Anda di halaman 1dari 5

Bantiran

Cerpen Gde Aryantha Soethama Silakan Simak!


Dimuat di Kompas Silakan Kunjungi Situsnya! 11/30/2008 Telah Disimak 452 kali
Bertiga mereka menapak pematang di tengah sawah yang kering kerontang, berbulan-
bulan dibiarkan terbengkalai oleh penggarap dan pemiliknya. Bantiran di depan, d
isusul Kartaman. Paling belakang seorang serdadu memanggul senapan laras panjang
.
Dekat sebuah batu datar sebesar gerobak, Bantiran berhenti. Sinar bulan separo b
undar membuat batu itu berkilat. Sebatang pohon kamboja tegak di sebelahnya, dau
n-daunnya gugur oleh kemarau, tapi bunga-bunga bermekaran. Ini sebuah tempat ker
amat bagi petani dan nelayan Desa Jampi. Tapi, mereka tak berniat mendirikan ban
gunan suci di situ, karena pasti akan merepotkan untuk membuat sesaji berulang k
ali di berbagai hari. Sudah ada banyak tempat suci di desa itu harus diurus dan
menelan banyak biaya. Penolakan itu menyebabkan desa-desa tetangga menuduh merek
a ateis. Mereka dituding sebagai manusia merah, orang-orang komunis, antek-antek
PKI.
Bantiran menyusupkan tangan ke pinggang, mengeluarkan sebilah keris kecil, cuma
sepanjang telapak tangan, menyodorkannya kepada Kartaman. Hanya kamu yang bisa me
ngakhiri, Man!
Kartaman tak bergerak, seperti seonggok kayu usang. Dia menggeleng. Aku tak sangg
up!
Bantiran menghela napas. Serdadu itu semakin awas, siaga jika sesuatu tak diingi
nkan terjadi. Ia tak menduga kalau Bantiran menyelipkan sebilah keris. Bagaimana
keris itu bisa lolos dalam pemeriksaan tadi di markas? Serdadu itu memegang era
t senapannya, mengarahkan moncongnya ke dada Bantiran.
Kamu sudah berjanji.
Aku dipaksa, tak kuasa menolak.
Bunuhlah aku, kalau kamu tak ingin diburu sebagai pengecut dan pengkhianat. Tunta
skan tugasmu, kamu pun menolong aku!
Bantiran memegang tangan Kartaman, memindahkan gagang keris alit itu dari tangan
nya ke genggaman Kartaman. Kamu harus melakukannya dengan dua tangan, hanya denga
n sedikit dorongan, semua akan selesai dengan tenang.
Dengan tenang? Bagaimana mungkin Kartaman sanggup membunuh dengan tenang anak mu
da yang dikenalnya teduh dan hidup sebatang kara ini? Ibunya meninggal ketika ia
dilahirkan, bapaknya tewas karena jatuh memanjat pohon kelapa. Ia kemudian hidu
p meneruskan usaha kakeknya, menjadi pandai besi, membuat cangkul, arit, palu, p
isau, parang. Bantiran dekat dengan petani dan nelayan dari Desa Jampi yang seri
ng memesan peralatan untuk bertani. Ketika petani-petani itu dituduh komunis, Ba
ntiran pun dicap sebagai bagian penting dari orang-orang merah yang harus ditump
as.
Bantiran yakin ia akan diciduk dan dibunuh. Setiap malam ia seperti mendengar ge
muruh derap orang berlari menyerbu rumahnya. Begitu kencang, demikian kuat, meng
alahkan deru ombak pantai Jampi. Kadang ia membayangkan pintu rumahnya didobrak,
lalu lehernya ditebas kelewang, yang lain menusukkan tombak ke dadanya berulang
-ulang.
Kalaupun dibunuh, ia ingin mati dengan tenang. Tidak seperti Tutbendu yang kepal
anya dikepruk dengan batu di perempatan desa sepulang dari sawah. Dia tak ingin
senasib dengan Bli Sambrag yang dibunuh dengan dijerat, dan diseret-seret dekat
bendungan sepulang melaut. Tidak juga seperti nasib Pak Kelincak yang tubuhnya d
irajam dengan arit, kepala dihantam palu, lalu matanya dicungkil, telinganya dii
ris.
Sejak kecemasan dibunuh terus meruyak dan memburu, Bantiran mengungsi ke rumah p
amannya, sepupu ayahnya. Orang-orang menganggap Bantiran menyerahkan diri, karen
a bagian depan rumah pamannya disulap jadi markas. Keluarga diungsikan ke belaka
ng.
Saya mohon perlindungan, Bapak, pinta Bantiran kepada pamannya, salah seorang toko
h komando gerakan penumpasan. Saya ingin selamat, tetap hidup. Kalaupun harus mat
i, tolong agar saya dibunuh oleh seseorang, dengan tenang. Saya tak ingin sepert
i yang lain, dibunuh dengan hiruk-pikuk ramai-ramai.
Berhari-hari Bantiran dicekam gelisah di markas itu. Ia tidak berstatus tahanan,
karena ia keluarga seorang tokoh. Tapi, ia dilarang ke luar rumah. Bahkan, sela
lu saja orang-orang di markas itu curiga berat jika ia ke luar kamar. Teman bica
ranya cuma Kartaman, sepupunya, yang acap menemani makan siang dan malam. Mereka
kadang bermain catur, menyibukkan waktu. Namun, menit menjadi sangat menyebalka
n, detik melangkah sangat lambat, hari seperti mati. Jika Kartaman seharian tak
muncul, Bantiran merasa dirinya sudah binasa.
Bantiran menjadi tahanan istimewa di markas itu. Tapi, apa arti keistimewaan jik
a laskar penumpas orang-orang merah itu tetap ingin membunuhnya? Pamannya tak ku
asa menyelamatkan. Sebulan setelah ia menyerahkan diri, markas memutuskan menghu
kum mati Bantiran. Dia diberi kebebasan memilih cara untuk mati, dipenggal atau
ditembak.
Ada satu permintaan lagi, Bapak, ujarnya pelan ketika Paman menyampaikan berita hu
kuman mati itu. Izinkan saya mati di tangan Kartaman.
Paman terhenyak, tubuhnya terdorong sejenak ke belakang.
Saya ingin mati dengan tenang, Bapak. Perintahkan Kartaman membunuh saya.
Dia pasti menolak!
Dia tak akan berani menolak perintah Bapak. Saat ini Bapak tokoh paling berpengar
uh dan berwibawa. Tak seorang pun, laskar, kader, kerabat, keponakan, anak, bera
ni menentang Bapak.
Berhari-hari Kartaman tidak muncul di markas ketika ia tahu diberi tugas menghab
isi Bantiran. Tapi tak muncul sama sekali juga tidak mungkin. Ia bisa jadi tertu
duh merusak jalan gerak penumpasan, dan diburu, karena eksekusi Bantiran bakal t
ertunda-tunda. Paman akan marah karena dicurigai mengulur-ulur waktu. Ia mempert
aruhkan wibawa, dan harus berketetapan hati melaksanakan keputusan markas.
Kartaman akhirnya datang ke markas. Ia menuju kamar Bantiran di bagian sudut ten
ggara pekarangan.
Tolonglah! Aku ingin dibunuh dengan tenang. Dalam keadaan begini, aku akan mati d
engan puas jika kamu yang melakukan.
Bantiran mengeluarkan keris luk tiga sepanjang telapak tangan dari bawah bantal,
yang selama ini untuk berjaga-jaga, kalau-kalau ada orang hendak membunuhnya. I
a menarik gagang, melepaskan benda tajam itu dari sarungnya. Ini buatan kakek. Ia
bilang, sebagai keluarga tukang tempa besi, harus punya benda pusaka. Ia ingin
pusaka ini diwariskan turun-temurun. Aku ingin mati oleh keris ini, Man!
Kartaman terpaku, gemetar. Dia muda, hidup jauh dari kekerasan. Meninju orang ha
nya sekali ia lakukan, ketika berkelahi dengan temannya di sekolah dasar karena
pensilnya dirampas. Mana sanggup ia membunuh orang?
Aku hanya butuh tusukan pelan, semua akan selesai dengan tenang. Racun keris ini
pekat, sanggup membunuh dalam hitungan menit. Ini keris sepadan karya seorang em
pu.
Kartaman menggeleng. Aku akan menghadap Paman, bilang aku tak mampu.
Markas sudah memutuskan, ini tugasmu. Tolonglah aku! Dalam keadaan begini, alangk
ah tenteram jika dibunuh oleh sanak saudara. Aku tak mau tewas di tangan orang t
ak kukenal. Tidak oleh orang-orang yang membenciku.
Kartaman masih yakin bisa mengelak dari tanggung jawab itu. Tapi, ia menggigil k
etika Paman memutuskan tugas itu harus dipikulnya. Jika tidak, laskar dan kader-
kader partai akan mencurigainya. Orang yang menolak membunuh, harus dicermati, d
an menjadi target untuk dibunuh. Kita masih punya akal. Kamu pura-pura membunuh,
biar Bantiran tenang. Serahkan tugas itu pada serdadu. Ia yang akan mengeksekusi
.
Bantiran tak mau ditembak, Bapak. Ia ingin dibunuh dengan keris.
Kamu bisa berpura-pura membuat keributan kecil, menjauhlah dari Bantiran. Saat it
u serdadu akan menembaknya.
Kini Kartaman sedang memikirkan, keributan kecil apa yang sebaiknya ia lakukan.
Ia harus menyampaikan siasat ini kepada serdadu itu. Salah sedikit, bisa-bisa ia
yang diterjang peluru.
Bantiran berseri-seri ketika Kartaman bersedia jadi algojo. Kamu itu penyelamatku
, Man.
Penyelamat?
Menyelamatkan aku dari mati dengan sengsara.
Malam itu Bantiran minta disediakan makan malam hanya sepiring tape singkong. Ka
tanya, Alkohol tape membuat bau darah menjadi gurih, tidak amis. Ia makan lahap se
kali. Dan yakin Kartaman akan menikamnya lewat tengah malam nanti. Serdadu yang
menyertai mereka ia anggap cuma untuk berjaga-jaga kalau-kalau ia melawan dan me
larikan diri.
Tapi sekarang, setelah tiba di tempat yang ia pilih untuk eksekusi, Bantiran sej
enak bimbang. Dari pantulan cahaya bulan ia menyimak keraguan penuh Kartaman dar
i gerak bola matanya. Ia menatap wajah Kartaman pucat pasi, lengan gemetar, keti
ka keris itu berpindah tangan.
Tikam aku! Ayo!
Kartaman menggerakkan tubuh ke belakang, melompat menjauh. Bantiran menggoyang-g
oyangkan tubuhnya. Tikam aku! Bunuh! teriaknya melengking pilu. Kartaman terpaku.
Serdadu itu memberondong Bantiran dengan tiga tembakan di dada. Bantiran terpela
nting ke bawah pohon kamboja. Ia mencoba tegak lagi. Serdadu itu kembali membero
ndongnya. Bantiran terhuyung. Anjing-anjing terkejut oleh bunyi letusan itu, men
yalak dari gubuk-gubuk di batas desa, menjeritkan kebencian dan kemarahan.
Tak ada darah mengalir dari tubuh Bantiran. Serdadu itu membelalakkan mata, kare
na baru saat itu ia berhadapan dengan orang kebal tembakan. Selama ini, cerita o
rang-orang kebal pelor ia anggap sebagai dongeng picisan. Peluru-peluru itu cuma
merobek baju, menggores kulit, sebelum menggurat daging. Serdadu melepas dua te
mbakan ke arah kepala, meleset, peluru itu menghunjam di batang kamboja. Serdadu
memberondong lagi, mengenai bahu Bantiran. Tubuhnya bergoyang-goyang.
Serdadu itu kini ragu. Ia mulai bimbang bisa menyelesaikan tugas. Ia memandang K
artaman, hendak mengajaknya berbincang mencari jalan ke luar untuk menuntaskan k
orban. Bantiran terhuyung-huyung mendekati Kartaman yang gemetar.
Bedil tak akan sanggup mencabut nyawaku, Man. Kakek bilang, seorang pandai besi s
ejati cuma bisa dibunuh oleh pusakanya sendiri. Hanya kamu yang bisa menolongku,
Man!
Suara itu kini pelan sekali, memelas, penuh harap. Napas Bantiran terengah-engah
, seperti habis berlari jauh. Hanya keris itu yang bisa membebaskan jiwaku. Tolon
glah!
Kartaman merinding. Tak ada lagi pilihan untuk membebaskan sepupunya dari derita
. Keris di tangan kanannya bergetar dan memanas. Ia bergerak selangkah ke depan.
Bantiran menyambut gerakan itu dengan lega. Detik yang ia tunggu sebentar lagi
tiba.
Ayo, jangan bimbang, Man!
Kartaman mengayunkan tangan, menusukkan keris tiga luk itu ke lambung. Keris itu
tak sanggup melukai. Bantiran tersenyum. Kubilang apa, Man, kau harus melakukann
ya dengan dua tangan. Genggam lembut gagangnya dengan sepuluh jarimu.
Kartaman mengikuti permintaan itu.
Ujungnya di dadaku.
Kartaman merasakan gagang keris semakin panas, ketika ujungnya menyentuh ulu hat
i Bantiran.
Tekan perlahan, setulus perasaan. Ayo..!
Kartaman mendorong gagang keris itu, ujungnya menancap selembut menusuk batang p
isang, menembus dada, masuk perlahan, seperti ujung telunjuk yang dibenamkan ke
pasir. Bantiran memejamkan mata, menikmati penyelesaian itu dengan tenang dan in
dah. Tubuhnya tersandar di pohon kamboja yang berderak-derak. Serdadu itu membat
alkan niatnya melepas tembakan, ketika tubuh Kartaman menyatu dengan Bantiran.
Keris itu dingin perlahan, Kartaman menyentaknya dengan halus. Bantiran terkulai
, rebah telentang di atas batu. Sarungnya basah oleh darah yang menebarkan aroma
gurih. Serdadu bingung mencari-cari, dari mana datangnya bau nyaman seperti rem
pah-rempah digaring itu.
Sekeliling sepi, tak terdengar suara serangga malam. Lolong anjing senyap. Ke ma
na perginya kunang-kunang yang tadi riuh berkelip-kelip di semak-semak? Serdadu
itu duduk di pematang yang basah oleh embun sambil menyulut rokok, menatap langi
t. Ia tak mengerti apa sesungguhnya barusan terjadi.
Dua puluh tahun kemudian Desa Jampi ramai oleh keluarga orang-orang yang dibanta
i. Mereka mencari tulang belulang untuk diaben. Sesaji diletakkan di tengah sawa
h yang sebulan lalu panen kedelai. Berpeluh mereka giat menggali gundukan-gunduk
an selebar parit memanjang yang mereka curigai sebagai kuburan massal. Jika tula
ng-tulang ditemukan, tentu mereka tak bisa mengenali lagi itu milik siapa. Merek
a tak peduli. Menyelenggarakan upacara ngaben, membakar tulang-tulang itu, lebih
penting, agar roh tidak gentayangan, atma bisa diajak pulang, disemayamkan di r
umah.
Kartaman juga hadir di situ. Tentu dengan mudah ia mengenali kubur Bantiran, dek
at batu sebesar gerobak. Pohon kamboja itu, yang batangnya masih menyimpan pelur
u ditembakkan meleset, kian tinggi dan rindang, sehingga batu dan kubur itu tamb
ah teduh. Bersama serdadu, dini hari dua puluh tahun lalu, Kartaman mengubur Ban
tiran. Menjelang pagi baru usai. Setelah menimbun kubur, serdadu memberi penghor
matan militer, karena baru kali itu ia mengenal orang sakti kebal pelor.
Sejak kubur Bantiran dibongkar, tulang belulangnya dibakar, petani dan nelayan t
ak pernah lagi mencium aroma gurih rempah-rempah digaring jika mereka lewat deka
t batu keramat itu. Mereka juga tak lagi mendengar suara aneh berdentang-dentang
, seperti orang sibuk menempa besi membuat arit atau parang.***
Denpasar, November 2008