Anda di halaman 1dari 10

Kromatografi Gas

BAB I
PENDAHULUAN
Untuk mengetahui kandungan ion atau logam pada suatu sampel cair atau mengetahui
kandungan senyawa yang ada dalam food and beverage industry (industri makanan dan
minuman) dan semiconductor industry (industri semikonduktor) dalam beberapa menit
dapat digunakan sebuah teknik pemisahan yang dinamakan kromatografi. Bahkan dengan
metode pemisahan ini, dapat ditentukan ion/logam/senyawa dari sampel yang diteliti secara
kualitatif maupun kuantitatif. Dalam hitungan beberapa menit saja, ion-ion bermuatan
positif (kation) seperti : Na
+
, NH4
+
, K
+
, Mg
2+
, Ca
2+
, Ag
+
, Cu
2+
dan sejumlah kation lainnya
atau ion-ion bermuatan negatif (anion) seperti : F
-
, Cl
-
, NO2
-
, Br
-
, SO4
2-
dan jenis anion
lainnya dapat diketahui konsentrasi/jumlahnya dalam suatu sampel.
Bahkan lebih daripada itu, berbagai ion (anion dan/atau kation) dalam sampel, dapat
ditentukan secara simultaneous (serempak) dalam sebuah chromatogram(kromatogram).
Dengan kata lain, untuk sekali injet sampel saja ke dalam sistem kromatografi, berbagai
peak (puncak) anion dan/atau kation akan muncul. Inilah salah satu yang menjadikan
teknik ini lebih populer karena waktu analisisnya yang sangat singkat dan dengan hasil yang
maksimal.
Teknik pemisahan kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli tumbuh-
tumbuhan berkebangsaan Rusia yang bernama Mikhail Tswett pada tahun 1906. Tswett
memulai percobaannya dengan memisahkan sejumlah leaf pigments (zat warna daun)
seperti klorofil dan xantofil dengan mengalirkan solution (larutan) ekstrak daun tersebut ke
dalam sebuah kolom gelas yang sebelumnya diisi tepung kalsium karbonat yang dibuatnya
sendiri. Dia menamakan fenomena yang ditemukannya ini dengan
Chromatography (kromatografi). Yang dalam bahasa Rusia, chroma berarti warna
dan graphein berarti menulis. Sehingga kalau diartikan secara bahasa, artinya menulis
dengan warna.
Teknik kromatografi ini akhirnya terus dikembangkan oleh para kromatografer lainnya
antara lain R. Kurn, salah seorang kromatografer yang sangat intens mengembangkan teknik
ini. Percobaannya dengan memisahkan pigmen-pigmen tumbuhan seperti karotin
membuahkan hasil. Dengan kegigihannya ini, Kurn dianugrahi medali Nobel pada tahun
1931 untuk pertama kalinya dalam bidang kromatografi. Demikian juga, Martin dan Synge
mendapatkan medali Nobel pada tahun 1952 setelah sukses dengan penemuannya dalam
memisahkan berbagai jenis asam amino dan asam nukleat. Kesuksesan yang telah diraih
oleh para penemu ini, mengilhami banyak para kromatografer lainnya untuk lebih gigih
mengembangkan teknik ini ke yang lebih modern lagi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kromatografi
Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacam-macam teknik
pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu fasa gerak yang bisa berupa
gas ataupun cair dan fasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan.
Penemu Kromatografi adalah Mikhail Tswett yang pada tahun 1903, mencoba memisahkan
pigmen-pigmen dari daun dengan menggunakan suatu kolom yang berisi kapur (CaSO4).
lstilah kromatografi diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna
yang bergerak kebawah kolom. Pada waktu yang hampir bersamaan, D.T. Day juga
menggunakan kromatografi untuk memisahkan fraksi-fraksi petroleum, namun Tswett lah
yang pertama diakui sebagai penemu dan yang menjelaskan tentang proses kromatografi.
B. Komponen Gas Kromatografi
Kromatografi adalah teknik untuk memisahkan campuran menjadi komponennya dengan
bantuan perbedaan sifat fisik masing-masing komponen. Alat yang digunakan terdiri atas
kolom yang di dalamnya diisikan fasa stasioner (padatan atau cairan). Campuran
ditambahkan ke kolom dari ujung satu dan campuran akan bergerak dengan bantuan
pengemban yang cocok (fasa mobil). Pemisahan dicapai oleh perbedaan laju turun masing-
masing komponen dalam kolom, yang ditentukan oleh kekuatan adsorpsi atau koefisien
partisi antara fasa mobil dan fasa diam (stationer).
Komponen utama kromatografi adalah fasa stationer dan fasa mobil dan kromatografi dibagi
menjadi beberapa jenis bergantung pada jenis fasa mobil dan mekanisme pemisahannya,
seperti ditunjukkan di tabel di bawah ini.
Tabel Klasifikasi kromatografi
Kriteria Nama
Fasa mobil
Kromatografi cair, kromatografi gas
Kromatografi adsorpsi, kromatografi partisi
Mekanisme
Kromatografi pertukaran ion
kromatografi gel
Fasa stationer
Kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis,
kromatografi kertas
C. Kromatografi dan Aplikasinya pada Bidang Lain
a) Pada Bidang Bioteknologi
Dalam bidang bioteknologi, kromatografi mempunyai peranan yang sangat besar. Misalnya
dalam penentuan, baik kualitatif maupun kuantitatif, senyawa dalam protein. Protein sering
dipilih karena ia sering menjadi obyek molekul yang harus di-purified (dimurnikan)
terutama untuk keperluan dalam bio-farmasi. Kromatografi juga bisa diaplikasikan dalam
pemisahan molekul-molekul penting seperti asam nukleat, karbohidrat, lemak, vitamin dan
molekul penting lainnya.
Dengan data-data yang didapatkan dengan menggunakan kromatografi ini, selanjutnya
sebuah produk obat-obatan dapat ditingkatkan mutunya, dapat dipakai sebagai data awal
untuk menghasilkan jenis obat baru, atau dapat pula dipakai untuk mengontrol kondisi obat
tersebut sehingga bisa bertahan lama.
b) Pada Bidang Klinik
Dalam bidang clinical (klinik), teknik ini sangat bermanfaat terutama dalam menginvestigasi
fluida badan seperti air liur. Dari air liur seorang pasien, dokter dapat mengetahui jenis
penyakit yang sedang diderita pasien tersebut. Seorang perokok dapat diketahui apakah dia
termasuk perokok berat atau ringan hanya dengan mengetahui konsentrasi CN- (sianida)
dari sampel air liurnya. Demikian halnya air kencing, darah dan fluida badan lainnya bisa
memberikan data yang akurat dan cepat sehingga keberadaan suatu penyakit dalam tubuh
manusia dapat dideteksi secara dini dan cepat.
Sekarang ini, deteksi senyawa oksalat dalam air kencing menjadi sangat penting terutama
bagi pasien kidney stones (batu ginjal). Banyak metode analisis seperti spektrofotometri,
manganometri, atau lainnya, akan tetapi semuanya membutuhkan kerja ekstra dan waktu
yang cukup lama untuk mendapatkan hasil analisis dibandingkan dengan teknik
kromatografi.
Dengan alasan-alasan inilah, kromatografi kemudian menjadi pilihan utama dalam
membantu mengatasi permasalahan dalam dunia bioteknologi, farmasi, klinik dan
kehidupan manusia secara umum.
c) Pada Bidang Forensik
Aplikasi kromatografi pada bidang forensik pun sangat membantu, terutama dilihat dari segi
keamanan. Masih lekat dalam ingatan kita, sebuah peristiwa Black September Tragedy
mengguncang Amerika pada tanggal 11 September 2001 yang ditandai dengan runtuhnya
dua gedung kesayangan pemerintah Amerika Serikat. Demikian halnya di Indonesia yang
marak dengan aksi peledakan bom yang terjadi di mana-mana. Perhatian dunia pun
akhirnya mulai beralih dengan adanya peristiwa-peristiwa pengeboman/peledakan tersebut
ke bahaya explosive (bahan peledak) dengan peningkatan yang cukup tajam.
Kini kromatrografi menjadi hal yang sangat penting dalam menganalisis berbagai bahan-
bahan kimia yang terkandung dalam bahan peledak. Hal ini didorong karena dengan
semakin cepat diketahuinya bahan-bahan dasar apa saja bahan peledak, maka akan makin
mempercepat diambilnya tindakan oleh bagian keamanan untuk mengatasi daerah-daerah
yang terkena ledakan serta antisipasi meluasnya efek radiasi yang kemungkinan akan
mengena tubuh manusia di sekitar lokasi ledakan. Lebih jauh lagi, efek negatifnya terhadap
lingkungan juga bisa segera diketahui.
Pada dasarnya setiap bahan peledak, baru akan meledak jika terjadi benturan, gesekan,
getaran atau adanya perubahan suhu yang meningkat. Dengan terjadinya hal-hal seperti ini,
memberikan peluang bahan peledak tersebut berubah manjadi zat lain yang lebih stabil yang
diikuti dengan tekanan yang tinggi, yang bisa menghasilkan ledakan dahsyat atau bahkan
munculnya percikan api.
Ada banyak bahan kimia yang biasa digunakan dalam bahan peledak, baik bahan peledak
yang kerkekuatan tinggi maupun rendah, beberapa diantaranya adalah 2,4,6-trinitrotoluene
(TNT), siklonit (RDX), tetril, pentaeritritol tetranitrat (PETN) dan tetritol serta beberapa
anion lain seperti perklorat, klorat, klorida, nitrat, nitrit, sulfate dan tiosianat.Bisa dikatakan
bahwa analisis organic ion (ion organik) dan inorganic ion (ion anorganik) memainkan
peranan yang sangat penting pada saat investigasi lokasi ledakan bom berlangsung.
Pendeteksian ion-ion anorganik misalnya, setelah pengeboman berlangsung, akan
memberikan harapan karena tidak semua material dari bahan peledak tersebut ikut meledak
pada saat terjadi ledakan.
Bahan-bahan anorganik seperti klorat, klorida, nitrat, nitrit, sulfate, tiosianat, dan perklorat
adalah bahan-bahan kimia yang biasa digunakan sebagai oksidator untuk low explosive
(bahan peledak berkekuatan rendah).
d) Dalam bidang lingkungan
Dalam masalah lingkungan, sebagai konsekuensi majunya peradaban manusia, berarti
permasalahan pun semakin maju. Salah satu permasalahan serius yang dihadapi oleh
negara-negara berkembang dan utamanya negara maju adalah persoalan global warming
(pemanasan global). Menurut survei National Institute for Environmental Studies, Japan,
tahun 2006 lalu, bahwa masyarakat di Jepang memperkirakan tingkat pemanasan global
merupakan masalah lingkungan paling serius dan tingkatannya hampir 7 kali lipat dari satu
dekade yang lalu saat polling kali pertama dilakukan pada tahun 19972). Seiring dengan hal
itu, permasalahan lingkungan pun semakin meningkat. Disinilah, teknik kromatografi
mengambil peran paling penting dalam environmental analysis (analisis lingkungan) ini.
Pada dasarnya permasalahan lingkungan bisa dibagi ke dalam 3 bagian : water hygiene, soil
hygiene dan air hygiene. Sebagai contoh, kualitas air (misal : air ledeng, air sungai, air
danau, air permukaan) dapat diketahui salah satunya dengan mengetahui jenis anion dan
kation yang terkandung dalam sampel air tersebut sekaligus jumlahnya. Apakah
mengandung logam-logam berbahaya atau tidak.
Demikian halnya pada daerah yang terkena acid rain (hujan asam). Antisipasi dini dapat
dilakukan dengan mengetahui secara dini kandungan sulfate ion, SO4
2-
(ion sulfat) dan
nitrogen trioxide ion, NO
3-
(nitrogen trioksida) yang terdapat dalam air hujan tersebut.
Terbentuknya hujan asam disebabkan gas sulfur oxide, SOx dengan uap air dan membentuk
asam sulfat (H2SO4), demikian pula nitrogen oxide NOx dapat membentuk asam nitrat
(HNO3) di udara. Reaksi-rekasi ini mengambil waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari
di udara hingga akhirnya jatuh ke bumi dalam bentuk hujan asam.
Di beberapa negara maju seperti Jepang, Amerika, Eropa, Kanada, dan beberapa negara
lainnya, monitoring udara dan air hujan menjadi sangat penting tidak hanya untuk
memperkirakan efek dari polusi itu tapi yang lebih penting lagi adalah memonitor progress
(perkembangan) control polusi dari global ecology (ekologi global).
Kontrol kondisi air hujan ini menjadi penting karena beberapa efek yang fatal yang mungkin
bisa terjadi, di antaranya jatuhnya hujan asam dapat meningkatkan keasaman danau,
sungai, bendungan yang pada akhirnya mungin dapat menyebabkan kematian pada
kehidupan air. Demikian pula keasaman pada tanah dapat meningkat dan merembes ke air
permukaan tanah yaitu sumber air minum sehari-hari.
e) Aplikasi pada bidang yang lain
Sebenarnya masih sangat banyak aplikasi kromatografi dalam bidang-bidang keilmuan
lainnya. Beberapa aplikasi tersebut misalnya dalam industri kertas, pertambangan, proses
logam, petrokimia, pertanian, kedokteran dan lain-lain. Namun karena keterbatasan ruang,
dalam tulisan ini penulis hanya menampilkan beberapa contoh peran serta kromatografi
dalam memudahkan dan mempercepat perolehan target data dalam beberapa bidang yang
tersebut di atas.
D. Komponen alat kromatografi gas
Alat GLC atau GC terdiri atas 7 bagian yang pokok seperti pada gambar, yaitu:
Silinder tempat gas pembawa/pengangkut
Pengatur aliran dan pengatur tekanan
Tempat injeksi cuplikan
Kolom
Detector
Pencatat
Terminal untuk 3, 4 dan 5
Bagian-bagian dari kromatografi gas :
Gas pengangkut/pemasok gas
Gas pengangkut (carrier gas) ditempatkan dalam silinder bertekanan tinggi. Biasanya
tekanan dari silinder sebesar 150 atm. Tetapi tekanan ini sangat besar untuk digunakan
secara Iansung.
Gas pengangkut harus memenuhi persyaratan :
a) Harus inert, tidak bereaksi dengan cuplikan, cuplikan-pelarut, dan material dalam
kolom.
b) Murni dan mudah diperoleh, serta murah.
c) Sesuai/cocok untuk detektor.
d) Harus mengurangi difusi gas.
Gas-gas yang sering dipakai adalah: helium, argon, nitrogen, karbon dioksida dan hidrogen.
Gas helium dan argon sangat baik, tidak mudah terbakar, tetapi sangat mahal. H2 mudah
terbakar, sehingga harus berhati-hati dalam pemakaiannya. Kadang-kadang digunakan juga
C0
2
.
Pemilihan gas pengangkut atau pembawa ditentukan oleh ditektor yang digunakan. Tabung
gas pembawa dilengkapi dengan pengatur tekanan keluaran dan pengukur tekanan. Sebelum
masuk ke kromatografi, (harusnya) ada pengukur kecepatan aliran gas serta sistem penapis
molekuler untuk memisahkan air dan pengotor gas lainnya. Pada dasarnya kecepatan alir
gas diatur melalui pengatur tekanan dua tingkat yaitu pengatur kasar (coarse) pada tabung
gas dan pengatur halus (fine) pada kromatograf. Tekanan gas masuk ke kromatograf (yaitu
tekanan dari tabung gas) diatur pada 10 s.d 50 psi (di atas tekanan ruangan) untuk
memungkinkan aliran gas 25 s.d 150 mL/menit pada kolom terpaket dan 1 s.d 25 mL/menit
untuk kolom kapiler.
2. Pengatur aliran dan pengatur tekanan
Ini disebut pengatur atau pengurang Drager. Drager bekerja baik pada 2,5 atm, dan
mengalirkan massa aliran dengan tetap. Tekanan lebih pada tempat masuk dari kolom
diperlukan untuk mengalirkan cuplikan masuk ke dalam kolom. Ini disebabkan, kenyataan
lubang akhir dari kolom biasanya mempunyai tekanan atmosfir biasa. Juga oleh kenyataan
bahwa suhu kolom adalah tetap, yang diatur oleh thermostat, maka aliran gas tetap yang
masuk kolom akan tetap juga.
Demikian juga komponen-komponen akan dielusikan pada waktu yang tetap yang disebut
waktu penahanan (the retention time), tR. Karena kecepatan gas tetap, maka komponen juga
mempunyai volume karakteristik terhadap gas pengangkut = volume penahanan (the
retention volume), vr. Kecepatan gas akan mempengaruhi effisiensi kolom.
Harga-harga yang umum untuk kecepatan gas untuk kolom yang memiliki diameter luar.
1/4 O.D : kecepatan gas 75 ml/min
1/8 O.D : kecepatan gas 25 ml/min.
3. Tempat injeksi (The injection port)
Dalam pemisahan dengan GLC cuplikan harus dalam bentuk fase uap. Gas dan uap dapat
dimasukkan secara langsung. Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk cairan dan
padatan. Hingga dengan demikian senyawa yang berbentuk cairan dan padatan pertama-
tama harus diuapkan. Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk dalam kolom. Panas itu
terdapat pada tempat injeksi seperti pada gambar 9. bagan injektor.
Tempat injeksi dari alat GLC selalu dipanaskan. Dalam kebanyakan alat, suhu dari tempat
injeksi dapat diatur. Aturan pertama untuk pengaturan suhu ini adalah batiwa suhu tempat
injeksi sekitar 50C lebih tinggi dari titik didih campuran dari cuplikan yang mempunyai
titik didih yang paling tinggi. Bila kita tidak mengetahui titik didih komponen dari cuplikan
maka kita harus mencoba-coba. Sebagai tindak lanjut suhu dari tempat injeksi dinaikkan.
Jika puncak-puncak yang diperoleh lebih baik, ini berarti bahwa suhu percobaan pertama
terlalu rendah. Namun demikian suhu tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab
kemungkinan akan terjadi perubahan karena panas atau penguraian dari senyawa yang akan
dianalisa.
Cuplikan dimasukkan ke dalam kolom dengan cara menginjeksikan melalui tempat injeksi.
Hal ini dapat dilakukan dengan pertolongan jarum injeksi yang sering disebut a gas tight
syringe.
Perlu diperhatikan bahwa kita tidak boleh menginjeksikan cuplikan terlalu banyak, karena
GC sangat sensitif. Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada waktu kita mengadakan
analisa 0,5 -50 ml gas dan 0,2 20 ml untuk cairan seperti pada gambar di bawah.
4. Kolom
Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Bentuk dari kolom dapat lurus, bengkok,
misal berbentuk V atau W, dan kumparan/spiral. Biasanya bentuk dari kolom adalah
kumparan. Kolom selalu merupakan bentuk tabung. Tabung ini dapat terbuat dari :
a. Tembaga (murah dan mudah diperoleh)
b. Plastik (teflon), dipakai pada suhu yang tidak terlalu tinggi.
c. Baja (stainless steel), (mahal)
d. Alumunium
e. Gelas
Panjang kolom dapat dari 1 m sampai 3 m. Diameter kolom mempunyai berbagai ukuran,
biasanya pengukuran berdasarkan diameter dalam dari kolom gelas yaitu antara 0,3 mm
hingga 5 min. Kebanyakan kolom yang digunakan berupa stainles steel dengan diameter luar
(OD) dari I/S atau 1/4 inch (0,3 atau 0,6 cm). Pada GSC kolom diisi dengan penyerap (ad-
sorbent), sedangkan pada GLC kolom diisi dengan solid support (padatan pendukung)
yang diikat oleh fase diam. `
5. Detektor
Detektor berfungsi sebagai pendeteksi komponen-komponen yang telah dipisahkan dari
kolom secara terus-menerus, cepat, akurat, dan dapat melakukan pada suhu yang lebih
tinggi. Detektor harus dapat dipercaya dan mudah digunakan. Fungsi umumnya mengubah
sifat-sifat molekul dari senyawa organik menjadi arus listrik kemudian arus listrik tersebut
diteruskan ke rekorder untuk menghasilkan kromatogram. Detektor yang umum digunakan:
a. Detektor hantaran panas (Thermal Conductivity Detector_ TCD)
b. Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector_ FID)
c. Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector _ECD)
d. Detektor fotometrik nyala (Falame Photomertic Detector _FPD)
e. Detektor nyala alkali
f. Detektor spektroskopi massa
Detektor yang peka terhadap senyawa organik yang mengandung fosfor adalah FID, ECD,
dan FPD. Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector ECD). Pada penetapan
ini, digunakan detektor penangkap elektron. Detektor ini merupakan modifikasi dari FID
yaitu pada bagian tabung ionisasi. Dasar dari ECD ialah terjadinya absorbsi e- oleh senyawa
yang mempunyai afinitas terhadap e- bebas (senyawa-senyawa elektronegatif). Dalam
detektor gas terionisasi oleh partikel yang dihasilkan dari
3
H atau
63
Ni. Detektor ini
mengukur kehilangan sinyal ketika analit terelusi dari kolom kromatografi. Detektor ini peka
terhadap senyawa halogen, karbonil terkoyugasi, nitril, nitro, dan organo logam, namun
tidak peka terhadap hidrokarbon, ketone, dan alkohol.
6. Oven kolom
Kolom terletak didalam sebuah oven dalam instrumen. Suhu oven harus diatur dan sedikit
dibawah titik didih sampel. Jika suhu diset terlalu tinggi, cairan fase diam bisa teruapkan,
juga sedikit sampel akan larut pada suhu tinggi dan bisa mengalir terlalu cepat dalam kolom
sehingga menjadi terpisah (Hendayana, 2001).
7. Rekorder
Rekorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang diperkuat melalui
elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Dari kromatogram yang diperoleh dapat
dilakukan analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dengan cara membandingkan
waktu retensi sampel dengan standar. Analisis kuantitatif dengan menghitung luas area
maupun tinggi dari kromatogram (Hendayana, 2001). Sinyal analitik yang dihasilkan
detektor dikuatkan oleh rangkaian elektronik agar bisa diolah oleh rekorder atau sistem
data. Sebuah rekorder bekerja dengan menggerakkan kertas dengan kecepatan tertentu. di
atas kertas tersebut dipasangkan pena yang digerakkan oleh sinyal keluaran detektor
sehingga posisinya akan berubah-ubah sesuai dengan dinamika keluaran penguat sinyal
detektor. Hasil rekorder adalah sebuah kromatogram berbentuk pik-pik dengan pola yang
sesuai dengan kondisi sampel dan jenis detektor yang digunakan.
Rekorder biasanya dihubungkan dengan sebuah elektrometer yang dihubungkan dengan
sirkuit pengintregrasi yang bekerja dengan menghitung jumlah muatan atau jumlah energi
listrik yang dihasilkan oleh detektor. Elektrometer akan melengkapi pik-pik kromatogram
dengan data luas pik atau tinggi pik lengkap dengan biasnya.
Sistem data merupakan pengembangan lebih lanjut dari rekorder dan elektrometer dengan
melanjutkan sinyal dari rekorder dan elektrometer ke sebuah unit pengolah pusat
(CPU, Central Procesing Unit).
E. Prinsip kerja kromatografi gas
Gas pembawa (biasanya digunakan helium, argon atau nitrogen) dengan tekanan tertentu
dialirkan secara konstan melalui kolom yang berisi fase diam. Selanjutnya sampel
diinjeksikan ke dalam injektor (injection port) yang suhunya dapat diatur. Komponen-
komponen dalam sampel akan segera menjadi uap dan akan dibawa oleh aliran gas
pembawa menuju kolom. Komponen-komponen akan teradsorpsi oleh fase diam pada
kolom kemudian akan merambat dengan kecepatan berbeda sesuai dengan nilai Kd masing-
masing komponen sehingga terjadi pemisahan.
Komponen yang terpisah menuju detektor dan akan terbakar menghasilkan sinyal listrik yng
besarnya proporsional dengan komponen tersebut. Sinyal lalu diperkuat oleh amplifier dan
selanjutnya oleh pencatat (recorder) dituliskan sebagai kromatogram berupa puncak.
Puncak konsentrasi yang diperoleh menggambarkan arus detektor terhadap waktu.
F. Aplikasi GC
GC tampil menonjol dalam pekerjaan laboratorium pada topik-topik yang sedang banyak
diamati. Analisanya, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) melakukan suatu program
pemantauan kadar pestisida dan tanah, air tanah dan sampel-sampel semacamnya.
Pendekatan umumnya melibatkan pengekstrasian sampel untuk mengkonsentrasikan analit
dalam suatu pelarut organik yang sesuai dengan pengkromatografian ekstrak tersebut.
Sisa-sisa hormon yang digunakan untuk mendorong pertumbuhan binatang diukur dalam
sampel daging dengan cara yang sama, dan ekstrak spesimen urin juga sama diuji dengan
GLC dalam program penyaringan obat-obatan.
Aluminium besi dan tembaga dalam aliase telah ditetapkan dengan melarutkan sampel
diikuti dengan ekstraksi logam-logam itu ke dalam larutan trifluoroaseton dalam kloroform
yang kemudian dikromatografi.
GLC sangat berperan penting dalam upaya memonitor dan mengendalikan distribusi
pencemaran dalam lingkungan, misalnya Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) AS
menjalankan suatu program yang ekstensif untuk memonitor kadar pestisida dalam tanah di
berbagai tempat di negeri itu, tujuannya ialah menegakkan suatu garis pijakan yang
menunjukkan dengan eksak situasi pada masa kini sehingga kecenderungan dalam masa
depan dapat ditafsirkan dengan bermakna program yang serupa sedang dilakukan untuk
hasil bumi, air, ikan, kehidupan bebas.
GLC dapat juga digunakan untuk identifikasi dan pengelompokan pemonitoran gas-gas
pernapasan selama anestesia, penelusuran senyawa organik dan organisme hidup pada
planet lain. Dan masih banyak lagi aplikasi dari GLC yang tidak dapat kami sebutkan satu
persatu dalam kehidupan makhluk hidup di bumi.
BAB III
KESIMPULAN
A. Keuntungan Kromatografi
Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi.
Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan efisiensi pemisahan yang
tinggi.
Gas mempunyai vikositas yang rendah.
Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat sehingga analisis relatif
cepat dan sensitifitasnya tinggi.
Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah fase diam yang sangat
beragam yang akan memisahkan hampir segala macam campuran.
Kromatografi merupakan metoda pemisahan yang cepat, mudah dan menggunakan
peralatan yang murah serta sederhana, kecuali untuk kromatografi gas, hingga campuran
yang kompleks dapat dipisahkan dengan mudah.
Kromatografi hanya membutuhkan campuran cuplikan.yang sangat sedikit sekali, bahkan
tidak menggunakan jumlah yang besar, disamping itu kromatografi pekerjaannya dapat
diulang.
B. Kerugian Kromatografi
Teknik kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap
Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan campuran dalam jumlah besar.
Pemisahan pada tingkat mg mudah dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin
dilakukan, tetapi pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada
metode lain.
Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan
zat terlarut