Anda di halaman 1dari 3

Kromatografi kolom bertujuan untuk mengisolasi komponen kurkumin dari

campurannya. Pada kromatogarfi kolom digunakan kolom dengan adsorben sillika gel H karena
kolom yang dibentuk dengan silika gel memiliki tekstur dan struktur yang lebih kompak dan
teratur. Silika gel memadat dalam bentuk tetrahedral raksasa, sehingga ikatannya kuat dan
rapat. Dengan demikian, adsorben silika gel mampu menghasilkan proses pemisahan yang lebih
optimal. Fase gerak yang digunakan berupa lima pelarut denga tingkat kepolaran yang berbeda
(kloroform, chcle:etoh 9:1, 8:2,
Silica gel dapat membentuk ikatan hidrogen di permukaannya, karena pada permukaannya terikat gugus
hidroksil. Oleh karenanya, silica gel sifatnya sangat polar. Maka pada saat campuran dimasukkan,
senyawa-senyawa yang semakin polar akan semakin lama tertahan di fasa stasioner, dan
senyawa-senyawa yang semakin tidak (kurang) polar akan terbawa keluar kolom lebih cepat.
Mekanisme dari kromatografi kolom ini eluen akan mengelusi sampel temulawak dan
membawa senyawa bersamanya menuju wadah eluat (keluar dari kolom), fasa diam (silika gel)
memiliki daya adsorbsi yang cukup besar, sehingga ketika eluen yang membawa sampel
melewati fasa diam akan terbentuk fraksi-fraksi warna yang berbeda. Fraksi warna yang
berbeda ini menunjukkan perbedaan senyawa atau zat aktif yang dipisahkan dari setiap fraksi.
Semakin pekat warna fraksi, maka semakin banyak senyawa atau zat aktif yang terpisahkan
dalam fraksi tersebut.
Dalam proses pemisahan dengan kromatografi kolom, adsorben silika gel harus senantiasa
basah karena, jika dibiarkan kering, kolom yang terbentuk dari silika gel bisa retak, sehingga
proses pemisahan zat tidak berjalan optimal. Selain itu, kondisi yang senantiasa basah berperan
untuk memudahkan proses elusi (larutan melewati kolom) dalam kolom.
Senyawa kurkumin dapat mengalami penurunan dengan lepasnya gugus OCH
3
dalam setiap
penurunan. Kurkumin akan mengalami dua kali penurunan, dimana turunan pertamanya adalah
demetoksi kurkumin dan turunan keduanya adalah bis-demetoksi kurkumin. Urutan sifat
kepolaran dari yang paling polar adalah kurkumin, demetoksi kurkumin, dan bis-demetoksi
kurkumin.
Dari hasil kromatografi kolom didapatkan 5 fraksi yang menghasilkan waran fraksi yang
berbeda-beda
Fraksi-fraksi yang didapat tersebut dilanjutkan pengujian dengan cara KLT untuk mengetahui
keberadaan senyawa kurkumin

Pada kromatografi lapis tipis bis-demetoksi akan terelusi terlebih dahulu karena bersifat paling
tidak polar. Kemudian akan disusul oleh demetoksi kurkumin yang bersifat polar. Adapun
kurkumin akan terelusi paling akhir (berada paling bawah) karena sifatnya yang paling polar.
Perlu diingat bahwa penurunan ini tak mungkin terjadi dengan hanya dengan melakukan
kromatografi, tapi ada perlakuan khususnya. Hal ini dikarenakan fasa diam yang digunakan
(silica gel) bersifat polar dan fase geraknya bersifat lebih non polar (CH
2
Cl
2
: CH
3
OH, 99 : 1).
Setelah daerah dari noda yang terpisah telah dideteksi, maka perlu mengidentifikasi tiap
individu dari senyawa. Metoda identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada
kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut, menggunakan harga Rf. Harga Rf
merupakan parameter karakteristik kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran
kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan
besaran karakteristik dan reprodusibel. Namun yang perlu diingat adalah penggunaan Rf
sebagai acuan sebaiknya adalah yang diperoleh dari percobaan yang bersamaan dan bukan dari
referensi. Hal ini dikarenakan banyaknya faktor yang bisa mempengaruhi besaran nilainya.