Anda di halaman 1dari 13

Teknologi Pencelupan Secara Kontinyu Pada Serat Polyester Dengan Zat Warna Dispersi

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
KATA PENGANTAR . ii
DAFTAR ISI .... iii
BAB I. PENDAHULUAN . 1
I.1 Latar Belakang . 1
I.2 Tujuan Penulisan 1
I.3 Ruang Lingkup Pembahasan ... 1
BAB II. PENCELUPAN CARA KONTINYU .. 2
II.1.PENCELUPAN KONTINYU .... 2
II.2.SEJARAH ZAT WARNA DISPERSI .... 2
II.3.PROSES PENCELUPAN .... 4
BAB III. PENUTUP 15
A. KESIMPULAN 15
B. SARAN .. 15
DAFTAR PUSTAKA



BAB. I
PENDAHULUAN
Pencelupan adalah suatu proses pemberian warna pada bahan tekstil secara merata dan baik, sesuai
dengan warna yang diinginkan. Didalam pencelupan juga ada beberapa hal yang harus diperhatikan,
diantaranya adalah zat warna, serat yang dipakai dan metode pencelupan itu sendiri.
Pemilihan zat warna yang sesuai untuk serat merupakan suatu hal yang penting. Pewarnaan akan
memberikan nilai jual yang lebih tinggi. Efisiensi zat warna sangat penting dimana harga bahan kimia
cenderung mengalami kenaikan. Selain itu efektifitas kecocokan warna harus diperhatikan kerena
merupakan literatur utama penentu mutu produk tekstil.
I.1 LATAR BELAKANG
Pencelupan adalah suatu proses pemberian warna pada bahan tekstil secara merata dan baik, sesuai
dengan warna yang diinginkan. Sebelum pencelupan dilakukan maka harus dipilih zat warna yang sesuai
dengan serat. Pencelupan dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik dengan menggunakan alat
alat tertentu pula.
I.2 TUJUAN PENULISAN
Penulisan kajian ini merupakan upaya dalam memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Pencelupan III juga
sebagai sarana dalam mengembangkan kemampuan akademik mahasiswa. Kajian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi pembaca dimana uraian uraian tersebut mampu memberikan tambahan
pengetahuan dalam teknologi pencelupan tekstil.
I.3 RUANG LINGKUP PEMBAHASAN
Pembahasan ini hanya sebatas tinjauan literatur dengan mengambil pokok bahasan Pencelupan Secara
Kontinyu Pada Serat Polyester Dengan Zat Warna Dispersi.

BAB. II
ISI
PENCELUPAN KONTINYU

II.1 PENCELUPAN KONTINYU
Proses pencelupan sistem thermosol merupakan proses pencelupan kontinyu, yakni proses dimana
fiksasi zat warna didalam serat dilakukan dengan menggunakan panas.
Berhubung proses ini proses kontinyu, maka bahan tekstil yang mau diproses harus mempunyai jumlah
yang besar untuk satu item warna, sehingga akan ekonomis dalam biaya prosesnya.
Pada dasarnya proses pencelupan methoda thermosol ini terdiri dari 4 tahapan, yaitu :
1. Tahap padding larutan zat warna
2. Tahap pengeringan
3. Tahap fiksasi zat warna dalam serat dengan panas
4. Tahap proses pencucian
II.2 SEJARAH ZAT WARNA DISPERSI
Zat warna dispersi pertama-tama dibuat pada tahun 1923 oleh Baddlley dan Shephardson dari British
dyestuffs sebagai zat warna Dispersol dan Ellls dari British Celanese menemukan zat warna S.R.A.
(Sulpho ricinoleic Acid).
Zat warna ini mula-mula ditemukan untuk mencelup serat selulosa asetat. Serat selulosa asetat tidak
dapat dicelup langsung dengan zat warna direk, atau asam karena seratnya hidrofob. Serat asetat baru
dapat dicelup dengan zat warna direk setelah seratnya dihidrolisa kembali menjadi selulosa dengan soda
kostik, tetapi hasilnya tidak memuaskan.
Dari penyelidikan ternyata bahwa selulosa asetat mampu menyerap zat organik yang tidak larut dalam
air, dengan membuatnya dalam bentuk suspensi. Maka Green dan Saunders (tahun 1922)
memperkenalkan zat warna Ionamine KA, sebagai senyawa azo dari metil-w-sulfonat. Di dalam air
senyawa ini terhidrolisa dan membebaskan senyawa azo (senyawa 47) yang terserap oleh serat asetat
dan melepaskan bisulfitformaldehida. Kedudukan Ionamine segera tergeser oleh zat warna Dispersol
dan S.R.A, karena zat warna dispersi ini lebih mudah mencelup serat dan warnanya lebih tahan luntur.
Zat warna Dispersol yang pertama-tama adalah suatu senyawa antrakinon dan S.R.A. adalah pigmen
yang didispersikan. Kedua zat warna tersebut mencelup serat dengan bantuan zat pendispersi. Zat
warna S.R.A diberi nama dari zat pendispersi yang dipakai, yaitu asam sulforisinolat (sulforicinollcacid)
yang kemudian diganti dengan zat warna pendispersi buatan yang lebih baik.
Penemuan zat warna dispersi ini menjadi sangat penting dengan ditemukannya serat sintetik yang
sifatnya lebih hidrofob dari pada serat selulosa asetat, seperti serat poliamida, poliester dan poliakrilat.
Terutama untuk serat poliester, yang kebanyakan hanya dapat dicelup dengan zat warna dispersi.
Zat warna dispersi adalah zat warna non ion yang terdiri dari inti kromofor azo dan antrakinon,
sedangkan untuk beberapa warna kuning yang penting mengandung gugus difenilamina.
Meskipun azobenzena, antrakinon dan difenilamina dalam bentuk dispersi dapat mencelup ke dalam
serat hidrofob, dalam perdagangan kebanyakan zat warna dispersi mengandung gugus aromatik dan
alifatik yang mengikat gugusan fungsional (-OH, -NH
2
, NHR, dan sebagainya) dan bertindak sebagai
gugus pemberi (donor) hidrogen.
Gugusan fungsional tersebut merupakan pengikat dipole (dwi kutub) dan juga membentuk ikatan
hidrogen dengan gugusan karbonil (>C=O) atau gugus asetil dari serat yang dicelup (senyawa 48 dan
49 ).
Gugusan aromatik -OH dan alifatik -NH2 dan gugusan fungsional yang sejenis, menyebabkan zat warna
dispersi sedikit larut di dalam air. Disamping itu zat warna dispersi sebaiknya molekulnya kecil supaya
mudah terdispersi. Karena molekulnya cukup kecil, zat warna dispersi mudah menyublim pada suhu
tinggi. Maka untuk mencelup serat poliester harus dipilih zat warna dispersi yang tahan suhu tnggi
(sampai 220 Derajat Celcius).
II.3 PROSES PENCELUPAN SERAT POLYESTER DENGAN ZAT WARNA DISPERSI
Proses pencelupan poliester dengan zat warna dispersi dapat dilakukan dengan beberapa cara
(methoda), yakni :
1. Methoda zat pengemban (carrier)
2. Methoda suhu tinggi (HT/HP)
3. Methoda thermo fiksasi (thermosol)
1. Methoda Zat Pengemban (Carrier)
Proses pencelupan dengan methoda zat pengemban adalah pencelupan yang menggunakan zat
pengemban sebagai mediator yang akan membantu penyerapan zat warna kedalam serat.
Poliester mempunyai gugusan yang memungkinkan terjadi pengikatan seperti gugusan ester, hidroksil
dan karboksil, tetapi karena molekulnya sangat kompak mengakibatkan difusi zat warna kedalam serat
menjadi lambat.
Untuk mempercepat penyerapan perlu dilakukan hal-hal berikut:
Gunakan zat warna yang sangat kecil molekulnya.
Gunakan zat-zat pengemban untuk mempertinggi permeabilitas serat.
Gunakan temperatur yang tinggi.
Pada kesempatan ini methoda zat pengemban yang dilakukan dengan menggunakan zat-zat yang akan
membantu difusi zat warna kedalam serat lebih cepat.
Zat pengemban atau Carrier adalah merupakan senyawa-senyawa fenol, amina, asam, hidrokarbon
aromatik, ester dan eter. Dalam perdagangan zat pengemban (carrier) sudah dicampur dengan zat
pendispersi atau emulgator.
Pada dasarnya fungsi carrier adalah :
1. Mempertinggi kelarutan zat warna
Zat warna dispersi didalam larutan akan terdispersi dan dijaga sejenuh mungkin, sehingga konsentrsi zat
warna dalam larutan lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi didalam serat. Dengan demikian
akan terjadi difusi zat warna kedalam serat, karena terjadinya difusi diakibatkan adanya perbedaan
konsentrasi zat warna dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang rendah didalam.
2. Memperbesar penggelembungan serat
Zat pengemban bersifat hirdofyl dan mempunyai afinitas terhadap serat serta akan memperbesar
penggelembungan serat. Zat pengemban akan berdifusi lebih cepat dibandingkan zat warna dan akan
membentuk ikatan Van der Waals dengan serat sama sekali tidak mengadakan ikatan dengan zat warna,
hanya membuka peluang untuk zat warna berdifusi kedalam serat.
3. Membuat serat jadi plastis
Zat pengemban akan menempel pada permukaan serat sebagai pelumas dan akan berpenetrasi kedalam
serat.
Serat akan menjadi plastis dan dengan adanya penetrasi zat pengemban rantai molekul serat akan
mengalami pemutusan, ikatan-ikatan molekul serat akan bergeser dan rusak. Dengan demikian adanya
lubang-lubang yang terbuka pada serat akan memudahkan zat warna berdifusi.
Zat pengemban (Carrier) yang dapat digunakan pada proses pencelupan harus mempunyai syarat-syarat
tertentu yakni :
Murah, efisien, mudah dihilangkan kembali, tidak beracun, tidak mempengaruhi warna dan ketahanan
zat warna dan mudah dilarutkan atau didispersikan dalam air.
Beberapa jenis zat pengemban (carrier) yang dapat digunakan pada proses pencelupan antara lain :
Carrier jenis aromatic hydrocarbons
Nama dagang jenis carrier ini antara lain :
Delatin NAN liquid dan Delatin EN liquid produk SANDOZ, Pemakaiannya 6-18 % Deltin NAN pada suhu
95
o
C, Mesin yang digunakan adalah winch machine, haspel & jet flow.
Carrier jenis Chlorobenzol
Nama dagang jenis carrier ini antara lain :
Delatin TCR liquid (SANDOZ) atau Levegal (BAYER), Pemakaiannya 2-10 % pada suhu 95
o
C, Mesin yang
digunakan harus yang tertutup.
Carrier jenis Pheenylphenol
Nama dagang jenis carrier ini antara lain :
Tumescol OP (ICI), Levagal ON (BAYER)
Carrier jenis Carboxylic acid ester
Nama dagang jenis carrier ini antara lain :
Levegal PT BAYER
Carrier jenis aromatic eter
Penggunaan carrier dalam pencelupan jumlahnya tergantung dari bahan yang diproses, karena
penggunaan carrier diperhitungkan terhdap berat bahan, namun untuk celup warna muda jumlah
carrier dapat dikurangi sampai 50 %.
Resep yang digunakan
X % Samaron Blue FBL-E
2.0 10 % Levegal DTE
0.5 2.0 g/l Avolan IS
0.5 1.0 g/l Levegal HTC
0.5 1.0 cc/l Acetic acid (pH 4-5)
0.5 1.0 g/l Ladiquest (bila perlu)
1.0 3.0 g/l Imacol J (bila perlu)
Liquor ratio (vlot) 1:10
Temperature 98oC
Waktu fiksasi 60 menit
Fungsi zat-zat yang digunakan
Samaron Blue FBL-E = zat warna
Levegal DTE = zat pengemban (carrier)
Avolan IS = Dispersing agent
Levagal HTC = Levelling agent
Acetic acid = Asam
Ladiquest = Squestering agent
Imacol J = Anti kris
Untuk menghasilkan tahan cuci (wet fastness) yang baik terutama untuk warna-warna tua dilakukan
proses akhir (after treatment), yakni dengan proses reduction clearing.
R/ 1.0 2.0 g/l Hydrosulphite
2.0 5.0 ml/l Caustic soda 38oBe
0.5 ml/l Imerol XN liquid
Kerjakan selama 20 menit pada suhu 70-80oC kemudian bilas dengan air dingin dan netralisir
Kerugian dari pencelupan methoda ini adalah :
Tendensi ketidak rataan cukup besar terutama dari segi bentuk noda-noda yang terjadi.
Perbedaan bath to bath sangat memungkinkan.
Waktu relatif lebih lama.
Zat pengemban (carrier) relatif sulit untuk dihilangkan dan menyebabkan penurunan pada tahan
sinarnya.
Kadang-kadang menyebabkan efek pegangan kurang baik
2. Methoda Temperatur Tinggi (HT/HP)
Poliester pada suhu tinggi akan menggelembung sehingga akan memudahkan zat warna berdifusi
kedalamnya.
Proses pencelupan methoda temperatur tinggi dilakukan pada suhu diatas 100oC, suhu tersebut dapat
dicapai apabila ada tekanan lebih dari 1 atmosfir, oleh karena itu proses dengan methoda ini dilakukan
pada peralatan mesin yang tertutup.
Pada prinsipnya antara temperatur dan tekanan berbanding lurus, artinya suhu naik maka tekananpun
akan naik seiring dengan kenaikan temperatur.
Temperatur pencelupan dilakukan pada 130 135oC dengan tekanan antara 3 3,5 Bar (atm).
Keuntungan dari proses methoda ini adalah :
Zat warna akan mudah terdispersi pada suhu tinggi, sehingga konsentrasi zat warna dalam larutan
celup akan lebih tinggi yang menyebabkan terjadinya migrasi dari larutan kedalam serat.
Gerakan thermal polimer poliester pada suhu tinggi lebih aktif sehingga pori-pori serat lebih banyak
peluang untuk membuka yang akan memudahkan zat warna berdifusi.
Dari kondisi ini pencelupan lebih cepat.
Semua type atau golongan zat warna dapat digunakan.
Warna yang dihasilkan bisa tua dibanding methoda lain.
Wash fastness lebih baik.
Kekurangan dari proses pencelupan methoda ini adalah :
Ongkos produksi tinggi
Hasil proses bath to bath cenderung beda
Waktu proses relatif lama
Resep yang digunakan
X % Foron yellow 4GSL
Y % Foron red GL
Z % Foron blue GL
0,5-2,0 g/l Avolan IS
0,5-1,0 g/l Leophen RM-70
0,5-1,0 g/l Ladiquest
0,5-3,0 g/l Imacol J
1,0 cc/l Acetic acid (PH 4-5)
0,5-2,0 g/l Sodium asetat
1:10 Liquor ratio (vlot)
Dikerjakan pada temperature : 130 oC | Waktu pengerjaan : 45-60 menit
Fungsi obat-obatan
Foron = zat warna dispersi (Sandoz)
Avolan IS = Dispersing agent
Leophen RM-70 = Levelling agent
Acetic acid = Asam
Sod. Asetat = Buffer (penyangga)
Ladiquest = Squestering agent
Imacol J = Anti krismark
Untuk pencelupan warna tua dilakukan proses reduction clearing, proses, obat-obatan dan cara-caranya
sama seperti pencelupan methoda zat pengemban.
Dengan perkembangan teknologi para ahli mencari methoda dan pengembangan zat warna untuk
menghasilkan yang lebih baik.
Rapid dyeing adalah salah satunya hasil dari perkembangan tadi. Proses pencelupan sistem rapid lebih
efektif dan produktivitas lebih tinggi. Zat warna yang digunakan adalah hasil modifikasi dari zat warna
yang sifatnya konvensional.
Zat warna yang satu ini mempunyai sifat-sifat yang lebih baik dibandingkan dengan yang sifatnya
konvensional.
Contoh zat warna rapid dyeing antara lain Foron RD (Sandoz) dan resolin K (Bayer).
Kelebihan zat warna rapid dyeing ini adalah :
Penanganannya lebih sederhana dan lebih mudah
Sifat thermomigrasinya rendah
Fastnessnya tinggi.
Mempunyai afinitas yang baik
Terdispersi dengan stabil
Pembentukan warnanya seragam dalam semua kombinasi
Kerataannya baik
Waktu celupnya pendek
Reproducibility baik
Dapat dikerjakan disemua methoda
Disamping zat warna dispersi rapid dyeing, ada zat warna dispersi yang bersifat lebih khusus lagi
terutama digunakan untuk warna-warna muda.
Contoh nama dagang zat warna seperti ini antara lain :
Foron ED product Sandoz (clariant)
Dianix ACE product Dystar (Hoechst)
3. Methoda Pad Thermofiksasi (Thermosol)
Proses pencelupan sistem thermosol merupakan proses pencelupan kontinyu, yakni proses dimana
fiksasi zat warna didalam serat dilakukan dengan menggunakan panas.
Berhubung proses ini proses kontinyu, maka bahan tekstil yang mau diproses harus mempunyai jumlah
yang besar untuk satu item warna, sehingga akan ekonomis dalam biaya prosesnya.
Pada dasarnya proses pencelupan methoda thermosol ini terdiri dari 5 tahapan, yaitu :
1) Tahap padding larutan zat warna
2) Tahap pengeringan
3) Tahap fiksasi zat warna dalam serat
4) Tahap proses pemanasan
5) Tahap proses pencucian
1) Tahap Padding
Tahap padding adalah tahapan dimana zat warna dan zat-zat pembantu dapat berpenetrasi kedalam
bahan dengan bantuan rol padder. Bahan tekstil yang akan diproses bisa dalam kondisi kering maupun
basah.
Pada umumnya bahan tekstil yang mau diproses padding kondisinya kering.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada proses padding ini, yakni
1. Kondisi bahan
Bahan tekstil harus mengalami proses heat setting dengan tingkat kelembaban yang sama
Temperatur padding pada suhu kamar
Usahakan kondisi bahan jangan sampai terjadi krismak atau terjadi lipatan
Kondisi bahan pada waktu padding usahakan rileks jangan terlalu banyak tention
2. Peralatan Padding dan lainnya
Didalam proses pencelupan sistem kontinyu untuk kain tenun pada prakteknya menggunakan sistem
padding two-dip two-nip sebagai proses penetrasi zat warna pada bahan, selain itu dapat digunakan
sistem padding one-dip two-dip.
Bentuk rol mangle harus dibuat sedemikian rupa agar dapat memberi tekanan terhadap bahan
disemua sisi sama besarnya. Besar tekanan ditengah rol dan disisi kanan kirinya harus sama besar.
Rol karet yang dibuat harus mempunyai kelenturan yang dapat menambah tekanan sesuai dengan
pick up yang diinginkan dan harus seragam baik di kedua sisi maupun ditengahnya.
Penentuan besarnya pick up harus disesuaikan dengan besarnya diameter roll karet dan kekuatan
hardnessnya dari karet tersebut, disamping itu ada ketergantungan dari jenis kain dan konstruksinya.
Pada umumnya pick up yang disarankan adalah :
Untuk poliester dan poliester/cotton adalah = 50 65 %
Untuk poliester/rayon = 55 70 %
Pembuatan rol karet harus dirancang sedemikian rupa agar pada waktu terjadi pengepresan
menghasilkan pressure yang sama dikedua sisi dan tengah. Untuk itu pembuatan rol karet itu biasanya
berbentuk kendang yang diameter sisi dan tengah berbeda.
2) Pengeringan
Pada tahap pengeringan sifatnya hanya mengeringkan bahan agar tidak terjadi migrasi, yang selanjutnya
akan terjadi fiksasi ditahap berikutnya.
Proses pengeringan ini temperatur yang digunakan hanya 110 130oC agar zat warna yang nempel
pada bahan sesuai dengan waktu padding.
Pada proses pengeringan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni :
Mesin pengering
Hot-flue dryer atau kombinasi antara infrared pre dryer dan hot flue dryer adalah mesin pengering yang
digunakan pada proses pencelupan kontinyu.
Hot flue dryer pada umumnya menggunakan uap kering yang dihembuskan kedalamnya secara merata,
sedangkan infrared pre dryer adalah api yang dihasilkan dari elpiji yang akan memanggang bahan hasil
padding.
Migrasi
Kejadian migrasi zat warna dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Yang pertama terjadinya pergerakan partikel zat warna ke zat lain di dalam serat pada waktu
pengeringan
Yang kedua terjadinya pergerakan molekul zat warna didalam serat pada waktu termosoling proses
3) Proses Fiksasi
Proses fiksasi dalam pencelupan metoda kontinyu yaitu pada waktu proses thermosol. Proses thermosol
dilakukan dengan temperatur tinggi pada mesin khusus yang dibuat sedemikian rupa, sehingga pada
proses itu akan terjadi fiksasi zat warna dengan serat, maka proses ini pada umumnya dinamakan proses
thermo-fiksasi.
Pada proses ini diharapkan dengan pemanasan zat warna dispersi akan tetap tinggal (fix) didalam serat
poliester, dan proses ini umumnya dilakukan pada proses pencelupan metoda kontinyu.
Mesin yang digunakan untuk proses ini ada dua tipe, yaitu :
Tipe hot flue dan
Tipe kontak langsung
Persamaannya adalah pendistribusian temperatur, kecepatan udara dan volume udara, karena hal itu
sangat penting, sebab proses thermosoling adalah sangat pendek waktunya dikedua mesin itu.
Roller type heat setter
Sifat-sifat dari mesin ini adalah :
Proses dapat menggunakan kecepatan yang tinggi, karena kapasitas bahan bisa besar.
Bisa untuk proses kain tebal, karena perpindahan panasnya bagus.
Mesin ini dapat digunakan untuk bahan stret baik kearah lusi maupun kearah pakan, karena sistem
pemanasannya dari arah pinggir ke pinggir.
Cylinder type setter
Sifat-sifat dari mesin ini adalah :
Kecepatannya bisa lebih cepat, karena memungkinkan sebab pemindahan panasnya bagus
Karena sistem panasnya kontak langsung, maka bahan yang dihasilkan akan lebih kilau, tetapi bahan
akan relatif kaku
Masalah yang paling mendasar adalah dilebar.
Pin tenter type thermosol dyeing machine (hot-flue system)
Sifat-sifat dari mesin ini adalah :
Tingkat kerataannya cukup baik dan pendistribusian tempertur lebih seragam kesemua tempat,
karena udara panas yang dihembuskannya kearah vertikal dan merata kedalam bahan.
Tidak ada mengkeret kearah lusi maupun pakan dan tidak mengkilap, karena tidak terjadi kontak
langsung dengan rol pemanas seperti cylinder dryer waktu pemanasan.
Kapasitas mesin relatif kecil dengan lebar yang terbatas, karena pinggir kain tergantung pada pins
(klip/jarum)
4) Proses pemanasan
Setelah mengalami padding dan drying bahan dilanjutkan dengan proses pemanasan (thermosoling)
pada suhu antara 200-220 0C guna mengembangkan zat warna dispersi didalam serat poliester.
Masalah yang paling dominan pada proses pemanasan sistem ini adalah pengembangan zat warna
dispersi didalam serat poliester tidak teratur diakibatkan karena pendistribusian temperatur yang
bervariasi, kecepatan udara dan kurangnya efek reproducibilitas penambahan warna zat warna dispersi
oleh oksidasi udara.
Masalah ini berakibat terjadinya efek fastness yang kurang baik, bahkan apabila proses bahan campuran
akan terjadi staining pada poliester itu oleh zat warna dari serat campurannya.
5) Proses pencucian
Proses pencucian adalah proses akhir dari pencelupan methoda kontinyu.
Tujuan proses akhir ini adalah untuk menghilangkan zat warna yang tidak terfiksasi dan zat-zat lain yang
tidak diperlukan. Pada proses pencucian ini digunakan air dingin dan panas dan zat-zat pencuci reduksi
pada bak-bak yang terpisah. Air yang digunakan pakai over flow, sehingga pada proses ini memerlukan
air yang lebih banyak.

BAB. III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Proses pencelupan sistem thermosol merupakan proses pencelupan kontinyu, yakni proses dimana
fiksasi zat warna didalam serat dilakukan dengan menggunakan panas.
Berhubung proses ini proses kontinyu, maka bahan tekstil yang mau diproses harus mempunyai jumlah
yang besar untuk satu item warna, sehingga akan ekonomis dalam biaya prosesnya.
Pada dasarnya proses pencelupan methoda thermosol ini terdiri dari 5 tahapan, yaitu :
1. Tahap padding larutan zat warna
2. Tahap pengeringan
3. Tahap fiksasi zat warna dalam serat
4. Tahap proses pemanasan
5. Tahap proses pencucian
B. SARAN
Dalam memakai suatu pencelupan untuk penelitian, sebaiknya diketahui terlebih dahulu sifat yang
dimiliki oleh teknik pencelupan, zat warna yang dipakai dan serat yang sesuai dengan teknik pencelupan
tersebut.
Untuk melakukan Pencelupan Serat Polyester dengan Teknik Kontinyu dengan Zat Warna Dispersi,
ikutilah prosedur yang ada dengan tujuan untuk mengantisipasi adanya kesalahan-kesalahan dalam
pelaksanaan praktikum.
Tapi jangan pernah berputus asa jika menghadapi kegagalan, karna kegagalan akan memberikan kita
pengalaman, dan pengalaman adalah guru yang sangat langka. Jangan pernah takut untuk melakukan
eksperimen eksperiman dalam dunia pertekstilan.