Anda di halaman 1dari 13

Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 3



BAB II
TEORI DASAR

2.1. Stockpile Management
Stockpile berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses. sebagai
sediaan strategis terhadap gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka
panjang. Stockpile juga berfungsi sebagai proses homogenisasi dan atau
pencampuran batubara untuk menyiapkan kualitas yang dipersyaratkan.
Disamping tujuan di atas di stockpile juga digunakan untuk mencampur
batubara supaya homogenisasi bertujuan untuk menyiapkan produk dari satu tipe
material dimana fluktuasi di dalam kualitas batubara dan distribusi ukuran
disamakan . Dalam proses homogenisasi ada dua tipe yaitu bleding dan mixing.
Blending bertujuan untuk memperoleh produk akhir dari dua atau lebih tipe
batubara yang lebih dikenal dengan komposisi kimia dimana batubara akan
terdistribusi secara merata dan tanpa ada lagi jumlah yang cukup besar untuk
mengenali salah satu dari tipe batu bara tersebut ketika proses pengambilan contoh
dilakukan. Dalam proses blending batubara harus tercampur secara merata.
Sedangkan mixing merupakan salah satu tipe batubara yang tercampur masih dapat
dilokasikan dalam kuantitas kecil dari hasil campuran material dari dua atau lebih
tipe batubara.

Proses penyimpanan, bisa dilakukan:
a) Dekat tambang, biasanya masih berupa lumpy coal
b) Dekat pelabuhan
c) Ditempat pengguna batubara.
Untuk proses penyimpanan diharapkan jangka waktunya tidak lama, karena
akan berakibat pada penurunan kualitas batubara. Proses penurunan kualitas
biasanya lebih dipengaruhi oleh proses oksidasi dan alam.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Management stockpile adalah
sebagai berikut:
1) Monitoring quantity (Inventory) dan movement batubara di stockpile,
meliputi recording batubara yang masuk (coal in) dan recording batubara
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 4

yang keluar (coal out) di stockpile, termasuk recording batubara yang tersisa
(coal balance).
2) Menghindari batubara yang terlalu lama di stockpile, dapat dilakukan dengan
penerapan aturan FIFO dimana batubara yang terdahulu masuk harus
dikeluarkan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi resiko
degradation dan pemanasan batubara.
3) Mengusahakan pergerakan batubara sekecil mungkin di stockpile, termasuk
di antaranya mengatur posisi stock dekat dengan reklame, Monitoring
efektivitas dozin di stock pile dengan maksud mengurangi degradasi
batubara.
4) Monitoring quality batubara yang masuk dan keluar dari stockpile termasuk
diantara control temperatur untuk mengantipasi self heating dan spocom.
5) Pengawasan yang ketat terhadap kontaminasi, meliputi pelaksanaan
housekeeping dan Inspeksi langsung adanya pengotor yang terdapat di
stockpile.
6) Perhatian terhadap faktor lingkungan yang bisa ditimbulkan, dalam hal ini
mencakup usaha :
Control dust dan penerapan dan pengawasan penggunaan spraying
dan dust supressant.
Adanya tempat penampungan khusus (fine coal trap) untuk buangan
/limbah air dari drainage stockpile.
Penanganan limbah batubara (remnant & spilage coal).
7) Tidak dianjurkan menggunakan area stockpile untuk parkir dozer, baik untuk
keperluan Maintenance dozer atau over shift operator. Kecuali dalam
keadaan emergency dan setelah itu harus diadakan house keeping secara
teliti.
8) Menanggulangi batubara yang terbakar di stockpile. Dalam hal ini
penanganan yang dianjurkan sebagai berikut:
Melakukan speading atau penyebaran untuk mendinginkan suhu
batubara.
Bila kondisi cukup parah, maka bagian batubara yang terbakar dapat
dibuang.
Memadatkan batubara yang mengalami self heating atau sponcom.
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 5

Batubara yang mengalami sponcom tidak diperbolehkan langsung
diloading ke tongkang sebelum didinginkan terlebih dahulu.
Untuk penyimpanan yang lebih lama bagian atas stockpile harus
dipadatkan guna mengurangi resapan udara dan air ke dalam stokpile.
9) Sebaiknya tidak membentuk stockpile dengan bagian atas yang cekung, hai
ini dimaksudkan untuk menghindari swamp di atas stokpile.
10) Mengusahakan bentuk permukaan basement berbentuk cembung atau
minimal datar, hal ini berkaitan dengan kelancaran sistem drainage.
2.2. Pemilihan Perlengkapan Penanganan Bahan
Dewasa ini,banyak sekali mesin penanganan bahan yang diproduksi dalam
berbagai desain. Karena itu pada operasi yang sama dapat dilakukan dengan berbagai
metode dan alat.
Pemilihan alat yang tepat tidak hanya memerlukan pengetahuan khusus
tentang desain dan karakteristik operasi suatu mekanisme mesin, tetapi juga
memerlukan pengetahuan yang menyeluruh tentang organisasi produksi dari suatu
perusahaan.
Fasilitas transport harus dapat memindahkan muatan ke tujuan yang
ditentukan dalam waktu yang dijadwalkan, dan harus dihantarkan ke departemen
atau perusahaan dalam jumlah muatan yang ditentukan. Perlengkapan penanganan
bahan harus dimekaniskan sedemikian rupa sehingga hanya memerlukan sedikit
mungkin operator untuk pengendalian, pemeliharaan dan tugas-tugas tambahan
lainnya. Sekaligus alat ini tidak boleh merusak muatan yang dipindahkannya,
ataupun menghalangi dan menghambat proses produksi. Alat ini harus aman dalam
operasinya, dan ekonomis baik dalam biaya operasi dan modal awalnya.

Faktor-faktor teknis penting berikut ini dapat digunakan dalam menentukan pilihan
jenis alat-alat yang dapat dipakai memekaniskan proses penanganan bahan.
Jenis dan sifat muatan yang akan ditangani. untuk muatan satuan-bentuk,
berat, permukaan dukung yang baik atau bagian muatan sebagai tempat penggantung
yang baik, kerapuhan, temperatur dan sebagainya; untuk muatan curah ukuran
gumpalan, kecenderungan untuk menggumpal, berat jenis, kemungkinan longsor
sewaktu dipindahkan, temperatur, sifat kimiawi, dan sebagainya. Pada prinsipnya
karakteristik muatan ini dapat memperkecil kemungkinan pemilihan jenis alat yang
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 6

dapat digunakan untuk maksud tertentu karena alat yang berbeda dapat digunakan
untuk berbagai sifat muatan.
Kapasitas per jam yang dibutuhkan. Kapasitas pemindahan muatan yang
hampir tak terbatas dengan mudah dapat diperoleh pada jenis alat tertentu, misalnya
beberapa konveyor aksi berkesinambungan. Sedang pada alat tertentu, misalnya truk
dan crane jalan crane gantung) mempunyai siklus kerja dengan gerak balik muatan
kosong akan dapat beroperasi dengan efisien hanya jika alat ini mempunyai
kapasitas angkat dan kecepatan yang cukup tinggi dalam kondisi kerja yang berat.
Arah dan jarak perpindahan. Berbagai jenis alat dapat memindahkan muatan
ke arah horisontal atau vertikal ataupun dalam sudut tertentu. Dengan demikian,
untuk gerakan vertikal atau yang hampir vertikal diperlukan pengangkat, crane,
elevator ember atau talam untuk gerakan horisontal diperlukan: truk bermesin atau
tangan, fasilitas penggerak tetap, berbagai jenis konveyor, dan sebagainya. Ada
beberapa alat yang dapat bergerak mengikuti jalur yang berliku dan ada pula yang
hanya dapat bergerak lurus dalam satu arah. Panjang jarak perpindahan, lokasi dari
tempat pengambilan muatan, percabangan dari jalur per- pindahan ke tempat tujuan
juga sangat penting dalam menentukan pemilihan fasilitas transport yang tepat.
Cara menyusun muatan pada tempat asal, akhir, dan antara, pemuatan ke
kendaraan dan pembongkaran muatan di tempat tujuan sangat berbeda, karena
beberapa jenis mesin dapat dimuat secara mekanis sedang pada mesin lainnya
membutuhkan alat bantu atau bantuan operator (manual). Misalnya beban curah
yang diletakkan dala'm satu lot tumpukan, yang dari sini muatan tersebut harus
disekop atau cara lainnya, atau dapat disimpan dalam bungker (bunker), yang dari
sini muatan dapat mengalir secara gravitasi ke fasilitas transportnya.
Muatan satuan dapat diletakkan di atas tanah langsung, di atas palet, rak, alas
tertentu yang akan diambil dan diletakkan oleh alat penanganan bahan dengan
metode yang berlainan.
Karakteristik proses produksi yang terlibat dalam pemindahan muatan. Faktor
yang paling penting ini sangat mempengaruhi pemilihan jenis fasilitas transport
muatan. Gerakan penanganan bahan sangat berkaitan erat dengan pada proses
produksi; bahkan kadang-kadang gerakan ini terlibat langsung pada proses produksi
tertentu, misalnya crane khusus di dalam departemen pencoran logam; penempaan
dan pengelasan, konveyor pengecoran logam dan perakitan, konveyor pemroses
dalam departemen permesinan, pengecatan dan lainnya.
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 7

Kondisi lokal yang spesifik termasuk luas dan bentuk lokasi, jenis, dan desain
gedung, keadaan permukaan tanah, susunan yang mungkin untuk unit pemrosesan,
debu, dan kelengasan (humidity) lingkungan, adanya uap dan berbagai jenis gas
lainnya, temperatur dan sebagainya.
Pemilihan alat ditentukan juga oleh rencana perluasan perusahaan, jangka
waktu penggunaan alat tersebut (permanen atau temporer saja), jenis sumber energi
yang tersedia, masalah sanitasi, keselamatan, dan kenyamanan kerja.
Setelah dilakukan pemilihan alat penanganan bahan berdasarkan faktor-faktor
teknis, pilihan-pilihan yang dapat dipakai pada kondisi-kondisi tertentu untuk meme-
kaniskan proses penanganan, alat-alat tersebut kemudian dibandingkan dari sudut
pandang rekayasa dan ekonominya.
Dalam evaluasi ekonomis berbagai jenis alat, baik investasi awal maupun
biaya operasional yang dibutuhkan harus dipertimbangkan.
Biaya investasi awal meliputi, harga perlengkapan sendiri, biaya pemasangan
dan pengangkutan, serta biaya konstruksi yang diperlukan dalam pemasangan dan
operasinya.
Perbedaan biaya gedung dan bangunan yang dapat dilayani oleh fasilitas
transpor pengganti harus juga dipertimbangkan ketika membandingkan biaya
investasi.
Biaya operasional mencakup:
Gaji dan tunjangan dari pekerja, ditambah biaya tunjangan lain.
Biaya untuk listrik yang dipakai.
Biaya untuk pelumasan, pembersihan, peralatan khusus, dan bahan lainnya.
Biaya perbaikan dan pemeliharaan.
Juga dipertimbangkan penyusutan muatan dalam proses penanganan. Juga
biaya pemeliharaan instalasi penanganan bahan, biaya penyusutan perlengkapan
mekanis, dana yang dicadangkan untuk perbaikan menyeluruh (overhaul)
perlengkapan mekanis tersebut.
Perlengkapan penanganan bahan yang dipilih harus memeniihi semua
tuntutan proses produksi dan sekaligus menjamin tingkat mekanis yang tinggi serta
penggunaan tenaga kerja yang efisien, sehingga dapat menurunkan biaya
penanganan per satuan muatan yang akan menghasilkan investasi modal yang
menguntungkan.
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 8


2.3. Peralatan dan Sistem Pemilihan
Disamping faktor manusia, peralatan yang digunakan dalam penambangan
turut menentukan keberhasilan dalam mencapai target yang diinginkan. Karena
konsep kunci dari dunia pertambangan adalah "Penambangan/penggalian akan
menuntun menuju keberuntungan. Untuk mendapatkan keuntungan yang diinginkan
dalam waktu lama, haruslah dicari cara jitu untuk mengurangi biaya-biaya (cost)
selama operasi tambang. Peralatan tambang merupakan satu kesatuan mulai alat gali,
alat angkut dan alat-alat lainnya yang kesemuanya itu saling mendukung, karena
apabila yang satu mengalami kerusakan, maka peralatan yang lainnya tidak akan
bekerja secara sempurna.
Dalam menentukan suatu peralatan yang akan digunakan, langkah awal yang
mesti dilakukan adalah mempelajari dan mengamati keadaan lapangan kerja.
Komponen-komponen lapangan kerja yang perlu diperhatikan dan dicatat adalah :
Jalan-jalan dan sarana angkutan yang ada (accessibility & transportation)
Tumbuh-tumbuhan (vegetation)
Macam material dan perubahan volumenya (kind of material and its change of
volume)
Daya dukung material (bearing capacity)
Iklim (climate)
Ketinggian dari permukaan air laut (altitude)
Kemiringan, jarak dan keadaan jalan (haul road conditions)
Effisiensi kerja (operating efficiency)
Syarat-syarat penyelesaian pekerjaan (finishing specifications)
Syarat-syarat penimbunan (fill specifications)
Waktu (time element) (Prodjosumarto, 2000)
Dengan demikian, ketepatan dalam menentukan jenis peralatan yang akan
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 9

digunakan sangat menentukan efisiensi operasi penambangan selama umur tambang.
Untuk jumlah dan spesifikasi peralatan, volume material yang ditangani dan target
produksi yang ingin dicapai turut menentukan pula, karena masing-masing alat
dengan type sama tetapi merek yang berbeda memiliki kelebihan dan kekurangan
tersendiri, misalnya untuk jenis bulldozer antara merek komatsu dan Caterpillar
walaupun kapasitas blade-nya sama, tetapi akan memiliki kemampuan kerja yang
berbeda. Disamping alasan teknis seperti yang disebutkan di atas, harus pula
dipertimbangkan alasan ekonomisnya, karena boleh jadi pada tahap awal, pembelian
suatu alat harganya mahal, tetapi biaya perawatan alat itu rendah serta suku cadang
yang mudah didapatkan, dengan demikian tingkat efisiensi yang tinggi dapat
dipertahankan. Dan yang lebih penting lagi adalah tersedianya tenaga operator yang
profesional, sehingga dengan demikian tidak perlu lagi ada biaya untuk pelatihan
dalam mengoperasikan peralatan itu.
Kemudian dari itu aplikasi alat-alat besar tidak dapat dipisahkan dari kondisi
medan kerja dan sifat fisik material yang ditangani, karena keadaan ini akan banyak
menentukan segi teknis jenis alat apa yang akan digunakan. Seperti misalnya alat
yang akan digunakan pada medan kerja yang berbatu dan bergelombang akan sangat
lain dengan alat yang digunakan pada medan kerja lunak berlumpur. Demikian pula
alat yang digunakan mengerjakan material yang berat akan lain dengan yang ringan.
Kondisi suatu medan kerja umumnya tercipta oleh keadaan alam dan jenis mineral
yang terkandung di dalamnya.
Yang dimaksud material dalam bidang aplikasi alat-alat berat di sini adalah
meliputi tanah, batuan, bahan galian tambang, vegetasi (pohon, semak, belukar) dan
bangunan yang ada di atasnya.
Sifat fisik material juga berpengaruh besar terhadap operasi alat-alat besar,
terutama dalam :
Menentukan jenis alat yang akan digunakan dan taksiran kapasitas
produksinya.
Perhitungan volume pekerjaan
Kemampuan kerja alat pada kondisi medan kerja atau kondisi material yang
ada.
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 10

Beberapa sifat fisik material yang penting juga harus diperhatikan dalam
hubungannnya dengan pemakaian alat besar diantaranya adalah :
Swell factor, yaitu terjadinya perubahan volume sebagai akibat material
diganggu dari keadaan aslinya. Material di alam ditemukan dalam kedaan
padat dan terkonsolidasi dengan baik, sehingga hanya sedikit bagian-bagian
yang kosong atau ruangan-ruangan yang terisi udara (voids) diantara butir-
butirnya, lebih-lebih kalau butir-butir itu halus sekali. Akan tetapi bila
material tersebut digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi pengembangan
atau pemuaian volume (swell).
Berat material (weight of materials). Kemampuan suatu alat berat untuk
melakukan pekerjaan seperti menggali, mendorong, mengangkat, menarik dan
mengangkut akan sangat dipengaruhi oleh berat material tersebut. Terlebih
lagi kalau material tersebut diangkut akan :
Mempengaruhi kecepatan kendaraan dengan HP
yang dimilikinya.
Membatasi kemampuan kendaraan untuk mengatasi
tahanan kemiringan dan tahanan gulir dari jalur jalan
yang dilaluinya.
Membatasi volume material yang diangkut.
Oleh karena Itu berat jenis material pun harus diperhitungkan pengaruhnya
terhadap kapasitas alat muat maupun alat angkut.
Pada umumnya setiap alat berat mempunyai batasan kapasitas volume
tertentu, sehingga pengertian berat material juga dipengaruhi oleh density material
tersebut. Oleh sebab itu berat jenis material pun (density) harus diperhitungkan
pengaruhnya terhadap kemampuan alat yang digunakan.
Bentuk material yang didasarkan pada ukuran butir material
yang akan mempengaruhi susunan butir-butir material dalam satu kesatuan volume
atau tempat. Beberapa material mampu ditampung oleh suatu ruangan atau tempat,
dapat diperkirakan dengan cara mengoreksi jenis bentuk material yang menempati
ruangan itu dengan suatu faktor seperti tersebut di bawah ini:
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 11

Faktor bilah (blade factor), yaitu perbandingan antara volume material yang
mampu ditampung oleh bilah terhadap kemampuan bilah secara teoritis, untuk
peralatan yang mempunyai bilah (blade).
Faktor mangkuk (bucket factor),yaitu perbandingan antara volume material
yang dapat ditampung oleh mangkuk terhadap kemampuan tampung mangkuk
secara teoritis, untuk alat yang memakai mangkuk (bucket).
Faktor muatan (payload factor),yaitu perbandingan antara volume material
yang dapat ditampung oleh bak alat angkut terhadap kemampuan bak alat
angkut menurut spesialisasi tekniknya.
Kohesivitas material, adalah daya lekat atau kemampuan material untuk saling
mengikat diantara butiran-butiran material itu sendiri. Material dengan
kohesivitas tinggi akan mudah menggunung atau tidak buyar tatkala dimuat
atau diletakan pada suatu tempat, dengan demikian kapasitas muat alat angkut
akan maksimal atau munjung (heap capacity).
Kekerasan material, material yang keras akan lebih sukar dikoyak, digali atau
dikupas oleh alat berat. Hal ini akan menurunkan produktivitas alat itu. Karena
perbedaan kekerasan dari material yang ditangani sangat bervariasi, maka
sering dilakukan penggolongan berdasarkan mudah sukarnya ditangani dengan
peralatan yang digunakan, yaitu:
Batuan sangat keras (very hard rock), misalnya batuan beku segar (fresh
igneous rock), batuan malihan segar (fresh metamorphic rocks).
Batuan keras (hard rock), misalnya : batu sabak (slate), material yang
kompak (compacted materials), batuan sedimen (sedimentary rocks),
konglomerat (conglomerate), breksi (breccia).
Batuan agak keras (medium rock), misalnya tanah liat atau lempung (clay)
yang basah dan lengket, batuan yang sudah lapuk (weathered rocks).
Batuan lunak (soft rock), misalnya tanah pucuk (top soil), pasir (sand),
lempung pasiran (sandy clay), pasir lempungan (clayed sand).
Daya dukung material (bearing capacity), merupakan kemampuan material
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 12

untuk mendukung alat yang terletak diatasnya. Apabila suatu alat berada di
atas tanah atau batuan, maka alat tersebut akan menyebabkan terjadinya daya
tekan (ground pressure), sedangkan tanah atau batuan itu akan memberikan
reaksi atau perlawanan yang disebut daya dukung (load capacity). Bila daya
tekan lebih besar dari daya dukung materialnya, maka alat tersebut akan
terbenam. Nilai daya dukung material dapat diketahui dengan cara pengukuran
langsung di lapangan. Alat yang biasa digunakan untuk menentukan dan
mengukur daya dukung material disebut cone penetrometer.
Kondisi permukaan kerja akan sangat berpengaruh pada unjuk kerja alat.
Kondisi permukaan kerja yang baik akan menyebabkan alat muat dan alat
angkut bekerja secara maksimal, sehingga akan diperoleh cycle time yang
cukup efektif. Kondisi permukaan kerja yang baik adalah :
a. Kondisi dimana akan selalu tersedia material untuk diambil oleh alat muat.
Untuk mencapai kondisi demikian diperlukan alat pendukung seperti dozer
agar dapat selalu menyuplai material ke alat muat.
b. Kondisi dimana lokasi pemuatan diatur sedemikian rupa sehingga alat
angkut dapat secara efektif keluar masuk dan mengambil posisi yang tepat
untuk dimuat di lokasi pemuatan. Untuk mencapai maksud tersebut lokasi
pemuatan harus terus-menerus dipantau, bahkan bila perlu dilakukan
perbaikan.
c. Kondisi dimana tinggi bench pada area pemuatan sejajar dengan tinggi bak
truk alat angkut, sehingga material yang diambil oleh alat muat (backhoe)
dapat optimal.
Koefisien Traksi, Suatu faktor yang menunjukkan seberapa bagian dari seluruh
berat kendaraan pada ban atau track yang dapat dipakai untuk mendorong atau
menarik. Koefisien traksi didefinisikan juga sebagai suatu faktor dimana
jumlah berat kendaraan pada ban atau track penggerak harus dikalikan untuk
menunjukkan rimpull maksimum antara ban atau track dengan permukaan
jalur jalan tepat sebelum mengalami selip.

Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 13

Koefisien traksi dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:
a. Keadaan ban, yaitu keadaan dan macam bentuk kembangan ban tersebut.
Sedangkan untuk crawler track tergantung dari keadaan dan bentuk
tracknya.
b. Keadaan permukaan jalur jalan, yaitu basah atau kering, keras atau lunak,
bergelombang atau rata.
c. Berat kendaraan yang diterima roda penggeraknya ( Koefisien Traksi ).
Koefisien traksi dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Koefisien Traksi Untuk Berbagai Macam Keadaan Jalur Jalan
Material Ban karet Track
Beton 0,90 0,45
Lempung kering 0,55 0,90
Lempung basah 0,45 0,70
Pasir kering 0,20 0,30
Pasir basah 0,40 0,50
Pit quarry 0,65 0,55
Kerikil 0,36 0,50
Salju 0,20 0,27
Es 0,12 0,12
Tanah kokoh 0,55 0,90
Tanah lepas 0,45 0,60
Batu bara 0,45 0,60

Rimpull, yaitu besarnya kekuatan tarik (pulling force) yang dapat diberikan
olehmesin suatu alat mekanis kepada permukaan roda atau ban penggeraknya
yangmenyentuh permukaan jalur jalan. Jika koefisien traksi cukup tinggi untuk
menghindari terjadinya selip, maka rimpull maksimum adalah fungsi dari
tenagamesin (horse power) dan gear ratio (versnelling) antara mesin dengan
rodapenggerak alat mekanis. Tetapi jika terjadi selip maka rimpull maksimum
akansama dengan besarnya tenaga pada roda penggerak dikalikan koefisien
traksi.
Istilah rimpull hanya dipakai untuk kendaraan-kendaraan yang beroda karet.
Untuk yang memakai roda rantai (crawler track), maka istilah yang
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 14

dipergunakan adalah draw bar pull.
Tahanan gulir (rolling resistance) merupakan seluruh gaya-gaya luar (external
force) seperti gaya gesek (frictional force) antara bagian luar ban kendaraan
dengan permukaan tanah yang bersifat menahan dan berlawanan arahnya
dengan pergerakan alat berat di atas jalur jalan atau permukaan tanah.
Pada dasarnya, tahanan gulir dapat dipengaruhi oleh :
a. Kondisi jalan, yaitu kekasaran dan kemulusan permukaannya. Semakin
keras dan mulus, maka akan semakin kecil tahanan gulirnya.
b. Keadaan bagian kendaraan yang berhubungan langsung dengan permukaan
jalur jalan. Jika memakai ban karet, yang akan berpengaruh adalah ukuran
ban, tekanan, dan keadaan permukaan ban. Jika memakai crawler track
maka keadaan dan macam track kurang berpengaruh, melainkan keadaan
jalan yang lebih berpengaruh.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rolling resistance, bahwa
nilai rolling resistance dapat bervariasi walaupun pada kondisi jalan yang sama
dan tingkat kekerasan yang sama. Hal ini disebabkan karena nilai rolling
resistance juga dipengaruhi oleh kondisi cuaca, hujan akan menyebabkan
jalanan menjadi becek, terutama jika jalan memiliki kekerasan yang kurang
baik. Sebaliknya jalan yang kering akan menyebabkan jalanan relative jadi
lebih keras. Hal lain yang dapat menyebabkan variasi nilai rolling resistance
adalah kondisi ban, pada kondisi perkerasan jalan yang baik maka tekanan ban
yang tinggi akan menghasilkan nilai rolling resistance yang lebih rendah dari
pada tekanan ban yang rendah. Namun pada kondisi perkerasan jalan yang
kurang baik, tekanan ban yang rendah menghasilkan rolling resistance lebih
rendah daripada tekanan ban yang tinggi.
Tahanan kemiringan adalah besarnya gaya berat yang melawan atau membantu
gerak kendaraan yang disebabkan oleh kemiringan jalur jalan yang dilaluinya.
Jika jalur jalan tersebut naik disebut kemiringan positif (plus slope) maka
tahanan
kemiringan akan melawan gerak kendaraan (grade resistance), sehingga
memperbesar rimpull yang diperlukan. Sebaliknya, jika jalur jalan tersebut
Analisa Pengadaan Alat Berat Di Terminal Curah Batubara

BAB II Teori Dasar 15

turun disebut kemiringan negatif (minus slope) maka tahanan kemiringan akan
membantu gerak kendaraan (grade assistance), sehingga mengurangi rimpull
yang dibutuhkan.
Kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat
angkut baik dalam mengatasi tanjakan maupun dalam pengereman pada saat
alat angkut berisi muatan maupun dalam keadaan kosong.
Jarak angkut, pemilihan alat-alat besar untuk sarana pengangkutan/transportasi
sangat ditentukan oleh jarak angkut dan kondisi jalan yang dilalui. Bila jalur
jalan baik, kapasitas angkut dapat besar karena alat-alat angkut dapat bergerak
lebih cepat. Kemiringan jalan dan jarak harus diukur dengan teliti, karena hal
itu akan menentukan waktu yang diperlukan untuk pengangkutan material
tersebut (cycle time). Kecerobohan dalam menentukan kemiringan jalan, jarak
dan kondisi jalan (lebar dan daya dukungnya) akan menurunkan jumlah
material yang dapat diangkut, dan menambah ongkos pengangkutan, dengan
demikian target produksi yang diharapkan sulit untuk dicapai.