Anda di halaman 1dari 31

GAMBARAN PEMILIHAN

KONTRASEPSI KELUARGA
BERENCANA (STUDI KUALITATIF
DI DESA WOLOMAPA KECAMATAN
HEWOKLOANG KABUPATEN
SIKKA PROVINSI NUSA TENGGARA
TIMUR)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masalah penduduk merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh negara
berkembang, termasuk Indonesia. Salah satu masalah kependudukan yang dihadapi
Indonesia adalah laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi. Berbagai program
pembangunan telah dilakukan, sedang dan akan dilaksanakan untuk mengatasi
masalah kependudukan tersebut, antara lain melalui program pelayanan kesehatan ibu
dan anak, keluarga berencana dan pembangunan keluarga sejahtera.
Keluarga Berencana merupakan usaha untuk menjarangkan atau
merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Keluarga
Berencana memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta
mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera yang menjadi dasar bagi
terwujudnya masyarakat sejahtera dengan pengendalian kelahiran dan pertumbuhan
penduduk.
Jumlah penduduk dunia diperkirakan telah menembus 7 miliar jiwa pada
tahun 2012 ini. Hal ini didasari data mengenai jumlah penduduk bumi yang dirilis
update oleh biro sensus Amerika (IDB) international Data base pada bulan agustus
2011 saja jumlah penduduk dunia mencapai angka hampir menyentuh 7 miliar.
Tepatnya 6,952,939,682 jiwa dan Indonesia menempati urutan ke empat penduduk
terpadat di dunia.
Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, jumlah
penduduk Indonesia berjumlah 237,641,326 jiwa. Yang mengalami peningkatan
sebesar 5,32% dari tahun 2007. Dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar
1,28% yang diperkirakan jumlah kelahiran di Indonesia sebesar 5 Juta jiwa per tahun
dan perkiraan angka keguguran sebesar 3,5 juta per tahun.
Untuk coba mengatasi permasalahan laju penduduk ini maka pemerintah
berupaya untuk meningkatkan program Keluarga Berencana (KB). Sasaran program
KB adalah Pasangan Usia Subur yaitu suami dan isteri. Sekarang ini program
keluarga berencana nasional mempunyai paradigma baru dengan visi yang telah
diubah menjadi mewujudkan keluarga berkualitas tahun 2015, keluarga berkualitas
adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang
ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis, dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa (Pinem, 2009). KB dapat dilaksanakan jika pasangan usia
subur mau berpartisipasi dalam menggunakan alat kontrasepsi sebagai upaya untuk
mewujudkan program keluarga berencana.
Peserta KB nasional periode Agustus 2012 sebanyak 6.152.231 pengguna.
Apabila dilihat per mix kontrasepsi maka persentasenya adalah sebagai berikut, yang
mengggunakan IUD 459.177 orang atau 7,46 %, MOW 87.079 orang atau 1,24 %,
MOP 17.331 orang atau 0,28 %, kondom 462.186 atau 7,51 %, implant 527.569
orang atau 8,58%, suntikan 2.949.633 atau 47,94 %, dan pil 1.649.256 orang atau
26,81 % (BKKBN Nasional 2012)
Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa sebagaian besar masyarakat
indonesia yang menggunakan alat kontrasepsi memilih yang metode non kontrasepsi
jangka panjang atau dapat dikatakan mereka memilih alat kontrasepsi yang memiliki
reaksi jangka pendek. Total pengguna alat kontrasepsi jangka pendek mencapai
83,33%, sementara pengguna alat kontrasepsi jangka panjang hanya sebesar 16,67%.
Metode kontrasepsi yang mayoritas dipilih oleh masyarakat yaitu metode Suntikan
dengan persentase 47,94%, sementara metode yang paling tidak diminati oleh
masyarakat Indonesia adalah metode MOP dengan persentase hanya 0,51%.
Meskipun program KB dinyatakan cukup berhasil di Indonesia, namun dalam
pelaksanaanya hingga saat ini masih mengalami hambatan-hambatan yang dirasakan
antara lain adalah masih banyak Pasangan Usia Subur (PUS) yang masih belum
menjadi peserta KB. Disinyalir ada beberapa faktor penyebab mengapa wanita PUS
enggan menggunakan alat kontrasepsi. Faktor-faktor tersebut dapat ditinjau dari
berbagai segi yaitu: segi pelayanan KB, segi ketersediaan alat kontrasepsi, segi
pengetahuan juga hambatan agama dan, hambatan budaya.
Berdasarkan hasil presurvey BKKBN pada Juli 2010 di Nusa Tenggara
Timur, jumlah Pasangan Usia Subur sebanyak 661.122 peserta. Pasangan yang
menjadi peserta KB Aktif pada bulan juli 2010 sebanyak 466.026 orang yakni peserta
baru IUD sudah tercapai 45,4 persen dari perkiraan permintaan masyarakat (PPM).
MOW sudah mencapai 57,1 persen, MOP 55,7 persen dan kondom mencapai 69,6
persen selama pencapaian semester satu ini (BKKBN NTT 2010).
Kontrasepsi secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu alat atau metode yang
digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan (BKKBN, 2007). Kontrasepsi
menjadi tanggung jawab bersama antara pria dan wanita sebagai pasangan, sehingga
metode kontrasepsi yang dipilih mencerminkan kebutuhan serta keinginan suami dan
istri.
Suami dan istri harus saling mendukung dalam penggunaan metode
kontrasepsi, hal ini dikarenakan KB dan kesehatan reproduksi adalah tanggung jawab
suami istri. Namun jumlah pria yang menggunakan alat kontrasepsi di Indonesia
hanya 2,7 % dari total jumlah penduduk Indonesia (BKKBN,2011). Hal ini
memberikan indikasi bahwa partisipasi kaum perempuan dalam menggunakan
kontrasepsi masih cukup dominan dibandingkan partisipasi pria dalam menggunakan
alat kontrasepsi. Ada beberapa faktor yang membuat pria enggan untuk menggunakan
alat kontrasepsi di antaranya adalah rendahnya pengetahuan dan pemahaman tentang
hak-hak reproduksi, keterbatasan alat kontrasepsi pria, kondisi sosial, adanya
kebudayaan di suatu daerah, adanya rumor tentang vasektomi serta penggunaan
kondom untuk hal yang bersifat negatif (BKKBN, 2009).
Berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 2010, jumlah Penduduk
Kabupaten Sikka adalah 300.328 jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut, diketahui
sebanyak 32,49 % masih atau sedang aktif menggunakan KB dan 6,84 % tidak
menggunakan lagi dengan berbagai alasan. Alat KB yang paling banyak digunakan di
Kabupaten Sikka adalah suntikan KB, kemudian diikuti oleh susuk KB dan pil KB
(BKKBN SIKKA 2010)
Dari data sekunder yang di peroleh, jumlah penduduk Kecamatan
Hewokloang tahun 2011 adalah 9.708 jiwa dengan jumlah pasangan usia subur
sebanyak 1.214 Pus. Dari jumlah tersebut yang mengikuti KB secara aktif adalah 753
orang. Jenis KB yang paling banyak digunakan di Kecamatan Hewokloang adalah
KB IUD sebanyak 256 orang atau 33,07%, jenis KB suntikan yang biasanya paling
banyak digunakan akseptor KB aktif, digunakan sebanyak 261 orang atau 33,72
persen. Jenis KB MOP tidak ada yang menggunakan (Sumber : diolah dari kda
hewokloang 2012).
Dari data yang diperoleh di Desa Wolomapa Kecamatan Hewokloang
Kabupaten Sikka diketahui bahwa jumlah penduduk sebanyak 1.255 jiwa dengan
jumlah penduduk laki-laki sebanyak 551 jiwa dan wanita berjumlah 624 jiwa. Dari
jumlah penduduk diatas terdapat 244 jiwa merupakan pasangan usia subur dengan
klasifikasi hanya 71 orang yang menjadi akseptor KB, akan tetapi yang aktif
menggunakan hanya 21 orang saja yaitu yang meggunakan pil 10 orang, implant 3
orang, MOW 2 orang, IUD 4 orang, dan 2 orang yang memakai kondom (data
sekunder Desa Wolomapa).
Karakteristik responden yang meliputi pendidikan, umur, jumlah anak dan
pekerjaan dapat mempengaruhi pasangan usia subur dalam menggunakan alat
kontrasepsi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Nurhadi (2009) bahwa terdapat
hubungan antara pendidikan, pandangan agama, tokoh agama dan tokoh masyarakat
dengan ikut serta KB. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Rustam (2006)
dalam Riski (2010), yang menunjukkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap partisipasi PUS dalam penggunaan kontrasepsi moderen di
Indonesia.
Agama dan budaya yang menjadi bagian dari karakteristik juga dapat
mempengaruhi individu dalam menggunakan alat kontrasepsi, hal ini dikarenakan
agama dan suku dapat mempengaruhi individu dalam memandang suatu hal sehingga
kedepannya juga akan dapat mempengaruhi individu dalam melakukan sesuatu hal
termasuk juga PUS dalam menggunakan alat kontrasepsi. Hal ini sesuai dengan hasil
penelitian Riski (2010) bahwa hanya agama yang memiliki pengaruh terhadap
persepsi PUS dalam ber-KB.
Hal lainnya yang dapat mempengaruhi partisipasi pasangan usia subur dalam
penggunaan alat kontrasepsi adalah pengetahuan dan sikap pasangan usia subur
tentang penggunaan alat kontrasepsi. Hal ini dikarenakan akseptor yang memiliki
pengetahuan dan sikap yang baik tentang penggunaan alat kontrasepsi maka akan
dapat membuat akseptor tersebut akan mau untuk menggunakan alat kontrasepsi.
Banyak hal yang dapat mempengaruhi seseorang menggunakan ataupun
menolak penggunaan kontrasepsi ini membuat peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang Gambaran Pemilihan Penggunaan Kontrasepsi Keluarga
Berencana (Studi Kualitatif Di Desa Wolomapa Kecamatan Hewokloang Kabupaten
SIKKA)


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas yang menunjukan bahwa masih
banyak pasangan usia subur yang tidak menggunakan alat kontrasepsi dengan
berbagai alasan tertentu. Maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah bagaimana gambaran pemilihan penggunaan kontrasepsi di Desa Wolomapa
Kecamatan Hewokloang Kabupaten Sikka.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan informasi mendalam tentang pemilihan penggunaan kontrasepsi
di Desa Wolomapa Kecamatan Hewokloang Kabupaten Sikka.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mendapatkan informasi mendalam tentang faktor pengetahuan yang berkaitan
dengan pemilihan penggunaan kontrasepsi
b. Untuk mendapatkan informasi mendalam tentang faktor agama yang berkaitan
dengan pemilihan penggunaan kontrasepsi
c. Untuk mendapatkan informasi mendalam tentang faktor budaya yang berkaitan
dengan pemilihan penggunaan kontrasepsi
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan dalam rangka meningkatkan
pelayanan KB terutama pada pasangan usia subur (PUS).


2. Bagi Institusi Pendidikan.
Sebagai bahan bacaan bagi institusi pendidikan dalam kegiatan proses belajar dan
sebagai bahan acuan bagi penulis selanjutnya.
3. Bagi Masyarakat Desa
Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan pelayanan KB bagi masyarakat
terutama pasangan usia subur (PUS).


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Kontrasepsi
1. Pengertian
Istilah kontrasepsi berasal dari kata kontra dan konsepsi. Kontra berarti
melawan atau mencegah, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur
yang matang dengan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari
kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat
adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma. Untuk itu, berdasarkan maksud
dan tujuan kontrasepsi, maka yang membutuhkan kontrasepsi adalah pasangan yang
aktif melakukan hubungan seks dan kedua-duanya memiliki kesuburan normal
namun tidak menghendaki kehamilan (Suratun, 2008).
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu
dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi
merupakan variabel yang mempengaruhi fertilitas (Prawirohardjo, 2005 B).
Kontrasepsi atau antikonsepsi (conception control) adalah cara untuk
mencegah terjadinya konsepsi, alat atau obat-obatan (Mochtar, 1998).

2. Tujuan Kotrasepsi
a. Tujuan umum
Pemberian dukungan dan pemantapan penerimaan gagasan keluarga berencana yaitu
dihayatinya NKKBS.
b. Tujuan pokok
Penurunan angka kelahiran yang bermakna.
3. Syarat-Syarat Kontrasepsi
Hendaknya kontrasepsi memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a. Aman memakaiannya dan dapat dipercaya
b. Efek samping yang merugikan tidak ada
c. Lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan
d. Tidak mengganggu hubungan persetubuhan
e. Tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama pemakaiannya
f. Cara penggunaannya sederhana
g. Harganya murah supaya dapat dijangkau oleh masyarakat luas
h. Dapat diterima oleh pasangan suami istri (Mochtar, 1998).
4. Metode-Metode Kontrasepsi
a. Metode sederhana
1) Tanpa alat (Kontrasepsi alamiah)
a) Metode kalender (ogino-knaus)
b) Metode suhu badan basal (termal)
c) Metode lendir serviks (billings)
d) Metode simpto-termal
e) Coitus interruptus
2) Dengan alat
a) Mekanis (barrier)
(1) Kondom pria
(2) Barrier intra-vaginal
(a) Diafragma
(b) Kap serviks (cervical cap)
(c) Spons (sponge)
(d) Kondom wanita
b) Kimiawi
(1) Spermisid
(a) Vaginal cream
(b) Vaginal foam
(c) Vaginal jelly
(d) Vaginal suppositoria
(e) Vaginaal tablet (busa)
(f) Vaginal soluble film
b. Metode moderen
1) Kontrasepsi hormonal
a) Per-oral
(1) Pil oral kombinasi (POK)
(2) Mini-pil
(3) Morning-after pill
b) Injeksi/Suntikan
(DMPA,NET-EN,microspheres,microcapsules)
c) Sub-kutis : implant
(alat kontrasepsi bawah kulit : AKBK)
(1) Impalnt Non-biodegradable
(norplant,norplant-2,ST-1435,implanon)
(2) Implant biodegradable
(3) (capronor,pelllets)
2) Intra uterine devices (IUD,AKDR)
a) Kontrasepsi mantap
(1) Pada wanita
(a) Penyinaran
(b) Operatif, Medis Operatif Wanita
(c) Penyumbatan tuba fallopi secara mekanis
(d) Penyumbatan tuba fallopi secara kimiawi
(2) Pada pria
(a) Operatif medis pria
(b) Penyumbatan vas deferenes secara mekanis
(c) Penyumbatan vas deverens secara kimiawi

B. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan
1. Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2007) Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
itu terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar penginderaan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga.
Pengetahuan adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab
pertanyaan what, misalnya, apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya
(Notoatmodjo, 2005).
2. Tingkatan Pengetahuan
Menurut Soekidjo Notoadmodjo, pengetahuan dibagi menjadi enam tingkatan yang
tercakup dalam domain kognitif yaitu :
a. Tahu (know)
Dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk
ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu
(know) ini merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara
benar. Seseorang yang telah faham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat
menyimpulkan dan menyebutkan contoh, menjelaskan, meramalkan, dan sebagainya
terhadap objek yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan
sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip
dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi dan
masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan,
memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan
kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat
meringkas, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-
rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu
kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada
misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang
kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat, dapat
menafsirkan sebab-sebab ibu-ibu tidak mau ikut KB dan sebagainya (Notoatmodjo,
2003).
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan
a. Umur
Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang
tahun, semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih
matang dalam berfikir dan bekerja (Nursalam & Siti Pariani 2000: 134).
b. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang terhadap orang lain
menuju kearah suatu cita-cita tertentu (Suwono, 1992). Jadi, dapat dikatakan bahwa
pendidikan itu menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya untuk
mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang, semakin mudah menerima informasi sehingga semakin banyak pula
menerima pengetahuan yang dimilikinya (Nursalam&Pariani 2000:133).
c. Pekerjaan
Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupan dan kehidupan keluargannya (Nursalam & Pariani 2000:133).
d. Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi terlalu rendah sehingga tidak begitu memperhatikan pesan-
pesan yang disampaikan karena lebih memikirkan kebutuhan-kebutuhan lain yang
lebih mendesak (Efendi Nasrul, 1998:248).
4. Sumber Pengetahuan Manusia.
a. Tradisi
Tradisi adalah suatu dasar pengetahuan di mana setiap orang tidak dianjurkan untuk
memulai mencoba memecahkan masalah. Akan tetapi tradisi mungkin terdapat
kendala untuk kebutuhan manusia karena beberapa tradisi begitu melekat sehingga
validitas, manfaat, dan kebenarannya tidak pernah dicoba/diteliti.
b. Autoritas
Dalam masyarakat yang semakin majemuk adanya suatu autoritas seseorang dengan
keahlian tertentu, pasien memerlukan perawat atau dokter dalam lingkup medik.
Akan tetapi seperti halnya tradisi jika keahliannya tergantung dari pengalaman
pribadi sering pengetahuannya tidak teruji secara ilmiah.
c. Pengalaman Seseorang
Kita semua memecahkan suatu permasalahan berdasarkan obsesi dan pengalaman
sebelumnya, dan ini merupakan pendekatan yang penting dan bermanfaat.
Kemampuan untuk menyimpulkan, mengetahui aturan dan membuat prediksi
berdasarkan observasi adalah penting bagi pola penalaran manusia. Akan tetapi
pengalaman individu tetap mempunyai keterbatasan pemahaman : a) setiap
pengalaman seseorang mungkin terbatas untuk membuat kesimpulan yang valid
tentang situasi, dan b) pengalaman seseorang diwarnai dengan penilaian yang bersifat
subyektif.
d. Trial dan Error
Kadang-kadang kita menyelesaikan suatu permasalahan keberhasilan kita dalam
menggunakan alternatif pemecahan melalui coba dan salah. Meskipun pendekatan ini
untuk beberapa masalah lebih praktis sering tidak efisien. Metode ini cenderung
mengandung resiko yang tinggi, penyelesaiannya untuk beberapa hal mungkin
idiosyentric.
e. Alasan yang Logis
Kita sering memecahkan suatu masalah berdasarkan proses pemikiran yang logis.
Pemikiran ini merupakan komponen yang penting dalam pendekatan ilmiah, akan
tetapi alasan yang rasional sangat terbatas karena validitas alasan deduktif tergantung
dari informasi dimana seseorang memulai, dan alasan tersebut mungkin tidak efisien
untuk mengevaluasi akurasi permasalahan.
f. Metode Ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan yang paling tepat untuk mencari suatu
kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistematis serta
dalam mengumpulkan dan menganalisa datanya didasarkan pada prinsip validitas dan
reliabilitas (Nursalam,2001:9).
C. Tinjauan Umum Tentang Agama
1. Pengertian
Agama merupakan keyakinan yang dianut seseorang yang dijadikan pegangan
dalam menjalani kehidupan. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
suatu prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau
nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian
dengan kepercayaan tersebut.
2. Unsur-Unsur
Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:
a. Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan
lagi
b. Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.
c. Praktek keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-Nya, dan
hubungan horizontal atau hubungan antar umat beragama sesuai dengan ajaran agama
d. Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan yang dialami
oleh penganut-penganut secara pribadi.
3. Fungsi Agama
a. Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
b. Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia
c. Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
d. Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
e. Pedoman perasaan keyakinan
f. Pedoman keberadaan
g. Pengungkapan estetika (keindahan)
h. Pedoman rekreasi dan hiburan
i. Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.
4. Cara Beragama
Berdasarkan cara beragamanya:
a. Tradisional, yaitu cara beragama berdasar tradisi. Cara ini mengikuti cara
beragamanya nenek moyang, leluhur atau orang-orang dari angkatan sebelumnya.
Pada umumnya kuat dalam beragama, sulit menerima hal-hal keagamaan yang baru
atau pembaharuan. Apalagi bertukar agama, bahkan tidak ada minat. Dengan
demikian kurang dalam meningkatkan ilmu amal keagamaanya.
b. Formal, yaitu cara beragama berdasarkan formalitas yang berlaku di lingkungannya
atau masyarakatnya. Cara ini biasanya mengikuti cara beragamanya orang yang
berkedudukan tinggi atau punya pengaruh. Pada umumnya tidak kuat dalam
beragama. Mudah mengubah cara beragamanya jika berpindah lingkungan atau
masyarakat yang berbeda dengan cara beragamnya. Mudah bertukar agama jika
memasuki lingkungan atau masyarakat yang lain agamanya. Mereka ada minat
meningkatkan ilmu dan amal keagamaannya akan tetapi hanya mengenai hal-hal yang
mudah dan nampak dalam lingkungan masyarakatnya.
c. Rasional, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan rasio sebisanya. Untuk itu
mereka selalu berusaha memahami dan menghayati ajaran agamanya dengan
pengetahuan, ilmu dan pengamalannya. Mereka bisa berasal dari orang yang
beragama secara tradisional atau formal, bahkan orang tidak beragama sekalipun.
d. Metode Pendahulu, yaitu cara beragama berdasarkan penggunaan akal dan hati
(perasaan) dibawah wahyu. Untuk itu mereka selalu berusaha memahami dan
menghayati ajaran agamanya dengan ilmu, pengamalan dan penyebaran (dakwah).
Mereka selalu mencari ilmu dulu kepada orang yang dianggap ahlinya dalam ilmu
agama yang memegang teguh ajaran asli yang dibawa oleh utusan dari
sesembahannya semisal Nabi atau Rasul sebelum mereka mengamalkan,
mendakwahkan dan bersabar (berpegang teguh) dengan itu semua.
5. Sudut Pandang Agama Tentang Kontrasepsi
Para pemuka agama menyadari bahwa dalam membangun bangsa, pengaturan
masalah kependudukan merupakan masalah utama yang perlu ditangani dengan
cermat. Mereka memahami bahwa KB tidak bertentangan dengan agama dan
merupakan salah satu upaya untuk memerangi kemiskinan, kebodohan,
keterbelakangan dan ketidak pedulian masyarakat.
Ditinjau dari segi agama, tidak ada satu agama pun di Indonesia yang secara
pasti menolak program KB, meskipun pada awalnya banyak keraguan akan hukum
agama dari program ini.
Namun, pada saat ini beberapa agama telah mendukung program ini. Berikut
pandangan empat agama besar di Indonesia tentang program KB.
a. Agama Islam
Pandangan para ulama di Indonesia tentang KB pada umumnya menyetujui
atau sekurang-kurangnya tidak menentang. Bahkan pada masa Nabi Muhammad
SAW telah dikenal metode kontrasepsi alamiah yang dikenal dengan nama azl atau
coitus interuptus yang disebut juga dengan senggama terputus. Namun, beberapa
pemikir Islam meragukan hukum ber-KB, karena menyamakan program ini dengan
larangan membunuh bayi. Pembunuhan bayi sama sekali tidak sama dengan memakai
alat kontrasepsi, karena pembunuhan bayi adalah pembunuhan nyata dari anak yang
telah lahir sedangkan memakai alat kontrasepsi adalah mencegah terjadinya
pembuahan. Oleh karena itu aborsi sebagai metode KB dilarang di Indonesia dan cara
KB lainnya diperbolehkan (Ebrahim, 1997).
Metode kontap sebagai salah satu alat KB juga diperdebatkan oleh para ulama
Islam, karena sifatnya yang permanen dan menganggap cara ini sama dengan
pengebirian yang dilarang dalam hukum Islam. Namun belakangan metode ini
akhirnya diperbolehkan dengan pertimbangan bila metode KB lain memang tidak
sesuai dan alasan kesehatan dari PUS itu sendiri.
b. Agama Kristen
Pandangan agama Kristen, dalam hal ini Katolik, pada dasarnya menyetujui
program KB dengan batasan-batasan yang telah ditentukan di antaranya adalah :
1) Masalah KB misalnya : jenis kontrasepsi yang dipakai, jumlah anak yang diinginkan,
dan lain-lain ditentukan oleh suami istri sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain
termasuk pemerintah.
2) Penentuan tentang keikutsertaan ber-KB harus disepakati bersama antara suami istri.
3) Dalam konsili disebutkan bahwa cara-cara KB yang dilarang adalah pengguguran
(aborsi) dan pembunuhan bayi. Selain itu cara coitus interuptus dan sterilisasi baik
yang permanen maupun tidak juga dilarang.
4) Cara ber-KB yang dianjurkan oleh gereja adalah pantang berkala. Mengenai cara ini
ensiklik hummanae menolak semua cara ber-KB selain pantang berkala.
5) Bila cara pantang berkala telah dicoba dan mengalami kesulitan atau membahayakan
kesehatan, maka suami istri dapat meminta nasehat kepada imam sebagai Bapak
rohani untuk menentukan jalan keluar yang tepat (BKKBN, 1980).
c. Agama Hindu
Pandangan agama Hindu terhadap program KB sangat positif bahkan
cenderung mendukung karena program ini dianggap sejalan dengan ajaran agama
Hindu. Alat kontrasepsi tercipta dari ilmu pengetahuan, dan ilmu yang dipergunakan
untuk kesejahteraan manusia, akan disetujui oleh Hindu Dharma dan tidak akan
ditentang. Bahkan penggunaan alat kontrasepsi diatur agar sesuai dengan
desa/tempat, kala/waktu,dan patra/keadaan (BKKBN, 1980).
Namun demikian metode pengguguran (abortus criminalis) dianggap sebagai
dosa besar karena bertentangan dengan ajaran Ahimsa Karma. Pengguguran janin
dianggap sama dengan pembunuhan orang suci. Oleh karena itu, metode ini sangat
ditentang oleh umat Hindu.
d. Agama Budha
Agama Budha menyetujui program KB dan penggunaan metode kontrasepsi apabila :
1) Metode kontrasepsi tidak mengandung unsur-unsur pembunuhan
2) Kontrasepsi dilakukan atas dasar saling pengertian antara suami istri dengan maksud
memberikan kesempatan mendidik, merawat, dan mempersiapkan diri buat
kehidupan anak-anak yang sudah ada
3) Tidak ada unsur-unsur melarikan diri dari tanggung jawab
4) Semua tindakan ber-KB dilakukan atas dasar bimbingan dan pengawasan para ahli
yang bersangkutan (BKKBN, 1980).
Agama Budha memperbolehkan pemakaian kontrasepsi karena pencegahan
kehamilan dengan memakai alat kontrasepsi dianggap sama dengan pencegahan
pertemuan sel telur dengan sel sperma yang berarti pula mencegah terjadinya
makhluk. Hal ini berarti tidak terjadi pembunuhan, karena sel telur dan sel sperma
sendiri menurut agama Budha bukanlah makhluk.
D. Tinjauan Umum Tentang Budaya
1. Pengertian
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata
Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai
mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh
sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk
dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga
budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang
cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks,
abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.
Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang
terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah
sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan
adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide
atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-
hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh
manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang
bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial,
religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia
dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
2. Unsur-Unsur Budaya
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur
kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
a. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
1) alat-alat teknologi
2) sistem ekonomi
3) keluarga
4) kekuasaan politik
b. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
1) Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat
untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
2) Organisasi ekonomi
3) Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga
adalah lembaga pendidikan utama)
4) Organisasi kekuatan (politik)
3. Wujud dan komponen budaya
a. Wujud budaya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan,
aktivitas, dan artefak.
1) Gagasan (Wujud Ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide,
gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak;
tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala
atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan
gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu
berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat
tersebut.
2) Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia
dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem
sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan
kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang
berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari,
dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3) Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan,
dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang
dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga
wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud
kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain.
Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada
tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
b. Komponen Budaya
Berdasarkan wujudnya tersebut, budaya memiliki beberapa elemen atau komponen,
menurut ahli antropologi Cateora, yaitu :
1. Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret.
Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari
suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan seterusnya.
Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang,
stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2. Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari
generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian
tradisional
3. Lembaga sosial
Lembaga sosial dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam konteks
berhubungan dan berkomunikasi di dalam masyarakat. Sistem social yang terbentuk
dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social
masyarakat.
4. Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau
keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada
dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan,
bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai
dengan cara bagaimana berkomunikasi.
5. Estetika
Berhubungan dengan seni dan kesenian, musik, cerita, dongeng, hikayat, drama dan
tari-tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia
setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami
dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan
efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangun
bagunan jenis apa saja harus meletakan janur kuning dan buah-buahan, sebagai
symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang
mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
6. Bahasa
Bahasa merupakan alat pengantar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap wilayah,
bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat kompleks. Dalam ilmu
komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa
memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa
tersebut.

BAB III
KERANGKA KONSEP

Layanan dan informasi keluarga berencana merupakan intervensi kunci dalam
upaya meningkatkan kesehatan perempuan dan anak serta merupakan hak asasi
manusia.
Telah terjadi perkembangan yang berarti dalam teknologi kontrasepsi
misalnya transisi dari estrogen dosis tinggi ke dosis rendah pada pil kombinasi atau
dari AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) inert ke AKDR (alat kontrasepsi dalam
rahim yang mengeluarkan levonorgestrel. Perkembangan ini telah menghasilkan lebih
banyak tentang metode kontrasepsi yang lebih aman dan efektif. Akan tetapi dilain
pihak masih sangat banyak pasangan yang belum menggunakan kontrasepsi karena
berbagai faktor seperti, pengetahuan, agama dan budaya.
A. Variabel Penelitian
1. a. Variabel independen
2. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pengetahuan, agama dan budaya.
3. Variabel dependen
4. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kontrasepsi


B. Pola Pikir Penelitian

Pengetahuan


Agama

Budaya

Pemilihan penggunaan kontraseps
Keterangan
= Variabel Independen

= Variabel Dependen

= Penghubung
C. Konseptual
1. Pengetahuan adalah : pemahaman pasangan usia subur tentang pengguanaan
kontrasepsi
2. Agama adalah pandangan pasangan usia subur tentang kontrasepsi yang dipengaruhi
juga oleh kepercayaan agama yang dianutnya
3. Budaya adalah pemahaman pasangan usia subur tentang penggunaan kontrasepsi
yang dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungan masyarakat
4. Pemilihan penggunaan kontrasepsi adalah sikap yang ditunjukan oleh pasangan usia
subur untuk memilih jenis kontrasepsi yang akan di pakainya.


BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
B. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian yang dimaksud adalah di wilayah Desa Wolomapa
Kecamatan Hewokloang Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur
C. Informan
Informan kunci dalam penelitian ini adalah pasangan usia subur yang
berada di Desa Wolomapa yang dapat memberikan informasi gambaran umum
tentang objek penelitian dan informan biasa yaitu, tokoh masyarakat, petugas
kesehatan, budayawan daerah, dengan pengambilan sampel secara Purposive
Sampling yaitu cara pengambilan sampel yang tidak di acak sesuai dengan
keterbatasan peneliti.
Adapun kriteria informan yang diharapkan mampu memberikan informasi
mendalam mengenai penelitian adalah:
a. Bersedia diwawancarai
b. Masyarakat Desa Wolomapa
c. Pasangan usia subur yang pernah menggunakan kontrasepsi
d. Pasangan usia subur yang tidak pernah menggunakan kontrasepsi
e. Pasangan yang sudah menikah atau kawin
D. Metode Pengumpulan Data
1. Cara pengumpulan data
Data primer dikumpulkan melalui pengamatan partisipatif, wawancara mendalam
(indeph interview) dengan menggunakan pedoman wawancara dan kelompok diskusi
terarah FGD (focus group discution)
2. Instrumen penelitian
Adapun instrumen dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Peneliti
b. Alat perekam (tape recorder)
c. Kamera
d. Catatan lapangan
e. Pedoman wawancara
E. Pengelolaan Dan Penyajian Data
Pengelolaan data dilakukan secara manual dengan mengelompokan hasil
wawancara sesuai tujuan penelitian dan selanjutnya dilakukan analisis isi (Content
Analisys) selanjutnya diinterpretasikan, kemudian disajikan dalam bentuk
naskah/teks (narasi).
F. Tekhnik Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk mencerminkan informasi yang dikumpulkan, maka kemudian
dilakukan triangulasi. Dalam penelitian kualitatif jumlah informan biasanya sedikit.
Oleh karena itu agar validitas data tetap terjaga, maka perlu dilakukan beberapa
stategi.
Uji validitas yang digunakan dalam penelitian kualitatif disebut triangulasi
yang meliputi triangulasi sumber, triangulasi data serta triangulasi metode. Yaitu
sebagai berikut.
a. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber ini dilakukan dengan cara membandingkan (cross chek) antara
informasi yang satu dengan jawaban informan lain, hal ini dilakukan untuk melihat
korelasi informasi yang didapatkan.
b. Triangulasi metode
Untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada
sumber yang sama dengan tekhnik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan
wawancara, lalu dicek dengan observasi dan dokumentasi.
c. Triangulasi data
Triangulasi data dilakukan menganalisis secara kritis terhadap informasi yang
didapatkan dengan penelusuran hasil wawancara dengan mendengarkan dan melihat
secara akurat hasil wawancara.