Anda di halaman 1dari 9

BAB 1

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Stroke merupakan penyebab kematian kedua terbanyak di negara maju dan ketiga
terbanyak di negara berkembang. Berdasarkan data WHO tahun 2002, lebih dari 5,47 juta
orang meninggal karena stroke di dunia.
Dari data yang dikumpulkan oleh American Heart Association tahun 2004 setiap 3 menit satu
orang meninggal akibat stroke. Dengan kemajuan teknologi, stroke lebih sering
meninggalkan kecacatan dibandingkan kematian. Stroke merupakan penyebab kecacatan
kedua terbanyak di seluruh dunia pada individual di atas 60 tahun.
Beban biaya yang ditimbulkan akibat stroke sangat besar, selain bagi pasien dan
keluarganya, juga bagi negara. Kondisi ini belum memperhitungkan beban psikososial bagi
keluarga yang merawatnya. Oleh karena itu pencegahan stroke menjadi sangat penting.
Upaya pencegahan antara lain berupa kontrol terhadap faktor risiko stroke (Tabel 1) dan
perilaku hidup yang sehat (primary prevention). Bagi pasien yang telah mendapat serangan
stroke, intervensi rehabilitasi medis sangat penting untuk mengembalikan pasien pada
kemandirian mengurus diri sendiri dan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari tanpa
menjadi beban bagi keluarganya. Perlu diupayakan agar pasien tetap aktif setelah stroke
untuk mencegah timbulnya komplikasi tirah baring dan stroke.
berulang (secondary prevention). Komplikasi tirah baring dan stroke berulang akan
memperberat disabilitas dan menimbulkan penyakit lain yang bahkan dapat membawa
kepada kematian.
Tabel 1. Faktor Risiko Stroke
Tidak dapat Dapat dimodifikasi Potensial : Usia, jenis kelamin, ras.
Yang dapat dimodifikasi: Hipertensi , Diabetes mellitus , Hiperkolesterolemia ,Hereditas
Atrial ,Merokok, stenosis karotis


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. DEFINISI
Definisi stroke menurut WHO adalah suatu gangguan fungsi saraf akut yang
disebabkan oleh karena gangguan peredaran darah otak, dimana secara mendadak
(dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) timbul gejala dan tanda
yang sesuai dengan daerah fokal di otak yang terganggu
B. KLASIFIKASI STROKE
Patologi stroke dapat dibagi dalam 2 kategori yaitu hemoragik dan iskemia.
Gejala klinis stroke bervariasi tergantung pada bagian otak yang sirkulasinya terganggu.
Secara umum stroke memberikan gambaran klinis dengan pola yang khas, dengan
variasi secara individual tergantung pada ukuran pembuluh darah, pola aliran atau
luasnya disrupsi aliran darah ke otak.
Stroke hemoragik memiliki sejumlah penyebab. Ada 4 tipe yang paling umum,
yaitu perdarahan hipertensif intrakranial, ruptur aneurisma sakular, perdarahan dari
AVM (arteriovenous malformation) dan perdarahan spontan di daerah lobus.
C. GANGGUAN FUNGSI AKIBAT STROKE
Dalam rehaebilitasi medis, istilah fungsi merujuk pada kemampuan/ketrampilan
seseorang untuk melakukan aktivitas sehari-hari, aktivitas hiburan atau hobi, pekerjaan,
interaksi sosial dan perilaku lain yang dibutuhkan. Aktivitas sehari-hari seseorang tentu
sangat luas, individu yang satu berbeda dengan individu lain. Aktivitas sehari-hari yang
perlu dinilai adalah kemampuan dasar dalam melakukan aktivitas perawatan diri sendiri
yaitu makan-minum, mandi, berpakaian, berhias, menggunakan toilet, kontrol buang air
kecil dan besar, berpindah tempat (transfer), mobilitas-jalan, didefinisikan sebagai
kerusakan atau proses abnormal yang terjadi di dalam organ atau sistem organ tubuh.
Contoh patologi: stroke non-hemoragik yang di-sebabkan oleh trombosis, hipertensi,
diabetes mellitus, dan sebagainya.


1. Impairment (gangguan organ atau fungsi organ)
Impairments merupakan akibat langsung dari patologi,didefinisikan sebagai
hilang atau terganggunya struktur atau fungsi anatomis, fisiologis, atau psikologis
tubuh. Contoh impairment adalah hemiparesis, afasia, disartria, disfagia, depresi dan
lain sebagainya.
2. Disability (ketidakmampuan)
Disability didefinisikan sebagai keterbatasan atau hilangnya kemampuan untuk
melakukan aktivitas yang umum dapat dilakukan oleh orang lain yang normal karena
impairment yang dideritanya. Contoh disabil-ity: adalah ketidak mampuan berjalan
(akibat hemipare-sis), ketidakmampuan berkomunikasi (akibat afasia,disatria) atau
ketidakmampuan melakukan perawatan diri sendiri seperti berpakaian (akibat
hemiparesis, gangguan kognitif, gangguan sensoris dan lain-lain)
3. Handicap (keterbatasan dalam peran)
Handicap atau kecacatan merupakan suatu konsekuensi sosial dari penyakit,
didefinisikan sebagai terganggu atau terbatasnya kemampuan aktualisasi diri dan
untuk berperan secara sosial, budaya, ekonomi dalam keluarga dan lingkungan bagi
individual tertentu akibat impair-ment dan disability yang dideritanya. Contoh
handi-cap adalah ketidakmampuan berperan sebagai ayah bermain dengan anaknya
(karena hemiparesis yang menyebabkannya sulit bergerak atau berjalan), tidak dapat
bekerja (karena kesulitan berjalan ke tempat kerja, melakukan pekerjaan sebelumnya)
dan lain sebagainya
Pada tahun 2001 WHO mempublikasikan revisi dari ICIDH menjadi ICF
(International Classification of Func-tioning) dimana istilah disability dan handicap
diganti menjadi activity and participation. 5-7 Revisi ini secara prinsip tidak terlalu
banyak berbeda dengan ICIDH, hanya di-definisikan lebih positif, yaitu disability
(ketidakmampuan) diganti menjadi activity (kemampuan fungsional penderita),
sedangkan handicap (kecacatan) diganti menjadi partici-pation (peran-serta
penderita dalam kehidupan sesuai dengan ketidak-mampuan, aktivitas, kondisi
kesehatan dan faktor kontekstual lainnya ). Rehabilitasi medis tidak hanya berfokus
pada apa yang pasien tidak mampu lakukan namun juga pada apa yang pasien masih
mampu lakukan.
D. PROSES PEMULIHAN SETELAH STROKE
Proses pemulihan setelah stroke dibedakan atas pemulihan neurologis (fungsi
saraf otak) dan pemulihan fungsional (kemampuan melakukan aktivitas fungsional).
Pemulihan neurologis terjadi awal setelah stroke. Mekanisme yang mendasari adalah
pulihnya fungsi sel otak pada area penumbra yang berada di sekitar area infark yang
se-sungguhnya, pulihnya diaschisis dan atau terbukanya kembali sirkuit saraf yang
sebelumnya tertutup atau tidak digunakan lagi. Kemampuan fungsional pulih sejalan
dengan pemulihan neurologis yang terjadi.
Setelah lesi otak menetap, pemulihan fungsional masih dapat terus terjadi sampai
batas-batas tertentu terutama dalam 3-6 bulan pertama setelah stroke. Hal itulah yang
menjadi fokus utama rehabilitasi medis, yaitu untuk mengembalikan kemandirian
pasien mencapai kemampuan fungsional yang optimal. Proses pemulihan fungsional
terjadi berdasarkan pada proses reorganisasi atau plastisitas otak melalui:
1. Proses Substitusi
Proses ini sangat tergantung pada stimuli eksternal yang diberikan melalui
terapi latihan menggunakan berbagai metode terapi. Pencapaian hasilnya
sangat tergantung pada intaknya jaringan kognitif, visual dan proprioseptif,
yang membantu terbentuknya proses belajar dan plastisitas otak.
2. Proses Kompensasi
Proses ini membantu menyeimbangkan keinginan aktivitas fungsional pasien dan
kemampuan fungsi pasien yang masih ada. Hasil dicapai melalui latihan
berulang-ulang untuk suatu fungsi tertentu, pemberian alat bantu dan atau ortosis,
perubahan perilaku, atau perubahan lingkungan
D. INTERVENSI REHABILITASI MEDIS PADA STROKE
Secara umum rehabilitasi pada stroke dibedakan dalam beberapa fase. Pembagian ini
dalam rehabilitasi medis dipakai sebagai acuan untuk menentukan tujuan (goal) dan
jenis
intervensi rehabilitasi yang akan diberikan, yaitu:
1. Stroke fase akut: 2 minggu pertama pasca serangan stroke
2. Stroke fase subakut: antara 2 minggu-6 bulan pasca stroke
3. Stroke fase kronis: diatas 6 bulan pasca stroke
E. REHABILITASI STROKE FASE AKUT
Pada fase ini kondisi hemodinamik pasien belum stabil, umumnya dalam
perawatan di rumah sakit, bisa di ruang rawat biasa ataupun di unit stroke.
Dibandingkan dengan perawatan di ruang rawat biasa, pasien yang di rawat di unit
stroke memberikan outcome yang lebih baik. Pasien menjadi lebih mandiri, lebih
mudah kembali dalam kehidupan sosialnya di masyarakat dan mempunyai kualitas
hidup yang lebih baik. 9 Rehabilitasi pada fase itu tidak akan di bahas lebih lanjut
dalam makalah ini, karena memerlukan penanganan spesialistik di rumah sakit
F. REHABILITASI STROKE FASE SUBAKUT
Pada fase ini kondisi hemodinamik pasien umumnya sudah stabil dan
diperbolehkan kembali ke rumah, kecuali bagi pasien yang memerlukan penanganan
rehabilitasi yang intensif. Sebagian kecil (sekitar 10%) pasien pulang dengan gejala
sisa yang sangat ringan, dan sebagian kecil lainnya (sekitar 10%) pasien pulang
dengan gejala sisa yang sangat berat dan memerlukan perawatan orang lain
sepenuhnya. Namun sekitar 80% pasien pulang dengan gejala sisa yang bervariasi
beratnya dan sangat memerlukan intervensi rehabilitasi agar dapat kembali mencapai
kemandirian yang optimal.
Rehabilitasi pasien stroke fase subakut dan kronis mungkin dapat ditangani oleh
pelayanan kesehatan primer. Rehabilitasi fase ini akan dibahas lebih rinci terutama
mengenai tatalaksana sederhana yang tidak memerlukan peralatan canggih.
Pada fase subakut pasien diharapkan mulai kembali untuk belajar melakukan
aktivitas dasar merawat diri dan berjalan. Dengan atau tanpa rehabilitasi, sistim saraf
otak akan melakukan reorganisasi setelah stroke. Reorganisasi otak yang terbentuk
tergantung sirkuit jaras otak yang pal-ing sering digunakan atau tidak digunakan.
Melalui rehabilitasi, reorganisasi otak yang terbentuk diarahkan agar mencapai
kemampuan fungsional optimal yang dapat dicapai oleh pasien, melalui sirkuit yang
memungkinkan gerak yang lebih terarah dengan menggunakan energi/tenaga se-
efisien mungkin. Hal tersebut dapat tercapai melalui terapi latihan yang terstruktur,
dengan pengulangan secara kontinyu serta mempertimbangkan kinesiologi dan
biomekanik gerak.
G. Prinsip-prinsip Rehabilitasi Stroke:
1. Bergerak merupakan obat yang paling mujarab. Bila anggota gerak sisi yang
terkena terlalu lemah untuk mampu bergerak sendiri, anjurkan pasien untuk bergerak/
beraktivitas menggunakan sisi yang sehat, namun sedapat mungkin juga
mengikutsertakan sisi yang sakit. Pasien dan keluarga seringkali beranggapan salah,
mengharapkan sirkuit baru di otak akan terbentuk dengan sendirinya dan pasien
secara otomatis bisa bergerak kembali. Sebenarnya sirkuit hanya akan terbentuk bila
ada kebutuhan akan gerak tersebut. Bila ekstremitas yang sakit tidak pernah
digerakkan sama sekali, presentasinya di otak akan mengecil dan terlupakan.
2. Terapi latihan gerak yang diberikan sebaiknya adalah gerak fungsional daripada
gerak tanpa ada tujuan tertentu. Gerak fungsional misalnya gerakan meraih,
memegang dan membawa gelas ke mulut. Gerak fungsional mengikutsertakan dan
mengaktifkan bagian bagian dari otak, baik area lesi maupun area otak normal
lainnya, menstimulasi sirkuit baru yang dibutuhkan. Melatih gerak seperti menekuk
dan meluruskan (fleksi-ekstensi) siku lengan yang lemah menstimulasi area lesi saja.
Apabila akhirnya lengan tersebut bergerak, tidak begitu saja bisa digunakan untuk
gerak fungsional, namun tetap memerlukan terapi latihan agar terbentuk sirkuit yang
baru.
3. Sedapat mungkin bantu dan arahkan pasien untuk melakukan gerak fungsional
yang normal, jangan biarkan menggunakan gerak abnormal. Gerak normal artinya
sama dengan gerak pada sisi sehat. Bila sisi yang terkena masih terlalu lemah, berikan
bantuan tenaga secukupnya dimana pasien masih menggunakan ototnya secara
aktif. Bantuan yang berlebihan membuat pasien tidak menggunakan otot yang akan
dilatih (otot bergerak pasif). Bantuan tenaga yang kurang menyebabkan pasien
mengerahkan tenaga secara berlebihan dan mengikut-sertakan otot-otot lain. Ini akan
memperkuat gerakan ikutan ataupun pola sinergis yang memang sudah ada dan
seharusnya dihindari. Besarnya bantuan tenaga yang diberikan harus disesuaikan
dengan kemajuan pemulihan pasien.
4. Gerak fungsional dapat dilatih apabila stabilitas batang tubuh sudah tercapai, yaitu
dalam posisi duduk dan berdiri. Stabilitas duduk dibedakan dalam stabilitas duduk
statik dan dinamik. Stabilitas duduk statik tercapai apabila pasien telah mampu
mempertahankan duduk tegak tidak bersandar tanpa berpegangan dalam kurun waktu
tertentu tanpa jatuh/miring ke salah satu sisi. Stabilitas duduk dinamik tercapai
apabila pasien dapat mempertahankan posisi duduk sementara batang tubuh doyong
ke arah depan, belakang, ke sisi kiri atau kanan dan atau dapat bertahan tanpa
jatuh/miring ke salah satu sisi sementara lengan meraih ke atas, bawah, atau samping
untuk suatu aktivitas. Latihan stabilitas batang tubuh selanjutnya yaitu stabilitas
berdiri statik dan dinamik. Hasil latihan ini memungkinkan pasien mampu melakukan
aktivitas dalam posisi berdiri. Kemampuan fungsional optimal dicapai apabila pasien
juga mampu melakukan aktivitas sambil berjalan.
5. Persiapkan pasien dalam kondisi prima untuk melakukan terapi latihan. Gerak
fungsional yang dilatih akan memberikan hasil maksimal apabila pasien siap secara
fisik dan mental. Secara fisik harus diperhatikan kelenturan otot-otot, lingkup gerak
semua persendian tidak ada yang terbatas, dan tidak ada nyeri pada pergerakan.
Secara mental pasien mempunyai motivasi dan pemahaman akan tujuan dan hasil
yang akan dicapai dengan terapi latihan tersebut. Kondisi medis juga menjadi salah
satu pertimbangan. Tekanan darah dan denyut nadi sebelum dan sesudah latihan
perlu dimonitor. Lama latihan tergantung pada stamina pasien. Terapi latihan yang
sebaiknya adalah latihan yang tidak sangat melelahkan, durasi tidak terlalu lama
(umumnya sekitar 45-60 menit) namun dengan pengulangan sesering mungkin.
6. Hasil terapi latihan yang diharapkan akan optimal bila ditunjang oleh kemampuan
fungsi kognitif, persepsi dan semua modalitas sensoris yang utuh. Rehabilitasi fisik
dan rehabilitasi fungsi kognitif tidak dapat dipisah-pisahkan. Mengembalikan
kemampuan fisik seseorang harus melalui kemampuan kognitif, karena rehabilitasi
pada prinsipnya adalah suatu proses belajar, yaitu belajar untuk mampu kembali
melakukan suatu aktivitas fungsional dengan segala keterbatasan yang ada. Intervensi
rehabilitasi pada stroke fase subakut ditujukan untuk:
1. Mencegah timbulnya komplikasi akibat tirah baring
2. Menyiapkan/mempertahankan kondisi yang memung-kinkan pemulihan fungsional
yang paling optimal
3. Mengembalikan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari-hari
4. Mengembalikan kebugaran fisik dan mental
I. REHABILITASI STROKE FASE KRONIS
Program latihan untuk stroke fase kronis tidak banyak berbeda dengan fase
sebelumnya. Hanya dalam fase ini sirkuit-sirkuit gerak/aktivitas sudah terbentuk,
membuat pembentukan sirkuit baru menjadi lebih sulit dan lambat. Hasil latihan
masih tetap dapat berkembang bila ditujukan untuk memperlancar sirkuit yang telah
terbentuk sebelumnya, membuat gerakan semakin baik dan penggunaan tenaga
semakin efisien. Latihan endurans dan penguatan otot secara bertahap terus
ditingkatkan, sampai pasien dapat mencapai aktivitas aktif yang optimal. Tergantung
pada beratnya stroke, hasil luaran rehabilitasi dapat mencapai berbagai tingkat seperti
(a) Mandiri penuh dan kembali ke tempat kerja seperti sebelum sakit,
(b) Mandiri penuh dan bekerja namun alih pekerjaan yang lebih ringan sesuai kondisi,
(c) Mandiri penuh namun tidak bekerja,
(d) Aktivitas sehari-hari perlu bantuan minimal dari orang lain atau
(e) Aktivitas sehari-hari sebagian besar atau sepenuhnya dibantu orang lain.










BAB III
KESIMPULAN
Dampak gejala sisa akibat stroke sangat bervariasi dan kompleks. Rehabilitasi
stroke memerlukan keterlibatan tenaga profesional dalam bentuk tim yang membahas
secara berkesinambungan perkembangan hasil dan secara dinamis menetapkan
intervensi yang tepat dan sesuai. Namun tidak semua pasien mudah mendapatkan
pelayanan rehabilitasi spesialistik. Walaupun demikian banyak hal yang masih dapat
dilakukan untuk membantu pasien dan keluarganya. Mencegah komplikasi sekunder
dan mengembalikan kemandirian pasien dapat sekaligus meringankan beban
psikososial dan ekonomi keluarga. Profesi dokter di pelayanan kesehatan primer yang
menjadi ujung tombak di masyarakat memiliki peran yang sangat penting