus dengue.
Diferensiasi T helper yaitu TH1 akan memproduksi interferon
gamma, IL-2 dan limfokom, sedangkan TH2 memproduksi IL-4, IL-
5, IL-6 dan IL-10.
c. Monosit dan makrofag berperan dalam fagositosis virus dengan
opsoniasi antibodi. Namun proses fagositosis ini menyebabkan
peningkatan replikasi virus dan sekresi sitokin oleh makrofag.
d. Selain itu aktivasi komplemen oleh kompleks imun menyebabkan
terbentuknya C3a dan C5a.
Halstead pada tahun 1973 mengajukan hipotesis secondary
heterologous infection yang menyatakan bahwa DHF terjadi bila
seseorang terinfeksi ulang oleh virus dengue dengan tipe yang berbeda.
Re-infeksi menyebabkan reaksi amnestik antibody sehingga
mengakibatkan konsentrasi kompleks imun yang tinggi.
Kurane dan Ennis pada tahun 1994 merangkum pendapat Halstead
dan peneliti lain, menyatakan bahwa infeksi virus dengue menyebabkan
aktivasi makrofag yang memfagositosis kompleks virus antibodi non
netralisasi sehingga virus bereplikasi di makrofag. terjadinya infeksi
makrofag oleh virus dengue menyebabkan aktivasi T-helper dan T-
sitotoksik sehingga diproduksi limfokin dan interferon gamma. Interferon
gamma akan mengaktivasi monosit sehingga disekresi berbagai mediator
inflamasi seperti TNF-a, IL-1, PAF (platelet activating factor), IL-6 dan
histamine yang mengakibatkan terjadinya disfungsi sel endotel dan
terjadi kebocoran plasma. Peningkatana C3a dan C5a terjadi melalui
aktivitasi oleh kompleks virus-antobodi yang mengakibatkan terjadinya
kebocoran plasma.
Trombositopenia pada infeksi dengue terjadi melalui mekanisme ;
a. Supresi sumsum tulang
b. Destruksi dan pemendekan masa hidup trombosit.
Gambar sumsum tulang pada fase awal infeksi (< 5 hari) menunjukan
keadaan hiposeluler dan supresi megakariosit. Setelah keadaan nadir
31

tercapai akan terjadi peningkatan proses hematopoiesis termasuk
megakariopoiesis.
Kadar tromboprotein dalam darah pada saat terjadi, hal ini
menunjukan terjadinya stimulasi trombopoiesis sebagai mekanisme
kompensasi terhadap keadaan trombositopenia. Detruksi trombosit terjadi
melalui pengikatan fragmen C3g, terdapatnya antibody VD, konsumsi
trombosit selama proses koagulopati dan sekuestrasi di perifer. Gangguan
fungsi trombosit terjadi melalui mekanisme gangguan pelepasan ADP,
peningkatan kadar b-tromboglobulin dan PF4 yang merupakan petanda
degranulasi trombosit.
Koagulopati terjadi sebagai interaksi virus dengan endotel yang
menyebabkan disfungsi endotel. Berbagai penelitian menunjukan
terjadinya koagulopati konsumtif pada demam berdarah dengue stadium
III dan IV. Aktivasi koagulasi pada demam berdarah dengue terjadi
melalui aktivasi jalur ekstrinsik (tissue factor pathway). Jalur intrinsic
juga berperan melalui aktivasi faktor Xia namun tidak melalui aktivasi
kontak (kalikrein CI-inhibitor complex).

Penyakit dimana mikroorganisme patogen ditularkan dari individu yang
terinfeksi lain dengan agen arthopoda yang berfungsi sebagai
perantara,khususnya nyamuk yang bertambah banyak karena adanya
perubahan iklim.
Taeniasis
- Etiologi : Taenia saginata
- Epidemiologi
T saginata sering ditemukan di negara yang penduduknya banyak
makan daging sapi atau kerbau.
- Penularan
Dari daging yang dimakan tersebut yaitu matang (well done), setengah
matang {medium) atau mentah (rare): dan cara memelihara ternak
memainkan peranan. Ternak yang dilepas di padang rumput lebih mudah
dihinggapi cacing gelembung,
32


daripada ternak yang dipelihara dan dirawat dengan baik di kandang lain
dengan mendmginkan daging sampai -10
c>
C, iradiasi dan memasak daging
sampai matang.
- Morfologi dan Daur Hidup
Taenia saginata adalah salah satu caci ng pi t a yang
berukuran besar dan panjang; terdiri atas kepala yang disebut
skoleks, leher dan strobila yang merupakan rangkaian ruas-ruas
proglotid, sebanyak 1000 - 2000 buah. Panjang cacing 4 - 1 2 meter atau
lebih. Skoleks hanya berukuran 1-2 milimeter, mempunyai empat batil isap
dengan otot-otot yang kuat, tanpa kait-kait.
Telur melekat di rumput bersama tinja, bila orang berdefekasi di
padang rumput; atau karena tinja yang hanyut dari sungai di waktu banjir.
Ternak yang makan rumput yang terkontaminssi dihinggapi cacing
gelembung, oleh karena telur yang tertelan dicerna dan embrio heksakan
menetas. Embrio heksakan di saluran pencernaan ternak menembus
dinding usus, masuk ke saluran getah bening atau darah dan ikut dengan
aliran darab ke jaringan ikal di sela-sela otot untuk tumbuh menjadi cacing
gelembung, disebut sistiserkus kovis, yaitu larva Taenia saginata. Peristiwa
ini terjadi seteiah 12-15 minggu.
Bagian tubuh ternak yang sering dihinggapi larva lersebut adalah
otot maseter, paha belakang dan punggung. Otot di bagian lain juga dapat
dihinggapi. Setelah 1 tahun cacing gelembung ini biasanya mengalami
degcncrasi, walaupun ada yang dapat hidup sampai 3 tahun
Bila cacing gclembung yang terdapat di daging sapi yang
dlmasak kurang matang termakan oleh manusia, skoleks-nya keiuar dari
cacing gelembung dengan cara evaginasi dan melckat pada rnukosa usus
halus, biasanya yeyimum. Cacing gelembung tersebut dalam waktu 8-10
minggu menjadi dewasa. Biasanya di rongga usus hospes terdapat seekor
cacing.


33

- Patogenesis
Cacing dewasa Taenia saginata, biasanya menyebabkan gejala klinis yang
ringan, seperti sakit ulu haii perut merasa tidak enak, mual, muntah, diare,
pusmg atau gugup. Gejala tersebut disertai dengan ditemukannya proglotid
cacing yang ber-gerak-gerak lewat dubur bersama dengan atau tanpa tinja.
Gejala yang lebih berat dapai terjadi, yah'u apabila proglotid masuk
apendiks, terjadi ileus yang disebabkan obstruksi usus oleh strobila cacing.
Berat badan tidak jclas menurun. Eosinofilia dapat ditemukan di darah
tepi.

Penyakit ini terjangkit karena makan yang diamakan mengandung parasit
karen tidak dimasak dengan sempurna

Sistiserkosis
- Etiologi : Taenia solium.
Hospes definitif T.solium adalah: manusia, sedangkan hospes perantaranyi
adalah babi. Manusia yang dihingga cacing dewasa Taenia solium, juga
raenjac hospes perantara cacing ini. Narna penyaK. yang disebabkan oleh
cacing dewas. adalah teniasis soiium dan yang disebabka: stadium larva
adalah sistiserkosis.
- Penularan
Dari daging yang dimakan tersebut yaitu matang (well done),
setengah matang {medium) atau mentah (rare): dan cara memelihara
ternak memainkan peranan. Ternak yang dilepas di padang rumput lebih
mudah dihinggapi cacing gelembung, daripada ternak yang dipelihara
dan dirawat dengan baik di kandane. lain dengan mendmginkan daging
sampai -10
c>
C, iradiasi dan memasak daging sampai matang.
- Morfologi dan Daur Hidup
Taenia solium, berukuran panjang 2-4 meter dan kadang-kadang
sampai 8 meter. Cacing ini seperti cacing Taenia saginata, terdiri dari
skoleks, leher dan strobila, yang terdiri atas 800-1000 ruas proglotid.
Skoleks yang bulat berukuran kira-kira I milimeter, mempunyai 4 buah
34

batil isap dengan rostelum yang mempunyai 2 baris kait-kait, masing-
masing sebanyak 25-30 buah. Strobiia terdiri atas rangkaian proglotid
yang belum dewasa (iraatur), dewasa (matur) dan mengandung telur
(gravid).
Proglotid gravid berisi 30.000-50.000 buah telur. Telurnya keluar
melalui celah robekan pada proglotid. Telur tersebut bila termakan oleh
hospes perantara yang sesuai, maka dindingnya dicerna dan embrio
heksakan keluar dari tslur, menembus dinding usus dan masuk ke
saluran getah bening atau darah. Embrio heksakan kemudian ikut aliran
darah dan mcnyangkut di jaringan otot babi. Embrio heksakan cacing
gelembung (sistiscrkus) babi, dapat dibedakan dari cacing gelembung
sapi, dengan adanya kait-kait di skoleks yang tunggal. Cacing gelembung
yang disebut sistiserkus selulose biasanya ditemukan pada otot lidah,
punggung dan pundak babi. Hospes perantara lain kecuali babi, adalah
monyetj unta, anjing, babi hutan, dornba, kucing, tikus dan manusia.
Larva tersebut berukuran 0,6-1.8 cm. Bila dagim-babi yang mengandung
larva sistiserkus dimakan setengah matang atau mentah oleh manusia,
dinding kista dicerna, skoleks evaeinasi yeyunum. Dalam waktu 3 bulm
tersebut menjadi dewasa dan melepaskan dengan telur.
- Epidemiologi
Walaupun cacing ini kosmopolit, kebiasaan hidup penduduk yang
dipengaruhi tradisi kebudayaan dan agama, memainkan peranan penting.
Biasanya penyakit ini ditemukan pada orang yang bukan beragama Islam.
Cara menyantap daging tersebut, yaitu matang, setengah matang,
atau mentah dan pengertian akan kebersihan atau higiene, memainkan
peranan penting dalam penularan cacing Taenia solium maupun
sistiserkus selulose. Pengobatan perorangan maupun pengobatan masal
harus dilaksanakan agar penderita tidak menjadi sumber infeksi bagi diri
sendiri maupun babi dan hewan lain seperti anjing.
Pendidikan mengenai kesehatan harus dirintis. Cara-cara temak babi
harus diperbaiki, agar tidak ada kontak dengan tinja manusia, sebaiknya
35

untuk ternak babi harus digunakan kandang yang bersih dan makanan
lemak yang sesuai.
- Patogenesis
Cacing dewasa, yang biasanya berjumlah seekor, tidak
menyebabkan gejala kiinis yang berarti. Bila ada, dapat berupanyeri ulu
hau, mencret mual, obstipasi dan sakit kcpala. Darah tepi dapat menunjuk-an
eosinofilia
Gejala klinis yang lebih berarti dan sering diderita, disebabkan oleh
larva yang disebut sistiserkosis. Infeksi ringan biasanya tidak menunjukkan
gejala, kecuali bila alat yang dihinggapi adalah alat tubuh yang penting.
manusia, sistiserkus atau larva sering menghinggapi jaringan subkutis, mata,
jaringan otak, otot, otot jantung, hati, paru dan rongga perut. Walaupun
sering dijumpai, kalsifikasi (perkapuran) pada sistiserkus tidak
menimbulkan gejala, akan tetapi sewaktu-waktu terdapat pseudohipertrofi
otot, disertai gejala miositis, demam tinggi dan eosinofilia.
Pada jaringan otak atau medula spinalis, sistiserkus jarang
mengalami kalsifikasi. Keadaan ini sering menimbulkan reaksi jaringan
dan dapat mengakibatkan serangan ayan (epilepsi), meningoensefalitis,
gejala yang disebabkan oleh tekanan intrakranial yang tinggi seperti nyeri
kepala dan kadang-kadang kelainan jiwa. Hidrosefalus internus dapat
teijadi, bila timbul sumbatan aliran cairan serebrospinal. Sebuah
sistiserkus tunggal yang ditemukan dalam ventrikel IV otak, dapat
menyebabkan kematian.

Ascariasis
- Etiologi : Ascaris lumbriocoides
- Epidemiologi
Hospes atau inang dari Askariasis adalah manusia. Di manusia,
larva Ascaris akan berkembang menjadi dewasa dan menagdakan kopulasi
serta akhirnya bertelur. Penyakit ini sifatnya kosmopolit, terdapat hampir
di seluruh dunia. Prevalensi askariasis sekitar 70-80%.

36


- Penularan
Pada tinja penderita askariasis yang membuang air tidak pada
tempatnya dapat mengandung telur askariasis yang telah dubuahi. Telur ini
akan matang dalam waktu 21 hari. bila terdapat orang lain yang
memegang tanah yang telah tercemar telur Ascaris dan tidak mencuci
tangannya, kemudian tanpa sengaja makan dan menelan telur Ascaris.
Telur akan masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi
larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh
darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan
kemudian di paru-paru.
Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke
bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali
masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing
dewasa.
Cacing akan menetap di usus dan kemudian berkopulasi dan
bertelur. Telur ini pada akhirnya akan keluar kembali bersama tinja. Siklus
pun akan terulang kembali bila penderita baru ini membuang tinjanya
tidak pada tempatnya.
- Pathogenesis
Ada dua fase ascariasis
a. fase perpindahan larva dari darah ke paru-paru. Selama
perpindahannya ke paru-paru larva menyebabkan pneumonia. Gejala
pneumonia ini adalah demam rendah, batuk, ada sedikit darah di
sputum, asma. Sejumlah bessar wanita, menigkat reaksi alerginya.
Umumnya ada eosinofil. Manifestasi klinik ini disebut juga Loefflers
syndrome
b. fase dewasa di usus. Adanya sedikit cacing dewasa di usus halus tidak
menghasilkan gejala, tapi bisa meningkatkan nyeri pada abdominal
yang samar-samar atau intermiten colic, terutama pada anak-anak.
Penyakit yang berat bisa menyebabkan malnutrisi. Manifestasi yang
lebih serius telah diteliti.
37

Penyebaran cacing dewasa bisa dihambat oleh lumen apendik atau
cairan empedu dan mengalami pervorasi pada dinding usus.
Komplikasi ascaraiasis bisa terjadi seperti obstruksi usus ,
apendikcitis, biliari ascariasis, perforasi usus, cholecystitis,
pancreatitis dan peritonitis dll.yang paling banyak adalah biliary
ascariasis.
- Hubungan dengan kesehatan lingkungan
Untuk menghindari penyakit ini, perlu diperhatikan higienisasi dari setiap
orang, dengan cara yang paling sederhana seperti cuci tangan sebelum
makan dan memakai sandal bila keluar rumah, dengan kegiatan itu saja
penularan dari penyakit ascariasis sudah dapat ditekan, dan diharapkan
penyakit lainpun dapat terhindarkan.
4. Penatalaksanaan
- Promotif
Pemberdayaan masyarakat dilingkungan kesehatan dengan memberikan
penyuluhan dan pendanaan masyarakat untuk fasilitas kesehatan. Sasaran
dari promosi kesehatan pada tingkat promotif ini adalah pada kelompok
orang yang sehat, dengan tujuan agar mereka mampu meningkatkan
kesehatannya, apabila kelompok ini tidak memperoleh kesehatan, maka
kelompok ini akan menurunkan jumalh orang yang sehat dan
meningkatkan jumlah orang yang sakit.
- Preventif
Disamping kelompok orang sehat, sasaran promosi kesehatan pada
tingkat ini adalah kelompok yang beresiko tinggi (high risk), misalnya
kelompok ibu hamil dan menyusui, para peokok, kelompok obesitas, pada
pekerja seks dan sebagainya. Tujuan dari promosi kesehatan pada tingkat
preventif ini adalah untuk mencegah kelompok tersebut agar tidak jatuh
atau menjadi terkena sakit (primary prevention).
Adapun cara untuk mencegah penyakit lingkungan dengan beberapa cara,
diantaranya :
38

Pembasmian binatang penyebar penyakit merupakan salah satu
cara untuk memutuskan rantai penularan, dalam rangka pencegahan
penyakit lingkungan. Usaha pencegahannya erat sekali hubungannya
dengan perbaikan cara pembuangan kotoran, sampah, air limbah, dan
perbaikan perumahan.
Mengenal dan mengetahui jenis pencemaran lingkungan pada
tingkat awal serta mengadakan penanggulangan yang tepat dan segera
dilakukan pemberantasan tingkat pencemaran seperti dilakukan fooging,
progam 3M, meniadakan air-air yang tergenang baik di tanah yang rendah
atau di kaleng-kaleng bekas, agar tidak ada nyamuk yang berkembang
biak, perbaikan hygiene lingkungan terutama perbaikan cara pembuangan
sampah dan kotoran, membunuh lalat dengan insectisida, memperbaikki
konstruksi rumah agar tidak ada tikus yang bersarang dan mengadakan
perangkat tikus didalam rumah.
- Kuratif
Sasaran promosi kesehatan tingkat ini adalah para penderita penyakit
(Pasien), terutama penderita penyakit kronis, seperti asma, diabetes, TBC,
rematik, hipertensi, dan sebagainya. Tujuan dari promosi tingkat ini adalah
agar kelompok ini mampu mencegah penyakit tersebut tidak lebih parah.
- Rehabilitatif
Promosi kesehatan tingkat ini mempunyai sasaran pokok kelompok
penderita atau pasien yang baru sembuh (recovery) dari suatu penyakit.
Tujuannya adalah agar mereka segera puih kembali kesehatannya, dengan
kata lain promosi kesehatan pada tahap ini adalah pemulihan dan
mencegah kecacatan.



39

5. Surveilans Epidemilogi
a. Definisi
Menurut WHO, surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan,
analisis dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta
penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat
mengambil tindakan. Oleh karena itu perlu dikembangkan suatu definisi
surveilans epidemiologi yang lebih mengedepankan analisis atau kajian
epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan
pentingnya kegiatan pengumpulan dan pengolahan data.
Menurut Karyadi (1994), surveilans epidemiologi adalah :
Pengumpulan data epidemiologi yang akan digunakan sebagai dasar dari
kegiatan-kegiatan dalam bidang penanggulangan penyakit
b. Tujuan
Tujuan surveilans epidemiologi yaitu :
1. Deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya
2. Perhitungan trend
3. Identifikasi pola penyakit
4. Identifikasi kelompok risiko tinggi menurut waktu, orang dan tempat
5. Identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya
6. Deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi
7. Dapat memonitoring kecenderungan penyakit endemis, mempelajari
riwayat alamiah penyakit dan epidemiologinya
8. Membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas dan prioritas
sasaran program pada tahap perencanaan.
Inti kegiatan surveilans pada akhirnya adalah bagaimana data yang
sudah dikumpul, dianalisis, dan dilaporkan ke pemegang kebijakan guna
ditindaklanjuti dalam pembuatan program intervensi yang lebih baik untuk
menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia.




40

c. Metode
Di dalam epidemiologi terdapat 2 tipe pokok pendekatan atau metode
yakni;

A. Epidemiologi deskriptif (descriptive epidemiology)
Di dalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi
penyakit berubah menurut perubahan variable-variable epidemiologi
yang terdiri dari orang (person), tempat (place) dan waktu (time).
Orang (Person)
Di sini akan dibicarakan peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial,
pekerjaan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga,
struktur keluarga dan paritas.
1. Umur
Umur adalah variable yang selalu diperhatikan di dalam
penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka
kesakitan maupun kematian di dalam hampir semua keadaan
menunjukkan hubungan dengan umur.
Dengan cara ini orang dapat membacanya dengan mudah
dan melihat pola kesakitan atau kematian menurut golongan
umur. Persoalan yang dihadapi adalah apakah umur yang
dilaporkan tepat, apakah panjangnya interval di dalam
pengelompokan cukup untuk tidak menyembunyikan peranan
umur pada pola kesakitan atau kematian dan apakah
pengelompokan umur dapat dibandingkan dengan
pengelompokan umur pada penelitian orang lain.
Di dalam mendapatkan laporan umur yang tepat pada
masyarakat pedesaan yang kebanyakan masih buta huruf
hendaknya memanfaatkan sumber infomasi seperti catatan
petugas agama, guru, lurah, dan sebagainya. Hal ini tentunya
tidak menjadi soal yang berat di kala mengumpulkan keterangan
umur bagi mereka yang telah bersekolah.
41

Untuk keperluan perbandingan maka WHO menganjurkan
pembagian-pembagian umur sebagai berikut:
a. Menurut tingkat kedewasaan:
0 - 14 tahun : bayi dan anak-anak.
15-49 tahun : orang muda dan dewasa
50 ahun ke atas : orang tua.
b. Interval 5 tahun:
Kurang dari 1 tahun
1 - 4,
5 - 9,
10 - 14, dan sebagainya.
c. Untuk mempelajari penyakit anak:
0 - 4 bulan
5 - 10 bulan
11-23 bulan
2 - 4 tahun
5 - 9 tahun
9 - 14 tahun

2. Jenis kelamin
Angka-angka dari luar negeri menunjukkan bahwa angka
kesakitan lebih tinggi di kalangan wanita sedangkan angka
kematian lebih tinggi di kalangan pria, juga pada semua
golongan umur. Untuk Indonesia masih perlu dipelajari lebih
lanjut. Perbedaan angka kematian ini, dapat disebabkan oleh
faktor-faktor intrinsik.
Yang pertama diduga meliputi faktor keturunan yang
terkait dengan jenis kelamin, atau perbedaan hormonal,
sedangkan yang kedua diduga oleh karena berperannya faktor-
faktor lingkungan (lebih banyak pria mengisap rokok, minum
minuman keras, candu, bekerja berat, berhadapan dengan
pekerjaan-pekerjaan berbahaya, dan seterusnya).
42

Sebab-sebab adanya angka kesakitan yang lebih tinggi di
kalangan wanita, di Amerika Serikat dihubungkan dengan
kemungkinan bahwa wanita lebih bebas untuk mencari
perawatan.
Terdapat indikasi bahwa kecuali untuk beberapa penyakit
alat kelamin, angka kematian untuk berbagai-bagai penyakit
lebih tinggi pada kalangan pria.
3. Kelas sosial
Kelas sosial adalah variabel yang sering pula dilihat
hubungannya dengan angka kesakitan atau kematian, variabel
ini menggambarkan tingkat kehidupan seseorang. Kelas sosial
ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan, pekerjaan,
penghasilan dan banyak contoh ditentukan pula tempat tinggal.
Karena hal-hal ini dapal mempengaruhi berbagai aspek
kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan, maka tidaklah
mengherankan apabila kita melihat perbedaan-perbedaan dalam
angka kesakitan atau kematian antara berbagai kelas sosial.
Masalah yang dihadapi di lapangan ialah bagaimana
mendapatkan indikator tunggal bagi kelas sosial. Di Inggris
penggolongan kelas sosial ini didasarkan atas dasar jenis
pekerjaan seseorang yakni I Profesional, II menengah, III tenaga
terampil, IV tenaga setengah terampil, dan V tidak mempunyai
keterampilan. Di Indonesia dewasa ini penggolongan seperti ini
sulit oleh karena jenis pekerjaan tidak memberi jaminan
perbedaan dalam penghasilan. Hubungan antara kelas sosial dan
angka kesakitan atau kematian kita dapai mempelajari pula
dalam hubungan dengan umur, kelamin.
4. Jenis pekerjaan
Jenis pekerjaan dapat berperan di dalam timbulnya
penyakit melalui beberapa jalan yakni:
a. Adanya faktor-faktor lingkungan yang langsung dapat
menimbulkan kesakitan seperti bahan-bahan kimia, gas -
43

gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang dapat
menimbulkan kecelakaan dan sebagainya.
b. Situasi pekerjaan yang penuh dengan stres (yang telah
dikenal sebagai faktor yang berperan pada
timbulnyanhipertensi, ulkus lambung).
c. Ada tidaknya "gerak badan" di dalam pekerjaan; di
Amerika Serikat ditunjukkan bahwa penyakit jantung
koroner sering ditemukan di kalangan mereka yang
mempunyai pekerjaan di mana kurang adanya "gerak
badan".
d. Karena berkerumun dalam satu tempat yang relatif sempit,
maka dapat terjadi proses penularan penyakit antara para
pekerja.
e. Penyakit karena cacing tambang telah lama diketahui terkait
dengan pekerjaan di tambang.
Penelitian mengenai hubungan jenis pekerjaan dan pola
kesakitan banyak dikerjakan di Indonesia terutama pola penyakit
kronis misalnya penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan
kanker.
Jenis pekerjaan apa saja yang hendak dipelajari
hubungannya dengan suatu penyakit dapat pula
memperhitungkan pengaruh variabel umur dan kelamin.
5. Penghasilan
Yang sering dilakukan ialah menilai hubungan antara
tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan
maupun pencegalian. Seseorang kurang memanfaatkan
pelayanan kesehatan yang ada mungkin olch karcna tidak
mempunyai cukup uang untuk mcinbeli obat, membayar
transport, dan sebagainya.
6. Golongan Etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda di dalam kebiasaan
makan, susunan gcnetika, gaya hidup, dan sebagainya yang
44

dapat mengakibatkan pcrbedaan-perbedaan di dalam angka
kesakitan atau kematian.
Di dalam mempcrbandingkan angka kesakitan atau
kematian suatu penyakit antar golongan etnik hendaknya diingat
kedua golongan itu hams dislandarisasikan menurut susunan
umur dan kelamin ataupun faktor-faktor lain yang dianggap
mempengamhi angka kesakitan dan kematian itu.
Penelitian pada golongan etnik dapat memberikan
keterangan mengenai pengaruh lingkungan terhadap timbulnya
suatu penyakit. Contoh yang klasik dalam hal ini ialah penelitian
mengenai angka kesakitan kanker lambung. Di dalam penelitian
mengenai penyakit ini di kalangan pcnduduk asli di Jepang dan
keturunan Jepang di Amerika Serikat, ternyata bahwa penyakit
ini menjadi kurang prevalen di kalangan turunan Jepang di
Amerika Serikat. Ini menunjukkan bahwa peranan lingkungan
penting di dalam ctiologi kanker lambung.
7. Status Perkawinan
Dan penelitian telah ditunjukkan hahwa terdapat hubungan
antara angka kesakitan maupun kematian dengan status kawin,
tidak kawin, cerai dan janda; angka kematian karena penyakit-
penyakit tertentu maupun kematian karena semua sebab makin
meninggi dalam urutan tertentu.
Di duga bahwa sebab-sebab angka kematian lebih tinggi
pada yang tidak kawin dibandingkan dengan yang kawin ialah
karena ada kecenderungan orang-orang yang tidak kawin kurang
sehat. Kecenderungan bagi orang-orang yang tidak kawin lebih
sering berhadapan dengan penyakit, atau karena adanya
perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang berhubungan
secara -kausal dengan penyebab penyakit-penyakit tertentu.



45

8. Besarnya keluarga
Di dalam keluarga besar dan miskin, anak-anak dapat
menderita oleh karena penghasilan keluarga harus digunakan
oleh banyak orang.
9. Struktur keluarga
Struktur keluarga dapal mempunyai pengaruh terhadap
kesakitan (seperti penyakit menular dan gangguan gizi) dan
pemanfaatan pelayanan kesehatan. Suatu keluarga besar karena
besarnya tanggungan secara relatif mungkin harus tinggal
berdesak-desakan di dalam rumah yang luasnya terbatas hingga
memudahkan penularan penyakit menular di kalangan anggota-
anggotanya karena persediaan harus digunakan unluk anggota
keluarga yang besar maka mungkin pula tidak dapat membeli
cukup makanan yang bernilai gizi cukup atau tidak dapak
memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia. dan sebagainya.
10. Paritas
Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti
dalam hubungan kesehatan si ibu maupun si anak. Dikatakan
umpamanya bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang
berparitas rendah lebih baik dari yang berparitas tinggi, terdapat
asosiasi antara tingkat paritas dan penyakit-penyakit tertentu
seperti asma bronchial, ulkus peptikum, pilorik stenosis dan
seterusnya. Tapi kesemuanya masih memerlukan penelitian
lebih lanjut.

Tempat (Place)
Pengetahuan mengenai distribusi geografis dari suatu penyakit
berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat
memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit.
Perbandingan pola penyakil sering dilakukan antara:
a. Batas daerah-daerah pemerintahan.
b. Kota dan pedesaan.
46

c. Daerah atau tempat berdasarkan batas-batas alam
(pegunungan,
sungai, laut atau padang pasir).
d. Negara-negara
e. "Regional"
Untuk kepentingan mendapatkan pengertian tentang etiologi
penyakit, perbandingan menurut batas-batas alam lebih berguna
daripada menurut batas -batas administrasi pemerintahan. Hal-hal
yang memberikan kekhususan pola penyakit di suatu daerah dengan
batas-batas alam ialah: Keadaan lingkungan yang khusus seperti
temperatur, kelembaban, turun hujan, ketinggian di atas permukaan
laut, keadaan tanah, sumber air, derajat isolasi terhadap pengaruh
luar yang tergambar dalam tingkat kemajuan ekonomi, pendidikan,
industri, pelayanan kesehatan, bertahannya tradisi-tradisi yang
merupakan hambatan-hambatan pembangunan, faktor-faktor sosial
budaya yang tidak mcnguntungkan kesehatan atau pengembangan
kesehatan, sifat-sifat lingkungan biologis (ada tidaknya vektor
penyakit menular tertentu, reservoir penyakit menular tertentu, dan
susunan genetika), dan sebagainya.
Pentingnya peranan tempat di dalam niempelajari etiologi suatu
penyakit menular dapat digambar dengan jelas pada penyelidikan
suatu wabah.
Di dalam membicarakan perbedaan pola penyakit antara kota
dan pedesaan, faktor-faktor yang baru saja disebutkan di atas perlu
pula diperhatikan. Hal lain yang perlu diperhatikan sclanjulnya ialah
akibat migrasi ke kola alau ke desa terhadap pola penyakit, di kota
maupun di desa itu sendiri.
Migrasi antar desa tentunya dapat pula membawa akibat
terhadap pola dan penyebaran penyakit menular di desa-desa yang
bersangkutan maupun desa-desa di sekitarnya.
Peranan migrasi atau mobilitas geografis di dalam mengubah
pola penyakit di berbagai daerah menjadi lebih penting dengan
47

makin lancarnya perhubungan darat, udara, dan laut; lihatlah
umpamanya penyakit demam bcrdarah
Pentingnya pengetahuan mengenai tempat dalam mempelajari
etiologi suatu penyakit dapat digambarkan dengan jelas para
penyelidikan suatu wabah dan pada penyelidikan-penyelidikan
mengenai kaum migran. Di dalam memperbandingkan angka
kesakitan atau kematian antar daerah (tempat) perlu diperhatikan
terlebih dahulu di tiap-tiap daerah (tempat):
a. Susunan umur.
b. Susunan kelamin.
c. Kualitas data
d. Derajat representatif dari data terhadap seluruh penduduk.
Walaupun lelah diadakan standarisasi berdasarkan umur dan
jenis kelamin, memperbandingkan pola panyakit antar daerah di
Indonesia dengan menggunakan data yang berasal dari fasilitas-
fasilitas kesehatan, harus dilaksanakan dengan hati-hati, sebab data
tersebut belum tentu representatif dan baik kualitasnya.
Variasi geografis pada terjadinya beberapa penyakit atau
keadaan lain mungkin berhubungan dengan satu atau lebih dari
beberapa faktor sebagai berikut:
a. Lingkungan fisis. kemis, biologis, sosial dan ekonomi yang
berbeda-
beda dari suatu tempat ke tempat lainnya.
b. Konstitusi genetis dan etnis dari penduduk yang berbeda,
bervariasi
seperti karakteristik demografi.
c. Variasi kultural terjadi dalam kebiasaan, pekerjaan, keluarga,
praktek
higiene perorangan, dan bahkan persepsi tentang sakit dan sehat.
d. Variasi administratif termasuk faktor-laktor seperti tersedianya
dan efisiensi pelayanan medis, program higiene (sanitasi) dan
lain-lain.
48

Banyaknya penyakit hanya berpengaruh pada daerah tertentu.
Misalnya penyakit demam kuning, kebanyakan terdapat di Amerika
Latin. Distribusinya disebabkan oleh adanya "resorvoir" infeksi
(manusia atau kera), vektor (yaitu Aedes aegypti), penduduk yang
rentan dan keadaan iklim yang memungkinkan suhumya agen
penyebab penyakit. Daerah di mana vektor dan persyaratan iklim
ditemukan, tetapi tak ada sumber infeksi, disebut "receptive area"
untuk demam kuning.
Contoh-contoh penyakit lainnya yang terbatas pada daerah
tertentu atau yang frekuensinya tinggi pada daerah tertentu, misalnya
Schistosomiasis di daerah di mana terdapat vektor snail atau keong
(Lembah Nil, Jepang); gondok endemik (endemic goiter) di daerah
yang kekurangan zat yodium.

Waktu (Time)
Mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan
kebutuhan dasar di dalam analisis epidemiologis, oleh karena
perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya
perubahan faktor-faktor etiologis. Melihat panjangnya waktu di
mana terjadi perubahan angka kesakitan, maka dibedakan (1)
fluktuasi jangka pendek, di mana perubahan angka kesakitan
berlangsung beberapa jam, hari, minggu, dan bulan. (2) perubahan-
perubahan secara siklus di mana perubahan-perubahan angka
kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan antara beberapa hari,
beberapa bulan (musiman), tahunan, beberapa tahun, dan (3)
perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam
periode waktu yang panjang, bertahun-tahun atau berpuluhan tahun,
yang disebut "secular trends".
Fluktuasi jangka pendek
Pola perubahan kcsakitan ini terlihat pada epidemi umpamanya
epidemi keracunan makanan (beberapa jam), epidemi influenza
(beberapa hari atau minggu), epidemi cacar (beberapa bulan).
49

Fluktuasi jangka pendek alau epidemi ini memberikan
petunjuk bahwa:
a. Penderita-penderita terserang penyakit yang sama dalam
waktu
bersamaan atau hampir bersamaan.
b. Waktu inkubasi rata-rata pendek.

Perubahan-perubahan secara siklus
Perubahan secara siklus ini didapatkan pada keadaan di mana
timbulnya dan memuncaknya angka-angka kesakitan atau kematian
terjadi berulang-ulang tiap beberapa bulan, tiap tahun, atau tiap
beberapa tahun. Peristiwa semacam ini dapat terjadi baik pada
penyakit infeksi maupun pada penyakit bukan infeksi.
Timbulnya atau memuncaknya angka kesakitan atau kematian
suatu penyakit yang ditularkan melalui vektor secara siklus ini
adalah berhubungan dengan (1) ada tidaknya keadaan yang
memungkinkan transmisi penyakit oleh vektor yang bersangkutan,
yakni apakah temperatur dan kelembaban memungkinkan transmisi.
(2) adanya tempat perkembangbiakan alami dari vektor sedemikian
banyak untuk menjamin adanya kepadatan vektor yang perlu dalam
transmisi. (3) selalu adanya kerentanan dan atau (4) adanya kegiatan-
kegiatan berkala dari orang-orang yang rentan yang menyebabkan
mereka terserang oleh "vektor borne disease" tertentu. (5) tetapnya
kemampuan agen infeksi unluk menimbulkan penyakit. (6) adanya
faklor-faktor lain yang bclum diketahui. Hilangnya atau berubahnya
siklus berarti adanya perubahan dari salah satu atau lebih hal-hal
tersebut di atas.
Penjelasan mengenai timbulnya atau memuncaknya penyakit
menular yang berdasarkan pengetahuan yang kita kenal sebagai
bukan vektor borne secara siklis masih jauh lcbih kurang
dibandingkan dengan vektor borne diseases yang lelah kita kenal.
Sebagai contoh, belum dapat diterangkan sccara pasti mengapa
50

wabah influenza A bertendensi untuk timbul sctiap 2-3 tahun,
mengapa influenza B timbul setiap 4-6 tahun, mengapa wabah
campak timbul 2 - 3 tahun (di Amerika Serikat)
Sebagai salah satu sebab yang disebutkan ialah berkurangnya
penduduk yang kebal (meningkatnya kerentanan) dengan asumsi
faktor-faktor lain tetap. Banyak penyakit-penyakit yang belum
diketahui etiologinya menunjukkan variasi angka kesakitan secara
bermusim. Tentunya observasi ini dapat membantu di dalam
memulai diicarinya etiologj penyakit-penyakit tersebut dengan
catatan-catatan bahwa interpretasinya sulit karena banyak keadaan-
keadaan yang berperan terhadap timbulnya penyakit juga ikut
berubah pada perubahan musim, perubahan populasi hewan,
perubahan tumbuh-tumbuhan yang berperan tempat
pcrkembangbiakan, perubahan dalam susunan reservoir penyakit,
perubahan dalam susunan reservoir penyakit, perubahan dalam
berbagai aspek perilaku manusia seperti yang menyangkut
pekerjaan, makanan, rekreasi dan sebagainya.
Sebab-sebab timbulnya dan memuncaknya beberapa penyakit
karena gangguan gizi secara bermusim belum dapat diterangkan
secara jelas. Variasi musiman ini telah dihubung-hubungkan dengan
perubahan secara bermusim dari produksi, distribusi dan konsumsi
dari bahan-bahan makanan yang mengandung bahan yang
dibutuhkan untuk pemeliharaan gizi, maupun keadaan kesehatan
individu-individu terutama dalam hubungan dengan penyakit-
penyakit infeksi dan scbagainya.

B. Epidemiologi Analitik (Analytic epidemiology)
Pendekatan atau studi ini dipergunakan untuk menguji data serta
informasi-informasi yang diperoleh studi epidemiologi deskriptif.
Ada tiga studi tentang epidemiologi ini:


51

1. Studi riwayat kasus (case history studies).
Dalam studi ini akan dibandingkan antara dua kelompok orang.
yakni kelompok yang terkena penyebab penyakit dengan kelompok
orang tidak terkena (kelompok konlrol).
2. Studi Kohort (kohort studies)
Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exposed) pada suatu
penyebab penyakil (agent). Kemudian diambil sekelompok orang
lagi yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok
pcrtama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada penyebab
penyakit. Kelompok kedua ini disebut kclompok kontrol. Setelah
beberapa saat yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut
dibandingkan, dicari perbedaan antara kedua kelompok tersebut
bermakna atau tidak.

C. Epidemiologi eksprimen
Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan)
kepada kelompok subjek, kemudian dibandingkan dengan kelompok
kontrol (yang tidak dikenakan percobaan).

d. Pengukuran Epidemiologi
Bagian dari epidemiologi yang bertujuan melihat bagaimana
penyebaran kesakitan dan kematian menurut sifat-sifat orang, tempat dan
waktu. Di dalam uraian ini akan diuraikan berbagai ukuran kesakitan dan
kematian yang lazim dipakai dalam survei atau penyelidikan-penyelidikan
epidemiologi. Ukuran dasar yang akan dibicarakan di sini adalah "rate".
Dalam hubungan dengan kesakitan akan dibicarakan insidence rate,
prevalence rate (point period prevalence rate), attack rate, dan dalam
hubungan dengan kematian akan dibicarakan crude death rate, disease
specific fatality rate dan adjusted death rate. Sebelum membicarakan
masing-masing rale tersebut di atas perlu dikemukakan hal-hal sebagai
bcrikut:
52

1. Untuk penyusunan rate dibutuhkan tiga elemen yakni (a) jumlah orang
yang terserang penyakit atau yang meninggal, (b) jumlah penduduk
dari mana penderita berasal (reference population) dan (c) waktu atau
periode di mana orang-orang terserang penyakit.
2. Apabila pembilang (terbatas pada umur, sex atau golongan terentu
maka penyebut juga harus terbalas pada umur, sex atau golongan yang
sama.
3. Bila penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau
terjangkit penyakit, maka penyebut tersebut dinamakan populasi yang
mempunyai risiko (population at risk).

a. Incidence Rate
Incidence rate dari suatu penyakit tertentu adalah jumlah kasus
baru yang terjadi di kalangan penduduk selama periode waklu tertentu.







Catatan :
1. Di dalam mempelajari incidence diperlukan penentuan waktu atau
saat timbulnya penyakit. Bagi penyakit-penyakit yang akut seperti
influenza, infeksi staphylocacus, gastroenteritis; acute myocardial
infarction, dan "cerebral hermorrhage", penentuan incidence rate
ini tidak begitu sulit berhubung, waktu terjadinya dapat diketahui
secara pasti atau mendekati pasti. Lain halnya dengan penyakit di
mana timbulnya tidak jelas di sini, waktu ditegakkan "diagnosis
pasti" diartikan scbagai waktu mulai penyakit.
2. Incidence rate selalu dinyatakan dalam hubungan dengan periode
waktu tertentu seperti bulan, tahun dan seterusnya. Apabila
penduduk berada dalam ancaman diserangnya penyakit hanya
untuk waktu yang terbatas (seperti hanya dalam epidemi suatu
penyakit infeksi), maka periode waktu terjadinya kasus-kasus baru
53

adalah sama dengan lamanya epidemi. Incidence rate pada suatu
epidemi disebut attack rate.

b. Attack Rate







Catatan :
1. Untuk penyakit yang jarang maka incidence rate dihitung untuk
periode waktu bertahun-lahun. Di dalam periode waktu yang
panjang ini penyebut dapat berubah karena dalam waktu ini jumlah
populasi yang mempunyai risiko juga dapat bcrubah.
2. Pengetahuan mengenai incidence rate adalah berguna sekali di
dalam mcmpelajari faktor-faktor etiologi dari penyakit yang akut
maupun kronis. Incidence rate adalah satu ukuran langsung dari
kemungkinan (probabilitas) untuk menjadi sakit. Dengan
membandingkan incidence rate suatu penyakit dari berbagai
penduduk yang berbeda di dalam satu atau lebih faktor
(keadaan) maka kita dapat memperoleh keterangan faktor mana
yang menjadi faktor risiko dari penyakit bersangkutan. Kegunaan
seperti ini tidak dipunyai oleh prevalence rate.

c. Prevalence Rate
Prevalence rate mengukur jumlah orang di kalangan penduduk
yang menderita suatu penyakit pada satu titik waktu tertentu.










54

Catatan :
1. Prevalence rate bergantung pada dua faktor (a) berupa jumlah
orang yang telah sakit pada waktu yang lalu dan (b) lamanya
menderita sakit.
2. Prevalence (terutama unluk penyakit kronis) penting untuk
perencanaan kebutuhan fasilitas, tenaga, dan pemberantasan
penyakit. Prevalence yang dibicarakan di atas "point" prevalence.
Jenis ukuran lain yang juga digunakan ialah period prevalence.

d. Period Prevalensi







Period prevalence terbentuk dari prevalence pada suatu titik waktu
ditambah kasus-kasus baru (insidence), dan kasus-kasus yang kambuh
selama periode observasi.

e. Crude Death Rate (CDR)








Catatan :
1. Jumlah penduduk di sini bukanlah merupakan penyebut yang
sebenarnya oleh karena berbagai golongan umur mempunyai
kemungkinan mati yang berbeda-beda, sehingga perbedaan dalam
susunan umur antara beberapa penducluk akan menyebabkan
perbedaan-perbedaan. Dalam crude death rate mcskipun rate
untuk berbagai golongan umur sama.
55

2. Kekurangan-kekurangan dari crude death rate ini adalah (1) terlalu
menyederhanakan pola yang kompleks dari rate, dan (2)
penggunaannya dalam perbandingan angka kemalian antar berbagai
penduduk yang mempunyai susunan umur yang berbeda-beda,
tidak dapat secara langsung melainkan harus melalui prosedur
penyesuaian (adjusment).
3. Meskipun mempunyai kekurangan-kekurangan tersebut di atas
crude death rate ini digunakan secara luas oleh karena (a) sifatnya
yang merupakan "summary rate" dan (b) dapat dihilung dengan
adanya informasi yang
minimal.
4. Crude death rate digunakan untuk perbandingan-perbandingan
menurut waktu dan perbandingan-perbandingan internasional.
5. Untuk penyelidikan epidemiologi akan dipcrlukan "summary rate"
yang tidak mempunyai kelemahan-kelemahan seperti crude rate.
Rate seperti diperoleh dengan mengadakan penyesuaian pada
susunan umur dari berbagai penduduk yang akan
diperbandingkan angka kematiannya, dengan sendirinya
"Adjustment rate" ini adalah fiktif.

f. Age Specific Death Rate (Angka Kematian pada Umur Tertentu)







g. Cause Disease Specific Death Rate (Angka Kematian Akibat
Penyakit Tertentu)








56




Pengukuran dapat dilakukan dengan pengumpulan dan pengolahan data
yaitu :
1. Monitoring :
Penilaian status kesehatan
Evaluasi intervensi
Penilaian secara terus menerus program pelayanan kesehatan atau
profesi kesehatan
2. Survei
Kegiatan pengumpulan informasi yang berasal dari populasi dan
sampel
Dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara untuk
mengetahui : siapa mereka, apa yang mereka pikir, rasakan atau
kecenderungan suatau tindakan yang menimbulkan risiko.

6. Epidemiologi Penyakit Menular
a) Konsep Dasar Terjadinya Penyakit
Suatu penyakit timbul akibat dari beroperasinya berbagai faktor baik dari
agen, induk semang atau lingkungan. Bentuk ini tergambar didalam istilah
yang dikenal luas dewasa ini. Yaitu penyebab majemuk (multiple
causation of disease) sebagai lawan dari penyebab tunggal (single
causation).
b) Penyakit Menular
Yang dimaksud penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan
(berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain, baik secara langsung
maupun melalui perantara). Penyakit menular ini ditandai dengan adanya
(hadirnya) agen atau penyebab penyakit yang hidup dan dapat berpindah.
Suatu penyakit dapat menular dari orang yang satu kepada yang lain
57

ditentukan oleh 3 faktor tersebut diatas, yakni :

a. Agen (penyebab penyakit)
b. Host (induk semang)
c. Route of transmission (jalannya penularan)
- Agen-Agen Infeksi (Penyebab Infeksi)
Makhluk hidup sebagai pemegang peranan penting didalam epidemiologi
yang merupakan penyebab penyakit dapat dikelompokkan menjadi :
a. Golongan virus, misalnya influenza, trachoma, cacar dan sebagainya.
b. Golongan riketsia, misalnya typhus.
c. Golongan bakteri, misalnya disentri.
d. Golongan protozoa, misalnya malaria, filaria, schistosoma dan
sebagainya.
e. Golongan jamur, yakni bermacam-macam panu, kurap dan sebagainya.
f. Golongan cacing, yakni bermacam-macam cacing perut seperti ascaris
(cacing
gelang), cacing kremi, cacing pita, cacing tambang dan sebagainya.
Agar agen atau penyebab penyakit menular ini tetap hidup (survive) maka
perlu persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
a. Berkembang biak
b. Bergerak atau berpindah dari induk semang
c. Mencapai induk semang baru
d. Menginfeksi induk semang baru tersebut.
Kemampuan agen penyakit ini untuk tetap hidup pada lingkungan
manusia adalah suatu faktor penting didalam epidemiologi infeksi. Setiap
bibit penyakit (penyebab penyakit) mempunyai habitat sendiri-sendiri
sehingga ia dapat tetap hidup.
Dari sini timbul istilah reservoar yang diartikan sebagai berikut 1)
habitat dimana bibit penyakit tersebut hidup dan berkembang 2) survival
dimana bibit penyakit tersebut sangat tergantung pada habitat sehingga ia
dapat tetap hidup. Reservoar tersebut dapat berupa manusia, binatang atau
benda-benda mati.
58


Reservoar didalam Manusia
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar didalam tubuh
manusia antara lain campak (measles), cacar air (small pox), typhus
(typhoid), miningitis, gonoirhoea dan syphilis. Manusia sebagai reservoar
dapat menjadi kasus yang aktif dan carrier.

Carrier
Carrier adalah orang yang mempunyai bibit penyakit didalam
tubuhnya tanpa menunjukkan adanya gejala penyakit tetapi orang tersebut
dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Convalescant carriers
adalah orang yang masih mengandung bibit penyakit setelah sembuh dari
suatu penyakit.
Carriers adalah sangat penting dalam epidemiologi penyakit-
penyakit polio, typhoid, meningococal meningitis dan amoebiasis. Hal ini
disebabkan karena :
a. Jumlah (banyaknya carriers jauh lebih banyak daripada orang yang
sakitnya
sendiri).
b. Carriers maupun orang yang ditulari sama sekali tidak tahu bahwa
mereka
menderita / kena penyakit.
c. Carriers tidak menurunkan kesehatannya karena masih dapat
melakukan
pekerjaan sehari-hari.
d. Carriers mungkin sebagai sumber infeksi untuk jangka waktu yang
relatif lama.

Reservoar pada Binatang
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar pada binatang pada
umumnya adalah penyakit zoonosis. Zoonosis adalah penyakit pada
binatang vertebrata yang dapat menular pada manusia.
59

Penularan penyakit-penyakit pada binatang ini melalui berbagai cara,
yakni :
a. Orang makan daging binatang yang menderita penyakit, misalnya
cacing pita.
b. Melalui gigitan binatang sebagai vektornya, misalnya pes melalui pinjal
tikus,
malaria, filariasis, demam berdarah melalui gigitan nyamuk.
c. Binatang penderita penyakit langsung menggigit orang misalnya rabies.
Benda-Benda Mati sebagai Reservoar
Penyakit-penyakit yang mempunyai reservoar pada benda-benda
mati pada dasarnya adalah saprofit hidup dalam tanah. Pada umumnya
bibit penyakit ini berkembang biak pada lingkungan yang cocok
untuknya. Oleh karena itu bila terjadi perubahan temperatur atau
kelembaban dari kondisi dimana ia dapat hidup maka ia berkembang biak
dan siap infektif. Contoh clostridium tetani penyebab tetanus, C.
botulinum penyebab keracunan makanan dan sebagainya.
c) Macam-Macam Penularan (Mode of Transmission)
Mode penularan adalah suatu mekanisme dimana agen / penyebab penyakit
tersebut ditularkan dari orang ke orang lain atau dari reservoar kepada induk
semang baru. Penularan ini melalui berbagai cara antara lain :
- Kontak (Contact)
Kontak disini dapat terjadi kontak langsung maupun kontak tidak
langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi. Penyakit-penyakit
yang ditularkan melalui kontak langsung ini pada umumnya terjadi pada
masyarakat yang hidup berjubel. Oleh karena itu lebih cenderung terjadi
di kota daripada di desa yang penduduknya masih jarang
- Inhalasi (Inhalation)
Yaitu penularan melalui udara / pernapasan. Oleh karena itu ventilasi
rumah yang kurang, berjejalan (over crowding) dan tempat-tempat umum
adalah faktor yang sangat penting didalam epidemiologi penyakit ini.
60

Penyakit yang ditularkan melalui udara ini sering disebut air borne
infection (penyakit yang ditularkan melalui udara).
- Infeksi
Penularan melalui tangan, makanan dan minuman.
- Penetrasi pada Kulit
Hal ini dapat langsung oleh organisme itu sendiri. Penetrasi pada kulit
misalnya cacing tambang, melalui gigitan vektor misalnya malaria atau
melalui luka, misalnya tetanus.
- Infeksi Melalui Plasenta
Yakni infeksi yang diperoleh melalui plasenta dari ibu penderita penyakit
pada waktu mengandung, misalnya syphilis dan toxoplasmosis.
7.Siapa yang melakukan survey tersebut
- Unit surveilans epidemiologi pusat
- Unit pelaksanaan teknik pusat
- Badan penelitian dan pengembangan kesehatan
- Unit surveillans epidemiologi provinsi
- Unit pelaksanaan teknik provinsi
- Rumah sakit provinsi
- Laboratorium kesehatan provinsi
- Unit surveillan kabupaten atau kota
- Rumah sakit kabupaten atau kota
- Puskesmas










61

Kesimpulan

Dari kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa penyakit lingkungan
diakibatkan dari masalah kebersihan setiap orang, bagaimana setiap orang itu
menjaga kebersihan diri sendirinya dan orang sekitarnya juga, kesehatan yang
berada di masyarakat itu sendiri serta didukung oleh perubahan iklim dan
lingkungan yang terjadi sehingga penyebaran penyakit secara cepat yang
disebabkan baik itu oleh bakteri, virus dan parasit. Selain dari itu juga, dari para
petugas kesehatan yang kurang dalam memberikan penyuluhan kepada
masyarakat yang dalam prosesnya mengalami kekurangan baik itu dalam hal
sarana maupun prasarananya. Akan tetapi yang paling utama adalah kesadaran
masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus melakukan pencegahan
terhadap berbagai penyakit lingkungan yang terjadi.























62

Daftar Pustaka
Hanafiah Jusuf M, Amir Amri. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan
Edisi 3. Jakarta. EGC.
Pickett George, Hanion John J. 2009. Kesehatan Masyarakat Administrasi dan
Praktik Edisi 9. Jakarta. EGC
http://www.who.int/topics/diarrhoea/en/ (WHO 2012 Diare)
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/index.html (WHO 2012
Penyakit diare Agustus 2009 )
Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. 2007 Robbins Buku Ajar Patologi: Paru dan
Saluran Napas Atas. Edisi 7. EGC. Jakarta
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/index.html (WHO 2012
Tuberkulosis)
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003