Anda di halaman 1dari 20

i

FAKTOR-FAKTOR PROGNOSTIK YANG MEMPENGARUHI


KEGAGALAN INDUKSI PERSALINAN
DENGAN MISOPROSTOL
PADA PREEKLAMSIA/EKLAMSIA



Tesis/Karya Ilmiah Akhir
Program Pendidikan Dokter Spesialis I
Bidang Studi Obstetri dan Ginekologi





















Diajukan oleh:

Suroso
99/1383/V-SP/0229


Kepada


BAGIAN / SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA/
RS SARDJITO
JOGJAKARTA
2003
ii
iii
iv
PRAKATA

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
atas pertolonganNya maka Karya Ilmiah Akhir ini dapat diselesaikan sebagai
salah satu syarat dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan
Ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RS Sardjito
Jogjakarta. Sholawat dan salam atas Rasulullah SAW.
Karya Ilmiah Akhir ini tidak akan menjadi kenyataan tanpa bantuan
berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga selesainya
Karrya Ilmiah Akhir ini.
Kepada Kepala Bagian dan Ketua Program Studi Obstetri dan Ginekologi
FK UGM/RS Sardjito, penulis mengucapkan banyak terima kasih atas
kesempatan, bimbingan dan fasilitas yang diberikan selama mengikuti pendidikan.
Secara khusus ucapan terima kasih penulis tujukan kepada dr H. Risanto
Siswosudarmo, SpOG selaku pembimbing metodologi dan dr Rukmono
Siswishanto, SpOG(K) selaku pembimbing materi, yang telah banyak
memberikan bimbingan, semangat dan kemudahan kepada penulis hingga Karya
Ilmiah Akhir ini dapat diselesaikan.
Kepada seluruh Staff Pengajar di Bagian Obstetri dan Ginekologi FK
UGM/RS Sardjito serta RS Afiliasi Pendidikan, penulis mengucapkan terima
kasih yang setulus-tulusnya atas bimbingan dan pengetahuan yang telah diberikan
selama penulis menempuh pendidikan.
v
Terima kasih kepada Dekan FK UGM, Direktur RS Sardjito dan Direktur
RS Afiliasi Pendidikan beserta jajarannya, karyawan/paramedis, sejawat residen,
pasien dan semua pihak atas bantuan dan kerja samanya selama penulis mengikuti
pendidikan.
Penghargaan dan rasa terima kasih penulis ucapkan kepada orang tua,
mertua, istri dan kedua anak tercinta, serta kakak dan adik atas doa, pengorbanan
dan bantuannya.
Tak lupa penulis mohon maaf atas kesalahan dan kekhilafan penulis
kepada semua pihak. Semoga Allah selalu memberi petunjuk , rahmat dan
pertolongan kepada kita semua. Amin.

Jogjakarta, November 2003

Suroso
vi
DAFTAR ISI
JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PRAKATA ... iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR SINGKATAN vii
DAFTAR GAMBAR . viii
DAFTAR TABEL ... ix
INTISARI . x
ABSTRACT xi
BAB I. PENDAHULUAN . 1
A. Latar Belakang 1
B. Permasalahan .. 3
C. Keaslian Penelitian .. 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 6
A. Pengelolaan Preeklamsia/eklamsia . 6
B. Induksi Persalinan dengan Misoprostol .. 8
B.1. Prostaglandin dan Fisiologi kontraksi Miometrium . 8
B.2. Prostaglandin dan Hormonal .. 11
B.3. Misoprostol . 12
B.4. Farmakokinetika dan Farmakodinamika Misoprostol ... 13
B.5. Mekanisme Kerja Misoprostol untuk Induksi Persalinan ... 14
vii
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi kegagalan/keberhasilan
Induksi Persalinan . 15
D. Kerangka Konsep .. 18
BAB III. RUANG LINGKUP PENELITIAN ... 19
A. Tujuan Penelitian ... 19
B. Hipotesis 19
BAB IV. METODOLOGI PENELITIAN 20
A. Rancangan Penelitian 20
B. Populasi dan Subyek Penelitian 21
C. Kriteria Kelayakan .... 21
D. Variabel Penelitian 22
E. Cara Pemilihan Kasus 22
F. Kerangka Analisis . 22
G. Besar Sampel . 22
H. Definisi Operasional .. 23
I. Cara Penelitian ... 24
J. Analisis Data . 25
BAB V . HASIL PENELITIAN DAN PEMBEHASAN . 26
A. Hasil Penelitian . 26
B. Pembahasan ... 30
BAB VI. SIMPULAN DAN SARAN ... 33
DAFTAR PUSTAKA 34

viii
DAFTAR SINGKATAN
PGE
1
: Prostaglandin E
1

PGE
2
: Prostaglandin E
2

PGE
2a
: Prostaglandin E
2a

FDA : Food and Drug Administration
DJJ : Denyut Jantung Janin
Ca
2+
: Ion Kalsium
ATP : Adenosine Triphosphate
SD : Standar Deviasi
HELLP : Hemolysis, Elevated Liver Enzymes, and Low Platelats
RS : Rumah Sakit
OR : Odds Ratio
CI : Confidence Interval
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1: Efek Prostaglandin pada rahim 12
Gambar 2: Rumus molekul misoprostol ... 13
Gambar 3: Rerata ( SD) kadar misoprostol setelah pemberian oral
dan vaginal .. 14
x
DAFTAR TABEL
TABEL 1- Distribusi karakteristik subjek penelitian .. 27
TABEL 2a Hubungan antara skor Bishop dengan kegagalan induksi
persalinan 28
TABEL 2b Hubungan antara paritas dengan kegagalan induksi persalinan . 28
TABEL 2c Hubungan antara umur ibu dengan kegagalan induksi persalinan29
TABEL2d Hubungan antara umur kehamilan dengan kegagalan induksi
persalinan . 29
TABEL 2e Hubungan antara cara pemberian misoprostol dengan kegagalan
induksi persalinan .. 30
TABEL 3 Analisis multivariat antara faktor-faktor prognostik dengan induksi
gagal secara bersama-sama ... 30


xi
INTISARI


Latar belakang: Kejadian preeklamsia sekitar 5% dan terapi definitif adalah persalinan,
persalinan pervaginam lebih dianjurkan. Misoprostol telah digunakan secara luas untuk induksi
persalinan dengan hasil yang memuaskan. Kegagalan Induksi terjadi sekitar 7% - 33,3%
tergantung faktor prognostiknya.
Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor prognostik yang menjadi
predisposisi kegagalan induksi persalinan pada preeklamsia/eklamsia, terutama skor Bishop dan
paritas.
Metode penelitian: Studi kasus kontrol.
Bahan dan cara: Semua induksi persalinan pada preeklamsia/eklamsia di RS Sardjito yang
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dalam kurun waktu lima tahun ( Agustus 1998-Juli 2003)
dipilih sebagai subyek penelitian. Induksi menggunakan misoprostol yang gagal dimasukkan
sebagai kelompok kasus, sedangkan kelompok kontrol adalah induksi tidak gagal. Induksi
dianggap gagal bila persalinan fase aktif belum tercapai dalam 24 jam sejak pemberian
misoprostol pertama. Skor Bishop dan paritas dipelajari sebagai faktor prognostik. Faktor
prognostik lainnya yang ikut dipelajari adalah umur ibu, umur kehamilan dan cara pemberian
misoprostol. Data diperoleh dari catatan medik rumah sakit dan dianalisis dengan program
komputer. Analisis statistik menggunakan chi square, odds ratio, dan regresi logistik.
Hasil: Didapatkan 112 induksi persalinan pada preeklamsia/eklamsia, 95 kasus diantaranya
memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Induksi gagal terjadi pada 32 (33,68%) dari 95 kasus.
Induksi gagal pada skor Bishop rendah (kurang dari 4) lebih tinggi 3,17 kali dibandingkan dengan
skor Bishop tinggi, tetapi tidak berbeda bermakna secara statistik (OR = 3,17; CI 95% = 0,66-
15,29; p= 0,13). Induksi gagal pada nullipara lebih tinggi 2,42 kali dibandingkan dengan wanita
multipara (OR = 2,42; CI 95% = 0,99-5,93; p= 0,05). Pemberian misoprostol secara oral
menunjukkan induksi gagal lebih tinggi 4,45 kali dibandingkan dengan pemberian secara vaginal
(OR = 4,45; CI 95% = 1,58-12,54; p= 0,00). Umur ibu dan umur kehamilan tidak menunjukkan
sebagai faktor prognostik. Analisis regresi logistik menunjukkan bahwa wanita nullipara dan
pemberian misoprostol secara oral merupakan faktor prognostik yang menyumbang terjadinya
induksi gagal.
Simpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa skor Bishop secara klinik meningkatkan kejadian
induksi gagal walaupun secara statistik tidak berbeda bermakna. Nullipara dan pemberian
misoprostol secara oral merupakan faktor prognostik terjadinya kegagalan induksi persalinan pada
preeklamsia/eklamsia.

Kata kunci: induksi gagal, preeklamsia/eklamsia, misoprostol, faktor prognostik.
xii
ABSTRACT


Background: The incidence of preeclampsia is about 5% and the definitive therapy is delivery of
the fetus especially by vaginal route. Misoprostol has been widely used to induce labor with
satisfying result. The incidence of failed induction was about 7% - 33% depending on some
prognostic factors.
Objectives: The purpose of the present study is to identify prognostic factors especially the
Bishops score and parity that predispose to failed induction of labor on preeclamsia/eclampsia.
Materials and method: All cases of labor induction using misoprostol on preeclampsia/eclampsia
at Sardjito hospital that fit the inclusion and exclusion criteria during five years period (August
1998-July 2003) were used in the study. Failed induction stands for the case and unfailed induction
as the control groups. The induction of labor is failed if the active phase of labor is not reached
within 24 hours after first administration of misoprostol. Bishops score and parity are prognostic
factors being studied. Maternal and gestational age, route of misoprostol administration are others
prognostic factors studied. Data were obtained from the hospital medical record and analyzed
using computer program. Chi square, odds ratio with a 95% confidence interval and logistic
regression are used for statistical analysis.
Result: There are 112 labor inductions on preeclampsia/eclampsia, and 95 labor inductions
meeting the eligibility criteria. Among 95 cases, 32 (33.68%) undergo failed induction. The low
Bishops score (less than 4) is 3.17 times higher to fail compared to high one but it is not
statistically significant (OR = 3.17; 95% CI = 0.66-15.29; p= 0.13). Nulliparous women increase
the failed induction 2.42 times compared to the multiparous women (OR = 2.42; 95% CI = 0.99-
5.93; p= 0.05). Oral misoprostol route shows a failed induction 4.5 times higher compared to
vaginal route (OR = 4.45; 95% CI = 1.58-12.54; p= 0.00). Maternal age and gestational age do not
increase serve as prognostic factors. The logistic regression analysis shows that parity and route of
misoprostol administration are important prognostic factors contributing to the failed induction.
Conclusion: This study shows that although Bishops score is not statistically different, but
clinically it is. Nulliparous women and oral administration of misoprostol are more important
prognostic factor predisposing to the failed induction of labor in preeclampsia/eclampsia.

Keywords: Failed induction, preeclampsia/eclampsia, misoprostol, prognostic factor


1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Preeklamsia merupakan kelainan multisistem yang dihubungankan dengan
kenaikan tekanan darah dan proteinuria dalam kehamilan.
1,2,3
Kejadian
preeklamsia sekitar 5%.
1
Lebih dari setengah juta wanita meninggal tiap tahun
karena preeklamsia/eklamsia dan 99% kematian terjadi di negara berkembang.
3

Preeklamsia merupakan kelainan spesifik pada kehamilan. Terapi definitif
preeklamsia/eklamsia adalah persalinan. Persalinan vaginal lebih dianjurkan.
4,5

Persalinan pada preeklamsia berat/eklamsia dengan umur kehamilan melebihi 34
minggu diterima secara universal.
6
Cara persalinan yang optimal bagi penderita
preeklamsia/eklamsia belum dievaluasi secara seksama.
7
Pasien perlu dievaluasi
secara individual untuk menetapkan cara persalinan yang optimal.
4
Jika pasien
dalam persalinan atau jika persalinan dapat diinduksi dengan mudah, persalinan
vaginal dapat dikerjakan asal tidak ada komplikasi obstetrik lainnya. Induksi
persalinan pada preeklamsia mempunyai angka kegagalan 4 kali lipat dan
menaikkan risiko persalinan secara seksio sesaria 2 kali lipat dibandingkan wanita
normotensif.
8
Diantara wanita dengan serviks belum matang, penderita
preeklamsia mempunyai kemungkinan 6,5 kali lebih besar untuk terjadinya
induksi gagal dibandingkan wanita bukan preeklamsia.
9
Angka induksi gagal
lebih tinggi disebabkan karena serviks belum matang dan batasan waktu.
3,8

2
Induksi persalinan adalah usaha menginisiasi persalinan yang sebelumnya
belum terjadi. Induksi persalinan di rumah sakit meliputi 10% sampai 25,8%
persalinan. Indikasi induksi persalinan terbanyak adalah hamil postterm, ketuban
pecah dini dan preeklamsia. Kegagalan induksi persalinan (induksi gagal) terjadi
pada 7% - 33,3% kasus. Induksi persalinan berhubungan dengan kenaikan
kejadian persalinan secara seksio sesaria.
1,10-17

Banyak metoda induksi telah dilakukan. Induksi gagal sering terjadi bila
serviks belum matang. Usaha pematangan serviks sebelum memulai induksi
persalinan lazim dilakukan. Salah satu usaha memperbaiki kegagalan unduksi
dengan menggunakan prostaglandin, preparat ini berfungsi sebagai pematang
serviks dan induktor.
18

Pada 1987 dilaporkan penggunaan analog prostaglandin E
1
(PGE
1
) sintetis
(misoprostol) untuk induksi persalinan. Misoprostol lebih efektif dan efisien untuk
induksi persalinan dibandingkan prostaglandin lainnya maupun oksitosin.
Misoprostol dipercaya dapat menurunkan kemungkinan kegagalan induksi.
Misoprostol dapat diberikan secara oral maupun secara vaginal. Sampai sekarang
belum ada kesepakatan para ahli tentang cara pemberian, interval pemberial, dosis
misoprostol untuk induksi persalinan dan kriteria induksi gagal.
16,18-21
Induksi
gagal setelah pemberian dosis adekuat harus membuat ahli obstetri berpikir ulang,
apakah induksi sesungguhnya tepat. Jika persalinan adalah indikasi, haruskah
seksio sesaria dilakukan? Jika indikasi persalinan adalah borderline, mungkinkah
induksi ditunda untuk satu hari (jika ketuban utuh)?
13

3
Pemakaian misoprostol untuk induksi persalinan tidak disetujui oleh
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (Food and Drug
Administration,FDA).
18,20
Pada bulan Agustus 2000, pabrikan misoprostol
(Cytotec

, Searle) memberi peringatan kepada klinisi terhadap penggunaan


misoprostol pada kehamilan. Pabrikan menyebutkan adanya ruptur uteri, kematian
maternal dan fetus ketika misoprostol digunakan untuk induksi persalinan. Efek
jangka panjang Cytotec

pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang lahir


dengan induksi dengan Cytotec

belum diketahui.
20

Penggunaan misoprostol untuk induksi persalinan masih kontroversial
untuk beberapa alasan. Ketidakmampuan menjawab pertanyaan, walaupun
misoprostol digunakan dalam dosis kecil untuk menginduksi persalinan, kurang
aman dibandingkan obat lainnya. Hasil buruk yang serius sangat jarang, dan
perbedaan absolut antara obat-obat induksi persalinan adalah kecil. Aborsi
medisinal dengan misoprostol berpotensi menaikkan akses pelayanan aborsi.
Luaran jelek yang serius, walaupun jarang, akibat misoprostol berpotensi tinggi
untuk terjadi pembeberan (exposure) mediko-legal. Misoprostol efektif untuk
induksi persalinan, tetapi keamanannya belum diketahui dengan pasti bila
dibandingkan dengan obat lainnya. Induksi persalinan dengan misoprostol
berhubungan dengan peningkatan kejadian hiperstimulasi, perubahan denyut
jantung janin dan meningkatnya kejadian meconeum staining.
20

B. Permasalahan
Persalinan vaginal lebih dianjurkan pada preeklamsia/eklamsia. Masalah
timbul bila pasien datang belum dalam persalinan. Berdasarkan latar belakang
4
maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: faktor-faktor apakah yang
mempengaruhi kegagalan induksi persalinan pada preeklamsia/eklamsia.
C. Keaslian Penelitian
Pemberian misoprostol 50 g oral menunjukkan keefektifan yang
lebih rendah dibandingkan pemberian vaginal untuk induksi persalinan.
Keberhasilan persalinan vaginal dalam 24 jam lebih lama 3 jam pada kelompok
oral. Keberhasilan persalinan vaginal dalam 24 jam tidak berbeda, yaitu kelompok
oral 95,4% dan 98,5% pada kelompok vaginal.
22

Keefektifan misoprostol vaginal dan oral tidak berbeda bermakna
bermakna (87,50% vs 80,70%) untuk induksi persalinan pada kehamilan a term
dengan ketuban pecah dini. Lama waktu induksi pada kelompok misoprostol
vagina lebih lama dibandingkan oral (10,00 4,86 vs 9,76 4,56 jam).
23
Kegagalan induksi persalinan memakai misoprostol 50 g tanpa
memandang indikasi adalah 15,9%. Skor Bishop merupakan faktor prognostik
terhadap kegagalan induksi. Induksi gagal didefinisikan lama induksi lebih dari 24
jam terhitung dari pemberian misoprostol yang pertama.
24

Penelitian luaran preeklamsia berat pada kehamilan aterm telah dilakukan.
Dari 93 pasien preeklamsia berat hamil aterm, 34 pasien diantaranya menjalani
seksio sesaria sebelum persalinan dan 59 pasien menjalani induksi persalinan.
Dari 59 pasien yang menjalani induksi, 37 (63%) diantaranya terjadi persalinan
vaginal dan 22 (37%) diantaranya menjalani seksio sesaria. Indikasi seksio sesaria
setelah menjalani induksi adalah induksi gagal (67%) dan perubahan denyut
jantung janin (DJJ) (76%). Sepuluh (59%) diantara pasien dengan skor Bishop = 4
5
berhasil melahirkan secara vaginal. Duapuluh tujuh (64%) diantara pasien dengan
skor Bishop < 4 berhasil melahirkan secara vaginal. Dalam kelompok pasien yang
diinduksi persalinannya, morbiditas maternal dan neonatal tidak berbeda secara
bermakna.
7
Penelitian mengenai persalinan preeklamsia berat pada kehamilan preterm
(umur kehamilan 24 34 minggu) telah dilakukan. Dari 306 pasien yang diteliti,
161 diantaranya dilakukan seksio sesaria elektif. Indikasi seksio sesaria elektif
terbanyak adalah serviks belum matang (33,5%) dan malpresentasi (22,4%).
Seratus empat puluh lima pasien menjalani induksi persalinan. Tujuh puluh
(48,3%) diantara pasien yang diinduksi berhasil lahir secara vaginal dan 75
(51,7%) lainnya menjalani seksio sesaria. Indikasi seksio sesaria terbanyak setelah
induksi persalinan adalah perubahan DJJ (50,7%) dan persalinan tidak maju
(45,3%). Prediktor keberhasilan induksi persalinan secara signifikan adalah skor
Bishop (odds ratio 1,30, 95% confidence interval 1,11-1,71, P= 0,003).
25

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, induksi gagal pada penelitian ini
adalah persalinan fase aktif belum terjadi dalam 24 jam setelah pemberian
misoprostol pertama. Diteliti skor Bishop dan paritas sebagai faktor prognostik
terjadinya induksi gagal pada pasien preeklamsia/eklamsia.
D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat diketahui tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi kegagalan induksi persalinan pada preeklamsia/ eklamsia. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
terminasi kehamilan pada preeklamsia/eklamsia.
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengelolaan preeklamsia/eklamsia
Preeklamsia merupakan penyakit pada kehamilan yang ditandai dengan
hipertensi disertai proteinuria dan atau edema. Eklamsia merupakan keadaan
kejang dan atau koma yang didahului oleh kondisi preeklamsia. Etiologi dan
patogenesis preeklamsia/eklamsia belum diketahui secara pasti.
4
Vasospasme
merupakan dasar patofisiologi preeklamsia/eklamsia. Kontriksi vaskuler akan
menyebabkan resistensi aliran darah dan menyebabkan hipertensi arterial.
Vasospasme pembuluh darah itu sendiri akan menyebabkan kerusakan, sehingga
integritas endotel akan terganggu.
24

Prinsip-prinsip penanganan preeklamsia/eklamsia adalah melindungi jalan
nafas ibu, mengontrol kejang, mengobati tekanan darah yang berat, neraca cairan,
persalinan yang aman dan sesegera mungkin dan menangani komplikasi yang
terjadi. Tujuan utama penanganan preeklamsia/eklamsia adalah menghambat
timbulnya kejang, mencegah perdarahan intrakranial serta kerusakan serius pada
organ vital dan melahirkan bayi sehat. Magnesium sulfat merupakan preparat
yang umum diberikan untuk mencegah kejang pada preeklamsia
berat/eklamsia.
2,3,4, 26

Secara tradisional, wanita dengan preeklamsia berat harus dilahirkan tanpa
penundaan, tanpa mempertimbangkan umur janin. Membiarkan kehamilan
berlanjut pada keadaan demikian merupakan tindakan yang membahayakan,
7
paling tidak untuk ibu, dan juga bagi janin dengan asumsi bahwa viabilitas janin
telah tercapai. Pengelolaan preeklamsia berat secara konservatif, ibu berisiko
terjadi komplikasi solusio plasenta, eklamsia, gagal ginjal, hipertensi ensefalopati,
stroke serta ruptur hepar.
4

Di Amerika Serikat, wanita hamil dengan hipertensi mengalami kenaikan
risiko untuk persalinan secara seksio sesaria. Karena beberapa wanita tersebut
mempunyai masalah sebelum persalinan alami terjadi, kemungkinan serviks
belum matang. Problem tersebut lebih lanjut tergabung dengan magnesium sulfat
yang diberikan untuk pencegahan kejang. Sebagian klinisi percaya bahwa
magnesium sulfat akan memperlambat onset persalinan pada wanita dengan
serviks belum matang yang menjalani induksi persalinan. Tetapi peneliti lain ada
yang menyimpulkan bahwa magnesium sulfat tidak berhubungan dengan lama
interval persalinan atau peningkatan persalinan secara seksio sesaria.
9,27

Persalinan pada preeklamsia berat/eklamsia dengan umur kehamilan
melebihi 34 minggu diterima secara universal.
6
Banyak metoda induksi telah
dilakukan. Induksi persalinan adalah tindakan secara kimiawi maupun mekanik
yang ditujukan untuk mematangkan serviks dan memicu timbulnya persalinan
pada seorang wanita hamil. Induksi gagal sering terjadi bila serviks belum
matang. Salah satu usaha memperbaiki kegagalan induksi dengan menggunakan
prostaglandin (misalnya PGE
2
dan misoprostol), preparat ini berfungsi sebagai
pematang serviks dan induktor.
18,28

8
B. Induksi persalinan dengan misoprostol
Induksi persalinan adalah usaha menginisiasi persalinan yang sebelumnya
belum terjadi. Banyak metoda induksi telah dilakukan. Misoprostol digunakan di
bidang obstetri dan ginekologi karena menimbulkan kontraksi miometrium dan
pematangan serviks.
B.1. Prostaglandin dan fisiologi kontraksi miometrium
Suatu perubahan yang kompleks pada janin dan ibu terjadi menjelang
persalinan. Pada janin, sumbu hipotalamus hipofise adrenal tidak hanya
mempengaruhi produksi steroid di plasenta, tetapi juga mempengaruhi komposisi
cairan amnion yang disekresikan paru dan ginjal. Perubahan ini juga memberi
isyarat kepada uterus termasuk serviks dan miometrium. Membran janin
merupakan faktor biologis penting yang selama ini dianggap diam, membentuk
hubungan antar permukaan yang dinamis di dalam uterus yaitu antara amnion
(sumber utama prostaglandin E
2
), desidua (sumber utama prostaglandin F
2a
) dan
korion (sumber utama prostaglandin dehidrogenase).
29,30

Sel-sel miometrium fundus tertanam di dalam matriks ekstraseluler yang
terutama terdiri dari serat kolagen. Matriks tersebut mempermudah transmisi
kekuatan kontraksi sel miometrium dan juga berfungsi mengintegrasikan daya
kontraksi sel miometrium.
29

Gap junction adalah hubungan sel ke sel yang tersusun dari bagian-bagian
simetrik membran plasma dua sel yang bersebelahan. Komunikasi antar sel
miometrium dilakukan melalui gap junction. Gap junction berkembang selama
persalinan. Gap junction tidak ada sepanjang kehamilan sampai cukup bulan.