Anda di halaman 1dari 8

Ikan Patin

Ikan patin merupakan ikan konsumsi yang hidup di perairan tawar yang memiliki ciri-ciri
umum tidak bersisik, tidak memiliki banyak duri, kecepatan tumbuhnya relatif cepat dapat
diproduksi massal dan memilki peluang pengembangan skala industri (Susanto, 2009).






Menurut Kottelat dkk (1993), ikan yang bernama ilmiah Pangasius di Indonesia terdiri
dari P. pangasius atau P. djambal, P. humeralis, P. lithostoma, P. macronema, P. micronemus, P.
nasutus, P. niewenhuisii, dan P. polyuranodon. Secara taksonomi, klasifikasi ikan patin adalah
sebagai berikut:
Filum : Chordata
Klas : Pisces
Ordo : Siluriforiformes
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasiuse
Spesies : Pangasius djambal (Ghufran, 2010).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Maghfiroh (2000), komposisi daging ikan
patin segar tertera dalam tabel berikut
Tabel 1 Komposisi daging ikan patin segar
Komposisi Kadar (%)
Air 82,22
Abu 0,74
Protein 14,53
Lemak 1,09


Berdasarkan penelitian Monalisa dkk (2012) daging ikan patin (P. Pangasius)
mengandung 14 asam amino antara lain: histidin, valin, leusin, isoleusin, metionin, treonin,
lisin, arginin, serin, glisin, tirosin, alanin, aspartat dan glutamat.
Ikan patin merupakan golongan ikan pemakan segala. Susanto dan Amri (2002)
menjelaskan, di alam makanan utama ikan patin berupa udang renik (crustacea), insekta dan
moluska. Sementara makanan pelengkap ikan patin berupa rotifera, ikan kecil dan daun-daunan
yang ada di perairan.
Berdasarkan penelitian Suryaningrum dkk (2010), berikut tabel hasil uji proksimat pada
beberapa jenis ikan patin segar.
Tabel 2 Hasil analisis proksimat pada beberapa jenis patin
Jenis Patin Kadar Air (%) Kadar Abu (%)
Kadar Protein
(%)
Kadar
Lemak(%)
Siam 79,42 0,18 14,87 0,89
Jambal 75,53 0,17 13,13 1,09
Pasupati 78,29 0,16 12,94 1,09
Nasutus 78,52 0,16 15,07 1,23
Hibrid Nasutus 75,75 0,22 17,52 1,01
nilai gizi protein dalam tempe, dapat ditentukan dengan menghitung beberapa nilai
secara kuantitatif, yaitu Skor Kimia Asam Amino, Indeks Mutu Protein (Net Protein Utilization),
dan Protein Efficiency Ratio (PER).
1. Skor kimia asam amino
Skor Kimia adalah cara menetapkan mutu protein dengan membandingkan
kandungan asam amino esensial dalam bahan makanan dengan kandungan asam amino
esensial yang sama dalam protein patokan / ideal, misalnya protein telur. Food and
Agricultural Organization telah menentukan nilai standar asam amino dalam satuan
g/100g protein, sehingga dari sumber kandungan protein tempe diatas, dapat dibuat
konversinya dari mg/g N total menjadi g/100g protein sehingga dapat dibandingkan
nilainya dengan standar dari FAO dan didapatkan skor kimia.

Tabel 1. Skor kimia AAE dalam ikan patin
Asam Amino
Protein
sampel Standar FAO Skor Kimia
Valin 3,2 5 64
Leusin 5,4 7 77
Isolusin 3,4 4 85
Lisin 10,7 6 195
Treonin 7,2 4 180
Penilalanin 2,6 6 82
Metionin 2 4 57
Dari skor kimia asam amino esensial yang didapatkan di atas, dapat disimpulkan
bahwa skor kimia ikan patin adalah 57 dengan asam amino pembatas utama adalah
metionin, dan asam amino pembatas kedua adalah Valin. Dapat diasumsikan bahwa hanya
sekitar 57% dari total asam amino esensial dalam ikan patin yang dapat digunakan untuk
sintesis protein tubuh.

Rumus perhitungan:
Skor Kimia



2. Indeks Mutu Protein
Indeks mutu protein yang ditentukan secara biologis adalah NPU (Net Protein Utilization).
Nilai NPU secara teoritis dapat diperoleh dari perkalian Skor Asam Amino (nilai biologis
teoritis) dengan Mutu Cerna Teoritis, kemudian dibagi dengan nilai 100 (Hardinsyah dan
Drajat, 1992). Beberapa nilai mutu cerna protein dari beberapa sampel dapat dilihat pada
tabel di bawah ini:

Tabel 2. Nilai Mutu Cerna Bahan Pangan
Jenis Pangan Mutu Cerna
Beras 90
Terigu 96
Jagung 82
Umbi-umbian 76
Tepung umbi-umbian 86
Ikan 97
Daging 97
Telur dan Susu 100
Tempe 90
Kedele (kacang-
kacangan) 82
Tepung kedele 90
Sayuran 67
Buah-buahan 88
Jamur Tiram 89

Sumber : Hardinsyah dan Drajat (1992)

Berdasarkan tabel tersebut (nilai mutu cerna ikan 97), dapat ditentukan NTU ikan patin:

Tabel 3. NPU Asam Amino dalam ikan Patin

Asam Amino Esensial Skor Kimia NPU
Valin 64 62,08
Leusin 77 74,69
Isolusin 85 82,45
Lisin 195 189,15
Treonin 180 174,6
Penilalanin 82 79,54
Metionin 57 55,29

3. Protein Efficiency Ratio(PER)
Nilai PER didapatkan dari percobaan menggunakan tikus dengan memberikan pakan yang
telah diketahui nilai gizinya, kemudian diukur secara berkala selama 21 hari kadar protein
sisa metabolismenya. Selain dari percobaan, PER dapat ditentukan dengan data yang telah
ada, disebut dengan Computed-PER (C-PER). Cara menentukannya dengan:

a. Tentukan daya cerna in-vitro protein sampel dan kasein standard, dengan metode Hsu
et.al, atau teknik multi enzim. Menurut sumber yang didapatkan, diketahui daya cerna
protein pada tempe sebesar 90% dan daya cerna kasein std 90.03%

b. Tentukan kadar masing-masing AAE, dalam sampel dan kasein standard dalam satuan
g/100g protein
Tabel 4. Kadar AAE dalam ikan patin dengan satuan g/100g protein
Asam Amino Esensial mg/g protein sampel
g/100g protein
sampel
g/100g protein
Kasein
Valin 32 3,2

Leusin 54 5,4

Isolusin 34 3,4

Lisin 107 110,7

Treonin 72 7,2

Penilalanin 26 2,6

Metionin 20 2,0

c. Nyatakan dalam bentuk %AAE dengan rumus :








Tabel 5. % AAE dalam ikan Patin
Asam Amino Esensial g/100g protein spl
g/100g protein
std FAO
% AAE
Valin 3,2 5 62,08
Leusin 5,4 7 74,83
Isolusin 3,4 4 82,45
Lisin 10,7 5,5 188,71
Treonin 7,2 4 174,60
Penilalanin 2,6 6 42,03
Metionin 2,0 3,5 55,43

d. Jika >100%, bulatkan menjadi 100%, tentukan nilai bobot (weight)nya berdasarkan AAE.
Jika <100%, tentukan nilai bobot (weight)nya berdasarkan AAE.

Tabel 7. Standard %AAE dan nilai Weight
%AAE (dibulatkan) Weight
100 1
91-99 2
81-90 2.83
71-80 4
61-70 5.66
51-60 8
41-50 11.31
31-40 22.63
21-30 32
0-10 45.25

Asam Amino Esensial %AAE sampel 1/%AAE Weight pembulatan 1/%AAE x weight
Valin 62,08 0,016 5,66 0,0912
Leusin 74,83 0,013 4 0,0535
Isolusin 82,45 0,012 2,83 0,0343
Lisin 188,71 0,005 1 0,0053
Treonin 174,60 0,006 1 0,0057
Penilalanin 42,03 0,024 11,31 0,2691
Metionin 55,43 0,018 8 0,1443
Nilai Total

33,8 0,6034



Asam Amino Esensial %AAE kasein
1/%AAE
kasein
Weight pembulatan 1/%AAE x weight
Valin
Leusin
Isolusin
Lisin
Treonin
Penilalanin
Metionin
Nilai Total




e. Hitung nilai X dan Y sampel dan kasein
X = (1/%AAE) x (Associated Weight)
Y = Weight

X sampel
Y sampel(total weight)
Sedangkan,
X kasein
Y kasein
f. Hitung skor AAE masing-masing protein kasein dan sampel, dengan rumus Y/X
Skor AAE sampel
Skor AAE kasein =

g. SPC=AAE sampel/AAE kasein
SPC =

h. Hitung C-PER dengan rumus :
-2.1074 + 7.1312(SPC) 2.5188(SPC)
=


Daftar Pustaka
Susanto, H dan Amri. 2002. Budidaya Ikan Patin. Jakarta: Penebar Swadaya.
Susanto, H. 2009. Pembenihan dan Pembesaran Patin. Jakarta: Penebar Swadaya.
Kottelat, M. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi Edisi Dwi
Bahasa (Inggris-Indonesia). Jakarta: Periplus Edition (Hk) Ltd.
Maghfiroh, I. 2000. Pengaruh Penambahan Bahan Pengikat Terhadap Karakteristik
Nugget dari Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus). Tidak Diterbitkan.
Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Monalisa, K., Islam, M. Z., Khan, T., Abdullah, A. T. M., dan Hoque, M. M. 2012.
Comparative Study on Nutrient Contents of Native and Hybrid Khoi (Anabas
testudineus) and Pangas (Pangasius pangasius, Pangasius hypotalamus) Fish
in Bangladesh. International Food Research Journal. 20(2): 79-797 (203).
Susanto, H dan Amri. 2002. Budidaya Ikan Patin. Jakarta: Penebar Swadaya.
Hermiastuti Meirinda. 2013. Analisis Kadar Protein dan Identifikasi Asam Amino pada
Ikan Patin. Tidak Diterbitkan. Skripsi. Jember: Universitas Jember.
Dwi Suryaningrum, T, Muljanah, Ijah dan Tahapari, Evi. 2010. Profil sensori dan nilai gizi
beberapa jenis ikan patin dan hibrid nasutus: Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan
Perikanan Vol. 5 No. 2, Desember 2010.