Anda di halaman 1dari 75

CATATAN HARIAN ANAS URBANINGRUM

Jumat, 10 Januari 2014.


Kamar agak luas. Lumayan untuk ukuran kamar tahanan dibanding yang saya bayangkan, seperti
kamar waktu dulu indekos di Surabaya atau Jakarta. Tempat tidurnya kecil, cukup untuk satu orang.
Ada kamar mandi dan toilet yang dibatasi tembok. Ada pula wastafel dan rak piring kecil. Pokoknya
mirip kamar indekos mahasiswa.
Penjaganya adalah pensiunan tentara yang baru direkrut. Namanya Timur Pakpakhan, orang Siantar,
yang sejak 1978 masuk Jakarta. Kami ngobrol santai ngalor-ngidul, termasuk cerita-cerita di kalangan
militer dan politik. Kesan saya, dia orangnya enak.
Ketika masuk, saya langsung disambut beberapa penghuni yang sudah lebih awal bermukim di sini.
Sebut saja Rudi Rubiandini. Malah, saya dapat pinjaman sarung, sajadah, dan handuk, sambil
menunggu kiriman dari rumah. Ada pula Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dan Budi Santoso,
yang memperkenalkan diri sebagai teman Djoko Susilo. Mereka kompak bilang selamat datang.
"Sabar saja, Mas," begitu pesan dan nasihat mereka.
Tentu, saya sudah membayangkan akan ditahan ketika berangkat dari rumah. Alhamdulillah, ketika
pamit kepada Tia, saya sudah dibekali dengan kalimat dukungan ikhlas, ridho, dan doa agar kuat.
Memperjuangkan keyakinan tidak bersalah di medan yang berat adalah tantangan tersendiri. Apalagi
di KPK, lembaga yang dianggap selalu benar dan hampir tanpa kritik, karena kritik kepada KPK
dianggap sebagai pro-koruptor. KPK memegang kekuasaan yang nyaris absolut. Modal ridho dan doa
dari istri buat saya adalah energi tersendiri yang spesial nilainya.
Seperti yang saya sampaikan ketika ke luar pintu KPK dengan baju kebesaran tahanan, yang tanda
tangan surat perintah penahanan adalah Abraham Samad, Ketua KPK yang gagah perkasa karena
sering mengatakan hanya takut kepada Tuhan. Abraham adalah calon komisioner KPK yang
menjelang fit & proper test di DPR datang ke Durensawit, tengah malam, untuk meminta dukungan.
Abraham datang diantar Salahuddin Alam, teman saya di Partai Demokrat asal Sulawesi.
Malam itu, tanpa saya minta, Abraham menyampaikan komitmen untuk saling dukung dan saling
menjaga sebagai sesama anak muda. Ternyata, di dalam proses saya menjadi tersangka terdapat peran
serius Abraham, yang bahkan menyampaikan harus pakai cara kekerasan. Istilah yang dipakai adalah
"pakai kekerasan dikit". Tentu saja dalam kalimat itu terkandung makna memaksa atau pemaksaan
atau keharusan. Entah maksudnya memaksa dari segi waktu atau dari segi substansi perkara yang
disangkakan.
Surat perintah penahanan disampaikan dan diberikan oleh penyidik yang memeriksa. Rupanya
sprindik ada dua, yaitu No 14 dan No 14 A tanggal 22 Februari dan 15 Maret 2013 . Ketua tim adalah
Bambang Sukoco dan di dalam tim itu ada penyidik senior dari Polri, Endang Tarsa. Di dalam
sprindik No 14-A itulah Nama Endang Tarsa tercantum. Jadi, jumlah penyidik cukup banyak. Kalau
tidak salah sepuluh orang, yakni empat penyidik pada sprindik No 14 dan enam orang pada sprindik
No 14-A. Kedua sprindik itu di teken oleh Bambang Widjojanto.
Dijelaskan oleh Endang Tarsa bahwa sprindik No 14-A terbit untuk membantu tim penyidik dalam
perkara sprindik No 14. Membantu tentu maknanya memperkuat karena tim sebelumnya dirasa belum
cukup. Istilah Endang: "Saya hanya membantu Pak Bambang Sukoco." Saya lirik, Bambang hanya
tersenyum mendengar keterangan Endang.
Dalam tim penyidik pertama berdasarkan sprindik No 14 ada nama Bakti Suhendrawan, yang
kabarnya adalah teman Agus Harimurti Yudhoyono di SMA Taruna Nusantara, Magelang. Fakta itu
dibilang menarik bisa, dibilang biasa-biasa saja dan kebetulan juga bisa.
Pada kesempatan awal, saya bertanya tentang frasa "dan atau proyek-proyek lainnya" di dalam surat
pemanggilan dan ternyata kata-kata itu berdasarkan pada sprindik yang diteken BW itu. Baik pada
sprindik No 14 maupun pada sprindik No 14-A bunyi kalimatnya sama. Endang menjelaskana bahwa
memang dasar surat panggilan berawal dari sprindik dan itulah simpulan gelar perkara. Hal itu tidak
perlu dijelaskan di surat panggilan, cukup di jelaskan ketika pemeriksaan.
Ketika saya desak, apa itu maksudnya, dia menjawab, misalnya proyek pembangunan gedung
Biofarma, pembangunan universitas-universitas, pembangunan gedung pajaksesuatu yang saya
tidak tahu maksudnya.
Saya menyampaikan usulan dan permintaan. Jika itu yang dimaksud, agar disiapkan surat
pemanggilan baru yang secara jelas menyebutkan nama-nama proyek tesrebut. Tetap saja tidak bisa,
katanya. Karena dasarnya dari sprindik dan saksi-saksi sudah dipanggil dengan bunyi kalimat
tersebut.
Kemudian penyidik lain, Salmah, membawakan contoh surat kepada saksi. Intinya, pokoknya tidak
bisa, karena sudah sesuai prosedur dan sprindik. Meskipun berkali-kali saya katakan itu sebagai
terobosan dan tidak melanggar aturan serta tidak bertentangan dengan sprindik, bahkan sebagai upaya
kerja sama, tetap saja ditolak.
Endang tarsa adalah penyidik senior yang juga Pelaksana Tugas Direktur Penyidikan KPK. Tentu saja
pengalamannya panjang dan dianggap bisa menangani kasus saya sesuai arah keputusan KPK. Saya
tidak tahu apakah ada pejabat setingkat direktur penyidik yang "turun gunung" menjadi anggota dari
anak buahnya sendiri. Tentu saja ini kehormatan, karena untuk kasus gratifikasi Harrier dan atau yang
lain-lain diturunkan penyidik senior kelas tinggi.
Tetapi, yang tidak saya sangka-sangka, Endang sempat bertanya tentang PPI. "Sudah ada di mana
saja?" begitu dia bertanya sambil bilang bahwa hal itu untuk pengetahuan saja.
Tentu pertanyaan menarik itu saya jawab juga. Karena, tidak ada yang rahasia dan perlu
disembunyikan tentang PPI.
Ketika saya tanya tentang identitas Bambang Sukoco, dia menyebut sebagai alumni Yosodipuro.
Tentu saya mengerti yang dimaksud, yakni markas HMI Cabang Solo. Dia bilang pernah menjadi
bendahara pada zaman Adib Zuhairi menjadi Ketua Umum HMI CabangSsolo. Bambang mengaku
kenal Johny Nur Ashari, Kholiq Muhammad, Yulianto, Dwiki Setiawan, serta beberapa teman saya
dari HMI Solo.
Ada kesan, Bambang agak segan. Bahasa tubuhnya kurang nyaman dan sering menunduk.
Saya bilang kepada Bambang, tidak perlu memanggil Pak, panggil saja Mas. Dia bilang, " Iya,
Pak. Iya, Mas." Kadang panggil Mas, kadang panggil Pak. Terasa benar agak kikuk, meskipun
saya berusaha mencairkan suasana agar santai. Kalau benar dia alumni HMI Solo seangkatan Adib
Zuhairi, pasti dia agak tahu tentang saya zaman itu. Tetapi, saya menghormati posisi dan tugasnya
sebagai ketua tim penyidik kasus saya. Sebagai penyidik yang berawal dari kepolisian dan sekarang
sudah menjadi pegawai tetap KPK, Bambang tengah menjalani tugas dari pimpinan.
Ketika saya tanyakan, "Kok bisa saya jadi tersangka gratifikasi Harrier? Dia hanya tertawa.
"Kok aneh, saya bisa jadi TSK di KPK untuk kasus gratifikasi Harrier? Dia tertawa lagi.
Buat saya, tawa bambang punya makna besar dan saya yakin hatinya bergejolak.
Yang jelas, hari ini, Jumat, 10 Januari 2014, saya ditahan di lantai bawah KPK. Pasti ada yang senang
dan bahagia dengan penahanan ini. Ada pula yang bersedih. Ada yang tertawa. Ada yang menangis.
Itulah dua sisi kehidupan yang tak terpisahkan. Saya harus memandangnya biasa saja, karena pasti
tidak ada yang kekal. Semua akan berganti. Semua akan berlalu.
Sabtu, 11 Januari 2014.
"Pak Haji, sudah jam empat pagi," begitu suara keras Timur Pakpahan membangunkan saya.
"Iya, Bang, terima kasih," saya menyahut.
Saya memang berpesan kepada Timur untuk membangunkan kalau sudah jam empat pagi.
Alhamdulillah, permintaan itu dipenuhi dengan baik.
Malam pertama ditahan ternyata tidur saya nyenyak. Bahkan lebih awal tidur dari waktu biasanya.
Jika hari-hari biasanya tidur jam satu dini hari ke atas, tadi malam saya sudah tertidur sekitar jam
23.00. Tidur pulas, tidur berkualitas. Kok bisa? Rupanya Gusti Allah kasih anugerah tidur pulas
berkualitas.
Setelah salat subuh, kembali saya tidur. Sekitar jam tujuh, saya bangun karena ada suara Timur lagi.
Dia mengenalkan petugas jaga penggantinya. Namanya Thohari, orang Trenggalek. Sama dengan
Timur, rupanya Thohari adalah pensiunan tentara.
"Kulo asli Trenggalek, Pak Anas," begitu Thohari mengenalkan asalnya.
"Nggih, tonggo dhewe," saya merespons dengan bahasa Jawa. Dia juga menyebut bertetangga dengan
Priyo Budi santoso di Trenggalek.
Muncul pula Rudi Rubiandini, masih pakai kopiah putih. Rupanya mau mengaji. setelah berbaik hati
kemarin malam meminjamkan sajadah, sarung, dan handuk. Hari ini, saya dipinjamkan buku-buku
dan majalah. Alhamdulillah. Terima kasih, Prof. Ada buku Tadabbur Al Quran, Obat Penawar Hati
yang Sedih, majalah Trubus, Time, dan Traveller. Sungguh buku dan bahan bacaan menjadi teman
berharga di tahanan.
Buku dan bacaan adalah menu untuk pikiran. Salat dan zikir bagiannya hati. Lalu, bagaimana dengan
urusan perut ? Terus terang tadi malam saya sengaja tidak makan. Soalnya, kiriman makanan karena
satu dan lainnya hal belum bisa sampai. Hanya kiriman pakaian, roti, dan air minuman kemasan yang
tiba. Di ruang pemeriksaan, saya tidak makan, tidak minum, meskipun disediakan. Di dalam ruangan
tahanan juga ada jatah makan malam: nasi merah, sayur, dan telur rebus. Saya hanya ambil telur
rebusnya. Alhamdulillah, Rudi memberi saya roti, wafer, dan kue mirip kue bolu. Itu yang, bismillah,
saya sikat. Bukan urusan lapar atau tidak lapar. Ini hanya urusan berhati-hati. Berhati-hati saja kadang
kala terpeleset, apalagi kalau ceroboh.
Sebagai tahanan, pagi ini saya dapat jatah kue nagasari. Ada tiga biji dikemas dalam kotak plastik.
Sebetulnya kue nagasari termasuk enak dan favorit saya, tetapi saya tidak sentuh. Sisa wafer tadi
malam saya habiskan. Tetapi yang namanya rezeki kalau mau datang, ya, datang saja.Rupanya Budi
Santoso dan Rudi sarapan bareng. Saya dapat kiriman nasi bungkus ikan cakalang. Saya tidak tahu
dipesan dari mana, tapi yang jelas rasanya maknyus. Terhadap nasi bungkus itu saya husnudzan saja
dan menjadi menu sarapan pagi yang bersejarah: makan pagi pertama di ruang tahanan.
Nasi bakar cakalang itu kembali hadir saat makan siang. Berarti ketika sarapan ada stok sisa untuk
jatah makan siang. Jatah makan siang resmi dari KPK tidak saya makan. Tentu saja tidak boleh
mubazir dan ada caranya agar tidak mubazir dan tetap bermanfaat. Makan siang makin spesial karena
ada minuman cokelat panas. Rupanya Rudi hobinya cokelat panas. Kalau Wawan lebih suka wejang
jahe panas.
Jadi untuk urusan makan minum, alhamdulillah, tidak ada masalah. Para senior, Prof Rudi, Kang
Wawan, dan Mas Budi berbaik hati. Mungkin kasihan ada yunior yang belum bisa dapat kiriman dari
keluarganya. Selebihnya pasti karena terpanggil perasaan senasib dikurung di lantai bawah Gedung
KPK.
Hari ini pula saya sempat baca koran. Tentu saja, semua berita utamanya tentang Anas, dengan gaya
penulisan masing- masing dan arah politik redaksinya sendiri-sendiri. Foto yang paling dramatis ada
di Koran Tempo. Gambarnya adalah Anas yang kaget dilempar telur. Gambarnya menarik dan
dramatis. Lalu, saya teringat peristiwa tadi malam. Selain memberi keterangan pers sedikit sebelum
masuk ke ruang tahanan, dalam kondisi terjepit dan berdesak-desakan ada orang memukul pakai telur.
Tangannya hanya sedikit menyentuh kepala, telurnya yang telak. Rasanya seperti keramas pakai telur.
Inilah yang boleh disebut Jumat Keramas.
Sesampai di Posko Rutan KPK, saya tanya, siapa tadi yang memukul pakai telur. Tidak ada yang tahu
siapa orangnya. Saya hanya pesan kepada petugas keamanan KPK yang mengantar saya agar yang
bersangkutan jangan diapa-apakan. Saya khawatir ada yang memukul balik. Dari koran baru
ketahuan, yang bersangkutan bernama Aryanto, Ketua LSM Gempita, Palmerah, Jakarta Barat. Apa
pun motifnya, apakah inisiatif pribadi atau ada yang menyuruh, Aryanto tidak perlu diapa-apakan.
Saya mendoakan semoga apa yang dilakukan itu mendatangkan kepuasan bagi dirinya atau pihak
yang memesannyajika ada. Hikmahnya adalah saya mandi keramas, rambut jadi bersih. Jumat
Keramas!
Tentu saja normal kalau saya bersedih atas hilangnya kebebasan di ruang tahanan. Tidak bisa
berinteraksi normal dengan istri, anak-anak, dan keluarga besar. Tidak bisa bergaul dengan teman-
teman dan para sahabat. Ruang hidup menjadi sempit, dibatasi tembok, pintu, petugas jaga, dan
kewenangan penyidik. Ringkas kalimat, irama kehidupan berganti dari merdeka menjadi tidak
merdeka. Status tahanan, berbaju kebesaran tahanan KPK, ditempatkan di kamar yang untuk
sementara tidak boleh keluar sama sekalimakan, minum, mandi, salat, dan tidur di tempat yang
sama. Transformasi drastis dari kesempatan menjadi kesempitan.
Alhamdullilah, sedihnya adalah sedih biasa. Bukan sedih yang tak terkendali. Tidak perlu murung,
marah-marah, atau bersungut-sungut. Sedih manusiawi yang harus dikelola menjadi energi positif.
Saya meyakini ini adalah suratan takdir yang telah ditulis Gusti Allah dalam ketetapan-Nya. Ya, harus
dilalui, dihadapi, dilewati dengan ikhlas dan penuh ikhtiar mencari dan menemukan keadilan. Tidak
ada selembar daun pun yang jatuh tanpa pengetahuan dan ketetapan Tuhan, apalagi atas diri seorang
manusia bernama Anas. Pasti semuanya sudah sesuai tulisan takdir Tuhan.
Saya teringat ayat Tuhan, "Apa yang tidak kamu sukai belum tentu buruk buat kamu." Kira-kira
intinya begitu. Saya berusaha husnudzan semoga peristiwa ini menjadi jalan untuk menemukan ilmu
dan hikmah yang diajarkan Tuhan di tempat-tempat sempit dan jauh dari kesenangan dan
kenyamanan.
Sabar menjadi penting. Katanya, sabar itu bagian penting dari iman. Sabar terhadap musibah,
kesedihan, kekurangan, kesempitan, ketakutan adalah ajaran iman yang penting. Orang baru berteori
dengan sabar ketika belum dapat musibah. Ketika datang musibah, sabar menantang untuk
dipraktikkan.
Di ruang tahanan ini ada kesempitan, di tempat lain mungkin ada kesempitan yang lebih. Di sini ada
kesedihan. Di tempat lain pasti ada kesedihan juga. Di sini ada ketidaknyamanan, di tempat lain
menyebar pula ketidaknyamanan. Bahkan mungkin di tempat-tempat kesenangan dan kekuasaan, di
sini ada pula ketakutan dan ketidaknyamanan, karena tenang adalah urusan jiwa. Di tempat yang
tenang dan nyaman belum jaminan ada jiwa yang tenang pula. Barangkali banyak yang tidak bisa
tidur pulas, tidak seperti nikmat yang saya rasakan di ruang tahanan ini pada malam pertama.
Ahad,12 Januari 2014.
Malam tadi, Thohari diganti oleh orang Kalasan, Yogyakarta, yang tinggi, besar, tegap, dan berkepala
plontos. Namanya Surajan. Pagi ini kembali ada pergantian petugas jaga. Kali ini orang asli Nganjuk
bernama Warseno. Semuanya sama, eks tentara, tepatnya polisi militer di Guntur, Jakarta. Sebelum
pergi, Surajan menitipkan bungkusan plastik. "Ini titipan dari Pak Fathanah untuk Pak Anas," katanya
sembari pamit dan mengenalkan petugas jaga yang baru, Warseno.
Dari Warseno, saya dapat informasi masih ada dua orang lagi yang bertugas bergantian. Namanya
Amir Ishak dan Damuri. Warseno orangnya juga enak dan grapyak, khas orang Jawa Timur. Dari
Warseno, saya sempat pinjam alat pel untuk bersih-bersih lantai. Biar lebih bersih dan segar.
Budi sempat melihat dan melontarkan ledekan. Dia meledek sambil menawarkan diri untuk mengepel.
Saya jawab, sebagai bekas anak indekos, urusan bersih-bersih lantai bukanlah hal yang asing.
Dia lalu bertanya, apakah saya pernah membaca buku tentang Mandela. Saya menjawab, pernah
menonton filmnya. Dia menasihati saya agar tenang dan sabar sebagai tapol (tahanan politik). Saya
tidak tahu kenapa dia menyebut saya tapol.
Bagi siapa saja yang berada dalam tahanan, merasa kemerdekaannya diambil, sambil menasihati
untuk tenang dan sabar adalah hal penting dan relevan. Dia bilang, zaman berputar. Saya jawab,
semua akan berlalu.
Dia bilang, siapa yang zalim akan dapat karmanya. Saya jawab, akan kembali kepada dirinya atau
anak keturunannya, bisa langsung atau tidak langsung; bisa tunai, bisa juga dicicil.
Budi bilang, kalau umur panjang, ia akan melihat bagaimana karma itu bekerja. Saya menjawab, tidak
usah menunggu dan mengharapkan begitu, karena semua berlaku atas ketentuan Tuhan. Kalau Tuhan
menimpakan mudarat kepada makhluk-Nya, siapa pun tak dapat menghalangi. Kalau Tuhan
mendatangkan rahmat, juga tidak bisa dicegah oleh kekuatan apa pun. Tetapi, saya setuju karma akan
datang, tidak perlu dijemput atau diberitahu alamatnya, karena sudah punya alamat masing-masing
yang akan didatangi.
Rupanya, media massa menjadikan Anas sebagai berita utama. Ada berita tentang kiriman makanan
dan surat dari Tia yang ditolak petugas. Ada berita tentang tantangan KPK kepada Anas untuk bicara
tentang keterlibatan Ibas (Edhie Baskoro Yudhoyono) kepada penyidik.
Kata Johan Budi, pernyataan harus disertai fakta dan bukti. Jangan asal ngomong. Tentu saja apa yang
disampaikan Johan Budi itu benar adanya. Meskipun begitu, tidak bisa dihindari kesan melindungi
Ibas. Sama dan sejalan dengan beberapa pernyataan dia sebelumnya. Kalau keterangan menyangkut
Ibas selalu dijawab harus divalidasi dulu. Tidak harus dipanggil karena harus divalidasi dulu. Wajar
saja, karena Ibas adalah anak presiden. Tidak mungkin anak presiden tidak mendapat perlakuan
khusus.
Sama dengan Abraham yang berkali-kali statement-nya mirip dengan lawyer. Pernyataan Ketua KPK
itu jika dicermati sudah menempatkan dirinya sebagai benteng hukum atau pengacara Ibas. Bahkan,
pada suatu kesempatan malah menyerang Yulianis, seorang saksi, yang ia sebut sebagai orang aneh.
Dibilang aneh karena hanya bicara dan tidak pernah tertuang ke dalam Berita Acara Pemeriksaan
(BAP). Meskipun itu kemudian diprotes oleh Yulianis dan dinyatakan sudah termuat di dalam BAP,
Abraham belum pernah berani merespons protes Yulianis tersebut.
Di media juga dibahas pernyataan yang katanya tidak lazim. Ucapan terima kasih saya dianggap
statement kontradiktif atau kode-kode. Silakan saja dibahas dan dianalisis seperti apa.Kata-kata saya
itu sudah menjadi milik publik dan bebas dipandang dari berbagai sudut, tergantung pada siapa yang
melihatnya. Tafsirnya bebas dan demokratis.
Ucapan terima kasih kepada Ketua Abraham Samad layak disampaikan karena pada akhirnya saya
ditahan juga. Berita tentang rencana penahanan saya sudah banyak pada bulan Ramadan (2013) silam.
Waktu itu disampaikan kepada publik bahwa penahan akan dilaksanakan setelah Lebaran. Lalu ada
perubahan alasan, ditahan setelah selesai audit Investigasi BPK. Ternyata belum juga ditahan.
Kemudian ada pernyataan beberapa kali yang intinya minggu depan dan minggu depan.
Karena belum juga ditahan, para wartawan tetap rajin memburu pernyataan pimpinan KPK.
Jawabannya, pokoknya nanti akan ditahan. Begitu penjelasannya. Karena belum ditahan juga,
kemudian muncul alasan kekhawatiran kalau ditahan malah bisa bebas demi hukum. Sambil jalan
kemudian lahir wacana ditahan sebelum akhir tahun 2013 dan belakangan ada alasan karena ruang
tahanan di KPK sedang penuh. Lalu ada pernyataan lain menunggu selesainya pembangunan Rutan
(Rumah Tahanan) KPK di Guntur serta serahterimanya kepada KPK. Bahkan, Tempo pernah merilis
foto calon ruang tahanan untuk Anas di Guntur.
Jadi, ketika Jumat, 10 Januari 2014, terbit surat perintah penahanan yang diteken Abraham Samad,
segala ketidakpastioan dan silang-sengkarut alasan tentang belum ditahannya Anas selesai sudah.
Wartawan dan saya tidak perlu lagi bertanya-tanya kapan dan di mana akan ditahan. Kita boleh
khawatir karena makin banyak alasan penundaan penahanan serta alasan yang berubah-ubah dan
berbeda-beda akan menurunkan kredibilitas sang pembuat alasan. Saya sendiri juga tidak lagi dikejar-
kejar pertanyaan tentang kesiapan ditahan dan sejenisnya.
Jadi, ucapan terima kasih itu saya sampaikan karena Abraham telah membuat dan meneken surat yang
membuat pasti kapan dan di mana saya ditahan. Kepastian untuk saya, untuk keluarga saya, untuk
media, dan bahkan kepastian untuk Abraham sendiri.
Mengapa ucapan terima kasih juga kepada Endang Tarsa dan Bambang Sukoco? Karena, keduanya
sebagai penyidik yang melaksanakan penahanan. Keduanya yang tanda tangan berita acara
penahanan. Endang memulai dengan kalimat, Tidak enak ini saya sampaikan kepada Pak Anas.
Saya langsung potong dengan jelas agar mereka menyampaikan kepada saya tugas untuk menahan.
Perhitungan saya memang akan ditahan pada hari ketika saya datang ke KPK. Wajah Endang
kelihatan agak gugup ketika menyampaikan hal itu. Lebih gugup lagi adalah Bambang yang ketika itu
tidak berkata-kata. Menurut saya, mestinya Bambang sebagai ketua tim yang menyampaikan. Entah
mengapa Endang yang menjadi jubirnya. Mungkin karena senior atau faktor lain.
Terima kasih karena mereka berdua sudah mengeksekusi penahanan saya berdasarkan surat perintah
penahanan yang diteken Abraham. Saya hargai, meskipun kelihatan agak gugup dan tidak enak hati,
keduanya melaksanakan tugasnya dengan baik sesuai perintah pimpinan.
Sebetulnya ada lagi penyidik, M Rifai, polisi asal Grobogan, Jawa Tengah, yang ikut nimbrung
ngobrol soal penahanan. Lalu, ada juga perempuan penyidik, Salmah, yang sejak awal masuk-keluar
ruang pemeriksaan untuk koordinasi dengan Endang dan Bambang. Penampilannya dingin tanpa
seutas senyum. Dari mereka berempat, Salmah yang paling tampak tampil sebagai penyidik.
Lalu apa kaitan ucapan terima kasih dengan Heri Muryanto? Dia adalah ketua tim penyelidik ketika
kasus saya ini mulai dipandang harus diseriusi. Bersama beberapa penyidik lain, dia tugaskan sebagai
juru masak Harrier menjadi kasus gratifikasi Hambalang.
Penjelasan saya tentang mobil Harrier yang bukan gratifikasi, apalagi dari Adhi Karya yang
menggarap proyek Hambalang, kalah dengan cerita palsu Nazaruddin dan pegawainya yang bernama
Marisi Matondang. Cerita palsu yang meyakinkan itulah yang oleh Heri dinaikkan menjadi kasus
gratifikasi dengan segala liku-likunya, termasuk pembocoran sprindik. Heri pasti dianggap berjasa
dan semoga segera mendapat promosi jabatan. Wajar jika saya mengenang nama Heri Muryanto dan
mengucapkan terima kasih.
Pastilah yang paling dibahas dan disorot adalah ucapan terima kasih saya kepada Pak SBY (Susilo
Bambang Yudhoyono). Saya berkeyakinan, berdasarkan apa yang saya alami di Partai Demokrat, apa
yang saya dengar dan rasakan, dan saya analisis, Pak SBY secara langsung atau tidak langsung punya
peran untuk mentransmisikan masalah politik internal Partai Demokrat menjadi masalah hukum di
KPK. Pidato politik dan hukum yang dilakukan di Jeddah, Arab Saudi, jelas merupakan tekanan dan
intervensi.
Proses pengambilalihan kewenangan saya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat dan perintahnya
agar saya berkonsentrasi menghadapi masalah hukum adalah penggiringan politik yang nyata
bersamaan dengan saat-saat krusial penetapan saya menjadi tersangka. Boleh saja Pak SBY berdalih
tidak melakukan intervensi. Bisa saja pernyataan saya ini dibantahnya dengan cara yang paling
canggih dan meyakinkan. Atau, dia membantah lewat para pembantu dan pengacaranya, apakah
Djoko Suyanto, Ruhut Sitompul, Palmer Situmorang, atau Heru Lelono. Tetapi, Pak SBY dan mereka
semua tidak bisa membantah fakta-fakta yang diproduksi oleh Pak SBY sendiri.
Pernyataan dan analisis dapat dibantah, tapi apakah fakta bisa dibantah dan disembunyikan?
Seperti cara Heru Lelono membantah saya lewat wawancara dengan harian Rakyat Merdeka, 12
Januari 2014, halaman 2. Dengan cara yang meyakinkan, Heru membantah Pak SBY intervensi.
Kalau Pak SBY intervensi, berarti itu sama saja melecehkan KPK. Ini bahasa yang sering saya dengar
di dalam bantahan-bantahan itu.
Bahkan, Heru tak segan-segan berbohong dengan mengaku pernah mengatakan kepada saya
disebutnya "sahabat saya Anas"bahwa kebenaran ini suatu saat akan terungkap. Sebab, kesalahan
itu hanya sementara bisa disembunyikan.
Saya ingat betul dan yakin betul bahwa Heru tidak pernah mengatakan itu kepada saya, apalagi terkait
dengan kasus di KPK. Jangankan mengatakan, pernah ketemu atau komunikasi saja tidak. Sejak saya
di Partai Demokrat, hanya beberapa kali saya bertemu Heru di Cikeas. Itupun tidak perna bicara
serius, hanya menyapa dan ngobrol ringan. Sejak saya di DPR dan Pak SBY menjadi presiden periode
kedua, belum pernah saya berkomunikasi dengan yang bersangkutan. Bagaimana dia bisa
menyampaikan pesan itu kepada saya, kecuali pesan imajiner? Atau, jangan-jangan, pesan itu
sebenarnya untuk orang lain yang dekat dengan dia.
Menjelang tidur, saya sempat ngobrol agak panjang dengan Amir Ishak, petugas jaga yang baru dapat
giliran malam. Asalnya dari Kebumen, Jawa Tengah. Orangnya enak, ramah, dan cepat akrab.
"Sabar saja, Pak Anas. Nasib kita sama," begitu nasihatnya.
Dia menjelaskan, maksudnya sama-sama sepi, tak ada hiburan, tak ada tontonan. Bedanya, dia
menjaga, saya dijaga. Sebagaimana petugas yang lain, jatah jam jaga adalah setengah hari alias 12
jam. Tugas Amir hari ini akan berakhir pagi nanti jam tujuh.
Saya sabar mendengarkan dia bercerita tentang sejarah politik dan kerajaan zaman dulu. Dengan
fasih, dia menjelaskan naik-turunnya kerajaan-kerajaan di Jawa, sejak Tumapel, Singosari, Kediri,
Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Datang dan perginya raja-raja Jawa itu dia jelaskan dengan
terperinci mirip guru sejarah. Menarik karena wawasan sejarahnya cukup bagus. Saya hanya khusyuk
mendengarkan sembari kasih komentar tambahan sedikit-sedikit.
Inti dari sejarah politik kerajaan-kerajaan Jawa dulu adalah politik bumi hangus. Setiap pemenang
selalu menghancurkan yang dikalahkan. Kerajaan diluluhlantakkan dan yang dianggap berharga
dibawa pergi oleh pemenang perang. Pusat kerajaan yang kalah diratakan dengan tanah sehingga yang
tersisa tinggal kenangan. Jikapun ada, hanya bekas-bekas reruntuhan atau situs yang tak lagi utuh.
Politik bumi hangus dan dendam tak berkesudahan hamper menjadi model politik sampai Indonesia
memasuki zaman modern.
Tanggal 13 Januari 2014
Jam 03.20, saya bangun. Sekitar sepuluh menit kemudian Amir memanggil dari tempat duduknya.
Pak Anas, Bangun. Sudah jam setengah empat, dengan suara yang tidak terlalu keras.
Saya memang berpesan agar dibangunkan jam 03.30 pagi. Mengapa ?, Selain berusaha dapat jatah
waktu shalat malam, hari ini adalah hari senin. Kalau tidak ada halanga biasanya Senin - Kamis
adalah waktu jeda makan siang hari. Selain melestarikan ajaran puasa Senin - Kamis, ini juga
sekaligus usaha mengendalikan berat badan yang terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir ini.
Tawaran sarapan pagi dari kolega (Rudi, Budi, Wawan) saya Tolak halus.
Tadi saya mendahului sarapan roti jam empat pagi, saya menjelaskan.
Tentu mereka paham. Selain memang puasa Senin - Kamis diajarkan, hati kecil saya ingin berat badan
saya berangsur turun. Untuk kesehatan, untuk efesiensi baju dan celana, dan untuk kepantasan juga.
Tidak pantas rasanya kalau berat badan bertambah atau bertahan selama menjadi santrinya Abraham
Samad, jadi, terlalu kuat alasan saya berpuasa Senin-kamis.
Sesuai jadwal yang disampaikan Kepala Rutan Arifuddin bahwa Senin boleh dijenguk keluarga,
selesai mandi dan shalat dhuha saya minta tolong damuri, penjaga pengganti amir, untuk Tanya ke
Arifuddin. Saya khwatir keterputusan informasi dan kabar akan membuat keluarga gelisah. Rudi,
Budi dan Wawan juga bersiap siap menemui keluarga. Ternyata yang dibawa Damuri bukan kabar
bagus. Kata Kepala Rutan, keluarga belum bisa menjenguk karena belum ada surat dari penyidik.
Tentu saja saya agak kecewa. Sabar menjadi makin penting.
Meskipun dilarang bertemu keluarga, tetapi informasi harus sampai. Sekurang kurangnya
mengabarkan kondisi kesehatan. Caranya, saya tulis surat pendek buat Tia. Bagaimana bisa sampai ke
tangan Tia? Saya menitipkan surat itu ke Wawan. Pesan saya, kalau bisa nanti airin Rachmi Diany
(istri Wawan) kontak Saan Mustopa, kemudian Saan bisa antar surat itu ke rumah. Hanya jalur itu
yang memungkinkan. Jalur keluarga Rudi dan Budi belum ada yang nyambung dengan keluarga atau
teman teman saya.
Ketika tidak punya pilihan kartena belum diizinkan bertemu keluarga, yang bisa saya lakukan adalah
berdiam di kamar. Pilihan terbaik adalah menambah raakat shalat dhuha dan saya lanjutkan dengan
shalat tasbih. Tentu saja durasi shalat tasbih agak panjang. Subhanallah, tak sampai lima menit setelah
selesai shalat tasbih Damuri kembali masuk dan membawa kabar baik. Kabar apa? Ternyata saya
sudah boleh bertemu keluarga dan penasehat hukum, apalagi keluarga dan teman teman. Dilarang
oleh aturan Rutan, katanya.
Segera saya ganti kostum. Sarung berganti celana, baju harus dibalut rompi kebesaran Tahanan KPK
warna oranye. Baju baju kotor saya siapkan dan sejurus kemudian bergerak ke ruang Posko Rutan.
Pertemuan tidak boleh dilakukan di tempat tahanan tahanan lainnya menerima keluarga. Salah satu
alasannya karena saya tidak boleh bertemu dengan Andi Mallaranggeng. Alasan lain saya tak tahu.
Pokoknya tidak boleh.
Alhamdulillah, walau waktu tinggal tersisa 45 menit dari jatah penjengukan, saya bertemu adik saya,
Anna Luthfie, dan beberapa pengecara, Firman Wijaya, Handika Wongso, Indra Nathan dan Marlon
Tobing. Yang paling penting adalah mengabarkan secara langsung kondisi saya. Meskipun tidak
bersentuhan dengan jatah makanan dari KPK, alhamdulillah saya tetap sehat, karena ada tiga kawan
yang selalu berbagai ketika waktunya makan. Adik saya dan lawyer Tanya, dari mana dan makan apa
selama tiga hari ini? Saya jawab sambil berkelekar, Ada kiriman dari malaikat. Tenang saja dimana
mana ada malaikat.
Saya ceritakan juga perstiwa pemeriksaan dan penahanan hari Jumat silam. Garis besarnya saja, tidak
lengkap dengan rinci. Saya sampaikan juga bahwa sejak Jumat malam saya diisolasi di kamar dan
tidak boleh keluar sama sekali. Bahkan utntuk ke kamarnya Rudi, Budi dan Wawan yang berada
dalam blok yang sama, dilarang keras. Semua penjaga menyampaikan bahwa mereka hanya
menjalankan perintah. Bahkan pintu harus dikunci. Kalau butuh apa apa bisa memanggil penjaga,
semisal minta air panas untuk minum atau urusan lain. Kepada Anas memang ada perlakuan khusus,
mungkin dianggap harus diisolasi dan belum boleh bersosialisasi. Saya bilang ke lawyer, tidak perlu
dipersoalkan, karena saya ingin menjalani kebijakan isolasi ini secara alamiah saja.
Keluhan saya satu satunya terhadap kamar tahanan adalah baunya yang pesing dan menyengat.
Memang ada bubuk kopi dan arang hitam yang ditaruh untuk melawan bau itu. Tetapi rupanya
kekuatan sang bau terlalu perkasa untuk ditundukkan oleh kekuatan bubuk kopi dan arang. Mirip
pertarungan antara kekuasaan vs. kaum tertindas. Hal hal lain di kamar itu tidak ada keluhan, karena
harus disadari bahwa yang saya tempati itu adalah kamar tahanan, bukan kama pribadi, bukan kamar
hotel.
Atas hebatnya kekuatan bau tersebut, saya minta tolong agar Damuri mau membuka pintu kamar.
Kalau pintu kamar dibuka, udara yang agak segar bisa masuk sehingga bau tidak terlalu kuat. Karena
semua terpantau CCTV, Damuri ditanya Kepala Rutan. Kenapa pintu kamar tidak terkunci? Jangan
dibuka dibuka pintu kamar Anas! Begitulah pertanyaan dan arahannya. Damuri lantas menjelaskan
bahwa kamar saya bau dan saya meminta agar pintu dibuka. Setelah diberi penjelasan itu, Kepala
Rutan membolehkan pintu dibuka sedikit. Tetapi Damuri diperintahkan memastikan agar Anas tidak
keluar keluar dari kamar. Padahal sama sekali tidak. Bagaimana bisa keluar kamar jika pintu dikunci
dari luar? Isolasi adalah isolasi. Tidak masalah untuk saya jalani, meskipun itu hanya khusus untuk
Anas.
14 Januari 2014
Alhamdulillah, pagi ini setelah gerak-gerak sedikit, mandi segar dan penuh semangat. Pasalnya,
dalam status sebagai hari libur nasional, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu
hari untuk bisa dijenguk keluarga. Dijenguk itu maknanya bisa bertemu, kangen-kangenan,
komunikasi langsung, kiriman logistik jasmani dan rohani-termasuk intelektual, penggantian baju
kotor ke baju bersih dan tentu saja bisa keluar dari kamar tahanan. Bayangkan betapa pentingnya
waktu atau jadwal jenguk bagi tahanan.
Pagi ini kondisi lebih segar karena isolasi sudah bisa ditembus. Mestinya belum bisa dan masih
dilarang untuk keluar kamar. Tetapi selalu saja ada jalan yang bisa dikreasi dan itu pasti bagian dari
petunjuk Tuhan. Ternyata Tuhan mengirim bau pesing sebagai jalan untuk membuka isolasi. Pasti
aneh dianggapnya. Bagamana bisa?
Mungkin karena tekanan dari bawah makin kuat, maka dari lubang air buangan untuk mandi bau itu
makin keras serangannya ke hidung. Pintu dibukapun tidak sanggup mengatasinya. Saya tanyakan ke
Damuri, bagaimana baunya? Dia jujur mengakui bahwa sengatannya makin hebat. Saya minta tolong
dia untuk lapor kepada Kepala Rutan Bapak Arifuddin. Isinya adalah laporan kondisi kamar dan
keluhan bahwa serangan bau itu mulai bikin saya mabuk.
Definisi mabuk di sini adalah mulai pusing-pusing dan mual. Karena itu, alternatifnya saya minta
izin sementara pindah istirahat, bergabung dengan Prof. Rudi, Budi dan Wawan, atau saya tetap di
kamar yang sekarang tetapi lubang pembuangan kamar mandi ditutup untuk mengurangi hebatnya bau
pesing. Jika ditutup maka saya harus mandi di kamar mandi mereka bertiga.
Kepala Rutan segera merespons dengan cara yang minimalis. Dikirimlah seorang petugas cleaning
service dengan membawa semprotan pengharum! Jelas bukan solusi sama sekali. Saya perintahkan
sang petugas untuk masuk ke kamar mandi dan merasakan baunya. Saya bilang, mau disemprot
pakai parfum atau pengharum sepuluh biji pun tak akan bisa melawan bau. Jalan satu-satunya adalah
menutup lubang air. Sebentar dia bilang memang bau dan dia akan kembali lapor Kepala Rutan. Tak
lama setelah itu datanglah petugas untuk urusan itu, semacam OB khusus untuk memperbaiki
kerusakan-kerusakan kecil dan mengecek jika ada permintaan atau complaint dari penghuni Rutan.
Namanya Edi, orangnya pendek kekar dan cekatan.
Edi tahu persis sejarah kamar itu. Dulunya dapur dan dibawahnya ada tempat pembuangan kotoran.
Dulu ketika kamar itu dipakai, memang semua lobang ditutup dan kamar mandi tidak dipakai. Kamar
mandi kembali dipakai untuk menyambut saya. Dia perintahkan untuk memfungsikan kembali kamar
mandi, salah satunya dengan membuka lubang air. Makanya dia segera tahu apa yang harus segera
ditutup. Dialah yang sebelumnya membuka dan sekarang dan sekarang dia yang harus menutup. Mirip
lagu dangdut.
Saya kan hanya menjalankan perintah, Pak, katanya sambil tersenyum.
Dalam waktu 30 menit semuanya sudah beres. Bau berkurang drastis, meskipun tidak hilang. Sebagai
konsekuensinya, kamar mandi tidak bisa dipakai. Inilah jalan menuju berakhirnya isolasi. Tetapi
Kepala Rutan berpesan kepada Damuri agar Anas hanya boleh keluar kamar untuk mandi. Saya bilang
iya, tidak masalah. Dalam hati saya, sehari saya bisa mandi berkali-kali. Masih juga ada kesempatan
wudhu dan buang air. Intinya, isolasi sudah bisa diakhiri. Berkat bau, isolasi selesai.
Praktis sejak tadi malam, saya bebas keluar-masuk kamar dengan dalih ke kamar mandi. Apalagi para
senior di kamar sebelah selalu mengajak untuk ke kamarnya. Alasannya ada kopi, ada kue, ada buah,
intinya mengajak gabung untuk ngobrol-ngobrol, ketawa-ketawa dan saling membunuh waktu yang
panjang. Untuk kali pertama pula saya bisa duduk berempat di meja makan kecil di kamar sebelah.
Karena itu pula, pagi ini kami berempat merencanakan, merumuskan, dan mengusulkan sesuatu
kepada Kepala Rutan atas hak kami mendapat kunjungan keluarga. Biasanya, ketika libur nasioanal,
para tahanan menemui keluarga di hall lantai 1 yang biasa dipakai shalat Jumat.Semua dikumpulkan
disitu. Kami punya usul baru, yakni tetap menggunakan ruang jengukan di lantai bawah (basement)
Gedung KPK. Kami minta tolong kepada petugas jaga, Timur Pakpahan, untuk telepon atau SMS
Kepala Rutan. Tidak lama kemudian ada jawaban singkat, Akan dipikirkan. Meskipun jawabannya
kurang menggembirakan, kami merasa masih ada peluang. Benar saja. Menjelang jam 10.00 ada
jawaban yang intinya usulan diterima dan diizinkan.
Kami berangkat bersama ke depan, ke ruang jengukan keluarga, diantar oleh Timur. Ada empat
ruangan, pas untuk masoing-masing kami dan keluarga. Berkah hari ini makin bertambah dengan
kesempatan berkenalan dengan keluarga Prof. Rudi, Mas Budi dan Kang Wawan. Diantara mereka,
saya baru kenal Airin, istri Wawan. Dulu hadir pada Musda Demokrat Banten setelah terpilih menjadi
walikota Tangerang Selatan. Kebetulan Demokrat mendukung Airin dan saya ikut pidato di kampanye
hari terakhir. Saling kenal diantara keluarga itu penting, agar kalau ada urusan apa-apa bisa
koordinasi. Alhamdulillah, tadi keluarga saling kenalan dan bertukar nomor kontak. Rencana berhasil,
target tercapai.
Hari ini adalah kesempatan pertama bertemu Tia, istri saya. Kemarin Senin baru adik dan beberapa
penasehat hukum yang sempat jenguk di ruang Posko Rutan. Tia datang bersam Mbak Dina (kakak
ipar saya), Yunianto Wahyudi alias Mustang, Dzamrusyamsi, Dandy Setiawan dan Yogi Gunawan.
Tiga nama terakhir hanya sebentar karena namanya tak tercantum dalam Daftar Nama Keluarga.
Ketat sekali. Ketat, tertib dan hampir lemah logika. Tetapi petugas kan hanya menjalankan perintah
saja.
Kami ngobrol sebagaimana layaknya keluarga. Kalau tidak bertemu istri untuk waktu yang lebih lama
dari sekarang itu hal biasa. Tapi itu karena ada tugas keluar kota atau luar negeri. Bukan tidak bisa
bertemu karena mondok di tahanan KPK. Tentu pertemuan terasa spesial. Meskipun lewat Luthfie
kabar kondisi saya telah sampai ke Tia, tetapi bertemu langsung menyaksikan saya sehat adalah jalan
terbaik untuk tenang. Cerita tetap beda dengan rupa. Kabar tidak bisa menggambarkan semuanya.
Selain kangen-kangenan, saya berkesempatan untuk tanda tangan urusan administrasi PPI. Ada SK
untuk kepengurusan PPI Sumatera Barat yang besok, 15 Januari 2014, akan melaksanakan pelantikan;
lewat Gede Pasek Suardika saya berpesan agar semua agenda PPI tetap dijalankan sesuai rencana,
termasuk pelantikan di berbagai daerah. Penahanan saya bukan alasan PPI tak bergerak dan berhenti.
Harus tetap berjalan dan bergerak seperti komitmen dan semangat awal.
PPI harus berani membangun tradisi baru, yakni tak tergantung pada figur. Seperti saya jelaskan dan
tegaskan berkali-kali, PPI tidak boleh diidentikkan dengan Anas atau Anas identik dengan PPI. PPI
bukan propertinya Anas dan keluarga Anas. PPI adalah kumpulan komitmen, semangat, idealisme,
tanggung jawab, kecakapan, keberanian dan tenaga pergerakan dari anak-anak bangsa yang terbuka
dan majemuk untuk mencintai dan bekerja demi Indonesia yang lebih baik. Ada Anas atau tidak ada
Anas, PPI harus tetap berjalan. PPI harus hadir dengan logika organisasi yang terlembaga, bukan
logika personalisasi. Meskipun berat, karena modal utamanya adalah semangat dan keberanian, tetapi
percobaan sejarah ini harus ditempuh sehingga bisa member warna baru sekecil apapun. Apakah ini
akan berhasil? Biarlah sejarah yang memutuskan. Yang penting adalah ikhtiar sungguh-sungguh
bermodalkan optimisme dan kerja keras.
Saya juga tanda tangan urusan keluarga, yaitu raport anak-anak. Tugas orang tua yang paling simple
adalah tanda tangan raport anak-anaknya sebelum dikembalikan ke pihak sekolah. Selama ini urusan
anak-anak-Akmal, Nawal, Najih dan Najma-detailnya diurus oleh Tia. Hal-hal yang prinsip saja yang
kami putuskan bersama. Selain istri saya lebih telaten dan waktunya lebih memungkinkan, anak-anak
sejak kecil memang sudah terbiasa dengan pola itu. Saya banyak di luar, Tia focus di dalam.
Anehnya, yang bertugas tanda tangan tetap saja saya, padahal Tia yang lebih berhak. Tradisinya
begitu. Ya sudah saya laksanakan saja dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.
Soal anak memang selalu jadi pikiran dan perhatian. Tak ada orang tua yang tidak terkena rumus itu,
terkecuali yang mau dikategorikan tak bertanggung jawab. Sejak awal serangan pemberitaan miring
dan tuduhan-tuduhan yang menyangkut kasus hokum, anak-anak saya pelan-pelan melakukan
adaptasi. Adaptasi yang dipaksa keadaan. Pasti anak-anak seusia Akmal, Nawal, Najih dan Najma
masih terbatas pengetahuan dan pemahamannya tentang apa yang terjadi. Pasti juga pemberitaan-
pemberitaan yang bergelombang dahsyat punya pengaruh kepada anak-anak. Yang saya syukuri
adalah anak-anak paham bapaknya berada di dunia politik yang keras dan apa yang terjadi terkait
dengan apa yang menjadi peran bapaknya. Pada saatnya kelak mereka akan memiliki kapasitas yang
cukup untuk melihat dan mencerna apa yang terjadi. Yang pasti saya merasa telh membebani anak-
anak dengan sesuatu yang tidak seharusnya dan tidak tepat waktunya. Mereka masih anak-anak untuk
menerima beban yang terlalu berat.
Hari ini Akmal, Nawal, Najih dan Najma belum bisa ketemu menjenguk saya. Sebaiknya memang
tidak usah dulu untuk sementara waktu. Alhamdulillah, mereka diwakili oleh surat masing-masing.
Surat tertutup untuk ayahnya ditahanan. Saya dengar bahkan ibunya tidak boleh mengintip apa isi
surat-surat itu. Menulis surat adalah perjuangan tersendiri buat anak-anak seusia mereka, terutama
Najih dan Najma. Akmal dan Nawal sudah lumayan kemapuannya menulis.
Akmal menulis suratnya di kertas merah. Judul depannya : SEPERTI WARNA SURAT INI, ABAH
HARUS BERANI! Isi suratnya meminta saya tetap semangat, tetap tegar, apapun yang terjadi.
Bapaknya harus punya keyakinan yang teguh atas apapun yang dilakukan orang. Kalau bapaknya
tidak apa-apa, Akmal tidak apa-apa. Akmal juga menulis bahwa suratnya adalah pengganti
kehadirannya, karena tidak bisa menemui dan menemani.
Surat Nawal agak berbeda. Di sampulnya ditulis : Kalau amplopnya sudah dibuka, tidak boleh
diterima. Karena kalau sudah terbuka berarti kurirnya yang salah. Tersenyum saya membaca tulisan
Nawal di amplop surat. Ternyata benar adanya. Surat Nawal ada di dalam amplop rangkap tiga! Isi
suratnya bagian awal menanyakan kabar. Lalu menceritakan bahwa pada tanggal 10 Januari 2014
melihat abahnya dating ke KPK. Dia menulis bahwa dia suka gaya saya ketika dating dengan
guyonan. Tetapi protes karena lama menunggu di TV. Nawal menceritakan, ia menunggu berita di TV
sambil bikin candaan singkatan KPK=Komisi Paling Kepo. Dalam suratnya Nawal juga protes kenapa
kasih hadiah tahun baru ke SBY, tetapi belum ada hadiah untuk Nawal. Sama dengan Akmal, Nawal
minta abahnya tetap semangat dan pantang menyerah, sambil terus berdoa dari Yogya.
14 Januari 2014
Hari ini Akmal, Nawal, Najih, dan Najma belum bisa ketemu menjenguk saya. Sebaiknya memang
tidak usah dulu untuk sementara waktu. Alhamdulillah, mereka diwakili oleh surat masing-masing.
Surat tertutup untuk ayahnya di tahanan. Saya dengar bahkan ibunya tidak boleh mengintip apa isi
surat-surat itu. Menulis surat adalah perjuangan tersendiri buat anak-anak seusia mereka, terutama
Najih dan Najma. Akmal dan Nawal sudah lumayan kemampuan menulisnya.
Akmal menulis suratnya di kertas merah. Judul depannya "SEPERTI WARNA SURAT INI, ABAH
HARUS BERANI!" Isi suratnya meminta saya tetap semangat, tetap tegar, apa pun yang terjadi.
Bapaknya harus punya keyakinan yang teguh atas apa pun yang dilakukan orang. Kalau bapaknya
tidak apa-apa, Akmal tidak apa-apa. Akmal juga menulis bahwa suratnya adalah pengganti
kehadirannya, karena tidak bisa menemui dan menemani.
Surat Nawal agak berbeda. Di sampulnya ditulis "Kalau amplopnya sudah dibuka, tidak boleh
diterima. Karena kalau sudah terbuka berarti kurirnya yangsalah." Tersenyum saya membaca tulisan
Nawal di amplop surat. Ternyata benar adanya. Surat Nawal ada di dalam amplop rangkap tiga! Isi
suratnya bagian awal menanyakan kabar. Lalu menceritakan bahwa pada tanggal 10 Januari 2014
melihat abahnya datang ke KPK. Dia menulis bahwa dia suka gaya saya ketika datang dengan
guyonan. Tetapi, protes karena lama menunggu di TV.
Nawal menceritakan, ia menunggu berita di TV sambil bikin candaan singkatan: KPK = Komisi
Paling Kepo. Dalam suratnya, Nawal juga protes kenapa kasih hadiah tahun baru ke SBY, tetapi
belum ada hadiah untuk Nawal. Sama dengan Akmal, Nawal minta abahnya tetap semangat dan
pantang menyerah, sambil terus berdoa dari Yogya.
Memang, ketika sampai di KPK, saya bikin kelakar ringan. Saya bilang, benar informasi yang
menyebutkan Anas tidak mau dipanggil KPK. Nama saya Anas, kok dipanggil KPK? Ya, jelas tidak
mau. Istri dan anak-anak saya memanggil Abah. Teman-teman ada yang memanggil Mas dan Cak.
Jadi, jangan dipanggil KPK, begitu canda saya. Mengapa bercanda? Karena, hal-hal yang lebih serius
sudah saya sampaikan kepada teman-teman wartawan di Durensawit, sebelum salat Jumat. Ketika
datang setelah Jumat, saya merasa tak perlu lagi bikin pernyataan serius. Tetapi, karena wartawan
sudah menunggu dari pagi dan jumlahnya sangat banyak, tak tega rasanya tidak member statement
yang bisa mereka setor ke redaktur masing-masing. Ya, sudah, bikin guyonan saja, biar ada berita
untuk teman-teman wartawan di KPK.
Mungkin Akmal dan Nawal menunggu saya lewat berita di TV sama dengan para wartawan yang
menunggu sejak pagi. Surat panggilan memang menyebut jam 10.00 pagi. Karena harus menemui
wartawan yang sudah beberapa hari menunggu di Durensawit terlebih dulu, saya baru berangkat ke
KPK setelah salat Jumat di Masjid Matraman dan makan siangdi Restoran Sederhana, Pasar Rumput,
langganan lama yang cukup lama tidak disambangi. Saya bergerak dari Pasar Rumput persis jam
13.30 dan tiba di Gedung KPK sekitar 13.45.
Lain halnya dengan Najih. Isinya singkat saja: Abah, aku akan support Abah sampai Najih
meninggal. Ditutup dengan, OK. Cuman ini yang bisa Najih tulis. Di bawah tertulis: Your Son,
Najih. Sedangkan Najma lebih singkat lagi: Abah, semoga berhasil, ya, dan tetap sehat. Dari
Najma, dengan tanda tangan. Najih kelas 5 SD dan Najma kelas 3 SD. Suratnya singkat, padat, dan
jelas.
Tetapi, Najih punya titipan spesial, yaitu sebuah bantal-guling. Sejak kecil, Najih tak bisa lepas dari
bantal-gulingnya. Guling itulah yang dibawa ke mana pun dia pergi, baik ke luar kota atau luar negeri.
Kalau tanpa guling itu, tidurnya gelisah. Guling itu sejak lama diberi nama Bambang untuk
menggambarkan kedekatan dan sudah dianggap semacam teman. Hari ini, guling itu diserahkan
kepada saya untuk menjadi teman di tahanan.
Saya membayangkan betapa berat dia melepaskan Bambang. Tetapi, hari ini, Bambang dilepaskan
dan diserahkan kepada abahnya. Sungguh saya merasa Najih telah mengorbankan apa yang
dianggapnya berharga. Saya pun bertanya-tanya, apakah nanti malam Najih bisa tidur pulas. Jangan-
jangan gelisah karena ditinggal Bambang-nya. Malah, jadi saya yang gelisah, sambil merasa bangga
bahwa Najih rela berkorban. Sudah harus menerima beban, ia masih mau merelakan teman tidur-
nya
Rabu, 15 Januari 2014
Kembali pagi ini saya bangun jam 03.30 pagi. Setelah wudu, dilanjutkan tahajud dan salat hajat,
menunggu panggilan azan subuh. Di sela-sela, saya makan tempe goreng dan minum air putih cukup
banyak. Ada niat berpuasa saja hari ini.
Selesai salat subuh dan mengaji, saya baca-baca buku dan tanpa terasa kemudian tertidur lagi. Baru
bangun sekitar jam tujuh, ketika ada pergantian petugas jaga.
Setelah mata melek sempurna, terdengar suara panggilan dari Prof Rudi Rubiandini, mengajak saya
sarapan pagi. "Sudah disiapkan, Mas," begitu katanya. Saya sempat mikir-mikir apakah ikut sarapan
pagi atau jadi berpuasa saja hari ini. Akhirnya, saya memutuskan tidak jadi berpuasa dan kemudian
sarapan berempat dengan Prof Rudi, Mas Budi, dan Kang Wawan. Sambil sarapan, kami berdiskusi
dan ngobrol ngalor-ngidul, termasuk membahas isu-isu yang dimuat media. Tadi malam, Prof Rudi
membisikan bahwa acara ILC di TV One sedang membahas tema tentang saya. Entah dari mana Prof
Rudi mendapat informasi itu. Yang jelas, memang benar adanya, acara bincang klub para pengacara
di TV One itu membahas ucapan terima kasih saya ketika keluar dari gedung KPK menuju ruang
tahanan.
Beberapa hari, Prof Rudi tengah mempersiapkan diri untuk sidang hari Kamis. Saya lihat bahannya
dipelajari dengan sungguh-sungguh, mulai dari Berita Acara Pemeriksaan (BAP) para saksi hingga
dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU) KPK. Semua BAP itu dibaca teliti oleh Prof Rudi. Diberi
tanda, mana keterangan di BAP saksi yang merugikan dan mana yang menguntungkan. Sebagai Guru
Besar ITB, persiapan yang baik agaknya telah menjadi kebiasaannya. Kesiapan akademis.
Prof Rudi bersemangat mematahkan dakwaan jaksa yang berdasarkan BAP para saksi yang sudah
dipahaminya secara baik. Bagian-bagian yang dianggap penting di-stabilo dan diberi tanda merah dan
hijau. Merah sebagai tanda merugikan dan hijau sebagai tanda menguntungkan. Pikir saya, boleh juga
cara Profesor Rudi dalam mempersiapkan diri. Kami menggoda, jangan sampai lulus terlalu baik.
Cukup Cum Laude saja. Beliau menjawab dengan tertawa, "Namanya juga ihktiar."
Beda halnya dengan Budi Santoso. Pengusaha asal Pontianak ini pada hari Kamis akan menghadapi
vonis. Kasusnya terkait dengan Djoko Susilo. Dia tampak sudah pasrah dan siap apa pun putusan
hakim. Yang dia protes adalah awalnya kasus ini sudah ditangani oleh polisi dan dirinya sudah
ditetapkan sebagai tersangka oleh Mabes Polri. Atas kebijakan dan perintah presiden kepada Kapolri,
seluruh kasus yang terkait simulator SIM harus diserahkan dan ditangani KPK. Selain itu, dia merasa
sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah ditipu 94 miliar kok malah jadi korban hukum di KPK?
Sementara, yang menipu malah berada dalam perlindungan LPSK. Persisnya saya belum pernah
mendalami kasusnya seperti apa. Yang jelas, sebagai kenalan baru, Budi sangat ramah dan mudah
bergaul. Dia juga tampak sebagai tipe yang loyal kepada kawan-kawannya. Sebagai pengusaha, dia
mengeluh atas iklim bisnis dan praktik penegakan hukum di Indonesia yang tidak pasti dan tidak adil.
Dia banyak cerita tentang kondisi dan praktik-praktik di lapangan yang mengerikan. Budi Santoso
dituntut 12 tahun dan besok menanti putusan hakim. Yang jelas, ia tampak sudah siap.
Beda, Prof Rudi, beda Budi Santoso, dan beda lagi dengan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan.
Dia baru saja ditetapkan sebagai tersangka kasus alkes di Banten bersama Atut, kakaknya. Wawan
yang tipenya lebih pendiam tidak mudah ditangkap reaksi dan sikapnya. Yang saya lihat dia juga tetap
tenang. Tidak kelihatan gusar atau marah-marah.
Sama dengan saya, Wawan juga didampingi Bang Buyung (Adnan Buyung Nasution) dan timnya
sebagai penasihat hukum. Ada juga Firman Wijaya di dalamnya. Tadi sore setelah Bang Buyung dkk
bertemu saya di Posko Rutan, Wawan berkesempatan bertemu dan konsultasi. Pasalnya, besok
Wawan akan diperiksa sebagai tersangka terkait Akil Mochtar. Tentu Wawan membutuhkan
konsultasi dan juga pengacara yang besok akan mendampinginya. Saya sendiri tadi belum banyak
bicara tentang langkah-langkah hukum dan strategi dalam menghadapi sangkaan dan nanti dakwaan
dengan para penasihat hukum. Bang Buyung baru tanya-tanya informasi seputar penahanan dan
bagaimana kondisi saya di tahanan.
Setelah saya terlepas dari isolasi, kami berempat banyak waktu untuk ngobrol dan diskusi, baik di
meja makan maupun di kamar Rudi dan Wawan. Sebagai sesama tahanan, kompak dan perasaan
senasib adalah pilihan satu satunya. Saling menyuguhkan dan bahkan saling bersih-bersih piring dan
alat alat makan setelah selesai. Pokoknya, mirip kerjaaan anak kos.
Bahkan, saya mendapat pelajaran main gaple. Profesor memberi briefing bagaimana prinsip-prinsip
permainan gaple.Ternyata, model permainannya sederhana saja sehinggga dengan cepat saya bisa
mengerti. Untuk kali pertama, saya ikut main gaple dalam gang "empat sekawan". Siapa yang kalah?
Ternyata semua berkesempatan kalah. Secanggih apa pun kemampuan mereka bertiga bermain kartu,
selalu ada ruang misteri, karena kartunya tertutup. Sehebat apa pun orang merencanakan hidupnya,
selalu ada misteri yang mengiringinya. Hidup mengandung elemen misteri sebagaimana alam
terkembang di depan mata kita.
Profesor Rudi, Wawan, Budi Santoso, dan saya adalah bagian dari kekayaan Tuhan tentang misteri
hidup itu. Begitu pula yang lain. Semua perjalanan hidup dipandu oleh dinamika antara rencana
manusia dan misteri yang dikirim Tuhan. Hidup yang sesungguhnya adalah hari ini. Yang kemarin
sudah menjadi sejarah, tak bisa diubah. Besok belum terjadi. Apa yang akan terjadi besok, kita tak
pernah tahu. Definisi terkini tentang hidup adalah apa yang kita jalani hari ini. Hanya itu. Selebihnya
adalah rencana-rencana dan ikhtiar-ikhtiar yang akan bertemu dengan garis batas ketentuan dan takdir
Tuhan.
Panta Rei. Semua bergerak, semua berubah. Tak ada yang kekal, tiada yang abadi. Keabadian adalah
wilayah prerogratif Tuhan. Perubahan terus-menerus adalah ruang ikhtiar yang disediakan Tuhan
untuk manusia berada di dalamnya. Di situlah kita akan bertemu kadang kala rasa manis, kadang kala
rasa getir.
Kamis, 16 Januari 2014
Hari ini adalah jadwal dijenguk keluarga. Kamis jam 10-12 adalah kesempatan bertemu wajah wajah
lain diluar kami berempat dan penjaga. Khususnya keluarga, kerabat, handai taulan dan sahabat.
Waktunya diatur ketat dan pendek. Pasti ada alasannya. Kalau mau panjang ya jangan jadi tahanan
begitu logikanya. Sama dengan ucapan Johan Budi, kalo Anas mau nyaman, ya tidur aja di hotel.
Bagi para petugas yang berkuasa di rutan makin ketat, makin tegas, makin bikin sulit tahanan dan
keluarganya, mungkin dianggap sebagai prestasi. Itu kata beberapa tahanan lama yang saya dengar.
Saya tidak peduli degan kesulitan kesulitan dan pembatasan pembatasan yang saya rasakan sebagai
tahanan. Silahkan saja dilaksanakan, meski acap kali tidak rasional.
Selesai saya tulis surat balasan untuk Akmal, Nawal, Najih dan Najma, serta surat khusus untuk
sahabat sahabat aktivis PPI, saya bersiap menuju ruang jengukan. Dalam pikiran saya pastilah banyak
keluarga dan sahabat yang akan bertemu.Ternyata yang bisa masuk hanya istri saya Tia, Mbak Dina
dan Aci.
Tiga perempuan yang lain lain terhalang di lobby KPK, menunggu ijin dari penyidik. Sampai selesai
jam 12 siang, sahabat sahabattetap tidak bisa masuk. Alasan petugas karena penyidik tidak ada di
tempat sedang ada penggeledahan. Semua ? Semua tidak ada di tempat, begitu kata petugas penjaga
rutan. Padahal tim penyidik saya ada 10 orang. Apakah info petugas itu benar, saya tidak bisa
mengkonfirmasi.
Tapi, ya sudahlah. Sebagai tahanan kategori "tapol" saya tak dalam posisi banyak menuntut, bahkan
untuk hal hal yang biasanya diperbolehkan bagi tahanan yang lain. Itu konsekuensi biasa saja. Apalagi
teman teman diluar terus melakukan usaha usaha untuk menjelaskan kepada public tentang apa yang
terjadi. Meskipun itu inisiatif mandiri mereka, tetap saja akan dikaitkan dengan saya.
Wajar kalo ada persepsi bahwa itu atas perintah atau koordinasi dengan saya, walau kenyataannya
tidak. Teman teman adalah orang orang yang merdeka dalam berpikir dan menyikapi perkembangan
sesuai dengan informasi, pengetahuan dan pemahaman mereka. Mereka punya indera social, politik,
dan hukum untuk dapat mencerna apa yang terjadi dan bagaimana memberikan respons.
Agar ada komunikasi, saya menulis surat pendek untuk teman teman yang dilarang masuk, seperti
Saan Mustopa, Sudewo, Andy Soebjakto, Nur Iswan, Tridianto, Aidul Fitri dan yang lain lain.
Beberapa di antara mereka sudah dating dua atau tiga kali untuk menjenguk, tetapi nasibnya belum
cocok. Surat saya isinya sederhana : permohonan maaf, saran untuk bersabar dan informasi bahwa
nama mereka sudah ada dalam daftar yang saya serahkan kepada penyidik, baik langsung maupun
melalui penasihat hukum. Surat saya titipkan kepada Tia. Minimal ada komunikasi, meskipun hanya
baca tulisan pendek.
Dari keluarga, selain dapat kiriman logistic, baju baju ganti dan beberapa peralatan lain, saya dapat
banyak titipan bacaan, doa, amalan untuk memperkuat jalur spiritual. Spiritualitas adalah kekuatan
dan jalur yang tak terbantahkan. Hal ini memang transenden, tetapi saya yakini nyata.
KUMPULAN BERITA TENTANG ANAS URBANINGRUM
PASCA DITANGKAP KPK
Sikap Santai dan Ketenangan Seorang Anas
Urbaningrum; Sepenggal Cerita Menuju KPK
REP | 12 January 2014 | 06:09 Dibaca: 347 Komentar: 6 2
Anas Urbaningrum, sosok yang tetap tenang dan santai dalam menghadapi ujian hukum
berbau politik ala KPK dengan sang sutradara Cikeas cs dan Sengkuni cs. Tulisan di bawah
ini disarikan dari kultweet Gede Pasek Suardika (@G_paseksuardika) mengenai situasi
menjelang keberangkatan Anas memenuhi panggilan -yang tidak jelas- KPK hingga
penahanan Anas oleh KPK.
.Tiba di Bali untuk urus sedikit tugas di Dapil, ehh ingin juga berbagi cerita ringan-ringan
sesaat sebelum Anas ditahan KPK. Kita mulai cerita di hari H penahanan saja ya. Di angka
keramat 10-01 (alias 10 Januari) sejak pagi sampai malam. Semoga saja menarik.
Pagi rencana bincang-bincang dengan media direncanakan pukul 09.30 WIB. Tapi saya BBM
Mas Anas untuk mundur sedikit karena masih terjebak macet. Dengan santai, Anas menjawab
OK. Setiba saya di Duren Sawit, media sudah banyak. Bahkan beberapa sudah siaran live di
sana beberapa kali. Saya langsung masuk dan bertemu Anas.
Diskusi kecil terjadi. Saya kaget Anas santai dengan memakai sarung. Bahkan minta kalau
bisa duduk santai saja. Akhirnya teman-teman mengubah set tempat jumpa pers. Namun
karena sudah siap live banyak media, sulit mengubah perangkat. Akhirnya dibuatlah lesehan.
Acara jumpa pers berlangsung lancar. Meski sudah selesai, ternyata ada yang belum jelas di
awak media. Anas datang ke KPK atau tidak. Karena tampil sarungan. Lalu Anas kembali ke
kediamannya.
Usai jumpa pers, sahabat-sahabat Anas ikut bercengkrama. Sedikitpun tidak ada raut tegang
di wajah Anas. Bahkan gelak tawa, humor-humor kerap bersahutan. Menjelang waktu sholat
Jumat, Anas mengatakan mau berangkat sendiri saja ke KPK. Semua teman-teman tidak
diperkenankan ikut. Saya sendiri saja, kata Anas. Saya pun memberikan saran. Jangan
sendiri sekali. Kalau ada apa-apa biar ada saksi. Ini kan bukan urusan kecil. Atas saran itu,
Anas bersedia. Syaratnya ada, saat di KPK dia mau jalan sendiri. Saya hari ini akan hadapi
sendiri karena saya juga akan di tahan sendiri, kata Anas.
Ada humor juga. Dari pada berkoar berani jujur hebat tapi serahin BB saja takut, mending
diam tapi datang sendiri, kata Anas. Saya pun tertawa paham siapa yang di sindir. Untuk
tidak diketahui awak media, saya pun meminta beberapa teman PPI memberikan beberapa
keterangan pers ke media, sementara saya naik kijang bersamanya.
Setelah di jalan, Anas berbintang dengan Yunianto (Masteng) dimana sholat Jumat. Ada dua
masjid di timbang. Ahh yang di Menteng saja, biar Bli bisa ngopi-ngopi. Sebuah pikiran
sederhana, tapi pesan toleransi yang kuat. Sayangnya jalan macet.
Akhirnya untuk mengejar adzan, pilih masjid terdekat yang pas lewat. Saya pun tidak tahu
nama masjidnya, tapi dekat lokasi ada taman. Saya pun menunggu di taman sambil BBM-an.
Semua telepon yang masuk tidak saya angkat.
Usai sholat Jumat, kita kembali ke mobil. Saya kagum melihat Anas, begitu banyak yang
bersalaman dengan penuh hormat. Ini anomali sosial. Seorang tersangka korupsi yang di nilai
penyakit masyarakat tetapi masyarakat malah memandang sebaliknya. Suara rakyat suara
Tuhan. Itu pikir saya. Sambil berjalan, saya ingin sekali menghiburnya. Tapi melihat
wajahnya yang tenang santai bahkan sering guyon, membuat saya bingung sendiri. Tiba-tiba
Anas minta makan dulu. Kita pun makan masukan Padang tidak jauh dari Manggarai.
Ada yang lucu saat makan. Televisi yang di stel di rumah makan itu menayangkan acara
persiapan keamanan yang begitu ketat. Konon sampai 560 personel. Mereka berbaris. Lho
yang mau dijaga masih santai makan disini, celetuk seorang pengunjung sambil memandang
Anas. Anas pun terpingkal-pingkal tertawa. Kita makan dulu, he.. he.. he.. Tapi kasihan juga
bapak polisi harus sebanyak itu, sahut Anas.
Suasana seram di KPK, tapi penuh humor di rumah makan. Usai makan, kita pun lanjut
berangkat menuju KPK. Sampai di KPK, kembali Anas ingatkan, Biarkan saya masuk
sendiri. Nanti belakangan saja nyusulnya. Setelah sapa wartawan, Anas masuk. Kami pun
bergegas menyusul masuk. Dan setelah masuk, kami pun duduk santai menunggu.
Singkat cerita, Anas di tahan. Kita pun paham. Persiapan sudah dilakukan. Sebelum menuju
keluar, saya minta izin bertemu Anas untuk mengetahui ada pesan apa untuk keluarga. Saya
pun masuk sejenak dengan Dandy Setiawan.
Saya lihat sudah pakai rompi KPK sambil membawa map. Sedikit pun tidak ada raut pucat.
Hanya lelah saja. Mas tetap teguh dan tabah, kata saya. Biasa saja. Ini kan sudah kita tahu.
Kita hadapi. Kebenaran pasti menang, sahutnya.
Ada beberapa pesan untuk keluarga, tapi yang banyak untuk PPI. PPI terus jalankan. Yang
jadwal pelantikan jalankan saja. Bli nanti jumpa pers saja. Setelah itu Anas bersama
penyidik keluar dan ratusan awak media sudah menyambutnya. Suasana sangat hiruk-pikuk.
Saya tidak tahu apa yang akan dikatakan. Setelah sedikit berkomentar Anas di giring ke
mobil. Suasana hiruk-pikuk. Pagar pembatas KPK sebelah kanan jebol.
Disaat berjalan tiba-tiba, plok!! Kepala Anas terkena pecahkan telur. Saya pun terkena.
Untung ada wartawan yang tahu pelakunya dan langsung di dorong dekat saya. Saya pun
pegang pelakunya. Beberapa bogem mentah mendarat di wajahnya. Polisi pun segera
amankan. Tapi akhirnya saya tidak bisa lagi mengikuti Anas ke tahanan. Opera khas KPK itu
memag lucu. Setelah diperiksa sebenarnya bisa langsung di tahan tanpa harus ada babak
panggung terbuka itu. Saya menyesalkan
Demikian sepenggal cerita menjelang penahanan Anas oleh KPK. (Sumber
@G_paseksuardika)
http://politik.kompasiana.com/2014/01/12/sikap-santai-dan-ketenangan-seorang-anas-urbaningrum-
sepenggal-cerita-menuju-kpk-625864.html
Anas Urbaningrum Dilarang Menulis Catatan
Harian
OPINI | 21 February 2014 | 16:03 Dibaca: 557 Komentar: 12 5
Pada hari Rabu, 19 Februari 2014 sekitar pukul 10 pagi, sebuah tulisan yang berjudul
Buku Harian Anas Urbaningrum; 10 Januari 2014 yang berasal dari tulisan Anas selama
berada di tahanan KPK yang kami simpan dalam draft akun kompasiana ini tidak sengaja
terposting. Awalnya draft tulisan tersebut akan dibagikan kepada sahabat-sahabat Anas. Sejak
ditersangkakan oleh KPK pada 22 Februari 2013 dan ditahan pada 10 Januari 2014, Anas
memang rajin menulis dan membaca buku yang dibawakan oleh sahabat-sahabatnya, sebuah
pertapaan produktif. Setiap hari-hari yang dilalui Anas dalam tahanan KPK, dituliskannya
dalam sebuah catatan harian yang pada kemudian hari kumpulan catatan harian Anas tersebut
akan dibukukan. Beberapa tulisan ringan Anas selama ditahanan KPK sudah dipublish
melalui beberapa media sosial, seperti akun twitter @anasurbaningrum, yang kini
menggunakan admin yang bertugas untuk memposting tulisan-tulisan Anas ke dalam akun
twitternya.
Mengenai tulisan Buku Harian Anas Urbaningrum; 10 Januari 2014 memang
sengaja langsung kami hapus, karena beberapa hal. Terlebih semenjak catatan harian tersebut
terbit pula di salah satu media online, kini ruang gerak Anas untuk menulis dibatasi oleh
KPK. Tulisan Anas harus diserahkan dulu ke penyidik KPK untuk dibaca terlebih dahulu.
Ruang tahanan Anas dipindahkan. Penjagaan terhadap Anas diperketat. Para penjaga Anas
dari rumah tahanan Guntur, eks tentara diganti. Para sahabat dan keluarga yang ingin
menjenguk dibatasi. Atas beberapa alasan tersebut, tulisan Anas yang sempat terposting
langsung kami hapus.
Sedari awal, memang Anas menjadi, kami menyebutnya- tahanan politik spesial
KPK. Perlakuan yang diberikan kepada Anas harus berbeda dibandingkan tahanan KPK
lainnya. Mungkin ada yang merasa terganggu dengan catatan harian Anas, sehingga
membuat KPK langsung bereaksi keras, Anas Urbaningrum dilarang menulis kembali..!!
Penjagaan terhadap Anas harus diperketat..!! Padahal Anas hanya menulis hal-hal yang
ringan saja.
Lepas dari itu semua, pembukuan catatan harian Anas akan tetap dilakukan, walau
dalam keadaan sesempit apapun. Jika sesuai rencana, buku tersebut akan diterbitkan bulan
Maret. Kumpulan catatan harian Anas sudah terkumpul 50 halaman selama 20 hari Anas
berada ditahanan KPK.
Anas dan kami yakin betul, bahwa ketika kita berjuang tentang kebenaran dan
keadilan, kebenaran itu akan menang. Ini adalah salah satu ikhtiar Anas dalam membuka
lembaran-lembaran selanjutnya dalam keyakinan untuk menemukan kebenaran dan keadilan.
Memperjuangkan keyakinan tidak bersalah di medan yang berat adalah tantangan
tersendiri. Apalagi di KPK, lembaga yang dianggap selalu benar dan hampir tanpa kritik,
karena kritik kepada KPK dianggap sebagai pro-koruptor, begitulah kata Anas dalam
catatan hariannya. (@sahabat_anas)
http://politik.kompasiana.com/2014/02/21/anas-urbaningrum-di-larang-menulis-catatan-harian-
634751.html
Hari Ke-43 Anas Urbaningrum Menjadi Tahanan
Politik
HL | 22 February 2014 | 10:47 Dibaca: 1113 Komentar: 56 8
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Kemarin, 21 Februari 2014 Anas Urbaningrum sudah menjalani hari ke 43 sebagai
tahanan politik sejak ditahan oleh KPK pada 10 Januari 2014 lalu. Sebagian hari-hari Anas
dilewati dengan menulis dan membaca buku. Namun rutinitas menulis Anas agaknya saat ini
akan sulit dilakukan karena dilarang oleh KPK. Entah apa alasan KPK melarang Anas
menulis? Kamis, 20 Februari 2014, Anas kembali mendapat kunjungan dari sahabat-
sahabatnya. Kini giliran Misbakhun (politisi Partai Golkar) dan Yudi Latif (Pengamat Politik)
yang berkesempatan menjenguk, dan tidak ketinggalan, Gede Pasek Suardika yang selalu
rajin menjenguk Anas. Misbakhun mengatakan bahwa pemenjaraan Anas adalah sebuah
bentuk kedzaliman.
Hari itu menjadi sedikit menarik karena sebelumnya catatan harian Anas
Urbaningrum selama ditahanan sempat bocor disalah satu media online. Gede Pasek
menjelaskan bahwa selama berada di tahanan, Anas sibuk membaca dan menulis. Hasil
tulisannya itu kemudian disampaikan Anas kepada sahabat atau keluarganya yang
menjenguk. Nantinya kumpulan tulisan-tulisan tersebut akan dibukukan. Ada tim khusus
yang mengurus pembukuan tersebut. Catatan harian Anas Urbaningrum yang bocor dimedia
online tanggal 10-12 Februari 2013 itu baru pembuka saja.
Pada pukul 10.30 pagi kemarin Anas kembali menjalani pemeriksaan di KPK.
Padahal melalui kuasa hukumnya, Firman Wijaya, Anas meminta penundaan pemeriksaan
karena masih sakit gigi. Sakit yang sudah dirasa oleh Anas sejak 2 minggu yang lalu dan baru
diperbolehkan berobat oleh KPK pada beberapa waktu lalu. Namun KPK tetap menjadwalkan
pemerikasaan terhadap Anas, hasilnya Anas tidak bisa memberikan keterangan karena
memang gigi kanannya masih sakit. Rencananya Anas akan dimintai keterangan oleh
penyidik KPK terkait kasus gratifikasi proyek Hambalang dan pengadaan laboratorium
kesehatan di Universitas Airlangga, sesuatu yang Anas tidak tahu sama sekali. Kasus yang
mengada-ngada dan sangat dipaksakan.
Anas masih akan menjalani hari-hari yang panjang sebagai tahanan politik. Kita
masih tidak tahu apakah rutinitas menulis Anas masih akan dijalankan, karena panjagaan
terhadap Anas kini diperketat oleh KPK. Namanya juga tahanan politik, begitulah.
Terus berjuang dalam mencari kebenaran yang kau dan kami yakini, Sahabat.
Saling menghidupi, saling menumbuhkan, saling menguatkan. Salam, Sahabat Anas
Urbaningrum. (@sahabat_anas)
http://politik.kompasiana.com/2014/02/22/hari-ke-43-anas-urbaningrum-menjadi-tahanan-politik-
634873.html
Kilas Balik Perjalanan Penzaliman Terhadap Anas
Urbaningrum; 22 Februari 2013 22 Februari
2014
REP | 23 February 2014 | 15:55 Dibaca: 529 Komentar: 13 1
Tepat tanggal 22 Februari tahun lalu, Anas Urbaningrum resmi ditetapkan sebagai tersangka
kasus gratifikasi proyek Hambalang. Proses dan penanganan kasus Anas ini cukup menarik
dan menyita perhatian publik dan media selama satu tahun ini. Nuansa politik sangat kental
menyelimuti proses hukum Anas. Banyak kejanggalan dan keistimewaan tersendiri yang
diberikan terhadap Anas, anak yang tidak diinginkan lahir oleh SBY sebagai empunya
Partai Demokrat. Perjalanan karir politik Anas dikebiri oleh penguasa hanya karena Anas
tidak patuh terhadap Cikeas, karena Anas hanya patuh terhadap sesuatu yang dia yakini
kebenarannya. Berikut kilas balik perjalanan penzaliman terhadap Anas Urbaningrum.
1. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC); Survei Pesanan (?)
Dalam hasil survey SMRC yang dirilis pada Minggu, 03 Februari 2013 dengan tajuk
Kinerja Pemerintah dan Partai, Tren Anomali 2012-2013 disebutkan bahwa
elektabilitas Partai Demokrat berada pada angka 8,3 persen. Situasi ini
dimanfaatkan oleh para gerombolan sengkuni untuk mendesak agar Anas
Urbaningrum bertanggung jawab dan mundur dari jabatan Ketua Umum Partai
Demokrat. Sebuah penyikapan yang tidak bijak terhadap suatu hasil survei.
Seharusnya seluruh elemen Partai Demokrat menyikapinya dengan kerja keras
untuk menaikkan kembali angka elektabilitas Partai Demokrat. Ternyata setelah satu
tahun berlalu, elekabilitas Partai Demokrat yang saat ini pimpin oleh Susilo
Bambang Yudhoyono sebagai Ketua Umum dan Syarief Hasan sebagai Ketua
Harian tidak kunjung naik. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dirilis
pada Minggu, 02 Februari 2014 elektabilitas Partai Demokrat berada dilevel
terendah, 4,7 persen. Kali ini para gerombolan sengkuni bungkam. Tidak ada
desakan agar Ketua Umum bertanggung jawab dan mundur akibat elektabilitas
partai yang semakin merosot tajam.
2. Pidato Presiden dari Mekah; Intervensi terhadap KPK
Menanggapi hasil survey SMRC, Presiden SBY menggelar konferensi pers kepada
masyarakat Indonesia yang disiarkan langsung oleh media-media televisi di
Indonesia pada Senin, 04 Februari 2013.
Sejak kemarin malam dan sepanjang hari ini, saya terima banyak berita dari tanah
air sesuai rilis survei tentang keadaan parpol dilihat dari sisi dukungan publik saat
ini. Yang jadi perhatian adalah merosotnya angka untuk Partai Demokrat. Padahal,
dalam Pemilu 2009 lalu, PD masih mendapat 21 persen suara. Atas hasil ini, terus
terang beberapa kader mangatakan SOS, sudah berada dalam lampu merah. Ada
yang mengatakan ada kesan mengapa kasus ini tidak kunjung selesai, seakan
diulur-ulur, tidak ada konklusi.
Saya yakin KPK, yang jadi andalan dalam penegakan hukum dan pemberantasan
korupsi, tidak tebang pilih. Dari tanah yang mulia ini saya mohon kepada KPK
untuk bisa segera melakukan tindakan konklusif dan tuntas terhadap apa yang
dilakukan sejumlah kader PD. Kalau memang dinyatakan salah, kita terima memang
salah. Kalau tidak salah, kita ingin tahu bahwa itu tidak salah. Termasuk dalamhal
ini Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrumyang diperiksa KPK dan
dicitrakan publik bersalah dalam kasus korupsi, meski KPK belum menjelaskan
kasus ini.
Apa yang dilakukan dan diucapkan SBY kepada KPK adalah bentuk intervensi. SBY
berusaha mengintervensi KPK agar menjadikan Anas Urbaningrum sebagai
tersangka. Jadi sungguh aneh kalau tiba-tiba sejumlah tokoh partai Demokrat
terutama Presiden SBY menimpakan kesalahan turunnya elektabilitas Partai
Demokrat hanya pada Anas Urbaningrum. Seolah-olah turunnya elektabilitas Partai
Demokrat hanya karena kasus Hambalang. Padahal ada kasus Bank Century yang
sudah lebih dulu meletus dengan kerugian negara yang jauh lebih besar.
Masyarakat akan bisa dengan mudah menerjemahkan pesan SBY itu sebagai
sebuah pesan politik agar KPK benar-benar menetapkan status Anas sebagai
tersangka. Pertanyaannya adalah persoalan hukum apa yang tengah dihadapi Anas
saat itu? Tersangka bukan, saksi bukan. Karena saat itu Anas diperiksa KPK dalam
kedudukannya sebagai terperiksa, orang yang diperiksa, dimintai keterangan dalam
dugaan satu tindak pidana. Keadaan seperti ini membuat KPK menjadi sangat
dilematis.
3. SBY Pimpin Pembenahan Partai Demokrat; Kudeta Terhadap Anas
Jumat, 08 Februari 2013 SBY menegaskan, akan memimpin langsung upaya
pembenahan internal Partai Demokrat. Dengan cara mengambil alih kendali partai
secara keseluruhan dengan mendepak Anas Urbaningrum, bisa dibilang ini adalah
praktek otoritarian dalam partai. Apalagi Anas Urbaningrum tidak diangkat oleh SBY
sebagai pemilik dan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Anas dipilih melalui
mekanisme kongres. Karena itu, bila Anas dinilai gagal memimpin partai,
seharusnya SBY mendorong digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB). Ini cara yang
lebih elegan dan demokratis dibandingkan menggunakan cara-cara militer untuk
mengkudeta Anas dari posisinya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat hanya
dengan sebuah pertemuan di kediamannya di Puri Cikeas Indah. Lebih tidak elegan
lagi langkah SBY itu dilakukan disaat Anas belum ditetapkan sebagai tersangka oleh
KPK.
Terlebih, Keputusan Majelis Tinggi Partai (MTP) telah melanggar AD/ART Partai
Demokrat, ada indikasi putusan ini bagian dari mengkerdilkan fungsi ketua umum
Partai Demokrat atau diistilahkan sebagai kudeta. Padahal dalam AD Partai
Demokrat pasal 13 ayat 5 yang mengatur jenis kebijakan strategis yang menjadi
wewenang MTP Demokrat. Dalam pasal tersebut, kebijakan strategis yang menjadi
wewenang MTP terdiri dari tujuh item. Pertama, penunjukan pasangan capres dan
cawapres. Kedua, penunjukan calon pimpinan DPR dan alat kelengkapan fraksi
Demokrat di DPR dan MPR. Ketiga, penentuan calon partai koalisi. Keempat,
penentuan caleg DPR. Kelima, penentuan cagub dan cawagub dalam pilkada.
Keenam, menyusun rancangan AD/ART serta program kerja lima tahun untuk
ditetapkan dalam kongres.
Karena tidak diatur dalam AD Partai Demorat maka, pengambilalihan yang dilakukan
oleh Majelis Tinggi Partai Demokrat telah melanggar AD/ART Partai Demokrat.
Lebih gambling mengenai Cara-cara SBY Mengkudeta Anas Urbaningrum silahkan
baca http://chirpstory.com/li/52173
4. Pakta Integritas; Upaya Menghabisi Karir Politik Anas
Minggu, 10 Februari 2013 di Puri Cikeas, SBY mengumpulkan Dewan Pimpinan
Daerah (DPD) Partai Demokrat untuk memimpin penandatanganan 10 poin Pakta
Integritas. Sebanyak 33 DPD hadir dan menandatangani Pakta Integritas dihadapan
Ketua Majelis Tinggi Partai.
Penetapan Anas sebagai tersangka sebenarnya sudah bisa dipastikan sebelum KPK
secara resmi mengumumkannya. Pidato SBY yang secara eksplisit mengambilalih
kendali Partai Demokrat dan meminta Anas fokus pada kasus hukum dugaan
korupsi yang ditangani KPK, merupakan sinyal kuat bahwa karier politik Anas akan
dihabisi.
Anas sendiri tidak hadir pada malam itu, dan baru menandatangani Pakta Integritas
pada Kamis, 14 Februari 2014 di kantor DPP Partai Demokrat.
5. Rapimnas; Petisi Pemuda Demokrat Penegak Konstitusi
Banyak yang menduga bahwa agenda Rapimnas (Rapat Pimpinan Nasional) Partai
Demokrat yang digelar pada Minggu, 17 Februari 2013 di Hotel Syahid Jakarta
didesain Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat SBY untuk melengserkan Ketua
Umum Demokrat Anas Urbaningrum dari jabatannya. Hal tersebut terlihat dari surat
undangan yang ganjil, yang seharusnya ditandatangani oleh Anas selaku Ketua
Umum dan Ibas selaku Sekretaris Jenderal. Namun ternyata undangan kepada
peserta rapimnas ditandatangi Sekretaris Majelis Tinggi Jero Wacik bersama
Sekretaris Jenderal Ibas.
Upaya SBY untuk melengserkan Anas dalam Rapimnas kandas setelah adanya
ancaman Walk Out dan beredarnya petisi Pemuda Demokrat Penegak Konstitusi.
Berikut isi petisinya:
1. Ketum ANAS URBANINGRUM adalah produk konstitusional kongres Partai
Demokrat II di Bandung yang sah.
2. Melengserkan Anas Urbaningrum dari jabatan Ketum adalah
inkonstitusional. Ketum Anas Urbaningrum hanya dapat diganti melalui
kongres sebagaimana yang termaktub dalam AD/ART Partai Demokrat.
3. Menolak dan mengutuk keras upaya-upaya yang mengarah kepada
pemaksaan KLB (Kongres Luar Biasa) yang tidak sesuai dengan AD/ART
Partai Demokrat.
4. Jika dalam rapimnas tanggal 17 Februari 2013 ada kondisi yang mengarah
pada upaya-upaya inkonstitusional, maka kami akan menyatakan walk
outdan melakukan pressure massa untuk menggagalkan acara tersebut.
5. Meminta kepada Majelis Tinggi untuk mengembalikan pelaksanaan
organisasi ke DPP.
6. Sprindik Bocor (Atau Di Bocorkan?); By Design
Bocornya Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) KPK yang menyebutkan Anas
Urbaningrum sebagai tersangka kasus korupsi merupakan permainan yang
dipertontonkan oleh KPK. Desakan SBY yang meminta agar status Anas segera
diputuskan, membuat institusi pimpinan Abraham Samad Cs itu membuat sebuah
skenario dengan memunculkan sprindik.
Abraham Samad seharusnya dapat dijerat UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) dengan ancaman penjara dua tahun penjara.
UU KIP juga memuat ancaman pidana bagi pelaku yang mengakses atau
menyebarluaskan secara tidak sah informasi yang dikecualikan atau rahasia. Dalam
Pasal 17 huruf a UU KIP disebutkan bahwa informasi publik yang dikecualikan
adalah informasi yang apabila dibuka dapat menghambat proses penegakan hukum.
Yakni, menghambat proses penyelidikan dan penyidikan suatu tindak pidana.
Dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia, baru kali ini terjadi pembocoran
sprindik. Menjadi parah, saat bocornya sprindik itu ada di KPK, lembaga penegakan
hukum yang dikagumi masyarakat. Sudah ada jual beli pengaruh, ada justice for
sale, jual beli keadilan yang terjadi dalam proses sprindik bocor tersebut.
keputusan Komite Etik KPK yang hanya memberikan sanksi kepada Ketua KPK
Abraham Samad dan stafnya Wiwin Suwandi tanpa bisa menyebutkan motif dari
pembocoran sprindik tersebut sangat disayangkan. Hal tersebut menjadi penting
karena sebelumnya ada isu berkembang luas bahwa ada perpecahan sikap diantara
pimpinan KPK terkait kasus yang menimpa Anas Urbaningrum. Bocornya sprindik
lebih dari sekedar kelalaian, dan justru merupakan kesengajaan untuk
membocorkan. Kebocoran ini seperti disengaja dan semakin menguatkan isu yang
berkembang selama ini di publik bahwa diantara pimpinan KPK ada yang tidak
setuju menjadikan Anas sebagai tersangka dan sebagai lainnya setuju. Yang tidak
setuju tentunya akan terdesak ikut menjadikan Anas tersangka.
7. Anas Tersangka; Mata Rantai Peristiwa Politik
Anas secara resmi ditersangkakan pada 22 Februari 2013, hal tersebut disampaikan
oleh juru bicara KPK, Johan Budi. Surat perintah penyidikan (Sprindik)
ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto.
Penetapan Anas sebagai tersangka sudah diduga sebelumnya. Penetapan Anas
sebagai tersangka pun merupakan mata rantai sejak Ketua Dewan Pembina SBY
menyampaikan delapan solusi penyelamatan partai, yang di dalamnya meminta
Anas fokus pada dugaan kasus hukum. Sejak menyampaikan delapan solusi
penyelamatan partai, SBY sudah mengetahui informasi kuat Anas akan ditetapkan
sebagai tersangka. Hal itu pun telah disiapkan SBY, yang berlanjut pada
penandatanganan pakta integritas. Langkah berikutnya adalah pengunduran diri
Sekretaris Jenderal Edhie Baskoro Yudhoyono alias Ibas dari keanggotaannya DPR.
Ini mata rantai, sadar atau tidak sadar.
8. Pidato Anas; Ini Baru Halaman Pertama
Sabtu, 23 Februari 2013 bertempat di kantor DPP Partai Demokrat, Anas
Urbaningrum menyampaikan pidato pengunduran diri sebagai Ketua Umum Partai
Demokrat. Pidato pengunduran diri tersebut dilakukan melalui pidato yang
disampaikan Anas tanpa menggunakan teks. Pidato tersebut pun mendapat reaksi
dan respon dari banyak pihak, baik dari politisi dan pengamat politik hingga ahli
hukum dan ahli komunikasi. Seluruh elemen yang merespon sepertinya tahu betul
dengan apa yang tersirat di balik seluruh pernyataan Anas dalam pidatonya.
Di atas segalanya, saya ingin menyatakan barangkali ada yang berpikir
bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Hari ini, saya nyatakan ini baru
permulaan. Hari ini saya nyatakan ini baru sebuah awal langkah-langkah
besar. Hari ini saya nyatakan ini baru halaman pertama. Masih banyak
halaman-halaman berikutnya yang akan kita buka dan baca
bersama. Demikian kutipan pidato Anas. Berikut pidato lengkap pengunduran diri
Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat :
http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/02/23/1/133361/Ini-Pidato-
Lengkap-Pengunduran-Diri-Anas-Urbaningrum
9. Kunjungan Sahabat; Dukungan Untuk Anas
Pasca ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, kediaman Anas di Duren Sawit ramai
oleh para sahabat yang datang untuk memberikan dukungan dan merasa prihatin
atas apa yang menimpa Anas dan menyebutnya sebagai musibah politik.
Sahabat yang datang tidak hanya sahabat-sahabat Anas di Partai Demokrat,
terhitung seperti Akbar Tandjung, Din Syamsuddin, Harry Tanoe, Mahfud MD, Shinta
Nuriyah (Istri Mantan Presiden Abdurrahman Wahid), Yenny Wahid, Priyo Budi
Santoso, Fahri Hamzah, Ahmad Yani, Syarifuddin Suding, AM Fatwa, dan sahabat-
sahabat lintas parpol, HMI, KAHMI, dan lainnya.
Anas memang istimewa walaupun telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK
tetapi ia tak henti-hentinya mendapatkan dukungan dari banyak pihak. Sesuatu yang
sangat jarang terjadi ketika seseorang baru saja ditetapkan sebagai tersangka oleh
KPK.
10. Paspor Anas disita; Istimewanya Anas
Senin, 25 Februari 2013 petugas imigrasi mendatangi rumah Anas di Duren Sawit.
Tim dari imigrasi memberikan surat permintaan paspor, dan menyita paspor Anas.
Banyak tersangka yang dicegah ke luar negeri tetapi paspornya tidak ditarik, ini tidak
lazim. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia seharusnya menjelaskan alasan
penarikan paspor Anas Urbaningrum. Penarikan paspor Anas merupakan langkah
berlebihan. penyitaan seperti itu tidak lazim dilakukan oleh Kemenkumham terhadap
seorang tersangka. meski Anas dicegah bepergian ke luar negeri namun paspornya
tidak boleh disita.
Anas sendiri merasa diistimewakan karena paspornya tidak hanya ditarik, tetapi
petugas Imigrasi bahkan harus mendatangi kediamannya untuk mengambil paspor
itu.Beda atau tidak beda buat saya sama saja. Contohnya begini, ini yang
sederhana yah, siapa yang dicekal tidak pernah paspornya dijemput di rumah. Tapi
Anas diistimewakan, apalagi Menteri Hukum dan HAM yang membawahi imigrasi
adalah Amir Syamsuddin yang merupakan Anggota Dewan Pembina Partai
Demokrat, ujar Anas.
11. KLB Partai Demokrat; KLB Versi Anas
Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang dilaksanakan pada 30 Maret 2013
di Bali mempertontonkan demokrasi yang semu. Kubu Cikeas di bawah kendali
Ketua Majelis Tinggi SBY menciptakan panggung kongres yang seolah-olah
demokratis, tetapi sebenarnya sudah dikondisikan untuk memufakati pemilihan calon
tertentu. Marzuki Alie yang kabarnya ingin mencalonkan sebagai Ketua Umum pun
langsung ditegur keras oleh SBY. Marzuki Alie sempat bermanuver dengan
mengumpulkan Ketua DPC Partai Demokrat se-Indonesia di Hotel Aston Denpasar
pada Jumat malam sekitar pukul 23.00 WITA sebelum KLB. Saya ingatkan, siapa
yang mencederai kepentingan partai hanya untuk memenuhi kepentingan pribadinya
adalah yang akan menghancurkan partai kita. Ini peringatan saya, tegas
SBY.Sungguh KLB yang penuh rekayasa dan sudah diseting sedemikian rupa. KLB
adalah dagelan politik SBY.
Partai Demokrat tidak memiliki kehendak untuk memajukan proses konsolidasi
demokrasi yang kini sedang berjalan di Indonesia. Bahkan, bukan membangun
demokrasi yang saat ini masih kurang ideal, Demokrat malah melegitimasi perilaku
politik yang sebenarnya bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi.
Terpilihnya SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat kian menegaskan bahwa
politik Indonesia tidak bisa lepas dari sistem paternalistik dan politik dinasti. Dengan
berpasangannya ayah dan anak dalam jabatan tertinggi partai Demokrat, Partai
Demokrat memperlihatkan sebuah upaya membangun sebuah partai keluarga.
Namun ternyata di Bali bukan hanya Partai Demokrat yang sedang melangsungkan
KLB. Anas Urbaningrum mempunyai KLB versi lain. Misalnya saja, Keliling Lihat
Bali, Keluyuran Luar Biasa, Keindahan Lovina Bali, Kintamani Luar Biasa, Kerajinan
Luar Biasa, Kerangnya Luar Biasa, Kuta Luar Biasa, Kawan2 Luar Biasa, Kenyang
Luar Biasa, sampai Kelapa Luar Biasa, #KLB.
Saat sedang berada di Bali, gerak-gerik Anas selalu diikuti oleh intel, entah intel
suruhan siapa dan untuk apa menginteli Anas? Tentu dengan mudah kita dapat
mengetahui suruhan siapa intel tersebut.
12. Deklarasi PPI; Bergerak!!!
Minggu, 15 September 2014, kediaman Anas Urbaningrum di Duren Sawit di sulap
menjadi Rumah Pergerakan. Anas beserta para sahabat mendeklarasikan Ormas
Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI), sebagai wadah seluruh masyarakat untuk
membangun Indonesia yang lebih baik. PPI adalah milik bersama, Anas bukan PPI,
Anas adalah bagian dari PPI. PPI adalah organisasi gerakan budaya yang akan
melahirkan ide dan gagasan dalam membangun Indonesia yang lebih baik. PPI
bukan gerakan perlawanan, PPI adalah gerakan untuk memuliakan kebudayaan
Indonesia, untuk memadukan harmoni sosial dalam kemajemukan Indonesia. PPI
akan menjadi wadah dan magnet untuk menyatukan potensi yang lahir dari anak
bangsa dalam berkontribusi untuk memberikan warna positif untuk Indonesia.
Gerakan ini adalah gerakan untuk membangun ikatan sinergi dari seluruh potensi
anak-anak bangsa yang belum terpadu dalam sebuah gerakan yang kontributif untuk
Indonesia. PPI punya mimpi dengan pendekatan kebudayaan dan harmoni, PPI
ingin memberikan warna bagi bidang kehidupan yang ada di dalam perkembangan
kemajuan negara kita. PPI tidak sekedar berpikir politik, justru PPI ini fokus untuk
memajukan dan memuliakan kebudayan nasional. Indonesia yang ber-Bhineka
Tunggal Ika.
Deklarasi PPI dihadiri oleh Prof. Mubarok, Nazaruddin Syamsuddin, Gede Pasek
Suardika, Mirwan Amir, Mulyana W Kusuma. Hadir pula Saan Mustopa. Pasca
menghadiri deklarasi PPI, Saan Mustopa dicopot dari Sekretaris Fraksi Partai
Demokrat DPR RI. Begitu pula dengan Gede Pasek Suardika, dicopot dari Ketua
Komisi III DPR RI.
Banyak kader Demokrat yang aktif di ormas lain tapi tidak pernah dipermasalahkan.
Sukar untuk tidak disebut khawatir dan galau. Bahkan sampai pada level paranoid.
Terdapat sikap paranoid atau ketakutan luar biasa dari kalangan internal Partai
Demokrat atas berdirinya ormas PPI.
13. Duren Sawit Digeledah; Banyak Kejanggalan
Selasa, 12 November 2013 KPK menggeledah rumah Athiyyah Laila (Istri Anas).
Banyak kejanggalan dan pelanggaran prosedur dari penggeledahan rumah Attiya
Laila yang dilakukan oleh KPK. Menarik, jika kita cermati ada beberapa indikasi yang
menegaskan jika KPK sangat bernafsu untuk mencari bukti untuk menjerat Anas.
Atau bahkan KPK terkesan memaksa Anas untuk bersalah dengan berbagai cara.
Pertama, apa motif KPK mengambil uang operasional PPI yang berasal dari
sumbangan anggota berjumlah Rp. 1 miliar?? KPK melakukan penggeledahan
dengan surat atas kasus Mahfud Suroso terhadap dugaan keterlibatan Attiya, bukan
atas nama PPI. Jadi cacat hukumnya menyita uang operasional PPI yang sudah
jelas asalnya dari sumbangan anggota PPI. Kedua, apa motif KPK melakukan
penggeledahan tanpa pemberitahuan, tanpa memberitahu RT dan keamanan
setempat?? RT setempat dan pihak rumah Anas mengaku belum mendapatkan
surat resmi perintah penyidikan. Publik pun harus mengetahui bahwa rumah yang
digeledah KPK adalah rumah milik PPI, bukan lagi rumah milik Attiya. Ketiga, apa
motif KPK menyita BlackBerry dan kartu kredit milik Anas Urbaningrum?? KPK
menggeledah rumah Attiyah Laila atas kasus Mahfud Suroso. Lantas mengapa BB
dan kartu kredit Anas yang disita?? KPK juga mengambil passport Attiya padahal itu
bukan kewenangan yuridis KPK, melainkan kewenangan petugas Imigrasi.
Keempat, apa motif KPK merampas surat pengunduran diri Attiya yang sudah
ditandatangani sebelum proyek Hambalang digelar?? KPK melakukan tindakan
anarkis dngn mengambil paksa dokumen pengunduran diri Attiya dari Dutasari
padahal itu bukti asli pembelaan diri. Apakah ada jaminan dokumen tersebut tidak
dihilangkan KPK mengingat banyak dokumen rahasia banyak kasus besar tiba-tiba
raib dari tangan KPK. Kelima, apa motif KPK membawa buku yasin bergambar
Anas, padahal ada dua buku yasin bersamaan di tempat yang sama yang
bergambar Ibas?? Dari kejanggalan-kejanggalan tersebut, muncul pertanyaan
besar, pertama, mengapa KPK ngotot melakukan penggeledahan rumah Anas??
padahal Mahfud Suroso sendiri sudah menjelaskan jika Anas-Attiya tidak ada
hubungannya dengan proyek Hambalang. Kedua, mengapa selama kasus
Hambalang KPK tidak mengacuhkan pernyataan dan kesaksian dari Yulianis
maupun Mindo Rossa Manulang??
14. Anas, Tokoh Paling Di Zalimi KPK Tahun 2013
Penahanan Anas bagian dari bargaining politik SBY dengan KPK. Sikap KPK yang
terus mengulur proses hukum Anas adalah bentuk penganiayaan, akhirnya politik
bermain. Timbul kesan KPK dikendalikan oleh kekuatan politik penguasa dalam
menjalankan tugasnya pokok dan fungsinya. Hanya untuk kasus gratifikasi sudah
sampai ratusan orang diperiksa, dan hasil pemeriksaan pun belum juga jelas. KPK
itu penegak hukum, pengusung keadilan. Bukan seperti Kamtib era Orde Baru, yang
digunakan untuk mematikan karir politik seseorang. Anas sudah lama menjadi
tersangka, tapi selama itu pula perkembangan kasus Anas tidak jelas padahal lebih
dari 100 saksi sudah diperiksa. KPK benar-benar menggantung masa depan dan
kehormatan Anas. KPK benar-benar kehilangan akal dan strategi untuk berkilah soal
tidak segera ditahannya Anas yang sudah 10 bulan digantung statusnya sebagai
tersangka tapi tidak dtahan. Usai Abraham Samad, kini Zulkarnaen juga
mengungkapkan alasan yang sama, yakni penahanan Anas terkendala tidak adanya
ruang tahanan. Namun, secara tersirat KPK akhirnya jujur membuka alasan bahwa
KPK takut Anas akan bebas demi hukum jika dilakukan penahanan dalam waktu
cepat. Pernyataan Zulkarnaen ini mengejutkan. Ini menunjukkan KPK sendri tidak
memiliki bukti kuat bahwa Anas terlibat dalam sangkaan gratifikasi Hambalang.
Karena bukti gratifikasi mobil Harrier kepada Anas lemah, kini KPK mmburu dosa
Anas didugaan aliran dana Kongres Partai Demokrat di Bandung. Namun anehnya,
kandidat ketua umum lainnya yakni Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng tidak dibidik
dalam kasus yang sama. Johan Budi pun tidak bisa memberikan jawaban terkait
alasan Abraham Samad yang pernah beralasan bahwa KPK belum bisa menahan
Anas karena sel penuh. Dengan ditahannnya Kajari Praya dan Ratu Atut (saat itu),
makin membuktikan kalau pernyataan Ketua KPK hanya dalih Karena diduga kuat
KPK tidak memiliki dua alat bukti cukup untuk berani menahan Anas.
15. Pemanggilan Anas; Dan Atau Proyek-Proyek Lainnya (?)
Pada Selasa, 07 Januari 2014 Anas dijadwalkan diperiksa oleh KPK terkait dengan
kasus gratifikasi proyek Hambalang dan atau proyek-proyek lainnya. Kalimat dan
atau proyek-proyek lainnya tersebut mengundang pertanyaan Anas dan tim kuasa
hukum mengenai kejelasan sangkaan apa yang dimaksud dalam kalimat dan atau
proyek-proyek lainnya. Sehingga Anas melalui tim kuasa hukumnya meminta
kejelasan kepada KPK, namun KPK enggan memberikan kejelasan dalam surat
pemanggilan tersebut. KPK malah menanggapinya dengan emosional. Seharusnya
lembaga penegak hukum tersebut tidak perlu memperlihatkan sifat emosional ketika
ada warga negara yang mempertanyakan sangkaan yang diajukan kepadanya. Hal
itu merupakan sebuah permintaan kejelasan.
Ketidakhadiran Anas itu merupakan perwujudan sebuah sikap. Anas hanya meminta
kejelasan terkait sangkaan KPK yang tidak menyebutkan secara rinci kasus apa
yang disangkakan terhadap dirinya. Karena meminta penjelasan itu dilindungi UU
Pasal 112 ayat 1 KUHAP yang menyatakan penyidik yang melakukan pemeriksaan
dengan menyebutkan alasan pemanggilan secara jelas. Perbedaan nyata
Penyelidikan dengan Penyidikan adalah soal kepastian delik dan ada tidaknya
tersangka. Kalau sudah penyidikan harus sudah jelas, tempus delictie, dolus
delictie harus jelas ketika sudah ada tersangka. Kalau kalimat proyek-proyek lainnya
maka tidak ada kejelasan peristiwa apa dan kapan.
16.Penangkapan Anas; Kado Tahun Baru Untuk SBY
Saya berterima kasih hari ini ditahan, yang tanda tangan penahanan adalah Pak
Abraham Samad, kedua terima kasih kepada penyidik yang hari ini memeriksa saya
adalah Pak Endang Tarsa dan Pak Bambang Sukoco dan terima kasih kepada tim
penyelidik dipimpin Heri Mulianto, dan lain-lain. Di atas segalanya saya berterima
kasih kepada Pak SBY, sesudah peristiwa ini punya arti, punya makna dan menjadi
hadiah tahun baru 2014, yang lain-lain nanti saja, yang saya yakin adalah ketika
kita berjuang tentang kebenaran dan keadilan, ujungnya kebenaran akan
menang, terima kasih.
Itulah kalimat yang diucapan Anas saat keluar dari gedung KPK dan resmi ditahan
oleh KPK pada Jumat, 10 Januari 2014.
Anas akhirnya memenuhi panggilan KPK, walaupun surat pemanggilan Anas masih
dinilai ganjil dengan adanya kalimat dan atau proyek-proyek lainnya. Pada Selasa,
07 Januari 2014 Anas dipanggil KPK, namun Anas urung hadir karena masukan dari
Tim Kuasa hukum Anas yang masih mempertanyakan kalimat dan atau proyek-
proyek lainnya. Tim kuasa hukum mengkritisi isi surat panggilan yang mengatakan
bahwa ada pemeriksaan terhadap proyek-proyek lain. Itu tidak jelas, kasus yang
mana? Proyek yang mana? Karena ini menyangkut kepastian hukum dan keadilan.
Orang yang dipanggil dan diperiksa didengar keterangannya harus jelas untuk
tuduhan apa. KPK harus menjaga kewibawaannya sebagai lembaga penegak
hukum yang berdasarkan hukum dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dalam buku harian Anas yang sempat bocor ke media, diketahui bahwa proyek-
proyek lain yang dimaksud misalnya proyek pembangunan gedung Biofarma,
pembangunan universitas-universitas, pembangunan gedung pajak. Sesuatu yang
Anas sendiri tidak tahu apa itu maksudnya.
17. Hari-hari Anas di Tahanan; Pertapaan Produktif
Hari-hari Anas dalam tahanan KPK, banyak dilalui untuk membaca dan menulis.
Setiap keluarga atau sahabat yang mengunjungi Anas selalu membawakan bahan
bacaan untuk Anas. Di dalam tahanan pun Anas sangat rajin menulis, suatu
kegemaran Anas yang sudah lama jarang dilakukan karena kesibukannya selama
ini. Beberapa waktu lalu tulisan Anas selama berada di dalam tahanan sempat bocor
ke media, tulisan mengenai catatan harian Anas selama ditahanan. Lepas dari
bocornya tulisan Anas ke media yang menyebabkan KPK melarang Anas untuk
menulis kembali, hari-hari Anas selama di tahanan KPK adalah suatu bentuk
pertapaan produktif. Meskipun mungkin dirasakan penahanan itu adalah hal yang
mungkin bagi sebagian orang menyulitkan, tapi bagi kaum pergerakan, penahanan
itu bagian dari pertapaan untuk menembus hal-hal yang lebih baik lagi.
Manusia bisa dipenjarakan tubuhnya, namun tidak jiwanya!!!!
Saling menghidupi, saling menumbuhkan, saling menguatkan. Sahabat Anas
Urbaningrum. (@sahabat_anas)
http://politik.kompasiana.com/2014/02/23/kilas-balik-perjalanan-penzaliman-terhadap-anas-
urbaningrum-22-februari-2013-22-februari-2014-635098.html
Kebenaran Sedang Menunjukkan Jalannya
OPINI | 26 February 2014 | 16:11 Dibaca: 414 Komentar: 4 2
Begitu istimewanya kah Anas bagi KPK? Untuk sekelas kasus gratifikasi saja harus
diturunkan belasan penyidik KPK, tak terbayang berapa puluh penyidik KPK yang
diperlukan untuk kasus seberat Century? Betapa borosnya SDM di KPK karena hanya untuk
satu tersangka saja memerlukan belasan penyidik. Begitu lemahkah kualitas penyidik SDM
penyidik KPK sehingga hanya satu pekerjaan kecil sampai diterbitkannya 3 Sprindik. Tidak
cukupkah ratusan saksi-saksi yang dipanggil KPK hanya untuk menyelesaikan kasus Anas.
Tidak cukupkah waktu satu tahun bagi KPK untuk mengungkap kasus gratifikasi, sebuah
kasus yang sangat mudah untuk membuktikannya, dimana ada orang yang memberi, sesuatu
yang diberi, dan orang yang menerima.
Upaya-upaya pemaksaan terhadap status hukum Anas semakin banyak yang terungkap, inilah
cara kebenaran menunjukkan jalannya. Menolak lupa, bagaimana Angelina Sondakh
mengalami depresi berat setelah ada oknum penegak hukum mendatanginya di Rutan Pondok
Bambu, penegak hukum tersebut meminta Angie untuk menyebut (menyeret) Anas
Urbaningrum dalam kasus Hambalang. Penegak hukum tersebut menjanjikan akan
memperingan hukuman Angie jika Angie bersedia ikut menyeret Anas. Angie berkata, ketika
ada pihak-pihak yang memaksa saya untuk menyerang, menyebut nama Anas, saya itu stress
luar biasa. Angie berprinsip, apapun sanksi yang akan diterimanya, dia tidak akan mau untuk
memfitnah seseorang, karena ini menyangkut tentang kebenaran. Hal tersebut sesuai dengan
printah Allah dalam Al-Quran, janganlah kamu memfitnah dan menzalimi orang lain,
sesungguhnya siksa Allah itu lebih berat bagi yang zalim. Rindo Rosalina Manulang,
mantan anak buah Nazaruddin pun pernah meminta Angie untuk ikut menyeret Anas. Hal
tersebut dibenarkan oleh Mindo Rosalina Manulang yang membenarkan bahwa dirinya
pernah meminta Angie untuk menyeret nama Anas dalam lingkaran kasus yang menjerat
Nazaruddin. Permintaan Mindo Rosalina Manulang itu disampaikan pada 26 April 2012 di
Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Tidak hanya Angie, Sylvia Soleha alias Bu Pur juga dipaksa oleh penyidik KPK agar
mengaku mengenal Anas. Hal tersebut disampaikan Bu Pur saat menjadi saksi Deddy
Kusdinar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan pada Selasa, 10 Desember
2013. Saya tidak pernah kenal dengan Anas Urbaningrum, tapi saat diperiksa penyidik KPK
saya dipaksa untuk kenal, ujar Bu Pur. Tidak hanya dipaksa, istri Kombes Pol Puronomo ini
juga terang-terangan menyebut penyidik KPK telah merekayasa keterangannya saat proses
penyidikan. Salah satu yang direkayasa oleh penyidik KPK adalah pengakuan bahwa dia
ditulis pernah mengurus perkembangan kontrak tahun jamak proyek Hambalang ke Sudarto,
staf Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan.
Pada, Selasa 25 Februari 2014, keadilan bagi Anas menunjukkan jalannya. Dalam sidang
lanjutan dengan terdakwa Deddy Kusdinar, mantan Kepala Biro Kemenpora membacakan
pledoi yang menerangkan terkait adanya aliran dana kepada Anas sebesar Rp. 2.2 Milyar dari
proyek Hambalang seperti yang ada dalam dakwaan JPU (Jaksa Penuntut Umum)
KPK TIDAK BENAR. Deddy menerangkan bahwa tidak pernah kenal atau bertemu dengan
Anas. Anas pun merasa bingung karena pernah dijadikan saksi terdakwa Deddy Kusdinar
pada Selasa 21 Januari 2014 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Selatan karena
Anas tidak mengenal Deddy Kusdinar.
Semakin lama, semakin jelas apa yang sebenarnya terjadi. Tuduhan terhadap Anas semakin
kabur. Tuduhan Anas menerima gratifikasi mobil Harrier dalam pembangunan proyek
Hambalang sudah hilang ditelan bumi. KPK tidak bisa membuktikan tuduhannya terhadap
Anas terkait penerimaan gratifikasi mobil Harrier. Silahkan baca :
http://politik.kompasiana.com/2013/02/16/herier-anas-urbaningrum-536162.html
http://hukum.kompasiana.com/2013/02/23/inilah-bukti-mobil-harrier-anas-bukan-gratifikasi-
537347.html
http://www.itoday.co.id/politik/harrier-anas-bukan-gratifikasi-proyek-hambalang
Semakin di buka di pengadilan, ternyata Hambalang semakin jauh dari Anas. Seperti
candaan Anas yang mengatakan bahwa jarak Hambalang ke Duren Sawit itu jauh. Sedianya
pernyataan Anas ini semakin terbuka di pengadilan. Lalu sangkaan JPU KPK dalam terdakwa
Deddy Kusdinar yang menyebut Anas menerima uang Rp. 2.2 Milyar dari proyek Hambalang
untuk Kongres Partai Demokrat di Bandung jelas-jelas dibantah oleh Deddy Kusdinar,
mantan Kepada Biro Kemenpora. Itulah mengapa KPK menggunakan frasa dan atau proyek-
proyek lainnya dalam Sprindik Anas. Yang terpenting Anas tersangka dulu, urusan Harrier
dan uang Rp. 2.2 Milyar paling-paling nanti akan lupa dengan dugaan baru. Entah kapan
akan ditemukan?
Saat ini kabarnya telah terbit sprindik baru untuk Anas, dengan No. 14b. KPK pun
menambahkan jumlah penyidik untuk ikut memburu Anas. Tim penyidik yang baru ini
dipimpin oleh Bambang Tertianto. Untuk Sprindik No. 14b dibawah kendali Bambang
Tertianto sudah disiapkan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). TPPU unik karena
berangkat dari predicate crime yang belum jelas. TPPU adalah tindak pidana lanjutan yang
artinya sebelumnya sudah ada tindak pidana tertentu sebagaimana disebutkan dalam pasal 2
UU No. 8 Tahun 2010. Artinya untuk menjerat Anas dalam TPPU, harus terbukti dahulu
bahwa Anas telah melakukan tindak pidana. Pertanyaannya tindak pidana apa yang sudah
terbukti dilakukan oleh Anas?? Memang Anas tidak istimewa. Bahkan Anas pun tidak mau
diistimewakan. Justru KPK yang mengistimewakan Anas melalui layanan primanya dengan
mengepung Anas di setiap sudut agar Anas terkena.
Teruslah berjuang Sahabat, kebenaran sedang menunjukkan jalannya
Saling menghidupi, saling menumbuhkan, saling menguatkan. Salam Sahabat Anas
Urbaningrum. (@sahabat_anas)
http://politik.kompasiana.com/2014/02/26/kebenaran-sedang-menunjukkan-jalannya-635800.html
Gede Pasek: TPPU, Sajian Istimewa KPK Untuk
Anas
OPINI | 03 March 2014 | 19:37 Dibaca: 373 Komentar: 5 1
Menarik untuk mendiskusikan tentang TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) yang saat ini
sedang ramai dan menarik untuk dibicarakan. TPPU awalnya diatur dalam UU Nomor 15
Tahun 2002, lalu UU Nomor 25 Tahun 2003 dan terakhir UU Nomor 8 Tahun 2010. Perlahan
tapi pasti TPPU semakin top. Cara penanganan TPPU memang sangat efektif dan ringkas
dalam mempercepat proses penuntasan dan penyelamatan uang negara atau uang hasil
kejahatan.
Secara umum TPPU atau money laundring adalah suatu perbuatan untuk menyembunyikan
atau menyamarkan uang atau harta hasil tindak pidana, dan fokusnya biasanya pada
kejahatan yang terorganisir dan besar, seperti narkoba, illegal logging, human trafficking,
terorisme, korupsi dan lainnya.
Ada tiga pihak yang disasar, yaitu TPPU aktif, yaitu orang yang menempatkan atau
mentransfer, mengalihkan, dan lain-lain. Kemudian TPPU pasif, yaitu orang yang menerima.
Dan terakhir TPPU penikmat, yaitu orang yang ikut menikmati. Sanksinya berat untuk TPPU,
penjara maksimal 20 tahun dengan denda maksimal 10 Miliar.
Untuk mencegah ketentuan ini disalahgunakan oleh penegak hukum, maka ada syarat
untuk penulusuran TPPU, yaitu adanya Predicate Crime atau dikenal dengan harus ada
tindak pidana lain yang mendahului dari TPPU tersebut. Artinya, basis TPPU adalah adanya
kejahatan sebagai awal adanya uang atau harta yang ilegal. Hanya saja, penegak hukum
akan lambat jika harus menunggu putusan pidana awal tuntas. Sehingga mereka diberi
wewenang, meski belum terbukti, TPPU sudah bisa jalan. Namun harus tetap jelas pidana
yang mana yang dijadikan predicate crime untuk menempatkan sebuah kasus TPPU.
Posisi predicate crime adalah prasyarat mutlak yang harus ada terlebih dahulu sebelum
TPPU, tapi predicate crime itu tidak mesti sudah putusan in kracht. Pemahaman TPPU
berbeda dengan peristiwa dimana pelaku kejahatan menikmati hasil kejahatan, atau pun
penadahan dalam KUHP. Meski mirip, tapi spirit TPPU adalah untuk kejahatan besar dan
terorganisir.
Ada beberapa kasus yang saat ini sedang ditangani KPK dengan TPPU. Misalnya kasus
saham Garuda dengan tersangka Nazaruddin. Kasus Nazaruddin tampaknya masih tari
Poco-Poco, mengingat aktingnya masih diperlukan di kasus lainnya. Lalu ada kasus Akil
Mochtar, Wawan, dan lain-lain. Hasilnya memang menakjubkan, puluhan mobil, rumah,
ruko, gedung dan lain-lain berhasil disita. Bahkan kasus Jenderal Djoko Susilo, asetnya juga
tersita sebelum kasus utama Simulator SIM. Hanya aset Nazaruddin yang masih aman
selain saham dan kebun kelapa sawit. Tapi sisanya masih bisa diselamatkan Nazaruddin
hingga kini.
Di luar itu, saat ini Anas Urbaningrum pun akan dibidik kasus TPPU oleh KPK. Hanya saja
belum jelas posisi predicate crime nya yang mana? Apakah gratifikasi Harrier yang
menjadikannya tersangka, atau uang Rp 2,21 M seperti dalam dakwaan Dedi Kusdinar?
Atau sedang dicari-cari dulu. Jadi TPPU mendahului sebelum ditemukan sangkaan
kejahatan mana dalam posisi predicate crime nya?
Ini agak unik, karena konon ada sprindik tertanggal 28 Februari 2014 untuk kasus TPPU,
tapi tidak dijelaskan predicate crimenya yang mana. Apakah korupsi Hambalang? Bio
Farma? E-KTP? PLTS? Bila itu benar, kembali Anas Urbaningrum mendapatkan sajian
istimewa. Dari kasus sprindik bocor, sprindik dengan status proyek lain-lainnya, yang
keduanya itu fenomena pertama kali dalam sejarah KPK. Kalau sekarang Anas
Urbaningrum dikenakan bonus TPPU tanpa kejelasan predicate crime, maka ini juga
menjadi kado istimewa untuk Anas Urbaningrum.
Anas Urbaningrum memang bukan tersangka yang harus diperlakukan istimewa, tapi
sejarah formal menyatakan Anas Urbaningrum itu istimewa dalam proses hukumnya. TPPU
dulu, untuk pidana asalnya bisa dicari belakangan. Bila kasus gratifikasi Harrier dijadikan
predicate crime maka TPPU itu salah sasaran. Karena mobilnya sudah disita dan tinggal
dibuktikan di pengadilan. Kalau sesuai dakwaan Dedi Kusdinar aliran uang Rp 2,21 M maka
jelas sesuai dakwaan mengalir katanya ke hotel, beli BlackBerry, entertainment, dan lain-
lain. Jadi peruntukkannya sudah bisa ditelusuri. Itu pun kalau benar. Jadi TPPU nya menjadi
lucu. Tetapi kalau di luar itu semua, maka ini jadi sejarah baru dalam penegakan hukum
pidana. Pasang TPPU dulu, baru cari tuduhan kejahatan asalnya. Kalau mau model ini
dikenakan, maka semua pejabat bisa dikenakan TPPU dulu baru dicari kejahatan asalnya.
Kalau itu dibenarkan maka negara kita tidak lagi berdasarkan negara hukum dengan
penghormatan terhadap hak asasi manusia, tapi sudah menjadi negara kekuasaan.
Kekuasaan bebas menafsirkan hukum dan bebas cara menegakkannya. Prosedur dan
aturan mengikuti keinginan, bukan keinginan yang harus tunduk pada prosedur dan aturan
yg berlaku.
Saya membayangkan, bagaimana kalau dari Presiden, Menteri, pejabat negara, Gubernur,
Bupati dan lain-lain, semua dikenakan TPPU tanpa perlu predicate crime nya, dan setelah
dikenakan TPPU, tinggal mereka semua dengan pembuktian terbalik harus membuktikan
harta-hartanya itu di dapat dari mana. Lalu siapa yang bisa kenakan TPPU semua pejabat di
KPK, lalu mereka juga harus melakuan pembuktian terbalik tanpa perlu ada predicate crime
nya. Betapa riuhnya Indonesia kalau logika itu dipakai untuk menegakkan hukum bernama
pemberantasan TPPU. Kena dulu, sangkaan belakangan, bukti belakangan.
Salam Sahabat Anas Urbaningrum, saling menghidupi, saling menumbuhkan, saling
menguatkan. (@sahabat_anas)
(Tulisan diatas berasal dari kultwit @G_paseksuardika).
http://hukum.kompasiana.com/2014/03/03/gede-pasek-tppu-sajian-istimewa-kpk-untuk-anas-
636966.html
Gede Pasek: Sikap Koruptif Kewenangan KPK
Berbasis Dendam
OPINI | 06 March 2014 | 16:07 Dibaca: 171 Komentar: 1 1
Baru usai jenguk Anas, hari pertama setelah diberi bonus Sprindik TPPU oleh KPK. Kondisi
Anas baik, meskipun ruangan penerimaannya sempit dan berbeda. Biasanya ruangan
sempit itu ada AC. Sekarang statusnya sudah mati dengan alasan kompresor rusak. Ini
menambah kisah lain soal perlakuan yang tidak sama dengan tahanan KPK lainnya yang
dialami oleh Anas.
Sejak ditahan, Anas hanya diberi kasur busa tipis, berbeda dengan tahanan yang lain, diberi
kasur matras. Anas kemarin sempat urus pemeriksaan sakit giginya, ada yang aneh juga.
Sebelumnya perlu hitungan minggu untuk baru bisa berobat, sekarang, setelah dua kali ke
RSCM diperiksa, saat diperiksa yang ketiga, pihak petugas RSCM didampingi penyidik
minta rekomendasi dari RS Polri Kramat Jati. Aneh juga, karena kan sudah diperiksa
sebelumnya disana. Alhasil berobat pun batal hanya karena birokrasi, sementara rasa sakit
tidak kenal birokrasi spesial tersebut.
Terlepas dari itu, saya sempat ngobrol mengenai pengenaan TPPU kepada Anas.
Jawabannya, Saya sudah tahu satu bulan yang lalu. Ada tahanan spesial yang kebetulan
diperiksa dan dititipkan di lantai 9. Yang bersangkutan menyampaikan kepada beberapa
tahanan disana kalau Anas pasti akan kena TPPU. Info itu pun langsung sampai ke Anas.
Yang bersangkutan, menurut Anas, menyebut dua info: 1. Soal TPPU, dan 2. Soal
perempuan. Isu soal perempuan sudah bocor terlebih dahulu ke media, sehingga belum
atau tidak jadi skenario itu keluar. (Silahkan baca: http://asatunews.com/berita-20568-
rencana-fitnah-terhadap-anas-urbaningrum-dibongkar-triomacan.html) Namun yang keluar
skenario TPPU dengan Sprindik tertanggal 28 Februari 2014. Hebat ya Bli, pengumuman
KPK kalah sama info tahanan, kata AU.
Sebagai orang yang sedikit belajar hukum, saya mencoba menanyakan mengenai
pemeriksaan Anas selama ini. Sebenarnya kasus utamanya atau kasus asalnya apa? Anas
justru menjawab, Saya justru bingung. Jadi tersangka Harrier tapi nggak ada soal itu. Ini
paling karangan yang bersangkutan yang selalu dijadikan rujukan, kata Anas dengan mimik
bingung juga. Namun ada hal yang menarik dari Anas. Silakan segera saja bawa semua ke
pengadilan secepatnya. Biar semua terang, katanya. Suasana ruangan yang panas
membuat suasana jenguk terganggu. Saya pun tidak bisa lama karena harus menghadiri
Rapat Paripurna DPR RI.
Tapi paling tidak, saya bisa melihat Anas masih tegar di pertapaannya dengan segala
keistimewaannya membuat saya bangga dan miris. Bangga karena mempunyai sahabat
masih tegar menghadapi masalah yang berat, miris karena hanya untuk meminta perlakuan
yang sama dengan tahanan yang lain saja begitu sulit. Bukan keistimewaan yang diminta
Anas, tapi persamaan. Karena selalu tidur dengan kasur busa tipis, kini gangguan sakit
pinggang mulai rutin dialami Anas. Sehingga setiap jam jenguk Mbak Tia selalu mengajak
tukang pijat keluarganya untuk ikut. Tampaknya perlu ada penjelasan resmi dari KPK,
apakah soal kecil ini memang kebijakan resmi KPK untuk membedakan fasilitas kasur bagi
tahanan, yang di depan hukum masih berstatus praduga tidak bersalah tersebut memang
dibedakan. Apalagi sudah ada pemeriksaan dokter soal masalah gangguan pinggang yang
dialami Anas.
Sebuah renungan: Kita boleh dendam, marah, benci dengan Anas, tapi janganlah semua
kewenangan yang ada digunakan untuk menyalurkan hasrat kebencian, kemarahan, dan
dendam yang ada. Karena itu sama saja dengan sikap koruptif kewenangan berbasis
dendam.
Salam Sahabat Anas Urbaningrum, saling menghidupi, saling menumbuhkan, saling
menguatkan. (@sahabat_anas)
(Tulisan diatas berasal dari kultwit @G_paseksuardika).
http://hukum.kompasiana.com/2014/03/06/gede-pasek-sikap-koruptif-kewenangan-kpk-berbasis-
dendam-637725.html
Kami Ingin Menjadi Saksi Menemani Anas
Melawan Ketidakadilan !!!
OPINI | 09 March 2014 | 10:26 Dibaca: 140 Komentar: 1 1
Sebagai teman dan sahabat dari Anas, dan sedikit mempelajari ilmu hukum, apa yang
dilakukan KPK dengan penyitaan beberapa aset di Ponpes Krapyak dengan alasan TPPU
membuat hati saya gundah. Penyitaan itu waktunya hampir bersamaan dengan saat saya
menjenguk Anas dan pamitan karena reses dan persiapan untuk menjadi calon anggota
DPD RI. Saya sebelumnya bersyukur skenario keluarnya fitnah-fitnah soal perempuan
berhasil digagalkan oleh akun twitter TrioMacan2000 sudah yang mendeteksinya. Lalu soal
rencana penyitaan Sekretariat PPI sudah kami duga, karena akan bisa mengirim dua pesan
sekali langkah. Menyita sekaligus mengganggu aktivitas PPI. Tidak masalah.
Namun atas apa yang dilakukan di Ponpes Krapyak kemarin betul-betul cara baru
menghancurkan moralitas keluarga Anas dan nama besar tokoh NU tersebut. Pola
penghancuran secara moralitas merupakan modus yang dilakukan sebelum masuk ke
persidangan sehingga peradilan opini telah memvonis sebelum sidang.
Untuk asas transparansi sesuai amanat UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang KPK, maka
menjadi kewajiban KPK untuk menjelaskan apa sebenarnya Predicate Crime atau pidana
asal yang menjadi dasar penetapan TPPU. Sebab TPPU bukan jenis pidana yang berdiri
sendiri. TPPU harus memiliki pidana asalnya. Penjelasan ini akan menjadi fair, apakah
kasus gratifikasi Harrier? Kasus aliran dana Hambalang dalam Kongres Partai Demokrat?
Kasus Bio Farma? Kasus RS di Unair? Atau kasus apa? Ini penting karena kewenangan
yang dimiliki KPK terkait TPPU masih kontroversial, serta kasus nyata yang menjadikan
Anas tersangka juga masih tidak jelas.
Apakah bisa kasus pidana asal belum jelas tetapi sudah melompat ke TPPU? Apakah hanya
karena alasan ketentuan tidak perlu menunggu pidana asal in kracht di UU tentang TPPU
menjadi dasar akrobat bebas main sita apa saja dengan alasan TPPU? Apakah mencari
kebenaran materiil dalam kasus pidana materiil boleh untuk menggunakan pidana formil
dengan cara-cara yang melanggar prinsip-prinsip dasar TPPU.
Biar fair dan memang KPK bertugas untuk menegakkan hukum dan keadilan, maka KPK
harus segera mengumumkan apa pidana asal dari pengenaan TPPU pada Anas. Apakah
sprindik dan atau proyek-proyek lainnya itu dijadikan dasar TPPU? Kalau KPK tidak mau,
tidak berani mengumumkan secara terbuka kepada rakyat dan juga kepada Anas mengenai
pidana asal yang mana, maka TPPU itu terkesan hanya langkah panik, kalap, dan tidak
rasional dalam menerapkan TPPU, dan hanya akan mengesankan KPK menjadi alat
penterjemah konflik politik semata.
Bantahlah kesan tersebut dengan bersikap fair dan terbuka. Apa pidana asal (predicate
crime) yang menjadi prasyarat mutlak pengenaan TPPU. Tidak perlu bersilat lidah karena
penyitaan sudah dilakukan. Jangan lagi arogan dengan statement seperti yang lalu, ketika
Anas bertanya apa itu dan atau proyek-proyek lainnya, lalu memberi saran untuk datang
dan bertanya kepada penyidik. Faktanya penyidik juga tidak bisa menjelaskan. Apakah
kasus tidak jelas pidana asal di TTPU ini juga nasibnya akan sama?
Keluarga besar Ponpes Krapyak yang dirintis sejak zaman perjuangan bangsa sampai
kemudian berkembang pesat itu kini menjadi taruhan nama baik, setelah KPK secara
ambisius, bernafsu menyita aset Ponpes termasuk asrama putrinya hanya karena dibeli
pada tahun 2010-2012. Seakan-akan Ponpes itu lebih kecil dari Anas. Padahal jelas Ponpes
Krapyak jauh lebih tua, lebih besar, lebih berkembang dan tentunya asetnya lebih besar dari
Anas.
Kalau selama ini KPK bebas mendegradasikan lembaga negara atas nama korupsi, maka
saya yakin ambisinya untuk mendegradasikan kekuatan kultural dan spiritual itu akan gagal.
Saya yakin inilah titik balik dan akan terjadi pembongkaran berbagai skenario busuk dibalik
kemenangan-kemenangan KPK yang dulu memang profesional, tetapi kini di tangan
generasi ketiga KPK dikelola dengan emosional dan irasional.
Saya yakin, doa para pecinta kekuatan kultural dan spiritual menjadi energi perjuangan bagi
Anas sekeluarga untuk bangkit mengembalikan jati dirinya. Banyak orang bingung, saya kok
mau tetap menemani Anas sekeluarga disaat terpuruk? Saya jawab: Saya ingin menjadi
saksi menemani Anas melawan ketidakadilan. Anas dan keluarga sekarang memang
sedang memasuki rute mendaki tebing terjal bebatuan. Berat! Tapi itu tanda kalau puncak
sudah dekat. Kebenaran pasti menang..!
Maaf..! Tampaknya bagi KPK jauh lebih bangga menyita aset di Ponpes Krapyak dari pada
menyita aset Nazaruddin yang sudah terkena TPPU sejak dua tahun lalu.
Kami temani kAU melawan!! Salam Sahabat Anas Urbaningrum, saling menghidupi, saling
menumbuhkan, saling menguatkan. (@sahabat_anas)
(Tulisan diatas berasal dari kultwit @G_paseksuardika).
http://hukum.kompasiana.com/2014/03/09/kami-ingin-menjadi-saksi-menemani-anas-melawan-
ketidakadilan--638116.html
Fakta Harrier Anas Urbaningrum
HL | 09 March 2014 | 15:46 Dibaca: 3742 Komentar: 14 0
Ilustrasi/Admin (KOMPAS.com)
Sekitar bulan Agustus-September 2009, Anas beberapa kali melontarkan pembicaraan
tentang niatnya untuk membeli sebuah mobil. Akhirnya Anas memutuskan untuk membeli
mobil Toyota Harrier secara kredit dari M. Nazaruddin, yang pada saat itu Nazaruddin
menawarkan diri untuk menalangi pembelian mobil Harrier untuk Anas.
Pada akhir Agustus 2009, Anas menyerahkan uang sebesar Rp 200 juta kepada
Nazaruddin sebagai uang muka dari Anas kepada Nazaruddin untuk pembelian mobil
Harrier tersebut. Sejumlah teman dekat Anas maupun Nazaruddin pun tahu soal serah
terima uang itu. Di sana ada Saan Mustopa, Pasha Ismayadi Sukardi dan Maimara Tando.
Belakangan Anas mengetahui bahwa Nazaruddin membeli mobil Harrier tersebut secara
tunai dari showroom dengan cek atas nama PT. Pasific Putra Metropolitan. PT. Pasific Putra
Metropolitan mengeluarkan uang dalam bentuk cash yang berasal dari brangkas
operasional sebesar Rp. 150.000.000, dan cek dengan nomor EP 677964 sebesar Rp.
520.000.000 untuk membeli mobil Harrier tersebut. Uang yang ada di rekening PT. Pasific
Putra Metropolitan bukan berasal dari Hambalang, mana mungkin itu uang Hambalang,
sedangkan proyek Hambalang baru dimulai pada Januari tahun 2011.
Mobil tersebut kemudian diambil dari kantor Nazaruddin pada 12 September 2009 oleh staf
Anas yang bernama Nurahmad. Anas sendiri tidak mengetahui bagaimana detail pembelian
sampai proses pengurusan surat.
Lalu pada Februari 2010 Anas membayar cicilan kedua sebesar Rp 75 juta kepada
Nazaruddin. Pembayaran itu disaksikan staf ahli Anas yang bernama M. Rahmad.
Namun setelah Kongres Partai Demokrat di Bandung pada Mei 2010, Anas banyak
mendapat pertanyaan dari rekan sejawat dan mendengar kabar beredar bahwa mobil
Harrier tersebut adalah pemberian dari Nazaruddin. Kemudian Anas memutuskan untuk
mengembalikan mobil Harrier tersebut kepada Nazaruddin.
Pada saat mobil dikembalikan, Nazaruddin menolak dengan alasan di rumahnya sudah
penuh mobil dan tidak ada tempat lagi untuk menyimpan mobil. Akhirnya Nazaruddin
meminta agar mobil tersebut dijual saja untuk dikembalikan mentahnya saja, dalam bentuk
uang tunai.
Pada Juli 2010 Anas meminta Nurahmad menjual mobil Harrier tersebut. Kemudian, mobil
Harrier tersebut dijual di showroom di daerah Kemayoran sebesar Rp 500 juta. Showroom
mentransfer uang hasil jual beli tersebut ke rekening Nurahmad pada 12 Juli 2010.
Selanjutnya, Nurahmad mencairkan uang itu pada 13 Juli 2010. Nurahmad kemudian
diminta oleh Anas untuk menyerahkan uang hasil penjualan mobil tersebut kepada
Nazaruddin. Setelah menghubungi Nazaruddin melalui telepon dan SMS akhirnya disepakati
bertemu di Plaza Senayan pada 17 Juli 2010. Nurahmad pergi bersama saksi bernama Yadi
dan Adromi dengan membawa uang hasil penjualan mobil Harrier tersebut sebesar Rp 500
juta dalam bentuk tunai.
Setiba di Plaza Senayan, Nazaruddin memberi kabar bahwa dirinya tidak bisa menemuinya
karena masih rapat disebuah restoran Jepang dilantai empat Plaza Senayan. Nazaruddin
kemudian mengatakan dirinya akan mengutus ajudannya yang bernama Wahyudi Utomo,
biasa dipanggil Iwan. Kemudian Iwan dan Nurahmad bertemu di food court yang berada di
lantai tiga Plaza Senayan. Atas inisiatif Nurahmad, dibuatlah tanda terima yang
ditandatangani Iwan sebagai bukti serah terima. Setelah menerima uang dari Nurahmad,
Iwan kembali menemui Nazaruddin restoran Jepang di lantai empat. Sebelum meninggalkan
Plaza Senayan, Nurahmad mengirimkan pesan pendek kepada Nazaruddin untuk
memberitahukan bahwa uang telah diberikan kepada Iwan. Nazaruddin pun menjawab
pesan pendek itu.
Setelah tiba di rumah Nazaruddin di Pejaten, Iwan membawakan bungkusan berisi uang Rp
500 juta itu dan meletakkannya di sofa dalam kamar Nazaruddin, di tempat biasa dimana
Iwan selalu meletakkan tas Nazaruddin. Iwan memastikan bahwa Nazaruddin telah
menerima uang sebesar Rp 500 juta sebagai ganti mobil Harrier milik Anas.
Esok harinya, Nurahmad kembali memastikan dengan berkirim SMS kepada Nazaruddin
untuk menanyakan perihal uang yang sudah diserahkan kepada Iwan. Melalui SMS,
Nazaruddin menyatakan bahwa uang tersebut sudah diterimanya.
Mobil Harrier yang pernah dimiliki Anas Urbaningrum itu menjadi pembicaraan penting
menyusul skandal kebocoran Sprindik KPK. Di dalam Sprindik itu disebutkan bahwa KPK
akan melakukan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi berupa penerimaan hadiah atau
janji terkait pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional di
Hambalang, Bogor, Jawa Barat yang dilakukan Anas Urbaningrum saat menjabat sebagai
anggota DPR.
Bagaimana mungkin bisa mobil Harrier disangkakan kepada Anas karena dianggap sebagai
gratifikasi proyek Hambalang? Karena pembelian mobil Harrier tersebut pada tanggal 12
September 2009, sedangkan proyek Hambalang baru dimulai awal 2011.
Anas didakwa oleh KPK karena dituduh menerima gratifikasi atau janji dalam proses
perencanaan, pelaksanaan proyek Hambalang dan proyek lain, saat Anas menjabat sebagai
Anggota DPR RI. Pembelian mobil Harrier itu tanggal 12 September 2009, dan saat itu Anas
belum menjadi anggota DPR RI. Anas dilantik menjadi anggota DPR RI pada 1 Oktober
2009.
#MenolakLupa
Saling menghidupi, saling menumbuhkan, saling menguatkan. Salam, Sahabat Anas
Urbaningrum. (@sahabat_anas)
http://hukum.kompasiana.com/2014/03/09/fakta-harrier-anas-urbaningrum-638159.html
Pernyataan Sikap PPI Mengenai Pencapresan
Jokowi
REP | 29 March 2014 | 11:12 Dibaca: 148 Komentar: 7 0
Salam Pergerakan!!
Ini adalah pernyataan sikap Pimpinan Nasional Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI)
tentang pernyataan dan komentar yang kontraproduktif mengenai pencapresan Jokowi dari
kader PPI dan akun-akun twitter dengan atribut PPI dan Anas Urbaningrum yang tidak
bertanggung jawab.
Pernyataan Sikap Pimpinan Nasional Perhimpunan Pergerakan Indonesia
Salam Pergerakan!!
1. Pimpinan Nasional PPI tidak dalam posisi menilai atau mengkritik Jokowi.
2. Semua yang menggunakan nama dan atau atribut Anas Urbaningrum dan PPI, tidak
diperbolehkan melakukan manuver atau serangan politik untuk mendelegitimasi
keberadaan Jokowi.
3. PPI belum bersikap soal pencapresan.
4. Diperintahkan kepada segenap pimpinan dan fungsionaris serta kader PPI disemua
level kepengurusan, untuk tidak memberikan komentar yang kontraproduktif soal
Jokowi.
5. Kemudian juga yang mengatasnamakan Anas Urbaningrum dan PPI dalam berbagai
ragam nama di social media atau organisasi untuk tidak memberikan komentar
negatif soal pencapresan Jokowi.
6. Sikap politik PPI maupun organ-organ yang mengatasnamakan Anas Urbaningrum
dalam bentuk apapun, menunggu hasil Rapimnas PPI yang akan digelar minggu
ketiga bulan April. Hingga keluarnya hasil Rapimnas, maka sikap politik PPI masih
netral.
7. Jika setelah pernyataan sikap ini masih ada pihak atau individu yang melakukan
tindakan di luar arahan ini, maka itu di luar koridor PPI dan Anas Urbaningrum.
Demikian pernyataan sikap dan klarifikasi dari Pimpinan Nasional PPI, harap menjadi
maklum. Salam Pergerakan!
Pimpinan Nasional PPI
Jumat, 28 Maret 2014
Mamun Murod Albarbasy
*Catatan:
- Pernyataan ini penting karena ada yang mengatasnamakan Anas Urbaningrum dan PPI
yang menyerang jokowi.
- PPI saat ini fokus untuk mendampingi Anas Urbaningrum dalam melawan Rezim yang
sedang berkuasa. Dan tidak tertarik membuka front baru terhadap pihak lain.
http://politik.kompasiana.com/2014/03/29/pernyataan-sikap-ppi-mengenai-pencapresan-jokowi-
643136.html
Nyanyian Anyeb Nazaruddin dan Kecelenya
KPK
OPINI | 20 April 2014 | 22:01 Dibaca: 180 Komentar: 0 0
Pada Selasa, 15 April 2014 Arif Rahman Hakim, Sekretaris Jenderal Komisi Pemilihan
Umum (KPU) saat Anas Urbaningrum menjadi anggota KPU tahun 2001-2005 diperiksa
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi kasus Tindak Pidana Pencucian Uang
(TPPU) Anas Urbaningrum. Arif Rahman Hakim dimintai keterangan oleh penyidik KPK
mengenai masa kerja serta penghasilan Anas saat menjabat sebagai anggota KPU tahun
2001-2005.
Menurut Gede Pasek Suardika, jika KPK tidak juga menemukan bukti TPPU Anas saat
menjabat sebagai anggota KPU, bisa jadi bidan atau rumah sakit dimana Anas lahir bisa
diperiksa juga oleh KPK. Siapa tahu saat lahir memang ada gratifikasi atau TPPU.
Lalu pada Kamis, 17 April 2014 Bupati Kutai Timur, Isran Noor juga diperiksa oleh KPK.
Isran Noor diperiksa sebagai saksi mengenai dugaan TPPU perusahaan tambang milik
Anas di Kutai Timur. Lagi-lagi nyanyian dari Nazaruddin menjadi senjata andalan KPK.
Nazaruddin pernah menyatakan bahwa Anas memiliki usaha tambang di Kutai. Dalam
pemeriksaan itu, Isran Noor menjelaskan tidak ada nama Anas Urbaningrum yang
mendapat izin tambang di sana. Maksud hati ingin membuktikan kepemilikan tambang Anas
di Kutai, KPK malah dibuat malu dan kecele berat. Hasil pemeriksaan Isran Noor juga
mengubur harapan KPK menjerat Anas melalui kasus lain di luar gratifikasi yang hingga kini
gagal dibuktikan.
Yulianis, mantan staff keuangan Nazaruddin memberikan klarifikasi terkait perusahaan
tambang tersebut melalui akun twitternya. Yulianis mengungkapkan bahwa perusahaan
tambang di Kutai tersebut sebenarnya adalah perusahaan milik Nazaruddin, karena Yulianis
sendirilah yang menyiapkan perusahaan tersebut. Perusahaan dengan nama PT. Arina Kota
Jaya adalah salah satu perusahaan dari beberapa perusahaan yang diajukan oleh
Nazaruddin untuk mendapat izin dari Isran Noor selaku Bupati Kutai Timur.
Melalui kicauan Yulianis pula diungkapkan bahwa dugaan Anas memiliki hotel di Bali itu
tidak benar. Sebenarnya hotel tersebut adalah hotel yang ingin di beli oleh Nazaruddin
melalui proses lelang. Yulianis mendaftarkan Nazaruddin untuk mengikuti lelang tersebut
atas nama PT. Permai Raya Wisata. Saat itu Yulianis bersama rekannya diberikan cek
sebesar Rp. 60 miliar sebagai jaminan dalam proses pelelangan hotel tersebut. Cek tersebut
ditandatangani oleh Oktarina Fury selaku Direktur Utama PT. Permai Raya Wisata.
Melihat posisi kasus Anas saat ini, makin jelas ini bukan tindakan penegakan hukum. Tapi
pembunuhan karir politik Anas dengan memanfaatkan penegakan hukum. Jika KPK
konsisten, seharusnya kasus gratifikasi mobil Harrier dibawa ke pengadilan dulu. Namun
karena KPK tidak yakin dengan tuduhan gratifikasi mobil Harrier, maka sekarang KPK
memburu kesalahan Anas, mencari-cari kesalahan Anas, bahkan memaksakan kesalahan
Anas, yang penting Anas kena.
Analogi penanganan kasus Anas di KPK mungkin seperti ini. Jika saat Anas di KPU ada ya
sudah itu yang dipakai, jika di perusahaan tambang yang katanya milik Anas ada ya sudah
itu yang dipakai, jika di hotel yang juga katanya milik Anas ada ya sudah hotel itu yang
menjadi target. Intinya Anas harus bersalah, karena waktu sudah mepet dan kasus Anas
harus segera dilimpahkan ke pengadilan. Mengenai pidana, peristiwa dan sangkaannya apa
yang penting ada.
Dulu gratifikasi mobil Harrier digunakan KPK sebagai alat untuk menetapkan tersangka
kepada Anas. Sekarang untuk bisa menghukum Anas, KPK masih mencari-cari alat yang
lainnya lagi. Bolehkan penegakan hukum seperti ini?
Jika sahabat pernah mengunjungi gedung KPK, sahabat pasti melihat begitu banyaknya
deretan mobil mewah hasil sitaan KPK. Tapi anehnya mobil Harrier hasil gratifikasi untuk
Anas tidak ada? Seharusnya itu disita dan dipajang di lokasi yang strategis agar sejajar
dengan ambisi para petinggi KPK untuk menghancurkan Anas. Atau jika KPK berani,
disejajarkan dengan mobil-mobil milik Nazaruddin yang hingga kini masih aman tak
tersentuh oleh KPK, walaupun Nazaruddin juga dikenai TPPU, tetapi sepertinya KPK takut
untuk menyita aset-aset Nazaruddin.
Melihat cara penyidikan KPK untuk membawa kasus Anas ke pengadilan terasa sangat
ganjil dan aneh, dan hal ini tidak ditemukan dalam kasus lainnya di KPK. Penyidikan selalu
memilah hal-hal sensitif untuk tidak diperiksa, walau itu petunjuk untuk membuat terang
peristiwa pidananya. Tetapi yang tidak jelas dan tidak sensitif langsung diburu. Ada kasus
yang sudah ada dengan petunjuknya yang kuat tapi sensitif, KPK malah sibuk bersilat
lidah, menghindari diri untuk menjalankan kewajiban mencari terang peristiwa pidana
tersebut.
Kita tunggu apa dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK di pengadilan nanti, akankah
gratifikasi mobil Harrier masih ada? Akankah aliran dana Rp 2,21 miliar ke Kongres Partai
Demokrat tahun 2010 di Bandung yang dipakai? Ataukah TPPU sejak Anas menjadi
anggota KPU? Ataukah mengenai perusahaan tambang? Ataukah terkait kepemilikan hotel
di Bali? Atau yang lainnya.
Namun mendahului hasil dakwaan Anas dipersidangan nanti, KPK sudah memastikan
bahwa hukuman untuk Anas akan lebih berat. Itu adalah salah satu statement konyol yang
dikeluarkan oleh KPK. Logika hukum yang aneh. Masuk persidangan saja belum, dakwaan
saja belum, proses pembuktian saja belum, apalagi tuntutan. Apa dasar KPK memberikan
pernyataan bahwa hukuman untuk Anas akan lebih berat? Jelas sudah, KPK sangat
emosional terhadap Anas, sehingga tidak lagi berbasis fakta hukum dalam menuntut
seseorang.
Dalam hukum acara pidana, dasar suatu tuntutan adalah dakwaan, alat bukti, sikap
terdakwa, resedivis atau bukan, pledoi dan fakta persidangan. Ini baru proses penyidikan,
KPK sudah menetapkan tuntutan yang berat untuk Anas. Penegakan hukum model apa ini?
Sudah di setting dari awal. Dakwaan belum jelas, tetapi hukuman berat sudah disiapkan.
Semakin terang dan jelas, dari proses hingga statement KPK menunjukkan bahwa Anas
memang target yang dirancang dari awal dan endingnya sudah disiapkan.
Korupsi terbesar adalah jika kekuasaan penegakan hukum pidana korupsi dilakukan dengan
cara-cara melawan hukum dan korupsi kewenangan.
Tetapi apapun itu, KPK telah sukses membunuh karir politik Anas dalam momentum
Pemilu 2014 ini. KPK telah sukses mematikan kiprah Anas di tahun politik ini. Selama 11
bulan Anas menyandang gelar tersangka, selama 4 bulan Anas ditahan KPK dengan kasus
yang semakin tidak jelas dan ditambahkan terus, menjadikan Anas dipaksa mati ketika
seharusnya bersinar.
Hebatnya lagi, Nazaruddin bebas datang ke KPK tanpa mengenakan rompi KPK, bebas
jalankan bisnis, bebas apa saja dengan syarat Nazaruddin harus bernyanyi untuk serang
Anas, tentu nyanyiannya harus sesuai dengan arahan sang sutradara. Barter yang ironis.
Terlepas dari itu semua, kematian seseorang ditentukan oleh Tuhan. Begitu juga kematian
politik Anas. Kami yakin Anas akan bangkit. Anas harus bangkit melawan upaya
mematikannya secara politik dengan perlawanan yang lebih keras, terukur, akuntabel,
faktual dan berbasis data. Anas harus tegas dan keras menyuarakan kebenaran yang
diyakini. Tuhan bersama kebenaran.
Mei nanti kasus Anas akan masuk ke persidangan. Momentum kebangkitan harus
dicanangkan. Mei adalah siklus Kebangkitan Nasional. Saatnya bangkit dan melawan
secara terbuka. Selamat berjuang sahabat. Kami hanya bisa membantu berdoa, sedikit
menganalisa dan meneriakkan keanehan dan keganjilan yang sahabat alami. Satyam Eva
Jayate, Kebenaran Pasti Menang..!! Percayalah tidak ada kekuasaan yang abadi, yang ada
hanyalah kebenaran yang abadi.
(@sahabat_anas)
http://hukum.kompasiana.com/2014/04/20/nyanyian-anyeb-nazaruddin-dan-kecelenya-kpk-
648286.html
Anas Urbaningrum Mengaku Salah
OPINI | 10 January 2014 | 13:47 Dibaca: 780 Komentar: 23 16 - KOMPASIANA
ARIEF BUDIMAN ADV
Advokat / http://advokatariefbudiman.blogspot.com / advokatariefbudiman@gmail.com /
arief_japfa@yaho.co.id / 082177759328 / Palembang
Hari ini , Jumat keramat, sekira pukul 10.00 wib (10/1/2014), Anas Urbaningrum menjawab
pertanyaan kita mengenai tanggapannya terhadap pemanggilan dirinya sebagai tersangka
dalam kasus korupsi Proyek Hambalang dan/atau proyek-proyek lainnya. (lihat di sini).
Ada beberapa catatan penting dan paling penting dari penjelasan Anas.
Catatan penting yang pertama adalah Anas tidak menghilang dalam beberapa hari ini. Ini
mejawab para sahabat wartawan yang dalam beberapa hari sudah nyangglong (menunggu,
pen) di kediamannya namun tidak berhasil menemuinya. Dijelaskan oleh Anas bahwa
dirinya memang tidak berada di Jakarta sejak Selasa dini hari karena ada kegiatan di luar
kota (Jakarta, pen), diantaranya adalah sowan silaturahim ke sahabat-
sahabat pergerakan. Anas juga sowan ke ibunya di Blitar dan kedua mertuanya, yang
menurutnya mereka adalah jimat hidup baginya.
Kedua. Anas sesungguhnya tidak mangkir. Ketidak-hadirannya menuruti saran dari Tim
Penasehat Hukumnya yang menyatakan bahwa Surat Panggilan KPK harus dipertanyakan,
kalimat dan/atau proyek-proyek lainnya adalah tidak jelas (tidak memiliki kepastuian
hukum, pen).
Ketiga, tidak benar Anas melawan KPK, yang benar adalah Anas ingin bekerja sama
degan KPK, untuk menemukan kebenaran dibutuhkan kejelasan atau kepastian.
Keempat, proses pemberian gelar tersangka terkait dinamika proses politik internal
dalam Partai Demokrat. Terkait pidato politik SBY di Jeddah. Peristiwa penting terkait
proses politik internal partai: pengambil alihan kewenangan Ketua Umum Partai dan
bocornya sprindik kpk terhadap kasus Anas.
Kelima, Anas tidak akan pernah lari. Anas pasti akan menghadapi proses hukum dan akan
bekerja sama dengan KPK. Dijelaskannya bahwa sejak ditetapkan sebagai tersangka
paspornya sudah disita oleh pihak imigrasi.
Keenam, Anas tidak perlu dijemput paksa dengan brimob bersenjata, dijelaskannya
biarlah brimob melakukan tugas lain seperti di daerah konflik atau berpotensi konflik, saya
tahu alamat KPK di Rasuna Said dan saya akan datang sendiri.
Dari penjelasan Anas ada dua catatan yang paling penting. Yang pertama adalahAnas
mengisyaratkan bahwa ada saksi atau calon saksi yang layak untuk dipanggil tetapi
seolah-olah KPK menghindari untuk memanggilnya. Siapakah yang dimaksud oleh
Anas? Apakah yang dimaksud adalah Ibas yang belakangan telah menjadi issu sentral di
media? Apakah saksi yang dimaksud juga berpotensi menjadi tersangka? (Menunggu bola
bergulir)
Catatan paling penting kedua, menurut penulis bahkan merupakan yang paling-paling
penting adalah kalimat Anas yang menyatakan tidak ada pemegang kebenaran
tunggal, tidak ada manusia yang selalu benar. Manusia itu sifat dasarnya bisa alfa
dan bisa salah. tidak boleh ada lembaga atau orang yang dinisbatkan kepadanya
selalu benar, yang selalu benar hanya Tuhan. Kalimat ini, jika mengacu pada kalimat
sebelumnya, sepertinya ditujukan kepada KPK secara kelembagaan dan kepada Abraham S
secara kepersonalan. Lebih lanjut Anas menyatakan bahwa setiap kita punya potensi
untuk salah, setiap kita juga punya potensi untuk benar. FILOSOFI DASAR ini penting
untuk kita sadari bersama. Sifat dasar bahwa manusia tempatnya alfa salah merupakan
filosofi dasar bagi Anas, apakah ini mengisyaratkan bahwa Anas juga ALFA ketika membuat
pernyataan gantung Anas di Monas. Apakah ini juga mengisyaratkan bahwa Anas telah
melakukan keSALAHan dalam Proyek Hambalang? Atau juga terhadap proyek-proyek
lainnya. (Biarkan bola bergulir).
Salam bahagia.
Inilah Surat Kaleng "Pegawai KPK" untuk Anas
Urbaningrum
Rabu, 13 November 2013 , 15:40:00 WIB
Laporan: Ade Mulyana
RMOL. Selain buku Yasin dan uang Rp 1 miliar milik Perhimpunan Pergerakan Indonesia, penyidik Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) juga menyita sepucuk surat kaleng dalam penggeledahan yang dilakukan di markas ormas yang didirikan Anas
Urbaningrum itu, kemarin.
Surat tersebut ditulis oleh seseorang yang mengaku sebagai pegawai di KPK. Dalam suratnya dia menyampaikan keprihatinan
terhadap Anas yang menjadi korban politik elit Partai Demokrat.
Surat yang disita KPK merupakan surat asli, namun beberapa anggota PPI sudah menggandakan surat itu.
Berikut isi lengkap surat kaleng itu:
Kepada yth
Bapak Anas Urbaningrum
di tempat.
Sebelumnya saya mohon maaf, dengan surat ini, dan untuk kebaikan saya, dan menjaga kerahasian ini, maaf saya
menyebut identitas saya yang sebenarnya. Saya adalah pegawai biasa di KPK.
Pak Anas yang lugu dan polos. Politik itu memang benar-benar sadis dan tidak ada hati nurani. Teman, kerabat, tidak heran
kalau itu musuh, dan lawan politik. Termasuk Pak Anas adalah korban politik dari elit petinggi-petinggi di internal sendiri.
Dibalik ini semua adalah Pak SBY dan kroninya.
Masalah bocornya sprindik, saya tersenyum, tapi hati saya terluka. Pak Anas, saya adalah pengagum Pak Anas.
Dan dibelakang Pak Anas banyak yang suport, dan kita siap mendukung perlawanan politik ini. Termasuk mahasiswa, kita
sudah mulai cerdas, agar kebenaran itu siap kita dukung.
Pak Anas, ada hal yang penting, saya informasikan. Di KPK itu ada surat pemeriksan Bendahara Demokrat Nazarudin. Di
mana BAP nya tersebut, Nazarudin melaporkan, di mana Pak SBY menerima dana untuk kampanye Pilpres 2009. Dimana,
BAP tersebut sudah ditandatangani Nazarudin. Tapi, sampai sekarang ini, tidak pernah diangkat KPK. Dan tidak diteruskan
langsung sampai sekarang. Mungkin nanti bisa saya kasih softcopynya ke Pak Anas. Mungkin ini bisa sebagai amunisi
perlawanan politik buat Bapak.
Demikian surat ini saya buat sbg bentuk pendukung dan pengagum Pak Anas. Akhir kata saya ucapkan Maju terus,
kebenaran pasti terungkap.[dem]
http://www.rmol.co/read/2013/11/13/133080/Inilah-Surat-Kaleng-Pegawai-KPK-untuk-Anas-
Urbaningrum-
Pasek: Kelak catatan Anas di sel KPK
dibukukan
Reporter : Putri Artika R | Kamis, 20 Februari 2014 16:04
Merdeka.com - Ada saja kegiatan yang dilakukan oleh mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas
Urbaningrum setelah ditahan olehKPK . Selain membaca, Anas menuliskan pengalaman hidupnya sendiri
di dalam Rutan.
Sahabat karibnya, I Gede Pasek mengatakan hasil pengalaman pribadinya itu kelak akan dibukukan.
"Iya, itu tulisan mas Anas, yang nanti akan dibukukan," ujar Pasek yang menjenguk Anas, Kamis (20/2).
Menurut Pasek, tulisan harian Anas yang kemarin di publikasikan di sebuah media online adalah baru
permulaan. Nantinya masih akan ada tulisan-tulisan Anas lagi yang akan dipublikasikan di media tersebut.
"Itu baru pembuka saja," ujar Pasek.
Pasek mengatakan, Anas menitipkan tulisan tersebut kepada istri, sahabat maupun kerabat untuk minta
dipublikasikan. Tulisan-tulisan itu sebagai penghibur Anas yang tengah menjalani proses hukum
diKPK karena menjadi tersangka kasus korupsi.
"Macam-macam, bisa lewat mbak Athiyyah, kadang lewat saya, bisa lewat pengacaranya, siapa aja yg
kebetulan dateng, tulisan selesai, dititipin. Ya biar ada hiburan, menulis itu kan bagian dari dialektika
pemikiran yang bagus," ujar Pasek.
Untuk dibuatkan buku, Pasek mengungkapkan ada tim khusus. Tim khusus itu nantinya mengumpulkan
semua tulisan Anas selama di bui.
http://www.merdeka.com/peristiwa/pasek-kelak-catatan-anas-di-sel-kpk-dibukukan.html
Dulu Cinta, Sekarang Benci
Partai Demokrat, partai yang didirikan, salah satunya oleh Pak Susilo Bambang Yudhoyono atau Pak SBY,
pernah begitu digjaya pada pemilihan umum 2009. Partai berlambang bintang mercy itu, jadi jawara dalam
rally adu raih suara. Di pemilu 2009, Demokrat berhasil mendulang 20,85 persen suara, mengalahkan
Golkar yang pada waktu itu hanya bisa meraup 14,45 persen suara. Demokrat juga berhasil
menenggelamkan PDI-P, yang hanya mendapatkan 14,03 persen suara.
Dengan raihan suara sebesar itu, partai yang kini diketuai oleh Pak SBY sendiri, mencatatkan diri di
puncak papan klasmen pesta demokrasi 2009. Sekaligus oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), ditetapkan
sebagai partai yang berhak mengangkat trofi pemilu legislatif 2009. Maka dengan dulangan suara paling
besar, Demokrat dan Pak SBY, yang kala itu masih menjadi ketua dewan pembina partai, sangat pede
untuk maju ke gelanggang pemilihan presiden atau Pilpres di tahun yang sama. Sebagai pemenang,
Demokrat pun bagai gula manis yang banyak dirubung semut. Partai-partai peserta pemilu lainnya,
terutama yang menempati posisi klasmen tengah dan yang terancam degradasi, ramai-ramai
mendekatinya. Mereka melangkah dengan pasti mendekati rumah Demokrat, mengetuk pintunya, dan
menyatakan cintanya kepada Pak SBY dan Demokrat. Mereka siap diajak koalisi.
Padahal sebelum hasil pemilu legislatif diketahui, partai-partai yang kemudian menghuni papan klasmen
tengah dan bawah, berputar-putar, melangkah kemana-mana, bertamu ke rumah-rumah besar politik,
mengetuk pintunya, seraya mengajak ngobrol tuan rumah, bagaimana bila nanti berkoalisi. Tapi, setelah
diketahui Demokrat adalah tuan rumah yang banyak mendapatkan makanan, mereka pun ramai-ramai,
adu gegas menuju halaman rumah Demokrat, mengetuk pintunya, dan tanpa basa-basi, menyatakan siap
diajak berkoalisi.
Harapan mereka, setelah berkoalisi, dan kemudian Pak SBY menang di Pilpres, lalu jadi presiden, akan
kebagian remah-remah politik di susunan kabinet menteri nanti. Padahal, sebelum semuanya pasti,
mereka kebingungan, pada siapa mereka akan bergandengan tangan. Partai Kabah, Partai Persatuan
Pembangunan (PPP), misalnya sempat merapat ke Gerindra, partai yang didirikan Pak Prabowo Subianto,
pensiunan jenderal bintang tiga yang juga pernah jadi komandan jenderalnya pasukan elit TNI-AD,
Kopassus.
Tapi, karena arah angin politik masih belum jelas, PPP juga coba mengetuk pintu Golkar dan PDI-P. Dua
partai ini, dalam pemilu sebelumnya adalah dua besar peraih suara terbanyak. Di pemilu 2004, beringin di
urutan pertama peraih suara terbanyak, dan PDI-P, di posisi dua. Di pemilu sebelumnya lagi, yakni pemilu
1999, PDI-P adalah pamuncak klasmen pemilu. Sementara Golkar adalah runner up-nya. Demokrat malah
belum ada. Baru di pemilu 2004, Demokrat pertama kali bertanding dalam kompetisi politik. Hasilnya
lumayan, meski baru lahir, tapi partai ini berhasil menembus klasmen papan tengah. Raihan
suaranya mencapai7,45 persen atau 8, 4 juta suara. Padahal saat itu, yang jadi kontestan kompetisi politik
cukup banyak, mencapai 24 partai.
Pemilu 2009, mungkin kenangan terindah yang dirasakan Partai Demokrat. Sebab pada pemilu itu,
Demokrat raihan suaranya naik berlipat-lipat dibanding 2004. Total suara yang berhasil didulang bintang
mercy itu, mencapai 21,7 juta suara atau 20,4 persen dari total suara nasional yang sah. Kenangan manis
itu, kian sempurna, setelah Pak SBY yang berpasangan dengan Pak Boediono, menang telak dalam
Pemilihan Presiden 2009. Duet Pak SBY-Boediono, berhasil mengalahkan pasangan Ibu Megawati-Pak
Prabowo dan Pak Jusuf Kalla (Pak JK)-Pak Wiranto. Raihan suara yang didapat duet Pak SBY-Pak Boed,
mencapai 73,8 juta suara atau 60,80 persen. Sementara Ibu Mega dan Pak Prabowo hanya berhasil
mendulang 32,5 juta suara atau 26,76 persen. Di urutan terakhir Pak JK dan Pak Wir, yang hanya bisa
menambang dukungan 15 jutaan pemilih atau 12,41 persen.
Tapi kemudian badai pun datang. Adalah kasus yang melilit Bendahara Umum Partai Demokrat, M
Nazaruddin yang kemudian meluluhlantakan kekuatan Partai Demokrat. Sebab, setelah Nazaruddin getol
bernyanyi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sederet putra terbaik Partai Demokrat, satu persatu
masuk penjara, seperti Mbak Angelina Sondakh, lalu Pak Andi Mallarangeng, dan terakhir Mas Anas
Urbaningrum, Ketua Umum Demokrat yang terpilih dalam kongres partai di Bandung. Mas Anas kini tak
lagi menjadi ketua umum, setelah ia mengundurkan usai ditetapkan sebagai tersangka oleh komisi anti
rasuah.
Cinta pendukung pun, kemudian perlahan menjauh. Bahkan, mereka seperti mulai menaruh benci kepada
bintang mercy. Hasil survei Charta Politika, lembaga riset yang dikomandani Mas Yunarto mencatatkan
itu. Survei Charta sendiri dilakukan pada 1-8 Maret 2014 dengan jumlah responden sebanyak 1200 orang.
Hasilnya, Partai Demokrat bukan lagi, partai yang dianggap konsisten memberantas korupsi. Iklan katakan
tidak pada korupsi, yang dulu jadi andalan bintang mercy saat menghadapi pemilu 2009, seperti hilang tak
berbekas di ingatan publik.
Sebanyak 17,6 persen responden menyatakan PDI-P, adalah partai yang paling konsisten memberantas
korupsi. Di urutan dua, Golkar dengan 11,4 persen, lalu diikuti Gerindra yang dianggap sebagai partai
paling konsisten oleh 9,5 persen responden. Baru di bawah Gerindra, adalah Partai Demokrat, yang dinilai
sebagai partai paling konsisten memerangi korupsi, hanya oleh 9,0 persen responden.
Nah, yang menarik adalah hasil sigi Charta tentang partai yang tidak disukai masyarakat alias dibenci
publik. Ternyata, Partai Demokrat, dalam survei Charta, adalah partai yang paling tak disukai masyarakat.
Partai Demokrat tak disukai oleh 17,1 persen responden. Di posisi dua, partai yang paling tak disukai
masyarakat, adalah PKS. Partai kader ini, tak disukai oleh 8,5 persen responden. Berikutnya Golkar yang
tak disukai oleh 6,6 persen responden. Sementara yang tak menyukai PDI-P, hanya 4,9 persen.
Apa yang dicatat Charta Politika, dalam surveinya,hanya menggambarkan, bahwa Demokrat yang dulu
begitu banyak didukung dan dicintai, hingga jadi jawara pemilu, kini justru menjadi partai yang paling tak
disukai masyakarat. Dulu cinta, sekarang benci, mungkin itu kalimat yang bisa mewakili kondisi Demokrat
saat ini.
http://politik.kompasiana.com/2014/04/08/dulu-cinta-sekarang-benci-646028.html
Beda Catatan Anas dan Andi Mallarangeng
HL | 23 February 2014 | 13:14 Dibaca: 1511 Komentar: 46 24
Barusan selesai saya baca catatan harian Anas Urbaningrum yang
ditayangkanasatunews.com. Dari sini tergambar kecerdasan sosial seorang Anas, salah
satunya terlihat dari kecepatan dan keakuratan Anas mengingat nama-nama orang yang
baru pertama kali dikenalnya baik di KPK maupun di Rutan Guntur.
Sayang sekali, tulisan Anas tersebut berakibat fatal. Nama-nama pegawai KPK yang
disebut-sebut Anas dikabarkan dimutasi oleh KPK ke tempat lain. Kemudian Anas diisolasi
ke ruang tahanan lain dengan pembatasan kebebasan menulis seperti sebelumnya.
Membaca catatan harian Anas tersebut, mau tak mau pikiran saya melayang pada catatan
Andi Mallarangeng di kolom Analisis Viva.co.id, juga ditulis dari tahanan KPK. Rupanya,
Andi produktif menulis. Tulisan tangan tentu saja. Berhubung tahanan dilarang pegang
laptop, telepon genggam, atau iPad. Tulisan tangan tersebut diserahkan ke
redaksi Vivanews kemudian diterbitkan setiap hari Rabu.
Sudah barang tentu catatan Andi dan Anas berbeda pada pokok dan rinciannya. Tetapi
yang paling saya ingat dari sisi perbedaan itu adalah, Andi sama sekali tak pernah
menyinggung-nyinggung kasusnya dalam seri tulisannya tersebut, yang kebetulan telah
saya baca di Vivanews. Apa belum? Entahlah.
Andi malah menuliskan hal-hal yang sama sekali tak terkait dengan kasusnya, seperti karya
John Lenon; Karl Mark; buku Inferno karya Dan Brown dan matematika populasi Thomas
Malthus; budaya nrimo dalam kultur Jawa; mata uang digital (Bitcoin); pentingnya diaspora
Indonesia di luar negeri; liburan dua minggu Obama di Hawai, yang dikaitkan dengan SBY
(dan presiden-presiden Indonesia lainnya) yang sama sekali tak pernah terlihat liburan
berminggu-minggu seperti Obama; virus Presiden; hubungan bentuk negara dan krisis
ekonomi dan politik; menjadikan dunia sebagai surga dengan demokrasi; dll.
Secara umum, tulisan-tulisan Andi tersebut terlihat apik, segar, dan sangat menyenangkan
untuk dibaca. Tergambar keluasan minat dan pengetahuan seorang Andi. Saking
menariknya, saya sampai nonstop membacanya hingga tuntas semua artikel. Selesai
membaca, dengan sendirinya, timbul simpati pada seorang Andi Mallarangeng. Beda sekali
saat membaca tulisan-tulisan Anas.
Kemudian saya menduga-duga mengapa Andi tak membahas kasusnya. Mungkin karena
Andi paham proporsionalitas pembelaan kasus hukum, yakni di pengadilan, bukan di media
massa. Andi tak perlu menggalang opini publik untuk mendukungnya, mengasihani diri,
meratap, dst. Andi seolah tak kawatir dengan kasusnya.
Jauh berbeda dengan seorang Anas Urbaningrum. Jreng! Dalam catatan hariannya, di hari
pertama ia ditahan, tanggal 10 Januari 2014, terbentang narasi Anas membahas kasusnya.
Dengan gamblang Anas menyerang karakter Ketua KPK Abraham Samad.
Abraham adalah calon komisioner KPK yang menjelang fit & proper test di DPR datang ke
Durensawit (kediaman Anas, pen.), tengah malam, untuk meminta dukungan. Abraham
datang diantar Salahuddin Alam, teman saya di Partai Demokrat asal Sulawesi, tulis Anas.
Malam itu, tanpa saya minta, Abraham menyampaikan komitmen untuk saling dukung dan
saling menjaga sebagai sesama anak muda. Ternyata, di dalam proses saya menjadi
tersangka terdapat peran serius Abraham, yang bahkan menyampaikan harus pakai cara
kekerasan. Istilah yang dipakai adalah pakai kekerasan dikit. Tentu saja dalam kalimat itu
terkandung makna memaksa atau pemaksaan atau keharusan. Entah maksudnya memaksa
dari segi waktu atau dari segi substansi perkara yang disangkakan, lanjut Anas.
Anas juga menyorot sprindik ganda yang dikeluarkan KPK. Selain juga membahas frase
dan atau proyek-proyek lainnya dalam surat panggilan yang dilayangkan KPK pada
dirinya. Diceritakannya, bagaimana proses tanya-jawab dirinya dengan penyidik KPK soal
frase dan atau proyek-proyek lainnya tersebut.
Bayangkan, berani-beraninya Anas membangun narasi yang menyerang dan
mendelegitimasi KPK, disaat ia sedang ditahan oleh KPK. Seolah KPK bukan menegakkan
hukum, bukan menjalankan undang-undang, melainkan sedang memerangi Anas dengan
penuh sentimen pribadi. Sudah pasti KPK bereaksi keras.
Terlihat, Anas begitu ceroboh dan amatiran. Apakah Anas tak terpikir bahwa saat ini ia
sedang ditahan oleh KPK? Mengapa gagah-gagahan menjelek-jelekkan KPK. Kabarnya,
tulisan Anas tersebut akan dibukukan sekitar Maret 2014 initetap saja hal demikian
ceroboh karena berarti Anas masih dalam kewenangan KPK.
Banyak sekali blunder tak perlu yang dilakukan Anas. Dari sesumbar siap digantung di
Monas sampai mendelegitimasi KPK dengan tulisan-tulisannya. Jualan Anas tersebut
segera dibeli oleh KPK. Dalam meniti jalan; mata Anas seolah tertutup sehingga ia masuk
lobang berkali-kali.
Blunder terbarunya adalah mengkampanyekan diri sebagai tapol (tahanan politik). Benar-
benar mengherankantapol apanya?! Kan sudah jelas tahanan kasus korupsi di KPK kok
dibilang tapol. Seorang kawan diskusi teriak pret! menanggapi kampanye tapol itu.
(Sutomo Paguci)
http://hukum.kompasiana.com/2014/02/23/beda-catatan-anas-dan-andi-mallarangeng-635073.html
SBY Memakan Anaknya?
OPINI | 02 March 2013 | 18:53 Dibaca: 1531 Komentar: 0 2
Samdy Saragih
Dalam acara paling bergengsi Indonesia Lawyers Club tiga minggu lalu, artis Anwar Fuadi
mengatakan bahwa SBY mempunyai tiga anak kandung. Para hadirin terdiam menunggu
kehebohan yang barangkali ingin diungkapkan Anwar. Anak pertama adalah Agus
Harimurti, anak kedua Ibas, dan anak ketiga adalah Partai Demokrat, kata salah satu
pendiri Partai Demokrat ini. Turun tangannya SBY yang mengambil alih wewenang Anas
Urbaningrum, kata Anwar, adalah bentuk kecintaannya kepada Demokrat.
Jauh sebelumnya, sudah muncul kabar burung yang mengatakan bahwa SBY tidak berani
sama Anas karena yang bersangkutan punya senjata yang ditakutkan SBY. Senjata itu
adalah keterlibatan anak kandung SBY yang juga sekjen Demokrat, Ibas, dalam kasus
korupsi. Hal ini terbukti dalam minggu ini ketika apa yang disebut halaman berikutnya
sudah mulai terkuak yaitu Ibas juga kecipratan dana Hambalang.
Tentu timbul pertanyaan, mengapa SBY berani mengambil risiko ini? Alasannya barangkali
karena SBY tahu cepat atau lambat Anas akan ditetapkan sebagai tersangka. Otomatis
nama Ibas akan terseret juga. Jika dia tidak turun tangan seperti tiga minggu lalu, citra
Demokrat akan terus merosot hingga titik nadir.
Jika SBY tahu Ibas bakal terseret, mengapa dia tega melihat anaknya jatuh ke lubang
jarum? Menurut saya SBY sudah menghitung dengan cermat untung rugi dari tindakannya
yang mengambil alih wewenang Anas. Seperti apa?
Pertama Ibas memang bersalah. Sebagai penguasa barangkali SBY bisa mengintervensi
dan menyelamatkan anaknya. Tapi SBY sadar bahwa kekuasaannya tinggal 1,5 tahun lagi.
Itu artinya keselamatan Ibas hanyalah sejauh masa kekuasaannya. Tapi keuntungan
minimalis ini memiliki risiko maksimalis bahwa elektabilitas Demokrat akan semakin turun.
Pilihan ini mensyaratkan bahwa keselamatan Ibas satu paket dengan Anas. Maksudnya
adalah SBY harus membiarkan Anas tetap berkuasa di Partai Demokrat dan dengan
kekuasaannya ini, Anas akan bisa membawa-bawa nama Demokrat untuk menekan KPK.
Jadi SBY tidak mengintervensi langsung, melainkan Anaslah yang melakukannya. Entah,
apa dan bagaimana cara yang dilakukan Anas itu, terbukti sikap pimpinan KPK terbelah.
Karena pilihan pertama ini tidak menjamin Ibas selamat untuk jangka waktu panjang, maka
SBY membuat pilihan kedua. Pilihan kedua adalah mencabut kekuasaan Anas sehingga
yang bersangkutan tidak bisa membawa-bawa nama Demokrat untuk mengintervensi KPK.
Risikonya sudah jelas, Anas memang ditetapkan sebagai tersangka dan bakal membuka
lembaran-lembaran berikutnya yang menyeret Ibas. Mengingat besarnya risiko ini SBY
bahkan harus memohon bimbingan Tuhan di depan Kabah.
Dengan mengambil pilihan ini, SBY sebenarnya tidak mengintervensi KPK secara langsung,
seperti dikatakan Anas. Tapi justru Anaslah yang tidak bisa mengintervensi KPK karena
kekuasaanya sebagai ketua partai penguasa dirampas. Akan tetapi, sebagai cara untuk
menarik simpati masyarakat, Anas memutarbalikkan fakta bahwa seolah-olah SBY-lah yang
melakukannya intervensi itu.
Sampai di sini barangkali terlihat bahwa SBY masih orang tua yang tega terhadap anak
sendiri. Jika hal ini benar, lantas mengapa? Saya kira ini ada hubungannya dengan
bagaimana SBY memandang Demokrat. Setahun lalu saya pernah membahas tentang hal
ini di SBY Pascapresiden. Saya menduga bahwa bagi SBY, Demokrat adalah lebih dari
partai biasa, khususnya sesudah dia tidak lagi menjadi presiden. Demokrat adalah
eksistensi SBY.
Eksistensi itu bisa dilihat sejauh mana dirinya punya pengaruh, baik di masa sekarang
maupun masa mendatang. Dalam dunia politik pengaruh itu dapat ditunjukkan lewat
kebesaran partai yang didirikannya. SBY tidak mungkin tahan melihat Demokrat hanya
sebagai partai gurem. Dia ingin melihat Demokrat menjadi partai besar, meski tidak harus
selalu menjadi pemenang pemilu. Sudah tentu perasaannya hancur manakala lembaga
survei memperlihatkan elektabilitas Demokrat yang merosot hari demi hari sedangkan dia
hanya berdiam diri.
Maka SBY pun turun tangan dengan mengambil risiko sang pangeran bernama Edhi
Baskoro harus terseret kasus. Banyak pengamat yang bilang Ibas disiapkan untuk menjadi
nahkoda Demokrat di tahun-tahun mendatang. Tentu tidak hanya nahkoda Demokrat tetapi
calon pemimpin bangsa juga. Tapi SBY setelah berpikir panjang berkeputusan supaya
anaknya itu lebih baik dikorbankan. Jika nantinya pemberitaan media semakin gencar
mengarah kepada Ibas, toh SBY dengan gampang menyuruh anaknya sendiri mundur dari
jabatan sekjen, sehingga tidak memperburuk citra partai. Sudah ada preseden terkait hal ini
ketika Ibas mundur dari DPR sesudah kedapatan titip absen. Jika pun nanti jadi tersangka
KPK, Ibas akan dihukum ringan saja. Umur Ibas masih muda dan 20 atau 30 tahun lagi
masih bisa berkecimpung di dunia politik.
Jika Ibas nanti bebas, yang lebih penting adalah dia disediakan karpet merah bernama
Partai Demokrat yang tetap menjadi partai kuat. Bandingkan dengan Anas misalnya, jika jadi
tersangka, sudah tidak punya kekuatan politik apa-apa. Anas bukanlah sosok seperti SBY
yang mampu mempunyai pengikut di masyarakat. Kekuatan Anas terletak pada
kecerdasannya dalam berorganisasi. Anas tidak mungkin bisa mendirikan partai besar.
Paling jauh yang bisa dilakukan Anas adalah masuk ke partai besar seperti Demokrat dan
perlahan-lahan menguasainya. Inilah yang menjadi pertimbangan SBY. Ketimbang partai
hancur oleh orang lain, lebih baik diselamatkan meski anak sendiri jadi korban. Toh SBY
masih punya pangeran-pangeran lain yang meneruskan eksistensinya di masa
mendatang.
Secara tidak langsung, langkah SBY mengorbankan Ibas, seperti mencamkan kata-kata
Bung Karno yang dikutip dari Thomas Carlyle, bahwa dalam revolusi ayah kandung bisa
memakan anaknya sendiri. Tentu definisi revolusi dan memakan anak kandung itu
adalah menurut kamus SBY sendiri.
http://politik.kompasiana.com/2013/03/02/sby-memakan-anaknya-539480.html
Anas Terjungkal! Akankah Karier Politiknya
Terhenti?
OPINI | 23 February 2013 | 11:14 Dibaca: 307 Komentar: 0 3
Fitri.y Yeye
Pengumuman KPK menetapkan Anas Urbaningrum sebagai tersangka kasus korupsi
Hambalang dengan sangkaan gratifiksi, bukan lagi sesuatu yang mengagetkan masyarakat.
Semenjak Nazaruddin menyanyi dua tahun lalu, terseret sejumlah nama kader-kader
demokrat termasuk Anas Urbaningrum sebagai pimpinan partai.
Akhir-akhir ini publik kembali diingatkan akan kasus korupsi di negeri ini. Termasuk kasus
Anas yang menjadi berita top di sejumlah media. Semenjak menurunnya elektabilitas partai
Demokrat yang di pimpin Anas telah bergulir ke pemermukaan isu-isu yang akan
menggelincirkan Anas.
Kemana arah kasus hukum Anas bermuarapun telah dapat di prediksi banyak pihak. Karena
Ketu Majelis Tinggi (SBY) telah berulang kali mengungkapkan secara tersirat, bahwasanya
Anas akan menjadi tersangka. Keluarnya pakta Integritas Partai Demokrat, jelas-jelas
menunjukkan bahwa sebanarnya SBY telah tahu status Anas akan berakhir sebagai tersangka.
Mengagumkan, ketika para politikus di negeri ini berkicau ke sana-kemari anas tetaplah diam
dan bersahaja. Kemudian publik bertanya mungkinkah ini adalah salah satu strategi politik
SBY untuk menggulingkan Anas? Perhitungan politik yang sangat cermat dari seorang SBY,
sangat terstruktur dan dengan mudah dibaca kemana arahnya.
Dari semua sinyal-sinyal yang dilakukan SBY sebagai ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat,
wajar jika akhirnya banyak masyarakat yang mengait-ngaitkan penetapan status hukum Anas
sebagai tersangka adalah sebuah intervensi untuk menyelamatkan reputasi SBY. Anas adalah
korban bisikan para Sengkuni Demokrat.
Kita tentu berharap KPK mampu bekerja secara profesional, karena lembaga inilah satu-
satunya harapan rakyat untuk mengungkap semua kasus korupsi yang telah mendarah daging
di negeri ini. Meskipun sebagaian masyarakat menerima keputusan KPK atas penetapan
Anas, bahkan mungkin ada yang bersorak dan bersyukur dan secepatnya ingin menyaksikan
Anas di gantung di Monas sana.
Barangkali kita tak harus menutup mata, bahwa rasa-rasanya tidak mungkin penetapan Anas
bebas dari muatan politis. Setelah ungkapan-ungkapan tersirat Sby, sprindik yang bocor.
Pakta integritas, pengunduran diri sekjen PD dari DPR, benang merahnya tergaris sangat
jelas.
Penetapan Anas sebagai tersangka diharapkan sebagian kalangan sebagai pintu masuk bagi
pemerintah untuk membuat sistem yang jelas mengenai sumber dana sebuah partai. Jika tidak
kasus-kasus seperti kasus Anas akan terus berulang dan berulang lagi. mungkin inilah yang
menurut sebagian pendukung Anas menyatakan Anas juga korban sebuah sistem carut-marut
di republik ini.
Sudahlah barangkali ungkapan itulah yang akan di ucapkan oleh Anas Urbaningrum
dengan statusnya kini. Dia yang sampai hari ini masih saya anggap sebagai seorang politikus
muda yang handal, berbakat dengan pengalaman politik yang telah menempanya sejak usia
muda membuat saya yakin beliau akan mampu untuk kuat, tegar dan kokoh.
Ia yang kita kenal kalem dan tenang. Memahami betul dengan ayat yang menyatakanbahwa
Tuhan akan memberikan kekuasaan itu kepada siapa yang dikehendakinya. Dan
mencabut kekuasaanitudari siapayangdikehendakinya.
Anas bukanlah orang yang gila dan haus kuasa. Sosoknya yan apa adanya dan tenang, pun
tidak akan bernyanyi-nyanyi seperti Nazar dengan status yang kini disematkan KPK
kepadanya. Anas tetaplah akan menjadi seorang Anas denga gaya khasnya, meskipun ujian
berat ini menimpanya. Anas tidak akan mau terang-terangan menyerang lawan politiknya
karena ia cukup santun dan berhati-hati.
Kalaupun nantinya dia terbukti dinyatakan bersalah. Di usinya yang 43 th saat ini, masih
cukup mungkin baginya untuk melanjutkan karier politiknya setelah di penjara. Hal ini
mungkin saja terjadi. Seperti kisah Nelson Mandela yang setelah 25 tahun dipenjara akhirnya
muncul sebagai presiden.
Bagi Seorang Anas, politik adalah kehidupannya. Meskipun kejam dan jahat ia akan
menerimanya dengan ikhlas. Tentu saja dia tidak diam benar-benar diam tanpa melakukan
sesuatu. Karena ada ribuan Sahabat Anas yang setia mendukungnya. Yang meyakini bahwa
Anas sedang dizalimi.
Harapan masih akan terus ada bagi Anas, Karier politiknya tidak akan mati begitu saja, ada
kekuatan kepercaan publik pada sosoknya yang tenang. Itulah nantinya yang akan membawa
dia kembali besar. Di sanalah kekuatan seorang politikus itu kembali bangkit. Maka tak salah
jika dikatakan ini adalah awal bagi seorang anas Urbaningrum, meskipun untuk episod yang
lain di kehidupan berpolitiknya.
Kita lihat dan tunggu saja kemana akhirnya cerita ini berakhir.
IJP: Selamat Bertapa, Cak Anas!
Mari aku ceritakan kisah kita, dari generasi 1990-an. 20 tahun lalu aku bertemu denganmu di
acara LK II HMI Cabang Depok. Aku jadi peserta, kau jadi pembicara. Tahun 1994 kalau
tidak salah, hari, tanggal dan bulannya aku lupa. Kau waktu itu menjadi Ketua Umum
Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI). Aku tidak pernah berencana masuk
HMI, asal kau tahu. Semula aku diundang menjadi pembicara LK I HMI oleh Nusron Wahid
(kini dia Ketua Umum Pemuda Ansor). Kebetulan aku datang cepat, mengikuti paparan MS
Kaban (kini Ketua Umum Partai Bulan Bintang). Lalu aku mengisi acara. Oleh Panitia LK I,
aku diberi sertifikat kelulusan sebagai kader HMI, karena mengikuti sesi paling penting,
yakni Nilai Identitas Kader.
Lalu aku mengikuti sedikit proses di tubuh HMI. Aku jadi pengurus komisariat, lalu cabang.
Ketika kawanku Rifky Mochtar terpilih sebagai Ketua Badko HMI Jabar, aku baru tahu
bagaimana HMI. Jabatan kawanku dicopot. Berikutnya aku makin tahu HMI, ketika proses
pencalonanku sebagai Ketua Senat Mahasiswa Universitas Indonesia (SMUI) ternyata tidak
didukung oleh PB HMI yang waktu itu dipimpin oleh Taufik Hidayat. Aku malah dianggap
terlalu ikhwan untuk ukuran HMI. Sebaliknya, aku dianggap terlalu HMI oleh para ikhwan.
Ya, sudah.
Waktu peristiwa 1998, aku berada di jalanan, bersama barisan mahasiswa dan alumni
Keluarga Besar Universitas Indonesia (KBUI). Aku sempat bermalam di Gedung MPR-DPR
pada tanggal 19-20 Mei 1998. Setelah itu aku bekerja di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Pramita, Tangerang (sekarang Universitas Pramita). Aku melihat kiprahmu di layar televisi,
yakni menjadi tim ini dan tim itu, termasuk melakukan revisi terhadap paket undang-undang
bidang politik. Ada nama Rama Pratama juga dijejerkan dengan namamu. Aku kenal lama
dengan Rama, dia mantan manajer kampanyeku di FEUI dalam Pemira SMUI 1995.
Ketika aku bekerja sebagai peneliti dan analis di Departemen Politik dan Perubahan
Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS), kita kembali bertemu. Malah,
lebih sering bertemu. Apalagi aku sering ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), tempatmu
berkantor. Aku mengisi acara-acara yang diadakan di Media Center KPU. Ketika para
wartawan kesulitan menemuimu, aku dengan senang hati menghubungimu, lalu kemudian
kau memberikan informasi yang mereka butuhkan.
Namamu kembali muncul waktu ada kritikan soal mobil dinas yang dipakai oleh para
komisioner KPU. Terlalu mewah. Kawan-kawan KAHMI Pro sepakat agar kau kembalikan
mobil itu. Mereka saweran. Aku tak tahu detilnya, apakah ada kawan yang meminjamkan
mobilnya untuk kau pakai.
***
Usai Pemilu 2004 yang berhasil itu, satu demi satu komisioner KPU diperiksa Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. Aku kebetulan akrab dengan pimpinannya. Bahkan, salah
satu Wakil Ketua KPK RI, Erry Rijana Hardja Pamengkas, hadir dalam pernikahanku pada
tahun 2002, lalu memberikan sambutan atas nama keluarga istriku. Aku ikut alur kepindahan
kantor KPK RI ke Jalan Veteran III dari kantor pertamanya, saking seringnya kesana,
berdiskusi dengan komisioner-komisionernya. Di gudang dataku, masih banyak tumpukan
makalah-makalah, disain, CD sampai blue print KPK RI yang dikirimkan kepadaku, guna
aku baca-baca.
Beberapa komisioner KPU ditahan KPK RI, sebagai prestasi pertama. Ah, kaum
cendekiawan, rata-rata. Mereka menyebut namamu dan nama Valina Sinka Subekti juga, dua
orang anggota KPU yang akrab denganku. Kalian berdua sama sekali lolos dari lubang
maut. Dalam saat yang tidak baik buat kariermu itu, aku dan kau jadi pembicara diskusi di
Blora Center, satu lembaga yang memenangkan SBY sebagai Presiden 2004-2009. Ada
Johan Silalahi dan almarhum kawan kita, Yon Hotman. Aku lupa, apakah Jusuf Rizal juga
ada di acara itu. Yang jelas, ketika ada Kongres Partai Demokrat di Bali pada 2005, aku ikut
kesana bersama Jusuf Rizal dan Hendri Sitompul. Kongres akhirnya memilih Hadi Utomo
sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.
Aku masih ingat diskusi itu. Di sana, aku mendorong dan menantangmu untuk membuka
karier baru, yakni menjadi politisi. Nama partainya langsung aku sebut: Partai Demokrat.
Pesanku jelas, politisi sipil harus mulai masuk pasar politik. Para jenderal yang membentuk
partai politik di era reformasi, perlu didampingi dan dilapisi oleh politisi sipil yang memiliki
keahlian dan kemampuan. Tentu aku tahu, bukan hanya aku yang kau dengarkan saran-
sarannya. Yang jelas, aku dan kawan-kawan itu yang kemudian menjerumuskan-mu ke
kancah politik, di tengah gemuruh angin perubahan.
Dan lewatmu juga serta Andi Alifian Mallarangeng aku menitipkan sejumlah kawan yang
ingin menjadi politisi Partai Demokrat. Ya, aku sering bertemu Andi Mallarangeng di sebuah
kedai kopi di seberang Istana Negara. Sejak Gus Dur tak lagi jadi presiden, aku jarang ke
Istana Negara. Di era Gus Dur jadi presiden, aku sempat bekerja di dalamnya selama tiga
bulan, menjadi bagian dari Tim Asistensi Presiden Bidang Ekonomi yang dianggotai Faisal H
Basri, M Nawir Messi dan almarhum Arif Arryman PhD. Beberapa kali aku ke Istana, untuk
duduk-duduk saja dan menikmati suasananya yang begitu terbuka untuk umum.
***
Seingatku, ketika aku kemudian memutuskan kembali menjadi politisi, tepatnya tanggal 6
Agustus 2008, kau menitipkan pesan. Ya, apalagi kalau bukan agar aku juga masuk Partai
Demokrat. Tapi entahlah, aku merasa lebih baik bersahabat denganmu, ketimbang berada
dalam satu perkawanan di satu partai politik. Aku ingat candaan Jafar Hafsah, ketika
mengantarkan berkas caleg Partai Demokrat ke KPU: Indra, kamu sudah kami siapkan
nomor urut satu di Sumbar II. Kenapa kamu malah ke Partai Golkar? Beberapa kawanku
memang menganjurkan aku masuk Partai Demokrat, tapi ayahku sudah memberikan satu
garisan: Kamu boleh masuk partai politik, asal kamu masuk Partai Golkar.
Makanya, kita akhirnya menjadi dua orang yang saling memberi pesan, baik via senyuman
atau candaan. Hampir tak pernah ada debat panas antara aku denganmu, ketika kita beradu
argumen di layar televisi. Bahkan, kita sms-an pas debat rehat. Aku tetap memandang kau
sebagai senior yang mengisi LK II-ku di HMI Cabang Depok itu. Tergigit lidahku, apabila
aku bersitegang denganmu di layar kaca, sepanas apapun materi debat yang kita hadapi.
Begitupula sampai debat pilpres digelar, kita tak sungguh-sungguh berdebat panas.
Sebuah lembaga mengganjar penampilan kau, Fadli Zon dan aku dengan Charta Politica
Award 2009 sebagai Komunikator Terbaik Tiga Pasang Capres. Kau mendapatkannya untuk
SBY-Boediono, Fadli mendapatkannya untuk Mega-Prabowo dan aku mendapatkannya
untuk JK-Wiranto. Jejak jasamu jelas untuk kemenangan Partai Demokrat dan SBY-
Boediono.
Ketika kau maju menjadi Calon Ketua Umum Partai Demokrat, akupun mendukungmu. Aku
pasang foto kita berdua di laman facebook, lalu hadir dalam acara Pidato Kebudayaanmu di
Jakarta Theater. Bahkan, aku ikut menelepon beberapa pengurus Partai Demokrat di daerah-
daerah, menegaskan dukunganku. Aku menyaksikan kemenanganmu via televisi dari
Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Waktu itu ada pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur
Kalteng, Partai Golkar dan Partai Demokrat berkoalisi. Sejak saat itulah namamu menjulang,
salah satunya sebagai Calon Presiden yang akan menggantikan SBY. Kau ada di urutan
teratas.
Dan kisah selanjutnya kemudian publik tahu. Sengkuni sudah kau tulis dalam status bbm-mu
sejak survei itu diumumkan. Lalu kau jadi tersangka kasus gratifikasi sebuah mobil yang
terkait dengan perusahaan pemenang proyek Hambalang. Entah mengapa, untuk kedua
kalinya kau bermasalah dengan mobil, setelah kasus pengembalian mobil KPU itu. Ah, Cak,
kenapa kau tak naik sepeda saja? Bukan hanya kau, sebelumnya Nazaruddin, orang yang
tidak aku kenal riwayatnya, sudah lebih dahulu ditangkap di Cartagena, Kolombia, negara
tempat banyak kartel obat bius. Yang aku kaget, Anggelina Sondakh kawanku juga ikut
jadi tersangka. Berikutnya menyusul Andi Alifian Mallarangeng.
KPK Jilid I yang memenjarakan komisioner-komisioner KPU tak bisa menjeratmu. KPK Jilid
II sama sekali menuai masalah internal. KPK Jilid III yang bahkan ikut kau pilih sebagai
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, malah menjeratmu.
Aku bersyukur kita masih punya satu momen pertemuan, yakni ketika aku maju sebagai
Calon Walikota Pariaman dari jalur perseorangan. Dalam statusmu sebagai tersangka, aku
kirim direct message ke akun twittermu @AnasUrbaningrum: Cak, mau makan sate di
Pariaman? Ya, aku tidak punya nomor ponselmu, seperti sebelumnya. Semula, aku
mengundang Fahmi Idris, tetapi ada acara wisuda putrinya. Dan kaupun membalasnya, cepat.
Kau bahkan mengubah jadwalmu di Jambi. Kita memang tidak sempat makan sate Pariaman,
saking padatnya jadwalku sejak pagi sampai malam hari. Tapi setahuku, kau ke makam
Syech Burhanuddin di Ulakan, makan durian di Kayu Tanam, lalu makan Sate Mak Syukur
di Padang Panjang. Kau memang maestro kuliner Nusantara, Cak. Ada stafku yang ikut.
Selamat bertapa, Cak Anas. Sejak 1998 kau sudah di jalur atas seluruh pergerakan politik
negeri ini. Kau lewati tiga kali pemilu dengan indah. Kau menang jadi Ketua Umum PB
HMI, terpilih jadi Komisoner KPU, menang Pemilu 2009, menang Pilpres 2009, lalu menang
lagi sebagai Ketua Umum Partai Demokrat. Jarang kau kalah, apalagi menyerah.
Untuk pemilu keempat ini, 09 April 2014, kau mungkin menggunakan hak suaramu di
penjara. Ataukah juga kau menggunakan hak suaramu untuk Pilpres, 09 Juli 2014, di penjara?
Yang jelas, ketika kau merayakan HUT ke-45, 16 Juli 2014, mudah-mudahan aku hadir di
sisimu, bersamamu, entah di penjara, entah di mana. Kita tidak hanya merayakan HUT-mu
yang 45. Kita merayakan terpilihnya Presiden Republik Indonesia ke-7 bersama-sama kawan-
kawan sebarisan..
Catatan Indra Jaya Piliang
Anas Urbaningrum
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Anas Urbaningrum
Ketua Umum Partai Demokrat ke-3
Masa jabatan
23 Mei 2010 23 Februari 2013 atau 30 Maret2013
Didahului oleh Hadi Utomo
Digantikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI
Masa jabatan
Oktober 2009 Juli 2010
Anggota Komisi Pemilihan Umum
Masa jabatan
20012005
Informasi pribadi
Lahir 15 Juli 1969 (umur 44)
Desa Ngaglik,Kecamatan Srengat, Blitar,Indonesia
Partai politik
Partai Demokrat
Suami/istri Athiyyah Laila
Anak Akmal Naseery
Aqeela Nawal Fathina
Aqeel Najih Enayat
Aisara Najma Waleefa
Agama Islam
Situs web www.bunganas.com
Anas Urbaningrum (lahir di Blitar, Jawa Timur, 15 Juli 1969; umur 44 tahun) adalah Ketua
Umum DPP Partai Demokrat dari 23 Mei 2010 hingga resmi diberhentikan pada 30 Maret
2013
[1]
setelah sebelumnya Anas menyatakan berhenti pada 23 Februari 2013
[2]
. Terpilih pada
usia 40 tahun menjadikannya salah seorang ketua partai termuda di Indonesia. Sebelumnya ia
adalah Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah DPP Partai Demokrat dan Ketua Fraksi
Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat. Anas terpilih menjadi anggota DPR RI pada Pemilu
2009 dari Daerah Pemilihan Jawa Timur VI (Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kota
Kediri, Kabupaten Kediridan Kabupaten Tulungagung dengan meraih suara terbanyak. Sejak
terpilih menjadi ketua partai, ia mengundurkan diri dari jabatannya di DPR. Anas ditetapkan
sebagai tersangka oleh KPK pada 22 Februari 2012. Dalam surat dakwaan Deddy Kusdinar,
Anas disebutkan menerima Rp2,21 miliar dari proyek Hambalang untuk membantu
pencalonannya sebagai ketua umum dalam kongres Partai Demokrat tahun 2010. Anas ditahan
di rutan Jakarta Timur kelas 1 cabang KPK pada tanggal 10 Januari 2014.
[3]
Tentang
Lahir di Desa Ngaglik, Srengat, Blitar, Jawa Timur, Anas menempuh pendidikan dari SD hingga
SMA di Kabupaten Blitar. Setelah lulus dari SMA, ia masuk ke Universitas Airlangga, Surabaya,
melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) pada 1987. Di kampus ini ia belajar di
Jurusan Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, hingga lulus pada 1992.
Anas melanjutkan pendidikannya di Program Pascasarjana Universitas Indonesia dan meraih
gelar master bidang ilmu politik pada 2000. Tesis pascasarjananya telah dibukukan dengan judul
"Islamo-Demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid" (Republika, 2004). Kini ia tengah
merampungkan studi doktor ilmu politik pada Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Kiprah Anas di kancah politik dimulai di organisasi gerakan mahasiswa. Ia bergabung
dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI
pada kongres yang diadakan di Yogyakarta pada 1997.
Dalam perannya sebagai ketua organisasi mahasiswa terbesar itulah Anas berada di tengah
pusaran perubahan politik pada Reformasi 1998. Pada era itu pula ia menjadi anggota Tim
Revisi Undang-Undang Politik, atau Tim Tujuh, yang menjadi salah satu tuntutan Reformasi.
Pada pemilihan umum demokratis pertama tahun 1999, Anas menjadi anggota Tim Seleksi
Partai Politik, atau Tim Sebelas, yang bertugas memverifikasi kelayakan partai politik untuk ikut
dalam pemilu. Selanjutnya ia menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum periode 2001-2005 yang
mengawal pelaksanaan pemilu 2004.
Setelah mengundurkan diri dari KPU, Anas bergabung dengan Partai Demokrat sejak 2005
sebagai Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah.
Pad 22 Februari 2013, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Anas sebagai
tersangka atas atas dugaan gratifikasi dalam proyek Hambalang. Keeasokan harinya, pada 23
Februari 2013, Anas menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Ketua Umum DPP Partai
Demokrat dalam sebuah pidato yang disampaikan di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta.
Pengalaman
Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Indonesia (PPI) 2013 - sekarang
Ketua Umum DPP Partai Demokrat 2010-2013
Anggota Presidium Korps Alumni HMI 2012-2015
Masa Reformasi 1998 dan Transisi Politik
Anas ditunjuk untuk menjadi anggota tim revisi undang-undang politik atau yang dikemal dengan
nama Tim Tujuh. Tim ini dipimpin oleh Ryaas Rasyid dengan anggota lainnya adalah Affan
Gaffar (alm.), Andi Mallarangeng, Djohermansyah Djohan, Luthfi Mutty, dan Ramlan Surbakti.
Tim ini mengasilkan rancangan paket undang-undang pemilu yang akhirnya disahkan oleh DPR
RI menjadi UU No. 2/1999 tentang Partai Politik, UU No. 3/1999 tentang Pemilhan Umum, dan
UU No. 4/1999 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.
Dalam mempersiapkan pemilu demokratis pertama pada tahun 1999, pemerintah membentuk
Panitia Persiapan Pembentukan Komisi Pemilihan Umum pada 3 Februari 1999 yang dikenal
dengan nama Tim Sebelas. Tugas tim ini adalah memverifikasi pemenuhan syarat administratif
partai dalam untuk mengkuti pemilu. Anas dipilih menjad anggota tim yang dipimpin oleh
Nurcholish Madjid (alm.). Anggota lainnya adalah Adi Andojo Sutjipto, Adnan Buyung Nasution,
Affan Gaffar (alm.), Andi Mallarangeng, Eep Saefulloh Fatah, Kastorius Sinaga, Miriam Budiardjo
(alm.), Mulyana W. Kusumah, dan Rama Pratama.
Setelah melalui proses verifikasi, Tim ini mengumumkan 48 partai yang berhak mengikuti pemilu
1999.
Menjadi Anggota Komisi Pemilihan Umum
Anas dilantik menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada periode 2000-2007 oleh
Presiden Abdurrahman Wahid (alm.) pada 24 April 2001. Anas menjadi anggota KPU bersama
dengan Chusnul Mariyah, Daan Dimara, Hamid Awaludin, Imam Prasodjo, Mudji Sutrisno,
Mulyana W Kusuma, Nazaruddin Syamsuddin, Ramlan Surbakti, Rusadi Kantaprawira, dan
Valina Singka Subekti. Para anggota KPU tersebut kemudian memilih Nazaruddin Syamsuddin
sebagai ketua.
Tugas besar KPU periode ini adalah melaksanakan pemilihan presiden secara langsung yang
pertama dalam sejarah yang merupakan salah satu tonggak penting demokratisasi di Indonesia.
Anas mengundurkan diri dari KPU pada 8 Juni 2005.
Menjadi Anggota DPR RI
Anas terpilih menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2009 dari daerah pemilihan Jawa Timur VII
yang meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten
Tulungagung dengan meraih suara terbanyak, yaitu 178.381 suara, melebihi angka Bilangan
Pembagi Pemilih (BPP) sebesar 177.374 suara.
Pada 1 Oktober 2009, Anas ditunjuk menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI. Tugas
berat yang berhasil dijalankannya dengan baik adalah menjaga kesolidan seluruh anggota Fraksi
Partai Demokrat dalam voting Kasus Bank Century.
Menyusul pemilihannya sebagai ketua umum partai, pada 23 Juli 2010 Anas mengundurkan diri
dari DPR.
Terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat
Sebagai partai pemenang pemilu 2009, kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung pada 20-23
Mei 2010 menjadi peristiwa penting dalam politik Indonesia.
Anas mendeklarasikan pencalonannya di Jakarta pada 15 April 2010. Dalam pidato
deklarasinya, Anas menegaskan bahwa kesiapan dirinya bukanlah untuk bersaing, apalagi
bertanding. Pencalonanya bukan untuk memburu jabatan. Menurut Anas, kongres adalah
sebuah kompetisi rutin dan penuh persahabatan antar sesama saudara. Semua kandidat
adalah kader-kader terbaik partai Demokrat dan sahabat seperjuangan, kata Anas.
Dalam deklarasi itu Anas menyatakan akan mengusung agenda institusionalisasi partai. Artinya,
bagaimana mentransformasi pemikiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai
figur penting dan sentral dalam Partai Demokrat menjadi institusi partai yang kuat. Agenda
lainnya adalah stabilisasi internal; kaderisasi yang baik, bermutu, dan sistematis; desentralisasi
pengelolaan partai secara terukur; pembangunan budaya politik yang bersih, cerdas, santun
sebagai karakter partai; serta manajemen logistik yang kuat dan akuntabel.
Pemikiran politik Anas selanjutnya dituangkan dalam pidato kebudayaan Membangun Budaya
Demokrasi yang diselenggarakan di Jakarta pada 16 Mei 2010. Pidato ini dilakukan untuk
melanjutkan tradisi berwacana yang sudah lama dijalankan oleh para founding fathers bangsa
ini, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir; para pemikir seperti Tan Malaka, Soedjatmoko, dan
bahkan Kartini yang menuangkan pemikirannya melalui tulisan.
Dalam pidato tersebut, Anas menjelaskan bahwa politik uang, patronase, sub-nasionalisme,
dominannya ascribed status, meritokrasi yang lemah dan zero sum game merupakan
tantangan terbesar dalam membangun budaya demokrasi. Anas menempatkan meritokrasi
sebagai agenda terpenting dalam membangun budaya demokrasi, yang harus dijaga dari polusi
politik uang. Meritokrasi juga akan membuahkan sejumlah pemimpin yang kompeten dan tidak
akan melahirkan orang kuat yang melampaui sistem dan institusi sehingga check and balance
dapat berlangsung secara efektif.
Dalam rangkaian persiapan kongres, Anas meluncurkan buku Revolusi Sunyi di Aula Harian
Pikiran Rakyat, Bandung. Buku ini mengungkap kiat-kiat sukses Partai Demokrat dan SBY
memenangkan pemilu 2009. Anas mengungkapkan ketelatenan Partai Demokrat melakukan
survei pasar yang dilakukan secara periodik dengan melibatkan semua elemen partai. Buku
Revolusi Sunyi mengulas kesaksian bagaimana sebuah parpol bekerja keras menghadapi
pemilu tanpa melakukan publikasi yang gaduh.
Kompetisi di kongres berlangsung ketat dengan tiga kandidat kuat: Anas, Andi Mallarangeng
(yang juga Menteri Pemuda dan Olah Raga RI), dan Marzuki Alie (Ketua DPR RI) yang baru saja
mendeklarasikan pencalonannya sehari sebelum kongres dimulai.
Dalam pemungutan suara putaran pertama, Anas unggul (236 suara) dari Marzuki Alie (209
suara) dan Andi Mallarangeng (82 suara). Karena tidak ada kandidat yang memperoleh suara
lebih dari 50 persen, pemungutan suara putara kedua dilakukan. Menjelang putaran kedua,
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi pernyataan agar perwakilan DPD dan DPC
memilih ketua umum Partai Demokrat sesuai dengan hati nurani, yang mengindikasikan
berjalannya demokrasi internal di partai terbesar ini.
Pada putaran kedua, Anas unggul dengan perolehan 280 suara. Marzuki Alie memperoleh 248
suara, sementara dua suara dinyatakan tidak sah. Pemilihan ini membuat Anas menjadi salah
seorang ketua umum partai politik termuda di Indonesia. Menanggapi hasil pemungutan suara
tersebut Anas mengatakan, Anda lihat sendiri, saya menang dalam pemilihan yang demokratis.
Ini bukti, selain Partai Demokrat adalah partai yang mengutamakan demokrasi, Pak SBY juga
demokrat sejati karena tidak pernah ikut campur pemilihan, termasuk mendukung salah satu
calon.
Pada 17 Oktober 2010, Anas melantik pengurus pleno DPP Partai Demokrat yang berjumlah
2.000 orang pada saat peringatan ulang tahun partai tersebut di Jakarta.
Mendongkel Anas Lewat Survei
Sejak kasus korupsi Wisma Atlet di Palembang terkuak oleh KPK, nama Anas disebut-sebut oleh
Nazaruddin sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus Hambalang. Anas juga
disebut-sebut oleh Nazar sebagai pengendali Permai Group, sebuah holding perusahaan yang
ikut dalam tender-tender proyek APBN. Dalam vonis terhadap Nazaruddin dalam kasus Wisma
Atlet, majelis hakim tetap yakin bahwa pengendali Permai Group adalah Nazaruddin dan
Neneng Sri Wahyuni, istri Nazar.
[4]
Nazar divonis 4 tahun 10 bulan penjara atas dakwaan suap
dalam kasus Wisma Atlet.
Akibat nyanyian Nazaruddin tersebut sejumlah kalangan internal Partai Demokrat tak henti-
hentinya menggoyang kedudukan Anas. Sejumlah manuver, pernyataan di media, bahkan forum
resmi partai seperti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) dan Silaturrahmi Nasional (Silatnas)
digunakan untuk mendongkel Anas dari kursi ketua umum. Namun semua itu belum berhasil.
Puncaknya, pada 3 Februari 2013, lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting merilis
hasil jajak pendapat yang menyimpulkan anjloknya elektabilitas Demokrat hingga 8
persen.
[5]
Rilis survey ini langsung direspon oleh Sekretaris Dewan Pembina yang juga Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral RI Jero Wacik yang mengadakan jumpa pers di kediaman
pribadinya pada hari yang sama dan meminta Presiden SBY, selaku Ketua Dewan Pembina dan
Ketua Majelis Tinggi, turun tangan menyelematkan partai dari turunnya elektabilitas tersebut.
[6]
Permintaan Wacik tersebut diikuti oleh sejumlah petinggi Demokrat lainnya. Anggota Dewan
Pembina yang juga Menteri Koperasi dan UKM RI Syarief Hasan juga menyatakan hal yang
sama. Menurut Syarief, "Ini adalah pesan SOS untuk Pak SBY untuk menyelamatkan Demokrat.
Jika tidak, bisa-bisa Demokrat tidak lolos parliamentary threshold."
[7]
Bak gayung bersambut, pada 4 Februari 2013 dalam konferensi pers di Jeddah, Arab Saudi,
Presiden SBY menyatakan akan meminta petunjuk Yang Maha Kuasa.
[8]
Menurut Yudhoyono, ia
diminta turun tangan bukan semata-mata karena dirinya adalah Dewan Pembina, namun lebih
karena ia adalah penggagas dan pendiri partai. SBY meminta publik sabar karena ia akan
beribadah umrah dan dalam ibadah itu ia akan meminta kepada Allah. "Saya akan
menyampaikan respon nanti di Madinah, Kairo, atau mungkin nanti ketika tiba di tanah air," kata
mantan Pangdam Sriwijaya tersebut.
Kehidupan Pribadi dan Keluarga
Olahraga merupakan salah satu hobi Anas, selain membaca. Anas gemar bermain voli, bulu
tangkis, dan sepak bola. Hampir tidak pernah ia melewatkan kesempatan menonton langsung
pertandingan Tim Nasional Indonesia. Ia pernah mengatakan bahwa sewaktu menjadi wartawan
di Surabaya, penugasan favoritnya adalah meliput pertandingan sepak bola. Kini, Anas kerap
diundang menjadi komentator pertandingan sepak bola nasional dan internasional di televisi.
Anas memilih Manchester United, FC Barcelona dan AC Milan sebagai tim sepak bola favoritnya
di kancah internasional. Di tanah air, tim sepak bola pujaan Anas selain Timnas Garuda adalah
PSBI Blitar.
Anas menikah dengan Athiyyah Laila Attabik (Tia). Anas dan Tia pertama kali bertemu karena
diperkenalkan teman-teman di HMI Yogyakarta. Menurut Tia, dia dan Anas tidak pernah
berpacaran. Masa perkenalannya pun sangat singkat, hanya empat bulan. Tia dan Anas hanya
bertemu tiga kali dan bicara lewat telepon empat kali. Menurut Tia, Saat dia melamar, saya pun
sudah merasa klik dengannya.
Dalam sebuah wawancara, Ryaas Sayid mengenang permintaan Anas agar ia menjadi juru
bicara untuk melamar kepada orang tua Tia, K.H. Attabik Ali, di Pondok Pesantren Krapyak,
Yogyakarta. Bersama Andi Mallarangeng dan Affan Gaffar (alm.) berangkatlah Ryaas ke
Yogyakarta. Anas dan Tia menikah pada 10 Oktober 1999 di Yogyakarta.
Saat ini, Anas dan Tia tinggal di Duren Sawit, Jakarta Timur, bersama keempat anak mereka:
Akmal Naseery (lahir 2000), Aqeela Nawal Fathina (lahir 2001), Aqeel Najih Enayat (lahir 2003),
dan Aisara Najma Waleefa (lahir 2005).
Penghargaan
Bintang Jasa Utama dari Presiden RI, 1999
Publikasi
Revolusi Sunyi: Mengapa Partai Demokrat dan dan SBY Menang Pemilu 2009?, (Jakarta:
Teraju), 2010
Bukan Sekadar Presiden, (Jakarta: Hikmah), 2009
Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat, (Jakarta: Teraju), 2009
Menjemput Pemilu 2009, (Jakarta: Yayasan Politika), 2008
Melamar Demokrasi: Dinamika Pemilu Indonesia, (Jakarta: Republika), 2004
Islamo-demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid, (Jakarta: Republika), 2004
Pemilu Orang Biasa: Publik Bertanya Anas Menjawab, , (Jakarta: Republika), 2004
Ranjau-Ranjau Reformasi: Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada), 1999
Jangan Mati Reformasi, (Jakarta: Yayasan Cita Mandiri Indonesia), 1999
Menuju Masyarakat Madani: Pilar dan Agenda Pembaruan, (Jakarta: Yarsif Watampone),
1997.
Rujukan
1. ^ http://www.antaranews.com/berita/366128/anas-resmi-diberhentikan-dari-ketua-umum
2. ^ http://nasional.kompas.com/read/2013/02/23/14090477/Anas.Mundur.sebagai.Ketua.Umum.Partai.Demokrat
3. ^ http://www.antaranews.com/berita/413510/anas-ditahan-berterima-kasih-ke-kpk
4. ^ http://www.suarapembaruan.com/home/majelis-hakim-tetap-yakini-nazaruddin-mengontrol-permai-grup/19328
5. ^ http://politik.news.viva.co.id/news/read/387357-survei-smrc--politisi-demokrat-paling-dipersepsi-korupsi
6. ^ http://www.merdeka.com/peristiwa/suara-demokrat-jeblok-sby-diminta-turun-tangan.html
7. ^ http://polhukam.rmol.co/read/2013/02/03/96851/Syarief-Hasan:-SBY-Harus-Turun-Tangan-Selamatkan-Demokrat-
8. ^ http://news.detik.com/read/2013/02/04/204643/2161012/10/diminta-selamatkan-pd-sby-akan-minta-petunjuk-yang-
kuasa
Pranala luar
(Indonesia) Tokoh Indonesia
(Indonesia) Situs web resmi Partai Demokrat
(Indonesia) Anas Urbaningrum dan Kekisruhan di Kongres KAHMI Februari 2013
Demi Menjerat Anas, KPK Dikooptasi Kabah Dijual
by Ronin Samurai
Kalau pun Anas terima gratifikasi mobil Harier ( yang sebenarnya Anas beli secara mencicil dan
dilakukan sebelum menjabat sebagai anggota DPR), apa sih urgentnya bagi seorang SBY untuk
menjatuhkan Anas Urbaningrum dari jabatannya sebagai ketua umum Partai Demokrat ?
Jika Presiden SBY benar benar antikorupsi, pasti Anas menjadi elit Partai Demokrat terakhir yang
harus diperiksa KPK karena masih banyak, ratusan elit PD yang terkenal korup dan merugikan
keuangan negara.
Namun jika Anas tidak dihancurkan dengan segala cara, ya bukan SBY namanya. Kelamahan terbesar
SBY adalah tidak mampu menolak permintaan sang istri sehingga ketika ibu negara minta Anas harus
dilumatkan, pikiran dan hati SBY dikendalikan secara tanpa sadar oleh titah sang istri tersebut.
Urusan negara, rakyat dan lain lain silahkan antri atau tunggu hingga obsesi pribadi ibu negara
untuk melihat Anas mati di penjara sudah terpenuhi.
Sulit dipungkiri, sesuai keinginan belahan jiwa, SBY lebih banyak mengurus kasus kasus hukum
selama periode kedua pemerintahannya. Selain berupaya menyelamatkan diri dan kroni kroninya,
SBY juga mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya serta sumber daya negara untuk
menghancurkan musuh politik utama yang bernama Anas Urbaningrum.
Hasilnya, selama dua tahun Anas Urbaningrum diadili oleh majelis hakim bernama opini sesat
bentukan SBY dan para sengkuninya. Terhitung sejak Nazarudin berhasil lolos dari pencekalan
dirinya oleh KPK karena pengkhianatan oknum Direktur Penyidikan KPK sendiri yang membocorkan
pengajuan cegah KPK ke Ditjen Imigrasi kepada Nazarudin dengan imbalan uang suap sebesar Rp. 5
miliar.
Pada awalnya tidak ada sama sekali nama Anas Urbaningrum disebut Nazarudin sebagai salah satu
apalagi sebagai pelaku utama korupsi Wisma Atlet dan Hambalang. Jika memori rakyat bangsa ini
cukup kuat, kasus korupsi wisma atlet adalah merupakan titik awal pengusutan korupsi korupsi lain
di seputar Nazarudin cs dan grup usahanya, Permai Grup.
Nazarudin sebelum jadi terduga korupsi, buron dan kemudian menjadi tersangka, adalah seorang
pengusaha muda sukses melejit menjadi elit politik Partai Demokrat dengan jabatan bendahara umum.
Banyak orang tidak tahu, Nazarudin sebelum menjabat sebagai Bendum PD, Nazar sudah menjabat
Pelaksana Tetap Bendum PD di DPP PD di mana Ketua Umum PD dijabat oleh Hadi Utomo, ipar
Presiden SBY. Nazar menggantikan Zainal Abidin, Bendum PD yang tiba tiba meninggal dunia
secara mendadak. Wakil Bendahara PD saat itu ada dua orang, yakni : Jody Heryanto dan M.
Nazarudin. Jody mustahil ditunjuk menjadi Plt. Bendum PD karena karena saat itu sedang terjerat
masalah hukum akibat menggelapkan uang nasabahnya sebesar Rp. 80 miliar (kini Jody Heryanto
berstatus buronan kejaksaan karena melarikan diri dari vonis kasasi yang menghukumnya 3 tahun
penjara ).
Nazarudin yang bertutur kata manis, royal mentraktir teman teman dan selalu andalkan suap dalam
melobi atau berbisnis, ditunjuk Ketum PD Hadi Utomo sebagai Plt. Bendum PD sejak tahun 2009.
Melalui jasa baik Hadi Utomo, Andi Malarangeng dan Edhie Baskoro Yudhoyono, Nazarudin
kemudian berhasil menjabat sebagai Bendum PD hasil pemilihan formatur terkait susunan pengurus
DPP Partai Demokrat paska kongres PD 2010 lalu di Bandung. Keliru jika publik menganggap bahwa
Anas Urbaningrum sebagai orang yang merekomendasikan Nazarudin sebagai Bendum PD 2010
2015.
Nazarudin yang panik karena dirinya yang semula berstatus sebagai anggota DPR, elit politik, orang
istana dan pengusaha muda sukses, tiba tiba terjerembab ke titik nadir sebagai terduga korupsi dan
terpaksa harus melarikan diri karena permintaan cegah dari KPK sudah disampaikan ke
Kemenhukham. Itu artinya, hanya tinggal menunggu waktu saja, dirinya pasti ditetapkan sebagai
tersangka.
Nazar tidaklah secerdas yang rakyat Indonesia sangka. Saya tahu persis siapa Nazarudin di saat awal
dia pindah ke Jakarta, ikut dibawa oleh seorang anggota DPR Fraksi PPP Syahrial Agamas, yang juga
adalah Ketua Umum Gerakan Pemuda Kabah (GPK) saat itu. Kelebihan Nazar adalah karakternya
yang gigih dan ulet plus mulut manisnya yang berbisa. Pendidikan Nazarudin terakhir hanyalah
SMA dan lalu tanpa sepengetahuan siapa pun, tiba tiba Nazarudin mengaku sudah mendapatkan
gelar sarjana ekonomi (SE). Sangat mudah untuk mengetahui apakah Nazar itu lulusan SMA atau
sarjana ekonomi. Tanyakan saja ilmu dasar ekonomi kepada dirinya, pasti Nazarudin tidak mampu
menjawab sepatah kata pun.
Saya ungkapkan fakta ini agar rakyat tahu bahwa Nazarudin bukan orang yang cerdas secara
akademis. Jika dia mampu menipu, memfitnah, membuat dan menyebar informasi palsu, menggiring
dan membuat opini sesat dan seterusnya, pastilah karena ada pihak lain atau orang orang yang
menjadi otak intelektual atau sutradara yang mengendalikan Nazarudin dari balik layar.
Siapa pengendali Nazarudin sewaktu dia buron ke Singapura dan melancarkan serangan serangan
bernuansa tuduhan terhadap tokoh dan pejabat tertentu termasuk terhadap anggota keluarga presiden ?
Nazar pasti mendapatkan bantuan pihak ketiga yang dapat dipastikan adalah sekelompok orang yang
berasal dari keluarga terkemuka di Sumatera Utara. Lalu, ketika Nazarudin berhasil menimbulkan
ketakutan pihak penguasa negeri ini dan terutama keluarga menteri yang memang terlibat korupsi
triliunan di berbagai proyek, tuduhan Nazarudin dari Singpura itu memancing datangnya bantuan
yang sangat besar untuk menyelamatkan keluarga penguasa dan keluarga menteri itu, sekaligus
membuka peluang besar untuk menjalankan rencana menghancurkan Anas Urbaningrum Ketua
Umum Partai Demokrat hasil kongres Bandung yang sejak hari pertama terpilih sudah menjadi target
untuk dijatuhkan penguasa dengan segala cara, tak peduli cara halal mau pun cara haram alias jalan
setan.
Skenario penghancuran Anas Urbaningrum disusun dan dimatangkan di istana dan dikediaman
penguasa, kemudian dibawa ke Singapura. Di sebuah apartemen di kawasan Roxy Marina Road,
Singapura yang dikawal ketat oleh sejumlah body guard, Nazarudin bersembunyi dan menerima tamu
istimewa utusan keluarga penguasa yang membawa skenario untuk dijalankannya dengan upah yang
luar biasa besar, yakni perlindungan hukum atas begitu banyak tindak pidana korupsi yang
dilakukannya serta jaminan kekebalan hukum terhadap saudara saudaranya seperti Hashim dan
Nasir yang sebenarnya terlibat penuh dalam semua korupsi Nazar. Tidak hanya itu, Nazarudin juga
mendapat jaminan bahwa harta kekayaannya yang berasal dari korupsi yang merugikan negara Rp.
6.1 triliun, tidak akan disita KPK. Plus bonus besar lain seperti penetapan kakak kandungnya M. Nasir
kembali menjadi calon legislatif dari Partai Demokrat.
Semua tawaran menggiurkan untuk Nazarudin dan keluarganya itu hanya bisa diraihnya jika dia mau
dan mampu menjalankan skenario yang sudah disusun secara sangat matang, cermat dan
komprehensif dari pusat jantung kekuasaan Indonesia. Nazar hanya mendapat tugas dan tanggung
jawab sebagai pemain utama dalam sebuah sandiwara politik dan hukum tingkat tinggi hasil rekayasa
maha karya seorang jenius yang kebetulan menjadi penguasa negara. Tugas dan tanggung jawab
Nazarudin itu tidak terlalu berat, di samping itu dia akan mendapatkan dukungan maksimal dari
banyak media massa di Indonesia yang sudah menjadi kolaborator sang sutradara, lengkap dengan
antek anteknya yang menjadi loudspeaker dan backing vocal dari setiap ocehan fitnah yang keluar
dari mulut seorang Nazarudin.
Saya tidak membahas lagi mengenai kisah panjang Nazarudin selama dia buron ke Singapura,
Malaysia, Vietnam sampai kemudian ditangkap di sebuah kota turis di Kolumbia. Semua itu
hanyalah dagelan semata, menipu rakyat Indonesia. Semua itu hanyalah pengecohan, pengelabuan
dan penipuan untuk menciptakan drama penangkapan Nazarudin yang seolah olah nyata padahal
hanya rekayasa. Termasuk juga penjemputan Nazarudin oleh pesawat sewaan yang menghabiskan
uang negara lebih Rp. 5 miliar. Satu satunya, alur cerita yang tidak sesuai skenario adalah ketika
Istri Nazarudin, Neneng Wahyuni dan anaknya ternyata tidak ikut bersama sama dia menumpang
pesawat khusus jemputan dari Jakarta. Ada perubahan rencana mendadak. Meski Neneng adalah juga
bersatus buronan, anehnya KPK tidak serta merta menangkap dan membawa Nenang si buronan
korupsi PLTS, menumpang pesawat yang sama dengan Nazarudin. Sang sutradara berubah pikiran,
Neneng dan anak Nazarudin dikawal petugas KPK dan oknum aparat lainnya terbang menuju Kuala
Lumpur, Malaysia untuk dijadikan sandera agar memastikan Nazarudin taat dan patuh sepenuhnya
terhadap setiap kata, titik koma dan peran yang tercantum pada skenario yang sudah disiapkan
sutradara.
Nazarudin, Si Raja Koruptor Besar Indonesia yang telah menyita perhatian rakyat selama berbulan
bulan dan menyebabkan mimpi buruk sepanjang tidur malam banyak pejabat dan keluarga penguasa
Indonesia, kembali dengan selamat di Jakarta dan memulai lakonnya sebagai juru fitnah nomor wahid
untuk menghancurkan Anas Urbaningrum, menjatuhkannya dari jabatan ketua umum, merusak total
reputasi Anas sekaligus juga menyerang semua lawan politik penguasa yang sudah lama menjadi
incaran. Sutradara kampiun itu memerlukan Nazarudin sebagai tangan kanannya untuk melindungi
diri, keluarga dan kroni kroninya dari jeratan berbagai korupsi triliunan rupiah yang selalu
dijadikam isu besar oleh partai partai, aktivis hukum dan antikorupsi, politisi DPR dan medi massa.
Peran Nazarudin sangat strategis dalam menghancurkan Anas Urbaningrum dan musuh musuh
penguasa. Bagaimana dengan KPK ? Sayang beribu sayang, jika sebelumnya hanya satu dua oknum
KPK yang berwatak durjana, kini gerombolan srigala itu semakin banyak jumlahnya di KPK. Sebagai
institusi penegak hukum khususnya pemberantas korupsi, KPK jilid III sekarang ini tidak ubahnya
seperti herder penguasa. Siap menerkam siapa saja atas perintah tuannya.
Kembali kepada Nazarudin yang akhirnya sukses menjalankan perannya meski melewati tenggat
waktu yang ditetapkan sutradara. Rencana sutradara untuk tetap bersembunyi di balik layar terpaksa
dilanggar karena Anas yang sudah hampir 2 tahun menjadi korban penghancuran karakter melalui
fitnah Nazar yang dikobarkan luas oleh pemain badut badut figuran dan media massa bayaran,
ternyata tetap tidak dapat dijatuhkan. KPK herder penguasa tak mamu mencari bukti cukup untuk
seret Anas sebagai tersangka. Segala cara sudah dilakukan, segala tuduhan sudah dilontarkan, opini
sesat sudah dianggap kebenaran oleh mayoritas rakyat yang jadi korban penipuan. Namun KPK
belum juga berhasil menemukan dua bukti yang cukup untuk dapat menetapan Anas sebagai
tersangka korupsi.
Sang sutradara marah besar. Ratusan miliar sudah dihabiskan, lebih setahun waktu dilewatkan,
pendaftaran calon legislatif untuk pemilu sudah di depan mata, para asisten dan crew tidak becus
menjalankan kewajiban. Semuanya kualitas tiruan. Abal abal. Sementara itu, di rumah kediaman,
ibu ratu alias istri sutradara kian cemas. Khawatir semua sandiwara maha karya sang suami gagal total
dan balik membawa malapetaka kepada diri mereka dan keluarganya. Akhirnya, dengan sangat
terpaksa sang sutradara muncul di hadapan publik. Mematut matut wajah di depan kamera agar
dapat disaksikan seluruh rakyat Indonesia tanpa rasa curiga.
Tidak tanggung yang dilakukan sang sutradara untuk memastikan Anas dapat dijadikan tersangka.
Nama tuhan, tanah suci kelahiran nabi dan kiblat umat Islam sedunia dia jadikan senjata pamungkas
diarahkan kepada KPK yang dinilainya begitu lamban hanya untuk menetapkan satu orang anak muda
bernama Anas Urbaningrum sebagai tersangka. Nama agung tuhan, tanah suci tujuan haji dan kota
kelahiran agama Islam dijadikan topeng kemunafikan ketika ia melancarkan serangan keji terhadap
seorang hamba Allah yang bernama Anas Urbaningrum. Masya AllahastaghfirullahAmpunkan
kami ya Allah ..sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas segala mahluk
ciptaanmu dan seluruh alam semesta.
Jutaan fitnah keji diciptakan, dituduhkan, dilekatkan ke wajah Anas, ternyata masih kurang. Tidak
cukup ratusan miliar dihabiskan hanya untuk membiayai berbagai operasi intelijen ilegal dan operasi
haram lainnya. Tidak cukup kooptasi hasil penghancuran KPK mesti dilalukannya. Tak cukup untuk
merekayasa hanya satu kasus korupsi yang bisa mengubah status Anas dari manusia merdeka menjadi
seorang tersangka. Masih tak cukup.
Mau tidak mau sang sutradara harus menerima kenyataan bahwa musuh utamanya adalah waktu. Dia
tak mampu menghentikannya. Dia hanya dapat memanfaatkan waktu yang tersisa. Apa boleh buat,
tiba saatnya kekuasaan dan ancaman menjadi senjata. KPK silahkan pilih : Anas harus jadi tersangka.
Jika tak mampu penuhi perintah itu, maka para komisioner KPK lah yang menggantikannya ! Benar
benar luar biasa.
Kelihatannya sudah menjadi suratan takdir, Anas harus menjadi tersangka untuk delik pidana korupsi
yang tidak jelas dan untuk pertama kali dalam sejarah hukum dunia, terhadap kasus Anas dilekatkan
tuduhan pasal gratifikasi pada kasus yang tidak tercantum dalam UU Antikorupsi dan KHUP yakni :
kasus dan lain lain. Selamat untuk Anas Urbaningrum yang eksistensinya di jagat politik Indonesia
berhasil melahirkan yurisprudensi dan preseden baru dalam ilmu hukum dan pemberantasan korupsi
yang diciptakan oleh KPK. Semoga banyak doktor dan ahli hukum dilahirkan dari pengkajian kasus
dan lain lain yang sudah diputuskan KPK, melebihi kuasa yang dimiliki majelis hakim di sebuah
pengadilan.
Kita dihaturkan juga ucapan selamat untuk sang sutradara, yang telah menjalankan perannya melebihi
Sutradara Agung yang sesungguhnya, Sutradara Pemilik Hidup dan Kehidupan, Sutradara Yang Maha
Kuasa dan Maha Adil, Sutradara Agung yang senantiasa kita sebut dan kita sembah sebagai Tuhan,
Dia Allah SWT. Selamat..semoga Allah mengampunimu dan kita semua. Amiin Ya Rabbalalamiin.
http://yudisamara.com/2014/01/12/demi-menjerat-anas-kpk-dikooptasi-kabah-dijual-sby/