Anda di halaman 1dari 3

LUKA BAKAR KIMIA

I. Pengertian
Luka bakar karena zat kimia adalah luka bakar yang disebabkan oleh panas yang terlepas saat asam
atau basa kuat bereaksi dengan jaringan tubuh.

II. Etiologi
1. Luka bakar akibat asam
2. Luka bakar akibat basa

Biasanya terjadi pada kecelakaan industri akibat trauma asam atau basa.

III. Patofisiologi
Proses merusak dari zat kimia ini akan berlanjut selama zat kimia tersebut masih berkontak dengan
jaringan. Bahan kimia toksik menyebabkan cidera dengan mengeringkan jaringan.

IV. Tanda dan Gejala
Luka bakar kimia menimbulkan perubahan warna kulit yang mengesankan suatu luka bakar
superfisial, namun seringkali selkuruh ketebalan kulit dan bahkan jaringan subkutan sudah tidak
hidup lagi.
1. Luka Bakar Akibat Asam
Suatu asam kuat biasanya memiliki pH kurang dari 2 dan menyebabkan nekrosis koagulasi pada
jaringan. Efek merusak dari asam ini dibatasi oleh sawar yang dibentuk oleh jaringan koagulasi.
Dengan beberapa pengecualian, luka bakar akibat asam bersifat kurang destruktif dibandingkan luka
bakar akibat basa. Seperti semua senyawa kimia kautik lainnya, lama kontak memperberat dalamnya
cedera. Jika keropeng yang terbentuk berwarna gelap, dengan tekstur seperti kulit sapi serta
mengering maka luka bakar tersebut agaknya jenis ketebalan penuh. Yang paling sering adalah luka
bakar karena asam hidroflourat merupakan asam yang sangat korosif dan menyebabkan intoksikasi
melalui dua mekanisme yang berbeda. Ion hidrogen menyebabkan koagulasi protein dan kerusakan
jaringan yang hampir sama sepeerti asam kuat lainnya. Di samping itu, ion fluor yang bebas
menyebabkan pencairan dan menembus lebih ke dalam untuk membentuk garam dengan kalsium
dan magnesium. Kerusakan jaringan yang progresif disertai nyeri hebat pada bagian dalam dan
edema. Hipokalsemia yang mengancam nyawa dapat terjadi setelah kontak ekstensif dengan asam
hidroflourat.

2. Luka Bakar Akibat Basa
Suatu basa kuat memiliki pH 11,5 atau lebih dan menyebabkan nekrosis pencairan. Karena sawar
koagulasi protein tidak pernah terbentuk maka luka bakar akibat basa bersifat invasif dan
memerlukan irigasi dengan air yang lebih lama (12 jam). Suatu basa kuat dapat melarutkan protein
dan kolagen serta menimbulkan penyabunan lemak dan dehidrasi sel-sel jaringan. Kedalaman luka
bakar pada stadium awal seringkali diperhitungkan terlalu rendah dan luas permukaan luka bakar
derjat tiga seringkali dijumpai lebih besar dari yang diperkirakan semula. Luka bakar seperti ini
mudah terindeksi dan menimbulkan sepsis. Luka bakar akibat basa yang sering terjadi biasanya
diakibatkan oleh fosfor, ter, dan semen.
Fosfor putih lazim digunakan sebagai bahan pembakar dalam amunisi militer, kembang api, dan
produk-produk pertanian. Bila terpapar udara, fosfor putih akan teroksidasi secara spontan menjadi
fosfor pentoksida, yang akan mengalami hidrolisis dalam air menjadi asam fosfat kaustik. Cedera
panas langsung ditimbulkan oleh partikel-partikel fosfor yang membakar, dan karena sifat eksplosif
dari pembakaran spontan, partikel-partikel fosfor seringkali tertanam jauh di bawah kulit.
Pembakaran dapat dicegah dengan membatasi terdapatnya oksigen. Lampu Wood fapat membantu
mengenali partikel-partikel fosfor tersebut.
Ter merupakan sisa-sisa minyak bumi setelah distilasi fraksional. Ter batu bara paling banyak
mengandung zat-zat yang dapat menguap dan menyebabkan kerusakan jaringan yang paling
bermakna. Bergantung pada suhunya, maka ter yang panas dapat menyebabkan cedera panas
langsung pada kulit. Pendinginan segera ter panas tersebut merupakan aspek terpenting dalam
penatalaksanaan. Pemindahan ter harus ditunda hingga fase resusitasi selesai.
Semen yang basah dapat menyebabkan luka bakar kimiawi. Biasanya pH semen di atas 12 karena
terdapatnya kalsium oksida dan dengan adanya air juga terdapat natrium, kalium, dan kalium
hidroksida. Cedera seperti ini seringkali tidak diketahui hingga berjam-jam setelah kontak.

V. Penatalaksanaan
1. Semua pakaian yang terkena harus segera dilepas.
Melepas diri terhadap kontak dengan zat kimia tersebut harus segera dilakukan untuk membatasi
kerusakan dan intoksikasi lebih lanjut. Prioritas utama dalam pengobatan luka bakar kimiawi adalah
penghentian segera proses terbakar.
2. Periksa kulit untuk melihat daerah luka.
3. Irigasi luka segera dengan air bervolume besar untuk mempermudah masuknya ion hidroksil ke
lapisan kulit yang lebih dalam sehingga membatasi kerusakan jaringan.
Untuk asam-asam biasa maka pencucian perlu dilakukan setidaknya 30 hingga 60 menit. Pada luka
bakar karena basa pencucian perlu dilakukan selama beberapa jam. Pencucian yang terus-menerus
dengan cairan dalam jumlah besar harus dapat mempertahankan suhu pada jaringan yang rusak di
bawah suhu cedera. Pemakaian larutan penetral spesifik sama sekali tidak diperbolehkan karena
panas dari proses netralisasi dapat menyebabkn kerusakan lebih lanjut.
4. Periksa komposisi zat kimia karena penatalaksanaan lebih lanjut ditentukan oleh hasil
pemeriksaan komposisi dari zat kimia.
Luka bakar karena fenol, asam hidrofluorida dan fosfor memerlukan perhatian khusus. Fenol kurang
larut dalam air dan irigasi harus diikuti dengan pengolesan pelarut seperti polietilen glikol, propilen
glikol, gliserol, minyak sayur atau larutan air dan sabun. Konsentrasi absorpsi fenol yang tinggi dapat
menimbulkan efek pada sistem jantung, ginjal dan susunan saraf pusat serta pasien perlu dipantau
untuk melihat fungsi-fungsi ini. Asam hidrofluorat menembus kulit dengan cepat dan bisa
menimbulkan pencairan jaringan lunak serta erosi tulang yang mendasarinya. Nyerinya sangat hebat
pada jenis luka bakar ini dan suntikan kalsium glukonat intralesi dapat digunakan untuk
menetralisasi ion fluorida dan mengurangi nyeri. Luka bakar fosfor memerlukan perhatian segera
untuk menghilangkan semua partikel fosfor yang dapat dikenali dalam luka. Senyawa ini akan leleh
bila terpapar udara dan harus diletakkan dalam air setelah dikeluarkan. Pengolesan larutan tembaga
sulfat encer pada permukaan luka mungkin diperlukan untuk identifikasi partikel-partikel kecil fosfor
yang tertanam.
5. Oleskan obat antimikroba topikal pada luka bakar
6. Bila luka bakar cukup luas maka diperlukan resusitasi cairan.
7. Bila luka bakar memiliki ketebalan penuh maka perlu dilakukan eksisi dan cangkok kulit pada
waktu yang tepat.

VI.


Daftar Pustaka
Georgiade, Gregory S, Pederson Christopher. Luka Bakar. In: Buku Ajar Bedah. Sabiston, David
C.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1995. Hal. 160.
Schwartz, Seymour I. Luka Bakar. In: Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. Edisi 6. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2000. Hal 126-8.
Grace, Pierce A, Borley, Neil R. Luka bakar. In: At a glance ilmu bedah.Jakarta: Erlangga; 2007. Hal.
87.