Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOKIMIA
Katalase






Oleh :
Noviana Hapsari (12317244001)
Vyta Andri Setyo U (12317244002)
Ana Arifatul U (12317244003)
Muhamad Hasbi A (12317244004)
Rinaldi Indra S (12317244005)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU
PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Metabolisme merupakan suatau reaksi kimia yang terjadi didalam
tubuh makhluk hidup. Reaksi metabolisme tersebut dimaksudkan untuk
memperoleh energi, menyimpan energi, menyusun bahan makanan,
merombak bahan makanan, memasukkan atau mengeluarkn zat - zat,
melakukan gerakan, menyusun struktur sel, merombak struktur struktur
sel yang tidak dapat digunakan lagi, dan menanggapi rangsang.
Dalam suatu reaksi kimia terdapat zat zat atau senyawa
senyawa baik yang sifatnya menghambat (inhibitor), atau mempercepat
reaksi (aktivator). Katalisator adalah suatu zat yang mempercepat laju
reaksi reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau
terpakai oleh reaksi itu. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan
sebagai pereaksi ataupun produk. Katalis menyediakan suatu jalur pilihan
dengan energi aktivasi yang lebih rendah.
Metabolisme yang merupakan reaksi kimia memiliki katalisator
yang disebut dengan enzim. Enzim yang tersusun atas protein dan molekul
lainnya bekerja dengan menurunkan energi aktivasi, sehingga tidak
diperlukan suhu dan energi tinggi untuk melakukan suatu reaksi kimia
didalam tubuh.Jika tidak terdapat katalisator dalam metabolisme, maka
suhu tubuh akan meningkat dan membahayakan bagi tubuh makhluk
hidup.
Kerja enzim tentunya dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar
enzim. Faktor dalam misalnya substansi substansi genetik yang dibawa
oleh masing masing enzim.Keinginan kami untuk mengetahui faktor luar
yang mempengaruhi kerja enzim, dan memenuhi tugas biologi, merupakan
suatu motivasi kami untuk melakukan percobaan sederhana yang
menggunakan enzim katalase sebagai contoh(sample)

1.2 TUJUAN
1.2.1 Untuk melacak dan menunjukkan keberadaan enzim katalase
dalam jaringan hewan dan tumbuhan.
1.2.2 Untuk mengetahui pengaruh penambahan H
2
O
2
, jaringan katalase,
pada aktivitas enzim katalase.
1.2.3 Untuk mengetahui pengaruh pH dan temperature pada aktivitas
katalase.
















BAB II
DASAR TEORI
Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis
(senyawa yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu
reaksi kimia organik.Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat
perubahannya menjadi molekul lain yang disebut produk. Jenis produk yang akan
dihasilkan bergantung pada suatu kondisi/zat, yang disebut promoter. Semua
proses biologis sel memerlukan enzim agar dapat berlangsung dengan cukup cepat
dalam suatu arah lintasan metabolisme yang ditentukan oleh hormonsebagai
promoter.
Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk
menghasilkan senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang
membutuhkan energi aktivasilebih rendah, sehingga percepatan reaksi kimia
terjadi karena reaksi kimia dengan energi aktivasi lebih tinggi membutuhkan
waktu lebih lama.
Sifat-sifat Enzim
a. Enzim hanya mengubah kecepatan reaksi, artinya enzim tidak mengubah
produk akhir yang dibentuk atau mempengaruhi keseimbangan reaksi,
hanya meningkatkan laju suatu reaksi.
b. Enzim bekerja secara spesifik, artinya enzim hanya mempengaruhi substrat
tertentu saja.
c. Enzim merupakan protein. Oleh karena itu, enzim memiliki sifat seperti
protein. Antara lain bekerja pada suhu optimum, umumnya pada suhu
kamar. Enzim akan kehilangan aktivitasnya karena pH yang terlalu asam
atau basa kuat, dan pelarut organik. Selain itu, panas yang terlalu tinggi
akan membuat enzim terdenaturasi sehingga tidak dapat berfungsi sebagai
mana mestinya.
d. Enzim diperlukan dalam jumlah sedikit. Sesuai dengan fungsinya sebagai
katalisator, enzim diperlukan dalam jumlah yang sedikit.
e. Enzim bekerja secara bolak-balik. Reaksi-reaksi yang dikendalikan enzim
dapat berbalik, artinya enzim tidak menentukan arah reaksi tetapi hanya
mempercepat laju reaksi sehingga tercapai keseimbangan. Enzim dapat
menguraikan suatu senyawa menjadi senyawa-senyawa lain. Atau
sebaliknya, menyusun senyawa-senyawa menjadi senyawa tertentu.
Reaksinya dapat digambarkan sebagai berikut.
f. Enzim dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kerja enzim adalah suhu, pH, aktivator (pengaktif), dan
inhibitor (penghambat) serta konsentrasi substrat.
Cara kerja enzim dapat dijelaskan dengan dua teori, yaitu teori gembok dan
anak kunci, dan teori kecocokan yang terinduksi.
a. Teori gembok dan anak kunci (Lock and key theory )
Enzim dan substrat bergabung bersama membentuk kompleks, seperti
kunci yang masuk dalam gembok. Di dalam kompleks, substrat dapat bereaksi
dengan energi aktivasi yang rendah. Setelah bereaksi, kompleks lepas dan
melepaskan produk serta membebaskan enzim.
b. Teori ketetapan induksi (induced fit theory)
Menurut teori kecocokan yang terinduksi, sisi aktif enzim merupakan
bentuk yang fleksibel. Ketika substrat memasuki sisi aktif enzim, bentuk sisi aktif
termodifikasi melingkupi substrat membentuk kompleks. Ketika produk sudah
terlepas dari kompleks, enzim tidak aktif menjadi bentuk yang lepas. Sehingga,
substrat yang lain kembali bereaksi dengan enzim tersebut.
Kerja Enzim Katalase
Enzim merupakan senyawa yang dibentuk secara alamiah oleh tubuh
organisme. Enzim ini memiliki peranan dalam membantu proses penting di dalam
tubuh organisme tersebut. Dalam lingkup ilmu pengetahuan, enzim
diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis. Pengelompokkan ini didasarkan pada
beberapa hal antara lain fungsi biologis enzim, susunan gugus enzim, tingkat
kelarutan serta struktur 3 dimensi enzim itu sendiri. Salah satu jenis enzim yang
memiliki peranan yang cukup penting adalah enzim katalase. Enzim ini berperan
dalam mengurai H2O2 atau Hidrogen Peroksida yang apabila tidak diurai akan
menjadi senyawa beracun.
Enzim katalase dari mamalia seperti manusia, ataupun sapi, ayam ataupun
mikroba moderat (jamur) misalnya, hanya dapat berfungsi di antara suhu 37-40
derajat celcius. Jika suhu terlalu rendah ( < 10 0C) , maka enzim ini akan berhenti
bekerja, tetapi tidak mengalami kerusakan dan akan bekerja kembali jika suhu
telah normal. Jika suhu terlalu tinggi ( >40 0C), enzim ini akan mengalami
denaturasi sehingga tidak dapat dipakai kembali.
pH optimum untuk enzim katalase adalah pH netral ( 6,5 7,5 ),
sedangkan pada lingkungan yang ber-pH Asam atau Basa, enzim ini akan
mengalami denaturasi. Dengan demikian reaksi pemecahan Hidrogen peroksida
oleh enzim katalase tidak dapat berlangsung di lingkungan asam maupun basa .
Susunan Enzim Katalase
Enzim katalase ini terdiri atas 4 gugusan heme. Ia ada pada tulang, ginjal,
membran mukosa dan juga hati. Adapun aktifitas enzim katalase ini ditemukan di
wilayah mitokondria, peroksosom dan juga sutoplasma. Enzim katalase ini
mempunyai 4 rantai polupeptida yang pada masing-masing rantainya tersusun atas
kurang lebih 500 asam amino. Selain itu, enzim katalase ini juga mempunyai
empat kelompok heme yang terbentuk dari cincin protoporphyrin. Cincin ini
mengandung atom besi yang tunggal. Adapun berat molekul tersebut sekitar
118.054,25 gram/mol. Struktur sekunder : 31% helical (22 helik; 161 residu) 16%
beta sheet (19 strands; 82 residu).
Enzim katalase ini dimasukkan ke dalam golongan enzim
hidroperoksidase dimana ia melindungi tubuh organisme dari senyawa peroksida
yang berbahaya. Penumpukan senyawa ini bisa memancing radikal bebas yang
jika tidak diurai akan membuat membran sel di dalam tubuh rusak dan
memancing penyakit semacam kanker dan juga arterosklerosis.

Fungsi Enzim Katalase
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, enzim katalase ini berperan dalam
mengurai senyawa peroksida yanga da du dalam tubuh. Lebih detil, senyawa
tersebut bernama Hidrogen Peroksida atau H2O2. Hidrogen peroksida (H2O2)
merupakan hasil dari respirasi dan dibuat di dalam seluruh sel - sel organisme.
H2O2 berbahaya dan harus dibuang secepatnya. Pada posisi inilah enzim katalase
dibutuhkan.
Enzim katalase diproduksi sel untuk mengkatalis H2O2. Enzim ini akan
melakukan serangkaian proses yang mengurai H2O2 menjadi oksigen dan juga
air. Katalase berperan sebagai enzim peroksidasi khusus dalam reaksi
dekomposisi hydrogen peroksida menjadi oksigen dan air. Enzim ini mampu
mengoksidasi 1 molekul hydrogen peroksida menjadi oksigen. Kemudian secara
simultan juga dapat mereduksi molekul hydrogen peroksida kedua menjadi air.
Reaksi dapat berjalan bila terdapat senyawa pemberi ion hydrogen (AH2)
seperti methanol, etanol dan format. Peran katalase dalam mengkatalis H2O2
relatif lebih kecil dibandiingkan dengan kecepatan pembentukannya.
Sel-sel yang mengandung katalase dalam jumlah sedikit sangat rentan
terhadap peroksida. Oleh karena itu katalase berperan penting dalam mekanisme
pertahanan sel darah merah terhadap serangan oksidaror hydrogen peroksida.
Pada kondisi tertentu, organisme utamanya manusia bisa saja kekurangan
enzim katalase. Kondisi akan akan membawa sejumlah kerugian terutama yang
berkaitan dengan organ yang banyak menyimpan enzim katalase


Cacing Tanah
Cacing tanah (Lumbricus rubellus) sering disebut perut bumi karena
semua mikroorganisme menguntungkan ada di perut cacing tanah. Cacing tanah
yang kelihatan sangat lemah tapi mempunyai kekuatan yang melebihi semua
kekuatan yang ada bumi ini, yaitu kekuatan untuk merubah semua bentuk bahan
organik dalam sekejap menjadi tanah subur dan kekuatan lainnya. Cacing tanah
termasuk binatang lunak di alam ada 1800 species, tetapi baru sebagian kecil
dapat dimanfaatkan. Cacing tanah termasuk binatang yang sangat kompleks
karena masing-masing jenis cacing tanah memiliki habitat yang spesifik. Hal ini
menyebabkan setiap jenis cacing tanah akan bertahan pada habitatnya masing-
masing. Cacing tanah dapat hidup dengan baik pada pH 6 s/d 7,2, kelembaban
12,5 s/d 17,5 dan suhu 15 s/d 31
o
C.
Dari berbagai hasil penelitian, ternyata kandungan protein tepung cacing
Lumbricus rubellus mencapai 66-78 %, mempunyai protein alami asam omega 3
dan asam amino paling lengkap. Kandungan enzimnya antara lain; Enzim
Lumbrokinase, yang menormalkan tekanan darah, enzim Peroksidase dan
Katalase sangat efektif dalam penyembuhan penyakit degeneratif seperti, diabetes
mellitus, kolesterol tinggi dan rematik. Enzim Selulase dan Lignase mengatasi
gangguan pencernaan atau maag. Kandungan lain yang dimiliki adalah
Arachidonicacid efektif sebagai penurun suhu tubuh, Zat penghambat
perkembangan kuman Salmonella typhimurium, Escherichia coli, Staphylococcus
albus, Bacillus cereus, Listeria monocytogenes, efektif untuk penyembuhan
penyakit diare, typus dan lain-lain.
Kacang Hijau
Enzim memiliki konsentrasi yang berbeda-beda tiap tahap pertumbuhan,
Hal ini tentunya berlaku pada enzim katalase pada kacang hijau. Semakin tinggi
tingkatan pertumbuhan semakin banyak kandungan enzimnya, karena enzim yang
dibutuhkan untuk aktivitasnya juga semakin banyak. Pada tanaman kacang hijau,
kadar enzim katalase pada tanaman berkecambah tentunya lebih tinggi daripada
kacang hijau dalam bentuk biji. Pada bentuk biji tanaman masih dalam fase
dormansi, sehingga masih banyak enzimnya yang belum aktif.
Larutan H
2
O
2

HidogenPeroksida (H
2
O
2
), merupakan senyawa racun dalam tubuh yang
terbentuk pada proses pencernaan makanan. Hidrogen peroksida dengan rumus
kimia H
2
O
2
ditemukan oleh Louis Jacquea Thenard pada tahun 1818. Senyawa ini
merupakan bahan kimia organik yang memiliki sifat oksidator kuat dan bersifat
racun dalam tubuh. Senyawa peroksida harus segera diuraikan menjadi air (H
2
O)
dan oksigen (O
2
) yang tidak berbahaya. Enzim katalase mempercepat reaksi
penguraian peroksida (H
2
O
2
) menjadi air (H
2
O) dan oksigen (O
2
). Penguraian
peroksida (H
2
O
2
) ditandai dengan timbulnya gelembung. Bentukreaksikimianya
adalah:
2H
2
O
2
2H
2
O
(g)
+ O
2
(g)
Senyawa H
2
O
2
yang ada dalam tubuh sangat berbahaya.Maka enzim
katalase menguraikan H
2
O
2
menjadi H
2
O dan gas O
2
yang tidak berbahaya bagi
tubuh.Ada tidaknya gelembung merupakan indikator adanya air dalam wujud uap.
Sedangkan menyala atau tidaknya bara merupakan indikator adanya gas oksigen
dalam tabung tersebut.









BAB III
EKSPERIMENTAL SET UP
3.1 WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM
Biochemistry laboratory, 29 Oktober 2013
3.2 ALAT DAN BAHAN
3.2.1 ALAT
a. Tabung reaksi
b. Pipet tetes
c. Tabung berskala
d. Pisau silet
e. Sumbat gabus / karet
f. Neraca
g. Klem dan statif
h. Beker gelas
i. Lidi dan korek
j. Slang Plastik
3.2.2 BAHAN
a. Anterior, abdomen dan posterior cacing
b. Biji kacang hijau
c. Kacang Hijau muda
d. Kecambah kacang hijau
e. H
2
O
2
10%
f. NaOH 5%
g. HCl 5%
h. MnO
2
( serbuk )
i. Aquades
j. pH stick


3.3 LANGKAH PENGAMATAN
3.3.1 MELIHAT KEBERADAAN KATALASE


















3.3.2 MELIHAT PENGARUH PENAMBAHAN H
2
O
2
, DAN SAMPEL
PADA AKTIFITAS KATALASE









Mengambil sampel : - Anterior , abdomen, posterior cacing ; biji
kacang hijau, kacang hijau muda, kecambah kacang hijau ; MnO
2


Memasukkan masing-masing sampel ke dalam tabung reaksi yang
telah diisi 1 ml H
2
O
2
. Menututup dengan sumbat gabus / karet.

Menghubungakan masing-masing tabung reaksi dengan tabung
berskala yang penuh berisi air dengan selang plastik.
Mencatat jumlah gelembung dan lama terbentuk gelembung.
Melakukan tes nyala.

Melakukan langkah a-d pada kegiatan 1, masing-masing 2 tabung
reaksi. (2 set)
Melakukan langkah a-d pada kegiatan 1, masing-masing 2 tabung
reaksi. (2 set)






.

3.3.3 MELIHAT PENGARUH PH TERHADAP KATALASE





















Setelah tidak terbentuk gelembung, pada masing-masing tabung
pertama ditambahkan H
2
O
2
. Pada tabung keduanya ditambahkan
masing-masing sampel.

Mencatat pada tabung reaksi mana terjadi penguraian H
2
O
2 .

Menyiapkan 9 buah tabung reaksi dan masing-masing diisi dengan
1ml H
2
O
2

Pada 3 tabung pertama ditambah HCl sehingga diperoleh pH 1
Pada 3 tabung kedua ditambah HCl sehingga diperoleh pH 6-7
Pada 3 tabung ketiga ditambah NaOH sehingga diperoleh pH 14
Menambahkan anterior, abdomen, dan posterior cacing atau biji
kacang hijau, kacang hijau muda, dan kecambah pada tiap-tiap
tabung dengan variasi pH berbeda
Menghubungakan masing-masing tabung reaksi dengan tabung
berskala yang penuh berisi air dengan selang plastik.
Mencatat jumlah gelembung dan lama terbentuk gelembung.
Melakukan tes nyala.

3.3.4 MELIHAT PENGARUH SUHU TERHADAP KATALASE





























Menyiapkan 3 buah tabung reaksi dan diisi dengan 1 ml H
2
O
2
Memasukkan tiap tiap bagian tubuh cacing atau ketiga tahap
pertumbuhan kacang hijau kedalam air bersuhu 5
o
C selama 5-10 menit.
Setelah itu memasukkan hati hasil rendaman ke tabung pertama.
Menutup tabung dengan sumbat karet.
Memasukkan tiap tiap bagian tubuh cacing atau ketiga tahap
pertumbuhan kacang hijau kedalam air bersuhu 35
o
C selama 5-10 menit.
Setelah itu memasukkan hati hasil rendaman ke tabung pertama.
Menutup tabung dengan sumbat karet.
Memasukkan tiap tiap bagian tubuh cacing atau ketiga tahap
pertumbuhan kacang hijau kedalam air bersuhu 75
o
C selama 5-10 menit.
Setelah itu memasukkan hati hasil rendaman ke tabung pertama.
Menutup tabung dengan sumbat karet.
Menghubungakan masing-masing tabung reaksi dengan tabung
berskala yang penuh berisi air dengan selang plastik.
Mencatat jumlah gelembung dan lama terbentuk gelembung.
Melakukan tes nyala.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
4.1 Tabel 1 : MELIHAT KEBERADAAN KATALASE
No Sampel Jumlah gelembung Lama terbentuk Tes nyala
1 Cacing
Anterior 71 Langsung terbentuk ++
Abdomen 133 Langsung terbentuk +++
Posterior 114 Langsung terbentuk ++
2 Kecambah
Biji 61 Langsung terbentuk +
Muda 66 Langsung terbentuk +
Berkecambah 80 Langsung terbentuk +++
3 MnO
2
73 Langsung terbentuk ++

4.2 Tabel 2 : MELIHAT PENGARUH PENAMBAHAN H
2
O
2
, DAN
SAMPEL PADA AKTIFITAS KATALASE.

Bagian Tubuh Cacing
Bagian Cacing
1 2
Jumlah
Gelembung
Nyala Api
Jumlah
Gelembung
Nyala Api
Posterior

7 + 2 -
Abdomen

44 +++ 25 +++
Anterior

16 + 7 -


Kacang Hijau
Kecambah
1 2
Jumlah
Gelembung
Nyala Api
Jumlah
Gelembung
Nyala Api
Biji

24 + 11 +
Kecambah

33 +++ 20 +++
Muda

30 ++ 15 +

MnO
2

Kecambah
1 2
Jumlah
Gelembung
Nyala Api
Jumlah
Gelembung
Nyala Api
MnO
2
55 +++ 68 +++++


4.3 Tabel 3: MELIHAT PENGARUH PH TERHADAP KATALASE
Bagian
Cacing
PH
1 7 14
Jumlah
Gelembung
Nyala
Api
Jumlah
Gelembung
Nyala
Api
Jumlah
Gelembung
Nyala
Api
Posterior

3 - 53 ++ Tidak ada -
Abdomen

Tidak ada - 72 +++ 3 -
Interior

Tidak ada - 28 + Tidak ada -
Keterangan :
(-) = Tidak ada nyala api
(+) = Api menyala
(++) = Api menyala
(+++) = Api menyala Terang

4.4 Tabel 4 : MELIHAT PENGARUH SUHU TERHADAP KATALASE

Bagian tubuh Cacing
Bagian
Tubuh
Cacing
Pada Menit Ke-5
Suhu Rendah (5
o
C) Suhu Kamar (30
o
C) Suhu Tinggi (78
o
C)
Nyala Gelembung Nyala Gelembung Nyala Gelembung
Anterior +++ 45 +++ 66 +++ 43
Abdomen +++ 50 +++ 94 +++ 45
Posterior ++ 30 +++ 55 ++ 28

Kacang Hijau
Suhu /
nyala api
Banyak gelembung
Biji Kecambah muda Berkecambah
Rendah
(5
0
C)
18
redup
112
Terang
-
Tidak ada
Sedang
(25
0
C)
27
terang
118
Terang
47
Terang
Tinggi
(75
0
C)
-
Tidak ada
2
Tidak ada
-
Tidak ada





BAB V
DISKUSI (PEMBAHASAN)
5.1.ANALISIS DATA
Praktikum uji enzim katalase yang dilaksanakan pada Kamis, 19
November 2013 ini bertujuan untuk melacak dan menunjukkan keberadaan enzim
katalase dalam jaringan hewan dan tumbuhan,.untuk mengetahui pengaruh
penambahan H
2
O
2
, jaringan katalase, pada aktivitas enzim katalase dan untuk
mengetahui pengaruh pH dan temperature pada aktivitas katalase.
Enzim katalase adalah enzim yang dapat menguraikan hidrogen peroksida
(H
2
O
2
) yang tidak baik bagi tubuh makhluk hidup menjadi air (H
2
O) dan oksigen
(O
2
) yang sama sekali tidak berbahaya. Senyawa H
2
O
2
yang ada dalam tubuh
sangat berbahaya. Maka enzim katalase menguraikan H
2
O
2
menjadi H
2
O dan gas
O
2
yang tidak berbahaya bagi tubuh.
Seperti halnya kerja enzim yang lain, kerja enzim katalase dipengaruhi
oleh beberapa factor antara lain konsentrasi enzim, substrat, dan kofaktor, suhu,
pH, dan inhibitor. Indikasinya adalah ada tidaknya busa merupakan indikator
adanya air dalam wujud uap. Sedangkan menyala atau tidaknya bara merupakan
indikator adanya gas oksigen dalam tabung tersebut. Apabila busa yang dihasilkan
banyak maka bara api akan menyala, sedangkan apabila busa yang dihasilkan
sedikit, maka bara api tidak akan menyala. Yang dimana pada suhu normal dan
pH netral, reaksi berjalan dengan lancar. Secara lebih lanjut akan dibahas sebagai
berikut.
a. Keberadaan Katalse
Enzim adalah katalis yang terbuat dari protein dan dihasilkan oleh
sel. Enzim mempunyai sifat spesifik yaitu hanya mengatalisis reaksi kimia
tertentu. Sebagai contoh enzim katalase yang hanya menguraikan H
2
O
2
menjadi
H
2
O dan O
2
dengan reaksi sebagai berikut :

2H
2
O
2
2H
2
O + O
2

Enzim katalase adalah enzim yang dapat menguraikan hidrogen peroksida
(H
2
O
2
) yang tidak baik bagi tubuh makhluk hidup menjadi air (H
2
O) dan oksigen
(O
2
) yang sama sekali tidak berbahaya. Senyawa H
2
O
2
yang ada dalam tubuh
sangat berbahaya. Maka enzim katalase menguraikan H
2
O
2
menjadi H
2
O dan gas
O
2
yang tidak berbahaya bagi tubuh. Enzim katalase paling banyak ditemukan
pada pencernaan. Keberadaan enzim katalase dapat dibuktikan dengan adanya
gelembung dan nyala api dipakai untuk mengetahui adanya oksigen dari
penguraian H
2
O
2.
Untuk membuktikan lebih jelasnya, kita melakukan percobaan
dengan menggunakan bahan cacing, kacang hijau, dan MnO
2
.
Pada percobaan bertujuan untuk melacak dan munujukkan keberadaan
katalase, perhitungan gelembung dilakukan selama 10 menit. Pada penggunaan
bahan cacing sebagai ekstrak dan cacing tersebut dibagi 3 bagian badan yaitu
anterior, abdomen dan posterior. Pada anterior diperoleh gelembung sebanyak
114, pada abdomen 133, dan pada posterior 71. Dari data tersebut dapat kita
ketahui bahwa ekstrak pada daerah abdomen menghasilkan gelembung lebih
banyak daripada ekstrak bagian anterior dan posterior. Hal ini disebabkan bahwa
pada ekstrak daerah abdomen terdapat banyak enzim katalase, dimana pada dasar
teori telah dibutkan bahwa enzim katalase itu sendiri telah banyak ditemukan pada
daerah pencernaan. Daerah pencernaan pada ekstrak ini telah ditemukan pada
daerah abdomen sehingga bisa menghasilkan gelembung lebih banyak dan saat
diuji nyala api pun bagian abdomen menghasilkan nyala api paling terang karena
enzim katalase pada bagian abdomen lebih banyak sehinggga penguraian H
2
O
2
menjadi O
2
lebih banyak.
Pada ekstrak bagian anterior gelembung yangb dihasilkan berjumlah 114,
hal ini disebabkan pada ekstrak daerah anterior terdapat enzim katalase dan
memang enzim yang ada tidak sebanyak pada ekstrak daerah abdomen sehingga
jumlah gelembung yang dihasilkanpun tidak sebanyak bagian abdomen. Pada
daerah posterior hanya ada sedikit gelembung dan enzim katalase pada daerah ini
bisa dihasilkan dari sisa sisa metabolisme yang terjadi pada cacing. Kedua ekstrak
ini menghasilkan nyala api tidak begitu terang karena enzim katalase yang
ditemukan hanya sedikit.
Enzim tak hanya ditemukan dalam sel-sel manusia dan hewan, namun sel-
sel tumbuhan juga memiliki enzim sebagai salah satu komponen metabolismenya.
Enzim katalase merupakan salah satu enzim yang terdapat pada tumbuhan. Enzim
diproduksi oleh peroksisom dan aktif dalam melakukan reaksi oksidatif bahan-
bahan yang dianggap toksik oleh tanaman, seperti hidrogen peroksida (H2O2).
Percobaan yang kedua yaitu dilakukan pada kacang hijau, dimana pada
kacang hijau ini kita mengambil sampel ada 3, yaitu : biji, kacang muda, dan
berkecambah. Pada percobaan diperoleh hasil di ekstrak biji kacang hijau 61
gelembung, ekstrak kacang muda ada 66 gelembung, berkecambah ada 80. Pada
biji terdapat sedikit enzim katalase tetapi masih sedikit karena pada biji berada
fase dormansi sehingga belum aktif, pada kacang muda enzim mulai aktif
sehingga jumlah sedikit meningkat, dan pada masa berkecambah enzim katalase
mulai banyak melakukan aktifitas sehingga katalase yang dibutuhkan banyak jadi
jumlahnya pun banyak dan saat di uji nyala api terlihat paling terang karena
banyak menghasilkan O
2
.
Pada percobaan ketiga menggunakan bahan kimia MnO
2
. Mangan
Dioksida (MnO
2
) adalah senyawa yang berfungsi sebagai depolrizer. Depolarizer
adalah zat yang dimaksudkan untuk menghilangkan hydrogen. Pada percobaan ini
telah membuktikan bahwa MnO
2
salah satu inhibitor karena pemecahan O
2

menjadi semakin banyak sehingga katalasenya banyak. Maka gelembung yang
dihasilkan pun banyak dan nyala api juga terang.
b. Penambahan H
2
O
2
dan sampel
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substrat terhadap
katalase. Pada praktikum ini, substrat yang digunakan adalah cacing, biji kacang
hijau dan MnO
2
sebagai sember enzim katalase. Untuk uji katalase pada cacing ,
cacing tersebut dipotong menjadi 3 bagian, yaitu anterior, abdomen dan posterior.
Setelah itu, bagian-bagian tubuh cacing tersebut dimasukkan pada tabung reaksi
yang telah diisi dengan larutan hidrogen peroksida atau H
2
O
2
. Selanjutnya tabung
reaksi tersebut dihubungkan dengan tabung berskala yang penuh berisi air dengan
selang karet. Kemudian diamati jumlah gelembung yang terbentuk serta dilakukan
tes nyala dengan bara api terhadap masing-masing substrat.
Hasil yang diperoleh ketika bagian tubuh cacing tersebut diberi H
2
O
2

terjadi gelembung-gelembung udara yang banyak, dengan urutan ; bagian
abdomen cacing dengan 44 gelembung, bagian posterior sebanyak 16 gelembung
dan bagian anterior sebanyak 7 gelembung. Adapun penyebab bagian abdomen
cacing memiliki jumlah gelembung yang lebih banyak daripada bagian posterior
dan anteriornya, disebabkan karena pada bagian abdomen cacing itu terdapat
sistem pencernaan yang dimana tempat terjadinya metabolisme makanan yang
melibatkan enzim katalase.
Hal ini membuktikan bahwa terdapatnya enzim katalase di dalam tubuh
cacing. Pada bagian tubuh cacing itu menunjukkan bahwa enzim katalase tersebut
mengubah H
2
O
2
menjadi H
2
O (air), sedangkan pada waktu dimasukkan lidi
membara ke dalamnya, timbul nyala api dengan bagian abdomen yang memiliki
nyala yang paling terang, terbuktikan bahwa H
2
O
2
juga diuraikan menjadi oksigen
(O
2
).
Penambahan konsentrasi H
2
O
2
yaitu berfungsi untuk mengetahui apakah
masih ada sisa sisi aktif dari enzim katalase setelah reaksi pertama. Ketika
konsentrasi H
2
O
2
ditambahkan jumlah gelembung yang terbentuk semakin
banyak. Hal ini membuktikan masih banyak sisi aktif dari enzim katalase yang
mampu menguraikan H
2
O
2
menjadi oksigen (O
2
) dan air (H
2
O). Contohnya pada
abdomen cacing, kecambah, dan MnO
2
masih terdapat banyak gelembung
(reduksi H
2
O
2
menjadi air), dan nyala api yang lumayan besar (reduksi H
2
O
2 -
menjadi oksigen). Sehingga dapat diketahui bahwa 3 sampel tersebut banyak
mengandung enzim katalase.
Adapun fungsi penambahan konsentrasi sampel dimaksudkan untuk
mengetahui apakah ada H
2
O
2
yang belum diuraikan. Ketika konsentrasi sampel
ditambahkan pada beberapa sampel masih tebentuk gelembung air (H
2
O) dan
masih terdapat nyala api (O
2
). Konsentrasi gelembung paling banyak dan nyala
api paling besar terdapat pada abdomen cacing, kecambah, dan MnO
2..
Sehingga
dapat dibuktikan bahwa dari ketiga sampel tersebut masih banyak konsentrasi
H
2
O
2
yang belum diuraikan pada reaksi pertama.
c. Pengaruh pH
Berdasarkan data tersebut, penguraian hidrogen peroksida yang dipercepat
oleh bantuan enzim katalase pada bagian-bagian tubuh cacing tanah, akan
menghasilkan uap air dan oksigen. Menurut reaksinya:
2H
2
O
2(l)
2H
2
O
(g)
+ O
2(g)
.
Bahwa gelembung udara yang muncul berdasarkan reaksi tersebut merupakan uap
air, sedangkan oksigen dapat kita ketahui dengan menyala tidaknya bara api
ketika dimasukkan ke mulut tabung reaksi. Sehingga dalam hal ini, semakin
banyak gelembung udara yang dihasilkan berarti semakin banyak pula uap air
yang terbentuk dari reaksi penguraian hidrohen peroksida (H
2
O
2
). Dan jika
semakin membara atau menyala bara api ketika dimasukkan ke mulut tabung
reaksi, semakin banyak pula oksigen yang dihasilkan.
Pada ketiga tabung pertama yaitu dengan menambahkan larutan HCL pada
setiap tabung yang berisi masing masing bagian posterior cacing, abdomen cacing
dan anterior cacing hingga diperoleh pH 1, kemudian ditambah H
2
O
2
, setelah itu
menghubungkan masing masing tabung dengan tabung berskala yang penuh berisi
air dengan selang plastik untuk menghitung jumlah gelembung yang terjadi dari
reaksi pada tabung itu. Setelah mengitung jumlah gelembung dalam jangka waktu
10 menit, selanjutnya dilakukan uji nyala api yaitu dengan memasukkan bara api
dari lidi yang telah siap ke dalam tabung reaksi secara perlahan. Dan hasilnya
menunjukkan bahwa pada bagian abdomen dan anterior tidak terdapat gelembung
dan pada bagian posterior hanya 3 gelembung yang terjadi. Selain itu ketiganya
ketika dimasukkan bara api ke dalamnya tidak terjadi nyala api. Itu membuktikan
bahwa katalase yang bekerja, tidak dterurai secara sempurna pada reaksi
penguraian hidrogen peroksida (H
2
O
2
) menjadi H
2
O (air) dan tidak timbul nyala
api itu berarti sedikit, bahkan tidak adanya penguraian dari H
2
O
2
menjadi O
2
. Hal
ini menandakan walaupun pada suhu normal, enzim katalase pada tubuh cacing
bekerja kurang maksimal dan mengalami sedikit denaturasi (kerusakan)
dikarenakan pH pada ketiga tabung tersebut adalah asam. Terbukti bahwa pada
keadaan yang terlalu asam yaitu dengan ditambahnya HCL dengan pH 1, enzim
tidak dapat bekerja secara optimal.
Pada ketiga tabung yang ke dua, dengan cara yang sama tetapi pH pada
tabung reaksi tersebut adalah 7 (netral) hasil yang diperoleh diantaranya, Jumlah
gelembung udara pada ketiga tabung reaksi tersebu adalah banyak, dengan urutan
tabung berisi bagian abdomen cacing lebih banyak (73 gelembung) daripada
bagian posterior cacing (53) dan lebih banyak dari interior cacing (28) hal ini
disebabkan oleh banyaknya uap air yang dihasilkan saat reaksi berlangsung,
terbukti bahwa enzim katalase yang terdapat di dalam tubuh cacing mengubah
H
2
O
2
menjadi H
2
O (air), sedangkan pada waktu dimasukkan lidi membara ke
dalamnya, timbul nyala api dengan urutan sama seperti tersebut sebelumnya. Hal
ini membuktikan bahwa H
2
O
2
juga diuraikan menjadi oksigen (O
2
), selain itu
jumlah konsentrasi oksigen dalam tabung, lebih banyak dibandingkan di luar
tabung. Adapun penyebab bagian abdomen cacing memiliki jumlah gelembung
yang lebih banyak daripada bagian posterior dan anteriornya, disebabkan pada
bagian abdomen cacing itu terdapat sistem pencernaan yang dimana tempat
terjadinya metabolisme makanan yang melibatkan enzim katalase.
Pada ketiga tabung yang terakhir, dengan menambahkan larutan basa
(NaOH) dengan pH pada tabung reaksi tersebut adalah 14 (netral) hasil yang
diperoleh diantaranya, pada bagian posterior dan anterior tidak terdapat
gelembung dan pada bagian abdomen hanya 3 gelembung yang terjadi. Selain itu
ketika ketiganya dimasukan bara api ke dalamnya tidak terjadi nyala api. Itu
membuktikan bahwa katalase yang bekerja, tidak terurai secara sempurna pada
reaksi penguraian hidrogen peroksida (H
2
O
2
) menjadi H
2
O (air) dan tidak timbul
nyala api. Itu berarti tidak adanya penguraian dari H
2
O
2
menjadi O
2
. Jadi, ini
membuktikan bahwa enzim katalase tidak dapat bekerja secara optimal dalam
kondisi terlalu basa.


d. Pengaruh suhu
Kacang Hijau
Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap
aktivitas enzim katalase. Faktor suhu ternyata berpengaruh sangat signifikan
terhadap kerja enzim katalase. Hal ini dapat dilihat pada hasil reaksi berbagai
macam keadaaan/kondisi yang memberikan hasil berlainan antara kondisi satu
dengan yang lainnya.
Reaksi di atas dapat dituliskan :
H
2
O
2
H2O +

O
2

Menyala atau tidaknya bara merupakan indikator adanya gas oksigen
dalam tabung tersebut. Enzim katalase yang dihasilkan pada kacang hijau (biji,
kecambah muda, berkecambah) akan mengalami denaturasi (kerusakan) pada
suhu yang tinggi. Enzim katalase bekerja secara optimal pada suhu kamar (25
0

30
0
).
Pada percobaan digunakan 3 tipe suhu, yaitu rendah 5
0
C, sedang 25
0
C, dan
tinggi 75
0
C. Pada kecambah yang jenis biji saat suhu rendah nyala apinya redup,
pada suhu sedang terang, dan pada suhu tinggi tidak menyala. Pada kecambah
muda saat suhu rendah nyala api terang, pada suhu sedang terang, dan saat suhu
tinggi tidak ada nyala api. Pada masa berkecambah saat suhu rendah dan suhu
tinggi tidak terdapat nyala api dan saat suhu sedang nyala api terang. Dari
percobaan ini dapat diketahui bahwa enzim katalase bekerja secara optimal pada
suhu kamar yang berada pada suhu sedang yaitu 25
0
C. Kecambah muda disitu
menunjukkan keoptimalan dimulai pada suhu rendah.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan dapat dibuktikan bahwa suhu yang paling berpengaruh keoptimalannya
adalah jenis suhu sedang (25
0
C). Kerja enzim katalase pada suhu sedang juga
lebih baik daripada kerja enzim katalase pada suhu rendah dan tinggi karena
dilihat dari tinggi busa yang terbentuk dan nyala bara api yang dihasilkan
jumlahnya lebih banyak.
Selain itu, penelitian ini akan lebih sempurna, apabila dilakukan sesuai
dengan prosedur, namun yang perlu kami ingatkan pada saat melakuakan
penelitian ini agar lebih sempuna, sehingga mendapatkan data yang lebih kongkrit
adalah sebagai berikut:
a. Praktikan bisa berhati hati dengan kekonstanan suhu yang diperhatikan.
b. Pada saat melakukan pengujian dengan bara api, usahakan jangan sampai
bara tersebut terkena busa, karena apabila terkena busa maka bara api
tersebut akan padam.
Cacing Tanah
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap
katalase. Pada praktikum ini, substrat yang digunakan adalah cacing sebagai
sember enzim katalase. Cacing yang digunakan berjumlah 3 ekor, 1 cacing
dimasukkan ke dalam air berisi es bersuhu 5
o
C, 1 cacing diletakkan pada suhu
kamar sekitar 30
o
C dan 1 cacing diletakkan pada inkubator dengan suhu 78
o
C dan
masing-masing dibiarkan selama 5 menit. Kemudian masing-masing cacing
dipotong menjadi 3 bagian, yaitu anterior, abdomen dan posterior. Setelah itu,
bagian-bagian tubuh cacing tersebut dimasukkan pada tabung reaksi yang telah
diisi dengan larutan hidrogen peroksida atau H
2
O
2
. Selanjutnya tabung reaksi
tersebut dihubungkan dengan tabung berskala yang penuh berisi air dengan selang
karet. Kemudian diamati jumlah gelembung yang terbentuk serta dilakukan tes
nyala dengan bara api terhadap masing-masing substrat. Hasil yang diperoleh
adalah pada tabel berikut :
Bagian
Tubuh
Cacing
Pada Menit Ke-5
Suhu Rendah (5
o
C) Suhu Kamar (30
o
C) Suhu Tinggi (78
o
C)
Nyala Gelembung Nyala Gelembung Nyala Gelembung
Anterior +++ 45 +++ 66 +++ 43
Abdomen +++ 50 +++ 94 +++ 45
Posterior ++ 30 +++ 55 ++ 28

Dari data hasil percobaan di atas, dapat diketahui bahwa gelembung yang
dihasilkan lebih banyak pada cacing yang diletakkan pada suhu kamar yaitu
30
o
C karena enzim katalase bekerja secara optimal pada suhu kamar. Jumlah
gelembung yang terbentuk pada suhu 5
o
C secara berturut-turut mulai dari anterior,
abdomen dan posterior yaitu 45, 50 dan 30. Pada suhu kamar, jumlah gelembung
yang terbentuk secara berturut-turut yaitu 66, 94 dan 55. Sedangkan pada suhu
78
o
C secara berturut-turut yaitu 43, 45 dan 28. Jumlah gelembung yang dihasilkan
lebih banyak dari bagian abdomen karena pada bagian inilah terdapat proses
metabolisme makanan. Pada suhu rendah, enzim masih belum aktif meskipun
tidak seluruhnya dan hal ini dibuktikan dengan adanya gelembung pada suhu 5
o
C.
Begitu juga pada suhu tinggi, enzim akan mengalami denaturasi atau kerusakan
struktur, namun dalam praktikum ini masih terdapat toleransi denaturasi enzim
pada suhu 78
o
C terhadap enzim katalase dengan adanya delembung udara.
Gelembung-gelembung tersebut merupakan molekul H
2
O dari pemecahan H
2
O
2
oleh enzim katalase, sedangkan adanya gas O
2
dapat diketahui dengan melihat
daya nyalanya dengan memasukkan bara api ke dalam tabung reaksi. Hasil yang
diperoleh adalah semua tabung menunjukkan adanya gas O
2
. Reaksi dari
pemecahan H
2
O
2
oleh enzim katalase yaitu :

2 H
2
O
2
2 H
2
O + O
2
Sehingga dapat disimpulkan bahwa suhu memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap pemecahan hidrogen peroksida (H
2
O
2
) oleh enzim katalase.
Pemecahan tersebut bekerja optimal pada suhu kamar, hal ini sesuai dengan teori
yang menyatakan bahwa enzim bekerja pada suhu optimum yaitu 30
o
C 40
o
C.





5.2.ANALISIS GRAFIK
5.2.1. Grafik 1 : Keberadaan Enzim Katalase


5.2.2. Grafik 2 : Pengaruh Penambahan H
2
O
2
dan sampel





71
133
114
61
66
80
73
0
20
40
60
80
100
120
140
J
u
m
l
a
h

G
e
l
e
m
b
u
n
g

Letak Katalase
Keberadaan Enzim Katalase
Series1
0
20
40
60
80
100
120
140
5 25 75
J
u
m
l
a
h

G
e
l
e
m
b
u
n
g

Suhu
Grafik Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas
Enzim Katalase
biji
kecambah muda
kecambah

5.2.3. Grafik 3 : Pengaruh pH



5.2.4. Grafik 4 : Pengaruh suhu


0
10
20
30
40
50
60
70
80
1 7 14
J
u
m
l
a
h

g
e
l
e
m
b
u
n
g

PH
Pengaruh PH terhadap Aktivitas Enzim
Katalase
Posterior
Abdomen
Inferior
0
10
20
30
40
50
60
70
80
J
u
m
l
a
h

G
e
l
e
m
b
u
n
g

Letak Katalase
Pengaruh Penambahan Substrat terhadap
Aktivitas Enzim Katalase
H2O2 + Bagian Tubuh
H2O2 + Bagian Tubuh +
H2O2
BAB VI
PENUTUP
6.1. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dan data diperoleh dapat disimpulkan :
1. Terdapat enzim katalase dalam anterior, abdomen, dan posterior
cacing ; biji kacang hijau, kacang hijau muda, dan kecambah kacang
hijau ; dan MnO
2
.
2. Pengaruh penambahan H
2
O
2
, jaringan katalase (anterior, abdomen,
dan posterior cacing ; biji kacang hijau, kacang hijau muda, dan
kecambah kacang hijau ; dan MnO
2
)pada aktivitas enzim katalase.
3. PH optimal untuk enzim katalase yaitu pada pH netral. Pada pH
asam/basa enzim katalase tidak bekerja optimal.
4. Temperature optimal untuk aktivitas katalase adalah pada temperature
ruang (suhu ruang). Pada suhu tinggi / rendah enzim katalase
aktivitasnya tidak optimal.
6.2.SARAN
Penelitian ini akan lebih sempurna, apabila dilakukan sesuai
dengan prosedur kerja. Namun perlu diperhatikan beberapa hal agar dalam
penelitian ini mendapatkan data yang lebih kongkrit, antara lain :
1. Praktikan perlu berhati hati dengan kekonstanan suhu sampel.
2. Pada saat melakukan pengujian dengan bara api, usahakan jangan
sampai bara tersebut terkena busa, karena apabila terkena busa maka
bara api tersebut akan padam.
3. Pada saat melakukan penelitian berhati-hatilah jika berhadapan denga
larutan, karena larutan H
2
O
2
bersifat toksik, usahkan gunakanlah
sarung tangan dan masker.
4. Semua sampel dibuat ekstrak untuk mempercepat laju reaksi sehingga
mudah diamati.


DAFTAR PUSTAKA :

Gilvery, Goldstein. 196. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional Edisi 3.
Surabaya : Airlangga University Press.
Girindra, A. 1993. Biokimia I. Jakarta: Gramedia.
Lehninger, A.L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Terjemahan Maggy
Thenawijaya. Jakarta: Erlangga.
Poedjiadi, Ana dkk. 2005. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press).
Riawan , S. 1990. Kimia Organik Edisi I. Jakarta : Binarupa Aksara.
http://www.scribd.com/doc/26597695/uji-enzim-katalase/