Anda di halaman 1dari 211

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin cukup
berkembang untuk dapat hidup di luar kandungan sebelum usia kehamilan 20
minggu yang didasarkan pada tanggal hari pertama menstruasi normal terakhir.
1
Definisi lain yang digunakan secara umum adalah kelahiran janin yang beratnya
kurang dari 500 g.
2
Sampai saat ini, abortus masih merupakan masalah yang besar
dalam pelayanan obstetri karena merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan
janin.
1!
Abortus iminens adalah setiap pengeluaran sekret "agina yang
mengandung darah atau setiap perdarahan per "aginam pada usia kehamilan
kurang dari 20 minggu dengan ostium uteri yang masih tertutup.
1!
Angka kejadian abortus di dunia ber"ariasi dari 2# sampai dengan
22#, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan dalam definisi dan metode
penelitian yang digunakan.
$
Angka kejadian abortus secara umum sebesar 520#
dari seluruh kehamilan, sedangkan abortus iminens angka kejadiannya ber"ariasi
antara 1%21#.
5
Angka kejadian abortus adalah 5# pada primigra"ida dan $#
pada &anita yang sudah pernah melahirkan. 'ada &anita yang sudah pernah
mengalami abortus angkanya adalah 20# dan meningkat menjadi 2$# apabila
&anita tersebut sudah pernah mengalami abortus lebih dari satu kali.
%
'eneliti lain
mendapatkan angka risiko abortus seluruhnya adalah 11#, naik menjadi 1%#, jika
1
mengalami dua kali abortus sebelumnya, sebanyak 25# jika tiga kali, dan setelah
empat kali angkanya menjadi $5#.
2
Angkaangka di atas tidak terlalu berbeda dengan yang tercatat di
beberapa rumah sakit di (ndonesia. 'ada data beberapa rumah sakit di (ndonesia,
ditemukan angka kejadian abortus ber"ariasi antara 2,515# dengan persentase
kematian ibu akibat abortus berkisar 11,5#.
)
Di *S+' dr. ,asan Sadikin -andung dari tahun ke tahun pre"alensi
abortus tercatat sebesar %,515#, dengan angka kematian ibu sebesar 12# dari
seluruh kematian ibu. 'enyebab utama kematian ibu adalah karena perdarahan dan
disusul oleh penyebab yang lain.
-erbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi penyakit ini, baik yang
bersifat pencegahan, diagnosis dini, maupun upaya pengobatan secara
medikamentosa maupun obstetrik. 'ada penelusuran kepustakaan penatalaksanaan
abortus iminens adalah tirah baring.
1,!,5,%
Adapun pengobatan medikamentosa yang
diberikan masih bersifat simtomatis saja akibat belum diketahuinya etiologi dan
patogenesis yang pasti dari penyakit ini. Abortus iminens ini sebenarnya masih
bisa dicegah dan diselamatkan sehingga tidak sampai terjadi abortus.
'enelitian yang dilakukan di -agian .bstetri dan /inekologi *S Dr ,asan
Sadikin, khususnya penelitian tentang abortus masih kurang, di antaranya adalah
penelitian 0ibo&o dkk.
1
yang menyatakan terdapat hubungan penurunan kadar
en2im superoksid dismutase 3S.D4 dan glutation peroksidase sel darah merah
dengan terjadinya abortus spontan. 5ulmaita dkk.
6
dalam penelitiannya
menyatakan terdapat perbedaan kadar vascular endothelial growth factor serum
2
darah abortus iminens dengan kehamilan normal dan terjadi peningkatan kadar
vascular endothelial growth factor serum pada abortus iminens. ,andono dkk.
10
menyatakan bah&a tingginya resistensi indeks 3*(4 arteri spiralis desidua 3ASD4
pada perdarahan kehamilan dini dapat memprediksi terjadinya abortus.
'ada anamnesis kehamilan trimester pertama yang terjadi perdarahan dan
diagnosis yang ditegakkan adalah abortus iminens maka pada umumnya akan
terjadi perubahanperubahan pada sistem imun dan "askular yang berakibat
terjadinya peningkatan akti"itas 7 helper 37h4 tipe 1 yaitu interferon 3(89 4
yang akan menyebabkan terjadinya kerusakan membran sel di lapisan
endometrium dan terjadi perubahan dalam aliran darah di ASD yang akan
mendahului terjadinya abortus.
2,%,11
8aktorfaktor lain juga diketahui berperan dalam terjadinya abortus yaitu
kelainan kromosom 3$050#4 misalnya aneuploidi 3trisomy, monosomy,
tri/tetraploidy4, kelainan imunologi 31122#4, kelainan hormonal 31$20#4,
infeksi maternal 31520#4 di antaranya disebabkan "aginosis bakterial, bruselosis,
parpovirus, 7.*:,, ,(;, sifilis, streptokokus, dll. 'eningkatan terjadinya
abortus juga terjadi pada kelainan uterus, diabetes melitus, hipotiroidisme,
kelainan jantung, penyakit paru kronik, peningkatan indeks massa tubuh, &anita
yang merokok, minum alkohol, dan lainlain.
2
Defisiensi hormon diduga mengakibatkan kagagalan implantasi dalam
mempertahankan kehamilan pada stadium a&al dan merupakan penyebab
terjadinya abortus. 'rogesteron dan h:/ merupakan pendukung pada a&al
!
kehamilan tetapi masih belum jelas apakah penurunan hormon kehamilan
merupakan penyebab kehilangan kehamilan atau sebagai akibatnya.
12

Sebuah metaanalisis tahun 1616 menunjukkan tidak adanya manfaat
progesteron untuk mempertahankan kehamilan dini. 'enting juga diketahui bah&a
efek teratogenik progesteron dapat meningkat dengan defek genital pada janin.
1!

Sindrom o"arium polikistik 3S.'4, kelainan ser"iks, dan anomali uterus
sudah lama dipikirkan berperan dalam abortus dan persalinan prematur. Abortus
spontan sering terjadi karena aneuploidi fetus, disomi sperma, trombosis pada
plasenta, dan sindrom antifosfolipid.
1!
(nfeksi juga ditetapkan sebagai salah satu
penyebab abortus berulang.
%

'enyesuaian respons imunologis diperlukan dalam kehamilan. 7elah
diketahui bah&a respons 7h1 yang embriotoksik harus ditekan dan respons 7h2
harus lebih dominan. *espons 7h1 yang dominan pada kehamilan dini akan
menyebabkan abortus. <asih belum jelas apakah terdapat respons inflamasi yang
abnormal atau respons abnormal tersebut terjadi karena peristi&a imunologis.
0anita dengan ri&ayat abortus iminens mempunyai kadar sitokin 7h1 yaitu (=
12, (=11, dan (89 lebih tinggi dibanding &anita hamil normal dan tidak
menunjukkan adanya peningkatan (=$ pada &anita hamil normal. -erbagai
pengobatan imunologis telah dicoba. (munoglobulin intra"ena tampaknya belum
dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan kehamilan.
5,%,1$

7ubuh mempunyai sistem perlindungan antioksidan yang melindungi
terhadap produksi berlebihan reactive oxygen 3*.S4. -ila keseimbangan antara
*.S dan mekanisme perlindungan bergeser ke arah prooksidan, kemudian timbul
$
*.S berlebihan, maka akan timbul kerusakan. >erusakan akibat radikal bebas
3stres oksidatif4 dan peroksidasi lipid terlibat dalam patofisiologi pada berbagai
keadaan klinis. 'eranannya dalam preeklamsia telah dibuktikan. 0alaupun
pengaruh stres oksidatif juga terlibat dalam kehamilan dan diketahui sebagai
penyebab abortus, tetapi peranan antioksidan pada abortus masih belum
diketahui.
2,%,11
-ukti lain akti"itas antioksidan pada abortus iminens berasal dari
penelitian ;ural dkk.
15
yang menghitung kadar asam askorbat, -tocopherol, thiol
total, seruloplasmin, asam urat, albumin, dan erythrocyte glutathion dalam plasma
&anita hamil dengan ataupun tanpa ri&ayat abortus. 0anita yang mengalami
abortus mempunyai kadar total thiol, seruloplasmin, asam askorbat, -tocopherol,
dan erythrocyte glutathion yang lebih rendah secara bermakna dibandingkan
kelompok kontrol, mendukung adanya peningkatan lipid peroksidasi. ,asil ini
juga menunjukkan bah&a pada &anita yang mengalami abortus terdapat
ketidakseimbangan status redoks dengan akti"itas prooksidatif dan peningkatan
stres oksidatif mungkin merupakan salah satu penyebab abortus.
2
0anita yang mengalami abortus pada trimester pertama mempunyai kadar
S.D yang menurun secara bermakna. 'enurunan kadar S.D ini akibat loncatan
elektron dari rantai respirasi mitokondria, suatu sampah ion .
2

yang dapat
mengakibatkan peningkatan produksi *.S. 'erubahan ini ditemukan pada
sirkulasi perifer dan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi di dalam uterus.
'ada kehamilan trimester pertama yang berlanjut umumnya berhubungan dengan
peningkatan akti"itas antioksidan seperti ditunjukkan pada peningkatan kadar
5
seruloplasmin dan S.D dan hal ini dapat memberikan perlindungan terhadap
penurunan antioksidan. 'enurunan kadar S.D pada &anita yang mengalami
abortus pada kehamilan kedua, menunjukkan bah&a abortus dicetuskan oleh
peristi&a khusus dan tidak dipengaruhi oleh kehamilan sebelumnya. 'erubahan
ini menunjukkan bah&a kehamilan dini berhubungan dengan peningkatan stres
oksidatif tetapi kerusakan dapat dihindari karena adanya antioksidan.
2,%,1%
>ehamilan juga berhubungan dengan beberapa tingkat stres oksidatif.
'ada kehamilan yang berlanjut, terjadi perubahan kadar antioksidan untuk
melindungi kehamilan terhadap peningkatan stres oksidatif. -elum diketahui
dengan jelas apakah peningkatan akti"itas antioksidan mempengaruhi perubahan
yang terjadi pada sistem imunitas.
!,1),11
Desidua merupakan jaringan maternal yang berhubungan sangat erat
dengan trofoblas fetal dan interaksi imunologis antara ibu dan janin terjadi dalam
jaringan ini. Desidua mengandung jumlah leukosit yang amat tinggi termasuk
makrofag dan limfosit. =imfosit desidua mempunyai potensi sitotoksik terhadap
trofoblas. ,al ini menyebabkan adanya perubahan pada aliran ASD yang pada
akhirnya menyebabkan terjadinya abortus.
!,1),16
'emeliharaan kehamilan berhubungan dengan adanya sitokin 7h2, dengan
(=$ sebagai faktor yang predominan dalam polarisasi 7h2. Abortus berhubungan
dengan adanya sitokin 7h1 dengan (89 yang mengembangkan diferensiasi sel 7
nave menuju sel 7h1.
2,20
'enelitian <urine dkk.
21
menemukan bah&a selama
kehamilan pada hubungan fetalmaternal terdeteksi sitokin 7h2, sedangkan (89
yang merupakan sitokin 7h1, hanya terdeteksi pada a&al kehamilan.

=im dkk.
22
%
meneliti pengaruh sitokin 7h1 dan 7h2 endometrium pada keberhasilan ataupun
kegagalan reproduksi. <ereka menemukan bah&a pada &anita tanpa ri&ayat
abortus tidak terdeteksi adanya (=12, (89 , (=2, dan 798 pada endometrium
dekat tempat implantasi, sehingga menghambat perkembangan sel 7h0 menjadi
7h1. (=$ juga terdeteksi, membantu perkembangan sel 7h0 menjadi 7h2 dan
kemudian menggeser keseimbangan menjauhi respons sitotoksik. 7etapi pada
&anita dengan ri&ayat abortus iminens, (=12 terdeteksi pada endometrium,
seperti adanya sitokin 7h1, (89 , (=2, dan 798 menghasilkan respons
penolakan sitokin 7h1 pada saat implantasi. Sel desidua yang diambil dari &anita
yang mengalami abortus berulang ditemukan menghasilkan lebih sedikit (=$, (=
10, dan =(8 dibanding &anita yang hamil normal.
2,22
;i"es dkk.
2!
meneliti
ekspresi sitokin pada jaringan desidua dan trofoblas hasilnya menemukan
peningkatan yang bermakna ekspresi (89 pada jaringan desidua &anita yang
mengalami abortus. 'enemuan ini menunjukkan adanya keseimbangan antara
sitokin 7h1 dan 7h2 selama kehamilan yang diperlihatkan dengan ekspresi (98
pada hubungan fetal maternal.
<elekatnya satu sel dengan sel lainnya, satu sel ke jenis sel lainnya
dan atau melekatnya satu sel ke matriks ekstraselular 3<?S4 adalah bagian yang
sangat penting dan bergantung pada adanya cells adhesion molecule 3:A<4 dan
ligan yang dimilikinya.
20,2$
<olekul perekat sel adalah glikoprotein sel
permukaan yang dapat meluas keluar membran sel atau menempel pada
membran yang diperantarai oleh lemak.
20
-eberapa molekul spesifik dikeluarkan
bergantung &aktu maupun tempat pada saat perkembangan. 'emahaman pada
)
peranan :A< dalam kehamilan sangatlah menakjubkan karena beberapa
kehamilan dikaitkan dengan kelainan yang berhubungan :A< termasuk
abortus yang dihubungkan dengan kelainan ekspresi dari :A<. 'etanda biokimia&i
yang la2im dipakai untuk penentu disfungsi endotel molekul adhesi adalah
vascular cells adhesion molecule-1 3;:A<14.
25

'emeriksaan ultrasonografi merupakan metode diagnostik terbaik secara
klinis untuk deteksi kegagalan kehamilan dini. Aplikasi ultrasonografi Doppler
ber&arna dapat memberi informasi fungsi hemodinamik yang dilakukan segera
setelah implantasi.
!,2%,2)
-eberapa tanda a&al ultrasonografi diketahui dapat
menunjukkan prognosis luaran kehamilan. /ambaran Doppler sirkulasi
uteroplasenta terutama ASD diduga merupakan salah satu diagnosis luaran
kehamilan tersebut. Arteri spiralis adalah kelanjutan arteri radialis dan
memperdarahi permukaan desidua.
16,2),21
-eberapa studi telah dilakukan untuk
membuktikan peranan Doppler arus darah arteri spiralis dalam diagnosis
kegagalan kehamilan pada perdarahan kehamilan dini namun masih memberikan
hasil yang berbedabeda.
26!!
'emeriksaan Doppler ditujukan untuk menilai perubahan *( "askular
uterus plasenta janin melalui pengukuran "elositas arus darah dengan gelombang
ultrasonik. 'ada keadaan reperfusi plasenta terjadi perubahan abnormal pada
mikrosirkulasi plasenta yang akan menyebabkan peningkatan resistensi "askular
plasenta, yang dapat diketahui melalui pemeriksaan pola arus darah pada
ASD.
2),26,!0
1
;itamin : merupakan antioksidan yang larut dalam air, dalam keadaan
tubuh yang normal direkomendasikan diminum sebanyak 200 mg@hari.
-erdasarkan data, untuk pengobatan aman bila diminum 1.000 mg@hari dan
mempunyai fungsi antioksidan yang signifikan terutama dalam membran sel dan
memperkuat struktur "askularisasi.
2,!$
;itamin : memelihara respons imun
humoral dan selular secara in vivo dan in vitro. ;itamin : mempunyai peranan
dalam menurunkan terjadinya stres oksidatif. ;itamin : juga mempunyai peranan
penting dalam pembentukan substansi antar sel dan jaringan kolagen dan
diperlukan dalam pematangan sel darah merah.
1$,!$,!5
-erdasarkan uraian di atas
dapat dibangun sebuah dugaan bah&a "itamin : akan mempunyai pengaruh
menghambat berlangsungnya abortus iminens sehingga dapat digunakan sebagai
obat pencegahan penyakit ini.
'ada uraian di atas tampak jelas latar belakang pada terjadinya
abortus iminens sehingga merupakan kata kunci pada tema sentral pada masalah
ini. Adapun tema sentral permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikutA
Abortus iminens masih memerlukan perhatian lebih serius lagi, oleh karena masih
merupakan masalah besar di (ndonesia dilihat pada segi epidemiologis,
morbiditas, mortalitas, dan prognosisnya. Abortus iminens ini sebenarnya masih
dapat dicegah dan diselamatkan sehingga tidak sampai terjadi abortus.
>etidakjelasan patogenesis akibat adanya ketidakpastian etiologi yang
direfleksikan pada belum adanya perlakuan yang mampu mendeteksi sedini
mungkin dan mencegah kejadian abortus merupakan salah satu sebab
ketidakberhasilan penanggulangan penyakit ini. (nformasi mengenai mekanisme
6
kerja dan pengaruh "itamin : sebagai antioksidan yang berpengaruh pada dugaan
patogenesis abortus iminens terutama menyangkut perubahan keseimbangan
antara jalur 7h1 yang embriotoksik yaitu (89 dan jalur 7h2 yaitu (=$ dan
terjadinya penurunan kadar S.D akibat loncatan elektron dari rantai respirasi
mitokondria dan adanya kerusakan ASD, yang ditandai dengan adanya disfungsi
endotel molekul adhesi yaitu ;:A<1 dan perubahan aliran darah memungkinkan
diadakannya penelitian obat tersebut sebagai pengobatan pencegahan terhadap
penyakit ini.
'enelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menemukan suatu cara
pengobatan untuk mencegah abortus iminens menjadi abortus serta memahami
mekanisme kerjanya.
'ada hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh informasi yang
bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dengan menyumbangkan pengertian
tentang patogenesis abortus iminens sehubungan dengan adanya dugaan
kerusakan membran sel desidua yang ditandai adanya perubahan kadar S.D,
;:A<1, (89 , (=$, dan adanya perubahan aliran darah ASD yang menggugah
minat untuk diadakan penelitian lanjutan, serta untuk membantu me&ujudkan
upaya pencegahan kejadian, kesakitan, kematian ibu akibat abortus iminens, dan
untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (ndonesia pada umumnya.
10
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, khususnya setelah menyimak tema sentral
permasalahan maka penjabaran halhal spesifik yang dipertanyakan terkait dengan
masalah yang dihadapi dapat dirumuskan sebagai berikutA
1. Apakah terdapat korelasi perubahan kadar S.D dengan (89 dan (=$
pada abortus iminens setelah pemberian "itamin : B
2. Apakah terdapat korelasi perubahan kadar S.D dan kerusakan ASD
berdasarkan pemeriksaan *( dan ;:A<1 pada abortus iminens setelah
pemberian "itamin : B
!. Apakah terdapat perbedaan kadar S.D, (89 , (=$, ;:A<1, dan *( ASD
antara kasus abortus dan tidak abortus B
1.3 Maksud dan Tuuan Penel!t!an
Sebagai gambaran operasionalisasi penelitian pada masingmasing
submasalah serta acuanacuannya sebagaimana dirumuskan dalam identifikasi
masalah, maka dapat dideklaratifkan kegiatan operasional penelitian ini, sebagai
berikutA
1.3.1 Maksud Penel!t!an
<empelajari perubahan kadar S.D, (89 , (=$,
;:A<1, dan *( ASD pada kasus abortus iminens setelah pemberian "itamin :
antara kasus abortus dan tidak abortus.
11
1.3.2 Tuuan Penel!t!an
1. <empelajari korelasi perubahan kadar S.D, (89 dan (=$ pada abortus
iminens setelah pemberian "itamin :.
2. <empelajari korelasi perubahan kadar S.D terhadap kerusakan ASD
berdasarkan pemeriksaan *( dan ;:A<1 pada abortus iminens setelah
pemberian "itamin :.
!. <empelajari perbedaan kadar S.D, (89 , (=$, ;:A<1, dan *( ASD
antara kasus abortus dan tidak abortus.
1." #egunaan Penel!t!an
Seperti yang telah digambarkan terlebih dahulu pada alinea terakhir pada
latar belakang, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan informasi
yang bermanfaat bagi pengembangan bidangbidangA
(lmu, dengan menyumbangkan dan memantapkan pengertian tentang patogenesis,
diagnosis, dan prognosis abortus iminens sehubungan dengan adanya
dugaan terjadinya kerusakan endotel di membran sel desidua yang
menyebabkan perubahan pada *( ASD, serta pengertian tentang mekanisme
pencegahan abortus melalui interaksi S.D, (89 , (=$, dan ;:A<1
dengan pemberian "itamin :.
'enelitian, dengan menggugah minat bagi diadakannya penelitian eksploratif
lanjutan untuk lebih membuktikan kebenaran dan kekeliruan hasil penelitian
ini, meneliti mekanisme abortus iminens melalui interaksi S.D, (89 , (=$,
12
;:A<1, *( ASD, dan peran antioksidan "itamin : pada patogenesis,
diagnosis, dan prognosis abortus iminens.
'elayanan, dengan membantu me&ujudkan penciptaan kebijakan pelayanan
kesehatan dengan cara meningkatkan upaya pencegahan yang rasional,
mudah, terjangkau, serta dengan kemungkinan efek samping yang ringan.
'ada gilirannya nanti diharapkan angka kesakitan dan kematian ibu akibat
penyakit ini dapat diturunkan.
1!
BAB II
#A$IAN PU%TA#A& #ERAN'#A PEMI#IRAN& DAN HIP(TE%I%
2.1 #a!an Pustaka
2.1.1 As)ek #l!n!s A*+rtus
Abortus adalah kehilangan kehamilan spontan, di (nggris dibatasi
sebelum usia kehamilan 20 minggu. Abortus adalah komplikasi yang biasa terjadi
dalam kehamilan, sebanyak 25# &anita pernah mengalami abortus. Dari semua
konsepsi sebanyak 50# akan hilang, sebagian besar terjadi sebelum &anita itu
menyadari kehamilannya, dan antara 1!,1# sampai 22# yang mengenali
kehilangan kehamilannya. Sebagian besar abortus terjadi spontan, hanya sedikit
sekitar 1# yang menggambarkan kehilangan kehamilan berulang yang terjadi
karena adanya faktor risiko pada ibu dan bapak.
2,!%
Angka kejadian abortus ber"ariasi dari 1,5# sampai 22#.
2,$
Angka
kejadian abortus secara umum sebesar $10# dari seluruh kehamilan, sedangkan
kejadian abortus iminens angka kejadiannya ber"ariasi antara 2,5 sampai ),5#.
Angka kejadian abortus adalah 5# pada primigra"ida dan $# pada &anita yang
sudah pernah melahirkan.
$
7etapi pada &anita yang sudah pernah mengalami
abortus angkanya adalah 20# dan meningkat menjadi 2$# apabila &anita
tersebut yang sudah pernah mengalami abortus lebih dari satu kali. 'enelitian lain
mendapatkan angka risiko abortus seluruhnya adalah 11#, naik menjadi 1%#, jika
mengalami dua kali abortus sebelumnya, sebanyak 25# jika tiga kali dan setelah
empat kali angkanya menjadi $5#. =ebih lanjut dikemukakan bah&a lebih dari
1$
10# kematian ibu disebabkan karena abortus, sedangkan di negara berkembang
angka ini lebih tinggi lagi yaitu sebesar 152$#, terutama disebabkan oleh karena
perdarahan.
2
Di (ndonesia ditemukan angka kejadian abortus ber"ariasi antara 2,5
$,5#.
!)
'ersentase kematian ibu akibat abortus berkisar 0,11,5#.
)
Apabila ibu kelompok ini hamil maka pada umumnya akan terjadi
perubahan pada faktor imun dan "askularnya yang berakibat terjadinya
peningkatan akti"itas jalur 7h1 yaitu (89 yang berakibat kerusakan membran
sel di lapisan endometrium dan perubahan dalam aliran darah di ASD yang akan
mendahului terjadinya abortus.
!1,!6
Secara morfologis dan mikroskopis setengah blastokis dan seperempat
pada embrio dapat terlihat abnormal 325C%2#4 pada kasus abortus spontan dan
didapatkan kelainan kromosom. 8aktorfaktor lain juga diketahui berperan dalam
abortus spontan. *isiko terjadinya abortus spontan meningkat sesuai dengan usia
ibu. *isiko pada &anita usia 20C2$ tahun adalah 1,6# tetapi pada &anita yang
berusia $5 tahun atau lebih adalah )$,)#.
2
,al ini dapat diterangkan dengan
peningkatan angka kelainan kromosom pada usia yang lebih tinggi. :oste dkk.
$0
melaporkan peningkatan insidensi tiga kali lipat abortus spontan pada &anita yang
mengalami stres psikologis pada saat konsepsi. ,akim dkk.
$1
melaporkan )0#
kehilangan kehamilan dini pada &anita yang mempunyai ri&ayat subfertilitas
dibandingkan dengan 21# &anita yang tidak mempunyai ri&ayat subfertilitas.
'eningkatan abortus spontan juga berhubungan dengan peningkatan
indeks massa tubuh 3(<74.
$2
0anita dengan obesitas sedang 3(<7 252),6 kg@m
2
4
mengalami abortus lebih banyak dibandingkan &anita dengan berat badan yang
15
normal 3%0# berbanding 2)#, p D 0,054. 0ang dkk.
$!
menemukan angka abortus
spontan pada &anita yang menerima pengobatan subfertilitas meningkat dengan
(<7, p D 0,05 pada &anita yang kelebihan berat badan, p D 0,01 pada &anita
gemuk, dan p D 0,001 pada &anita yang sangat gemuk.
(nfeksi maternal akut dapat dihubungkan dengan kejadian abortus,
misalnya bruselosis yang dikenal sebagai pencetus abortus spontan dan
parvovirus pada abortus lambat.
$$
>adar folat plasma rendah berhubungan dengan peningkatan risiko abortus
spontan, &alaupun hiperhomosisteinemia merupakan kelainan genetik, efektif
diobati dengan suplementasi folat, diketahui sebagai faktor predisposisi abortus
iminens.
2,1%
*asio odds abortus spontan pada &anita yang merokok 20 batang atau
lebih dalam sehari adalah 2,0 kali daripada yang tidak merokok. <inum alkohol
juga berhubungan dengan peningkatan risiko abortusE &anita yang minum alkohol
lebih dari ! kali seminggu selama trimester pertama mempunyai kemungkinan
lebih tinggi untuk kegagalan kehamilannya 3.* 2,!4, &alaupun konsumsi alkohol
sebelum kehamilan tidak mempengaruhi kejadian abortus secara bermakna.
$5
Abortus spontan terjadi lebih sering pada &anita dengan hipotiroidisme.
'enyakit kronik meningkatkan risiko abortus, &anita dengan S=? dan tidak
mempunyai A'A mempunyai angka kejadian abortus spontan $,) kali lebih
banyak dibanding populasi normal.
$%
Fika penyakit tersebut menetap dan tidak
mendapat pengobatan, maka risiko abortus akan terjadi pada kehamilan
berikutnya juga. *egan dkk.
$)
melakukan penelitian pada %!0 &anita yang hamil
1%
muda dan menemukan bah&a 12# mengalami abortus pada populasi keseluruhan
!00.500 &anita hamil.
Defisiensi hormon mengakibatkan kagagalan implantasi dan merupakan
penyebab terjadinya kehilangan kehamilan berulang.
$1
'rogesteron dan h:/
merupakan pendukung pada a&al kehamilan. <asih belum jelas apakah
penurunan hormon kehamilan merupakan penyebab kehilangan kehamilan atau
sebagai akibatnya.
!1,$6
>adar progesteron menggambarkan fungsi korpus luteum. >adar
progesteron lebih rendah pada kehamilan abnormal jika dibandingkan yang
normal. Fika kadar rendah ini merupakan akibat ketidakmampuan maternal untuk
menghasilkan korpus luteum fungsional, maka suplementasi progesteron dapat
memperbaiki hasil kehamilan.
50
-erla&anan dengan hal tersebut, suplementasi
tidak akan menolong apabila kadar progesteron rendah akibat kegagalan
kehamilan. Sebuah metaanalisis pada tahun 1616 yang dilakukan pada )
penelitian menunjukkan tidak adanya manfaat progesteron untuk
mempertahankan kehamilan dini. 'enting juga diketahui bah&a efek teratogenik
dapat meningkat dengan defek genital pada janin.
2
Sindrom o"arium polikistik 3S.'4 berhubungan dengan kehilangan
kehamilan berulang dan infertilitas. ,al ini berhubungan dengan gambaran klinis
oligomenore, akne, dan hirsutisme yang terjadi sekunder karena
hiperandrogenisme dan obesitas. Secara biokimia, berhubungan dengan
peningkatan hormon lutein 3=,4, peningkatan androgen dan resistensi insulin@
hiperinsulinemiaE peningkatan akti"itas plasminogen akti"ator inhibitor1 3'A(14
1)
telah dikemukakan oleh beberapa peneliti. 'ada ultrasonografi ditandai adanya
kista yang terletak perifer berdiameter 2C10 mm dengan stroma sentral ekodens.
/ambaran ini juga ditemukan tanpa ada perubahan biokimia. ."arium polikistik
yang didapatkan dengan +S/ ditemukan pada 22# &anita populasi sukarela dan
&anita dengan bantuan konsepsi. 'ada &anita yang secara klinis mengalami
abortus iminens kejadian o"arium polikistik adalah 12#. 'ada kelompok dengan
bantuan konsepsi, kejadian abortus lebih tinggi pada &anita dengan o"arium
polikistik, yaitu !5,1# berbanding 2!,%# pada populasi dengan o"arium
normal.
16
Anomali uterus telah lama dipikirkan berperan dalam abortus iminens.
<enurut American Fertility Society, pada uterus arkuatus, fundus normal, tetapi
rongga uterus berbentuk konkaf. 'ada uterus berseptum, baik sebagian atau
komplet, septum akan membagi rongga uterus. 'ada uterus yang bikornus, dapat
ditemukan celah pada fundus dengan kedalaman minimal 1 cm menemukan angka
kejadian karena faktor uterus pada &anita yang mendatangi ginekolog dengan
berbagai macam sebab di luar infertilitas dan abortus, yaitu 5,$#, sebanyak !,1#
dengan uterus arkuatus dan 2,!# faktor lain 3uterus subseptum 1,%#, uterus
bikornus 0,$#4. >elompok yang sama dilihat pada &anita dengan ri&ayat abortus
iminens ataupun infertilitas.
51
Ditemukan bah&a terdapat proporsi yang lebih
tinggi secara bermakna pada &anita dengan uterus subseptum mengalami abortus
pada trimester pertama, sedangkan uterus arkuatus merupakan faktor risiko pada
kehilangan trimester kedua dan persalinan prematur. Disebutkan bah&a reseksi
histeroskopis septum dapat memperbaiki fungsi reproduksi.
52

11
,ikok.
5!
melaporkan kehilangan kehamilan pada &anita dengan uterus
subseptum sebelum dilakukan reseksi adalah )),$#. >emudian berkurang
menjadi 11,2# setelah reseksi. 'orcu dkk.
5$
juga menyatakan adanya perbaikan
hasil kehamilan setelah reseksi histeroskopis pada septum uterus. Akan tetapi
penelitian ini tidak dilakukan secara acak dan karena itu tidak mungkin dikatakan
bagaimana hasil akhir kehamilannya apabila pada &anita tersebut tidak dilakukan
pengobatan. 7ujuh puluh enam persen &anita akan melahirkan normal &alaupun
sudah pernah mengalami abortus.
2
>eberhasilan kehamilan membutuhkan ser"iks yang baik sampai
persalinan. Dilatasi prematur ser"iks mengakibatkan abortus. ,al ini dapat
dikenali dengan adanya kontraksi dan persalinan prematur, tetapi apabila dilatasi
terjadi tanpa adanya kontraksi atau didahului kontraksi, kelemahan intriksik
ser"ikslah yang berperan. -anyak faktor yang mempengaruhi kelemahan ser"iks.
>elainan jaringan penunjang termasuk kelainan uterus, seperti sindrom <arfan,
kelainan jaringan penunjang seperti sindrom ?hlersDanlos dan paparan
dietilstilbestrol dalam rahim. 8aktor didapat termasuk tindakan bedah pada
ser"iks, seperti cone biopsy untuk penanganan cervical intraepithelial neoplasia,
terminasi kehamilan dengan bedah, dan kehamilan ektopik ser"iks sebelumnya.
2,5
16
(nfeksi ditetapkan sebagai salah satu penyebab kehilangan kehamilan
berulang, infeksi harus menetap dalam kehamilan. ;aginosis bakterial bukan
merupakan infeksi berat, lactobacilli untuk pertahanan dengan organisme
ardenella vaginosis, anaerob, dan mycoplasma yang mempengaruhi lingkungan
"agina, meningkatkan p,. Sangat beralasan untuk berharap bah&a faktor
predisposisi "aginosis bakterial dapat menetap selama lebih dari satu kehamilan.
$
+g&umadu.
55
mempertimbangkan bah&a respons imun terhadap "aginosis
bakterial lebih berperan dalam kehilangan kehamilan daripada efek langsung
organismenya. *espons 7h2 normal diperlukan untuk kehamilan dini yang
normal, dengan (=$ dan (=% yang menyebabkan pelepasan h:/ dari trofoblas,
yang kemudian berubah mempertahankan korpus luteum sehingga menghasilkan
progesteron. Apabila "aginosis bakterial mengembangkan respons 7h1 atau
menekan respons 7h2, hal ini akan mengakibatkan kehilangan kehamilan. 'ada
&anita tidak hamil yang menderita endometritis, yang ditentukan berdasarkan
adanya sel plasma endometritis, didapatkan pada $5# &anita yang menderita
"aginosis bakterial, sedangkan pada kelompok kontrol hanya 5# menemukan
peningkatan kadar sitokin 7h1, (=1, dan (=1 sedangkan Alberman
menemukan peningkatan (=1 dan (=1 pada &anita dengan "aginosis
bakterial.
"

Abortus spontan sering terjadi karena aneuploidy pada fetus, hal ini
biasanya dapat ditemukan pada &anita yang mengalami abortus dan dilakukan
kariotiping.
5%,5)
7erdapat juga bukti bah&a pasangan yang mempunyai kariotipe
yang normal mempunyai risiko terjadinya abortus karena mereka mempunyai
20
risiko aneuploidy terutama sering terjadi pada abortus berulang. FauniauG dkk.
52
mengemukakan bah&a beberapa pasangan mempunyai risiko non-dis!unction
yang akan meningkatkan risiko abortus. Stone dkk.
51
pada penelitiannya mencari
kariotipe embrio preimplantasi dari subjek yang menjalani fertilisasi in vitro.
?mbrio dari pasangan dengan ri&ayat abortus mempunyai insidensi aneuploidy
yang lebih tinggi 351#4 dibandingkan pasangan tanpa abortus. Diagnosis genetik
preimplantasi dan transfer embrio dengan kariotipe normal dapat memperbaiki
angka keberhasilan pengobatan pada infertilitas.
2
"isomy sperma juga memegang peranan dalam kehilangan kehamilan dini
pada beberapa pasangan. Angka disomy lebih tinggi pada sperma yang diambil
dari pasangan dengan ri&ayat abortus dibandingkan dengan kontrol.
1$
'eristi&a
trombosis pada plasenta dihubungkan dengan berbagai komplikasi kehamilan.
-ates dkk.
56
menemukan defek prokoagulasi pada 55# &anita dengan ri&ayat
tiga kali atau lebih abortus. 7rombofilia dapat dibagi menjadi dua kelompok
utamaA trombofilia diturunkan, umumnya disebabkan mutasi gen dan trombofilia
didapat, terutama sindrom antifosfolipid. 'emba&a mutasi faktor ; =eiden
tampaknya mempunyai risiko abortus yang meningkat 1,5 kali pada yang
mengalami satu kali abortus dan 2,5 kali risiko pada yang mengalami dua kali
abortus. 'eningkatan insidensi mutasi faktor ; =eiden dalam hubungannya
dengan abortus iminens juga ditemukan oleh -ajo dkk.
%0
'eningkatan resistensi
terhadap protein : terakti"asi juga ditemukan pada kehamilan normal, dan hal ini
harus dibedakan dengan bentuk yang diturunkan yang menetap selama hal ini
berhubungan dengan peningkatan risiko tromboembolisme, di luar kehamilan.
21
*ose"ear
5
menemukan bah&a resistensi terhadap protein : terakti"asi yang
didapat dalam kehamilan bukan keadaan yang diturunkan, lebih banyak
didapatkan pada &anita yang mengalami abortus iminens.
Sindrom antifosfolipid A'A merupakan antibodi yang terikat pada
protein negatif pada komponen fosfolipid membran sel. Secara normal, beban
negatif tidak terungkap, terdapat di permukaan dalam membran sel. 'roduksi
A'A merupakan respons normal terhadap proses penghancuran permukaan dalam
membran sel dan antibodi akan dihasilkan pada keadaan ini. 'roduksi A'A
berhubungan dengan berbagai kelainan autoimun, misalnya S=? dan juga
kelainan autoimun lainnya. Akan tetapi A'A tidak didapatkan pada semua
penderita S=?, pada salah satu seri hanya mendapatkan A'A pada !0,$# subjek
dengan S=?.
%,11
Apabila antibodi menetap di luar masa akut dan berhubungan dengan
penyakit tromboembolik atau kehilangan kehamilan berulang, dapat ditegakkan
diagnosis sindrom antifosfolipid 3A'S4. 7erdapat berbagai A'A, tetapi yang
penting dalam kehamilan adalah antikardiolipin dan lupus anticoagulant. A'A
didapatkan pada 15# &anita yang mengalami abortus iminens. Antibodi ini
diperkirakan menyebabkan kehilangan kehamilan dengan efeknya pada annexin-
#, merupakan fosfolipid terikat protein yang ada pada sinsitiotrofoblas yang
melapisi "ili plasenta. Annexin-# merupakan antikoagulan yang poten secara in
vitro maupun in vivo dan apabila dikeluarkan oleh sinsitiotrofoblas akan
mengurangi adanya A'A, mengakibatkan trombosis plasenta. ,al ini memberikan
keterangan yang memuaskan mengenai peran A'S dalam kehilangan kehamilan
22
pada stadium akhir trimester pertama. 'enjelasan lain dikemukakan oleh
=eftherioti mengenai penyebab nontrombotik dari kehilangan kehamilan yang
berhubungan dengan A'S pada kehamilan sangat dini, dengan A'A yang secara
langsung merusak lapisan trofoblas sehingga terjadi ketidaksempurnaan
implantasi. 7erdapat angka kehilangan kehamilan yang tinggi dengan adanya
A'S, yaitu 60# pada kehamilan dini. 0anita&anita tersebut mempunyai ri&ayat
abortus iminens dan 6$# terjadi pada trimester pertama.
%1

'enyesuaian respons imunologis diperlukan dalam kehamilan. 7elah
diketahui apabila ingin berhasil, respons 7h1 yang embriotoksik harus ditekan dan
harus lebih dominan respons 7h2. *espons 7h1 yang dominan pada kehamilan
dini akan menyebabkan kehilangan kehamilan dini berulang.
%1
<asih belum jelas
apakah terdapat respons inflamasi yang abnormal atau respons abnormal tersebut
terjadi karena peristi&a imunologis. 0anita dengan ri&ayat abortus mempunyai
kadar sitokin 7h1 yaitu (=12, (=11, dan (89 yang lebih tinggi dibandingkan
dengan &anita hamil normal. Akan tetapi kadar (=11 pada &anita dengan ri&ayat
abortus menurun jika kehamilan berlangsung baik dan kadarnya lebih rendah
secara bermakna bila dibandingkan dengan &anita yang tidak hamil. 0anita yang
tidak hamil dengan ri&ayat abortus iminens mempunyai reseptor (=12 yang lebih
tinggi, yang merupakan penanda akti"asi dan proliferasi sel 7.
22,!1
Stimulasi lipopolisakarida '<9 darah perifer diinkubasi dari plasma pada
abortus iminens mengakibatkan pelepasan (=10 lebih sedikit dibanding kontrol.
>elompok abortus mempunyai sebab heterogen, tetapi dalam kelompok, kadar (=
10 lebih rendah secara bermakna. ,al ini menunjukkan bah&a plasma &anita
2!
dengan ri&ayat abortus mengandung faktor yang melemahkan respons inflamasi
normal. -erbagai pengobatan imunologis telah dicoba. (munoglobulin intra"ena
tampaknya belum dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan kehamilan.
22,%2
*i&ayat abortus spontan pada kehamilan sebelumnya meningkatkan
kemungkinan abortus berikutnya. :oste dkk.
$0
mendapatkan bila terjadi dua atau
lebih kehilangan janin sebelumnya akan meningkatkan risiko abortus berikutnya
3.* H 2,!4. 0alaupun :aterina dkk.
%!
mendapatkan supresi =, tidak
memperbaiki hasil akhir kehamilan, mereka tidak menemukan bah&a semua
&anita yang terlibat dalam penelitian mempunyai hasil akhir yang baik. Stark
%$
yang menemukan bah&a penanganan suportif meningkatkan keberhasilan
kehamilan sampai 1%# pada &anita dengan abortus yang belum diketahui
penyebabnya, dibandingkan !!# 3pH0,0014 pada &anita yang tidak mendapat
dukungan ini, seperti dikemukakan oleh =eible dkk.
!!

2.1.2 %u)er+ks!d D!smutase )ada A*+rtus
S.D adalah en2im antioksidan di dalam sel darah merah yang berfungsi
sebagai katalis radikal superoksid menjadi ,
2
.
2
dan .
2
,
. Fenkins dkk.
%2
meneliti
peranan antioksidan pada &anita hamil sehat dan yang mengalami abortus pada
trimester pertama. ,asilnya menunjukkan bah&a jika contoh darah diambil pada
saat kehamilan dan kehamilan tersebut berhasil, berhubungan dengan peningkatan
kadar seruloplasmin dan S.D pada a&al trimester pertama. 'erubahan ini
menyebabkan adanya perlindungan sel dari kerusakan yang disebabkan karena
meningkatnya stres oksidatif yang berhubungan dengan kehamilan.
2$
Ada dua macam S.D, copper-$inc S.D 3:u, 5n S.D4 terletak di dalam
sitosol dan manganese S.D 3<nS.D4 yang terletak dalam mitokondria yang
ditemukan dalam endometrium manusia.
%5
Secara in vitro, produksi kedua macam
S.D tersebut meningkat dengan adanya estrogen dan progesteron, tetapi dengan
dua mekanisme yang berlainan. <nS.D diproduksi melalui jalur yang
bergantung cA<', sedangkan :u,5nS.D dengan jalur lain, sehingga
menyebabkan perbedaan peran keduanya dalam jaringan endometrium.
%%
7elah
dilaporkan bah&a :u,5nS.D terlibat dalam regulasi fungsi sel, sedangkan <n
S.D bekeja untuk kelangsungan hidup sel dengan mela&an radikal oksigen di
dalam mitokondria.
%)
S.D mempunyai peran penting dalam mempertahankan
kehamilan.
%1,%6

0anita yang mengalami abortus pada trimester pertama mempunyai kadar
S.D yang menurun secara bermakna. 'enurunan kadar S.D ini akibat loncatan
elektron rantai respirasi mitokondria, suatu sampah ion .
2

, dapat mengakibatkan
peningkatan produksi *.S. 'erubahan ini didapatkan pada sirkulasi perifer dan
dapat mencerminkan perubahan yang terjadi di dalam uterus.
%2,)0
7rimester
pertama kehamilan yang berlanjut, berhubungan dengan peningkatan akti"itas
antioksidan seperti ditunjukkan pada peningkatan kadar seruloplasmin dan S.D
dan hal ini dapat memberikan perlindungan terhadap serangan antioksidan.
'enurunan kadar S.D pada &anita yang mengalami abortus pada kehamilan
kedua, menunjukkan bah&a abortus dicetuskan oleh peristi&a khusus dan tidak
dipengaruhi oleh kehamilan sebelumnya. 'erubahan ini menunjukkan bah&a
kehamilan dini berhubungan dengan peningkatan stres oksidatif tetapi kerusakan
25
dapat dihindari karena adanya sistem antioksidan. 'ada penderita yang mengalami
abortus, penurunan kadar sampah ion .
2

S.D dapat meningkatkan produksi


*.S.
1%,$6
2.1.3 %!t+k!n Per!-er )ada A*+rtus
'roduksi sitokin telah diketahui memegang peranan penting dalam
kehamilan normal ataupun yang berakhir dengan abortus. -eberapa penelitian
telah dilakukan pada sirkulasi perifer dan mendapatkan bah&a kadar sitokin darah
perifer berbeda secara bermakna antara &anita yang mengalami abortus dan yang
kehamilannya berlanjut. 7etapi terdapat perbedaan antara populasi limfosit perifer
dan endometrial.
22
Desidua merupakan jaringan maternal yang berhubungan sangat erat
dengan trofoblas fetal dan interaksi imunologis antara ibu dan janin terjadi dalam
jaringan ini. Desidua mengandung jumlah leukosit yang amat tinggi termasuk
makrofag dan limfosit. =imfosit desidua mempunyai potensi sitotoksik terhadap
trofoblas. .li"ares dkk.
)1
membandingkan akti"itas sitotoksik limfosit desidua
yang berasal dari &anita yang mengalami abortus spontan. =imfosit desidua
dalam proporsi yang lebih tinggi didapat dari &anita yang mengalami abortus
ditemukan untuk menunjukkan tandatanda akti"asi dibandingkan dengan
jaringan desidua yang didapat pada saat terminasi. 'ada saat populasi limfosit
dapat menyebabkan lisis pada batas sel F?/! dalam pemeriksaan %r-release,
limfosit yang didapat dari desidua dari &anita yang mengalami abortus dapat
menyebabkan apoptosis sel F?/!. ,asil ini mendukung hipotesis bah&a limfosit
2%
desidua yang terakti"asi dapat berperan dalam abortus spontan dengan
menyebabkan apoptosis tetapi tidak menimbulkan nekrosis trofoblas.
2,)2
>arena banyak pengaruh sel 7 yang diperantarai sitokin, maka adanya
bagian fetoplasental bergantung pada tipe sitokin yang dihasilkan sel 7 desidua
selama kehamilan. 'emeliharaan kehamilan berhubungan dengan adanya sitokin
7h2, dengan (=$ sebagai faktor yang predominan dalam polarisasi 7h2. Abortus
berhubungan dengan adanya sitokin 7h1 dengan (89 yang mengembangkan
diferensiasi sel 7 nave menuju sel 7h1. (=$ yang dihasilkan sel 7h2
menyebabkan perkembangan sel 7 yang menghasilkan leu&aemia inhibitory
fa&tor 3=(84 dan colony stimulating fa&tor 3<:S84 yang diperlukan dalam
perkembangan embrio. 'enelitian <urine dkk.
21
menemukan bah&a saat sitokin
7h2 terdeteksi pada hubungan fetalmaternal selama kehamilan, (89 yang
merupakan sitokin 7h1, hanya terdeteksi pada a&al kehamilan.
(mplantasi embrio merupakan faktor yang menentukan fertilitas manusia.
8aktorfaktor yang berperan dalam keberhasilan implantasi blastokis belum
sepenuhnya dimengerti, tetapi tampaknya peranan jaringan hormon sitokin pada
hubungan fetal maternal yang mempengaruhi implantasi blastokis dan untuk
mempertahankan kehamilan. 'rogesteron yang diketahui sebagai imunosupresif
dan juga mencetuskan diferensiasi sel 7 menjadi efektor 7h2 diduga merupakan
bagian kecil yang bertanggung ja&ab terhadap perubahan 7h2 pada hubungan
fetal maternal. 'iccinni dkk.
!1
menemukan bah&a progesteron dalam konsentrasi
yang lebih tinggi daripada yang ditemukan dalam serum &anita hamil, tetapi
serupa dengan yang ditemukan pada hubungan fetal maternal dapat menyebabkan
2)
dihasilkannya (=$ dan (=5. ,ormonhormon lain termasuk 1)estradiol dan
h:/ yang dikeluarkan dalam jumlah banyak selama kehamilan tidak berpengaruh
terhadap produksi sitokin 7h1 dan 7h2.
!1,$6
0alaupun demikian tidak semua penelitian mendukung pandangan ini.
=im dkk.
22
meneliti pengaruh sitokin 7h1 dan 7h2 endometrium pada
keberhasilan maupun kegagalan reproduksi. <ereka menemukan bah&a pada
&anita tanpa ri&ayat abortus iminens tidak terdeteksi adanya (=12, (89 , (=2,
dan 798 atau (=2 pada endometrium dekat tempat implantasi, sehingga
menghambat perkembangan sel 7h0 menjadi 7h1. (=$ juga terdeteksi, membantu
perkembangan sel 7h0 menjadi 7h2 dan kemudian menggeser keseimbangan
menjauhi respons sitotoksik. 7etapi pada &anita dengan ri&ayat abortus iminens,
(=C12 terdeteksi pada endometrium, seperti adanya sitokin 7h1, (89 , (=2, dan
798 menghasilkan respons penolakan sitokin 7h1 pada saat implantasi. >adar
sitokin perimplantasi tidak merupakan faktor yang dapat memperkirakan hasil
kehamilan pada &anita dengan ri&ayat abortus iminens.
!1

21
'am*ar 2.1 Aks! !mun+regulat+r I.N
SumberA Scott dkk.
%
'enelitian <urine dkk.
21
menyokong bah&a =(8 merupakan kebutuhan
endometrium untuk implantasi dan perkembangan embrio. =(8 yang terutama
dihasilkan oleh sel 9> dan sel 7, pengeluarannya dipengaruhi 7h1 seperti (=12
dan (89 dan up-regulated oleh (=$ dan progesteron. Sel desidua yang diambil
dari &anita yang menderita keguguran berulang ditemukan menghasilkan lebih
sedikit (=$, (=10, dan =(8 dibanding &anita yang hamil normal, tetapi mungkin
perubahan fungsional pada sel 7 merupakan hasil, bukan penyebab kegagalan
kehamilan.
12
'erbedaan ini hanya didapatkan dalam jaringan desidua dan tidak
dalam darah perifer, penulis menyimpulkan bah&a perubahan ini merupakan hasil
perubahan lingkungan mikro. >adar <:S8 uterus meningkat 1.000 kali lipat
selama kehamilan, <:S8 adalah sitokin lain yang penting dalam perkembangan
embrio. Sebagaimana <:S8 m*9A diperlihatkan pada endometrium uterus
hamil dan reseptor <:S8 telah dideteksi pada trofoblas, sehingga menunjukkan
bah&a <:S8 adalah mediator lokal dalam interaksi antara endometrium dan
trofoblas.
)!
'iccinni dkk.
)$
menemukan produksi <:S8 lebih rendah pada klon
:D$I sel 7 yang berasal dari desidua &anita yang mengalami abortus iminens
dibandingkan dengan <:S8 yang dihasilkan klon kontrol yang didapat dari
desidua &anita yang sengaja melakukan aborsi. 'enemuan ini menyimpulkan
bah&a produksi =(8, sitokin 7h2, dan <:S8 oleh sel 7 pada hubungan fetal
maternal dapat mempertahankan kehamilan.

;i"es dkk.
2!
meneliti ekspresi sitokin pada jaringan desidua dan trofoblas
dari &anita yang tidak mengalami masalah dalam kehamilannya dan menjalani
26
seksio sesarea, partus per "aginam dengan bayi (+/*, abortus yang pertama, dan
&anita dengan ri&ayat abortus iminens pada saat terjadinya abortus. Didapatkan
hasil adanya peningkatan bermakna ekspresi (89 pada jaringan desidua &anita
yang mengalami abortus.
)5
>adar (=10 rendah pada kelompok ini dibandingkan
dengan kelompok yang hamil normal. 'enemuan ini menunjukkan adanya
keseimbangan antara sitokin tipe 1 dan 2 selama kehamilan yang diperlihatkan
dengan ekspresi (89 pada hubungan fetal maternal.
Apa yang mempengaruhi produksi sitokin pada hubungan fetal maternal
masih belum jelas, tetapi sebuah penelitian in vitro mendapatkan bah&a sel 7 dan
9> yang diperas@diambil dari sel mononuklear darah perifer 3'-<:4 diambil dari
&anita tidak hamil dengan ri&ayat abortus iminens dapat menyebabkan toksisitas
embrio secara in vitro.
15
Adanya sitokin yang dihasilkan 3produksi (=2 mencapai
puncak dalam 2$ jam, 798 dan (89 dalam 6% jam4 menyimpulkan bah&a
trofoblas dapat menghasilkan imunitas 7h1 pada &anita yang mempunyai ri&ayat
abortus iminens yang mempunyai efek terhadap embrio in vitro. :arthy dkk.
)%
juga mempelajari toksisitas embrio dan mendapatkan bah&a pada &anita dengan
ri&ayat abortus iminens yang menghasilkan faktor embriotoksik yang
mempengaruhi produksi sitokin 7h1, 7h2, dan 7/8b oleh trofoblas yang
!0
'am*ar 2.2 Peru*ahan sel Th1 menad! Th2 dan se*al!kn/a
SumberA <iller dkk.
1%
diakti"asi '-<:. ?fek embriotoksik ini diperburuk dengan ditambahkannya
progesteron atau (=10 pada media tanam.
))
(n"asi trofoblas menyebabkan perubahan dinamis pada selsel dan
interaksi selmatriks. ,al ini terjadi pada endometrium, sebuah reaksi yang serupa
dengan reaksi inflamasi. >umar dkk.
11
meneliti kadar inducible form of nitric
oxide synthetase 3i9.S4, adrenomedullin 3A<4, fatty acid synthetase 38AS4, dan
s100 protein. >eempat komponen tersebut terdapat pada sel desidua dan
trofoblas pada a&al kehamilan. >adar A< dan i9.S lebih tinggi secara bermakna
dalam jaringan yang diambil dari &anita yang sengaja mengakhiri
kehamilannya.
1%
'erbedaan yang ditemukan dapat menggambarkan modifikasi
fungsional jaringan plasenta.
2
Dengan menggunakan contoh jaringan endometrium yang didapat dari
&anita dengan dan tanpa ri&ayat abortus iminens, pemeriksaan kuantitatif dan
kualitatif dengan menggunakan ?=(SA dan teknik reverse transcriptase
polymerase chain reaction 3':*4. :ontoh jaringan yang diambil pada periode
periimplantasi pada &anita dengan ri&ayat abortus iminens menunjukkan adanya
sitokin 7h1, sedangkan pada &anita tanpa ri&ayat abortus menghasilkan kadar
sitokin 7h1 yang lebih rendah dan sitokin 7h2 lebih tinggi.
)$,)1
,asil ini
mendukung bah&a respons 7 helper maternal tampaknya berperan independen
dengan faktor humoral dalam mempengaruhi keberhasilan ataupun kegagalan
reproduksi manusia, dan tidak ada hubungan yang ditemukan antara kadar
hormon serum dan kadar sitokin, menunjukkan bah&a sistem endokrin dan
imunitas bekerja terpisah.
%,!1
!1
Stres dipikirkan merupakan faktor yang terlibat dalam abortus iminens.
Andersen dkk.
)6
membuat kuesioner stres dan menghitung nilai stres pada &anita
dengan ri&ayat abortus iminens. >emudian jaringan desidua diperiksa secara
imunohistokimia dan hibridisasi in situ untuk menghitung jumlah sel 9>, :D1
I
,
:D!
I
dari sel 7. ,asilnya menunjukkan pada jaringan desidua yang diambil dari
&anita dengan nilai stres lebih tinggi mengandung jumlah :D1
I
dan 798 yang
lebih banyak, sehingga disimpulkan bah&a stres yang menyebabkan abortus pada
manusia dapat dihubungkan dengan gangguan keseimbangan imunologis.
Sebuah teori alloimmune dikemukakan untuk menerangkan imunitas tipe
7h1 terhadap trofoblas. Setelah in"asi trofoblas, A': dalam desidua menjadi
terakti"asi dan akibatnya dikeluarkan sitokin dari 7h1 dan 7h2. Apabila 7h1 yang
predominan, termasuk (89 , 798 atau (=1, maka hal ini akan mengganggu
diferensiasi dan pertumbuhan sel plasenta a&al dan juga bersifat toksik terhadap
perkembangan embrio. ,ipotesis ini kemudian didukung adanya penemuan
predisposisi genetis adanya respons sitokin 7h1 yang hebat sebagai hasil adanya
polimorfisme pada daerah promotor 1.
%
!2
:haouat dkk.
10
menganalisis ekspresi sitokin baru tertentu pada hubungan
fetal maternal dan ditemukan bah&a pada aborsi cenderung ada kombinasi
ekspresi :-A@F G D-A@2F dan sekresi lebih sedikit (=11 dibandingkan dengan
kombinasi nonaborsi yaitu :-A@F G -A2-@c. 'eneliti lain juga menemukan
ekspresi (=11, (=12, (=15, (=1%, (=1), dan (=11 dalam uterus, daerah
periimplantasi embrio, jaringan desidua, dan plasenta. -ila sitokin mempunyai
lokasi yang tepat, maka menunjukkan bah&a masingmasing mempunyai fungsi
regulasi. Dari penelitian ini didapatkan bah&a sitokin yang dihasilkan dari
hubungan fetal maternal mempengaruhi apakah kehamilan itu berlanjut ataupun
tidak. 'rogesteron yang diketahui sebagai obat imunosupresif mungkin
bertanggung ja&ab terhadap pergeseran ke arah 7h2 pada hubungan fetal
maternal.
12,!1
2.1.3.1 Interleuk!n "
(=$ adalah sitokin yang dikenal sebagai faktor akti"asi dan diferensiasi
sel -, bekerja pada sel - untuk merangsang akti"asi dan diferensiasi sehingga
menyebabkan pengeluaran sebagian (g/ dan (g? dan juga bekerja pada sel 7
sebagai faktor pertumbuhan dan akti"asi dan menyebabkan diferensiasi sel 7h2.
(=$ merupakan stimulus utama produksi (g? dan perkembangan 7h2 dari :D$
I
naif. (=$ merupakan sitokin petanda sel 7h2, (=$ merangsang sel - meningkatkan
produksi (g/ dan (g? dan ekspresi <,:((. (=$ merangsang isotipe sel - dalam
!!
'am*ar 2.3 %!t+k!n se*aga! l!ngkaran k+mun!kas! dalam
s!stem !mun dan +rgan la!n
SumberA =im dkk.
22
pengalihan (g?, diferensiasi sel 7 naif ke subset 7h2. (=$ mencegah aktifasi
makrofag yang diinduksi (89 dan merupakan /8 untuk sel mast terutama dalam
kombinasi dengan (=!.
22
2.1.3.2 Inter-er+n
(89 yang diproduksi berbagai sel sistem imun merupakan sitokin utama
macrophage activating cyto&ines dan berperan terutama dalam imunitas nonspesifik
dan spesifik selular. (89 adalah sitokin yang mengaktifkan makrofag untuk
membunuh fagosit. (89 merangsang ekspresi <,:( dan <,:(( dan
kostimulator A':. (89 meningkatkan diferensiasi sel :D$
I
naif ke subset sel 7h1
dan mencegah proliferasi sel 7h2. (89 bekerja terhadap sel - dalam pengalihan
subkelas (g/ yang mengikat 8c* pada fagosit dan mengaktifkan komplemen. (89
mengaktifkan fagosit dan A': dan induksi pengalihan sel -, menginduksi tidak
langsung efek 7h1 atas peran peningkatan produksi (=12 dan ekspresi reseptor.
22,11
2.1." #erusakan End+tel
'embuluh darah balik arteri, "ena maupun kapiler dilapisi oleh endotel
pada permukaan yang menghadap ke lumen. Selsel endotel ini melekat ke
dinding pembuluh darah di ba&ahnya melalui serabut kolagen dan berbagai
glikosaminoglikan termasuk fibronektin. Dengan adanya selsel endotel ini,
maka selsel darah yang beredar dalam pembuluh darah tidak bersinggungan
dengan jaringan kolagen di ba&ahnya, sehingga tidak terjadi proses
!$
pembekuan.
12,1!
?ndotel "askular merupakan organ kompleks dan aktif yang mempunyai
fungsi endokrin dan fungsi struktural. Sel endotel ini terletak pada permukaan
antara sirkulasi darah dan otot polos pembuluh darah, sehingga mampu
mengekskresikan berbagai molekul kedalam darah dan molekul tersebut mampu
mencapai seluruh sel tubuh. Dengan luas lebih dari 1.000 meter persegi, sel endotel
dapat berfungsi sebagai sel target bagi unsur plasma 3seperti leukosit, trombosit
dan sebagainya4 yang dapat memodulasi endotel dan merubah fungsi otot polos.
1!
7onus otot polos "askular diatur oleh sel endotel dengan memproduksi
faktor relaksasi seperti prostasiklin dan 9. atau ?D*8 dan faktor konstriksi
seperti endotelin atau ?D:8, angiotensin ((, tromboksan A
2
sebagai respons
terhadap rangsangan fisiologi maupun patologi. 8ungsi lain sel endotel
adalah berperan penting dalam hoemostasis yang diatur oleh mediator
prokoagulan dan antikoagulan.
1!
'ada keadaan normal, sel endotel merupakan permukaan tidak lengket
sehingga dapat mencegah koagulasi, adhesi sel, dan kebocoran cairan rongga
intra"askular.
12
!5
'am*ar 2.". Hu*ungan kerusakan end+tel dengan )erlekatan leuk+s!t&
agregas! tr+m*+s!t& k+agulas! dan -!*r!n+l!s!s
SumberA >urjak dan Aksamija.
2%
-ila sel endotel mengalami kerusakan, maka jaringan subendotel akan
terpapar.
1$
Dengan adanya kerusakan endotel akan menimbulkan diskontinuitas
lapisan pembuluh darah sebelah dalamnya dan apabila dibiarkan akan terjadi
kebocoran pada sistem mikro"askular. Secara alamiah tubuh berusaha menutup
kerusakan tersebut dengan membentuk agregasi trombosit. Dalam keadaan
normal, sel endotel akan memproduksi prostasiklin yang relatif tinggi,
sebaliknya trombosit akan memproduksi tromboksan. -ila terjadi kerusakan sel
endotel maka produksi prostasiklin akan menurun, namun kadar tromboksan akan
meningkat akibat terpaparnya dengan selsel darah terutama trombosit yang
ditandai dengan terjadinya agregasi trombosit sehingga efek "asokontriksi akan
lebih tinggi yang menyebabkan terjadilah peninggian tekanan darah.
)%,15
-ukti biokimia adanya akti"asi sel endotel meliputi tingginya kadar
endotelin, faktor "on 0illebrand, diekspresikannya <?S dan :A< dan rendahnya
kadar prostasiklin dan nitrik oksida yang semuanya disekresikan oleh sel endotel.
,ipotesis lain adalah faktor plasenta dan faktor ibu menimbulkan stres oksidasi,
yaitu ketidakseimbangan antara kekuatan oksidan dan antioksidan yang
mengancam pertahanan "asodilator, antiagregasi, dan fungsi barier endotel
pembuluh darah.
1!,1%
2.1.".1 Peranan Rad!kal Be*as )ada #erusakan End+tel
*adikal bebas adalah suatu atom, gugus atau molekul yang memiliki
!%
satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbit paling luar,
termasuk di antaranya adalah atom hidrogen, logamlogam transisi, dan molekul
oksigen. Dengan adanya elektron yang tidak berpasangan, maka radikal bebas
secara kimia&i sangat reaktif dan beberapa mampu menginduksi sel serta
merusak jaringan. *adikal bebas dapat bermuatan positif 3kation4, negatif 3anion4
atau tidak bermuatan. Sebagian besar secara biologis berhubungan dalam suatu
spesies oksigen reaktif 3*.S4.
1$,1)
'roduksi *.S yang berlebihan dapat timbul dari berbagai sumber, baik
lingkungan maupun metabolik. Faringan iskemia@hipoksia diikuti reperfusi
merupakan salah satu pembentukan *.S dan peroksida lipid secara in vivo.
11
>erusakan sel yang terjadi akibat radikal bebas, didahului oleh
kerusakan membran plasma dengan terjadinya rangkaian proses sebagai berikutA
7erjadi ikatan ko"alen radikal bebas dengan komponen membran 3en2im membran,
komponen karbohidrat membran plasma4, sehingga terjadi perubahan struktur dan
fungsi reseptor.
11
.ksidasi gugus tiol pada komponen membran oleh radikal bebas yang
menyebabkan proses lintas membran terganggu.
*eaksi peroksidasi lipid dan kolesterol membran yang mengandung asam lemak
tidak jenuh majemuk 3'+8A H pol y unsaturated fatty acid'( ,asil
peroksidasi ini akan berefek langsung pada kerusakan membran sel, antara
lain dengan mengubah
(
fluiditas, crosslin&ing, struktur, dan fungsi membran.
Dalam keadaan parah akan menyebabkan kematian sel.
!)
2.1.".2 D!s-ungs! End+tel
'erubahan maladaptif pada setiap fungsi endotel yang diinduksi abnormal
kualitatif atau kuantitatif dapat menghasilkan perubahan setempat meliputi
perubahan dalam sifatsifat antihemostatik endotel, dalam pengaturan tonus
"askular dan permeabilitas terhadap lipoprotein plasma, hiperadesi terhadap
leukosit, serta meningkatkan produksi sitokin dan growth factor.
%!, 16
'erubahan
perubahan ini dapat disebut disfungsi endotel. (stilah akti"asi endotel secara
spesifik menunjukkan satu subsel disfungsi endotel yang dikarakterisasi dengan
perubahan fungsi dalam endotel di ba&ah pengaruh beberapa stimuli dengan
mendapatkan sifat antigenik dan fungsional baru yang sangat dipengaruhi
interaksi dengan leukosit.
%!
Disfungsi endotel bukan hanya merupakan petanda
untuk penyakit "askular, tapi juga berperan penting dalam inisiasi dan progesi
penyakit. Disfungsi endotel umumnya didefinisikan sebagai penurunan sintesis,
pelepasan, dan atau akti"itas 9. yang berasal dari endotel. 'enurunan
bioakti"itas 9. lebih lanjut dapat menyebabkan akti"asi selsel endotel.
16
'engikatan leukosit pada endotel terjadi dalam sejumlah proses inflamasi
dan gangguan imunologis. Sekelompok protein pada permukaan endotel, masing
masing dengan fungsi yang berbeda memberikan traffic signal untuk leukosit.
'roteinprotein ini meliputiA keluarga molekul adhesi selectinE kemoaktran 3yang
sekarang disebut kemokin4 seperti <:'1 dan (=1, dan superfamili
imunoglobulin 3(:A<1, (:A<2, (:A<!, ;:A<14, yang mengenali ligan
intergrin pada permukaan leukosit.
%!
Seperti telah disebutkan selsel endotel memproduksi 2at
!1
"asoaktif sebagai respons terhadap faktorfaktor lingkungan seperti aliran darah,
tekanan hemodinamik )shear stress', dan stimulasi melalui reseptor. 8ungsi
endotel biasanya ditentukan melalui diameter "askular, kontraktilitas
"askular atau aliran darah, sebagai respons terhadap agonis endotel, seperti
asetilkolin atau bradikinin. 'erubahan diameter "askular diukur dengan angiografi
atau +S/, sedangkan perubahan dalam aliran darah atau resistensi "askular
diukur melalui pletismografi pada lengan. >ontraktilitas "askular diukur melalui
kekuatan transduser bilik organ secara bioassay in vitro(
16
'emeriksaan fungsi endotel dengan mengukur diameter "askular dan lain
lain seperti disebutkan di atas, kurang dapat memberikan gambaran tentang
disfungsi endotel yang berkaitan dengan adanya inflamasi, peningkatan
permeabilitas endotel, peningkatan oksidasi =D=, akti"asi koagulasi, dan
gangguan fibrinolisis. 'etanda biokimia&i merupakan piranti yang penting untuk
keperluan ini.
16
'etanda biokimia&i yang la2im dipakai untuk penentu disfungsi
endotel, maupun perbaikan fungsi endotel meliputiA
'etanda untuk adanya inflamasiA molekul adhesi seperi ;:A<1, (:A<1,
?selektin.
'etanda untuk adanya agregasi trombosit dan akti"asi prokoagulanA von
*illebrand factor 3"084, trombomodulin 3s7<4.
'etanda untuk gangguan fibrinolisisA plasminogen activator inhibitor1
3'A(14, tissue-type plasminogen activator 3t'A4.
'etanda untuk peningkatan permeabilitas endotelA mikroalbuminuria.
'etanda untuk oksidasi =D=A 8
2
isoprostan.
!6
Dalam keadaan normal, selsel endotel dapat mencegah masuknya
lipoprotein dan monosit kedalam dinding arteri, menjaga irama "askular, serta
mencegah koagulasi dan trombosis. 8ungsi endotel yang kritis ini sensitif terhadap
berbagai macam bentuk luka, seperti shear stress hemodinamik, stres oksidatif, dan
pemaparan terhadap sitokin inflamasi maupun kolesterol. Disfungsi endotel,
berkaitan dengan peningkatan permeabilitas, peningkatan adhesi dan infiltrasi
monosit, peningkatan sekresi molekul "asoaktif dan inflamasi, peningkatan
adhesi dan agregasi trombosit, serta peningkatan prokoagulan dan gangguan
fibrinolisis. 7ahap a&al proses sterogenesis adalah rekrutmen monosit pada
daerah inflamasi dan luka endotel dengan cepat. >adar ;:A<1 dan ?selektin
akan meningkat.
2$
2.1.".3 Cells Adhesion Molecule 01AM2 )ada #eham!lan
2.1.".3.1 .ert!l!sas! dan M+lekul Perekat
'embuahan oosit oleh spermato2oa terikat pada 2ona pelusida, sebagian
besar protein <?S mengelilingi oosit yang disebut dengan 5'! yang dapat
memperkuat reaksi akrosom.
25
<olekulmolekul yang mengikat 5'! pada kepala
sperma termasuk adhesin sperma, S'5%, protein lektin, '65, J1, $
galaktosiltransferase, dan ',
2
.. Sperma yang terikat dan bergabung dengan oosit.
'rotein pada kepala sperma diketahui sebagai fertilin 3',!04 berinteraksi dengan
oosit pada akhir stadium. 8ertilin terdiri dari subunit K dan J dengan subunit J
mempunyai integrin yang disebut disintegrin. Sperma manusia juga terikat dan
melekat pada beberapa <?S, termasuk kolagen dan laminin. 8ibronektin
$0
dikeluarkan kepala sperma dan mengelilingi bagian belakang kepala sperma. (ni
merupakan bagian dari sperma yang berinteraksi pertama kali dengan membran
plasma oosit pada saat pembuahan.
25
2.1.".3.2 Eks)res! Integr!n )ada Em*r!+
Ditemukan pada masa embrio a&al dan sebelum implantasi mengeluarkan
subunit integrin seperti K!, K", J1, J2, J!, J$, dan J5 dan tidak ada laporan
mengenai perubahan pada stadium blastokis, ? kaderin, (:A<1, 9:A<,
;:A<, dan =selektin. Selain subunit di atas terdapat juga subunit K!, K", J2,
dan J) dalam jumlah yang sedikit.
25
'rotein <?S memegang peranan penting selama perkembangan embrio,
mengatur pertumbuhan, migrasi, serta diferensiasi. =aminin J1 dan J2 merupakan
molekul <?S pertama yang ditemukan pada tingkat dua sel sampai empat sel.
'enelitian pada he&an memberi kesan bah&a reseptor matriks dan ekspresi ligan
sebelum implantasi penting untuk pembentukan membran dasar. Aspek lain yang
turut terlibat pada perkembangan preimplantasi belum diketahui.
2.1.".3.3 M+lekul Perekat )ada Im)lantas!
'ada &anita terdapat 5 hari window period, yaitu hari ke20 sampai 2$
dari siklus menstruasi. ,ubungannya dengan peningkatan =, yang terjadi !% jam
sebelum o"ulasi, window period ini sesuai dengan =,I) sampai =,I11. 'ada
tikus percobaan, window period ini kurang dari 2$ jam dengan implantasi yang
bergantung pada estrogen dan dihambat oleh adanya progestin. >egagalan dalam
$1
penerimaan embrio dapat terjadi pada beberapa kasus infertilitas sepertiA gangguan
pada fase luteal, mioma uteri, endometriosis, abortus berulang, dan infertilitas
yang tidak diketahui.
7erjadinya nidasi blastokis pada endometrium membuktikan adanya peran
interaksi antara ligan dan molekul perekat. -ukti lain terjadinya nidasi akibat
hilangnya molekul antiperekat seperti <+:1. <+:1 merupakan salah satu
dari musin permukaan endometrium yang membantu terjadinya nidasi. <+:1
berada pada membran plasma, mempunyai ujung sitoplasma yang pendek
dan mempunyai inti sel utama yang besar yang ditemukan dalam jumlah yang
banyak pada mikro"ili dan silia pada permukaan apikal dari sel endometrium.
2$
<+:1 terdiri dari beberapa glikan yang diekspresikan pada fase sekresi dan
proliferasi dari siklus menstruasi, tetapi terbanyak pada fase sekresi. 8ungsi
<+:1 yang tepat tidak diketahui dengan pasti. Dilihat dari struktur yang
membentuknya, <+:1 berfungsi seperti integrin.
25
2.1.".3." Integr!n )ada End+metr!um
?ndometrium manusia merupakan suatu gabungan yang kompleks dari
kelenjar, sel stroma, sel limfoid, fibroblas, sel endotel, dan sel otot polos
pembuluh darah. <olekul perekat sel sangat penting dalam interaksi satu
dengan yang lainnya dan dengan <?S termasuk kolagen, laminin, dan
fibronektin. Selama siklus menstruasi, endometrium mengalami perubahan
sebagai persiapan untuk nidasi. Di dalam epitel kelenjar, subunit K2, K!, K",
J1, J2, J!, J$, dan J5 diekspresikan secara terus menerus. Alfa " dan K1
$2
meningkat setelah o"ulasi dan menurun pada akhir fase sekretoris. -eta 1
diekspresikan dalam sel stromal pada saat siklus menstruasi, pada penelitian
secara in vitro memberikan kesan bergantung adanya progestin. Dalam
penelitian lain dari kultur endometrium dapat dilihat bah&a integrin
diekspresikan oleh sel dan tidak berubah oleh steroid atau antiprogestin.
25,60
;:A<1, (:A<1 dan ?selektin diekspresikan pada saat siklus
menstruasi dan jumlah "ariasi dapat diukur dari distribusi leukosit.
<enstruasi dihubungkan dengan lepasnya kelenjar endometrium, dalam
percobaan ini dapat dilihat dari kerusakan protein termasuk ?kaderin.
25
2.1.".3.3 Matr!ks Ekstraselular dar! %tr+ma End+metr!um dan Des!dua
Stroma endometrium berisi <?S yang terdiri dari kolagen (, (((, (;,
fibronektin, dan tenasin. >elenjar dan membran basal endotel mengandung
kolagen tipe (;, laminin, dan heparan sulfat. -eberapa penelitian
menyatakan bah&a pada trimester pertama, stroma desidua basal manusia
mengandung laminin 2, laminin $, dan juga 10 atau 11.
25

'roduksi laminin antar sel oleh stroma desidua dikontrol secara
hormonal pada saat implantasi. Fumlah terbesar laminin pada pembuluh darah
dan membran kelenjar adalah tipe 2, $, 10, dan 11, selain itu dapat pula
ditemukan laminin tipe % dan ).
25
2.1.".3.4 Integr!n Des!dua
Stimulasi hormonal saat a&al kehamilan menghasilkan perubahan dari
$!
stroma uterus menjadi jaringan desidua sekretoris. 'enelitian pada trimester a&al,
desidua manusia memperlihatkan molekul perekat sel dikeluarkanE kelenjar
endometrial mengeluarkan K1, K2, K!, K5, K2, K!, K%, J1, J!, dan J$. Sel stroma
mengeluarkan K1, K!, K5, K5, K2, K!, K%, K" dan (ib, serta J1, J!, dan J$.
'?:A< dan (:A<1 dikeluarkan oleh semua ukuran pembuluh darah dan <'S;
pada semua arteri dan "ena. ?selektin dikeluarkan setiap minggu oleh beberapa
arteriola dan "enula. =imfosit mengeluarkan =8A1. (nteraksi antara =8A(
dan (:A<1 mempengaruhi migrasi limfosit dari darah perifer kedalam desidua. ?
dan 'selektin keduanya dikeluarkan oleh sel endotel ibu pada tempat implantasi
yang melekatkan sitotrofoblas pada endotel ibu yang diperantarai oleh :A<.
61
'ada
saat implantasi, desidua diinfiltrasi oleh kumpulan sel 9> yang akan
mempengaruhi in"asi trofoblas pada plasenta. Sel ini juga menggunakan
molekul perekat sebagai mekanisme untuk migrasi pada uterus yang hamil.
Sel 9> desidua terikat oleh kolagen tipe (; dan fibronektin, tetapi tidak oleh
laminin. 'erlekatan dengan kolagen dihambat oleh antibodi l integrin, sedangkan
perlekatan dengan fibronektin dihambat oleh antiK$, K5,K% dan J1 subunit integrin
antibodi.
25
2.1.".3.5 A*+rtus
Antara 111%# dari kehamilan akan terjadi abortus sebelum usia
kehamilan 20 minggu. Abortus pada trimester pertama sebanyak $050#
disebabkan kelainan kromosom dan )10# oleh gangguan struktur. Dalam
beberapa penelitian penyebab abortus hampir sama dengan penyebab preeklamsi,
$$
yaitu terjadi kegagalan transformasi arteri spiralis akibat in"asi sitotrofoblas.
Seperti pada preeklamsi, pada abortus terjadi gangguan regulasi :A< dalam
sinsitiotrofoblas.
25
'am*ar 2.3 Mekan!sme )engeluaran m+lekul )erekat sel
SumberA =yal.
25
2.1.3 Ant!+ks!dan dan A*+rtus
7ubuh mempunyai sistem antioksidan yang melindungi terhadap produksi
berlebihan reactive oxygen 3*.S4.
62
-ila keseimbangan antara *.S dan
mekanisme perlindungan bergeser ke arah prooksidan, kemudian timbul *.S
berlebihan, maka akan timbul kerusakan. >erusakan akibat radikal bebas 3stres
oksidatif4 dan peroksidasi lipid terlibat dalam patofisiologi dari berbagai keadaan
klinis.
6!,6$
'eranannya dalam preeklamsia telah dibuktikan. 0alaupun pengaruh
stres oksidatif juga terlibat dalam kehamilan dan diketahui sebagai penyebab
abortus, peranan antioksidan pada abortus iminens masih belum dipahami.
2
Selenium merupakan trace mineral yang dibutuhkan untuk kesehatan
normal manusia dan reproduksi. Selenium merupakan komponen kunci dari
beberapa fungsi selenioprotein termasuk antioksidan glutation peroksidase
$5
3glutathion'G4 yang berfungsi mengkatalisis reduksi hidrogen peroksidase dan
mencegah peroksidasi lipid membran sel. Apabila semua tidak terbuang,
campuran yang berbahaya tersebut merusak susunan dan fungsi membran sel dan
menyebabkan gangguan koagulasi.
65,6%
'eran selenium dalam abortus iminens
masih membingungkan karena beberapa penulis mendapatkan bukti adanya
defisiensi selenium yang berla&anan dengan laporan lain yang mengatakan bah&a
tidak didapatkan defisiensi selenium pada abortus iminens.
65

-arrington dkk.
$5
mendapatkan bah&a saat kadar selenium menurun pada
trimester pertama pada kehamilan normal, kadar tersebut kemudian semakin
menurun pada &anita hamil yang mengalami abortus, menunjukkan bah&a
defisiensi selenium berhubungan dengan proses abortus dan terjadi sekunder
karena defisiensi makanan. >umar dkk.
11
menghitung kadar selenium dalam sel
darah merah perifer karena hal ini merupakan indikator yang lebih baik
dibandingkan kadar selenium serum. <ereka mendapatkan bah&a kadar selenium
lebih rendah secara bermakna pada &anita yang mengalami abortus sehingga
disimpulkan bah&a suplementasi selenium bermanfaat pada abortus iminens.
-ukti lain yang mendukung adanya hubungan antara defisiensi selenium dan
abortus didapatkan oleh Al >unani dkk.
65
yang menyatakan bah&a defisiensi
selenium pada rambut 3dipilih karena menunjukkan kadar selenium kronik4 tetapi
tidak dari contoh serum 3hal ini menunjukkan kadar selenium jangka pendek4 dari
&anita tidak hamil dengan ri&ayat abortus. 9o"a dkk.
6)
mendapatkan tidak ada
perbedaan bermakna konsentrasi selenium pada &anita tidak hamil dengan
ataupun tanpa ri&ayat abortus iminens dan menyimpulkan bah&a kadar selenium
$%
yang menurun bukan merupakan faktor pada patogenesis abortus iminens.
5achara dkk.
61
juga menemukan bah&a konsentrasi selenium dalam darah dan
plasma tidak berbeda pada &anita yang mengalami ataupun yang tidak mengalami
abortus. 7etapi kadar selenium secara bermakna lebih rendah pada &anita hamil
dibandingkan dengan yang tidak hamil.
11,$5,65
-ukti lain akti"itas antioksidan dalam abortus berasal dari penelitian ;ural
dkk.
15
yang menghitung kadar asam askorbat, -tocopherol, thiol total,
seruloplasmin, asam urat, albumin, dan erythrocyte glutathion dalam plasma
&anita hamil dengan ataupun tanpa ri&ayat abortus. 0anita yang mengalami
abortus mempunyai kadar total thiol, seruloplasmin, asam askorbat, -tocopherol
dan erythrocyte glutathion yang lebih rendah secara bermakna dibandingkan
kelompok kontrol, mendukung adanya peningkatan lipid peroksidasi. ,asil ini
juga menunjukkan bah&a pada &anita yang mengalami abortus terdapat
ketidakseimbangan status redoks dengan akti"itas prooksidatif dan peningkatan
stres oksidatif mungkin merupakan salah satu penyebab abortus.
2,%
7elah diketahui bah&a abortus berhubungan dengan produksi sitokin tipe
7h1 dan kehamilan yang normal berhubungan dengan produksi sitokin tipe 7h2.
0alaupun demikian penentuan apakah pola yang predominan sitokin tipe 7h1
atau 7h2 belum diketahui dengan jelas. Feffrey dkk.
)0
menunjukkan bah&a kadar
glutathion intrasel pada antigen presenting cells 3A':4 mempengaruhi pola
respons sitokin 7h1@7h2. 'enipisan glutathion dari A': in vivo dan in vitro
menghambat produksi sitokin 7h1 dan atau menyerupai respons yang
berhubungan dengan 7h2. <iller dkk.
1%
meneliti sebelas &anita hamil yang
$)
mempunyai ri&ayat abortus iminens dan menemukan bah&a kadar glutathion
pada a&al trimester pertama lebih tinggi secara bermakna pada &anita yang
kemudian mengalami keguguran dibandingkan dengan yang dapat meneruskan
kehamilannya.
>ehamilan juga berhubungan dengan beberapa tingkat stres oksidatif.
'ada kehamilan yang berlanjut, perubahan kadar antioksidan terjadi untuk
melindungi kehamilan peningkatan stres oksidatif. 'ada &anita yang mengalami
abortus, perubahan kadar antioksidan tidak terjadi. -elum diketahui dengan jelas
apakah peningkatan akti"itas antioksidan mempengaruhi perubahan yang terjadi
pada sistem imunitas.
2,$,!1
2.1.4 6!tam!n 1
2.1.4.1 %earah 6!tam!n 1
Defisiensi "itamin : yang dinamakan skorbut atau scurvy telah
dikenal sejak tahun 1)20. Diketahui pula bah&a penyakit tersebut dapat dicegah
dengan pemberian sayur mayur atau buahbuahan segar terutama jeruk. Asam
askorbat mulamula dikenal sebagai asam heksuronat dengan rumus :
%
,
1
.
%
.
>arena mempunyai khasiat antiskorbut maka dinamai asam askorbat atau "itamin
:. Asam askorbat merupakan kristal dan bubuk putih kekuningan, stabil dalam
keadaan kering, dan dalam bentuk larutan dalam &adah terbuka akan lekas
rusak.
!$
;itamin : 3asam askorbat4 merupakan nutrisi yang diperlukan manusia.
Sebagian besar makhluk hidup dapat membuat asam askorbat, kecuali manusia,
$1
primata selain manusia, kelela&ar buah, bulbul, marmot, dan beberapa jenis ikan.
<anusia dan primata selain manusia tidak mempunyai en2im gulonolactone
oxidase yang mengkatalisis tahap akhir sintesis endogen asam askorbat dari
glukosa.
1),66
>ekurangan asam askorbat dalam makanan dapat mengakibatkan penyakit
defisiensi yaitu skorbut, yang menunjukkan gejala adanya perdarahan ringan di
ba&ah kulit, rambut bergulung, gusi berdarah, hiperkeratosis, nyeri sendi, napas
memendek, dan letargi.
66
>elelahan merupakan gejala a&al defisiensi "itamin :.
,al ini ditemukan oleh pelautpelaut Fames =ind lebih dari 200 tahun yang lalu
dan dicatat sebagai gejala pertama defisiensi dalam penelitian pada +ational
,nstitut of -ealth 39(,4.
100
Defisiensi asam askorbat yang berlebihan masih
ditemukan di Amerika Serikat pada penderita kanker yang mengalami kaheksia,
asupan yang kurang, malabsorbsi, serta ketergantungan alkohol atau obat
obatan.
101
.leh karena sebagian populasi masih mengkonsumsi kurang dari satu
buah atau sayur setiap harinya,
102
defisiensi "itamin : subklinis lebih sering
ditemukan dibandingkan dengan yang defisiensi berlebihan. *ekomendasi terbaru
mengenai asupan asam askorbat yang diberikan oleh Food and +utrition .oard of
+ational Academy of Sciences, diperbaharui tahun 1616, adalah %0 mg@hari.
10!
*ekomendasi ini diberikan berdasarkan perkiraan data saat itu, jumlah asam
askorbat yang diperlukan untuk mempertahankan cadangan tubuh dan
menghindari defisiensi sampai satu bulan tanpa adanya kandungan "itamin :
dalam makanan. Data terakhir menyatakan bah&a rekomendasi tersebut cacat
100
dan asupan yang dianjurkan adalah lebih dari %0 mg@hari. Sebagai tambahan,
$6
bukti menyatakan bah&a populasi tertentu mungkin membutuhkan "itamin :
yang lebih banyak, misalnya &anita hamil )0 mg@hari, menyusui 65 mg@hari, dan
perokok 100 mg@hari.
10!

Dasar dari rekomendasi Food and +utrition .oard of +ational Academy
of Sciences adalah untuk mencegah penyakit. 7erdapat sedikit pertimbangan
mengenai jumlah "itamin : yang cukup untuk kesehatan optimal.
10$
,al ini
mungkin disebabkan sulitnya mencari kesepakatan mengenai definisi kesehatan
optimal, terutama berdasarkan kriteria biokimia&i. 0alaupun demikian, karena
kemajuan pengetahuan dan penurunan pre"alensi defisiensi yang berat pada
tahuntahun terakhir, maka fokus para peneliti di bidang nutrisi lebih terarah pada
pencegahan penyakit dan mulai menentukan cara untuk memeriksa secara ilmiah
konsep yang sulit dipahami mengenai kesehatan optimal.
10!
-eberapa peneliti telah mengemukakan peranan asam askorbat dalam
mencegah kanker, penyakit jantung, dan sebagai tambahan fungsi imunologis
seperti untuk mencegah common-cold. >onsensus ilmu&an mengenai manfaat
asam askorbat dalam mencegah penyakit kronik atau memperbaiki fungsi
imunologis masih belum ditetapkan &alaupun sudah dilakukan penelitian
bertahuntahun dan diketahui bah&a asam askorbat merupakan "itamin yang
paling banyak dikonsumsi di Amerika Serikat. Alasan ketidakcocokan ini
berdasarkan cara pemeriksaan dan daerah penelitian. Secara biokimia&i, terdapat
keterbatasan dalam mengukur secara tepat kandungan "itamin : di dalam sel
sebelum tahun 1610 dan hanya diketahui sedikit mengenai pengangkutan "itamin
: melalui membran sel. >ekurangan inilah yang menyebabkan kadar "itamin :
50
yang optimal secara in vitro tidak dapat diketahui. Secara klinis, penelitian
farmakologis menggunakan teknik pengukuran yang tepat dan sesuai hanya
dilakukan pada orang normal. 'engukuran kadar "itamin : secara akurat
merupakan penelitian yang penting dalam bidang biokimia dan farmakokinetik.
'emeriksaan harus sensitif, spesifik, dapat ditiru, dan bebas dari pengaruh
komponen biologis lain. 'enelitianpenelitian mengenai "itamin : yang terdahulu
berdasarkan pada pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria dan hasil penelitian
tersebut harus dikaji untuk kemungkinan adanya kesalahan pengukuran.
10!
Sebagai upaya untuk menge"aluasi data in vitro atau in vivo, direncanakan
penelitian baru sehingga menghasilkan konsensus, peranan asam askorbat dalam
sistem biologis harus dimengerti untuk menentukan fungsi in vitro dan kebutuhan
"itamin : harus meliputi dua faktor yaituA 14 ketersediaan biokimia&i, termasuk
kemampuan "itamin : untuk bekerja sebagai antioksidan dan kofaktor en2im, 24
farmakokinetiknya termasuk absorbsi intestinal, konsentrasi dalam serum,
distribusi sel, penggunaan, dan ekskresi.
2.1.4.2 B!+k!m!a 6!tam!n 1
2.1.4.2.1 Reaks! #!m!a
;itamin : 3asam askorbat4 merupakan asam lemah dengan enam rantai
karbon yang dapat dioksidasi dengan hilangnya satu elektron untuk membentuk
radikal bebas, asam semidehidroaskorbat. Dibandingkan dengan 2at radikal bebas
lain, asam semidehidroaskorbat bersifat stabil dengan angka tetap yaitu kirakira
10
5
@m@detik. .ksidasi selanjutnya dari asam semidehidroaskorbat menghasilkan
51
asam dehidroaskorbat yang tetap ada secara in vivo dalam berbagai bentuk. Asam
dehidroaskorbat dapat direduksi lagi menjadi asam askorbat melalui radikal yang
sama.
105
Sebagai alternatif, struktur cincin asam dehidroaskorbat dapat dihidrolisis
secara tetap membentuk asam diketogulonik yang dapat dimetabolisir untuk
membentuk oksalat, threonate, xylose, asam xylonic dan asam lynxonic. Asam
dehidroaskorbat merupakan bentuk yang tidak stabil dalam cairan encer, dengan
&aktu paruh pada suhu !): kirakira %C20 menit.
10%
Asam askorbat merupakan antioksidan dan 2at reduksi. 9ilai keseluruhan
untuk standar potensi redoks asam dehidroaskorbat@asam askorbat berpasangan
adalah I0,0%C0,1 "olt.
10%
Secara fisologis hal ini berarti bah&a asam askorbat
menyediakan elektron untuk en2im, komponen kimia yang berupa antioksidan
atau untuk akseptor elektron yang lain. Sebagai tambahan untuk potensial
redoksnya adalah kemampuan asam askorbat sebagai donor elektron dalam sistem
biologis. 'ertama, radikal bebas menengah, asam semidehidroaskorbat, relatif
tidak reaktif, terutama dengan oksigen. >edua, hasil oksidasi asam askorbat yaitu
asam dehidroaskorbat secara efisien direduksi oleh sel kembali menjadi asam
askorbat yang kemudian dapat digunakan kembali.
100
52
'am*ar 2.4 Asam ask+r*at dan has!l +ks!das!n/a
SumberA 7ollbert dan 0ard.
105

Askorbat merupakan donor elektron 32at pereduksi4 dalam reaksi kimia
yang terjadi di dalam dan di luar sel. Askorbat mereduksi superoksid, radikal
hidroksil, asam hipoklorous, dan 2at oksidan reaktif lain yang dapat terjadi baik
intra maupun ekstrasel. Semua produk oksidan tersebut dapat dihasilkan dalam
jumlah banyak oleh selsel imun spesifik seperti neutrofil dan makrofag sebagai
respons terhadap infeksi bakteri.
10)
-eberapa produk oksidan dapat dilepaskan
secara lambat dalam sel sebagai produk normal metabolisme mitokondria sel,
seperti pada superoksid. .leh karena oksidan dapat mempengaruhi transkripsi
D9A atau merusak D9A, protein atau struktur membran, askorbat mungkin
mempunyai peran penting dalam pertahanan oksidan sel.
!$
Askorbat dalam sel
juga digunakan sebagai donor elektron sebagai bagian dari interaksi antara besi
dan feritin.
101
Di luar sel, askorbat dapat bekerja sama dengan tokoferol 3"itamin
?4 yang berada dalam membran lipid, untuk mela&an radikal bebas dan
mencegah peroksidasi lemak.
!$
+ntuk cara ini, askorbat dapat membantu
mencegah oksidasi low density lipoprotein 3=D=4,
106
yang merupakan salah satu
penyebab pembentukan aterosklerosis. .leh karena kemampuannya secara
elektrokimia dan fisiologis, "itamin : memegang peranan penting dalam
melindungi sel dan komponen sel dalam menghadapi kerusakan akibat radikal
bebas dan oksidan.
105
2.1.4.2.2 Reaks! En7!mat!k
Askorbat merupakan kofaktor dan kosubstrat untuk delapan en2im
terisolasi seperti terlihat pada 7abel 2.1.
5!
Ta*el 2.1 B!+k!m!a asam ask+r*at
*eaksi en2imatik
/roline hydroxylase 3?: 1.1$.11.24
/rocollagen-proline 0-oxoglutarate-1-dioxygenase 3?: 1.1$.11.)4
2ysine hydroxylase 3?: 1.1$.11.$4
amma-butyrobetaine 0-oxoglutarate 3-dioxygenase 3?: 1.1$.11.14
4rimethyllysine 0-oxoglutarate dioxygenase 3?: 1.1$.11.14
"opamine beta-monooxygenase 3?: 1.1$.1).14
/eptidyl glycine alpha-amidating monooxygenase 3?: 1.1$.1).!4
3--ydroxylphenylpyruvate dioxygenase 3?: 1.1!.11.2)4
*eaksi kimia
*eaksi intraselular
<enghadapi oksidan reaktif
(nteraksi besiferitin
*eaksi ekstraselular
<enghadapi oksidan reaktif
7ransfer elektron untuk tokoferol yang teroksidasi
<encegah oksidasi =D=
Absorbsi besi dalam saluran cerna
SumberA 7ollbert dan 0ard.
105
7iga en2im yang memerlukan askorbat untuk hidroksilasi prolin atau lisin
dalam sintesis kolagen adalahA proline hydroxylase, procollagen proline 0-
oxoglutarate-1-dioxygenase, dan lysine hydroxylase.
110,111
?n2im gamma-
butyrobetaine 0-oxoglutarate-3-dioxygenase dan trimethyllysine 0-oxoglutarate
dioxygenase memerlukan askorbat dalam jalur biosintesis karnitin. >arnitin
sangat penting dalam sintesis A7' melalui oksidasi asam lemak dalam
mitokondria.
105
"opamine beta-monooxygenase dan peptidyl-glycine alpha-
monooxygenase sangat diperlukan dalam sintesis hormon. <asingmasing
mengandung rantai tembaga dan memerlukan askorbat untuk akti"itas
5$
maksimalnya. ?n2im proline hydroxylase, procollagen proline 0-oxoglutarate-1-
dioxygenase adalah en2im yang mengkatalisis pembentukan epinefrin dari
dopamin. ?n2im gamma-butyrobetaine 0-oxoglutarate-3-dioxygenase adalah
en2im yang memperantarai amidasi pada rantai karbon terminal hormon peptida,
sehingga memberikan stabilitas pada hormon seperti thyrotropin releasing
hormone, adreno cortico tropic hormone, "asopresin, oksitosin, dan
kolesistokinin.
112
Askorbat juga diperlukan untuk metabolisme en2im tirosin oleh
3-hydroxyphenylpyruvate dioxygenase.
2.1.4.3 .armak+d!nam!k
'emberian "itamin : pada keadaan normal tidak menunjukkan efek
farmakodinamik yang jelas. 7etapi pada keadaan defisiensi, pemberian "itamin :
akan menghilangkan gejala penyakit dengan cepat.
11!
;itamin : merupakan antioksidan yang larut dalam air yang berperan
dalam memperbaiki membran sel dan memperbaiki sistem "askularisasi
direkomendasikan diminum sebanyak 200 mg@hari.
11$
;itamin : dari makanan
lebih dianjurkan untuk suplementasi karena risiko lebih rendah adanya berbagai
penyakit kronik. Dosis 500 mg atau lebih tidak diabsorbsi secara lengkap pada
manusia normal dan dari yang diabsorbsi, semua diekskresi melalui urin.
115
0alaupun dosis 200 mg@hari atau kurang tampaknya dapat seluruhnya diabsorbsi,
pengaruh komposisi makanan dalam bioa"ailabilitas belum dimengerti. Apabila
makanan pokoknya mengubah absorbsi "itamin :, maka dosis 200 mg merupakan
perkiraan minimal jumlah yang harus diminum.
11%
55
2.1.4." .armak+k!net!k
;itamin : mudah diabsorpsi melalui saluran cerna. Dalam keadaan
normal, tampak kenaikan kadar "itamin : dalam darah setelah diabsorpsi. >adar
dalam leukosit dan trombosit lebih besar daripada dalam plasma dan eritrosit.
;itamin : didistribusikan ke seluruh tubuh, kadar tertinggi terdapat dalam
kelenjar, terendah dalam otot dan jaringan lemak.
11)
?kskresi melalui urin dalam
bentuk garam sulfat dan dalam bentuk asam askorbat jika kadar dalam darah
mele&ati ambang rangsang ginjal 1,$ mg@d=.
111
8armakokinetik "itamin : dapat dipengaruhi oleh beberapa parameter
yang belum disebutkan termasuk jenis kelamin, usia, status metabolisme yang
berlainan, seperti stres dan penyakit. -ukti yang sudah ada menunjukkan bah&a
perokok memerlukan "itamin : yang lebih banyak. Data ini jauh dari lengkap,
tapi merupakan dasar untuk meningkatkan *DA 100 mg@hari untuk perokok.
>eadaan lain seperti sepsis atau insufisiensi ginjal juga sangat mempengaruhi
farmakokinetik "itamin : dengan meningkatkan penggunaan atau ekskresi
"itamin :.
102,116
8armakokinetik "itamin : ditentukan oleh absorbsi usus, konsentrasi
dalam plasma, distribusi selular, serta penggunaan dan ekskresinya. +ntuk
menentukan *DA diperlukan pengetahuan mengenai sifat biologis "itamin :
dalam tempattempat tersebut.
105
-arubaru ini telah dipublikasikan data mengenai farmakokinetik "itamin
:, yang diambil dari tujuh orang pria yang menjalani ra&at inap selama $C% bulan
5%
di 9(,. ;itamin : yang didapat dari makanan kurang dari 5 mg@hari. Askorbat
diukur menggunakan deteksi coulometric elektrokimia ,'=:.
120
Apabila telah
mencapai konsentrasi plasma kurang dari 10 < askorbat, masingmasing
diberikan askorbat dengan dosis dari !0C2.500 mg secara berurutan. +ntuk tiap
dosis, masingmasing sukarela&an harus mencapai kadar mantap sebelum
diberikan dosis selanjutnya.
100
2.1.4.".1 Intake dan B!+a8a!la*!l!tas
+ntuk menjamin adanya "itamin : dalam jaringan, manusia harus
mengkonsumsi "itamin tersebut dan harus terjadi absorbsi dalam saluran cerna.
asam askorbat pada bentuk yang tereduksi merupakan sebagian besar 310C60#4
bentuk "itamin ini dalam makanan.
121
'enelitian yang menggunakan potongan
ileum manusia menunjukkan bah&a asam askorbat diabsorbsi dalam usus manusia
dengan sistem transpor aktif yang bergantung 9a
I
. Absorbsi sebagian besar
terjadi pada usus proksimal.
105
-elum diketahui apakah terdapat perbedaan absorbsi asam askorbat secara
indi"idual. 7erdapat kemungkinan transpor "itamin : dalam usus diatur. Sebagai
contoh, pada marmot, sebelum memakan sejumlah besar asam askorbat
menurunkan transpor melalui mukosa usus yang diisolasi.

Akan tetapi, saat ini
tidak didapatkan data langsung yang menunjukkan mekanisme transpor asam
askorbat dalam usus manusia.
122
Sedikit petunjuk didapatkan dalam absorbsi usus asam dehidroaskorbat
pada manusia. 'ada mukosa usus marmot yang diisolasi, absorbsi asamdehidro
5)
askorbat tidak bergantung 9a
I
dan merupakan proses saturasi. Sebagian besar
asam dehidroaskorbat segera direduksi setelah melalui membran serosa dan
didapatkan dalam sel sebagai asam askorbat.
122
0alaupun asam dehidroaskorbat
dapat mencegah skorbut pada manusia, beberapa penelitian menunjukkan bah&a
absorbsinya lebih sedikit dibandingkan dengan asam askorbat.
66,12!
<asih belum
diketahui apakah komposisi makanan atau kandungan antioksidan yang
mempengaruhi reduksi asam dehidroaskorbat menjadi asam askorbat ataukah
asam dehidroaskorbat dihidrolisis menjadi asam diketogulonik sebelum
diabsorbsi.
12$
<asih belum jelas diketahui dalam bentuk fisik mana yang melalui
membran usus asam askorbat atau asam dehidroaskorbat atau kedua bentuk
tersebut. Data secara tidak langsung menyatakan bah&a keduanya diangkut tetapi
dengan mekanisme yang berbeda. 'engujian langsung untuk menetapkan konsep
ini masih dilakukan.
125
Secara klinis, absorbsi ditentukan menggunakan prinsip bioa"ailabilitas.
-ioa"ailabilitas yang sebenarnya adalah peningkatan jumlah asam askorbat dalam
plasma setelah diberikan dosis yang sama secara intra"ena.
11%
Sebelum pemberian
dengan cara oral, diambil kadar asam askorbat dasar dalam plasma. Sekali dosis
telah diberikan, kadar asam askorbat dalam plasma meningkat dan kemudian
kembali kepada angka semula. Apabila data ini ditampilkan, akan tampak daerah
di ba&ah kur"a dan di atas dasar yang digambarkan oleh dosis oral, disebut
A+:po. >etika kembali ke nilai semula, diberikan dosis yang sama secara
intra"ena. Setelah bolus intra"ena, kadar asam askorbat plasma biasanya
51
meningkat lebih cepat karena sistem gastrointestinal tidak melalui. >adar asam
askorbat plasma kemudian kembali ke nilai semula.
12%
Fika ditampilkan, terdapat
daerah di ba&ah kur"a dan di atas dasar terdapat kenaikan dosis intra"ena dan
disebut A+:i". -ioa"ailabilitas ditentukan sebagai A+:po@A+:i" dan dihitung
dalam persen, misalnya 100# pada absorbsi lengkap. 'enelitian mengenai
bioa"ailabilitas yang sebenarnya sulit dilakukan oleh karena subjek harus siap
untuk dosis yang diberikan, harus secara intra"ena, dan harus diambil darah
beberapa kali untuk memeriksa setiap dosis. (dealnya beberapa dosis berbeda diuji
dan bioa"ailabilitas yang sebenarnya dihitung masingmasing.
2.1.4.".2 #+nsentras! dalam Plasma
Sampai saat ini bioa"ailabilitas askorbat yang sebenarnya belum diketahui.
.leh karena kesulitankesulitan yang telah disebutkan di atas, beberapa peneliti
memperkirakan bioa"ailabilitas askorbat secara tidak langsung. 'ada beberapa
penelitian yang dilakukan untuk menghitung konsentrasi askorbat plasma adalah
dengan membandingkan absorbsi oral dengan ekskresi urin.
11%
'enelitian lain
menentukan bioa"ailabilitas relatif dengan membandingkan absorbsi satu bentuk
"itamin : 3misalnya dalam makanan4 dengan bentuk lain 3misalnya suplemen4.
125
Dengan kedua cara tersebut, karena keadaan masingmasing subjek berlainan,
parameter farmakokinetik seperti absorbsi, penggunaan dan ekskresi dapat
ber"ariasi pada masingmasing indi"idu dari jam ke jam. Data ini dapat
dipergunakan untuk menunjukkan hasil perbandingan absorbsi "itamin : pada
56
satu indi"idu, tetapi tidak dapat dipakai untuk membuat kesimpulan mengenai
bioa"ailabilitas yang sebenarnya.
Data pertama yang memberikan informasi terperinci mengenai
bioa"ailabilitas yang sebenarnya merupakan bagian penelitian "itamin : pada
penderita yang dira&at di 9(,.
100
Setelah dicapai keadaan stabil untuk
memberikan dosis asam askorbat, subjek diberi cairan asam askorbat murni baik
per oral maupun intra"ena. Data yang diambil dari satu subjek untuk
bioa"ailabilitas 200 mg atau 1.250 mg dapat dilihat pada /ambar 2.).
'am*ar 2.5 B!+a8a!la*!l!tas asam ask+r*at dalam )lasma
SumberA =e"ine.
10$

,ubungan antara dosis askorbat dan konsentrasi asam askorbat serum juga
sudah diperiksa pada penelitian dengan subjek pasien ra&at jalan. 'enelitian
penderita ra&at jalan mempunyai kerugian banyak karena tidak dapat digunakan
%0
untuk kontrol parameter yang penting mengenai askorbat dalam makanan dan
askorbat yang dimakan. 'enelitian ini lebih berdasarkan pada pencatatan makanan
yang dapat menghasilkan informasi yang salah dan tidak dilaporkan terutama
pada rentang dosis yang sempit.
101
9amun, seperti pada penelitian penderita ra&at
inap, penelitian penderita ra&at jalan juga menggunakan rentang dosis sempit dan
teknik pemeriksaan yang tidak spesifik.
Dalam penelitian 9(, terbaru, penderita diberi "itamin : dengan dosis
antara !0C2.500 mg per hari. 'engukuran kadar "itamin plasma menunjukkan
adanya hubungan yang bermakna antara dosis askorbat dan konsentrasi plasma
yang mantap 3/ambar 2.14. >onsentrasi asam askorbat plasma yang dihasilkan
oleh *DA sekarang 3%0 mg@hari4 merupakan bagian yang curam dalam kur"aE 200
mg ada di bagian ba&ah daerah curam kur"a dan menghasilkan saturasi plasma
10#. Askorbat plasma disaturasi secara lengkap pada dosis 1.000 mg@hari.
'am*ar 2.9 #+nsentras! asam ask+r*at )lasma
SumberA =e"in.
10$

%1
Asam dehidroaskorbat mungkin tidak terdapat dalam darah dalam keadaan
normal. >eterbatasan cara pemeriksaan menghambat usaha untuk mengukur
secara tepat jumlah asam dehidroaskorbat yang sedikit dalam plasma. 'engukuran
asam dehidroaskorbat dengan sebelumnya mereduksi asam askorbat
menggunakan ,'=: dengan deteksi elektrokimia menghasilkan konsentrasi asam
dehidroaskorbat dalam plasma kurang dari 1C2# .
101
2.1.4.".3 D!str!*us! %elular
.leh karena bersifat larut dalam air, "itamin : terdapat dalam seluruh
jaringan tubuh terutama dalam sirkulasi. 'engambilan dan akumulasi dalam
jaringan merupakan fungsi konsentrasi plasma, pengangkutan melalui membran
sel dan mekanisme yang mempertahankan askorbat intrasel. Fumlah "itamin :
yang terkandung dalam jaringan tubuh manusia sangat ber"ariasi. Faringan yang
paling banyak mengandung "itamin : adalah adrenal dan kelenjar pituitari yang
mengandung !0C50 mg@100 g jaringan, diikuti oleh hati, limpa, lensa mata,
pankreas, ginjal dan otak yaitu antara 10C!0 mg@100 g.
12)
Di lain pihak, asam dehidroaskorbat tidak ditemukan dalam jumlah yang
cukup di dalam jaringan. Asam dehidroaskorbat banyak diambil oleh sel, tetapi
segera direduksi di dalam sel menjadi asam askorbat.
105
2.1.4.".3.1 #+nsentras! Manta) dalam %el dan $ar!ngan
7idak seperti sel lain, selsel sirkulasi mudah sekali didapatkan, sehingga
mudah diperiksa kadar "itamin : dalam sel ini dan hubungan antara asupan
%2
"itamin : dan kandungannya dalam sel manusia. <eskipun demikian, seperti
halnya data dalam plasma, sampai saat ini belum ada penelitian pada manusia
yang dilakukan untuk memeriksa hubungan antara kandungan "itamin : dan
asupan makanan. 'enelitian yang telah dilakukan sebelumnya mengenai hubungan
antara asupan "itamin : dan kadar askorbat intrasel hanya diperbolehkan dengan
dosis kecil. 'enelitian baru untuk mencari informasi baru mengenai askorbat
dalam cairan seminal sama terhambat oleh rentang dosis yang sempit, yaitu hanya
dengan satu dosis %0 mg@hari.
125

'enelitian pada sukarela&an 9(, yang baru, memeriksa kandungan
"itamin : pada neutrofil, monosit, dan limfosit, dengan dosis dari !0C2.500 mg@
hari.
100
>onsentrasi asam askorbat intrasel dalam semua tipe sel mengalami
saturasi pada dosis 100 mg@hari, lebih rendah dibandingkan kadar askorbat plasma
yang mengalami saturasi 3/ambar 2.64. Dengan dosis 100 mg@hari, konsentrasi
"itamin : intraselular adalah 1C$ m<, yaitu 1$ kali lebih tinggi dibanding
plasma. >onsentrasi plasma dengan dosis ini adalah 55C%0<.
%!
'am*ar 2.: #+nsentras! asam ask+r*at !ntrasel
SumberA -ergsten dkk.
120
2.1.4.".3.2 Trans)+r B!+l+g!s Asam Ask+r*at dan Asam Deh!dr+ask+r*at
7ingkat akumulasi "itamin : dalam jaringan merupakan fungsi
konsentrasi "itamin : dari luar dan transpor melalui membran sel. -aik asam
askorbat dan asam dehidro askorbat diangkut melalui membran sel. 7ranspor
asam askorbat menghambat kinetika saturasi dan kebanyakan bersifat bergantung
9a
I
.
121
7ranspor asam askorbat juga memerlukan energi metabolik.
105
'rotein
yang bertanggung ja&ab dalam transpor asam askorbat belum dapat diisolasi.
7ranspor asam dehidroaskorbat tidak bergantung 9a
I
dan tidak
memerlukan energi metabolik. <ekanisme yang diajukan adalah jebakan sel.
Setelah masuk kedalam sel, asam dehidroaskorbat segera direduksi menjadi asam
askorbat yang menghasilkan tanjakan efektif supaya asam dehidroaskorbat dapat
melalui membran.
105
Afinitas transpor asam dehidroaskorbat yang nyata pada
%$
umumnya lebih tinggi dibanding asam askorbat dengan rentang antara 0,)5!,)
m<.
121
Selama ini data in vitro menunjukkan bah&a asam dehidroaskorbat dapat
diangkut dengan cara yang sama dengan glukosa.
10!
7ujuh isoform pengangkut
glukosa 3/=+7 1C5, S/=7 1, dan S/=7 24 ber"ariasi afinitasnya dengan substrat
dan distribusi jaringan. 'ercobaan dengan menggunakan oosit 5enopus laevis
untuk menggambarkan isoform pengangkut glukosa yang bersifat indi"idual
menunjukkan bah&a /=+71 dan /=+7! bekerja sebagai protein pengangkut
ADA dengan afinitas yang serupa atau lebih rendah daripada untuk glukosa 31C
2m<4.
!$
'rotein pengangkut glukosa yang sensitif terhadap insulin 3/=+7 $4 juga
memperantarai transpor asam dehidroaskorbat tetapi dengan angka yang lebih
rendah dibandingkan terhadap glukosa. >inetika transpor asam dehidroaskorbat
melalui /=+7 $ belum diketahui. 7idak satupun isoform pengangkut glukosa
yang mengangkut asam askorbat.
10!
/=+7 1 pada umumnya ditemukan dalam
banyak sel, /=+7 ! terbatas pada jaringan saraf, testis, dan trombosit, sedangkan
/=+7 $ ditemukan terutama dalam otot, jaringan lemak, jantung, dan otak.
100
<asih belum diketahui apakah terdapat protein lain yang memperantarai transpor
asam dehidroaskorbat kedalam sel. .leh karena protein pengangkut glukosa
terdapat di manamana dan menunjukkan afinitas yang tinggi dengan asam
dehidroaskorbat, merekalah yang merupakan protein primer yang bertanggung
ja&ab terhadap pengambilan asam dehidroaskorbat secara selular.
<ekanisme akumulasi selular asam askorbat masih menjadi perdebatan.
-eberapa peneliti berpendapat bah&a seluruh transpor asam askorbat terjadi
%5
setelah perubahan asam askorbat menjadi asam dehidroaskorbat dan transpor
berikutnya hanya asam dehidroaskorbat.
101
.leh karena mudahnya terjadi
perubahan asam askorbat menjadi asam dehidroaskorbat dalam keadaan redoks
tertentu, bentuk asal substrat yang terdapat in vitro tidak jelas. Akan tetapi,
berdasarkan data yang luas, transpor asam askorbat dan asam dehidroaskorbat
berbeda bergantung dari ketergantungannya terhadap 9a
I
dan energi, kecepatan
tetap, pengaruh 2at pereduksi, serta transpor melalui pengangkut glukosa dan
spesifisitas jaringan. =agi pula penelitian baru yang dikerjakan pada neutrofil
manusia menggunakan analog asam askorbat menyimpulkan adanya akti"itas
transpor asam askorbat dan asam dehidroaskorbat yang terpisah.
12)
<aka
berdasarkan data tersebut, kemungkinan besar transpor asam askorbat tidak terjadi
dengan cara oksidasi menjadi asam dehidroaskorbat.
Secara in vivo, peran serta asam askorbat dan asam dehidroaskorbat dalam
akumulasi asam askorbat dalam sel masih menjadi masalah. Angka pengambilan
asam dehidroaskorbat tampaknya lebih tinggi dibanding asam askorbat dari
beberapa penelitian jaringan. Fika transpor asam askorbat dan asam
dehidroaskorbat diukur dalam sel mieloid, maka akan terangkut asam
dehidroaskorbat 15C!0 kali lebih banyak dibandingkan asam askorbat.
)6
Akan
tetapi transpor yang sebenarnya bergantung pada a"ailabilitas substrat tersebut.
>onsentrasi asam askorbat normal dalam plasma 320C100 <4 sebanding dengan
afinitas dan saturasi pengangkut asam askorbat. Sebaliknya asam dehidroaskorbat
sama sekali tidak dapat terdeteksi atau dihitung dalam jumlah rendah 31C2 <4
dalam sirkulasi.
101
%%
2.1.4.".3.3 Reduks! Asam Deh!dr+ask+r*at Intraselular
Selama ini telah diketahui bah&a dalam sebagian besar jaringan yang
diperiksa, asam dehidroaskorbat intrasel segera direduksi menjadi asam askorbat.
*eduksi intrasel ini diperantarai oleh dua jalur utama yaitu reduksi kimia oleh
glutathione dan reduksi en2imatik. 'eran kedua proses tersebut secara in vivo
mungkin spesifik dalam jaringan dan masih harus dipecahkan.
!$,121
'rotein yang diisolasi yang menunjukkan bah&a terdapat akti"itas reduksi
asam dehidroaskorbat adalah glutharedoxin dari neutrofil hati babi, timus sapi
dan plasenta manusia, protein disulfida isomerase sapi, 1--hydroxysteroid
dehydrogenase, dan protein yang belum diketahui dengan -< !1.000 yang
diambil dari hati tikus.
121
0alaupun glutharedoxin bertanggung ja&ab terhadap
sebagian besar reduksi asam dehidroaskorbat pada neutrofil manusia, peran relatif
protein lain dalam jaringan masih belum diketahui. Distribusi jaringan
glutharedoxin pada manusia dan akti"itas protein yang mereduksi asam
dehidroaskorbat dan pengaturannya dalam keadaan normal maupun stres oksidatif
masih dipelajari.
126
Seperti telah disebutkan di atas, tampaknya reduksi intrasel asam
dehidroaskorbat menjadi asam askorbat merupakan kelebihan asam
dehidroaskorbat untuk dapat melalui membran sel. ,asilnya adalah perpindahan
asam dehidroaskorbat dari luar kedalam sel. <asih belum diketahui apakah
perbedaan kemampuan reduksi asam dehidroaskorbat dalam sel dapat mengatur
akumulasi asam askorbat dalam sel. >arena tampaknya asam askorbat dapat
%)
keluar sel dalam jumlah kecil,
11%,121
konsentrasi asam askorbat yang tinggi di
dalam sel dapat dipertahankan. Akti"itas transpor asam askorbat yang terpisah
juga mungkin dapat membantu mempertahankan konsentrasi tinggi tersebut.
2.1.4.".3." Daur Ulang Asam Ask+r*at
:ontoh akumulasi asam askorbat berdasarkan data yang ada adalah daur
ulangnya. 'ada peristi&a ini terjadi transpor asam askorbat dan asam
dehidroaskorbat, tetapi hal ini sangat bergantung pada a"ailabilitas substrat.
Dalam keadaan normal, jumlah asam askorbat merupakan sebagian besar
akumulasi, karena hanya asam askorbat yang dominan dan mungkin hanya ini
bentuk substrat yang ada dalam plasma.
1!0
Akan tetapi jika asam askorbat
mengalami oksidasi, maka akan terjadi bentuk asam dehidroaskorbat. ,al ini
mungkin terdapat dalam ruang ekstraselular yang mengandung konsentrasi
oksidan lokal lebih tinggi. Dengan peningkatan a"ailabilitas asam
dehidroaskorbat, substrat ini akan diangkut 3lebih cepat lebih dari 10 kali lipat
dari pada asam askorbat4 kemudian diikuti reduksi intraselular.
1!1
Daur ulang asam askorbat telah digambarkan dalam neutrofil. Dalam sel
yang sedang istirahat, asam askorbat diangkut dalam bentuk asam askorbat dan
dalam usus dapat dipertahankan dalam konsentrasi m<. Apabila neutrofil
diaktifkan oleh kontak dengan bakteri, akan dihasilkan oksigen reaktif dan terjadi
oksidasi asam askorbat ekstraselular menjadi asam dehidroaskorbat. Asam
dehidroaskorbat kemudian secara cepat diangkut melalui membran sel dan segera
direduksi di dalam sel menjadi asam askorbat 3/ambar 2.104.
%1
'am*ar 2.1; Trans)+r asam ask+r*at dan asam deh!dr+ask+r*at serta daur
ulang dalam neutr+-!l manus!a
SumberA *ose.
122

'ada keadaan ini dapat segera dicapai peningkatan 10C20 kali lipat
konsentrasi asam askorbat intraselular. 7ranspor asam askorbat juga terjadi, tetapi
dalam jumlah yang lebih sedikit. Akibatnya akan terjadi pembentukan dan
transpor asam dehidroaskorbat yang dapat terjadi selama infeksi bakteri dan
inflamasi.
1!0
'engambilan asam dehidroaskorbat yang cepat dan reduksi intraselular
merupakan mekanisme perlindungan untuk sel. ,asil peningkatan akumulasi
asam askorbat intrasel yang tibatiba dapat menumpulkan stres oksidatif. -akteri
tidak mempunyai mekanisme untuk transpor efisien asam askorbat dan asam
dehidroaskorbat dan tidak menumpuk asam askorbat, sehingga daur ulang dapat
menutupi manfaat spesifik neutrofil selama perubahan bakterial. Fika daur ulang
asam askorbat dapat ditunjukkan in vivo, perubahan selanjutnya dapat untuk
menentukan akibat fungsional daur ulang dan pengaturannya secara in vivo.
%6
Apakah mekanisme ini penting dalam fungsi sel imunitas dan perlindungan
mela&an oksidan lingkungan masih belum dapat ditentukan.
!$
>urangnya asam dehidroaskorbat dalam plasma selaras dengan
mekanisme reduksi asam dehidroaskorbat dan daur ulang asam askorbat. .leh
karena tingginya kadar protein pengangkut glukosa pada eritrosit, bentuk asam
dehidroaskorbat yang baru ini akan segera dikeluarkan dari sirkulasi. -eberapa
peneliti menduga bah&a eritrosit mengandung sejumlah besar "itamin : di antara
selsel darah lain oleh karena kelebihannya.
61,121
Akan tetapi penentuan "itamin :
dalam eritrosit merupakan masalah oleh karena adanya sejumlah besar heme-iron
yang sangat reaktif, yang dengan mudah dapat mengoksidasi "itamin : selama
persiapan dan penyimpanan contoh darah sebelum diukur. Seperti sebelumnya,
analisis yang tepat mengenai kandungan "itamin : dalam eritrosit juga belum
dapat dilakukan.
1!2

Sebagai ringkasan, baik asam askorbat maupun asam dehidroaskorbat
penting dalam transpor in vivo. A"ailabilitas substrat memegang peran kunci 2at
tersebut diangkut pada saat tertentu. .leh karena konsentrasi dalam plasma tinggi,
afinitas pengangkut yang rendah, dan 2at lain yang terdapat ekstraselular, asam
askorbat merupakan bentuk sel seperti saat pengambilan asam dehidroaskorbat.
Sebaliknya konsentrasi asam dehidroaskorbat bergantung pada oksidasi asam
askorbat dan pengambilan asam dehidroaskorbat kemudian dapat dicetuskan oleh
pembentukan substrat dan dibatasi oleh a"ailabilitas substrat.
2.1.4.".3.3 Ekskres!
)0
Asam askorbat difiltrasi pada glomerulus dan direabsorpsi pada tubulus
proksimal dengan proses transpor aktif.
121
'ada manusia, rentang konsentrasi asam
askorbat tertinggi dalam darah dibatasi oleh reabsorpsi tubulus.
1!0
Angka
reabsorpsi tubulus maksimal telah ditentukan pada pria dan &anita berbagai usia
dan didapatkan relatif tetap antara kedua kelompok, yaitu pada 1,5 mg@100 m=
filtrasi glomerulus.
121
Seperti dalam usus, transpor asam askorbat dalam tubulus
ginjal begantung 9a
I
.
122
*eabsorpsi tubulus mungkin berhubungan dengan
konsentrasi asam askorbat dalam tubulus. <asih belum diketahui apakah
reabsopsi asam askorbat dapat diatur oleh mekanisme lain dan masih belum jelas
apakah juga terdapat sekresi aktif asam askorbat kedalam tubulus ginjal.
-erla&anan dengan asam askorbat, transpor asam dehidroaskorbat pada
tubulus ginjal tidak bergantung 9a
I
, tidak sensitif terhadap perbedaan
elektropotensial transmembran, dan tidak terkonsentrasi mela&an gradien. Secara
in vitro, asam dehidroaskorbat yang diangkut secara cepat direduksi menjadi asam
askorbat dalam tubulus tikus dan marmot, dan transpor asam askorbat serta asam
dehidroaskorbat pada membran basolateral ginjal tampaknya merupakan proses
yang bergantung 9a
I
.
1!!
7idak ada bukti mengenai ekskresi renal dan
pengambilan kembali asam dehidroaskorbat in vivo oleh karena tidak ada jumlah
yang dapat dihitung dalam plasma. 'engukuran asam dehidroaskorbat dalam urin
adalah sama sulitnya seperti dalam plasma. 7ampaknya asam dehidroaskorbat
hanya terdapat dalam jumlah kecil atau tidak ada sama sekali dalam urin. Fumlah
lebih yang lebih banyak mungkin merupakan hasil dari artefak penelitian.
122
)1
'enelitian klinis terdahulu adalah mengenai ekskresi asam askorbat dalam
urin dari sukarela&an yang mencapai kadar mantap dengan dosis %0 mg@hari.
(nformasi ini merupakan dasar untuk *DA terbaru asam askorbat yaitu %0
mg@hari.
121
Akan tetapi data terbaru tidak disebarluaskan dalam kepustakaan.
'enemuan ini juga dipertanyakan karena cara pemeriksaan asam askorbat dapat
memberikan hasil positif palsu, terutama pada kadar asam askorbat yang rendah.
Dengan menggunakan cara ,'=: elektrokimia untuk mengukur asam askorbat,
penelitian 9(, yang baru menunjukkan bah&a asam askorbat hanya terdapat
dalam urin dengan dosis 100 mg@hari,
121
selaras dengan perkiraan konsentrasi
plasma 5) <. 'ada dosis yang lebih tinggi, lebih dari 500 mg@hari seluruh
"itamin yang diabsorbsi dikeluarkan melalui urin.
2.1.4.".3.4 E-ek %am)!ng
;itamin : bersifat nontoksik. .leh karena farmakokinetiknya seperti telah
dijabarkan di atas, "itamin : tidak menumpuk sampai kadar toksik pada manusia
sehat. <inum "itamin : dalam jumlah yang berlebihan hanya sedikit diabsorbsi
dan hampir seluruhnya dikeluarkan dalam urin. 'roduk sampingan asam askorbat
seperti urat dan oksalat dapat meningkat sebagai akibat asupan "itamin : yang
berlebihan, tetapi hal ini masih diperdebatkan.
'eningkatan sekresi urat telah dilaporkan oleh beberapa penderita yang
mendapat asam askorbat dalam dosis besar secara intra"ena atau oral, &alaupun
penemuan ini disanggah oleh yang lain. 'endapat yang berbeda ini mungkin
disebabkan oleh tidak adanya kadar mantap "itamin :, perbedaan konsentrasi
plasma, dan lamanya pemberian "itamin :. Dalam penelitian sukarela&an 9(,,
)2
ekskresi asam urat meningkat dengan pemberian satu gram "itamin :
dibandingkan dengan dosis yang lebih rendah. =ebih sedikit penderita yang
urinnya dapat diperiksa dengan dosis satu gram dan mungkin peningkatan
ekskresi asam urat bersifat sementara dan tidak menetap &alaupun dosis tersebut
diberikan dalam &aktu lebih lama.
100
Data yang menyatakan peningkatan sekresi oksalat dengan pemberian
"itamin : dosis tinggi juga masih diperdebatkan karena berbagai alasan.
10!
,al
yang membingungkan terjadi karena kesulitan dalam mengukur oksalat secara
akurat. Dengan cara pemeriksaan oksalat yang umum digunakan lebih dari 10
tahun yang lalu, askorbat akan menyebabkan peningkatan palsu oksalat.
'enjelasan yang benar mengenai hal ini adalah bah&a penderita mengalami
peningkatan ekskresi oksalat oleh karena asam askorbat. 'enderita dengan
hiperoksalemia sehingga terbentuk batu oksalat dapat mengalami peningkatan
ekskresi oksalat yang berhubungan dengan asupan asam askorbat yang lebih atau
sama dengan 1.000 mg dan untuk penderita ini dosis asam askorbat berlebihan
berbahaya.
122
.leh karena hiperoksalemia secara klinis jarang ditemukan dalam
populasi umum, maka dosis aman "itamin : adalah 1.000 mg@hari. 0alaupun
"itamin : bersifat nontoksis pada indi"idu normal, terdapat beberapa keadaan
khusus. ;itamin : akan meningkatkan absorbsi besi dengan mempertahankan
besi dalam bentuk tereduksi.
121
Dalam kasus kelebihan besi seperti pada penderita
thalassemia mayor, hemokromatosis, dan anemia sideroblastik, peningkatan
asupan "itamin : mungkin berbahaya. +ntuk indi"idu dengan hemokromatosis
hetero2igot, data yang ada menunjukkan bah&a tidak terdapat efek samping
)!
dengan asupan "itamin : yang berlebihan. -eberapa dokter memberikan asam
askorbat secara intra"ena dalam dosis beberapa gram. 'ada penderita dengan
defisiensi /
%
'D hemolisis terjadi setelah diberikan asam askorbat secara intra"ena
dan setelah pemberian dosis oral % gram.
11%
?fek yang berbahaya telah ditemukan pada asupan "itamin : terutama
yang lebih dari satu gram. >eadaan ini terjadi hiperglikemia, skorbut berulang,
infertilitas, mutagenesis, dan penghancuran "itamin -12. <erupakan kesalahan
bila menyimpulkan bah&a dosis "itamin : dalam satu gram menimbulkan efek
ini. Sebagai tambahan, telah dikemukakan bah&a asam askorbat berlebihan dapat
mempercepat kerusakan oksidan dengan adanya kation bebas seperti besi.
121
7etapi hipotesis ini berdasar pada percobaan in vitro dengan konsentrasi kation
bebas yang berlebihan. Secara in vivo, kation secara efektif dipisahkan dan pada
umumnya tidak ditemukan bebas.
2.1.4."." #!net!ka In Situ dan Asu)an /ang D!anurkan
7ujuan kinetika in situ adalah untuk mempelajari fungsi "itamin langsung
pada organela, sel, jaringan atau binatang, termasuk manusia. 0alaupun lebih
sulit daripada percobaan in vitro, penelitian in situ sangat penting untuk
menentukan dosis yang dianjurkan. 8ungsi "itamin dalam jaringan hidup
merupakan akibat dari konsentrasi "itamin lokal dan reaksi perbandingan dan
dapat berlainan dari yang ditemukan dari reaksi isolasi atau protein.
100
>inetika in
situ mempunyai bagian biokimia dan klinis 37abel 24. -agian biokimia
menyangkut bagaimana konsentrasi "itamin mempengaruhi fungsi biokimia&i
)$
dan molekular secara in situ. -agian klinis bertanggung ja&ab bagaimana
konsentrasi "itamin in situ yang efektif dapat dicapai pada manusia.
2.1.4.".".1 Bag!an B!+k!m!a<!
7ujuan bagian biokimia&i dalam kinetika in situ adalah untuk
menjabarkan kinetika reaksi yang bergantung adanya "itamin dalam organela,
sel, atau jaringan. Sekali kinetika sudah ditetapkan, jumlah optimal "itamin yang
dimakan merupakan hasil fungsi maksimum dari reaksi yang berbeda tetapi tanpa
akibat sampingan.
100
*eaksi ini harus mempunyai manfaat potensial untuk
oeganisme tersebut. ,arus didapatkan arti yang sensitif dan spesifik untuk
mengukur "itamin dan untuk menyesuaikan konsentrasinya dalam jaringan dalam
rentang yang luas. Fuga harus dapat digunakan untuk mengukur reaksi yang
diperantarai "itamin secara spesifik. ;itamin : berperan dalam delapan reaksi
en2imatik seperti pada reaksi mela&an oksidan secara nonen2imatik 37abel 2.24.
Ta*el 2.2 #!net!ka In Situ
-agian -iokimia
8ungsi biokimia dan molekular "itamin dan hubungannya dengan konsentrasi
"itamin
'engujian "itamin
>emampuan untuk mendapat perbedaan konsentrasi "itamin in situA
transpor, deplesi, replesi
Distribusi "itamin in situ
'engujian fungsi "itamin
'enentuan fungsi "itamin in vitro dan in situ
=okasi fungsi "itamin in situ dan hubungannya dengan distribusi "itamin
Spesifisitas fungsi "itamin in vitro dan in situ
8ungsi "itamin dan hubungannya dengan konsentrasi "itamin berbeda in
situ
)5
>omponen >linis
'encapaian konsentrasi efektif "itamin pada manusia
A"ailabilitas "itamin dalam makanan
>onsentrasi mantap "itamin dalam plasma sebagai fungsi dari dosis
>onsentrasi mantap "itamin dalam jaringan sebagai fungsi dari dosis
-ioa"ailabilitas "itamin
?kskresi "itamin
>eamanan dan efek samping "itamin
<anfaatnya berhubungan dengan dosis A efek langsung dan pengamatan
epidemiologis
SumberA =e"ine dkk.
100

>inetika in situ "itamin : telah digambarkan pada biosintesis norepinefrin
dan transfer askorbat transmembran pada jaringan binatang, tetapi tidak diketahui
mengenai reaksi lain.
10!
'enghambatan oksidasi =D= sebagai akibat dari
konsentrasi "itamin : juga telah dijabarkan, tetapi tidak dalam sistem in situ yang
sebenarnya.

*eaksi lain yang memaksimalkan akti"itas en2im bermanfaat untuk
hidroksilasi prolin dan lisin untuk penyembuhan luka, perla&anan terhadap
oksidan di dalam maupun di luar sel, serta biosintesis karnitin untuk pembentukan
A7' dan biosintesis hormon. -agian penting untuk mengerti kinetika in situ untuk
reaksi yang berlainan adalah transpor "itamin :. Seperti telah dijelaskan
sebelumnya, >
<
transpor asam askorbat pada sel manusia adalah 5C20 <,
dengan transpor ;
maG
terjadi pada konsentrasi eksternal 50C100 <.
!$
2.1.4.".".2 #+m)+nen #l!n!s
7ujuan dari bagian klinis kinetika in situ adalah untuk menentukan pada
keadaan mana konsentrasi "itamin dicapai pada manusia dan efeknya terhadap
)%
parameter klinis. >omponen klinis terdiri dari dua bagian 37abel 2.24. ;itamin :
mudah didapat, dengan mengkonsumsi lima porsi buah dan sayur tiap hari akan
tercapai 200 mg.
105
0alaupun a"ailabilitas potensialnya kurang dari 21#, orang
Amerika mengkonsumsi lima porsi buah dan sayur setiap hari dan sampai
sepertiga populasi mengkonsumsi kurang dari %0 mg "itamin : tiap hari.
121,121
,ubungan antara asupan dan konsentrasi mantap "itamin dalam plasma
dan jaringan juga ditentukan. Seperti diterangkan di atas, sampai saat ini tidak
terdapat data mengenai hal ini. 'enelitian pada penderita yang dira&at di 9(,
menyajikan data dari tujuh pria normal. >onsentrasi asam askorbat plasma
mencapai puncak pada dosis sekitar 200 mg@hari, dengan konsentrasi plasma %5
<. Suplementasi selanjutnya sampai 1.000 mg@hari meningkatkan konsentrasi
asam askorbat plasma hanya sampai 10 <. >onsentrasi selular asam askorbat
diukur dari neutrofil, monosit, dan limfosit mencapai titik jenuh pada dosis 100
mg@hari.
10!
-ioa"ailabilitas dan ekskresi urin juga diperiksa pada penelitian
tersebut. Dosis "itamin : sampai 200 mg@hari diabsorbsi secara lengkap dalam
usus, tetapi dengan dosis lebih tinggi mengalami kemunduran tajam.
122
?kskresi
urin diikuti dengan pola terbalik. Sampai dosis 100 mg@hari tidak terdapat ekskresi
dalam urin. Sebaliknya pada dosis lebih atau sama dengan 500 mg@hari seluruh
"itamin : yang diabsorbsi diekskresi tanpa perubahan dalam urin. ,al penting
lain dari kinetika in situ adalah toksisitas "itamin seperti telah dibahas sebelumnya
dan pertimbangan yang muncul dari penelitian epidemiologis.
?fek "itamin : pada beberapa penyakit kronik seperti kanker, penyakit
jantung koroner, stroke, katarak, dan angka harapan hidupnya masih
))
diperdebatkan.
121
Alasan tepat untuk ketidakcocokan ini adalahA 14 menghitung
asupan per hari yang sering tidak akurat dan 24 dalam sebagian besar penelitian
tidak diketahui konsentrasi "itamin : dalam jaringan dan plasma.
10!

Data terbaik yang menghubungkan "itamin : dengan hasil klinis yang
bermanfaat berasal dari data mengenai asupan "itamin : dari buah dan sayur.
Asupan buah dan sayur yang banyak berhubungan dengan rendahnya risiko
penyakit jantung dan kanker, terutama kanker saluran cerna
112
Akan tetapi masih
belum diketahui faktor apa dari buah dan sayur yang bersifat melindungi.
<anfaatnya mungkin didapat dari interaksi antara "itamin : dan komponen lain
dalam makanan ataupun tidak bergantung pada "itamin :. 'enelitian
epidemiologis berperan penting dalam menentukan rekomendasi, tetapi tidak
dapat berdiri sendiri.
125
>eterbatasan penelitian epidemiologis harus dipelajari dan
kur"a konsentrasi dan dosis dalam rentang !0C100 mg@hari harus dihitung.
2.1.4.".3 'eala De-!s!ens!
>arena "itamin : mempunyai banyak fungsi
fisiologis dalam tubuh, maka defisiensi "itamin ini akan berakibat luas, terutama
pelunakan jaringan penunjang berbagai organ tubuh. /ejala jelas terlihat pada
tulang dan pembuluh darah. 'ada tulang yang sedang tumbuh dapat terjadi
gangguan pertumbuhan, pembengkakan pada ujung tulang panjang akibat
perdarahan subperiosteum, serta osteoporosis pada orang de&asa. /igi geligi
mengalami resorpsi dan atrofi dentin serta terjadi gangguan pada al"eoli gigi yang
mengakibatkan gigi mudah lepas. /usi melunak, mudah berdarah, dan
)1
membengkak hingga menutupi bagian gigi. /angguan pada dinding pembuluh
darah mengakibatkan fragilitas dinding pembuluh darah meningkat, sehingga
trauma ringan mudah menimbulkan perdarahan kulit, otot, gusi, dan tulang.
125
2.1.4.".4 Ind!kas!
>egunaan yang spesifik adalah untuk pencegahan dan terapi
skorbut. +ntuk tujuan pencegahan pada bayi dan anak dapat diberikan dalam
bentuk air jeruk.
0alaupun data yang ada mengenai hubungan antara kadar "itamin : dan
fungsinya in situ tidak cukup untuk menerangkan reaksireaksi yang melibatkan
"itamin :, rekomendasi untuk meminum "itamin : masih diperlukan. +ntuk
membuat rekomendasi konsumsi "itamin :, harus dipertimbangkan komponen
biologis dan klinis. Data dari penelitian epidemiologis dapat dipergunakan secara
sinergis dengan penelitian farmakokinetis dan fungsional.
66
*ekomendasi dapat
dibagi beberapa kategori, misalnya %0 mg@hari dapat dipertimbangkan untuk
mencegah defisiensi dan 200500 mg@hari merupakan dosis yang lebih baik untuk
fungsi optimal. -erdasarkan data, untuk pengobatan aman bila tidak lebih dari
1.000 mg@hari.
66,101
2.1.5 Peranan Ultras+n+gra-!
+ltrasonografi memiliki peranan untuk mendiagnosis kegagalan
kehamilan dini. 'ada abortus iminens, ultrasonografi dibutuhkan untuk
menentukan apakah janin masih hidup sehingga kehamilan dapat dilanjutkan.
)6
+ltrasonografi dapat juga digunakan untuk diagnosis abortus inkomplit atau
komplit, missed abortion, dan blighted ovum.
!,2%

Saat ini ultrasonografi diharapkan dapat menentukan kehamilan
mana yang akan mengalami kegagalan pada penderita dengan perdarahan
kehamilan dini. +ntuk dapat memprediksi kegagalan kehamilan tersebut, maka
perlu dilakukan pemeriksaan ultrasonografi saat terjadi perdarahan. -eberapa
gambaran ultrasonografi yang dapat dilihat antara lain kantong kehamilan, yol&
sac, crown rump length, denyut jantung, hematoma subkorionik, ketebalan
trofoblas, korpus luteum, dan sirkulasi uteroplasenta.
2)

2.1.5.1 %!rkulas! Uter+)lasenta
Sirkulasi uteroplasenta terdiri dari bagian maternal, plasenta, dan janin
yang bergabung menjadi satu. -agian maternal dari sirkulasi uteroplasenta terdiri
dari arteri uterina dan cabangcabangnya. Arteri uterina berasal dari arteri iliaka
interna, dan kemudian meluas kurang lebih sepertiga ketebalan miometrium. 'ada
lokasi ini arteri uterina bercabang menjadi arteri arkuata yang melingkari uterus.
Dari jaringan tersebut, cabangcabang kecil, yang disebut arteriarteri radialis
yang berjalan ke arah lumen uterus. Arteriarteri radialis akan menjadi arteriarteri
spiralis endometrium atau desidua saat mele&ati batas endometrium
miometrium.
16,21
Semua sirkulasi uteroplasenta ini dapat diidentifikasi pada uterus dengan
kehamilan dengan mengetahui gambaran arus darahnya. Arteri uterina dapat
10
diperlihatkan pada potongan setinggi ostium uteri internum melalui pendekatan
sisi lateral uterus dan membentuk kur"a ke atas sepanjang korpus uteri. Arteri
arteri arkuata dapat dilihat pada sepertiga luar miometrium, sedangkan arteriarteri
spiralis dapat diidentifikasi pada duapertiga bagian dalam miometrium. Arteri
arteri spiralis dapat terlihat dekat dengan trofoblas aktif.
16,1!$
2.1.5.2 Pr!ns!) D+))ler
'rinsip +S/ Doppler berdasarkan pada efek Doppler yang diperkenalkan
oleh Fohann :hristian Doppler, seorang ahli fisika Austria pada tahun 11$2.
Doppler mengatakan bah&a bila sumber suara 3misalnya, selsel darah merah
dalam sirkulasi umbilikalis janin4 bergerak relatif terhadap pengamat 3misalnya,
transduser +S/4, maka frekuensi yang diterima akan mengalami perubahan dari
frekuensi sebenarnya.
1!5,1!%
Sehubungan dengan prinsip penyimpangan Doppler, ekho yang kembali
dari struktur yang bergerak akan mengalami perubahan frekuensi dan besar
penyimpangan tersebut setara dengan kecepatan struktur yang bergerak tersebut.
8rekuensi ekho yang kembali dari struktur yang bergerak ke arah transduser lebih
tinggi frekuensi mulamula yang dipancarkan transduser. Sebaliknya, frekuensi
dari ekho yang kembali dari struktur yang meninggalkan transduser lebih rendah.
8rekuensi yang mengalami penyimpangan ini disebut juga "opplershift
fre6uency.
f
d
H 2 " :os L f
0
:
f
d
A 8rekuensi yang mengalami penyimpangan
11
f
0
A 8rekuensi ultrasonografi yang dipancarkan transduser 3umumnya !5 <h24
c A >ecepatan rambat suara dalam tubuh 3sekitar 1.5$0 m@detik4
" A >ecepatan selsel darah dalam pembuluh darah
L A Sudut antara pancaran ultrasonografi dan pembuluh darah
2.1.5.3 Pengukuran D+))ler Arus Darah
Aplikasi +S/ Doppler di bidang obstetri adalah untuk mendeteksi
dan mengukur arus darah. /elombang suara dari selsel darah yang bergerak di
dalam pembuluh darah merupakan penyimpangan Doppler yang efektif, yang
dapat digunakan sebagai dasar studi Doppler arus darah pada sirkulasi janin
dan maternal.
1!)
Ada dua cara menilai hemodinamik sirkulasi, yaitu
pengukuran langsung dari "olume arus darah )blood
(
flow volume' dan penilaian
tidak langsung dari kecepatan arus darah 3flow velocity' dengan menggunakan
analisis spektrum Doppler )wuveform analysis'( 'enilaian ini sangat tergantung
dari besarnya pembuluh darah yang akan dipelajari.
1!%
1. ;olume arus darah )blood volume flow'
;olume arus darah dapat diukur dengan mengalikan kecepatan atau
"elositas dengan luas daerah pembuluh darah. >ecepatan dapat
diperoleh melalui persamaan di ba&ah iniA
;elositas =
3 fd G c 4
2 f
0
G cos L
12
+ntuk mendapatkan "olume arus darah perlu dilakukan pengukuran
diameter pembuluh darah dan sudut antara pembuluh darah dan
pancaran ultrasonografi. -iasanya dilakukan hanya pada pembuluh
darah besar, seperti aorta janin. >arena diameter pembuluh darah
berubahubah sesuai dengan siklus jantung sehingga menyulitkan
pengukuran dan tingkat kesalahan tinggi, maka pengukuran ini sudah
ditinggalkan.
2. Analisis spektrum Doppler arus darah )wave
(
form analysis of blood
velocity'( 'enilaian secara tidak langsung dari kecepatan arus darah
dengan menganalisis bentuk gelombang dapat memberikan intonasi arus
darah tanpa kesalahan yang besar. -iasanya pemeriksaan dilakukan
pada pembuluh darah kecil sehingga tidak tergantung dari sudut
pancaran ultrasonografi dan diameter pembuluh darah.
Analisis spektrum Doppler arus darah arteri yang sering dipakai adalahA
*asio sistolik@diastolik 3S@D ratio4
Diperkenalkan oleh Stuart dkk. pada tahun 1610 dan merupakan
cara yang paling sederhana. *asio S@D didapat dengan membagi
kecepatan puncak sistolik )systolic pea& velocity' dengan diastolik
akhir )end-diastolic pea& velocity'( *asio S@D dapat diukur pada
pembuluh darah perifer seperti arteri uterina dan arteri umbilikalis.
*asio S@D tidak dapat digunakan pada pembuluh darah sentral,
karena semakin sentral pembuluh darah, diastolik semakin rendah.
*asio S@D akan berkurang dengan pertambahan usia kehamilan
1!
*( )7esistence index'
'ertama kali diperkenalkan oleh 'laniol dan 'ourcelot tahun 16)5
dengan mengurangi sistolik dengan diastolik kemudian dibagi sistolik.
Aplikasinya hampir sama dengan ratio S@D, yaitu hanya pada arteri
umbilikalis dan arteri uterina, dan rendahnya nilai diastolik
membuat *( tidak berguna pada pembuluh darah sentral.
(ndeks pulsatilitas )/ulsatility index, '('
(ndeks pulsatilitas diperkenalkan oleh /osling dan >ing tahun 16)5.
(ndeks pulsatilitas lebih kompleks karena memerlukan perhitungan
ratarata kecepatan. (ndeks pulsatilitas didapat dengan membagi
selisih sistolik dikurangi diastolik dengan ratarata kecepatan.
Aplikasi '( dapat digunakan secara luas terutama bila diastolik
hilang atau terbalik rasio S@D dan *( tidak bisa digunakan.
2.1.5." D+))ler Arus Darah Arter! %)!ral!s Des!dua
Doppler arus darah arteriarteri kecil menunjukkan aliran darah dan
pulsatilitas yang rendah. ,al ini disebabkan oleh percabangan sirkulasi arteri
uterina dan peningkatan daerah potongsilang yang mengakibatkan resistensi
yang rendah dari aliran darah. -eberapa studi menunjukkan penurunan
resistensi arus darah pada arteri uterina dan cabangcabangnya pada a&al
kehamilan.
16,2%
1$
'am*ar 2.11 %kema D+))ler arus darah a. uter!na& a. arkuata&
a. rad!al!s& dan a. s)!ral!s
SumberA >urjak dan Aksamija.
2%
'ada a&al kehamilan, arteriarteri spiralis secara progresif berubah
menjadi saluran berlikuliku dengan dilatasi nonmuskular.
1!1
Arus darah
turbulen dengan resistensi rendah dari arteriarteri spiralis yang mengalami
perubahan dapat dideteksi dekat tempat implantasi plasenta. Selanjutnya,
in"asi sejumlah besar aliran darah maternal dengan tekanan tinggi
mengakibatkan arus darah dengan kecepatan tinggi dan komponen diastolik
yang besar dari gambaran Doppler arus darah. *esistensi arteriarteri spiralis
akan menurun dengan bertambahnya usia kehamilan akibat perubahan
muskuloelastik dinding pembuluh darah menjadi saluran yang besar.
16
2.1.5.3 Be*era)a Penel!t!an D+))ler Arus Darah Arter! %)!ral!s Des!dua
'eranan Doppler arus darah arteriarteri spiralis dalam prediksi kegagalan
kehamilan telah dibuktikan melalui beberapa studi di ba&ah iniA
15
a. uterina a. arcuata a. radialis a. spiralis
Faffe dkk.
26
melakukan pemeriksaan ultrasonografi Doppler pada 100
&anita dengan usia kehamilan )12 minggu dan janin hidup. Studi ini
menunjukkan bah&a arus darah abnormal dengan resistensi tinggi dari ASD
3*( M 0,554 ditemukan pada penderita dengan risiko tinggi abortus spontan.
Sensiti"itas, spesifisitas, serta nilai prediksi negatif dan positif untuk prediksi
luaran kehamilan adalah masingmasing 16#, 1%#, 6)#, dan %1#.
>urjak dkk.
!0
melakukan in"estigasi arus darah sirkulasi fetomaternal
dari %0 &anita dengan abortus iminens dan 60 &anita dengan kehamilan
intrauterin normal. Dilakukan pengukuran *( 3*(4 pada sirkulasi maternal dan
tidak didapatkan perbedaan yang bermakna nilai *( sirkulasi maternal antara
&anita dengan kehamilan normal dan abortus iminens dengan perdarahan yang
luaran kehamilan normal.
9amun demikian, studi lainnya menunjukkan hasil yang sebaliknya seperti
ditunjukkan di ba&ah iniA
Alca2ar dan *ui2'ere2
!1
melakukan studi terhadap $6 penderita dengan
abortus iminens pada trimester pertama dengan janin hidup dan 126 &anita
dengan kehamilan trimester pertama yang normal. +ltrasonografi trans"aginal
dilakukan dan dilakukan pengukuran pea& systolic velocity dan indeks pulsatilitas
arteri uterina dan arteri spiralis. 7ernyata tidak ditemukan perubahan
Doppler arus darah sirkulasi uteroplasenta pada penderita dengan abortus
spontan dibanding kehamilan normal sehingga penggunaan Doppler arus
darah tidak membantu untuk prediksi luaran kehamilan.
1%
2.2 #erangka Pem!k!ran& Prem!s& dan H!)+tes!s
7ubuh mempunyai sistem antioksidan yang melindungi terhadap produksi
berlebihan reactive oxygen 3*.S4. -ila keseimbangan antara *.S dan
mekanisme perlindungan bergeser ke arah prooksidan, kemudian timbul *.S
berlebihan, maka akan timbul kerusakan.
%$
>erusakan akibat radikal bebas 3stres
oksidatif4 dan peroksidasi lipid terlibat dalam patofisiologi berbagai keadaan
klinis.
2,%,11
Simsek dkk.
1!6
mendapatkan kadar akti"itas glutathion8/x tidak berubah
pada abortus iminens, mereka menemukan bah&a kadar lipid peroksidase
meningkat, sedangkan kadar "itamin ?, A, dan betakaroten menurun pada &anita
yang mengalami abortus, mendukung bah&a antioksidan terlibat dalam abortus
iminens.
-ukti lain akti"itas antioksidan dalam abortus iminens berasal dari
penelitian ;ural dkk.
15
yang menghitung kadar asam askorbat, -tocopherol, thiol
total, seruloplasmin, asam urat, albumin, dan erythrocyte glutathion dalam plasma
&anita hamil dengan ataupun tanpa ri&ayat abortus. 0anita yang mengalami
abortus mempunyai kadar total thiol, seruloplasmin, asam askorbat, -tocopherol
dan erythrocyte glutathion yang lebih rendah secara bermakna dibandingkan
kelompok kontrol, mendukung adanya peningkatan lipid peroksidasi. ,asil ini
juga menunjukkan bah&a pada &anita yang mengalami abortus terdapat
ketidakseimbangan status redoks dengan akti"itas prooksidatif dan peningkatan
stres oksidatif mungkin merupakan salah satu penyebab abortus.
1)
0anita yang mengalami abortus pada trimester pertama mempunyai kadar
S.D yang menurun secara bermakna. 'enurunan kadar S.D ini akibat loncatan
elektron dari rantai respirasi mitokondria, suatu sampah ion .
2

, dapat
mengakibatkan peningkatan produksi *.S. 'erubahan ini didapatkan pada
sirkulasi perifer dan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi di dalam uterus.
7rimester pertama kehamilan yang berlanjut berhubungan dengan peningkatan
akti"itas antioksidan seperti ditunjukkan pada peningkatan kadar seruloplasmin
serta S.D dan hal ini dapat memberikan perlindungan terhadap serangan
antioksidan.
2,1%
'emeliharaan kehamilan berhubungan dengan adanya sitokin 7h2, dengan
(=$ sebagai faktor yang predominan dalam polarisasi 7h2. Abortus berhubungan
dengan adanya sitokin 7h1 dengan (89 yang mengembangkan diferensiasi sel 7
nave menuju sel 7h1. (=$ yang dihasilkan sel 7h2 menyebabkan perkembangan
sel 7 yang menghasilkan leu&emia inhibitory fa&tor 3=(84 dan colony stimulating
fa&tor 3<:S84 yang diperlukan dalam perkembangan embrio.
%2,1$0
'enelitian <urine dkk.
21
mendapatkan bah&a saat sitokin 7h2 terdeteksi
pada hubungan fetalmaternal selama kehamilan, (98 yang merupakan sitokin
7h1, hanya terdeteksi pada a&al kehamilan.
=im dkk.
22
meneliti pengaruh sitokin 7h1 dan 7h2 endometrium pada
keberhasilan dan kegagalan reproduksi. <ereka menemukan bah&a pada &anita
tanpa ri&ayat abortus iminens tidak terdeteksi adanya (=12, (98, (=2, dan 798
atau (=2 pada endometrium dekat tempat implantasi, sehingga menghambat
perkembangan sel 7h0 menjadi 7h1. (=$ juga terdeteksi, membantu
11
perkembangan sel 7h0 menjadi 7h2 dan kemudian menggeser keseimbangan
menjauhi respons sitotoksik. 7etapi pada &anita dengan ri&ayat abortus iminens,
(=C12 terdeteksi pada endometrium, seperti adanya sitokin 7h1, (98, (=2, dan
798 menghasilkan respons penolakan sitokin 7h1 pada saat implantasi. >adar
sitokin perimplantasi tidak merupakan faktor yang dapat memperkirakan hasil
kehamilan pada &anita dengan ri&ayat abortus iminens. Sel desidua yang diambil
dari &anita yang menderita keguguran berulang ternyata menghasilkan lebih
sedikit (=$, (=10, dan =(8 dibanding &anita yang hamil normal.
2,22,2!
;i"es dkk.
2!
meneliti ekspresi sitokin pada jaringan desidua dan trofoblas
dari &anita yang tidak mengalami masalah dalam kehamilannya dan menjalani
seksio sesarea, partus per"aginam dengan bayi (+/*, abortus yang pertama, dan
&anita dengan ri&ayat abortus iminens pada saat terjadinya abortus. ,asilnya
terdapat peningkatan bermakna ekspresi (98 pada jaringan desidua &anita yang
mengalami abortus. >adar (=10 rendah pada kelompok ini dibandingkan dengan
kelompok yang hamil normal. 'enemuan ini menunjukkan adanya keseimbangan
antara sitokin tipe 1 dan 2 selama kehamilan yang diperlihatkan dengan ekspresi
(98 pada hubungan fetal maternal.

<elekatnya satu sel dengan sel lainnya, satu sel ke jenis sel lainnya,
dan atau melekatnya satu sel ke matriks ekstraselular 3<?S4 adalah bagian yang
sangat penting dan tergantung adanya cells adhesion molecule 3:A<4 dan ligan
yang dimilikinya.
20,25
<olekul perekat sel adalah glikoprotein sel permukaan
yang dapat meluas keluar membran sel atau menempel pada membran yang
diperantarai oleh lemak.
20
-eberapa molekul spesifik dikeluarkan tergantung &aktu
16
maupun tempat pada saat perkembangan. Sebagai contoh, pada saat implantasi,
trofoektoderm yang melekat ke epitel permukaan uterus dan :A< memiliki
peranan yang penting dalam proses ini. 'emahaman mengenai peranan :A<
dalam kehamilan sangatlah menakjubkan karena beberapa kehamilan dikaitkan
dengan kelainan yang berhubungan dengan :A< termasuk abortus yang
dihubungkan dengan kelainan ekspresi :A<. 'etanda biokimia&i yang la2im
dipakai untuk penentu disfungsi endotel molekul adhesi adalah vascular cells
adhesion molecule-1 3;:A<14.
25,1$1

798 'lasenta
Aktifasi 9eutrofil
(=%, (=1
'eroksidasi glutathione

'eroksidasi lipid
Disfungsi sel endotel
Abortus
%(D
.2
,2.2
Abortus (minens
=oncatan elektron di mitokondria
61AM
.ksigen radikal bebas 3<ulti organ4
7h0
7h1
7h2
Sel -
Sel plasma
IN.

(=2
Aktifasi <akrofag
Aktifasi Ag
Ab
Aktifasi sitotosik
IL4
R(%
'eroksidasi lipid plasenta
7idak terkontrol akti"itas radikal bebas
Antioksidan
;itamin :
Aliran darah A spiralis desidua
>erusakan membran sel endometrium
+S/
;it : ;it :
'am*ar 2.12 Hu*ungan antara a*+rtus !m!nens& s!t+k!n& %(D&
ant!+ks!dan dan a*+rtus
'emeriksaan Doppler ditujukan untuk menilai perubahan resistensi
"askular uterus plasenta janin melalui pengukuran "elositas arus darah dengan
gelombang ultrasonik. 'ada keadaan reperfusi plasenta terjadi perubahan
abnormal pada mikrosirkulasi plasenta yang akan menyebabkan peningkatan
60
resistensi "askular plasenta, yang dapat diketahui melalui pemeriksaan pola arus
darah pada ASD.
2%,26
;itamin : merupakan antioksidan yang larut dalam air yang berperan
dalam memperbaiki membran sel dan memperbaiki sistem "askularisasi. ;itamin
: dari makanan lebih dianjurkan untuk suplementasi karena risiko lebih rendah
adanya berbagai penyakit kronik.
!$,100,10$
+raian berbagai preposisi di atas, selanjutnya secara selektif dapat
diformulasikan kedalam premispremis sebagai berikutA
Prem!s 1A
7erjadi penurunan kadar S.D pada abortus iminens
2,1,151),)0,1!6
Prem!s 2A
'ada abortus terjadi perubahan sistem imun dan "askular yang
menyebabkan peningkatan akti"itas jalur 7h 1 yang bersifat embriotoksik
yaitu (89 .
2,$1,)0,1$0
Prem!s 3A
'ada sel desidua abortus terdapat peningkatan kadar (89 dan ditemukan
lebih sedikit kadar (=$.
2!,!1
Prem!s "A
'ada abortus terjadi ketidakseimbangan status redoks akti"itas
prooksidatif dan timbulnya *.S berlebihan akibat radikal bebas 3stres
61
oksidatif4 dan peroksidasi lipid, sehingga mengakibatkan kerusakan
membran sel di lapisan endometrium.
15,2!,1!6
Prem!s 3A
'ada abortus iminens terjadi kerusakan membran sel di lapisan
endometrium yang menyebabkan adanya perubahan pada ASD.
$,!2,52
Prem!s 4>
7erjadinya disfungsi sel endotel akan menyebabkan peningkatan kadar
;:A<1.
2$,25,61,1$2

Prem!s 5A
'ada abortus iminens terjadi peningkatan *( ASD.
!,16,2),52

Prem!s 9A
'ada a&al kehamilan *( ASD rendah dan penurunan *( akan berlanjut
dengan bertambahnya usia kehamilan.
!,16,21,26

Prem!s :A
'erubahan *( ASD memberikan efek terhadap perkembangan
kehamilan.
16,!2,52

Prem!s 1;A
'enurunan kadar S.D pada abortus dapat dihindari dengan adanya sistem
antioksidan, hal ini berhubungan dengan glutation peroksidase yang
62
berfungsi mengkatalisis reduksi hidrogen peroksidase dan mencegah
peroksidasi lipid membran sel.
$,!5,1$!
Prem!s 11A
'ada abortus iminens kadar lipid peroksidase meningkat dan kadar total
tiol, seruloplasmin, asam askorbat, -tocopherol, "itamin A, betakaroten,
dan erythrocyte glutathion menurun.
2,1),!$,1!6
Prem!s 12A
;itamin : mempunyai fungsi yaitu menekan adanya ketidakseimbangan
status redoks dengan akti"itas prooksidatif dan menekan terjadinya
peningkatan stres oksidatif.
15,!$,100,11%,121

Prem!s 13A
;itamin : merupakan antioksidan yang larut air mempunyai fungsi yang
signifikan terutama dalam membran sel dan memperbaiki sistem
"askular.
15,!$,100,11%,121

Prem!s 1"A
;itamin : memelihara dan memperbaiki respons imun humoral dan
selular secara in vivo dan in vitro.
100,101,10!,10%,101
2.3 H!)+tes!s
6!
Dari premispremis di atas, dapat dideduksi hipotesishipotesis yang pada
hakikatnya merupakan landasan teoritis dalam rangka memberi ja&aban terhadap
masalah dalam penelitian ini, dengan perumusan sebagai berikutA
H!)+tes!s 1>
7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan kadar (89
dan peningkatan kadar (=$ pada abortus iminens setelah pemberian
"itamin : 3'remis 1,2,!,$,10,11,12,1$4.
H!)+tes!s 2>
7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan *( ASD dan
kadar ;:A<1 pada abortus iminens setelah pemberian "itamin :
3'remis 1,5,%,),1,6,10,12,1!4.
H!)+tes!s 3>
'ada kasus yang terjadi abortus terdapat penurunan kadar S.D dan (=$
serta peningkatan kadar (89 , ;:A<1 dan *( ASD 3'remis
1,2,!,%,),10,12,1!4.
6$
BAB III
%UB$E# DAN MET(DE PENELITIAN
3.1 %u*ek Penel!t!an
>asus yang termasuk kedalam penelitian ini adalahA
P+)ulas! %asaranA
(bu hamil yang berdomisili di >ota dan >abupaten -andung
P+)ulas! TerangkauA
Semua ibu hamil dengan diagnosis abortus iminens yang datang memeriksakan
kehamilannya di 'oliklinik .bstetri *S+' dr ,asan Sadikin -andung 3periode 1
tahun4 sebanyak 150200 kasus.
%am)el /ang d!kehendak!A
Dipilih %0 orang ibu hamil dengan diagnosis abortus iminens, yang memenuhi
kriteria inklusi dan tidak termasuk kriteria eksklusi.
3.1.1 #r!ter!a !nklus!
Semua kehamilan dengan diagnosis abortus iminens
>ehamilan tunggal hidup, usia kehamilan 1012 minggu
+sia ibu hamil kurang dari !0 tahun
(ndeks massa tubuh ibu dalam batas normal 31125 kg@m
2
4
<emiliki alamat yang jelas di >ota atau >abupaten -andung dan mudah
untuk dihubungi
65
3.1.2 #r!ter!a Eksklus!
7erdapat kelainan kongenital pada janin dengan pemeriksaan +S/
7erdapat kelainan uterus dengan pemeriksaan dalam dan +S/
(bu mengkomsumsi obat antioksidan, hormonal, plasentotropik
(bu hamil perokok, minum alkohol, dan mempunyai pekerjaan yang berat
,iperemesis gra"idarum
7erdapat penyakit infeksi
7erdapat ri&ayat penyakit kronik pada ibu misalnya penyakit ginjal,
jantung, hipertensi, diabetes melitus, hipotiroid, ulkus peptikum
7idak meminum obat lebih dari dua hari 3dilihat dari buku log kepatuhan
pemakaian obat4
<engkomsumsi obatobatan lainnya di luar protokol penelitian
3.2 Ran?angan Penel!t!an
3.2.1 #las!-!kas! $en!s Penel!t!an
-erdasarkan ruang lingkup penelitian termasuk penelitian klinis
laboratorium
-erdasarkan pada &aktu termasuk penelitian longitudinal prospektif
-erdasarkan pada substansinya termasuk penelitian dasar dan terapan
-erdasarkan pada hubungan antar "ariabelnya termasuk penelitian analitis
-erdasarkan desain penelitiannya termasuk penelitian inter"ensional@
eksperimental 3uji klinis4.
6%
3.2.2 Met+de Penel!t!an
*ancangan penelitian ini menggunakan metode pengkajian inter"ensional@
eksperimental uji klinis secara acak tersamar ganda 3randomi$ed placebo
controlled, double mas& study4 dengan metode analisis "arian 3sidik ragam4
dengan pengukuran berulang 3repeated measures4.
3.2.3 Ukuran 0Besar2 %am)el Penel!t!an dan Rand+m!sas!
.leh karena yang akan diteliti adalah dua kelompok yaitu kelompok yang
diberi "itamin : dan kelompok yang diberi plasebo maka jumlah sampel
ditentukan dengan menggunakan rumus besar sampel untuk menguji dua proporsi
yaituA
[ 5
1
; 2p31p4 I 5
1
; p131p
1
4 I p
2
31p
2
4 ]
2
3p
1
p
2
4
2
adapun informasi yang telah diketahui adalah sebagai berikutA
5
1
= taraf kepercayaan 65# dengan mengambil harga H 0,05, maka didapat
1,%$5 3dari tabel statistik4
5
1
= power test 10# dengan mengambil harga H 0,20, maka didapat 0,1$ 3dari
tabel statistik4
p
1
= angka kejadian abortus dengan pemberian antioksidan 0,!! 3"itamin :4
p
2
= angka kejadian abortus dengan penatalaksanaan sesuai prosedur tetap adalah
0,%% 3kontrol4
2
p

= 3p
1
I p
2
4 A 2 H 0,5
6)
n H
<aka perhitungan menjadiA
[ 1,%$5 ; 2 . 0.5 . 0,5 I 0,1$ ; 0,!! . 0,%% I 0,%% . 0.!! ]
2
3 0,%% C 0,!! 4
2
n H 2),!
Dengan demikian pada rumus di atas akan ditemukan perkiraan besar sampel
minimal yang diperlukan dalam penelitian ini untuk setiap kelompok adalah 2).
Dengan memperhitungkan angka yang mungkin drop out 3keluar dari penelitian4
sebesar 10#, maka didapatkan !0 ibu hamil untuk setiap kelompok dan
direncanakan akan dikumpulkan %0 ibu hamil sebagai sampel yang dikehendaki.
:ara pemilihan sampel menggunakan stratified random sampling,
sedangkan untuk menentukan kandidat kedalam kelompok perlakuan dan kontrol
dilakukan randomisasi blok permutasi. Satuan pengamatan adalah semua abortus
iminens yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Sampel ditentukan atas dasar
pemilihan kriteria dan menurut nomor random yang kemudian dilakukan
penyimpanan hasil alokasi nomor random kedalam amplop yang ditutup rapat.
3.3 Tem)at dan @aktu Penel!t!an
>egiatan penelitian ini dilaksanakan di -agian@S<8 .bstetri dan
/inekologi, -agian =aboratorium +nit 'enelitian >esehatan@*S,S, dan
laboratorium 'rodia. 'enelitian ini dilaksanakan dalam &aktu 10 bulan.
61
n H
3." 6ar!a*el Penel!t!an
3.".1 6ar!a*el Be*as
;itamin :
'lasebo
3.".2 6ar!a*el Tergantung
>adar S.D
>adar (89
>adar (=$
>adar ;:A<1
*( ASD
>ejadian abortus
3.".3 6ar!a*el Peran?u
+sia ibu
'aritas
+sia kehamilan
3.3 Tata kera Penel!t!an
Pes!a)an>
Setelah persiapan protokol, formulir penelitian@status ibu hamil, persiapan
bahan obat, >(7 pemeriksaan laboratorium dan peri2inan dari >omite ?tik
66
'enelitian >esehatan dan >epala -agian@S<8 .bstetri dan /inekologi
8>+'@*S,S, peneliti melakukan persiapan lapangan sebagai berikutA
<elakukan informasi mengenai cara mengisi formulir penelitian,
pemeriksaan laboratorium, pemilihan pasien kepada residen kepala,
residen dan koasisten yang bertugas di poliklinik obstetrik yang dilakukan
secara periodik menurut jad&al rotasi residen dan koasisten.
'emeriksaan pasien dilakukan oleh residen dan peneliti, pemberian obat
3double blind4 dilakukan oleh peneliti 3dijelaskan dan dibuatkan buku log
untuk kepatuhan pemakaian obat4.
'emeriksaan laboratorium dilakukan oleh -agian@=aboratorium +nit
'enelitian >edokteran 8>+'@*S,S. 'engambilan darah dilakukan oleh
petugas laboratorium pada jam kerja dan di luar jam kerja dilakukan oleh
peneliti.
Pelaksanaan>
?nam puluh kasus yang memenuhi kriteria inklusi penelitian diambil
dengan cara pemilihan sampel menggunakan stratified random sampling,
kemudian dibagi kedalam dua kelompok dengan menggunakan
randomisasi blok permutasi masingmasing !0 orang ibu hamil untuk
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
'ada kedua kelompok diharuskan mengikuti prosedur penelitian yaitu tirah
baring dan kontrol setiap bulan sampai pada usia kehamilan 20 minggu
dan ibu minum obat 2 kali 1 tablet sehari. Setiap kasus@ibu diinformasikan
tandatanda a&al abortus 3abortus komplit, abortus inkomplit, abortus
100
insipiens, missed abortion4 seperti adanya perdarahan, mulesmules, dan
nyeri perut bagian ba&ah dan ibu diharuskan untuk segera datang ke
rumah sakit apabila mengalami salah satu dari gejalagejala tersebut dan
bila pada pemeriksaan janin baik maka ibu melanjutkan kontrol kehamilan
sesuai prosedur penelitian.
'ada setiap pemeriksaan atau pada &aktu kontrol hamil dilakukan
pencatatan mengenaiA
o *( ASD 3pemeriksaan dilakukan oleh seorang konsultan fetomaternal
yang berkompeten4
o Ada tidaknya perdarahan
o 'emeriksaan rutin dan keluhankeluhan ibu lainnya
+ntuk jad&al kontrol kehamilan peneliti mengingatkan melalui telepon
sehari sebelumnya. Apabila ibu tidak datang pada saatnya kontrol
kehamilan maka dilakukan kunjungan rumah.
'ada saat kunjungan a&al dan pada saat usia kehamilan 20 minggu dengan
janin baik atau terjadi abortus maka selain dilakukan pemeriksaan klinis
juga dilakukan pengambilan darah 10 m= untuk pemeriksaan
laboratorium kadar S.D, (89 , (=$, dan ;:A<1.
Apabila pada saat kontrol hamil terjadi abortus 3abortus inkomplit, abortus
komplit, abortus insipiens, missed abortion4 maka ibu akan dilakukan
pengambilan darah 10 m= untuk pemeriksaan laboratorium kadar S.D,
101
(89 , (=$, dan ;:A<1 dan ibu dikelola menurut prosedur tetap yang
berlaku di -agian@S<8 .bstetri dan /inekologi 8>+'@*S,S.
Apabila terjadi abortus di luar *S,S maka ibu memberitahukan melalui
telepon kepada peneliti dan peneliti datang ke tempat pelayanan kesehatan
atau rumah sakit terdekat dengan tempat tinggal ibu 3jika ibu tidak bisa
datang ke *S,S4, kemudian setelah diagnosis ditegakkan dilakukan
pengambilan darah 10 m= untuk selanjutnya diba&a ke laboratorium.
Selanjutnya ibu dikelola menurut prosedur tetap yang berlaku.
>epatuhan ibu meminum obat dinilai dari jumlah obat yang tersisa pada
&aktu ibu melakukan kunjungan ulang. (bu yang tidak meminum obat
lebih dari dua hari, dikeluarkan dari penelitian 3drop out4. "rop out pada
penelitian ini adalah subjek yang telah masuk dalam randomisasi tetapi
oleh karena suatu sebab tidak melanjutkan pengobatan.
-agan tata cara penelitian ini dapat dilihat pada gambar di ba&ah iniA
102
'am*ar 3.1 Bagan Tata #era Penel!t!an
3.4 Met+de Pemer!ksaan
3.4.1 Pemer!ksaan #l!n!s
*( ASD diperiksa dengan alat ultrasound merk <edison 1000 SA !D.
'engukuran dilakukan ibu hamil berbaring di tempat tidur kemudian dengan alat
ultrasound dicari ASD di daerah korion frondusum@plasenta dengan menggunakan
Doppler dan kemudian didapatkan hasil dari *( ASD. 'emeriksaan ultrasonografi
dilakukan oleh seorang konsultan fetomaternal yang berkompeten.
3.4.2 Pemer!ksaan La*+rat+r!um
=ab. 3S.D, (89, (=$, ;:A<14
+S/ 3*( ASD4
!0 kasus kontrol 3plasebo4 !0 kasus 3"itamin :4
=ab. 3S.D, (89, (=$, ;:A<14
*andomisasi blok permutasi
>riteria inklusi
Stratified random sampling
%0 kasus, 1012 mg
>ontrol kehamilan 1 bln sekali sampai 20 mg
7irah baring, minum obat 2G1 tablet sehari
>ehamilan ibu 20 minggu, janin hidup
Abortus
komplit, inkomplit, insipien, missed abortion
>ontrol kehamilan bila ada tanda abortus
Fanin baik
Abortus iminens
=ab. 3S.D, (89, (=$, ;:A<14
+S/ 3*( ASD4
10!
S.D diperiksa dengan spektrofotometer, sedangkan (89 , (=$, dan
;:A<1 diperiksa dengan menggunakan metode ?=(SA diperiksa di
-agian@=aboratorium +nit 'enelitian >esehatan 8>+'@*S,S dan laboratorium
'rodia.
Pemer!ksaan %(D>
'rinsip pemeriksaanA
'eranan S.D adalah untuk mempercepat dismutasi radikal toksik superoksid 302

4
yang dihasilkan selama proses oksidatif menjadi hidrogen peroksida dan molekul
oksigen. :ara ini menggunakan xanthine dan xanthine oxidase 3N.D4 untuk
membentuk radikal superoksid yang akan bereaksi dengan 0-)3-iodophenyl'-1-)3-
nitrophenol'-9-phenyltetra$olium chloride 3(974 untuk membentuk pe&arnaan
merah forma2an. Akti"itas S.D diukur dengan melihat tingkat hambatan reaksi ini.
Satu unit S.D dapat menyebabkan 50# inhibisi reduksi (97 pada pemeriksaan.

S.D
5anthine asam urat I .2


.2 S.D
(97 forma$an dye atau .
2
I .
2
I 2,
I
.
2
I ,
2
.
2
'ersiapan sampelA
Sampel darah yang diambil O ! m= dimasukkan kedalam tabung ?D7A. Sebanyak
0,5 m= darah disentrifusi selama 10 menit pada !.000 rpm dan kemudian diaspirasi
plasmanya. >emudian bilas eritrosit empat kali dengan ! m= larutan 9a:l 0,6# dan
sentrifusi selama 10 menit pada !.000 rpm setiap kali bilas. ?ritrosit yang telah
dibilas dan disentrifusi kemudian ditambahkan air redistilasi dingin sampai menjadi
2,0 m=, campurkan dan diamkan selama 15 menit pada suhu I$:. Sediaan ini
10$
kemudian diencerkan dengan 0,01 mol@= bufer fosfat p, ),0 sehingga inhibisi
menurun antara !0%0#. Sebanyak 25 kali lipat jumlah cairan tersebut dianjurkan
untuk sampel darah 3faktor dilusi akhir H 1004.
:ara kerjaA
'anjang gelombang 505 nm
%uvette 1 cm
Suhu
!):
'engukuran terhadap udara
Ambil kedalam cuvetteA
'elarut sampel Standar S2 C S% Sampel yang
dilarutkan
Sampel yang dilarutkan 0,05 m=
Standar 0,05 m=
'elarut sampel *ansod 0,05 m=
Substrat campuran 1,) m= 1,) m= 1,) m=
:ampurkan dengan baik
5anthine oxidase 0,25 m= 0,25 m= 0,25 m=
:ampurkan, baca absorban a&al A
1
setelah !0 detik dan mulai pasang pengukur
&aktu. -aca absorban akhir A
2
setelah ! menit.
'enghitunganA
3A2 A14 @ ! H A@menit standar sampel
Angka pelarut sampel 3S
1
4 H angka reaksi inhibisi H 100#
Seluruh angka standar dan pelarut sampel harus dikon"ersikan menjadi persentase
dari angka pelarut sampel dan disubstasikan dari 100# sehingga menunjukkan
persentase inhibisi.
100 C 3A std@menit G 1004 @3AS
1
@menit4 H # inhibisi
100 3A sampel@menit G 1004@3AS
1
@menit4 H # inhibisi
105
=akukan persentase inhibisi untuk masingmasing standar terhadap =og10
3konsentrasi standar dalam S.D unit@m=4
/unakan persentase inhibisi sampel untuk menentukan unit S.D dari kur"a standar.
S.D unit m= darah H S.D unit@m= dari kur"a standar G faktor pengenceran
>on"ersi menjadi S.D unit@gram hemoglobin
S.D unit@m= @gram hemoglobin@m= H S.D unit@gram hemoglobin
*entang normalA
1.102C1.%01 +@ gram ,b, 1%$C2$0 +@m=
Pemer!ksaan I.N >
'rinsip pemeriksaan (89 A
'emeriksaan ini menggunakan teknik sandwich en$yme immunoasssay kuantitatif.
Antibodi monoklonal spesifik untuk (89 telah dilapisi dalam mikroplat. Standar
dan sampel dimasukkan kedalam tabung dan (89 yang ada akan terikat pada
antibodi yang diimobilisasi. Setelah dibilas dari 2at yang tidak terikat, en$yme-lin&ed
polyclonal antibody spesifik untuk (89 ditambahkan kedalam tabung. Dilanjutkan
dengan pembilasan untuk menghilangkan reagen en2imantibodi yang tidak terikat,
larutan substrat ditambahkan kedalam tabung dan akan timbal &arna yang
menggambarkan jumlah (89 pada tahap a&al. 'erubahan &arna kemudian terhenti
dan &arna dinilai.
10%
Sampel darah diambil O ! m= dimasukkan kedalam tabung ?D7A, kemudian yang
digunakan adalah plasma yang sebelumnya dilakukan sentrifusi selama 10 menit
pada !.000 rpm dan selanjutnya disimpan pada suhu 20
0
:.
Simpan semua reagen dan contoh dalam suhu kamar sebelum digunakan dan
dianjurkan untuk membuat rangkap contoh, standar, dan kontrol yang akan diuji.
1. Siapkan semua reagen dan cara pemeriksaan.
2. -uka keping mikroplat dari bingkai plat, kembalikan kedalam kantung
timah yang mengandung penga&et, bungkus kembali.
!. 7ambahkan 100 = larutan penguji *D151 kedalam masingmasing
tabung.
$. 7ambahkan 100 = standar, contoh, dan kontrol. 'astikan penambahan
reagen tidak terganggu dan selesai dalam 15 menit. 7utup dengan keping
perekat yang disediakan. (nkubasi dalam suhu kamar selama dua jam.
*ancangan keping disediakan untuk mencatat standar dan contoh yang
diuji.
5. Aspirasi masingmasing tabung dan cuci, ulangi hingga empat kali. :uci
dengan wash buffer 3$00 =4 menggunakan botol semprot, pipet
multichannel, pipa bemulut banyak atau autowasher. 'embersihan secara
keseluruhan pada tiap tahap sangat penting. Setelah pencucian terakhir,
buka dan sisakan wash buffer dengan cara aspirasi atau menuang.
-alikkan keping dan bekuan pada handuk kertas bersih.
%. 7ambahkan 200 = con!ugate (89 kedalam masingmasing tabung.
7utup dengan keping perekat. (nkubasi selama dua jam dalam suhu kamar.
10)
). +lang aspirasi dan pencucian pada tahap 5.
1. 7ambahkan 200 = crairan substrat kedalam masingmasing tabung.
(nkubasi selama !0 menit dalam suhu kamar. ,indarkan dari cahaya.
6. 7ambahkan 50 = stop solution kedalam masingmasing tabung. 0arna
dalam tabung akan berubah dari biru ke kuning. Apabila timbul &arna
hijau atau &arna berubah tidak seragam, ketuk keping secara hatihati
untuk memastikan pencampuran yang cermat.
10. 7entukan densitas optikal pada masingmasing tabung dalam !0 menit,
menggunakan microplate reader set sampai $50 nm.
Pemer!ksaan IL,">
'rinsip pemeriksaan (=$A
'emeriksaan ini menggunakan teknik sandwich en$yme immunoasssay kuantitatif.
Antibodi monoklonal spesifik untuk (=$ telah dilapisi dalam mikroplat. Standar dan
sampel dimasukkan kedalam tabung dan (=$ yang ada akan terikat pada antibodi
yang diimobilisasi. Setelah dibilas dari 2at yang tidak terikat, en$yme-lin&ed
polyclonal antibody spesifik untuk (=$ ditambahkan kedalam tabung. Diikuti
dengan pembilasan untuk menghilangkan reagen en2imantibodi yang tidak terikat,
larutan substrat ditambahkan kedalam tabung dan akan timbul &arna yang
menggambarkan jumlah (=$ pada tahap a&al. 'erubahan &arna kemudian terhenti
dan &arna dinilai.
101
Sampel darah diambil O ! m= dimasukkan kedalam tabung ?D7A, kemudian yang
digunakan adalah plasma yang sebelumnya dilakukan sentrifusi selama 10 menit
pada !.000 rpm dan selanjutnya disimpan pada suhu 20
0
:.
Simpan semua reagen dan contoh dalam suhu kamar sebelum digunakan dan
dianjurkan untuk membuat rangkap contoh, standar, dan kontrol yang akan diuji.
1. Siapkan semua reagen dan cara pemeriksaan.
2. -uka keping mikroplat dari bingkai plat, kembalikan kedalam kantung
timah yang mengandung penga&et, bungkus kembali.
!. 7ambahkan 100 = larutan penguji *D1!2 kedalam masingmasing
tabung. 'elarut uji *D1!2 akan menunjukkan gumpalan. >ocok sebelum
dan selama digunakan.
$. 7ambahkan 50 = standar, contoh dan kontrol pada masingmasing
tabung. 'astikan penambahan reagen tidak terganggu dan selesai dalam 15
menit. 7utup dengan keping perekat yang disediakan. (nkubasi dalam suhu
kamar selama dua jam.
5. Aspirasi masingmasing tabung dan cuci, ulangi hingga tiga kali. :uci
dengan wash buffer 3$00 =4 menggunakan botol semprot, pipet
multichannel, pipa bemulut banyak atau autowasher. 'embersihan
seluruhnya pada tiap tahap sangat penting. Setelah pencucian terakhir,
buka dan sisakan wash buffer dengan cara aspirasi atau menuang.
-alikkan keping dan bekuan pada handuk kertas bersih.
%. 7ambahkan 200 = con!ugate (=$ kedalam masingmasing tabung. 7utup
dengan keping perekat. (nkubasi selama dua jam dalam suhu kamar.
106
). +lang aspirasi dan pencucian pada tahap 5.
1. 7ambahkan 200 = crairan substrat kedalam masingmasing tabung.
(nkubasi selama 20 menit dalam suhu kamar. ,indarkan dari cahaya.
6. 7ambahkan 50 = stop solution ke dalam masingmasing tabung. Apabila
&arna berubah tidak seragam, ketuk keping secara hatihati untuk
memastikan pencampuran yang cermat.
10. 7entukan densitas optikal pada masingmasing tabung dalam !0 menit,
menggunakan microplate reader set sampai $50 nm.
Pemer!ksaan 61AM,1>
'rinsip pemeriksaan ;:A<1A
'emeriksaan ini menggunakan teknik sandwich en$yme immunoasssay kuantitatif.
Antibodi monoklonal spesifik untuk s;:A<1 telah dilapisi dalam mikroplat.
Standar dan sampel dimasukkan kedalam tabung dan s;:A<1 yang ada akan
terikat pada antibodi yang diimobilisasi. Setelah dibilas dari 2at yang tidak terikat,
en$yme-lin&ed polyclonal antibody spesifik untuk s;:A<1 ditambahkan kedalam
tabung. Dilanjutkan dengan pembilasan untuk menghilangkan reagen en2imantibodi
yang tidak terikat, larutan substrat ditambahkan kedalam tabung dan akan timbul
&arna yang menggambarkan jumlah s;:A<1 pada tahap a&al. 'erubahan &arna
kemudian terhenti dan &arna dinilai.
Sampel darah diambil O ! m= dimasukkan kedalam tabung ?D7A, kemudian yang
digunakan adalah plasma yang sebelumnya dilakukan sentrifusi selama 10 menit
pada !.000 rpm dan selanjutnya disimpan pada suhu 20
0
:.
110
'rosedur pemeriksaanA
Simpan seluruh reagen dan sampel dalam suhu kamar sebelum digunakan.
Dianjurkan semua sampel dan standar yang diperiksa digandakan.
1. Siapkan semua reagen.
2. -uang semua strip mikroplat yang berlebih dan bingkai plat, kembalikan
kedalam kantong dan kemudian tutup kembali.
!. 7ambahkan 100 = konjugat s;:A<1 kedalam masingmasing tabung.
$. 7ambahkan 100 = standar atau sampel 3perlu pengenceran4 kedalam tiap
tabung. 7utup dengan strip pelekat yang tersedia. Diamkan selama 1,5 jam
pada suhu kamar. /late layout tersedia untuk mencatat standar dan sampel
yang diperiksa.
5. Aspirasi masingmasing dan bilas, ulangi proses ini tiga kali sehingga
seluruhnya empat kali bilas. -ilas dengan mengisi masingmasing tabung
dengan wash buffer 3$00 =4 menggunakan botol s6uirt, pipet multichannel,
dispenser atau autowasher. 'engeluaran cairan seluruhnya pada masing
masing tahap akan memberikan hasil baik. Setelah pembilasan terakhir,
keluarkan sisa wash buffer dengan mengaspirasi. -alikkan plat dan letakkan
di atas handuk kertas.
%. Segera tambahkan 100 = larutan substrat kedalam masingmasing tabung.
7utup dengan pelekat baru. Diamkan selama 20 menit pada suhu kamar.
,indarkan dari cahaya.
). 7ambahkan 50 = stop solution kedalam masingmasing tabung, sama
seperti yang dikerjakan dengan larutan substrat.
111
1. 7entukan densitas optik dari masingmasing tabung dalam !0 menit
menggunakan pembaca microplate $50 nm. -ila tersedia, koreksi panjang
gelombang, atur pada 5$0 nm atau 5)0 nm. Fika tidak, substrat dibaca pada
5$0 atau 5)0 dari pembacaan pada $50 nm.
'enghitungan hasilA
'erkiraan pembacaan ganda dari masingmasing standar, kontrol, dan sampel serta
substrat perkiraan densitas optik standar nol.
=etakkan densitas optik standar tegak lurus konsentrasi standar dan buat kur"a. Data
dapat dibuat linier dengan kertas log dan analisis regresi digunakan untuk
transformasi log.
+ntuk menentukan konsentrasi s;:A<1 masingmasing sampel, pertama temukan
nilai absorban pada aksisy dan perluas ke garis hori2ontal terhadap kur"a standar,
perluas ke garis "ertikal terhadap aksisG dan baca konsentrasi s;:A<1.
Apabila sampel diencerkan, maka konsentrasi yang dibaca pada kur"a standar harus
dikalikan dengan faktor pengenceran.
3.5 Bahan (*at /ang D!gunakan
;itamin : dikemas dalam bentuk kapsul yang mengandung 500 mg
"itamin : dibuat di '7 >albe 8arma
112
'lasebo berisi sacharum lactis dibuat sediaan dalam bentuk kapsul yang
sama dengan sediaan "itamin : yang dibuat di '7 >albe 8arma dengan
peri2inan khusus.
3.9 Ran?angan Anal!s!s
Analisis statistik yang digunakan pada penelitian ini adalahA
1. +ji tA +ji statistik yang digunakan untuk membandingkan ratarata dua
kelompok.
2. +ji <ann0hitneyA +ji statistik yang digunakan untuk membandingkan nilai
tengah "ariabel perbedaan dua kelompok.
!. +ji korelasi dari *ank SpearmanA +ji statistik yang digunakan untuk melihat
perubahan dua kelompok "ariabel.
$. +ji 0ilcoGonA +ji statistik yang digunakan untuk melihat perbandingan
perlakuan terhadap "ariabel.
5. +ji t berpasanganA +ji statistik yang digunakan untuk membandingkan rata
rata dua kelompok yang berpasangan.
%. +ji diagnostikA +ji statistik yang digunakan untuk menentukan titik potong
3cut off point4, sensiti"itas, spesifisitas, dan akurasi berbagai "ariabel pada
yang terjadi abortus dan tidak terjadi abortus.
Seluruh perhitungan statistik dikerjakan dengan menggunakan, piranti lunak paket
program S'SS@': I "ersi 1!.0. >emaknaan uji statistik ditentukan berdasarkan
nilai p< 0,05.
11!
3.: As)ek Et!k
'enelitian ini melibatkan@menggunakan subjek ibu hamil. 0leh sebab itu ada
masalah etik yang dihadapi seperti adanya ketidaknyamanan yang dialami subjek
karena akan diambil darahnya sebanyak dua kali selama penelitian masingmasing
O 10 m= 3sebanyak O dua sendok teh4. 7etapi penelitian ini akan memberikan
manfaat yang lebih besar untuk kepentingan kemanusiaan yang lebih luas, yang
diharapkan dapat dihasilkan pada penelitian ini. *isiko diare mungkin saja terjadi
tetapi berdasarkan data dan pengalaman yang dimiliki saat ini diperkirakan sangat
kecil peluangnya untuk terjadi jika penelitian dilakukan sesuai aturan dan
pedoman yang berlaku.
-ahan obat yang digunakan pada penelitian ini, telah memenuhi prinsip
penelitian yang telah diakui karenaA
o Sudah mele&ati eksperimen laboratorium dan binatang percobaan
o Sudah dijual di pasaran bebas
o ?fek samping yang dapat timbul, biasanya ringan saja 3mual, muntah,
perut kembung, dan lainlain4 akibat perangsangan pada sistem
pencernaan, yang akan menghilang dengan pemberian antasida
>etidakadilan yang diterima oleh kelompok plasebo seharusnya tidak ada
karena kelompok plasebo tidak ditelantarkan, tetapi mereka tetap diperlakukan
sesuai dengan protokol yang baku.
>euntungan yang akan diperoleh, antara lainA
o -ila ternyata obat ini bermanfaat, maka subjek akan terhindar dari
kemungkinan terjadinya abortus
11$
o 'emilihan kasus dalam penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan
prinsip sukarela, tanpa paksaan. Subjek berhak memperoleh penjelasan
tentang keuntungan dan kerugiannya. serta persetujuannya diperoleh
dengan membubuhkan tanda tangan pada formulir penelitian )informed
consent'(
'enelitian ini dilakukan setelah mendapat persetujuan dan rekomendasi dari
>omite ?tik 'enelitian >esehatan, 8akultas >edokteran +ni"ersitas 'adjadjaran
*S Dr. ,asan Sadikin -andung melalui surat keputusan 9oA 1%@8>+'
*S,S@>?'>@>ep@?:@200), tertanggal 6 <aret 200).
3.1; Batasan ()eras!+nal
AbortusA yang dimaksud dengan abortus pada penelitian ini adalah, berakhirnya
kehamilan sebelum janin cukup berkembang untuk dapat hidup di luar
kandungan, yaitu sebelum usia kehamilan 20 minggu yang didasarkan pada
tanggal hari pertama menstruasi normal terakhir dan secara umum berat janin
kurang dari 500 gram yang secara klinis termasuk kedalam kriteriaA abortus
komplit, abortus inkomplit, abortus insipiens atau missed abortion 3(+8D4.
Abortus iminensA yang dimaksud dengan abortus iminens pada penelitian ini
adalah, setiap pengeluaran sekret "agina yang mengandung darah atau setiap
perdarahan per "aginam pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dengan
ostium uteri yang masih tertutup dan janin hidup.
115
(89 PA adalah sitokin yang dihasilkan oleh sel 7 yang terakti"asi dan sel 9> yang
bekerja mengakti"asi makrofag secara umum dan mungkin meningkatkan
kapasitasnya untuk bekerja sebagai A': dan bertanggung ja&ab terhadap regulasi
fungsi A': pada berbagai jenis sel, termasuk astrosit, mikroglia, endotel, dan
timiosit.
(=$A adalah sitokin yang dikenal sebagai faktor akti"asi dan diferensiasi sel -,
bekerja pada sel - untuk merangsang akti"asi dan diferensiasi sehingga
menyebabkan pengeluaran sebagian (g/ dan (g?, juga bekerja pada sel 7 sebagai
faktor pertumbuhan dan akti"asi yang menyebabkan diferensiasi sel 7h2.
S.DA adalah en2im antioksidan di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai
katalis radikal superoksid menjadi ,
2
.
2
dan .
2
,
;:A<1A adalah glikoprotein sel permukaan yang dapat meluas keluar
membran sel atau menempel pada membran yang diperantarai oleh lemak dan
merupakan petanda untuk adanya inflamasi molekul adhesi.
BAB I6
HA%IL PENELITIAN DAN PEMBAHA%AN
".1 Has!l Penel!t!an
11%
'enelitian ini berlangsung selama 10 bulan sejak <aret sampai dengan
Desember 200). 'emilihan pasien dilakukan dalam &aktu ) bulan. Selama &aktu
tersebut telah diperiksa sebanyak 1!0 ibu hamil dengan diagnosis abortus iminens
dan sebanyak %0 kasus memenuhi kriteria inklusi. 'emilihan sampel
menggunakan cara stratified random sampling, sedangkan untuk menentukan
kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dilakukan randomisasi blok permutasi.
'ada semua subjek penelitian dilakukan perlakuan penelitian seperti yang sudah
ditentukan.
Setelah penelitian selesai, tidak ada kasus yang drop out. Selama penelitian
tidak ditemukan akibat sampingan dari tindakan yang dilakukan pada pasien
sesuai dengan protokol penelitian Selama penelitian ini tidak ditemukan efek
toksis atau kematian ibu akibat pemberian "itamin :. 7idak ditemukan efek
samping yang berarti yang menyebabkan penghentian pemberian "itamin : pada
saat penelitian berlangsung atau memerlukan tindakan khusus.
Ta*el ".1 #arakter!st!k su*ek )enel!t!an
#arakter!st!k Perlakuan t N!la!
) 6!tam!n 1
0n = 3;2
Plase*+
0n = 3;2
+sia ibu 3tahun4
G 3SD4
*entang
25,% 3!,14
16 !0
25,1 3!,24
11 !0
0,)1 0,$!)
11)
+sia kehamilan 3mg4
G 3SD4
*entang
10,1 30,14
10 12
10,6 30,64
10 12
0,!0 0,)%6
'aritas
0
1
2
!
1%
6
$
1
1%
6
$
1
1,0
t H uji t
7abel $.1 memperlihatkan bah&a ditinjau dari karakteristik subjek penelitian, baik
dari usia ibu, usia kehamilan maupun paritas, tidak ditemukan perbedaan yang
bermakna antara kelompok "itamin : dan plasebo. -erdasarkan homogenitas data
di atas, maka kedua kelompok layak untuk diperbandingkan.
Ta*el ".2 Per*and!ngan data dasar )engukuran %(D& I.N & IL,"& 61AM,1&
dan RI A%D )ada kel+m)+k 8!tam!n 1 dan )lase*+
Data dasar
08ar!a*el2
Perlakuan #emaknaan
6!tam!n 1
0n = 3;2
Plase*+
0n = 3;2
111
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
1.0$6,$ 3201,54
)!2 C 1%21
665,5
1.002,% 31)6,%4
%$6 C 1!%1
61),5
5
<0
H 0,$%%
p H 0,%$1
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
),05 3%,%54
0,%1 C 25,0
5,!6
),21 35,0!4
1,15 C 22
5,)$
5
<0
H 1,221
p H 0,222
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,!!! 30,!224
0,11 C 1,52
0,2!%
0,!2) 30,2114
0,11 C 1,25
0,21%
5
<0
H 0,%!%
p H 0,525
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
)$6,! 31)2,24
!$1,% C 1121,$
)!2,5 3115,%4
!5$,2 C 1165,2
t H 0,!%
p H 0,)1)
*( ASD
G 3SD4
*entang
0,%60 30,01%4
0,5! C 0,1$
0,%6! 30,11$4
0,$5 C 0,11
t H 0,10
p H 0,616
>eteranganA 5
<0
H uji <ann0hitney
t H uji t
7abel $.2 memperlihatkan data dasar pada kedua kelompok yang diberikan "itamin
: serta plasebo dan ternyata pada kedua kelompok kadar S.D serta, (89 , (=$,
;(:A<1, dan *( ASD tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna.
Ta*el ".3 Per*and!ngan *er*aga! 8ar!a*el /ang d!ukur setelah )em*er!an
8!tam!n 1 dan )lase*+
Data akh!r
08ar!a*el2
Perlakuan #emaknaan
6!tam!n 1
0n = 3;2
Plase*+
0n = 3;2
116
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
1.015,5 3!02,$4
561 C 11)5
10!1
1.0$2,6 3!$%,!4
$%0 C 1%6)
111!,5
5
<0
H 0,!62
p H 0,!$)
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
%,!0 3%,$)4
0,!6 C 2!,11
!,0
),01 3%,1$4
0,!6 C 21,$
$,!$
5
<0
H 0,)!6
p H 0,2!0
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,51$ 30,5054
0,11 C 1,)$%
0,21$
0,!%) 30,!)%4
0,11 C 1,%51
0,21
5
<0
H 1,21%
p H 0,112
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
%62,6 3220,64
$0$,$ C 1151,%
516,)
)$1,! 32$),54
116,$ C 11)1
)1$,)
5
<0
H 1,60)
p H 0,021
*( ASD
G 3SD4
*entang
<edian
0,$)1 30,1024
0,!! C 0,)$
0,$%
0,$6% 30,05)4
0,$1 C 0,56
0,$1
5
<0
H 1,1$%
p H 0,12%
>eteranganA 5
<0
H uji <ann0hitney
7abel $.! memperlihatkan setelah pemberian "itamin : dan plasebo kadar
;:A<1 menunjukkan perbedaan yang bermakna. >adar ;:A<1 pada
kelompok yang diberikan plasebo lebih tinggi dibandingkan dengan yang
diberikan "itamin :. Setelah pemberian "itamin : tampak terjadi peningkatan
kadar S.D dan (=$, sedangkan kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD tampak
menurun.
Ta*el "." Per*and!ngan *er*aga! 8ar!a*el )ada kel+m)+k setelah )em*er!an
8!tam!n 1 /ang terad! a*+rtus dan t!dak terad! a*+rtus
6ar!a*el A*+rtus #emaknaan
Aa
0n = :2
T!dak
0n = 212
120
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
%55,1 31%!,%4
$%0 C 61!
%56
1.201,6 3251,54
%21 C 1%6)
12$$
t H 5,60
p H < 0,001
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
1$,2$2 3$,$564
1,!6 C 2!,11
15,11
2,16$ 32,$)54
0,!6 C 11,16
2,1$
5
<0
H !,615
p H < 0,001
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,116 30,0154
0,110 C 0,15$
0,110
0,%1! 30,5164
0,22 C 1,)$%
0,$5$
5
<0
H $,21)
p H < 0,001
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
6%%,% 316,%4
1!2,% C 1151,%
6)%,$
5)%,% 31!6,$4
$0$,$ C 6)0
5$!,2
5
<0
H $,051
p H < 0,001
*( ASD
G 3SD4
*entang
<edian
0,%1 30,114Q
0,$5 C 0,12
0,%%
0,$6 30,104
0,!! C 0,)$
0,51
t H ),5!
p H < 0,001
>eteranganA 5
<0
H uji <ann0hitney
t H uji t
Q H *( ASD sebelum perlakuan
7abel $.$ memperlihatkan perbandingan berbagai "ariabel kadar S.D, (=$, (89
, ;:A<1 dan *( ASD pada kelompok setelah pemberian "itamin : yang terjadi
abortus dan tidak terjadi abortus menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna.
Ta*el ".3 Per*and!ngan *er*aga! 8ar!a*el )ada kel+m)+k setelah )em*er!an
)lase*+ /ang terad! a*+rtus dan t!dak terad! a*+rtus
6ar!a*el A*+rtus #emaknaan
Aa
0n = 132
T!dak
0n = 152
121
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
12$,5 310%,)4
561 C 662
1!5
1.215,1 32$$,04
1001 C 11)5
12%%
t H %,!$
p H < 0,001
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
11,16 35,$64
!,11 C 21,$
6,$!
!,6$ 3$,%54
0,!6 C 1$,1!
2,!6
5
<0
H !,5!6
p H < 0,001
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,125 30,02)4
0,110 C 0,20!
0,112
0,552 30,$1$4
0,16 C 1,%51
0,$2%
5
<0
H $,%02
p H < 0,001
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
1.0!1,0 3102,04
62$,$ C 11)1
662,%
%20,! 31%$,64
116,$ C 622,1
%!$,1
5
<0
H $,%25
p H < 0,001
*( ASD
G 3SD4
*entang
<edian
0,)$ 30,0)4Q
0,%2 C 0,1$
0,%6
0,$6 30,0%4
0,$1 C 0,%6
0,51
t H ),5%
p H < 0,001
>eteranganA 5
<0
H uji <ann0hitney
t H uji t
Q H *( ASD sebelum perlakuan
7abel $.5 memperlihatkan perbandingan pada berbagai "ariabel kadar S.D, (=$,
(89 , ;:A<1, dan *( ASD pada kelompok setelah pemberian plasebo yang
terjadi abortus dan tidak terjadi abortus menunjukkan perbedaan yang sangat
bermakna.
Ta*el ".4 Per*and!ngan *er*aga! 8ar!a*el )ada kedua kel+m)+k setelah
)em*er!an 8!tam!n 1 dan )lase*+ /ang terad! a*+rtus dan t!dak
terad! a*+rtus
122
6ar!a*el 6!tam!n 1 Plase*+ #emaknaan
A*+rtus
n
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
6
%55,1 31%!,%4
$%0 C 61!
%56
1!
12$,5 310%,)4
561 C 662
1!5
t H 2,6$
p H 0,001
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
1$,2$ 3$,$54
1,!6 C 2!,11
15,11
11,16 35,$64
!,11 C 21,$
6,$!
t H 1,!0
p H 0,210
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,116 30,0154
0,110 C 0,15$
0,110
0,125 30,02)4
0,110 C 0,20!
0,112
5 <0 H 0,%)
p H 0,510
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
6%%,% 316,%4
1!2,% C 1151,%
6)%,$
1.0!1,0 3102,04
62$,$ C 11)1
662,%
t H 1,%$
p H 0,11%
T!dak a*+rtus
n
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
21
1.201,6 3251,54
%21 C 1%6)
12$$
1)
1.215,1 32$$,04
1001 C 11)5
12%%
t H 0,6!
p H 0,!%0
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
2,16 32,$)4
0,!6 C 11,16
2,1$
!,6$ 3$,%54
0,!6 C 1$,1!
2,!6
5 <0 H 0,$)0
p H 0,%!%
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,%1! 30,5164
0,22 C 1,)$%
0,$5$
0,552 30,$1$4
0,16 C 1,%51
0,$2%
5 <0 H 0,)6!
p H 0,$21
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
5)%,% 31!6,$4
$0$,$ C 6)0
5$!,2
%20,! 31%$,64
116,$ C 622,1
%!$,1
5 <0 H 1,!65
p H 0,1%!
*( ASD
G 3SD4
*entang
<edian
0,$6 30,104
0,!! C 0,)$
0,51
0,$6 30,0%4
0,$1 C 0,%6
0,51
t H 0,!$
p H 0,)$%
>eteranganA 5
<0
H uji <ann0hitney, t H uji t
7abel $.% memperlihatkan perbandingan pada berbagai "ariabel kedua kelompok
pada yang terjadi abortus dan tidak terjadi abortus. 7ampak perbedaan yang
bermakna kadar S.D pada kelompok yang terjadi abortus setelah pemberian
"itamin : dibandingkan dengan setelah pemberian plasebo.
Ta*el ".5 #+relas! dar! *er*aga! 8ar!a*el *erdasarkan t!t!k )+t+ng kead!an
a*+rtus )ada kedua kel+m)+k 0n = 4;2
12!
6ar!a*el T!t!k
)+t+ng
A*+rtus N!la!
)
%ens
0B2
%)es
0B2
Akuras!
0B2 Aa Tdk
S.D 3+@g,b4
662
22

$
!$
< 0,001
100 16,5 6!,!
(89 3pg@m=4 !,51 22

)
!1
< 0,001 100 11,% 11,!
(=$ 3pg@m=4
0,20!
22

1
!)
< 0,001
100 6),$ 61,!
;(:A<1 3ng@m=4
)11,%
22

$
!$
< 0,001
100 16,5 6!,!
*( ASD 0,55 22

!!
5
0,002 100 1!,2 $5,0
>eteranganA titik potong 3cut off point4 diperoleh dari kur"a *.: 37eceiver
operating characteristic4
7abel $.) menyajikan titik potong berbagai "ariabel yang diukur yang dapat
memprediksi terjadinya abortus berdasarkan kur"a *.:. 7itik potong kadar S.D,
(89 , (=$ dan ;(:A<1 menunjukkan sensiti"itas, spesifisitas dan akurasi
cukup tinggi, sedangkan *( ASD sensiti"itas tinggi tetapi spesifisitasnya rendah.
Ta*el ".9 Persentase )eru*ahan dar! *er*aga! 8ar!a*el /ang d!ukur )ada
kedua kel+m)+k setelah )em*er!an 8!tam!n 1 dan )lase*+
12$
6ar!a*el Perlakuan C
M,@
N!la!
) 6!tam!n 1
0n = 3;2 B
Plase*+
0n = 3;2 B
S.D %,1 $ 0,0$$ 0,$1!
(89
15,) $5,6 1,!6) 0,011
(=$ %0,) 1$,1 2,0%2 0,016
;:A<1 2,2 5,5 1,%15 0,0$%
*( ASD 2),) 22,% Q1,2! 0,11!
>eteranganA 5
<0
H uji <ann0hitney
Q t H uji t
'ersentase H 3sesudah C sebelum4@ sebelum G 100#
'ositif H terjadi peningkatan
9egatif H terjadi penurunan
7abel $.1 memperlihatkan pada kelompok setelah pemberian "itamin : terdapat
perbedaan yang bermakna pada kenaikan persentase perubahan kadar (=$ dan
penurunan persentase kadar ;:A<1.
Ta*el ".: #+relas! )eru*ahan %(D dengan )eru*ahan I.N dan IL," )ada
kedua kel+m)+k setelah )em*er!an 8!tam!n 1 dan )lase*+
#+relas!
6!tam!n 1
0n = 3;2
Plase*+
0n = 3;2
r
s
N!la!
)
r
s
N!la!
)
'erubahan S.D dengan (98
0,52! 0,00! 0,$1) 0,00%
'erubahan S.D dengan (=$ 0,56) < 0,001 0,!)) 0,0$0
>eteranganA
r
s
H >oefisien korelasi 7an& Spearman
'ersamaan regresi # perubahan (98 H $5,!2 C 2,%1 G # perubahan S.D
'ersamaan regresi # perubahan (=$ H !!,15 I 0,15 G # perubahan S.D
7abel $.6 memperlihatkan perubahan S.D dengan (89 pada kedua kelompok
perlakuan menunjukkan korelasi negatif, sedangkan untuk perubahan S.D dengan
(=$ menunjukkan korelasi positif.
125
Perubahan SOD (%)
60 40 20 0 -20 -40 -60
P
e
r
u
b
a
h
a
n

I
N
F
-
G
a
m
m
a

(
%
)
1200
1000
800
600
400
200
0
-200
a. "itamin : b. plasebo
'am*ar ".1 #+relas! antara )eru*ahan %(D dan )eru*ahan I.N )ada
kedua kel+m)+k setelah )em*er!an 8!tam!n 1 dan )lase*+
/ambar $.1 memperlihatkan perubahan S.D dengan perubahan (98
menunjukkan korelasi negatif dan menunjukkan perbedaan yang bermakna.
'am*ar ".2 #+relas! antara )eru*ahan %(D dan )eru*ahan IL," )ada
kedua kel+m)+k setelah )em*er!an 8!tam!n 1 dan )lase*+
/ambar $.2 memperlihatkan perubahan S.D dengan (=$ menunjukkan korelasi
positif dan menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna.
12%
Perubahan SOD (%)
100 80 60 40 20 0 -20 -40 -60
P
e
r
u
b
a
h
a
n

I
L
-
4

(
%
)
300
200
100
0
-100
-200
a. "itamin :
b. plasebo
Ta*el ".1; #+relas! )eru*ahan %(D dengan )eru*ahan 61AM,1 dan RI
A%D )ada kedua kel+m)+k setelah )em*er!an 8!tam!n 1 dan
)lase*+
#+relas! 6!tam!n 1
0n = 3;2
Plase*+
0n = 3;2
r
s
N!la!
)
r
s
N!la!
)
'erubahan S.D dengan ;:A<1 0,)!)
< 0,001
0,50! 0,005
'erubahan S.D dengan *( ASD 0,201 0,022 0,!10 0,1)1
>eteranganA
r
s
H >oefisien korelasi 7an& Spearman
'ersamaan regresi # perubahan ;:A<1 H $,22 C 0,$1 G # perubahan S.D
7abel $.10 memperlihatkan perubahan S.D dengan ;:A<1 dan *( ASD pada
kelompok "itamin : menunjukkan korelasi negatif dan menunjukkan perbedaan
yang bermakna.
'am*ar ".3 #+relas! antara )eru*ahan %(D dan )eru*ahan 61AM,1 )ada
kedua kel+m)+k setelah )em*er!an 8!tam!n 1 dan )lase*+
/ambar $.! mempelihatkan perubahan S.D dengan ;:A<1 menunjukkan
korelasi negatif dan perbedaan yang sangat bermakna.
12)
Perubahan SOD (%)
60 40 20 0 -20 -40 -60
P
e
r
u
b
a
h
a
n

V
I
C

!

(
%
)
60
40
20
0
-20
-40
-60
Perubahan SOD (%)
100 80 60 40 20 0 -20 -40 -60
P
e
r
u
b
a
h
a
n

V
I
C

!

(
%
)
80
60
40
20
0
-20
-40
-60
b. plasebo a. "itamin :
'am*ar "." #+relas! antara )eru*ahan %(D dan )eru*ahan RI A%D )ada
kedua kel+m)+k setelah )em*er!an 8!tam!n 1 dan )lase*+
/ambar $.$ mempelihatkan perubahan S.D dengan *( ASD menunjukkan
korelasi negatif, pada kelompok "itamin : menunjukkan perbedaan yang
bermakna.
121
a. "itamin : b. plasebo
Perubahan SOD (%)
100 80 60 40 20 0 -20 -40 -60
P
e
r
u
b
a
h
a
n

S
D

(
%
)
"0
40
30
20
10
0
-10
Perubahan SOD (%)
60 "0 40 30 20 10 0 -10
P
e
r
u
b
a
h
a
n

S
D

(
%
)
40
30
20
10
0
-10
Ta*el ".11 Per*and!ngan *er*aga! 8ar!a*el antara se*elum dan sesudah
)em*er!an 8!tam!n 1 )ada kel+m)+k /ang terad! a*+rtus dan
/ang t!dak a*+rtus
6ar!a*el Pem*er!an 8!tam!n 1 #emaknaan
%e*elum %esudah
A*+rtus 3n H 64
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
600,6 31$%,14
%$61102
6%$,0
%55,1 31%!,%4
$%061!
%56
t
paired
H !,6!
p H 0,00$
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
),$6 3$,$54
1,151!,6%
),16
1$,2$ 3$,$54
1,!62!,11
15,11
t
paired
H $,)%
p H 0,001
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,161 30,0!14
0,1210,2$14
0,21
0,116 30,0154
0,110,15$
0,11
5
0
H 2,%%%
p H 0,001
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
)!5,5 31!%,!4
$)),116!,$
)51,%
6%%,% 316,%4
1!2,%1151,%
6)%,$
t
paired
H %,1!
p H < 0,001
T!dak a*+rtus 3n H
214
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
1.0$% 31)),54
%%61!%1
101)
1.201,6 3251,54
%211%6)
12$$
t
paired
H 1,6)
p H 0,01!
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
),11 35,!54
1,2%22
5,56
2,16 32,$)4
0,!611,16
2,1$
5
0
H $,01)
p H < 0,001
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,!1! 30,!!04
0,111,25
0,2$2
0,%1! 30,5164
0,221,)$%
0,$5$
5
0
H $,01$
p H < 0,001
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
)!1,1 320%,24
!5$,21165,2
%11,2
5)%,% 31!6,$4
$0$,$6)0
5$!,2
t
paired
H !,56)
p H < 0,001
*( ASD
G 3SD4
*entang
<edian
0,%% 30,114
0,$5 C 0,12
0,%5
0,$6 30,104
0,!! C 0,)$
0,51
t
paired
H 1,20
p H < 0,001
>eteranganA 5
0
H +ji 0ilcoGon
t
paired
H +ji t berpasangan
126
7abel $.11 memperlihatkan sebelum dan sesudah pemberian "itamin :. 'ada
kelompok yang terjadi abortus tampak penurunan kadar S.D dan (=$ serta
peningkatan kadar (89 dan ;:A<1 yang menunjukkan perbedaan yang
bermakna, sedangkan pada mereka kelompok yang tidak terjadi abortus terdapat
peningkatan kadar S.D dan (=$ serta penurunan kadar (89 , ;:A<1, dan *(
ASD yang menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna.
1!0
Ta*el ".12 Per*and!ngan *er*aga! 8ar!a*el antara se*elum dan sesudah
)em*er!an )lase*+ )ada kel+m)+k /ang terad! a*+rtus dan /ang
t!dak a*+rtus
6ar!a*el Pem*er!an )lase*+ #emaknaan
%e*elum %esudah
A*+rtus 3n H 1!4
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
6)$,6 316,14
)%$110)
6)0
12$,5 310%,)4
561662
1!5
t
paired
H $,15
p H 0,001
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
%,%6 35,2%4
0,%120,10
5,!6
11,16 35,$64
!,1121,$
6,$!
5
0
H !,110
p H 0,002
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,225 30,0264
0,1110,211
0,222
0,125 30,02)4
0,110,20!
0,112
5
0
H !,110
p H 0,002
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
121,1 36%,14
%%5,1662,1
121,1
1.0!1,0 3102,04
62$,$11)1
662,%
5
0
H !,110
p H 0,002
T!dak a*+rtus 3n H
1)4
S.D 3+@g,b4
G 3SD4
*entang
<edian
1.10%,$ 32$$,!4
)!2 C 1%21
10)6
1.215,1 32$$,04
1001 C 11)5
12%%
t
paired
H 0,)6
p H 0,$!6
(89 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
!,!! 3),%64
2,2! C 2!
!,!6
!,6$ 3$,%54
0,!6 C 1$,1!
2,!6
5
0
H 0,11!
p H 0,610
(=$ 3pg@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
0,$)% 30,$1$4
0,110 C 1,522
0,$51
0,552 30,$1$4
0,16 C 1,%51
0,$2%
5
0
H 0,1!!
p H 0,$05
;:A<1 3ng@m=4
G 3SD4
*entang
<edian
%16,0 316$,)4
!$1,% C 1121,$
%1)
%20,! 31%$,64
116,$ C 622,1
%!$,1
5
0
H 1,!11
p H 0,1%5
*( ASD
G 3SD4
*entang
<edian
0,5) 30,0)4
0,$! C 0,)%
0,%2
0,$6 30,0%4
0,$1 C 0,%6
0,51
t
paired
H 2,$0
p H 0,112
>eteranganA 5
0
H +ji 0ilcoGon
t
paired
H +ji t berpasangan
1!1
7abel $.12 memperlihatkan sebelum dan sesudah pemberian plasebo pada
kelompok yang terjadi abortus terjadi penurunan kadar S.D dan (=$ dan
peningkatan kadar (89 dan ;:A<1 yang menunjukkan perbedaan yang
bermakna, sedangkan pada kelompok yang tidak terjadi abortus tampak bah&a
kadar S.D, (89 , (=$, ;:A<1, dan *( ASD tidak menunjukkan perbedaan
yang bermakna 3p > 0,054.
".2 Pem*ahasan
'emilihan pasien yang akan diikutkan kedalam penelitian ini didasarkan
pada pertimbanganA untuk mendapatkan pasien abortus iminens sebanyak
mungkin, sambil menyingkirkan faktorfaktor perancu seperti aneuploidi kelainan
kongenital pada janin, kelainan uterus, indeks massa tubuh ibu, penyakit infeksi,
penyakit kronik pada ibu misalnya penyakit ginjal, jantung, hipertensi, diabetes
melitus, hipotiroid, ulkus peptikum, perokok, minum alkohol, dan mempunyai
pekerjaan yang berat. <eskipun demikian, faktor perancu lainnya yang tidak
dapat disingkirkan seperti yang di atas dilakukan cara pemilihan sampel
menggunakan stratified random sampling. 8aktorfaktor tersebut antara lain
adalah usia ibu serta paritas dan usia kehamilan pada saat dilakukan penelitian.
>etiga faktor ini tersebut dianggap faktorfaktor yang paling besar
kemungkinannya menjadi perancu pada penelitian ini.
Selain usia, paritas, dan usia kehamilan masih banyak lagi faktorfaktor
yang dapat mempengaruhi "aliditas penelitian ini seperti suku bangsa, golongan
darah, faktor lingkungan, dan sosioekonomi. Akan tetapi, mengingat akan
1!2
persyaratan minimal untuk memperoleh "aliditas internal dan eksternal yang
memadai agar dapat memenuhi populasi sasaran dan populasi terjangkau yang
diinginkan, maka hanya faktorfaktor tersebut di atas yang dipilih untuk
disingkirkan dengan cara randomisasi. 'emilihan kandidat kedalam kelompok
perlakuan dan kontrol dilakukan dengan cara randomisasi blok permutasi,
diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama pada semua kandidat yang
memiliki berbagai "ariasi faktor perancu untuk tersebar merata kedalam kedua
kelompok tersebut. <eskipun pada penelitian ini sudah dilakukan upaya untuk
menyingkirkan faktorfaktor perancu dengan cara randomisasi, kriteria inklusi,
dan eksklusi tetapi tidak seluruhnya sempurna, seperti pemeriksaan penyakit
kronik pada ibu misalnya penyakit ginjal, jantung, hipertensi, diabetes melitus,
hipotiroid, ulkus peptikum oleh karena faktor biaya, &aktu, dan faktor lainnya
tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium, pada penelitian ini hanya berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan klinis.
7abel $.1 menyajikan karakteristik subjek penelitian meliputi usia ibu,
paritas, dan usia kehamilan pada saat penelitian. 'ada kedua kelompok baik dari
segi usia ibu, usia kehamilan maupun paritas, tidak ditemukan perbedaan yang
bermakna, sehingga hasil pemeriksaan selanjutnya layak untuk diperbandingkan.
'ada penelitian ini dibatasi usia ibu hamil kurang dari !0 tahun, hal ini karena pada
ibu hamil yang usianya kurang dari !0 tahun angka kejadian kelainan kromosom
dalam kepustakaan didapatkan kurang dari 20!0#, sedangkan makin
bertambahnya usia ibu hamil maka angka kejadian kelainan kromosom juga akan
meningkat.
$,25,!1
+sia kehamilan pada penelitian ini 1012 minggu dengan janin
1!!
hidup dan tidak tampak kelainan kongenital dengan pemeriksaan +S/, hal ini
dilakukan karena pada usia kehamilan di atas 10 minggu angka kejadian kelainan
kromosom sekitar 1020#.
$,25,!1

7abel $.2 memperlihatkan data dasar pada kelompok yang diberikan
"itamin : dan plasebo dan ternyata pada kedua kelompok tidak ditemukan
perbedaan yang bermakna. ,al ini memperlihatkan bah&a hasil pemeriksaan a&al
tidak didapatkan perbedaan kadar S.D, (89 , (=$, ;:A<1, dan *( ASD pada
kelompok yang diberikan "itamin : dan plasebo. 7abel $.! memperlihatkan
setelah pemberian "itamin : dan plasebo pada kedua kelompok kadar ;:A<1
menunjukkan perbedaan yang bermakna. 7erlihat bah&a kadar ;:A<1 pada
kelompok yang diberikan plasebo )$1,! 32$),54 ng@m= lebih tinggi dibandingkan
dengan yang diberikan "itamin : %62,6 3220,64 ng@m=, hal ini memperlihatkan
bah&a telah terjadi perubahan molekuler yaitu kerusakan endotel yang lebih
tinggi pada kelompok plasebo, artinya "itamin : berperan dalam mencegah
terjadinya kerusakan endotel dan terbukti pada kelompok yang diberikan "itamin
: kadar ;:A<1 tampaknya lebih rendah dibandingkan dengan kelompok
plasebo. ,al ini membuktikan bah&a pada abortus iminens terjadi kerusakan
endotel. 'ada pemeriksaan *( ASD tampak bah&a secara statistik pada kedua
kelompok perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna, tetapi jika
dilihat secara molekuler terjadi peningkatan kadar S.D dan (=$, sedangkan
kadar (89 dan ;:A<1 menurun, hal ini berarti bah&a peristi&a molekuler
sudah berlangsung terlebih dahulu sedangkan secara klinis belum tampak dan hal
ini terbukti pada pemeriksaan secara klinis *( ASD dengan +S/. Dalam beberapa
1!$
penelitian penyebab abortus hampir sama dengan penyebab preeklamsi, yaitu
terjadi kegagalan perubahan arteri spiralis akibat in"asi sitotrofoblas.
62,1$$
Seperti pada preeklamsi, pada abortus terjadi gangguan regulasi ;:A< dalam
sinsitiotrofoblas.
$,25,!1
>erusakan endotel ini berpengaruh terhadap produksi
berlebihan reactive oxygen 3*.S4.
)%,61,62
-ila keseimbangan antara *.S dan
mekanisme perlindungan bergeser ke arah prooksidan, kemudian timbul *.S
berlebihan, maka akan timbul kerusakan. >erusakan akibat radikal bebas 3stres
oksidatif4 dan peroksidasi lipid terlibat dalam patofisiologi berbagai keadaan
klinis dan pengaruh stres oksidatif terlibat dalam kehamilan dan diketahui sebagai
penyebab abortus.
6!,6$,1$5

7abel $.$ dan $.5 memperlihatkan perbandingan berbagai "ariabel 3S.D,
(89 , (=$, ;:A<1, *( ASD4 pada kedua kelompok setelah pemberian "itamin
: dan plasebo yang terjadi abortus dan tidak terjadi abortus menunjukkan
perbedaan yang sangat bermakna. 'ada perubahan molekuler tampak bah&a pada
kelompok yang terjadi abortus kadar S.D dan (=$ lebih rendah dibandingkan
dengan yang tidak terjadi abortus, baik pada kelompok "itamin : maupun plasebo.
,al ini menunjukkan bah&a pada kelompok yang terjadi abortus terjadi stres
oksidatif yang ditandai oleh adanya penurunan kadar S.D dan penurunan imunitas
yang ditandai dengan penurunan kadar (=$ dan peningkatan kadar (89 . Selain
itu terjadi juga kerusakan endotel yang ditandai dengan adanya peningkatan kadar
;:A<1 dan selanjutnya pada pemeriksaan klinis terjadi peningkatan *( ASD
yang diukur dengan pemeriksaan +S/. 7abel tersebut menunjukkan terdapat
korelasi negatif antara perubahan kadar S.D dan (89 serta korelasi positif
1!5
dengan (=$ pada abortus iminens dan juga menunjukkan terdapat korelasi negatif
antara perubahan kadar S.D dan ;:A<1 serta *( ASD pada abortus iminens.
'ada kelompok yang diberikan plasebo terjadi perubahan "ariabel yang sama
dengan kelompok "itamin :, hal ini terjadi karena pada kelompok plasebo juga
dilakukan tirah baring. -eberapa penelitian menyatakan bah&a tirah baring
menyebabkan jalur 7h2 meningkat dan memperbaiki stres oksidatif. 'ada &anita
yang mengalami abortus pada trimester pertama terjadi stres oksidatif dan
mempunyai kadar S.D yang menurun secara bermakna.
2,1,15
'enurunan kadar
S.D ini akibat loncatan elektron rantai respirasi mitokondria, suatu sampah ion
.
2

, dapat mengakibatkan peningkatan produksi *.S.


%%,%1
'erubahan ini
didapatkan pada sirkulasi perifer dan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi
di dalam uterus.
1$,%2,)0
7rimester pertama kehamilan yang berlanjut, berhubungan
dengan peningkatan akti"itas antioksidan seperti ditunjukkan pada peningkatan
kadar S.D dan hal ini dapat memberikan perlindungan terhadap serangan
antioksidan. 'enurunan kadar S.D pada &anita yang mengalami abortus pada
kehamilan kedua, menunjukkan bah&a abortus dicetuskan oleh peristi&a khusus
dan tidak dipengaruhi oleh kehamilan sebelumnya.
1$,!1,%)
'erubahan ini
menunjukkan bah&a kehamilan dini berhubungan dengan peningkatan stres
oksidatif tetapi kerusakan dapat dihindari karena adanya sistem antioksidan. 'ada
penderita yang mengalami abortus, penurunan kadar sampah ion .
2

S.D dapat
meningkatkan produksi *.S.
1%,$6,%6
(=$ yang rendah berhubungan dengan
pemeliharaan kehamilan. 'emeliharaan kehamilan berhubungan dengan adanya
sitokin 7h2, dengan (=$ sebagai faktor yang predominan dalam polarisasi 7h2.
1!%
(=$ juga membantu perkembangan sel 7h0 menjadi 7h2 dan kemudian
menggeser keseimbangan menjauhi respons sitotoksik. Sel desidua yang diambil
dari &anita yang mengalami abortus ditemukan menghasilkan lebih sedikit (=$,
(=10, dan =(8 dibanding &anita yang hamil normal.
2,22,)$
'ada kelompok yang
terjadi abortus juga tampak kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD lebih tinggi
dibandingkan yang tidak terjadi abortus. (89 berhubungan dengan abortus dan
adanya sitokin 7h1 yang mengembangkan diferensiasi sel 7 nave menuju sel 7h1
yang bersifat embriotoksik.
2,20,!1
'ada kehamilan yang berlangsung terus akan
terlihat peningkatan kadar S.D dan akan terjadi perbaikan fungsi sel endotel yang
menyebabkan penurunan kadar ;:A<1.
2$,25,61,1$2
'ada a&al kehamilan *( ASD
biasanya lebih rendah dari 0,% dan penurunan *( ASD akan berlanjut dengan
bertambahnya usia kehamilan.
!,16,21,26
'ada kejadian abortus terjadi perubahan
"askular yang ditandai dengan adanya peningkatan *( ASD.
!,16,2),52

7abel $.% memperlihatkan perbandingan kedua kelompok pada yang
terjadi abortus dan tidak terjadi abortus. Setelah pemberian "itamin : dan
plasebo, tampak perbedaan kadar S.D yang bermakna pada kelompok yang
terjadi abortus. >adar S.D pada kelompok setelah pemberian "itamin : %55,1
31%!,%4 +@g,b, sedangkan pada plasebo 12$,5 310%,)4 +@g,b terlihat perbedaan
yang bermakna 3pH0,0014. ,al ini membuktikan bah&a kadar S.D sangat
berperan pada kejadian abortus dan jika dilihat pada 7abel $.) nilai titik potong
S.D untuk memprediksi terjadinya abortus adalah 662 +@g,b, maka terlihat
jelas bah&a nilai S.D yang berada di ba&ah titik potong akan terjadi abortus. ,al
ini membuktikan bah&a untuk diagnosis dini abortus iminens dapat digunakan
1!)
pemeriksaan kadar S.D untuk meramalkan terjadinya abortus. S.D adalah en2im
antioksidan di dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai katalis radikal
superoksid menjadi ,
2
.
2
dan .
2
,
. Fenkins dkk.
%2
meneliti peranan antioksidan
pada &anita hamil sehat dan yang mengalami abortus pada trimester pertama.
,asilnya menunjukkan bah&a jika contoh darah diambil pada saat kehamilan dan
kehamilan tersebut berhasil, berhubungan dengan peningkatan kadar
seruloplasmin dan S.D pada a&al trimester pertama. 'erubahan ini menyebabkan
adanya perlindungan sel dari kerusakan yang disebabkan karena meningkatnya
stres oksidatif yang berhubungan dengan kehamilan. 0anita yang mengalami
abortus pada trimester pertama mempunyai kadar S.D yang menurun secara
bermakna. 'enurunan kadar S.D ini akibat loncatan elektron rantai respirasi
mitokondria, suatu sampah ion .
2

, dapat mengakibatkan peningkatan produksi


*.S. 'erubahan ini didapatkan pada sirkulasi perifer dan dapat mencerminkan
perubahan yang terjadi di dalam uterus.
%2,)0
7rimester pertama kehamilan yang
berlanjut, berhubungan dengan peningkatan akti"itas antioksidan seperti
ditunjukkan pada peningkatan kadar seruloplasmin dan S.D, hal ini dapat
memberikan perlindungan terhadap serangan antioksidan. 'enurunan kadar S.D
pada &anita yang mengalami abortus, menunjukkan bah&a abortus dicetuskan
oleh peristi&a khusus. 'erubahan ini menunjukkan bah&a kehamilan dini
berhubungan dengan peningkatan stres oksidatif tetapi kerusakan dapat dihindari
karena adanya sistem antioksidan. 'ada penderita yang mengalami abortus,
penurunan kadar sampah ion .
2

S.D dapat meningkatkan produksi *.S.


1%,$6
1!1
7abel $.) memperlihatkan titik potong dari berbagai "ariabel yang diukur
yang dapat memprediksi terjadinya abortus. +ntuk titik potong kadar S.D, (89 ,
(=$ dan ;(:A<1 3pemeriksaan kimia&i4 mempunyai sensiti"itas, spesifisitas
dan akurasi cukup tinggi, sedangkan untuk titik potong *( ASD menunjukkan
sensiti"itas tinggi tetapi spesifisitas rendah dengan akurasi $5#. 'ada penelitian
ini didapatkan nilai titik potong untuk terjadinya abortus adalahA kadar S.D 662
+@g,b, (89 > !,51 pg@m=, (=$ 0,20! pg@m=, dan ;(:A<1 > )11,% ng@m=
dengan sensiti"itas, spesifisitas, dan akurasi cukup tinggi. -eberapa peneliti juga
menyatakan bah&a pemeriksaan biokimia&i mempunyai sensiti"itas, spesifisitas
dan akurasi cukup tinggi.
!,16,2),52
'ada pemeriksaan kimia&i meskipun sensiti"itas,
spesifisitas, dan akurasi cukup tinggi tetapi dari segi biaya jauh lebih mahal
dibandingkan dengan pemeriksaan bukan kimia&i, sehingga untuk diagnosis
abortus iminens dan meramalkan terjadinya abortus dapat juga digunakan
pemeriksaan klinis *( ASD dengan ultrasound dan dari segi biaya jauh lebih
murah meskipun spesifisitasnya rendah dengan nilai titik potong 0,55. 'ada
penelitian ini didapatkan nilai titik potong yang lebih rendah dibandingkan dengan
penelitian sebelumnya yang didapatkan nilai titik potong untuk *( ASD
0,%.
!,16,2),52
7abel $.1 memperlihatkan pada kelompok setelah pemberian "itamin :
terdapat kenaikan persentase perubahan kadar (=$ sebesar %0,)# dan penurunan
persentase kadar ;:A<1 sebesar 2,2# yang secara statistik menunjukkan
perbedaan yang bermakna. ,al ini membuktikan bah&a pemberian antioksidan
"itamin : berperan pada peningkatan sistem imunitas, terbukti dengan adanya
1!6
peningkatan kadar (=$. 7ampaknya "itamin : berperan dalam menekan stres
oksidatif yaitu dengan meningkatnya kadar S.D dan imunologis dengan
meningkatnya kadar (=$. ,al ini berhubungan dengan peran "itamin : yang
merupakan antioksidan larut dalam air yang mempunyai fungsi yang signifikan
terutama dalam membran sel dan memperbaiki sistem "askular.
15,!$,100,11%,121
;itamin : juga memelihara respons imun humoral dan selular secara in vivo dan
in vitro.
100,101,10!,10%,101
'erubahan imunitas ini juga berpengaruh pada perbaikan
kerusakan endotel dan terbukti dengan adanya penurunan kadar ;:A<1.
Antioksidan "itamin : juga melindungi terhadap produksi berlebihan reactive
oxygen 3*.S4.
62,1!1
-ila keseimbangan antara *.S dan mekanisme perlindungan
bergeser ke arah prooksidan, kemudian timbul *.S berlebihan, maka akan timbul
kerusakan. >erusakan akibat radikal bebas 3stres oksidatif4 dan peroksidasi lipid
terlibat dalam patofisiologi berbagai keadaan klinis.
6!,6$
0anita yang mengalami
abortus mempunyai kadar total thiol, seruloplasmin, asam askorbat, -tocopherol,
dan erythrocyte glutathion yang lebih rendah secara bermakna dibandingkan
kelompok kontrol, hal ini mendukung adanya peningkatan lipid peroksidasi.
20,1!1
,asil ini juga menunjukkan bah&a pada &anita yang mengalami abortus terdapat
ketidakseimbangan status redoks dengan akti"itas prooksidatif dan peningkatan
stres oksidatif mungkin merupakan salah satu penyebab abortus.
2,%
>ehamilan
juga berhubungan dengan beberapa tingkat stres oksidatif. 'ada kehamilan yang
berlanjut, perubahan kadar antioksidan terjadi untuk melindungi kehamilan
terhadap peningkatan stres oksidatif.
2,$,!1
1$0
7abel $.6 dan $.10 memperlihatkan perubahan kadar S.D yang
menunjukkan korelasi negatif dengan kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD pada
kedua kelompok setelah pemberian "itamin : dan plasebo, sedangkan dengan (=$
menunjukkan korelasi positif, hal ini terlihat juga pada /ambar $.1, $.2, $.!, dan
$.$. Stres oksidatif yang ditandai dengan adanya penurunan kadar S.D pada
abortus iminens menyebabkan menurunnya sitem imunitas yang ditandai dengan
adanya perubahan kadar (89 yang meningkat dan kadar (=$ yang menurun.
'enurunan kadar S.D juga menyebabkan terjadinya kerusakan endotel yang
ditandai dengan adanya perubahan molekuler kadar ;:A<1 yang meningkat dan
secara klinis terdapat *( ASD yang meningkat. ,al ini membuktikan bah&a pada
abortus iminens terjadi peningkatan stres oksidatif. 'eningkatan stres oksidatif
mengakibatkan peningkatan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan dan
peroksidasi lipid yang terlibat dalam patofisiologi berbagai keadaan klinis.
7erjadinya penurunan kadar S.D ini menyebabkan kerusakan endotel. 'ada jalur
imunologi 7h1 dan 7h2 terjadi perubahan pada 7h1 yaitu (89 yang bersifat
embriotoksik meningkat, sedangkan jalur 7h2 yaitu (=$ akan menurun. ;i"es
dkk
2!
meneliti ekspresi sitokin pada jaringan desidua dan trofoblas hasilnya
menemukan peningkatan yang bermakna kadar (89 pada jaringan desidua
&anita yang mengalami abortus. 'enemuan ini menunjukkan adanya
keseimbangan antara sitokin 7h1 dan 7h2 selama kehamilan yang diperlihatkan
dengan keseimbangan kadar (89 dan (=$ pada hubungan fetal maternal.
$,%2,)0,11
7abel $.11 dan $.12 memperlihatkan keadaan sebelum dan sesudah
pemberian "itamin : dan plasebo pada kelompok yang terjadi abortus dan tidak
1$1
terjadi abortus. 'ada kelompok "itamin : yang terjadi abortus terjadi penurunan
kadar S.D dan (=$ serta peningkatan kadar (89 dan ;:A<1 yang
menunjukkan perbedaan yang bermakna. 'ada kelompok sebelum dan sesudah
pemberian "itamin : pada yang tidak terjadi abortus terjadi peningkatan kadar
S.D dan (=$ serta penurunan kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD yang
menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna. 'ada kelompok sebelum dan
sesudah pemberian plasebo pada kelompok yang abortus, terjadi penurunan kadar
S.D dan (=$ serta peningkatan kadar (89 dan ;:A<1 yang menunjukkan
perbedaan yang bermakna. ,al ini memperlihatkan bah&a pemberian plasebo tidak
dapat menaikkan kadar S.D dan (=$, sehingga kehamilan tidak dapat berlanjut,
sedangkan pada kelompok sebelum dan sesudah pemberian plasebo pada yang
tidak terjadi abortus, tampak bah&a S.D, (89 , (=$, ;:A<1, dan *( ASD
tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. ,al ini membuktikan bah&a
pemberian plasebo tidak berperan pada abortus iminens. 'ada kedua tabel tersebut
terbukti bah&a pada tahap molekuler pemberian "itamin : pada abortus iminens
berperan pada meningkatnya status antioksidan yang ditandai dengan
meningkatnya kadar S.D dan meningkatnya status imunologis dengan
meningkatnya kadar (=$ yang dapat mempertahankan kehamilan dan mencegah
terjadinya abortus. Dengan meningkatnya kadar S.D yang berperan pada
terjadinya penurunan tingkat stres oksidatif maka pemberian "itamin : pada
abortus iminens juga berperan pada penurunan kadar (89 , ;:A<1, dan *(
ASD sehingga dapat mencegah terjadinya abortus. 7erjadinya peningkatan kadar
(=$ membuktikan bah&a "itamin : berperan dalam imunologis yaitu (=$ yang
1$2
merupakan jalur 7h1 yang memelihara kehamilan. Dalam beberapa penelitian juga
terbukti bah&a "itamin : memelihara respons imun humoral dan selular secara in
vivo dan in vitro.
100,101,10!,10%,101
7erjadinya penurunan kadar (89 , ;:A<1, dan
*( ASD juga berhubungan dengan adanya perbaikan yang disebabkan status
antioksidan dan para peneliti menyatakan bah&a "itamin : merupakan
antioksidan yang larut air mempunyai fungsi yang signifikan terutama dalam
membran sel dan memperbaiki sistem "askular.
15,!$,100,11%,121
Sebenarnya proses
imunologis juga terjadi di desidua. Desidua merupakan jaringan maternal yang
berhubungan sangat erat dengan trofoblas fetal dan interaksi imunologis antara
ibu dan janin terjadi dalam jaringan ini. Desidua mengandung jumlah leukosit
yang amat tinggi termasuk makrofag dan limfosit. =imfosit desidua mempunyai
potensi sitotoksik terhadap trofoblas. 'ada abortus iminens terjadi kerusakan
membran sel di lapisan endometrium yang menyebabkan perubahan pada
ASD.
$,!2,52
'ada abortus iminens terjadi peningkatan *( ASD.
!,16,2),52
'erubahan *(
ASD memberikan efek terhadap perkembangan kehamilan.
16,!2,52
Seharusnya pada
kehamilan yang berlanjut akan terjadi penurunan *( ASD sesuai dengan
bertambahnya usia kehamilan,
!,16,21,26
tetapi pada abortus iminens terjadi
peningkatan *( ASD. ,al ini menyebabkan adanya perubahan pada aliran *(
ASD yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya abortus.
!,1),16

'ada uraian di atas terlihat hubungan antara abortus iminens dan berbagai
"ariabel yang mempengaruhinya seperti terlihat pada gambar di ba&ah ini.
1$!
798 plasenta
Aktifasi 9eutrofil
(=%, (=1
'eroksidasi glutation

'eroksidasi lipid
Disfungsi sel endotel
Abortus
SOD
.2
,2.2
Abortus (minens
=oncatan elektron di mitokondria
VCAM
.ksigen radikal bebas 3multi organ4
7h0
7h1
7h2
Sel -
Sel plasma
INF
(=2
Aktifasi <akrofag
Aktifasi Ag
Ab
Aktifasi sitotosik
IL4
*.S
'eroksidasi lipid plasenta
7idak terkontrol akti"itas radikal bebas
Antioksidan
;itamin :
>erusakan membran sel endometrium
+S/
;it : ;it :
RI ASD
'ada gambar di atas tampak bah&a terjadi perubahan molekuler
pada abortus iminens yang ditandai dengan adanya peningkatan stres oksidatif dan
terjadinya penurunan kadar S.D yang berperan terhadap peningkatan kadar (89
dan penurunan kadar (=$. 'enurunan kadar S.D pada abortus iminens berperan
pada peningkatan kadar ;:A<1 dan *( ASD. 7erdapat korelasi negatif antara
perubahan kadar S.D dan (89 serta korelasi positif dengan (=$ pada abortus
iminens. 7erdapat korelasi negatif perubahan kadar S.D dengan ;:A<1 dan *(
ASD pada abortus iminens. 'emberian "itamin : pada abortus iminens berperan
pada peningkatan kadar S.D dan (=$ serta menyebabkan terjadinya penurunan
kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD.
1$$
'am*ar ".3 Hu*ungan *er*aga! 8ar!a*el )ada a*+rtus !m!nens
".3 Pengu!an H!)+tes!s
".3.1 H!)+tes!s 1
7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan kadar (89
dan peningkatan kadar (=$ pada abortus iminens setelah pemberian
"itamin :.
,ipotesis 1.1A 7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan kadar
(89 pada abortus iminens setelah pemberian "itamin :.
3a4 AnalisisA
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.6 dan /ambar $.1 memperlihatkan perubahan S.D dengan (89 pada
kelompok setelah pemberian "itamin : menunjukkan korelasi negatif 30,52!4
dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna 3p H 0,00!4.
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik koefisien
korelasi 7an& Spearman diperoleh r
s
H 0,511 dengan tingkat kemaknaan yaitu
p < 0,001.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis dapat diterima.
,ipotesis 1.2A 7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan peningkatan
kadar (=$ pada abortus iminens setelah pemberian "itamin :.
3a4 AnalisisA
1$5
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.6 dan /ambar $.2 memperlihatkan perubahan kadar S.D dengan (=$ pada
kelompok setelah pemberian "itamin : menunjukkan korelasi positif 30,56)4
dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna 3p < 0,0014.
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik koefisien
korelasi 7an& Spearman diperoleh r
s
H 0,$1) dengan tingkat kemaknaan yaitu
p < 0,001.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis dapat diterima.
".3.2 H!)+tes!s 2
7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan *( ASD dan
kadar ;:A<1 pada abortus iminens setelah pemberian "itamin :.
,ipotesis 2.1A 7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan *(
ASD pada abortus iminens setelah pemberian "itamin :.
3a4 AnalisisA
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.10 dan /ambar $.$ memperlihatkan perubahan peningkatan kadar S.D
dengan penurunan *( ASD pada kelompok setelah pemberian "itamin :
menunjukkan korelasi negatif 30,2014 dan secara statistik menunjukkan
perbedaan yang bermakna 3p H0,0224.
1$%
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik koefisien
korelasi 7an& Spearman diperoleh r
s
H 0,2!0 dengan tingkat kemaknaan yaitu
p H 0,015.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis diterima.
,ipotesis 2.2A 7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan *(
ASD dan kadar ;:A<1 pada abortus iminens setelah pemberian
"itamin :.
3a4 AnalisisA
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.10 dan /ambar $.! memperlihatkan perubahan S.D dengan perubahan
;:A<1 pada kelompok setelah pemberian "itamin : menunjukkan korelasi
negatif 30,)!)4 dan secara statistik menunjukkan perbedaan yang sangat
bermakna 3p < 0,0014.
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik koefisien
korelasi 7an& Spearman diperoleh r
s
H 0,%0% dengan tingkat kemaknaan yaitu
p < 0,001.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis dapat diterima.
1$)
".3.3 H!)+tes!s 3
'ada kasus yang terjadi abortus terdapat penurunan kadar S.D dan (=$
serta peningkatan kadar (89 , ;:A<1 dan *( ASD.
,ipotesis !.1A 'ada kasus yang terjadi abortus terdapat penurunan kadar S.D.
3a4 AnalisisA
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.11 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
pemberian "itamin : pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar S.D
menunjukkan penurunan dari 600,631$%,14 +@g,b menjadi %55,131%!,%4
+@g,b secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna 3p H 0,00$4 dan
7abel $.12 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
pemberian plasebo pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar S.D
menunjukkan penurunan dari 6)$,6316,124 +@g,b menjadi 12$,5310%,)4
+@g,b. 'enurunan kadar S.D ini terlihat juga pada 7abel $.$, $.5, dan $.%.
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik t berpasangan
diperoleh t
paired
H !,6! dengan tingkat kemaknaan p H 0,00$.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis diterima.
,ipotesis !.2A 'ada kasus yang terjadi abortus terdapat penurunan kadar (=$.
3a4 AnalisisA
1$1
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.11 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
pemberian "itamin : pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar (=$
menunjukkan penurunan dari 0,16130,0!14 pg@m= menjadi 0,11630,0154
pg@m= secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna 3p H 0,0014.
7abel $.12 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
pemberian plasebo pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar S.D
menunjukkan penurunan dari 0,22530,0264 pg@m= menjadi 0,12530,02)4
pg@m=. 'enurunan kadar (=$ ini terlihat juga pada 7abel $.$, $.5, dan $.%.
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik 0ilcoGon
diperoleh 5
0
H 2,%%% dengan tingkat kemaknaan p H 0,001.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis dapat diterima.
,ipotesis !.!A 'ada kasus yang terjadi abortus terdapat peningkatan kadar (89 .
3a4 AnalisisA
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.11 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
pemberian "itamin : pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar (89
menunjukkan peningkatan dari ),$6%3$,$564 pg@m= menjadi 1$,2$3$,$564
pg@m= secara statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna 3p H 0,0014.
7abel $.12 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
1$6
pemberian plasebo pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar (89
menunjukkan peningkatan dari %,%6$35,2564 pg@m= menjadi 11,16!35,$6$4
pg@m=. 'eningkatan kadar (89 ini terlihat juga pada 7abel $.$, $.5, dan $.%.
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik t berpasangan
diperoleh t
paired
H $,)% dengan tingkat kemaknaan p H 0,001.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis diterima.
,ipotesis !.$A 'ada kasus yang terjadi abortus terdapat peningkatan kadar
;:A<1.
3a4 AnalisisA
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.11 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
pemberian "itamin : pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar ;:A<1
menunjukkan peningkatan dari )!5,5!31!%,!04 pg@m= menjadi 6%%,%316,514
pg@m= secara statistik menunjukkan perbedaan sangat bermakna 3p < 0,0014.
7abel $.12 yang memperlihatkan perbandingan antara sebelum dan sesudah
pemberian plasebo pada yang terjadi abortus pemeriksaan kadar ;:A<1
menunjukkan peningkatan dari 121,136%,14 pg@m= menjadi 10!1,0361,04
pg@m=. 'eningkatan kadar ;:A<1 terlihat juga pada 7abel $.$, $.5, dan $.%.
3b4 'engujianA
150
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik t berpasangan
diperoleh t
paired
H %,1! dengan tingkat kemaknaan p< 0,001.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis diterima.
,ipotesis !.5A 'ada kasus yang terjadi abortus terdapat peningkatan *( ASD.
3a4 AnalisisA
,al ini dapat dibuktikan melalui analisis statistik yang ditampilkan pada 7abel
$.$ yang memperlihatkan setelah pemberian "itamin : pada yang terjadi
abortus terdapat peningkatan *( ASD yaitu 0,%1 30,114 secara statistik
menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna 3p < 0,0014 dibandingkan
dengan yang tidak terjadi abortus *( ASD 0,$6 30,104.
'eningkatan kadar *( ASD ini terlihat juga pada 7abel $.5 dan $.%.
3b4 'engujianA
'engujian kemaknaan perbedaan ini menggunakan uji statistik t berpasangan
diperoleh t H ),5! dengan tingkat kemaknaan p < 0,001.
3c4 >esimpulanA
-erdasarkan bukti di atas maka hipotesis dapat diterima.
151
BAB 6
%IMPULAN DAN %ARAN
-erdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan, dapat diambil simpulan
dan saran sebagai berikutA
3.1 %!m)ulan Umum
1. 7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan kadar
(89 dan peningkatan kadar (=$ pada abortus iminens setelah
pemberian "itamin :.
2. 7erdapat korelasi peningkatan kadar S.D dengan penurunan *( ASD
dan kadar ;:A<1 pada abortus iminens setelah pemberian "itamin :.
!. 'ada kasus yang terjadi abortus terdapat penurunan kadar S.D dan (=$
serta peningkatan kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD.
3.2 %!m)ulan #husus
1. 'emberian "itamin : pada abortus iminens berperan pada peningkatan
kadar S.D dan (=$.
2. 'emberian "itamin : pada abortus iminens berperan pada penurunan
kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD.
!. 'enurunan kadar S.D pada abortus iminens berperan pada peningkatan
kadar (89 dan penurunan kadar (=$.
$. 'enurunan kadar S.D pada abortus iminens berperan pada peningkatan
kadar ;:A<1 dan *( ASD.
152
5. 'erubahan molekuler pada abortus iminens ditandai oleh terjadinya
perubahan kadar S.D, (=$, (89 , dan ;:A<1, kemudian diikuti
dengan perubahan klinis yaitu *( ASD.
%. 7erjadi kerusakan endotel pada abortus iminens yang ditandai dengan
adanya peningkatan kadar ;:A<1 yang menunjukkan perbedaan yang
sangat bermakna pada kasus yang terjadi abortus dibandingkan dengan
yang tidak terjadi abortus.
). 7erdapat perbedaan yang bermakna pada kenaikan persentase perubahan
kadar (=$ 3%0,)#4 dan penurunan persentase kadar ;:A<1 32,2#4
setelah pemberian "itamin :.
1. 'ada kelompok yang terjadi abortus tampak bah&a kadar S.D dan (=$
lebih rendah, sedangkan kadar (89 , ;:A<1, dan *( ASD lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok yang tidak terjadi abortus.
6. 7erdapat perbedaan yang bermakna kadar S.D pada kelompok yang
terjadi abortus dibandingkan dengan yang tidak terjadi abortus setelah
pemberian "itamin : dan plasebo.
10. 'emeriksaan kimia&i yang dapat digunakan untuk diagnosis abortus
iminens adalah S.D dan diperoleh titik potong 662 pg@m= dengan
sensiti"itas, spesifisitas, dan akurasi yang cukup tinggi, sedangkan untuk
pemeriksaan bukan kimia&i dapat digunakan pemeriksaan *( ASD
dengan alat +S/ dan diperoleh titik potong 0,55.
15!
3.3 %aran
Dengan mengacu pada hasil penelitian, beberapa saran dapat dianjurkan
sebagai berikutA
1. 'emeriksaan laboratorium kadar S.D dapat digunakan untuk diagnosis
dini pada kasus abortus iminens.
2. 'emeriksaan *( ASD dapat digunakan sebagai pemeriksaan penunjang
diagnosis pada kasus abortus iminens.
!. 'emeriksaan laboratorium kadar S.D dan pemeriksaan +S/ pada kasus
abortus iminens dapat dilakukan pada usia kehamilan 1012 minggu.
$.'emberian "itamin : dapat dipertimbangkan pada kasus abortus iminens
sampai usia kehamilan 20 minggu di samping prosedur tetap -agian
.bstetri dan /inekologi *S Dr ,asan Sadikin yaitu tirah baring.
5. <enggugah minat penelitipeneliti lain untuk meneliti lebih lanjut
bagaimana peran S.D pada endometrium yaitu 3:u, 5n S.D4 dan <n
S.D terhadap kerusakan endotel, kerusakan "askular, serta perubahan
jalur imunologis pada kasus abortus iminens.
15$
DA.TAR PU%TA#A
1. :unningham 8/, =e"eno >F, -loom S=, ,auth F:, /ilstrap ((( =:,
0enstrom >D. 0illiams obstetrics. ?disi ke22. 9e& RorkA <c/ra& ,illE
2005.
2. 0ilson *. AntioGidants and miscarriage. DalamA 0ilson 0, editor.
*ecurrent abortus and preeclampsia the roles played by the immune
system and antioGidants. 9e& FerseyA 0orld ScientificE 200$. h. 1!101.
!. >upesic S, <atije"ic *, >urjak A. ?arly pregnancy loss. DalamA >urjak
A:, :arrera F<, editor. 7he embryo as a patient. 9e& RorkA 7he
'arthenon 'ublishing /roupE 2001. h. )010.
$. Alberman ?. ?arly pregnancy lossA mechanisms and treatment. =ondonA
*:./E 1661.
5. *ose"ear S. -leeding in early pregnancy. DalamA Fames D>SF, 0einer
:', /onik -, editor. ,igh risk pregnancy management options. ?disi ke2.
=ondonA 0-. SaundersE 2000. h. %116.
%. Scott F, *ote 9, -ranch D. (mmunologic aspects of recurrent abortion and
fetal death. .bstet /ynaecol. 161)E)0A%$55%.
). :heng :l, Agoestina 7, ,arbin. <aternal mortality at t&el"e teaching
hospital in (ndonesia, An epidemiology analysis. (nt F /ynecol .bstet.
1611E16A2%0).
1. 0ibo&o A, 0ijayanegara ,, <ose F:. ,ubungan kadar en2im superoksid
dismutase dan glutation peroksidase sel darah merah dengan abortus
spontan. 7esis. -andungA 8akultas >edokteran +ni"ersitas 'adjadjaranE
2005.
6. 5ulmaita, 0irakusumah 88, >risnadi S>. 'erbandingan kadar "asculer
endothelial gro&th factor serum antara penderita abortus imminens dan
kehamilan normal. 7esis. -andungA 8akultas >edokteran +ni"ersitas
'adjadjaranE 2005.
10. ,andono -, 0ijayanegara ,, <ose F:. Doppler arus darah arteri spiralis
desidua pada perdarahan kehamilan dini. 7esis. -andungA 8akultas
>edokteran +ni"ersitas 'adjadjaranE 200!.
155
11. *oberts F, Fenkins :, 0ilson *, 'earson :, 8ranklin (A, <ac=ean <A, et
al. *ecurrent miscarriage is associated &ith increased numbers of :D5@20
positi"e lymphocytes and increased incidence of thyroid antibodies. ?ur F
?ndocrinol. 166%E1!$A1$%.
12. 0ilson *, =ing ,, <ac=ean <A, <ooney, >inane D, <c>illop F,, et al.
7hyroid antibody titre and a"idity in patients &ith recurrent miscarriage.
8ertil Steril. 1666E)1A551%1.
1!. /oldstein ', -errier F, *osen S, Sacks ,S, :halmers 7:. A metaanalysis
of randomised control trials of progestational agents in pregnancy -F./.
1616E6%A2%5)$.
1$. S2abo (, S2ilagryi A. 're"ention and treatment of early pregnancy loss. 5th
0orld :ongress of 'erinatal <edicine. -arcelonaA 0orld Association of
'erinatal <edicineE 2001.
15. ;ural ', Akgul :, Rildirim A, :anba2 <. AntioGidant defence in
recurrent abortion. :lin :him Acta. 2000E265A1%6)).
1%. <iller ,, 0ilson *, Fenkins :, <ac=ean <A, *oberts F, 0alker FF.
/lutathione and miscarriage. 8ertil Steril. 2000E)$A125)1.
1). Fenkins :, 0ilson *, *oberts F, <iller ,, <c>illop F,, 0alker FF.
AntioGidantsA their role in pregnancy and miscarriage. AntioGid *edoG
Signal. 2000E2$A%2!1.
11. >umar >S, >umar A, 'rakash S, S&amy >, Fagadeesan ;, Fyothy A. 7he
role of selenium in recurrent pregnancy loss. F .bstet /ynecol.
2002E22A111 !.
16. >urjak A, >upesic S. -lood flo& studies in early pregnancy. DalamA
>urjak A>S, editor. :olor Doppler in obstetrics, gynecology and
infertility. 5agrebSeoulA ArtStudio A2ino"ic<edisonE 1666. h. 1)101.
20. 'eakman <, ;ergani D. -asic and clinical immunology. 9e& RorkA
:hurchill =i"ingstone. 166).
21. <urine =, /e"a ?, Amit A, =erner /, =essing F-. Autoimmunity and
reproduction. 8ertil Steril. 200!E%)A566%11.
15%
22. =im >F,, .lusegun A, Ajjan *A, =i 7:, 0eetman A', :ook (D. 7he role
of 7 helper cytokines in human reproduction. 8ertil Steril. 2000E)!A1!%
$2.
2!. ;i"es A, -alasch F, Rague F, Suinto =, .rdi F, ;anrell FA. 7ype1 and
type2 cytokines and human decidual tissue and trophoblasts from normal
and abnormal pregnancies detected by re"erse trancriptase polymerase
chain reaction 3*7':*4. Am F *eprod (mmunol. 1666E$2A!%11.
2$. =yal 8, /reer (A, -os&ell 8, <acara =<, 0alker FF. 7he cell adhesion
molecule, ;:A<1, is selecti"ely ele"ated in serum in preeclampsiaA do
this indicate the mechanism of leucocyte acti"ationB -r F .bstet /ynecol.
166$E101A$15).
25. =yal 8. :ells adhesion moleculesA their role in pregnancy. 8etal <aternal
<ed *e". 1661E10A21!%.
2%. >urjak A, Aksamija A. 7hreatened abortionA ne& insights by color
Doppler, three and fourdimensional ultrasound. DalamA :her"enak 8A
>A, 'app 5, editor. 7he fetus as a patient. 9e& RorkA 7he 'arthenon
'ublishing /roupE 2002. h. 2!$2.
2). -ri2ot <=, 0atanabe =:, (22o :'<, 'ereira '', <iyadahira S, 5ugaib
<. +ltrasound features in predicting early pregnancy loss. DalamA >urjak
A :8, :arrera F<, editor. 7he embryo as a patient. 9e& RorkA 7he
'arthenon 'ublishing /roupE 2001. h. 1$!6.
21. Faffe *. :olor Doppler (maging in obstetrics and gynecology. 9e& RorkA
<c/ra&,illE 1662.
26. Faffe *, Dorgan A, Abramo&ics FS. :olor Doppler imaging of the
uteroplacental circulation in the first trimesterA "alue in predicting
pregnancy failure or complication. Am F *oengenol. 1665E1%$A12551.
!0. >urjak A, 5udenigo D, 'redanic <, >upesic S, 8unduk -. Assessment of
the fetomaternal circulation in threatened abortion by trans"aginal color
Doppler 8etal Diagnosis 7herapy. 166$E6A!$1).
!1. Alca2ar F=, *ui2'ere2 <=. +teroplacental circulation in patients &ith
first trimester threatened abortion. 8ertil Steril. 2000E)!A1!05.
15)
!2. Faffe *. De"elopment of early uteroplacental circulation. ?arly 'regnancy.
2001E5A!$5.
!!. =eible S, :umsille 8, 0alton *. Discordant uterine artery "elocity
&a"eform as a predictor of subseTuent miscarriage in early pregnancies.
Am F .bstet /ynecol. 1661E11)6A151)6!.
!$. 9iki ?, 9oguchi 9, /otoh 9. (nteraction among "itamin :, "itamin ? and
betacarotene. Am F :lin 9utr. 1665E%2A1!22%.
!5. ,alli&ell -. 8ree radicals and antioGidantsA a 'ersonal "ie&. 9utr *e".
166$E52A25!%5.
!%. :hristiansen .-. ?pidemiology of recurrent pregnancy loss. DalamA :arp
,FA, editor. *ecurrent pregnancy loss causes, contro"ersies and treatment.
?disi ke1. =ondonA (nforma ,ealthcareE 200). h. 11!.
!). 9urdin -. >ematian perinatal pada hipertensi dalam kehamilan di *S
'ringadi <edan tahun 1610161!. '7' ; './(. Semarang 1611.
!1. 'iccinni <', Scaletti :, <aggi ?, *omagnani S. *ole of hormone
controlled 7hl and 7h2 type cytokines in successful pregnancy. F
9euroimmunol. 2000E106A!0!.
!6. <ac=ean <=, 0ilson *, Fenkins :, <iller ,, 0alker F. (= 2 le"els in
&omen &ith a history of recurrent miscarriage. ,um *eprod.
2001E1)A21620.
$0. :oste F, FobSpira 9, 8ernande2 ,. *isk factors for spontaneous abortionA
a casecontrol study in 8rance. ,um *eprod. 1661E%A1!!2).
$1. ,akim *-, /ray *,, 5acur ,. (nfertility and early pregnancy loss. Am F
.bstet /ynecol. 1665E1)2A1510).
$2. *osenthal <, -ain S,, -ush A, 0arner F.. 0eight@height2 as a screening
test for obesity shoolage children. ?ur F 'ediatr. 166$E15!A1)%1!.
$!. 0ang FN, Da"ies <F, 9orman *F. .besity increases the risk of
spontaneous abortion during infertility treatment. .bes *es. 2002E10A551
$.
$$. De:hatelet =*. .Gidati"e bactericidal mechanisms of polymorphonuclear
leukocytes. F (nfect Dis. 1665E1!1A265!0!.
151
$5. -arrington F0, =indsay ', Fames D, Smith S, *oberts A. Selenium
deficiency and miscarriageA a possible linkB -F./. 166%E10!A1!02.
$%. <offet A, =oke R<. 7he immunological paradoG of pregnancyA a
reapraisal. 'lacenta. 200$A11.
$). *egan =, -raude '*, 7rebath '=. (nfluence of past reproducti"e
performance on risk of spontaneous abortion. -<F. 1616E266A5$15.
$1. =uisi S, =a22eri =, /ena22ani A*. ?ndocrinology of pregnancy loss.
DalamA Steer 'F, editor. *ecurrent pregnancy loss causes, contro"ersies
and treatment. =ondonA (nforma ,ealthcareE 200). h. )61).
$6. 0einer :', =oren '7, ;an ;oorhis -F. 7he role nitric oGide in female
reproduction. 8etal <aternal <ed *e". 1665E)A1)520%.
50. -arnea ?*. (nsight into early pregnancyA emerging role of the embryo Am
F *eprod (mmunol. 200$E51A!1622.
51. ,omer ,A, =i 7:, :ooke (D. 7he septate uterusA a re"ie& of management
and reproducti"e outcome. 8ertil Steril. 2000E)!A21!).
52. FauniauG ?, >aminopetros ', ?l*afaey ,. ?arly pregnancy loss. DalamA
*odeck :,0<, editor. 8etal medicineA basic science and clinical
practice. =ondonA :hurchill =i"ingstoneE 1666. h. 1!5$).
5!. ,ikok =*. ,ysteroscopic treatment of the uterine septumA a clinicianUs
eGperience. Am F .bstet /ynecol. 2000E112A$1$20.
5$. 'orcu /, :ar"ello =, DUercole /, :ohen D, *oger ;, de <otgolfier *, et
al. ,ysterocopic metroploasty for separate uterus and repetiti"e abortionsA
reproducti"e outcome. ?ur F .bs /yn *ep -iol. 2000E11A11$.
55. +g&umadu A. -acterial "aginosis in pregnancy. :urr .pin .bstet
/ynecol. 2002E1$324A1151.
5%. 'ellestor 8, Anahory 7, ,amamah S. 7he cromosomal analysis of human
oocytes. An o"er"ie& of established procedures. ,um *eprod.
2005E11A15!2.
5). =i S, ,assed S, <ul"ihill FF. Double trysomy. Am F <ed /enet.
200$E12$A6%1.
156
51. Stone F(, =ock&ood :F, -erko&it2 /S. *isk factor for se"ere
preeclampsia. .bstet /ynecol. 166$E1!A!5) %1.
56. -ates <D, Suenby S, 7akaku&a V Fohnson '<, ;ince /S. Aberrant
cytokine production by peripheral blood mononuclear cells in recurrent
pregnancy loss. ,um *eprod. 2002E1)A2$!6$$.
%0. -ajo F, ,aya F, 'ere2<edina 7. +.S. prediction of miscarriage. 5th 0orld
:ongress of 'erinatal <edicine. -arcelonaA 0orld Association of
'erinatal <edicineE 2001
%1. =eftherioti <;. (mmunobiology of recurrent miscarriage. DalamA
:hamberlain ,F, editor. *ecurrent pregnancy loss causes contro"ersies
and treatment. =ondonA (nforma ,ealthcareE 200). h. 1%562.
%2. Fenkins :, *oberts F, 0ilson *, <ac=ean <(A, Shilito F, 0alker (F.
?"idence of a 7, ( type response associated &ith recurrent miscarriageB .
8ertil Steril. 2000E)!A120%1.
%!. :aterina *D, -asta /, =a22erini /. Soluble "ascular cell adhesion
molecules1 as a biohumoral correlate of atherosclerosis. Am F ,eart.
166)E1)A2%$%5$.
%$. Stark F<. (nadeTuate reducing system in preeclampsiaA a complementary
role for "itamin : and ? &ith thioredoGin related acti"ities -F./.
2001E101A!!6$!.
%5. 9arimoto >, 9oda R, Shiotani <. (mmunohistochemical assessment of
superoGide dismutase eGpression in the human endometrium throughout
the menstrual cycle. Acta ,istochem :ytochem. 1660E2!A$1)61.
%%. Sugino 9, 9akamura R, 7akeda .. :hange in acti"ities of superoGide
dismutase and lipid peroGide in corpus luteum during pregnancy in rats. F
*eprod 8ertil. 1665E6)A!$)51.
%). Sugino 9, 7elleria :<, /ibori /. Differential regulation of copper2inc
superoGide dismutase and manganese superoGide dismutase in the rat
corpus luteumA induction of manganese superoGide dismutase messenger
ribonucleic acid by inflamatory cytokines. -iol *eprod. 1661E56A20115.
1%0
%1. Sugino 9, Shimamura >, 7akiguchi S. :hanges in acti"ity of superoGide
dismutase in the human endometrium throughout the menstrual cycle and
in early pregnancy. ,um *eprod. 166%E11A10)!1.
%6. Sugino 9, >ashida S, 7akiguchi S. (nduction of superoGide dismutase by
deciduali2ation in human endometrial stromal cells. <ol ,um *eprod.
2000E%A1625.
)0. Feffrey D, 'eterson D, ,er2enberg =A, ;asTue2 >, 0altenbaugh :.
/lutathione le"els in antigen presenting cells modulates 7hl "ersus 7h2
response patterns. 'lroc 9at Acad Sci +SA. 1661E65A!0)1%.
)1. .li"ares ?/, <uno2 *, 7ejeri2o /, <ontes, /ome2 <8, Abadia <A.
Decidual lymphocytes of human spontaneous abortions induce apoptosis
but not necrosis in F?/! eGtra"illous trophoblast cells. -iol *eprod.
2002E%)A1211).
)2. :aniggia (, <ostachfi ,, 0inter F, /assmann <, =ye SF, >ulis2e&ski <.
,ypoGia inducible factor1 mediates the biological effects of oGygen on
human trophoblast differentiation through 7/8 beta. F :lin (n"est.
2000E105A5))1).
)!. 9icoll A?, 9orman F, <acpherson A, Acharya +. Association of reduced
selenium status in the aetiology of recurrent miscarriage. -F./.
1666E10%A111161.
)$. 'iccinni <', *omagnani S. *egulation of fetal allograft sur"i"al by
hormone controlled 7h1 and 7h2 type cytokines. (mmunol *es.
166%E1A1$150.
)5. <akhseed <, *aghupathy *, A2i2ieh 8, .mu A, Al Shamali ?, Ashkanani
=. 7h1 and 7h2 cytokine profile in recurrent aborters &ith successful
pregnancy and &ith subseTuent abortions. ,um *eprod. 2001E1%A22162%.
)%. :arthy A=, 0oolfson */, *aju S>, 'oston =. Abnormal endothelial cell
function of resistance arteries from &omen &ith preeclampsia. Am F
.bstet /ynecol. 166!E1%1A1!2$0.
1%1
)). Singh A, Dantas 5, Stone S:, Asch *,. 'resence of thyroid antibodies in
early reproducti"e failureA biochemical "ersus clinical pregnancy. 8ertil
Steril. 1665E%!A2))11.
)1. >uttch 0, Retman D=, :arr A:, -eck =A, Scott *7. (ncreased incidence
of antithyroid antibodies identified in &omen &ith recurrent pregnancy
loss but not in &omen undergoing assisted reproduction. 8ertil Steril.
1666E)1A1$!1.
)6. Andersen <F, =ornt2en -, ,enriksen 7. (ncreased lipolytic acti"ity and
high ratio free faty acids to albumin in sera from &omen &ith
preeclampsia leads to triglyceride accumulation in cultured endothelial
cells. Am F .bstet /ynecol. 1662E1%)A$$0).
10. :haouat /, 5ourbas S, .stojic S, =appree D, Dubanachet S, =edee 9, et
al. A brief re"ie& of some of the cytokines eGpressed at the maternofetal
interface &hich might challenge the classical 7h1@7h2 dichotomy. F
*eprod (mmunol. 2002E5!A2$15%.
11. 0ilson *, <oore F, Fenkin :. Abnormal (=2 receptor le"els in non
pregnant &omen &ith a history of resurrent miscarriage. ,um *eprod.
200!E11A1526!0.
12. 5eeman //, Decker /A. 'athogenesis of preeclampsiaA a hypothesis. :lin
.bstet /ynecol. 1662E!5A!16!).
1!. De /roff :F<. 7he role of endothelial cells in preeclampsia. Den ,aagA
>rips *epr <eppelE 1665.
1$. <ose F:. Aspek biomolekuler pada patogenesis preeklamsi. Simposium
peranan biomolekuler dalam perkembangan kedokteran dan disiplin lain
yang terkait. -andung Dies 9atalis +npad NNN(N 166%.
15. Angsar D<. 'erbandingan profil lemak antara kehamilan preeklamsi dan
kehamilan normotensif. <aj .bstet /inekol (ndones. 166%E2%A51$.
1%. Drugan A, >oopitch 8:, 0illiams F:. 'renatal genetic diagnosis
follo&ing recurrent early pregnancy loss. .bstet /ynaecol. 1660E)5A!11$.
1). 0ijaya A. .ksidasi =D=, aterosklerosis dan antioksidan. 8orum
Diagnosticum. 166)E!A11$.
1%2
11. ,ubel :A. .Gidati"e stress and preeclampsia. 8etal <aternal <ed *e".
166)E6A)!101.
16. 0ijaya A, >ania&ati. 'etanda biokimia&i untuk disfungsi endotel. 8orum
Diagnosticum. 1666E1A1).
60. =o RR:, 0ong F<S, :ru2 78. *eacti"e oGygen species mediate cytokine
acti"ation of cFun 9h2terminal kinase. F -iol :hem. 166%E2)1A)0!).
61. -uemi <, Allegra A, Aloisi :, :orica 8. :old pressor test raises serum
concentrations of (:A<1, ;:A<1 and ?selectin in normotensi"e and
hypertensi"e patiens. American ,eart Association, (nc. 166)E!0A1$5).
62. ,alli&ell -. 7he role of oGygen radicals in human disease &ith reference
to the "ascular system. ,aemostatis. 166!E2!A1112%.
6!. /ulme2oglu A<, ,ofmeyr /F, .osthui2en <. =ipid peroGidation in
eclampsia. F .bstet /ynecol. 166)E1)A1!2!.
6$. (lhan 9, Simsek <. 7he changes of trace elements, malondialdehyde
le"els and superoGide dismutase acti"ities in pregnancy &ith and &ithout
preeclampsia. :lin :hem. 2002E!5A!6!).
65. Al >unani AS, >night *, ,as&ell SF, 7hompson F0. 7he selenium status
of &omen &ith a history of recurrent miscarriage. F .bstet /ynecol
2001E2!A16$).
6%. 0isdom SF, 0ilson *, <c>illop F,, 0alker FF. AntioGidant systems in
normal pregnancy and pregnancy induced hypertension. Am F .bstet
/ynecol. 1661E1%5A1)01$.
6). 9o"a A, Sibai -<, -arton F*, <ercer -<. <aternal plasma le"el of
endothelin is increased in preeclampsia. Am F .bstet /ynecol.
1661E1%5A)2$).
61. 5achara -A, Dorbr2yski 0, 7rafiko&ska +. -lood selenium and
glutathione peroGides in miscarriage. -F./. 2001E101A2$$).
66. ,odges *?, ,ood F, :anham F?, Sauberlich ,?, -aker ?<. :linical
manifestations of ascorbic acid deficiency in man. Am F :lin 9utr.
16)1E$2A$!2$!.
1%!
100. =e"ine <, :onry:antilena :, 0ang R, 0elch *0, 0ashko '0,
Dhari&al >*, et al. ;itamin : pharmacokinetics in healthy "olunteersA
e"idence for a recommended dietary allo&ance. 'roc 9at Acad Sci +SA.
166%E6!A!)0$6.
101. Dhari&al >*, ,art2ell 0., =e"ine <. Ascorbic acid and dehydroascorbic
acid mesurements in human plasma and serum. Am F :lin 9utr.
1661E5$A)12%.
102. -asch :?, Syber ', Shea S. 5adayA dietary beha"ior and the fruit and
"egetable intake of =atino children. Am F 'ublic ,ealth. 166$E1$A11$1.
10!. =e"ine <, Dhari&al >*, 0ashko '0, -utler FD, 0elch *0, 0ang R,,
et al. Ascorbic acid and in situ kineticsA a ne& approach to "itamin
reTuirements. Am F :lin 9utr. 1661E5$A115)%2.
10$. =e"ine <. 9e& concepts in the biology and biochemistry of ascorbic acid.
9 ?ngl F <ed. 161%E!1$A162602.
105. 7ollbert 8/, 0ard F-. Dehydroascorbic acid. DalamA -reart /, editor.
Ascorbic acidA chemistry, metabolism and uses. 0ashington D:A
American :hemical SocietyE 1612. h. 1012!.
10%. 'enney F*, 5il"a SS. :hemical beha"ior of dehydroascorbic acid in "itro
and in "i"o. -iochem F. 166!E!)A$0!1).
10). 'ark F-, =e"ine <. 'urification, cloning, and eGpression of
dehydroascorbic acid reduction acti"ity from human neutrophilsA
identification as glutaredoGin. -iochem F. 166%E!15A6!11.
101. ,offman >?, Ranelli >, -ridges >*. Ascorbic acid and iron metabolism
alternations in lysosomal function. Am F :lin 9utr. 1661E2!A111162.
106. Fialal (, ;ega /=, /rundy S<. 'hysiologis le"els of ascorbate inhibit the
oGidati"e modification of lo& density lipoprotein. Atherosclerosis.
1660E12A11561.
110. -uettner. /. 7he pecking order of free radicals and antioGidantsA lipid
peroGidation, alpha tocopherol, and ascorbate. Arch -iochem -iophys.
166!E!00A5!5$!.
1%$
111. -uettnner /*, <oseley '=. ?'* spin trapping of free radicals produced
by bleomycin and ascorbate. 8ree *adic *es :ommun. 166!E1A166!.
112. ?ipper -A, <ains *?. 7he role of ascorbate in the biosynthesis of
neuroendocrine peptides Am F :lin 9utr. 1661E5$A115!%.
11!. 'iotro"kij ;>, >allay 5, /ajdos <, /eryko"a <. 7he use of nonliniar
absorpsion model in the study of ascorbic acid bioa"ailability in man.
-iopharm Drug Dispos. 166!E1$A$26$2.
11$. <angels A*, -lock /, 8rey :<, 'aterson -,. 7he bioa"ailability to
humans of ascorbic acid from oranges, oranges juice and cooked broccoli
is similar to that of synthetic ascorbic acid. F 9utr. 166!E12!A105$%1.
115. 0elch *0, 0ang R, :rossman A, 'ark F-, >irk >=. Accumulation of
"itamin : 3ascorbate4 and its oGidi2ed metabolite dehydroascorbic acid
occurs by separate mechanisms. F -iol :hem. 1665E2)0A1251$62.
11%. Rung S, <ayersohn <, *obinson F-. Ascorbic acid absorption in humansA
a comparison among se"eral dosages forms. F 'harm Sci. 1612E)1A2125.
11). DiGon SF, 0ilson FN. Adapti"e regulation of ascorbate transport in
osteoblastic cells. F -one <iner *es. 1662E)A%)511.
111. <itch 0?, Fohnson <0, >irshenbaum F<, =ope2 *?. ?ffect of large
oral doses of ascorbic acid on uric acid eGcretion by normal subjects. :lin
'harmacol 7her. 1611E26A!1121.
116. 0elch *0, -ergsten *0, -utler FD, =e"ine <. Ascorbic acid
accumulation and transport in human fibroblasts. -iochem F.
166!E26$A50510.
120. -ergsten ', Ru *, >ehrl F, =e"ine <. Ascorbic acid transport and
distribution in human - lymphocytes. Arch -iochem -iophys.
1665E!1)A2011$.
121. ;anderslice F7, ,iggs DF. ;itamin : content of foodsA sample "ariability.
Am F :lin 9utr. 1661E5$A1!2!).
122. *ose *:. 7ransport of ascorbic acid and other &ater soluble "itamins.
-iochem -iophys Acta. 1611E6$)A!!5%%.
1%5
12!. ;era F:, *i"as :(, 8ischbarg F, /olde D0. <ammalian facilitati"e
heGose transpoters mediate the transport of dehydroascorbic acid. 9ature.
166!E!%$A)612.
12$. 0ang R,, Dhari&al >*, =e"ine <. Ascorbic acid bioa"ailability in
humans. Ascorbic acid in plasma, serum and urine. Ann 9 R Acad Sci.
1662E%%6A!1!%.
125. /raumlich F8, =udden 7<, :onry:antilena :, :antilena =*, 0ang R,
=e"ine <. 'harmacokinetics model of ascorbic acid in healthy man
"olunters during depletion and repletion. 'harmaceutical *esearch.
166)E1$A11!!6.
12%. 0an2ilak 7*, DUandre SD, Da"is 'A, 0illiams ,?. ?ffect of high dose
"itamin : on urinary oGalate le"els. F +rol. 166$E151A1!$).
12). ,ornig F. Distribution of ascorbic acid, metabolites and analogues in man
and animal. Ann 9 R Acad Sci. 16)5E251A10!11.
121. 0ashko '0, *otrogen D, =e"ine <. Ascorbic acid transport and
accumulation in human neutrophils. F -iol :hem. 1616E2%$A11%6%.
126. -yers *, /uerrieri 9. ?pidemiologic e"idence for "itamin : and "itamin
? in cancer pre"ention. Am F :lin 9utr. 1665E%2A1!1562.
1!0. 0ang R, *usso 7A, >&on ., :hanock S, *umsey S:, =e"ine <.
Ascorbate recycling in human neutrophilsA (nduction by bacteria. 'roc 9at
Acad Sci +SA. 166)E6$A1!11%6.
1!1. >ing F, 0ang R, 0elch *0, Dhari&al >*, =e"ine <. +se of ne&
"itamin : deficient diet in a depletion@repletion clinical trial. Am F :lin
9utr. 166)E%5A1$!$$0.
1!2. ?sterbauer ,, /ebicki F, 'uhl ,, Furgens /. 7he role of lipid peroGidation
and antioGidants in oGidati"e modification of =D=. 8ree *adic -iol <ed.
1662E1!A!$160.
1!!. /rossman :<, <orton 0?, 9ussbaum *,. ,ipothyroidism and
spontaneous abortions among ,anford, 0ashington, do&n&inders. Arch
?n"iron ,ealth. 166%E51A1)5%.
1%%
1!$. >am ?', /ardner =, =oke R0, >ing A. 7he role of trophoblast in the
physiological change of decidual spiral arteries. ,um *eprod.
1666E1$A2$!11.
1!5. .akeshott ', ,unt /<. =ongterm outcome in open spina bifida. -r F /en
'ract. 200!E5!A%!2%.
1!%. 8leischer A:, /oldstein *-, -runer F', 0orrell FA. Doppler sonography
in obstetrics and gynecology. DalamA :allen '0, editor. +ltrasonography
in obstetrics and gynecology. ?disi ke!. 'hiladelphiaA 0.-. SaundersE
166$. h. 50!2!.
1!). Sch&ar2ler ', ,olden D, 9ielsen S. 7he conser"ati"e management of first
trimester miscarriages and the use of colour Doppler sonography for
patient selection. ,um *eprod. 1666E1$A1!$15.
1!1. =oke R0, >ing A. (mmunology in pregnancy. DalamA :hamberlain /,
editor. 7urnbullUs obstetrics. =ondonA :hurchill li"ingstoneE 2001. h. 6!
10$.
1!6. Simsek <, 9a2iroglu <, Simsek ,, :ay <, Akasal <, >umur S. -lood
plasma le"els of lipid peroGidases, glutathion peroGidase, beta carotene,
"itamin A and ? in &omen &ith habitual abortion. :ell -iochem 8unct.
1661E1%A22)!1.
1$0. /ucer 8, -alkanli >aplan ', Ruksel < S9, Ruce <A, Rardirn 7.
<aternal serum le"els of tumour necrosis faktor alpha and interleukin 2
receptor in threatened abortionA a comparison &ith normal and pathologic
pregnancy. 8ertil Steril. 2001E)%A)0)11.
1$1. 0alpola '=, /otlieb A(, :ybulsky <(, =angille -=. ?Gpression of (:A<
1 and ;:A<1 and monocyte adherence in arteries eGposed to altered
shear stress. Arterioscler 7hromb ;asc -iol. 1665E15A210.
1$2. :unningham -A. :ell adhesion molecules and the regulation of
de"elopment. Am F .bstet /ynecol. 1661E1%$A6!6$!.
1$!. -ehne D, 0alters 0. Selenium content and glutathione peroGidase acti"ity
in the plasma and erythrocytes from nonpregnant and pregnant &omen. F
:lin :hem -iochem. 16)6E1)A1!!1.
1%)
1$$. ,eyl 0, ,andt S, *eister 8, /ehlen F, <ittermayer :, *ath 0. 7he role of
soluble adhesion molecules in e"aluating endothelial cell acti"ation in
preeclampsia. Am F .bstet /ynecol. 1666E110A%1)2.
1$5. :otran *S, 9orton <7. ?ndothelial molecules in health and disease.
'athol -iol. 1661E$%A1%$)0.
1%1
1%6
Lam)!ran 1
Lam)!ran 2
1)0
%URAT PERNAATAAN PER%ETU$UAN
UNTU# I#UT %ERTA DALAM PENELITIAN
0INFORMED CONSENT2
Rang bertanda tangan di ba&ah iniA
9 a m a
A ....................................................................................................
+ s i a
A ....................................................................................................
Alamat
A ....................................................................................................
'ekerjaan
A ....................................................................................................
9o. >7'@lainnya A .....................................................................................................
Dengan sesungguhnya menyatakan bah&aA
setelah memperoleh penjelasan sepenuhnya menyadari, mengerti, dan memahami
tentang tujuan, manfaat, dan risiko yang mungkin timbul dalam penelitian, serta
se&aktu&aktu dapat mengundurkan diri dan membatalkan dari keikutsertaannya,
maka saya setuuDt!dak setuu
Q4
diikutsertakan dan bersedia berperan serta dalam
penelitian yang berjudulA
PERAN ANTI(#%IDAN 6ITAMIN 1 PADA AB(RTU% IMINEN%
MELALUI INTERA#%I %UPER(#%ID DI%MUTA%E& INTER.ER(N &
INTERLEU#IN," VASCULAR CELLS ADHESION MOLECULE&
DAN ALIRAN DARAH ARTERI %PIRALI% DE%IDUA
Demikian surat pernyataan ini kami buat dengan sesungguhnya dan tanpa
paksaan.

-andung,
<engetahui,
Rang menyatakan
'enanggung ja&ab penelitian, 'eserta
penelitian,
1)1
Lam)!ran 3
3 4 3
4
SaksisaksiA
1. WWWWWWWWWWW 3
4
2. WWWWWWWWWWW 3
4
Q4 coret yang tidak perlu
IN.(RMA%I
EPeran ant!+ks!dan 8!tam!n 1 )ada a*+rtus !m!nens melalu! !nteraks!
%u)er+ks!d d!smutase& Inter-er+n & Interleuk!n,"& !ascula" cells adhesion
#olecule$, dan al!ran darah arter! s)!ral!s des!duaF
7im peneliti di -agian >ebidanan V 'eny. >andungan 8akultas >edokteran
+npad@*umah Sakit Dr. ,asan Sadikin -andung, sedang melakukan penelitian untuk
mengetahui peran antioksidan "itamin : pada pencegahan abortus iminens melalui
interaksi superoksid dismutase, interferon , interleukin$, vascular cells adhesion
molecule-1, dan aliran darah aliran darah arteri spiralis desidua.

Tuuan>
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin cukup berkembang untuk dapat
hidup di luar kandungan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang didasarkan pada
tanggal hari pertama menstruasi normal terakhir. Abortus iminens adalah setiap
pengeluaran sekret "agina yang mengandung darah atau setiap perdarahan per "aginam
pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu dengan ostium uteri yang masih tertutup.
Angka kejadian abortus ber"ariasi dari 2# sampai 22#. Abortus iminens ini sebenarnya
masih bisa dicegah dan diselamatkan sehingga tidak sampai terjadi abortus. 'atogenesis
penyakit ini belum diketahui sehingga merupakan salah satu sebab ketidakberhasilan
penanggulangan penyakit ini. ?nam puluh ibuibu dengan diagnosis abortus iminens yang
berusia kurang dari !0 tahun akan diikut sertakan dalam pemelitian ini.
'enelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran antioksidan "itamin : pada pencegahan
abortus iminens sehingga tidak sampai terjadi abortus.
Menga)a !*u ter)!l!h>
(bu terpilih untuk diikutkan dalam penelitian ini oleh karena (bu didiagnosis abortus
iminens yang sebenarnya masih bisa dicegah dan diselamatkan sehingga tidak sampai
terjadi abortus.
(nformasi mengenai mekanisme kerja dan pengaruh "itamin : sebagai antioksidan yang
berpengaruh pada dugaan mekanisme terjadinya abortus iminens terutama menyangkut
1)2
Lam)!ran "
khasiatnya yang merupakan antioksidan yang larut air mempunyai fungsi yang signifikan
terutama dalam memperbaiaki membran sel dan sistem "askular serta memelihara
respons imun dan selular
memungkinkan diadakannya penelitian obat tersebut sebagai suatu alternatif pengobatan
pencegahan terhadap penyakit ini.
Tata 1araDPr+sedur>
-ila (bu bersedia, maka dokter akan mengambil darah dari pembuluh darah di lengan (bu
sebanyak O 10 m= 3sebanyak O dua sendok teh4. 7entu saja (bu akan merasakan sedikit
nyeri seperti biasanya bila (bu disuntik.
-ila (bu bersedia, maka (bu akan diberikan obat kapsul yang berisi "itamin : atau
plasebo yang harus diminum dua kali satu kapsul setiap hari sampai usia kehamilan (bu
20 minggu. 'emberian obat "itamin : atau plasebo, baik dokter atau (bu tidak
mengetahui obat apa yang diberikan, karena pemilihan kelompok (bu yang mendapat
"itamin : atau plasebo berdasarkan pemilihan secara acak tersamar ganda. Dokter akan
mengambil darah (bu sebanyak O 10 m= sebanyak dua kali, yaitu sebelum (bu diberikan
obat dan pada usia kehamilan (bu 20 minggu atau mengalami abortus.
R!s!k+ dan ket!dakn/amanan>
(bu akan diambil darah 2 kali dan diminta untuk datang memeriksakan diri setiap empat
minggu sampai usia kehamilan (bu 20 minggu. 'emeriksaan kehamilan akan dilakukan di
'oliklinik >ebidanan V 'eny. >andungan *S,S dengan prosedur yang sudah biasa@baku
dan dilakukan pemeriksaan ultrasonografi 3+S/4 di Subbagian 8etomaternal >ebidanan
V 'eny. >andungan *S,S.
Selama pemakaian "itamin : atau plasebo tidak pernah dilaporkan adanya komplikasi
yang berat atau mengkha&atirkan. 9amun keluhan yang ringan pernah dilaporkan seperti
perut kembung, sakit ulu hati, mual. 9amun gejalagejala ini akan sembuh dengan
sendirinya setelah obat diberhentikan pemakaiannya.
Man-aat>
>euntungan yang dapat diperoleh dari penelitian ini ialah ditemukannya obat pencegahan
abortus yaitu "itamin : yang banyak beredar di pasaran masyarakat (ndonesia. Fasa dan
peran (bu sangat besar dalam penelitian ini. 'enemuan ini juga akan membantu untuk
lebih mengerti mekanisme penyakit yang belum diketahui penyebabnya ini yang terkait
dengan peran antioksidan.
Apabila terbukti berkhasiat, maka (bu akan terhindar dari abortus yang mengancam
nya&a bayi yang dikandung (bu.
Pr+sedur alternat!->
Sampai saat ini belum ada pengobatan pencegahan abortus iminens yang baku. Apabila
ditemukan kegagalan dalam pemberian antioksidan "itamin : sehingga penyakit ini terus
berlangsung menjadi abortus, maka (bu akan ditangani dengan prosedur dan pengobatan
standar untuk abortus yang sudah baku.
#esukarelaan>
>eikut sertaan (bu dalam penelitian ini bersifat sukarela disertai tanggung ja&ab sampai
selesainya penelitian ini. (bu bebas menolak ikut dalam penelitian ini. -ila ibu telah
memutuskan untuk ikut serta, (bu juga bebas untuk mengundurkan diri setiap saat dengan
alasan apapun tanpa menyebabkan berubahnya kualitas pelayanan dokter bila dalam
1)!
keadaan sakit. 9amun bila (bu tidak mengikuti dan memenuhi prosedur yang diberikan
oleh peneliti, (bu tidak akan diikutsertakan dalam penelitian ini.
#erahas!aan data>
Selama (bu ikut dalam penelitian ini, setiap informasi dan data penelitian ini diperlakukan
secara rahasia sehingga tidak memungkinkan untuk diketahui oleh orang lain.
Pen/ul!t dan k+m)ensas!>
Semua biaya pemeriksaan laboratorium yang terkait dengan penelitian ini akan
dianggung oleh peneliti. Apabila terjadi penyulit atau komplikasi yang berhubungan
dengan penelitian ini atau akibat pemberian "itamin :, maka (bu akan diberi pertolongan
dengan prosedur yang telah baku dan biayanya akan ditanggung oleh penelitian ini.
Dalam keadaan adanya penyulit atau ada halhal yang belum dimengerti, (bu diberi
kesempatan untuk menanyakan semua hal yang berhubungan dengan penelitian ini
kepada dr. -udi ,andono di -ag. >ebidanan V 'eny. >andungan 8akultas >edokteran
+npad@*umah Sakit Dr. ,asan Sadikin Fl. 'asteur !1 -andung 9o. telp. 02220!25!0
9o.,'. 011%$1%5!10.
%tatus Pas!en A*+rtus Im!nens
(dentitas pasien
9ama A ............................................ 9ama suami A ...................................
+sia A ............................................ +sia suami A ...................................
'ekerjaan A ........................................... 'ekerjaan A ...................................
Alamat A Fl.......................................... 7elepon@,' A ....................................
*7 ........... *0 ...................
>elurahan A .........................
>ecamatan A ........................
>ota@>abupaten A ................ >7' 9o A ..........................................
*i&ayat reproduksi
>ehamilan 'ersalinan @ Abortus 'enolong >eterangan
1
2
!
$
5
%

,',7 3kehamilan sekarang4A
+sia kehamilanA minggu hari
'emeriksaan (A
1)$
Lam)!ran 3
AnamnesisA
=ama perdarahanA
'emeriksaan klinisA
7inggi -adanA cm
-erat -adanA kg
'emeriksaan +ltrasonografiA
-iometri janinA :*=
Denyut jantung janin
'emeriksaan aliran darah ASDA
'engambilan sampel darahA
'emeriksaan ((A
AnamnesisA
Ada@tidak perdarahanA
>apan terjadi abortusA
'emeriksaan klinisA
-erat -adanA kg
'emeriksaan +ltrasonografiA
-iometri janinA :*=, -'D, A:, 8=, 7--A
Denyut Fantung Fanin
'emeriksaan aliran darah ASDA
'engambilan sampel darah 2A
1)5
Data )as!en )enel!t!an
1)%
Lam)!ran 4
N+ Us!a
0thn2
Par!tas Us!a
0M!nggu2
#eterangan
' P A
01 !0 2 1 0 11
02 2$ 1 0 0 10
0! !0 $ ! 0 10
0$ 26 2 1 0 12
05 22 1 0 0 12
0% 2% 2 0 1 11 Abortus
0) 2% 1 0 0 10
01 !0 ! 1 1 10
06 !0 2 1 0 10
10 !0 2 1 0 11
11 2$ 1 0 0 11
12 !$ ! 2 0 12
1! 2$ 2 0 1 12
1$ 2$ 2 0 1 10
15 25 1 0 0 11
1% 16 1 0 0 10 Abortus
1) 2! 1 0 0 12
11 !0 $ ! 0 11
16 25 2 0 1 10
20 21 1 0 0 10
21 !0 ! 2 0 11 Abortus
22 !0 2 1 0 12
2! 26 2 1 0 12
2$ !0 % 2 ! 12 Abortus
25 16 1 0 0 10
2% 26 1 0 0 12 Abortus
2) 2% 2 1 0 11 Abortus
21 22 1 0 0 12 Abortus
26 22 1 0 0 11 Abortus
!0 21 ! 1 1 10
!1 22 1 0 0 11 Abortus
!2 22 1 0 0 10
!! !0 ! 2 0 10
!$ 25 ! 2 0 11
!5 2% 1 0 0 10 Abortus
!% 25 ! 1 1 12
!) !0 2 1 0 10 Abortus
!1 16 1 0 0 10 Abortus
!6 26 2 1 0 11 Abortus
$0 2) 1 0 0 10 Abortus
$1 !0 ! 2 0 12 Abortus
$2 21 1 0 0 10
$! 25 2 1 0 12
$$ 2% 2 1 0 10 Abortus
$5 25 2 1 0 10 Abortus
$% !0 1 0 0 12 Abortus
$) !0 ! 1 1 10
$1 2% 1 0 0 12 Abortus
$6 20 1 0 0 10
50 11 1 0 0 12
51 2) 2 1 0 11 Abortus
52 !0 ! 2 0 10 Abortus
5! !0 1 0 0 11
5$ 26 1 0 0 10
55 21 ! 2 0 10
5% 2$ 1 0 0 12 Abortus
5) !0 1 0 0 10
51 21 1 0 0 12
56 26 2 1 0 10
%0 21 1 0 0 10
Data has!l La*+rat+r!um )as!en )enel!t!an
1))
N+ Rand+m!sas! %(D 3+@g,b4 I.N 3pg@m=4 IL," 3pg@m=4
6I1AM,1 3ng@m=4
RI A%D #et
A<al Akh!r A<al Akh!r A<al Akh!r A<al Akh!r A<al Akh!r
01 - 6!6 10!6 10,%2 !,0! 0,11$ 0,2$$ 66!,2 1%1,2 0,$% 0,!$
02 A 1121 1%$2 2,51 2,26 0,110 0,210 )11,$ 5)1,% 0,5! 0,$1
0! - 15) 1!15 %,!6 2,11 0,125 0,!)! 116,1 $$!,2 0,5! 0,!%
0$ A 651 1!%$ 2,%1 2,!6 1,226 1.!22 !$1,% 116,$ 0,)1 0,56
05 - 6%$ 11)6 21,26 11,16 0,1%5 0,2)5 1165,2 6)0,0 0,)) 0,$5
0% A 6%! 656 5,0$ 12,$% 0,2)5 0,1$$ 10$,0 6%0,2 0,)1 Ab
0) - 1)6 1!!) !,!2 0,$6 0,120 0,2$$ %2%,1 5$1,0 0,)2 0,%1
01 A 1516 1$1$ 16,02 1!,61 0,110 0,160 %6!,2 %1),0 0,%1 0,$5
06 A 6!1 1001 2,2! 0,11 0,110 0,210 55!,% 5!%,1 0,55 0,$)
10 A 11)1 1$!1 $,2$ 1,$6 0,210 0,$5) 615,% ))5,$ 0,55 0,5%
11 - 101) 101! !,16 2,1$ 0,!2% 0,$1% %11,2 %05,0 0,%6 0,$%
12 - 662 1%05 10,!6 1,$5 0,110 0,222 56),0 5)$,$ 0,%1 0,51
1! - 1152 11%) 1,$6 1,22 0,120 0,262 %2%,1 502,2 0,%$ 0,$0
1$ - 11$6 1$00 1,$) 1,1% 0,!16 0,!!1 11%,1 5%$,2 0,%0 0,$1
15 A 10)6 12%% %,1) !,2% 0,!2% 0,!)! 5$),$ $6),1 0,%! 0,55
1% - 1102 61! %,1% 1),5) 0,2!2 0,110 10$,0 615,1 0,)) Ab
1) A 110$ 10)2 5,56 0,!6 0,1$0 0,25% %1),0 %!$,1 0,%2 0,5%
11 A 6)6 1!15 25,00 11,$1 0,251 0,!22 620,% )10,1 0,%6 0,55
16 - 12%0 1210 !,51 !,!6 0,125 0,2%0 15%,2 5$!,2 0,10 0,$$
20 - )6) 1$51 5,56 1,$6 0,!56 0,5!0 515,2 $06,$ 0,)0 0,%1
21 A 6!0 612 5,!6 5,56 0,22% 0,20! %1),0 62$,$ 0,%) Ab
22 A 11%) 1011 5,56 !,!6 0,110 0,215 5)$,$ 5!$,% 0,)! 0,50
2! - 1!%1 1!6 $,2) 0,!6 0,110 0,220 !5$,2 502,2 0,$5 0,!%
2$ A 6)0 111 5,56 1,!6 0,211 0,120 152,$ 661,2 0,)% Ab
25 - 1215 6$2 1,2% 0,6) 0,500 0,552 111,% %)6,$ 0,)% 0,$1
2% A 10)) 662 1!,)1 11,2$ 0,210 0,110 102,2 6!%,1 0,)! Ab
2) - 1015 $%0 1,15 1,16 0,1%5 0,15$ $)),1 1!2,% 0,1$ Ab
21 A 661 )6$ 20,10 21,$0 0,21! 0,110 121,1 11%$,2 0,11 Ab
26 A 16) )1) 5,56 6,!6 0,116 0,110 1%%,2 11)1,0 0,)0 Ab
!0 - 660 1!0$ 5,16 1,!6 0,$50 1,11) 102,2 5$6,$ 0,52 0,$0
!1 A 110) 1!5 $,!6 $,11 0,222 0,151 662,1 1102,2 0,10 Ab
!2 A 61! 101! 5,56 0,!6 1,522 1,%51 )%1,0 %)!,% 0,5% 0,$1
!! - 1262 %21 5,!6 1,%6 0,2$2 0,15% 5!6,0 $1$,$ 0,12 0,$%
!$ A 1016 11!2 25,00 11,$! 0,5%$ 0,%55 $21,% $)1,0 0,)% 0,$1
!5 - )$! 550 1,55 1,!6 0,210 0,110 )51,% 60!,0 0,11 Ab
!% - 11$% 120 5,56 !,!! 0,225 0,!)% 5%%,2 $0$,$ 0,)) 0,5!
!) A 10%6 561 0,%1 1,!6 0,111 0,110 10),0 6)1,% 0,%1 Ab
!1 A 102! )5% 5,16 1),12 0,221 0,110 %%5,1 662,% 0,1$ Ab
!6 - 615 %)6 1,$) 2!,11 0,210 0,112 %21,0 6$6,$ 0,1) Ab
$0 A 62) 15% 5,!6 6,$! 0,2$% 0,120 )!6,0 61%,1 0,%6 Ab
$1 - 6%$ $%2 ),16 6,%0 0,121 0,110 11$,$ 660,1 0,)) Ab
$2 - 1011 121) 5,$2 2,11 0,110 1,)$% %5$,% $)%,0 0,)1 0,51
$! - 6)2 11$$ $,$0 0,!6 0,122 0,$5$ 565,% 511,% 0,%$ 0,$%
$$ A )%$ )!1 5,!6 1%,02 0,2$$ 0,110 15$,% 650,2 0,1! Ab
$5 - 6)0 %)0 5,!6 6,$! 0,222 0,126 16!,$ 6)%,$ 0,%! Ab
$% - 600 )6$ 1!,!1 15,11 0,11$ 0,122 %!$,% 66!,$ 0,)5 Ab
$) A 1$05 1!$$ !,22 1,!6 0,1)6 0,111 1121,$ 622,1 0,%0 0,$1
$1 A 65% 1%2 ),)6 10,!6 0,161 0,112 6%5,0 11!),2 0,10 Ab
$6 A 15$ 105! 2,56 2,!6 0,2$$ 0,%$! 152,$ )11,% 0,%1 0,$5
50 - 11$% 1%6) !,%1 2,%1 1,250 1,55$ 111%,$ 52!,2 0,%2 0,!!
51 - %$6 %$5 1,11 1),%2 0,11% 0,110 111,$ 1151,% 0,)! Ab
52 A 1000 125 1,!0 !,11 0,210 0,111 601,0 110),2 0,%2 Ab
5! - 110! 12$$ $,50 2,6) 0,)55 1,!%) 516,2 5%!,$ 0,)2 0,)$
5$ A 1%21 1$1% $,20 1,06 0,2%% 0,$2% 5)%,$ 5%1,2 0,%1 0,$)
55 - 611 1$2) 22,00 10,00 0,1!0 1,$12 )$$,% %1%,0 0,5) 0,52
5% - )10 %56 1!,6% 11,!6 0,2$1 0,110 )!$,% 606,$ 0,)5 Ab
5) A 6$! 1202 2,%2 1,%2 0,2$$ 0,$!2 %%$,% %)2,$ 0,%2 0,$5
51 A 1202 11)5 2,51 2,!6 0,!20 0,!22 556,0 5$1,$ 0,)$ 0,5)
56 A )!2 1006 5,)% !,51 0,$22 0,110 10$,% %66,$ 0,%) 0,$1
%0 - %%6 12%1 ),!5 5,)6 0,1%0 1,211 )05,2 %10,2 0,%! 0,!)
>eteranganA AA kelompok plasebo -A kelompok "itamin :
AbA Abortus
1)1
Has!l Pemer!ksaan %(D
N+ 6!tam!n 1 Plase*+ #eterangan
La*. a<al La*. akh!r La*. a<al La*. akh!r
01 6!6 10!6
02 1121 1%$2
0! 15) 1!15
0$ 651 1!%$
05 6%$ 11)6
0% 6%! 656 Abortus
0) 1)6 1!!)
01 1516 1$1$
06 6!1 1001
10 11)1 1$!1
11 101) 101!
12 662 1%05
1! 1152 11%)
1$ 11$6 1$00
15 10)6 12%%
1% 1102 61! Abortus
1) 110$ 10)2
11 6)6 1!15
16 12%0 1210
20 )6) 1$51
21 6!0 612 Abortus
22 11%) 1011
2! 1!%1 1!6
2$ 6)0 111 Abortus
25 1215 6$2
2% 10)) 662 Abortus
2) 1015 $%0 Abortus
21 661 )6$ Abortus
26 16) )1) Abortus
!0 660 1!0$
!1 110) 1!5 Abortus
!2 61! 101!
!! 1262 %21
!$ 1016 11!2
!5 )$! 550 Abortus
!% 11$% 120
!) 10%6 561 Abortus
!1 102! )5% Abortus
!6 615 %)6 Abortus
$0 62) 15% Abortus
$1 6%$ $%2 Abortus
$2 1011 121)
$! 6)2 11$$
$$ )%$ )!1 Abortus
$5 6)0 %)0 Abortus
$% 600 )6$ Abortus
$) 1$05 1!$$
$1 65% 1%2 Abortus
$6 15$ 105!
50 11$% 1%6)
51 %$6 %$5 Abortus
52 1000 125 Abortus
5! 110! 12$$
5$ 1%21 1$1%
55 611 1$2)
5% )10 %56 Abortus
5) 6$! 1202
51 1202 11)5
56 )!2 1006
%0 %%6 12%1
1)6
Has!l Pemer!ksaan I.N
N+ 6!tam!n 1 Plase*+ #eterangan
La*. a<al La*. akh!r La*. a<al La*. akh!r
01 10,%2 !,0!
02 2,51 2,26
0! %,!6 2,11
0$ 2,%1 2,!6
05 21,26 11,16
0% 5,0$ 12,$% Abortus
0) !,!2 0,$6
01 16,02 1!,61
06 2,2! 0,11
10 $,2$ 1,$6
11 !,16 2,1$
12 10,!6 1,$5
1! 1,$6 1,22
1$ 1,$) 1,1%
15 %,1) !,2%
1% %,1% 1),5) Abortus
1) 5,56 0,!6
11 25,00 11,$1
16 !,51 !,!6
20 5,56 1,$6
21 5,!6 5,56 Abortus
22 5,56 !,!6
2! $,2) 0,!6
2$ 5,56 1,!6 Abortus
25 1,2% 0,6)
2% 1!,)1 11,2$ Abortus
2) 1,15 1,16 Abortus
21 20,10 21,$0 Abortus
26 5,56 6,!6 Abortus
!0 5,16 1,!6
!1 $,!6 $,11 Abortus
!2 5,56 0,!6
!! 5,!6 1,%6
!$ 25,00 11,$!
!5 1,55 1,!6 Abortus
!% 5,56 !,!!
!) 0,%1 1,!6 Abortus
!1 5,16 1),12 Abortus
!6 1,$) 2!,11 Abortus
$0 5,!6 6,$! Abortus
$1 ),16 6,%0 Abortus
$2 5,$2 2,11
$! $,$0 0,!6
$$ 5,!6 1%,02 Abortus
$5 5,!6 6,$! Abortus
$% 1!,!1 15,11 Abortus
$) !,22 1,!6
$1 ),)6 10,!6 Abortus
$6 2,56 2,!6
50 !,%1 2,%1
51 1,11 1),%2 Abortus
52 1,!0 !,11 Abortus
5! $,50 2,6)
5$ $,20 1,06
55 22,00 10,00
5% 1!,6% 11,!6 Abortus
5) 2,%2 1,%2
51 2,51 2,!6
56 5,)% !,51
%0 ),!5 5,)6
110
Has!l Pemer!ksaan IL,"
N+ 6!tam!n 1 Plase*+ #eterangan
La*. a<al La*. akh!r La*. a<al La*. akh!r
01 0,11$ 0,2$$
02 0,110 0,210
0! 0,125 0,!)!
0$ 1,226 1.!22
05 0,1%5 0,2)5
0% 0,2)5 0,1$$ Abortus
0) 0,120 0,2$$
01 0,110 0,160
06 0,110 0,210
10 0,210 0,$5)
11 0,!2% 0,$1%
12 0,110 0,222
1! 0,120 0,262
1$ 0,!16 0,!!1
15 0,!2% 0,!)!
1% 0,2!2 0,110 Abortus
1) 0,1$0 0,25%
11 0,251 0,!22
16 0,125 0,2%0
20 0,!56 0,5!0
21 0,22% 0,20! Abortus
22 0,110 0,215
2! 0,110 0,220
2$ 0,211 0,120 Abortus
25 0,500 0,552
2% 0,210 0,110 Abortus
2) 0,1%5 0,15$ Abortus
21 0,21! 0,110 Abortus
26 0,116 0,110 Abortus
!0 0,$50 1,11)
!1 0,222 0,151 Abortus
!2 1,522 1,%51
!! 0,2$2 0,15%
!$ 0,5%$ 0,%55
!5 0,210 0,110 Abortus
!% 0,225 0,!)%
!) 0,111 0,110 Abortus
!1 0,221 0,110 Abortus
!6 0,210 0,112 Abortus
$0 0,2$% 0,120 Abortus
$1 0,121 0,110 Abortus
$2 0,110 1,)$%
$! 0,122 0,$5$
$$ 0,2$$ 0,110 Abortus
$5 0,222 0,126 Abortus
$% 0,11$ 0,122 Abortus
$) 0,1)6 0,111
$1 0,161 0,112 Abortus
$6 0,2$$ 0,%$!
50 1,250 1,55$
51 0,11% 0,110 Abortus
52 0,210 0,111 Abortus
5! 0,)55 1,!%)
5$ 0,2%% 0,$2%
55 0,1!0 1,$12
5% 0,2$1 0,110 Abortus
5) 0,2$$ 0,$!2
51 0,!20 0,!22
56 0,$22 0,110
%0 0,1%0 1,211
111
Has!l Pemer!ksaan 61AM,1
N+ 6!tam!n 1 Plase*+ #eterangan
La*. a<al La*. akh!r La*. a<al La*. akh!r
01 66!,2 1%1,2
02 )11,$ 5)1,%
0! 116,1 $$!,2
0$ !$1,% 116,$
05 1165,2 6)0,0
0% 10$,0 6%0,2 Abortus
0) %2%,1 5$1,0
01 %6!,2 %1),0
06 55!,% 5!%,1
10 615,% ))5,$
11 %11,2 %05,0
12 56),0 5)$,$
1! %2%,1 502,2
1$ 11%,1 5%$,2
15 5$),$ $6),1
1% 10$,0 615,1 Abortus
1) %1),0 %!$,1
11 620,% )10,1
16 15%,2 5$!,2
20 515,2 $06,$
21 %1),0 62$,$ Abortus
22 5)$,$ 5!$,%
2! !5$,2 502,2
2$ 152,$ 661,2 Abortus
25 111,% %)6,$
2% 102,2 6!%,1 Abortus
2) $)),1 1!2,% Abortus
21 121,1 11%$,2 Abortus
26 1%%,2 11)1,0 Abortus
!0 102,2 5$6,$
!1 662,1 1102,2 Abortus
!2 )%1,0 %)!,%
!! 5!6,0 $1$,$
!$ $21,% $)1,0
!5 )51,% 60!,0 Abortus
!% 5%%,2 $0$,$
!) 10),0 6)1,% Abortus
!1 %%5,1 662,% Abortus
!6 %21,0 6$6,$ Abortus
$0 )!6,0 61%,1 Abortus
$1 11$,$ 660,1 Abortus
$2 %5$,% $)%,0
$! 565,% 511,%
$$ 15$,% 650,2 Abortus
$5 16!,$ 6)%,$ Abortus
$% %!$,% 66!,$ Abortus
$) 1121,$ 622,1
$1 6%5,0 11!),2 Abortus
$6 152,$ )11,%
50 111%,$ 52!,2
51 111,$ 1151,% Abortus
52 601,0 110),2 Abortus
5! 516,2 5%!,$
5$ 5)%,$ 5%1,2
55 )$$,% %1%,0
5% )!$,% 606,$ Abortus
5) %%$,% %)2,$
51 556,0 5$1,$
56 10$,% %66,$
%0 )05,2 %10,2
112
Has!l Pemer!ksaan RI A%D
N+ 6!tam!n 1 Plase*+ #eterangan
Pem. a<al Pem. akh!r Pem. a<al Pem. akh!r
01 0,$% 0,!$
02 0,5! 0,$1
0! 0,5! 0,!%
0$ 0,)1 0,56
05 0,)) 0,$5
0% 0,)1 Abortus
0) 0,)2 0,%1
01 0,%1 0,$5
06 0,55 0,$)
10 0,55 0,5%
11 0,%6 0,$%
12 0,%1 0,51
1! 0,%$ 0,$0
1$ 0,%0 0,$1
15 0,%! 0,55
1% 0,)) Abortus
1) 0,%2 0,5%
11 0,%6 0,55
16 0,10 0,$$
20 0,)0 0,%1
21 0,%) Abortus
22 0,)! 0,50
2! 0,$5 0,!%
2$ 0,)% Abortus
25 0,)% 0,$1
2% 0,)! Abortus
2) 0,1$ Abortus
21 0,11 Abortus
26 0,)0 Abortus
!0 0,52 0,$0
!1 0,10 Abortus
!2 0,5% 0,$1
!! 0,12 0,$%
!$ 0,)% 0,$1
!5 0,11 Abortus
!% 0,)) 0,5!
!) 0,%1 Abortus
!1 0,1$ Abortus
!6 0,1) Abortus
$0 0,%6 Abortus
$1 0,)) Abortus
$2 0,)1 0,51
$! 0,%$ 0,$%
$$ 0,1! Abortus
$5 0,%! Abortus
$% 0,)5 Abortus
$) 0,%0 0,$1
$1 0,10 Abortus
$6 0,%1 0,$5
50 0,%2 0,!!
51 0,)! Abortus
52 0,%2 Abortus
5! 0,)2 0,)$
5$ 0,%1 0,$)
55 0,5) 0,52
5% 0,)5 Abortus
5) 0,%2 0,$5
51 0,)$ 0,5)
56 0,%) 0,$1
%0 0,%! 0,!)
11!
Data has!l La*+rat+r!um 2 0n = 132
N+ I.N 0)gDmL2 IL," 0)gDmL2 6I1AM,1 0ngDmL2
A<al Akh!r A<al Akh!r A<al Akh!r
01 10,51 !,00 0,110 0,2$0 662,1 1%$,$
02 2,%0 2,!0 0,110 0,210 )10,$ 5)1,2
05 21,20 11,)6 0,1%0 0,2)0 1116,$ 612,0
0) !,!% 0,52 0,120 0,2$0 %!0,% 550,0
06 2,25 0,15 0,110 0,210 5%0,2 5$1,%
11 !,20 2,11 0,!20 0,$10 %)$,2 %00,0
1! 1,50 1,25 0,120 0,260 %2%,2 511,$
15 %,15 !,2$ 0,!20 0,!)0 550,$ $66,%
1) 5,50 0,!1 0,1$0 0,250 %10,0 %2$,%
16 !,55 !,$! 0,120 0,2%0 151,1 5$0,2
21 5,!5 5,%5 0,220 0,200 %)),0 61%,2
2! $,20 0,!5 0,110 0,220 !5%,% 50$,%
25 1,20 0,62 0,500 0,550 160,% %12,%
2) 1,10 1,10 0,1%0 0,150 $)2,2 121,2
26 5,%5 6,$0 0,160 0,110 1%0,0 11%1,0
11$
Per*and!ngan has!l la*+rat+r!um 1 dengan la*+rat+r!um 2 0n = 132
6ar!a*el La* 1 La* 2 rs #emaknaan
(89 3pg@m=4 a&al
G 3SD4
*entang
<edian
5,%$ 35,054
1,1521,26
$,2)
5,%235,024
1,1021,20
$,20
0,661
p<0,001
5 0 H 1,5!$
p H 0,125
(89 3pg@m=4 akhir
G 3SD4
*entang
<edian
!,%13!,%)4
0,!611,16
2,26
!,563!,%54
0,!111,)6
2,!
0,666
p<0,001
5 0 H 0,511
p H 0,%06
(=$ 3pg@m=4 a&al
G 3SD4
*entang
<edian
0,1130,114
0,110,50
0,1$
0,1130,114
0,110,50
0,1$
1,0
p<0,001
5 0 H 0,00
p H 1,0
(=$ 3pg@m=4 akhir
G 3SD4
*entang
<edian
0,2)30,114
0,110,55
0,2$
0,2)30,114
0,110,55
0,2$
1,0
p<0,001
5 0 H 1,00
p H 0,!1)
;:A<1 3ng@m=4 a&al
G 3SD4
*entang
<edian
)1%,1$321!,)%4
!5$,21165,2
%1)
)1$,1!3212,2$4
!5%1116,$
%))
0,660
p<0,001
5 0 H 1,$))
p H 0,1$0
;:A<1 3ng@m=4 akhir
G 3SD4
*entang
<edian
%62,$13206,$54
$6),111)1,0
%05
%62,!13201,!14
$66,%11%1,0
%00
0,611
p<0,001
5 0 H 0,22)
p H 0,120
>eteranganA 5
0
H +ji 0ilcoGon
r
s
H >oefisien korelasi 7an& Spearman
115
Lam)!ran 5

PERHITUNGAN STATISTIK
Data awal (kasus abortus imminens)
- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

SD!" #$%&" #'&2 #'"&
"& #"(% #(($
SD!2 #%)() #'(& #'"%

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
#"("2 #'.% #'2' , &#%' "$ #'''
)(/ C0 (#"'.1 #")() ,
- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

S2D!" "'%)#%333 2'"#(%2 3$#&)$
3' #($( #''"
S2D!2 "'.(#(''' 3'2#%%' ((#2".

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-3$#'$$& 2("#(3" %(#)23 , -#&) 2) #%3)
)(/ C0 (-"3'#'"21 (&#.&)) ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

V0CM!" &%)#2.$& "&2#2%2 3"#%%&
3' #&.% #'''
V0CM!2 &).#2&33 2%&#%)$ %(#".$

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-%.#).$& "((#2'3 2.#33$ , -"#&3 2) #')%
11%
)(/ C0 (-"'$#)(%1 .#).") ,
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
09%!"
wit6 09%!2
Mean 7ank Cases
"%#&& "3 - 7anks (09%!2 98 09%!")
"$#'$ "& : 7anks (09%!2 ;8 09%!")
' 8ies (09%!2 E< 09%!")
--
3' 8otal
= > -#.33' 2-8ailed * > #%'%.
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
0N?!"
wit6 0N?!2
Mean 7ank Cases
"%#'' "& - 7anks (0N?!2 98 0N?!")
"&#%$ "3 : 7anks (0N?!2 ;8 0N?!")
' 8ies (0N?!2 E< 0N?!")
--
3' 8otal
= > -#""3" 2-8ailed * > #)'))
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
V0CM!" wit6 V0CM!2
Mean 7ank Cases
""#'' "( - 7anks (V0CM!2 98 V0CM!")
2'#'' "( : 7anks (V0CM!2 ;8 V0CM!")
' 8ies (V0CM!2 E< V0CM!")
--
3' 8otal
= > -"#3..% 2-8ailed * > #"$('
- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

SD!" #$(.' #""3 #'2(
2' #%)) #'2(
SD!2 #%&"' #"'2 #'23

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
#".&' #"'. #'2% , &#&( ") #'''
)(/ C0 (#"3$1 #23.) ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

S2D!" "''2#($$& "&)#(&% 32#&.$
3' #'$3 #&%"
S2D!2 "'%2#)333 3%$#2)2 $3#22%

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-%'#3$$& 3&)#)3" $)#3$$ , -#(. 2) #($(
)(/ C0 (-".2#2$)1 "'"#(3() ,
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
09%!" wit6 09%!2
Mean 7ank Cases
&#($ ) - 7anks (09%!2 98 09%!")
".#)' 2" : 7anks (09%!2 ;8 09%!")
11)
' 8ies (09%!2 E< 09%!")
--
3' 8otal
= > -3#3.3( 2-8ailed * > #'''&
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
0N?!" wit6 0N?!2
Mean 7ank Cases
"3#&$ 2" - 7anks (0N?!2 98 0N?!")
")#($ ) : 7anks (0N?!2 ;8 0N?!")
' 8ies (0N?!2 E< 0N?!")
--
3' 8otal
= > -"#"$2" 2-8ailed * > #2%(2
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
V0CM!" wit6 V0CM!2
Mean 7ank Cases
"3#&( 2' - 7anks (V0CM!2 98 V0CM!")
")#'' "' : 7anks (V0CM!2 ;8 V0CM!")
' 8ies (V0CM!2 E< V0CM!")
--
3' 8otal
= > -#.&%2 2-8ailed * > #3.2'

@elompok A
t-tests for independent samples of B278CS
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

bortus "3 2"#2%33 "#.$& #(".


8idak abortus "& 2"#.3)) 2#''" #%.(

Mean Differen+e > -#()$$
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #'") *> #.)'
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -#.3 2. #%"2 #&"& (-2#'$(1 #.&2)
CneEual -#.% 2$#.2 #%'. #&"' (-2#'(31 #.$')

@elompok BA
t-tests for independent samples of B278CS
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

bortus ) 2"#%2'$ "#(.& #(2)
8idak abortus 2" 2"#&23( 2#"&. #%&(

Mean Differen+e > -#3'2)
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> 2#(() *> #"2"
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -#3. 2. #&"' #.'. (-"#)(&1 "#3(2)
CneEual -#%3 2'#&2 #$&( #&"" (-"#&.21 "#"&&)


@elompok A
t-tests for independent samples of B278CS
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!2
bortus "3 .2%#%$"( "'$#&%2 2)#$'(
111
8idak abortus "& "2.(#""&$ 2%%#'"" ()#"."

Mean Differen+e > -%$'#$($"
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> &#(&) *> #'"'
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -$#3% 2. #''' &2#$&% (-$')#((&1 -3""#&($)
CneEual -$#)$ 23#'. #''' $$#"&3 (-()&#(&)1 -323#&33)

@elompok B A
t-tests for independent samples of B278CS
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!2
bortus ) $((#&&&. "$3#(). (%#(33
8idak abortus 2" "2'.#.(&" 2(.#%)2 ($#%'.

Mean Differen+e > -((3#'&)%
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> "#.2( *> #".&
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -(#)' 2. #''' )3#&(3 (-&%(#"$.1 -3$'#))")
CneEual -&#'( 23#(" #''' &.#%(. (-&"(#'%&1 -3)"#""2)

- - - - - Mann-46itneF C - 4il+o5on 7ank Sum 4 8est

nalisis pada kelompok abortus A
t-tests for independent samples of @E9
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!2
"3 .2%#%$"( "'$#&%2 2)#$'(
B ) $((#&&&. "$3#(). (%#(33

Mean Differen+e > "$.#$.3.
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #$)( *> #%"%
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual 2#)% 2' #''. (&#%33 (%.#.(21 2..#("()
CneEual 2#&2 "2#$. #'". $2#'(" (3%#()&1 3'2#&&')

nalisis pada kelompok Fang tidak abortus A
-------------------------------------------
t-tests for independent samples of @E9
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!2
"& "2.(#""&$ 2%%#'"" ()#"."
B 2" "2'.#.(&" 2(.#%)2 ($#%'.

Mean Differen+e > &$#2$'(
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #''" *> #).2
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual #)3 3$ #3$' .2#2$. (-)'#$2$1 2%3#"%&)
CneEual #)3 3(#"' #3(& ."#&(& (-.)#&(%1 2%2#2&()

116
@elompok A
-------------
9MD7G 9ama perdara6an (6ari)
BF B278CS ' bortus
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

9MD7G 9ama perdara6an (6ari)
bortus "3 &#3.%$ "#.(' #("3
8idak abortus "& %#3(2) "#&3' #%2'

Mean Differen+e > 3#'3"&
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #'3. *> #.%&
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual %#$2 2. #''' #$(& ("#$.$1 %#3&&)
CneEual %#(& 2(#'2 #''' #$$3 ("#$$$1 %#3)&)


@elompok B A
9MD7G 9ama perdara6an (6ari)
BF B278CS ' bortus
t-tests for independent samples of B278CS
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

9MD7G 9ama perdara6an (6ari)
bortus ) .#$$$& "#22( #%'.
8idak abortus 2" %#$")' 2#$3$ #(&(

Mean Differen+e > %#'%&$
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> &#%(& *> #'""
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual %#3. 2. #''' #)2( (2#"(21 (#)%3)
CneEual (#&% 2&#$& #''' #&'( (2#$'21 (#%)3)

Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

CS0
H>'#(( (( 2(#).". 3#)&' #(3(
I'#(( ( 2.#$''' 2#)$$ "#32&

Mean Differen+e > -2#$".2
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> "#$2$ *> #2'&
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -"#%3 (. #"(& "#.2$ (-$#2&%1 "#'3&)
CneEual -"#.3 (#%' #"22 "#%3" (-$#2)&1 "#'$')

Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

CS0GM9 usia ke6amilan (minggu)
H>'#(( (( "'#.(%( #.&' #""&
I'#(( ( "'#$''' #.)% #%''

Mean Differen+e > #2(%(
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #"'% *> #&%.
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual #$3 (. #(3% #%'& (-#($'1 "#'$))
CneEual #$" %#&" #(&' #%"& (-#."&1 "#32$)
160

t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual #2% (. #.'. #)". (-"#$"31 2#'$2)
CneEual #2% %#&3 #.2' #)3% (-2#"&&1 2#$2$)

Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!"
H>'#(( (( "'23#3$3$ ")"#()( 2(#.3(
I'#(( ( "'((#'''' "))#('$ .)#222

Mean Differen+e > -3"#$3$%
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #'%2 *> #.3.
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -#3( (. #&2$ .)#&(3 (-2""#33.1 "%.#'$$)
CneEual -#3% %#&' #&%. )2#..& (-2&'#%.$1 2'&#2"3)

t-tests for independent samples of 70!" resistensi inde5
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!2
H>'#(( (( "'%)#3%(( 323#"&' %3#(&$
I'#(( ( "22&#.''' 3'%#.&' "3$#3%2

Mean Differen+e > -"&.#%(%(
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #"&" *> #$."
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -"#") (. #2%' "('#3&. (-%&)#(3.1 "22#$2))
CneEual -"#2( %#.$ #2$) "%3#"3$ (-(%$#("&1 ".)#$'.)


t-tests for independent samples of 70!2 resistensi inde5
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

CS0
H>'#(( ) 2$#"""" 3#.22 "#2&%
I'#(( 2. 2$#3(&" %#%2% #.3$

Mean Differen+e > -#2%$'
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #$.& *> #%"3
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -#"( 3( #..2 "#$%( (-3#(.&1 3#')()
CneEual -#"$ "(#(2 #.&% "#(2% (-3#%&&1 2#).()

Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

CS0GM9 usia ke6amilan (minggu)
H>'#(( ) ""#"""" #&.2 #2$"
I'#(( 2. "'#$'&" #.&( #"$(

Mean Differen+e > #('%'
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> "#(&& *> #2".
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

161
EEual "#(% 3( #"33 #32& (-#"$"1 "#"$))
CneEual "#$3 "(#'2 #"23 #3') (-#"(%1 "#"$2)

t-tests for independent samples of 70!2 resistensi inde5
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

BM0
H>'#(( ) 2"#32() "#(3$ #("2
I'#(( 2. 2"#.'&. 2#"." #%"2

Mean Differen+e > -#%.")
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> 2#22$ *> #"%(
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -#$" 3( #(%% #&.$ (-2#'&.1 "#""%)
CneEual -#&3 ")#32 #%&2 #$(& (-"#.(.1 #.)%)

Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!"
H>'#(( ) "'3"#'''' "3$#&3' %(#(&&
I'#(( 2. "'.3#.2"% 23"#2)2 %3#&"'

Mean Differen+e > -(2#.2"%
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> 2#'%% *> #"$2
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual -#$( 3( #(23 ."#&&2 (-2".#.$$1 ""3#223)
CneEual -#.% 23#(& #%"" $3#"%) (-".3#".(1 &&#(%3)

t-tests for independent samples of 70!2 resistensi inde5
Number
Variable of Cases Mean SD SE of Mean

S2D!2
H>'#(( ) "3&3#((($ 2")#$$( &3#222
I'#(( 2. "2'3#&"%3 2(%#)$) %.#".(

Mean Differen+e > "$)#.%"3
9e-eneDs 8est for EEualitF of Varian+esA ?> #)&" *> #33"
t-test for EEualitF of Means )(/
Varian+es t--alue df 2-8ail Sig SE of Diff C0 for Diff

EEual "#&) 3( #'.2 )%#&&& (-22#$""1 3$2#2)3)
CneEual "#)% "(#($ #'&" .&#$(% (-"$#'221 3((#&'()

07!09%" bF B278CS
B278CS *age " of "
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!09%" JJK
' , 22 , 2" , %3
I>'#2." , "''#' , ((#3 , &"#&
LJK
" , , "& , "&
H'#2." , , %%#& , 2.#3
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
*earson "3#&33"& " #'''2"
ContinuitF Corre+tion ""#$".3( " #'''$(
9ikeli6ood 7atio ")#2&"(3 " #''''"
Mantel-GaensOel test for "3#('%2. " #'''2%
162
linear asso+iation
7!09%2 bF B278CS
B278CS *age " of "
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!09%2 JJK
' , 22 , " , 23
I>'#2'3 , "''#' , 2#$ , 3.#3
LJK
" , , 3& , 3&
H'#2'3 , , )&#% , $"#&
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
7!0N?" bF B278CS
B278CS *age " of "
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!0N?" JJK
' , "& , 22 , 3)
H%#( , &&#3 , (&#) , $(#'
LJK
" , ( , "$ , 2"
I>%#( , 22#& , %2#" , 3(#'
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
*earson 2#2))." " #"2)3)
ContinuitF Corre+tion "#(2$.) " #2"$(.
9ikeli6ood 7atio 2#3.3(2 " #"22$2
Mantel-GaensOel test for 2#2$"%. " #"32$3
linear asso+iation
7!0N?2 bF B278CS
B278CS *age " of "
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!0N?2 JJK
' , 22 , & , 2)
H3#(. , "''#' , ".#% , %.#3
LJK
" , , 3" , 3"
I>3#(. , , ."#$ , ("#&
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
*earson 3&#"32%) " #'''''
ContinuitF Corre+tion 33#)3&(( " #'''''
9ikeli6ood 7atio %$#.'%3. " #'''''
Mantel-GaensOel test for 3$#("3$" " #'''''
linear asso+iation
7!S2D" bF B278CS
B278CS *age " of "
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!S2D" JJK
' , 2' , ") , 3)
I>"'&& , )'#) , ('#' , $(#'
LJK
" , 2 , ") , 2"
H"'&& , )#" , ('#' , 3(#'
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
16!
*earson "'#2%)&( " #''"3&
ContinuitF Corre+tion .#(3'%2 " #''3%)
9ikeli6ood 7atio ""#$"'%2 " #'''$$
Mantel-GaensOel test for "'#'&.)2 " #''"('
linear asso+iation
7!S2D2 bF B278CS
B278CS *age " of "
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!S2D2 JJK
' , 22 , % , 2$
I>))2 , "''#' , "'#( , %3#3
LJK
" , , 3% , 3%
H))2 , , .)#( , ($#&
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
*earson %(#%2("' " #'''''
ContinuitF Corre+tion %"#.(%%( " #'''''
9ikeli6ood 7atio ($#(3%"3 " #'''''
Mantel-GaensOel test for %%#$$.'2 " #'''''
linear asso+iation
7!V0CM" bF B278CS
B278CS *age " of "
Count ,
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!V0CM" JJK
' , "& , "$ , 33
H&""#% , &&#3 , %2#" , ((#'
LJK
" , ( , 22 , 2&
I&""#% , 22#& , (&#) , %(#'
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
*earson $#)$2%( " #''.32
ContinuitF Corre+tion (#$"%'% " #'"&.2
9ikeli6ood 7atio &#2$$(. " #''&'2
Mantel-GaensOel test for $#.%$%" " #''...
linear asso+iation
7!V0CM2 bF B278CS
B278CS *age " of "
Count ,
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
7!V0CM2 JJK
' , 22 , % , 2$
H&..#$ , "''#' , "'#( , %3#3
LJK
" , , 3% , 3%
I>&..#$ , , .)#( , ($#&
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
*earson %(#%2("' " #'''''
ContinuitF Corre+tion %"#.(%%( " #'''''
9ikeli6ood 7atio ($#(3%"3 " #'''''
Mantel-GaensOel test for %%#$$.'2 " #'''''
linear asso+iation
70!" resistensi inde5 bF B278CS
B278CS *age " of "
Count ,
16$
Col *+t ,bortus 8idak ab
, ortus 7ow
, ', ", 8otal
70!" JJK
' , 22 , 33 , ((
H>'#(( , "''#' , .$#. , )"#&
LJK
" , , ( , (
I'#(( , , "3#2 , .#3
MN
Column 22 3. $'
8otal 3$#& $3#3 "''#'
C6i-SEuare Value D? Signifi+an+e
*earson 3#"(&.) " #'&(($
ContinuitF Corre+tion "#$&'2) " #")$22
9ikeli6ood 7atio %#.2&$( " #'2.'"
Mantel-GaensOel test for 3#"'(2$ " #'&.'%
linear asso+iation

Vit C : abortus A n>)
---------------------
SD!"
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
#&&$& Std Err #'2$' Min #$3'' Skewness -#3."&
Median #&&'' Varian+e #''$" Ma5 #..'' S E Skew #&"&"
(/ 8rim #&&)" Std De- #'&&) 7ange #2('' @urtosis #323.
)(/ C0 for Mean (#&"$.1 #.3$$) 0<7 #""(' S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)2&3 ) #%()(
@-S (9illiefors) #2''& ) H #2'''
09%!"
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
#")&$ Std Err #'"2. Min #"2"' Skewness -#.%"$
Median #2"'' Varian+e #''"( Ma5 #2%.' S E Skew #&"&"
(/ 8rim #"))' Std De- #'3.( 7ange #"2&' @urtosis #&(3(
)(/ C0 for Mean (#"$&)1 #22&2) 0<7 #'(2( S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)("' ) #$&3%
@-S (9illiefors) #')(2 ) H #2'''

09%!2
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
#"".$ Std Err #''(' Min #""'' Skewness 2#'3&(
Median #""'' Varian+e #'''2 Ma5 #"(%' S E Skew #&"&"
(/ 8rim #""&" Std De- #'"%) 7ange #'%%' @urtosis %#"2&3
)(/ C0 for Mean (#"'&"1 #"3'') 0<7 #'"(( S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #$&'' ) I #'"''
@-S (9illiefors) #33$2 ) #''%"

0N?!"
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
&#%)($ Std Err "#%.$% Min "#"('' Skewness -#''.)
Median &#.)'' Varian+e ")#..%' Ma5 "3#)$'' S E Skew #&"&"
(/ 8rim &#%.)' Std De- %#%()" 7ange "2#."'' @urtosis -#$(2%
)(/ C0 for Mean (%#'$.'1 "'#)232) 0<7 &#$2(' S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)3&$ ) #(2&.
@-S (9illiefors) #"(() ) H #2'''
0N?!2
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
"%#2%22 Std Err "#&&%) Min .#3)'' Skewness #2)&.
Median "(#".'' Varian+e 2.#3(') Ma5 23#""'' S E Skew #&"&"
165
(/ 8rim "%#'&%& Std De- (#32%$ 7ange "%#&2'' @urtosis -"#32)&
)(/ C0 for Mean ("'#"%)%1 ".#33(') 0<7 .#.%(' S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #..2& ) #22%.
@-S (9illiefors) #2(2. ) #"'"3
V0CM!"
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
&3(#(333 Std Err %(#%3%% Min %&&#.''' Skewness -#&3"3
Median &("#$''' Varian+e ".(&.#(. Ma5 .)3#%''' S E Skew #&"&"
(/ 8rim &%"#'."( Std De- "3$#3'33 7ange %"(#$''' @urtosis -#'"$3
)(/ C0 for Mean ($3'#&$"%1 .%'#3'(3) 0<7 223#$''' S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)3&. ) #(2))
@-S (9illiefors) #"23% ) H #2'''
V0CM!2
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
)$$#$''' Std Err 2)#.$"" Min .32#$''' Skewness #)(32
Median )&$#%''' Varian+e .'2(#"(' Ma5 ""(.#$'' S E Skew #&"&"
(/ 8rim )$3#3&&. Std De- .)#(.32 7ange 32$#'''' @urtosis 2#(3.$
)(/ C0 for Mean (.)&#&%'31 "'3(#%$') 0<7 .(#)''' S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)''' ) #3"(&
@-S (9illiefors) #2&"3 ) #'(('
S2D!"
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA
Mean )''#...) Std Err %.#)"&) Min $%)#'''' Skewness -#((3&
Median )$%#'''' Varian+e 2"(3$#$" Ma5 ""'2#''' S E Skew #&"&"
(/ 8rim )'3#&')) Std De- "%$#&(3$ 7ange %(3#'''' @urtosis -#$&'$
)(/ C0 for Mean (&..#'.%"1 "'"3#$)%) 0<7 23.#(''' S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)3)& ) #(('.
@-S (9illiefors) #"2.3 ) H #2'''
S2D!2
Valid +asesA )#' Missing +asesA #' *er+ent missingA Mean
$((#&&&. Std Err (%#(32. Min %$'#'''' Skewness #&)&(
Median $()#'''' Varian+e 2$&$%#%% Ma5 ).3#'''' S E Skew #&"&"
(/ 8rim $%.#%&(3 Std De- "$3#().% 7ange (23#'''' @urtosis #)&($
)(/ C0 for Mean ((3'#'2%)1 &."#(3'&) 0<7 23'#(''' S E @urt "#3))&
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)"." ) #%""3
@-S (9illiefors) #22"3 ) H #2'''

- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

SD!
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of
Mean

09%!" #")&$ #'3) #'"3
) -#2%' #(3%
09%!2 #"".$ #'"( #''(

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
#'&)' #'%( #'"( , (#32 . #''"
)(/ C0 (#'%(1 #""3) ,
16%
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

0N?!" &#%)($ %#%() "#%.$
) #$3( #'$$
0N?!2 "%#2%22 (#32( "#&&(

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-$#&%$& %#2(( "#%". , -%#&$ . #''"
)(/ C0 (-"'#'".1 -3#%&() ,
- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

S2D!" )''#...) "%$#&(% %.#)".
) #2&$ #%&2
S2D!2 $((#&&&. "$3#(). (%#(33

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
2%(#"""" ".&#"$& $2#3.) , 3#)3 . #''%
)(/ C0 ("'"#2'"1 3.)#'2") ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

V0CM!" &3(#(333 "3$#3'3 %(#%3%
) #($( #""3
V0CM!2 )$$#$''' .)#(.3 2)#.$"

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-23"#'$& ""3#"%( 3&#&"( , -$#"3 . #'''
)(/ C0 (-3".#'$21 -"%%#'&") ,

- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
09%!"
wit6 09%!2
Mean 7ank Cases
(#'' ) - 7anks (09%!2 98 09%!")
#'' ' : 7anks (09%!2 ;8 09%!")
' 8ies (09%!2 E< 09%!")
-
) 8otal
= > -2#$$($ 2-8ailed * > #''&&
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
0N?!"
wit6 0N?!2
Mean 7ank Cases
#'' ' - 7anks (0N?!2 98 0N?!")
(#'' ) : 7anks (0N?!2 ;8 0N?!")
' 8ies (0N?!2 E< 0N?!")
-
) 8otal
= > -2#$$($ 2-8ailed * > #''&&
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
S2D!"
wit6 S2D!2
16)
Mean 7ank Cases
(#'' ) - 7anks (S2D!2 98 S2D!")
#'' ' : 7anks (S2D!2 ;8 S2D!")
' 8ies (S2D!2 E< S2D!")
-
) 8otal
= > -2#$$($ 2-8ailed * > #''&&
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
V0CM!"
wit6 V0CM!2
Mean 7ank Cases
#'' ' - 7anks (V0CM!2 98 V0CM!")
(#'' ) : 7anks (V0CM!2 ;8 V0CM!")
' 8ies (V0CM!2 E< V0CM!")
-
) 8otal
= > -2#$$($ 2-8ailed * > #''&&

Vit C : tidak abortus A (n>2")
------------------------------
SD!"
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #$(&" Std Err #'2%' Min #%('' Skewness -#3($(
Median #$%'' Varian+e #'"2" Ma5 #.2'' S E Skew #('"2
(/ 8rim #$()$ Std De- #"')) 7ange #3&'' @urtosis -#&)"%
)(/ C0 for Mean (#$'&"1 #&'&2) 0<7 #".'' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)(%) 2" #%%(3
@-S (9illiefors) #'.(. 2" H #2'''
09%!"
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #3.2& Std Err #'&2' Min #""'' Skewness "#2(%%
Median #2%2' Varian+e #"')' Ma5 "#2('' S E Skew #('"2
(/ 8rim #3('& Std De- #33'" 7ange "#"%'' @urtosis #&&("
)(/ C0 for Mean (#232(1 #(33') 0<7 #('$( S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #.'.$ 2" I #'"''
@-S (9illiefors) #")(3 2" #'3((
09%!2
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #$.3" Std Err #""3% Min #22'' Skewness #)2$3
Median #%(%' Varian+e #2$). Ma5 "#&%$' S E Skew #('"2
(/ 8rim #$('3 Std De- #(")( 7ange "#(2$' @urtosis -#&$'3
)(/ C0 for Mean (#%%$&1 #)")$) 0<7 #)&'' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #.'$3 2" I #'"''
@-S (9illiefors) #2$$3 2" #'''%
0N?!"
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean &#".&$ Std Err "#"$.% Min "#2$'' Skewness 2#'22.
Median (#()'' Varian+e 2.#$$.& Ma5 22#'''' S E Skew #('"2
(/ 8rim $#$)'. Std De- (#3(%3 7ange 2'#&%'' @urtosis 3#)'(.
)(/ C0 for Mean (%#&('%1 )#$2%)) 0<7 %#(%'' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #&%(% 2" I #'"''
@-S (9illiefors) #22() 2" #''$(
0N?!2
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean 2#.)%3 Std Err #$%)2 Min #3)'' Skewness 2#"&$3
Median 2#"%'' Varian+e .#.("& Ma5 ""#.)'' S E Skew #('"2
(/ 8rim 2#(3.& Std De- 2#)&(2 7ange ""#(''' @urtosis %#(3"(
161
)(/ C0 for Mean ("#(%''1 %#2%.$) 0<7 "#))'' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #&"$( 2" I #'"''
@-S (9illiefors) #2)"' 2" #'''"
S2D!"
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean "'%$#"%3 Std Err 3.#&2." Min $$)#'''' Skewness -#')3(
Median "'"&#''' Varian+e 3"%)&#"3 Ma5 "3$.#''' S E Skew #('"2
(/ 8rim "'%)#'&& Std De- "&&#%&%3 7ange $))#'''' @urtosis -#3"$&
)(/ C0 for Mean ()$(#3(&(1 ""2$#)2.) 0<7 22(#(''' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #).2( 2" #)%"3
@-S (9illiefors) #')$' 2" H #2'''

S2D!2
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean "2'.#.(& Std Err ($#%'&( Min $2.#'''' Skewness -#3$)$
Median "2%%#''' Varian+e $$.".#'3 Ma5 "$)&#''' S E Skew #('"2
(/ 8rim "2"3#&%3 Std De- 2(.#%)". 7ange "'$)#''' @urtosis #2.."
)(/ C0 for Mean ("')"#")31 "32$#(2") 0<7 3'&#(''' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)&.& 2" #.&%.
@-S (9illiefors) #'&23 2" H #2'''
V0CM!"
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean &3"#"%2) Std Err %%#))$2 Min 3(%#2''' Skewness #$3'"
Median $."#2''' Varian+e %2("&#&% Ma5 "")(#2'' S E Skew #('"2
(/ 8rim &2$#'.(& Std De- 2'$#").3 7ange .%"#'''' @urtosis #2%('
)(/ C0 for Mean ($3&#2.2(1 .2(#''32) 0<7 2&)#"''' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)((. 2" #%(%"
@-S (9illiefors) #"222 2" H #2'''
V0CM!2
Valid +asesA 2"#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean (&(#$")' Std Err 3'#%".% Min %'%#%''' Skewness "#(32&
Median (%3#2''' Varian+e ")%3'#.( Ma5 )&'#'''' S E Skew #('"2
(/ 8rim ($3#%&&2 Std De- "3)#3)%$ 7ange ($(#$''' @urtosis 2#(..3
)(/ C0 for Mean (("2#"$&%1 $3)#'&'&) 0<7 "%.#)''' S E @urt #)&")
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #.(() 2" I #'"''
@-S (9illiefors) #2"&. 2" #'"'(

- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

SD!" #$(&" #""' #'2%
2" #%). #'22
SD!2 #%$&$ #"'" #'22

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
#".)( #"'$ #'23 , .#2' 2' #'''
)(/ C0 (#"%"1 #23.) ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

09%!" #3.2& #33' #'&2
2" #)'. #'''
09%!2 #$.3" #(") #""3

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-#3''% #2() #'(& , -(#3" 2' #'''
166
)(/ C0 (-#%")1 -#".2) ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

0N?!" &#".&$ (#3(% "#"$.
2" #.%" #'''
0N?!2 2#.)%3 2#)&( #$%)

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
%#2)33 3#2&% #&"% , $#'" 2' #'''
)(/ C0 (2#.'31 (#&.%) ,
- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

S2D!" "'%$#"%2) "&&#%&% 3.#&2.
2" -#%.$ #'2$
S2D!2 "2'.#.(&" 2(.#%)2 ($#%'.

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-"$2#&"% 3&.#'22 .2#%)" , -"#)& 2' #'$3
)(/ C0 (-33%#.2)1 )#%'") ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

V0CM!" &3"#"%2) 2'$#"). %%#))$
2" #$%$ #''2
V0CM!2 (&(#$")' "3)#3)( 3'#%".

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
"((#(23. "(&#%(( 3%#3() , %#(3 2' #'''
)(/ C0 (.3#.3%1 22&#2"%) ,

- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
09%!"
wit6 09%!2
Mean 7ank Cases
#'' ' - 7anks (09%!2 98 09%!")
""#'' 2" : 7anks (09%!2 ;8 09%!")
' 8ies (09%!2 E< 09%!")
--
2" 8otal
= > -%#'"%( 2-8ailed * > #'''"
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
0N?!"
wit6 0N?!2
Mean 7ank Cases
""#'' 2" - 7anks (0N?!2 98 0N?!")
#'' ' : 7anks (0N?!2 ;8 0N?!")
' 8ies (0N?!2 E< 0N?!")
--
2" 8otal
= > -%#'"%( 2-8ailed * > #'''"
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
S2D!"
wit6 S2D!2
Mean 7ank Cases
200
"2#%' ( - 7anks (S2D!2 98 S2D!")
"'#($ "$ : 7anks (S2D!2 ;8 S2D!")
' 8ies (S2D!2 E< S2D!")
--
2" 8otal
= > -"#.()( 2-8ailed * > #'$3'
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
V0CM!"
wit6 V0CM!2
Mean 7ank Cases
"'#)( 2' - 7anks (V0CM!2 98 V0CM!")
"2#'' " : 7anks (V0CM!2 ;8 V0CM!")
' 8ies (V0CM!2 E< V0CM!")
--
2" 8otal
= > -3#()&% 2-8ailed * > #'''3

*la+ebo : abortus A n>"3
------------------------
SD!"
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #&%$) Std Err #'")% Min #$2'' Skewness -#323&
Median #&$'' Varian+e #''%) Ma5 #.%'' S E Skew #$"$3
(/ 8rim #&%.. Std De- #'$)) 7ange #22'' @urtosis -"#"2$.
)(/ C0 for Mean (#&'%&1 #&.)2) 0<7 #"2'' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)%3% "3 #%...
@-S (9illiefors) #"33( "3 H #2'''
09%!"
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #22(% Std Err #''.2 Min #"..' Skewness #$.&(
Median #222' Varian+e #''') Ma5 #2."' S E Skew #$"$3
(/ 8rim #22%% Std De- #'2)( 7ange #')3' @urtosis -#22(.
)(/ C0 for Mean (#2'&$1 #2%32) 0<7 #'%"' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)3'$ "3 #3)$)
@-S (9illiefors) #"(&' "3 H #2'''
09%!2
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #"2(2 Std Err #''&( Min #""'' Skewness 2#3(("
Median #""2' Varian+e #'''& Ma5 #2'3' S E Skew #$"$3
(/ 8rim #"2". Std De- #'2&' 7ange #')3' @urtosis (#.23)
)(/ C0 for Mean (#"'.)1 #"%"() 0<7 #'22' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #$3). "3 I #'"''
@-S (9illiefors) #3%$" "3 #'''"
0N?!"
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean $#$)3. Std Err "#%(.$ Min #$.'' Skewness "#.&')
Median (#3)'' Varian+e 2&#$(&" Ma5 2'#.''' S E Skew #$"$3
(/ 8rim $#2%%3 Std De- (#2()' 7ange 2'#"2'' @urtosis %#'$"(
)(/ C0 for Mean (3#("()1 )#.&".) 0<7 2#"2(' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #&$'% "3 I #'"''
@-S (9illiefors) #33'' "3 #'''%
0N?!2
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean ""#")3" Std Err "#(23. Min 3#..'' Skewness #('$$
Median )#%3'' Varian+e 3'#".%3 Ma5 2"#%''' S E Skew #$"$3
(/ 8rim ""#'323 Std De- (#%)%' 7ange "&#(2'' @urtosis -#&.&2
)(/ C0 for Mean (&#.&3"1 "%#("3") 0<7 )#(.'' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)%') "3 #%&'%
@-S (9illiefors) #"&3( "3 H #2'''
201
S2D!"
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean )&%#)23" Std Err 2%#&".' Min &$%#'''' Skewness -#&)&)
Median )&'#'''' Varian+e &)%2#&%% Ma5 ""'&#''' S E Skew #$"$3
(/ 8rim )&)#3'3% Std De- .)#"22" 7ange 3%3#'''' @urtosis "#(.$'
)(/ C0 for Mean ()2"#'$&"1 "'2.#&&)) 0<7 ""&#(''' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)%3$ "3 #%)'"
@-S (9illiefors) #'."( "3 H #2'''
S2D!2
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean .2%#%$"( Std Err 2)#$'(' Min ().#'''' Skewness -#%."(
Median .3(#'''' Varian+e ""3)3#)% Ma5 ))2#'''' S E Skew #$"$3
(/ 8rim .2&#&3(' Std De- "'$#&%2% 7ange 3)%#'''' @urtosis #3&%"
)(/ C0 for Mean (&()#)(&.1 ...#)$(3) 0<7 "(3#'''' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)&." "3 #)%'&
@-S (9illiefors) #'$&% "3 H #2'''
V0CM!"
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean .2.#"3.( Std Err 2$#$$(3 Min $$(#.''' Skewness -#'23&
Median .2"#.''' Varian+e )2%3#%.) Ma5 ))2#.''' S E Skew #$"$3
(/ 8rim .2.#'')% Std De- )$#"%3" 7ange 32&#'''' @urtosis -#23).
)(/ C0 for Mean (&&'#'3).1 ..$#23&") 0<7 ""$#(''' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)$$$ "3 #&).3
@-S (9illiefors) #""(3 "3 H #2'''
V0CM!2
Valid +asesA "3#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean "'3'#)$) Std Err 2(#23'& Min )2%#%''' Skewness #%)&"
Median ))2#$''' Varian+e .2&(#$") Ma5 ""&"#''' S E Skew #$"$3
(/ 8rim "'2)#""' Std De- )'#)&'% 7ange 2%$#$''' @urtosis -"#(%)"
)(/ C0 for Mean ()&(#))$%1 "'.(#)%2) 0<7 "$&#'''' S E @urt "#")')
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #.$.2 "3 #'(%.
@-S (9illiefors) #2($' "3 #'")$

- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

09%!" #22(% #'3' #''.
"3 #22) #%("
09%!2 #"2(2 #'2& #''&

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
#"''2 #'3( #'"' , "'#2. "2 #'''
)(/ C0 (#'&)1 #"2") ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

0N?!" $#$)3. (#2() "#%()
"3 #&$$ #''2
0N?!2 ""#")3" (#%)% "#(2%

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-%#%))2 3#$.( "#'22 , -%#%' "2 #''"
)(/ C0 (-$#&2&1 -2#2&2) ,
- - - t-tests for paired samples - - -
Number of 2-tail
202
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

S2D!" )&%#)23" .)#"22 2%#&".
"3 #"". #&'"
S2D!2 .2%#%$"( "'$#&%2 2)#$'(

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
"('#%$"( "3'#&3% 3$#2() , %#"( "2 #''"
)(/ C0 (&"#%3)1 22)#%.%) ,
Number of 2-tail
Variable pairs Corr Sig Mean SD SE of Mean

V0CM!" .2.#"3.( )$#"%3 2$#$$(
"3 #$"( #'2(
V0CM!2 "'3'#)$)2 )'#)&' 2(#23"

*aired Differen+es ,
Mean SD SE of Mean , t--alue df 2-tail Sig
,
-2'2#.3" .2#2(3 22#."3 , -.#.) "2 #'''
)(/ C0 (-2(2#(%.1 -"(3#""3) ,

- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
09%!"
wit6 09%!2
Mean 7ank Cases
&#'' "3 - 7anks (09%!2 98 09%!")
#'' ' : 7anks (09%!2 ;8 09%!")
' 8ies (09%!2 E< 09%!")
--
"3 8otal
= > -3#"&). 2-8ailed * > #''"(
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
0N?!"
wit6 0N?!2
Mean 7ank Cases
#'' ' - 7anks (0N?!2 98 0N?!")
&#'' "3 : 7anks (0N?!2 ;8 0N?!")
' 8ies (0N?!2 E< 0N?!")
--
"3 8otal
= > -3#"&). 2-8ailed * > #''"(
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
S2D!"
wit6 S2D!2
Mean 7ank Cases
&#'' "3 - 7anks (S2D!2 98 S2D!")
#'' ' : 7anks (S2D!2 ;8 S2D!")
' 8ies (S2D!2 E< S2D!")
--
"3 8otal
= > -3#"&). 2-8ailed * > #''"(
- - - - - 4il+o5on Mat+6ed-*airs Signed-7anks 8est
V0CM!"
wit6 V0CM!2
Mean 7ank Cases
#'' ' - 7anks (V0CM!2 98 V0CM!")
&#'' "3 : 7anks (V0CM!2 ;8 V0CM!")
' 8ies (V0CM!2 E< V0CM!")
--
"3 8otal
= > -3#"&). 2-8ailed * > #''"(

20!
*la+ebo : tidak abortus An>"&
----------------------------
SD!"
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #$%&" Std Err #'"&% Min #(3'' Skewness -#".)3
Median #$&'' Varian+e #''(" Ma5 #&$'' S E Skew #(%)&
(/ 8rim #$%&3 Std De- #'&"$ 7ange #23'' @urtosis -"#"'"2
)(/ C0 for Mean (#$"'31 #$.3)) 0<7 #"2'' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)%&2 "& #%3&.
@-S (9illiefors) #"23% "& H #2'''

09%!"
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #%"(( Std Err #"''3 Min #""'' Skewness "#.3%&
Median #2(.' Varian+e #"&"" Ma5 "#(22' S E Skew #(%)&
(/ 8rim #3&"' Std De- #%"3$ 7ange "#%"2' @urtosis 2#$(%'
)(/ C0 for Mean (#2'2)1 #$2.2) 0<7 #3$.' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #&3"' "& I #'"''
@-S (9illiefors) #2)"$ "& #'''(
09%!2
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean #((") Std Err #"''% Min #")'' Skewness "#$"2&
Median #%2$' Varian+e #"&"% Ma5 "#$("' S E Skew #(%)&
(/ 8rim #("') Std De- #%"%' 7ange "#%$"' @urtosis 2#23(2
)(/ C0 for Mean (#33)'1 #&$%&) 0<7 #%)&' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #.'&$ "& I #'"''
@-S (9illiefors) #23&& "& #'""$
0N?!"
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean &#32.. Std Err "#.$&2 Min 2#23'' Skewness "#.3("
Median %#2%'' Varian+e ()#2$)3 Ma5 2(#'''' S E Skew #(%)&
(/ 8rim $#$3'% Std De- &#$).& 7ange 22#&&'' @urtosis "#)&)'
)(/ C0 for Mean (3#3&'(1 ""#2.&") 0<7 3#3$(' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #$3($ "& I #'"''
@-S (9illiefors) #3.3% "& #''''
0N?!2
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean 3#)%". Std Err "#"2&3 Min #3)'' Skewness "#&()"
Median 2#3)'' Varian+e 2"#$'(( Ma5 "%#.3'' S E Skew #(%)&
(/ 8rim 3#(3%2 Std De- %#$%.2 7ange "%#%%'' @urtosis "#&3."
)(/ C0 for Mean ("#((")1 $#33"$) 0<7 2#2('' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #$.'( "& I #'"''
@-S (9illiefors) #3(%( "& #''''
S2D!"
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean ""'$#%"2 Std Err ()#2$2% Min &32#'''' Skewness #)2)%
Median "'&)#''' Varian+e ()&'%#$3 Ma5 "$2.#''' S E Skew #(%)&
(/ 8rim "').#23( Std De- 2%%#3%(3 7ange .)$#'''' @urtosis #(2$&
)(/ C0 for Mean ().'#&."'1 "232#'%3) 0<7 2%)#(''' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)"(( "& #"('2
@-S (9illiefors) #"&"% "& #")&.
S2D!2
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean "2.(#"". Std Err ()#"."( Min "''.#''' Skewness #)'22
Median "2$$#''' Varian+e ()(%"#$" Ma5 ".&(#''' S E Skew #(%)&
(/ 8rim "2$&#&%2 Std De- 2%%#'""( 7ange .$&#'''' @urtosis #%)$'
)(/ C0 for Mean (""()#$()1 "%"'#(&&) 0<7 3."#'''' S E @urt "#'$32
20$
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)"(( "& #"(''
@-S (9illiefors) #"%)2 "& H #2'''
V0CM!"
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean $..#)..2 Std Err %&#23") Min 3%.#$''' Skewness #%'%$
Median $.&#'''' Varian+e 3&)2%#(" Ma5 ""2"#%'' S E Skew #(%)&
(/ 8rim $.3#.&(. Std De- ")%#&%22 7ange &&2#.''' @urtosis #223$
)(/ C0 for Mean ((..#.$""1 &.)#""(%) 0<7 2&2#2''' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)&%. "& #.$"%
@-S (9illiefors) #"3'2 "& H #2'''
V0CM!2
Valid +asesA "&#' Missing +asesA #' *er+ent missingA #'
Mean $2'#32)% Std Err 3)#).%( Min ".)#%''' Skewness -#&23)
Median $3%#.''' Varian+e 2&"&.#)) Ma5 )22#.''' S E Skew #(%)&
(/ 8rim $2&#%$$' Std De- "$%#.$'( 7ange &33#%''' @urtosis "#))(&
)(/ C0 for Mean ((3(#($$'1 &'(#')2)) 0<7 2'"#&''' S E @urt "#'$32
Statisti+ df Signifi+an+e
S6apiro-4ilks #)%33 "& #%'2$
@-S (9illiefors) #')%) "& H #2'''

Kurva ROC (Receiver operating characteristic)
Ga!ar "urva ROC peeri"saan SO#
205
Ga!ar "urva ROC peeri"saan I$N
Ga!ar "urva ROC peeri"saan I%&'
20%
Ga!ar "urva ROC peeri"saan (CA)&*
Lam)!ran :
RI@AAAT HIDUP
20)
9ama
7empat @ tanggal lahir
Agama
'ekerjaan
'angkat
Alamat rumah
Alamat kantor

9ama istri
Anak
A -udi ,andono
A -andung, ) Agustus 16%5
A (slam
A Staf -agian .bstetri dan /inekologi 8> +npad@*S
dr. ,asan Sadikin -andung
A 'enata (;a
A Fl. Sidomukti 9o. $5 -andung
7elp. 30224 250)!%)
A -agian .bstetri dan /inekologi 8> +npad@*S
dr. ,asan Sadikin -andung
Fl. 'asteur 9o. !1 -andung $01%2
7elp. 30224 20!25!0
A Andaningrum Setyastuti, dr., SpA
A 1. Rogie Setyabudi
2. *ina Dhyanti 'ermatasari
R!<a/at Pend!d!kan
1. 7amat Sekolah Dasar 3SD4
2. 7amat Sekolah <enengah 'ertama 3S<'4
!. 7amat Sekolah <enengah Atas 3S<A4
$. 7amat 8akultas >edokteran +npad 3Dokter +mum4
5. 7amat Spesialisasi .bstetri dan /inekologi +npad
3Dokter spesialis .bstetri dan /inekologi 4
%. 7amat >onsutan 8etomaternal
A 16)%
A 1610
A 161!
A 1660
A 166)
A 200!
Pend!d!kan Tam*ahan
1. %ourse on Fetal :edicine at the Faculty of :edicine of 2eiden ;niversity
:edical %enter, 4he +etherlands April C <ei 200!
2. %ourse on :aternal and %hild -ealth, <,%A <apan, AgustusSeptember 200!
R!<a/at Pekeraan
1. Fanuari 1661 C <aret 1662A >epala 'uskesmas Anjir Serapat, >abupaten
>apuas >alimantan 7engah
2. April 1662 C <aret 166!A >epala 'uskesmas >uala >urun merangkap
'uskesmas 7ampang 7umbang Anjir, 0ilayah 'embantu -upati /unung mas,
>abupaten >apuas >alimantan 7engah
!. <aret 166! C Funi 166!A Direktur *S >uala kurun 0ilayah 'embantu -upati
/unung mas, >abupaten >apuas >alimantan 7engah
$. Fuli 166! C Funi 166)A Asisten -agian .bstetri dan /inekologi 8>
+npad@*S,S
201
5. Desember 166) C 9o"ember 1661A Dokter .bstetri dan /inekologi *S+D
<uara 7e&eh, >abupaten -arito +tara >alimantan 7engah
%. Desember 1661 C SekarangA Staf Subbagian 8etomaternal -agian .bstetri dan
/inekologi 8> +npad@*S,S
Penghargaan
1. 7anda >ehormatan XSA7RA=A9:A9A >A*RA SA7RAX dari 'residen
*epublik (ndonesia, 2) Funi 2005.
#eg!atan Ilm!ah
1. 'ertemuan (lmiah 7ahunan './(, Surabaya, Fuli 1665 3'embicara4
2. Annual Scientific =ncology :eeting -andung, Desember 1665 3'embicara4
!. >ongres .bstetri dan /inekologi (ndonesia N( './(, 'adang, Fuli 166%
3'embicara4
$. 'ertemuan (lmiah 7ahunan './(, Semarang 166% 3'eserta4
5. 'ertemuan (lmiah 7ahunan './(, <alang, Fuli 2002 3'eserta4
%. >ursus Dasar +ltrasonografi 'erhimpunan +ltrasonik >edokteran (ndonesia,
2002 3'embicara4
). >ursus 7ingkat <adya +ltrasonografi 'erhimpunan +ltrasonik >edokteran
(ndonesia, 200! 3'embicara4
1. A.8./ 1st Acridited ;ltrasound *or&shop, -andung, April 2000 3'eserta4
6. A.8./ 0nd Acridited ;ltrasound *or&shop, -andung, April 2001 3'eserta4
10. A.8./ 1nd Acridited ;ltrasound *or&shop, Surabaya <aret 2002
3'embicara4
11. A.8./ 3nd Acridited ;ltrasound *or&shop, <edan <aret 200!
3'embicara4
12. 1st +ational Seminar on enetics and Fetus, -ukit Falil >uala =umpur, <aret
200$ 3'eserta4
1!. A.8./ 9nd Acridited ;ltrasound *or&shop, Semarang <aret 200$ 3'eserta4
1$. >
th
*orld %ongress of /erinatal :edicine, .saka, Fapan, September 200!
15. A.8./ ?nd Acridited ;ltrasound *or&shop, Denpasar <aret 200% 3'eserta4
1%. A.8./ @nd Acridited ;ltrasound *or&shop, Rogjakarta <aret 200)
3'eserta4
#ar/a Ilm!ah
1. ,:/ curve regression profile after evacuation of hydatiform mole at -asan
Sadi&in -ospital 1661 166!.
3diajukan di 'ertemuan (lmiah 7ahunan './(, Surabaya, Fuli 16654
2. ,:/ curve regression profile after evacuation of hydatiform mole at -asan
Sadi&in -ospital 1661 166$.
206
3diajukan di Annual Scientific =ncology :eeting -andung, December 16654
1( 7efferal =bstetrics case profile at -asan Sadi&in -ospital
3diajukan di >ongres .bstetri dan /inekologi (ndonesia N( './(, 'adang,
Fuli 166%4
$. 7eferal obstetrics case from para!i at -asan Sadi&in -ospital
3diajukan di >ongres .bstetri dan /inekologi (ndonesia N( './(, 'adang,
Fuli 166%4
5. Avaluation of placental and umbilical hystopatology of term and preterm
infant 166) 37esis dan dipublikasikan di majalah >edokteran -andung 166)4
%. Diabetes <elitus /estational, 2000
3dipublikasikan di majalah -uletin './( Fabar ;ol ((( 9o.), .ktober 20004
). -iometri Fanin, 2002
3diajukan di >ursus Dasar +ltrasonografi 'erhimpunan +ltrasonik >edokteran
(ndonesia, 20024
1. 'eranan ultrasonografi pada prematuritas, 200!
3diajukan di >ursus 7ingkat <adya +ltrasonografi 'erhimpunan +ltrasonik
>edokteran (ndonesia, 200!4
6. /rediction of ris& for preterm delicery by ultrasonographic measurement of
cervical length at -asan Sadi&in -ospital, 2001
3diajukan di A.8./ 1nd Acridited ;ltrasound *or&shoop, Surabaya, <aret
20024
10. "oppler velocimetry of decidual spiral arteries features in early pregnancy
bleeding, 200!
3diajukan di A.8./ 3nd Acridited ;ltrasound *or&shoop, <edan, <aret
200!4
11. 'erdarahan hamil lanjut, 200)
3diajukan di >ursus +ltrasonografi *eguler Di"isi >edokteran 8etomaternal
8>+'@*S Dr ,asan Sadikin, 200)4
12. ?kstremitas dan 7ulang, 200).
3diajukan di >ursus +ltrasonografi *eguler Di"isi >edokteran 8etomaternal
8>+'@*S Dr ,asan Sadikin, 200)4
1!. Diagnosis dan 'enanggulangan 'erdarahan Antepartum, 200).
3diajukan di Simposium@*or&shop 'erkumpulan 'erinatologi (ndonesia,
200)4
1$. .batobatan dalam >ehamilan dan <enyusui, 200).
3diajukan di 'ekan (lmiah 7ahunan 7ahun ?mas 8akultas >edokteran
+ni"ersitas 'adjadjaran4

#eg!atan (rgan!sas!
1. 1661 C SekarangA (katan Doter (ndonesia 3(D(4
Anggota biasa
2. 166) C SekarangA 'erkumpulan .bstetri dan /inekologi 3'./(4
Anggota muda 3166! C 166)4
Anggota biasa 3166) C sekarang4
-endahara './( Fabar 3200! C sekarang4
210
>etua >operasi './( Fabar 3200) C sekarang4
!. 'erkumpulan 'erinatologi (ndonesia 3'?*(9AS(A4
Anggota biasa 3166) C sekarang4
$. 'erhimpunan +ltrasonik >edokteran (ndonesia 3'+S>(4
Anggota biasa 3166) C sekarang4
211