Anda di halaman 1dari 15

Case Report

Kraniotomi Cedera Kepala Ringan






Pembimbing:
dr. Robert H. Sirait, Sp. An

Disusun oleh:
Maesari Ahmad (04-001)
Alni Dwi Cahyani (08-002)



KEPANITERAAN ILMU ANESTESI PERIODE 5
AGUSTUS 9 SEPTEMBER 2012
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN
INDONESIA


RESUME
Seorang pria berusia 20 tahun, BB 65 kg, dengan diagnosis Cedera Kepala Ringan
disertai Epidural hematom, edema serebri dan fraktur linier os parietooccipital dextra tertutup
dilakukan operasi kraniotomi dengan anestesi umum.
Pada pemeriksaan pre op didapatkan kesadaran: compos mentis, keadaan umum:
tampak sakit sedang, keadaan gizi: baik, tanda vital: TD : 130/80 mmHg, Frekuensi nadi:
80x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat, Frekuensi napas: 22x/menit, suhu: 36,7 C,
Kepala: nyeri kepala dan fraktur linier vertex dengan perdarahan epidural ringan serta sub
arachnoid ringan, Mata: konjungtiva anemis -/-, sklera ikhterik: -/-, eksoftalmus: -/-,
strabismus:-/-, nistagmus:-/-, Telinga: dbn, Bibir: simetris, pucat, Hidung: perdarahaan (-),
Leher: dbn, Thoraks: paru dan jantung: dbn, Abdomen: defans muscular (-), nyeri tekan (-)
diseluruh kuadran, bissing usus (+) 3 x/menit, Ektremitas: akral hangat di ke empat
ekstremitas, edema (-), capillary refill time <2 detik.
Pada pemeriksaan penunjang didapkan hemoglobin: 14,3g/dl, hematokrit 41,5%,
leukosit 15,2 ribu/ul, trombosit 167 ribu/ul, GDS: 131 mg/dl, gol. Darah B/Rh (+), Urinalisa:
dbn, sedimen urin: dbn, AGD pH : 7.416, pCO
2
: 32.0 mmHg. pO
2
: 194.3 mmHg, HCO
3
: 20.7
mmol/L, saturasi O
2
: 99.7%, BE: -2.4 mmol/L, total CO
2
: 21.7 mmol/L, konsentrasi O
2
: 16.6
VOL%.










BAB I

LAPORAN KASUS


I. IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. NK
Umur : 20 tahun
Berat badan : 65 kg
Tinggi badan : 165 cm
Jenis kelamin : Laki laki
Alamat : Jl. Lingkar Sari 46A Rt07/ Rw 09 Kalisari, Pasar Rebo.
Agama : Hindu
Tanggal masuk: 08 Agustus 2012, 14:49 WIB
No. MR : 97-67-03-00

II. ANAMNESIS (allo anamnesis)

a. Keluhan utama: Nyeri kepala
b. Keluhan tambahan : Muntah muncrat
c. RPS: Pasien datang ke IGD RS UKI dengan riwayat kecelakaan terjatuh dari sepeda
dengan benturan pada kepala bagian atas satu hari SMRS . Setelah kejadian tersebut
pasien pingsan 15 menit lalu pasien sadarkan diri dan ingat kejadian saat itu. Pasien
mengaku terdapat nyeri pada bagian kepala disertai muntah muncrat.
d. RPD :
- Riwayat penyakit darah tinggi : Disangkal
- Riwayat penyakit DM : Disangkal
- Riwayat penyakit alergi : Disangkal
- Riwayat penyakit asma : Disangkal
- Riwayat operasi sebelumnya : Disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK

1. Status generalis
- Keadaan Umum : Tampak Sakit Berat
- Kesadaran : Somnolen, GCS=E4M6V5
- Vital Sign: - Tekanan darah = 130/80 mmHg
- Respirasi = 22x/menit
- Nadi= 80x/menit, isi cukup, kuat angkat
- Suhu= 36,7C
- Kepala : Nyeri kepala dan fraktur linier os parietooccipital dextra tertutup.
- Mata : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-, RCL+/+ , RCTL +/+, Pupil
isokor, diameter 3 mm
- Telinga : DBN
- Hidung : Discharge (-) epistaksis (-), deviasi septum (-)
- Mulut : DBN
- Gigi : DBN, gigi palsu (-)
- Leher : Simestris, trakea ditengah, pembesaran tiroid dan kelenjar getah bening (-)
- Thorax: Pulmo: Simetris kanan kiri, Tidak ada retraksi, SN vesikuler (+/+) normal
Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)Cor: BJ I-II reguler, murmur (-), gallop (-).
- Abdomen : Dinding perut datar, supel.
- Hepar/ Lien : tidak teraba.
- Usus : BU (+) normal.
- Extremitas : Edema (-), sianosis (-), akral hangat.


2. Terapi dari IGD
1. I RL+ III ketese
2. Kanul O
2
+ I Ikaneuron + II ergotika
3. Ceftriaxone 1gr
4. Plasminex 1 amp
5. Vit K 1 amp
6. Manitol 100 cc
7. Kateter urin

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal 8 Agustus 2012
1. CT Scan Kesan : Fraktur linier vertex dengan perdarahan subepidural ringan serta
subarachnoid ringan.
2. Pemeriksaan laboratorium :
Hematologi:
- Hb : 14,3 g/dl (14 16 g/dl)
- Leukosit: 15.200 ribu/l (5000 10000 ribu/l)
- Ht : 41,5 % (L 40 48 %)
- Trombosit : 167.000/l (150.000 400.000/l)
Hemostasis:
- Masa pembekuan: 2 menit (1-3 menit)
- Masa perdarahan: 14 menit (10-16 menit)
- Masa protrombin: - Kontrol: 12 detik (10-16 detik)
- Pasien: 14 detik (10-16detik)
AGD dan Elektrolit:
- AGD:
PH darah : 7.416
PCO
2
: 32.0 mmHg
pO
2
: 194.3 mmHg
HCO
3
: 20.7 mmol/L
Saturasi O
2
: 99.7%
BE : -2.4 mmol/L
Total CO
2
: 21.7 mmol/L
Konsentrasi O
2
: 16.6 VOL%.
- Elektrolit
- Natrium : 148 mmoL/L
- Kalium : 4.5 mmoL/L
- Clorida : 110 mmoL/L
- Kimia Klinik:
- GDS :127 mg/dL
- Ureum darah : 34 mg/dL
- Creatinin darah: 0.89 mg/dL

V. DIAGNOSIS

Diagnosis klinis: Cedera Kepala Ringan disertai Epidural hematom, edema serebri dan
fraktur linier os parietooccipital dextra tertutup

Tindakan: Kraniotomi evakuasi dan debridement.

VI. KESIMPULAN PEMERIKSAAN FISIK
Status ASA I (E)

VII. LAPORAN ANESTESI
Status Anestesi
1. Persiapan Anestesi
a. Informed concent mengenai komplikasi dan rencana operasi.
b. Tidak makan dan minum.
2. Penatalaksanaan Anestesi
Diagnosa Pra Bedah : Cedera Kepala Ringan disertai Epidural hematom,
edema serebri dan fraktur linier os parietooccipital
dextra tertutup.
Diagnosa pasca bedah : Post Kraniotomi atas indikasi Cedera Kepala Ringan
disertai epidural hematom vertex dan edema serebri.
Keadaan pra bedah : TD : 130/80 mmHg
Frekuensi nadi: 80x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat,
Frekuensi napas: 22x/menit, suhu: 36,7 C,
Sirkulasi : Akral hangat, capillary refill time <2 detik
Respirasi : Airway clear, rhonki -/-, wheezing -/-
Saraf : Compos mentis, pupil isokor 3mm/3mm
Gastrointestinal : Perut tampak datar
Renal : Nyeri ketok CVA -/-
Metabolik : GDS: 127 mg/dl
Status fisik : ASA 1E
Medikasi pra bedah : - Ceftriaxone 1gr
- Plasminex 1 amp
- Vit K 1 amp
- Manitol 100 cc
Komplikasi pra bedah : -
Jenis operasi : Craniotomie
Jenis anestesi : General Anestesi (GA)
Lama Operasi : 2 jam 30 menit.
Lama Anestesi : 2 jam 50 menit.
Anestesi Dengan : Proanes. Maintenance: O
2
, N
2
O, Isoflurance
Relaxasi Dengan : Ecron
Teknik Anestesi : Preoksigenasi, induksi, intubasi dengan ETT no. 7,5,
KK, cuff+, NGT.
Respirasi : Control respiration
Posisi : Supinasi
Infus : NaCl 0,9, Fimahes 200
Komplikasi selama bedah : Fluktuasi TD
Keadaan akhir pembedahan: TD102/ 62 mmHg, N: 62 x/ menit, Saturasi: 100%
Mual (-)
Muntah (-)
Menggigil (-)
Sianosis (-)
Keadaan Bayi Pada Seksio : -
Terapi Khusus Pasca Bedah : -
Komplikasi Khusus Pasca Bedah : -
Hipersensitivitas / Alergi : -
Kematian : -
Sebab Kematian : -
Tekhnik Khusus : -
Pre-medikasi : - Fortanes 3 mg
Medikasi : - Kalnex 500 mg
- Pethidine 40 mg
- Proanes 100 mg
- Ecron 5 mg + 4 mg
- Fentanyl 50 mg
- Ephedrine 10 mg
- Dexamethasone 5 mg
Jumlah Cairan / Transfusi : RL 1000 cc, fimahes 500cc
Perdarahan : 40 cc


VIII. PROGNOSIS
Dubia ad malam

IX. PEMBAHASAN
1. Pre Operatif

Pasien datang ke RSU UKI dan sudah ditangani di IGD terlebih dahulu. Pada saat datang
keadaaan umum pasien tampak sakit sedang, keluhan merasa nyeri di kepala dengan GCS
E4M6V5, TD : 130/80 mmHg, Frekuensi nadi: 80x/menit, reguler, isi cukup, kuat angkat,
Frekuensi napas: 22x/menit, suhu: 36,7 C.
Pasien tidak mempunyai riwayat operasi sebelumnya, tidak mempunyai riwayat
alergi, hipertensi, asma dan DM.

2. Durante Operatif

Sebelum dilakukan tindakan pembedahan pada pasien ini diputuskan untuk dilakukan general
anestesi dengan memakai intubasi. Alasannya karena tindakan operasi tersebut termasuk
operasi besar khusus, dan berlangsung kurang lebih 1 jam sehingga dengan teknik ini
diharapkan jalan nafas dapat dikendalikan dengan baik. Sebelum dilakukan tindakan anestesi
terlebih dahulu diberikan premedikasi. Premedikasi yang digunakan adalah Sulfas Atropin
(SA) dan Fortanest. SA diberikan dengan dosis 0,01 mg/kgBB pemberiannya secara
intravena. Pada pasien ini diberikan dengan dosis 0,25 mg. Indikasi SA adalah untuk
penanganan hipersekresi dan hipersalivasi sebelum atau setelah operasi. Efek sampingnya
berupa kekeringan mulut dan kekaburan pandangan. Sedangkan pemberian fortanest yang
mengandung midazolam dengan dosis 2mg iv digunakan sebagai pelemas otot. Midazolam
mempunyai durasi dan onset cepat. Onsetnya adalah 2-12 menit dengan durasi 2,5 jam. Efek
samping midazolam adalah amnesia anterograde sehingga diharapkan pasien tidak dapat
mengingat kejadian selama diruang operasi untuk menghindari trauma psikologis. Untuk
induksi diberikan Recofol yang berisi Propofol. Indikasi Propofol adalah sebagai induksi
sedative pada anastesi umum dan sedasi pada perawatan intensif. Suntikan secara iv
seringkali menyebabkan nyeri oleh karenanya dapat diberikan lidocain 1-2mg/kgBB secara iv
dan harus dilakukan perlahan untuk mengurangi nyerinya. Dosis pemberian propofol untuk
induksi adalah 23mg/kgBB sehingga pada pasien ini diberikan dosis 100 mg. Pada wanita
hamil tidak dianjurkan karena dapat menembus plasenta.
Untuk pemeliharaan anestesi diberikan dengan cara inhalasi. Zat anestesi yang
digunakan adalah N2O, O2, dan Halothan. N
2
O merupakan zat anestesi yang lemah tapi
mempunyai efek analgetik yang kuat. Pemberian N
2
O biasanya bersamaan dengan O
2
dengan
tujuan untuk mencegah terjadinya hipoksia. Selain itu N
2
O bersifat mendesak oksigen
dalam tubuh karena sebagian besar N
2
O masuk ke dalam alveoli yang akan menyebabkan
terjadinya hipoksia dan tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya hipoksia difusi
adalah dengan cara pemberian O2 tinggi beberapa menit setelah selesai anestesi. Selain
digunakan juga halothan untuk menjaga tingkat sedasi dari pasien. Baunya tidak mengganggu
dan tidak merangsang jalan nafas, maka oleh sebab itu sering digunakan untuk maintenance
anastesi umum dan induksi inhalasi pada pasien anak yg umumnya kurang kooperatif. Pada
rumatan nafas spontan biasanya diberikan 12 vol% sedangkan pada rumatan pasien dengan
nafas terkendali sekitar 0,51 vol%. Halothan menyebabkan vasodilatasi serebral yang
meninggikan aliran darah ke otak yang sulit dikendalikan sehingga tidak dianjurkan untuk
operasi pada bedah otak. Pada pasien kraniotomi dengan menggunakan gas halothan sebagai
rumatan biasanya disertai perdarahan yang cukup banyak sehingga diperlukan obat yang
bersifat hemostatik. Untuk mengatasinya maka pada pasien diberikan Kalnex yang berisi
Asam traneksamat dengan dosis 500mg iv. Untuk mengatasi atau mengurangi nyeri operasi
dan pasca operasi diberikan petidin dengan dosis 0,20,5mg/kgBB iv.
Pethidine adalah zat sintetik opioid mirip morfin yang bersifat analgesi kuat dan
sedasi namun menstimulasi saraf parasimpatis sehingga dapat menyebabkan mual muntah
dan hiperaktif reflex spinal. Seperti morfin, pethidine dapat menyebabkan konstipasi tapi efek
terhadap sfinter oddi lebih ringan. Lama kerja pethidine lebih pendek disbanding morfin
sehingga pemulihan pasca bedah pasien menjadi lebih cepat.
Efedrin merupakan agonis reseptor , 1, dan 2 sehingga merangsang pelepasan
norepinefrin dari neuron simpatis. Dengan lepasnya norepinefrin akan menyebabkan
bronkodilatasi dan meningkatkan aktivitas kardiovaskular dengan cara menstimulasi detak
jantung sehingga mempengaruhi cardiac output disertai dengan vasokonstriksi sehingga
berefek pada meningkatnya tekanan darah. Efedrin dapat meningkatkan gula darah sehingga
penggunaannya pada pasien diabetes perlu diperhatikan.
Penggunaan deksametason dimaksudkan untuk mengurangi peradangan pasca
pembedahan.Untuk mengganti kehilangan cairan tubuh diberikan cairan kristaloid dan koloid
pada pasien selama operasi dan cairan kristaloid selama puasa perioperatif. Setelah selesai
operasi, pasien dibawa ke ruang pemulihan dan diberikan O2 secara inhalasi 2 l/mnt untuk
mencegah hipoksia akibat N2O.
Pasien langsung dipindahkan ke ruang ICU.

3. Post operatif Laporan di Ruangan ICU

Masuk ICU tanggal 08- 08- 2012, jam 23.45 WIB
Airway : Clear
Breathing : Rr: 24 x / mnt, BND vesikuler +/+, Rh -/-, Wh -/- , ventilator ()
Circulation : TD : 130/80 mmHg, N: 70 x /mnt, S: 36,5 C
Disability : GCS : 9 (E2M5V2)

X. KESIMPULAN
1. Fraktur pada kranial harus mendapat tindakan segera karena dapat mengakibatkan
perdarahan intrakranial
2. Penatalaksanaan anestesi pada pasien yang di lakukan operasi kraniotomi pada
seorang pria usia 20 tahun adalah dengan anestesi umum.
3. Pasien yang akan dioperasi diperiksa terlebih dahulu, meliputi anamnesis,
pemeriksaaan fisik, pemeriksaan penunjang untuk menentukan ASA.
4. Anestesi umum dengan teknik intubasi dipilih karena operasi tersebut dilakukan
diregion kapitis dan termasuk operasi mayor darurat sehingga dengan teknik ini
diharapkan jalan nafas dapat dikendalikan dengan baik.
5. Perawatan pasien di ICU dilakukan dengan tujuan memonitoring stabilitas pasien post
operatif sampai keadaan umum pasien membaik dan dapat dipindahkan keruangan.

XI. SARAN

1. Sebaiknya dilakukan pengawasan ketat terhadap pasien post operatif kraniotomi
untuk memonitor kemungkinan yang terjadi, misalnya sepsis atau peningkatan TIK.
2. Untuk operasi pada kranial hindari penggunaan obat obat yang meningkatkan aliran
darah ke otak untuk mengurangi resiko kehilangan darah lebih besar.











TINJAUAN PUSTAKA

I.1 Definisi Trauma Kepala (Head Injury)
Pada penanganan pasien dengan trauma kepala, seluruh tindakan resusitasi, anamnesis dan
pemeriksaan fisik dilakukan secara serentak. Pendekatan yang sistematis dapat mengurangi
unsur keterlewatannya evaluasi unsur vital. Jika telah terjadi suatu trauma kepala, tidak ada
satu hal pun yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Yang dapat dilakukan adalah
meminimalisir kerusakan yang muncul dari komplikasi sekunder.
I.2 Klasifikasi
Secara sederhana, trauma kepala dibagi berdasar mekanisme, keparahan dan morfologi.
Berdasar mekanisme, trauma kepala dibagi menjadi trauma tumpul atau tajam. Berdasarkan
keparahan cedera, trauma kepala dibagi dalam ringan (GCS 14-15), sedang (GCS 9-13) atau
berat (GCS 3-8).
Kemajuan teknologi pencitraan telah memungkinkan pengklasifikasian kerusakan
otak menjadi fokal dan difus, walaupun mungkin saja terdapat keduanya. Selain itu
kerusakan otak juga dapat dikelompokkan menjadi primer (terjadi pada saat
benturan) atau sekunder (berasal dari kerusakan yang telah terjadi).
Yang termasuk kerusakan fokal adalah:
1. Laserasi dan kontusio
2. Hematoma intracranial
3. Herniasi tentorial/tonsilar
4. Infeksi
Yang termasuk kerusakan difus adalah
1. Kerusakan akson difus
2. Edema otak
3. Iskemia otak

I.3 Manajemen Pasien dengan Trauma Kepala

Pasien yang datang dengan trauma kepala, khususnya yang dalam keadaan koma,
memerlukan penatalaksanaan segera dengan prioritas yang sesuai. Pada cedera kepala sering
terjadi gangguan terhentinya pernafasan yang sementara. Apnea yang berlangsung lama
sering merupakan penyebab kematian langsung di tempat kecelakaan. Aspek yang
sangat penting pada penatalaksanaan segera penderita cedera kepala berat ini adalah Intubasi
endotrakeal. Penderita mendapat ventilasi dengan oksigen 100% sampai diperoleh hasil
pemeriksaan analisis gas darah dan dapat dilakukan penyesuaian yang tepat terhadap FiO2.
Tindakan hiperventilasi harus dilakukan secara hati-hati pada penderita cedera kepala
berat. Walaupun hal ini dapat digunakan sementara untuk mengkoreksi asidosis dan
menurunkan secara cepat TIK pada penderita dengan pupil yang telah berdilatasi, tindakan
hiperventilasi ini tidak selalu menguntungkan. Hiperventilasi dapat dilakukan secara hati-hati
pada penderita cedera kepala berat yang menunjukkan perburukan GCS atau timbulnya
dilatasi pupil. pCO2 harus dipertahankan antara 25-35 mmHg (3,3-4,7 kPa). Hipotensi dan
hipoksia adalah penyebab utama terjadinya perburukan pada penderita cedera kepala berat.
Karenanya bila terjadi hipotensi maka harus segra dilakukan tindakan untuk menormalkan
tekanan darahnya. Hipotensi biasanya tidak disebabkan oleh cedera otak itu sendiri kecuali
pada stadium terminal medulla oblongata sudah mengalami gangguan. Yang lebih sering
terjadi adalah bahwa hipotensi merupakan adanya kehilangan darah yang cukup berat,
walaupun tidak tampak. Penyebab lainnya adalah Trauma Medula Spinalis (Tetraplegia atau
Paraplegia), kontusio jantung atau tamponade jantung dan tension pneumothorax. Pada pasien
dengan trauma kepala, seringkali anamnesis tidak didapat dari pasien melainkan dari
keluarga atau orang lain yang melihat kejadian trauma tersebut.

Hal-hal yang perlu ditanyakan antara lain adalah :
Berapa lama terjadinya penurunan kesadaran
Periode amnesia pasca trauma
Penyebab trauma
Keluhan nyeri kepala dan muntah
Pada pemeriksaan fisik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ialah :
Kesadaran dan tanda vital
Refleks pupil dan pergerakan bola mata
Kelemahan pada ekstremitas
Tanda fraktur basis cranii
Laserasi dan hematoma
Pemeriksaan yang perlu dilakukan diantaranya adalah:
Pemeriksaan lab rutin
Pemeriksaan radiologis, berupa foto rontgen kepala dan bagian tubuh lain
yangdiperlukan. Jika tersedia, dapat dilakukan pemeriksaan dengan CT scan atau
MRI.

I.4 Anestesi pada cedera kepala

Pertimbangan utama dalam memilih obat anestesi, atau kombinasi obat-obat ananestesi,
adalah pengaruhnya terhadap TIK. Karena semua obat yang menyebabkan vasodilatasi
serebral mungkin berakibat peninggian TIK, pemakaiannya sedapat mungkin harus dicegah.
Satu yang terburuk dalam hal ini adalah ketamin, yang merupakan vasodilator kuat dan
karenanya secara umum dicegah penggunaannya pada pasien cedera kepala.
Semua obat anestesi inhalasi dapat meninggikan aliran darah serebral secara ringan
hingga berat. Obat inhalasi volatil seperti halotan, enfluran dan isofluran, semua meninggikan
aliran darah serebral, namun mereka mungkin aman pada konsentrasi rendah. Isofluran paling
sedikit kemungkinannya menyebabkan vasodilatasi serebral. Nitrous oksida berefek
vasodilatasi ringan yang mungkin secara klinik tidak bermakna, dan karenanya
dipertimbangkan sebagai obat yang baik untuk digunakan pada pasien cedera kepala.
Kombinasi yang umum digunakan adalah nitrous oksida (50-70 % dengan oksigen), relaksan
otot intravena, dan tiopental. Penggunaan hiperventilasi dan mannitol sebelum dan selama
induksi dapat mengaburkan efek vasodilatasi dan membatasi hipertensi intrakranial pada
batas tertentu saat kranium mulai dibuka. Bila selama operasi pembengkakan otak maligna
terjadi, yang refraktori terhadap hiperventilasi dan mannitol, tiopental (Pentothal) pada dosis
besar (5-10 mg/kg) harus digunakan. Obat ini dapat menyebabkan hipotensi, terutama pada
pasien hipovolemik, karenanya harus digunakan hati-hati. Sebagai pilihanterakhir,
penggunaan hipotensi terkontrol, dengan trimetafan (Arfonad) atau nitroprussida(Nipride)
dapat dipertimbangkan. Pada setiap keadaan, penting untuk memastikan penyebab
pembengkakan otak, seperti kongesti vena akibat kompresi leher dan adanya hematoma
tersembunyi baik ipsi atau kontralateral dari sisi kraniotomi.

II. Tekanan Intrakranial
II. 1 Definisi Peningkatan Tekanan Intrakranial

Peningkatan tekanan intrakranial adalah peningkatan tekanan otak normal. Peningkatan
tekanan intrakranial dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan serebrospinal. Juga
dapat disebabkan oleh peningkatan tekanan dalam masalah otak yang disebabkan oleh lesi
(seperti tumor) atau pembengkakan di dalam materi otak itu sendiri. Peningkatan tekanan
intracranial adalah masalah medis serius. Tekanan itu sendiri dapat merusak sistem saraf
pusat dengan menekan struktur otak yang penting dan dengan membatasi aliran darah melalui
pembuluh darah yang memasok otak. Penyebab umum termasuk: Aneurisma pecah dan
pendarahan subarachnoid, tumor otak, pendarahan otak hipertensi, pendarahan, cedera kepala
parah.

II.2 Manifestasi Klinik
a. Muntah
b. Sakit kepala
c. Perubahan kepribadian
d. Diplopia Pupil
e. Pembesaran lingkar kepal
f. Ubun ubun besar menonjol.
Trias Cushing :
Bradikardi, hipertensi, pernafasan ireguler, herniasi otak.
II.3 Diagnosa
a. Anamnesa
b. Tanda vital : suhu, pola dan laju pernafasan, tekanan darah , tekanan dan frekuensi
nadi
c. Pemeriksaan Fisik
d. Pemeriksaan neurologis lengkap
e. Tingkat kesadaran
f. Syaraf cranial
g. Fungsi motorik : tonus otot, kekuatan
h. Reflek fisiologis dan patologis
i. Pemeriksaan penunjang-CT Scan/ MRI kepala
j. Pemeriksaan lain seperti darah rutin, studi koagulasi atas indikasi.
II. Penatalaksanaan
II.3.1 Tujuan
a. Menurunkan tekanan intracranial
b. Memperbaiki aliran darah otak
c. Mencegah dan menghilangkan herniasi
II.3.2 Tatalaksana
1. Mengurangi volume komponen-komponen otak
1. Volume darah:
Hiperventilasi
Pemberian obat-obatan anestesi menyebabkan vasokonstriksi .
Analgesik,sedative
Mencegah hipertemi ( menurunkan metabolisme otak )
2. Jaringan otak :
Manitol
Deksametason
3. Cairan serebrospinal
Furosemide
Asetazolamid
2. Mempertahankan fungsi metabolik otak
1. Tekanan O2 90-120 mmHg.
2. Atasi kejang.
3. Jaga keseimbangan elektrolit dan metabolic.
4. Kadar Hemoglobin dipertahankan 10 mg/dl.
5. Mempertahankan MAP dalam batas normal.
3. Menghindari keadaan yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
1. Pengelolaan pemberian cairan:
Keseimbangan cairan.
Diuresis > 1ml/kgbb/jam.
2. Posisi kepala.
II.4 Penatalaksanaan intubasi pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial

Tindakan utama untuk peningkatan ICP adalah untuk mengamankan ABCDE
(primary survey) pada pasien. Banyak pasien dengan peningkatan ICP memerlukan intubasi.
Pasien dengan skor GCS kurang dari 8 harus diintubasi untuk melindungi airway. Yang
menjadi perhatian utama pada pemasangan intubasi ini adalah intubasi ini mampu
memberikan ventilasi tekanan positif yang kemudian dapat meningkatkan tekanan vena
sentral yang kemudian akan menghasilkan inhibisi aliran balik vena sehingga akan
meningkatkan ICP. Hati-hati dalam memperhatikan gizi, elektrolit, fungsi kandung kemih
dan usus. Pengobatan yang tepat untuk infeksi berupa pemberian antibiotik harus
dilaksanakan dengan segera. Pemberian analgesia yang memadai harus diberikan walaupun
pasien dalam kondisi di bawah sadar. Posisi kepala pasien juga harus diperhatikan. Elevasi
pada kepala dapat menurunkan ICP pada komdisi normal dan pada pasien dengan cedera
kepala melalui mekanisme penurunan tekanan hidrostatis CSF yang akan menghasilkan aliran
balik vena. Sudut yang dianjurkan dan umumnya digunakan untuk elevasi pada kepala adalah
30.
Pasien harus diposisikan dengan kepala menghadap lurus ke depan karena apabila
kepala pasien menghadap ke salah satu sisinya dandisertai dengan fleksi pada leher akan
menyebabkan penekanan pada vena jugularis interna dan memperlambat aliran balik vena.

















DAFTAR PUSTAKA
1. Latief, Said A, Kartini A. Suryadi dan M. Ruswan Dachlan. 2001. Petunjuk Praktis
Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI: Jakarta.
2. Omogui, Sota. 1997. Buku Saku Obat-Obatan Anestesia. Penerbit buku kedokteran EGC:
Jakarta.
3. Pramudianti, Arlina, dkk. 2011. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 10. Jakarta
:BIP
4. JAPARDI,S. Pentatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif
http://library.usu.ac.id/modules.php?op=modload&name=Downloads&file=index&req=
getit&lid=827.2.NN. 2000.