Anda di halaman 1dari 24

Abstrak

PERSPEKTIF ISLAM TENTANG


GHULUL DAN RISYWAH TERKAIT KORUPSI
By Wahyono Saputro, M. Pd. I.
Makalah ini ditulis sebagai sebuah usaha penulis dalam menelusuri nash baik
yang berupa ayat Al-Quran maupun Hadits Nabi Muhammad Saw juga pendapat
para ulama muslim tentang ghulul dan risywah terkait korupsi. Temuan yang
didapati dalam penelusuran ini pada akhirnya diharapkan dapat memberi
kontribusi positi berupa inormasi tentang ghulul dan risywah untuk
disosialisaikan kepada ummat !slam !ndonesia khususnya" saran dan rekomendasi
serta memberikan dukungan terhadap upaya aparat pemberantas korupsi di
!ndonesia dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.
#alam penulisan makalah ini" penulis menggunakan kajian literatur" baik
literatur umum maupun khusus terkait dengan korupsi. $ajian literatur umum
meliputi perundangan dan peraturan pemerintah !ndonesia terkait dengan korupsi.
$ajian literatur umum dimaksudkan untuk memberikan wawasan umum
mengenai korupsi. Adapaun kajian literatur khusus" yaitu yang meliputi ayat Al-
Quran" hadits Nabi Muhammad Saw dan pendapat para ulama muslim tentang
ghulul dan riswah terkait korupsi dan bagian inilah yang akan mendapatkan porsi
lebih pada penulisan makalah ini.
%ada bagian pembahasan dalam makalah ini" penulis mendeskripsikan
ghulul dan risywah se&ara bahasa" dilanjutkan pendeskripsian ayat Al-Quran"
hadits Nabi Muhammad Saw juga pendapat para ulama muslim tentang ghulul
dan risywah. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap ayat Al-Quran berdasar teks
hadits Nabi Muhammad Saw dan juga pendapat para ulama muslim agar
diperoleh gambaran yang jelas tentang ghulul dan risywah.
%ada bagian kesimpulan dalam makalah ini" penulis menyimpulkan hasil
analisa pada bagian pembahasan. $esimpulan itu berupa pernyataan hukum
tentang dengan ghulul dan risywah" saran sosialisasi untuk ummat !slam terkait
ghulul dan risywah dan bahan pertimbangan bagi para aparat pemberantas korupsi
di !ndonesia dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.
Kata kunci' $orupsi" ghulul dan riswah.
1
Abstract
ISLAMIC PERSPECTIVE ABOUT GHULUL AND RISYWAH
CORNCERNED WITH CORRUPTION
By Wahyono Saputro, M. Pd. I.
The paper wrote as the writer eorted in sear&hed on the nash (Al-Quran te)t*"
hadits (traditional &olle&tion o stories relating words or deeds o Muhammad the
&hie sour&e o guidan&e or understanding religious +uestion*" and muslim
s&holars per&eption o ghulul (betrayal* and risywah (bribe* &on&erned with
&orruption.
,esults o the resear&h" inally" &an gi-e the positi-e &ontribution as the sharing
inormation hopeully to !ndonesian muslim people" spe&ially to suggest and
re&ommendation and gi-ing support or !ndonesian go-erment agen&ies
&on&erned with against &orruption doing their obligation and duty.
!n this paper" writer using the spe&ii& and general literatur &on&erned with
&olle&ting &orruption data. The genaral literatur &o-ered the rule and law o
!ndonesian go-erment &on&erned with &orruption. And the spe&ii& literatur are
the nash (Al-Quran te)t*" hadits (traditional &olle&tion o stories relating words
or deeds o Muhammad the &hie sour&e o guidan&e or understanding religious
+uestion*" and muslim s&holars per&eption &on&erned with ghulul (betrayal* and
risywah (bribe*" so this part is gi-en more portion in this paper
.n the &ore o paper" writer des&ribed ghulul (betrayal* and risywah (bribe*
on etimology perspe&ti-e then des&ribed the nash (Al-Quran te)t*" hadits
(traditional &olle&tion o stories relating words or deeds o Muhammad the &hie
sour&e o guidan&e or understanding religious +uestion*" and muslim s&holars
per&eption &on&erned with ghulul (betrayal* and risywah (bribe*. So that" ounded
&lear des&ription about ghulul (betrayal* and risywah (bribe*.
/inally" on the &on&lusion part o paper" writer &on&luded results o analiti&s.
The &on&lusion were law statement" suggest o sharing to muslim people
&on&erned with ghulul (betrayal* and risywah (bribe* and re&ommendation or
!ndonesian &orruption agen&ies doing their obligation and duty.
Ke!"r#s' 0orruption" ghulul dan riswah.
2
PENDAHULUAN
Strategi nasional (Stranas* %en&egahan dan %emberantasan $orupsi (%%$*
memiliki -isi jangka panjang dan menengah. 1isi periode jangka panjang (2342-
2325* adalah 6terwujudnya kehidupan bangsa yang bersih dari korupsi dengan
didukung nilai budaya yang berintegritas. Adapun -isi jangka menengahnya
(2342-2347* yaitu 6terwujudnya tata kepemerintahan yang bersih dari korupsi
dengan didukung kapasitas pen&egahan dan penindakan serta nilai budaya yang
berintegritas.
1
$edua -isi baik menengah dan jangka panjang diusahakan
pen&apaiannya melalui serangkaian misi strategi nasional %%$. Salah satu dari
kelima misi strategi nasional %%$ tersebut ialah membangun dan
menginternalisasi budaya anti korupsi pada tata kepemerintahan dan
masyarakat. 8ntuk mewujudkannya" maka pada tahap implementasi strategi"
rumusan yang sejalan dengan strategi nasional tersebut" yaitu meningkatkan
upaya pendidikan dan budaya anti korupsi. Strategi implementasi meningkatkan
upaya pendidikan dan budaya anti korupsi ini merupakan usaha dalam menjawab
satu dari tiga tantangan" yaitu absennya strategi komunikasi dalam pendidikan
budaya anti korupsi yang ditunjukkan dengan kurang eektinya materi maupun
penyampaian pendidikan dan kampanye anti korupsi pada masyarakat.
2
8ntuk
4 Strategi Nasional %en&egahan dan %emberantasan $orupsi9 :angka %anjang (2342-2325*
dan :angka Menengah (2342-2347*" 2342" :akarta" hlm. 42.
2 #ua tantangan lain terkait dengan pendidikan dan budaya anti korupsi yaitu masih adanya
sikap permisi di masyarakat terhadap pelaku tipikor9 sanksi sosial bagi pelaku tipikor perlu
diperkuat untuk menghasilkan eek deteren. Sikap permisi tersebut juga seringkali ditunjukkan
dengan pasinya indi-idu dalam menghadapi adanya tindakan korupti dari indi-idu lain di dalam
lingkungannya" dan belum terintergrasinya pendidikan anti korupsi ke dalam kurikulum sekolah
maupun perguruan tinggi. Strategi Nasional %en&egahan dan %emberantasan $orupsi9 :angka
%anjang (2342-2325* dan :angka Menengah (2342-2347*" 2342" :akarta" hlm. 73.
3
merealisasikan hal tersebut se&ara eisien" okus jangka menengah (2342-2347*
strategi nasional %%$ terkait dengan strategi pendidikan dan budaya antikorupsi
yaitu memperluas ruang partisipasi masyarakat dalam upaya pemberantasan
korupsi dengan melaksanakan diseminasi antikorupsi oleh masyarakat. /okus
jangka menengah (2342-2347* ini merupakan penjabaran dari strategi pendidikan
dan budaya antikorupsi okus jangka panjang (2342-2325* .
8mmat !slam merupakan bagian dari masyarakat !ndonesia se&ara
keseluruhan" juga memiliki hak untuk berpartisipasi dalam upaya pemberantasan
korupsi dengan melaksankan diseminasi antikorupsi seperti dijabarkan pada okus
jangka panjang (2342-2325* dan jangka menengah (2342-2347* di atas. Hak
berpartisipasi ini bisa dimengerti karena ummat !slam memiliki nilai-nilai
uni-ersal yang dianut terkait persoalan substansial korupsi dimana Al-Quran dan
Hadits merupakan sumber nilai-nilai uni-ersal tersebut dan sumber hukum juga
tentunya.
Rumusan Masalah
;erdasarkan paparan di atas" rumusan masalah yang diajukan pada tulisan ini
adalah bagaimana perspekti !slam tentang ghulul dan risywah terkait dengan
korupsi<
Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan perspekti
!slam tentang ghulul dan riswah terkait dengan korupsi.
4
egunaan Penulisan
Melalui penelusuran nash baik yang berupa ayat Al-Quran maupun Hadits Nabi
Muhammad Saw juga pendapat para ulama muslim tentang ghulul dan risywah
terkait korupsi" diharapkan adanya gambaran yang jelas tentang ghulul dan riswah
terkait dengan korupsi. $egunaan tulisan ini dapat dirin&i sebagai berikut'
%ertama" hasil yang diperoleh dari penulisan makalah ini akan dapat
berguna bagi penulis untuk memperkaya wawasan pengetahuan perspekti !slam
tentang ghulul dan risywah terkait korupsi"
$edua" se&ara teoritis penulisan makalah ini dapat memberikan masukan
dan memperkaya reerensi para pemba&a pada kajian perspekti !slam tentang
ghulul dan risywah terkait korupsi
PEM$AHASAN
Pengertian orupsi
Se&ara bahasa pengertian korupsi dapat ditemukan disejumlah literatur" seperti
tertulis dalam Webster!s integrated di"tionary an Thesaurus. #alam kamus ini
korupsi memiliki beberapa arti antara lain de"omposition #kebusukan$, immunity
#kekebalan$, bribery #suapan, sogok$, per%ersion #perbuatan tidak wajar$,
"ontamination #pen"emaran, pengotoran$, degeneration #kemerosotan$, distortion
#penyimpangan dari kenyataan, pemutar&balikan$, dishonesty #ketidakjujuran$,
depra%ity #kerusakan, bejad moral$ , deterioration #kemunduran$ and in'e"tion
5
#in'eksi, menular$.
3
Transparen"y International mendeinisikan korupsi dengan
the abuse o' entrusted power 'or pri%ate gain (penyalahgunaan kekuasaan untuk
kepentingan pribadi*.
$orupsi merupakan perbuatan yang dikategorikan Malum in se
(jamaknya mala in se* yang merupakan istilah latin yang artinya salah atau jahat
yang bersumber dalam dirinya sendiri. /rasa malum in se digunakan untuk
menga&u pada tingkah laku yang dinilai sebagai sebuah dosa atau kesalahan tak
terpisahkan pada dasarnya. !ni dibedakan dari malum prohibitum" yang mana
sebuah kesalahan hanya dikarenakan ia dilarang (Malum in se is a (atin
phrase meaning wrong or e%il in itsel'. The phrase is used to re'er to "ondu"t
assessed as sin'ul or inherently wrong by nature, independent o' regulations
go%erning the "ondu"t
7
It is distinguished 'rom malum prohibitum, whi"h is wrong
only be"ause it is prohibited$. 0ontohnya seperti pembunuhan dan pen&urian.
Se&ara umum masyarakat di !ndonesia memahami korupsi sebagai sesuatu
yang merugikan keuangan negara. Namun berdasarkan deskripsi yang terdapat
pada 8ndang-8ndang Nomor =4 Tahun 4>>> jun&to 8ndang-8ndang Nomor 23
Tahun 2334 tentang %emberantasan Tindak %idana $orupsi" dijumpai =3 jenis
tindak pidana korupsi. Se&ara garis besar ketiga puluh jenis tindak pidana korupsi
tersebut intinya dikelompokkan menjadi tujuh yaitu9 4* kerugian keuangan negara"
= Abdulmajeed Hassan ;ello" )orruption and *emo"rati" +o%ernan"e in ,igeria- .n
Islami" Perspe"ti%e on Solution" !nternational :ournal o Ad-an&ed ,esear&h in Management and
So&ial S&ien&es" " #epartment o ,eligious 0ultural Study" 8ni-ersity o 8?. A$@A !;.M"
State Nigeria" 234=" 1ol. 2" No. 4" hlm. =35.
7 :ohn A. ?ogis" 0anadian Aaw #i&tionary" ;arrons" 233= dalam
http'BBen.wikipwedia.orgBwikiBMallum in se
6
2* suap-menyuap" =* penggelapan dalam jabatan" 7* pemerasan" 5* perbuatan
&urang" C* benturan kepentingan dalam jabatan" dan D* gratiikasi.
5
8ntuk jenis
yang ketujuh yaitu gratiikasi diatur dalam pasal 42; Ayat 4 8ndang-8ndang
Nomor 23 Tahun 2334 tentang %emberantasan Tindak %idana $orupsi. ?ang
dimaksud dengan gratiikasi dalam ayat ini adalah pemberian dalam arti luas"
yakni meliputi pemberian uang" barang" rabat (dis&ount*" komisi" pinjaman tanpa
bunga" tiket perjalanan" asilitas penginapan" perjalanan wisata" pengobatan
0uma-0uma" dan asilitas lainnya. Earatiikasi tersebut baik yang diterima di
dalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan
sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. #eskripsi mengenai gratiikasi
tersebut bila di&ermati masih umum dan mutlak" ada yang netral (boleh* dan yang
terlarang. #an supaya jelas kapan sebuah gratiikasi itu dianggap menjadi
kejahatan korupsi" perlu dilihat rumusan %asal 42; Ayat (4* 8ndang-8ndang
Nomor =4 Tahun 4>>> jun&to 8ndang-8ndang Nomor 23 Tahun 2334 yaitu setiap
grati'ikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap
pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan
dengan kewajiban atau tugasnya
C

#eskripsi mengenai ketujuh jenis korupsi dan tambahan mengenai
pengertian gratiikasi sebagaimana di atas diharapkan akan membantu memahami
bagaimana konsep korupsi terkait dengan pembahasan lebih lanjut tentang ghulul
dan risywah.
5 #oni Muhardiansyah" et.al." Buku Saku Memahami +rati'ikasi" $omisi %emberantasan
$orupsi ,epublik !ndonesia" :akarta" 2343" hlm. iii.
C !bid" hlm. 43
7
!stilah atau term korupsi se&ara eksplisit tidak terdapat dalam !slam (Al-
Quran-Hadits atau Syari*. Namun demikian" !slam mengemukakan istilah dan
konsep lain yang mirip dan identik dengan istilah korupsi. Terdapat dua istilah
yang sering diangkat terkait dengan istilah korupsi" yaitu istilah ghulul dan
risywah. %ada uraian selanjutnya akan dideskripsikan mengenai kedua istilah
tersebut.
Ghulul
Se&ara bahasa ghulul berasal dari bahasa Arab yakni" ghalla& yaghullu& ghuluulan
yang salah satu maknanya berarti khianat.
7

Aawan dari siat ghulul (khianat* adalah amanah.
8
#an salah satu bentuk
amanah adalah tidak menyalahgunakan kekuasaan. Menurut !lyas" jabatan
merupakan amanah yang wajib dijaga. Segala bentuk penyalahgunaan jabatan
untuk kepentingan pribadi" keluarga" amili" atau kelompoknya termasuk
perbuatan ter&ela yang melanggar amanah. !a men&ontohkan seperti hadiah dan
komisi.
9
Terkait tentang ghulul" sejumlah pakar memberikan pendapatnya. Menurut
As-Sady" ghulul adalah al&kitmaan minal ghaniimah (penyembunyian ghanimah*.
D
F
GH IJJ
K
LJJJ
K
MJOPJ
K
QJJRSJTPJJ R M $arim Al-;ustaani" .l& Munjid 'ii al&(ughah wa al& .!laam" Maktabah
Syar+iyyah" ;eirut" Aibanon" 4>UD" hlm. 55C. Aihat juga !bnu :aVierah dalam /ukum orupsi,
Riswah dan +hulul" majalah Al-Muslimun" tahun 4>>D" No. ==3" hlm. 2U.
U ?unahar !lyas" uliah .khla0" Aembaga %engkajian dan %engamalan !slam (A%%!*"
?ogyakarta" 2332" hlm. U>.
> !bid" hlm. >=.
8
Selain berkaitan dengan ghanimah (harta rampasan perang*" ghulul juga dapat
bermakna khianat dalam segala hal yang dikelola oleh manusia (al&khiyaanatu 'ii
kulli maa yatawallahu al& insaan*.
10
Menurut !bnu :aVierah mendeinisikan ghulul
yaitu mengambil dari milik bersama atau orang lain dengan &ara yang tidak sah
dan meminta atau menerima pemberian atas suatu pekerjaan yang untuk pekerjaan
itu sudah mendapatkan bayaran atau gaji.
11

#alam Al-Quran penunjukkan istilah ghulul se&ara eksplisit pada surah
Ali 6!mran (=* ayat 4C4'

"

&

'

"


+
,

.
/

$ 0

2
.rtinya- tidak mungkin seorang ,abi berkhianat dalam urusan harta
rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan
perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang
dikhianatkannya itu, kemudian tiap&tiap diri akan diberi pembalasan
tentang apa yang ia kerjakan dengan #pembalasan$ setimpal, sedang
mereka tidak dianiaya. Q.S. Ali 6!mran (=*' 4C4.
#alam sebuah asbabun nuVuul" Ayat ke- 4C4 dari QS. Ali 6!mran tersebut
diduga berkaitan dengan hilangnya permadani berwarna merah pada perang
;adar. Hal ini disampaikan oleh !bnu Abbas ra. WAyat ini turun berkenaan dengan
hilangnya permadani merah pada perang ;adar. $ata sebagian orang" WMungkin
,asulullah saw. telah mengambilnya.X .leh karena itu turunlah ayat ini (Hadits
43 Al-Quran beserta tasir" Ta'sir .s&Sa!dy (1ersi o line" edisi. 7. 4.*
www.islamspirit.&om
44 !bnu :aVierah" /ukum orupsi, Riswah dan +hulul" majalah Al-Muslimun" tahun 4>>D"
No. ==3" hlm. 2U.
9
hasan lighairih" riwayat Abu #aud" TirmidVi dan Thabrani*.
12
%endapat !bnu
Abbas ra. Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Abu 68baid" bahwa
ungkapan ghulul pada ayat tersebut di atas se&ara khusus tertuju pada harta
rampasan perang. Terungkapnya peristiwa ghulul pada ayat ke 4C4 surah Ali
6!mran menyiratkan dugaan adanya konlik kepentingan.
13
#ugaan adanya konlik
kepentingan tersebut diidentiikasi dari peristiwa hilangnya permadani merah
pada perang ;adar sebagaimana diriwayatkan oleh Abu #aud" TirmidVi dan
Thabrani yang bersumber pada !bnu Abbas r.a. di atas. %ara pakar tasir seperti
!bnu $atsir" Qurthubi dan Shihab sepakat bahwa ayat ke 4C4 surah Ali 6!mran
tersebut berbi&ara tentang ghulul (khianat*. 8ngkapan ghulul pada ayat tersebut
disebut tiga kali. %ertama dengan ungkapan an yaghulla pada kalimat maa kaana
linabiyyin an yaghulla. ;ila ungkapan an yaghulla diartikan berkhianat berarti
merujuk kepada makna iil mudlari (kata kerja bentuk sekarang*. ;ila ungkapan
an yaghulla diartikan khianat berarti merujuk kepada makna masdar (kata
42 Ahmad Hatta et. al." The +reat 1uran, Re'erensi Terlengkap Ilmu&Ilmu .l&1ur!an"
Maghirah %ustaka" :akarta" 234=" :ilid. 4" hlm. 2>C. ,iwayat yang bersumber dari shahabat !bnu
Abbas terkait dengan asbabun nuVul QS. Ali !mran (=*' 4C4 tersebut juga terdapat dalam tasir
!bnu $atsir (Al-Quran beserta tasir" ta'sir Ibnu atsir (1ersi o line" edisi. 7. 4.*
www.islamspirit.&om* sebagai berikut'
!#34 5* #34 5678 #34 59: 34 3"; #34 <=> ! ? 3"; 3@ #34 ABBC DE
BF$1 5(G8 H DI= J AK# LJ D1 5=3 31 MB4 -NE !1 )O. P !"# $ Q

' RG( K";


3"; ; 5"SE ;
T
JC UGBS 99 R= G$ P
V
!"# $ Q H DO.1 5?W !1
XB *4 AUGBS DE YZ 9: 34
4=#ari sudut pandang organisasi" konlik yang timbul terkait asbabun nuVul Q.S. Ali
6!mran (=*' 4C4 merupakan jenis konlik dalam diri indi-idu" di mana setiap indi-idu mempunyai
keinginan" &ita-&ita dan harapan" namun tidak semua keinginan dan &ita-&ita dapat dipenuhi
sehingga menimbulkan kesenjangan antara harapan dengan kenyataan (%ro" #r. $homsahrial
,omli" M. S!." omunikasi 2rganisasi" %T. Erasindo" :akarta" thn. 2344" hlm.424*.
10
bendaBsiat*.
14
$ata benda atau kata siat ini bila disandang oleh pelakunya
mengindikasikan bahwa pelakunya memiliki potensi siat atau bahkan menjadi
karakteristik bagi pelakunya. Namun kedua kemungkinan tersebut yaitu arti
berkhianat dan khianat ini digugurkan oleh kalimat maa
15
kaana linabiyyin (tidak
mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang*. #engan
demikian penggalan ayat Wtidak mungkin seorang ,abi berkhianat dalam urusan
harta rampasan perang3 menghilangkan dugaan dan anggapan bahwa Nabi
Muhammad Saw akan melakukan tindakan berkhianat apalagi memiliki siat
khianat. $edua dengan ungkapan yaghlul pada kalimat wa man yaghlul
(;arangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu*. $ata man
(huru syarat* yang mendahului yaghlul berarti bila perbuatan yaghlul yang
diiyaratkan itu benar-benar terjadi (ketika itu* dan akan terjadi lagi setelahnya"
maka konsekwensi yang timbul adalah akibat yang akan ditanggung oleh sipelaku
khianat sebagaimana yang dijelaskan pada ungkapan ketiga" yakni ghalla (iil
14 Huru an4 YZ yang mendahului 'iil (kata kerja* yaghulla disebut huru masdariyah,
nashab dan isti0balBmendatang. #isebut huru masdariyah karena an4 YZ menjadikan 'iil (kata
kerja* sesudahnya dalam pengertian masdar. #isebut huru nashab karena menashabkan
(memathahkan* 'iil mudhari #kata kerja bentuk sekarang$" dan disebut huru isti0balBmendatang
dikarenakan an4 YZ tersebut menjadikan 'iil mudhari! menerima makna mendatang (Musthaa Al-
Ehalayayni" 5amii!u .d&*uruus .l&6.rabiyyah" Maktabah Ashriyyah" ;eirut" 4>UD" hlm. 4CU*.
15 AaadV maaB [J\ menaikan (meniadakan* sesuatu pada masa lampau se&ara umum.
0ontoh penggunaan laadV maaB [J\ antara lain terdapat pada QS. Maryam (4>*' 2U'

?
/


+
M

...ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang
pezina", %otongan ayat di atas merupakan ungkapan keheranan dengan kelahriran putrra Maryam
(!sa As*. Mereka" yakni anggota masyarakat Maryam tersebut" menggunakan kata maaB [J\ " karena
mereka tidak dapat menjangkau keadaan ibu Maryam se&ara rin&i sejak awal hingga pengu&apan
kalimat mereka itu. Mereka hanya dapat menaikan se&ara umum atau tidak terperin&i. #emikian
menurut %ro" #r. M. Quraish Shihab" aidah Ta'sir, Syarat, etentuan dan .turan yang Patut
.nda etahui dalam Memahami .yat&.yat .l&1ur!an" Aentera Hati" Tangerang" 234=" hlm. U>->3.
11
maadliBkata kerja lampau* pada kalimat ya!ti bimaa ghalla yaumal 0iyaamah
(Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu*.
/ukum Tindakan atau Perbuatan +hulul
Nabi Muhammad Saw menjatuhkan sanksi atau hukuman moral kepada pelaku
tindakan atau perbuatan ghulul setelah benar-benar didapati bukti bahwa pelaku
telah melakukannya. Hukuman moral yang diberikan Nabi Muhammad Saw yaitu
berupa tidak ikut sertanya Nabi Muhammad Saw untuk menyolati pelaku tindakan
atau perbuatan ghulul. Hukuman moral yang diberikan Nabi Muhammad Saw
terhadap pelaku tindakan atau perbuatan ghulul tersebut terekam dalam sebuah
riwayat Abu #aud" !bnu Majah" TirmidVi dan Ahmad yang bersumber pada
sahabat ]aid bin $halid Al-:uhani sebagai berikut'
.rtinya- *ari 7aid bin halid .l&5uhani bahwa seorang laki&laki dari
kaum muslimin mati di haibar. Mereka #sahabat$ memberitahu hal itu
kepada Rasulullah Saw, lalu ia bersabda- Shalatlah kalian untuk
temanmu8 arena itu berubahlah wajah&wajah para shahabat. etika ia
#Rasulullah Saw$ melihat apa yang ada pada mereka, ia #Rasulullah Saw$
bersabda- Sesungguhnya temanmu ini telah ghulul #khianat$ di jalan
.llah. Maka kami #Shahabat$ periksa barang&barangnya, lalu kami dapati
mutiara milik orang 9ahudi senilai dua dirham (H,. Abu #aud" !bnu
Majah" TirmidVi dan Ahmad*.
Sayyid Sabi+ dalam i+h as-Sunnah" mengharamkan perbuatan atau
tindakan ghulul yang benar-benar terbukti se&ara meyakinkan. %endapat tentang
haramnya tindakan ghulul tersebut didasarkan pada penunjukan QS. Ali 6!mran
(=* ayat 4C4 tepatnya pada penggalan ayat tidak mungkin seorang ,abi
berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat
12
dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang
membawa apa yang dikhianatkannya itu.
16

Selain ghulul pada harta rampasan perang" terdapat bentuk lain dari ghulul
yaitu menerima hadiah bagi orang yang telah diangkat pegawai ketika
menjalankan tugasnya. Ehulul jenis ini terekam dalam sebuah riwayat Abu #aud
dalam Musnadnya dan Muslim dalam shahihnya yang bersumber dari shahabat
Abu Hamid As-Saa-6idy'
Z; H 0] !"# U3;* 34 ! ; Z@@] !1 * Z##I !1 99 ^=
M_1 `E37 0; "2a bB* DE "S Z D 9:a cC= JSI I
0# H 3@1 B"# 0; I Z; H 0] !"# 1 Y! U3( G( d G( AD1
Z ) !1 ,C ' ! U3( G( d G( D1 M!_1 ZFJ". J D e ADE Z;
' Zf ^3g B&#1 Z `
.rtinya- *ari .bu /amid .s&Saa&6idy, bahwa ,abi Muhammad Saw
mempekerjakan seseorang yang berasal dari .:ad yang dikenal dengan
Ibnu .l&(utbiyyah #Ibnu .l&.tbiyyah menurut pendapat Ibnu .s&Sarh$
atas tugas memungut shada0ah #7akat$, kemudian ia kembali dari
tugasnya lalu berkata- ;Ini #:akat$ untukmu #Muhammad Saw$ dan
hadiah ini untukku.3 Maka ,abi Muhammad Saw berdiri di atas mimbar,
lalu memuji dan menyanjung .llah Swt dan bersabda-3.pa kehendak
seorang pegawai, kami mengutusnya lalu ia #pegawai$ kembali seraya
melapor-3Ini #:akat$ untukmu #,abi Muhammad Saw$ dan ini hadiah
yang diberikan untukku. Tidakkah ia duduk&duduk di rumah ayah atau
ibunya, lalu lihatlah apakah ia mendapat hadiah atau tidak.3 #/R.
Muslim dan .bu *aud$.
17
,iwayat Muslim dan Abu #aud yang bersumber dari Abu Hamid As-
Saa-6idy di atas memberikan arahan bagi seseorang yang telah diangkat menjadi
16 Sayyid Sabi+" <i0h .s&Sunnah= .s&Silmu wa al&/arbu& Mu!amalaat" #arul al-/ikr"
;eirut" 4>U=" jilid ke- =" hlm. U=
4DAl-Quran beserta tasir" Ta'sir 1urthuby (1ersi o line" edisi. 7. 4.*
www.islamspirit.&om
13
pegawai melaksanakan tugas yang diembannya dengan &ara sebaik-baiknya dan
berakhlak. Hal ini se&ara implisit diahami dari pujian dan sanjungan kepada
Allah' Maka ,abi Muhammad Saw berdiri di atas mimbar, lalu memuji dan
menyanjung .llah Swt, ketika hendak memberikan penjelasannya. $arena bila
tugas yang telah diembankan pada pegawai tersebut tidak dilakukannya se&ara
baik dan berakhlak" maka tentunya akan men&emarkan dan memalukan pegawai
itu sendiri atau bahkan atasannya langsung. .leh karenanya ghulul kategori ini
juga disebut al&'adliihah oleh Qurthuby dalam tasirnya ketika mengawali
komentarnya terkait penjelasan dari QS. Ali 6!mran (=* ayat 4C4. #emikian pula
menurut %ro. #r. Quraish Shihab bahwa ghulul ini dinamai al&<aadlihah" yakni
sesuatu yang men&emarkan dan memalukan.
18
Hal ini dapat diahami karena orang
atau oknum yang telah melakukan ghulul kategori ini telah membuat &emar dan
membuat malu nama baik dan wibawa dirinya sebagai pegawai maupun
atasannya. ,iwayat di atas juga menegaskan ke&aman Nabi Muhammad Saw
terhadap seseorang yang telah dipekerjakan atau dijadikan pegawai yang dalam
melaksanakan tugas yang diembannya ia menerima hadiah. $e&aman tersebut
merupakan sebuah bentuk hukuman moral terhadap pegawai yang telah terbukti
menerima hadiah berdasarkan laporannya sendiri. Hadiah yang diterima oleh
seorang pegawai ketika menjalankan tugasnya dikategorikan sebagai ghulul.
%engertian ghulul jenis ini sejalan dengan apa yang dideskripsikan oleh Nabi
Muhammad Saw dalam sebuah riwayat berikut'
4U %ro" #r. M. Quraish Shihab" Ta'sir .l&Mishbah= Pesan, esan dan eserasian
.l&1ur!an" Aentera Hati" Tangerang" 2343" 1ol. 2" hlm. =24
14
^
_LJ
R
`abK cH IJJK d
R
e
R
c[
R
Jf g
R
hJ
R
J
^
JLJ
R
Jd
R
i
a
j
H
JkJ
R
JJLJ
R
JlKm n
o
PJ
R
JpJR l
R
_Ll[
R
JqJ
H
LJJ
R
pJ H rJRsJJ H dt
a
uJ
R
\
v cH I
K
JLJ
K
M R wJ
a
x
R
yR z
H
JrJ
R
{
R
|JJ R }
R
~[J
R
Jp
R
J[
F
JJf
H

a
e[JJRqJ
H
Jf R
R
J
R

K itR IJ
K
J{
R
t
K
t
R
i
R
e
.rtinya- Rasulullah saw bersabda- Barangsiapa kami angkat sebagai
pegawai atas suatu pekerjaan dan telah kami tentukan gajinya, maka apa
yang ia ambil #terima$ selain dari gaji itu adalah +hullul #/R. .bu
*aud$.
#eskripsi yang dipaparkan pada riwayat di atas se&ara jelas menyebutkan
dan menguatkan riwayat Muslim dan Abu #aud yang bersumber dari Abu Hamid
As-Saaidy bahwa apa saja yang diambil (terima* selain gaji oleh seorang setelah
diangkat pengawai" maka ia telah melakukan tindakan atau perbuatan ghulul.
Selain sanksi di dunia berupa tidak dishalati se&ara langsung oleh Nabi
Saw terhadap jenaVah pelaku tindakan atau perbuatan ghulul dalam konteks
ghanimah (harta rampasan perang* seperti riwayat Abu #aud" !bnu Majah"
TirmidVi dan Ahmad dari ]aid bin $halid Al-:uhani dan ke&aman terhadap pelaku
tindakan atau perbuatan ghulul seperti riwayat ,iwayat Muslim dan Abu #aud
yang bersumber dari Abu Hamid As-Saa-6idy di atas" terdapat sanksi hukuman
akhirat juga atas pelaku tindakan atau perbuatan ghulul seperti deskripsi riwayat
berikut'

R
c[J
R
Jf
a

a
\[
R
J ^
^
xt
a
uH {R [
R
JJK l H uR l n
^
_LJ
R
`abK cH IJJK d
R
e
R
c[
R
Jf g
R
hJ
R
J
^
JLJ
R
Jd
R
i
a
j
H
JkJ
R
JJLJ
R
JlKm n

R
JJ
a
}
H
t
R
i[
R
kJ
H
JO zJxt
a

a
jJ
a
{[J
R
J H `Z
R
_LJR l v e[J R l
R
i v e[
R
J
R
cH IJL
K
JQJ
H
Jxt T Y
a
J
R
t H I
O
JLJ
K
JQJ
R
J R G

15
.rtinya- *ari 6>badah bin .sh&Shamit, ia berkata- Rasulullah saw
bersabda- 5anganlah kalian ghulul= karena ghulul itu #perbuatan yang
membawa ke$ neraka dan #perbuatan$ ter"ela di dunia dan akhirat atas
pelakunya #/R. .hmad dan ,asa!i$.
%ada riwayat di atas se&ara jelas dideskripsikan pelarangan ghulul yang
diikuti penyebutan hukuman neraka atas pelakunya dan ter&elanya pelaku baik di
dunia maupun di akhirat. Se&ara implisit (tersirat* pendahuluan penyebutan
hukuman atau sanksi akhirat ini mengindikasikan bahwa ghulul merupakan
persoalan serius dan an&aman sanksi atau hukuman atas pelakunya sangat berat.
Risywah
,usywah" rasywah atau risywah" artinya (uang* suap" sogok. ,isywah adalah apa-
apa yang diberikan untuk membatalkan atau menggugurkan (yang hak* atau
berusaha untuk memiliki (sesuatu* dengan &ara yang batil" tidak benar.
19

%engertian umum risywah ialah pemberian atau penerimaan guna memperoleh
atau memberi sesuatu yang tidak sah.
20
%ro. #r. M. Quraish Shihab mengomentari
pengertian umum risywah tersebut dengan mengajukan sebuah pertanyaan
.pakah memberi guna memperoleh hak yang sah tidak dinamai sogok, dan
dengan dengan demikian dapat dibenarkan< %ada pengertian risywah se&ara
umum tersebut Shihab menyamakan pengertian risywah dengan sogok-menyogok.
!a juga memperluas batas pengertian riswah atau sogok-menyogok tidak hanya
4> $arim Al-;ustaani" .l& Munjid 'ii al&(ughah wa al& .!laam" Maktabah Syar+iyyah"
;eirut" Aibanon" 4>UD" hlm. 2C2.
23 %ro" #r. M. Quraish Shihab" (entera .l&1ur!an9 isah dan /ikmah ehidupan Aentera
Hati" Tangerang" 233U" hlm. 272.
16
pemberian atau penerimaan guna memperoleh atau memberi sesuatu yang tidak
sah saja tetapi pemberian atau penerimaan guna memperolah hak yang sah juga
termasuk risywah atau sogok menyogok. %enegertian ini bisa diperoleh dengan
memahami pertanyaan bernada keberatan yang dikemukakannya W.pakah
memberi guna memperoleh hak yang sah tidak dinamai sogok, dan dengan
dengan demikian dapat dibenarkan< %engertian lain tentang risywah
dikemukakan oleh Syamsuddin AdV-#Vahabi yang menyamakan pengertian
riswah dengan suap dalam deskripsinya tentang riswah yaitu memberikan sesuatu"
baik berupa uang maupun yang lain" kepada penegak hukum agar ia dalam
menyelesaikan masalah hukum mendapat keistimewaan dan dapat terlepas dari
an&aman hukuman.
21
%engertian yang dikemukakan tersebut AdV-#Vahabi lebih
khusus dan hanya menekankan nilai pemberian dan tidak menyertakan kata-kata
menerima" tepatnya pemberian uang atau barang lain kepada penegak hukum
dengan tujuan mendapat keistimewaan atau terbebas dari an&aman hukuman.
%engertian lain tentang risywah dikemukakan oleh !bnu :aVierah yaitu suatu
tindakan" baik memberi maupun menerima uang atau lainnya dengan tujuan
mengubah hukum atau undang-undang" yang haram menjadi halal atau yang benar
disalahkan.
22
%engertian yang dikemukakan oleh !bnu :aVierah ini lebih terokus
pada mengubah hukum dari semula halal menjadi haram atau sebaliknya
24 Syamsuddin AdV-#Vahabi" .l&abair4?@ *osa Besar (terj. .leh M. AadVi Sarony*"
Media !daman %ress" Surabaya" thn. 4>>2" hlm. 4>C.
22 !bnu :aVierah" /ukum orupsi, Riswah dan +hulul" majalah Al-Muslimun" tahun 4>>D"
No. ==3" hlm. 2D.
17
meskipun juga menyebutkan pemberian atau penerimaan uang atau lainnya
tersebut dimaksudkan untuk mengubah hukum atau undang-undang se&ara umum.
;erdasarkan sejumlah pengertian tentang risywah yang telah dikemukan
para pakar tersebut dapat disimpulkan bahwa risywah atau suap adalah menerima
(bagi penegak hukum* atau memberi (oleh penyuapBtersangkaBterdakwa* sesuatu
baik berupa uang" barang ataupun lainnya kepada penegak hukum dengan maksud
atau tujuan yaitu pertama mengubah hukum atau undang-undang" yang haram
menjadi halal atau yang benar disalahkan" dan kedua agar ia (penyuap* dalam
menyelesaikan masalah hukum mendapat keistimewaan dan dapat terlepas dari
an&aman hukuman.
/ukum Tindakan atau Perbuatan Risywah atau Suap
Sejumlah pakar seperti Syamsuddin AdV-#Vahabi menyatakan bahwa tindakan
atau perbuatan risywah atau suap adalah terlarang dan pelakunya telah melakukan
salah satu perbuatan dosa besar. !a mendasarkan pendapatnya tersebut pada nash
Al-Quran berikut'

@ 0

"

'

K#

.rtinya- *an janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian


yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan #janganlah$
kamu membawa #urusan$ harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat
memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan #jalan
berbuat$ dosa, Padahal kamu mengetahui. QS. Al-;a+arah (2*' 4UU.
18
Selain berdasar pada Ayat 4UU surah Al-;a+arah si atas" AdV-#Vahabi
23
juga
berdalil dengan hadits riwayat berikut'
R
c[fi
o

H
pJJ R l
a
uJH {t
a
b
a
zJJH J
R
Jl
H
u
R
JJl n hJ
R
J
^
JJLJ
R
d
R
i
a
jH kJ
R
JLJ
R
JlKbR_^LJ
R
`
a
b K cH I
K
Jd
R
e
R
c[f
_
R
JLJ R l
a
bJJJRqJJJ H rJ
R
Jx g
T
x g
a
JJ
R
JJ
H
J
K
pxtiJ
a

I{ttie g ii g i|\sx g ij[\u{ g zp
.rtinya- dari .bdullah bin 6.mr, ia berkata- Rasulullah saw. bersabda-
(aknat .llah terhadap orang yang menyuap dan orang yang menerima
suap. (H,. Abu #aud" TirmidVi" !bnu Majah dan Ahmad*.
%endapat lain mengenai hukum terlarangnya risywah atau suap
dikemukakan oleh Muhammad bin !smail Al-$ahlani (dalam Subul Al-Salam*
dan Al-Syaukani (dalam Nail al-Authar* seperti dikutip oleh %ro. #r. M. Quraish
Shihab. Namun keduanya membolehkan pemberian dalam rangka memperoleh
hak yang sah. Sementara pendapat Shihab sendiri terkait risywah sejalan dengan
Al-$ahlani dan Al-Syaukani yaitu tidak memperkenankan pemberian sesuatu
untuk mengambil hak orang lain dengan melakukan dosa dan dalam mengetahui
bahwa pelakunya sebenarnya tidak berhak.
24
;erbeda dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Al-$ahlani dan Al-Syaukani yang membolehkan pemberian
dalam rangka memperoleh hak yang sah" Shihab menolak pendapat Al-$ahlani
dan Al-Syaukani dalam pernyataanya WBukankah dengan memberi&walau dengan
dalih meraih hak yang sah& seseorang telah membantu sipenerima melakukan
2= Syamsuddin AdV-#Vahabi" .l&abair4?@ *osa Besar (terj. .leh M. AadVi Sarony*"
Media !daman %ress" Surabaya" thn. 4>>2" hlm. 4>C-4>U.
27 %ro" #r. M. Quraish Shihab" Ta'sir .l&Mishbah= Pesan, esan dan eserasian
.l&1ur!an" Aentera Hati" Tangerang" 2343" 1ol. 4" hlm. 7>>
19
sesuatu yang haram dan terkutuk dan dengan demikian ia memperoleh pula&
sedikit atau banyak&sanksi keharaman dan kutukan ituA3
25
KESIMPULAN
;erdasarkan pembahasan dan analisa atas penelusuran pada nash baik yang
berupa ayat Al-Quran" hadits Nabi Muhammad Saw dan pendapat para ulama
pakar muslim tentang ghulul dan risywah terkait korupsi dapat disimpulkan
sebagai berikut'
Ghulul
Pertama" ghulul ialah mengambil dari milik bersama atau orang lain dengan &ara
yang tidak shah dan meminta atau menerima pemberian atas suatu pekerjaan yang
untuk pekerjaan itu sudah mendapat pembayaran atau gaji.
edua" se&ara i+ih (hukum*" ghulul merupakan tindakBperbuatan buruk
yang dilarang oleh !slam apabila benar-benar terbukti se&ara shah dan
meyakinkan. Terlarangnya tindakan atau perbuatan ghulul ini didasarkan pada
Vahir QS. Ali 6!mran (=* ayat 4C4 dan beberapa hadits Nabi Muhammad Saw yang
tersebut pada sub bahasan ghulul.
etiga" terdapat dua jenis tindakan ghulul. ?akni ghulul dalam hal harta
rampasan perang (ghanuimah* dan ghulul menerima hadiah bagi orang yang telah
diangkat pegawai ketika menjalankan tugasnya. $edua-duanya terlarang dan
dikenakan sanksi bbagi para pelakunya.
25 %ro" #r. M. Quraish Shihab" (entera .l&1ur!an9 isah dan /ikmah ehidupan Aentera
Hati" Tangerang" 233U" hlm. 27=.
20
Risywah
Pertama" risywah atau suap adalah menerima (bagi penegak hukum* atau
memberi (oleh penyuapBtersangkaBterdakwa* sesuatu baik berupa uang" barang
ataupun lainnya kepada penegak hukum dengan maksud atau tujuan yaitu pertama
mengubah hukum atau undang-undang" yang haram menjadi halal atau yang benar
disalahkan" dan kedua agar ia (penyuap* dalam menyelesaikan masalah hukum
mendapat keistimewaan dan dapat terlepas dari an&aman hukuman.
edua" Syamsuddin AdV-#Vahabi menyatakan bahwa tindakan atau
perbuatan risywah atau suap adalah terlarang dan pelakunya telah melakukan
salah satu perbuatan dosa besar. !a mendasarkan pendapatnya berdasarkan
pengertian Vahir dari QS. Al-;a+arah (2* ayat 4UU. %endapat lain mengenai
hukum terlarangnya risywah atau suap dikemukakan oleh Muhammad bin !smail
Al-$ahlani (dalam Subul Al-Salam* dan Al-Syaukani (dalam Nail al-Authar*
seperti dikutip oleh %ro. #r. M. Quraish Shihab. Namun keduanya membolehkan
pemberian dalam rangka memperoleh hak yang sah. Sementara pendapat Shihab
sendiri terkait risywah sejalan dengan Al-$ahlani dan Al-Syaukani yaitu tidak
memperkenankan pemberian sesuatu untuk mengambil hak orang lain dengan
melakukan dosa dan dalam mengetahui bahwa pelakunya sebenarnya tidak
berhak.
SARAN
;erdasarkan kesimpulan mengenai ghulul dan risywah" maka disarankan'
21
Pertama" kepada stake holder (pemilik kepentingan* yaitu %emerintah ($%$"
;%$" $ejaksaan" %.A,!" $ehakiman* melibatkan ummat !slam dalam
merumuskan setiap perundangan" peraturan maupun kebijakan terkait dengan
pemberantasan tindak pidana korupsi agar terdapat kesamaan persepsi dan -isi.
edua" kepada pihak penyelenggara seminar agar mensosialisasikan hasil dari
penelitian ini kepada masyarakat luas.
22
DAFTAR PUSTAKA
A. ,iai" ,usdy" 2337. Manajemen" Aembaga %enerbit /akultas konomi
8ni-ersitas Muhammadiyah %alembang (8M%*" %alembang.
Abu ]ahrah" Muhammad" 4>>7. >shul <i0ih" terj. .leh Saeullah Mashum"
%T. %ustaka /irdaus" :akarta.
Al-#Vahabi" Syamsuddin" 4>>2. .l&abair4?@ *osa Besar" (terj. .leh M. AadVi
Sarony*" Media !daman %ress" Surabaya.
Al- Ehalayayni" Musthaa" 4>UD. 5amii!u .d&*uruus .l&6.rabiyyah" Maktabah
Ashriyyah" ;eirut.
Al- Qardhawi" ?usu" 233=. Masyarakat Berbasis Syariat Islam #II$, ra
!ntermedia" Solo.
Alitra" 2342. /ukum Pembuktian dalam Bera"ara Pidana, Perdata dan orupsi
di Indonesia" %enerbit ,aih Asa Sukses" #epok.
Hatta" Ahmad" et. al." 234=. The +reat 1uran, Re'erensi Terlengkap Ilmu&Ilmu
.l&1ur!an" Maghirah %ustaka" :akarta.
!lyas" ?unahar" 2332. uliah .khla0" Aembaga %engkajian dan %engamalan !slam
(A%%!*" ?ogyakarta.
!smail bin 8mar bin $atsir" Abu Al-/ida" Ta'sir Ibnu atsir" (1ersi o line" edisi.
7. 4.* www.islamspirit.&om
Mukantardjo" ,udy Satriyo" 2343. >ndang& >ndang Tindak Pidana orupsi dan
Sejarah Perkembangannya" Materi %elatihan Hakim dalam %erkara $orupsi"
%usat %endidikan dan %elatihan (%8S#!$AAT* MA- ,!" ;ogor.
,omli" $homsahrial" 2344. omunikasi 2rganisasi" %T. Erasindo" :akarta.
,osadisastra" Andi" 2342. Metode Ta'sir .yat&.yat Sains dan Sosial, .m:ah"
:akarta.
Sabi+" Sayyid" 4>U=. <i0h .s&Sunnah= .s&Silmu wa al&/arbu& Mu!amalaat" #arul
al-/ikr" ;eirut.
Shihab" M. Quraish" 234=. aidah Ta'sir, Syarat, etentuan dan .turan yang
Patut .nda etahui dalam Memahami .yat&.yat .l&1ur!an" Aentera Hati"
Tangerang.
23
--------------------------" 2343. Ta'sir .l&Mishbah, Pesan, esan dan eserasian
.l&1ur!an" 1ol. 4 dan 2" Aentera Hati" :akarta.
--------------------------" 233U. (entera .l&1ur!an, isah dan /ikmah ehidupan"
%enerbit MiVan" ;andung.
--------------------------" 233D. Membumikan .l&1ur!an, <ungsi dan Peran Wahyu
dalam ehidupan Masyarakat" %enerbit MiVan" ;andung.
-------------------------" 233C. Menyingkap Tabir Ilahi= .l&.smaa! .l&/usnaa dalam
Perspekti' .l&1ur!an" Aentera Hati" :akarta Selatan.
Syaei" ,a&hmat" 233D. Ilmu >shul <i0ih" %ustaka Setia" ;andung.
Majalah Al-Muslimun. Siklus orupsi, ikis /abis ;angil" disi September
4>>D" No. ==3.
Majalah SA$S!. Menakar .n"aman. :akarta" disi April 2332" No. 45" tahun !1.
Sumb! I"#!"#
Al-Quran beserta tasir (1ersi o line" edisi. 7. 4.* www.islamspirit.&om
Abuar+ub" Mamoun" 233>. Islami" Imperati%es to )urb )orruption and Promote
Sustainable *e%elopment" !slami& ,elie @orldwide" ;irmingham" 8nited
$ingdom. www.islami&-relie.&om
Araa" Mohamed A" 2342. )orruption and Bribery in Islami" (aw= .re Islami"
Ideals being Met in Pra"ti"e" Annual Sur-ey o !ntl and 0omp. Aaw" 1ol. 1!!!.
http'BBssm.&omBabstra&t247U42D.
Hassan ;ello" Abdulmajeed" 234=. )orruption and *emo"rati" +o%ernan"e in
,igeria- .n Islami" Perspe"ti%e on Solution" !nternational :ournal o Ad-an&ed
,esear&h in Management and So&ial S&ien&es" 1ol. 2" No. 4" #epartment o
,eligious 0ultural Study" 8ni-ersity o 8?. A$@A !;.M" State Nigeria.
Muhardiansyah" #oni" et. al." 2343. Buku Saku Memahami +rati'ikasi" $omisi
%emberantasan $orupsi ($%$* ,epublik !ndonesia" :akarta.
$litgaard" ,obert" 4>>U. International )ooperation .gainst )orruption" :urnal
/inan&e and #e-elopment.
Strategi Nasional %en&egahan dan %emberantasan $orupsi9 :angka %anjang
(2342-2325* dan :angka Menengah (2342-2347*" 2342" :akarta.
24