Anda di halaman 1dari 6

Laporan Pendahuluan Ujian Praktikum

Pemberian Nutrisi Enteral


Islah Akhlaqunnissa Jihadi, 0906510943
I. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memasang dan melepas serta member nutrient melalui NGT
secara mandiri

II. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui konsep nutrisi enteral
b. Mahasiswa mengetahui tujuan pemberian nutrisi enteral (melalui NGT)
c. Mahasiswa mampu menyebutkan indikasi dan kontraindikasi pemberian
nutrient melalui NGT
d. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi yang mungkin terjadi akibat
pemberian nutrient melalui NGT
e. Mahasiwa mampu menyebutkan tujuan dari pemberian nutrient melalui NGT
f. Mahasiswa memahami prosedur pemasangan NGT

III. Isi
3.1 Konsep Nutrisi Enteral
Nutrisi enteral (Enteral Nutrition, EN) adalah nutrien yang diberikan melalui saluran
gastrointerstinal. Hal ini termasuk makanan keseluruhan, campuran semua makanan,
suplemen oral, dan formula selang pemberian makan. Nutrisi enteral adalah seuatu
metode yang dipilih untuk memenuhi jika saluran gastrointerstinal klien berfungsi dengan
menyediakan dukungan psikologi, keamanana, dan nutrisi yang ekonomis. Pada klien
yang mengalami kesulitan makan, maka dapat diberikan nutrisi enteral dengan selang
nasogastrik jejunum atau lambung.
Penelitian telah menunjukkan efek yang menguntungkan dari pemberian makan
enteral bila dibandingkan dengan nutrisi parenteral, yang mengandung zat gizi pada
mukosa gastrointerstinal. Pemberian makan dengan rute enteral dapat mengurangi sepsis,
menumpulkan respon hipermetabolik pada trauma, dan memelihara struktur dan fungsi
interstinal (Potter dan Perry, 2005).
Formula EN beragam dalam komposisi dan kepadatan nutrient. Kategori umum untuk
formula EN termasuk standar semua formula protein, formula berdasarkan elemen atau
peptide, dan formula penyakit khusus. Formula yang cocok untuk standar yang tidak
memiliki gangguan digesti atau absorbsi, formula elemen dan peptide digunakan bagi
klien yang memiliki kerusakan digesti atau absorbsi, dan formula penyakit khusus
memiliki modifikasi dalam kandungan nutrient yang spesifik dengan kepadatan kalori.
Semua formula pemberian makan melalui selang adalah bebas laktosa. Produk enteral
yang khusus cenderung lebih mahal dan umumnya penggunaan untuk indikasi khusus.
Penelitian terakhir berfokus pada efek nutrient yang spesifik seperti glutamine, arginin,
nukleotida, dan asam lemak omega 3 ketika ditambahkan pada formula enteral. Manfaat
dari pemberian nutrisi enteral antara lain:
a. Mempertahankan fungsi pertahanan dari usus
b. Mempertahankan integritas mukosa saluran cerna
c. Mempertahankan fungsi-fungsi imunologik mukosa saluran cerna
d. Mengurangi proses katabolik
e. Menurunkan resiko komplikasi infeksi secara bermakna
f. Mempercepat penyembuhan luka
g. Lebih murah dibandingkan nutrisi parenteral
h. Lama perawatan di rumah sakit menjadi lebih pendek dibandingkan dengan Nutrisi
Parenteral

Klien yang tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi, baik makanan maupun cairan,
secara adekuat melalui oral perlu pemberian nutrient melalui cara lain. Ada dua cara
pemberian nutrient, yaitu pemberian nutrient secara enteral (melalui sistem pencernaan)
dan pemberian nutrient secara parenteral.
Pemberian nutrient secara enteral biasanya dilakukan melalui selang nasogastrik (selang
dimasukkan ke lambung melalui lubang hidung dan nasofaring), baik melalui selang
yang berdiameter besar (>Fr12 atau >5mm) maupun yang berdiameter kecil (<Fr.1 atau
<5mm). Namun ada juga yang menggunakan orogastrik (selang dimasukkan dalam
lambung melalui mulut), nasointestin (selang dimasukkan ke usus halus melalui lubang
hidung dan nasofaring), gastrostomi (selang dimasukkan ke lambung melalui lubang di
dinding abdomen), dan yeyenostomi (selang dimasukkan ke usus melalui lubang di
dinding abdomen). Sumber lain mengklasifikasikan route pemberian nutrisi enteral
sebagai berikut:
1) Nasogastrik: pemberian melalui nasogastrik memerlukan fungsi gaster yang baik,
motilitas dan pengosongan gaster yang normal.

2) Transpilorik: pemberian transpilorik efektif jika ada atoni gaster.
3) Perkutaneus: bila bantuan nutrisi secara enteral dibutuhkan lebih dari 4 bulan.
Jejunostomi diberikan bila ada GER, gastroparesis, pankreatitis.

3.2 Tujuan
Pemberian nutrisi enteral secara dini bertujuan untuk memperkecil respon katabolic,
mengurangi komplikasi infeksi, memperbaiki toleransi klien, mempertahankan intregritas
usus/respon imunologis, dan memberikan sumber energi yang tepat bagi usus pada waktu
sakit (Hartono dalam DKKD FIKUI, 2000).
Selain untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi, NGT juga dipasang untuk tujuan tertentu,
antara lain: untuk mencegah mual, muntah, dan distensi lambung selama pembedahan,
mengeluarkan isi lambung untuk pemeriksaan laboratorium, dan lavase/kumbah/cuci
lambung pada kasusu keracunanatas overdosis obat atau peradangan lambung.

3.3 Indikasi
Pemberian nutrisi enteral diberikan kepada klien yang tidak mampu makan melalui
oral atau menelan, tetapi saluran pencernaan masih berfungsi seperti pada klien dengan
kondisi berikut:
a. Kakeksia (malnutrisi pada klien penderita AIDS, [enyakit jantung atau kanker]
b. Penurunan kesadaran/koma
c. Disfagia/obstruksi esophagus
d. Anoreksia pada infeksi berat/kronis
e. Pembedahan/kanker pada kepala/leher
f. Keadaan hipermetabolisme (luka bakar, trauma)
g. Inflamasi usus/penyakit Crohn
h. Pankreatitis

3.4 Kontra indikasi
Pemberian nutrisi enteral tidak boleh dilakukan pada klien dengan kondisi berikut:
a. Perdarahan gastrointerstinal berat
b. Vomitus yang persisten danintractable
c. Obstruksi usus
d. Fistula esophagus atau lambung
e. Refluks esophagus
f. Pengosongan lambung sangat lambat
g. Kondisi-kondisi yang mengakibatkan perubahan fungsi saluran cerna (osbtruksi
menyeluruh pada saluran cerna bagian distal, perdarahan saluran cerna yang
hebat, fistula enterokutan high-output, intractable diarrhea, kelainan kongenital
pada saluran cerna)
h. Gangguan perfusi saluran cerna (instabilitas hemodinamik, syok septic)

3.5 Komplikasi
Masalah atau komplikasi yang sering terjadi pada klien yang mendapatkan nutrien
dari NGT antara lain diare, kram perut, kembung mual, muntah, aspirasi, dan konstipasi,
nekrosis mukosa hidung, dehidrasi, edema, dan malabsorbsi.

3.6 Komposisi Formula untuk Makanan Enteral
Makanan enteral dianjurkan mempunyai komposisi yang seimbang, terdiri dari :
1. Kalori non-protein dari sumber karbohidrat berkisar 60-70%; bisa merupakan
polisakarida, disakardida mapun monosakarida. Glukosa polimer merupakan
karbohidrat yang lebih mudah diabsorpsi.
2. Komposisi kalori non-protein dari sumber lemak berkisar antara 30-40%; bisa
merupakan lemak bersumber dari Asam Lemak Esensial (ALE/EFA). Lemak ini
mempunyai konsentrasi kalori yang tinggi tetapi sifat absorpsinya buruk. Lemak
MCT merupakan bentuk lemak yang mudah diabsorpsi.
3. Protein diberikan dalam bentuk polimerik (memerlukan enzim pankreas) atau peptida.
Protein whey terhidrolisis merupakan bentuk protein yang lebih mudah diabsorpsi
daripada bentuk asam amino bebas. Pada formula juga perlu ditambahkan serat; serat
akan mengurangi risiko diare dan mengurangi risiko konstipasi, memperlambat waktu
transit makanan pada saluran cerna, merupakan kontrol glikemik yang baik. Serat
juga mempromosikan fermentasi di usus besar sehingga menghasilkan SCFA yang
merupakan faktor trofik. SCFA menyediakan energi untuk sel epitel untuk
memelihara integritas dinding usus.
Metode pemberian makan per selang pilihan tergantung pada lokasi selang, toleransi pasien,
kenyamanan, dan biaya. Makanan bolus intermitten diberikan ke dalam lambung (melalui
gastrostomi) dalam jumlah besar pada interval yang ditetapkan. Tetesan gravitasi intermitten
adalah metode lain untuk memberikan makanan per selang ke dalam lambung, umumnya
pada pasien yang dirawat di rumah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada formula Nutrisi Enteral (NE) :
Nama
Produk
Osmolaritas
(mOsm/L)
Kalori
(Kkal)
Karbohidrat
(g)
Protein
(g)
Lemak
(g)
Volume
Cairan
(ml)
Formula 1 450 1500 300 42 15 1500
Formula 2 600 1800 294,8 90 29,3 1500
Formula 3 350 1500 246 87 19,2 1500
Formula 4 700 1800 301,5 81 30,6 1500

3.7 Prosedur tindakan
1. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan.
2. Persiapkan klien.
3. Siapkan alat-alat.
4. Jelaskan tujuan pemberian makanan.
5. Atur posisi klien semi fowler atau fowler, jika kontraindikasi brikan posisi miring
kanan
6. Pasang pengalas di dada klien
7. Siapkan makanan dan obat (jika ada) yang akan diberikan
8. Cek posisi dan kepatenan selang NGT serta residu lambung. Jika resid 50-100 cc
tunda pemberian sampai 1 jam. Jika satu jam jumlah residu masih tetap, lapor dokter.
9. Dengan tangan yang tidak dominan, klem selang NGT dan tinggikan selang 45 cm
dari dada klien. Buka penutup ujung NGT dan sambungkan dengan corong/spuit
10. Alirkan makanan perlahan-lahan tanpa mendorong. Jangan membiarkan udara masuk
ke dalam selang
11. Bila makanan sudah selesai, bilas selang dengan cairan
12. Tutup ujung selang
13. Biarkan klien pada posisi semifowler selama 30 menit setelah pemberian makanan.
14. Tindakan selesai, segera rapihkan alat-alat.
15. Lakukan terminasi pada klien atau keluarga.
16. Cuci tangan.

Referensi
American Dietetic Association. (2006). ADA pocket guide to enteral nutrition.
Kelompok Keilmuan DKKD FIK UI. (2007). Panduan praktikum keperawatan dasar II.
Depok: Lembaga Penerbit FEUI.
Kurniati, A. dan Handiyani, H. (2005). Buku panduan keterampilan dasar profesi
keperawatan. Jakarta: Lembaga penerbit FEUI.
Potter dan Perry. (2006). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep, proses, dan
praktik. Edisi IV. Volume 2. Jakarta: EGC.
Saunders. (2004). Practical aspects of nutritional supports: An advanced practice guide.