Anda di halaman 1dari 18

Bahan Ajar Pelatihan

Penilaian AMDAL
KESEHATAN MASYARAKAT
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
KEMENTERIAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP
2009
PEL EL EL L EL EL L EL EL EEEEEEEEEE AT AT AT AT AT AAAAAAAAAAA IH IH IH IH IHHHHAN AN AN AN AAN AAN ANNNNN AANN AAAA
Bahan Ajar Pelatihan
Penilaian AMDAL
KESEHATAN MASYARAKAT
Disclaimer
Bahan ajar ini merupakan bahan referensi lepas yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan Pelatihan
Penilaian AMDAL. Bahan ajar ini dapat dikembangkan oleh pengajar sesuai kebutuhan dengan tetap
mengacu pada kaidah kurikulum dan peraturan yang berlaku.
iv
Bahan ajar ini dimaksudkan sebagai salah satu bahan pendukung dalam proses pembelajaran untuk
Pelatihan Penilaian AMDAL yang diadakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerja sama
dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup untuk membantu Pemerintah Daerah memenuhi persyaratan
lisensi bagi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 06 Tahun 2008 tentang Tata Laksana Lisensi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/
Kota.
Bahan ajar ini disusun atas kerjasama Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Negara Lingkungan
Hidup dengan Asisten Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan Kementrian Negara Lingkungan
Hidup.
Bahan ajar ini disusun secara singkat dan sederhana agar mudah dipahami oleh peserta diklat, yaitu para
penilai AMDAL, yang umumnya memiliki kemampuan beragam. Bahan ajar ini dapat dikembangkan oleh
pengajar sesuai kebutuhan dengan tetap mengacu pada kaidah kurikulum dan peraturan yang berlaku.
Bahan ajar ini masih perlu disempurnakan, karena itu saran dan kritik membangun untuk penyempurnaannya
sangat diharapkan.
Maret, 2009
Penyusun
KATA PENGANTAR
v
DAFTAR ISI
SAMBUTAN i
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
BAB I. PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Deskripsi Singkat 1
1.3 Tujuan Pembelajaran 1
1.4 Materi Pokok . 1
BAB II METODE PENGUMPULAN DATA 3
BAB III METODE ANALISIS DATA 9
BAB IV PENUTUP 11
4.1 Rangkuman 11
4.2 Evaluasi 11
DAFTAR PUSTAKA 12
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbandingan Cohort sebenarnya dan Cohort Survival 8
Tabel 2. Kasus penyakit TBC berat dan kontrol yang terkumpul di 3 rumah sakit
menurut status vaksinasi tahun 1975-1980 (RSGS,RS Husada dan RS Sumber Waras) 10
Tabel 3. Histopatologi organ tubuh ikan akibat paparan limbah IPAL ABC (disamarkan) 12
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Metoda pengumpulan data secara Cross-Sectional 5
Gambar 2. Metoda pengumpulan data Kesehatan Masyarakat 7
Gambar 3. Metoda pengumpulan data secara Prospective Study 7
Gambar 4. Metoda pengumpulan data secara etrospective Study 9
Gambar 5. Metoda pengumpulan data secara Case Control Study 10
Gambar 6. Metoda pengumpulan data secara Prospective Experimental Animal Study 11
Gambar 7. Metoda pengumpulan data secara Retrospective Experimental Animal Study 13
1
1.1. LATAR BELAKANG
Metode pengumpulan data kesehatan masyarakat (kesmas) dan analisis data kesmas merupakan dua hal
yang amat berkaitan. Metode pengumpulan data di bidang kesmas ini sangat penting, sebab tata-cara
pengumpulan data sangat menentukan macam data yang didapat. Selanjutnya bila data telah diperoleh,
maka tata-cara untuk menganalisis data tersebut juga amat menentukan, sehingga bertolak dari kenyataan
itulah maka khusus untuk metode pengumpulan data kesehatan masyarakat dan analisis data kesehatan
masyarakat ini harus mendapatkan perhatian yang cukup besar utamanya bagi para peneliti di bidang
kesmas.
Buku ini berisikan bahan ajar baku untuk materi diklat Metode Pengumpulan Data Kesmas dan Analisis
Data Kesmas dari Diklat Penilaian AMDAL. Penyusunan buku ini didasarkan pada Garis-Garis Besar Program
Pembelajaran (GBPP) dari mata diklat tersebut.
1.2. DESKRIPSI SINGKAT
Metode Pengumpulan Data dan Analisis Data Kesehatan Masyarakat adalah salah satu mata diklat dari
Pelatihan Penilain AMDAL.Jumlah Jam Pembelajaran (JP) dari mata diklat ini adalah dua JP. Diskripsi singkat
mengenai mata diklat ini adalah sebagaimana diuraikan berikut ini.
Penelitian di bidang Ilmu kesehatan masyarakat mengenal macam-macam cara dalam pengumpulan data
dan macam-macam cara pengumpulan data ini akan sangat menentukan termasuk hal-hal yang berkaitan
dengan biaya penelitian, waktu penelitian, kualitas penelitian, serta mudah atau sulitnya data didapatkan.
1.3. TUJUAN PEMBELAJARAN
1.3.1. KOMPETENSI DASAR
Kompetensi dasar dari materi diklat ini sebagaimana rumusannya dalam kurikulum pelatihan termaksud
adalah bahwa setelah menyelesaikan modul ini para peserta diharapkan mampu membedakan dan
memahami penggunaan metodologi pengumpulan data dan metodologi analisis data beserta QA/QC-nya
untuk aspek kesehatan masyarakat.
1.3.2. INDIKATOR KEBERHASILAN
Indikator keberhasilan dari materi diklat ini adalah sebagai berikut:
Mampu menjelaskan kelebihan dan kelemahan dari masing-masing Metoda Pengumpulan Data di 1.
bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Mampu menjelaskan macam-macam data dan analisis data yang sesuai untuk Ilmu Kesehatan 2.
Masyarakat
1.4. MATERI POKOK
Kerangka materi pembelajaran meliputi materi pokok dan sub materi pokok berikut ini:
1) Materi Pokok
Metoda Pengumpulan Data Kesmas a.
Analisis Data Kesmas. b.
2) Sub-Pokok
Metoda Pengumpulan Data Kesmas: a.
i. Metoda Cross-Sectional
ii. Metoda Prospective Study
BAB I.
PENDAHULUAN
2
iii. Metoda Retrospective Study
iv. Metoda Prospective Experimental Study
v. Metoda Retrospective Experimental Animal Study
Analisis Data Kesmas: b.
i. Metoda Kualitatif
ii. Metoda Kuantitatif
3
Pengumpulan data di bidang Ilmu Kesmas pada prinsipnya adalah menjelaskan beberapa cara yang biasa
digunakan sebagai cara untuk mengumpulkan data sebagai berikut (Supardi et al, 2000):
a. Data Primer
Adalah data yang dikumpulkan oleh peneliti yang digunakan untuk menjawab tujuan penelitian
secara spesifk.Sumber data primer adalah Sensus, Survei dan Eskperimen atau Percobaan.
b. Data Sekunder
Adalah data yang sudah tersedia atau telah dikumpulkan oleh orang atau lembaga tertentu,
misalkan Biro Pusat Statistik. Data sekunder sebelum digunakan perlu diperiksa ulang mengenai
ketepatan (accuracy) dan kesahihan (validity). Sumber data sekunder adalah pencatatan peristiwa
vital (kematian, kelahiran dan pelaporan penyakit), catatan kasus (misalkan rekaman medik di Rumah
Sakit), Pencatatan Penyakit, laporan dan publikasi.
Berikutnya pengambilan data kesmas juga harus memperhatikan skala pengukuran sebagai berikut :
1. Skala Nominal
Terdiri atas dua kategori (dikotomi) atau lebih kategori (politomi). Kategori itu bersifat mutually
exclusive.
Contoh:
a. jenis kelamin : pria, wanita
b. status perkawinan : menikah,lajang,janda/duda, mati, janda/duda cerai
2. Skala Ordinal
Memiliki tambahan kualitas, yaitu penjejangan seperti tangga. Ini karena kategori-kategori diurutkan.
Jarak antar kategori tidak harus sama.
Contoh :
a. Kebiasaan: merokok, bukan perokok, perokok ringan, perokok sedang, perokok berat
b. kepastian diagnosis penyakit: defnit, probable, possible
3. Skala Interval
Jarak antar kelas atau kategori sama, tidak memiliki nol absolut
Contoh: suhu
4. Skala Ratio
Selain memiliki sifat skala interval juga memiliki nol absolut (nol berarti yang diukur tidak ada)
Contoh:
a. Berat badan diukur dalam kilogram
b. Pendapatan diukur dalam rupiah
c. Hemoglobin diukur dalam gram tiap 100 cc darah
Selanjutnya dalam metoda pengumpulan data di bidang kesmas juga perlu memperhatikan cara-cara
pengumpulan data sebagai berikut (Beaglehole et al, 1997; Fletcher et al, 1991):
1. Metoda Cross-Sectional
28 Juli 2006
Jam 09.30 WIB
waktu
Gambar 1. Metoda Pengumpulan Data Secara Cross-Sectional
BAB II
METODE PENGUMPULAN DATA
4
Adalah pengumpulan data yang dilakukan pada satu titik waktu, misalkan penelitian dilakukan pada
tanggal 28 Juli 2006 atau tepat pada jam 09.30 WIB data dikumpulkan. Berarti pada waktu itulah informasi
mengenai sebab dan akibat dikumpulkan.
Cara Cross-Sectional ini mempunyai kelebihan-kelebihan sebagai berikut :
murah 1.
mudah 2.
cepat 3.
Contoh :
Prevalensi penyakit Hepatitis di kalangan pekerja pabrik rokok XYZ di Yogyakarta. Jumlah pekerja a.
yang diperiksa sebanyak 1000 orang, ternyata yang HbsAg positif sebanyak 200 orang, jadi prevalensi
Hepatitis di kalangan pekerja pabrik rokok XYZ adalah (200 : 1000 ) X 100 % = 20%. Pada penelitian
Cross-Sectional yang dapat diperoleh hanyalah prevalensi, bukan insidensi.
Hasil Pemeriksaan bakteri Coli tinja dalam air di lingkungan Rumah Sakit PQR tahun 1996. b.
Lokasi Sampel Air Jumlah E.Coli tinja/100 ml air
Sumur gali di rumah sakit
Dapur (air sumur gali)
Dapur (air PDAM)
Kamar operasi (air PDAM)
Bangsal klas III (air sumur gali)
Bangsal Anggrek Klas III (air PDAM)
Sungai sebelum tercemar limbah RS
Sungai sesudah tercemar limbah RS
Bak penampung limbah medis cair RS
19.400
190
2,2
0
20
0
40.500
13.700
3.040.000
Sumber : Sutomo, 1996.
Metoda Pengambilan Data Komponen Kesehatan Masyarakat
Gambar 2. Metoda Pengumpulan Data Kesmas
2. Metoda Prospective Study atau Cohort Study
28 Juli 2006 28 Juli 2010
09.30 09.30
Sekelompok
Orang + intervensi
SAKIT
Waktu
Gambar 3. Metoda Pengumpulan Data Secara Prospective Study
5
Pengumpulan data yang dilakukan dalam kurun waktu yang tertentu ke depan, misalkan data dikumpulkan
mulai jam 09.30 WIB pada tanggal 28 Juli 2006 dan akan diakhiri pada tanggal 28 Juli 2010 pada jam 09.30.
Jadi pengumpulan data dilakukan selama 4 tahun.
Pada Studi Intervensi (pemberian perlakuan atau treatment), misalkan sekelompok orang (cohort = a group
of people) diberi perlakuan berupa minuman racikan kopi dan Arsen 1 liter tiap hari selama kurun waktu
yang telah ditentukan (misalkan seperti contoh tersebut di atas, yaitu 4 tahun), maka pada akhir penelitian
Prospective Study ini akan dapat dilihat akibat dari intervensi yang diberikan, yaitu orang tersebut tetap
sehat, sakit atau mati atau samar-samar.
Contoh:
Tabel 1. Perbandingan Cohort Sebenarnya dan Cohort Survival, Sumber : Fletcher et al., 1991.
Metoda Prospective Study ini mempunyai kelebihan dan kekurangan yang tertentu dibanding metoda-
metoda yang lain, sebagai berikut :
Kelebihan dari Metoda Prospective Study:
Mahal biayanya a.
Lama sekali waktu yang dibutuhkan b.
Amat dipercaya hasilnya karena antara sebab dan akibat terpisah waktunya atau time squence-nya c.
jelas
Kekurangan dari Metoda Prospective Study:
Seringkali menentang hak azazi manusia karena manusia tidak boleh dijadikan binatang a.
percobaan.
3. Metoda Retrospective Study atau Trohoc
28 Juli 2003 28 Juli 2006
Jam 09.30 WIB Jam 09.30 WIB
KAUSA Ca.Mammae
Retrospective Study
Atau TROHOC
Waktu
Gambar 4. Metoda Pengumpulan Data Secara Retrospective Study
6
Adalah pengumpulan data yang merupakan kebalikan dari Cohort Study yang dilakukan dalam kurun
waktu yang tertentu ke belakang.Misalkan pada jam 09.30 tanggal 28 Juli 2006 didapatkan seorang
penderita Carsinoma Mammae (Kanker payudara), maka kepada penderita tersebut diajukan pertanyaan-
pertanyaan mengenai riwayat penyakitnya, riwayat kerjanya, riwayat paparan bahan kimia dan fsika yang
mengenai tubuhnya, riwayat paparan makanan yang telah dikonsumsinya, lama kerja di industri yang
telah dialaminya, dan sebagainya jauh ke belakang hingga 3 tahun ke belakang,misalkan hingga tahun
2003,sehingga pada akhir masa studi akan didapatkan penyebab atau kausa dari Carsinoma Mammae.
Bila penelitian retrospective untuk mencari KAUSA penderita Cancer Mammae ini dibandingkan dengan
KONTROL yang tidak menderita Cancer Mammae, maka penelitian itu disebut sebagai penelitian CASE
CONTROL STUDY seperti gambar dibawah ini :
KAUSA Ca.Mammae (Case = Kasus)
KAUSA Tidak Ca.Mammae (Control=Kontrol)
Case-Control Study
Waktu
Gambar 5. Metoda Pengumpulan Data Secara Case Control Study
Metoda Retrospective Study ini juga mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing.
Kelebihannya dari Metoda Retrospective Study:
a. Relatif mahal biayanya
b. Relatif lama masa penelitiannya
c. Relatif dipercaya karena sebab dan akibat terpisah tidak seperti pada Cross-Sectional Study
Tabel 2. Kasus penyakit TBC berat dan kontrol yang terkum-pul di 3 rumah sakit menurut status vaksinasi
tahun 1975-1980 (RSGS, RS Husada dan RS Sumber Waras)
BCG (+) BCG (-) Total
Kasus 26 57 85
Kontrol 199 141 340
Total 227 198
Odds Ratio = 0,35
X kuadrat = 17,89 (P < 0,001)
Sumber :Sutrisna, 1986.
Penelitian Case Control tersebut di atas memperlihatkan bahwa penyakit tuberkulosa atau TBC yang
terdiri atas Meningitis TB, TB Milier, TB Tulang, TB penyebaran bronchogen secara relatif kecil, karena
itulah penelitian retrospektif untuk penyakit ini cukup memadai untuk dilaksanakan, yaitu untuk mencari
kausanya.
Kelemahan dari Metoda Retrospective Study:
a. waktu ke belakang yang lama membuat terjadinya bias informasi
4. Metoda Prospective Experimental Study
28 Juli 2006 28 Juli 2007
Jam 09.30 Jam 09.30
Tikus + Intervensi SAKIT
Waktu
Gambar 6. Metoda Pengumpulan Data Secara Prospective Experimental Animal Study
7
Adalah metoda pengumpulan data yang dimulai pada kurun waktu tertentu dengan memberikan perlakuan
pada binatang percobaan dalam kurun waktu tertentu. Cara ini dilakukan untuk menggantikan manusia
agar tidak dijadikan binatang percobaan. Caranya, misalkan sapi diberi minuman kopi yang dicampur
Arsen 1 liter tiap hari selama satu tahun, lalu pada akhir tahun dilihat apakah sapi itu tetap sehat, sakit atau
mati atau samar-samar.
Metoda Prospective Experimental Study ini juga mempunyai kelebihan dan kelemahan seperti metoda-
metoda yang lain.
Kelebihan Metoda Prospective Experimental Study:
Relatif mahal biayanya (misalkan membeli sapi dan Arsen) a.
Relatif lama masa penelitiannya (karena mengamati intervensi) b.
Relatif dipercaya karena time squencenya jelas c.
Contoh :
Sekelompok ikan diberi limbah yang berasal dari sebuah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) ABC
selama 15 hari perlakuan di laboratorium, selanjutnya dilakukan otopsi terhadap ikan-ikan tersebut
untuk melihat histopatologi organ-organ tubuh ikan-ikan tersebut seperti terlihat pada tabel berikut:
Tabel 3. Histopatologi organ tubuh ikan akibat paparan limbah IPAL ABC
Ikan Kontrol Ikan yang diberi perlakuan
Lambung (colon)
J aringan kelihatan
normal
ada radang dan kongesti pembuluh darah
Ginjal (ren)
J aringan kelihatan
normal
ada kongesti pembuluh darah dan vacuolosis
jaringan
Limpa (Pancreas)
Vacuo
J aringan kelihatan
normal
ada radang, kongesti pembuluh darah
vacuo jaringan dan timbunan hitam
Hati (Hepar) Sel-sel kelihatan normal
Terlihat jaringan yang mengalami degenerasi,
vacuolosis, dan kongesti pembuluh darah
Sumber: Sutomo et al ,2003.
Kelemahan dari Metoda Prospective Experimental Animal Study:
a. amat sulit mengkonversikan akibat yang terjadi pada hewan percobaan dengan tubuh
manusia.
5. Metoda Retrospective Experimental Study:
KAUSA Sapi menderita
Tahun 1980 Ca.Mammae
Makan rumput Pada tgl 28 Juli
mengandung 2006 jam 09.30
pestisida
Waktu
Gambar 7. Metoda Pengumpulan Data Secara Retrospective Experimental Animal Study
Pengumpulan data dalam kurun waktu tertentu ke belakang merupakan kebalikan dari Prospective
Experimental Study atau dapat juga disebut bahwa metoda ini merupakan turunan dari Metoda Retrospective
Study yang dilakukan pada hewan. Caranya, misal dalam penelitian ini didapatkan seekor sapi yang menderita
Carsinoma Mammae, maka kepada sapi ini dilakukan observasi yang amat mendalam sekali : kepada sapi
8
tersebut ditanyakan riwayat penyakit, riwayat hidup, riwayat pekerjaan, riwayat paparan (kimia,fsika,
mikrobia,dsb) yang pernah mengenai tubuhnya, dan sebagainya sehingga pada akhir penelitian dapat
diketahui apakah kausa atau penyebab yang menimbulkan Carsinoma Mammae pada sapi tersebut.
Metoda Retrospective Experimental Study banyak dilakukan di Fakultas Kedokteran Hewan, Fakultas
Peternakan dan Fakultas Biologi, namun sama seperti metoda-metoda lainnya, maka metoda ini juga
mempunyai kelebihan dan kelemahan
Kelebihan Metoda Retrospective Experimental Study:
Relatif mahal (harga sapi dan uji histopatologi) a.
Relatif lama masa penelitiannya b.
Relatif dapat dipercaya karena sebab dan akibat terpisah waktunya c.
Kelemahan dari Metoda Retrospective Experimental Study:
Amat sulit untuk mengkonversikan hasil penelitian Pada hewan percobaan terhadap tubuh manusia a.
9
Tingkat pengukuran data itu makin tinggi nilainya secara berurutan dari skala nominal ke skala rasio.
Dalam praktek, perbedaan antara skala interval dan rasio tidak perlu terlalu dirisaukan, karena skala
interval maupun skala rasio uji statistik yang digunakan tidak berbeda.
Jika tujuan penelitian adalah membedakan antara berbagai variabel (uji signifkansi) dengan distribusi
normal, dan skala pengukuran interval/rasio, maka dalam hal ini perlu digunakan statistik parametrik.
Dalam praktek, untuk uji signifkansi bila jumlah sampel cukup besar (> 30), walaupun distribusi tidak
normal, tetapi bila skala pengukuran interval/rasio, maka dalam hal ini juga dapat digunakan statistik
parametrik.
Umumnya skala pengukuran itu merupakan prioritas untuk menentukan statistik parametrik atau non
parametrik, sebagai contoh seperti dalam tabel di bawah ini :
Tujuan Distribusi Skala Pengukuran Statistik
Uji Signifkansi Normal Interval/rasio Parametrik
Uji Signifkansi Normal Nominal Non parametrik
Uji Signifkansi Tidak normal Interval/rasio Parametrik
Uji Signifkansi Tidak normal Nominal Non parametrik
Selanjutnya di bawah ini akan dijelaskan secara garis besar pemakaian statistik parametrik.
BAB III
METODE ANALISIS DATA
10
Selanjutnya analisis data dapat dilakukan dengan:
1). Cross tabulasi (tabel silang 2x2 dsb)
2). Deskriptif
3). Uji Korelasi
4). Uji Regresi
5). Analisis Jalur (Path Analysis)
6). dan sebagainya atau yang sesuai dengan datanya
Di bawah ini dituliskan beberapa contoh tentang DESKRIPSI FENOMENA (Kusnanto, 1984):
1). Tingkat Kematian Kasar =
Jumlah kematian selama waktu tertentu
----------------------------------------------------------------- x K
Jumlah populasi rerata selama waktu yang sama
2). Tingkat Kematian Karena Sebab Tertentu =
Jumlah kematian penyakit tertentu selama waktu tertentu
--------------------------------------------------------------------------- x K
Jumlah populasi rerata selama waktu yang sama
3). Tingkat Fatalitas Kasus =
Jumlah kematian akibat penyakit tertentu selama
waktu tertentu
---------------------------------------------------------------------- x K
Jumlah kasus penyakit selama waktu yang sama
Penyakit sebagai fenomena pada populasi dideskripsikan dalam tingkat prevalensi dan tingkat insidensi
sebagai berikut dibawah ini :
a. Tingkat Prevalensi Penyakit =
Jumlah kasus penyakit pada suatu saat
----------------------------------------------------- x K
Jumlah populasi pada saat yang sama
b. Tingkat Insidensi Penyakit =
Jumlah kasus penyakit baru selama waktu tertentu
--------------------------------------------------------------------- x K
Jumlah populasi rerata selama waktu yang sama
Catatan:
K adalah bilangan yang besarnya dapat 100,1000 atau 10.000 untuk memudahkan pembacaan angka a.
deskripsi fenomen yang biasanya berupa pecahan kecil.
Resiko Relatif atau Resiko Nisbi adalah besar peluang suatu kelompok populasi dengan ciri tertentu b.
menderita suatu penyakit dideskripsikan dengan batasan =
Tingkat insidensi penyakit pada subpopulasi dengan ciri tertentu
-------------------------------------------------------------------------------------
Tingkat insidensi penyakit pada subpopulasi tanpa ciri tersebut
11
4.1 RANGKUMAN
Pengumpulan data kesehatan masyarakat dapat dilakukan menggunakan data primer ataupun a.
sekunder.
Dalam hal pengambilan data kesehatan masyarakat, dikenal pengukuran dengan menggunakan b.
skala nominal, ordinal, interval, dan ratio.
Beberapa cara pengumpulan data adalah menggunakan metode cross c. -sectional, prospective
atau cohort study, retrospective study atau trohoc, prospective experimental study, dan
retrospective experimental study.
Dalam hal melakukan analisis data, pengukuran atau perhitungan dilakukan dengan statistik d.
parametrik atau non parametrik
4.2 EVALUASI
Apa yang dimaksud dengan pengumpulan data secara sekunder? a.
Jelaskan yang dimaksud dengan skala ratio! b.
Apa beda utama dari metode c. retrospective study dan prospective experimental study?
Jelaskan apa yang dimaksud dengan statistik parametrik! d.
Apa yang dimaksud dengan t-test independen? e.
BAB IV
PENUTUP
12
Supardi, S; Pramono, D and Nawi 2000. PENGANTAR STATISTIKA KESEHATAN, Bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sutomo, Adi Heru 1996. ASPEK KESEHATAN LINGKUNGAN DI RUMAH SAKIT, Bagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Beaglehole,R; Bonita,R and Kjellstrom,T 1997.DASAR-DASAR EPIDEMIOLOGI, in Sutomo, Adi Heru (Translater),
Kusnanto,H (Editor), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Fletcher, RH; Fletcher, SW and Wagner, EH 1991.SARI EPIDEMIOLOGI KLINIK, in Sadjimin, T (Translater),
Sutomo,Adi Heru (Editor), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Sutomo, Adi Heru; Sarwono, RD; Pramijati; Suhardini,Sri Mukti 2003.DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN
DARI LIMBAH CAIR INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) SEWON,BANTUL,DAERAH ISTIMEWA
YOGYAKARTA TAHUN 2003: Uji Toksikologi Lingkungan Pada Tikus dan Ikan, Dinas Kesehatan dan
Kesejahteraan Sosial Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta.
Kusnanto, H 1984. EPIDEMIOLOGI UNTUK DIAGNOSA KESEHATAN MASYARAKAT, Jurusan Ilmu
Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah
Mada,Yogyakarta.
Sutrisna, B 1986.PENGANTAR METODA EPIDEMIOLOGI, Penerbit PT Dian Rakyat, Jakarta.
Bakker, A 1988.METODOLOGI KUALITATIF,Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
DAFTAR PUSTAKA