Anda di halaman 1dari 16

Case Report Kraniotomi Cedera Kepala Ringan

Case Report Kraniotomi Cedera Kepala Ringan Pembimbing: dr. Robert H. Sirait, Sp. An Disusun oleh: Maesari

Pembimbing:

dr. Robert H. Sirait, Sp. An

Disusun oleh:

Maesari Ahmad (04-001) Alni Dwi Cahyani (08-002)

KEPANITERAAN ILMU ANESTESI PERIODE 5 AGUSTUS 9 SEPTEMBER 2012 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

RESUME

Seorang pria berusia 20 tahun, BB 65 kg, dengan diagnosis Cedera Kepala Ringan disertai Epidural hematom, edema serebri dan fraktur linier os parietooccipital dextra tertutup dilakukan operasi kraniotomi dengan anestesi umum.

Pada pemeriksaan pre op didapatkan kesadaran: compos mentis, keadaan umum:

tampak sakit sedang, keadaan gizi: baik, tanda vital: TD : 130/80 mmHg, Frekuensi nadi:

80x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat, Frekuensi napas: 22x/menit, suhu: 36,7º C, Kepala: nyeri kepala dan fraktur linier vertex dengan perdarahan epidural ringan serta sub arachnoid ringan, Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera ikhterik: -/-, eksoftalmus: -/-, strabismus:-/-, nistagmus:-/-, Telinga: dbn, Bibir: simetris, pucat, Hidung: perdarahaan (-), Leher: dbn, Thoraks: paru dan jantung: dbn, Abdomen: defans muscular (-), nyeri tekan (-) diseluruh kuadran, bissing usus (+) 3 x/menit, Ektremitas: akral hangat di ke empat ekstremitas, edema (-), capillary refill time <2 detik.

Pada pemeriksaan penunjang didapkan hemoglobin: 14,3g/dl, hematokrit 41,5%, leukosit 15,2 ribu/ul, trombosit 167 ribu/ul, GDS: 131 mg/dl, gol. Darah B/Rh (+), Urinalisa:

dbn, sedimen urin: dbn, AGD pH : 7.416, pCO 2 : 32.0 mmHg. pO 2 : 194.3 mmHg, HCO 3 : 20.7 mmol/L, saturasi O 2 : 99.7%, BE: -2.4 mmol/L, total CO 2 : 21.7 mmol/L, konsentrasi O 2 : 16.6 VOL%.

BAB I LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN

 

Nama

: Tn. NK

Umur

   

Berat badan

Tinggi badan

: 20 tahun : 65 kg

: 167 cm

Jenis kelamin : Laki laki

 

Alamat

: Jl. Lingkar Sari 46A Rt07/ Rw 09 Kalisari, Pasar Rebo.

Agama

: Hindu

Tanggal masuk: 08 Agustus 2012, 14:49 WIB

 

No. MR

: 97-67-03-00

II.

ANAMNESIS (allo anamnesis)

a.

Keluhan utama: Nyeri kepala

b.

Keluhan tambahan : Muntah muncrat

c.

RPS: Pasien datang ke IGD RS UKI dengan riwayat kecelakaan terjatuh dari sepeda dengan benturan pada kepala bagian atas ± satu hari SMRS . Setelah kejadian tersebut pasien pingsan ± 15 menit lalu pasien sadarkan diri dan ingat kejadian saat itu. Pasien mengaku terdapat nyeri pada bagian kepala disertai muntah muncrat.

d.

RPD :

 

-

Riwayat penyakit darah tinggi

: Disangkal

-

Riwayat penyakit DM

: Disangkal

-

Riwayat penyakit alergi

: Disangkal

-

Riwayat penyakit asma

: Disangkal

-

Riwayat operasi sebelumnya

: Disangkal

III.

PEMERIKSAAN FISIK

1.

Status generalis

 

-

Keadaan Umum

: Tampak Sakit Berat

-

Kesadaran

: Somnolen, GCS=E4M6V5

-

Vital Sign:

- Tekanan darah = 130/80 mmHg - Respirasi = 22x/menit - Nadi= 80x/menit, isi cukup, kuat angkat - Suhu= 36,7ºC

-

Kepala

: Nyeri kepala dan fraktur linier os parietooccipital dextra tertutup.

-

Mata

: Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, RCL+/+ , RCTL +/+, Pupil

 

isokor, diameter ± 3 mm

 
 

-

Telinga

: DBN

-

Hidung

: Discharge (-) epistaksis (-), deviasi septum (-)

Mulut

  • - : DBN

  • - : DBN, gigi palsu (-)

Gigi

  • - Leher : Simestris, trakea ditengah, pembesaran tiroid dan kelenjar getah bening (-)

  • - Thorax: Pulmo: Simetris kanan kiri, Tidak ada retraksi, SN vesikuler (+/+) normal Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)Cor: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-).

  • - : Dinding perut datar, supel.

Abdomen

-

Hepar/ Lien

: tidak teraba.

-

Usus

: BU (+) normal.

  • - : Edema (-), sianosis (-), akral hangat.

Extremitas

  • 2. Terapi dari IGD

    • 1. I RL+ III ketese

    • 2. Kanul O 2 + I Ikaneuron + II ergotika

    • 3. Ceftriaxone 1gr

    • 4. Plasminex 1 amp

    • 5. Vit K 1 amp

    • 6. Manitol 100 cc

    • 7. Kateter urin

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal 8 Agustus 2012

  • 1. CT Scan → Kesan : Fraktur linier vertex dengan perdarahan subepidural ringan serta subarachnoid ringan.

  • 2. Pemeriksaan laboratorium : Hematologi:

    • - Hb : 14,3 g/dl (14 16 g/dl)

    • - Leukosit: 15.200 ribu/µl (5000 10000 ribu/µl)

    • - Ht : 41,5 % (L 40 48 %)

    • - Trombosit : 167.000/µl (150.000 400.000/µl) Hemostasis:

    • - Masa pembekuan: 2 menit (1-3 menit)

    • - Masa perdarahan: 14 menit (10-16 menit)

    • - Masa protrombin: AGD dan Elektrolit:

- Kontrol: 12 detik (10-16 detik) - Pasien: 14 detik (10-16detik)

-

AGD:

  • PH darah

: 7.416

  • PCO 2

: 32.0 mmHg

  • pO 2

: 194.3 mmHg

  • HCO 3

: 20.7 mmol/L

  • Saturasi O 2

: 99.7%

  • BE

: -2.4 mmol/L

  • Total CO 2

: 21.7 mmol/L

-

  • Konsentrasi O 2 : 16.6 VOL%. Elektrolit

  • - Natrium

: 148 mmoL/L

  • - Kalium

: 4.5 mmoL/L

  • - Clorida

: 110 mmoL/L

 

-

Kimia Klinik:

 

-

GDS

:127 mg/dL

-

Ureum darah

: 34 mg/dL

-

Creatinin darah: 0.89 mg/dL

V.

DIAGNOSIS

Diagnosis klinis: Cedera Kepala Ringan disertai Epidural hematom, edema serebri dan fraktur linier os parietooccipital dextra tertutup

Tindakan: Kraniotomi evakuasi dan debridement.

VI.

KESIMPULAN PEMERIKSAAN FISIK

Status ASA I (E)

VII.

LAPORAN ANESTESI

Status Anestesi

  • 1. Persiapan Anestesi

    • a. Informed concent mengenai komplikasi dan rencana operasi.

    • b. Tidak makan dan minum.

  • 2. Penatalaksanaan Anestesi Diagnosa Pra Bedah

: Cedera Kepala Ringan disertai Epidural hematom, edema serebri dan fraktur linier os parietooccipital dextra tertutup.

  • - Plasminex 1 amp

Diagnosa pasca bedah

: Post Kraniotomi atas indikasi Cedera Kepala Ringan disertai epidural hematom vertex dan edema serebri.

Keadaan pra bedah

: TD : 130/80 mmHg

Frekuensi nadi: 80x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat, Frekuensi napas: 22x/menit, suhu: 36,7º C, : Akral hangat, capillary refill time <2 detik

Sirkulasi Respirasi

: Airway clear, rhonki -/-, wheezing -/-

Saraf

: Compos mentis, pupil isokor 3mm/3mm

Gastrointestinal

: Perut tampak datar

Renal

: Nyeri ketok CVA -/-

Metabolik

: GDS: 127 mg/dl

Status fisik

: ASA 1E

Medikasi pra bedah

: - Ceftriaxone 1gr

 
  • - Vit K 1 amp

  • - Manitol 100 cc

Komplikasi pra bedah

:

-

Jenis operasi

: Craniotomie

Jenis anestesi

: General Anestesi (GA)

Lama Operasi

: 2 jam 30 menit.

Lama Anestesi

: 2 jam 50 menit.

Anestesi Dengan

: Proanes. Maintenance: O 2 , N 2 O, Isoflurance

Relaxasi Dengan

: Ecron

Teknik Anestesi

: Preoksigenasi, induksi, intubasi dengan ETT no. 7,5, KK, cuff+, NGT.

Respirasi

: Control respiration

Posisi

Infus

: Supinasi

 

: NaCl 0,9, Fimahes 200

Komplikasi selama bedah : Fluktuasi TD

Keadaan akhir pembedahan: TD102/ 62 mmHg, N: 62 x/ menit, Saturasi: 100%

 

Mual

(-)

Muntah

(-)

Menggigil

(-)

Sianosis

(-)

Keadaan Bayi Pada Seksio

:

-

Terapi Khusus Pasca Bedah

:

-

Komplikasi Khusus Pasca Bedah : -

Hipersensitivitas / Alergi

:

-

Kematian

:

-

Sebab Kematian

:

-

Tekhnik Khusus

:

-

Pre-medikasi

:

-

Medikasi

: - Fortanes 3 mg

 
 
  • - Kalnex 500 mg

  • - Pethidine 40 mg

  • - Proanes 100 mg

  • - Ecron 5 mg + 4 mg

  • - Fentanyl 50 mg

  • - Ephedrine 10 mg

Jumlah Cairan / Transfusi

: RL 1000 cc, fimahes 500cc

Perdarahan

:

± 40 cc

VIII.PROGNOSIS

Dubia

IX.PEMBAHASAN

  • 1. Pre Operatif

Pasien datang ke RSU UKI dan sudah ditangani di IGD terlebih dahulu. Pada saat datang keadaaan umum pasien tampak sakit sedang, keluhan merasa nyeri di kepala dengan GCS E4M6V5, TD : 130/80 mmHg, Frekuensi nadi: 80x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat, Frekuensi napas: 22x/menit, suhu: 36,7º C. Pasien tidak mempunyai riwayat operasi sebelumnya, tidak mempunyai riwayat alergi, hipertensi, asma dan DM.

Durante Operatif Sebelum dilakukan tindakan pembedahan pada pasien ini diputuskan untuk dilakukan general anestesi dengan teknik semi closed system dan memakai fasilitas intubasi. Alasannya karena tindakan operasi tersebut termasuk operasi besar khusus, dan berlangsung kurang lebih 1 jam sehingga dengan teknik ini diharapkan jalan nafas dapatdikendalikan dengan baik. Sebelum dilakukan tindakan anestesi terlebih dahulu diberikan premedikasi. Premedikasi yang digunakan adalah Sulfas Atropin (SA) dan Fortanest. SA diberikan dengan dosis 0,01 mg/kgBB pemberiannya secara intravena. Pada pasien ini diberikan dengan dosis 0,25 mg. Indikasi SA adalah untuk penanganan hipersekresi dan hipersalivasi sebelum atau setelah operasi. Efek sampingnya berupa kekeringan mulut dan kekaburan pandangan. Sedangkan pemberian fortanest yang mengandung midazolam dengan dosis 2mg iv

digunakan sebagai pelemas otot. Midazolam mempunyai durasi dan onset cepat. Onsetnya adalah 2-12 menit dengan durasi 2,5 jam. Efek samping midazolam adalah amnesia anterograde sehingga diharapkan pasien tidak dapat mengingat kejadian selama diruang operasi untuk menghindari trauma psikologis.Untuk induksi diberikan Recofol yang berisi Propofol. Indikasi Propofol adalahsebagai induksi sedative pada anastesi umum dan sedasi pada perawatan intensif. Suntikansecara iv seringkali menyebabkan nyeri oleh karenanya dapat diberikan lidocain 1-2mg/kgBB secara iv dan harus dilakukan perlahan untuk

mengurangi nyerinya. Dosis pemberian propofol untuk induksi adalah 2−3mg/kgBB sehingga

pada pasien ini diberikandosis 100mg. Pada wanita hamil tidak dianjurkan karena dapat

menembus plasenta.Untuk pemeliharaan anestesi diberikan dengan cara inhalasi. Zat anestesi yangdigunakan adalah N2O, O2, dan Halothan. N2O merupakan zat anestesi yang lemah tapimempunyai efek analgetik yang kuat. Pemberian N2O biasanya bersamaan dengan O2 dengan tujuan untuk mencegah terjadinya hipoksia. Selain itu N2O bersifat mendesak oksigen dalam tubuh karena sebagian besar N2O maasuk ke dalam alveoli yang akanmenyebabkan terjadinya hipoksia dan tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinyahipoksia difusi adalah dengan cara pemberian O2 tinggi beberapa menit setelah selesaianestesi. Selain digunakan juga halothan untuk menjaga tingkat sedasi dari pasien. Baunyatidak mengganggu dan tidak merangsang jalan nafas, maka oleh sebab itu sering digunakanuntuk maintenance anastesi umum dan induksi inhalasi pada pasien anak yg umumnyakurang kooperatif. Pada rumatan nafas spontan biasanya

diberikan 1−2 vol% sedangkan pada rumatan pasien dengan nafas terkendali sekitar 0,5−1

vol%. Halothan menyebabkanvasodilatasi serebral yang meninggikan aliran darah ke otak yang sulit dikendalikansehingga tidak dianjurkan untuk operasi pada bedah otak.Pada pasien kraniotomi dengan menggunakan gas halothan sebagai rumatan

biasanyadisertai perdarahan yang cukup banyak sehingga diperlukan obat yang bersifat hemostatik.Untuk mengatasinya maka pada pasien diberikan Transamin yang berisi Asam traneksamat d en gan d o sis 5 00mg iv di komb in asi d en gan vitami n K yan g b e r p er an d al am f ak to r pembekuan darah dan vitamin C yang bertujuan untuk meningkatkan kerja dari obatTransamin sehingga volume perdarahan bisa ditekan.Untuk mengatasi atau mengurangi nyeri operasi dan pasca operasi diberikan petidindengan dosis

0,2−0,5mg/kgBB iv dan ketorolac dengan dosis 30 mg/ml. Petidin adalah zatsintetik opioid

mirip morfin yang bersifat analgesi kuat dan sedasi namun menstimulasisaraf parasimpatis sehingga dapat menyebabkan mual muntah dan hiperaktif reflex spinal.Seperti morfin, petidin dapat menyebabkan konstipasi tapi efek terhadap sfinter oddi lebihringan. Lama kerja petidin lebih pendek disbanding morfin sehingga pemulihan pasca bedah pasien menjadi lebih cepat.Ketorolac merupakan senyawa anti inflamasi non steroid bekerja pada jalur siklooksigenase, menghambat biosintesis prostaglandin dengan aktifitas analgetik yang kuatsecara perifer maupun sentral, disamping itu memiliki efek anti inflamasi dan anti piretik.Ketorolac tromethamine memiliki efek analgetik yang setara dengan morfin atau pethidinnamun efeknya lebih lambat. Sehingga digunakan untuk nyeri pasca operasi.Efedrin merupakan agonis reseptor α, β1, dan β2 sehingga merangsang pelepasannorepinefrin dari neuron simpatis. Dengan lepasnya norepinefrin akan menyebabkan bronkodilatasi dan meningkatkan aktivitas kardiovaskular dengan cara menstimulasi detak jantung sehingga mempengaruhi cardiac

output disertai dengan vasokonstriksi sehingga berefek pada meningkatnya tekanan darah. Efedrin dapat meningkatkan gula darahsehingga penggunaannya pada pasien diabetes perlu diperhatikan. Neostigmin merupakan salah satu antikolinesterase yang paling sering

digunakansebagai penawar pelumpuh otot. Dosis neostigmin adalah 0,04−0,08 mg/kgBB.

Neostigmin bersifat muskarinik sehingga menyebabkan hipersalivasi, hipersekresi, bradikardi, bronkospasme, hipermotilitas usus, sehingga penggunannya harus diperhatikan dan disertaiobat vagolitik seperti Atropin dosis 0,01−0,02mg/kgBB. Penggunaan deksametasondimaksudkan untuk mengurangi peradangan pasca pembedahan.Untuk mengganti kehilangan cairan tubuh diberikan cairan kristaloid dan koloid pada pasien selama operasi dan cairan kristaloid selama puasa perioperatif. Setelah selesaioperasi, pasien dibawa ke ruang pemulihan dan diberikan O2 secara inhalasi 2 l/mnt untuk mencegah hipoksia akibat N2O. Aldrette score pada pasien ini sewaktu memasuki recovery room pada pukul 15.45 adalah 7 dengan rincian sebagai berikut: aktivitas motorik (1), pernafasan (1), tekanan darah (2), kesadaran (1), warna kulit (2) dan keluar recovery room pada pukul 15.50 dengan aldrette score 8 dengan rincian sebagai berikut: aktivitas motorik (1), pernafasan

(2), tekanan darah (2), kesadaran (1), warna kulit (2), dan langsung dipindahkan ke ruang ICU.3 ) Post operatif Laporan di Ruangan ICUMasuk ICU tanggal 22 06 2012, jam 15.50 WIBA: Clear B: Rr: 24 x / mnt, SN vesikuler +/+, Rh -/-, Wh -/- , ventilator (−)C:

TD : 120/80 mmHg, N: 90 x /mnt, S: 36,70CD

:

G C S

:

9

( E 2M5V2)

X.

KESIMPULAN

  • 1. Fraktur impresi pada cranial harus mendapat tindakan segera karena dapat mengakibatkan perdarahan intracranial

  • 2. Penatalaksanaan anestesi pada pasien yang di lakukan operasi kraniotomi pada seorang pria usia 20 tahun adalah dengan anestesi umum.

  • 3. Pasien yang akan dioperasi diperiksa terlebih dahulu, meliputi anamnesis, pemeriksaaan fisik, pemeriksaan penunjang untuk menentukan ASA.

  • 4. Anestesi umum dengan teknik intubasi dipilih karena operasi tersebut dilakukan diregion kapitis dan termasuk operasi mayor darurat sehingga dengan teknik ini diharapkan jalan nafas dapat dikendalikan dengan baik.

  • 5. Perawatan pasien di ICU dilakukan dengan tujuan memonitoring stabilitas pasien post operatif sampai keadaan umum pasien membaik dan dapat dipindahkan keruangan.

XI.

SARAN

  • 1. Sebaiknya dilakukan pengawasan ketat terhadap pasien post operatif kraniotomi untuk memonitor kemungkinan yang terjadi, misalnya sepsis atau peningkatan TIK.

  • 2. Untuk operasi pada kranial hindari penggunaan obat obat yang meningkatkan aliran darah ke otak untuk mengurangi resiko kehilangan darah lebih besar.

TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN

I.1

Definisi Trauma Kepala (Head Injury)

Pada penanganan pasien dengan trauma kepala, seluruh tindakan resusitasi, anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan secara serentak. Pendekatan yang sistematis dapat mengurangi unsur keterlewatannya evaluasi unsur vital. Jika telah terjadi suatu trauma kepala, tidak ada satu hal pun yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Yang dapat dilakukan adalah meminimalisir kerusakan yang muncul dari komplikasi sekunder.

I.2

Klasifikasi

Secara sederhana, trauma kepala dibagi berdasar mekanisme, keparahan dan morfologi. Berdasar mekanisme, trauma kepala dibagi menjadi trauma tumpul atau tajam. Berdasarkan keparahan cedera, trauma kepala dibagi dalam ringan (GCS 14-15), sedang (GCS 9-13) atau berat (GCS 3-8).

Kemajuan teknologi pencitraan telah memungkinkan pengklasifikasian kerusakan otak menjadi fokal dan difus, walaupun mungkin saja terdapat keduanya. Selain itu kerusakan otak juga dapat dikelompokkan menjadi primer (terjadi pada saat benturan) atau sekunder (berasal dari kerusakan yang telah terjadi).

Yang termasuk kerusakan fokal adalah:

  • 1. Laserasi dan kontusio

  • 2. Hematoma intracranial

  • 3. Herniasi tentorial/tonsilar

  • 4. Infeksi

Yang termasuk kerusakan difus adalah

  • 1. Kerusakan akson difus

  • 2. Edema otak

  • 3. Iskemia otak

I.3 Manajemen Pasien dengan Trauma Kepala

Pasien yang datang dengan trauma kepala, khususnya yang dalam keadaan koma, memerlukan penatalaksanaan segera dengan prioritas yang sesuai. Pada cedera kepala sering terjadi gangguan terhentinya pernafasan yang sementara. Apnea yang berlangsung lama sering merupakan penyebab kematian langsung di tempat kecelakaan. Aspek yang sangat penting pada penatalaksanaan segera penderita cedera kepala berat ini adalah Intubasi endotrakeal. Penderita mendapat ventilasi dengan oksigen 100% sampai diperoleh hasil pemeriksaan analisis gas darah dan dapat dilakukan penyesuaian yang tepat terhadap FiO2. Tindakan hiperventilasi harus dilakukan secara hati-hati pada penderita cedera kepala berat. Walaupun hal ini dapat digunakan sementara untuk mengkoreksi asidosis dan menurunkan secara cepat TIK pada penderita dengan pupil yang telah berdilatasi, tindakan hiperventilasi ini tidak selalu menguntungkan. Hiperventilasi dapat dilakukan secara hati-hati pada penderita cedera kepala berat yang menunjukkan perburukan GCS atau timbulnya dilatasi pupil. pCO2 harus dipertahankan antara 25-35 mmHg (3,3-4,7 kPa). Hipotensi dan hipoksia adalah penyebab utama terjadinya perburukan pada penderita cedera kepala berat. Karenanya bila terjadi hipotensi maka harus segra dilakukan tindakan untuk menormalkan tekanan darahnya. Hipotensi biasanya tidak disebabkan oleh cedera otak itu sendiri kecuali pada stadium terminal medulla oblongata sudah mengalami gangguan. Yang lebih sering terjadi adalah bahwa hipotensi merupakan adanya kehilangan darah yang cukup berat, walaupun tidak tampak. Penyebab lainnya adalah Trauma Medula Spinalis (Tetraplegia atau

Paraplegia), kontusio jantung atau tamponade jantung dan tension pneumothorax. Pada pasien

dengan trauma kepala, seringkali anamnesis tidak didapat dari pasien melainkan dari keluarga atau orang lain yang melihat kejadian trauma tersebut.

Hal-hal yang perlu ditanyakan antara lain adalah :

Berapa lama terjadinya penurunan kesadaran

Periode amnesia pasca trauma

Penyebab trauma

Keluhan nyeri kepala dan muntah

Pada pemeriksaan fisik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ialah :

Kesadaran dan tanda vital

Refleks pupil dan pergerakan bola mata

Kelemahan pada ekstremitas

Tanda fraktur basis cranii

Laserasi dan hematoma

Pemeriksaan yang perlu dilakukan diantaranya adalah:

Pemeriksaan lab rutin

Pemeriksaan radiologis, berupa foto rontgen kepala dan bagian tubuh lain yangdiperlukan. Jika tersedia, dapat dilakukan pemeriksaan dengan CT scan atau MRI.

I.4

Anestesi pada cedera kepala

Pertimbangan utama dalam memilih obat anestesi, atau kombinasi obat-obat ananestesi, adalah pengaruhnya terhadap TIK. Karena semua obat yang menyebabkan vasodilatasi serebral mungkin berakibat peninggian TIK, pemakaiannya sedapat mungkin harus dicegah. Satu yang terburuk dalam hal ini adalah ketamin, yang merupakan vasodilator kuat dan karenanya secara umum dicegah penggunaannya pada pasien cedera kepala. Semua obat anestesi inhalasi dapat meninggikan aliran darah serebral secara ringan hingga berat. Obat inhalasi volatil seperti halotan, enfluran dan isofluran, semua meninggikan aliran darah serebral, namun mereka mungkin aman pada konsentrasi rendah. Isofluran paling sedikit kemungkinannya menyebabkan vasodilatasi serebral. Nitrous oksida berefek vasodilatasi ringan yang mungkin secara klinik tidak bermakna, dan karenanya dipertimbangkan sebagai obat yang baik untuk digunakan pada pasien cedera kepala. Kombinasi yang umum digunakan adalah nitrous oksida (50-70 % dengan oksigen), relaksan otot intravena, dan tiopental. Penggunaan hiperventilasi dan mannitol sebelum dan selama induksi dapat mengaburkan efek vasodilatasi dan membatasi hipertensi intrakranial pada batas tertentu saat kranium mulai dibuka. Bila selama operasi pembengkakan otak maligna

terjadi, yang refraktori terhadap hiperventilasi dan mannitol, tiopental (Pentothal) pada dosis besar (5-10 mg/kg) harus digunakan. Obat ini dapat menyebabkan hipotensi, terutama pada pasien hipovolemik, karenanya harus digunakan hati-hati. Sebagai pilihanterakhir, penggunaan hipotensi terkontrol, dengan trimetafan (Arfonad) atau nitroprussida(Nipride) dapat dipertimbangkan. Pada setiap keadaan, penting untuk memastikan penyebab pembengkakan otak, seperti kongesti vena akibat kompresi leher dan adanya hematoma tersembunyi baik ipsi atau kontralateral dari sisi kraniotomi.

II. 1 Definisi Peningkatan Tekanan Intrakranial

Peningkatan tekanan intrakranial adalah peningkatan tekanan otak normal. Peningkatan tekanan intrakranial dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan serebrospinal. Juga dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan dalam masalah otak yang disebabkan oleh lesi (seperti tumor) atau pembengkakan di dalam materi otak itu sendiri. Peningkatan tekanan intracranial adalah masalah medis serius. Tekanan itu sendiri dapat merusak sistem saraf pusat dengan menekan struktur otak yang penting dan dengan membatasi aliran darah melalui pembuluh darahyang memasok otak. Penyebab umum termasuk: Aneurisma pecah dan pendarahan subarachnoid, tumor otak, pendarahan otak hipertensi, pendarahan, cedera kepala parah.

II.2 Manifestasi Klinik

a.

Muntah.Sakit kepala Perubahan kepribadian.DiplopiaPapil edemaPembesaran lingkar kepala.Ubun ubun besar membonjol.

Trias Cushing :

bradikardi, hipertensi,pernafasan ireguler.Herniasi otak

II.3 Diagnosa

a.

Anamnesa

b.

Tanda vital : suhu, pola dan laju pernafasan, tekanan darah , tekanan dan frekuensi nadi

c.

Pemeriksaan Fisik

d.

Pemeriksaan neurologis lengkap

e.

Tingkat kesadaran

f.

Syaraf cranial

g.

Fungsi motorik : tonus otot, kekuatan

h.

Reflek fisiologis dan patologis

i.

Pemeriksaan penunjang-CT Scan/ MRI kepala

j.

Pemeriksaan lain seperti darah rutin, studi koagulasi atas indikasi.

II.3

Penatalaksanaan

II.3.1

Tujuan

a.

Menurunkan tekanan intracranial

b.

Memperbaiki aliran darah otak

c.

Mencegah dan menghilangkan herniasi

II.3.2

Tatalaksana

 

1.

Mengurangi volume komponen-komponen otak

1.

Volume darah:

 

Hiperventilasi

Pemberian obat-obatan anestesi menyebabkan vasokonstriksi .

Analgesik,sedative

Mencegah hipertemi ( menurunkan metabolisme otak )

2.

Jaringan otak :

 

Manitol

Deksametason

3.

Cairan serebrospinal

Furosemide

Asetazolamid

2.

Mempertahankan fungsi metabolik otak

1.

Tekanan O2 90-120 mmHg.

2.

Atasi kejang.

3.

Jaga keseimbangan elektrolit dan metabolic.

4.

Kadar Hemoglobin dipertahankan 10 mg/dl.

5.

Mempertahankan MAP dalam batas normal.

3.

Menghindari keadaan yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

1.

Pengelolaan pemberian cairan:

 

Keseimbangan cairan.

Diuresis > 1ml/kgbb/jam.

 

2.

Posisi kepala.

II.4

Penatalaksanaan intubasi pada pasien dengan peningkatan tekanan

intrakranial

 

Tindakan utama untuk peningkatan ICP adalah untuk mengamankan ABCDE (primary survey) pada pasien. Banyak pasien dengan peningkatan ICP memerlukan intubasi. Pasien dengan skor GCS kurang dari 8 harus diintubasi untuk melindungi airway. Yang menjadi perhatian utama pada pemasangan intubasi ini adalah intubasi ini mampu

memberikan ventilasi tekanan positif yang kemudian dapat meningkatkan tekanan vena sentral yang kemudian akan menghasilkan inhibisi aliran balik vena sehingga akan meningkatkan ICP. Hati-hati dalam memperhatikan gizi, elektrolit, fungsi kandung kemih dan usus. Pengobatan yang tepat untuk infeksi berupa pemberian antibiotik harus dilaksanakan dengan segera. Pemberian analgesia yang memadai harus diberikan walaupun pasien dalam kondisi di bawah sadar. Posisi kepala pasien juga harus diperhatikan. Elevasi pada kepala dapat menurunkan ICP pada komdisi normal dan pada pasien dengan cedera kepala melalui mekanisme penurunan tekanan hidrostatis CSF yang akan menghasilkan aliran balik vena. Sudut yang dianjurkan dan umumnya digunakan untuk elevasi pada kepala adalah

30º.

Pasien harus diposisikan dengan kepala menghadap lurus ke depan karena apabila kepala pasien menghadap ke salah satu sisinya dandisertai dengan fleksi pada leher akan menyebabkan penekanan pada vena jugularis interna dan memperlambat aliran balik vena.

OBAT-OBAT ANESTESI UMUM

Propofol (Diprivan)

Penggunaan: Obat induksi sedasi sadar, pemeliharaan dari anestesia, pengobatan dari mual dan untah akibat kemoterapi/ pascabedah. Dosis: Sedasi sadar: Bolus IV, 25-50 mg (0,5 1 mg/ kg). Fungsi pernapasan dan jantung harus dipantau terus - menerus. Induksi: IV, 2 2,5 mg/kg ( berikan secara lambat dalam 30 detik dalam 2-3 dosis bagi) Pemeliharaan:

  • - Bolus IV, 25 -50 mg

  • - Infus, 100-200 µg/kg/menit

  • - Antiemetik: IV, 10 mg Eleminasi: Hati, ekstrahepatik (paru)

Farmakologi:

Propofol merupakan suatu obat hipnotik intravena diisoprolifenol yang menimbulkan induksi anestesia yang cepat dengan aktivitas ekstensi minimal (contohnya, mioklonus). Dosis induksi berkaitan dengan apne dan hipotensi sebgaia akibat deoresi miokard langsung dan penurunan tahanan vascular sistemik dengan perubahan nadi minimal. Obat ini menghambat responhemodinamik terhadap laringoskopi dan intubasi. Propofol tidak mempunyai sifat analgesik, tapi tidak seperti barbiturat, obat ini bukan antianalgesik. Propofol mengurangi aliran darah otak, tekanan intrakranial, dan kecepatan metabolik otak. Dapat mengurangi tekanan perfusi otak karena efeknya pada tekanan rerata arteri (CPP = MAP ICP). Dapat terjadi pelepasa histamine dan reaksi alergik kemungkinan sekali berupa anafilaksis.

Farmakokinetik

Awitan aksi: dalam 40 detik Efek puncak: 1 menit Lama aksi: 5-10 menit Interaksi/ Toksisitas: Mempotensiasi efek depresi SSP dan sirkulasi dari narkotik, hipnotik sedatif, anestetik volatil, nyeri dapat terjadi pada suntikan ke dalam vena kecil; mempotensiasi blockade neuromuskuler dari relaksan otot nondepolarisasi ( contohnya atrakurium).

Reaksi Samping Utama

Kardiovaskular: Hipotensi, aritmia, takikardia, bradikardia, hipertensi. Pulmoner: Depresi pernapasan, apne, cegukan, bronkospasme. Laringospasme. SSP: Sakit kepala, pusing, euphoria, kebingungan, gerakan klonik/ miklonik, kejang. GI: Mual, muntah, kram abdomen. Lain: demam, disinhibisi.

DAFTAR PUSTAKA

1 . J A P A R D I , S .

Pentatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif.

.

N

N

.

2

0

0

0

.

Catatan Kuliah AnestesiEdisi 1.

SINAN3 .Pramu di an ti, Arli n a, d kk . 20 11 .

MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 10.

Jakarta :BIP4 . S a i d , A L a t i e f . 2 0 1 0 .

Petunjuk Praktis Anestesiologi

. Jakarta: Bagian Anestesiologi danTerqpi Intensif FK UI.