Anda di halaman 1dari 4

SHARING JOURNAL ARTICLE

Breastfeeding and Human Lactation :


Education and Curricular Issues for Pediatric Nurse Practitioners




Oleh :




PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2014
Judul Jurnal : Breastfeeding and Human Lactation: Education and Curricular Issues for
Pediatric Nurse Practitioners

Peneliti : Allison E. Boyd, BA, BSN, RN, & Diane L. Spatz, PhD, RN-BC, FAAN

Sumber : Journal of Pediatric Health Care, diakses dari : www.clinicalkey.com
(Elsevier), April 2014, volume 27, no.2


Abstrak :
1. Pengantar : Penelitian ini mengeksplorasi pendidikan tentang ASI dan laktasi yang
ditawarkan dalam praktisi perawat pediatric / pediatric nurse practitioner ( PNP )
program keperawatan sarjana.

2. Metode : Penelitian ini menggunakan metode online survey yang terkait tentang
pendidikan menyusui dan laktasi yang ditawarkan dalam kurikulum PNP yang
dikirim kepada semua program PNP di Amerika Serikat dengan kontak yang layak
informasi ( N = 84 ) . Tingkat respon adalah 42,9 % .

3. Hasil : Semua responden menunjukkan bahwa didalam Kurikulum program PNP
mereka sudah mencakup promosi terkait menyusui dan laktasi . Namun, ada sekitar
5,9 % dari program PNP tidak menawarkan program studi yang menyinggung soal
topik ini , dan 73,5 % hanya mengajarkan konten ini dalam 1-2X pertemuan saja.
Lebih dari tiga perempat dari program PNP ( 81,8 % ) menawarkan kesempatan untuk
memberikan konseling pada ibu hamil dalam menentukan pilihan pemberian makanan
bayi , mempromosikan pemberian ASI dalam setting klinik, dan mengajarkan teknik
menyusui . Namun, 18,2 % dari program PNP tidak menawarkan peluang tersebut .

4. Diskusi : pendidikan menyusui dan laktasi yang ditawarkan dalam program PNP
tidak konsisten.




Isi jurnal :

Jurnal ini berisi tentang penelitian terhadap pentingnya pembelajaran terkait ASI dan
menyusui pada program pendidikan keperawatan. Di dalam jurnal tersebut ditulis bahwa
kurangnya pendidikan terkait pemberian ASI yang dimasukkan ke dalam program
keperawatan sarjana telah dikaji dengan baik dalam literatur keperawatan, dan rekomendasi
telah dibuat tentang bagaimana memperbaiki pendidikan tersebut (Spatz, Pugh, & the
American Academy of Nursing Expert Panel on Breastfeeding, 2007). Selain itu, the 2011
Surgeon Generals Call to Action to Support Breastfeeding mengidentifikasi perlunya
pendidikan ASI untuk semua profesi kesehatan yang memberikan perawatan kepada
perempuan (ibu) dan anak-anak, sebagaimana seperti perlunya dukungan untuk menyusui
sebagai standar perawatan untuk bidan, dokter kandungan, dokter keluarga, perawat praktisi,
dan dokter anak (US Department of Health & Human Services [ DHHS ], 2011, p. 47) . Dan
di dalam statemennya, terkait pemberian ASI, National Association of Pediatric Nurse
Practitioners (NAPNAP, 2007) mengakui bahwa menyusui adalah nutrisi yang sangat ideal
untuk bayi dan merekomendasikan bahwa bayi secara eksklusif harus diberi ASI selama 6
bulan pertama kehidupan. Pernyataan NAPNAP menawarkan cara-cara di mana praktisi
perawat pediatrik dapat mempromosikan dan mendukung menyusui di dalam praktek
kliniknya.

Sebuah studi tahun 2004 oleh Hellings dan Howe meneliti terkait pengetahuan dan
pendidikan tentang ASI dan menyusui pada 77 praktisi perawat pediatrik. hasilnya
menunjukkan bahwa 97,4 % dari praktisi perawat pediatrik ini percaya bahwa peran mereka
termasuk merekomendasikan pemberian ASI kepada ibu menyusui. Namun, ketika para
praktisi perawat pediatrik ini ditanya tentang pendidikan yang mereka terima sehubungan
dengan menyusui dalam program pembelajaran mereka dahulu, jarak antara pendidikan yang
diterima dan pengalaman yang didapat dilapangan terkesan sangat jauh. Sebagai contoh,
sekitar 35,1 % responden tidak pernah menemui ibu menyusui selama program pendidikan
mereka, sekitar sepertiga (33,8 %) responden hanya menemukan lima atau lebih ibu
menyusui. Tren serupa muncul mengenai kesempatan untuk mengajarkan teknik menyusui.
Lebih dari separuh responden (60 %) merasa cukup siap dengan program-program mereka,
tapi sekitar 32% dari responden merasa sangat tidak siap ( Hellings & Howe, 2004) . Temuan
ini menunjukkan bahwa tidak hanya pendidikan menyusui yang tidak konsisten, tetapi juga
berpotensi tidak memadai.
Temuan dalam penelitian ini menggambarkan ketidakkonsistenan pembelajaran
terkait laktasi yang dimasukkan ke dalam kurikulum Program pendidikan praktisi perawat
pediatrik. Hampir semua program yang menanggapi survei menunjukkan bahwa mereka telah
menaruh pembelajaran terkait ASI dan laktasi ke dalam kurikulum mereka. Namun, hampir
tiga perempat dari program tersebut hanya mengajarkannya dalam satu atau dua mata kuliah.
Dapat dibilang ini adalah jumlah yang kecil, mengingat peserta didik praktisi perawat
pediatrik pada umumnya harus mengambil setidaknya 12 program untuk menyelesaikan gelar
MSN mereka. Akan sangat menggembirakan bila melihat bahwasanya semua program
memasukkan promosi pemberian ASI pada kurikulum mereka dan bahwa hampir semua
program mengajarkan strategi manajemen untuk masalah menyusui. Namun, fakta bahwa
lebih dari seperempat dari program tidak mengajarkan anatomi dan fisiologi terkait laktasi
pada manusia merupakan penyebab keprihatinan. Hal ini juga mengecewakan bahwa hampir
seperempat program tidak menawarkan peserta didik kesempatan untuk memberikan
penyuluhan kepada ibu hamil terkait pilihan pemberian makanan bayi, untuk
mempromosikan pemberian ASI dalam situasi klinis, atau untuk mengajarkan teknik
menyusui yang baik dan benar.




Penerapannya di Indonesia :