Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM

ELEKTROMETRI
I. NOMOR PERCOBAAN : V
II. NAMA PERCOBAAN : Analisis Konduktometri Air
III. TUJUAN PERCOBAAN :
Mempelajari penggunaan metode konduktometri untuk analisis air.
Menentukan daya hantar berbagai air.
IV. DASAR TEORI
Titrasi konduktometri merupakan metode analisa kuantitatif yang didasarkan
pada perbedaan harga konduktansi masing-masing ion. Dalam konduktometri
diperlukan sel konduktometrinya, yaitu alat mengukur tahanan sel. Namun titrasi ini
kurang bermanfaat untuk larutan dengan konsentrasi ionik yang terlalu tinggi.
Perbedaan titrasi konduktometri dengan titrasi lainnya adalah bagaimana cara
mengetahui titik ekivalen. Titik ekivalen titrasi konduktometri ini dapat diketahui dari
daya hantar larutan yang kita ukur, jika daya hantar sudah konstan berarti titrasi
sudah mencapai ekivalen. Titrasi ini juga tidak perlu menggunakan indikator.
(Khopkar, 2008)
Konduktometri merupakan metode analisis kimia berdasarkan daya hantar listrik
suatu larutan. Daya hantar listrik (G) suatu larutan bergantung pada jenis dan
konsentrasi ion di dalam larutan. Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan
suatu ion di dalam larutan ion yang mudah bergerak mempunyai daya hantar listrik
yang besar. Daya hantar listrik (G) merupakan kebalikan dari tahanan R, sehingga
daya hantar listrik mempunyai satuan ohm
-1
. Bila arus listrik dialirkan ke dalam suatu
larutan melalui dua elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan
luas bidang elektroda, maka daya hantar listrik (G) berbanding lurus dengan luas
bidang elektroda (A) dan berbanding terbalik dengan jarak kedua elektroda (l). Jadi,


Dimana k adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm
-1
cm
-1
. (Khopkar, 2008)
Biasanya konduktometri merupakan prosedur titrasi, sedangkan konduktansi
bukanlah prosedur titrasi. Metode konduktasi dapat digunakan untuk mengikuti reaksi
titrasi jika perbedaan antara konduktasi cukup besar sebelum dan sesudah
penambahan reagen. Tetapan sel harus diketahui. Berarti selama pengukuran yang
berturut-turut jarak elektroda harus tetap, tetapi pengenceran akan menyebabkan
hantarannya tidak berfungsi secara linear dengan konsentrasi. (Khopkar, 2008)
Titrasi konduktometri sangat berguna bila hantaran sebelum dan sesudah reaksi
cukup banyak berbeda. Metode ini kurang bermanfaat untuk larutan dengan
konsentrasi ionik terlalu tinggi, misalkan titrasi Fe
3+
dengan KMnO
4
, dimana
perubahan hantaran sebelum dan sesudah titik ekivalen terlalu kecil dibandingkan
besarnya konduktasi total. (Khopkar, 2008)
Konduktivitas suatu larutan elektrolit, pada setiap temperatur hanya bergantung
pada ion-ion yang ada, dan konsentrasi ion-ion tersebut. Ini sebagian besar
disebabkan oleh berkurangnya efek-efek antar ionik untuk elektrolit-elektrolit kuat
dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit-elektrolit lemah. (Bassett, J. dkk.,
1994)
Untuk mengukur konduktivitas suatu larutan, larutan ditaruh dalam sebuah sel
yang tetapan selnya telah ditetapkan dengan kalibrasi dengan suatu larutan yang
konduktivitasnya diketahui dengan tepat, misalnya suatu larutan kalium klorida
standar. Sel ditaruh dalam satu lengan dari rangkaian jembatan Wheatstone dan
resistansinya diukur. (Bassett, J. dkk., 1994)
Bila konsentrasi dinyatakan dalam normalitas, maka harus dikalikan faktor 1000.
nilai d/a=S merupakan faktor geometri selnya dan nilainya konstan untuk suatu sel
tertentu sehingga disebut tetapan sel. Metode konduktometri memiliki aplikasi yang
jauh lebih terbatas ketimbang prosedur-prosedur visual, potensiometri ataupun
amperometri. (Bassett, J. dkk., 1994)
Sifat-sifat fisik dari suatu larutan ditentukan oleh perbandingan relatif atau
konsentrasi dari berbagai komponen larutannya. Telah diberikan beberapa cara untuk
menyatakan konsentrasi. Misalnya telah dipelajari mengenai molaritas dan normalitas
yang merupakan satuan konsentrasi yang berguna untuk memecahkan soal-soal
stoikiometri dari reaksi yang terjadi dalam larutan. Dengan cara yang sama telah
ditemukan bahwa beberapa satuan konsentrasi yang dipakai untuk pengungkapan
sifat fisik dari larutan. (Bassett, J. dkk., 1994)
Untuk elektrolit kuat, nilai batas dari konduktivitas molar, A
o
, dapat ditentukan
dengan meneruskan pengukuran sampai konsentrasi-konsentrasi rendah dan lalu
mengekstrapolasi grafik antara konduktivitas terhadap konsentrasi, sampai ke
konsentrasi nol. Untuk elektrolit lemah seperti asam asetat dan ammonia metode ini
tidak dapat digunakan, karena disosiasinya adalah jauh dari sempurna pada
konsentrasi terendah yang dapat diukur dengan baik (~10
-14

M). Namun, konduktans
batas ini bisa juga dihitung atas dasar hukum migrasi tak bergantung (independen)
dari ion. (Svehla, 1990)
Metode konduktometri dapat digunakan untuk reaksi titrasi jika perbedaan antar
konduktansi cukup besar sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus
diketahui, berarti sebelum dan sesudah penambahan reagen. Tetapan sel harus
diketahui, berarti selama pengukuran yang berturut-turut jarak elektroda harus tetap,
tetapi pengenceran akan menyebabkan hantarannya tidak berfungsi secara linier lagi
dengan konsentrasi. Titrasi konduktometri ini sangat berguna bila hantaran sebelum
dan sesudah reaksi cukup banyak berbeda. Metode ini kurang bermanfaat untuk
larutan dengan konsentrasi ionik terlalu tinggi, dimana titik ekivalen terlalu kecil
dibandingkan dengan konduktivitas total. (David E. Goldberg, 2004)
Penambahan suatu elektrolit kepada suatu larutan elektrolit pada kondisi-kondisi
yang tak menghasilkan perubahan volume yang berarti. Daya hantar jenis C
merupakan pengukuran dan kemampuan larutan berair untuk mengemban arus listrik.
Kemampuan ini bergantung pada kehadiran ion, konsentrasi total, mobilitas, valensi,
CO
2
, dan temperatur pada saat pengukuran. Molekul senyawa organik dalam larutan
akan mengalirkan arus dengan lemah. (David E. Goldberg, 2004)


VII. DATA HASIL PENGAMATAN
Larutan Standar
NO Larutan KCL G (Siemens)
1 1 1
2 2 1
3 3 1


Larutan Sampel
NO Larutan Sampel G (Siemens)
1 Akuadest 0,52
2 Air Keran 0,71
3 Air Mineral 0,96

Analisa :
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa air mineral memiliki nilai
konduktor yang lebih besar dibandingkan dengan aquadest dan air keran. Hal ini
dikarenakan air mineral banyak terdapat mineral-mineral sedangkan mineral seperti
yang kita ketahui tersusun atas ion-ion jadi nilai konduktornya lebih besar.








VIII. PERHITUNGAN
Diketahui : G = 0,001412 Siemens
t = 25
o
C
R KCl =


C.Cm
-1
= (0,001412)(R KCl) [ ]
= (0,001412)(

) [ ]
= (0,001412)(

) [ ]
= (0,001412)(

) ( 1 +0 )
= (1) (1)
= 1













IX. PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini, praktikan melakukan percobaan mengenai analisa
konduktometri air. Pada dasarnya praktikan harus mengetahui terlebih dahulu maksud
dari konduktometri. Konduktometri salah satu metode analisa yang didasarkan pada
daya hantar suatu larutan. Berdasarkan mampu atau tidaknya menghantarkan arus
listrik, larutan dibagi menjadi dua jenis yakni larutan elektrolit dan larutan
nonelektrolit. Larutan elektrolit memiliki kemampuan untuk menghantarkan listrik .
Larutan elektrolit ini terbagi menjadi dua bagian yakni larutan elektrolit kuat yang
dapat terionisasi sempurna didalam air, contohnya larutan kalium klorida dan yang
kedua larutan elektrolit lemah yang terionisasi sebagian di dalam air. Contoh dari
larutan elektrolit lemah seperti larutan asam asetat atau larutan yang memiliki derajat
dissosiasi. Larutan nonelektrolit tidak memiliki kemampuan untuk menghantarkan
listrik karena tidak dapat terionisasi didalam air, contohnya benzena.
Disini alat yg digunakan untuk mengukur daya hantar tersebut dikenal dengan
konduktometer. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya hatar listrik diantaranya
kehadiran ion, jumlah ion, mobilitas dan ukuran ion. Daya hantar listrik akan
berbanding lurus dengan kehadiran ion, jumlah ion serta mobilitas ion. Tetapi daya
hantar listrik akan berbanding terbalik dengan ukuran ion.
Pada percobaan ini, praktikan menggunakan tiga jenis air sebagai sampel
diantaranya air aquades, air keran dan air mineral. Sebelum menggunakan
konduktometer terlebih dahulu dikalibrasi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi
tingkat kesalahan alat dan memperbesar tingkat ketelitiannya. Untuk melakukan
kalibrasi pada alat konduktometer ini digunakan larutan kalium klorida sebagai
larutan standar. Hal ini dikarenakan larutan kalium klorida tersebut stabil dan juga
disebabkan karena mobilitas atau pergerakan ion kalium dan klor nya sama. Setelah
alat kondutometer tersebut selesai dikalibrasi, maka alat ini siap untuk digunakan
dengan tingkat ketelitian yang relatif besar.


X. KESIMPULAN
1. Larutan kalium klorida berfungsi sebagai larutan standar.
2. Fungsi kalibrasi untuk meminimalisir kesalahan ketika penggunaan alat.
3. Daya hantar air mineral paling besar karena pada air mineral terdapat banyak
ion-ion yang membuat mobilitas ion besar sehingga daya hantar listriknya
juga besar.
4. Daya hantar aquades paling kecil karena air ini sudah dalam keadaan bebas
mineral sehingga tidak ada lagi ion-ion yang terdapat pada aquades
menyebabkan daya hantar listrik kecil.
5. Analisa yang digunakan pada percobaan ini analisa kuantitatif. Hal ini dapat
dilihat ketika praktikan menghitung besarnya daya hantar listrik pada sampel
air.

















Daftar Pustaka

Bassett, J. dkk., 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta
: Buku Kedokteran EGC.
Goldberg, David E. 2004. Kimia untuk Pemula. Jakarta : Erlangga.
Khopkar. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.
Shevla. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi
Kelima. Jakarta : PT Kalman Media Pustaka.