Anda di halaman 1dari 145

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM

PENGEMBANGAN EKOWISATA
(Kasus Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui,
Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung)







OLEH:
DIAN EKOWATI
A 14201025















PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2005

Datangi masyarakat
tinggallah bersama mereka,

belajarlah dari mereka,
cintai mereka,

mulailah dari apa yang mereka ketahui,
bekerjalah bersama mereka,
bangunlah dengan apa yang mereka miliki.

Tetapi jika menjadi pendamping yang terbaik,
setelah kerja keras selesai dan tujuan
tercapai,
masyarakat akan berkata:

Kita telah melakukannya sendiri

Lao Tsu




























Karya sederhana ini kupersembahkan untuk Ibu-Bapak tercinta
adik-adikku tersayang
RINGKASAN


DIAN EKOWATI, Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata.
Kasus Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui, Kabupaten Lampung
Barat, Propinsi Lampung. (Di bawah bimbingan IVANOVICH AGUSTA).
Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti potensi pengembangan
ekowisata dalam upaya pemberdayaan masyarakat di Pekon (Pekon adalah istilah
lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut desa) Pahmungan, Lampung
Barat. Penelitian dilakukan di Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah
Krui, Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung. Sebuah desa yang menjadi
tempat tujuan penelitian tentang agroforest dari berbagai kalangan, yaitu kalangan
akademis, pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Keberhasilan
pengelolaan repong damar sebagai sebuah sistem agroforest ini sudah diakui di
tingkat nasional dan internasional. Metode penelitian yang diterapkan adalah
metode penelitian kualitatif dengan strategi penelitian studi kasus. Pengumpulan
data dilakukan dengan wawancara mendalam.
Ekowisata bukanlah suatu jawaban pasti untuk melakukan pemberdayaan
masyarakat di Pekon Pahmungan. Ekowisata adalah alternatif yang dapat dipilih
dan dikembangkan mengingat potensi sumber daya yang tersedia. Dasar
pemikiran utama dari pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata
ini adalah pelestarian repong damar dengan tetap memberikan manfaat secara
sosial ekonomi kepada masyarakat. Repong adalah istilah lokal dalam Bahasa
Lampung untuk kebun. Alasan penduduk lebih memilih untuk menggunakan
istilah repong adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis tanaman,
tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman saja. Saat
masyarakat mendapatkan manfaat dari repong damar dengan pengembangan
ekowisata maka mereka akan semakin termotivasi untuk melakukan konservasi
repong damar mereka. Pengembangan ekowisata adalah untuk kepentingan
ekologi dengan tetap membantu kepentingan sosial ekonomi masyarakat.
Dengan berbagai definisi ekowisata yang telah disampaikan, jenis ekowisata
yang sesuai dengan kondisi lokalitas Pekon Pahmungan adalah ekowisata dalam
batas yang masih sanggup diterima sistem di Pekon Pahmungan, dengan
penekanan pada kegiatan di repong damar. Sesuai tiga prinsip dasar wisata yaitu
ada yang dilihat, dilakukan dan dibawa. Hal yang dapat dilihat pengunjung adalah
sungai dan gua yang masih alami dan terutama flora fauna di dalam repong. Jenis

kegiatan dalam ekowisata repong damar Pekon Pahmungan yang dapat dilakukan
adalah belajar tentang pengelolaan agroforest, petualangan di repong untuk
melihat sungai, gua, flora dan fauna di dalamnya, belajar memanjat pohon damar,
mengambil getah damar dan memilih damar. Selama ini atraksi panjat damar
sudah menjadi atraksi yang ditampilkan setiap ada acara-acara nasional. Hal yang
dapat dibawa adalah suvenir-suvenir khas seperti getah damar, bebalang dan
kentongan khas Lampung, bahkan mungkin kain tapis.
Didukung dengan berbagai faktor pendukung, komunitas tetap belum
mampu melaksanakan pengembangan dan pengelolaan ekowisata ini sendirian.
Mereka membutuhkan dukungan dari pihak luar untuk mendampingi mereka
dalam mengembangkan dan mengelola ekowisata di desa mereka. Keberadaan
pihak luar di sini bukan sebagai pemimpin proyek dan berdiri di depan komunitas,
namun untuk berdiri di samping komunitas, melalui proses belajar bersama
dengan masyarakat. Hal ini berimplikasi pada kebutuhan akan partisipasi aktif
komunitas dalam semua aspek, mulai dari perencanaan, pengembangan,
pemasaran dan pengorganisiran sumberdaya dan fasilitas. Komunitas di sini
berperan sejak dari pembuatan konsep sampai ke hal teknis.
Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata membutuhkan
komitmen dari berbagai pihak demi tercapainya tujuan. Para pihak yang terlibat di
sini berasal dari kalangan LSM lokal dan nasional, pemerintah, akademisi dan
institusi internasional. Masing-masing pihak yang terlibat dalam ekowisata
memiliki peran yang berbeda satu dengan yang lain sesuai dengan kapasitas yang
mereka miliki. Peran-peran tersebut saling menguatkan satu sama lain. Proses ini
adalah proses yang berkelanjutan dan tidak dapat terjadi secara instan. Para pihak
yang terlibat harus memiliki komitmen yang kuat untuk terlibat, dan tidak hanya
setengah-setengah. Khusus untuk kalangan pemerintah, kritik yang selama ini
sering disampaikan oleh komunitas adalah selalu bergantinya program dan
kebijaksanaan setiap kali pergantian pejabat. Hal ini terutama dirasakan
komunitas pada pejabat pemerintah di daerah tingkat I mereka.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM
PENGEMBANGAN EKOWISATA

(Kasus Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui, Kabupaten
Lampung Barat, Propinsi Lampung)





SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
SARJANA PERTANIAN

pada
Fakultas Pertanian
Institut Pertanian Bogor















FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2005
PERNYATAAN


DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN
EKOWISATA (Kasus Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui,
Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung) BELUM PERNAH DIAJUKAN
PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN MANAPUN
UNTUK TUJUAN MERAIH GELAR AKADEMIK TERTENTU. SAYA JUGA
MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA
SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG
PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN KECUALI
SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH.



Bogor, Desember 2005
Dian Ekowati
A 14201025















RIWAYAT HIDUP


Dian Ekowati, dilahirkan di Wonogiri, 8 Mei 1983, anak pertama dari tiga
bersaudara pasangan Edris danTuti Trihatmi. Pendidikan formal dimulai dari
Taman Kanak-kanak Pertiwi Manjung II Wonogiri, SDN Manjung I Wonogiri,
SLTPN 1 Wonogiri, dan SMUN 1 Wonogiri. Penulis diterima di Institut Pertanian
Bogor pada Bulan Juni tahun 2001 pada Program Studi Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian melalui
jalur USMI.
Di kampus IPB penulis aktif dalam organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa
Fakultas Pertanian (BEM-A) periode 2002-2003, Himpunan Mahasiswa Peminat
Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian (MISETA) periode 2002 2003, Lembaga
Struktural BEM-A untuk bidang bahasa dan budaya asing dalam Foreign
Language Association (FLAt) periode 2003-2004 dan International Association of
Agriculture Students and Related Sciences (IAAS) periode 2003 - 2004. Penulis
mendapat kesempatan menjadi asisten Sosiologi Umum periode tahun 2003
2004. Selain itu, penulis aktif mengikuti kegiatan-kegiatan kampus; yaitu berbagai
forum diskusi, seminar, lomba dan lokakarya tentang politik, pertanian, dan
teknologi informasi; pelatihan-pelatihan mengenai komunikasi, kepemimpinan,
dan pengembangan diri. Di luar kampus, penulis mendapat kesempatan mengikuti
pelatihan keterampilan fasilitasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah
Lampung Barat, Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) dan World Wide
Fund for Nature (WWF).
Selain organisasi, penulis telah melakukan kegiatan belajar bersama
masyarakat, baik yang diselenggarakan oleh Departemen Sosek maupun kegiatan
di luar kampus. Kegiatan tersebut yaitu mempelajari radio komunitas di Subang,
Jawa Barat pada bulan Mei 2004; Kuliah Kerja Profesi (KKP) dengan topik
Pendampingan Masyarakat dalam Pendirian dan Pengelolaan Radio Komunitas
di Pesisir Tengah Krui, Kabupaten Lampung Barat bersama LATIN pada bulan
Juni Agustus 2004; analisis teknologi partisipatif listrik tenaga kincir air dan
mempelajari pendampingan masyarakat untuk pengembangan ekowisata di
Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah pada bulan
Januari 2005. Penulis mendapat kesempatan menjadi sukarelawan LATIN selama
masa penelitian bulan Maret Juni 2005, dan menjadi sukarelawan pada Yayasan
Sajogyo Inside.

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Yang Maha Berilmu yang telah
mengizinkan penulis melaksanakan proses penelitian sampai penyusunan skripsi
dengan topik Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Ekowisata (Kasus
Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui, Kabupaten Lampung Barat,
Propinsi Lampung)
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada
pihak-pihak berikut.
Kepada keluarga penulis yang telah menjadi motivator utama penulis, bukan
hanya dalam pengerjaan skripsi ini tetapi untuk segala aspek dalam kehidupan
penulis sehingga penulis merasa mampu untuk menjadi ada di dunia ini.
Terimakasih untuk setiap detik hidupku, Ibu, Ayah dan ketiga adikku tercinta,
Ismi, Taufiq, Imam. Terimakasih mendalam juga penulis sampaikan kepada
keluarga bulik di Bojong Gede dan kelurga besar di Wonogiri.
Terimakasih pula saya sampaikan kepada Ivanovich Agusta, SP.MSi selaku
pembimbing skripsi atas segala kritik, saran dan koreksinya. Ir. Ida Yuhana, MA
selaku pembimbing akademik penulis selama penulis menjadi mahasiswa Institut
Pertanian Bogor. Prof. Dr. Sajogyo atas pelajaran-pelajaran penting bagaimana
berteori dan berpraktek. Seluruh dosen Program Studi Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat yang telah membangkitkan minat dan semangat
penulis untuk mendalami dan lebih memahami makna komunikasi dalam
pengembangan masyarakat. Seluruh staf Program Studi Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat yang sangat membantu penulis dalam mengurus
birokrasi kampus selama tiga setengah tahun terakhir. Marina Ekatari selaku
pembahas kolokium penulis yang telah memberikan banyak masukan bagi penulis
dalam melaksanakan penelitian.
Selain itu, pihak yang memegang peranan tidak kalah penting dalam proses
belajar penulis untuk penelitian skripsi ini adalah pihak-pihak yang menjadi
tempat berbagi dan berlindung penulis di lapangan. Terimakasih kepada pihak
LSM LATIN; Suporahardjo selaku direktur LSM LATIN, Kurniadi selaku
koordinator wilayah Krui, Lampung, Susi, Elly, Budi Rahardjo (LATIN Bogor),
Toetz (WALHI Lampung) dan Yanto (WWF Lampung) yang telah memberi

kesempatan belajar dan pengalaman yang sangat berharga selama penulis
melakukan proses belajar. Kepada Keluarga Bapak Alifinnur yang telah menjadi
keluarga dan teman diskusi selama penulis di lapangan. Seluruh informan di
Pekon Pahmungan yang telah menjadi teman diskusi dan sumber menggali
informasi selama proses belajar penulis. Nano Sudarno yang membuka pikiran
penulis tentang konsep dan teknis ekowisata. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten
Lampung Barat, Erik dari Bapeda, Zulfaldi dari Beguai Jejama, Persatuan
Masyarakat Petani Repong Damar (PMPRD), Koen Kusters dan Philip dari
CIFOR, Prof Ton Dietz dari University of Amsterdam, dan rekan-rekan di
Yayasan Sajogyo Inside. Terimakasih untuk tiap diskusi yang sangat berharga
bagi pengembangan pemikiran penulis.
Proeses penulisan skripsi ini tak lepas dari dukungan emosional teman-
teman dekat penulis; Tri Handayani, Astrid Nurfitria R., Dewi Lestari, Ana
Rosidha Tamyis, Muhamad Haris Saputra, Ibnu Roshid, Yusuf Rahadian dan
seluruh rekan di Wisma Anggraini. Mereka telah menjadi bagian emosional yang
membentuk penulis sampai saat ini, terimakasih untuk semua motivasi yang tidak
terhitung. Terimakasih untuk rekan-rekan satu bimbingan yang telah menjadi
menjadi tempat berbagi informasi dan semangat untuk terus berjuang bersama,
Dini Harmita dan Wydia Fermata. Tak lupa ucapan terimakasih dari lubuk hati
terdalam penulis sampaikan kepada segenap warga KPM 38, kelasku, temanku,
keluargaku, saudaraku, terimakasih!
Selain pihak tersebut di atas, masih terdapat pihak-pihak yang tidak dapat
penulis sebutkan satu-persatu, kepada mereka semua penulis ingin menyampaikan
terimakasih dari lubuk hati yang terdalam.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa walaupun penulis telah berusaha
sebaik mungkin, skripsi ini jauh dari sempurna. Penulis sangat mengharapkan
kritik dan saran untuk perbaikan di masa mendatang.
Bogor, Januari 2006
Penulis
DAFTAR ISI


Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................. iv
DAFTAR ISI ........................................................................................... vi
DAFTAR TABEL.................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR............................................................................... ix

BAB I PENDAHULUAN........................................................................ 1
1.1Topik Penelitian........................................................................ 1
1.2 Pariwisata................................................................................. 4
1.3 Ekowisata................................................................................. 7
1.4 Pemberdayaan Komunitas dalam Ekowisata............................. 13
1.5 Pertanyaan Penelitian ............................................................... 20
1.6 Tujuan Penelitian ..................................................................... 20
1.7 Kegunaan Penelitian................................................................. 20

BAB II METODOLOGI .......................................................................... 21
2.1 Metode Penelitian..................................................................... 21
2.2 Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... 22
2.3 Teknik Pengumpulan Data ....................................................... 23
2.4 Teknik Analisis Data................................................................ 27

BAB III GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN........................ 28
3.1 Sejarah Pekon Pahmungan ....................................................... 28
3.2 Karakteristik Geografis Pekon Pahmungan............................... 29
3.3 Karakteristik Sosial Ekonomi Pekon Pahmungan ..................... 34
3.4 Ikhtisar..................................................................................... 44




BAB IV FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT
PENGEMBANGAN EKOWISATA PEKON PAHMUNGAN.. 46

4.1 Faktor-faktor Pendukung.......................................................... 47
4.2 Faktor-faktor Penghambat ........................................................ 59
4.3 Ikhtisar..................................................................................... 65

BAB V KAPASITAS MASYARAKAT UNTUK TERLIBAT DALAM
PENGEMBANGAN EKOWISATA ....................................................... 69
5.1 Kemampuan menjadi Tuan Rumah Penginapan...................... 69
5.2 Keterampilan Dasar Berbahasa Inggris ................................... 78
5.3 Keterampilan Pengoperasian Komputer.................................. 80
5.4 Keterampilan Pengelolaan Keuangan ..................................... 83
5.5 Keterampilan Pemasaran ........................................................ 86
5.6 Keterbukaan terhadap Pengunjung.......................................... 87
5.7 Ikhtisar ................................................................................... 92

BAB VI. STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM
PENGEMBANGAN EKOWISATA ......................................... 95
6.1 Elemen Pemanduan dan Pelayanan Penerjemahan.................. 95
6.2 Penginapan............................................................................. 100
6.3 Penyediaan Makanan.............................................................. 104
6.4 Pembuatan dan Penjualan Hasil Produksi ............................... 105
6.5 Pembuatan dan Penjualan Souvenir ........................................ 106
6.6 Jasa Transportasi .................................................................... 108
6.7 Ikhtisar ................................................................................... 108

BAB VII. PENUTUP............................................................................... 111
7.1 Kesimpulan............................................................................ 111
7.2 Saran...................................................................................... 118
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 119


DAFTAR TABEL


Nomor Halaman
Teks
Tabel 1. Komposisi Penduduk Pekon Pahmungan....................... 36
Tabel 2. Karakteristik Pekon Pahmungan..................................... 44
Tabel 3. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengembangan Ekowisata
di Pekon Pahmungan...................................................... 65
























DAFTAR GAMBAR


Nomor Halaman
Teks
Gambar 1. Aspek-aspek Ekowisata ......................................................... 2
Gambar 2. Kondisi Repong di Pekon Negeri Ratu Ngaras yang Dibakar dan
Diganti Jeruk ......................................................................... 3
Gambar 3. Suasana Wawancara Dengan Informan ................................... 26
Gambar 4. Areal Persawahan Dengan Latar Bealakang Repong Damar .... 30
Gambar 5. Anjung Milik Penduduk yang Terletak di dalam Repong......... 31
Gambar 6. Keragaman Jenis Pohon Dalam Repong .................................. 33
Gambar 7. Transek Penggunaan Lahan Pekon Pahmungan....................... 39
Gambar 8. Pohon Buah Durian di Dalam Repong..................................... 40
Gambar 9. Kalender Musim Pekon Pahmungan........................................ 43
Gambar 10. Peneliti Asing Mengunjungi Gudang Damar ......................... 55
Gambar 11. Suasana Rapat Radio Komunitas........................................... 57
Gambar 12. Pertunjukan Kesenian Bedikar .............................................. 62


















BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Topik Penelitian
Topik yang dipilih dalam penelitian ini adalah pemberdayaan masyarakat
dalam pengembangan ekowisata. Topik ini dipilih karena penulis melihat adanya
potensi pengembangan ekowisata sebagai salah satu jalan untuk pemberdayaan
masyarakat di Pekon
1
Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui, Kabupaten
Lampung Barat. Repong
2
damar di Pesisir merupakan contoh keberhasilan sistem
yang dirancang dan dilaksanakan oleh penduduk setempat sejak 200 tahun yang
lalu. Keunikan sistem tersebut terletak pada penguasaan ekologi sumber daya
ekonomi, yakni bukan dengan cara memodifikasi ciri-ciri tanaman agar sesuai
dengan ekosistem budidaya, melainkan dengan rekonstruksi yang hampir
sesempurna ekosistem hutan asli (Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat,
2002). Kunjungan orang luar ke Pekon Pahmungan pun dapat dikatakan selama
ini sudah cukup sering, sekitar satu sampai tiga rombongan setiap bulan. Satu
rombongan pengunjung yang datang biasanya terdiri dari empat sampai sepuluh
orang
3
. Selain itu, topik tersebut dipilih penulis karena adanya dukungan dari
Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) terhadap penulis untuk melakukan
penelitian ini. LATIN yang melakukan pendampingan di wilayah Krui, Lampung
Barat melihat adanya potensi pengembangan ekowisata dengan kedatangan para
pengunjung dari kalangan awam, akademisi dan praktisi baik dari dalam maupun
luar negeri ke Pekon Pahmungan untuk melakukan penelitian dan studi banding.
Ekowisata adalah konsep wisata yang menggabungkan antara kepentingan
ekologi, ekonomi dan sosial. Tak seperti wisata alam yang cenderung
menekankan pelayanan pada pengunjung sebagai konsumen
4
dan kurang

1
Pekon adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut desa.
2
Repong adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk kebun. Alasan penduduk lebih
memilih untuk menggunakan istilah repong adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis
tanaman, tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman saja.
3
Hasil wawancara dengan informan di Pekon Pahmungan dan hasil observasi lapang.
4
Contoh keberpihakan pada peayanan pengunjung dan tidak diimbangi dengan pelayanan
penduduk lokal adalah di Hutan Lindung Nasional, Kenya. Mata air di dalam hutan lindung
tersebut, sebelum dijadikan tujuan wisata alam adalah sumber mata air bagi penduduk lokal, baik
untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk ternak-ternak mereka. Saat wisata alam dikembangkan
dan sebuah hotel didirikan, penduduk lokal tidak lagi memiliki akses terhadap mata air tersebut.
mata air dalam hutan lindung ditutup untuk umum demi memenuhi kebutuhan air pengunjung


ekologi





memperhatikan kepentingan ekologi maupun penduduk lokal, ekowisata memberi
penekanan yang sama pada pelestarian ekologi dan pemberian manfaat sosial
ekonomi pada penduduk lokal. Hal ini dapat digambarkan dalam sebuah segitiga
sama sisi seperti berikut ini.
Gambar 1 Aspek-aspek Ekowisata


sosial
ekonomi
Panjang masing-masing sisi yang sama menunjukkan kesetaraan tingkat
kepentingan masing-masing aspek dalam pengembangan ekowisata. Aspek
ekologi terus diupayakan pelestariannya dengan pemberian manfaat sosial
ekonomi bagi penduduk lokal.
Kondisi repong damar di beberapa pekon di Pesisir Tengah Krui, misal
Pekon Gunung Kemala dan Pekon Negeri Ratu Ngaras saat ini sudah cukup
mengkhawatirkan. Pohon-pohon damar di sana, sebagian sudah ditebangi dan
diganti dengan pohon jeruk, coklat atau kopi. Penebangan pohon damar mereka
lakukan karena mereka menganggap pohon-pohon tersebut sudah tidak
memberikan keuntungan secara optimal, hal ini terjadi karena pengambilan getar
damar yang dilakukan penduduk sudah melewati batas kemampuan pohon damar.
Getah pohon damar uang seharusnya dipanen setelah satu bulan, saat ini dipanen
dalam jangka waktu dua tiga minggu. Penggantian dengan pohon kopi, cokelat
atau jeruk menurut penduduk memberikan manfaat ekonomi yang lebih banyak,
dibandingkan jika mereka menanam pohon damar baru yang membutuhkan waktu
25 - 30 tahun
5
untuk menghasilkan getah. Waktu selama itu dibutuhkan dari
proses penyemaian biji sampai menjadi pohon yang bisa menghasilkan getah.
Penggantian repong damar menjadi kebun kopi, cokelat atau jeruk ini secara
ekologi kurang menguntungkan. Pohon-pohon damar membentuk repong bersama

Hotel Sarova Shaba. Penduduk lokal dan ternak-ternaknya kemudian mengalami kelaparan karena
tidak memiliki air cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka (Mc Laren dalam Linsday, 2003).
5
Jangka waktu yang dibutuhkan pohon menghasilkan getah tergantung dari tingkat kesuburan
tanah dan kualitas bibit damar.

pohon-pohon lain (duku, durian, petai, buah merah, asam kandis, akasia, jati,
mahoni dll) baik yang dibudidayakan atau tidak, menjadi sebuah ekosistem
agroforest. Ekosistem agroforest ini memiliki fungsi selayaknya hutan. Fungsi-
fungsi tersebut antara lain; penyerapan air, sumber oksigen, pelindung flora dan
fauna. Jika sistem agroforest ini punah maka ekologi dalam lingkup lebih luas
akan terganggu, tidak hanya bencana ekologi di wilayah Pesisir Krui, tetapi juga
di tingkat nasional, bahkan internasional. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Ty,
supervisor tim Konservasi Gunung Halimun dari Japan International Corporation
Agency (JICA) dalam sebuah wawancara untuk Radio Komunitas Suara Petani.
Rakyat Krui harus bangga dengan repong damarnya. Repong ini adalah sistem
agroforest yang sangat hebat, hampir sesuai dengan hutan asli. Melestarikannya,
bukan hanya bermanfaat untuk rakyat Krui sendiri, tetapi juga bagi Indonesia
bahkan dunia internasional. Dapat dikatakan, repong damar adalah salah satu paru-
paru dunia.
Gambaran kondisi repong damar yang sudah rusak dapat dilihat pada gambar
berikut ini.










Atas dasar pemikiran itulah, penelitian ini dilakukan. Penelitian untuk meneliti
kapasitas, potensi dan strategi pemberdayaan yang dapat ditempuh dalam
pengembangan ekowisata di Pekon Pahmungan sebagai salah satu alternatif
pemberdayaan bagi masyarakat.

Tunas Pohon
Jeruk
Gambar 2. Kondisi Repong di Pekon Negeri Ratu Ngaras yang
Dibakar dan Diganti Jeruk
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati


1.2 Pariwisata
Pariwisata adalah aktivitas dari orang-orang yang melakukan perjalanan
untuk kemudian tinggal di suatu tempat di luar lingkungan sehari-hari mereka
dalam waktu tidak lebih dari satu tahun secara terus menerus untuk bersenang-
senang, bisnis atau tujuan-tujuan lain (WTO dan UNSTAT, 1994 dalam Cooper et
al.1999). Pariwisata berkembang di dunia sebagai hasil dari kenaikan pendapatan,
waktu luang yang lebih banyak, dan kesempatan yang terus berkembang (Tisdell,
1987). Saat ini industri pariwisata telah menjadi industri terbesar di dunia dan
telah mampu menjadi industri yang berkembang paling cepat dibandingkan
industri-industri lain. Pariwisata merupakan penyumbang yang signifikan dalam
pertumbuhan ekonomi di hampir semua negara dunia, termasuk pada negara-
negara sedang berkembang (Tisdell, 2000).
Aryanto (2003) menyatakan bahwa pariwisata merupakan industri dengan
pertumbuhan tercepat di dunia, melibatkan 657 juta kunjungan wisata di tahun
1999 dengan US $ 455 milyar penerimaan ke seluruh dunia. Apabila kondisi tetap
stabil, pada tahun 2010 jumlah kunjungan antar negara ini diperkirakan meningkat
mencapai 937 juta. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa di Indonesia indikasi
perkembangan pariwisata tersebut terlihat dari peningkatan jumlah wisatawan
mancanegara sebanyak 4.606.416 (rata-rata hari kunjungan 9,18 hari/ orang) di
tahun 1998, meningkat menjadi 5.064.217 orang dengan jumlah hari kunjungan
12,26/orang pada tahun 2000. Besarnya devisa yang diperoleh sektor pariwisata
pada tahun 2000 sebesar 5,75 milyar US$.
Dari data Ditjen Pariwisata sampai dengan Juni 1999, tercatat peningkatan
kontribusi bidang kawasan dan wisata secara signifikan dari 4,91% di tahun 1990
menjadi 9,59% di tahun 1999, dengan peningkatan investasi dari Rp 3 triliun di
tahun 1990 menjadi Rp 33 triliun di tahun 1999, keberlanjutan pengembangan ini
berimplikasi pada bidang usaha wisata lainnya, yaitu perhotelan, jasa rekreasi,
biro perjalanan, dan restoran yang terletak di kawasan wisata (Aryanto, 2003).

Pariwisata sendiri adalah sebuah bisnis yang unik, produk dan
pemasarannya pun tidak daat disamakan dengan pemasaran produk lain. Berikut
ini adalah sepuluh keunikan pemasaran produk pariwisata (Eagles 1994)
6
:
a. Pengalaman rekreasi di lapangan sebagai produk dikonsumsi di daerah
tersebut, jauh dari rumah konsumen.
b. Biaya perjalanan menuju daerah wisata sering jauh lebih mahal daripada
biaya masuk ke daerah wisata tersebut.
c. Produk wisata adalah sebuah paket fasilitas dan program yang menarik
orang untuk datang ke wilayah tersebut.
d. Pengalaman wisata pada umumnya hanya berlangsung selama beberapa
hari dan bersifat eksperiental; tidak dapat dimiliki kecuali sebagai
kenangan.
e. Produksi, pengiriman, dan konsumsi produk wisata berlangsung secara
bersama-sama.
f. Para konsumen terlibat secara aktif dalam memproduksi pengalaman,
baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
g. Pengalaman wisata yang tidak sesuai dengan harapan konsumen tidak
dapat dikembalikan dalam bentuk pengembalian biaya.
h. Situs wisata dan pengalaman sulit untuk didapat sebelum benar-benar
merasakan. Oleh karena itu, ajakan langsung dari teman atau keluarga
adalah faktor utama yang menentukan pilihan.
i. Produk wisata tidak dapat disimpan selama permintaan rendah dan
kemudian dan kemudian dijual saat permintaan berlebih.
j. Aspek-aspek penting dalam pengalaman wisata terjadi sebelum dan
sesudah partisipasi di lapangan.
Tisdell (1987) menyatakan gejala yang umum berkembang di dunia saat ini
adalah bahwa peningkatan kegiatan dalam bidang pariwisata diikuti dengan

6
http://www.ecotourism.org/index2.php?research/stats (24-4-2004)


peningkatan tekanan pada lingkungan. Dampak negatif dari tekanan pada
lingkungan tersebut adalah sebagai berikut:
a. Erosi tanah karena lalu lintas yang terlalu padat, pejalan kaki, dll
7
.
b. Perencanaan pembangunan infrastruktur untuk mendukung pariwisata
seperti bangunan-bangunan, tempat pembuangan sampah, jalan-jalan
yang buruk mengakibatkan kerusakan pada lingkungan dan hal ini dapat
mengganggu kehidupan binatang
8
.
c. Permintaan wisatawan akan kebutuhan hidup selama mereka berada di
wilayah pariwisata dapat mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam
untuk alasan komersial
9
.
d. Kondisi sosial budaya wisatawan yang tidak sesuai dengan sosial
budaya setempat dapat merusak dan mengganggu sistem sosial budaya
yang berada di komunitas
10
.
Selain dampak negatif tersebut di atas, Tisdell menyatakan bahwa bagi
komunitas lokal, pariwisata memiliki manfaat-manfaat yaitu pengenalan pada ide-
ide baru yang berguna bagi kehidupan mereka, gaya hidup yang berkembang,
kesempatan ekonomi baru dan lebih luas, pertumbuhan permintaan akan kesenian
lokal, kesadaran baru terhadap budaya mereka sendiri, penawaran investasi untuk
konservasi budaya buatan manusia dan untuk konservasi alam. Contoh nyata

7
Di Annapura Circuit, Nepal 60.000 pengunjung yang datang setiap tahun mengakibatkan
pengkisan tanah yang cukup dalam di jalan yang mereka lalui (Mc Laren dalam Linsday, 2003).
8
Pembangunan kawasan wisata di daerah Taman Wisata Alam Pulau Sangiang, Desa Cikoneng,
kecamatan Anyer, Kabupaten Serang oleh PT Pondok Kalimaya Putih tanpa mengindahkan
aspek lingkungan telah menyebabkan terjadinya perubahan bentangan lahan alami dari hutan
alam menjadi semak belukar, padang alang-alang, dan bangunan permanen. Akibatnya terjadi
penurunan laju infiltrasi tanah dan telah menyebabkan kerusakan sifat fisik tanah (Tempo
Interaktif, 20 Maret 2005).
9
Di Kenya, sumber mata air di Taman Nasional Shaba sebelumnya adalah penyedia air bersih
bagi orang-orang lokal Samburu, binatang peliharaannya, dan binatang-binatang liar di kawasan
taman tersebut. Namun, ketika Hotel Sarova Shaba dibangun, mereka menguasai mata air
tersebut sehingga tidak lagi dapat digunakan orang-orang lokal dan binatang-binatang liar. Hal
ini mengakibatkan binatang-binatang peliharaan dan binatang-binatang-binatang liar sekarat dan
kelaparan (Mc Laren dalam Linsday, 2003).
10
Di kawasan reservasi Hopi Nation, Arizona, penduduk asli tidak lagi mengizinkan pengunjung
yang datang untuk memotret, memasuki daerah pemukiman penduduk, atau melakukan
pendakian dan perjalanan di kawasan reservasi. Penolakan ini dilakukan karena penduduk
menganggap sikap pengunjung yang datang sebelumnya tidak sopan dan tidak sesuai dengan
nilai-nilai yang mereka anut (Mc Laren dalam Linsday, 2003).

kesuksesan pengembangan ekowisata adalah di Kawasan Reservasi Maquipucuna,
Ekuador. Kawasan reservasi ini berdiri di atas tanah seluas 15.000 acre (sekitar
5970 hektar), di bawah kepemilikan dan manajemen yayasan swasta. Para
pengunjung tinggal di sebuah penginapan dengan karyawan dan pemandu dari
komunitas lokal. Para pengunjung dapat menikmati atraksi-atraksi seperti kegiatan
untuk merehabilitasi beruang liar yang saat ini terlalu tergantung pada tangan
manusia, koleksi anggrek yang dapat dipanen, situs arkeologi pre-Incan dan
Festival Beruang tahunan yang terkenal. Penginapan ini berdiri tepat di sebelah
tempat penelitian. Kesuksesan pengembangan ekowisata di daerah ini telah
memeberikan inspirasi bagi penduduk lokal untuk melihat beruang sebagai simbol
kekayaan turun temurun mereka yang dengan bangga mereka pamerkan, dan
bukan lagi melihat beruang-beruang tersebut sebagai hama atau hewan buruan
(Linsday, 2003).
1.3 Ekowisata
Fennel menyatakan bahwa ekowisata merupakan salah satu bentuk
perluasan dari pariwisata alternatif yang timbul sebagai konsekuensi dari
ketidakpuasan terhadap bentuk pariwisata yang kurang memperhatikan dampak
sosial dan ekologis, lebih mementingkan keuntungan ekonomi dan kenyamanan
manusia semata (Fennel, 1999 dalam Nugraheni, 2002). Selain Fennel, Linsday
menyebutkan bahwa ekowisata muncul sebagai konsep yang menyatukan antara
kepentingan pemerhati lingkungan dan ahli pembangunan. Ekowisata
menekankan pentingnya konservasi ekologi tanpa meninggalkan kepentingan
sosial ekonomi masyarakat lokal. World Wide Fund for Nature (WWF)
menyatakan bahwa ekowisata dikembangkan berdasarkan pada pengetahuan
lokal, ekowisata mampu menyediakan pendapatan untuk masyarakat lokal, dan
mendorong komunitas untuk lebih menghargai kehidupan liar di sekelilingnya,
sehingga dapat memberikan manfaat bagi konservasi.
Hal ini sesuai dengan harapan para penggiat Lembaga Swadaya Masyarakat
di Pekon Pahmungan setelah melihat kondisi ekologi dan sosial ekonomi
penduduk Pekon Pahmungan. Saat ini kondisi sebagian pohon damar di repong
damar Pekon Pahmungan sudah cukup memprihatinkan dengan adanya

pengambilan getah yang terlalu sering dilakukan penduduk karena tuntutan
ekonomi. Jika hal ini berlanjut terus menerus, dikhawatirkan kondisi repong
damar sebagai kekayaan ekologi akan rusak dan bahkan punah. Pengembangan
ekowisata memungkinkan penduduk memperoleh manfaat secara sosial dan
ekonomi dengan tetap mempertahankan kelestarian repong damar sehingga
kelestarian repong damar dapat dipertahankan.
Ekowisata merupakan jenis pariwisata yang menekankan pada pentingnya
konservasi. World Conservation Union mendefinisikan ekowisata sebagai
perjalanan dan kunjungan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan pada
wilayah-wilayah yang relatif belum terganggu, dengan tujuan untuk menikmati
dan menghargai alam yang mengutamakan konservasi, memiliki dampak dari
kehadiran pengunjung rendah, dan melibatkan komunitas lokal secara aktif dalam
bidang sosial ekonomi yang menguntungkan
11
. Selain definisi tersebut, terdapat
definisi lain, Lindsay (2003) menyatakan bahwa ekowisata adalah pariwisata yang
bertanggung jawab dengan fokus pada alam
12
. Wisatawan-wisatawan pada
umumnya tinggal bersama dengan para penduduk lokal atau pada hotel kecil yang
ramah lingkungan yang biasa disebut ecolodge. Ecolodge ini pada umumnya
terbuat dari kayu. Kunci dari keramahan lingkungan ecolodge ini adalah tingkat
konsumsi yang rendah, penggunaan sumber daya secara efisien, dan daur ulang
barang-barang yang digunakan. Hotel besar di kawasan industrialisai mungkin
dapat membuang sampah dalam jumlah yang besar. Namun sebuah ecolodge di
dalam kawasan hutan konservasi tidak akan memiliki tempat untuk dijadikan
tempat pembuangan sehingga mereka harus menemukan cara untuk melakukan
daur ulang. Pelayanan di hotel modern saat ini membiasakan pengunjung untuk
mendapatkan penggantian selimut dan sprei setiap hari. Di dalam ecolodge para
pengunjung mungkin harus terbiasa untuk mendapatkan penggantian selimut dan
spre seminggu sekali demi penghematan air dan tenaga.
Menurut Norris, Wilber dan Marrin (tidak ada tahun) terdapat dua jenis
ekowisata yang dewasa ini berkembang di kalangan penggiat ekowisata. Pertama

11
Ceballos dan Lascurain dalam http://www.csa.com/hottopics/ecotour1/Notes/nCeb.html (25-4-
2004)
12
http://www.csa.co m/hottopics/ecotour1/editor.html [25-4-2004])

adalah ekowisata berbasis masyarakat dan yang kedua adalah ekowisata yang
disponsori oleh organisasi konservasi swasta. Perbedaannya adalah ekowisata
yang disponsori oleh organisasi konservasi swasta bertujuan untuk melakukan
konservasi dengan memberikan manfaat bagi komunitas, sedang ekowisata
berbasis komunitas bertujuan memberikan manfaat bagi komunitas dengan
melakukan konservasi ekologi. Dalam skripsi ini, penulis tidak membedakan
antara kedua jenis ekowisata tersebut, karena pada dasarnya inti dari ekowisata
adalah kedua hal tersebut, pengembangan masyarakat dan konservasi, keduanya
memiliki posisi yang sama., tidak ada yang lebih penting atau kurang penting.
Keduanya berjalan bersama-sama untuk mencapai pengembangan ekowisata yang
berkelanjutan dan lestari.
Dari berbagai definisi yang diutarakan oleh berbagai ahli, Ron Mader
seorang konsultan ekowisata menyatakan kriteria-kriteria umum ekowisata
yaitu
13
:
a. Ketersediaan untuk tindakan-tindakan konservasi.
Tindakan-tindakan konservasi yang dilakukan dalam pengembangan
ekowisata berjalan beriringan dengan tindakan-tindakan sosial ekonomi
bagi masyarakat. Hal ini menjadi salah satu kriteria utama mengingat
bahwa pusat keragaman biologi pada umumnya adalah daerah-daerah
paling miskin di dunia, di mana kebutuhan ekonomi mendesak
komunitas untuk melakukan tindakan-tindakan yang merusak
lingkungan. Ekowisata adalah sebuah kesempatan untuk melindungi
ekosistem dan keragaman biologi yang mungkin akan hilang. Ekowisata
juga membuka jalan bagi pemasukan dana untuk usaha-usaha penelitian.
Pemasukan dana yang didapat dari atraksi-atraksi ekowisata dapat
diteruskan ke program-program yang menggali lebih dalam pengetahuan
tentang ekologi area tersebut, mendukung usaha pengawinan spesies
asli, rehabilitasi atau penghutanan kembali, memonitor dampak
kedatangan pengunjung untuk memastikan bahwa kunjungan-kunjungan
tersebut tidak merusak lingkungan(Conservation International dalam
Linsday, 2003).

13
http://www.planeta.com/ecotravel/tour/definitions.html [25-4-2004]

Di Taman Nasional Kakum, Ghana terdapat jalan kanopi yang
terbentang diantara pucuk-pucuk pepohonan. Jalan ini dirancang dan
dibangun oleh Badan Konservasi Internasional. Jalan ini digunakan oleh
para pengunjung dan para peneliti dan merupakan sumber pendapatan
untuk usaha-usaha konservasi di taman nasional tersebut. Jalan kanopi
ini menarik kunjungan cukup banyak wisatawan. Hal ini terlihat dari
jumlah kunjungan yang meningkat drastis dari 2.000 kunjungan pada
tahun 1992 menjadi 70.000 kunjungan pada tahun 1999 (Conservation
International dalam Linsday, 2003).
b. Pelibatan komunitas dalam partisipasi yang aktif dan berarti.
Komunitas lokal adalah pihak paling penting dalam pengembangan
ekowisata ini, selain pihak-pihak lain, seperti pihak swasta, LSM, dan
pemerintah. Komunitas lokal adalah subyek utama yang mengalami
langsung proses dan hasil-hasil dari pengembangan ekowisata.
Pengembangan ekowisata di Kawasan Konservasi Biodiversitas
Nasional Namha, Thailand telah berhasil meningkatkan pendapatan
penduduk lokal dan mengangkat mereka dari kemiskinan. Keberhasilan
ini tidak lepas dari pelibatan penduduk secara aktif dalam kegiatan-
kegiatan yang tercakup dalam pengembangan ekowisata. Pengunjung
yang datang ke kawasan ekowisata ini harus menyewa pemandu lokal
untuk memastikan bahwa peraturan-peraturan yang telah ditetapkan
untuk menjaga kelestarian ekologi dan norma-norma sosial yang berlaku
di kalangan masyarakat tersebut terus dipatuhi oleh pengunjung.
Penduduk lokal yang berpastisipasi aktif dalam pengembangan
ekowisata ini mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung melalui
penyediaan makanan, penginapan, pelayanan pemanduan, dan melalui
penjualan kerajinan. Pendapatan kotor yang diperoleh dari kegiatan ini
mencapai lebih dari 21,000 US $ selama periode Oktober 2000 sampai
November 2001. Kontribusi pengembangan ekowisata di kawasan ini
dalam melawan kemiskinan membawa pengembang ekowisata di daerah
ini mendapat penghargaan pembangunan dari PBB pada tahun 2001.

c. Menguntungkan dan dapat berkelanjutan/ bertahan secara mandiri.
Kriteria lain dari ekowisata adalah bahwa kegiatan tersebut dapat
berkelanjutan dan bertahan secara mandiri, memungkinkan komunitas
untuk terus mendapat manfaat tanpa membahayakan kelestarian ekologi.
Di Kawasan Reservasi Biosfer Maya di Peten, Guatemala terdapat
sebuah sekolah bernama Eco-Escuela yang dibangun dengan kerjasama
antara lembaga yang mendampingi komunitas dengan Badan Konservasi
Nasional, ternyata mampu mandiri dalam waktu tiga tahun. Sekolah
tersebut menjadi lahan pekerjaan bagi 56 keluarga, dan menawarkan
program seperti kelas bahasa Spanyol dan penginapan bagi pengunjung.
Ekowisata juga telah mendorong penduduk lokal untuk
mengembangkan kerajinan tangan asli untuk souvenir, dan hal tersebut
ikut berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya.
Nilai tambah lain dari ekowisata adalah tinggalnya para wisatawan dengan
komunitas lokal yang memungkinkan terjadinya kontak pribadi antara mereka dan
akan memfasilitasi adanya pertukaran budaya, hal tersebut merupakan hal yang
sangat berarti dari pengalaman ekowisata bagi beberapa orang (Linsday, 2003)
14
.
Dari definisi-definisi ekowisata yang dinyatakan di atas dapat dilihat bahwa
ekowisata adalah salah satu usaha untuk menekan dampak negatif terhadap
lingkungan seperti yang dimiliki oleh pariwisata pada umumnya. Namun tidak
semua usaha ekowisata berhasil dalam usaha konservasi alam. Mc Laren dalam
Linsday (20030 menyatakan bahwa pada kemungkinan terburuknya, ekowisata
destruktif pada aspek lingkungan, eksploitatif pada aspek ekonomi, dan tidak
sensitif pada aspek budaya, lebih lanjut ia menyatakan ekowisata sebagai
perjalanan yang mencuci aspek hijau (greenwashed)
15
. Jika dampak-dampak
negatif tersebut tidak dapat dicegah maka ekowisata sebagai alternatif wisata
untuk menekan dampak negatifnya hanya akan menjadi sebuah perubahan istilah
saja.

14
http://www.csa.co m/hottopics/ecotour1/editor.html [25-4-2004]
15
Linsday dalam http://www.csa.com/hottopics/ecotour1/editor.html [25-4-2004)


Lebih lanjut Mc Laren dalam Linsday (2003) menyebutkan dampak-dampak
negatif ekowisata, yaitu karena lokasi untuk ekowisata terletak di daerah-daerah
yang sensitif, ekowisata yang gagal menghidupkan asas konservasi dapat
memiliki konsekuensi terhadap lingkungan. Wisatawan yang datang
mengakibatkan peningkatan populasi walaupun mungkin tidak secara terus
menerus, dan tuntutan mereka pada sumber daya-sumber daya lokal akan
membutuhkan infrastruktur tambahan, menghasilkan sampah dalam jumlah besar,
polusi dan degradasi lebih jauh pada ekosistem yang rapuh. Bahkan aktivitas-
aktivitas yang terdengar tidak berbahaya seperti petualangan di alam bebas
mungkin akan merusak, aktivitas ini dapat mengakibatkan erosi tanah dan
perusakan pada akar-akar tanaman. Selain itu, wisatawan yang datang ke alam
bebas yang masih liar dapat menakuti binatang-binatang untuk mencari makanan
atau ke sarang mereka, sedangkan perahu-perahu mesin dan helikopter yang
mereka tumpangi akan mengakibatkan polusi suara, air, tanah, udara yang akan
mengganggu kehidupan asli binatang-binatang tersebut. Keberadaan para
wisatawan tersebut juga sangat mungkin menjadi faktor utama dalam
perkembangan ekonomi yang merusak terhadap lingkungan seperti adanya pasar
untuk souvenir-souvenir yang berasal dari bagian tubuh hewan liar.
Dalam rangka mengatasi masalah-masalah ekowisata tersebut, partisipan-
partisipan pada Konferensi Online Sustainable Ecotourism Mei 2000, yang
diadakan oleh Ron Mader menetapkan beberapa syarat ekowisata
16
:
a. Aktivitas ekowisata tidak mengganggu kehidupan alami.
b. Meminimalisir dampak negatif pada lingkungan.
c. Melakukan konservasi terhadap alam dan warisan budaya.
d. Melibatkan komunitas lokal secara aktif dan menguntungkan.
e. Mampu memberikan kontribusi pada pembangunan berkelanjutan dari
keuntungan-keuntungan yang didapat.
f. Memberikan pengalaman yang mendidik bagi para pengunjung
menggabungkan antara alam dan warisan budaya (Ceballos-Lascurdin).


16
http://www.planeta.com/ecotravel/tour/definitions.html [25-4-2004]

1.4 Pemberdayaan Komunitas dalam Ekowisata
Dari definisi-definisi ekowisata yang telah disampaikan, dapat dilihat bahwa
aspek partisipasi aktif komunitas lokal merupakan aspek yang penting dan
mendasar dalam ekowisata. Partisipasi aktif komunitas lokal merupakan elemen
penting dalam mengatasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh adanya
ekowisata.
Tujuan jangka panjang pemanfaatan pendekatan partisipatif adalah
meningkatkan kemampuan (pemberdayaan) setiap orang yang terlibat baik
langsung maupun tidak langsung dalam sebuah proyek atau pengembangan,
dengan cara melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-
kegiatan selanjutnya
17
. Istilah pemberdayaan sendiri dapat diartikan sebagai
pembangunan alternatif yang lebih memihak pada manusia dan lingkungannya
daripada terhadap produksi dan keuntungan (Friedmann, 1992). Konsep
pemberdayaan ini tidak dapat dilepaskan dari konsep partisipasi. Dalam
melakukan pemberdayaan, setiap pihak yang terlibat memiliki hak dan kewajiban
untuk berpartisipasi sesuai dengan peran dan kapasitas masing-masing. Berikut ini
adalah prinsip-prinsip partisipasi
18
:
a. Cakupan; semua orang, atau wakil -wakil dari semua kelompok yang
terkena dampak dari hasil-hasil suatu keputusan atau proses proyek
pembangunan misalnya.
b. Kesetaraan dan Kemitraan (Equal Partnership). Pada dasarnya setiap
orang mempunyai ketrampilan, kemampuan dan prakarsa serta
mempunyai hak untuk menggunakan prakarsa tersebut terlibat dalam
setiap proses guna membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang
dan struktur masing-masing pihak.
c. Transparansi. Semua pihak harus dapat menumbuh-kembangkan
komunikasi dan iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga
menimbulkan dialog.

17
http://www.deliveri.org/guidelines/implementation/ig_3/ig_3_3i.htm [25-4-2004]
18
idem

d. Kesetaraan Kewenangan (Sharing Power / Equal Powership). Berbagai
pihak yang terlibat harus dapat menyeimbangkan distribusi kewenangan
dan kekuasaan untuk menghindari terjadinya dominasi.
e. Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility). Berbagai pihak
mempunyai tanggung jawab yang jelas dalam setiap proses karena
adanya kesetaraan kewenangan (sharing power) dan keterlibatannya
dalam proses pengambilan keputusan dan langkah-langkah selanjutnya.
f. Pemberdayaan (Empowerment). Keterlibatan berbagai pihak tidak lepas
dari segala kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap pihak, sehingga
melalui keterlibatan aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu
proses saling belajar dan saling memberdayakan satu sama lain.
g. Kerjasama. Diperlukan adanya kerjasama berbagai pihak yang terlibat
untuk saling berbagi kelebihan guna meminimalisir berbagai kelemahan
yang ada, khususnya yang berkaitan dengan kemampuan sumberdaya
manusia.
Prinsip-prinsip partisipasi tersebut, menuju arah pemberdayaan komunitas
sebagai berikut
19
:
a. Menciptakan suasana atau iklim untuk mewujudkan pengembangan
potensi komunitas dengan mendorong, memotivasi, menyadarkan akan
potensi yang dimilikinya untuk berkembang.
b. Memberdayakan komunitas dalam bentuk tindakan nyata berupa
penyediaan dan berbagi informasi, serta peluang pengembangan dan
pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.
c. Memelihara keberlanjutan suasana/ iklim interaksi timbal balik yang
beretika antar elemen komunitas.
Prinsip-prinsip partisipasi tersebut adalah jiwa dalam setiap proses
pemberdayaan masyarakat, termasuk dalam pemberdayaan masyarakat dalam
pengembangan ekowisata.

19
http://www.lppm.itb.ac.id/organisasi.html?menu_parent=5 [25-4-2004]

Pemberdayaan dapat dilakukan dalam berbagai bidang, pengembangan
ekowisata merupakan salah satu bidang yang dapat dikembangkan sebagai jalan
untuk melakukan pemberdayaan masyarakat. Berikut ini beberapa kondisi
lokalitas yang menjadi dasar sebelum ekowisata dipilih sebagai jalan untuk
memberdayakan masyarakat (WWF International, 2001):
a. Kerangka ekonomi dan politik yang mendukung perdagangan yang
efektif dan investasi yang aman.
b. Perundang-undangan di tingkat nasional yang tidak menghalangi
pendapatan dari wisata diperoleh dan berada di tingkat komunitas lokal.
c. Tercukupinya hak-hak kepemilikan yang ada di dalam komunitas lokal.
d. Keamanan pengunjung terjamin.
e. Resiko kesehatan yang relatif rendah, akses yang cukup mudah ke
pelayanan medis dan persediaan air bersih.
f. Tersedianya fasilitas fisik dan telekomunikasi dari dan ke wilayah
tersebut.
Sedangkan syarat-syarat awal yang harus terdapat di tempat tersebut untuk
pengembangan ekowisata seperti tercantum dalam buku tersebut adalah:
a. Lanskap atau flora fauna yang dianggap menarik bagi para spesialis atau
bagi pengunjung yang lebih umum.
b. Ekosistem yang masih dapat menerima kedatangan jumlah pengunjung
tertentu tanpa menimbulkan kerusakan.
c. Komunitas lokal yang sadar akan kesempatan-kesempatan potensial,
resiko dan perubahan yang akan terjadi, serta memiliki ketertarikan
untuk menerima kedatangan pengunjung.
d. Adanya struktur yang potensial untuk pengambilan keputusan
komunitas yang efektif.
e. Tidak adanya ancaman yang nyata-nyata dan tidak bisa dihindari atau
dicegah terhadap budaya dan tradisi lokal.

f. Penaksiran pasar awal menunjukkan adanya permintaan yang potensial
untuk ekowisata, dan terdapat cara yang efektif untuk mengakses pasar
tersebut. Selain itu juga harus diketahui bahwa pasar potensial tersebut
tidak terlalu banyak menerima penawaran ekowisata.
Selanjutnya Guidelines for Community-based Ecotourism Development
(WWF International, 2001) menyatakan beberapa aspek dari kapasitas komunitas
untuk terlibat dalam pengembangan ekowisata, antara lain:
a. Kemampuan menjadi tuan rumah penginapan.
b. Keterbukaan terhadap pengunjung.
c. Keterampilan pengelolaan keuangan.
d. Keterampilan pemasaran.
e. Keterampilan komputer.
f. Keterampilan dasar bahasa Inggris.
Aspek-aspek ekowisata seperti yang terdapat dalam Guidelines For
Community-Based Ecotourism Development (WWF 2001) adalah perencanaan,
pengembangan, pemasaran dan mengorganisir sumberdaya dan fasilitas.
Pelayanan pengunjung termasuk akses kepada area alami dan warisan budaya,
pemanduan dan pelayanan penerjemahan, penginapan, penyediaan makanan,
penjualan hasil produksi dan kerajinan, dan transportasi. Dari berbagai elemen
tersebut, penduduk lokal dapat diberdayakan sesuai kapasitasnya untuk terlibat
dan mendapatkan manfaat dari keterlibatan mereka itu.
Conference-Workshop on Ecotourism, Conservation and Community
Development yang diadakan di Filipina, 7-12 November 1999 menyebutkan
kontribusi yang dapat dilakukan swasta untuk membantu aktivitas komunitas
adalah melalui beberapa aspek langsung berikut:
a. Akomodasi dimiliki oleh komunitas lokal. Hal ini mungkin dalam
bentuk losmen untuk penginapan wisatawan, penginapan, atau rumah
untuk disewakan yang biasanya dikelola oleh keluarga. Pendapatan
diperoleh oleh keluarga pengelola dari uang sewa kamar dan biaya

makanan. Penyediaan makanan juga dapat dikelola secara bersama-sama
oleh sebuah kelompok masyarakat, sehingga pendapatan yang diperoleh
langsung masuk ke kas oganisasi untuk kepentingan bersama.
b. Penyedia transportasi, masyarakat dapat terlibat langsung dalam
pengelolaan ekowisata sebagai penyedia trasportasi untuk para
wisatawan yang datang.
c. Pemanduan dan jasa pembawaan barang akan sangat membantu
memperlancar perjalanan ekowisata bagi para ekowisatawan. Hal ini
menjadi salah satu aspek penting ekowisata yang dapat menjadi wadah
komunitas lokal untuk berpartisipasi.
Siapakah komunitas yang dimaksud? Iskandar menyatakan bahwa
komunitas dapat diartikan sebagai satuan kelompok orang yang memiliki
hubungan dan interaksi sosial yang relatif intensif dikarenakan adanya kesamaan
ciri dan/atau kepentingan bersama
20
. Komunitas merupakan penduduk lokal yang
dapat teridentifikasi dari masyarakat luas melalui intensitas kesamaan,
perhatian/kepedulian atau melalui peningkatan interaksi. Selanjutnya, Iskandar
membagi komunitas menjadi beberapa jenis yaitu:
a. Komunitas primordial yang diikat oleh kesamaan ciri primordial seperti
suku, agama, dan daerah asal.
b. Komunitas okupasional yang diikat oleh kesamaan profesi/pekerjaan.
c. Komunitas spasial yang diikat oleh kesamaan tempat tinggal.
Dalam konteks ekowisata di Desa Pahmungan, Krui, Lampung yang
dimaksud dengan komunitas adalah mencakup definisi komunitas spasial.
Pemberdayaan komunitas dalam bidang ekowisata tidak dapat dilakukan
hanya dengan partisipasi aktif komunitas saja. Pihak-pihak yang terlibat memiliki
peran masing-masing sesuai kapasitas yang mereka miliki. Tabel bentuk
partisipasi para pihak yang terlibat dalam ekowisata dapat dilihat pada lampiran 3.

20
Info Comdev vol.2, no.2, Juni-Juli 2003

Masing-masing pihak yang terlibat dalam ekowisata memiliki peran yang
berbeda satu dengan yang lain sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki.
Pemerintah sebagai pemilik kekuasaan dalam pembuatan kebijakan berperan
dalam melakukan identifikasi terhadap kebutuhan pasar dan kebutuhan komunitas
sendiri, melakukan identifikasi dan kerjasama dengan para pihak berkepentingan
dalam ekowisata, menetapkan kebijakan yang mendukung pengembangan
ekowisata dan melakukan strukturasi sistem sanksi-sanksi. Hal-hal tersebut
terdapat dalam wilayah kapasitas pemerintah dan tidak dapat dilakukan oleh pihak
lain. Dapat dikatakan bahwa peran pemerintah lebih cenderung dalam wilayah
konsep daripada teknis. Sedangkan untuk pihak LSM, LSM Lokal memiliki peran
yang lebih teknis daripada LSM Nasional. Peran untuk mengintegrasikan diri ke
dalam komunitas dan belajar bersama komunitas dimiliki oleh pendamping. Peran
kalangan akademisi dalam pengembangan ekowisata adalah identifikasi
komunitas, penumbuhan kesadaran Participation Action Research, validasi
komunitas, mengorganisasi-perumusan pendampingan, pembangunan kapasitas
perencanaan pokok, implementasi/ operasi, monitoring dan evaluasi. Peran
penumbuhan kesadaran Participation Action Research, validasi komunitas,
mengorganisasi-perumusan pendampingan, pembangunan kapasitas perencanaan
pokok adalah peran-peran yang hanya dimiliki oleh kalangan akademisi dan tidak
oleh pihak-pihak lain. Peran yang dimiliki oleh semua pihak yang terlibat dalam
pengembangan ekowisata adalah peran monitoring dan evaluasi.
Analisis Strength, Weaknesis, Opportunity and Threat (SWOT) dilakukan
dalam konteks lokal. Analisis ini terutama dilakukan untuk melakukan evaluasi
atas keberhasilan dan kelemahan mereka. Namun tidak berhenti di situ, inovasi-
inovasi terus dilakukan untuk membangkitkan potensi-potensi mereka yang
mungkin bahkan belum mereka sadari. Proses pengembangan masyarakat dapat
dilakukan dengan dalam daur Dreaming, Demand, Designing dan Delivery (4D).
Dreaming adalah proses di mana masyarakat dibangkitkan mimpi-
mimpinya, sehingga mereka memiliki keinginan dan motivasi yang kuat untuk
melakukan perubahan sesuai lokalitas yang meeka miliki. Contoh di
Petungkriyono, Pekalongan; masyarakat di sana memiliki motivasi dan keinginan
yang besar, serta mau terlibat dengan sukarela dalam pengembangan ekowisata di

sana dengan adanya proses inisiasi untuk membangkitkan mimpi-mimpi seperti
yang sudah dilakukan komunitas-komunitas di negara-negara lain. Mereka
melakukan perbaikan jalan, melakukan rapat-rapat, membentuk panitia untuk
mewujudkan mimpi mereka berupa pengembangan ekowisata di daerah mereka.
Demand adalah proses untuk melihat permintaan penduduk lokal dan orang
luar, permintaan-permintaan tersebut didaftar untuk mencari titik temu, sehingga
program pengembangan masyarakat akan tetap berpihak pada kebutuhan
penduduk lokal tanpa melupakan permintaan orang luar sebagai pihak yang turut
menentukan proses pengembangan masyarakat. Contoh proses demand adalah
dalam pengembangan ekowisata, orang luar Petungkriyono sebagai pengunjung
membutuhkan alam lestari yang dapat mereka nikmati keindahannya, sedangkan
penduduk lokal membutuhkan untuk melestarikan lingkungannya untuk menjaga
keseimbangan ekosistem yang berhubungan langsung dengan kehidupan mereka.
Misal demi lestarinya mata air dan menjaga tanah dari longsor.
Designing adalah proses untuk menentukan kegiatan-kegiatan yang dapat
dilakukan untuk memberikan manfaat bagi baik penduduk lokal maupun orang
luar yang terlibat. Proses designing membutuhkan pertemuan antara pihak
penduduk lokal dengan orang luar untuk merancang kegiatan-kegiatan yang dapat
memberikan kepentingan optimal bagi kedua belah pihak.
Delivery adalah proses untuk mengantarkan kegiatan yang sudah
direncanakan menjadi kenyataan, istilah lainnya adalah implementasi kegiatan.
Daur ini tidak harus dilakukan dalam sebuah urutan yang tetap, kegiatan yang
dilakukan disesuaikan dengan kondisi lapang. Proses awal yang tetap harus
dilakukan adalah dreaming. Proses membangun mimpi ini dibutuhkan untuk
membangkitkan keinginan masyarakat untuk berubah untuk menjadikan mereka
lebih berdaya secara sosial maupun ekonomi.





1.5 Pertanyaan Penelitian
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini dirumuskan dalam
pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
a. Bagaimana faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dimiliki
Pekon Pahmungan saling berhubungan dalam pengembangan
ekowisata? Mengapa?
b. Bagaimana kapasitas masyarakat berproses untuk menjadi bagian
pengembangan ekowisata?
c. Bagaimana strategi pemberdayaan dalam pengembangan ekowisata di
Pekon Pahmungan?
1.6 Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
a. Memahami bagaimana faktor-faktor pendukung dan penghambat yang
dimiliki Pekon Pahmungan saling berhubungan dalam pengembangan
ekowisata.
b. Memahami pengembangan kapasitas masyarakat sehingga mampu
menjadi bagian pengembangan ekowisata.
c. Memahami bagaimana strategi pemberdayaan dalam pengembangan
ekowisata di Pekon Pahmungan.
1.7 Kegunaan Penelitian
Informasi yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan mampu memperluas
wacana para akademisi yang mendalami pemberdayaan masyarakat dan
ekowisata. Penelitian ini juga sangat diharapkan mampu menjadi titik tolak awal
bagi LSM-LSM yang akan melakukan pendampingan untuk pengembangan
ekowisata di Pekon Pahmungan, pemerintah daerah Lampung Barat, maupun
pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam pengembangan ekowisata berbasis
komunitas di Pekon Pahmungan untuk merumuskan kebijakan sesuai dengan
kondisi lokalitas komunitas Pekon Pahmungan.




BAB II
METODOLOGI

2.1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang dipilih adalah metode penelitian kualitatif. Metode
penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat
diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik
(Bogdan dan Taylor, 1975 dalam Moleong, 2001). Peneliti memberi penekanan
pada sifat bentukan sosial realitas, hubungan akrab antara peneliti dan apa yang
dikajinya, serta kendala-kendala situasional yang menyertai penelitian. Peneliti
juga memberi penekanan pada sifat sarat nilai penelitian. Jawaban yang dicari
adalah jawaban atas pertanyaan bagaimana pengalaman sosial dibentuk dan diberi
makna (Sitorus, 1998). Dalam kasus pemberdayaan masyarakat dalam
pengembangan ekowisata ini, peneliti menekankan pada sifat bentukan sosial
realitas yang terjadi di Pekon
21
Pahmungan, hubungan akrab antara peneliti
dengan subyek tineliti, dan kendala-kendala situasional yang terjadi di lapangan.
Sifat sarat nilai penelitian diperoleh dari hasil diskusi dan wawancara mendalam
dengan informan di Pekon Pahmungan yang mengalami sendiri proses sosial
tersebut, sehingga mereka mampu memberi nilai-nilai secara subyektif yang tidak
akan mampu diberikan oleh orang yang tidak mengalami sendiri proses sosial
tersebut.
Strategi penelitian yang dipilih adalah studi kasus, yang mana peneliti
memilih suatu kasus yaitu pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan
ekowisata damar di Pekon Pahmungan untuk diteliti dengan menggunakan
serumpun metode penelitian. Studi kasus sesuai untuk menjadi strategi penelitian
kasus ini mengingat (a) pertanyaan penelitian berkenaan dengan bagaimana atau
mengapa ekowisata dapat menjadi pilihan dalam melakukan pemberdayaan
masyarakat di Pekon Pahmungan, (b) peluang peneliti sangat kecil untuk
mengontrol peristiwa/gejala sosial yang terjadi di kalangan penduduk Pekon
Pahmungan dan (c) pumpunan penelitian adalah peristiwa/gejala sosial masa kini

21
Pekon adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut desa.

dalam konteks kehidupan nyata yaitu peristiwa pemberdayaan masyarakat dalam
pengembangan ekowisata di Pekon Pahmungan (Yin, 1996:1 dalam Sitorus,
1998).
Studi kasus yang dipilih adalah studi kasus intrinsik, di mana peneliti
memilih kasus tersebut bukan karena ia mewakili kasus-kasus lain atau karena ia
menggambarkan suatu sifat atau masalah khusus, melainkan karena dengan segala
kekhususan dan kebersahajaannya sendiri, kasus pemberdayaan masyarakat pada
pengembangan ekowisata damar tersebut memang menarik untuk diteliti (Stake,
1994: 237). Pengembangan ekowisata dianggap merupakan salah satu cara yang
potensial digunakan dalam memberdayakan masyarakat di Pekon Pahmungan,
sesuai dengan kondisi lokalitasnya.
2.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah
Krui, Kabupaten Lampung barat, Propinsi Lampung. Penduduk Pekon
Pahmungan mayoritas adalah penduduk asli Lampung dengan mata pencaharian
sebagai petani damar, sehingga sebagian besar wilayah pekon tersebut adalah
repong
22
damar yang menyerupai hutan. LATIN (Lembaga Alam Tropika
Indonesia) saat ini sedang mencoba menginisiasi adanya pengembangan
ekowisata damar dengan basis masyarakat lokal di Pekon Pahmungan.
LATIN telah melakukan pendampingan di pekon-pekon Pesisir Krui dan
sering melakukan kegiatan di Pekon Pahmungan sehingga sangat membantu
peneliti dalam melakukan penelitian sekaligus untuk perkenalan kontak person.
Selain itu, peneliti sudah cukup mengenal penduduk dan kondisi Pekon
Pahmungan setelah melakukan pendampingan pendirian dan pengelolaan radio
komunitas selama dua bulan (akhir Juni akhir Agustus) sebagai program Kuliah
Kerja Profesi peneliti dengan LATIN. Radio komunitas tersebut sampai sekarang
masih berdiri, dan saat peneliti melakukan penelitian merupakan salah satu media
untuk melakukan pendekatan kembali kepada penduduk, dengan cara menjadi

22
Repong adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk kebun. Alasan penduduk lebih
memilih untuk menggunakan istilah repong adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis
tanaman, tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman saja.

penyiar atau sekedar duduk-duduk dan bercakap-cakap penduduk yang kebetulan
sedang ada di studio.
Proses inisiasi yang dilakukan LATIN dan kedekatan peneliti dengan
subyek tineliti tersebutlah yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian
dengan topik pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata. Peta
lokasi penelitian dapat dilihat pada lampiran 4.
Penelitian awal di lapangan untuk penjajagan kesesuaian topik dan
sosialisasi diri dilaksanakan pada 4 Maret sampai 15 Maret 2005. Setelah
dilakukan pengajuan proposal, peneliti kembali ke lapangan pada tanggal 5 April
sampai 21 April, lalu dilanjutkan lagi pada tanggal 10 Mei sampai 10 Juni 2005.
Tenggang waktu digunakan peneliti untuk melakukan kolokium, konsultasi
kepada dosen pembimbing dan menghilangkan kejenuhan yang peneliti hadapi di
lapangan.
2.3. Teknik Pengumpulan Data
Data penelitian ini diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data
sekunder diperoleh dari studi literatur, laporan penelitian-laporan penelitian
sebelumnya dan studi dokumen yang ada pada pihak-pihak terkait, seperti
LATIN, LSM lain yang terlibat dalam proses inisiasi dan pihak pemerintah
daerah. Pesisir Krui merupakan tempat tujuan penelitian tentang keberhasilan
pengelolaan agroforest dalam bentuk repong damar. Data primer diperoleh
dengan observasi langsung di lapang, wawancara mendalam dengan informan di
lapang. Informan diperoleh dengan teknik bola salju. Teknik ini dilakukan dengan
menanyai beberapa informan kunci dan meminta mereka untuk
merekomendasikan informan lain
23
. Penjabaran teknik pengumpulan data dapat
dilihat pada lampiran 5.
Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan diskusi dengan pihak
LATIN mengenai hal-hal yang sudah dilakukan LATIN dalam pendampingan
yang mereka lakukan di Pesisir Krui dan sudah sejauh mana hal-hal yang LATIN
lakukan dalam proses inisiasi pengembangan ekowisata di Pekon Pahmungan.
Menurut mereka, ekowisata dipilih karena mereka melihat adanya kemungkinan

23
Peneliti tidak membedakan antara informan dan responden karena pada waktu pelaksanaan
penelitian di lapangan, hampir semua sumber ditanyai tentang kehidupan diri mereka sendiri,
keluarga dan lingkungannya.

manfaat lain yang bisa diperoleh masyarakat Pekon Pahmungan dari repong
damarnya selain dari penjualan getah, kayu damar dan buah-buahan
24
. Mereka
melihat kemungkinan itu setelah melihat frekuensi dan jumlah pengunjung yang
datang ke Pekon Pahmungan. Pengembangan ekowisata ini juga diharapkan
mampu menjadi motivator bagi masyarakat Pekon Pahmungan untuk terus
melestarikan repong damar mereka yang sangat penting bagi ekologi. Pada waktu
itu, LATIN sudah melakukan pembangunan sebuah saung di pinggiran repong
damar. Saung tersebut dibangun sebagai tempat melakukan pertemuan, pelatihan
atau sekedar untuk duduk-duduk bagi pengunjung yang datang ke Pekon
Pahmungan. Di samping saung tersebut, terdapat kamar mandi umum yang waktu
peneliti akan melakukan penelitian sedang dalam proses pembangunan
25
. Gambar
saung dan kamar mandi dapat dilihat pada lampiran 6. Selain itu, dalam diskusi
tersebut juga dijelaskan bahwa posisi peneliti selama melakukan penelitian
dengan topik pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata ini
adalah sebagai sukarelawan LATIN.
Informan kunci peneliti dapatkan dari kontak person LATIN yang sudah
peneliti kenal sejak masa KKP. Kontak person ini pada umumnya memiliki
pengalaman organisasi kemasyarakatan, baik organisasi-organisasi masyarakat
dalam lingkup Pekon Pahmungan, maupun organisasi-organisasi dalam lingkup
yang lebih luas, misal organisasi-organisasi dampingan LSM. Kemudian,
informan-informan lain diperoleh dengan menanyakan kepada informan-informan
kunci tersebut siapa saja yang dapat ditanyai untuk topik yang peneliti teliti, hal
ini sesuai dengan teknik bola salju. Informan-informan yang direkomendasikan
oleh para informan kunci biasanya memiliki pengalaman organisasi, pengetahuan
yang masyarakat anggap cukup luas karena latar belakang pendidikan maupun
pekerjaan, dan yang paling utama adalah sifat terbuka mereka dalam berbicara
dengan orang luar. Informan-informan sebagai subyek tineliti pada umumnya
adalah tokoh-tokoh masyarakat di Pekon Pahmungan. Keberadaan responden
dalam penelitian ini lebih cenderung sebagai sumber data untuk pemeriksaan
silang dari keterangan yang diberikan informan. Responden dipilih berdasarkan

24
Buah durian, duku dan rambutan adalah contoh produk repong selain getah dan kayu dari
pohonnya.
25
Kamar mandi tersebut dibuat untuk kenyamanan para pengunjung yang datang ke saung, karena
di sekitar saung tersebut tidak terdapat kamar mandi umum. Pada akhir masa penelitian, kamar
mandi sudah dapat digunakan.

keterangan yang ada dalam jawaban-jawaban informan dan hasil observasi
peneliti di lapangan.
Dalam melakukan wawancara mendalam, peneliti berusaha melakukan
pendekatan informal terlebih dahulu terhadap para informan dan juga penduduk
Pekon Pahmungan. Pendekatan informal dilakukan dengan lebih membaurkan diri
dalam kegiatan-kegiatan masyarakat Pekon Pahmungan; seperti dalam hajatan dan
ikut menjadi penyiar radio, sekedar ngobrol-ngobrol santai sekaligus
memperkenalkan diri dan maksud kedatangan kepada mereka, bermain dengan
anak-anak mereka, bahkan ikut makan bersama keluarga mereka. Setiap kali
selesai melakukan wawancara, penulis menanyakan kepada informan apakah
mereka tidak keberatan jika suatu saat penulis kembali untuk berbincang-bincang
lagi. Hal ini dilakukan karena penulis dapat melakukan wawancara lebih satu kali
untuk satu informan. Pada saat-saat itu, peneliti memperkenalkan diri dan
menyebutkan tujuan peneliti datang yang ke dua kalinya di Pekon Pahmungan.
Pada umumnya penduduk Pekon Pahmungan sudah mengenal peneliti
sebagai bagian dari pengelola radio komunitas Suara Petani, seperti saat
kedatangan peneliti waktu pelaksanaan Kuliah Kerja Profesi (KKP) pada bulan
Juni-Agustus 2004. Peneliti harus sering menekankan bahwa saat ini peneliti tidak
akan terlibat terlalu banyak lagi dalam pengelolaan radio komunitas seperti masa
KKP dulu. Peneliti lebih menekankan bahwa saat ini posisi peneliti adalah sebagai
mahasiswa yang melakukan penelitian tentang potensi pengembangan ekowisata
di Pekon Pahmungan. Keberadaan peneliti sebagai sukarelawan LATIN sengaja
tidak disebutkan untuk menghindari pengharapan penduduk yang berlebih
terhadap peneliti. Sebagian penduduk Pekon Pahmungan terbiasa untuk
menghubungkan langsung dengan proyek yang berhubungan dengan keuntungan
materi saat mereka mendengan kata LSM.
Setelah hubungan informal terjalin, peneliti mulai melakukan pembicaraan
yang lebih serius dengan mereka tentang topik penelitian yang peneliti teliti.
Dalam melakukan wawancara tersebut, penulis tidak membawa panduan
pertanyaan dan tidak melakukan pencatatan di depan informan untuk membuat
mereka lebih nyaman dan tetap menganggap wawancara tersebut seperti obrolan-
obrolan yang pernah dilakukan sebelumnya. Namun, untuk beberapa informan

yang merupakan tokoh penting masyarakat dan sudah sering diwawancarai dalam
penelitian, peneliti melakukan pencatatan-pencatatan kecil di depan mereka atau
bahkan menggunakan alat perekam untuk merekam, karena hal tersebut membuat
mereka merasa lebih dihargai. Sebelum peneliti melakukan hal ini, peneliti
meminta izin kepada informan yang sedang diwawancarai. Hal ini peneliti
lakukan setelah para informan tersebut menanyakan kepada peneliti, apakah
peneliti benar-benar sedang melakukan penelitian dan akan menulis perkataan
mereka, karena tidak seperti peneliti-peneliti sebelumnya yang mencatat setiap
jawaban mereka, peneliti tidak mencatat apapun dari perkataan mereka. Berikut
ini adalah suasana wawancara yang dilakukan penulis terhadap informan.









Setiap kali setelah penulis melakukan wawancara terhadap informan,
penulis berusaha untuk langsung menuliskan kembali hasil wawancara dan
observasi penulis terhadap informan selama wawancara dalam catatan harian. Hal
ini dilakukan sesegera mungkin begitu peneliti tiba di rumah atau di saung yang
sepi sehingga memudahkan peneliti untuk mengingat kembali data-data yang
diperoleh selama wawancara. Sebelum pencatatan selesai, sedapat mungkin
peneliti menghindari pembicaraan dengan orang lain. Hal ini dilakukan untuk
menghindari kerancuan dalam mengingat data.
Gambar 3. Suasana Wawancara Dengan Informan
Sumber: Dokumentasi Astrid Nurfitria R.

2.4. Teknik Analisis Data
Analisis data yang diperoleh dari observasi dan wawancara mendalam
dilakukan sejak penulis masih di lapangan dan dilanjutkan setelah penulis selesai
melakukan penelitian di lapangan. Selesai penelitian diindikasikan dari sudah
jenuhnya informan sehingga saat penulis menanyakan kepada informan yang
diwawancara tentang informan lain yang mereka rekomendasikan, jawabannya
tetap berkisar pada informan-informan yang sudah penulis wawancarai.
Analisis data pertama kali dilakukan dengan mencocokkan data yang
didapat dengan pertanyaan penelitian peneliti, data yang tidak sesuai dipisahkan
sehingga yang tertinggal adalah data yang sesuai dengan pertanyaan penelitian.
Pencocokan data ini dilakukan dengan menggunakan matriks analisis data.
Matriks dibuat dengan membuat tabel, yang mana baris atasnya merupakan data
yang diperlukan sesuai pertanyaan penelitian yang dibuat, dan kolom untuk nama
informan. Lalu baris di tengah diisi dengan data yang menurut dengan data yang
diperlukan sesuai masing-masing informan. Data dimasukkan begitu saja ke
dalam tabel, dengan cara copy dan paste dari catatan harian yang sudah dibuat
dalam poin-poin dalam dokumen microsoft word. Data yang diperoleh dari
pengamatan juga dimasukkan ke dalam matriks analisis ini dengan menuliskan
hasil pengamatan pada kolom informan. Data-data dari catatan harian yang sudah
dimasukkan ke dalam matriks diberi tanda dengan highlite sehingga memudahkan
peneliti untuk melakukan pemeriksaan ulang.
Setelah semua data dari catatan harian dimasukkan ke dalam matriks
analisis data, langkah yang dilakukan selanjutnya adalah memaparkan hasil
penelitian sesuai kategori yang sudah dibuat di dalam matriks analisis data.
Pemaparan dilakukan dengan tetap berpijak pada sudut pandang tineliti terhadap
kehidupan mereka sendiri. Pemaparan diusahakan untuk dilakukan dengan
sedetail mungkin sehingga didapatkan pemaparan yang sedekat mungkin dengan
kenyataan yang tineliti hadapi dan katakan.
Selanjutnya, data-data dalam catatan harian yang belum dimasukkan ke
dalam matriks diperiksa lagi untuk memastikan tidak adanya fakta-fakta yang
berhubungan dengan pemaparan tetapi belum dimasukkan ke dalam pemaparan.

BAB III
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1 Sejarah Pekon Pahmungan
Masyarakat asli Pekon Pahmungan adalah masyarakat pendatang dari
Marga Haji Muara Dua Sumatera Selatan, mereka mendatangi wilayah
Pekon Pahmungan dan membuat satu perkampungan di sana pada tahun
1870. pada awal kedatangan mereka, hutan di wilayah Pekon masih asli. Asal
nama dari Pekon Pahmungan adalah pertemuan antar dua sungai yang
dalam bahasa Lampung disebut Permong. Untuk menunjang hidupnya,
masyarakat membuka hutan untuk berkebun ladang dan menanam padi
sawah, setelah itu sambil menunggu panen padi mereka menanam kopi,
diselang dengan tanaman damar dan buah-buahan (durian, duku, petai,
jengkol) (Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM), 2002).
Selanjutnya FKKM,2002 menyatakan bahwa pada tahun 1900, salah
satu poyang-poyang (nenek moyang) menjadi pedagang besar dan menjual
hasil bumi ke Singapura. Di sana mereka melihat bahwa getah damar
memiliki harga tinggi. Setelah kembali ke Pekon Pahmungan, mereka
memberi informasi kepada masyarakat bahwa getah damar berpotensi
untuk diperdagangkan. Mendengar itu, masyarakat tertarik lalu membuka
hutan dan menyemai bibit damar. Informasi menyebar cepat hingga tahun
1930. Sebagian besar masyarakat menyemai bibit damar dan melakukan
budidaya damar. Proses penanaman mengikuti hasil tebangan atau disebut
dengan tanam tunggul. Lima tahun kemudian, pada tahun 1935 pemerintah
Hindia Belanda menetapkan suatu kawasan hutan tetap yang tidak boleh
dibuka dengan nama Hutan Kawasan atau Boz Wezen (BW). Masyarakat
mematuhi batas yang telah ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda,
dengan tetap menjaga BW dan tidak membukanya untuk dijadikan kebun.
Masyarakat membuka lahan di luar garis BW.

Pada tahun 1950, hasil dari penanaman damar dan buah-buahan atau
repong
26
damar sudah mulai bisa dirasakan oleh masyarakat Pekon Pahmungan.
Kesejahteraan masyarakat mulai meningkat. Pada tahun 1980 listrik mulai
menerangi Pekon Pahmungan. Sekitar tahun 1993-1997, pemerintah Orde Baru
melakukan pemasangan patok HPT (Hutan Produksi Terbatas) dan HL (Hutan
Lindung). Pemasangan patok dilakukan secara acak-acakan dan tanpa sosialisasi
terhadap masyarakat. Hal ini membuat warga Pekon Pahmungan menjadi resah
dan mempertanyakan tentang maksud dari pemasangan patok tersebut.
Pemasangan patok HPT dan HL ini mendapat perlawanan dari penduduk Pekon
Pahmungan seperti juga yang dilakukan penduduk di pekon-pekon lain di Pesisir
Krui.
Karena perlawanan terus menerus, pemerintah akhirnya mengeluarkan
keputusan No 47/Kpts-II/1998 yang menyatakan kawasan tersebut adalah
Kawasan Dengan Tujuan Istimewa. SK ini menetapkan 29 ribu ha repong damar
yang semula berada di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan
Lindung (HL) sebagai Kawasan Dengan Tujuan Istimewa (KDTI). Dengan
ketetapan ini masyarakat seara legal dapat mengelola dan mewariskan repong
damar di kawasan hutan negara. Keputusan ini menarik karena belum pernah
dilakukan sebelumnya di Indonesia (Kusworo, 2000). Selain itu keputusan KDTI
ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan hanya boleh dilakukan untuk repong
damar, bukan untuk perkebunan tanaman lain (Wollenberg et al, 2001). Namun
keputusan ini belum memuaskan masyarakat, masyarakat menuntut pengembalian
hak atas tanah mereka menjadi tanah dengan hak milik. Perbedaan persepsi atas
status tanah antara pemerintah dengan masyarakat ini masih berlangsung sampai
sekarang.




26
Repong adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk kebun. Alasan penduduk lebih
memilih untuk menggunakan istilah repong adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis
tanaman, tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman saja.

3.2 Karakteristik Geografis Pekon Pahmungan
Pekon
27
Pahmungan mempunyai luas wilayah 2.600 hektar. Batas-batas
wilayahnya adalah, sebelah utara berbatasan dengan Way Ngison, sebelah selatan
dengan Way Mahnai Lunik, sebelah barat dengan Pekon Sukanegara Rawas,
sebelah timur dengan Hutan Kawasan atau Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
(Buku Profil Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Lampung
Barat, Propinsi Lampung, tahun 2003).
Kawasan Pekon Pahmungan bisa dibedakan menjadi dua, bagian datar dan
berlereng. Bagian areal yang datar meliputi 40 ha untuk persawahan, 25 ha untuk
tempat tinggal dan 15 ha untuk penggunaan lain. Areal yang berlereng umumnya
didominasi oleh tanaman pohon damar (Shorea javanica), baik repong-repong
damar yang masih muda (di bawah umur 20 tahun dan belum diambil getahnya)
maupun damar tua (di atas 20 tahun dan sudah diambil getahnya). Perkiraan luas
seluruh areal berlereng adalah 2500 ha, sedangkan areal yang didominasi oleh
damar tua adalah sekitar 1500 ha (Lokakarya Sistem Hutan Kemasyarakatan
(SHK), Bandar Lampung, 20-26 November 1995). Gambar berikut menunjukkan
areal persawahan yang dilatarbelakangi repong.
Gambar 4. Areal Persawahan Dengan latar Belakang Repong Damar










27
Pekon adalah istilah lokal dalam bahasa Lampung untuk menyebut desa.
Sumber: Dokumentasi Koen Kusters

Pada bab berikutnya, penulis akan sering menyebutkan pembagian wilayah
Pekon Pahmungan menjadi wilayah pemukiman dan wilayah repong. Wilayah
pemukiman, oleh penduduk setempat sering disebut kampung adalah wilayah di
mana penduduk tinggal dalam satu areal pemukiman dengan fasilitas-fasilitas
umum seperti sekolah, masjid, kantor peratin
28
dan kantor Lembaga Himpun
Pekon (LHP)
29
, seluruh wilayah pemukiman ini terletak di bagian datar. Penduduk
tinggal di sekitar jalan yang menghubungkan Pekon Pahmungan dengan pekon
lain di sekitarnya. Wilayah repong adalah wilayah di mana penduduk menanam
pohon damar dengan tanaman-tanaman lain, seperti duku, durian, pinang, jengkol,
asam kandis dll. Di wilayah repong ini juga terdapat rumah-rumah tinggal
penduduk. Rumah tersebut terbuat dari kayu dengan model rumah tradisional
Lampung yang bertingkat dan disebut anjung. Penduduk pada umumnya
menggunakan tingkat bawah untuk menyimpan getah damar dan memasak
sedangkan tingkat atas untuk tidur. Sebagian anjung ditinggali secara tetap oleh
penduduk, tetapi ada yang hanya ditinggali sesekali pada masa-masa panen buah
atau pada masa rawan pencurian getah. Gambaran anjung dapat dilihat pada
gambar berikut.
Gambar 5. Anjung Milik Penduduk yang Terletak di Dalam Repong.



28
Peratin adalah istilah lokal dalam bahasa Lampung untuk menyebut kepala desa.
29
LHP adalah lembaga yang memiliki fungsi seperti Majelis Permusyawaratan Rakyat tingkat
desa, sedangkan peratin adalah presidennya.
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati


Repong damar di Pesisir merupakan contoh keberhasilan sistem yang
dirancang dan dilaksanakan oleh penduduk setempat sejak 200 tahun yang lalu.
Keunikan sistem tersebut terletak pada penguasaan ekologi sumber daya ekonomi,
yakni bukan dengan cara memodifikasi ciri-ciri tanaman agar sesuai dengan
ekosistem budidaya, melainkan dengan rekonstruksi yang hampir sesempurna
ekosistem hutan asli. Saat ini 80 % getah damar yang diproduksi di Indonesia
bukan berasal dari hutan alam tetapi dari kebun-kebun damar di Pesisir. Kebun-
kebun damar dapat dianalisa sebagai hutan, karena memang secara biologi kebun-
kebun tersebut adalah hutan itu sendiri, yaitu suatu komunitas tumbuhan dan
binatang yang komplek dan juga merupakan suatu proses-proses biologi yang
selaras yang dapat berkembangbiak dalam jangka panjang dengan dinamikanya
sendiri (FKKM, 2002). Istilah repong ditekankan oleh masyarakat untuk
menyebut lahan yang mereka tanami pohon damar dan pohon-pohon lain (pohon
duku, durian, pinang, asam kandis, petai, jengkol, jambu atau tanaman lain).
Menurut penduduk kebun bukan istilah yang tepat karena kebun cenderung
ditanami satu jenis tanaman.
Selanjutnya FKKM menyatakan bahwa setelah mapan, repong damar
memerlukan sedikit sekali pengelolaan. Proses silvikultur dalam repong damar
tidak dirancang seperti dalam hutan tanaman industri, yang terdiri dari pohon-
pohon bernilai ekonomis yang homogen dan usianya hampir sama, melainkan
bertujuan bertujuan mempertahankan sistem yang memproduksi dan
berkembangbiak terus menerus baik dalam pola struktural maupun fungsional.
Sejak saat lahan itu ditinggalkan, proses-proses alami diberikan peranan utama
dalam evolusi dan pembentukan masa depan ekosistem.
Kebiasaan masyarakat Pesisir yang pada umumnya menanam damar dengan
beberapa tanaman campuran (damar dan pohon-pohon buah) di petak ladang
memastikan tingkat keragaman yang minimum sejak permulaan proses pembuatan
repong. Berkat keputusan para pengelola yang tidak menghambat proses alam ini,
pembangunan kekayaan dan dan keanekaragaman hutan kemudian dicapai dengan
penuh setelah beraneka tumbuhan dan kolonisasi relung-relung berkembang
bebas. Seperti setiap vegetasi sekunder yang didominasi oleh pepohonan, repong
damar yang mulai dewasa menyediakan lingkungan dan relung-relung yang

nyaman bagi perkembangan spesies tumbuhan hutan yang terbawa dari hutan-
hutan di sekitar kebun. Di samping spesies utama, yang membentuk kerangka
agroforest, repong damar berisi beberapa puluh jenis pohon yang biasanya
dikelola dan juga beberapa ratus jenis lain yang tumbuh liar dan sering
dimanfaatkan (Michon dan Bompard 1987; Michon dan de Foresta, 1994 dalam
FKKM, 2002). Contoh keragaman jenis pohon dalam repong dapat dilihat dalam
gambar berikut ini.













Untuk mendata tingkat keanekaragaman hayati, studi perbandingan antara
agroforest dan hutan primer yang terkait mengenai beberapa kelompok flora dan
fauna, termasuk tumbuh-tumbuhan, burung-burung, mamalia dan mesafauna
tanah telah diadakan. Pada mesafauna tanah tingkat amat mirip antara hutan tua
dan repong damar. Hasil penelitian itu juga menyebutkan bahwa tidak ada spesies
penting dengan jumlah banyak di hutan yang tidak ditemukan di agroforest yang
berdekatan (Deharveng, 1992 dalam FKKM, 2002).
Gambar 6. Keragaman Jenis Pohon di Dalam Repong
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati
Pohon pinang
Pohon damar
yang masih
muda
Anggrek liar
menempel di
pohon
Pohon
melinjo/
tangkil
Semak
belukar

Mengenai mamalia, hampir semua spesies yang ditemukan di hutan,
ditemukan di repong damar. Populasi binatang primata (kera, kera ekor panjang,
lutung dan siamang) di repong damar sangat mirip dengan yang ditemukan di
hutan-hutan alam. Jejak-jejak badak Sumatera yang langka terlihat di repong
damar, kurang dari dua kilometer dari pedesaan. Ini merupakan data pertama
mengenai badak di daerah ini dan memunculkan hipotesa mengenai kegunaan
agroforest untuk konservasi burung yang terancam punah, sebagai suplemen
penting hutan-hutan lindung (Sibuca dan Hermansyah, 1993 dalam FKKM, 2002).
Keberhasilan pengelolaan ekosistem repong damar ini sudah diakui di
tingkat nasional, bahkan internasional. Peneliti-peneliti asing silih berganti
mendatangi pekon-pekon di Pesisir Krui untuk meneliti sistem agroforest ini.
Peneliti-peneliti tersebut datang dari lembaga-lembaga penelitian ataupun dari
kalngan akademis. Lembaga-lembaga penelitian yang pernah mengadakan
penelitian tentang pengelolaan agroforest di Pesisir Krui antara lain International
Center For Research In Agroforestry (ICRAF) dan Center For International
Forestry Research (CIFOR). Di tingkat nasional, pada tahun 1993 menteri
kehutanan Indonesia mengunjungi Lampung Barat khususnya Krui dan
menyatakan bahwa Krui sebagai etalase untuk hutan binaan rakyat yang harus
dicontoh penduduk di kawasan lain. Bahkan pada Juni 1997 Kementrian
Lingkungan Hidup menganugerahi masyarakat Krui penghargaan Kalpataru
sebagai penyelamat lingkungan (FKKM, 2002).
3.3 Karakteristik Sosial Ekonomi Pekon Pahmungan
Pekon Pahmungan memiliki jarak ke ibu kota Kecamatan Pesisir Tengah
Krui (Pasar Krui) sekitar 5 km, ke ibu kota Kabupaten Lampung Barat (Liwa)
sekitar 32 km, dan ke ibu kota Propinsi Lampung (Bandar Lampung) sekitar 287
km (FKKM, 2002)
30
. Jarak ini cukup mudah ditempuh dengan kendaraan
bermotor melewati jalanan yang telah diaspal selama kurang lebih sepuluh menit
menuju ibu kota kecamatan (Pasar Krui), kurang lebih satu jam menuju ibu kota
kabupaten (Liwa). Namun, untuk menuju ibu kota propinsi (Bandar Lampung)
dibutuhkan waktu kurang lebih delapan jam dengan kondisi jalan yang kurang

30
Data jauh jarak ini berbeda dengan data yang tercantum pada buku Profil Pekon, penulis
memilih data Forum Kehutanan Masyarakat setelah mendiskusikan dengan beberapa informan.

bagus. Kondisi ini cukup mengganggu akses ke Pekon Pahmungan karena satu-
satunya bandara yang ada di Propinsi Lampung terletak di Bandar Lampung.
Informasi yang diperoleh penulis dari hasil wawancara, terdapat informasi
yang sedang beredar di kalangan masyarakat bahwa jalan ke Bandar Lampung
lewat kota Tanggamus akan segera diperbaiki. Jika hal ini benar terjadi maka akan
lebih memudahkan akses ke Kota Bandar Lampung yang hanya akan
membutuhkan jarak tempuh sekitar tiga jam. Selain itu, ada informasi lain bahwa
sedang ada pembangunan bandara di Pekon Rawas, sebelah selatan Pasar Krui,
dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit dari Pekon Pahmungan. Informasi
terakhir yang diperoleh penulis sampai waktu penelitian berakhir, tahap yang
sudah dilaksanakan saat ini adalah pembebasan tanah dan analisis dampak
lingkungan. Proyek pembuatan bandara ini dilakukan langsung oleh pemerintah
pusat.
Fasilitas umum di Pekon Pahmungan dapat dikatakan cukup baik
dibandingkan dengan kondisi di pekon-pekon lain di Pesisir Tengah Krui. Tinggal
sebagian rumah yang belum menggunakan listrik untuk penerangan rumahnya,
yaitu kurang dari 50%. Hampir semua penduduk yang rumahnya sudah
menggunakan aliran listrik memiliki televisi sebagai sarana hiburan dan informasi
di rumahnya. Walaupun belum memiliki aliran listrik di rumahnya, hampir semua
penduduk Pekon Pahmungan memiliki radio sebagai sarana hiburan dan informasi
di rumahnya. Bahkan penduduk yang tinggal di anjung-anjung dalam repongpun
memiliki radio di rumahnya. Hal ini adalah menjadi salah satu alasan pemilihan
radio komunitas untuk menjadi sarana informasi dan hiburan khusus Pekon
Pahmungan. Jaringan telepon sudah masuk ke wilayah Pekon Pahmungan
meskipun baru sekitar 10 orang yang memiliki fasilitas tersebut. Sinyal telepon
genggam di Pekon Pahmungan saat ini cukup bagus untuk hampir semua operator.
Berdasarkan Buku Profil Pekon Pekon Pahmungan tahun 2003, jumlah
penduduk Pekon Pahmungan adalah 977 jiwa dengan jumlah kepala keluarga
sebanyak 204. Jumlah penduduk tersebut terdiri dari 475 laki-laki dan 502
perempuan. Komposisi penduduk Pekon Pahmungan dapat dirinci pada Tabel 1.


Tabel 1. Komposisi Penduduk Pahmungan Tahun 2003
Jenis Kelamin No Golongan Umur
Laki-laki Perempuan
Jumlah
(orang)
1 0 12 bulan 15 17 32
2 13 bulan 4 tahun 37 40 77
3 5 6 tahun 19 18 37
4 7 12 tahun 38 47 85
5 13 15 tahun 42 28 70
6 16 18 tahun 35 30 65
7 19 25 tahun 104 130 234
8 26 35 tahun 101 98 199
9 36 45 tahun 29 26 55
10 46 50 tahun 23 27 50
11 51 60 tahun 17 16 33
12 61 75 tahun 6 19 25
13 Lebih dari 76 tahun 9 6 15
Jumlah 475 502 977
Sumber: Buku Profil Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten
Lampung Barat, Propinsi Lampung, tahun 2003
Dari tabel tersebut dapat dilihat jumlah penduduk usia produktif (16-50
tahun) yang cukup besar, yaitu 603 orang. Lonjakan jumlah penduduk mulai dari
umur 35 tahun ke bawah (35 0 tahun) dimungkinkan karena pada tahun 1970-an
isu kesehatan sudah menjadi perhatian pemerintah. Program-program kesehatan
cukup berhasil yang memungkinkan rendahnya angka kematian bayi dan anak-
anak.
Sebagian besar penduduk Pahmungan adalah lulusan Sekolah Dasar (SD),
sedangkan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekitar 200 orang, Sekolah
Menengah Atas (SMA) sekitar 185 orang dan Akademi 4 orang (Forum
Komunikasi Kehutanan Masyarakat, 2002). Informasi yang didapat penulis
selama penelitian pada tahun 2005 sebenarnya sudah ada sekitar 25 lulusan
perguruan tinggi atau akademi dari Pekon Pahmungan, namun hanya sekitar
empat orang yang menetap di Pekon, sebagian besar dari mereka menetap di
Jakarta, dan kota-kota besar lain, seperti Surabaya, Tangerang dan Bali.
Di Pekon Pahmungan terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri di mana
penduduk Pekon Pahmungan biasa menyekolahkan anaknya. Namun untuk
Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Umum belum ada. Anak-

anak dari Pekon Pahmungan biasanya bersekolah SMP dan SMA di daerah Pasar
Krui dengan menggunakan angkutan desa untuk berangkat dan pulang dari Pekon
Pahmungan ke sekolah mereka di Pasar Krui.
Seluruh penduduk Pekon Pahmungan beragama Islam. Pendidikan informal
yang dimiliki penduduk Pekon Pahmungan adalah kegiatan pengajian-pengajian
yang diselenggarakan di mushollah untuk anak-anak, bapak-bapak dan ibu-ibu.
Selain itu juga terdapat latihan-latihan sepakbola di Pekon Pahmungan yang
diikuti oleh pemuda-pemuda dari Pekon Pahmungan. Pendidikan informal lain
yang pernah ada di Pekon Pahmungan adalah latihan pencak silat, pencak silat itu
diajarkan oleh tokoh-tokoh di Pekon Pahmungan. Sepanjang observasi penulis
selama penelitian, pengajian untuk anak-anak merupakan pengajian yang paling
aktif diselenggarakan secara rutin.
Kegiatan pembelajaran sosial yang ada di Pekon Pahmungan pada
umumnya dilakukan dengan dampingan LATIN (Lembaga Alam Tropika
Indonesia) bersama Persatuan Masyarakat Petani Repong Damar (PMPRD)
sebagai mitra dampingan LSM tersebut. Kegiatan pembelajaran sosial tersebut
penting bagi masyarakat karena mampu menjadi sarana untuk berbagi
pengetahuan antara penduduk dengan pihak lain. Proses pembelajaran sosial
tersebut juga telah meningkatkan kesadaran penduduk tentang pentingnya repong
damar mereka tidak hanya bagi mereka sendiri tetapi juga bagi dunia. Proses
pendirian PMPRD sampai pengelolaannya sekarang adalah proses pembelajaran
sosial yang luar biasa bagi beberapa penduduk Pekon Pahmungan yang terlibat.
Masalah yang muncul kemudian adalah tenyata ada kecemburuan dari penduduk
yang tidak terlibat, dan ada bagian dari proses pembelajaran sosial yang tidak
semulus harapan sehingga ada konflik yang menimbulkan perpecahan di kalangan
pengurus PMPRD sendiri. PMPRD adalah lembaga yang didirikan oleh LSM-
LSM yang peduli dengan keberlangsungan repong damar di Krui. Anggota
PMPRD adalah perwakilan petani repong damar dari pekon-pekon di seluruh
Krui.
Proses pembelajaran sosial lain misalnya adalah dalam pendirian dan
pengelolaan radio komunitas di Pekon Pahmungan. Pendirian dan pengelolaan

radio komunitas ini didampingi oleh LATIN. Penulis saat itu terlibat dalam
pendampingan pendirian radio komunitas tersebut selama dua bulan. Penduduk
Pekon Pahmungan mengakui bahwa mereka mendapat banyak pelajaran dalam
pengelolaan radio komunitas tersebut. Pengurus radio komunitas tersebut adalah
penduduk Pekon Pahmungan, terutama para pemuda dan pemudi. Para tetua
terlibat sebagai pengawas radio komunitas. Dalam diskusi-diskusi yang
berlangsung, penduduk Pekon Pahmungan terlihat antusias untuk mendiskusikan
masalah-masalah radio. Mereka menyampaikan pendapat mereka secara bebas
dan diskusi terasa cukup alot. Masalah jender yang masih terasa adalah bahwa
seperti halnya yang terjadi di desa-desa, penduduk perempuan kurang mendapat
tempat di dalam diskusi dan mereka cenderung masih dianggap sebagai kelas
kedua. Dalam diskusi yang melibatkan perempuan pun, para perempuan
cenderung untuk diam.
Kegiatan-kegiatan pendidikan informal dan pembelajaran sosial yang
berlangsung di Pekon Pahmungan penyelenggaraannya dipengaruhi oleh
peratin
31
. Masyarakat mengakui ketika masa jabatan peratin yang dahulu (1995-
2000) sebelum peratin yang sekarang (2000-2005), kegiatan-kegiatan seperti
sepak bola, pengajian dan pencak silat jauh lebih semarak daripada sekarang.
Peratin yang dahulu menurut penduduk lebih berwibawa dan mampu
membimbing seluruh penduduk, dari anak-anak, remaja yang terhimpun dalam
Karang Taruna sampai ibu-ibu dan bapak-bapak.
Areal Pekon Pahmungan dibagi menjadi tiga dusun, pembagian ini sempat
menimbulkan masalah di kalangan penduduk. Para tetua takut kalau dilakukan
pemisahan seperti itu akan menimbulkan perpecahan. Saat ini hal yang
menunjukkan perpecahan salah satunya adalah gotong royong yang cenderung
dilakukan per dusun. Misalnya jalanan rusak di Dusun I maka penduduk yang
mengikuti gotong royong sebagian besar adalah penduduk Dusun I, walaupun
acara gotong royong tersebut sudah diumumkan untuk seluruh penduduk
Pahmungan di Masjid. Hal ini seperti yang diutarakan oleh seorang pemangku
adat bernama Pd:

31
Peratin adalah istilah lokal untuk menyebut kepala desa.

Saya mengakui, penduduk di sini memang agak susah untuk diajak gotong royong
jika tidak merasa merasa mendapat manfaat langsung atau berada di lingkungan
dusunnya. Seperti waktu kerjabakti untuk mbagusin jalan di depan itu (jalan Pekon
Pahmungan yang terletak di wilayah Dusun 1-penulis) susah banget. Hanya orang-
orang Dusun 1 yang mau datang, padahal yang melewati jalan itu tiap hari kan
bukan penduduk Dusun 1 saja. Saya juga sudah mengumumkan lewat mesjid pas
jumatan, tapi ya itu tadi Mbak, tetep pada agak males. Mereka baru mau benar-
benar turun saat saya memanggil tim ABRI Masuk Desa (AMD), mereka takut
kalau tidak ikut bantu-bantu akan kena hukum. Padahal kebetulan saja saya dekat
sama kepala Kodim kecamatan terus katanya memang program kayak gini
(program pembuatan fasilitas desa-penulis) bisa dibantu sama AMD, ya saya telpon
saja. Saya pengin ketawa kalau ingat hal itu. (Wawancara 5 Juni 2005)

Penggunaan areal Pekon Pahmungan dapat dilihat dalam transek lahan
berikut ini.
Gambar 7. Transek Penggunaan Lahan Pekon Pahmungan










Sumber: Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat Faswil Lampung (FKKM Lampung),
2002, halaman 75
Dari transek lahan tersebut dapat dilihat jika mata pencaharian utama
penduduk adalah dari getah damar. Selain itu terdapat juga komoditi lain yang
menjadi sumber nafkah yaitu, padi, kelapa, pinang, petai, durian, duku, tangkil
(melinjo), jengkol, jeruk, dan nangka. Padi adalah komoditi yang hanya dimiliki
oleh sebagian kecil orang, karena luasan sawah di Pekon Pahmungan sangat
terbatas dan tidak semua penduduk memilki keahlian menanam padi. Biasanya

Sumber: Dokumentasi Astrid Nurfitria


Gambar 8. Pohon Buah Durian di Dalam Repong


penduduk yang memiliki sawah juga masih mengandalkan getah damar untuk
mencukupi kebutuhan sehari-harinya, baik sebagai pemilik atau buruh. Jumlah
pemilik tanah perkebunan adalah 204 orang, buruh perkebunan sekitar 25 orang.
Jumlah buruh yang sedikit dikarenakan tidak semua petani damar memburuhkan
repong mereka. Mereka biasa mengelola sendiri bersama dengan anggota
keluarganya. Pemilik tanah sawah 20 orang, pemilik tanah tegal 10 orang dan
penyewa sawah atau tegal sekitar 15 orang (Buku Profil Pekon Pahmungan,
Kecamatan Pesisir Tengah Krui, Kabupaten Lampung Barat, Tahun 2003). Dari
jumlah pemilk tanah perkebunan tersebut jika luasan repong dibagi jumlah
pemilik maka rata-rata maka kepemilikan lahan repong damar adalah 2500/204 =
12,25 ha per kepala keluarga. Berikut ini adalah gambar komoditi lain selain getah
damar yang dimiliki penduduk Pekon Pahmungan.



Mata pencaharian utama penduduk Pekon Pahmungan sebagai petani damar
memiliki pengaruh yang sangat besar pada gaya hidup mereka. Mereka sendiri
mengakui bahwa bertani damar cenderung membuat mereka menjadi malas. Hal
ini dikarenakan getah damar baru dapat dipanen tiga minggu - sebulan sekali, dan
mereka tidak perlu setiap hari merawat pohon damar seperti untuk padi sawah.
Sisa waktu yang terluang jika mereka sedang tidak mengambil getah masih sangat
banyak dan biasanya mereka gunakan untuk duduk-duduk, ngobrol-ngobrol dan

main kartu. Hal ini tidak berlaku bagi penduduk yang tidak memiliki repong
damar sendiri. Mereka biasanya memiliki lebih banyak kegiatan karena mereka
tidak akan mendapatkan apapun jika mereka tidak bekerja keras. Penduduk ini
biasanya bekerja untuk orang lain, seperti upahan mengambil getah damar,
mengangkut getah damar dari repong ke pemukiman, mengangkut kayu atau
menyortir damar di gudang. Terdapat pembagian kerja yang jelas antara laki-laki
dan perempuan dalam pengelolaan getah damar. Mengambil getah damar yang
masih di pohon dilakukan oleh para lelaki muda dan dewasa dan perempuan yang
masih muda. Mengambil lahang (sisa getah damar yang jatuh ke tanah) dilakukan
oleh anak-anak baik perempuan atau laki-laki dan para perempuan muda, dan
menyortir damar dilakukan hanya oleh perempuan baik yang muda atau dewasa.
Erosi di seluruh wilayah pekon relatif rendah meskipun terdapat lereng yang
relatif curam antara 50-20%. Hal ini dimungkinkan karena akar-akar dari
pepohonan dalam repong yang padat dan hampir sesuai dengan ekosistem asli
hutan mampu menahan terjadinya erosi tanah.
Hutan kawasan TNBBS (Taman Nasional Bukit Barisan Selatan) yang
dimaksud dalam transek adalah kawasan hutan yang terletak berbatasan langsung
dengan wilayah pekon, bukan di wilayah Pekon Pahmungan. Baris pemanfaatan
yang dimaksud adalah pemanfaatan lahan, sehingga baris tersebut kosong di
kolom hutan kawasan TNBBS karena memang penduduk tidak melakukan
pengolahan lahan hutan kawasan. Namun, masih terdapat beberapa masalah di
sana, yaitu perburuan binatang seperti kijang dan burung yang dilakukan
penduduk pekon (Wawancara dengan Field Officer LATIN untuk wilayah Krui,
Lampung Barat, 31 Desember 2005).
Permasalahan lain yang dihadapi penduduk Pekon Pahmungan adalah
pemasangan patok HPT (Hutan Produksi Terbatas) dan pencurian getah damar di
wilayah repong damar mereka. Definisi HPT sendiri adalah luasan kawasan hutan
yang meliputi 21 % dari luas kawasan hutan. Kawasan ini ditujukan untuk untuk
produksi kayu dalam jumlah terbatas dengan mempertimbangkan aspek
lingkungan (Nurrochmat, 2005). Patok yang ditanam pada masa pemerintahan
Suharto tahun 1995 tersebut sangat meresahkan warga karena mereka merasa

mendapatkan lahan tersebut dari warisan nenek moyang yang menanam pohon
damar, hal ini menurut mereka dapat dilihat dari beberapa pohon di dalam repong
mereka yang sudah berumur ratusan tahun, pohon-pohon ini sengaja tidak
ditebang untuk mengingat nenek moyang mereka, meskipun sudah tidak lagi
mampu menghasilkan getah. Pohon-pohon lain yang masih berproduksi umumnya
berumur di bawah 100 tahun. Setiap kali pohon damar sudah tidak lagi
berproduksi, ia akan ditebang dan digantikan oleh pohon baru. Untuk
mengakomodir perbedaan persepsi akan status lahan antara penduduk lokal
dnegan pemerintah ini, pemerintah kemudian memutuskan dengan keputusan
Menteri Kehutanan Nomor 47/ Kpts-II/1998. Keputusan ini menetapkan lahan
yang selama ini menjadi bagian penghidupan masyarakat petani damar Krui
menjadi suatu kawasan lindung yang oleh negara diperbolehkan dikelola seperti
aturan-aturan yang telah ditetapkan. Kawasan lindung ini disebut dengan
Kawasan dengan Tujuan Istimewa (KDTI). Namun, masyarakat tetap tidak mau
menerima status KDTI tersebut dan tetap menuntut pengembalian hak atas tanah
marga mereka tersebut (FKKM Lampung, 2002).
Pencurian getah damar di dalam repong bisanya dilakukan oleh generasi
muda Pekon Pahmungan sendiri. Hal ini mereka lakukan karena mereka tidak
memiliki pekerjaan, sedangkan mereka membutuhkan uang untuk kebutuhan
sosial mereka, seperti untuk jalan-jalan, minum minuman beralkohol atau bermain
judi dalam skala kecil di antara mereka sendiri.
Kondisi ekonomi penduduk Pekon Pahmungan menurut mereka sendiri
termasuk biasa-biasa saja. Menurut mereka semiskin-miskinnya penduduk Pekon
Pahmungan tidak ada yang sampai kelaparan. Berdasarkan observasi penulis,
kondisi ekonomi penduduk Pekon Pahmungan memang terlihat wajar. Rata-rata
mereka tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu kekurangan, tidak terlihat
kesenjangan yang sangat mencolok antara yang kaya dan yang miskin.





Gambar 9. Kalender Musim Pekon Pahmungan
Bulan
Jenis Tanaman
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Getah Damar
Durian
Duku
Petai
Jengkol
Tangkil
Padi
Sumber: Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat Faswil Lampung, 2002, halaman 76
Dari kalender musim pekon tersebut dapat dilihat jika getah damar
bisa dipanen sepanjang tahun, sedang buah dipanen di awal dan penghujung
tahun. Durian biasa dipanen pada bulan November dan Desember. Duku
biasa dipanen pada bulan Januari, Februari dan Maret. Petai dipanen pada
bulan Februari dan Maret. Jengkol dipanen pada bulan Oktober, November
dan Desember. Tangkil (melinjo) dipanen pada bulan Januari, Februari dan
Maret. Padi sesuai kalender musim tahun 2002 tersebut dapat dipanen pada
bulan Oktober, November dan Desember, tetapi pengalaman penulis di
lapangan selama penelitian menunjukkan bahwa padi saat ini sudah dapat
dipanen sampai tiga kali setahun dengan teknik irigasi.
Getah damar merupakan sumber mata pencaharian utama penduduk.
Penduduk memiliki persepsi kuat tentang posisi getah damar sebagai tiang
penyangga utama perekonomian mereka. Hal ini membuat mereka selalu merasa
aman sepanjang tahun meskipun pada bulan April - September mereka tidak
mendapatkan hasil lain kecuali dari getah damar. Penduduk cenderung
menganggap keberadaan komoditas lain sebagai hasil tambahan.
Kalender musim tersebut menunjukkan kestabilan ekonomi penduduk
Pahmungan sepanjang tahun. Tidak seperti petani sawah yang hanya mendapatkan
penghasilan saat musim panen saja, petani damar mendapatkan penghasilannya
sepanjang tahun.



3.4 Ikhtisar
Berdasarkan uraian pada sub bab sebelumnya maka gambaran umum lokasi
penelitian dapat digambarkan secara singkat seperti dalam tabel berikut.
Tabel 2. Karakteristik Pekon Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah Krui,
Kabupaten Lampung Barat Tahun 2005
Aspek Keterangan
Luas wilayah total 2600 ha, 100 ha dataran, 2500 ha berlereng
Luas wilayah untuk pemukiman 25 ha (di bagian dataran)
Luas wilayah untuk repong damar 2500 ha (di bagian berlereng)
Kondisi repong damar
Sistem agroforest yang diakui di tingkat nasional
dan internasional
Jumlah penduduk 977 jiwa
Kepadatan penduduk 0.38 jiwa
Jumlah angkatan kerja
(usia 16-50 tahun)
603 jiwa
Agama Islam
Pendidikan
Kurang lebih 25 lulusan perguruan tinggi dan
akademi, tetapi hanya empat orang yang menetap di
Pekon Pahmungan
185 orang lulusan SMA
200 orang lulusan SMP
Sebagian besar yang lain adalah lulusan SD
Mata pencaharian utama Bertani repong damar
Masalah dalam repong
Pemasangan patok HPT oleh pemerintah
Pencurian getah damar
Organisasi masyarakat
Pengajian
PMPRD
Karang Taruna
Radio Komunitas
PKK
Masalah sosial penduduk
Sebagian besar sulit berpartisipasi dalam kegiatan
sosial
Cenderung melihat keuntungan jangka pendek
Pembagian 3 dusun menjadikan mereka terbagi
Posisi Pekon Pahmungan/ waktu
tempuh dengan kendaraan
bermotor
5 km dari ibu kota kecamatan/ 10 menit
32 km dari ibu kota kabupaten/ 1 jam
287 km dari ibu kota propinsi/ 8 jam
Fasilitas fisik pekon
1 SD
1 masjid, 2 mushollah
Kantor peratin (menyatu dengan rumah peratin)
Kantor LHP
Fasilitas telekomunikasi
Telepon
Sinyal untuk telepon genggam
Stasiun radio komunitas


Dari tabel tersebut dapat dilihat jika sistem agroforest repong damar di
Pekon Pahmungan sudah diakui di tingkat nasional. Kondisi ini menunjukkan
bahwa kondisi geografis Pekon Pahmungan sesuai untuk menjadi tujuan
ekowisata. Tentu para ekowisatawan yang datang ke sana adalah para pengunjung
dengan minat khusus. Terutama minat untuk mempelajari tentang pengelolaan
sistem agroforest.
Dilihat dari jumlah penduduk yang mendiami Pekon Pahmungan, pekon
tersebut memiliki kepadatan penduduk yang relatif masih dapat menerima
sejumlah pengunjung tanpa menimbulkan kerusakan di ekosistem lingkungan
mereka. Pertimbangan lain yang mendukung pengembangan ekowisata di Pekon
Pahmungan adalah posisi yang relatif lebih mudah untuk dicapai dari ibu kota
kecamatan, kabupaten dan propinsi dibandingkan pekon-pekon dengan repong
damar lain di Pesisir Tengah Krui. Fasilitas fisik dan komunikasi di Pekon
Pahmungan yang relatif lebih baik dan lengkap dari pada pekon-pekon lain di
Pesisir Tengah Krui juga merupakan faktor penting yang menjadi pendukung
pengembangan ekowisata.


















BAB IV
FAKTOR-FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT
PENGEMBANGAN EKOWISATA PEKON PAHMUNGAN

Repong
32
damar Krui sebagai contoh sukses pengelolaan agroforest oleh
masyarakat terbentang sepanjang Pesisir Krui. Keberhasilan pengembangan dan
pengelolaan ekowisata di Pekon
33
Pahmungan berpotensi untuk menjadi cerita
sukses dan menjadi perintis sehingga menjadi inspirasi untuk pengembangan di
tempat lain dalam proses pemberdayaan masyarakat. Ide awal pengembangan
ekowisata ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk pemilik repong
damar
34
, dengan tetap menjaga kelestarian repong damar mereka.
WWF (World Wide Fund for Nature) Guideline for Community-Based
Ecotourism Development (2001) menyebutkan syarat-syarat untuk memutuskan
pengembangan bisnis ekowisata sebagai berikut:
a. Kerangka ekonomi dan politik yang mendukung perdagangan yang
efektif dan investasi yang aman.
b. Perundang-undangan di tingkat nasional yang tidak menghalangi
pendapatan dari wisata diperoleh dan berada di tingkat komunitas lokal.
c. Tercukupinya hak-hak kepemilikan yang ada di dalam komunitas lokal.
d. Keamanan pengunjung terjamin.
e. Resiko kesehatan yang relatif rendah, akses yang cukup mudah ke
pelayanan medis dan persediaan air bersih yang cukup.
f. Tersedianya fasilitas fisik dan telekomunikasi dari dan ke wilayah
tersebut.


32
Repong adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk kebun. Alasan penduduk lebih
memilih untuk menggunakan istilah repong adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis
tanaman, tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman saja.
33
Pekon adalah istilah lokal dalam bahasa Lampung untuk menyebut desa.
34
Selain dari getah damar dan buah-buahan yang selama ini sudah mereka manfaatkan.


Syarat-syarat dasar untuk pengembangan ekowisata berbasis komunitas
seperti tercantum dalam buku tersebut adalah:
a. Lanskap atau flora fauna yang dianggap menarik bagi para pengunjung
khusus atau bagi pengunjung yang lebih umum.
b. Ekosistem yang masih dapat menerima kedatangan jumlah pengunjung
tertentu tanpa menimbulkan kerusakan.
c. Komunitas lokal yang sadar akan kesempatan-kesempatan potensial,
resiko dan perubahan yang akan terjadi, serta memiliki ketertarikan
untuk menerima kedatangan pengunjung.
d. Adanya struktur yang potensial untuk pengambilan keputusan
komunitas yang efektif.
e. Tidak adanya ancaman yang nyata-nyata dan tidak bisa dihindari atau
dicegah terhadap budaya dan tradisi lokal.
f. Penaksiran pasar awal menunjukkan adanya permintaan yang potensial
untuk ekowisata, dan terdapat cara yang efektif untuk mengakses pasar
tersebut. Selain itu juga harus diketahui bahwa pasar potensial tersebut
tidak terlalu banyak menerima penawaran ekowisata.
4.1 Faktor-Faktor Pendukung
4.1.1 Faktor-Faktor Pendukung Bisnis Ekowisata
4.1.1.1 Kerangka Ekonomi dan Politik Pendukung Perdagangan
Dukungan pihak pemerintah daerah kabupaten di Liwa. Dalam diskusi yang
dilakukan penulis terhadap pihak Bapeda dan kepala Dinas Pariwisata Kabupaten
Lampung Barat disampaikan bahwa mereka sangat mendukung dan siap
membantu jika memang benar akan dilaksanakan pengembangan ekowisata di
Krui, dengan Pekon Pahmungan sebagai proyek percontohan. Mereka juga
menyampaikan bahwa mereka siap membantu secara politik dan melalui aspek
lain sehingga mendorong terjadinya perdagangan yang efektif dan investasi di
Lampung Barat, Pekon Pahmungan pada khususnya sebagai proyek percontohan.
Hal ini seperti diutarakan oleh Sy, salah seorang pegawai Bapeda yang

berkoordinasi langsung dengan kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lampung
Barat.
Kami sih siap membantu saja. Apalagi jika program ekowisata ini nantinya akan
membantu Lampung Barat, tidak ada alasan kami untuk menolak kan? Tentang
kebijakan, kami siap membantu dengan kebijakan-kebijakan sesuai dalam
Peraturan Daerah (Perda). Memang pekerjaan Dinas Pariwisata periode sekarang
ini cukup berat. Pak Bupati meminta kami tidak hanya di bidang pariwisata saja,
tetapi juga di bidang investasi. Kami memang berkoordinasi dnegan Dinas
Perindustrian dan Perdagangan untuk program-program yang memancing investasi
dari luar. Untuk bidang pariwisatanya, kami menyambut baik ajakan kerjasama
dari manapun, terutama dari kalangan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat)
seperti Nn ini. Saya yakin, untuk urusan lapangan, kalangan LSM jauh lebih hapal
dan paham daripada kami yang bermainnnya setiap hari di belakang meja.
Wawancara 14 April 2005
Bukti nyata dukungan mereka sampai saat ini adalah pelaksanaan Festival
Teluk Stabas di Pekon Pahmungan bulan September tahun 2005. Festival Teluk
Stabas adalah festival yang diadakan setiap tahun di Kabupaten Lampung Barat
untuk memperingati hari ulang tahun kabupaten. Festival ini biasanya
menampilkan kesenian dan kerajinan hasil daerah di Lampung Barat.
Penyelenggaraan festival ini berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain di
wilayah Kabupaten Lampung Barat, dan di Pekon Pahmungan hal ini adalah yang
pertama kalinya.
4.1.1.2 Tercukupinya Hak-Hak Kepemilikan
Penduduk di Pekon Pahmungan memiliki hak-hak kepemilikan atas repong
mereka sendiri. Hampir semua sumberdaya di Pekon Pahmungan dimiliki oleh
penduduk secara turun temurun
35
. Pada tahun 1935 pemerintah kolonial Belanda
semasa itu menetapkan luas wilayah hutan suaka
36
milik pemerintah yang tidak
boleh dibudidayakan oleh penduduk sekitar. Batas hutan suaka ini adalah garis
Boz Wezen (BW). Lahan di luar garis ini kemudian menjadi tanah marga yang
dibudidayakan oleh penduduk sekitar. Tanah marga adalah tanah yang dimiliki
oleh sebuah komunitas secara kolektif. Penggunaan tanah marga ini diatur oleh
kepala marga (Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM), 2002)

35
Proses kepemilikan yang lain adalah dengan jual beli, namun hal ini dalam jumlah yang sangat
kecil.
36
Hutan suaka saat ini menjadi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS).

Di dalam wilayah tanah marga tersebut, nenek moyang mereka menanam
pohon damar (Shorea javanica). Kearifan lokal
37
yang dimiliki nenek moyang
penduduk saat itu telah menjadikan daerah tanah marga yang mereka kelola
tersebut kawasan pelindung penting bagi hutan suaka yang mereka kelilingi.
Contoh kearifan lokal yang dimiliki nenek moyang waktu itu adalah penanaman
kembali sebuah pohon damar jika mereka menebang satu pohon. Kerifan
penduduk yang lain adalah kemampuan mereka untuk menciptakan sistem
pengelolaan kebun sehingga mampu berfungsi seperti hutan. Di samping spesies
utama, baik yang dibudidayakan atau dipilih atau yang dilindungi, yang
membentuk kerangka agroforest, repong damar berisi beberapa puluh pohon dari
jenis yang biasanya dikelola, tetapi di samping itu repong juga berisi beberapa
ratus jenis spesies yang tumbuh liar dan sering dimanfaatkan (Michon dan
Bompard 1987; Michon dan de Foresta, 1994 dalam Forum Komunikasi
Kehutanan Masyarakat, 2002). Pada perkembangannya sekarang ini, tanah marga
ini sekarang tidak lagi dimiliki secara kolektif tetapi dimiliki oleh masing-masing
keluarga. Namun, kearifan lokal untuk tetap mempertahankan repong damar tetap
bertahan sampai sekarang. Masyarakat merasa bahwa mereka akan mengkhianati
nenek moyang mereka jika mereka menebang pohon damar dan menggantinya
dengan pohon lain (FKKM, 2002).
Tahun 1993-1997 di Pekon Pahmungan terjadi reklaiming lahan penduduk
oleh pemerintah. Namun dengan persatuan penduduk dan dampingan dari LSM
yang terlibat maka upaya tersebut dapat digagalkan. Walaupun, sampai sekarang
mereka tidak memiliki sertifikat kepemilikan lahan. Sertifikasi lahan ini sendiri
memang menjadi kontroversi karena dikhawatirkan jika masyarakat memiliki
sertifikat lahan, maka mereka akan dengan mudah menjual lahan mereka kepada
pengunjung yang belum tentu tetap menjadikan lahan tersebut sebagai repong
damar. Perlindungan terhadap hak pengelolaan repong damar ditunjukkan dengan

37
Contoh kearifan lokal yang dimiliki nenek moyang waktu itu adalah penanaman kembali sebuah
pohon damar jika mereka menebang satu pohon. Kerifan penduduk yang lain adalah kemampuan
mereka untuk menciptakan sistem pengelolaan kebun sehingga mampu berfungsi seperti hutan. Di
samping spesies utama, baik yang dibudidayakan atau dipilih atau yang dilindungi, yang
membentuk kerangka agroforest, repong damar berisi beberapa puluh pohon dari jenis yang
biasanya dikelola, tetapi di samping itu repong juga berisi beberapa ratus jenis spesies yang
tumbuh liar dan sering dimanfaatkan (Michon dan Bompard 1987; Michon dan de Foresta, 1994
dalam Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat, 2002).

dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No 47/Kpts-II/1998.
SK ini menetapkan 29 ribu ha repong damar yang semula berada di kawasan
Hutan Produksi Terbatas (HPT) dan Hutan Lindung (HL) sebagai Kawasan
Dengan Tujuan Istimewa (KDTI). Dengan ketetapan ini masyarakat seara legal
dapat mengelola dan mewariskan repong damar di kawasan hutan negara.
Keputusan ini menarik karena belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia
(Kusworo, 2000). Selain itu keputusan KDTI ini menunjukkan bahwa penggunaan
lahan hanya boleh dilakukan untuk repong damar, bukan untuk perkebunan
tanaman lain (Wollenberg et al, 2001).
4.1.1.3 Keamanan Pengunjung Terjamin
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis, keamanan di Pekon
Pahmungan cukup terjamin. Memang pernah ada kejadian pencurian di dalam
daerah repong. Pencuri biasanya mencuri barang-barang di dalam anjung atau
mencuri getah damar di dalam repong. Namun, kejadian pencurian barang di
wilayah pemukiman tidak pernah terjadi. Kejadian pencurian yang paling sering
terjadi adalah pencurian getah damar di dalam repong yang biasanya dilakukan
oleh pengangguran dari Pekon Pahmungan sendiri dan penduduk dari luar pekon.
Untuk pencurian di kampung, penduduk mengatakan hampir tidak pernah ada.
Hal ini sesuai dengan yang diutarakan oleh salah seorang informan. Hal ini seperti
yang diutarakan oleh An:
Kalau soal pencurian Mbak, saya mengakui kalau di sini memang ada. Tapi kalau
di kampung sih Insya Allah aman. Belum pernah ada pencurian saya dengar di
kampung ini. Yang banyak ya di dalam repong, nyuri getah itulah. Kemarin sih
saya dengar desas desus katanya ada yang sudah berani ngrampok dari dalam
anjung. Mereka ambil radio dan uang yang ada di dalam anjung. Katanya yang
punya anjung diikat. Tapi soal itu saya belum yakin sekali. Yang jelas kalau soal
pencurian getah itu sudah pasti ada. Pencurinya ya dari orang kita sendiri dan
orang-orang tetangga pekon inilah. Terutama orang-orang muda yang pada
nganggur itu. Kalau soal keamanan di kampung, kami malah cenderung
menjaganya, walaupun kami tidak kenal dan tidak ada urusan sama itu orang, kalau
dia kenapa-napa atau malah kecurian, kan nama kampung kita yang jelek.
Wawancara 30 Mei 2005.
Selain hasil wawancara, hasil observasi penulis selama penelitian juga
menunjukkan bahwa keamanan di Pekon Pahmungan terjamin. Para pengunjung
baik dari dalam atau luar negeri yang meninggalkan kendaraan bermotor di depan
rumah penduduk tidak merasa khawatir. Setelah mereka meminta izin kepada
pemilik rumah, kendaraan bermotor mereka terjamin keamanannya dan penduduk

tidak meminta bayaran untuk menjadi tempat penitipan. Terjaminnya keamanan di
Pekon Pahmungan tersebut merupakan faktor pendukung penting dalam
penyelenggaraan ekowisata.
4.1.1.4 Resiko Kesehatan Rendah
Resiko kesehatan di Pekon Pahmungan dapat dikatakan rendah. Belum
pernah terjadi wabah penyakit yang mematikan di pekon ini. Kecelakaan juga
jarang terjadi di Pekon Pahmungan, baik di luar repong maupun di dalam repong.
Di daerah pasar Krui terdapat poliklinik yang dapat menyembuhkan keluhan-
keluhan kesehatan ringan sampai sedang. Untuk keluhan kesehatan yang relatif
lebih berat, penduduk dapat pergi ke rumah sakit daerah yang terdapat di Liwa.
Liwa dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam.
Persediaan air bersih di Pekon Pahmungan melimpah, mata air-mata airnya
tidak pernah kering sepanjang tahun. Hal ini juga dapat dilihat dari sungai yang
terus mengalir sepanjang tahun. Selain itu seorang peneliti dari Swedia pernah
melakukan penelitian untuk melihat tingkat kebersihan air sungai Pekon
Pahmungan. hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kadar racun di air sungai
Pekon Pahmungan masih di batas aman untuk diminum langsung. Menurutnya air
yang diambil sampelnya termasuk air sungai di sebelah rumahnya yang relatif
sudah kotor karena sudah berada di wilayah pemukiman. Hal ini seperti yang
dinyatakan oleh St, seorang pejabat pemerintahan Pekon Pahmungan:
Mbak mungkin sempat merasa jijik ya dengan kondisi sungai kami, saya sendiri
juga kadang-kadang merasa malu sebenarnya. Tetapi yang saya heran, dulu itu
sekitar tahun 95-97 ada peneliti perempuan, saya tidak ingat tepat tahunnya, tapi
saya yakin kalau dia itu perempuan. Dari Swedia, kalau gak salah. Dia neliti
kondisi air sungai di sini. Hasilnya katanya bagus lho, katanya termasuk air sungai
terbersih di Sumatera, dan masih bisa diminum langsung. Padahal dia ngambil
contoh airnya itu juga ngambil di sungai dekat rumah saya lho, itu kan sudah relatif
kotor. Tapi soal yang diminum itu saya kurang yakin apakah termasuk untuk air
sungai dekat rumah-rumah penduduk Wawancara 8 Juni 2005
Penulis sendiri sempat mecoba meminum langsung air sungai yang mengalir
di daerah hulu, di Way
38
Mahnay, dan memang penulis merasa baik-baik saja,
tidak mengalami gangguan kesehatan setelah meminum air tersebut. Namun,
untuk air sungai di wilayah pemukiman, penulis tidak mencoba karena dengan

38
Way adalah istilah lokal untuk sungai.

melihat aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang dilakukan penduduk di atasnya,
penulis meyakini kalau air tersebut tidak layak untuk diminum tanpa dimasak.

4.1.1.5 Tersedianya Fasilitas Fisik dan Telekomunikasi
Pekon Pahmungan memiliki jarak ke ibu kota Kecamatan Pesisir Tengah
Krui (Pasar Krui) sekitar 5 km, ke ibu kota Kabupaten Lampung Barat (Liwa)
sekitar 32 km, dan ke ibu kota Propinsi Lampung (Bandar Lampung) sekitar 287
km (Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat, 2002). Jarak ini cukup mudah
ditempuh dengan kendaraan bermotor melewati jalanan yang telah diaspal selama
kurang lebih sepuluh menit menuju ibu kota kecamatan, kurang lebih satu jam
menuju ibu kota kabupaten. Namun, untuk menuju ibu kota propinsi dibutuhkan
waktu kurang lebih delapan jam dengan kondisi jalan yang kurang bagus. Kondisi
ini cukup mengganggu akses ke Pekon Pahmungan karena satu-satunya bandara
yang ada di Propinsi Lampung terletak di Bandar Lampung.
Informasi yang diperoleh penulis dari hasil wawancara mendalam, ada
informasi yang sedang beredar di kalangan masyarakat bahwa jalan ke Bandar
Lampung lewat kota Tanggamus akan segera diperbaiki. Jika hal ini benar terjadi
maka akan lebih memudahkan akses ke Kota Bandar Lampung yang hanya akan
membutuhkan jarak tempuh sekitar tiga jam. Selain itu, ada informasi lain bahwa
sedang ada pembangunan bandara di Pekon Rawas, sebelah selatan Pasar Krui,
dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit dari Pekon Pahmungan. Informasi
terakhir yang diperoleh penulis sampai waktu penelitian berakhir, tahap yang
sudah dilaksanakan saat ini adalah pembebasan tanah dan analisis dampak
lingkungan oleh pihak akademisi. Proyek pembuatan bandara ini dilakukan
langsung oleh pemerintah pusat.
Selain itu, fasilitas fisik yang tersedia di Pekon Pahmungan antara lain,
sebuah stasiun radio komunitas dan sebuah anjung di pinggiran repong damar
yang dapat digunakan untuk pertemuan, menginap atau sekedar beristirahat untuk
melepas lelah. Anjung ini berdiri atas kerjasama penduduk Pekon Pahmungan,
Persatuan Maasyarakat Petani Repong Damar (PMPRD) dan Lembaga Alam
Tropika Indonesia (LATIN). Di samping anjung ini telah berdiri kamar mandi

umum yang telah dikeramik. Gambar anjung dan fasilitas kamar mandi di
samping repong dapat dilihat pada lampiran 6.
Fasilitas komunikasi di Pekon Pahmungan sudah cukup baik. Jaringan
telepon sudah sampai di pekon ini, walaupun belum semua penduduk memiliki
fasilitas ini. Pekon Pahmungan juga sudah dapat dicapai sinyal telepon selular,
sehingga tidak terjadi gangguan komunikasi yang berarti selama berada di pekon
ini. Akses telekomunikasi yang cukup sulit adalah akses terhadap internet. Hal ini
tidak menjadi masalah bagi pemilik komputer dengan modem karena mereka
dapat mengakses internet dengan menggunakan telepon rumah.
4.1.2 Faktor-Faktor Pendukung Pengembangan Ekowisata Berbasis Komunitas
4.1.2.1 Lanskap dan Flora Fauna
Kondisi ekologi repong di Pekon Pahmungan sangat menarik. Perpaduan
antara repong damar, gua-gua dan sungai alami sangat sesuai untuk situs tujuan
ekowisata. Gambar potensi ekologi Pekon Pahmungan terlampir pada lampiran 7.
Hasil observasi penulis menunjukkan bahwa memang kondisi ekologi Pekon
Pahmungan masih alami dan sangat potensial untuk menjadi daya tarik ekowisata.
Hasil wawancara dengan para pengunjung juga menunjukkan bahwa mereka
sangat tertarik dengan kondisi repong damar, sungai dan gua-gua yang ada di
Pekon Pahmungan. Mereka biasa mengunjungi gua-gua dan sungai sebagai
hiburan selain fokus penelitian mereka ke repong damar. Kekhususan obyek di
Pekon Pahmungan juga dapat dilihat dari pemilihan lokasi tersebut untuk shooting
film atau acara televisi oleh beberapa yayasan. Contoh yayasan yang pernah
melakukan shooting film di Pekon Pahmungan adalah Konsorsium Pendukung
Hutan Kemasyarakatan (KPSHK). Bulan November 2005, Global TV juga
melaksanakan shooting untuk acara televisi Kaki Langit yang ditayangkan pada
tanggal 10 Desember 2005.
4.1.2.2 Daya Dukung Ekosistem
Jumlah penduduk di Pekon Pahmungan relatif masih rendah, yaitu 977
orang (Buku Profil Pekon Pahmungan, 2003). Jika dihitung tingkat kepadatan
penduduknya maka dicapai jumlah 977/2600 = 0.38 jiwa per hektar. Dari jumlah

tersebut dapat dikatakan ekosistem masih akan mampu untuk menyerap
kedatangan pengunjung dalam jumlah tertentu. Tentu ada batasan jumlah
pengunjung yang harus ditetapkan sehingga lingkungan tidak rusak.
4.1.2.3 Kesadaran Komunitas Lokal
Hasil wawancara dan observasi penulis menunjukkan bahwa dengan
pengalaman pendidikan sosial yang mereka miliki, sebagian penduduk Pekon
Pahmungan sudah memiliki kesadaran akan adanya kesempatan-kesempatan
potensial untuk pengembangan pekon mereka.
Saat penulis melemparkan wacana tentang kemungkinan wisata di pekon
mereka, mereka dapat segera menghubungkan dengan kehidupan mereka dan
mampu menyampaikan potensi-potensi yang ada, baik potensi ekologi, sosial
maupun budaya yang mereka miliki. Mereka menyampaikan kemungkinan hal-hal
yang dapat dilakukan untuk menjadikan potensi tersebut lebih berkembang. Hal
ini terlihat dari hasil wawancara dengan seorang pejabat Pekon Pahmungan Mh:
Soal potensi, kalau saya rasa-rasa, sungai-sungai, gua-gua yang kita punya itu
juga bagus ya. Buktinya ya orang-orang yang datang itu, termasuk yang bule-bule
suka main-main ke sana kalau lagi senggang. Kalau lagi penelitian mereka
biasanya di repong terus. Kalau saya fikir, mungkin kalau ada jalan kecil gak usah
terlalu bagus, dari batu saja dibuat muter di dalam repong terus melewati sungai
atau gua itu, orang-orang yang datang itu sudah akan seneng banget. Wawancara
18 April 2005
Penduduk juga sudah memiliki perkiraan resiko dan perubahan yang akan
terjadi. Hal ini terlihat saat wawancara dengan penduduk, mereka menyampaikan
ketakutan mereka jika benar wisata dikembangkan maka akan merusak tatanan
sosial budaya yang saat ini ada di kalangan masyarakat. Mereka khawatir budaya
luar yang dibawa para pengunjung mempengaruhi penduduk Pekon Pahmungan
sehingga meninggalkan budaya asli, hal yang sekarang menurut mereka sudah
mulai terjadi.
Keterbukaan penduduk terhadap pengunjung yang datang merupakan faktor
pendukung penting dalam pengembangan ekowisata. Penduduk Pekon
Pahmungan memiliki sikap yang relatif terbuka dalam menerima kedatangan
pengunjung. Hal ini dinyatakan oleh seorang penduduk Rk:

Masyarakat Pekon Pahmungan tidak bisa dibilang tertutup dari orang luar. Kalau
tertutup ya pasti orang-orang itu tidak balik-balik lagi ke sini kan? Kalau Cuma
mau penelitian repong damar di pekon-pekon lain di Pesisir Tengah juga banyak.
Buktinya mereka banyak balik ke sini, malah pada bawa mereka punya kawan.
Orang sini baik-baik kok orang luar. Asal orangnya ramah senyum dan tidak
sombong, kalau sombong ya penduduk gak mau bantu. Yang saya ingat banget itu
ya Pak Hubert, dia itu pinter sekali ngedeketin penduduk. Dia pernah bawa dua dus
cock untuk badminton lalu dikasih ke yang lagi pada main di lapangan deket
mushollah itu. Masyarakat seneng banget sama dia. Kalau dia lewat selalu
dipanggil-panggil. Dia bahasa Indonesianya juga sudah lancar. Wawancara 13
April 2005
Sikap keterbukaan ini juga didukung oleh tidak adanya norma-norma sosial
yang melarang penduduk untuk berinteraksi dengan intens terhadap pengunjung
yang datang atau melarang pengunjung untuk mendatangi Pekon Pahmungan.
Sifat keterbukaan penduduk ini dapat dilihat dari gambar berikut yang
menunjukkan seorang peneliti dari Belanda mengunjungi gudang damar dan
menanyai pekerja serta pemilik gudang.










4.1.2.4 Penaksiran Pasar Awal
Intensitas kedatangan pengunjung yang datang ke Pekon Pahmungan cukup
sering. Sekitar 1-3 rombongan tiap bulan. Pengunjung-pengunjung dari luar yang
datang ke Pekon Pahmungan dapat dikategorikan menjadi beberapa macam:
Gambar 10. Peneliti Asing Mengunjungi Gudang Damar
Sumber: Dian Ekowati

1. Kelompok petani yang datang untuk belajar tentang repong damar
dengan dampingan dari pihak pemerintah atau Lembaga Swadaya
Masyarakat.
2. Penjual buah-buahan dan orang-orang dari luar Pekon Pahmungan yang
datang ke Pekon Pahmungan saat musim panen buah-buahan.
3. Peneliti dalam dan luar negeri dari lembaga penelitian yang melakukan
penelitian di Pekon Pahmungan.
4. Pegawai pemerintah yang melakukan studi banding di Pekon
Pahmungan.
5. Para pelajar dan mahasiswa yang melakukan praktikum dan atau
penelitian di Pekon Pahmungan.
6. Penggiat LSM yang sedang melakukan kegiatannya di Pekon
Pahmungan.
7. Turis dalam dan luar negeri yang sengaja datang ke Pekon Pahmungan
untuk melihat-lihat repong damar.
Pekon Pahmungan merupakan pekon di pesisir tengah yang sering
dikunjungi pengunjung. Karena seringnya, masyarakat Pekon Pahmungan sudah
terbiasa saat melihat ada pengunjung di pekonnya. Informasi yang didapat penulis
dari informan terdapat sekitar 1-3 rombongan pengunjung setiap bulannya.
Seringnya pengunjung datang ke Pekon Pahmungan salah satunya adalah karena
rekomendasi dari teman peneliti sebelumnya tentang person kontak yang biasa
dihubungi dan akan sangat membantu di Pekon Pahmungan. Selama penulis
melakukan penelitian di lapangan pada periode bulan akhir Maret pertengahan
Juni, terdapat tujuh kali rombongan pengunjung yang datang (rombongan peneliti
Center for International Forestry Research (CIFOR) yang datang dua kali, Japan
International Corporation Agency (JICA) yang datang dengan tim konservasi
Taman Nasional Gunung Halimun, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB),
mahasiswa Universitas Lampung (Unila), kelompok petani yang melakukan
pelatihan, penggiat LATIN.
Sampai saat penulis menyelesaikan penelitian, koordinasi pengunjung masih
menjadi masalah di Pekon Pahmungan. Pihak Persatuan Masyarakat Petani

Repong Damar (PMPRD) dan pihak pemerintahan desa belum menemukan titik
temu untuk koordinasi para pengunjung tersebut. Masih cenderung ada pemisahan
antara pengunjung PMPRD dan pengunjung Kepala Desa. Secara tidak langsung
ini memiliki akibat yang kurang baik terhadap hubungan PMPRD dengan pihak
pemerintahan desa.

4.1.3 Faktor-Faktor Pendukung Lain
4.1.3.1 Sumber Daya Potensial Lulusan SMP dan SMA
Sebagian besar pemuda dan pemudi Pekon Pahmungan adalah lulusan SMP
atau SMA, namun tidak memiliki biaya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi, sehingga mereka menjadi pengangguran. Sehari-harinya, para pemuda ini
sering terlihat duduk-duduk di depan rumah, di warung untuk sekedar bercakap-
cakap, bermain kartu atau bermain judi. Hal ini terjadi karena repong damar yang
menjadi mata pencaharian mereka sehari-hari tidak menuntut mereka untuk selalu
mengurusnya setiap hari. Kegiatan para pemuda ini sebatas mengambil getah
damar saat ada bapak-bapak yang menyuruh.
Para generasi muda ini dapat menjadi sumber daya potensial untuk turut
serta dalam pengembangan ekowisata. Mereka tertarik untuk terlibat dalam hal-
hal baru yang mereka pikir dapat memajukan pekon dan mengembangkan potensi
mereka. Keantusiasan mereka dapat terlihat pada awal pengembangan radio
komunitas. Namun, karena kurang intensifnya pendampingan yang dilakukan
pihak pendamping, pengurus radio komunitas akhirnya hanya tinggal dua orang
saja. Keantusiasan mereka dalam pengelolaan radio komunitas dapat dilihat pada
gambar berikut






Gambar 11. Suasana Rapat Radio Komunitas
Sumber: Dokumentasi Astrid Nurfitria R.



4.1.3.2 Kerelaan Penduduk
Selama ini, masalah yang dihadapi oleh organisasi-organisasi yang didirikan
di Pekon Pahmungan adalah ketidak percayaan masyarakat terhadap organisasi
yang dibentuk. Hal ini merupakan hasil dari trauma mereka terhadap organisasi-
organisasi terdahulu yang ternyata bubar karena salah pengorganisasian atau
adanya pengurus yang menyalahgunakan wewenang. Kesalahan pengurusan yang
fatal terutama terletak pada keuangan. Hal ini menyebabkan adanya iklim
ketidakpercayaan di kalangan masyarakat sendiri terhadap organisasi yang
dikelola oleh penduduk sendiri tanpa campur tangan pengunjung. Penduduk akan
mau percaya jika terdapat orang luar yang aktif terlibat dalam organisasi mereka.
Sebenarnya masyarakat memiliki ketertarikan dalam kegiatan-kegiatan baru
yang akan membantu masyarakat memajukan pekon dan memiliki struktur
kepengurusan dengan wajah-wajah baru. Hal ini terlihat pada pengelolaan radio
komunitas yang didirikan oleh PMPRD dan didampingi oleh LATIN. Saat
anggota masyarakat diundang untuk merencanakan kegiatan ke depan, mereka
terlihat sangat antusias dan mau berkorban demi kemajuan radio komunitas.
Kegiatan lain yang menuntut pengorbanan masyarakat dan mereka rela melakukan
bersama-sama adalah gotong royong untuk pembangunan jalan batu dari Dusun I
ke dalam repong. Mereka merelakan waktu dan tanahnya untuk digunakan dalam
pembuatan jalan tersebut. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Sp, seorang pejabat
pemerintahan Pekon Pahmungan:
Mungkin memang masyarakat sini agak terlihat males -malesan kalau ikut
organisasi. Tapi sebenarnya kalau kegiatannya bener-bener serius dan ada hasilnya
untuk masyarakat. Mereka insya Allah rela Mbak. Contohnya ya pembuatan jalan
dari Dusun 1 ke Mahnay itu, kita kan tidak dibayar apa-apa tapi kita orang mau
juga ikut mbangun, ya tidak semua orang. Mereka juga tidak apa-apa tanahnya
dilewatin jalan. Ya walaupun jalan itu masih sangat sederhana, tapi cukup mbantu
masyarakat sini. Kalau wisata yang Mbak sebutin itu bisa dikembangkan di sini, ya
mungkin kita bisa buat jalan yang lebih bagus.Wawancara 1 Juni 2005
Dari dua contoh kegiatan tersebut terlihat bahwa masyarakat akan bersedia
terlibat secara aktif dan ikut berkorban baik tenaga, waktu atau materi untuk

kegiatan-kegiatan yang mereka sadari dan mereka percayai akan membawa
kemajuan dan manfaat bagi mereka dan pekon mereka.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para informan di Pekon Pahmungan,
terlihat bahwa sebagian masyarakat merasa antusias untuk terlibat dalam
pengelolaan ekowisata di pekon mereka. Mereka menyatakan siap untuk ikut
berkorban dan membantu pelaksanaan pengembangan ekowisata di Pekon
Pahmungan. Bahkan beberapa dari mereka sudah menyanggupi untuk merelakan
tanahnya jika memang akan digunakan untuk jalur tracking. Masyarakat sendiri
mengakui kalau keinginan untuk pengembangan wisata sudah ada di kepala
mereka, namun tidak ada penggerak yang menggerakkan mereka untuk
melaksanakan sehingga mereka diam saja.
4.2 Faktor-Faktor Penghambat
Belum semua persyaratan yang disyaratkan di atas dapat dipenuhi dengan
baik di Pekon Pahmungan. Masih terdapat beberapa faktor penghambat yang
menjadi ganjalan dalam pengembangan ekowisata berbasis komunitas di Pekon
Pahmungan.
4.2.1 Faktor-Faktor Penghambat untuk Pengembangan Bisnis Ekowisata
Dari segi ketersediaan fasilitas fisik dan telekomunikasi dari dan ke wilayah
Pekon Pahmungan yang merupakan syarat-syarat untuk memutuskan
pengembangan bisnis ekowisata, Pekon Pahmungan memiliki kelemahan yaitu
terlalu jauhnya jarak yang harus ditempuh ke bandara terdekat yang ada di Bandar
Lampung. Selain jauh, kondisi jalan yang dilalui juga tidak tidak terlalu baik
sehingga membutuhkan waktu kurang lebih delapan jam untuk menuju ke sana.
4.2.2 Faktor-Faktor Penghambat untuk Pengembangan Ekowisata Berbasis
Komunitas
Faktor penghambat yang termasuk syarat-syarat dasar untuk pengembangan
ekowisata berbasis komunitas adalah belum adanya struktur yang potensial untuk
pengambilan keputusan komunitas yang efektif. Kecenderungan berorganisasi
penduduk Pekon Pahmungan selama ini memang belum terlihat baik. Ada
beberapa contoh organisasi yang pernah dibuat di Pekon Pahmungan dan
mengalami kegagalan. Kegagalan ini terutama dialami oleh organisasi-organisasi

yang bergerak di bidang ekonomi. Contoh organisasi yang gagal tersebut adalah
LPM (Lembaga Perekonomian Mikro), PKK, dan bahkan untuk skala yang kecil
seperti arisan pun mengalami kegagalan. Menurut informan yang diwawancarai
penulis selama penelitian kegagalan ini terutama disebabkan oleh
ketidakpercayaan di antara para pengurus dan anggota, ketidakpercayaan ini
disebabkan karena pernah ada kecurangan yang dilakukan oleh pengurus atau
anggota. Pengalaman di Pekon Pahmungan menunjukkan bahwa akibat dari
kecurangan dalam organisasi tersebut telah melunturkan kepercayaan masyarakat
terhadap orang-orang tertentu tersebut dan juga telah menimbulkan
ketidakharmonisan hubungan antara para tetua pekon.
Sebagian besar penduduk Pekon Pahmungan cenderung untuk melihat
segala sesuatu dalam skala jangka pendek sehingga organisasi atau kegiatan
perkumpulan yang menurut mereka tidak menghasilkan uang dalam jangka
pendek akan sulit mendapat pengikut. Namun, ada beberapa penduduk Pekon
Pahmungan yang muncul dan memiliki idealisme untuk memajukan pekon
walaupun mereka tidak mendapatkan keuntungan pribadi secara ekonomi dalam
jangka pendek dengan melibatkan diri dalam kegiatan ini. Hal ini tampak dari
alotnya diskusi dalam rapat untuk membahas kepengurusan radio komunitas
Suara Petani Pekon Pahmungan bulan Maret 2005. Orang-orang inilah yang bisa
diharapkan untuk menjadi penggerak dan motor dalam setiap kegiatan
pengembangan pekon.
Beberapa penduduk ini juga memiliki kemampuan untuk mendorong dan
menggerakkan orang-orang di lingkungan mereka. Tokoh-tokoh ini dapat
dipetakan menjadi empat kelompok kepentingan di Pekon Pahmungan. Kelompok
kepentingan pertama berasal dari pihak para tetua tradisional, pemerintahan desa,
pihak Karang Taruna, dan dari radio komunitas Suara Petani. Radio komunitas
merupakan radio lokal yang dikelola masyarakat Pekon Pahmungan sebagai
sarana hiburan dan informasi lokal. Radio komunitas ini didirikan dan dikelola di
bawah tanggungjawab pihak PMPRD, dengan dampingan LATIN.
Para informan menyarankan untuk melibatkan pengunjung sebagai
pemimpin atau penanggungjawab dalam setiap kegiatan pengorganisasian
masyarakat. Hal ini seperti merupakan trauma atas kegagalan-kegagalan yang
dialami oleh organisasi-organisasi yang pernah dikelola dan dikembangkan oleh

masyarakat sendiri. Mereka menyatakan bahwa sulit bagi mereka sendiri untuk
saling mempercayai satu sama lain jika sudah melibatkan urusan keuangan.
Mereka merasa suasana organisasi akan jauh lebih kondusif jika pemegang
kekuasaan tertinggi adalah orang dari luar pekon. Penduduk akan mau percaya
jika terdapat orang luar yang aktif terlibat dalam organisasi mereka. Hal ini seperti
yang diutarakan oleh Ym:
Saya sendiri tidak yakin kalau ada organisasi akan mampu berdiri dan berjalan
dengan baik di sini, terutama yang menyangkut masalah keuangan. Masalah ini
sudah membuat masyarakat sini seperti trauma sama organisasi. Saya pikir
masyarakat sudah tidak lagi percaya sama temannya sendiri kalau sudah soal
keuangan. Mungkin, kalau organisasi pemimpinnya, yang punya kuasa orang luar
malah bisa jalan, jadi profesional. Kalau orang sini, kok sepertinya selalu ketuanya
yang dapat dana, anggotanya tidak dapat apa-apa terus kecewa lalu bubar.
Contohnya ya LPM itu dulu, bahkan PKKnya istri saya juga bubar karena soal
uang itulah. Wawancara 19 April 2005
Di dalam kegiatan-kegiatan tertentu yang orientasi ekonominya belum
terasa, masyarakat terlihat lebih solid dan kompak. Hal ini terlihat dalam kegiatan
sepak bola yang diadakan karang taruna. Perkumpulan sepak bola ini tidak hanya
melibatkan anak-anak muda tetapi juga bapak-bapak. Kegiatan latihan sepak bola
dilakukan dua kali setiap minggu di lapangan dekat pasar Krui. Mereka pergi dan
pulang dari sana menggunakan mobil pick up yang dimiliki oleh salah satu
penduduk desa. Dimulai dari kegiatan sepak bola inilah karang taruna yang
sempat vakum, aktif kembali.
Dari hal tersebut dapat diambil pelajaran bahwa titik masuk dalam
pengorganisasian masyarakat tidak selalu harus dari hal yang berhubungan
langsung dengan tujuan pengorganisasian. Namun bisa dimulai dari hal-hal ringan
yang menarik bagi masyarakat dan kemudian setelah masyarakat terorganisir
dilakukan penyadaran untuk bergerak di isu lain yang memang menjadi tujuan
pengorganisasian.
4.2.3 Faktor Penghambat Lain
4.2.3.1 Penguasaan Seni Budaya Tradisional
Penduduk mengakui kalau saat ini penguasaan mereka terhadap seni budaya
tradisional sudah sangat berkurang. Dulu, sebelum masa jabatan peratin yang
sekarang (2000-2005) kegiatan-kegiatan seni budaya seperti pencak silat masih
digalakkan. Tetapi sejak masa jabatan peratin yang sekarang, kegiatan-kegiatan
tersebut berhenti karena kurang ada dorongan dari peratin. Seni-seni tertentu

seperi butetah dan hahiwang (sejenis sajak yang dilagukan) dikuasai oleh satu
orang penduduk saja. Kesenian ini hanya ditampilkan di saat-saat tertentu seperti
pernikahan saja.
Selain itu terdapat kesenian bedikar yang masih ditampilkan secara rutin di
setiap acara pernikahan. Kesenian ini ditampilkan oleh bapak-bapak. Kesenian ini
menampilkan tahlilan yang dilagukan dan didiringi rebana. Berikut ini adalah
gambar saat kesenian bedikar dalam sebuah hajatan pernikahan di Pekon
Pahmungan.










4.2.3.2 Tantangan untuk Penyadaran Masyarakat
Sampai saat ini proses penyadaran masyarakat untuk bangkit dan
menjadikan ekowisata sebagai salah satu jalan untuk memajukan pekon masih
membutuhkan pendamping yang mampu merangkul semua kalangan masyarakat.
Sebagian masyarakat memang sudah siap mendukung pelaksanaan pengembngan
ekowisata berbasis komunitas ini, namun dukungan ini akan kurang optimal jika
ada sebagian masyarakat yang lain tidak mendukung. Sebagian masyarakat Pekon
Pahmungan memiliki pemikiran cenderung untuk hanya melihat keuntungan
jangka pendek dalam bentuk materi.
Selain itu, sebagian masyarakat yang apatis ini terutama berasal dari sedikit
golongan tua yang pernah terlibat dalam pengelolaan organisasi sebelumnya di
Gambar 12. Pertunjukan Kesenian Bedikar
Sumber: Dian Ekowati

Pekon Pahmungan. Mereka menunjukkan rasa pesimis karena pengalaman
sebelumnya menunjukkan selalu ada agenda politik tersembunyi dalam setiap
program pembangunan yang ditawarkan kepada masyarakat. Mereka cenderung
punya prasangka kegiatan ini tidak murni untuk kemajuan masyarakat Pekon
Pahmungan, tetapi memiliki agenda tersembunyi untuk kepentingan kelompok
tertentu. Jumlah penduduk golongan tua ini memang tidak banyak. Namun
pendapat-pendapat mereka berpengaruh secara psikologis terhadap khalayak.

4.2.3.3 Terpecahnya Masyarakat dalam Golongan-Golongan
Hal ini merupakan tantangan bagi pengorganisir masyarakat untuk mampu
memetakan berbagai golongan dan kepentingan yang ada di dalam masyarakat
Pekon Pahmungan. Sampai saat penulis menyelesaikan penelitian di lapang,
terdapat tiga kelompok kepentingan yang terbaca di Pekon Pahmungan. Yaitu dari
pihak pemerintahan, karang taruna dan kelompok radio komunitas. Masing-
masing kelompok ini memiliki komunitas sendiri. Dalam Focus Group Discussion
untuk penggalian informasi dan masalah, penulis melibatkan ketiga kelompok
tersebut. Perwakilan yang datang adalah ketua dan wakil ketua Lembaga Himpun
Pekon (LHP) dari pihak pemerintah, ketua dan wakil ketua karang taruna, dan
direktur serta wakil direktur radio komunitas Suara Petani.
Selain ketiga kelompok tersebut, mereka menyatakan bahwa di Pekon
Pahmungan terdapat para tetua adat sebagai pemimpin informal yang memiliki
pengikut masing-masing. Sebagian dari tetua adat inilah yang termasuk dalam
golongan apatis terhadap kegiatan-kegiatan pengorganisasian rakyat. Para tetua
adat ini terutama terpisahkan karena pemisahan dusun.
4.2.3.4 Suasana Politik di Krui
Suasana politik Krui pada masa penelitian Maret-Juni 2005 sempat
memanas. Suasana yang memanas ini disebabkan oleh adanya pihak-pihak di
Pesisir Tengah Krui yang ingin mendirikan kabupaten baru, Kabupaten Pesisir
Tengah Krui terpisah dari Kabupaten Lampung Barat. Hal ini dilakukan karena
mereka merasa mendapat perlakuan yang kurang adil dibandingkan dengan kota
Liwa. Contoh hal-hal yang menurut mereka tidak adil adalah mengapa Kota Liwa
yang dipilih untuk dijadikan ibu kota kabupaten padahal kota Krui jauh lebih

ramai daripada kota Liwa. Selain itu menurut mereka pemilihan Liwa sebagai
kota kabupaten juga semakin kurang beralasan karena kota tersebut rawan gempa.
Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Mn:
Sebenarnya dulunya pemilihan kota Liwa itu banyak mengandung KKN (Korupsi
Kolusi Nepotisme-Penulis) terutama ya mungkin nepotismenya itu Mbak.
Kabarnya salah satu keluarga pejabat tinggi propinsi berasal dari Liwa. Padahal
Mbak lihat sendiri kan Liwa itu sepinya seperti apa? Saya yakin kalau jalan ke
Bandar Lampung itu dibuat tidak lewat Liwa tetapi lewat Tanggamus, Liwa akan
jadi kota mati. Padahal kalau lewat Tanggamus, mungkin cuma sekitar 4 jam. Tapi
ya itu, jalanan Tanggamus sengaja tdak dibenerin.Wawancara 13 Maret 2005
Informasi terakhir yang diterima penulis saat kembali ke sana pada tanggal
22 November 2005, aktifitas pelepasan diri dari Kabupaten Lampung Barat ini
sudah tidak lagi berkobar. Penduduk juga tidak lagi ramai memperbincangkan hal
tersebut.
4.3 Ikhtisar
Dari uraian pada sub bab-sub bab sebelumnya, faktor pendukung dan
penghambat pengembangan ekowisata di Pekon Pahmungan dapat disajikan
dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 3. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengembangan Ekowisata di
Pekon Pahmungan Tahun 2005
Faktor-Faktor
Pendukung Bisnis
Ekowisata
Pendukung
a. Kerangka Ekonomi dan Politik
Pendukung Perdagangan
Dukungan pihak pemerintah daerah
kabupaten di Liwa. Mereka juga
menyampaikan bahwa mereka siap
membantu secara politik dan melalui aspek
lain sehingga mendorong terjadinya
perdagangan yang efektif dan investasi di
Lampung Barat, Pekon Pahmungan pada
khususnya sebagai proyek percontohan
b. Tercukupinya hak-hak kepemilikan
Walaupun terdapat perbedaan persepsi antara
masyarakat (tanah milik) dengan pemerintah
(KDTI). Kedua persepsi tersebut mendukung
pelaksanaan pengembangan ekowisata
selama repong damar tetap terjaga.
c. Keamanan pengunjung terjamin
Kejadian pencurian barang di wilayah
pemukiman tidak pernah terjadi.
d. Resiko Kesehatan Rendah.
Belum pernah terjadi wabah penyakit yang

mematikan di pekon ini. Kecelakaan juga
jarang terjadi di Pekon Pahmungan, baik di
luar repong maupun di dalam repong. Selain
itu, persediaan air bersih di Pekon
Pahmungan melimpah, mata air-mata airnya
tidak pernah kering sepanjang tahun.
e. Tersedianya fasilitas fisik dan
telekomunikasi
Akses menuju ibu kota Kecamatan dan
Kabupaten cukup memadai dengan jarak
tempuh 10 menit dan satu jam. Fasilitas fisik
yang tersedia adalah studio radio komunitas
dan anjung di pinggir repong.
Penghambat
Ketersediaan fasilitas fisik
terlalu jauhnya jarak yang harus ditempuh ke
bandara terdekat yang ada di Bandar
Lampung. Selain jauh, kondisi jalan yang
dilalui juga tidak tidak terlalu baik sehingga
membutuhkan waktu kurang lebih delapan
jam untuk menuju ke sana.
Pendukung
a. Lanskap dan Flora Fauna
Kondisi ekologi repong di Pekon Pahmungan
sangat menarik. Perpaduan antara repong
damar, gua-gua dan sungai alami sangat
sesuai untuk situs tujuan ekowisata
b. Daya Dukung Ekosistem
Tingkat kepadatan penduduk Pekon
Pahmungan adalah 977/2600 = 0.38 jiwa per
hektar. Dari jumlah tersebut dapat dikatakan
ekosistem masih akan mampu untuk
menyerap kedatangan pengunjung dalam
jumlah tertentu.
c. Kesadaran Komunitas Lokal
Sebagian penduduk Pekon Pahmungan sudah
memiliki kesadaran akan adanya kesempatan-
kesempatan potensial untuk pengembangan
pekon mereka.
d. Penaksiran Pasar Awal
Intensitas kedatangan pengunjung yang
datang ke Pekon Pahmungan cukup sering.
Sekitar 1-3 rombongan tiap bulan.

Faktor-Faktor
Pendukung
Pengembangan
Ekowisata
Berbasis
Komunitas

Penghambat
Belum adanya struktur yang potensial
untuk pengambilan keputusan komunitas
yang efektif.
Kecenderungan berorganisasi penduduk Pekon
Pahmungan selama ini memang belum terlihat
baik. Ada beberapa contoh organisasi yang
pernah dibuat di Pekon Pahmungan dan
mengalami kegagalan.

Pendukung
a. Sumber Daya Potensial Lulusan SMP dan
SMA
Sebagian besar pemuda dan pemudi Pekon
Pahmungan adalah lulusan SMP atau SMA,
namun tidak memiliki biaya untuk melanjutkan
ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga mereka
menjadi pengangguran
b. Kerelaan Penduduk
Masyarakat akan bersedia terlibat secara aktif
dan ikut berkorban baik tenaga, waktu atau
materi untuk kegiatan-kegiatan yang mereka
sadari dan mereka percayai akan membawa
kemajuan dan manfaat bagi mereka dan pekon
mereka.
Faktor-faktor lain
Penghambat
a. Penguasaan Seni Budaya Tradisional
Penduduk mengakui kalau saat ini penguasaan
mereka terhadap seni budaya tradisional sudah
sangat berkurang. Dulu, sebelum masa jabatan
peratin yang sekarang (2000-2005) kegiatan-
kegiatan seni budaya seperti pencak silat masih
digalakkan. Tetapi sejak masa jabatan peratin
yang sekarang, kegiatan-kegiatan tersebut
berhenti karena kurang ada dorongan dari
peratin.
b. Penguasaan Seni Budaya Tradisional
Penduduk mengakui kalau saat ini penguasaan
mereka terhadap seni budaya tradisional sudah
sangat berkurang. Dulu, sebelum masa jabatan
peratin yang sekarang (2000-2005) kegiatan-
kegiatan seni budaya seperti pencak silat masih
digalakkan. Tetapi sejak masa jabatan peratin
yang sekarang, kegiatan-kegiatan tersebut
berhenti karena kurang ada dorongan dari
peratin.
c. Terpecahnya Masyarakat dalam Golongan-
Golongan
Sampai saat penulis menyelesaikan penelitian
di lapang, terdapat tiga kelompok kepentingan
yang terbaca di Pekon Pahmungan. Yaitu dari
pihak pemerintahan, karang taruna dan
kelompok radio komunitas. Di samping itu, di
Pekon Pahmungan juga terdapat para tetua adat
sebagai pemimpin informal yang memiliki
pengikut masing-masing.
d. Suasana Politik di Krui
Suasana politik Krui pada masa penelitian
Maret-Juni 2005 sempat memanas. Suasana
yang memanas ini disebabkan oleh adanya
pihak-pihak di Pesisir Tengah Krui yang ingin
mendirikan kabupaten baru, Kabupaten Pesisir

Tengah Krui terpisah dari Kabupaten Lampung
Barat.
Informasi terakhir yang didapat penulis saat
kembali ke sana pada tanggal 22 November
2005, aktifitas pelepasan diri dari Kabupaten
Lampung Barat ini sudah tidak lagi berkobar.
Faktor-faktor tersebut bukanlah sebuah angka mati dalam proses
pemberdayaan. Faktor-faktor tersebut merupakan karakteristik awal yang dalam
prosesnya dapat dikembangkan oleh para pihak sehingga mampu menjadikan
masyarakat lebih berdaya.
BAB V
KAPASITAS MASYARAKAT UNTUK TERLIBAT
DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA

Penelitian ini melihat kapasitas masyarakat Pekon
39
Pahmungan untuk
terlibat dalam pengembangan ekowisata berbasis komunitas. Sesuai dengan yang
tercantum dalam Guidelines for Community-based Ecotourism Development
(WWF International, 2001) aspek dari kapasitas komunitas untuk terlibat dalam
pengembangan ekowisata, adalah:
g. Kemampuan menjadi tuan rumah penginapan.
h. Keterampilan dasar bahasa Inggris.
i. Keterampilan komputer
j. Keterampilan pengelolaan keuangan
k. Keterampilan pemasaran
l. Keterbukaan terhadap pengunjung.
Selain aspek-aspek kapasitas yang dinyatakan oleh WWF International
tersebut, penulis melihat aspek lain dari kapasitas masyarakat yaitu nilai-nilai
dalam masyarakat.
Kapasitas masyarakat ini menggambarkan kemampuan dan kemauan
masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan dan pengelolaan ekowisata
berbasis komunitas di Pekon Pahmungan. Dalam penelitian ini, peneliti melihat

39
Pekon adalah istilah lokal dalam bahasa Lampung untuk menyebut desa.

kapasitas bukan hanya berdasarkan dengan kondisi faktual masyarakat yang ada
saat ini, tetapi juga potensi-potensi yang mereka miliki saat ini, termasuk
pemahaman dan pemaknaan mereka terhadap potensi diri dan fisik yang ada di
lingkungan mereka
40
. Potensi-potensi tersebut memiliki kemungkinan besar untuk
terus berkembang dan mengembangkan masyarakat menjadi lebih baik.
5.1 Kemampuan Menjadi Tuan Rumah Penginapan
Penduduk Pekon Pahmungan sejak dahulu
41
memang sudah sering
menerima pengunjung, baik dari luar pekon maupun dari dalam pekon. Dikatakan
sering karena dalam konteks tamu yang berupa pedagang, setiap minggu
pedagang-pedagang tersebut menumpang menginap di rumah penduduk di Pekon
Pahmungan. Biasanya pengunjung dari dalam pekon adalah orang-orang yang
tinggal di repong
42
yang turun saat ada hari-hari pasar. Sebelum tahun 1990, saat
jalan yang menghubungkan Pekon Pahmungan dengan Pasar Krui belum diaspal,
ada hari tertentu dalam seminggu yaitu hari Kamis yang menjadi hari pasar. Jarak
Pekon Pahmungan dengan Pasar Krui kurang lebih 5 km. Setelah jalan yang
menghubungkan Pekon Pahmungan dan Pasar Krui diaspal, waktu tempuh yang
dibutuhkan kurang lebih sekitar 10 menit dengan menggunakan sepeda motor.
Saat hari pasar tersebut orang-orang dari dalam repong turun dan melakukan
transaksi jual beli di Dusun 2. Walaupun tempat melakukan transaksi jual beli
adalah di Dusun 2, tetapi para pedagang yang datang dan menumpang menginap
menyebar di ketiga dusun di Pekon Pahmungan.
Selain orang-orang dari Pekon Pahmungan sendiri, ada juga orang dari luar
pekon yang ikut berjualan di sana. Orang yang dimaksud dari luar pekon adalah

40
Hal ini sesuai dengan metode kualitatif yang dipilih oleh penulis, yang mana istilah kualitatif
menunjuk kepada suatu penekanan pada proses-proses dan makna-makna yang tidak diuji atau
diukur secara ketat dari segi kuantitas, jumlah, intensitas, ataupun frekuensi. Peneliti-peneliti
kualitatif memberi penekanan pada sifat bentukan sosial realitas, hubungan akrab antara peneliti
dan apa yang dikajinya, dan kendala-kendala situasional yang menyertai penelitian, para peneliti
memberi penekanan pada sifat sarat nilai dari penelitian. Mereka mencari jawaban atas pertanyaan
yang menekankan bagaimana pengalaman sosial dibentuk dan diberi makna. (Sitorus, 1998)
41
Dahul u seperti diutarakan para informan, ketika penulis menanyakan kira -kira mulai tahun
berapa, salah satu informan yang berumur sekitar 65 tahun menjawab aduh tahun berapa kurang
tahu ya Mbak, yang jelas sudah turun temurun, saat saya masih segede dia juga sudah ada.
Katanya sambil menunjuk cucunya yang berumur 6 tahun.
42
Repong adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk kebun. Alasan penduduk lebih
memilih untuk menggunakan istilah repong adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis
tanaman, tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman saja.

berasal dari sekitar Pekon Pahmungan, yaitu dari Pekon Sukanegara, Pekon Ulu
Krui, Pekon Fajar Bulan, dan Pekon Gunung Kemala. Pekon Sukanegara adalah
pekon yang berbatasan langsung dengan Pekon Pahmungan sebelah barat. Pekon
Ulu Krui terletak setelah Pekon Sukanegara. Pekon ini terletak di antara Pekon
Sukanegara dan Pekon Gunung Kemala. Pekon Fajar Bulan terletak di sebelah
utara Pekon Pahmungan, dipisahkan oleh Way Ngison. Pekon Gunung Kemala
adalah pekon terjauh dari Pekon Pahmungan, yaitu terletak setelah Pekon Ulu
Krui. Saat ini Pekon Gunung Kemala dapat dicapai dari Pekon Pahmungan dalam
waktu 20 30 menit dengan menggunakan sepeda motor. Saat itu mereka
mendatangi Pekon Pahmungan dengan berjalan kaki dengan menggendong barang
yang akan mereka jual, menggunakan gerobak yang ditarik kerbau, atau ada
beberapa yang menggunakan sepeda. Pemilihan alat transportasi atau untuk
berjalan kaki bukan berdasarkan jauhnya jarak yang harus mereka tempuh, tetapi
disesuaikan dengan fasilitas yang mereka miliki.
Orang-orang dari dalam repong atau dari luar pekon tersebut biasanya
datang sore hari dan menginap di rumah penduduk Pekon Pahmungan di wilayah
pemukiman, sehingga paginya dapat langsung berjualan. Sebagian penduduk
Pekon Pahmungan yang tinggal di dalam repong memang memiliki rumah di
wilayah pemukiman dan anjung di dalam repong adalah rumah kedua mereka.
Namun, sebagian lagi memang tinggal di dalam repong dan tidak memiliki rumah
di wilayah pemukiman. Biasanya orang-orang yang tidak memiliki rumah di
wilayah pemukiman adalah penduduk pendatang dan tinggal di dalam repong
yang jauh dari wilayah pemukiman. Penduduk yang bukan penduduk pendatang
masih memiliki rumah orang tua mereka di pemukiman saat mereka turun
43
ke
kampung. Pemilihan tempat rumah untuk menginap ini mungkin berdasarkan
hubungan saudara, maupun asal daerah dengan tuan rumah, tetapi ada pula yang
belum saling mengenal sebelumnya.
Orang yang datang ke Pekon Pahmungan biasanya datang secara
berkelompok sebanyak dua sampai lima orang. Satu rombongan menginap di satu
rumah bersama-sama. Orang-orang tersebut biasanya hanya sekedar menginap

43
Dikatakan turun karena wilayah repong terletak daerah berlereng yang lebih tinggi daripada
wilayah pemukiman

dan tidak membayar. Pemilik rumah biasanya memberi mereka air minum dan
makanan sekedarnya, yaitu nasi dan sayur sesuai yang dimasak oleh tuan rumah.
Tidak ada tarif tertentu yang harus dibayar oleh orang yang menginap, namun
biasanya mereka memberi buah-buahan dan atau sayur-sayuran. Jumlah sayur dan
atau buah yang diberikan biasanya cukup untuk makan sehari seluruh anggota
keluarga yang berjumlah lima orang, sekitar dua sampai empat ikat sayur
(kangkung, bayam, sawi atau yang lain sesuai dengan sayur yang dibawa) atau
setengah sampai satu plastik buah (rambutan, duku, atau yang lain sesuai
musimnya). Hubungan itu tidak dianggap sebagai hubungan usaha oleh tuan
rumah, tetapi sebagai hubungan persaudaraan. Dalam beberapa kasus, hubungan
darah dengan tuan rumah memang sudah dimiliki oleh sebagian pengunjung,
namun pada sebagian pengunjung yang lain walaupun pada awalnya pengunjung
dan tuan rumah tidak saling mengenal, setelah proses menginap ini berjalan
hubungan mereka menjadi dekat. Hal ini ditunjukkan dengan kedatangan orang
yang biasa menginap jika tuan rumah melaksanakan hajatan walaupun berbeda
pekon dan tidak saling mengenal sebelumnya. Hubungan persaudaraan tersebut
dinyatakan oleh An sebagai berikut:
Ya kita orang sudah seperti saudara jadinya sama yang numpang minep
(menginap-penulis) itu. Padahal kita tidak ada hubungan darah sama sekali. Kalau
mereka datang ke sini ya pasti minepnya di rumah saya. Kita masih dikabari kalau
ada yang meninggal atau ada hajatan. Buktinya kemarin pas hajatan pak Tp ada
orang dari Penengahan datang kan? Itu ya dulu yang numpang minep di rumahnya.
Padahal kan sudah lama juga mereka tidak ke sini, tapi ya tahu juga. Wawancara
30 Mei 2005
Sejak tahun 1990 jalan sudah diaspal sehingga penduduk Pekon Pahmungan
tidak lagi melakukan transaksi jual beli di pasar Pekon Pahmungan yang hanya
ada sekali setiap minggu tersebut, tetapi penduduk langsung pergi ke Pasar Krui
dengan angkutan umum atau sepeda motor yang hanya membutuhkan waktu 10
sampai 15 menit. Sejak itu, pasar hari Kamis di Pekon Pahmungan menjadi sepi,
dan pedagang yang masih berjualan tinggal sekitar lima sampai sepuluh orang
yang merupakan penduduk asli Pekon Pahmungan.
Saat ini pengunjung banyak datang dari luar pekon pada saat musim panen
buah duku, pada awal tahun, bulan Januari, Februari dan Maret dan musim panen
buah durian pada akhir tahun, bulan November dan Desember. Pengunjung yang

datang adalah pembeli buah dalam jumlah besar untuk dijual kembali sehingga
mereka membawa kendaraan berupa pick up atau truk, atau pengunjung yang
hanya ingin membeli dalam jumlah kecil untuk konsumsi pribadi dan membawa
mobil pribadi atau bahkan motor. penduduk Pahmungan menyatakan bahwa jika
musim panen duku atau durian, suasana di atas repong jauh lebih ramai daripada
di kampung, seperti suasana Lebaran. Suasana yang ramai, selain oleh para
penjual buah yang membeli buah dari petani, juga oleh pengunjung biasa yang
sekedar mencari buah untk dimakan langsung. Hal ini disebabkan oleh adanya
kesepakatan tidak tertulis bahwa jika buah pada pohon di dalam repong sudah
matang, maka orang lain yang bukan pemilik boleh mengambilnya untuk
dikonsumsi sendiri setelah meminta izin kepada pemiliknya. Pemilik pohon tidak
akan menolak karena akan merasa sungkan, tetapi jika diketahui orang yang
meminta buah tersebut bertujuan untuk menjual lagi buahnya, pemilik berhak
untuk menolak permintaannya. Dari kondisi ini terlontar ide dari penduduk bahwa
pengembangan wisata dapat dimulai dengan menggunakan momen panen buah
tersebut. Hal ini sesuai dengan diutarakan oleh Mn (38 tahun):
Saya dan teman-teman di sini sempat berfikir. Kalau pada saat panen buah yang
orang-orang datang dari luar pekon itu ramai banget, kita membuat tiket yang harus
dibayar saat mereka masuk repong. Lumayan juga mungkin ya Mbak, setidaknya
bisa untuk biaya perawatan jalan. Wawancara 13 Maret 2005

Saat ini memang sudah terdapat sebuah jalan yang walaupun masih terbuat
dari batu-batu yang ditanam ke tanah
44
, tetapi sudah dapat dilewati sepeda motor.
Para pengunjung yang membeli buah untuk dijual kembali biasanya
membutuhkan waktu satu sampai tiga hari untuk memenuhi truk mereka. Jika
mereka tinggal lebih dari satu hari di Pekon Pahmungan, maka mereka harus
menginap di sana. Selain menginap di anjung-anjung
45
yang ada di dalam repong,
mereka biasa datang dan menginap di rumah-rumah penduduk. Dasar pemilihan
untuk tinggal di anjung adalah untuk menunggu pohon-pohon buah yang sudah

44
Jalan ini dibuat oleh masyarakat secara swadaya. Penduduk yang merintis jalan ini adalah
penduduk yang memiliki repong jauh dari wilayah pemukiman, sekitar dua tiga jam berjalan
kaki. Setelah jalan selesai dibuat, dia dapat menghemat tenaga dan waktunya. Dengan
menggunakan sepeda motor dari pemukiman sejauh jalan yang dibuat, disambung dengan berjalan
kaki sampai ke anjungnya, dia membutuhkan waktu 30 45 menit.
45
Anjung adalah istilah untuk menyebut tempat tinggal sementara penduduk di dalam repong.
Anjung dibuat dari kayu, bukan berupa bangunan permanen.

mereka bayar karena ada kekhawatiran bahwa buahnya akan dicuri orang lain.
Biasanya hal ini berlaku untuk repong-repong yang cukup jauh dari pemukiman.
jika pohon buah terletak di pinggir repong yang dekat dengan pemukiman,
biasanya pembeli memilih menginap di rumah penduduk. Penduduk Pekon
Pahmungan menyatakan hal ini memang sudah berlangsung dari tahun ke tahun
sehingga mereka sudah terbiasa.
Di Pekon Pahmungan sudah ada rumah-rumah tertentu yang dijadikan
tujuan para pembeli buah ini. Rumah-rumah ini dipilih bukan karena kelengkapan
fasilitas rumah, tetapi karena rumah cukup luas
46
dan tuan rumah bersedia
menampung
47
. Tuan rumah tidak mengadakan persiapan khusus untuk para
pengunjung ini. Mereka tidur di lantai yang beralaskan tikar dan makan sesuai
yang dimasak tuan rumah. Untuk penginapan ini tuan rumah tidak
memberlakukan tarif khusus. Pengunjung membayar untuk makanan yang mereka
makan tanpa menghitung biaya penginapan, selain itu mereka biasa memberi
buah-buahan yang mereka panen pada tuan rumah.
Di samping para pengunjung pada musim panen buah ini, para mahasiswa
dari Bandar Lampung juga secara rutin datang ke Pekon Pahmungan setiap tahun
untuk melaksanakan praktikum atau Kuliah Kerja Nyata dan mereka biasa
menginap di rumah penduduk tanpa membayar. Penduduk tetap menerima mereka
dengan baik. Menurut informan yang rumahnya dipakai untuk menginap,
penduduk menerima para mahasiswa tersebut tanpa mengharapkan balasan dunia
akan tetapi mengharap pahala untuk akhirat. Hal ini dinyatakan Jr:
Kalau kita orang mengharapkan uang, ya tidak ada yang mau nerima mahasiswa-
mahasiswa itulah. Tapi kita kan juga ingat kita punya anak yang jauh. Mungkin
kalau kita berbuat amal di sini, anak kita juga akan ditolong orang. Itung-itung kan
buat keuntungan akhirat Mbak, hidup kan tidak Cuma sekarang saja tapi juga ada
nanti. Wawancara 18 Mei 2005
Konteks penginapan untuk para pengunjung yang berupa pedagang dan
mahasiswa ini memang berbeda dengan konteks penginapan dalam
pengembangan ekowisata, di sini penulis ingin menggambarkan sifat-sifat

46
Luas rumah di Pekon Pahmungan tidak identik dengan tingkat ekonomi pemilik rumah. Ciri
fisik yang membedakan kondisi rumah penduduk kaya dan miskin adalah fasilitas yang terdapat di
dalamnya (ada tidaknya kamar mandi dan peralatan rumah tangga seperti lemari es, telepon, mesin
cuci, televisi, radio, setrika, kompor, dll)
47
Kebersediaan menampung ini terkait erat dengan sikap keterbukaan penduduk.

penduduk Pekon Pahmungan dalam proses penerimaan pengunjung. Sifat-sifat
keterbukaan, yang mana tanpanya maka pengunjung yang datang tidak akan bisa
menginap di rumah penduduk Pekon Pahmungan. Kebiasaan menumpang
menginap ini menunjukkan sikap keterbukaan dan penerimaan penduduk Pekon
Pahmungan kepada orang yang bahkan belum mereka kenal.
Pekon Pahmungan merupakan salah satu tempat tujuan studi banding
pengelolaan damar, baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah,
akademisi atau LSM. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Pd (55 tahun), seorang
pemuka adat Pekon Pahmungan:
Di sini memang tamu-tamu sudah sering datang Mbak. Masyarakat di sini juga
sudah tidak kaget lagi kalau melihat ada orang luar yang berjalan-jalan di
perkampungan. Mungkin kalau belum terbiasa masyarakat akan ada kaget atau
malah takut kalau ada orang luar yang datang dan menginap di pekonnya.
Contohnya ya kemarin itu mbak lihat sendiri ada bule yang datang, mbak juga ikut
mandu kan kemarin? Bulan kemarin saya juga sempat mengurus mahasiswa dari
Lampung yang mau neliti hutan itu, ada 80 orang. Mbak sempat ketemu tidak?.
Wawancara 5 Juni 2005
Tempat lain sebagai tujuan studi tentang repong damar adalah Pekon
Gunung Kemala, Pekon Melaya, Pekon Penengahan dan pekon-pekon lain di
Pesisir Tengah Krui. Pekon yang paling sering menjadi tujuan adalah Pekon
Pahmungan dan Gunung Kemala. Hal ini mungkin karena lokasi mereka yang
lebih strategis dan dekat dengan pusat kecamatan dari pekon-pekon lain dan
terdapatnya person kontak yang lebih mempermudah proses studi banding. Person
kontak tersebut telah direkomendasikan dari mulut ke mulut antar pihak yang akan
mengunjungi Krui. Fungsi person kontak adalah sebagai tempat tujuan pertama
saat pengunjung datang ke Pekon Pahmungan. Biasanya jika pengunjung berasal
dari kalangan LSM dan peneliti yang menjadi bagian dari jejaring LSM, maka
person kontak akan berasal dari penduduk yang memiliki hubungan erat dan atau
menjabat menjadi pengurus PMPRD (Persatuan Masyarakat Petani Repong
iDamar). Pengunjung lain yang mungkin berasal dari kalangan pemerintahan dan
akademisi dari universitas-universitas di Lampung akan memiliki person kontak
dari kalangan pemerintahan desa atau Dinas Kehutanan.
Pemilihan tuan rumah untuk menjadi tempat menginap para pengunjung
biasanya didasarkan atas rekomendasi person kontak dengan pertimbangan
kondisi rumah dan sikap tuan rumah. Kondisi rumah yang paling sering dijadikan

dasar pertimbangan adalah ada tidaknya kamar mandi di rumah tersebut. Hal ini
penting karena tidak semua penduduk Pekon Pahmungan memiliki kamar mandi.
Pertimbangan harus adanya fasilitas kamar mandi adalah karena fasilitas tersebut
sangat vital bagi pengunjung. Hampir semua pengunjung
48
, membutuhkan
fasilitas kamar mandi di rumah yang mereka tinggali. Mereka akan lebih memilih
tinggal di penginapan di daerah Pasar Krui yang relatif jauh dari Pekon
Pahmungan dan harus menggunakan transportasi lagi untuk sampai ke Pekon
Pahmungan daripada tinggal di Pekon Pahmungan dan dekat dengan tempat studi
banding mereka tetapi tanpa ada fasilitas kamar mandi.
Menurut informan, tidak memiliki fasilitas kamar mandi bukan karena
ketidakmampuan masyarakat untuk membangun kamar mandi tetapi lebih pada
budaya untuk melakukan kegiatan MCK (mandi, cuci, kakus) di sungai. Sering
ditemui penduduk yang sudah memiliki kamar mandi di rumahnya, tetapi lebih
memilih untuk mencuci dan mandi di sungai. Kegiatan MCK bersama-sama sudah
menjadi ajang untuk saling bercengkerama. Hal ini sering dikeluhkan oleh
pengunjung dan juga oleh beberapa penduduk Pekon Pahmungan sendiri yang
memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan (biasanya mereka berasal dari
kalangan pejabat desa atau penduduk dengan latar belakang pendidikan cukup
tinggi, sampai ke perguruan tinggi).
Seorang pengunjung dari luar negeri bahkan ada yang melontarkan pendapat
bahwa apa yang penduduk lakukan (MCK di sungai) adalah sangat menjijikkan.
Menurut mereka, hal pertama yang harus dilakukan jika benar akan
dikembangkan ekowisata adalah penyadaran kepada penduduk terlebih dahulu
akan pentingnya kebersihan lingkungan. Pendapat lain menyatakan bahwa jika
ekowisata memang benar-benar sudah berkembang maka penduduk secara
otomatis akan malu untuk melakukan kegiatan MCK di tempat terbuka di mana
orang berlalu lalang, seperti di sungai.

48
Pengunjung yang mungkin tidak terlalu mempermasalahkan ada tidaknya fasilitas kamar mandi
biasanya berasal dari kalangan petani damar dari pekon lain. Mereka biasa datang untuk belajar
teknik pembibitan, penanaman dan pengelolaan damar di Pekon Pahmungan dengan fasilitasi dari
organisasi pemerintah, non pemerintah (LSM) atau swadaya.

Sikap tuan rumah yang dijadikan dasar pertimbangan adalah keterbukaan
dan keramahan terhadap pengunjung. Hal ini juga dapat dilihat dari pengalaman
organisasi tuan rumah. Pengalaman organisasi biasanya membentuk sikap
keterbukaan dan lebih mudah menerima orang baru dan bertukar pendapat tentang
ide-ide baru mereka. Hal ini dimungkinkan karena selama berorganisasi mereka
biasa berdiskusi dan bertukar ide atau informasi untuk memperoleh pemecahan
bersama atas masalah organisasi yang mereka hadapi. Sikap ini mungkin kurang
ditemui di penduduk yang kurang aktif di organisasi. Organisasi yang dimaksud
adalah semua organisasi masyarakat, dari yang berskala kecil dalam lingkup
pekon (radio komunitas, perkumpulan bapak-bapak dalam kesenian bedikar
49
,
perkumpulan bapak-bapak dalam perawatan mata air, organisasi pemekonan)
sampai yang berskala lebih besar yang melibatkan penduduk di luar pekon
(PMPRD).
Hasil wawancara dan observasi saat penulis menjadi panitia untuk mencari
rumah penginapan bagi peserta pelatihan
50
menunjukkan bahwa biasanya alasan
masyarakat menolak untuk menjadikan rumahnya tempat penginapan adalah;
belum terdapat kamar mandi rumahnya, istrinya tidak sempat memasak untuk
pengunjung, tidak ada kamar kosong di rumahnya dan sedang repot sehingga
khawatir tidak akan mampu mengurus tamu dengan baik. Mengurus tamu yang
dimaksud adalah menyiapkan makan mereka, membersihkan dan merapikan
rumah, dan menyediakan waktu untuk bercakap-cakap dengan para tamu tersebut.
Di kalangan penduduk Pekon Pahmungan memang terdapat sebagian
penduduk yang memiliki keinginan besar untuk menerima pengunjung di
rumahnya, dan ada sebagian penduduk yang memang tidak mau repot dengan
kedatangan pengunjung di rumahnya. Selama ini memang intensitas kedatangan
pengunjung belum terlalu terasa bagi penduduk di luar para person kontak. Ada
hal penting menarik yang perlu dicatat, yaitu saat penulis mencari tuan rumah
yang mau menerima pengunjung dari kalangan petani tersebut tanpa menyebutkan

49
Bedikar adalah kesenian tradisional Lampung yang berpa sekumpulan bapak-bapak melagukan
ayat-ayat Al Quran dengan menabuh rebana sebgai musik untuk mengiringi.
50
Pelatihan jaringan bagi para petani yang diselenggarakan oleh PMPRD dan LATIN selama tiga
hari dua malam pada Bulan April. Peserta yang diundang untuk mengikuti acara ini 24 petani,
tetapi yang hadir hanya 16 orang.

bahwa akan ada pembayaran khusus untuk itu, ada beberapa tuan rumah yang
menolak dengan berbagai alasan, seperti rumah sedang repot dan kamar kosong
sudah tidak terurus. Namun, saat peneliti menyatakan bahwa akan ada anggaran
tertentu untuk membayar biaya penginapan dan biaya makan peserta selama
menginap, ada yang langsung berubah pikiran dan tidak malu-malu untuk
menawarkan diri meskipun pada awalnya menolak.
Penulis menentukan rumah yang akan diinapi setelah berdiskusi dengan
seorang person kontak dari PMPRD dan seorang person kontak dari pejabat
pemerintah pekon. Hal utama yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan rumah
adalah ada tidaknya fasilitas kamar mandi di rumah yang akan diinapi. Rumah
yang dipilih ada tujuh rumah. Satu rumah paling besar untuk tempat tinggal
semua panitia, dan enam rumah yang lain untuk para peserta, sesuai jumlah
peserta yang diundang sebanyak 24 orang maka masing-masing rumah mendapat
empat pengunjung, ketika akhirnya tidak semua peserta datang menghadiri acara
pelatihan maka masing-masing rumah mendapat dua sampai tiga peserta. Peneliti
mendatangi rumah-rumah tersebut satu demi satu dan langsung berbicara kepada
tuan rumah, bapak jika ada atau ibu jika bapak tidak ada. Pengambilan keputusan
biasanya dilakukan bersama oleh suami dan istri dalam sebagian besar rumah
tangga, walaupun peran suami tetap lebih dominan. Tetapi pada beberapa rumah
tangga, terlihat suami sangat dominan dan tidak membutuhkan pertimbangan istri
dalam mengambil keputusan.
Setelah pelatihan selesai dilaksanakan, hasil wawancara penulis dengan para
petani yang menginap di rumah para penduduk menunjukkan bahwa mereka
cukup puas dengan pelayanan yang diberikan oleh para tuan rumah. Menurut
mereka dari segi kondisi rumah memang ada beberapa kekurangan karena
masalah air dan nyamuk, namun untuk pelayanan tuan rumah mereka sudah cukup
puas, makanan cukup enak dan tuan rumah ramah. Bahkan ada beberapa petani
yang menyatakan bahwa makanan yang disediakan agak berlebihan bagi mereka.
Para petani menyarankan kepada panitia agar memberitahu kepada tuan rumah
untuk tidak terlalu repot-repot dalam menyediakan makanan yang terlalu
berlebihan bagi mereka.

Selain para petani yang datang untuk pelatihan dan untuk belajar,
pengunjung dari luar juga berasal dari kalangan akademisi, peneliti dan LSM.
Menurut para pengunjung yang berasal dari kalangan peneliti, baik peneliti dari
dalam dan luar negeri, pelayanan para tuan rumah sudah cukup baik. Dalam hal
ini ada sedikit perbedaan pelayanan yang harus diberikan kepada pengunjung luar
dan dalam negeri
51
. Pengunjung dari dalam negeri biasanya lebih menyukai jika
tuan rumah mengajak mereka bercengkerama dan bercakap-cakap, dengan begitu
pengunjung merasa lebih dihargai dan menganggap tuan rumah adalah orang yang
ramah dan terbuka. Sedangkan bagi peneliti asing, mereka lebih suka jika tuan
rumah menghargai privasi mereka. Mereka akan mengajak tuan rumah berdiskusi
jika mereka memang membutuhkannya. Saran pengunjung yang lain adalah
peningkatan pengetahuan tuan rumah. Pengetahuan yang dimaksud adalah
pengetahuan yang terkait dengan kondisi repong damar dan hubungan masyarakat
dnegan repongnya di Pekon Pahmungan khususnya, dan Pesisir Krui pada
umumnya. Tuan rumah yang memiliki pengetahuan lebih akan menjadikan
pengunjung lebih mudah dalam mendapatkan informasi. Hal ini merupakan nilai
tambah yang sangat penting bagi para pengunjung.
5.2 Keterampilan Dasar Berbahasa Inggris
52

Dari hasil wawancara dan observasi penulis, terdapat dua penduduk Pekon
Pahmungan yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang cukup baik.
Mereka mampu menggunakan bahasa Inggris secara pasif dan aktif, terlihat saat
bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris sewaktu penulis berbicara dengan
mereka. Hal ini terutama karena pendidikan formal mereka dan latar belakang
pekerjaan mereka. Mereka berdua pernah bekerja di luar negeri sebagai awak
kapal pariwisata dan kapal barang. Keberadaan mereka dapat menjadi modal awal
yang baik untuk menjadi penerjemah dan pemandu bagi pengunjung yang datang
dari luar negeri dan tidak mampu berbahasa Indonesia.

51
Hasil wawancara dan observasi dengan peneliti Center for International Forestry Research
(CIFOR), penggiat LSM, Pegawai Pemerintah Kabupaten dari Liwa secara terpisah.
52
Dalam kenyataan di lapangan memang tidak semua pengunjung luar negeri berbahasa Inggris,
tetapi pada umumnya dari negara manapun mereka berasal, mereka mampu berbahasa Inggris
dengan baik. Lagipula, belajar bahasa asing lain akan agak terlalu menyulitkan penduduk yang
bahkan belum mampu berbahasa Inggris. Bahasa Inggris akan menjadi awal yang baik dalam
belajar bahasa asing, karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional dunia.

Seorang dari mereka pernah dengan terus terang meminta penulis untuk
menginapkan pengunjung dari luar negeri di rumahnya. Dia menyatakan ingin
mengingat dan mengasah kembali keterampilan berbahasa Inggris yang sudah
tidak pernah digunakannya lagi setelah dia keluar dari pekerjaannya sebagai awak
kapal. Hal ini menunjukkan ketertarikannya kepada pengunjung dari luar negeri,
tetapi karena dia kurang memiliki akses kepada person kontak maka ia tidak dapat
menjadi bagian dari tim pemandu atau penerjemah. Padahal jika penerjemah
adalah penduduk asli Pekon Pahmungan sendiri maka pengunjung dari luar negeri
akan mendapatkan nilai tambah yang penting dan akan mempercepat proses
pencarian datanya.
Selama ini, pengunjung dari luar membawa penerjemah yang berasal ibu
kota Kabupaten di Liwa atau dari kawasan pasar yang pada umumnya bukan
penduduk asli Lampung sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan tentang
pengelolaan repong damar seperti yang dimiliki penduduk asli pada umumnya.
Penerjemah yang bukan penduduk asli tersebut menjadikannya tidak mungkin
menjadi pemandu, posisinya adalah sebatas sebagai penerjemah. Sehingga saat
pengunjung yang belum mampu berbahasa Indonesia tersebut pergi ke dalam
repong dan membutuhkan informasi tentang hal-hal yang ditemuinya, dia
setidaknya membutuhkan dua orang untuk menemaninya, seorang sebagai
pemandu dan seorang sebagai penerjemah. Dari segi jumlah tenaga kerja, hal ini
memang menjadikan lebih banyak orang yang mendapatkan keuntungan dengan
kedatangan satu pengunjung. Namun, hal ini kurang menguntungkan bagi
masyarakat Pekon Pahmungan karena mereka tidak mendapatkan manfaat secara
optimal dari proses pemanduan yang mereka lakukan.
Selain kedua penduduk yang sudah mampu berbahasa Inggris karena latar
belakang pekerjaannya tersebut, terdapat para remaja yang potensial dan memiliki
keinginan yang kuat untuk belajar bahasa Inggris. Para remaja ini pernah meminta
penulis secara langsung untuk mengajari mereka keterampilan bahasa Inggris.
Para remaja yang dimaksud adalah para pengurus radio yang berjumlah 13 orang

pada awal berdirinya bulan Juli 2004
53
. Walaupun sampai setelah penulis kembali
ke Bogor pelatihan secara formal belum sempat dilaksanakan, tetapi secara
informal saat sedang bercengkerama atau sedang siaran bersama-sama para
pengurus radio komunitas tersebut mencoba berbahasa Inggris dan meminta
penulis untuk membenarkan kata-kata mereka. Hal ini menunjukkan keantusiasan
mereka dalam belajar keterampilan bahasa Inggris tersebut.
Alasan keantusiasan tersebut menurut mereka adalah karena sudah cukup
banyak pengunjung dari luar negeri yang datang ke Pekon Pahmungan, tetapi
setiap kali itu pula mereka harus membawa penerjemah dari luar Pekon
Pahmungan karena dari kalangan remaja yang biasa memandu pengunjung
tersebut tidak ada yang mampu berbahasa Inggris sedikitpun. Menurut pihak
Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) yang mendampingi wilayah Krui,
kedatangan peneliti asing dalam cakupan jejaring mereka datang ke Pekon
Pahmungan dapat dikatakan minimal tiga kali dalam satu tahun. Hal ini sudah
terjadi sejak tahun 1990-an. Para peneliti tersebut pada umumnya tinggal di Pekon
Pahmungan selama satu minggu sampai tiga bulan untuk melakukan studi mereka.
Hal menarik yang mungkin dapat dilakukan setelah melihat potensi yang
ada di Pekon Pahmungan tersebut adalah mengadakan pelatihan secara
berkelanjutan dengan pengajar berasal dari kalangan penduduk sendiri. Radio
komunitas yang melakukan siaran dalam lingkup lokal juga dapat dimanfaatkan
untuk melakukan penyiaran-penyiaran pengajaran bahasa Inggris.
5.3 Keterampilan Pengoperasian Komputer
Keterampilan dalam pengoperasian komputer terutama dimiliki oleh
beberapa generasi muda. Mereka memiliki kemampuan ini karena di sekolah
mereka diajarkan keterampilan mengoperasikan program-program dasar komputer
seperti microsoft word dan excel sebagai bagian dari kurikulum. Sejauh ini
keterampilan ini belum digunakan di Pekon Pahmungan sehingga sebagian besar
dari anak-anak muda ini segera melupakan keterampilan tersebut saat sudah tidak
diajarkan lagi di sekolah. Di Pekon Pahmungan terdapat satu orang penduduk

53
Jumlah ini terus mengalami penurunan karena para pengurus mengalami kejenuhan dan tidak
ada regenerasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Saat penulis mengunjungi radio komunitas ini
terakhir kali pada 23 November 2005, jumlah pengurusnya tinggal tiga orang.

yang memiliki fasilitas komputer. Beliau biasa menerima jasa untuk pengetikan
hasil-hasil rapat pekon dengan harga tertentu
54
.
Keterampilan pengoperasian komputer penting dalam pengembangan
ekowisata karena hal ini terkait erat dengan administrasi, pembuatan pamflet,
proposal, laporan, pengumuman atau hal-hal lain yang harus disebarkan kepada
pengunjung. Penggunaan komputer akan lebih memudahkan proses ini
dibandingkan jika harus ditulis dengan tangan. Selain itu, terdapat trend di
kalangan masyarakat di Pekon Pahmungan
55
, bahwa untuk setiap kegiatan yang
membutuhkan laporan atau pengumuman baik untuk kalangan luas (seluruh
pekon) atau terbatas (beberapa kepala keluarga) harus diketik dengan
menggunakan komputer. Walaupun mereka harus mengeluarkan dana ekstra
untuk mengetikkan laporan atau pengumuman tersebut ke rental komputer.
Penulis mulai menyadari trend ini saat penulis bersama-sama menjadi
panitia untuk acara 17 Agustusan di radio komunitas Suara Petani (semasa penulis
melakukan Kuliah Kerja Profesi dengan topik Pendampingan Radio
Komunitas). Pada waktu itu, setiap pengumuman yang dibuat harus diketik
dengan komputer, hal ini sudah seperti kesepakatan tidak tertulis, walaupun
mereka sendiri belum menguasai cara mengetik dengan komputer, dan tidak
memiliki fasilitas komputer. Memang di kalangan pejabat pemerintah Pekon
Pahmungan masih ada yang menggunakan mesin ketik. Hal ini dikarenakan
pejabat pemerintah desa tersebut pada umumnya sudah berasal dari generasi tua
(lebih dari 50 tahun) sehingga tidak terpengaruh dengan trend yang beredar.

54
Harga bervariasi sesuai dengan banyaknya naskah yang harus diketik. Menurut penduduk yang
pernah mengetikkan naskah di sana, harga berkisar antara Rp 1000,00 Rp 2000,00 perlembar.
Sewaktu penulis melakukan wawancara, cucu informan menyerahkan kartu pembayaran iuran
perawatan mata air yang berukuran kurang lebih 15 x 10 cm, terbuat dari karton manila dan terdiri
dari judul dan tabel-tabel. Master kartu tersebut dibuat dengan menggunakan komputer lalu setelah
itu difotokopi untuk memperbanyak. Penduduk Pekon Pahmungan yang mengetik dan
memfotokopi kartu adalah satu-satunya penduduk yang memiliki fasilitas komputer seperti yang
disebutkan sebelumnya. Harga yang harus dibayar penduduk untuk setiap kartu adalah Rp 500,00.
Harga fotokopi perlembar kertas berukuran A4 di Pasar Krui adalah Rp 100,00.
55
Trend ini juga melanda pekon-pekon lain di sekitar wilayah Pasar Krui.

Selain itu menurut mereka, memang tidak tersedia anggaran dana untuk
mengetikkan laporan ke tukang ketik di rental komputer
56
.
Pada masa Kuliah Kerja Profesi (KKP), penulis bersama dengan seorang
rekan mahasiswa pernah melakukan pelatihan penggunaan program komputer.
Program yang diajarkan pada awalnya adalah program yang digunakan untuk
menjalankan fungsi radio komunitas, pada perkembangannya, mereka meminta
penulis untuk mengajari cara menggunakan program microsoft word. Pelatihan ini
dilakukan setelah ada permintaan dari para pengurus radio yang menginginkan
mereka mampu menggunakan komputer sumbangan dari LATIN dan Persatuan
Masyarakat Petani Repong Damar (PMPRD).
Dari semua pengurus radio, hanya dua orang pengurus yang memiliki
kemampuan untuk menyerap pelajaran dengan cepat dan baik. Pengurus yang
paling cepat menyerap materi adalah dua orang yang masih duduk di bangku
SMU dan keduanya wanita. Pengurus radio yang lain sudah tidak duduk di
bangku sekolah, sebagian sekolah sampai lulus Sekolah Menengah Pertama
(SMP) dan sebagian lagi sampai Sekolah Menengah Umum (SMU). Sebagian
pengurus yang lain cenderung untuk terburu-buru dan tidak sabar dalam
menunggu komputer berproses. Sebenarnya untuk mengatasi hal ini sudah
dilakukan pembagian tugas, siapa yang boleh menggunakan komputer dan siapa
yang boleh menggunakan tape saja. Namun, karena keingintahuan dan
ketidaktahuan para pengurus, pengurus yang belum fasih
57
menggunakan
komputer tetap menggunakan komputer sehingga perangkat komputer tersebut
hanya bertahan selama satu bulan.
Saat komputer mengalami kerusakan untuk pertama kali pada dua minggu
pertama, komputer dapat diperbaiki oleh rekan Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM). Ketika komputer rusak kedua kali pada akhir bulan, komputer diperbaiki
oleh seorang pemilik rental di Pasar Krui. Saat rusak ketiga kali, mereka berdua
menyerah sehingga komputer tersebut akhirnya dibiarkan begitu saja. Dari hal-hal

56
Memang sudah dinyatakan kalau ada penduduk yang memiliki komputer dan sering menerima
pengetikan naskah dengan menggunakan komputer. Tetapi harga yang ditawarkan tidak terjangkau
oleh anggaran pekon.
57
Belum fasihnya pengurus dalam menggunakan komputer terlihat dari seringnya mereka
mematikan komputer dengan langsung menekan tombol di CPU.

tersebut terlihat rasa keingintahuan dan keinginan mereka yang besar untuk dapat
mempelajari program komputer. Terutama program-program yang mereka rasa
bersentuhan langsung dengan kehidupan mereka. Misalnya program microsoft
word yang mereka rasakan penting dalam pembuatan laporan atau pengumuman-
pengumuman dalam urusan radio komunitas atau kepemudaan (Karang Taruna
yang dalam bahasa Lampung disebut Perkumpulan Muli Meranai dengan arti
Perkumpulan Pemuda Pemudi).
Menurut penulis keterampilan pengoperasian komputer adalah hal yang
penting dalam pengembangan ekowisata. Namun, dibandingkan dengan
keterampilan-keterampilan yang lain, kebutuhan akan keterampilan ini relatif
dapat ditunda. Untuk kebutuhan pemasaran dan pengelolaan keuangan di awal
pengembangan ekowisata, masih dapat dilakukan secara manual dengan
menggunakan tulisan tangan, penduduk dapat diajak untuk memulai dengan
keterampilan yang mereka miliki. Hal ini dapat dilakukan selama dana untuk
pembelian perangkat komputer belum tersedia. Keterampilan mengetik dengan
menggunakan komputer memang dibutuhkan saat mereka mulai mengajukan
kerjasama dengan lembaga-lembaga lain di awal pengembangan ekowisata.
Namun hal ini masih dapat dilakukan dengan bantuan pendamping dan penduduk
yang memiliki fasilitas komputer.
5.4 Keterampilan Pengelolaan Keuangan
Sampai saat ini, pengelolaan keuangan yang kurang baik masih menjadi
musuh utama setiap organisasi yang berdiri di lingkungan Pekon Pahmungan.
Informan yang diwawancara penulis menyatakan bahwa semua organisasi yang
beridiri di lingkungan Pekon Pahmungan pasti akan hancur jika sudah mulai
berhubungan dengan keuangan. Organisasi yang dimaksud mulai dari organisasi-
organisasi yang didirikan atas inisiatif masyarakat sendiri seperti arisan-arisan;
sampai organisasi yang pendiriannya dibantu oleh pihak luar seperti Lembaga
Perekonomian Mikro (LPM) dan PKK. Hal ini menunjukkan masih lemahnya
keterampilan manajemen keuangan yang dimiliki oleh penduduk Pekon
Pahmungan.

Topik pembicaraan tentang hal keuangan organisasi selalu menjadi topik
yang menarik. Masyarakat sendiri sudah memiliki pandangan pesimis terhadap
keberlangsungan suatu organisasi jika yang memegang koordinasi keuangan
adalah penduduk asli sendiri. Menurut mereka jika akan didirikan organisasi
kemasyarakatan lagi, mereka lebih mempercayai jika yang menjadi koordinator
bidang keuangan bukan salah satu di antara mereka. Hal ini mereka ungkapkan
dengan alasan bahwa jika penanggungjawab bidang keuangan bukan penduduk
asli Pekon Pahmungan, mereka akan bersikap lebih profesional dan tidak mudah
ditekan oleh ketua yang mungkin tergoda untuk mendapat keuntungan demi
kepentingan pribadi. Pemilihan orang lain juga perlu dilakukan karena iklim
saling menyalahkan antar pengurus sangat kental terlihat di bidang ini.
Contoh nyata adalah saat LPM didirikan dan dikembangkan di Pekon
Pahmungan. LPM didirikan dengan tujuan untuk membantu penduduk agar lebih
mudah melakukan pengelolaan keuangan. LPM bergerak di bidang simpan pinjam
dan tabungan. Pada awalnya kegiatan LPM yang didampingi oleh LSM ini
berjalan dengan lancar, anggota
58
melaksanakan iuran tabungan dengan teratur.
Masalah mulai timbul saat ketua mengambil alih peran bendahara, atau
mengambil keputusan sendiri, padahal seharusnya keputusan diputuskan secara
bersama antara ketua dan bendahara. Misalnya keputusan untuk memberikan
pinjaman kepada anggota. Menurut informan, kadang pemberian pinjaman
tersebut bukan atas dasar aturan yang berlaku, tetapi berdasarkan hubungan
kekeluargaan dan kedekatan hubungan sebagai tetangga. Hal ini menimbulkan
kekecewaan di kalangan anggota yang lain. Organisasi mulai goyah ketika para
peminjam ternyata tidak konsekuen dalam mengembalikan pinjamannya
59
.

58
Tidak semua penduduk Pekon Pahmungan menjadi anggota LPM.
59
Pinjaman dikembalikan dengan cara diangsur tiap bulan. Peminjam yang tidak mengembalikan
tersebut ada yang pergi ke Jakarta, tidak kembali lagi dan tidak dapat dihubungi, dan ada yang
tetap tinggal* di Pekon Pahmungan namun tidak melakukan angsuran tiap bulan dengan berbagai
alasan. Biasanya alasan yang dikemukakan adalah sedang tidak ada uang dan akan mengangsur
kembali bulan depan.
* Contoh peminjam yang tetap tinggal di Pekon Pahmungan ini adalah seorang yang waktu LPM
berdiri adalah seorang tokoh PMPRD. Semasa menjabat di PMPRD, menurut pengurus PMPRD
lain dan pendamping dari LSM dia memang sering mendapat masalah dalam hal keuangan. Karena
hal ini, penduduk yang pernah terlibat dengannya baik di LPM maupun PMPRD sudah tidak lagi
mempercayainya. Namun, hal uniknya adalah masyarakat secara umum masih menerimanya
sebagai tokoh adat dan tokoh agama, misal dalam hal kegiatan masjid atau pernikahan. Apakah hal

Anggota lain yang merasa kecewa dan merasa tabungannya di dalam LPM
terancam segera mengambil kembali tabungan yang mereka iurkan setiap bulan
tersebut. Saat itu LPM bubar dan menyisakan ketidakpuasan di kalangan pengurus
dan anggotanya.
Ketidakpuasan ini seperti konflik yang terpendam, dalam kehidupan sehari-
hari hubungan antara mereka terlihat baik-baik saja, tapi di balik itu jika penulis
mengajak mereka berdiskusi secara personal maka mereka akan sangat
bersemangat untuk saling menyalahkan satu sama lain. Anggota menyalahkan
ketua karena mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan bendahara,
sedangkan menurut ketua, hal ini bukan salahnya karena dia merasa setiap kali
bendahara diajak berdiskusi untuk mengambil keputusan dia tidak pernah
menolak dan selalu setuju
60
. Selain itu mantan ketua LPM tersebut juga
menyalahkan anggota LPM karena mereka segera menarik semua tabungan
mereka saat LPM mulai goyah sehingga kerugian ditanggung oleh dia sendiri.
Contoh lain adalah di organisasi ibu-ibu seperti PKK. Menurut mantan
anggota PKK, organisasi tersebut tidak aktif lagi karena ketua melakukan korupsi.
Pernyataan ini didukung oleh suaminya yang saat dilakukan wawancara
mendampingi dan juga didukung oleh salah satu perangkat desa yang
diwawancarai secara terpisah. Hal ini dapat dilihat saat pelaksanaan perayaan 17
Agustus. PKK adalah organisasi yang mengurusi konsumsi kegiatan tersebut.
Menurutnya, dari pekon sudah terdapat anggaran untuk konsumsi kegiatan
tersebut, tetapi ketua masih meminta iuran dari setiap kepala rumah tangga untuk
konsumsi dengan alasan dana yang tersedia tidak mencukupi. Namun ketika
dilihat dari jenis dan jumlah makanan yang tersedia untuk kegiatan perayaan 17

ini karena rahasia tentang tindakan buruknya tersebut tidak disebarkan sebagai gosip dalam
masyarakat? Atau masyarakat mengetahui tetapi dibiarkan saja selama tindakan orang tersebut
belum merugikan mereka secara langsung? Hipotesis lain adalah masyarakat asli Lampung
memiliki kemampuan untuk dengan relatif mudah melupakan kesalahan-kesalahan orang lain di
masa lampau dan tetap menjalin hubungan baik di bidang-bidang lain dengan orang yang
melakukan kesalahan. Hal yang mana tidak ditemukan di kalangan masyarakat Jawa.
60
Menurut mantan anggota LPM Hal ini mungkin dikarenakan latar belakang organisasi
bendahara lebih sedikit dibandingkan ketua, kenyataan bahwa ketua penduduk asli sedang
bendahara adalah pendatang yang belum lama menetap di Pekon Pahmungan dan faktor usia. Usia
bendahara waktu itu masih muda, sekitar 25-an, sedangkan usia ketua sekitar 40-an. Bendahara
adalah orang asli Sunda yang menikah dengan putri salah satu tetua di Pekon Pahmungan yang
bekerja di Jakarta. Keduanya pindah dan menetap di Pekon Pahmungan setelah restoran asing
tempat mereka bekerja sebagai koki di Jakarta mengalami kebangkrutan.

Agustus maka seharusnya dana yang dibutuhkan tidak sebesar seperti yang
dianggarkan oleh ketua.
Dalam kegiatan dengan cakupan lebih kecil dan bersifat lebih informal,
seperti arisan, masalah keuangan juga merupakan masalah yang menghancurkan
kegiatan tersebut. Di Pekon Pahmungan, arisan tidak dilaksanakan seperti di
Pulau Jawa
61
, di sana ketua arisan
62
mengumpulkan iuran para anggotanya dengan
cara mendatangi dari rumah ke rumah, mengocoknya sendiri dan lalu
menyerahkan kepada yang mendapatkan jatah di minggu tersebut. Hal ini
dilakukan karena menurut ketua arisan, sangat sulit untuk mengumpulkan ibu-ibu
dalam satu waktu dan tempat tertentu secara bersama-sama selain dalam acara
hajatan pernikahan. Kesulitan biasanya timbul di pertengahan arisan, penduduk
yang sudah mendapat jatah arisan menghindar untuk membayar kewajiban iuran
mereka. Sehingga uang yang didapat orang yang mendapat jatah di awal dan di
akhir akan sudah sangat jauh berbeda. Saat ini arisan ibu-ibu sudah tidak lagi
dilaksanakan di Pekon Pahmungan
63
.
Berbagai contoh kegiatan tersebut betapa masalah manajemen keuangan
adalah masalah penting yang menjadi titik lemah vital di setiap organisasi
masyarakat di Pekon Pahmungan. Kelemahan dalam manajemen keuangan ini
sampai sekarang masih merupakan trauma bagi masyarakat jika mereka diajak
untuk mengelola sebuah organisasi lagi. Hal ini harus menjadi perhatian serius
pihak-pihak yang berkomitmen dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat di
Pekon Pahmungan.
5.5 Keterampilan Pemasaran

61
Arisan di Pulau Jawa pada umumnya dilakukan dengan cara semua anggota berkumpul
bersama-sama dalam satu tempat tertentu. Di tempat tersebut mereka menyerahkan iuran, lalu
langsung mengocok dan langsung pula membagikan kepada yang mendapat jatah. Tujuan
silaturahmi dalam acara arisan di Pulau Jawa sangat terlihat jelas selain tujuan ekonominya.
62
Terkait dengan iklim ketidakpercayaan antar penduduk dalam hal keuangan, ketua arisan yang
dipilih adalah seorang pemudi yang belum menikah dan sudah dipercaya kalangan ibu-ibu di
Pekon Pahmungan.
63
Meskipun sering terjadi ada ibu-ibu yang menghindar dari kewajiban membayar iuran arisan
setelah mendapat jatah, di kehidupan sosial sehari-hari hal ini tidak mengganggu hubungan
mereka. Mereka tetap berhubungan baik, tanpa ada pengucilan bagi ibu-ibu yang melakukan
kesalahan. Mungkin hal ini terkait dengan hipotesis bahwa penduduk asli Lampung cenderung
mudah untuk melupakan kesalahan orang lain seperti yang diutarakan di tanda * catatan kaki no.
59

Keterampilan untuk memasarkan merupakan aspek penting dalam kapasitas.
Keterampilan pemasaran terkait erat dengan jejaring ke luar komunitas yang
dimiliki oleh penduduk. Selain terkait dengan jejaring, keterampilan pemasaran
terkait erat dengan keterampilan berkomunikasi, keterbukaan terhadap
pengunjung dan keterampilan penggunakan komputer.
Jejaring ke luar komunitas terutama dimiliki oleh orang-orang yang
memiliki pekerjaan di luar wilayah pekon, seperti para penjual kayu, pengumpul
damar dan guru
64
. Selain itu, jejaring yang cukup luas terutama dimiliki oleh
orang-orang yang telah berpengalaman organisasi. Organisasi yang dimaksud di
sini adalah organisasi pemerintahan dan organisasi di luar pemerintah, seperti
PMPRD. Jejaring PMPRD mencakup tingkat nasional, bahkan sampai tingkat
internasional dengan kedatangan para peneliti internasional dan lembaga dana
yang menjadi donor organisasi mereka. Sedangkan jejaring yang dimiliki oleh
organisasi pemerintahan terutama berasal dari kalangan pemerintahan., baik
pejabat pemerintah tingkat desa di pekon-pekon lain sekitar Pekon Pahmungan.
Walaupun terlihat jejaring yang dimiliki oleh para penduduk terutama para
pengurus organisasi kemasyarakatan ini cukup luas, tetapi belum menjamin
kemampuan penduduk Pekon Pahmungan untuk melakukan pemasaran. Persoalan
komunikasi dan alat komunikasi menjadi faktor penghambat yang penting dalam
melakukan pemasaran. Alat komunikasi jarak jauh yang digunakan penduduk
Pekon Pahmungan masih sebatas penggunaan telepon, telepon rumah, surat atau
faximile yang relatif mahal dan terbatas penggunaannya. Penggunaan e-mail dan
promosi melalui web site belum dikenal di kalangan penduduk Pekon Pahmungan,
termasuk di kalangan pejabat pemerintah desa atau pengurus PMPRD. Persoalan
komunikasi terutama karena para pengurus PMPRD hampir tidak ada yang
mampu berbahasa Inggris
65
, selain itu masyarakat belum menguasai media untuk
melakukan promosi dan pemasaran produk mereka.

64
Jejaring dalam konteks ini mungkin tidak terlalu sesuai dengan jejaring yang dibutuhkan dalam
pengembangan ekowisata.
65
Dikatakan hampir, karena terdapat dua orang pengurus PMPRD yang mampu sedikit berbahasa
Inggris, mereka mengerti jika orang asing menggunakan bahasa Inggris secara pelan. Tetapi jika
orang asing tersebut mengucapkan dalam bahasa Inggris dalam kecepatan biasa maka mereka
tidak mampu lagi memahami. Kedua pengurus tersebut sedikit mampu memahami bahasa Inggris

5.6 Keterbukaan Terhadap Pengunjung
66

Penduduk Pekon Pahmungan memiliki sikap keterbukaan yang
memudahkan orang luar masuk dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari
mereka. Masyarakat Pekon Pahmungan sudah terbiasa dengan kedatangan orang
luar yang datang untuk melakukan studi banding atau penelitian. Sudah tidak ada
rasa terkejut ketika mereka melihat adanya orang luar yang berjalan-jalan di
lingkungan mereka.
Keterbukaan ini terutama mereka tunjukkan kepada pengunjung dari luar
yang mau bergabung dengan mereka. Informan yang diwawancara penulis
menunjukkan kebanggaan mereka saat menceritakan hubungan baik mereka
dengan para peneliti baik dari dalam maupun dari luar negeri yang pernah datang
ke rumah mereka, baik untuk menginap atau sekedar ngobrol-ngobrol. Peneliti
yang meneliti di Pekon Pahmungan pada umumnya tinggal selama satu sampai
tiga bulan. Selama mereka tinggal di Pekon Pahmungan, masyarakat akan
menyambut mereka dengan ramah jika mereka memperlakukan penduduk dengan
ramah juga. Bila ada pengunjung yang bersikap sombong atau tidak
menyenangkan lain, hal yang akan dilakukan masyarakat adalah sebatas
mempergunjingkan mereka. Tidak pernah terjadi pengusiran atau tindakan kasar
terhadap pengunjung di Pekon Pahmungan.
Gunjingan ini pernah dilontarkan kepada rekan penulis, seorang peneliti dari
CIFOR. Peneliti tersebut memarkir mobilnya di sebuah lapangan yang berada di
depan rumah seorang penduduk. Pemilik rumah waktu itu sedang berada di depan
rumahnya, tetapi peneliti tersebut tidak menyapa pemilik rumah, dia langsung
pergi setelah meninggalkan mobilnya di lapangan tersebut. Hal ini sempat
menjadi gunjingan penduduk sampai peneliti kembali ke Bogor. Person kontak
tempat peneliti CIFOR menginap juga tidak memberikan teguran kepada peneliti
tersebut, alasannya adalah bahwa peneliti tersebut sudah akan kembali ke Bogor

mungkin karena latar belakang pendidikan mereka, mereka merupakan lulusan D3 Institut
Pertanian Bogor (IPB) dan S1 sebuah Universitas swasta di Lampung. Kedua pengurus tersebut
tidak tinggal di Pekon Pahmungan, tetapi di mereka tinggal Pasar Krui dan di Pekon Gunung
Kemala.
66
Sebagian dari aspek kapasitas keterbukaan ini terkait dengan aspek kapasitas kemampuan
menjadi tuan rumah penginapan dan sudah dibahas pada aspek kemampuan menjadi tuan rumah
penginapan tersebut.

beberapa hari lagi. Penduduk Pekon Pahmungan memiliki sikap keingintahuan
yang cukup besar kepada setiap pengunjung yang datang, setiap kali mereka
memiliki kesempatan untuk bertanya kepada pengunjung mereka akan
menanyakan latar belakang dan tujuan pengunjung. Hal yang harus dilakukan
pengunjung adalah menjawab dengan baik, maka penduduk akan dengan cepat
dan mudah menerima pengunjung dengan baik.
Hal tidak menyenangkan lain yang mungkin muncul adalah tata cara
berpakaian mereka. Hal ini dialami oleh beberapa penduduk
67
yang memandu
peneliti-peneliti wanita dari Belgia. Saat para peneliti tersebut sampai di sebuah
air terjun, mereka langsung melepas pakaian mereka dan hanya menggunakan
bikini
68
. Hal ini bertentangan dengan adat budaya di Pekon Pahmungan, sehingga
mereka merasa sungkan. Namun, mereka bingung untuk mengingatkan para
peneliti itu sehingga mereka memilih menyingkir dari tempat tersebut. Hal yang
mereka takutkan adalah jika yang kebetulan memandu adalah dari kalangan
pemuda yang kurang bisa menjaga mata dan hati mereka, sehingga akan
menimbulkan hal-hal yang akan merusak nama Pekon Pahmungan. Hal ini seperti
yang diutarakan oleh Jr:
Waktu itu saya dan Pak Tp kebetulan mandu peneliti dari Belgia, mereka semua
cewek-cewek, ada seorang yang bahasa Indonesianya lancar. Awalnya mereka
pake baju yang biasa-biasa saja. Celana panjang sama kaos gitulah. Mereka ngajak
kami ke dalam repong. Saat sudah sampai di air terjun, mereka langsung buka baju
dan ternyata mereka sudah menyiapkan memakai baju untuk basah-basahan di
dalam baju yang mereka pakai. Bajunya yang kayak daleman itu lho, apa
namanya? Bikini ya? Bukan baju renang yang udelnya masih ketutup. Kami berdua
jadi malu sendiri, kami bingung, masalahnya mereka tidak ngomong dulu,
langsung saja buka baju di depan kami. Kami malah diajakin untuk mandi-mandi
bareng mereka. Kami kan merasa tidak enak sendiri, lalu kami bilang saja mau
istirahat terus kami agak menjauh dan malah jagain mereka. Takutnya kan ada
orang-orang dalam repong yang nakal melihat mereka. Kami pikir, untung juga
waktu itu kami yang mandu, kalau yang mandu anak muda-anak muda itu,
walaupun awalnya tidak ada niat apa-apa, kalau melihat hal kayak gitu kan
namanya juga darah muda. Kan yang jelek bawa-bawa nama pekon juga
Wawancara 18 Mei 2005
Seorang informan menyatakan bahwa memang orang-orang Lampung
terkenal dengan kekerasan sifat dan kesulitan untuk menerima orang baru di

67
Kedua penduduk yang memandu pada saat itu berusia 40-an dan keduanya adalah tokoh
masyarakat di Pekon Pahmungan (mantan kepala desa dan ketua RT).
68
Hal ini seperti yang diutarakan penduduk, peneliti tersebut memakai bikini, bukan pakaian
renang biasa yang lebih tertutup.

lingkungan mereka. Namun, hal ini menurutnya tidak berlaku lagi sejak tahun
1980-an terutama di wilayah-wilayah yang menjadi tujuan transmigrasi. Seperti
kawasan Pesisir Krui. Di kawasan Pesisir Krui, daerah yang dijadikan tempat
transmigrasi penduduk yang berasal dari Pulau Jawa. Di Pekon Pahmungan
sendiri, jumlah penduduk pendatang kurang lebih 10 % dari seluruh penduduk
Pahmungan yang berjumlah 981 orang pada tahun 2003. Pada umumnya mereka
menikah dengan penduduk asli dan kemudian menetap di Pekon Pahmungan
69
.
Penduduk pendatang pada umumnya berasal dari pekon-pekon lain di sekitar
Pekon Pahmungan, Palembang dan Pulau Jawa. Pada umumnya mereka pindah
dan menetap di Pekon Pahmungan karena pernikahan mereka dengan penduduk
asli.
Stigma bahwa penduduk Krui merupakan komunitas yang relatif sulit untuk
menerima orang luar juga terdapat di lingkup akademis di Pulau Sumatera sendiri.
Pada tahun 1990-an, sejumlah mahasiswa dari sebuah universitas swasta di
Bandar Lampung mendatangi Pekon Pahmungan untuk melakukan Kuliah Kerja
Nyata (KKN). Menurut mahasiswa-mahasiswa tersebut salah satu alasan mengapa
Pekon Pahmungan dipilih adalah untuk membuktikan apakah stigma yang
menyatakan bahwa penduduk Krui sulit menerima orang luar memang benar.
Hal yang terjadi saat itu adalah, penduduk menerima dengan baik
kedatangan mereka dan mereka melaksanakan program-program kerja mereka
dengan mendapat dukungan dari penduduk
70
. Dan menurut penduduk, saat
mahasiswa pergi meninggalkan Pekon Pahmungan ada beberapa dari mereka dan
keluarga yang dirumpangi menangis karena sudah menganggap para mahasiswa
tersebut seolah-olah sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. Setelah itu,

69
Seorang informan yang berdarah Jawa dan masih fasih berbahasa Jawa menyatakan bahwa dia
sudah tinggal di Pekon Pahmungan sejak tahun 1980-an. Dia menikah dengan wanita asli Pekon
Pahmungan dan sudah menganggap Pekon Pahmungan sebagai rumahnya.
70
Memang tidak semua penduduk menerima dengan baik, ada yang menganggap kedatangan
rombongan mahasiswa tersebut membawa pengaruh buruk bagi generasi muda Pekon Pahmungan.
Anggapan ini muncul karena ada beberapa mahasiswa yang menunjukkan perilaku pergaulan yang
cenderung bebas. Contohnya adalah pasangan mahasiswa dan mahasiswi yang berpacaran,
mengobrol di rumah penduduk sampai larut malam*. Meskipun terdapat tuan rumah yang akan
mengawasi pasangan tersebut, menurut penduduk hal itu seharusnya tidak dilakukan oleh kalangan
yang relatif memiliki latar belakang pendidikan lebih tinggi, seperti mahasiswa.
* Rumah tempat tinggal mahasiswa dan mahasiswi dipisah, jadi ketika terjadi hal ini mahasiswa
yang mendatangi rumah tempat pasangannya menginap.

menurut mereka rombongan mahasiswa dari Bandar Lampung rutin mendatangi
Pekon Pahmungan. Universitas yang setiap tahun mengirimkan mahasiswa untuk
melakukan praktikum di Pekon Pahmungan adalah Universitas Negeri Lampung
(Unila).
5.7 Nilai-nilai Dalam Masyarakat
Masyarakat Pekon Pahmungan yang sebagian besar merupakan penduduk
asli Lampung dengan adat istiadat mereka yang unik. Mereka memiliki bahasa
daerah, adat istiadat dan norma-norma sendiri. Hampir semua penduduk asli
Lampung memeluk agama Islam. Hal ini cukup mempengaruhi adat dan norma-
norma yang diyakini dalam penduduknya. Salah satu tradisi dahulu adalah
dibatasinya pergaulan laki-laki dan perempuan. Jika seorang pemuda tertarik
terhadap seorang pemudi maka dia akan mendatangi rumah pemudi dan memohon
kepada ayah pemudi agar diperbolehkan untuk berbincang-bincang. Setelah
diizinkan, maka ia akan berbincang-bincang dengan pemudi, tetapi tidak dalam
satu ruangan. Si pemudi akan tetap berada di dapur, sedangkan pemuda ruangan
di sampingnya dan mereka berbicang-bincang dengan dibatasi oleh pintu.
Menurut informan, tradisi ini mulai luntur sejak radio dan televisi masuk
Pahmungan. Apalagi sejak listrik masuk pada tahun 80-an. Listrik yang mampu
membuat suasana malam seolah siang ini menjadikan pergaulan antara pemuda
dan pemudi semakin bebas. Saat ini, sudah beberapa kali dijumpai kasus hamil di
luar nikah di kalangan generasi muda. Saat penulis melakukan penelitian pada
bulan Maret Juni, terdapat satu kasus hamil di luar nikah di Pekon Pahmungan.
Pelunturan nilai-nilai budaya ini cukup meresahkan warga masyarakat Pekon
Pahmungan. Keresahan ini seperti dinyatakan oleh Sp, seorang pejabat
pemerintahan Pekon Pahmungan yang berumur sekitar 35 tahun:
Jaman sekarang ini generasi mudanya memang lebih bebas. Jaman saya muda
dulu, habis magrib kita sudah tinggal di rumah tidak keluar-keluar lagi. Keluar
paling kalau ada latihan pencak silat atau hajatan. Dulu kan gelap mbak, sekarang
sudah ada listrik, sudah malem juga muli (pemudi-penulis) dan meranai (pemuda-
penulis) masih pada keluyuran di luar. Pacaran juga sekarang sudah gampang
sekali, jaman dulu kalau ketemu orang tua cewek yang ditaksir, sopan banget, grogi
juga. Tapi sekarang kalau datang ke rumah cewek terus ada bapaknya penginnya
disuruh pergi saja. Tidak ada sopan-sopannya. Pernah tuh Pak Dt (tetangga Sp,
penduduk Pekon Pahmungan-penulis) bilang katanya cowok anaknya datang pas

anaknya lagi tidur, eh masak cowok itu dengan enaknya bilang ke Pak Dt
bangunin dong. Aneh ya anak jaman sekarang? Wawancara 25 Mei 2005
Di kalangan masayarakat terdapat beberapa orang yang aktif dalam
menyikapi pelunturan nilai-nilai budaya ini. Di Pekon Pahmungan terdapat tokoh
agama yang berusaha menggiatkan pengajian untuk anak-anak untuk
membentengi anak-anak tersebut dari pengaruh buruk. Selain anak-anak,
pengajian yang masih dilakukan adalah pengajian untuk bapak-bapak dan ibu-ibu.
Pengajian yang dilakukan biasanya dilakukan dengan membaca Al Quran.
Keunikan nilai dalam masyarakat yang masih lestari sampai sekarang adalah
persepsi mereka terhadap repong damar. Mereka menganggap repong mereka
tidak hanya sekedar sebagai sumber penghasilan, tetapi juga warisan leluhur yang
harus dilestarikan. Dan jika mereka mengingkari maka mereka meyakini akan
mendapatkan balasannya dan mereka akan sengsara. Hal ini diungkapkan dalam
sebuah petuah berbahasa Lampung
Manat ni tamong kajong: repong damar andankon, pulan dang ti pubela, kintu
neram sengsara
Petuah tersebut memiliki arti
Leluhur kita beramanat: tetap lestarikan repong damar dan janganlah merusak
hutan, nanti kita sengsara
Saat ini memang ada kenyataan yang menunjukkan sudah kurangnya rasa
hormat yang dimiliki generasi muda terhadap repong damar. Mereka melakukan
pencurian getah damar di repong yang bahkan mungkin di repong milik
orangtuanya sendiri. Namun, pemuda tersebut mengakui jika mereka akan
menghentikan aktifitas pencurian tersebut setelah mereka menikah. Setelah
menikah, anak akan diberi repong orangtuanya sebagai sumber kehidupannya.
Kepemilikan terebut menimbulkan rasa tanggungjawab untuk menjaga
repongnya.
5.8 Ikhtisar
Berbagai macam pengunjung yang datang ke Pekon Pahmungan telah
membuat sebagian penduduknya terbiasa untuk menerima pengunjung yang
menginap di rumahnya. Ketersediaan fasilitas dan sikap keterbukaan penduduk
adalah hal utama yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan tuan rumah. Saat
ini, sudah ada indikasi kecemburuan di kalangan penduduk karena mereka merasa

akses kepada pengunjung yang menguntungkan secara ekonomi (peneliti,
penggiat LSM) hanya dimiliki oleh orang tertentu saja. Penduduk yang tidak
diinapi pengunjung ini merasa selama ini mereka hanya menjadi tempat tujuan
menginap pengunjung yang tidak memberi keuntungan ekonomi saja (pedagang,
mahasiswa).
Selama ini, pengunjung dari luar membawa penerjemah yang berasal ibu
kota Kabupaten di Liwa atau dari kawasan pasar yang pada umumnya bukan
penduduk asli Lampung sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan tentang
pengelolaan repong damar seperti yang dimiliki penduduk asli pada umumnya.
Penduduk memang melakukan pemanduan, tetapi tidak mampu melakukan
penerjemahan sehingga mereka tidak dapat mendapatkan keuntungan optimal dari
proses pemanduan yang mereka lakukan.
Keterampilan dalam pengoperasian komputer terutama dimiliki oleh
beberapa generasi muda. Mereka memiliki kemampuan ini karena di sekolah
mereka diajarkan keterampilan mengoperasikan program-program dasar komputer
seperti microsoft word dan excel sebagai bagian dari kurikulum. Sejauh ini
keterampilan ini belum digunakan di Pekon Pahmungan sehingga sebagian besar
dari anak-anak muda ini segera melupakan keterampilan tersebut saat sudah tidak
diajarkan lagi di sekolah.
Sampai saat ini, pengelolaan keuangan yang kurang baik masih menjadi
musuh utama setiap organisasi yang berdiri di lingkungan Pekon Pahmungan.
Informan yang diwawancara penulis menyatakan bahwa semua organisasi yang
beridiri di lingkungan Pekon Pahmungan pasti akan hancur jika sudah mulai
berhubungan dengan keuangan. Hal ini menunjukkan masih lemahnya
keterampilan manajemen keuangan yang dimiliki oleh penduduk Pekon
Pahmungan.
Jejaring yang dimiliki oleh para penduduk terutama para pengurus
organisasi kemasyarakatan Pekon Pahmungan memang cukup luas. Namun hal ini
belum menjamin kemampuan penduduk Pekon Pahmungan untuk melakukan
pemasaran. Persoalan komunikasi dan alat komunikasi menjadi faktor
penghambat yang penting dalam melakukan pemasaran. Alat komunikasi jarak

jauh yang digunakan penduduk Pekon Pahmungan masih sebatas penggunaan
telepon, telepon rumah, surat atau faximile yang relatif mahal dan terbatas
penggunaannya. Penggunaan e-mail dan promosi melalui web site belum dikenal
di kalangan penduduk Pekon Pahmungan, termasuk di kalangan pejabat
pemerintah desa atau pengurus PMPRD. Persoalan komunikasi terutama karena
para pengurus PMPRD hampir tidak ada yang mampu berbahasa Inggris, selain
itu masyarakat belum menguasai media untuk melakukan promosi dan pemasaran
produk mereka
Penduduk Pekon Pahmungan memiliki sikap keterbukaan yang
memudahkan orang luar masuk dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari
mereka. Masyarakat Pekon Pahmungan sudah terbiasa dengan kedatangan orang
luar yang datang untuk melakukan studi banding atau penelitian. Sudah tidak ada
rasa terkejut ketika mereka melihat adanya orang luar yang berjalan-jalan di
lingkungan mereka. Keterbukaan ini terutama mereka tunjukkan kepada
pengunjung dari luar yang mau bergabung dengan mereka. Informan yang
diwawancara penulis menunjukkan kebanggaan mereka saat menceritakan
hubungan baik mereka dengan para peneliti baik dari dalam maupun dari luar
negeri yang pernah datang ke rumah mereka, baik untuk menginap atau sekedar
ngobrol-ngobrol. Bila ada pengunjung yang bersikap sombong atau tidak
menyenangkan lain, hal yang akan dilakukan masyarakat adalah sebatas
mempergunjingkan mereka. Tidak pernah terjadi pengusiran atau tindakan kasar
terhadap pengunjung di Pekon Pahmungan.

























BAB VI
STRATEGI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
DALAM PENGEMBANGAN EKOWISATA

Setelah melihat faktor-faktor pendukung dan penghambat di Pekon
71

Pahmungan dalam pengembangan ekowisata di bab-bab sebelumnya, serta
kapasitas masyarakatnya. Maka di bab VI ini penulis akan mencoba memaparkan
strategi pemberdayaan masyarakat yang bisa ditempuh dalam pengembangan
ekowisata di Pekon Pahmungan.
Aspek-aspek ekowisata seperti yang terdapat dalam Guidelines for
Community-Based Ecotourism Development (World Wide Fund for Nature
(WWF) International 2001) adalah perencanaan, pengembangan, pemasaran dan
pengorganisiran sumberdaya dan fasilitas. Pelayanan terhadap pengunjung anatara
lain akses kepada area alami dan warisan budaya, pemanduan dan pelayanan
penerjemahan, penginapan, penyediaan makanan, penjualan hasil produksi dan
kerajinan, dan transportasi. Dari berbagai elemen tersebut, penduduk lokal dapat
diberdayakan sesuai kapasitasnya untuk terlibat dan mendapatkan manfaat dari
keterlibatan mereka itu.
6.1 Elemen Pemanduan dan Pelayanan Penerjemahan
Pemandu selalu dibutuhkan oleh orang luar yang datang ke tempat baru.
Pemandu dalam pengelolaan ekowisata ini berperan sebagai penunjuk arah,

71
Pekon adalah istilah lokal dalam bahasa Lampung untuk menyebut desa.

menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan pekonnya, menunjukkan tempat-
tempat penting dan flora fauna yang terdapat di dalam repong
72
. Dengan demikian
seorang pemandu haruslah seseorang yang mengenal dengan baik kondisi
pekonnya.
Aspek kapasitas yang terkait dengan elemen ini adalah keterampilan dasar
berbahasa Inggris dan keterbukaan terhadap pengunjung. Keterampilan dasar
berbahasa Inggris ini terutama harus dimiliki oleh pemandu jika pengunjung yang
datang berasal dari luar negeri dan tidak dapat berbahasa Indonesia. Selama ini
pengunjung dari luar negeri yang datang ke Pekon Pahmungan biasanya sudah
memiliki kemampuan berbahasa Indonesia atau jika belum, mereka akan
membawa sendiri penerjemah dari luar pekon. Keterbukaan terhadap pengunjung
menjadi aspek yang juga penting karena dengan sikap terbuka yang dimilikinya,
seorang pemandu akan membuat pengunjung merasa nyaman dan diterima di
tempat baru yang mereka kunjungi. Perasaan nyaman dan diterima yang
didapatkan pengunjung merupakan hal yang sangat penting karena perasaan
tersebut akan menjadi dasar pengambilan keputusan lama mereka tinggal, kembali
atau tidak pengunjung ke tempat tersebut setelah meninggalkan, apakah mereka
akan mengajak rekan dan keluarga mereka untuk mengunjungi tempat tersebut
dengan memberikan informasi positif atau malah akan memberikan informasi
negatif. Informasi yang menyebar dari mulut ke mulut akan cukup efektif dalam
mendatangkan pengunjung dalam program ekowisata, karena memang arah
pengembangan ekowisata tidak akan menuju ke arah pariwisata massal.
Dalam salah satu kode etik pemanduan tersurat bahwa jika seorang
pemandu sudah mencapai batas wilayah lokalitas sebuah komunitas dan
komunitas tersebut sudah memiliki sistem pemanduan bagi pengunjung yang
datang, maka pemandu di luar komunitas sudah tidak memiliki hak untuk
meneruskan pemanduannya. Pengunjung selanjutnya akan dipandu oleh penduduk
lokal yang lebih mengenal seluk beluk daerahnya dan lebih berhak mendapat
keuntungan dari kedatangan pengunjung tersebut.

72
Repong adalah istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk kebun. Alasan penduduk lebih
memilih untuk menggunakan istilah repong adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis
tanaman, tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman saja.

Pemanduan selama ini tanpa disadari sudah merupakan hal yang dilakukan
masyarakat Pekon Pahmungan terhadap pengunjung yang mendatangi wilayah
mereka. Setiap kali ada pengunjung yang mendatangi Pekon Pahmungan, maka
secara langsung penduduk akan mengantarkan, menemani, dan memberikan
informasi kepada pengunjung sesuai tujuan kedatangan mereka. Siapa penduduk
yang memandu tergantung siapa person kontak yang pengunjung miliki. Biasanya
jika pengunjung berasal dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan
peneliti yang menjadi bagian dari jejaring LSM, maka person kontak akan berasal
dari penduduk yang memiliki hubungan erat dan menjabat menjadi pengurus
PMPRD (Persatuan Masyarakat Petani Repong Damar).
PMPRD merupakan singkatan dari Persatuan Masyarakat Petani Repong
Damar. Anggota dan pengurus PMPRD terdiri dari masyarakat Pesisir Krui yang
memiliki mata pencaharian sebagai petani damar. PMPRD didirikan oleh tim
Krui, yaitu sebuah tim yang terdiri dari LSM, lembaga penelitian dan Lembaga
Bantuan Hukum (LBH) yang memiliki komitmen untuk mendampingi masyarakat
Krui dalam melestarikan repong damarnya. Hubungan inilah yang menjadikan
kelangsungan hidup PMPRD merupakan tanggung jawab LSM pendamping
selama mereka tidak mendapatkan dana dari program yang mereka ajukan. Untuk
melaksanakan operasional organisasi, LSM pendamping berusaha memberikan
jalan agar mereka mendapatkan dana. Misal saat peneliti atau lembaga
menghubungi LSM pendamping untuk melakukan studi di sebuah pekon di Pesisir
Krui maka pihak LSM pendamping akan merekomendasikan pengurus PMPRD di
pekon yang mereka tuju.
Hal ini dapat menjadi simbiosis mutualisme antara pihak pengunjung dan
PMPRD. Pengunjung akan lebih mudah mendapatkan person kontak dan hal ini
akan lebih memperlancar penelitiannya, sedangkan bagi penduduk yang menjadi
pengurus PMPRD, kedatangan pengunjung akan mendatangkan keuntungan, baik
keuntungan ekonomi maupun sosial, baik untuk organisasi maupun pribadi.
Keuntungan ekonomi pribadi mungkin didapatkan dari bayaran yang mereka
terima dengan menjadi pemandu ataupun enumerator dan keuntungan sosial
mungkin mereka dapatkan dengan perluasan jaringan dan informasi baru yang
bisa mereka manfaatkan untuk kepentingan pribadi mereka. Bagi organisasi,

bekerjasama dengan peneliti atau lembaga yang datang akan menjadi penting,
karena dengan hal tersebut lembaga mereka menjadi lebih dikenal dan
memperluas jaringan secara sosial, sedangkan secara ekonomi, peneliti atau
lembaga yang berkunjung dapat memberikan bantuan. Bentuk bantuan dapat
berupa fasilitas yang belum dimiliki oleh organisasi atau membantu program
organisasi dengan sosialisasi ke masyarakat melalui pembuatan poster, kalender
atau pamflet.
Pada umumnya organisasi akan mau membantu jika di awal sudah ada
kesepakatan bahwa peneliti atau lembaga tersebut akan membantu organisasi
mereka. Jika penelitian dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang (lebih
dari dua minggu) pengurus organisasi pun tidak akan membantu secara pribadi
jika di awal tidak terdapat kesepakatan dengan organisasi. Bantuan yang diberikan
pengurus dalam jangka panjang akan mendapat gunjingan dari pengurus lain
dalam organisasi. Untuk hal ini mereka akan mendapat sanksi tak tertulis.
Pengunjung lain yang mungkin berasal dari kalangan pemerintahan akan
memiliki person kontak dari kalangan pemerintahan desa. Selain itu juga sering
terdapat mahasiswa yang datang dan melakukan praktikum di wilayah pekon di
Pesisir Krui, biasanya mereka memiliki person kontak dari kalangan perangkat
desa atau dari Dinas Kehutanan. Pada masa dahulu memang hubungan pemerintah
Pekon Pahmungan dengan pihak LSM cukup baik, namun sejak masa peratin
tahun 2000-2005, hubungan menjadi kurang baik. Hal ini tidak hanya dirasakan
oleh pihak LSM tetapi juga oleh penduduk Pekon Pahmungan sendiri.
Ketidakharmonisan hubungan ini menurut penduduk dan pengurus PMPRD yang
penulis wawancara karena sifat dan kepribadian peratin yang kurang baik.
Menurut mereka peratin periode 2000-2005 tidak begitu memperhatikan
kepentingan penduduk Pekon Pahmungan. Rekan-rekan bawahan peratin di Pekon
Pahmungan juga menunjukkan ketidak cocokan mereka dengan peratin, mereka
merasa semua tugas peratin harus mereka semua yang mengerjakan, tetapi gaji
dan honor-honor kegiatan tetap peratin yang mendapatkan. Ketidakcocokan
penduduk dan rekan-rekan pejabat pemerintah desa semakin terasa saat peratin
memutuskan untuk menikah lagi dan memiliki dua istri di dua tempat yang
berbeda (istri lama di Pekon Pahmungan, istri baru di kota Liwa) sehingga peratin

sering tidak berada di Pekon Pahmungan untuk melaksanakan tugas-tugasnya
sebagai peratin.
Person kontak sebagai orang yang dihubungi pertamakali saat pengunjung
datang ke pekon akan menghubungi orang lain yang dekat dengan dia untuk
memandu pengunjung yang datang jika dia merasa tidak dapat menandu
pengunjung sendiri. Biasanya person kontak langsung mengantarkan sendiri
pengunjung ke tempat yang ingin mereka kunjungi tanpa melibatkan penduduk
lain. Hal ini memang menjadi celah yang cukup besar untuk timbulnya
kecemburuan di kalangan penduduk. Sampai saat ini upaya-upaya belum terlihat
dilakukan dengan optimal untuk melakukan pembagian dengan adil di kalangan
penduduk. Hal ini tidak dilakukan karena jumlah pengunjung memang masih
dalam jumlah yang terbatas dan pihak pengurus PMPRD menganggap
pengunjung yang datang adalah tamu PMPRD sehingga mereka tidak perlu
melibatkan penduduk yang bukan anggota PMPRD. Berikut ini adalah gambar
yang menunjukkan proses pemanduan yang dilakukan oleh penduduk.









Rekomendasi untuk mengoptimalkan keterlibatan penduduk dalam elemen
pemanduan dan pelayanan penerjemahan ini adalah:
a. Pelatihan bahasa asing bagi penduduk yang tertarik untuk menjadi
pemandu.
Gambar 13. Pemanduan oleh Penduduk
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati

b. Pelatihan dan studi banding untuk mengetahui bagaimana cara dan
teknik pemanduan.
c. Pengkoordinasian dan pembagian siapa yang menjadi pemandu
merupakan hal yang sangat krusial untuk dilakukan, mengingat selama
ini sudah cukup kecemburuan yang timbul di antara kalangan penduduk.
Jika hal ini terus dibiarkan, dikhawatirkan program pengembangan
masyarakat bukan akan membawa ke arah yang lebih baik, namun akan
membawa ke perpecahan di kalangan masyarakat yang malah akan
menghancurkan sistem yang sudah ada tanpa tumbuhnya sistem baru
yang lebih baik.
6.2 Penginapan
Penginapan sebagai salah satu elemen ekowisata dalam pelaksanaannya
memiliki potensi yang besar bagi pelibatan masyarakat. Penginapan yang
dimaksud di sini bukan penginapan dalam skala besar seperti losmen atau hotel-
hotel pada umumnya. Namun, penginapan yang dimaksud adalah penginapan
dengan model homestay. Homestay memungkinkan penduduk mendapatkan
pemasukan dengan hanya menyediakan sebuah atau beberapa kamar di rumah
tinggal mereka. Selain itu, penduduk juga akan lebih berinteraksi dengan
pengunjung dibandingkan jika pengunjung menginap di penginapan. Interaksi ini
diharapkan dapat menjadi ajang pertukaran informasi dan pengetahuan anatara
penduduk lokal dan pengunjung sehingga masing-masing dari mereka
mendapatkan manfaat lebih luas.
Penerapan homestay sudah dilakukan pada pengembangan ekowisata di
Desa Batu Putih, Sabah, Malaysia dan Desa Yazhe, Pingwu, Cina. Penerapan
homestay tersebut lebih membuka akses masyarakat terhadap keuntungan dari
kedatangan pengunjung. Di Pekon Pahmungan sendiri sebenarnya homestay sudah
dilaksanakan oleh beberapa penduduk Pekon Pahmungan. Saat pengunjung
datang, biasanya person kontak akan menyiapkan kamar untuk menginap di
rumahnya, jika jumlah pengunjung melebihi kapasitas rumahnya maka person
kontak akan membagi ke rumah penduduk lain. Kondisi ini sepertinya semakin
memperlebar kecemburuan di kalangan penduduk karena pada umumnya

pengunjung yang datang berupa kelompok-kelompok kecil sehingga rumah
person kontak sendiri akan cukup untuk menampung seluruh anggota rombongan.
Kondisi ini semakin jelas terasa karena person kontak PMPRD adalah orang
yang berada dan memiliki fasilitas yang cukup baik dengan jumlah kamar yang
cukup banyak (lima kamar kosong), sehingga jumlah pengunjung yang mampu
ditampungpun cukup banyak. Selain luasnya rumah person kontak, tamu-tamu
dalam satu rombongan pada umumnya juga lebih memilih untuk tinggal dalam
satu rumah untuk mempermudah koordinasi. Hal ini menyebabkan kurang
tersebarnya manfaat yang diperoleh penduduk dari kedatangan pengunjung.
Menurut informasi dari informan, Bupati Wayan (bupati pada periode
sebelum periode sekarang) dahulu pernah menyarankan kepada penduduk
Pahmungan untuk menyediakan satu kamar khusus bagi pengunjung yang akan
menginap. Hal ini disarankan Bupati Wayan setelah beliau melihat cukup
banyaknya pengunjung yang potensial untuk menjadi sumber pendapatan
tambahan bagi penduduk Pahmungan. Kondisi ekonomi penduduk Pekon
Pahmungan pun sebenarnya tidak terlalu miskin untuk menyediakan layanan yang
baik bagi para pengunjung yang datang. Berikut ini adalah gambar bentuk rumah
penduduk Pekon Pahmungan yang umumnya masih bergaya tradisional.
Menginap dalam rumah tradisional akan menjadi pengalaman tersendiri bagi para
pengunjung.









Gambar 14. Kondisi Rumah di Pekon Pahmungan
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati

Masalah utama yang biasanya dihadapi penduduk Pahmungan dalam
penyediaan penginapan adalah ketidakyakinan penduduk akan adanya konsumen
untuk kamar yang mereka sediakan, karena akses terhadap pengunjung dari luar
hanya dimiliki oleh beberapa orang tertentu saja. Saat konsumen memang benar-
benar ada, seperti saat penyelenggaraan pelatihan Jaringan Kelompok Tani oleh
LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia) dan PMPRD masih terdapat beberapa
masalah yang menghalangi masyarakat untuk mengelola dan mendapatkan
manfaat dari pengelolaan penginapan secara optimal. Pada penyelenggaraan
pelatihan seperti ini biasanya jumlah peserta mencapai lebih dari 20 orang yang
tidak mungkin ditampung dalam satu rumah person kontak. Hal ini
memungkinkan penyebaran keuntungan bagi penduduk yang terlibat. Masalah
yang mungkin dihadapi adalah pembagian yang mungkin akan menjadi celah
kecemburuan bagi penduduk yang tidak mendapat jatah peserta.
Hal lain yang mungkin terjadi adalah ketika penduduk menganggap
kedatangan pengunjung tidak menguntungkan secara ekonomi maka mereka akan
menolak untuk menerima mereka. Penolakan ini dimungkinkan karena penduduk
melihat latar belakang pengunjung, mereka cenderung menganggap petani dan
mahasiswa tidak akan memberikan banyak keuntungan ekonomi kepada mereka.
Budaya sebagian penduduk Pekon Pahmungan memang cenderung untuk melihat
keuntungan dalam jangka pendek.berupa materi.
Di kalangan penduduk Pekon Pahmungan juga terdapat beberapa gunjingan
yang mengatakan bahwa person kontak (baik pihak PMPRD atau pemerintah
desa) akan membagi pengunjung ke rumah-rumah lain jika kedatangan
pengunjung tidak terlalu memberikan keuntungan ekonomi, tetapi jika
pengunjung memberikan keuntungan ekonomi maka kontak person akan
membiarkan mereka semua menginap di rumahnya walaupun ada yang harus tidur
di atas tikar. Menurut person kontak, hal ini mereka lakukan karena anggota
rombongan tidak mau menginap terpisah. Mereka lebih memilih untuk tidur
beralas tikar, tetapi dapat berkumpul dalam satu rumah.

Alasan ekonomi sering menjadi alasan mengapa penduduk tidak dapat
menerima pengunjung untuk menginap di rumah mereka. Hal ini dapat dirinci
sebagai berikut:
- Tidak ada kamar yang layak di rumah penduduk. Hal ini mungkin
karena kamar-kamar di rumah penduduk sudah penuh oleh anggota
keluarganya atau penduduk merasa kamar yang tersedia di rumahnya
tidak cukup layak untuk dijadikan tempat menginap bagi pengunjung.
- Tidak ada kamar mandi di rumah penduduk. Hal ini dapat disebabkan
oleh kurang mampunya ekonomi penduduk untuk membangun kamar
mandi di rumahnya. Namun, menurut informan hal ini lebih karena
penduduk sudah memiliki budaya untuk melakukan kegiatan MCK
mereka di sungai yang mengalir di depan rumah mereka. Hasil
observasi penulis menunjukkan, bahkan penduduk yang sudah
memiliki fasilitas kamar mandi di rumahnya masih ada yang lebih
memilih untuk melakukan kegiatan MCK mereka di sungai. Di Pekon
Pahmungan, kebutuhan akan tersedianya kamar mandi di rumah tiap
penduduk belum menjadi salah satu kebutuhan yang dianggap penting.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi penulis elemen pengelolaan
penginapan ini berhubungan erat dengan kapasitas penduduk dalam aspek
kemampuan menjadi tuan rumah penginapan dan keterbukaan terhadap
pengunjung.
Kemampuan untuk menjadi tuan rumah penginapan menjadi hal penting
yang berhubungan erat dengan kemampuan masyarakat untuk terlibat dalam
elemen penginapan. Kemampuan ini meliputi; bagaimana untuk mengurus
pengunjung, seperti penyediaan makanan, kebersihan kamar dan bagaimana harus
bersikap kepada pengunjung. Selama ini penduduk ada yang menolak untuk
terlibat untuk menjadi tuan rumah penginapan karena takut salah mengurus
pengunjung dan keberadaan pengunjung tersebut dianggap akan merepotkan
mereka.
Aspek keterbukaan terhadap pengunjung sering menjadi alasan penerimaan
dan penolakan terhadap pengunjung yang akan menginap di rumah penduduk.
Penduduk yang bersikap terbuka pada umumnya senang menerima pengunjung

yang datang karena mereka melihat adanya kesempatan untuk memperluas
jaringan dan berbagi pengetahuan dan pengalaman selain dari segi keuntungan
ekonomi. Pada umumnya penduduk yang bersikap terbuka adalah penduduk yang
memiliki pengalaman organisasi, pendidikan cukup tinggi (lulus perguruan tinggi)
atau pengalaman kerja di luar pekon. Orang-orang seperti ini biasanya adalah
orang-orang yang menghargai pentingnya jejaring dan informasi.
Rekomendasi untuk lebih mengefektifkan pelibatan masyarakat dalam aspek
penginapan sehingga dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat secara
optimal adalah memberikan pelatihan untuk pelayanan dalam penginapan bagi
penduduk yang sebenarnya berminat untuk menjadi tuan rumah, namun masih
belum yakin akan kemampuan mereka untuk melakukan hal itu. Selain itu
koordinasi yang jelas dalam pembagian pengunjung juga penting, mengingat saat
ini sudah ada kecemburuan di kalangan penduduk karena menganggap hanya
orang-orang tertentu yang memiliki akses dan mendapatkan keuntungan dari
kedatangan para pengunjung ke pekon mereka tersebut.
6.3 Penyediaan Makanan
Pemenuhan pelayanan penyediaan makanan untuk para pengunjung yang
datang selama ini dilakukan oleh tuan rumah jika pengunjung yang datang tidak
dalam jumlah yang besar (kurang dari 20 orang). Namun untuk pengunjung yang
berjumlah lebih banyak, biasanya mereka memesan makanan ke warung makan di
pasar, hal ini mereka lakukan karena penduduk tidak sanggup untuk memasak,
atau penduduk sanggup tapi menawarkan harga yang terlalu tinggi. Hal ini terjadi
karena koordinasi yang kurang baik antar penduduk sendiri, sehingga ada
beberapa orang yang ingin mendapatkan keuntungan yang maksimal untuk diri
sendiri.
Di kalangan penduduk asli Pesisir Krui sendiri makanan sehari-hari yang
mereka masak berbeda dengan masakan di daerah lain. Masakan khas mereka
pada umumnya berbahan dasar ikan laut. Ikan tersebut tidak dibakar atau hanya
digoreng, tetapi diberi kuah bening, santan atau ditumis bersama sayur. Bagi
pengunjung, memakan masakan khas suatu daerah yang berbeda dari masakan
yang biasa mereka makan adalah pengalaman berharga. Selain masakan khas
tersebut, penduduk pada umumnya juga mampu memasak menu-menu standar
Gambar 15. Masakan Tradisional Pesisir Krui yang Terbuat Dari Ikan

seperti yang dikenal di Pulau Jawa. Seperti masakan ayam, masakan telur, sayur
dll.Berikut adalah gambar makanan tradisional tersebut







Rekomendasi untuk pelayanan penyediaan makanan adalah; organisir
penduduk yang bersedia untuk menjadi tim yang akan memasak untuk tamu, lalu
diskusikan menu dan harga yang akan ditawarkan.
6.4 Pembuatan dan Penjualan Hasil Produksi
Hasil produksi yang difokuskan di sini adalah makanan khas. Selama ini
penduduk Pekon Pahmungan yang membuat dan menjual makanan khas terbatas
pada beberapa orang saja. Sebenarnya hampir semua ibu-ibu dan remaja putri
memiliki kemampuan untuk membuat makanan khas, tetapi hanya 2-3 orang di
Pekon Pahmungan yang menekuninya dan menjadikannya mata pencaharian.
Sedikitnya orang yang menekuni bidang ini juga disebabkan karena terbatasnya
pasar untuk penjualan makanan khas.
Selama ini makanan khas hanya dihidangkan dalam hajatan-hajatan
tradisional penduduk. Padahal jika didukung dengan promosi yang optimal
kepada pengunjung-pengunjung yang datang, maka konsumen untuk makanan
khas ini akan lebih luas. Penulis dan teman-teman pengunjung dari Pulau Jawa
dan luar negeri pernah merasakan sendiri makanan khas buatan penduduk Pekon
Pahmungan, dan rasanya cukup sesuai dengan lidah orang luar yang tidak pernah
merasakan makanan tersebut sebelumnya. Berikut ini adalah gambar makanan
tradisional yang wajib dihidangkan saat hajatan pernikahan.
Gambar 16. Makanan Tradisional Lampung










Beberapa hambatan dalam aspek pembuatan dan penjualan makanan khas di
Pekon Pahmungan antara lain:
- Promosi yang sama sekali belum dilakukan terhadap pengunjung-
pengunjung yang datang di Pekon Pahmungan. Selama ini jika
pengunjung datang, makanan yang cenderung dihidangkan adalah
makanan yang dibeli dari pasar atau makanan yang dibuat oleh
penduduk tetapi bukan makanan khas.
- Pembuatan beberapa macam makanan khas membutuhkan waktu yang
cukup lama, pemesan harus memesan minimal tiga hari sebelumnya.
Sehingga bagi pengunjung dari luar yang tidak tahu tidak dapat
dilayani karena memesan mendadak.
- Beberapa bahan untuk membuat kue khas tradisional tergantung
kepada musim. Misalnya untuk buah nanas sebagai bahan kue tart
Lampung, tidak selalu tersedia di pasar Krui.
Dari penjabaran di atas, dapat dilihat bahwa aspek pemasaran masih
menjadi titik yang paling lemah dalam hal ini. Rekomendasi untuk hal ini adalah
melakukan promosi produk makanan khas Lampung terhadap setiap pengunjung
yang datang ke Pekon Pahmungan. Promosi ini dapat dilakukan dengan
memberikan leaflet bergambar makanan khas, beserta harga dan cara pemesanan.

6.5 Pembuatan dan Penjualan Souvenir
Souvenir merupakan aspek yang penting dalam wisata. Aspek ini
merupakan aspek yang sangat potensial bagi masyarakat untuk mengelola dari
sejak aspek penyediaan bahan baku sampai pemasaran. Wawancara dengan
masyarakat menunjukkan bahwa banyak hal menarik yang bisa digali untuk
dijadikan souvenir bagi turis yang datang.
Selama ini biasanya pengunjung yang datang membawa pulang getah
damar, kentongan dari kayu damar, bebalang (alat untuk membawa getah damar
dari rotan yang bisa digendong seperti tas punggung) sebagai souvenir. Seorang
peneliti mempunyai ide untuk membentuk getah damar menjadi bentuk hewan-
hewan yang ada di dalam repong sebagai souvenir. Berikut ini adalah gambar
bebalang yang biasa dibawa pengunjung sebagai souvenir.












Sebenarnya di Pesisir Krui ada kerajinan khas yaitu kain tapis. Kain tapis ini
adalah kain yang dibuat dengan menggunakan benang-benang emas. Harga kain
ini cukup mahal, sekitar satu juta dan membutuhkan modal yang cukup besar.
Kerajinan ini kurang berkembang karena kurangnya promosi dan pemasaran di
Gambar 17. Proses Pembuatan
Bebalang oleh Penduduk
Pahmungan
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati
Gambar 18. Seorang Pengunjung
Memakai Bebalang yang
Sudah Jadi

Krui sendiri. Di Pekon Pahmungan sendiri terdapat seorang penduduk yang bisa
menenun kain tapis ini, tetapi penduduk ini sudah pindah ke Jakarta. Saat ini yang
mampu menenun kain tapis di pekon terdekat adalah di Pekon Sukanegara.
Rekomendasi agar penjualan souvenir dapat memberikan hasil optimal
kepada penduduk adalah pelatihan pembuatan souvenir yang unik dengan harga
terjangkau bagi penduduk yang tertarik untuk terlibat. Selain itu juga dilakukan
promosi untuk mempromosikan produk souvenir tersebut kepada para
pengunjung. Pengadaan tempat khusus untuk menjadi tempat penjualan souvenir
akan sangat membantu pengunjung dalam memilih souvenir yang diinginkannya.

6.6 Jasa Transportasi
Selama ini para pengunjung dari luar menyewa kendaraan dari luar jika
ingin melakukan perjalanan dari dan ke Pekon Pahmungan. Bahkan untuk sepeda
motorpun mereka menyewa dari luar, padahal penduduk Pekon Pahmungan
memiliki fasilitas tersebut dan siap menyewakan jika dibutuhkan. Fasilitas sepeda
motor dimiliki oleh lebih dari 20 penduduk, sedangkan mobil yang dimiliki
penduduk penduduk yang menetap di Pekon Pahmungan ada tiga buah. Dua buah
mobil yang dimiliki penduduk Pekon Pahmungan memang digunakan sehari-hari
untuk mengangkut penumpang dari Pekon Pahmungan ke Pasar Krui, sedangkan
satu mobil adalah mobil pribadi.
Rekomendasi untuk elemen ini adalah penguatan aspek pemasaran dengan
memberikan keterangan kepada setiap pengunjung yang datang bahwa jika
mereka membutuhkan transportasi mereka dapat menyewa kepada penduduk.
Untuk menghindari perselisihan, maka seorang koordinator harus ditunjuk.
6.7 Pelibatan Pengunjung Dalam Belajar Kearifan Lokal
Selain pada elemen-elemen yang sudah disebutkan di atas, di dalam
pengembangan ekowisata masyarakat juga dapat memperoleh manfaat dengan
melibatkan pengunjung dalam kegiatan belajar kearifan lokal terutama dalam
pengelolaan repong damar. Kegiatan yang bisa dilakukan misalnya adalah
mengajak pengunjung belajar mengolah biji damar untuk disemai, merawat bibit

damar, memanjat damar untuk mengambil getah dari pohonnya, mengangkut
getah damar dengan menggunakan bebalang dan memilah damar sesuai
kualitasnya. Foto-foto kegiatan pengelolaan repong damar tersebut dapat dilihat
pada lampiran 8.
Kegiatan-kegiatan tersebut akan mempererat interaksi antara penduduk dan
pengunjung. Mereka masing-masing akan mendapatkan manfaat, baik manfaat
sosial maupun ekonomi. Penduduk akan mendapatkan keuntungan dari pertukaran
informasi dengan pengunjung serta mendapatkan keuntungan ekonomi dari biaya
belajar yang dibayarkan penduduk. Bagi pengunjung, belajar hal-hal baru yang
tidak dapat mereka peroleh di daerah lain adalah pengalaman dan kenangan yang
sangat berharga untuk mereka bawa pulang.
Pemberdayaan penduduk dalam bidang ini menuntut perhatian lebih lanjut
dalam bidang peningkatan keterampilan komunikasi penduduk. Penduduk
memang sudah menguasai konsep dan teknik pengelolaan repong damar yang
mereka miliki dari kearifan lokal yang mereka warisi secara turun temurun.
Namun, kekurangan keterampilan berkomunikasi akan menjadi hambatan dalam
menyampaikan konsep kearifan lokal mereka kepada para pengujung.
6.8 Ikhtisar
Strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata dapat
ditentukan sesuai dengan faktor pendukung, penghambat dan kapasitas
masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan pelibatan mereka
secara aktif dalam berbagai elemen pelayanan pengunjung. Pelayanan pengunjung
yang dimaksud di sini bukan hanya dilihat dari segi kepentingan pengunjung saja
tetapi juga dilihat dari kepentingan penduduk. Jika kebutuhan penduduk dan
kebutuhan pengunjung dapat dipertemukan sehingga pengelolaan elemen ini
memberikan keuntungan dua belah pihak secara seimbang, maka pengembangan
ekowisata yang berpihak kepada masyarakat dimungkinkan.
Elemen pelayanan pengunjung dalam pengembangan ekowisata antara lain
adalah pemanduan dan pelayanan penerjemahan, penginapan, penyediaan
makanan, penjualan hasil produksi dan kerajinan, dan transportasi. Dari berbagai

elemen tersebut, penduduk lokal dapat diberdayakan sesuai kapasitasnya untuk
terlibat dan mendapatkan manfaat dari keterlibatan mereka itu.
Pemanduan selama ini sudah merupakan hal yang dilakukan masyarakat
Pekon Pahmungan terhadap pengunjung yang mendatangi wilayah mereka. Setiap
kali ada pengunjung yang mendatangi Pekon Pahmungan, maka secara langsung
penduduk akan mengantarkan, menemani, dan memberikan informasi kepada
pengunjung sesuai tujuan kedatangan mereka. Pelayanan penerjemahan belum
dapat dilakukan penduduk karena penduduk memiliki akses untuk memandu
pengunjung tidak memiliki kemampuan berbahasa Inggris.
Bupati Wayan (bupati pada periode sebelum periode sekarang) pernah
menyarankan kepada penduduk Pahmungan untuk menyediakan satu kamar
khusus bagi pengunjung yang akan menginap. Hal ini beliau sarankan setelah
melihat cukup banyaknya pengunjung yang potensial untuk menjadi sumber
pendapatan tambahan bagi penduduk Pahmungan. Kondisi ekonomi penduduk
Pekon Pahmungan pun sebenarnya tidak terlalu miskin untuk menyediakan
layanan yang baik bagi para pengunjung yang datang. Bentuk rumah di Pekon
Pahmungan pada umumnya masih bergaya tradisional. Menginap dalam rumah
tradisional akan menjadi pengalaman tersendiri bagi para pengunjung.
Di kalangan penduduk asli Pesisir Krui sendiri makanan sehari-hari yang
mereka masak berbeda dengan masakan di daerah lain. Masakan khas mereka
pada umumnya berbahan dasar ikan laut. Ikan tersebut tidak dibakar atau hanya
digoreng, tetapi diberi kuah bening, santan atau ditumis bersama sayur. Bagi
pengunjung, memakan masakan khas suatu daerah yang berbeda dari masakan
yang biasa mereka makan adalah pengalaman berharga. Selama ini biasanya untuk
pengunjung di bawah 20 orang, penduduk akan memasak sendiri. Namun lebih
dari itu, biasanya mereka memesan dari Pasar Krui karena penduduk tidak
sanggup atau harga di Pasar lebih murah.
Hasil produksi yang difokuskan di sini adalah makanan khas. Selama ini
penduduk Pekon Pahmungan yang membuat dan menjual makanan khas terbatas
pada beberapa orang saja. Sebenarnya hampir semua ibu-ibu dan remaja putri
memiliki kemampuan untuk membuat makanan khas, tetapi hanya 2-3 orang di

Pekon Pahmungan yang menekuninya dan menjadikannya mata pencaharian.
Sedikitnya orang yang menekuni bidang ini juga disebabkan karena terbatasnya
pasar untuk penjualan makanan khas.
Sampai saat ini pengunjung biasanya membawa pulang getah damar,
kentongan dari kayu damar, bebalang (alat untuk membawa getah damar dari
rotan yang bisa digendong seperti tas punggung) sebagai souvenir. Seorang
peneliti mempunyai ide untuk membentuk getah damar menjadi bentuk hewan-
hewan yang ada di dalam repong sebagai souvenir.
Selama ini para pengunjung dari luar menyewa kendaraan dari luar jika
ingin melakukan perjalanan dari dan ke Pekon Pahmungan. Bahkan untuk sepeda
motorpun mereka menyewa dari luar, padahal penduduk Pekon Pahmungan
memiliki fasilitas tersebut dan siap menyewakan jika dibutuhkan.
Selain pada elemen-elemen yang sudah disebutkan di atas. Di dalam
pengembangan ekowisata, masyarakat juga dapat memperoleh manfaat dengan
melibatkan pengunjung dalam kegiatan belajar kearifan lokal terutama dalam
pengelolaan repong damar. Kegiatan-kegiatan tersebut akan mempererat interaksi
antara penduduk dan pengunjung. Mereka masing-masing akan mendapatkan
manfaat, baik manfaat sosial maupun ekonomi. Bagi pengunjung, belajar hal-hal
baru yang tidak dapat mereka peroleh di daerah lain adalah pengalaman dan
kenangan yang sangat berharga untuk mereka bawa pulang. Pemberdayaan
penduduk dalam bidang ini menuntut perhatian lebih lanjut dalam bidang
peningkatan keterampilan komunikasi penduduk.
Pendampingan dari para pihak dibutuhkan masyarakat sehingga mereka
mampu untuk mengelola elemen-elemen ekowisata tersebut. Bukan hanya untuk
memenuhi kebutuhan pengunjung, tetapi juga dalam rangka memberikan akses
kepada masyarakat terhadap manfaat yang mungkin mereka dapat dalam
pengembangan ekowisata. Pengelolaan elemen-elemen ekowisata oleh masyarakat
memungkinkan masyarakat untuk mengembangkan potensi sekaligus
mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut.

















BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
7.1.1 Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat Pekon Pahmungan Dalam
Pengembangan Ekowisata.
Faktor-faktor pendukung dan penghambat yang dimiliki oleh Pekon
Pahmungan dalam pengembangan ekowisata adalah hal-hal yang saling
berhubungan satu sama lain. Perbaikan di salah satu faktor, harus dilakukan
bersama-sama dengan perbaikan di faktor yang lain. Hal ini merupakan kegiatan
yang berada dalam satu paket dan tidak dapat dilakukan secara terpisah. Perbaikan
dalam salah satu bidang saja akan menjadi sia-sia, karena setiap faktor
penghambat mempunyai potensi yang sama untuk menghancurkan sistem yang
dibangun bersama masyarakat. Faktor pendukung yang dimiliki, harus lebih
dikembangkan lagi sehingga menjadi faktor pendukung yang mampu
menunjukkan hasil nyata dalam pengembangan ekowisata ini.
Faktor pendukung pengembangan ekowisata di Pekon Pahmungan adalah:
a. Kerangka Ekonomi dan Politik Pendukung Perdagangan
Dukungan pihak pemerintah daerah kabupaten di Liwa. Mereka juga
menyampaikan bahwa mereka siap membantu secara politik dan
melalui aspek lain sehingga mendorong terjadinya perdagangan yang

efektif dan investasi di Lampung Barat, Pekon Pahmungan pada
khususnya sebagai proyek percontohan
b. Tercukupinya hak-hak kepemilikan
Walaupun terdapat perbedaan persepsi antara masyarakat (tanah
milik) dengan pemerintah (KDTI). Kedua persepsi tersebut
mendukung pelaksanaan pengembangan ekowisata selama repong
damar tetap terjaga
c. Keamanan pengunjung terjamin
Kejadian pencurian barang di wilayah pemukiman tidak pernah
terjadi.

d. Resiko Kesehatan Rendah.
Belum pernah terjadi wabah penyakit yang mematikan di pekon ini.
Kecelakaan juga jarang terjadi di Pekon Pahmungan, baik di luar
repong maupun di dalam repong. Selain itu, persediaan air bersih di
Pekon Pahmungan melimpah, mata air-mata airnya tidak pernah
kering sepanjang tahun.
e. Tersedianya fasilitas fisik dan telekomunikasi
Akses menuju ibu kota Kecamatan dan Kabupaten cukup memadai
dengan jarak tempuh 10 menit dan satu jam. Fasilitas fisik yang
tersedia adalah studio radio komunitas dan anjung di pinggir repong.
f. Lanskap dan Flora Fauna
Kondisi ekologi repong di Pekon Pahmungan sangat menarik.
Perpaduan antara repong damar, gua-gua dan sungai alami sangat
sesuai untuk situs tujuan ekowisata
g. Daya Dukung Ekosistem
Tingkat kepadatan penduduk Pekon Pahmungan adalah 977/2600 =
0.38 jiwa per hektar. Dari jumlah tersebut dapat dikatakan ekosistem
masih akan mampu untuk menyerap kedatangan pengunjung dalam
jumlah tertentu.

h. Kesadaran Komunitas Lokal
Sebagian penduduk Pekon Pahmungan sudah memiliki kesadaran
akan adanya kesempatan-kesempatan potensial untuk pengembangan
pekon mereka.
i. Penaksiran Pasar Awal
Intensitas kedatangan pengunjung yang datang ke Pekon Pahmungan
cukup sering. Sekitar 1-3 rombongan tiap bulan.
j. Sumber Daya Potensial Lulusan SMP dan SMA
Sebagian besar pemuda dan pemudi Pekon Pahmungan adalah lulusan
SMP atau SMA, namun tidak memiliki biaya untuk melanjutkan ke
jenjang yang lebih tinggi, sehingga mereka menjadi pengangguran
k. Kerelaan Penduduk
Masyarakat akan bersedia terlibat secara aktif dan ikut berkorban baik
tenaga, waktu atau materi untuk kegiatan-kegiatan yang mereka sadari
dan mereka percayai akan membawa kemajuan dan manfaat bagi
mereka dan pekon mereka.
Faktor penghambat pengembangan ekowisata di Pekon Pahmungan adalah:
a. Ketersediaan fasilitas fisik
Terlalu jauhnya jarak yang harus ditempuh ke bandara terdekat yang
ada di Bandar Lampung. Selain jauh, kondisi jalan yang dilalui juga
tidak tidak terlalu baik sehingga membutuhkan waktu kurang lebih
delapan jam untuk menuju ke sana.
b. Belum ada struktur untuk pengambilan keputusan komunitas yang
efektif.
Kecenderungan berorganisasi penduduk Pekon Pahmungan selama ini
memang belum terlihat baik. Ada beberapa contoh organisasi yang
pernah dibuat di Pekon Pahmungan dan mengalami kegagalan.
c. Penguasaan Seni Budaya Tradisional
Penduduk mengakui kalau saat ini penguasaan mereka terhadap seni
budaya tradisional sudah sangat berkurang. Dulu, sebelum masa

jabatan peratin yang sekarang (2000-2005) kegiatan-kegiatan seni
budaya seperti pencak silat masih digalakkan. Tetapi sejak masa
jabatan peratin yang sekarang, kegiatan-kegiatan tersebut berhenti
karena kurang ada dorongan dari peratin.
d. Terpecahnya Masyarakat dalam Golongan-Golongan
Sampai saat penulis menyelesaikan penelitian di lapang, terdapat tiga
kelompok kepentingan yang terbaca di Pekon Pahmungan. Yaitu dari
pihak pemerintahan, karang taruna dan kelompok radio komunitas. Di
samping itu, di Pekon Pahmungan juga terdapat para tetua adat
sebagai pemimpin informal yang memiliki pengikut masing-masing.
e. Suasana Politik di Krui
Suasana politik Krui pada masa penelitian Maret-Juni 2005 sempat
memanas. Suasana yang memanas ini disebabkan oleh adanya pihak-
pihak di Pesisir Tengah Krui yang ingin mendirikan kabupaten baru,
Kabupaten Pesisir Tengah Krui terpisah dari Kabupaten Lampung
Barat. Informasi terakhir yang didapat penulis saat kembali ke sana
pada tanggal 22 November 2005, aktifitas pelepasan diri dari
Kabupaten Lampung Barat ini sudah tidak lagi berkobar.
Faktor-faktor tersebut bukanlah sebuah angka mati dalam proses
pemberdayaan. Faktor-faktor tersebut merupakan karakteristik awal yang dalam
prosesnya dapat dikembangkan oleh para pihak sehingga mampu menjadikan
masyarakat lebih berdaya.
7.1.2 Kapasitas Masyarakat Dalam Menjadi Bagian Pengembangan
Ekowisata.
Masyarakat Pekon Pahmungan memiliki kapasitas untuk lebih berdaya. Pola
budaya yang mereka miliki memungkinkan mereka untuk bergerak lebih terbuka
dalam mengembangkan diri. Motivasi dan kapasitas yang mereka miliki akan
menimbulkan alternatif baru dalam memberdayakan diri mereka. Tanggapan dan
dukungan masyarakat terhadap setiap ide baru yang mereka anggap akan
mengembangkan pekon mereka adalah modal utama yang penting dalam
pengembangan setiap kegiatan, termasuk ekowisata. Keaktifan komunitas Pekon

Pahmungan untuk terlibat dalam setiap kegiatan yang mereka yakini akan
membawa pekon mereka ke arah yang lebih baik merupakan kenyataan yang
sangat mendukung setiap pengembangan ide baru dalam pemberdayaan
masyarakat.
Berbagai macam pengunjung yang datang ke Pekon Pahmungan telah
membuat sebagian penduduknya terbiasa untuk menerima pengunjung yang
menginap di rumahnya. Ketersediaan fasilitas dan sikap keterbukaan penduduk
adalah hal utama yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan tuan rumah. Saat
ini, sudah ada indikasi kecemburuan di kalangan penduduk karena mereka merasa
akses kepada pengunjung yang menguntungkan secara ekonomi (peneliti,
penggiat LSM) hanya dimiliki oleh orang tertentu saja. Penduduk yang tidak
diinapi pengunjung ini merasa selama ini mereka hanya menjadi tempat tujuan
menginap pengunjung yang tidak memberi keuntungan ekonomi saja (pedagang,
mahasiswa).
Selama ini, pengunjung dari luar membawa penerjemah yang berasal ibu
kota Kabupaten di Liwa atau dari kawasan pasar yang pada umumnya bukan
penduduk asli Lampung sehingga mereka tidak memiliki pengetahuan tentang
pengelolaan repong damar seperti yang dimiliki penduduk asli pada umumnya.
Penduduk memang melakukan pemanduan, tetapi tidak mampu melakukan
penerjemahan sehingga mereka tidak dapat mendapatkan keuntungan optimal dari
proses pemanduan yang mereka lakukan.
Keterampilan dalam pengoperasian komputer terutama dimiliki oleh
beberapa generasi muda. Mereka memiliki kemampuan ini karena di sekolah
mereka diajarkan keterampilan mengoperasikan program-program dasar komputer
seperti microsoft word dan excel sebagai bagian dari kurikulum. Sejauh ini
keterampilan ini belum digunakan di Pekon Pahmungan sehingga sebagian besar
dari anak-anak muda ini segera melupakan keterampilan tersebut saat sudah tidak
diajarkan lagi di sekolah.
Sampai saat ini, pengelolaan keuangan yang kurang baik masih menjadi
musuh utama setiap organisasi yang berdiri di lingkungan Pekon Pahmungan.
Informan yang diwawancara penulis menyatakan bahwa semua organisasi yang

beridiri di lingkungan Pekon Pahmungan pasti akan hancur jika sudah mulai
berhubungan dengan keuangan. Hal ini menunjukkan masih lemahnya
keterampilan manajemen keuangan yang dimiliki oleh penduduk Pekon
Pahmungan.
Jejaring yang dimiliki oleh para penduduk terutama para pengurus
organisasi kemasyarakatan Pekon Pahmungan memang cukup luas. Namun hal ini
belum menjamin kemampuan penduduk Pekon Pahmungan untuk melakukan
pemasaran. Persoalan komunikasi dan alat komunikasi menjadi faktor
penghambat yang penting dalam melakukan pemasaran. Alat komunikasi jarak
jauh yang digunakan penduduk Pekon Pahmungan masih sebatas penggunaan
telepon, telepon rumah, surat atau faximile yang relatif mahal dan terbatas
penggunaannya. Penggunaan e-mail dan promosi melalui web site belum dikenal
di kalangan penduduk Pekon Pahmungan, termasuk di kalangan pejabat
pemerintah desa atau pengurus PMPRD (Persatuan Masyarakat Petani Repong
Damar). Persoalan komunikasi terutama karena para pengurus PMPRD hampir
tidak ada yang mampu berbahasa Inggris, selain itu masyarakat belum menguasai
media untuk melakukan promosi dan pemasaran produk mereka
Penduduk Pekon Pahmungan memiliki sikap keterbukaan yang
memudahkan orang luar masuk dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari
mereka. Masyarakat Pekon Pahmungan sudah terbiasa dengan kedatangan orang
luar yang datang untuk melakukan studi banding atau penelitian. Sudah tidak ada
rasa terkejut ketika mereka melihat adanya orang luar yang berjalan-jalan di
lingkungan mereka. Keterbukaan ini terutama mereka tunjukkan kepada
pengunjung dari luar yang mau bergabung dengan mereka. Informan yang
diwawancara penulis menunjukkan kebanggaan mereka saat menceritakan
hubungan baik mereka dengan para peneliti baik dari dalam maupun dari luar
negeri yang pernah datang ke rumah mereka, baik untuk menginap atau sekedar
ngobrol-ngobrol. Bila ada pengunjung yang bersikap sombong atau tidak
menyenangkan lain, hal yang akan dilakukan masyarakat adalah sebatas
mempergunjingkan mereka. Tidak pernah terjadi pengusiran atau tindakan kasar
terhadap pengunjung di Pekon Pahmungan.

7.1.3 Strategi Pemberdayaan Dalam Pengembangan Ekowisata di Pekon
Pahmungan.
Strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan ekowisata dapat
ditentukan sesuai dengan faktor pendukung, penghambat dan kapasitas
masyarakat. Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan pelibatan mereka
secara aktif dalam berbagai elemen pelayanan pengunjung. Pelayanan pengunjung
yang dimaksud di sini bukan hanya dilihat dari segi kepentingan pengunjung saja
tetapi juga dilihat dari kepentingan penduduk. Jika kebutuhan penduduk dan
kebutuhan pengunjung dapat dipertemukan sehingga pengelolaan elemen ini
memberikan keuntungan dua belah pihak secara seimbang, maka pengembangan
ekowisata yang berpihak kepada masyarakat dimungkinkan.
Pemanduan selama ini sudah merupakan hal yang dilakukan masyarakat
Pekon Pahmungan terhadap pengunjung yang mendatangi wilayah mereka.
Pelayanan penerjemahan belum dapat dilakukan penduduk karena penduduk
memiliki akses untuk memandu pengunjung tidak memiliki kemampuan
berbahasa Inggris.
Bupati Wayan (bupati pada periode sebelum periode sekarang) pernah
menyarankan kepada penduduk Pahmungan untuk menyediakan satu kamar
khusus bagi pengunjung yang akan menginap. Hal ini beliau sarankan setelah
melihat cukup banyaknya pengunjung yang potensial untuk menjadi sumber
pendapatan tambahan bagi penduduk Pahmungan. Bentuk rumah di Pekon
Pahmungan pada umumnya masih bergaya tradisional. Menginap dalam rumah
tradisional akan menjadi pengalaman tersendiri bagi para pengunjung.
Di kalangan penduduk asli Pesisir Krui sendiri makanan sehari-hari yang
mereka masak berbeda dengan masakan di daerah lain. Bagi pengunjung,
memakan masakan khas suatu daerah yang berbeda dari masakan yang biasa
mereka makan adalah pengalaman berharga.
Hasil produksi yang difokuskan di sini adalah makanan khas. Selama ini
penduduk Pekon Pahmungan yang membuat dan menjual makanan khas terbatas
pada beberapa orang saja. Sebenarnya hampir semua ibu-ibu dan remaja putri
memiliki kemampuan untuk membuat makanan khas, tetapi hanya 2-3 orang di

Pekon Pahmungan yang menekuninya dan menjadikannya mata pencaharian.
Sedikitnya orang yang menekuni bidang ini juga disebabkan karena terbatasnya
pasar untuk penjualan makanan khas.
Dalam aspek pengelolaan souvenir, masyarakat dapat diajak untuk melihat
kembali potensi yang mereka miliki selain barang-barang yang memang sudah
biasa dijadikan souvenir.
Selama ini para pengunjung dari luar menyewa kendaraan dari luar jika
ingin melakukan perjalanan dari dan ke Pekon Pahmungan padahal penduduk
Pekon Pahmungan memiliki fasilitas tersebut dan siap menyewakan jika
dibutuhkan.
Secara umum, kelemahan masyarakat yang harus dibenahi dalam upaya
pemberdayaan adalah pada aspek pemasaran. Aspek pemasaran mencakup
penyebarluasan informasi kepada pengunjung tentang potensi penduduk dan
penyebaran akses kepada penduduk. Koordinasi yang jelas harus dilakukan untuk
menghindari terkumpulnya akses pada pihak tertentu sehingga menimbulkan
kecemburuan di kalangan penduduk.
Selain pada elemen-elemen yang sudah disebutkan di atas. Di dalam
pengembangan ekowisata, masyarakat juga dapat memperoleh manfaat dengan
melibatkan pengunjung dalam kegiatan belajar kearifan lokal terutama dalam
pengelolaan repong damar. Kegiatan yang bisa dilakukan misalnya adalah
mengajak pengunjung belajar mengolah biji damar untuk disemai, merawat bibit
damar, memanjat damar untuk mengambil getah dari pohonnya, mengangkut
getah damar dengan menggunakan bebalang dan memilah damar sesuai
kualitasnya. Kegiatan-kegiatan tersebut akan mempererat interaksi antara
penduduk dan pengunjung. Mereka masing-masing akan mendapatkan manfaat,
baik manfaat sosial maupun ekonomi. Pemberdayaan penduduk dalam bidang ini
menuntut perhatian lebih lanjut dalam bidang peningkatan keterampilan
komunikasi penduduk.
Elemen-elemen dalam pengembangan ekowisata dapat dikelola oleh warga
komunitas, jika masing-masing pihak mampu dan berkomitmen untuk
melaksanakan peran masing-masing dengan bijak. Masyarakat sebagai subyek

pengembangan akan dapat mengelola elemen-elemen ekowisata dengan
pendampingan yang berkelanjutan oleh pihak berwenang. Posisi pendamping
dimaksudkan untuk berdiri di samping komunitas, bukan untuk memimpin
mereka dan mengatur setiap langkah-langkah yang harus diambil komunitas tanpa
ada pengambilan keputusan bersama. Pengelolaan elemen-elemen dalam
pengembangan ekowisata disesuaikan dengan faktor-faktor penghambat dan
pendukung, serta kapasitas yang dimiliki oleh komunitas. Pendampingan untuk
melakukan perbaikan dan pengembangan diri komunitas penting dilakukan untuk
menjadikan komunitas mampu dan memiliki percaya diri untuk melakukan
pengelolaan elemen-elemen tersebut, sehingga mampu memperoleh manfaat
secara optimal.
7.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa hal yang penulis kemukakan
sebagai saran dan rekomendasi dalam konteks pemberdayaan masyarakat dalam
pengembangan ekowisata di Pekon Pahmungan, yaitu:
1. Pelaksanaan penelitian yang lebih mendalam mengenai kondisi lanskap
Pekon Pahmungan dengan lebih detail untuk mengetahui titik-titik
penting ekosistem yang dapat dijadikan fokus ekowisata.
2. Penelitian tentang kapasitas masyarakat dan kondisi lanskap di pekon-
pekon lain sepanjang Pesisir Tengah Krui untuk mengetahui apakah
potensi pengembangan ekowisata dimiliki secara umum oleh pekon-
pekon di Pesisir Krui. Keberadaan semakin banyak titik situs ekowisata
akan mempermudah pemasaran produk wisata.
3. Keseriusan dan komitmen dari para pihak yang terlibat dalam setiap
program pengembangan masyarakat adalah hal yang harus ditekankan
setiap kali sebuah program pengembangan masyarakat dilakukan.
Karena ketika sebuah program dilakukan lalu berhenti di tengah jalan,
maka masyarakatlah yang menjadi pihak yang paling menderita dan
tidak berdaya dibandingkan pihak lain.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Arah Pemberdayaan Masyarakat
http://www.lppm.itb.ac.id/organisasi.html?menu_parent=5
Anonim, Pendekatan Partisipatif, Membangun Pendekatan partisipastif'
http://www.deliveri.org/guidelines/implementation/ig_3/ig_3_3i.htm
Anonim, Pendekatan Partisipatif, Prinsip-prinsip Partisipasi
http://www.deliveri.org/guidelines/implementation/ig_3/ig_3_3i.htm
Aryanto, Rudy 2003, Environmental Marketing pada Ekowisata pesisir:
Menggerakkan Ekonomi Rakyat Daerah Otonom, Makalah
Pengantar Falsafah Sains Pengembangan pasca Sarjana/ S3, Institut
Pertanian bogor
Buku Profil Pekon Pahmungan tahun 2003, Kecamatan Pesisir Tengah Krui,
Kabupaten Lampung Barat, Propinsi Lampung
Ceballos dan Lascurain, Ecotourism
http://www.csa.com/hottopics/ecotour1/Notes/nCeb.html
Conference Workshop on Ecotourism, Ecotourism and Community
Development, 7-12 November 1999, Philipina
Cooper et all 1999, Tourism Principles and Practice, Harlow: Pearson Education
limited
Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat, 2002, Studi Kolaborasi: Pengelolaan
Repong Damar Krui Lampung Barat, Bandar Lampung: Syafaat
Advertising bekerjasama dengan Forum Komunikasi Kehutanan
Masyarakat (FKKM)
Friedmann, John 1992, The Politics of Alternatif Development, Massachussetts:
Blackwell Publishers
Info Comdev, vol.2, no.2, Juni-Juli 2003
Kusworo, Ahmad 2000, Perambah Hutan Atau Kambing Hitam? Potret Sengketa
Kawasan Hutan di Lampung, Bogor: Pustaka Latin
Linsday, Heather 2003, Ecotourism: the Promise and Perils of Environmentally-
Oriented Travel
http://www.csa.com/hottopics/ecotour1/editor.html
Lokakarya SHK 1995 20-26 November, Kebun Damar di Pahmungan, Bandar
Lampung
Mader, Ron, Definitions http://www.planeta.com/ecotravel/tour/definitions.html
Moleong, Lexy J 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya

Nugraheni, Endang 2002, Sistem Pengelolaan Ekowisata Berbasis Masyarakat
di Taman Nasional (Studi Kasus Taman Nasional Gunung Halimun),
Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor
Nurrochmat, Dodik Ridho 2005, Strategi Pengelolaan Hutan; Upaya
Menyelamatkan Hutan yang Tersisa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sitorus, MT Felix 1998, Penelitian Kualitatif, Suatu Perkenalan, Bogor:
Kelompok Dokumentasi Ilmu Sosial
Tisdell, Clem 2000, Tourism Economics, the Environment and Development
Analysis and Policy, Cheltenham: Edward Elgar Publishing
Wollenberg et al 2001, Income is Not Enough: The Effect of Economic Incentives
on Forest product Consercation, Bogor: Center for International Forestry
Research
WWF International 2001, Guidelines For Community-Based Ecotourism
Development




































Lampiran 1. Daftar Istilah

Agroforest : Sistem pertanian kompleks yang memiliki penampakan dan
fungsi seperti ekosistem hutan alam. Hal utama yang
membedakannya dengan hutan alam adalah bahwa agroforest
dikelola oleh manusia dan biasanya diisi oleh berbagai tanaman
yang dianggap memberikan keuntungan ekonomi bagi
pengelola.
Bebalang : Keranjang dari rotan yang bisa digendong seperti tas punggung.
Bebalang biasa digunakan untuk membawa getah damar dari
dalam repong.
Bedikar : Seni tradisional yang berupa tahlilan dengan dinyanyikan dan
diiringi rebana. Biasa ditampilkan oleh bapak-bapak dalam acara
hajatan penikahan.
Butetah : Sajak tradisional yang dibaca secara biasa (tidak dinyanyikan).
Hahiwang : Sajak tradisional yang dibaca dengan dinyanyikan.
Pekon : Istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut desa.
Peratin : Istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut kepala
desa.
Repong : Istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk kebun. Alasan
penduduk lebih memilih untuk menggunakan istilah repong
adalah karena repong ditanami dengan berbagai jenis tanaman,
tidak seperti istilah kebun yang merujuk pada satu jenis tanaman
saja.
Way : Istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut sungai.
Muli : Istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut pemudi.
Meranai : Istilah lokal dalam Bahasa Lampung untuk menyebut pemuda.
















Lampiran 2. Daftar Singkatan
BW : BowWezen
CIFOR : Center for International Forestry Research
FKKM : Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat
FO : Field Officer
ICRAF : International Center for Research in Agroforestry
JICA : Japan International Corporation Agency
HPH : Hak Pengelolaan Hutan
HPT : Hutan Produksi Terbatas
KKP : Kuliah Kerja Profesi
KPSHK: Konsorsium Pendukung Sistem Hutan Kemasyarakatan
Lambar: Lampung Barat
LATIN: Lembaga Alam Tropika Indonesia
LBH : Lembaga Bantuan Hukum
LHP : Lembaga Himpun Pemekonan
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat
LPM : Lembaga Perekonomian Mikro
MCK : Mandi Cuci Kakus
Pemda : Pemerintah Daerah
PMPRD: Persatuan Masyarakat Petani Repong Damar
SHK :Sistem Hutan Kemasyarakatan
TNBBS: Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
WWF : World Wide Fund for Nature
















Lampiran 3. Tabel Bentuk Partisipasi Para Pihak yang Terlibat dalam Ekowisata

Pemerintah Organisasi Non
Pemerintah
Nasional
Organisasi Non
Pemerintah Lokal
Komunitas/
Pendamping
komunitas
Akademisi
Mengidentifikasi
produk
ekowisata
(apakah mereka
dapat diterima
secara sosial?)
Mengidentifikasi
keinginan
komunitas
Mengidentifikasi
keinginan
komunitas untuk
menjadi sebuah
situs ekowisata
Analisis SWOT
terhadap
komunitas

Mengenali dan
menentukan
pihak-pihak
yang terlibat
Mengembangkan
perencanaan
partisipatoris
Mengembangkan
MOA
(Memorandum of
Agreement),
dasar pemikiran,
tujuan, dan
kerangka pikir
Menetapkan
struktur,
peraturan, dan
kebijaksanaan
Rencana
pembagian
Seleksi situs
mengidentifikasi
organisasi non
pemerintah yang
potensial,
pendamping
komunitas atau
ide-ide
komunitas


Pemimpinan
dalam persiapan
sosial menuju
pada penerimaan
sosial
Pembangunan
kesadaran tentang
ekowisata
(dampak positif
dan negatif)
mengidentifikasi
struktur dan
mekanisme
komunitas
Pelibatan
komunitas dalam
menentukan
indikator-
indikator
Penggaris-
dasaran data
sosial ekonomi
(budaya dan
biologi)


Perundingan
para pihak
Penelitian
peraturan dan
turunannya,biologi,
fisik, sosial,
ekonomi, dan studi
kependudukan


Persiapan sosial
perundingan,
penerimaan,
validasi, analisis
SWOT


Perencanaan
analisis SWOT,
penilaian
kemungkinan


Koordinasi
Unit Pemerintahan
Lokal, Organisasi
non pemerintah
dan pihak lain


Implementasi



Monitoring dan
evaluasi

Integrasi
pengetahuan
tentang
kesadaran
komunitas
PRA
(Participatory
Rural
Appraisal)
perundingan
Mencatat
kesadaran
akan
lingkungan
dan
keberlanjutan



Partisipasi
dan pelibatan
dalam
perencanaan,
implementasi,
evaluasi
terhadap
komunitas dan
kebijakan
Identifikasi
komunitas

Penumbuhan
kesadaran
Participation
Action Research
Validasi
Komunitas


Mengorganisasi-
perumusan
pendampingan


Pembangunan
kapasitas
pelatihan
pendidikan


Perencanaan
pokok
pembangunan
produk jaringan
pemasaran
perumusan
kebijakan


Implementasi/
operasi


Monitoring dan

Pemerintah Organisasi Non
Pemerintah
Nasional
Organisasi Non
Pemerintah Lokal
Komunitas/
Pendamping
komunitas
Akademisi
wilayah
Mengembangkan
program-
program daerah
(penelitian dan
pengembangan
pasar)
(pengembangan
produk)
(pembangunan
kapasitas)
Menentukan
strategi-strategi
finansial
Rencana bisnis
untuk
memastikan
pembagian yang
adil dan
penentuan harga
yang pro
komunitas
Advokasi pada
perubahan
kebijakan yang
dibutuhkan

Pengajuan
operasi
Monitoring dan
evaluasi
Pengembangan
interpretasi
Strukturisasi
sistem-sistem
sanksi


Perencanaan
bersama di
antara semua
pihak
pengembangan
produk struktur
pengelolaan
komunitas/
sistem
pembagian
keuntungan
kebijaksanaan
dan garis
pedoman


Pelatihan


Pemasaran



Implementasi


Monitoring dan
evaluasi

evaluasi
Keterangan: tanda panah menunjukkan tahapan kegiatan yang dilakukan

Sumber: Conference Workshop on Ecotourism, Conservation & Community
Development, halaman 87, 1999







Lampiran 4.
Yang di kertas ya mas, ada 2 lembar. Maaf aku gak ada soft copynya. Belum di
scan.














































Lampiran 5. Tabel Teknik Pengumpulan Data

Masalah Data yang diperlukan Sumber data
1. Bagaimana
faktor-faktor
pendukung dan
penghambat
yang dimiliki
Pekon
Pahmungan
saling
berhubungan
dalam
pengembangan
ekowisata
berbasis
komunitas?
Mengapa?

kondisi ekologi,
sosial, ekonomi, dan
politik di Pekon
Pahmungan.

- Observasi lapang kondisi
lingkungan Pekon
Pahmungan.
- Data sekunder: data
monografi penduduk Pekon
Pahmungan dari aparat
Pekon, buku-buku tentang
komunitas lokal Pekon
Pahmungan Krui, laporan
penelitian-laporan penelitian
tentang komunitas lokal
Pekon Pahmungan Krui.
- Informan: pendamping
komunitas dari LSM LATIN,
pemuka masyarakat Pekon
Pahmungan, anggota
komunitas Pekon
Pahmungan, peneliti-peneliti
yang pernah atau sedang
melakukan penelitian di
lokasi tersebut.
- Responden: anggota
komunitas Pekon
Pahmungan.
2. Bagaimana
kapasitas
masyarakat
berproses
untuk menjadi
bagian
pengembangan
ekowisata
berbasis
komunitas?

a) Aspek-aspek dalam
pengembangan
ekowisata.
b) Kapasitas masyarakat
untuk mengelola
aspek-aspek tersebut.
- Observasi lapang kondisi
lingkungan Pekon
Pahmungan.
- Data sekunder: data
monografi penduduk Pekon
Pahmungan dari aparat
Pekon, buku-buku tentang
komunitas lokal Pekon
Pahmungan Krui, laporan
penelitian-laporan penelitian
tentang komunitas lokal
Pekon Pahmungan Krui.
- Informan: pakar ekowisata
dari LSM, lembaga
pemerintah dan lembaga
penelitian, pendamping
komunitas dari LSM LATIN,
pemuka masyarakat Pekon

Masalah Data yang diperlukan Sumber data
Pahmungan, anggota
komunitas Pekon
Pahmungan, peneliti-peneliti
yang pernah atau sedang
melakukan penelitian di
Pekon Pahmungan.
- Responden: anggota
komunitas Pekon
Pahmungan.
3. Bagaimana
strategi
pemberdayaan
dalam
pengembangan
ekowisata di
Pekon
Pahmungan?

Dari data no1 dan no 2 - Observasi lapang kondisi
lingkungan Pekon
Pahmungan.
- Data sekunder: data
monografi penduduk Pekon
Pahmungan dari aparat
Pekon, buku-buku tentang
komunitas lokal Pekon
Pahmungan Krui, laporan
penelitian-laporan penelitian
tentang komunitas lokal
Pekon Pahmungan Krui.
- Informan: pendamping
komunitas dari LSM LATIN
dan LSM lain yang pernah
melakukan pendampingan di
komunitas Pekon
Pahmungan, pemuka
masyarakat Pekon
Pahmungan, anggota
komunitas Pekon
Pahmungan, peneliti-peneliti
yang pernah atau sedang
melakukan penelitian di
lokasi tersebut
- Responden: anggota
komunitas Pekon
Pahmungan.













Lampiran 6. Gambar Saung dan Fasilitas Kamar Mandi di Sampingnya













Gambar 1. Saung Pertemuan PMPRD
Dokumentasi: Dian Ekowati
















Gambar 2. Saung Pertemuan PMPRD
Dokumentasi: Dian Ekowati















Gambar 3. Suasana Saung yang Nyaman Untuk
Istirahat Setelah Perjalanan ke Repong
Dokumentasi: Koen Kusters















Gambar 4. Fasilitas Kamar Mandi yang Terletak
di Samping Saung
Dokumentasi: Dian Ekowati














Gambar 5. Kamar Mandi yang Terjaga
Kebersihannya
Dokumentasi: Dian Ekowati
















Lampiran 7. Gambar Potensi Ekologi Pekon Pahmungan














Gambar 1. Sawah dengan Latar Belakang Repong Damar
di Pekon Pahmungan
Sumber: Dokumentasi Koen Kusters














Gambar 2. Way Ngison/ Sungai Ngison
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati














Gambar 3. Way Mahnay Lunik/ Sungai Mahnay Kecil
Sumber: Dokumentasi Dian Ekowati



















Gambar 4. Tumbuhan dalam Repong Gambar 5. Jalan Setapak
Dokumentasi: Dian Ekowati di Dalam Repong
Dokumentasi: Astrid Nurfitria R.




















Gambar 6. Gua di Samping Gambar 7. Perjalanan Menyusuri
Way Mahnay Lunik Anak Sungai di Repong
Dokumentasi: Dian Ekowati Dokumentasi: Suhar