Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERILAKU

UJI SENSORIK DAN MOTORIK MENCIT (Mus musculus) SW










Nama : Rifki Muhammad Iqbal
NIM : 1211702067
Nama Asisten :
Nama Dosen : Ucu Julita, M.Si
Tanggal Praktikum : 29 Oktober 2013
Tanggal Pengumpulan : 06 November 2013



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2013


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Mencit (Mus musculus) adalah hewan yang masih satu kerabat dengan tikus liar
ataupun tikus rumah. Mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Jenis ini
sekarang ditemukan di seluruh dunia karena pengenalan oleh manusia.
Mencit memiliki perilaku yang unik dalam hal sensorik dan motoriknya. Motorik
adalah semua gerakan tubuh, termasuk alam pengertian motorik adalah gerak in ternal
tidak teramati yang berawal dari penangkapan stimulus olehindra, penyampaian stimulus
tersebut oleh susunan syaraf sensorik ke bagian memori (otak), pembuatan keputusan
dan penyampaian keputusan tersebut ke otot oleh susunan syaraf motorik. Uji sensorik ini
merupakan uji yang dapat melihat mencit yang mengalami kegagalan proses saat embriologi
atau tidak, sedangkan uji motorik dapat melihat perilaku mencit dalam mempertahankan
tubuhnya dari serangan yang akan mengganggu dirinya. Selain itu pula, mencit dapat
melakukan lokomosi yang sangat aktif dan khas.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum mengenai Uji Sensorik dan Motorik Mencit (Mus
musculus) adalah, untuk mengetahui adanya penyimpangan perilaku anak mencit pada masa
pralahir, serta untuk mengetahui pola lokomosi.
1.3. Hipotesis
Mencit yang merupakan hewan mamalia, memiliki penciuman yang normal ketika
indera penciumannya normal, maka akan terlihat bagaimana penciuman mencit terhadap
bahan ujinya sebagai respon dari saraf sensoriknya. Selain itu pula, akan terlihat bagaimana
mencit dalam melakukan perilaku kemampuan gerak reflek, lokomosi berjalan dan berenang
dalam menghadapi serangan dari luar.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Mencit merupakan salah satu hewan yang sering dipakai untuk percobaan. Hewan ini
paling kecil diantara jenisnya dan memiliki galur mencit yang berwarna putih. Mencit
termasuk hewan pengerat (rodentia) yang dapat dengan cepat berkembang biak. Pemeliharaan
hewan ini pun relatif mudah, walaupun dalam jumlah yang banyak. Pemeliharaannya
ekonomis dan efisien dalam hal tempat dan biaya. Mencit memiliki variasi genetik cukup
besar serta sifat anatomis dan fisiologisnya terkarakterisasi dengan baik (Malole dan Pramono
1989 dalam Agustiyanti, 2008).
Menurut Arrington (1972) dan Priambodo (1995) dalam Agus Pribadi (2008), mencit
dan tikus masih merupakan satu famili, yaitu termasuk ke dalam famili Muridae. Dan mencit
merupakan hewan yang paling banyak digunakan sebagai hewan model laboratorium dengan
kisaran penggunaan antara 40-80 %. Menurut Moriwaki et al. (1994) dalam Agus Pribadi
(2008), mencit banyak digunakan sebagai hewan laboratorium (khususnya digunakan dalam
penelitian biologi), karena memiliki keunggulan-keunggulan seperti siklus hidup yang relatif
pendek, jumlah anak per kelahiran banyak, variasi sifat-sifatnya tinggi, mudah ditangani, serta
sifat produksi dan karakteristik reproduksinya mirip hewan lain, seperti sapi, kambing,
domba, dan babi
Adapun klasifikasi dari mencit (Mus musculus) :
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Sub filum : Vertebrata
Class : Mamalia
Ordo : Rodentia
Famili : Muridae
Genus : Mus
Species : Mus musculus. SW
Sistem saraf berfungsi untuk menerima rangsangan, menghantarkannya dan
mengintegrasikannya untuk selanjutnya mengaktifkan efektor kedalam koordinasi rangsang.
Otak sebagai salah satu pusat sistem saraf juga merupakan pusat intelektual, kemauan dan
kesadaran. Sistem saraf disusun oleh tiga bagian utama, yaitu :
a. Sistem saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang)
b. Sistem saraf tepi
c. Sistem saraf otonom (Cartono, 2004).


Sel saraf atau neuron merupakan unit struktural yang membangun sistem saraf.
Neuron dibangun oleh bagian-bagian berikut:
a) Badan sel atau prokarion, merupakan pusat tropik untuk seluruh sel saraf tersebut dan
dapat menerima rangsang. Didalamnya terdapat inti berukuran cukup besar (berjumlah satu
atau dua), neuro fibril, badan golgi, mitokondria, serta badan-badan paraplasma.
b) Dendrit, merupakan uluran-uluran sitoplasma dengan jumlah yang banyak, berperan
menangkap rangsang dari lingkungan, dari sel epitel sensoris atau darii neuron lain.
c) Akson, merupakan uluran sitoplasma tunggal dan panjang, berperan untuk membangkitkan
dan menghantarkan impuls ke sel lain (sel saraf, otot atau kelenjar).
Berdasarkan fungsinya, sel saraf/neuron dibedakan menjadi 4 macam, yaitu:
a) Neuron motoris berfungsi menghantarkan impuls aau tanggapan dari sistem saraf pusat ke
otot-otot atau efektor lainnya. Neuron ini biasanya mempunyai akson yang panjang dan
ditutupi oleh pembungkus mielin (myelin) dan neurilemna.
b) Neuron sensoris, dendritnya dapat hanya satu danmemanjang. Berfungsi menghantarkan
rangsang dari reseptor atau penerima ke pusat susunan saraf.
c) Neuron konektor memiliki dendrit maupun akson yang dihubungkan dengan neuron yang
satu dengan neuron yang lainnya. Jadi neuron ini merupakan penghubung antar neuron.
d) Neuron adjustor merupakan penghubung neuron-neuron motoris dan neuron-meuron
sensoris didalam sistem saraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang. Sering pula
dikatakan sistem saraf pusat adalah neuron asosiasi atau neuron penghubung yang
berfungsi sebagai penghubung. Neuron ini sangat banyak memiliki tonjolan (Cartono,
2004).
Saraf kranial I (Olfaktorius) merupakan sel reseptor utama untuk indera penciuman.
Saraf ini memonitor asupan bauan yang dibawa udara ke dalam sistem pernapasan manusia
dan sangat menentukan rasa, aroma dan palatabilitas dari makanan dan minuman. Selain
fungsinya yang dalam meningkatkan nafsu makan melalui bauan, Saraf Olfaktorius juga dapat
berperan dalam memperingatkan adanya makanan yang busuk, kebocoran gas, polusi udara,
dan asap yang berbahaya untuk tubuh (Goetz dan Pappert, 2007).
Gerak merupakan pola koordinasi yang sangat sederhana untuk menjelaskan
penghantar impuls oleh saraf. Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun ada pula
gerak yang terjadi tanpa di sadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan
panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensoris di bawah ke otak untuk selanjutnya diolah oleh
otak kemudian hasil olahan oleh otak berupa tanggapan, di bawah oleh saraf motor sebagai
perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor.


Suatu refleks adalah respons motorik tak sadar dan cepat terhadap suatu stimulus.
Lengkung refleks memiliki 5 unsur: reseptor, neuron sensorik, pusat integrasi, neuron motorik
dan efektor. Jadi dapat di katakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa
disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Unit
dasar setiap kegiatan refleks terpadu adalah lengkung refleks. Lengkung refleks ini terdiri dari
alat indra, serat saraf aferen satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di
ganglion simpatios saraf eferent dan efektor.
Kegiatan pada lengkung refleks di mulai pada reseptor sensorik sebagai potensial
reseptor yang besarnya sebanding dengan kuat rangsangan. Lengkung refleks paling
sederhana adalah lengkung refleks yang mempunyai satu sinaps antara neuron aferent dan
eferent. Lengkung refleks semacam ini dinamakan monosinaptik dan refleks yang terjadi di
sebut refleks monosinaptik (Sudarsono, 2004).
Sistem saraf somatik (Somatic Nervous System), salah satunya yaitu, saraf tulang
belakang yang merupakan bagian dari sistem saraf somatik dimulai dari ujung saraf dorsal
dan ventral dari sumsum tulang belakang (bagian luar sumsum tulang belakang). Saraf-saraf
tersebut mengarah keluar rongga dan bercabang-cabang disepanjang perjalanannya menuju
otot atau reseptor sensoris yang hendak dicapainya. Cabang-cabang saraf tulang belakang ini
umumnya disertai oleh pembuluh-pembuluh darah, terutama cabang-cabang yang menuju
otot-otot kepala (Darmadi, 2005).
Saraf-saraf kepala terdiri dari 12 pasang saraf kranial yang meninggalkan permukaan
ventral otak. Sebagian besar saraf-saraf kepala ini mengontrol fungsi sensorik dan motorik
dibagian kepala dan leher. Salah satu dari keduabelas pasang saraf tersebut adalah saraf
vAgus (vAgus nerves/ saraf yang berkelana) yang merupakan saraf nomor sepuluh yang
mengatur fungsi-fungsi organ tubuh dibagian dada dan perut. Menunjukkan fungsi-fungsi
dasar saraf-saraf kepala beserta bagian-bagian tubuh yang dikontrolnya.
Sistem saraf otonom mengatur fungsi otot-otot halus, otot jantung, dan kelenjar-
kelenjar tubuh (autonom berarti mengatur dirinya sendiri). Otot-otot halus terdapat dibagian
kulit (berkaitan dengan folikel-folikel rambut ditubuh), dipembuluh-pembuluh darah, di mata
(mengatur ukuran pupil), didinding serta jonjot usus, kantung empedu dan kantung kemih
(Darmadi, 2005).





BAB III
METODE
3.1. Alat dan Bahan
Bahan Alat
Mencit 3 ekor Aquarium 1 buah
Pakan mencit Bidang miring (Baki) 1 buah
Air hangat Stopwatch 1 buah
Minyak kayu putih
Parfum
HCl
Cotton bud/ Kapas

3.2. Prosedur Kerja
a. Pra Pengujian
Sebelum melakukan pengujian, semua mecit diberi penandaan terlebih dahulu pada
tubuhnya dengan menggunakan spidol agar mempermudahkan identifikasi individu.
Penandaan dilakukan pada bagian ekor mencit

b. Pengujian.
1. Uji Sensorik Uji penciuman (olfactory avoidance test)
Mencit yang akan diamati diberi tanda pada bagian punggung menggunakan spidol
berwarna hitam. Pengujian dilakukan pada anak mencit. Pengujian dilakukan masing-masing
satu kali dengan mendekatkan anak mencit pada jarak 5cm dari cotton bud yang sebelumnya
telah dicelupkan kedalam: Pakan mencit yang telah dihancurkan, aseton, minyak kayu putih
dan parfum.
Dengan ketentuan: - Mencit tidak berekasi - penciuman ntral (0)
- Manghindari bau - penciuman positif (+)
- Mendekati bau - penciuman negative (-)
2. Uji motorik Gerak refleks
a. Uji kemampuan reflex motorik membalikkan badan (surface righting reflex)
Mencit diletakkan di meja datar dengan posisi terlentang dengan punggung rapat pada
permukaan meja ditahan sebentar kemudian lepas. Dicatat waktu yang diperlukan mencit
untuk dapat mengembalikan tubuhnya hingga keempat kakinya tegak diatas meja. Dilakukan
uji ini sebangak tiga kali berturut-turut dan hitung rata-rata waktunya.


b. Uji kemampuan refleks menghindar jurang (cliff avoidance reflex)
Mencit diletakkan dengan posisi ujung jari kaki depan dan mulut sejajar dengan tepi
meja ditahan sebentar kemudian lepas dicatat waktu yang diperlukan mencit untuk memutar
badannya menjauhi meja/tepi meja. Dilakukan uji ini sebanyak 3 kali berturut-turut dan
hitung rata-rata waktunya
c. Uji kemampuan reflex geotaksis negative (negative geotaksis reflex)
Pada bidang miring 25
0
mencit diletakkan ditengah dengan kepala mengarah kebawah
dan tubuh sejajar garis vertical, ditahan sebentar kemudian dilepaskan. Dicatat waktu yang
diperlukan mencit untuk memutar tubuhnya 180
0
dilakukan uji ini tiga kali berturut-turut dan
dihitung rata-rata waktunya hingga mencit memutar tubuhnya.

3. Uji motorik Lokomosi hewan vertebrata (Mencit)
Lokomosi berenang
Akuarium disi dengan air hangat (27-30
0
C) dengan ketinggian air sekitar 6-7cm,
mencit diatuhkan di sisi ujung aquarium dan diamati pergerakan mencit dalam aquarium
tersebut. mencit dibiarkan berenang selama mungkin dan dilakukan penentuan penilaian
gerakan mencit untuk: skor arah berenang, skor sudut berenang dan skor penggunaan anggota
badan.
1. Arah berenang :
Skor: 0 = tenggelam
1 = Terapung
2 = Berputar-putar
3 = Lurus
2. Sudut berenang
Skor: 0 = Kepala dan tubuh dibawah permukaan air
1 = Permukaan kepala dan sebagian hidung dipermukaan air
2 = Bagian kepala sebatas mata diatas permukaan air
3 = Bagian kepala, mata, dan setengah telinga diatas permukaan air
4 = Kepala dan seluruh telingan diatas permukaan air
3. Penggunaan anggota gerak
Skor: 0 = Tidak menggunakan anggota gerak
1 = Menggunakan keempat anggota gerak
2 = Menggunakan kedua kaki depan saja




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan
A. Tabel Hasil Uji Sensorik
Kelompok Individu Pengulangan
Uji
Pakan HCl Parfum Kayu Putih
KEL 1
1
1 - + + +
2 - + - +
3 - + + +
2
1 - + + +
2 - + + +
3 0 + + +
3
1 + + + -
2 + + + -
3 + + + -
KEL 2
1
1 - + - +
2 - + + +
3 0 + + +
2
1 - + + +
2 - + + +
3 - + + +
3
1 - + + +
2 - + + +
3 - - + +
Kel 3
1
1 + + - -
2 + + + +
3 + + + -
2
1 - + + -
2 - + + +
3 - + + +
3
1 - + + +
2 - + + +
3 - + + -
kel 4
1
1 - + + +
2 - + + +
3 - + + +
2
1 - + + +
2 - + + +
3 - + + +
3
1 - + + +
2 - + + +
3 - + + +


kel 5
1
1 + + - -
2 + - - +
3 + + + -
2
1 + + + -
2 + - - +
3 + - + -
3
1 + - + -
2 + + + +
3 + + + +
kel 6
1
1 0 + + +
2 0 + + +
3 0 + 0 +
2
1 + + + +
2 + + + +
3 + + + +
3
1 0 + 0 +
2 0 + + 0
3 0 + + +


Pakan HCl Parfum Kayu Putih
0 8 0 2 1
+ 18 49 46 41
- 28 5 6 12
Jumlah 54 54 54 54

Grafik Uji Sensorik














91%
9%
Presentase Uji HCl
Netral
Positif
Negatif
15%
33%
52%
Presentase Uji Pakan
Netral
Positif
Negatif
4%
85%
11%
Presentase Uji Parfum
Netral
Positif
Negatif
2%
76%
22%
Presentase Uji Kayu Putih
Netral
Positif
Negatif


B. Tabel Hasil Uji Motorik
Kelompok Individu Pengulangan
Uji Motorik
Membalikan Badan Menghindari Jurang Geotaksis
kel 1
1
1 1 detik 2,02 detik 1,01 menit
2 0,59 detik 0,56 detik 1,27 menit
3 0,67 detik 0,58 detik 41,26 detik
2
1 0,49 detik 0,72 detik 0,81 detik
2 0,8 detik 0,45 detik 5,71 detik
3 0,27 detik 0,85 detik 0,22 detik
3
1 0,40 detik 4,27 detik 0,40 detik
2 0,22 detik 5,98 detik 28,80 detik
3 0,22 detik 1,44 detik 0,36 detik
kel 2
1
1 0,54 detik 2 detik 1,3 detik
2 0,46 detik 17 detik 2,38 detik
3 0,98 detik 50 detik 1,2 detik
2
1 0,81detik 3 detik 2,79 detik
2 0,79 detik 10 detik 2,1 detik
3 0,67 detik 13 detik 3,1 detik
3
1 0,69 detik 6 detik 3,4 detik
2 0,79 detik 2 detik 5,4 detik
3 0,76 detik 4 detik 0,36 detik
kel 3
1
1 1 detik 4,97 detik 2,51 detik
2 0,87detik 5,45 detik 3,45 detik
3 0,35 detik 4,51 detik 6,98 detik
2
1 0,54 detik 1,85 detik 7,11 detik
2 0,40 detik 1,58 detik 3,26 detik
3 0,48 detik 2,46 detik 5,96 detik
3
1 0,42 detik 4,18 detik 3 detik
2 0,33 detik 5,25 detik 3,7 detik
3 0,76 detik 1,90 detik 3,29 detik
kel 4
1
1 0,42 detik 8,40 detik 5,82 detik
2 0,53 detik 48,78 detik 2,37detik
3 0,37 detik 4,5 detik 0,85 detik
2
1 0,75 detik 40,93 detik 0,85 detik
2 0,37 detik 2,50 detik 42,97 detik
3 0,75detik 2,14 detik 4,87 detik
3
1 0,57 detik 14,31 detik 1,45 detik
2 0,64 detik 8,07 detik 1,87 detik
3 0,28 detik 13,85 detik 8,78 detik
kel 5
1
1 0,5detik 12,63 detik 5,34 detik
2 0,47 detik 17,59 detik 5,13 detik
3 0,44 detik 13,06 detik 2,58 detik
2
1 0,67 detik 180 detik 78,03 detik
2 1,15 detik 180 detik 10,62 detik
3 0,59 detik 180 detik 72,06 detik


3
1 0,59 detik 2,29 detik 4,62 detik
2 1,53 detik 32,69 detik 9,91 detik
3 0,67 detik 16,37 detik 27,99 detik
kel 6
1
1 0,28 detik 5 detik 2,72 detik
2 0,28 detik 1,78 detik 2,12 detik
3 0,22 detik 1,40 detik 2,19 detik
2
1 0,31 detik 1,75 detik 1,4 detik
2 0,28 detik 2,19 detik 16,75 detik
3 0,19 detik 2,31 detik 13,35 detik
3
1 0,85 detik 2,15 detik 3,72 detik
2 0,31 detik 3,57 detik 2,25 detik
3 0,22 detik 1,60 detik 10,88 detik

C. Tabel Hasil Uji Lokomosi
Kelompok Individu
Skor
Arah Renang Sudut Renang Penggunaan Anggota Gerak
kel 1
1 1 4 1
2 3 3 1
3 3 4 1
kel 2
1 1 4 1
2 3 4 1
3 1 4 1
kel 3
1 3 4 1
2 3 4 1
3 3 4 1
kel 4
1 2 4 1
2 2 4 2
3 2 4 2
kel 5
1 3 3 1
2 3 3 1
3 3 3 1
kel 6
1 3 4 1
2 2 4 1
3 1 3 1
jumlah 18 18 18










Arah
berenang
Sudut berenang

Penggunaan anggota
gerak
0 0 0 0 0 0
1 4 1 0 1 16
2 4 2 0 2 2
3 10 3 5 jumlah 18
jumlah 18 4 13


jumlah 18


Grafik Uji Lokomosi


4.2. Pembahasan









.
0%
0%
0%
28%
72%
Presentase uji sudut
berenang
0
1
2
3
4
0%
17%
33%
50%
Presentase uji arah
berenang
0
1
2
3
0%
89%
11%
Presentase uji penggunaan
anggota gerak
0
1
2


4.2. Pembahasan
1. Uji Sensorik/ Uji Penciuman (olfactory avoidance test)
Pada pengujian sensorik (penciuman) terhadap mencit dilakukan 4 uji penciuman,
yaitu dengan menggunakan larutan HCl, minyak kayu putih, pakan mencit yang dihaluskan
dan parfum dengan pengujian masing-masing 3 kali ulangan.
a. Pengujian penciuman dengan larutan HCl
Pada pengujian penciuman dengan menggunakan cotton bud yang telah dicelupkan
pada larutan HCl. Berdasarkan grafik kebanyakan mencit bereaksi positif (menjauh) yaitu
sekitar 91%, sedangakan yang bereaksi negatif (mendekat) hanya 9%. Reaksi menjauh dari
HCl ini dikarenakan bau dari larutan HCl sangat menyengat tajam dan dapat menyebabkan
mencit menjadi pusing.
b. Pengujian dengan minyak kayu putih
Pada pengujian penciuman dengan menggunakan cotton bud yang telah dicelupkan
pada minyak kayu putih. Berdasarkan grafik hasil uji, 76% mencit bereaksi positif (menjauh)
terhadap cotton bud yang diberi kayu putih, sedangkan yang bereaksi negatif hanya 22%, dan
yang netral hanya 2%. Kebanyakan mencit menjauh dari bau kayu putih ini mungkin karena
bau dari kayu putih ini cukup menyengat dan berbau tidak sedap bagi mencit sehingga
kebanyakan mencit menjauhinya.
c. Pengujian dengan pakan yang dihaluskan
Pada pengujian penciuman terhadap pakan yang dihaluskan berdasarkan grafik
umumnya mencit bereaksi negatif (mendekat) dengan presentase 52%, kemudian yang
bereaksi positif (menjauh) 33%, dan yang netral (diam) 15%. Kebanyakan mencit mendekat
pada uji ini mungkin karena mencit merasa lapar dan tertarik dengan bau dari pakan tersebut
sehingga banyak mencit yang mendekat, sedangkan ada mencit yang diam dan bahkan
menjauh mungkin karena mencit-mencit ini tidak begitu tertarik terhadap bau dari pakan
tersebut, mungkin karena tidak lapar atau mungkin karena mencit mengalami stress sehingga
tidak bernafsu dan tertarik terhadap bau pakan.
d. Pengujian dengan parfum
Pada pengujian sensorik (penciuman) yang terakhir dengan menggunakan parfum dan
berdasarkan grafik hasil uji kebanyakan mencit bereaksi positif (menjauh) dari bau parfum
ini, yaitu sekitar 85% mencit menjauh. Sedangkan yang bereaksi negatif (mendekat) 11%, dan
yang bereaksi netral (diam) 4%. Banyak mencit yang menjauh mungkin dikarenakan bau dari
parfum yang mengandung metanol atau alkohol yang berbau menyengat menyebabkan
kebanyakan mencit menjauh.



2. Uji Motorik / Gerak Refleks
Pada uji motorik ini dilakukan 3 macam uji motorik, yaitu uji kemampuan refleks
motorik membalikkan badan (surface righting reflex), uji kemampuan refleks menghindari
jurang (Cliff avoidance reflex), dan uji kemampuan refleks geotaksis negatif (negative
geotaxis reflex).
a) Uji kemampuan refleks motorik membalikkan badan (surface righting reflex)
Berdasarkan hasil dari percobaan didapatkan data sebagaimana diatas telah
dilampirkan dan dapat dikatakan semua mencit yang diuji memiliki kemampuan refleks
motorik membalikkan badan yang sangat cepat yaitu kurang dari 1 detik. Hal ini dikarenakan
mencit memiliki gerak refleks yang cukup baik untuk menghindari ancaman atau keadaan
yang dirasanya tidak aman, sehingga mencit dapat membalikkan badan dengan cepat.
b) Uji kemampuan refleks menghindari jurang (Cliff avoidance reflex)
Berdasarkan hasil dari percobaan, pada uji kemampuan refleks menghindari jurang
mencit kebanyakannya membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk dapat menghindari
jurang (lambat dalam menghindari jurang), rata-rata waktu untuk mencit menghindari jurang
lebih dari 40 detik, hal ini mungkin dikarenakan mencit mengalami stress sehingga tidak
bergerak aktif ketika dihadapkan pada jurang yang mungkin tidak terlalu menjadi ancaman
bagi mencit, kecuali jika keadaan mencit sedang dikejar oleh predator (pemangsa) bisa saja
mencit tersebut dengan refleks membalikkan arah (menghindari jurang) dan mengambil jalan
lain, atau bisa saja dalam keadaan terdesak sekali mencit akan melompat kedalam jurang
tersebut.
c) Uji kemampuan refleks geotaksis negatif (negative geotaxis reflex)
Berdasarkan pada data hasil pengujian, umumnya mencit cepat dalam membalikkan
arah jalannya (keatas) ketika dihadapkan pada media atau permukaan jalan yang memiliki
sudut 25, hal ini mungkin karena mencit merasa permukaan miring tersebut merupakan
ancaman yang dapat membuat dirinya dalam bahaya atau cidera (misal terjatuh) jika dia
berjalan kebawah, tidak menghindari gravitasi.
Mencit juga memberikan respon positif terhadap uji motorik yang meliputi
kemampuan refleks membalikkan badan, menghindari jurang, geotaksis nagatif. Suatu refleks
adalah respons motorik tak sadar dan cepat terhadap suatu stimulus. Lengkung refleks
memiliki 5 unsur: reseptor, neuron sensorik, pusat integrasi, neuron motorik dan efektor. Jadi
dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih
dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Unit dasar setiap kegiatan
refleks terpadu adalah lengkung refleks. Lengkung refleks ini terdiri dari alat indra, serat saraf


aferen satu atau lebih sinaps yang terdapat di susunan saraf pusat atau di ganglion simpatios
saraf eferent dan efektor (Sudarsono, 2004).
3. Uji Lokomosi (Berenang)
Pada uji lokomosi berenang ini, mencit dimasukkan kedalam aquarium yang berisi air
hangat (27-30C), air yang dibuat hangat ini bertujuan agar mencit tidak mengalami
kedinginan pada saat pengujian, karena jika mencit mengalami kedinginan (dimasukkan ke air
dingin) bisa saja mencit tersebut akan sakit, stress, atau bahkan mungkin akan mati.
Kemudian setelah dilakukan pengujian didapatkan hasil sebagaimana pada tabel dan grafik
diatas, kebanyakan mencit memiliki arah berenang lurus (3) dengan sudut berenang umumnya
kepala dan seluruh bagian telinga ada diatas permukaan air (4), dan penggunaan anggota
gerak dengan menggunakan keempat anggota gerak (1).




BAB V
KESIMPULAN

Mencit memberikan respon positif terhadap uji sensorik penciuman. Mencit juga
memberikan respon positif terhadap uji motorik yang meliputi kemampuan refleks
membalikkan badan kebanyakannya cepat, menghindari jurang tidak terlalu cepat namun
bereaksi/ memberikan respon positif, geotaksis nagatif umumnya cepat, dan uji lokomosi
berenang kebanyakannya menggunakan keempat anggota gerak, dengan arah berenang lurus
dan sudut berenang kepala dan seluruh telinga ada diatas permukaan air.













DAFTAR PUSTAKA

Arrington, L. R. 1972. Introductory Laboratory Animal. The Breeding, Care and
Management of Experimental Animal Science. The Interstate Printers and
Publishing, Inc., New York. Dalam Agus Pribadi, Gutama. 2008. Penggunaan
mencit dan tikus sebagai hewan model penelitian nikotin. Skripsi. Program Studi
Teknologi Produksi Ternak. Fakultas Peternakan IPB: Bogor.
Cartono, M. P., M. T. 2004. Biologi Umum. Prisma Press: Bandung.
Goetz, Christopher G. MD., Eric J. Pappert MD. 2007. Textbook of Clinical Neurology.
Thieme.
Darmadi, Goenarso. 2005. Fisiologi Hewan. Universitas Terbuka: Jakarta.
Malole MBM dan CSU Pramono. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan di
Laboratorium. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor:
Bogor. Dalam Agustiyani, D.A. 2008. Pengaruh pemberian ekstrak tumbuhan Obat
antimalaria quassia indica terhadap toksikopatologi organ hati dan ginjal mencit
(mus musculus). Skripsi. Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi Fakultas
Kedokteran Hewan. IPB: Bogor.
Priambodo, S. 1995. Pengendalian Tikus Terpadu. Seri PHT. Penebar Swadaya: Jakarta.
Dalam Agus Pribadi, Gutama. 2008. Penggunaan mencit dan tikus sebagai hewan
model penelitian nikotin. Skripsi. Program Studi Teknologi Produksi Ternak. Fakultas
Peternakan. IPB: Bogor.
Sudarsono, Nani Cahyani. 2004. Pengantar Motorik Somatik. Departemen Ilmu Faal,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: Jakarta.