Anda di halaman 1dari 9

1

BAB III
KASUS
Berawal dari Bengkak dan Nanah
Insiden diduga pengguntingan itu berawal dari 20 Februari 2013 silam. Edwin yang
kala itu berusia 28 hari masuk RS Harapan Bunda atas keluhan flu dan demam. Sebagai
pemegang garis keturunan di adat Batak, Gonti mengaku, ingin memberikan yang terbaik
bagi sang bayi meski hanya mengalami sakit kecil pada umumnya.
Di Instalasi Gawat Darurat RS Harapan Bunda, sang bayi diberi penanganan pertama,
mulai dari pemasukan obat antikejang melalui dubur, alat bantu pernafasan hingga
pemasangan cairan infus. Edwin kemudian dipindah ke Emergency Room khusus anak-anak.
Namun, kegusaran mulai melanda orangtua beberapa hari kemudian.
"Tanggal 22 Februari 2013 saya lihat jari telunjuk anak saya bengkak. Setelah saya
buka perbannya, ternyata bengkaknya parah, bahkan sudah sampai keluar air," ujar Gonti saat
ditemui wartawan, Selasa (9/4/2013) malam.
Tanggal 23 Februari 2013, keluhan atas kondisi itu disampaikan orangtua ke pihak
rumah sakit. Namun, rumah sakit malah menyuruh Edwin diperiksa syarafnya di RSUD Pasar
Rebo. Itu pun tak terbukti Edwin mengalami gangguan syaraf. Edwin terbukti sehat secara
umumnya. Sejak saat itu, penyakitnya beralih dari hanya sekedar flu dan demam, menjadi
infeksi telunjuk.
Tanggal 2 Maret 2013, orangtua Edwin datang ke rumah sakit untuk meminta
tanggungjawab dari manajemen terhadap kondisi jari Edwin yang kian memprihatinkan.
Direksi rumah sakit yang ditemuinya pun mengakui melakukan kesalahan meski, kepada
Gonti, para petinggi menolak jika kasus itu dikatakan malapraktik. Edwin dirawat dan diobati
lagi di RS Harapan Bunda bebas dari biaya dengan janji kesembuhan oleh para dokter.

Kronologi Dokter Menggunting Jari Bayi Edwin Sihombing
Bermula pada hari Minggu 31 Maret 2013, dimana hari tersebut adalah hari raya
Paskah. Namun, tak tampak kegembiraan di hati pasangan suami istri muda, Gonti Laurel
Sihombing (34) dan Romauli Manurung (28). Sudah sekitar sebulan lamanya, Edwin
2

Timothy Sihombing (2,5 bulan), bayi mungil keduanya dirawat di RS Harapan Bunda karena
jari telunjuk kanan bengkak dan bernanah.
Kala itu, Romauli menjaga Edwin berdua saja dengan adiknya karena sang suami
pergi ke gereja. Sekitar pukul 07.00 WIB, Romauli terbangun. Seorang dokter ahli bedah
tulang dan dua orang suster datang ke ruang perawatan sang bayi. Ia mengira, kedatangan
dokter yang dikenalnya bernama dokter Zainal Abidin tersebut hendak melakukan
pemeriksaan rutin telunjuk bayinya. "Oh silakan dok," ujar Romauli sambil bangun dan
menggeser tempat tidur kecilnya agar sang dokter bisa mendekat ke tempat tidur Edwin.
Romauli kemudian bergegas menuju wastafel dan membasuh mukanya. "Ambil
gunting sus," ujar sang dokter sependengaran Romauli. Wanita yang bekerja sebagai
konsultan nutrisi di salah satu perusahaan swasta di Jakarta tersebut, mendekati sang dokter
dan suster yang dilihat tengah membuka perban jari telunjuk bayinya.
Keanehan mulai dirasakan Romauli. Kedua tangan dokter dengan lihai membuka
balutan perban jari telunjuk sang bayi. Sementara seorang suster menaruh mangkuk kecil di
bawah tangan bayinya. "Kemudian lukanya disiram pakai antiseptik. Dia ambil guntingnya.
Saya pikir untuk menggunting kulit mati di sekitarnya, tapi enggak. Hampir dua ruas tangan
anak saya digunting," kenangnya.
Darah segar yang keluar dari telunjuk bersamaan jeritan putra pertamanya itu
membuat dengkul dan jantung Romauli serasa mau copot. Air mata pun tak terbendung di
matanya. Kekalutan hati Romauli tak mampu menggerakan tangan untuk
mendokumentasikan proses perawatan Edwin seperti hari-hari biasanya. Romauli menjerit.
"Dia langsung cepat-cepat membalutnya lagi pakai perban. Saya sudah menangis di sana,
nggak kuat lagi saya melihatnya. Saya langsung telepon suami saya, memberitahu," kenang
Romauli.
Pertanyaan alasan pengguntingan itu sempat dilontarkannya kepada sang dokter yang
dikenal sebagai dokter berpengalaman tersebut. Namun, sang dokter menenangkan Romauli.
Menurut si dokter, itu tidaklah mengkhawatirkan. Bagian jari yang dipotongnya adalah
jaringan yang telah mati hingga harus dibuang agar jaringan baru muncul.
3

Kini, Edwin masih dirawat di Lantai III RS Harapan Bunda. Kondisinya telah stabil
meski dia lebih gelisah dari biasanya. Orangtua tengah berjuang agar Edwin bisa sembuh dan
pihak rumah sakit bertanggungjawab atas kesembuhan sang bayi.






























4

BAB IV
ANALISIS KASUS

Berdasarkan dari kasus yang terjadi tersebut kita dapat menganalisa bahwa pada
dasarnya, setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia harus dipertanggung jawabkan.
Karena tanggung jawab itu mempunyai lokus, dimana lokus adalah tempat tanggung jawab
itu sendiri. Lokus atau tempat dapat kita pahami dengan cara mempelajari bagaimana
hubungan antara tindakan dan pikiran. Lokus itu terdapat dalam fikiran kita yang secara
otomatis akan terlefleksi dalam tindakan kita sehari-hari dalam menerima kewajiban yang
dibebankan kepada kita. Pada kasus ini, dokter yang menangani kasus bayi Edwin tidak
mempertimbangkan lokus ini, karena dia melakukan tindakan memotong jari bayi Edwin
tanpa menanyakan status pertimbangan dari pihak keluarga korban.
Tanggung jawab itu sendiri adalah kesadaran seseorang yang terefleksikan dalam
berbagai tindakan dan melaksanakan peran sesuai kewajibannya. Dimana ada kewajiban
disitu pasti ada orang yang harus bertanggung jawab, karena kewajiban adalah sesuatu yang
di bebankan oleh seseorang dan harus di pertanggung jawabkan.
Setiap orang memiliki tanggung jawabnya masing-masing sesuai dengan perannya di
dalam masyarakat. Orang dapat di katakan bertanggung jawab jika ia melakukan tindakan
sesuai peraturan yang mengikatnya.
Tanggung jawab memiki manfaat yaitu orang yang bertanggung jawab akan
memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya sebab ia dapat menunaikan kewajibannya sehingga
ia terus di terima dalam kelompoknya maupun masyarakat. Seperti ketika dokter dan pihak
rumah sakit tersebut berani bertanggung jawab dengan cara memberikan pengobatan gratis
hingga sembuh kepada bayi tersebut. Sehingga dokter maupun pihak rumah sakit tersebut
dapat menunaikan kewajibannya yakni mempertanggung jawabkan apa yang telah dia
lakukan.
Orang yang bertanggung jawab itu adil dan akan selalu mencoba untuk berbuat adil.
Sedangkan yang dimaksud adil dalam konteks ini adalah keadilan untuk bayi tersebut
memperoleh pertanggung jawaban atas segala tindakan yang ia terima. Namun, ketika
seseorang tidak mampu bertanggung jawab, akibatnya ia akan lalai dari tugasnya, orang
lainpun akan ada yang di rugikan, tidak terciptanya suasana atau kondisi yang baik, akan
menghadapi kesulitan dan berujung pada rusaknya perasaan moral dan rasa hormat diri
terhadap peraturan. Seperti masalah yang terjadi dalam kasus ini, ketika dokter tersebut lalai
terhadap tugasnya sehingga bayi tersebut menanggung akibat dari kelalaiannya tersebut.
5

Kelalaian ini dapat terjadi karena tindakan dilakukan tanpa adanya unsur pertimbangan.
Tindakan yang tidak disertai dengan pertimbangan akal itu disebut tidak bertanggung jawab.
Tanggung jawab berkaitan dengan kewajiban. Status dan peranan individu
menentukkan kewajibannya. Pada kasus ini adalah dokter yang menangani kasus Edwin ini
harus berkewajiban bertindak sebagai dokter yang memenuhi kode etik dan profesionalisme.
Ketika tindakan seseorang tidak sesuai dengan kewajibannya, aturan, norma, dan nilai yang
berlaku maka individu tersebut dikatakan tidak bertanggung jawab. Sebagai contoh pada
kasus ini ketika dokter ini salah melakukan intervensi pada saat menyuntikan anti kejang
supaya bayi Edwin tenang. Padahal untuk usia anak seperti itu belum boleh. Selain itu,
pemotongan jari bayi Edwin tidak dilakukan di ruang operasi dan oleh dokter spesialis bedah,
hal ini mencerminkan bahwa dokter tersebut tidak bertanggung jawab kepada status dan
peranananya sebagai dokter.
Tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain yaitu dimana dokter memiliki
tanggung jawab yang besar dalam penanganan medis terhadap pasiennya. Walaupun Allah
lah yang mengatur hidup dan matinya seseorang, tetapi tetap saja dokter tetap harus
bertanggung jawab atas intervensi medis yang ia berikan kepada pasien. Kasus diatas
menunjukkan sikap dokter yang kurang tanggung jawab dan tidak etis dalam tugasnya
sebagai dokter. Segala intervensi yang dilaksanakan dokter seharusnya telah mendapatkan
persetujuan dari pihak pasien dan keluarga, akan tetapi dokter melakukan implementasi tanpa
sepengetahuan keluarga. Selain itu, dikatakan pula bahwa tindakan pemotongan jari ini
dilakukan di ruang perawatan bukan di ruang bedah. Dalam hal tersebut dokter telah
menambah kesalahannya karena tidak sesuai dengan prosedur penanganan medis.
Orang yang bertanggung jawab adalah orang yang berani mengambil resiko sebagai
akibat dari perbuatannya, baik disengaja maupun tidak disengaja. Contohnya pada kasus ini
dokter dan pihak rumah sakit pada awalnya tidak mau mengakui dan bertanggung jawab
pada apa yang telah dilakukannya, namun pada akhirnya pihak rumah sakit bertanggung
jawab dengan akan memberikan bantuan perawatan hingga bayi Edwin sembuh dan juga
membiayai operasi plastik di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.

Jelas dari kasus itu tidak dapat memenuhi ukuran tanggung jawab diantaranya :
1. Yakin pada suatu nilai : Dokter yang menangani bayi edwin mengesampingkan nilai-
nilai prosedural kedokteran dan nilai kemanusian yaitu dengan menggunting jari
edwin tanpa membiusnya terlebih dahulu.
6

2. Berani menanggung resiko : Dokter yang menangani kasus bayi edwin pada awalnya
tidak berani menanggung resiko atas perbuatannya. Dia tidak mengakui bahwa
perbuatannya itu salah. Tetapi pada akhirnya bertanggung jawab juga.
3. Bersikap jujur : Dari keterangannya tersebut, dokter bayi edwin tidak jujur.
4. Berkorban : Dia tidak mau mengorbankan dirinya untuk orang lain, dalam kasus ini
adalah bayi edwin.
5. Bersikap adil : Dokter bayi edwin tidak bersikap adil pada bayi edwin.
Terjadi ketidakseimbangan hak dan tanggung jawab dokter bayi edwin. Ia memang
berhak melakukan tindakan medis apapun terhadap kesembuhan pasiennya. Namun, harus
tetap dibarengi dengan tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya, yang pada
kenyataannya tidak dia lakukan.























7

BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Tanggung jawab merupakan kewajiban atau beban yang harus dipikul atau
dipenuhi, sebagai akibat perbuatan pihak yang berbuat, atau sebagai akibat dari
perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain sesuai
dengan perannya di lingkungan. Kewajiban beban itu ditujukan untuk kebaikan pihak
yang berbuat sendiri atau pihak lain, karena kewajiban dalam hal ini adalah sesuatu yang
akan menimbulkan efek buruk jika tidak dilaksanakan sehingga memiliki konsekwensi
yang harus dipertanggung jawabkan jika tidak dilakukan.
Tanggung jawab ada berbagai jenis sesuai dengan keadaan manusia atau
hubungan yang dibuatnya, sehingga satu orang memiliki lebih dari satu tanggung jawab
yang harus dipikul, jenis-jenis tanggung jawab itu, adalah tanggung jawab terhadap diri
sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga, tanggung jawab terhadap masyarakat,
tanggung jawab kepada Bangsa / negara , tanggung jawab terhadap tuhan, dan tanggung
Jawab Dalam Keprofesian. Didalam setiap tanggung jawab tersebut seseorang dituntut
untuk melaksanakan kewajibannya sebaik-baiknya sesuai dengan aturan dan
ketentuannya, jika tidak maka orang tersebut akan dianggap tidak bertanggung jawab
oleh orang- orang yang ada disekitarnya.

5.2 Saran
Saran dan kritik yang bersifat membangun penyusun harapkan tiada lain hanyalah
untuk perbaikan pada penyusunan makalah berikutnya, dan bagi para pembaca
khususnya.










8

LAMPIRAN
KASUS

Komnas PA : Edwin Diduga Kuat Korban Malapraktik
Penulis : Fabian Januarius Kuwado | Rabu, 10 April 2013 | 13:55 WIB

KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADOEdwin Timothy Sihombing (2,5
bulan) terpaksa kehilangan separuh jari telunjuk kanannya setelah digunting oleh dokter
rumah sakit, tempat bayi itu dirawat, Selasa (9/4/2013) malam. Ia diduga menjadi korban
malapraktik.
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist
Merdeka Sirait mengatakan, situasi yang menimpa bayi berusia 2,5 bulan atas nama Edwin
Timothy Sihombing, diduga kuat sebagai bentuk tindakan malapraktik. Hal tersebut
berdasarkan laporan yang dilakukan ayah Edwin kepada pihaknya.
"Ada dugaan malapraktik. Itu dilihat dari fakta yang diberikan kepada orangtua
kepada kami," ujarnya usai bertemu dengan ayah Edwin di kantor Komnas PA, Jalan TB
Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (10/4/2013).
Arist mengatakan, pihaknya melihat, terdapat tiga hal dalam serangkaian proses
penanganan medis yang diberikan dokter RS Harapan Bunda kepada Edwin yang menjadi
pintu masuk adanya dugaan malapraktik. Pertama, saat Edwin masuk ke IGD khusus anak.
Kedua, mengapa infus yang diberikan kepada Edwin menyebabkan bengkak pada titik infus
serta jari telunjuknya. Ketiga, adanya upaya dokter menggunting telunjuk bayi tanpa
sepengetahuan orangtua terlebih dahulu.
9

Menurut Arist, dokter yang melakukan tindakan medis terhadap Edwin pertama kali,
telah salah dalam mendiagnosa. Orangtua membawa Edwin ke rumah sakit atas keluhan
demam. Namun saat berada di IGD, dokter memberi obat antikejang dengan alasan Edwin
dianggap mengalami kejang.
"Apakah kejang yang dimaksud tergoncang-goncang badannya, matanya merem
melek akibat menahan sakit yang luar biasa, kan tidak begitu menurut orangtuanya ternyata,"
ujar Arist.
Maka dari itu, saat RS Harapan Bunda merujuk Edwin ke RSUD Pasar Rebo untuk
diperiksa syarafnya, hasilnya terbukti negatif. Tidak ada gangguan syaraf pada bayi malang
tersebut. Hal kedua yang menjadi dugaan kuat rumah sakit melakukan malapraktik adalah
mengapa cairan infus yang diberikan dokter pertama kali, malah menyebabkan
pembengkakan dan pembusukan di titik infus hingga jari telunjuk bayi tersebut.
Arist mengatakan, diduga terjadi kesalahan saat dokter menyuntikan infus ke tangan
Edwin. Ketiga, kata Arist, adalah hal yang paling fatal. Yakni, mengapa dokter nekat
menggunting dua ruas jari telunjuk Edwin tanpa memberitahukan kepada orangtuanya
terlebih dahulu. Padahal, sang ibu, Romauli Manurung (28), sehari-hari menjaga sang bayi di
rumah sakit tersebut.
"Apalagi pengguntingan itu tidak dilakukan di ruangan operasi, tapi malah di ruangan
rawat. Itu saja menurut kami sudah melanggar prosedur penanganan medis bagi anak," kata
Arist.
Sebelumnya diberitakan, Edwin bayi berusia 2,5 bulan terpaksa kehilangan separuh
jari telunjuk kanannya setelah digunting dokter RS Harapan Bunda. Orangtua pun menduga
kuat adanya kesalahan penanganan pada bayinya tersebut. Semula, orangtua membawa
Edwin datang ke RS itu atas keluhan demam tinggi.
Di ruang IGD khusus anak, dokter memberikan sejumlah penanganan pertama, mulai
dari cairan infus di punggung tangan kanan, obat antikejang lewat dubur dan peralatan bantu
pernafasan. Namun, keanehan mulai tampak di hari ketiga perawatan. Jari telunjuk hingga
titik infus di tangan kanannya mengalami pembengkakan. Lama kelamaan mengeluarkan
nanah hingga tampak membusuk.
Kondisi itulah yang berujung pada upaya dokter mengamputasi dua ruas jari
telunjuknya menggunakan gunting operasi, tanpa sepengetahuan kedua orangtua bayi. Kini,
dua ruas jari telunjuk kanan Edwin, hilang berganti balut perban. Gonti dan sang istri hanya
bisa pasrah atas kondisi itu. Mereka berharap manajemen rumah sakit menepati janjinya
untuk mengobati telunjuk Edwin hingga sembuh.