Anda di halaman 1dari 4

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terdahulu dapat ditarik beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan susunan mineral fraksi pasir, tanah yang diteliti menunjukkan adanya
kesamaan susunan mineral. Tanah dataran rendah dan dataran tinggi, baik pada formasi
Qvbj mau pun pada formasi Qvbs berasal dari bahan induk bersifat dasit-andesitik yang
dicirikan oleh tingginya kwarsa dan hiperstin.
2. Andisol di dataran rendah terbentuk pada formasi Qvbj sedangkan pada formasi Qvbs
telah berubah menjadi Inceptisol yang masih memiliki sifat andik (Andrc Humirropept)..
Terbentuknya Andisof di dataran rendah disebabkan oleh pengaruh bahan induk masih
jelas. Keadaan ini ditunjukkan oleh jumlah mineral mudah lapuk yang diwariskan dari
bahan induk masih cukup tinggi terutama gelas volkan dan relatif utuh, fragmen batuan
yang mengandung mineral relatif banyak, dan jumlah bahan amorf dan pasir masih tinggi.
Sementara terbentuknya, Andic Humihopept di dataran rendah formasi Qvbs
disebabkan oleh pcngaruh bahan induk telah berkurang atau pcngaruh iklim lebih nyata
sehingga tejadi perubahan Andisof => Inceplisol.. Kuatnya pengaruh iklim diperlihatkan
oleh jurnlah mineral mudah lapuk yang diwariskan oleh bahan induk terutama gelas
volkan sangat rendah dan bentuknya banyak yang telah rusak, jumlah liat tinggi, dm
jumlah mineral melapuk cukup tinggi. Pengaruh iklim berkaitan dengan umur bahan
induk dimana formasi Qvbs lebih tua daripada formasi Qvbj sehingga pada iklii yang
sama tanah pada Qvbs lebih berkembang daripada tanah f o m i Qvbj.
3. Sifat Andisol dataran rendah sangat berbeda dengan Andisol dataran tinggi. Andisol
dataran rendah menunjukkan bahwa C-organik, bahan am04 pHN&, retensi air 15 bar
(tanah kering udara dan tanah lembab), retensi P, dan kandungan air tanah lembab
lapang dan kering udara lebih rendah sedangkan bobot isi dan kekerasan tanah lebih
tinggi dibandingkan dengan Andisol dataran tinggi. Sifat-sifat tersebut cenderung
mengarah kepada sifat yang dimiliki oleh tanah Andic Humitropept.
4. Terdapat perbedaan pembentukan mineral liat antara tanah di dataran rendah dm
dataran tinggi: Di dataran rendah Sei Mencirim dan Pancur Batu (40-60 m dml)
ditemukan bahan volkan => dofan => imogolit => haloisit => metahdoisit => gibsit; di
dataran tinggi Bandar Baru, Kuta Gaduny (800- 1300 m dml) ditemukan bahan volkan
=> alofan => imogolit; dan di Namuterasi dan Tanjung Gunung (100- 550 m dml)
ditemukan bahan volkan => alofan~imogolit => gibsit. Haloisit/rnetahaloisit dan gibsit
hanya terbentuk di dataran rendah dan tidak ditemukan pada tanah di dataran tinggi.
Pembentukan alofan tanah di dataran tinggi lebih intensif daripada tanah di dataran
rendah.
5. Pembentukan mineral liat pada Andisol dataran rendah sangat dipengaruhi oleh
topografi. Jumlah haloisit/metahaloisit meningkat dan alofan menurun dari pedon
punggung bukit ke pedon di cekungan. Ini berarti pembentukan a l o h Iebih intensif
pada pedon di punggung bukit; sedangkan pembentukan haloisit lebih intensif pada
pedon di cekungan. Sementara Andisol di dataran tinggi tidak terdapat perbedaan
pembentukan mineral liat dalam hubungannya dengan topografi.
6. Pembentukan Fe- dan Al-humus pada tanah di dataran rendah adalah lebih mdah
dibandingkan dengan tanah di dataran tinggi. Di dataran rendah Sei Mencirim,
pembentukan Al- dan Fe-humus sangat dipengaruhi oleh t opogrd dan berbeda dengan
trwsek di dataran tinggi. Pada pedon di punggung bukit. Al-humus hanya terbentuk
pada horizon permukaan (horizon A) dan tidak terbentuk pada horizon bawah (B);
sedangkan pedon di cekungan, Al-humus terbentuk pada semua horizon. Pembentukan
Fe-humus juga menunjukkan kesarnaan dengan AI-humus dimana pada horizon tidak
terbentuk Al-humus, Fe-humus ditemukan dalam jumlah sangat rendah (0,01%) dan
meningkat pada horizon tanah di cekungan. Pembentukan Al- dan Fe-bumus
berhubungan dengan C-organik (Al-humus, r:0,45** dan Fe-humus, r: 0,67**).
7. Pembentukan Al-humus bersaingi dengan pembentukan dofan (r: - 0,25*) dimana
peluang pembentukan Al-humus relatif lebih besar daripada pembentukan alofan.
Persaingan ini ditunjukkan oleh korelasi alofan dengan Ald (r:0,21f) dan Alo (0.09)
relatif lebih kecil dibandingkan dengan korelasi antara Al-humus dengan Ald (r:O,6S4*)
dan Alo (r: 0.69**). Ini berarti pembentukan alofan terhambat oleh pembentukan Al-
humus. Sementara pembentukan Fe-humus, Fe-kristalin ( goe t i t l hht ) , dan Fe-amorf
(ferihidrit) tidak memperlihatkan kompetisi yang tegas. Namun, pembentukan Fe-arnorf
cendenrng lebih tinggi (r:0,58**) daripada pembentukan Fe-humus (r:0,41f8) bila
dihubungkan dengan Fed (Fe-sitrat-dithionit).
8. Tingkat pelapukan Andisol di dataran rendah lebih tinggi dibandingkan dengan Andisol
yang terletak lebih tinggi (Narnuterasi, Simpang Sipirok, dan Tanjung Gunung) dan
dataran tinggi (Bandar Baru, Kuta Gadung, dan Kaban Jahe) tetapi lebih rendah
dibandingkan dengan tanah dataran rmdah Pancur Batu (Lnceptisol).
9. Pr om pedogiik Andiml dataran rendah bcrbeda dengnn Andim1 daiaran tinggi. Di
dataran rendah ditemukan proses silikasi dan desilikusi relatif lebih intensif yang
mendukung pembentukan haloisit dan gibsit; gleisari akibat pengaruh air tanah dan
drainase jelek di Sei Mencirim dan persawahan di Namuterasi. Pada Andisol dataran
rendah juga proses hmderning yaitu pengeraaan tanah akibat penggunaan alat
mekanisasi pertanian. Sementara di dataran tinggi, proses ermi (pengikisan tanah
permukaan), kumulisasi (pengendapan bahan tanah di ctkungan), dan melanisasi
(pembentukan warna epipedon menjadi gelap) sangat dominan. Di dataran rendah
formasi Qvbs ditemukan proses bruunifiknri yang dicirikan oleh horizon B berwarna
coklat reiatif lebih intensif daripada tanah dataran rmdah, sedangkan tanah dataran
rendah formasi formasi Qvbj lebih lemah dibandingkan dengan tanah dataran tinggi.
Pencudan kation basa tanah dataran rendah relatif lebih rendah dibandingkan dengan
tanah dataran tinggi yang ditandai oleh tingginya jumlah basa pada tmah di dataran
rendah dibandingkan dengan tanah di dataran tinggi..
10. Berdasarkan basil klasifikasi, tanah pada formasi Qvbj memperlihatkan keragaman relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan tanah pada formasi Qvbs. Pada formasi Qvbj, tanah di
Simpang Sipirok dan Tanjung Gunung (200 - 550 m dml) mempunyai ciri l i c , skeletal,
dan fragmental; sedangkan di dataran rendah Sei Mencirim tidak mempunyai ciri ini.
Sementara pada formasi Qvbs tidak ditemukan ciri tersebut, baik di dataran rendah mau
pun di dataran tinggi. Fakta tersebut menunjukkan bahwa tingkat perkembangan tanah
formasi Qvbs lebih lanjut daripada tanah formasi Qvbj.
S a r a n
1 Andisol dataran rendah menunjukkan adanya perubahan sifat-sifat tanah seperti
peningkatan bobot isi dan kekerasan tanah, penurunan bahan organik, retensi air 15 bar,
KTK, dan jumlah bahan amorf yang telah mengarah kepada penurunan halitas tanah
dibandingkan dengan Andisol dataran tinggi Dalam upaya mempertahsnkanl
memperlambat perubahan tersebut perlu dilakukan usaha konservasi melahi pengelolaan
bahan organik dengan cara rotasi tanaman dan penambahan pupuk organik
19 1
2 Andisol dataran rendah menunjukkan adanya proses pengerasan (hardeming) tanah
akibat pemadatan akibat sistim pengolahan tanah dengan mengynakan alat mekanisasi
Akibatnya tanah mengalami pengerasan eehingga menghambat perkembangan paaLann
tanaman. Untuk mengatmi ha1 ini, eelain pengelolaan bahan organik, sistim pengolahum
tanah perlu disesuikan dengan keadaan tanah agar pmbahan yang mengarah ke
panurunan kualitas tanah dapat dihindari.