Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIUM

TEKNIK PENGUJIAN MUTU HASIL PERIKANAN


Uji Scoring





Disusun oleh:
SHELICA ANGGRAINI
11/312868/PN/12259




LABORATORIUM TEKNOLOGI IKAN
JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014




I. PENDAHULUAN
A. Tinjauan Pustaka
Uji skoring disebut juga uji pemberian skor, maksudnya memberikan angka nilai atau
menetapkan nilai mutu sensorik terhadap bahan yang diuji pada jenjang mutu atau tingkat skala
hedonik. Tingkat skala mutu ini dapat dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan skala mutu yang
sudah menjadi baku. Untuk memudahkan menangkap pengertian, digunakan contoh dalam
memberikan ujian anak sekolah atau mahasiswa. Uji skoring dapat dilakukan pada penilaian sifat
sensorik yang spesifik seperti warna merah pada tomat, rasa langu pada hasil olahan kedelai, atau
sifat sensorik umum seperti sifat hedonik atau juga sifat sensorik kolektif seperti pengawasan
mutu komoditi. Seperti halnya pada skala mutu, pemberian skor dapat juga dikaitkan dengan
skala hedonik. Banyaknya skala hedonic tergantung dari tingkat perbedaan yang ada dan juga
tingkat kelas yang dikehendaki. Dalam pemberian skor, besarnya skor tergantung pada
kepraktisan dan kemudahan pengolahan atau interpretasi dat. Banyaknya skala hedonik biasanya
dibuat dalam jumlah tidak terlalu besar, biasanya antara 1-10. Untuk skor hedonik biasanya
dipilih jumlah ganjil (Anonim. 2006). Pemberian skor kadang-kadang menggunakan nilai positif
dan negatif. Nilai positif dapat diberikan untuk skala di atas titik balik atau titik netral, nilai
negatif untuk di bawah netral. Hal ini menghasilkan skor yang disebut skor simetrik.
Uji skoring dilakukan dengan menggunakan pendekatan skala atau skor yang
dihubungkan dengan deskripsi tertentu dari atribut mutu produk. Pada sistem skoring, angka
digunakan untuk menilai intensitas produk dengan susunan meningkat atau menurun. Uji skoring
dilakukan setelah terlebih dahulu diadakan penyeleksian panelis terlatih, yakni dengan uji
triangle. Uji skor juga disebut pemberian skor. Pemberian skor adalah memberikan angka nilai
atau menetapkan nilai mutu sensorik terhadap bahan yang diuji pada jenjang mutu atau tingkat
skala hedonik. Tingkat skala mutu ini dapat dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan skala mutu
yang sudah menjadi baku. Uji skoring merupakan pengujian dengan menggunakan skala angka 1
sebagai nilai terendah dan angka 7 sebagai nilai tertinggi (1-2-3-4-5-6-7). Skala angka dan
spesifikasi ini dicantumkan dalam scoresheet (Soekarto, 1985) .
Pentingnya uji inderawi, khususnya uji skoring dalam bidangteknologi pangan adalah
pemeriksaan mutu kualitas, pengendalian proses,dan pengembangan produk. Salah satu bagian
dari uji inderawi adalah ujiskoring. Pada dasarnya penentuan uji skoring merupakan uji
pembedaan. Ujiskoring merupakan uji kemampuan dalam memberikan penilaian sampel berdasa
rkan intensitas atribut atau sifat yang dinilai.



B. Tujuan
Mahasiswamampu membuat tabulasi data dari hasil seleksi panelis
Mahasiswa mampu menganalisa data menggunakan analisa varian dandiskriptif .

II. METODE PRAKTIKUM

A. Alat
1. Alat tulis
2. Lembar penilaian (scoresheet)
3. Cup plastik
4. Tissue

B. Bahan
1. Sampel bakso (2 sampel dengan tingkat kekenyalan yang sama dan 1 sampel dengan
tingkat kekenyalan yang berbeda)
2. aqua gelas
3. permen fox dan permen yupi

C. Cara Kerja
1. Penyaji menyiapkan 3 buah bakso yang disajikan dalam cup plastik. Masing-masing
cup plastik diberi kode yang terdiri dari 3 angka acak. Selain itu disediakan control
atau bahan pembanding berupa permen yupi sebagai intensitas baku penilaian
terhadap kekenyalan, dan permen fox sebagai intensitas baku kekerasan dari bakso
tersebut.
2. Masing-masing panelis diberikan 3 gelas uji beserta scoresheet.
3. Masing-masing panelis diminta menetukan intensitas kekenyalan dan kekerasan bakso
yang berbeda tingkat .
4. panelis diminta memberi tanda pada score sheet yang sudah terdapat rentang angka
dari 1-7 dimana skala tersebut menunjukkan karakteristik bakso paling kenyal hingga
paling keras.
5. Mekanismenya panelis masuk keruangan uji.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
TABEL UJI SKORING
No Nama Panelis Kode Sampel
449 494 949 sigma Yj sigma Yj/3
1 Theodora 2 3 1 6 12,0
2 RR. Okky 7 6 3 16 85,3
3 Shelica 5 6 1 12 48,0
4 Fajar 5 6 2 13 56,3
5 Fitria 7 6 2 15 75,0
6 Istiqomah 2 5 6 13 56,3
7 Rani 7 6 2 15 75,0
8 Megadian 5 5 3 13 56,3
9 Restu 4 5 3 12 48,0
10 Rizky 4 5 3 12 48,0
11 Bimo 5 4 3 12 48,0
12 Zulfikar 5 6 3 14 65,3
13 Pandu 2 4 5 11 40,3
14 Agung 3 4 2 9 27,0
15 Halimah 3 5 1 9 27,0
16 Mirna 3 5 2 10 33,3
sigma Yi kuadrat 343 423 138 192 801,3
sigma Yi kuadrat/16 21,44 26,44 8,63 12,00
sigma Yi 69 81 42
sigma Yi kuadrat/16 297,56 410,06 110,25 817,88

ni = panelis x sampel = 16 x 3 = 48



(


)
(

)


(

)
(

)




ANOVA
Sumber
Varian
df JK KT F hitung F tabel
(sig. 0,05)
Panelis 15 33.3 2.222 1.263 3,204
Sampel 2 49.875 24.938 14.171
Error 30 52.8 1.760
Total 47 136





ANOVA

Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between Groups 49,875 2 24,9375 13,0297533
3,434E-
05 3,204317292
Within Groups 86,125 45 1,913889


Total 136 47

Ho= Semua sampel memiliki kekenyalan yang sama
H
1
= Setiap sampel memiliki kekenyalan yang berbeda
Kesimpulan:
Berdasarkan tabel ANOVA di atas, bahwa Fhitung (14.171) > Ftabel (3,204), sehingga
kesimpulannya terdapat beda nyata. Jadi, perlu dilakukan uji lanjutan SNK.


UJI LANJUT SNK




= 0,331
SNK= q (a,v,t) x Sx
p 2 3
q (a,v,t) 2,89 3,49
SNK 0,958 1,157



Perbandingan
Selisih nilai
rata2
|selisih| SNK Kesimpulan
449 vs 494 -0,75 0,75 0,958
Tidak ada beda
nyata
449 vs 949 1,6875 1,6875 1,157 ada beda nyata
494 vs 949 2,4375 2,4375 0,958 Ada beda nyata

Ho : tidak ada beda nyata
Hi : ada beda nyata

Pengambilan keputusan
Jika |selisih|>SNK maka Ho ditolak
Jika |selisih|< SNK maka Ho diterima

Kesimpulan:
1. Tidak terdapat beda nyata pada sampel bakso 449 dan 494
2. Tidak terdapat beda nyata pada sampel bakso 449 dan 949
3. Ada beda nyata pada sampel bakso 494 dan 949
Uji skoring disebut juga uji pemberian skor, maksudnya memberikan angka nilai atau
menetapkan nilai mutu sensorik terhadap bahan yang diuji pada jenjang mutu atau tingkat skala
hedonik. Tingkat skala mutu ini dapat dinyatakan dalam ungkapan-ungkapan skala mutu yang
sudah menjadi baku. Untuk memudahkan menangkap pengertian, digunakan contoh dalam
memberikan ujian anak sekolah atau mahasiswa. Uji skoring dapat dilakukan pada penilaian sifat
sensorik yang spesifik seperti warna merah pada tomat, rasa langu pada hasil olahan kedelai, atau
sifat sensorik umum seperti sifat hedonik atau juga sifat sensorik kolektif seperti pengawasan
mutu komoditi. Seperti halnya pada skala mutu, pemberian skor dapat juga dikaitkan dengan
skala hedonik. Banyaknya skala hedonic tergantung dari tingkat perbedaan yang ada dan juga
tingkat kelas yang dikehendaki. Dalam pemberian skor, besarnya skor tergantung pada
kepraktisan dan kemudahan pengolahan atau interpretasi dat. Banyaknya skala hedonik biasanya
dibuat dalam jumlah tidak terlalu besar, biasanya antara 1-10. Untuk skor hedonik biasanya
dipilih jumlah ganjil (Anonim. 2006).
Uji skoring dapat digunakan untuk penilaian sifat sensoris yang spesifik seperti atau sifat
sensoris umum seperti sifat hedonik atau sifat-sifat sensoris kolektif pada pengawasan mutu
produk pangan. Uji skor juga disebut pemberian skor atau skoring. Pemberian skor adalah
memberikan angka nilai atau menetapkan nilai mutu sensorik terhadap bahan yang diuji pada
jenjang mutu atau tingkat skala hedonik. Tingkat skala mutu ini dapat dinyatakan dalam
ungkapan-ungkapan skala mutu yang sudah menjadi baku. Seperti halnya pada skala mutu,
pemberian skor juga dapat dikaitkan dengan skala hedonik. Banyaknya skala hedonik tergantung
dari tingkat perbedaan yang ada dan juga tingkat kelas yang dikehendaki. Dalam pemberian skor
besarnya skor tergantung pada kepraktisan dan kemudahan pengolahan dan interpretasi data.
Pemberian skor kadang-kadang menggunakannilai positif dan negatif. Nilai positif dapat
diberikan untuk skala di atas titik balik atau titik netral, nilai negatif untuk di bawah netral. Hal
ini menghasilkanskor yang disebut skor simetrik. Uji skoring merupakan uji yang menggunakan
panelis terlatih dan benar-benar tahu mengenai atribut yang dinilai. Tipe pengujian skoring
sering digunakan untuk menilai mutu bahan dan intensitas sifat tertentu misalnya kemanisan,
kekerasan, dan warna. Selain itu,digunakan untuk mencari korelasi pengukuran subyektif dengan
obyektif dalam rangka pengukuran obyektif (presisi alat) (Kartika dkk., 1988). Menurut Anonim
(2006), Uji skoring dilakukan dengan menggunakan pendekatan skala atau skor yang
dihubungkan dengandeskripsi tertentu dari atribut mutu produk. Pada sistem skoring, angka
digunakan untuk menilai intensitas produk dengan susunan meningkat atau menurun.m Pada uji
ini dilaksanakan oleh hasil penyaringan panelis dari uji triangle.

Tata laksana praktikum uji skoring pada praktikum Teknik Pengujian Mutu Hasil
Perikanan yaitu menyiapkan 3 sampel yang diujikan yaitu bakso ikan. Bakso ikan tersebut di
tempatkan di cup. Bakso ikan tersebut memiliki tingkat kekenyalan yang berbeda. Sampel bakso
tersebut diberi kode (449, 494, dan 949). Panelis terlatih disini berjumlah 16 orang panelis,
karena ada 2 panelis yang tidak terlatih sehingga tidak dapat mengikuti uji skoring. Mekanisme
pengujiannya yaitu panelis masuk ke ruangan uji dan dihadapkan langsung dengan 3 sampel
bakso yang diujikan. Pengujian dilakukan dengan membandingkan 3 sampel bakso dengan kode
449, 494, dan 949 yang ada berdasarkan tingkat kekenyalannya. Skala yang disediakan di dalam
scoresheet 1-7 kemudian panelis diminta memberi nilai berdasarkan kekenyalannya. Skor 1
menunjukkan sifat yang paling kenyal dan akan semakin keras jika angka semakin menuju ke
angka 7. Angka 7 merupakan sifat yang paling keras. Standar kenyal dan keras pada pengujian
ini digunakan permen yupi sebagai parameter kenyal dan permen fox sebagai parameter keras.
Tujuannya adalah untuk memudahkna panelis dalam melakukan pengujian dikarenakan panelis
mampu mengetahui ambang batas kenyal dan keras. Tahapan terakhir adalah melakukan analisis
data dengan ANOVA dan dilanjutkan dengan pengujian lanjut jika diperlukan. Uji lanjut
digunakan untuk mengetahui sampel mana sajakah yang berbeda. Uji lanjut yang digunakan
adalah LSD-Dunnet, HSD-Tukey, DMRT, Scheffe, SNK, LSD dan BNT.
Hasil analisis data dengan ANOVA didapatkan hasil ketiga sampel yang diujikan berbeda
nyata tingkat kekenyalannya. Hal ini ditunjukkan dengan Fhitung (14.171) > Ftabel (3,204),
dengan derajat bebas sampel 2 dan derajat bebas error 30. Tahapan selanjutnya adalah dilakukan
uji lanjut untuk mengetahui sampel mana sajakah yang berbeda yaitu dengan menggunakan uji
SNK.
Langkah-langkah dalam melakukan uji SNK yaitu menghitung standar eror. Hasil yang diperoleh
setelah dilakukan uji SNK yaitu bakso dengan kode 449 tidak beda nyata dengan bakso 494
artinya sampel tersebut memiliki tingkat kekenyalan yang sama. Hal tersebut disebabkan
rerata<uji SNK (-0,75 <0,958). Namun ada juga yang tergolong kriteria beda nyata yaitu terdapat
pada bakso (949) dengan bakso (449) dan bakso (494). Hal tersebut dikarenakan rerata > uji
SNK , maka sampel bakso (949) dengan bakso (494) dan bakso (449) memiliki tingkat
kekenyalan yang berbeda.

Uji Lanjutan Duncan

db error = 30 ; = 5%
LSR (least significant ranges) = ranges x standar error
p 2 3 4
Ranges 2,89 3,04 3,12
LSR 0,95 1,003 1,03

Nama Paneli
s
Kode Sampel
449 494 949
Theodora 2 3 1
RR. Okky 7 6 3
Shelica 5 6 1
Fajar 5 6 2
Fitria 7 6 2
Istiqomah 2 5 6
Rani 7 6 2
Megadian 5 5 3
Restu 4 5 3
Rizky 4 5 3
Bimo 5 4 3
Zulfikar 5 6 3
Pandu 2 4 5
Agung 3 4 2
Halimah 3 5 1
Mirna 3 5 2
nilai tengah 4,31 5,06 2,63



Nilai tengah disusun menurut besarnya, yaitu
A B C
494 449 949
5,06 4,31 2,63

Tabel Uji DMRT
Perbandingan
Selisih nilai rata
2
|selisih| LSR Kesimpulan
449 vs 494 -0,75 0,75 0,95 449 = 494
449 vs 949 1,6875 1,6875 0,95 449 949
494 vs 949 2,4375 2,4375 1,003 494 949

Kesimpulan : tingkat kekenyalan menurut panelis terhadap bakso ikan kode 494 sama dengan ko
de 449, namun tingkat kekenyalan bakso ikan kode 494 dan kode 449 tidak sama dengan kode 9
49.
Hasil perhitungan ANOVA diperoleh bahwa Fhitung (14.171) > Ftabel (3,204317292), sehingga Ho
ditolak dan kesimpulannya terdapat beda nyata. Jadi, perlu dilakukan uji lanjutan Duncan.
Dari hasil uji lanjutan Duncan diperoleh kesimpulan bahwa menurut panelis tingkat kekenyalan
bakso ikan kode 449 sama dengan kode 494 karena nilai |selisih| (0,75) < LSR (095). Namun tingkat
kekenyalan bakso ikan kode 449 dan 494 tidak sama dengan kode 949 karena nilai |selisih| (1,6875)
dan |selisih| (2,4375) > LSR (0,95) dan LSR (1,003).
UJI LANJUT LSD DUNNET
LSD =

= = 0.332
n =

= 16
sehingga, LSD =


= 1.99 . 0.47
= 0.9353
Nama Panelis Kode Sampel
449 494 949
Theodora 2 3 1
RR. Okky 7 6 3
Shelica 5 6 1
Fajar 5 6 2
Fitria 7 6 2
Istiqomah 2 5 6
Rani 7 6 2
Megadian 5 5 3
Restu 4 5 3
Rizky 4 5 3
Bimo 5 4 3
Zulfikar 5 6 3
Pandu 2 4 5
Agung 3 4 2
Halimah 3 5 1
Mirna 3 5 2
nilai tengah 4,31 5,06 2,63






Nilai tengah disusun menurut besarnya, yaitu
A B C
494 449 949
5,06 4,31 2,63

Kemudian, membandingkan selisih pada perlakuan dengan adanya satu variable yang dianggap
sebagai control, dimisalkan control adalah pada kode sampel dengan kode 494 (A), maka :
A-B = 5,06-4,31 = 0,75 lebih kecil dari nilai LSD DUNNET (0,9353) tidak beda nyata
A-C = 5,06-2,63 = 2,43 lebih besar dari nilai LSD DUNNET (0,9353) beda nyata
Sehingga, sampel dengan kode 494 dengan kode 449 menunjukkan tidak beda nyata, sedangkan
sampel dengan kode 494 dengan kode 949 menunjukkan beda nyata.






UJI LANJUTAN HSD TUCKEY



dari tabel Tuckey adalah 3,486 sehingga



Perlakuan Rerata Selisih Keterangan
449
494
949
4,3125
5,0625
2,625
A-B
B-C
A-C
0,75
2,4375
1,6875
TBN
BN
BN

1,15038
1,15038

Kesimpulan:
Sampel 449 terhadap 494 menunjukkan selisih < HSD Tuckey (0,75< )Tidak ada
perbedaan kekenyalan antara kedua sampel tersebut
Sampel 494 terhadap 949 menunjukkan selisih > HSD Tuckey (2,4375>) Ada
perbedaan kekenyalan antara kedua sampel tersebut
Sampel 949 terhadap 449 menunjukkan selisih > HSD Tuckey (1,6875>) Ada
perbedaan kekenyalan antara kedua sampel tersebut
Hasil analisis data dengan ANOVA didapatkan hasil ketiga sampel yang diujikan berbeda nyata
tingkat kekenyalannya. Hal ini ditunjukkan dengan F hitung (14.171) > Ftabel (3,204), dengan
derajat bebas sampel 2 dan derajat bebas error 30. Tahapan selanjutnya adalah dilakukan uji lanjut
untuk mengetahui sampel mana sajakah yang berbeda yaitu salah satunya menggunakan uji Tukey.
Langkah-langkah dalam uji Tukey pertama-tama menghitung standar eror (Sx) didapatkan hasil
sebesar 0,33. Setelah itu menghitung nilai S dengan rumus S=q,v,tSx dan hasil yang didapatkan
sebesar 1,15038. Hasil yang diperoleh setelah dilakukan uji Tukey yaitu Sampel 449 terhadap 494
menunjukkan selisih < HSD Tuckey (0,75< 1,15038) hasil yang didapat tidak ada perbedaan
kekenyalan antara kedua sampel tersebut, pada sampel 494 terhadap 949 menunjukkan selisih >
HSD Tuckey (2,4375>1,15038) hasil yang didapat ada perbedaan kekenyalan antara kedua sampel
tersebut. Dan sampel 949 terhadap 449 menunjukkan selisih > HSD Tuckey (1,6875>1,15038) hasil
yang didapat kan ada perbedaan kekenyalan antara kedua sampel tersebut.

UJI LANJUTAN BONFERONI
Langkah yang harus dilakukan
1. Carilah nilai Standat Eror/ Sx rumrusnya Sx = (KT sesatan/n)^0,5 = 0.331637352
2. Carilah nilai t tabel (p,v)
Dengan rumus excel tinv (p,v) dimana nilai p didapatkan dari p = /k
3. Kemudian cari nilai LSD benf = t tab . Sx. (2^0,5)
4. bandingkan selisih rerata dengan nilai LSD
449 494 949
sd 1.740450133 0.928708781 1.360147051
sd
2
3.029166667 0.8625 1.85
mean 4.3125 5.0625 2.625
x 192 4
mean-x 0.3125 1.0625 -1.375
(mean-x)
2
0.09765625 1.12890625 1.890625
sb
2
49.875 24.9375
sw
2
97.60833333 2.169074074

Tabel Bonferoni
Perbandingan Selisih nilai rata2 |selisih| LSD benf Kesimpulan
449 vs 494 -0.75 0.75 1.189278129
tidak beda
nyata
449 vs 949 1.6875 1.6875 1.189278129 beda nyata
494 vs 494 2.4375 2.4375 1.189278129 beda nyata
Kesimpulan :
Sampel 449 terhadap 494 menunjukkan selisih > LSD benf (0.75 < 1.189278129) artinya tidak
ada beda kekenyalan diantara keduanya
Sampel 449 terhadap 949 menunjukkan selisih > LSD benf (1.6875 > 1.189278129) artinya ada
beda kekenyalan diantara keduanya
Sampel 494 terhadap 494 menunjukkan selisih < LSD benf (2.4375 > 1.189278129) artinya ada
beda kekenyalan diantara keduanya
Jadi dari hasil uji lanjutan Bonferroni dapat diketahui bahwa menurut panelis bakso ikan
dengan kode 449 dan 494 tidak berbeda nyata tingkat kekenyalannya karena nilai |selisih|
(0,75) < LSD benf (1,189278129). Sedangkan bakso ikan sampel 449 dan 494 tidak sama
tingkat kekenyalannya terhadap bakso ikan sampel 949 karena nilai |selisih| (1,6875) dan
|selisih| (2,4375) > LSD benf (1,189278129).

NB : Uji kekenyalan yang digunakan adalah berdasarkan tekanan tangan
Hasil analisis data dengan uji bonferoni didapatkan
Metode scheffe



= 0,331

S = 0,331
S = 0,468 x


=1,206


S=S x
Perbandingan
Selisih nilai
rata2
|selisih| Sa Kesimpulan
449 vs 494 -0,75 0,75
1,206
TBN
449 vs 949 1,6875 1,6875
1,206
BN
494 vs 949 2,4375 2,4375
1,206
BN


ANOVA
Sumber
Varian
df JK KT F hitung F tabel
(sig. 0,05)
Panelis 15 33.3 2.222 1.263 3,32
Sampel 2 49.875 24.938 14.171
Error 30 52.8 1.760
Total 47 136

ANOVA
Source of
Variation SS df MS F P-value F crit
Between Groups 49,875 2 24,9375 13,0297533
3,434E-
05 3,32
Within Groups 86,125 45 1,913889


Total 136 47

Sampel 449 terhadap 494 menunjukkan tidak ada beda nyata antara kekenyalannya ( F hit < F tabel)
Sampel 449 terhadap 949 menunjukkan ada beda nyata kekenyalannya (F hit > F tabel)
Sampel 494 terhadap 949 menunjukkan ada beda nyata kekenyalannya(F hit >F tabel)






Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
a. Uji skoring merupakan salah satu metode pengujian mutu hasil perikanan dengan
menggunakan panelis yang terlatih yang mana prinsip pengujiannya adalah dengan memberikan
penilaian (skor) terhadap sampel yang diujikan berdasarkan tingkatan dari parameter yang
diujikan.
b. Berdasarkan analisis data menggunakan ANOVA didapatkan Fhitung (14.171) > Ftabel
(3,204), maka Ho ditolak artinya sampel yang digunakan memiliki tingkat kekenyalan yang
berbeda.
c. Berdasarkan ANOVA diperoleh bahwa terdapat beda nyata antara ketiga sampel terhadap atrib
ut kekenyalannya [F hitung (14.171) > Ftabel (3,204317292)]. Kemudian dilanjutkan dengan uji
lanjutan yaitu Bonferroni, Scheffe, SNK, Duncan, Dunnet, dan Tukey. Tingkat signifikansi yang
digunakan yaitu 5%. Dari hasil uji lanjutan Duncan diperoleh kesimpulan bahwa menurut panelis
tingkat kekenyalan bakso ikan kode 449 sama dengan kode 494 karena nilai |selisih| (0,75) < LS
R (095). Namun tingkat kekenyalan bakso ikan kode 449 dan 494 tidak sama dengan kode 949 k
arena nilai |selisih| (1,6875) dan |selisih| (2,4375) > LSR (0,95) dan LSR (1,003). Dari seluruh ha
sil uji lanjutan diperoleh bahwa sampel bakso ikan dengan kode 449 tidak berbeda nyata tingkat
kekenyalannya terhadap sampel bakso ikan dengan kode 494. Sedangkan sampel bakso ikan den
gan kode 949 berbeda nyata tingkat kekenyalannya terhadap sampel bakso ikan dengan kode 449
dan kode 494.

D. SARAN
Sebelum melaksanakan uji skoring untuk penilaian sifat-sifat organoleptik suatu bahan makanan
sebaiknya panelis yang akan menguji dilatih terlebih dahulu dan pastikan kondisi fisiologis dan
psikologisnya mendukung, di samping itu faktor-faktor lain seperti waktu dan tempat pengujian
harus diperhatikan.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2006. Pengujian Organoleptik (Evaluasi Sensori) Dalam I ndustri Pangan.
EBOOKPANGAN.COM
Kartika, B., B. Hastuti., W. Supartono. 1988. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. PAU Pangan dan Gizi
UGM. Yogyakarta.
Soekarto, Soewarno. 1985. Penilaian Organoleptik. PT. Bhratara Karya Aksara. J akarta.