Anda di halaman 1dari 118

K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

1
MATERI PERTEMUAN KE I
KULIAH UMUM
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN INDONESIA

Nama Mata Kuliah : KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
INDONESIA
SKS : 03
Sifat : Wajib Konsentrasi
Jumlah tatap Muka : 14 min 16 maksimal
Dosen :Drs. H.M. Ridwan

A. Sejarah Lahirnya Studi Kepemimpinan Pemerintahan Dari Segi
Empiris
Manusia adalah merupakan makhluk sosial. Oleh sebab itu manusia-
manusia yang ada didunia ini secarah naluriah akan tidak dapat dihindarkan
untuk berinteraksi dan berkomunikasi agar dintara sesamanya satu sama lain
dapat bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan
mensejahterakan hidup dan kehidupannya. Pada masyarakat baik yang
masih sederhana atau tradisional maupun masyarakat yang sudah maju atau
modern, maka dalam upaya memenuhi kebutuhan masing-masing mereka
memerlukan kepemimpinan yang dapat untuk mengatur dan mengawasi
interaksi yang berjalan diantara masing-masing mereka. Sebab tanpa diatur
dan diawasi manusia berinteraksi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,
maka mungkin akan terjadi seperti apa yang dikemukakan oleh filosif
terkenal yaitu Thomas Hobbes yakni manusia yang kuat katanya akan
menindas manusia yang lemah atau dengan kata lain manusia merupakan
serigala bagi manusia lain.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

2
Keperluan akan adanya kepemimpinan dimaksudkan untuk mengatur
tingkah laku dari setiap manusia agar dapat berjalan menurut aturan-aturan
pokok atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat maupun untuk
menjaga agar peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan dapat
berjalan dengan sebaik-baiknya. Tanpa kehadiran Kepemimpinan
(Pemimpin) ditengah masyarakat baik yang sudah maju maupun yang sudah
modern akan terjadi pertikaian-pertikaian atau konflik antara sesama
manusia.
Pengkajian masalah kepemimpinan Pemerintahan ini sudah ada
semenjak manusia atau masyarakat terlibat dalam kehidupan berorganisasi
Pemerintahan, Namun walaupun demikian pembicaraan tentang
kepemimpinan Pemerintahan masih bersifat normatif atau filosofis yaitu
membicarakan dari sifat-sifat kepemimpinan Pemerintahan mana yang baik
dan mana yang buruk.
Pendekatan dari segi normatif atau filosofis tersebut belum mampu
dapat memberikan gambaran tentang kepemimpinan Pemerintahan dari
berbagai aspek yang secara nyata berkembang ditengah masyarakat. Hal ini
dikarenakan bukan hanya sifat-sifat kepemimpinan Pemerintahan yang baik
saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin kalau ditinjau dari segi
normatif, tetapi banyak faktor dan aspek yang menentukan seseorang untuk
dapat muncul dan mampu sampai pada puncak kepemimpinan Pemerintahan.
Untuk mengkaji masalah kepemimpinan yang lebih sistematis dan
empiris baru dimulai pada awal abad ke 19 dengan mendapat tanggapan yang
serius dari kalangan ilmu sosial, terutama dari kalangan sosiologi dan ilmu
politik pada tahun 1930 an. Adapun tiga tokoh utama yang mula-mula
mengembangkan konsep dan teori tentang kepemimpinan yaitu :





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

3

A. Vilfredo Pareto dengan buku-bukunya Les Systems Socialis tes tahun
1902, dan The Mind and Society.
B. Gaetano Mosca dengan bukunya yang paling terkenal yaitu The
Rulling Class tahun 1939.
C. Robert Michels dengan bukunya Political Partie pada tahun 1949.
Ketiga ahli diatas mengkaji secara empiris dan sistematis mengenai
aspek-aspek kepemimpinan, seperti meneliti dari mana para pemimpin itu
berasal, bagaimana mereka bertahan dipuncak kepemimpinan, bagaimana
mereka berganti dan bagaimana bentuk kepemimpinan yang cocok dan
sesuai ditengah masyarakat. Oleh karena itu Vilfredo Pareto, Gaetano Mosca
dan Robert Michels adalah merupakan orang-orang yang pertama
membicarakan studi kepemimpinan dari segi empiris.
B. Satuan Acara Pembelajaran (SAP)
MATERI POKOK PERTEMUAN II
Ruang Lingkup Kepemimpinan Pemerintahan
A. Pengertian dan Ruang Lingkup Kepemimpinan
B. Pengertian Pemerintahan
C. Kepemimpinan Pemerintah Indonesia

MATERI POKOK PERTEMUAN III
Tugas,Prinsip-Prinsip Dasar Kepemimpinan pemerintahan
A. Tugas dan Peran Pemimpin
B. Prinsip-prinsip Dasar Kepemimpinan
C. Kepemimpinan Pemerintahan Sebagai Seni
D. Kepemimpinan pemerintahan sebagai moral.
E. Filosofi Kepemimpinan Pemerintahan
F. Kepemimpinan dalam Islam

MATERI POKOK PERTEMUAN IV
Kepemimpinan dan Kekuasaan
A. Filsafat Kekuasaan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

4
B. Sumber Hukum
C. Cara berkuasa
D. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan

MATERI POKOK PERTEMUAN V
Kepemimpinan dalam Kerangka Manajemen
A. Sifat dan Fungsi Manajemen
B. Perbandingan Manajemen Dan Kepemimpinan
C. Perbedaan Manajer Dan Pemimpin
D. Perbedaan Kepala dengan pimpinan dan pemimpin

MATERI POKOK PERTEMUAN VI
Kewibawaan Pemimpin dan Bawahan dalam Lingkup Pemerintahan
A. Pengertian Kewibawaan
B. Kewibawaan Kepemimpinan
C. Sumber-sumber Kewibawaan

MATERI POKOK PERTEMUAN VII
Teori Kepemimpinan Pemerintahan
A. Tipe Otokratis dalam Kepemimpinan Pemerintahan
B. Teori Sifat ( Trait Theory)
C. Teori Perilaku
D. Teori Situasional dan Model Kontingensi
E. Tiga Tiori Besar tentang Kepemimpinan

MATERI POKOK PERTEMUAN VIII
Mid Semester UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS)

MATERI POKOK PERTEMUAN IX
Variabel-Variabel Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia
A. Variabel situasi dan kondisi Pemerintahan
B. Variabel Orang Banyak Sebagai Pengikut
C. Variabel Penguasa sebagai Pemimpin Pemerintah
D. Filsafat Manusia

MATERI POKOK PERTEMUAN X
Gaya dan Model Kepemimpinan Pemerintahan
A. Gaya Kepemimpinan
B. Gaya Kepemimpinan Pemerintahan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

5
C. Gaya Birokrasi Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
D. Gaya Kebebasan Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
E. Gaya Otokratis Dalam Kepemimpinan Pemerintahan

MATERI POKOK PERTEMUAN XI
Perkembangan Tugas-tugas Pemerintahan
A. Teknik-Teknik Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia
B. Model kepemimpinan.
C. Kompetensi Kepemimpinan

MATERI POKOK PERTEMUAN XII
Komunikasi Kepemimpinan Pemerintahan
A. Definisi Komunikasi
B. Komunikasi Terbuka Antara Pemimpin Dan Bawahan
C. Saluran Komunikasi
D. Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi

MATERI POKOK PERTEMUAN XIII
Kepemimpinan Pemerintahan yang Strategis, Efektif, dan Motivator
A. Pengertian Kepemimpinan yang Strategis
B. Pengertian Kepemimpinan yang Efektif
C. Pengertian Motivasi
D. Teori Motivasi

MATERI POKOK PERTEMUAN XIV
Kepemimpinan Pemerintahan dan Pemberdayaan
A. Penegrtian Pemberdayaan
B. Pemberdayaan Bawahan
C. Alasan Utama Penerapan Pemberdayaan
Bawahan Oleh Pemimpin Pemerintahan
D. Kondisi Dasar Bagi Penerapan Pemberdayaan
E. Elemen Dari Pemberdayaan
F. Penerapan Pemberdayaan Pada Kepemimpinan Pemerintahan

MATERI POKOK PERTEMUAN XV
KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI
A. Pengertian Adminsitrasi
B. Konsep Dasar Organisasi
C. Hambatan-Hambatan dalam Mengambil Keputusan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

6
MATERI POKOK PERTEMUAN KE II

A. Pengertian dan Ruang Lingkup Kepemimpinan
Secara etimologi kepemimpinan dapat diartikan sebagai berikut:
1. Berasal dari kata dasar pimpin (dalam bahasa Inggris lead)
berarti bombing atau tuntun, dengan begitu di dalamnya ada dua
pihak yaitu yang dipimpin (umat) dan yang memimpin (imam)
2. Setelah ditambah dengan awalan pe menjadi pemimpin (dalam
bahasa inggris leader) berarti orang yang mempengaruhi pihak
lain melalui proses kewibawaan komunikasi sehingga orang lain
tersebut bertindak sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.
3. Apabila ditambah dengan akiran an menjadi pimpinan artinya
orang yang mengepalai. Antara pemimpin dengan pimpinan dapat
dibedakan yaitu pimpinan (kepala) cenderung lebih oktokratis,
sedangkan pemimpin (ketua) cenderung lebih demokratis.
4. Setelah dilengkapi awalan ke menjadi Kepemimpinan (dalam
bahasa Inggris ledearship) berarti kemampuan dan kepribadian
seseorang dalam mempengaruhi serta membujuk pihgak lain agar
melakukan tindakan pencapaian tujuan bersama, sehingga dengan
demikian yang bersangkutan menjadi awal struktur dan pusat proses
kelompok.




Beberapa pakar telah memberikan definisi mengenai kepemimpinan
yang berbeda-beda diantaranya:





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

7
1. Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu
dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau
beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961,
24).
2. Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan
aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal,
Hemhiel & Coons, 1957, 7).
3. Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas
kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch &
Behling, 1984, 46).
4. Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat
sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala
keinginannya.
5. Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti
kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan
untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990,
281).
Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa
kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik
individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan sengaja
mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan
hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan
bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut.
Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen
akan tercapai tujuannya jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat
dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

8
yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan
mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa
menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang
aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan
memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara,
Page 23).
Dari seluruh definisi kepemimpinan diatas Ralph M. Stogdill (`974)
menghimpun sebelas kelompok dari seluruh definisi tentang kepemimpinan
yaitu sebagai berikut:
1. Kepemimpinan sebagai pusat proses kelompok
2. Kepreibadian yang berakibat
3. Kepemimpinan sebagai Seni menciptakan kesepakatan
4. Kepemimpinan sebagai kemampuan mempengaruhi
5. Kepemimpinan sebagai tindakan perilaku
6. Kepemimpinan sebagai suatu bentuk bujukan
7. Kepemimpinan sebagai suatu hubungan kekuasaan
8. Kepemimpinan sebagai sarana pencapaian tujuan
9. Kepemimpinan sebagai hasil interaksi
10. Kepemimpinan sebagai pemisahan peranan
11. Kepemimpinan sebagai awal struktur.

B. Pengertian Pemerintahan
Secara etimologis Pemerintah berasal dari kata perintah. Menurut
W.Y.S Poerwadarmita yaitu sebagai berikut:
a. Perintah adalah perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan
sesuatu.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

9
b. Perintah adalah kekuasaan perintah suatu Negara (Daerah, Negara)
atau badan yang tertinggi yang memerintah suatu Negara (seperti
kabinet merupakan suatu pemerintah).
c. Pemerintah adalah perbuatan (cara, hal, urusan dan sebagainya)
memerintah.
Samual Edward Finer mengakui ada Pemerintah Dan Pemerintahan
dalam arti luas, dengan adanya Pemerintah dan Pemerintahan dalam arti luas.
Maka tentunya akan mempunyai pengertian Pemerintah dan Pemerintahan
dalam arti luas dan sempit. Yaitu :
1. Pemerintah (an) dalam arti sempit, yaitu : perbuatan memerintah
yang dilakukan oleh Eksekutif, yaitu Presiden dibantu oleh para
Menteri-menterinya dalam rangka mencapai tujuan Negara.
2. Pemerintah (an) dalam arti luas, yaitu : Perbuatan memerintah yang
dilakukan oleh Legislatif, Eksekutif dan yudikatif dalam rangka
mencapai tujuan Pemerintahan Negara.
Sedangkan menurut Inu Kencana Syafie yang mengutip dari C.F
Strong dalam bukunya yang berjudul Ekologi Pemerintahan, sebagai
berikut:
Maksudnya Pemerintahan dalam arti luas mempunyai kewenangan
untuk memelihara perdamaian dan keamanan Negara, ke dalam dan
keluar. Oleh karena itu, pertama harus mempunyai kekuatan militer
atau kemampuan untuk mengendalikan angkatan perang. Kedua
harus mempunyai kekuatan Legislatif atau dalam arti pembuatan
Undang-undang. Ketiga, harus mempunyai kekuatan
finansial/kemampuan untuk mencukupi keuangan masyarakat dalam
rangka membiayai ongkos keberadan Negara dalam





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

10
menyelengggarakan peraturan, hal tersebut dalam rangka kepentingan
Negara.
Sedangkan J.A Corry seperti yang dikutip Muchtar Affandi
menyatakan bahwa pemerintah merupakan pengejawantahan yang kongkret
dari negara yang terdiri dari badan-badan dan orang-orang yang
melaksanakan tujuantujuan negara. Setidak-tidaknya untuk negara-negara
demokrasi maka pemerintah pada saat khusus manapun adalah lebih kecil
dari negara.
Tidak hanya ahli-ahli dari luar yang mengajukan masalah
pemerintahan ini, melainkan ada pula dari Indonesia sendiri. Salah satunya
adalah Muchtar Affandi yang menyatakan bahwa di dalam gerombolan yang
primitif, pemegang kekuasaan itu berwujud pimpinan yang nyata oleh
seseorang yang diangggap oleh seluruh gerombolan itu sebagai primus inter
pares artinya sebagai seorang yang nomor satu diantara sesamanya karena
dialah yang paling menonjol dalam keberanian, kecerdikan, kepandaian, atau
kecakapan diantara sesama mereka sendiri.
Setiap anggota gerombolan diwajibkan tunduk pada kekuasan
pimpinan itu dan siapa yang tidak mau tunduk dapat dipaksa untuk tunduk
dengan kekerasan. Dengan demikian timbulah suatu authority atau gezag
atau kewibawaan pimpinan yang dapat menimbulkan dan memelihara suatu
tatanan yang teratur. Organisasi pimpinan di dalam negara yang mempunyai
otoritas inilah yang disebut pemerintah itu. Sebagai pelaksana kekuasaan
negara, pemerintah merupakan suatu organisasi teknis yang dilengkapi
kewenangankewenangan tertentu yang diperlukan untuk pengaturan dan
pelaksanaan segala tugasnya itu.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

11
Pemerintahan dapat dipahami dalam arti luas dan dalam arti sempit.
Dalam arti luas, pemerintahan mencakup semua kekuasan yang meliputi
seluruh fungsi negara. Menurut Corry dalam arti umum yang menyeluruh,
pemerintahan menunjukan keseluruhan rangkaian lembaga-lembaga yang
dipakai segolongan orang untuk memerintah dan yang menyebabkan
orangorang lainnya tunduk. Jadi pemerintahan dalam arti luas tersebut,
apabila merujuk pada ajaran Montesquieu, meliputi keseluruhan lembaga
negara yang menjalankan kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif dan
kekuasaan yudikatif. Ketiga lembaga tersebut merupakan unsur-unsur
kekuasaan negara.
Di dalam arti sempit, pemerintahan kerap kali dipahami sebagai
aktivitas dari lembaga kekuasaan eksekutif. Termasuk dalam pengertian ini
adalah keseluruhan unsur-unsur yang tercakup di dalam pengertian lembaga
eksekutif tersebut misalnya: kepala pemerintahan, menteri-menteri
departemen-departemen, pemerintah daerah, dinas-dinas daerah dan unit-unit
kerja pemerintahan lainnya.
Pendapat lain menurut Pranadjaja dalam bukunya yang berjudul
Hubungan antar Lembaga Pemerintahan, pengertian Pemerintah adalah
sebagai berikut :
Istilah Pemerintah berasal dari kata perintah, yang berarti perkataan
yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu, sesuatu yang harus
dilakukan. Pemerintah adalah orang, badan atau aparat yang
mengeluarkan atau memberi perintah.
Menurut Ndraha pemerintah memegang pertanggung jawaban atas
kepentingan rakyat. Lebih lanjut Ndraha juga mengatakan bahwa
pemerintah adalah semua beban yang memproduksi, mendistribusikan, atau





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

12
menjual alat pemenuhan kebutuhan masyarakat berbentuk jasa publik dan
layanan civil.
Sebagai cabang ilmu pemerintahan pada gilirannya kepemimpinan
pemerintahan akan menjadi disiplin ilmu, bila kepemimpinan secara umum
masih berbagai titik pandang disiplin ilmu yang memilikinya seperti ilmu
jiawa, ilmu administrasi, ilmu manajemen, ilmu politik maka kepemimpinan
pemerintahan berbeda dengan kepemimpinan swasta yang spesifik, maka
kepemimpinan pemerintahan untuk sementara dapat dikaji secara khas
objek, subjek, sistimatika, metode, keuniversalan, terminology, filosofi,
teori, prinsip, dalil, rumus dan cara mempelajarinya yaitu antara lain sebagai
berikut:
Objek forma kepemimpinan pemerintahan adalah hubungan antara
pemimpin dengan yang dipimpin dalam hal ini yang memimpin adalah
pemerintah sedangkan yang dipimpin adalah rakyat. Objek materialnya
adalah manusia. Jadi berbeda dengan ilmu pemerintahan yang objek
materianya adalah Negara maka karena kepemimpinan pemerintahan
bertumpang tindih denga ilmujiwa, ilmu administrasi, ilmu manajemen,
bahkan ilmu ekonomi.
Teori kepemimpinan pemerintahan sebagaimana yang akan diuraikan
nanti sama dengan teknik kepemimpinan secara umum hanya saja lebih
berkonotasi dengan kekuasaan di sati pihak dan pelayanan di pihak lain yaitu
otokratis, phiskologis, sosiologis, suportif, lingkungan, sifat, kemanusiaan,
pertukaran, situasional, dan kontingensi. Kekuasaan ditujukan untuk
pemusnahan dekadensi moral ( nahi mungkar) sedangkan pelayaan ditujukan
hanya untuk yang baik dan benar (amar makruf)






K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

13
C. Tugas dan Peran Pemimpin
Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah:
1. Pemimpin bekerja dengan orang lain
Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang
lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan
lain dalam organisasi sebaik orang diluar organisasi.
2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan
mempertanggungjawabkan (akontabilitas).
Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas
menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome
yang terbaik. Pemimpin bertanggung jawab untuk kesuksesan
stafnya tanpa kegagalan.
3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas
Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin harus dapat
menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya
pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas-
tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur
waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif.
4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual
Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan
konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan
akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan
menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain.
5. Manajer adalah seorang mediator
Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena
itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah).





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

14
6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat
Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan
kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus
dapat mewakili tim atau organisasinya.
7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit
Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.
Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :
1. Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya
sebagai pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur,
mentor konsultasi.
2. Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan
juru bicara.
3. Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha,
penanganan gangguan, sumber alokasi, dan negosiator



D. Prinsip-prinsip Dasar Kepemimpinan
Prinsip, sebagai paradigma terdiri dari beberapa ide utama berdasarkan
motivasi pribadi dan sikap serta mempunyai pengaruh yang kuat untuk
membangun dirinya atau organisasi. Menurut Stephen R. Covey (1997),
prinsip adalah bagian dari suatu kondisi, realisasi dan konsekuensi. Mungkin
prinsip menciptakan kepercayaan dan berjalan sebagai sebuah
kompas/petunjuk yang tidak dapat dirubah. Prinsip merupakan suatu pusat
atau sumber utama sistem pendukung kehidupan yang ditampilkan dengan 4
dimensi seperti; keselamatan, bimbingan, sikap yang bijaksana, dan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

15
kekuatan. Karakteristik seorang pemimpin didasarkan kepada prinsip-
prinsip (Stephen R. Coney) sebagai berikut:
1. Seorang yang belajar seumur hidup
Tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga diluar sekolah.
Contohnya, belajar melalui membaca, menulis, observasi, dan
mendengar. Mempunyai pengalaman yang baik maupun yang buruk
sebagai sumber belajar.
2. Berorientasi pada pelayanan
Seorang pemimpin tidak dilayani tetapi melayani, sebab prinsip
pemimpin dengan prinsip melayani berdasarkan karir sebagai tujuan
utama. Dalam memberi pelayanan, pemimpin seharusnya lebih
berprinsip pada pelayanan yang baik.
3. Membawa energi yang positif
Setiap orang mempunyai energi dan semangat. Menggunakan energi
yang positif didasarkan pada keikhlasan dan keinginan mendukung
kesuksesan orang lain. Untuk itu dibutuhkan energi positif untuk
membangun hubungan baik. Seorang pemimpin harus dapat dan mau
bekerja untuk jangka waktu yang lama dan kondisi tidak ditentukan.
Oleh karena itu, seorang pemimpin harus dapat menunjukkan energi
yang positif, seperti ;
a. Percaya pada orang lain
Seorang pemimpin mempercayai orang lain termasuk staf
bawahannya, sehingga mereka mempunyai motivasi dan
mempertahankan pekerjaan yang baik. Oleh karena itu,
kepercayaan harus diikuti dengan kepedulian.
b. Keseimbangan dalam kehidupan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

16
Seorang pemimpin harus dapat menyeimbangkan tugasnya.
Berorientasi kepada prinsip kemanusiaan dan keseimbangan
diri antara kerja dan olah raga, istirahat dan rekreasi.
Keseimbangan juga berarti seimbang antara kehidupan dunia
dan akherat.
4. Melihat kehidupan sebagai tantangan
Kata tantangan sering di interpretasikan negatif. Dalam hal
ini tantangan berarti kemampuan untuk menikmati hidup dan
segala konsekuensinya. Sebab kehidupan adalah suatu
tantangan yang dibutuhkan, mempunyai rasa aman yang
datang dari dalam diri sendiri. Rasa aman tergantung pada
inisiatif, ketrampilan, kreatifitas, kemauan, keberanian,
dinamisasi dan kebebasan.
5. Sinergi
Orang yang berprinsip senantiasa hidup dalam sinergi dan satu
katalis perubahan. Mereka selalu mengatasi kelemahannya
sendiri dan lainnya. Sinergi adalah kerja kelompok dan
memberi keuntungan kedua belah pihak. Menurut The New
Brolier Webster International Dictionary, Sinergi adalah satu
kerja kelompok, yang mana memberi hasil lebih efektif dari
pada bekerja secara perorangan. Seorang pemimpin harus
dapat bersinergis dengan setiap orang atasan, staf, teman
sekerja.
6. Latihan mengembangkan diri sendiri
Seorang pemimpin harus dapat memperbaharui diri sendiri
untuk mencapai keberhasilan yang tinggi. Jadi dia tidak hanya





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

17
berorientasi pada proses. Proses daalam mengembangkan diri
terdiri dari beberapa komponen yang berhubungan dengan: (1)
pemahaman materi; (2) memperluas materi melalui belajar dan
pengalaman; (3) mengajar materi kepada orang lain; (4)
mengaplikasikan prinsip-prinsip; (5) memonitoring hasil; (6)
merefleksikan
kepada hasil; (7) menambahkan pengetahuan baru yang
diperlukan materi; (8) pemahaman baru; dan (9) kembali
menjadi diri sendiri lagi.
Mencapai kepemimpinan yang berprinsip tidaklah mudah, karena
beberapa kendala dalam bentuk kebiasaan buruk, misalnya: (1) kemauan dan
keinginan sepihak; (2) kebanggaan dan penolakan; dan (3) ambisi pribadi.
Untuk mengatasi hal tersebut, memerlukan latihan dan pengalaman yang
terus-menerus. Latihan dan pengalaman sangat penting untuk mendapatkan
perspektif baru yang dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan.
Hukum alam tidak dapat dihindari dalam proses pengembangan
pribadi. Perkembangan intelektual seseorang seringkali lebih cepat dibanding
perkembangan emosinya. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk mencapai
keseimbangan diantara keduanya, sehingga akan menjadi faktor pengendali
dalam kemampuan intelektual. Pelatihan emosional dimulai dari belajar
mendengar. Mendengarkan berarti sabar, membuka diri, dan berkeinginan
memahami orang lain. Latihan ini tidak dapat dipaksakan. Langkah melatih
pendengaran adalah bertanya, memberi alasan, memberi penghargaan,
mengancam dan mendorong. Dalam proses melatih tersebut, seseorang
memerlukan pengontrolan diri, diikuti dengan memenuhi keinginan orang.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

18
Mengembangkan kekuatan pribadi akan lebih menguntungkan dari
pada bergantung pada kekuatan dari luar. Kekuatan dan kewenangan
bertujuan untuk melegitimasi kepemimpinan dan seharusnya tidak untuk
menciptakan ketakutan. Peningkatan diri dalam pengetahuan, ketrampilan
dan sikap sangat dibutuhkan untuk menciptakan seorang pemimpin yang
berpinsip karena seorang pemimpin seharusnya tidak hanya cerdas secara
intelektual, tetapi juga emosional (IQ, EQ dan SQ).

E. Kepemimpinan Pemerintahan Sebagai Seni
Menurut George R terry Art is personal creative power plus skill in
performance ( maksudnya seni adalah kekuasaan pribadi seseorang yang
kreatif ditambah dengan keahlian yang bersangkutan dalam menampilkan
tugas pekerjaannya) Jadi seni merupakan kemampuan dan kemahiran
seseorang untuk mewujudkan cipta, rasa dan karsa yang dimiliki yang
bersangkutan dalam tugas dan fungsinya sebagai seniman.
Kepemimpinana pemerintahan sebagai seni berarti bagaimana
seseorang pemimpin pemerintahan dengan keahliannya mampu
menyelenggarakan pemerintahan secara indah. Sehingga tercapai
penyelenggaraan pemerintahan yang berdayaguna dan berhasilguna.
Dengan begitu seni memerintah tidak lebih dari profesi seseorang
yang ahli dalam pemerintahannya.. sebagai suatu seni kepemimpinan
pemerintahan juga berkenaan dengan bagaimana suatu seni membujuk
(persuasive), seni mendorong (motivatif), seni menghubungkan
(komunikatif), seni memfasilitasi, seni mematangkan hubungan, seni menjadi
teladan yang dapat dicontoh orang lain.

F. Kepemimpinan pemerintahan sebagai moral.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

19
Sebagai penjaga malam pemimpin pemerintahan mengendalikan
masyarakatnya , antisipasi seperti diistilahkan dengan negative sedangkan
kejadian yang juga diistilahkan dengan negative, dengan begitu secara
matematis antara negative dikalikan dengan negative akan menjadi positif,
hal ini hanya boleh diperlakukan untuk pemimpin pemerintahan.
Sebaliknya untuk masyarakat yang berlaku baik dan benar pemimpin
pemerintahan harus melayani karena akan terjadi berbagai permohonan
pertolongan bagi pelayanan public, seperti fakir miskin dan anak terlantar,
orang tua jompo, bencana alam seperti banjir, kebakaran dan lain-lain, untuk
ini pemim,pin pemerintahan memberikan pelayananya.
Selanjutnya antara kekuasaan untuk kejahatan dan pelayanan untuk
kebaikan seperti ini tidak boleh dibalik pelakunya, yaitu kekuasaan
digunakan untuk orang-orang yang baik dan benar (disebut dengan zalim)
sedangkan pelayanan yang diberikan kepada pelaku kejahatan (disebut
dengan fasik) seperti melayani lokasi pelacuran, perjudiaan dan sejenis
lainnya. Itulah sebabnya sebagai pemimpin pemerintahan harus bermoral
artinya yang bersangkutan selain ulama (rohaniwan) juga harus umara
(negarawan).

G. Filosofi Kepemimpinan Pemerintahan
Negara dapat juga mengeksploitasi tenaga rakyat mereka yang
membangkang kepada pemerintah Negara dianggap pemberontak, separatis,
pengacau keamanan, gerombolan dan lain-lain, kecuali jika pemberontak itu
begitu besar lalu mampu mengganti pemerintah yang lama dalam suatu
revolusi, reformasi atau penggantian secara damai dalam sebuah pemilihan
umum.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

20
Berdasarkan apa yang disampaikan ini maka pemerintah suatu
Negara pada abad ini berjuang menggeser paradigm kekuasaan menjadi
paradigm pelayanan, pemerintah dijadikan abdi masyarakat dengan ukuran
bila rakyat menghendaki pelayanan kepengurusn sesuatu maka sebaiknya
cepat, bermuitu, murah dan menimbulkan kepuasaan kepada masyarakat.
Yang menjadi persoalan sekarang adalah rakyat banyak tidak seluruhnya
berprilaku agamis, apalagi tingkat kepuasaan berbeda karena perbedaan
selera, kultur, rasa, situasi serta kondisi.
Kepemimpinan pemerinatahan harus berakar dan berangkat dari
pengkajian filsafat, apa yang baik dan benar bagi masyarakat dan pemerintah
itu sendiri, jauh dari fanatisme apalagi fundamentalis.
Baik adalah dari ukuran moral bagi aparat pemerintah sedangkan
kebenaran adalah ukuran logika kepemerintahan, mereka yang
menghandalkan logika tanpa moral cenderung tirani, dalam kekuasanannya.
Sedangkan mereka yang mengandalkan moral tanpa logika akan membiarkan
masyarakatnya bertindak anarkis, karena segolongan umat adalah pemerintah
itu sendiri, yang baik dan benar dalam pemerintahannya.. inilah yang
kemudian berkembang menjadi good governance dan cleant government
Memasukan kitab suci ke dalam ilmiah popular seperti ini adalah
dalam rangka menolak sekularisme, apalagi dalam sub bab filsafat
kepemimpinan pemerintahan ini filsafat adalah kata lain dari hakekat
kendati hakekat adalah salah satu dari nama lain alguran yang mutlak
dijadikan rujukan. Saying berbagai kelompok islam menolak berbagai kajian
filsafat kendati hal itu adalah kitab suci mereka sendiri.







K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

21
H. Kepemimpinan dalam Islam
Pada dasarnya, kepemimpinan itu adalah amanah yang akan
dipertanggungjawabkan di sisi Allah SWT. Oleh karena itu, Islam telah
menggariskan beberapa kaedah yang berhubungan dengan kepemimpinan.
Kaedah-kaedah tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
a. Kepemimpinan Bersifat Tunggal
Dalam khazanan politik Islam, kepemimpinan negara itu bersifat
tunggal. Tidak ada pemisahan, ataupun pembagian kekuasaan di dalam
Islam. Kekuasaan berada di tangan seorang Khalifah secara mutlak. Seluruh
kaum Muslim harus menyerahkan loyalitasnya kepada seorang pemimpin
yang absah. Mereka tidak diperbolehkan memberikan loyalitas kepada orang
lain, selama Khalifah yang absah masih berkuasa dan memerintah kaum
Muslim dengan hukum Allah SWT.
Dalam hal ini, Rasulullah Saw bersabda:



Siapa saja yang telah membaiat seorang Imam (Khalifah), lalu ia
memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaknya ia mentaatinya jika
ia mampu. Apabila ada orang lain hendak merebutnya (kekuasaan itu) maka
penggallah leher orang itu. [HR. Muslim].

b. Kepemimpinan Islam Itu Bersifat Universal
Kepemimpinan Islam itu bersifat univeral, bukan bersifat lokal
maupun regional. Artinya, kepemimpinan di dalam Islam diperuntukkan
untuk Muslim maupun non Muslim. Sedangkan dari sisi konsep





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

22
kewilayahan, Islam tidak mengenal batas wilayah negara yang bersifat tetap
sebagaimana konsep kewilayahan negara bangsa. Batas wilayah Daulah
Khilafah Islamiyyah terus melebar hingga mencakup seluruh dunia, seiring
dengan aktivitas jihad dan futuhat. Al-Quran telah menjelaskan hal ini
dengan sangat jelas. Allah SWT berfirman:



Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia
seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan,
tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. (Qs. Saba[34]: 28).





Katakanlah: Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi;
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan
dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, Nabi
yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya
(kitab kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk. (Qs. al-
Arf [7]: 158).

c. Kepemimpinan Itu Adalah Amanah





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

23
Pada dasarnya, kepemimpinan itu adalah amanah yang membutuhkan
karakter dan sifat-sifat tertentu. Dengan karakter dan sifat tersebut seseorang
akan dinilai layak untuk memegang amanah kepemimpinan. Atas dasar itu,
tidak semua orang mampu memikul amanah kepemimpinan, kecuali bagi
mereka yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan. Sifat-sifat kepemimpinan
yang paling menonjol ada tiga.
Pertama, al-quwwah (kuat). Seorang pemimpin harus memiliki
kekuatan ketika ia memegang amanah kepemimpinan. Kepemimpinan tidak
boleh diserahkan kepada orang-orang yang lemah. Dalam sebuah riwayat
dituturkan, bahwa Rasulullah Saw pernah menolak permintaan dari Abu
Dzar al-Ghifariy yang menginginkan sebuah kekuasaan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Dzar berkata, Aku
berkata kepada Rasulullah Saw, Ya Rasulullah tidakkah engkau
mengangkatku sebagai penguasa (amil)? Rasulullah Saw menjawab,
Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal,
kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi
kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak,
dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya.Yang dimaksud
dengan kekuatan di sini adalah kekuatan aqliyyah dan nafsiyyah.
Seorang pemimpin harus memiliki kekuatan akal yang menjadikan
dirinya mampu memutuskan kebijakan yang tepat dan sejalan dengan akal
sehat dan syariat Islam. Seorang yang lemah akalnya, pasti tidak akan
mampu menyelesaikan urusan-urusan rakyatnya. Lebih dari itu, ia akan
kesulitan untuk memutuskan perkara-perkara pelik yang harus segera
diambil tindakan. Pemimpin yang memiliki kekuatan akal akan mampu
menelorkan kebijakan-kebijakan cerdas dan bijaksana yang mampu





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

24
melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Sebaliknya, pemimpin yang
lemah akalnya, sedikit banyak pasti akan merugikan dan menyesatkan
rakyatnya.
Selain harus memiliki kekuataan aqliyyah, seorang pemimpin harus
memiliki kekuatan nafsiyyah (kejiwaan). Kejiwaan yang kuat akan
mencegah seorang pemimpin dari tindakan tergesa-gesa, sikap emosional,
dan tidak sabar.
Seorang pemimpin yang lemah kejiwaannya, cenderung akan mudah
mengeluh, gampang emosi, serampangan dan gegabah dalam mengambil
tindakan. Pemimpin seperti ini tentunya akan semakin menyusahkan rakyat
yang dipimpinnya.
Kedua, al-taqwa (ketaqwaan). Ketaqwaan adalah salah satu sifat
penting yang harus dimiliki seorang pemimpin maupun penguasa. Sebegitu
penting sifat ini, tatkala mengangkat pemimpin perang maupun ekspedisi
perang, Rasulullah Saw selalu menekankan aspek ini kepada para amirnya.
Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa tatkala Rasulullah Saw melantik
seorang amir pasukan atau ekspedisi perang belia berpesan kepada mereka,
terutama pesan untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT dan bersikap baik
kepada kaum Muslim yang bersamanya.[HR. Muslim & Ahmad].
Pemimpin yang bertaqwa akan selalu berhati-hati dalam mengatur
urusan rakyatnya. Pemimpin seperti ini cenderung untuk tidak menyimpang
dari aturan Allah SWT. Ia selalu berjalan lurus sesuai dengan syariat Islam.
Ia sadar bahwa, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai
pertanggungjawaban kelak di hari akhir. Untuk itu, ia akan selalu menjaga
tindakan da perkataannya. Berbeda dengan pemimpin yang tidak bertaqwa.
Ia condong untuk menggunakan kekuasaannya untuk menindas, mendzalimi





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

25
dan memperkaya dirinya. Pemimpin seperti ini merupakan sumber fitnah dan
penderitaan.
Ketiga, al-rifq (lemah lembut) tatkala bergaul dengan rakyatnya.
Sifat ini juga sangat ditekankan oleh Rasulullah Saw. Dengan sifat ini,
pemimpin akan semakin dicintai dan tidak ditakuti oleh rakyatnya. Dalam
sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Aisyah ra berkata, Saya mendengar
Rasulullah Saw berdoa di rumah ini, Ya Allah, siapa saja yang diserahi
kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudian ia memberatkannya,
maka beratkanlah dirinya, dan barangsiapa yang diserahi kekuasaan untuk
mengurus urusan umatku, kemudian ia berlaku lemah lembut, maka bersikap
lembutlah kepada dirinya. [HR. Muslim].
Selain itu, seorang pemimpin mesti berlaku lemah lembut, dan
memperhatikan dengan seksama kesedihan, kemiskinan, dan keluh kesah
masyarakat. Ia juga memerankan dirinya sebagai pelindung dan penjaga
umat yang terpercaya. Ia tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk
menghisap dan mendzalimi rakyatnya. Ia juga tidak pernah memanfaatkan
kekuasaannya untuk memperkaya diri, atau menggelimangkan dirinya dalam
lautan harta, wanita dan ketamakan. Ia juga tidak pernah berfikir untuk
menyerahkan umat dan harta kekayaan mereka ke tangan-tangan musuh.
Dirinya selalu mencamkan sabda Rasulullah Saw, Barangsiapa
diberi kekuasaan oleh Allah SWT untuk mengurusi urusan umat Islam,
kemudian ia tidak memperhatikan kepentingan, kedukaan, dan kemiskinan
mereka, maka Allah SWT tidak akan memperhatikan kepentingan, kedukaan,
dan kemiskinannya di hari kiamat. [HR. Abu Dwud & at-Tirmidzi].







K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

26







BAB II
TEORI KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN

A. Tipe Otokratis dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Kepemimpinan secara otokratis adalah kepemimpinan yang cara
memimpinnya menganggap organisasi sebagai miliknya sendiri. Sehingga
seorang pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap para anggota
organisasinya dan menganggap mereka itu sebagai bawahannya dan
merupakan alat atau mesin, tidak diperlakukan sebagaimana manusia.
Bawahan hanya menurut dan menjalankan perintah atasannya serta tidak
boleh membantah, karena pimpinan tidak mau menerima kritik, saran dan
masukan.
Tipe kepemimpinan otokratis ini dapat kita jumpai dalam
pemerintahan feodal oleh kerajaan-kerajaan pada zaman abad pertengahan.
Kepemimpinan yang otokratis biasanya dikendalikan oleh seorang pemimpin
yang mempunyai perasaan harga diri yang sangat tinggi. Bawahannya
dianggap bodoh, tidak berpengalaman, dan selayaknya diperintah sesuka
mereka.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

27
Dengan egoisme yang sangat tinggi, seorang pemimpin yang
otokratik melihat peranannya sebagai sumber segala sesuatu dalam
kehidupan organisasional seperti kekuasaan yang tidak perlu dibagi dengan
orang lain dalam organisasi, ketergantungan total para anggota organisasi
mengenai nasib masing-masing dan sebagainya.

B. Teori Sifat ( Trait Theory)
Pada pendekatan teori sifat, analisa ilmiah tentang kepemimpinan
dimulai dengan memusatkan perhatiannya pada pemimpin itu endiri. Yaitu
apakah sifat-siftat yang membuat seseorang itu sebagai pemimpin. Dalam
teori sifat, penekanan lebih pada sifat-sifat umum yang dimilki pemimpin,
yaitu sifat-sifat yang dibawa sejak lahir.
Teori ini mendapat kritikan dari aliran perilaku yang menyatakan
bahwa pemimpin dapat dicapai lewat pendidikan dan pengalaman.
Sehubungan dengan hal tersebut , Keith Davis (dalam Kartini Kartono,
1994:251) merumuskan empat sifat umum yang nampaknya mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan efektifitas kepemimpinan yaitu:
a. Kecerdasan, hasil penelitian pada umunya membuktikan bahwa
pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan yang dipimpin.
b. Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial, pemimpin cenderung
menjadi matang dan mempunyai perhatian yang luas terhadap
aktivitas-aktivitas sosial. Dia mempunyai keinginan menghargai dan
dihargai.
c. Motivasi diri dan dorongan berprestasi, para pemimpin secara relatif
mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Mereka





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

28
bekerja berusaha mendapatkan penghargaan yang intrinsik
dibandingkan dengan ekstrinsik.
d. Sikap dan hub ungan kemanusiaan, pemimpin-pemimpin yang
berhasil mau mengakui harga diri dan kekuatan para pengikutnya
dan mampu berpihak kepadanya.

C. Teori Perilaku
1. Teori X dan Teori Y Mc. Gregor
A. Teori perilaku adalah teori yang menjelaskan bahwa suatu perilaku
tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan pemimpin pada
orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas Mc
Gregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para
manajer / pemimpin organisasi perusahaan memiliki dua jenis
pandangan terhadap para pegawai / karyawan yaitu teori x atau teori
y.
B. 1. Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk
pemalas yang tidak suka bekerja serta senang menghindar dari
pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja
memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun
menginginkan balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam
bekerja para pekerja harus terus diawasi, diancam serta diarahkan
agar dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.
C. 2. Teori Y
Teori ini memiliki anggapan bahwa kerja adalah kodrat manusia
seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya. Pekerja tidak perlu terlalu





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

29
diawasi dan diancam secara ketat karena mereka memiliki
pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan
perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi,
kepandaian serta memahami tanggung jawab dan prestasi atas
pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga tidak harus mengerahkan segala
potensi diri yang dimiliki dalam bekerja. Penelitian teori x dan y
menghasilkan teori gaya kepemimpinan ohio state yang membagi
kepemimpinan berdasarkan skala pertimbangan dan penciptaan
struktur.





2. Teori Kepribadian Perilaku
1. Studi dari University of Michigan
a.) Pemimpin yang Job-centered
Pemimpin yang berorientasi pada tugas menerapkan pengawasan
ketat sehingga bawahan melakukan tugasnya dengan
menggunakan prosedur yang telah ditentukan. Pemimpin ini
mengandalkan kekuatan paksaan, imbalan dan hukuman untuk
mempengaruhi sifat-sifat dan prestasi kerja pengikutnya.
b.) Pemimpin yang berpusat pada bawahan
Mendelegasikan pengambilan keputusan pada bawahan dan
membantu pengikutnya dalam memuaskan kebutuhannya dengan
cara menciptakan lingkungan kerja yang suportif. Pemimpin yang





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

30
berpusat pada karyawan memiliki perhatian terhadap kemajuan,
pertumbuhan dan prestasi pribadi pengikutnya.
2. Studi dari Ohio State University
a.) Membentuk Struktur
Melibatkan perilaku dimana pemimpin mengorganisasikan dan
mendefiniskan hubungan-hubungan di dalam kelompok,
cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas
dan menjelaskan cara-cara mengerjakan tugas yang benar.
b.) Konsiderasi
Melibatkan perilaku yang menunjukkan persahabatan, saling
percaya, menghargai, kehangatan dan kimunikasi antara pimpinan
dan pengikutnya. Pemimpin yang memilik konsiderasi tinggi
menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan partisipasi.

D. Teori Situasional dan Model Kontingensi.
Dalam model kontingensi memfokuskan pentingnya situasi dalam
menetapkan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan permasalahan yang
terjadi. Sehingga model tersebut berdasarkan kepada situasi untuk efektifitas
kepemimpinan. Menurut Fread Fiedler, kepemimpinan yang berhasil
bergantung kepada penerapan gaya kepemimpinan terhadap situasi tertentu.











K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

31














BAB III
GAYA DAN MODEL KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN


A. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan, pada dasarnya mengandung pengertian sebagai
suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut
kemampuannya dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk
suatu pola atau bentuk tertentu. Pengertian gaya kepemimpinan yang
demikian ini sesuai dengan pendapat yang disampaikan oleh Davis dan
Newstrom (1995). Keduanya menyatakan bahwa pola tindakan pemimpin
secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan
tersebut dikenal sebagai gaya kepemimpinan.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

32
Gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin, pada dasarnya dapat
diterangkan melalui tiga aliran teori berikut ini.
1. Teori Genetis (Keturunan). Inti dari teori menyatakan bahwa
Leader are born and nor made (pemimpin itu dilahirkan (bakat)
bukannya dibuat). Para penganut aliran teori ini mengetengahkan
pendapatnya bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin
karena ia telah dilahirkan dengan bakat kepemimpinan. Dalam
keadaan yang bagaimanapun seseorang ditempatkan karena ia telah
ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia akan timbul sebagai
pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini
tergolong pada pandangan fasilitas atau determinitis.
2. Teori Sosial. Jika teori pertama di atas adalah teori yang ekstrim pada
satu sisi, maka teori inipun merupakan ekstrim pada sisi lainnya. Inti
aliran teori sosial ini ialah bahwa Leader are made and not born
(pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati). Jadi teori ini
merupakan kebalikan inti teori genetika. Para penganut teori ini
mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa
menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman
yang cukup.
3. Teori Ekologis. Kedua teori yang ekstrim di atas tidak seluruhnya
mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi terhadap kedua teori
tersebut timbullah aliran teori ketiga. Teori yang disebut teori
ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya akan berhasil
menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat
kepemimpinan. Bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui
pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan untuk





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

33
dikembangkan lebih lanjut. Teori ini menggabungkan segi-segi
positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan
merupakan teori yang paling mendekati kebenaran. Namun demikian,
penelitian yang jauh lebih mendalam masih diperlukan untuk dapat
mengatakan secara pasti apa saja faktor yang menyebabkan
timbulnya sosok pemimpin yang baik.
Selain pendapat-pendapat yang menyatakan tentang timbulnya gaya
kepemimpinan tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa
gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga
komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses
kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut,
Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya
kepemimpinan (k) merupakan suatu fungsi dari pimpinan (p), bawahan (b)
dan situasi tertentu (s)., yang dapat dinotasikan sebagai : k =f (p, b, s).
Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan (p) adalah seseorang yang
dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja
maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi
akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam
bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda,
seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan
adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu
perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau
tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan. Dalam suatu
organisasi, bawahan mempunyai peranan yang sangat strategis, karena
sukses tidaknya seseorang pimpinan bergantung kepada para pengikutnya





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

34
ini. Oleh sebab itu, seorang pemimpinan dituntut untuk memilih bawahan
dengan secermat mungkin.
Adapun situasi (s) menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu
keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat
tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti
kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi
misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak
sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya
telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya
kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan
unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat
keberhasilan kepemimpinan.

B. Gaya Kepemimpinan Pemerintahan
1. Gaya demokratis dalam kepemimpinan pemerintahan
Gaya demokratis dalam kepemimpinan pemerintahan adalah cara
dan irama seseorang pemimpin pemerintahan dalam menghadapi bawahan
dan masyarakatnya dengan memakai metode pembagian tugas dengan
bawahan begitu juga antara bawahan dibagi tugas secara merata dan adil,
kemudian pemilihan tugas tersebut dilakukan secara terbuka, antara bawahan
dianjurkan berdiskusi tentang keberadaannya untuk membahas tugasnya,
baik bawahan yang terrendah sekalipun boleh menyampaikan saran serta
diakui hanynya, dengan demikian dimiliki persetujuan dan consensus atas
kesepakatan bersama.
Oleh karena itu harus dibuat ketentuan tertentu dalam
pendemokrasian ini karenakekuasaan berada di tangan bawahan, hal





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

35
ini untuk mencegah anarkisme yang mungkin terjadi. Karena hak
azasi disanjung dalam organisasi pada gilirannya nanti antar bawahan
dan masyarakat diharapkan terjadi persaingan keahlian, dalam
kalangan ideology Islam dinela dengan Syura, dengan motto wa am
ruhum syura bainahum ( musyawarahkan urusanmu) dengan begitu
akan terjadi fas tabiul chairat (berlomba-lomba dalam amal
kebajikan). Musyawarah seperti ini akan melahirkan kebijaksanaan
(wisdom) disamping berbagai perintah yang turun dari atas disebut
kebijakan (policy) yang dapat diubah sesuai kebutuhan sepanjang
tidak menyalahi aturan (syariah).

C. Gaya Birokrasi Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Gaya birokrasi dalam kepemimpinan pemerintahan adalah cara dan
irama seseorang pemimpin pemerintahan dalam menghadapi bahwahan dan
masyarakatnya dengan memakai metode tanpa penadang bulu, artinya setiap
bawahan dan masyarkat harus diperlakukan sama disiplinnya, spesalisasi
tugas yang khusus, kerja yang ketat pada aturan (rule), sehingga kemudian
bawahan menjadi kaku tetapi sederhana (zakelijk)
Dalam kepemimpinan pemerintahan seperti ini segala sesuatunya
dilakukan secara resmi di kantor pada jam dinas tertentu dan dengan tata cara
formal, pengaturan dari atas ke bawah sedangkan pertanggungjawaban dari
bawah ke atas secara sentralistik, serta harus berdasarkan logika bukan
perasaan (irasional), tata dan patuh (obedience) kepada aturan (discipline)
serta terstruktur dalam kerjanya.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

36
Pakar yang selalu menganjurkan tentang kepemimpinan
pemerintahan yang birokrasi ini adalah Max Weber, tetapi kemudian
dikolaborasi oleh Warren Bennis sebagai berikut:
1. Perlu kebijaksanaan di luar peraturan yang sudah berjalan
2. Tugas yang satu dengan yang lain harus dikoordinasikan
3. Harus ada seni dalam menerapkannya yang berkonotasi rasa
4. Bawahan diperkenankan member saran yang produktif
5. Pembagian tugas hendaknya lebih demokratis desentralistis
Sedangkan Nicholas Henry memberikan kontribusi agar tidak terjadi kutub
ekstrim ketiranian atasan, yaitu sebagai berikut:
1. Tugas rutin hanya dalam kondisi stabil
2. Harus ada spesialisasi tugas
3. Penekanan pada cara kerja
4. Konflik diselesaikan dari atas
5. Kesetiaan setiap orang pada unitnya
6. Struktur hirarkis organisasi pyramid
7. Pimpinan dianggap mengetahui segalanya
8. Mengutamakan kesetiaan pada organisasi.

D. Gaya Kebebasan Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Gaya kebebasan dalam kepemimpinan pemerintahan adalah cara dan
irama seseorang pemimpinan pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan
masyarakatnya dengan memakai metode pemberian kelulusaan pada
bawahan seluas-luasnya , metode ini dikenal juga dengan laissez Faire atau
liberalism . Dengan begitu dalam gaya ini setiap bawahan bebas bersaing
dalam berbagai strategi ekonomi, politik, hokum dan administrasi. Jadi





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

37
pimpinan pemerintahan memberikan peluang besar pada kegiatan organisasi.
Hal ini hanya cocok pada daerah yang sudah modern dengan pola piker biasa
dipertanggungjawabkan, tetapi bila di daerah tradisonal akan membuat
masyarakat semakin berada di alam keterbelakangan.
Resiko kehidupan bebas dalam organisasi ini akan menimbulkan
hubungan atasan dan bawahan seperti kekasih, baik dalam pakaian, suasana
kantor maupun dalam tatakrama pergaulan
Dalam kepemimpinan pemerintahan bila memakai gaya bebas seprti
ini tidak menutup kemungkinan pimpinan pemerintahan akan membuka
berbagai lokasi perjudian, lokasi pelacuran, lokasi mabuk mabukan untuk
penghasilan pendapatan Negara bahkan untuk mempertahankan diri
mayrakat sipil diperkenankan untuk berdagang senapang api.
Bila bagi masyarakat yang memiliki selera hodonisme dan
materialism yang tinggi akan membuka lua bisnis film cabul, dan pers yang
mengkritik pemerintah dengan kecaman pedas. Sudah barang tentu
kebebasan pemerintah seperti ini akan dimanfaatkan oleh para pemilik modal
yang berjaringan (kolongmerat) untuk antara lain sebagai berikut:
1. Memproduksi barang secara besar-besaran
2. Menumpuk barang untuk kemudian dijual setelah mahal
3. Memberlakukan pasar bebas dengan permainan harga monopoli.

E. Gaya Otokratis Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Gaya otokratis dalam kepemimpinan pemerintahan adalah cara dan
irama seorang pimpinan pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan
masyarakatnya dengan memakai metode paksaan kekuasaan (coercive
power)





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

38
Cara ini cocok untuk mempercepat waktu di kalangan meliter,
karena itu diterapkan system komando dengan one way traffic dalam
komunikasi pemerintahannya sehingga efektif hasilnya. Tetapi sangat
berakibat fatal bagi daerah-daerah yang sudah maju karena ketakutan
bawahan hanya ketika pimpinan pemerintahan sedang memiliki kekuasaan
saja.
Jadi gaya kepemimpinan pemerintahan dengan gaya seperti ini hanya
dapat diterapkan pada keadaan dan situasi antara lain sebagai berikut di
bawah ini:
1. Untuk menimbulkan rasa persatuan dan eksatuan
2. Untuk keseragaman antara bawahan
3. Agar pimpinan pemerintah tidak diganggu gugat
4. Agar menekan faham separatism
5. Untuk meningkatkan pengawasan
6. Untuk mempercepat mencapai tujuan
Dari uraian tersebut maka pimpinan pemerintahan yang nerapkan gaya
otokratis ini hanya cocok untuk Negara-negara yang antara lain:
1. Negara yang sudah berperang dengan Negara lain
2. Negara yang sedang bersengketa dengan daerahnya
3. Negara yang sedang membangun dengan cepat
4. Negara yang heterogen dan sulit diatur.
Sehingga suatu gaya kepemimpinan akan efektif pabila gaya
kepemimpinan tersebut digunakan dalam situasi yang tepat. Sehubungan
dengan hal tersebut Fiedler (dalam Abi Sujak, 1990:10) mengelompokkan
gaya kepemimpinan sebagai berikut:
a. Gaya kepemipinan yang berorientasi pada orang (hubungan).





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

39
Dalam gaya ini pemimpin akan mendapatkan kepuasan apabila
terjadi hubungan yang mapan diantara sesama anggota kelompok
dalam suatu pekerjaan. Pemimpin menekankan hubungan pemimpin
degan bwahan atau anggota sebagai teman sekerja.
b. Gaya kepemimpinan yang beroreitasi pada tugas.
Dalam gaya ini pemimpin akan merasa puas apabila mampu
menyelesaikan tugas-tugas yang ada padanya. Sehingga tidak
memperhatikan hubungan yang harmonis dengan bawahan atau
anggota, tetapi lebih berorentasi pada pelaksanaan tugas sebagai
prioritas yang utama.
Delapan kondisi kepemimpinan yaitu:
1. Hubungan atasan dan bawahan baik, struktur tugas berpola dan
wibawa pemimpin yang kuat
2. Hubungan atasan dan bawahan baik, struktur tugas berpola tetapi
wibawa pemimpin yang lemah
3. Hubungan atasan dan bawahan baik, struktur tugas tidak berpola,
wibawa pemimpin yang kuat
4. Hubungan atasan dan bawahan baik, struktur tugas tidak berpola,
wibawa pemimpin yang kuat
5. Hubungan atasan dan bawahan buruk struktur tugas bepola, wibawa
pemimpin yang kuat
6. Hubungan atasan dan bawahan buruk, struktur tugas yang tidak
berpola, wibawa pemimpin yang lemah
7. Hubungan atasan dan bawahan buruk, struktur tugas tidak berpola,
wibawa pemimpin yang kuat





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

40
8. Hubungan atasan dan bawahan buruk, struktur tugas tidak berpola,
wibawa pemimpin yang lemah.



BAB IV
TEKNIK KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN

A. Teknik-Teknik Kepemimpinan Pemerintahan
Teknik adalah cara atau strategi yang dilakukan seseorang untuk
mencapai tujuannya. Pemimpin pemerintahan harus mempunyai berbagai
teknik dalam mempengaruhi para bawahannya atau masyarakatnya agar
tujuan segera tercapai, sesuai dengan kemampuan pemimpin pemerintahan
itu sendiri. Berikut ini disampaikan beberapa teknik dalam kepemimpinan.

a. Teknik Persuasive Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Teknik persuasive dalam kepemimpinan pemerintahan adalah strategi
pimpinan pemerintahan seperti camat, bupati, gubernur ataupun walikota
membujuk bawahannya untuk bekerja lebih rajin. Bujukan biasanya
termasuk strategi lunak dan baik ( be good approach) maka dilakukan
dengan lemah lembut. Hal ini berlaku pula ketika camat, bupati gubernur
ataupun walikota tersebut menghadapi masyarakatnya. Misalnya dengan
melakukan perjanjian dan menanamkan kesadaran betapa pentingnya
menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan bersama. J adi bawahan dan
masyarakat jauh-jauh hari dengan penuh keterbukaan telah diberi informasi
apa-apa yang menjadi rencana dan tujuan organisasi pemerintahan di mana
para staf dan masyarakat terlibat, sebagai objek dan subjek organ isasi,





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

41
sepanjang mereka dapat menyeimbangkan hak dan kewajiban mereka,
sehingga pada gilirannya nanti pekerjaan berjalan dengan lancer. Janji
terselubung seperti ini disebut dengan implicit bargaining.
Jadi dengan teknik persuasive ini pimpinan pemerintahan melakukan
pendekatan bujukan di mana untuk memotivasi bawahan dan masyarakat
dipergunakan strategi pemanjaan, dengan bawahan dan masyarakat
melaksanakan pekerjaan karena alas an baik hatinya atasan ( sang pemimpin)
Dengan demikian orang lain yang dipimpin oleh pemimpin
pemerintahan seperti ini diharapkan akan bekerja dengan rajin sebagai balas
budi atau pun untuk memperoleh kerelaan pembayaran lebih besar. Rutin dan
lancer. Hal ini sulit dilaksanakan karena hanya berpengaruhg selagi sang
pemimpin senanatiasa bermanis muka dan selalu memberikan hadiah.

b. Teknik Komunikatif Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Teknik komunikatif dalam kepemimpinan pemerintahan adalah
strategi camat, bupati atau walikota dan gubernur mempelancar pekerjaannya
mencapai tujuan,melakukan hubungan sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu
komunikasi, yaitu apa yang diinginkan oleh pemerintah sebagai pemberi
pesan sama dengan apa yang diterima bawahan dan masyarakat.
Itulah sebabnya disebut dengan komunikasi karena commune berarti
sama, kalau tidak demikian akan terjadi berbagai kesalahan antara lains
ebagaiberikut:
a. Kesalahan dalam memahami ( misperception)
b. Kesalahan dalam menfsirkan (misinterpretation)
c. Kesalahan dalam mengartikan(misunderstanding)
d. Kesalahan dalam menyamakan (miscommunication)





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

42
Oleh karena itu bawahan dan masyarakat harus diperkenankan
bertanya memberik masukan, berdialog dalam suatu komunikasi yang dua
arah (tou way traffic) perintah tegas, tanpa adanya tanyajwab dan bantahan
dalam komunikasi satu arah ( one way traffic) hanya saja banyak pesan yang
tidak jelas dan membingungkan
Jadi pimpinan pemerintahan harus memiliki media komunikasi yang
baik dan benar antara lain:
b. Berbahasa dengan baik dan benar
c. Menuliskan pesan dengan jelas
d. Mempergunakan pengeras suara yang memadai
e. Berada pada tempat yang resmi
f. Ciptakan sityuasi di mana bawahan dan masyarakat serius.
Hal tersebut di atas sering dilupakan oleh pemimpin pemerintahan, mereka
menganggap pesan sudah disampaikan namun orang lain tidak mengerti,
tidak mendengar, ataupun tidak mengidahkan.

c. Teknik Fasilitas Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Teknik fasilitas dalam kepemimpinan pemerintahanadalah strategi
pemimpin pemerintahan seperti camat, bupati, walikota dan gubernur
memberikan fasilitas kepada bawahan atau masyarakatnya untuk
mempelancar pekerjaan karena bawahan dan masyarakat tersebut terikat
oleh pemberian tersebut, hal ini disebut dengan kekuatan pemberian (reward
power)
Pemerintah dipaksa meyombongkan diri apa yang telah
dilakukannya, ini karena manusia terkadang melupakan apa yang telah
diperjuangkan orang lain, dank arena teknik fasilitas ini adalah agar orang





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

43
merasa bersyukur atas fasilitas yang dimilikinya (baik material maupun
immaterial/rohani), maka perlu diutamakan sebagai bahan pemikiran
masyarakat banyak yang harus menjaganya sebagai perwujudan rasa
syhukur mereka kepada Yang Maha Kuasa, yang suatu ketika dapat saja
menggantikannya dengan berbagai cobaan yang rasanya sulit ditanggulangi.


d. Teknik Motivasi Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Teknik motivasi dalam kepemimpinan pemerintahan adalah strategi
camat, bupati, walikota dan gubernur mendorong bawahan dan
masyarakatnya bekerja serta membangun lebih rajin dengan berbagai cara
misalnya:
1. Memenuhi kebutuhan fisik bawahan atau masyarakatnya
2. Memberikan rasa aman kepada masyarakat
3. Memberikan rasa nyaman dalam pergaulan
4. Memberikan penghormatan yang tepat pda bawahan dan masyarakat
5. Memenuhi kebutuhan penampilan diri
6. Memberikan keleluasaan pada setiap orang sesuai dengan
kemampuannya
7. Memberikan pada setiap bawahan atau masyarakatnya kebebasan
untuk menjaga dan menguasai hak miliknya sepanjang tidak
melanggar peraturan perundang-undangan
8. Memberikan pada setiap bawahan dan masyarakatnya untuk
berkumpul, bersyarikat, berorganisasi, bergaul sepanjang tidak
bertentangan dengan pearturan perundang-undangan yang berlaku.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

44
9. Memberikan dorongan kepada bawahan dan masyarakatnya untuk
berpartisipasi dalam pembangunan.

e. Teknik Keteladanan Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Teknik keteladanan dalam kepemimpinan pemerintahan adalah
strategi pemimpin pemerintahan seperti camat, bupati, walikota dan gubernur
dalam meberikan contoh yang baik kepada bawahannya dan mayarakatnya
sendiri.
Di Indonesia yang terkenal bapakisme, paternalistic, dan
pengkulturan individuaannya besar, maka seorang tokoh dalam hal ini
pemimpin pemerintahan di suatu tempat senantiasa dijadikan panutan, oleh
karena itu hendaknya memberikan contoh yang baik.

B. Tipologi / gaya kepemimpinan pemerintahan.
Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut
berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian
berikut (Siagian,1997).
a. Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki
kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai
pemilik pribadi; Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan
organisasi; Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata; Tidak
mau menerima kritik, saran dan pendapat; Terlalu tergantung kepada
kekuasaan formalnya; Dalam tindakan pengge-rakkannya sering
memperguna-kan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan
bersifat menghukum.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

45
b. Tipe Militeristis.
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang
pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin
organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah
seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam
menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering
dipergunakan; Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung
kepada pangkat dan jabatannya; Senang pada formalitas yang
berlebih-lebihan; Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari
bawahan; Sukar menerima kritikan dari bawahannya; Menggemari
upacara-upacara untuk berbagai keadaan.


c. Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang
paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut :
menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa;
bersikap terlalu melindungi (overly protective); jarang memberikan
kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan; jarang
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil
inisiatif; jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengembangkan daya kreasi dan fantasinya; dan sering bersikap
maha tahu.
d. Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-
sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

46
Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai
daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya
mempunyai pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun
para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa
mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya
pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin
yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin
yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural
powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan
sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya,
Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F
Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun
umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika
Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai
orang yang ganteng.

e. Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe
pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi
modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki
karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan
selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk
yang termulia di dunia; selalu berusaha mensinkronisasikan
kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan
pribadi dari pada bawahannya; senang menerima saran, pendapat, dan
bahkan kritik dari bawahannya; selalu berusaha mengutamakan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

47
kerjasama dan team work dalam usaha mencapai tujuan; ikhlas
memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya
untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu
tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk
berbuat kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan
bawahannya lebih sukses daripadanya; dan berusaha
mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe
demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang
demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin
berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.

C. Model kepemimpinan.
Model kepemimpinan didasarkan pada pendekatan yang mengacu
kepada hakikat kepemimpinan yang berlandaskan pada perilaku dan
keterampilan seseorang yang berbaur kemudian membentuk gaya
kepemimpinan yang berbeda. Beberapa model yang menganut pendekatan
ini, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Model Kepemimpinan Kontinum (Otokratis-Demokratis).
Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994)
berpendapat bahwa pemimpin mempengaruhi pengikutnya melalui beberapa
cara, yaitu dari cara yang menonjolkan sisi ekstrim yang disebut dengan
perilaku otokratis sampai dengan cara yang menonjolkan sisi ekstrim lainnya
yang disebut dengan perilaku demokratis. Perilaku otokratis, pada umumnya
dinilai bersifat negatif, di mana sumber kuasa atau wewenang berasal dari
adanya pengaruh pimpinan. Jadi otoritas berada di tangan pemimpin, karena





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

48
pemusatan kekuatan dan pengambilan keputusan ada pada dirinya serta
memegang tanggung jawab penuh, sedangkan bawahannya dipengaruhi
melalui ancaman dan hukuman. Selain bersifat negatif, gaya kepemimpinan
ini mempunyai manfaat antara lain, pengambilan keputusan cepat, dapat
memberikan kepuasan pada pimpinan serta memberikan rasa aman dan
keteraturan bagi bawahan. Selain itu, orientasi utama dari perilaku otokratis
ini adalah pada tugas.
Perilaku demokratis; perilaku kepemimpinan ini memperoleh sumber
kuasa atau wewenang yang berawal dari bawahan. Hal ini terjadi jika
bawahan dimotivasi dengan tepat dan pimpinan dalam melaksanakan
kepemimpinannya berusaha mengutamakan kerjasama dan team work untuk
mencapai tujuan, di mana si pemimpin senang menerima saran, pendapat dan
bahkan kritik dari bawahannya. Kebijakan di sini terbuka bagi diskusi dan
keputusan kelompok. Namun, kenyataannya perilaku kepemimpinan ini tidak
mengacu pada dua model perilaku kepemimpinan yang ekstrim di atas,
melainkan memiliki kecenderungan yang terdapat di antara dua sisi ekstrim
tersebut.
Tannenbaun dan Schmidt dalam Hersey dan Blanchard (1994)
mengelompokkannya menjadi tujuh kecenderungan perilaku kepemimpinan.
Ketujuh perilaku inipun tidak mutlak melainkan akan memiliki
kecenderungan perilaku kepemimpinan mengikuti suatu garis kontinum dari
sisi otokratis yang berorientasi pada tugas sampai dengan sisi demokratis
yang berorientasi pada hubungan.
2. Model Kepemimpinan Ohio.
Dalam penelitiannya, Universitas Ohio melahirkan teori dua faktor
tentang gaya kepemimpinan yaitu struktur inisiasi dan konsiderasi (Hersey





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

49
dan Blanchard, 1992). Struktur inisiasi mengacu kepada perilaku pemimpin
dalam menggambarkan hubungan antara dirinya dengan anggota kelompok
kerja dalam upaya membentuk pola organisasi, saluran komunikasi, dan
metode atau prosedur yang ditetapkan dengan baik. Adapun konsiderasi
mengacu kepada perilaku yang menunjukkan persahabatan, kepercayaan
timbal-balik, rasa hormat dan kehangatan dalam hubungan antara pemimpin
dengan anggota stafnya (bawahan). Adapun contoh dari faktor konsiderasi
misalnya pemimpin menyediakan waktu untuk menyimak anggota
kelompok, pemimpin mau mengadakan perubahan, dan pemimpin bersikap
bersahabat dan dapat didekati. Sedangkan contoh untuk faktor struktur
inisiasi misalnya pemimpin menugaskan tugas tertentu kepada anggota
kelompok, pemimpin meminta anggota kelompok mematuhi tata tertib dan
peraturan standar, dan pemimpin memberitahu anggota kelompok tentang
hal-hal yang diharapkan dari mereka. Kedua faktor dalam model
kepemimpinan Ohio tersebut dalam implementasinya mengacu pada empat
kuadran, yaitu : (a) model kepemimpinan yang rendah konsiderasi maupun
struktur inisiasinya, (b) model kepemimpinan yang tinggi konsiderasi
maupun struktur inisiasinya, (c) model kepemimpinan yang tinggi
konsiderasinya tetapi rendah struktur inisiasinya, dan (d) model
kepemimpinan yang rendah konsiderasinya tetapi tinggi struktur inisiasinya.


3. Model Kepemimpinan Likert (Likerts Management System).
Likert dalam Stoner (1978) menyatakan bahwa dalam model
kepemimpinan dapat dikelompokkan dalam empat sistem, yaitu sistem
otoriter, otoriter yang bijaksana, konsultatif, dan partisipatif. Penjelasan dari





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

50
keempat sistem tersebut adalah seperti yang disajikan pada bagian berikut
ini.
a. Sistem Otoriter (Sangat Otokratis).
Dalam sistem ini, pimpinan menentukan semua keputusan
yang berkaitan dengan pekerjaan, dan memerintahkan semua
bawahan untuk menjalankannya. Untuk itu, pemimpin juga
menentukan standar pekerjaan yang harus dijalankan oleh
bawahan. Dalam menjalankan pekerjaannya, pimpinan
cenderung menerapkan ancaman dan hukuman. Oleh karena
itu, hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam sistem
adalah saling curiga satu dengan lainnya.
b. Sistem Otoriter Bijak (Otokratis Paternalistik).
Perbedaan dengan sistem sebelumnya adalah terletak kepada
adanya fleksibilitas pimpinan dalam menetapkan standar yang
ditandai dengan meminta pendapat kepada bawahan. Selain
itu, pimpinan dalam sistem ini juga sering memberikan pujian
dan bahkan hadiah ketika bawahan berhasil bekerja dengan
baik. Namun demikian, pada sistem inipun, sikap pemimpin
yang selalu memerintah tetap dominan.
c. Sistem Konsultatif.
Kondisi lingkungan kerja pada sistem ini dicirikan adanya pola
komunikasi dua arah antara pemimpin dan bawahan.
Pemimpin dalam menerapkan kepemimpinannya cenderung
lebih bersifat menudukung. Selain itu sistem kepemimpinan ini
juga tergambar pada pola penetapan target atau sasaran
organisasi yang cenderung bersifat konsultatif dan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

51
memungkinkan diberikannya wewenang pada bawahan pada
tingkatan tertentu.
d. Sistem Partisipatif.
Pada sistem ini, pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang
lebih menekankan pada kerja kelompok sampai di tingkat
bawah. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemimpin biasanya
menunjukkan keterbukaan dan memberikan kepercayaan yang
tinggi pada bawahan. Sehingga dalam proses pengambilan
keputusan dan penentuan target pemimpin selalu melibatkan
bawahan. Dalam sistem inipun, pola komunikasi yang terjadi
adalah pola dua arah dengan memberikan kebebasan kepada
bawahan untuk mengungkapkan seluruh ide ataupun
permasalahannya yang terkait dengan pelaksanaan pekerjaan.
Dengan demikian, model kepemimpinan yang disampaikan oleh
Likert ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari model-model yang
dikembangkan oleh Universitasi Ohio, yaitu dari sudut pandang struktur
inisasi dan konsiderasi.
1. Model Kepemimpinan Managerial Grid.
J ika dalam model Ohio, kepemimpinan ditinjau dari sisi struktur
inisiasi dan konsideransinya, maka dalam model manajerial grid yang
disampaikan oleh Blake dan Mouton dalam Robbins (1996)
memperkenalkan model kepemimpinan yang ditinjau dari perhatiannya
terhadap tugas dan perhatian pada orang. Kedua sisi tinjauan model
kepemimpinan ini kemudian diformulasikan dalam tingkatan-tingkatan, yaitu
antara 0 sampai dengan 9.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

52
Dalam pemikiran model managerial grid adalah seorang pemimpin
selain harus lebih memikirkan mengenai tugas-tugas yang akan dicapainya
juga dituntut untuk memiliki orientasi yang baik terhadap hubungan kerja
dengan manusia sebagai bawahannya. Artinya bahwa seorang pemimpin
tidak dapat hanya memikirkan pencapaian tugas saja tanpa memperhitungkan
faktor hubungan dengan bawahannya, sehingga seorang pemimpin dalam
mengambil suatu sikap terhadap tugas, kebijakan-kebijakan yang harus
diambil, proses dan prosedur penyelesaian tugas, maka saat itu juga
pemimpin harus memperhatikan pola hubungan dengan staf atau
bawahannya secara baik. Menurut Blake dan Mouton ini, kepemimpinan
dapat dikelompokkan menjadi empat kecenderungan yang ekstrim dan satu
kecenderungan yang terletak di tengah-tengah keempat gaya ekstrim
tersebut. Gaya kepemimpinan tersebut adalah
Grid 1.1 disebut Impoverished leadership (Model Kepemimpinan
yang Tandus), dalam kepemimpinan ini si pemimpin selalu
menghidar dari segala bentuk tanggung jawab dan perhatian terhadap
bawahannya.
Grid 9.9 disebut Team leadership (Model Kepemimpinan Tim),
pimpinan menaruh perhatian besar terhadap hasil maupun hubungan
kerja, sehingga mendorong bawahan untuk berfikir dan bekerja
(bertugas) serta terciptanya hubungan yang serasi antara pimpinan
dan bawahan.
Grid 1.9 disebut Country Club leadership (Model Kepemimpinan
Perkumpulan), pimpinan lebih mementingkan hubungan kerja atau
kepentingan bawahan, sehingga hasil/tugas kurang diperhatikan.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

53
Grid 9.1 disebut Task leadership (Model Kepemimpinan Tugas),
kepemimpinan ini bersifat otoriter karena sangat mementingkan
tugas/hasil dan bawahan dianggap tidak penting karena sewaktu-
waktu dapat diganti.
Grid 5.5 disebut Middle of the road (Model Kepemimpinan Jalan
Tengah), di mana si pemimpin cukup memperhatikan dan
mempertahankan serta menyeimbangkan antara moral bawahan
dengan keharusan penyelesaian pekerjaan pada tingkat yang
memuaskan, di mana hubungan antara pimpinan dan bawahan
bersifat kebapakan.
Berdasakan uraian di atas, pada dasarnya model kepemimpinan
manajerial grid ini relatif lebih rinci dalam menggambarkan kecenderungan
kepemimpinan. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwasanya model
ini merupakan pandangan yang berawal dari pemikiran yang relatif sama
dengan model sebelumnya, yaitu seberapa otokratis dan demokratisnya
kepemimpinan dari sudut pandang perhatiannya pada orang dan tugas.
2. Model Kepemimpinan Kontingensi.
Model kepemimpinan kontingensi dikembang-kan oleh Fielder.
Fielder dalam Gibson, Ivancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa
gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung
pada situasi di mana pemimpin bekerja. Menurut model kepemimpinan ini,
terdapat tiga variabel utama yang cenderung menentukan apakah situasi
menguntukang bagi pemimpin atau tidak. Ketiga variabel utama tersebut
adalah : hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota kelompok
(hubungan pemimpin-anggota); kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

54
kelompok untuk dilaksanakan (struktur tugas); dan kekuasaan dan
kewenangan posisi yang dimiliki (kuasa posisi).
Berdasar ketiga variabel utama tersebut, Fiedler menyimpulkan
bahwa : para pemimpin yang berorientasi pada tugas cenderung berprestasi
terbaik dalam situasi kelompok yang sangat menguntungkan maupun tidak
menguntungkan sekalipun; para pemimpin yang berorientasi pada hubungan
cenderung berprestasi terbaik dalam situasi-situasi yang cukup
menguntungkan.
Dari kesimpulan model kepemimpinan tersebut, pendapat Fiedler
cenderung kembali pada konsep kontinum perilaku pemimpin. Namun
perbedaannya di sini adalah bahwa situasi yang cenderung menguntungkan
dan yang cenderung tidak menguntungkan dipisahkan dalam dua kontinum
yang berbeda.

3. Model Kepemimpinan Tiga Dimensi.
Model kepemimpinan ini dikembangkan oleh Redin. Model tiga
dimensi ini, pada dasarnya merupakan pengembangan dari model yang
dikembangkan oleh Universitas Ohio dan model Managerial Grid.
Perbedaan utama dari dua model ini adalah adanya penambahan satu dimensi
pada model tiga dimensi, yaitu dimensi efektivitas, sedangkan dua dimensi
lainnya yaitu dimensi perilaku hubungan dan dimensi perilaku tugas tetap
sama.
Intisari dari model ini terletak pada pemikiran bahwa kepemimpinan
dengan kombinasi perilaku hubungan dan perilaku tugas dapat saja sama,
namun hal tersebut tidak menjamin memiliki efektivitas yang sama pula. Hal
ini terjadi karena perbedaan kondisi lingkungan yang terjadi dan dihadapi





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

55
oleh sosok pemimpin dengan kombinasi perilaku hubungan dan tugas yang
sama tersebut memiliki perbedaan. Secara umum, dimensi efektivitas
lingkungan terdiri dari dua bagian, yaitu dimensi lingkungan yang tidak
efektif dan efektif. Masing-masing bagian dimensi lingkungan ini memiliki
skala yang sama 1 sampai dengan 4, dimana untuk lingkungan tidak efektif
skalanya bertanda negatif dan untuk lingkungan yang efektif skalanya
bertanda positif.

D. Kompetensi Kepemimpinan
Suatu persyaratan penting bagi efektivitas atau kesuksesan pemimpin
(kepemimpinan) dan manajer (manajemen) dalam mengemban peran, tugas,
fungsi, atau pun tanggung jawabnya masing-masing adalah kompetensi.
Konsep mengenai kompetensi untuk pertamakalinya dipopulerkan oleh
Boyatzis (1982) yang didefinisikan kompetensi sebagai kemampuan yang
dimiliki seseorang yang nampak pada sikapnya yang sesuai dengan
kebutuhan kerja dalam parameter lingkungan organisasi dan memberikan
hasil yang diinginkan. Secara historis perkembangan kompetensi dapat
dilihat dari beberapa definisi kompetensi terpilih dari waktu ke waktu yang
dikembangkan oleh Burgoyne (1988), Woodruffe (1990), Spencer dan
kawan-kawan (1990), Furnham (1990) dan Murphy (1993).
Menurut Rotwell, kompetensi adalah an area of knowledge or skill
that is critical for production ke outputs. Lebih lanjut Rotwell menuliskan
bahwa competencies area internal capabilities that people brings to their
job; capabilities which may be expressed in a broad, even infinite array of on
the job behaviour. Spencer (1993) berpendapat, kompetensi adalah an
undderlying characteristicof an individual that is causally related to





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

56
criterion referenced effective and/or superior performance in ajob or
situation. Senada dengan itu Zwell (2000) berpendapat Competencies can
be defined as the enduring traits and characteristics that determine
performance. Examples of competencies are initiative, influence, teamwork,
innovation, and strategic thinking.
Beberapa pandangan di atas mengindikasikan bahwa kompetensi
merupakan karakteristik atau kepribadian (traits) individual yang bersifat
permanen yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang. Selain traits dari
Spencer dan Zwell tersebut, terdapat karakteristik kompetensi lainnya, yatu
berupa motives, self koncept (Spencer, 1993), knowledge, dan skill ( Spencer,
1993; Rothwell and Kazanas, 1993).
Menurut review Asropi (2002), berbagai kompetensi tersebut
mengandung makna sebagai berikut : Traits merunjuk pada ciri bawaan yang
bersifat fisik dan tanggapan yang konsisten terhadap berbagai situasi atau
informasi. Motives adalah sesuatu yang selalu dipikirkan atau diinginkan
seseorang, yang dapat mengarahkan, mendorong, atau menyebabkan orang
melakukan suatu tindakan. Motivasi dapat mengarahkan seseorang untuk
menetapkan tindakan-tindakan yang memastikan dirinya mencapai tujuan
yang diharapkan (Amstrong, 1990). Self concept adalah sikap, nilai, atau
citra yang dimiliki seseorang tentang dirinya sendiri; yang memberikan
keyakinan pada seseorang siapa dirinya. Knowledge adalah informasi yang
dimilki seseorang dalam suatu bidang tertentu. Skill adalah kemampuan
untuk melaksanakan tugas tertentu, baik mental atau pun fisik.
Berbeda dengan keempat karakteristik kompetensi lainnya yang
bersifat intention dalam diri individu, skill bersifat action. Menurut Spencer





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

57
(1993), skill menjelma sebagai perilaku yang di dalamnya terdapat motives,
traits, self concept, dan knowledge.
Dalam pada itu, menurut Spencer (1993) dan Kazanas (1993)
terdapat kompetensi kepemimpinan secara umum yang dapat berlaku atau
dipilah menurut jenjang, fungsi, atau bidang, yaitu kompetensi berupa :
result orientation, influence, initiative, flexibility, concern for quality,
technical expertise, analytical thinking, conceptual thinking, team work,
service orientation, interpersonal awareness, relationship building, cross
cultural sensitivity, strategic thinking, entrepreneurial orientation, building
organizational commitment, dan empowering others, develiping others.
Kompetensi-kompetensi tersebut pada umumnya merupakan kompetensi
jabatan manajerial yang diperlukan hampir dalam semua posisi manajerial.
kompetensi yang diidentifikasi Spencer dan Kazanas tersebut dapat
diturunkan ke dalam jenjang kepemimpinan berikut : pimpinan puncak,
pimpinan menengah, dan pimpinan pengendali operasi teknis (supervisor).
Kompetensi pada pimpinan puncak adalah
a. result (achievement) orientation,
b. relationship building,
c. initiative, influence,
d. strategic thinking,
e. building organizational commitment,
f. entrepreneurial orientation,
g. empowering others,
h. developing others, dan
i. felexibilty.
Adapun kompetensi pada tingkat pimpinan menengah lebih berfokus pada





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

58
1. influence,
2. result (achievement) orientation,
3. team work,
4. analitycal thinking,
5. initiative,
6. empowering others,
7. developing others,
8. conceptual thingking,
9. relationship building,
10. service orientation,
11. interpersomal awareness,
12. cross cultural sensitivity, dan
13. technical expertise.
Sedangkan pada tingkatan supervisor kompetensi kepemimpinannya
lebih befokus pada
a. technical expertise,
b. developing others,
c. empowering others,
d. interpersonal understanding,
e. service orientation,
f. building organzational commitment,
g. concern for order,
h. influence,
i. felexibilty,
j. relatiuonship building,
k. result (achievement) orientation,





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

59
l. team work, dan
m. cross cultural sensitivity.
Dalam hubungan ini Kouzes dan Posner 1995) meyakini bahwa suatu
kinerja yang memiliki kualitas unggul berupa barang atau pun jasa, hanya
dapat dihasilkan oleh para pemimpin yang memiliki kualitas prima.
Dikemukakan, kualitas kepemimpinan manajerial adalah suatu cara hidup
yang dihasilkan dari mutu pribadi total ditambah kendali mutu total
ditambah mutu kepemimpinan.
Berdasarkan penelitiannya, ditemukan bahwa terdapat 5 (lima)
praktek mendasar pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan unggul,
yaitu; (1) pemimpin yang menantang proses, (2) memberikan inspirasi
wawasan bersama, (3) memungkinkan orang lain dapat bertindak dan
berpartisipasi, (4) mampu menjadi penunjuk jalan, dan (5) memotivasi
bawahan.
Adapun ciri khas manajer yang dikagumi sehingga para bawahan
bersedia mengikuti perilakunya adalah, apabila manajer memiliki sifat jujur,
memandang masa depan, memberikan inspirasi, dan memiliki kecakapan
teknikal maupun manajerial. Sedangkan Burwash (1996) dalam
hubungannya dengan kualitas kepemimpinan manajer mengemukakan, kunci
dari kualitas kepemimpinan yang unggul adalah kepemimpinan yang
memiliki paling tidak 8 sampai dengan 9 dari 25 kualitas kepemimpinan
yang terbaik. Dinyatakan, pemimpin yang berkualitas tidak puas dengan
status quo dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan dirinya.
Beberapa kriteria kualitas kepemimpinan manajer yang baik antara lain,
memiliki komitmen organisasional yang kuat, visionary, disiplin diri yang
tinggi, tidak melakukan kesalahan yang sama, antusias, berwawasan luas,





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

60
kemampuan komunikasi yang tinggi, manajemen waktu, mampu menangani
setiap tekanan, mampu sebagai pendidik atau guru bagi bawahannya, empati,
berpikir positif, memiliki dasar spiritual yang kuat, dan selalu siap melayani.
Dalam pada itu, Warren Bennis (1991) juga mengemukakan bahwa
peran kepemimpinan adalah empowering the collective effort of the
organization toward meaningful goals dengan indikator keberhasilan
sebagai berikut : People feel important; Learning and competence are
reinforced; People feel they part of the organization; dan Work is viewed as
excisting, stimulating, and enjoyable. Sementara itu, Soetjipto Wirosardjono
(1993) menandai kualifikasi kepemimpinan berikut, kepemimpinan yang
kita kehendaki adalah kepemimpinan yang secara sejati memancarkan
wibawa, karena memiliki komitmen, kredibilitas, dan integritas.
Sebelum itu, Bennis bersama Burt Nanus (1985) mengidentifikasi
bentuk kompetensi kepemimpinan berupa the ability to manage dalam
empat hal : attention (= vision), meaning (= communication), trust (=
emotional glue), and self (= commitment, willingness to take risk).
Kemudian pada tahun 1997, keempat konsep tersebut diubah menjadi the
new rules of leradership berupa (a) Provide direction and meaning, a sense
of purpose; (b) Generate and sustain trust, creating authentic relationships;
(c) Display a bias towards action, risk taking and curiosity; dan (d) Are
purveyors of hope, optimism and a psychological resilience that expects
success (lihat Karol Kennedy, 1998; p.32).
Bagi Rossbeth Moss Kanter (1994), dalam menghadapi tantangan
masa depan yang semakin terasa kompleks dan akan berkembang semakin
dinamik, diperlukan kompetensi kepemimpinan berupa conception yang
tepat, competency yang cukup, connection yang luas, dan confidence.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

61
Tokoh lainnya adalah Ken Shelton (ed, 1997) mengidentikasi
kompetensi dalam nuansa lain., menurut hubungan pemimpin dan pengikut,
dan jiwa kepemimpinan. Dalam hubungan pemimpin dan pengikut, ia
menekankan bagaimana keduanya sebaiknya berinterkasi. Fenomena ini
menurut Pace memerlukan kualitas kepemimpinan yang tidak mementingkan
diri sendiri. Selain itu, menurut Carleff pemimpin dan pengikut merupak dua
sisi dari proses yang sama. Dalam hubungan jiwa kepemimpinan, sejumlah
pengamat memasuki wilayah spiritual. Rangkaian kualitas lain yang
mewarnainya antara lain adalah hati, jiwa, dan moral. Bardwick menyatakan
bahwa kepemimpinan bukanlah masalah intelektual atau pengenalan,
melainkan masalah emosional. Sedangkan Bell berpikiran bahwa
pembimbing yang benar tidak selamanya merupakan mahluk rasional.
Mereka seringkali adalah pencari nyala api.












BAB VI





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

62
KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN


Pemimpin secara filosofis perlu kekuasaan untuk menegakkan
kebenaran dan mengantisipasi ketidakbenaran, apalagi kepemimpinana
pemerintahan. Pemimpin pemerintahan adakalanya tridak memiliki
kekuasaan karena kekuasaan berada pada pihak lain.

A. Filsafat Kekuasaan
Menurut Max Weber (1946) kekuasaan adalah kesempatan seseorang
atau kelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-
kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-
tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.
Kekuasaan selalu ada di dalam setiap masyarakat baik yang
tradisional maupun yang modern, hanya dibagi-bagi sesuai dengan
fungsinya, kalau tidak dibagi justru timbul makna yang pokok dari
kekuasaan, yaitu secara tirani mampu mempengaruhi semua pihak sesuai
kehendak pemegang kekuasaan itu sendiri.
Jadi kekuasaan dapat didefinisikan sebagai hasil pengaruh yang
diinginkan seseorang atau kelompok orang sehingga dengan begitu dapat
merupakan suatu konsep kuantitatif dan kualitatif karena dapat dihitung
hasilnya dan dapat dirasakan pengaruhnya.










K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

63
B. Sumber Hukum
Ada beberapa cara berkuasa yang perlu diketahui mengapa seseorang
atau kelompok orang memiliki kekuasaan. Yakni:
1. Legitimate Power
Kekuasaan yang diperoleh karena surat keputusan atasan atau
pengangkatan masyarakat banyak, yang selanjutnya diterima sebagai
pemimpin untuk berkuasa di daerah atau wilayah tersebut
2. Coercive power
Kekuasaan yang diperoleh karena seseorang atau kelompok orang
mempergunakan kekerasan dan kekuatan fisik serta senjatanya untuk
memerintah pihak lain
3. Expert power
Kekuasaan yang diperoleh karena keahliannya berdasarkan ilmu-
ilmu yang dimilikinya, seni mempengaruhi yang dipunyainya serta
bukdi luhurnya sehingga orang lain membutuhkannya.
4. Reward power
Kekuasaan yang diperoleh karena seseorang atau kelompok orang
member barang dan uang kepada orang lain sehingga orang lain
tersebut merasa berhutang budi atau suatu ketika membutuhkan
kembali pemberian yang serupa
5. Reverent power
Kekuasaan yang diperoleh karena penampilan seseorang
6. Information power
Kekuasaan yang diperoleh karena seseorang yang begitu banyak
memiliki keterangan sehingga orang lain membutuhkan dirinya untuk





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

64
bertanya, untuk itu yang bersangkutan membatasi keterangannya agar
terus menerus dibutuhkan
7. Connection power
Kekuasaan yang diperoleh karena seseorang memiliki hubungan
keterkaitan dengan seseoranmg yang memang memegang berkuasa,
hal ini biasanya disebut dengan hubungan kekerabatan atau
kekeluargaan.

C. Cara berkuasa
Apabila seorang pemangku jabatan (pemimpin) dalam pemerintahan
tidak memiliki kekuasaan terhadap bawahannya ataupun masyarakatnya
maka ada beberapa cara untuk kembali berkuasa. Hal ini dikemukakan oleh
seorang pakar bernama strauss , untuk lengkapnya dimodifikasi yaitu
sebagaiberikut:
1. Be Competition
Yaitu dengan cara memperbandingkan ataupun memperlombakan
bawahan dan masyarakat, sehingga secara tidak tgerasa mereka
mengikuti kemauan pemimpin pemerintahan tersebut.
2. Be strong approach
Yaitu dengan cara kemarahan yang keras dan kaku dilengkapi dengan
hantaman benda pada meja atau dinding, sehingga terkesan
menyeramkan. Untuk ini diperlukan dramatisasi keadaan.
3. Be Good Approach
Cara membujuk bawahan dan masyarakat dengan lemah lembut,
dilengkapi dengan pemberian hadiah barang, uang atau jasa tertentu
sehingga bawahan dan amsyarakat berhutang budi dan malu hati





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

65



4. Internalized Motivation
Cara menanamkan kesadaran kepada bawahan dan masyarakat agar
sepenuhnya mengerti sedalam dalamnya tentang arti kerjasama dan
arti tujuan organisasi yang dimiliki bersama
5. Implicit Bergaining
Cara membuat perjanjian sebelumnya dengan bawahan dan
masyarakat, sehingga dnegan begitu bawahan dari masyarakat terikat,
walaupun perjanjian tersebut tidak tertulis (apalagi tertulis) aka nada
semacam keterikatan untuk gentar melanggarnya.
Untuk konteks Indonesia yang memiliki banyak satuan organisasi
birokrasi karena terdiri dari banyak wilayah pemerintahan daerah serta
ratusan daerah otonom mengisyaratkan perlunya distribusi kekuasaan
melalui: ~Pembentukan organisasi ~Sharing dalam pengambilan keputusan
~Dasar menggerakkan potensi manusia Postner (1999) mengisyaratkan pula
lima pokok kepemimpinan untuk berbagi kekuasaan yaitu: ~Memastikan
kepemimpinan pribadi ~Memberikan pilihan ~Mengembangkan kecakapan
~Memberikan tugas penting ~Menawarkan dukungan yang kelihatan











K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

66



BAB VII

KEPEMIMPINAN DALAM KERANGKA MANAJEMEN


Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno management, yang
memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Manajemen belum memiliki
definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet,
misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan
melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas
mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.
Sementara itu, Ricky W. Griffin mendefinisikan manajemen sebagai sebuah
proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan
sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien.
Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan,
sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar,
terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.

A. Sifat dan Fungsi Manajemen
Dalam Manajemen terdapat fungsi-fungsi manajemen yang terkait
erat di dalamnya. Pada umumnya ada empat (4) fungsi manajemen yang
banyak dikenal masyarakat yaitu fungsi perencanaan (planning), fungsi
pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing) dan fungsi
pengendalian (controlling). Untuk fungsi pengorganisasian terdapat pula
fungsi staffing (pembentukan staf). Para manajer dalam organisasi





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

67
perusahaan bisnis diharapkan mampu menguasai semua fungsi manajemen
yang ada untuk mendapatkan hasil manajemen yang maksimal.
Ilmu manajemen merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang
disistemisasi, dikumpulkan dan diterima kebenarannya. Hal ini dibuktikan
dengan adanya metode ilmiah yang dapat digunakan dalam setiap
penyelesaian masalah dalam manajemen. Namun selain itu, beberapa ahli
seperti Follet menganggap manajemen adalah sebuah seni. Hal ini
disebabkan karena kepemimpinan memerlukan kharisma, stabilitas emosi,
kewibawaan, kejujuran, kemampuan menjalin hubungan antara manusia,
yang semuanya itu banyak ditentukan oleh bakat seseorang dan sulit
dipelajari.
a. Perencanaan
Tugas pertama seorang pemimpin dalam pemerintahaan berkaitan dengan
manajemen adalah memutuskan apa yang akan dicapai. Maksudnya
tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang dari pemerintahan yang
dipimpinya.
Untuk melaksanakannya seorang pemimpin sebagai manajer harus dapat
meramalkan
a. Lingkungan ekonomi
b. Lingkungan social
c. Lingkungan political
d. Manusia
e. Uang
f. Peralatan
Kemampuan untuk mencapai tujuan-tujuan seorang pemimpin sudah
tentu tergantung pada dua faktor sehingga tidak semua tujuan dapat





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

68
tercapai. Perlu diingat bahwa fungsi perencanaan juga mencakup
Budgeting dari Gulick karena sebuah budget merupakan sebuah rencana
untuk mengeluarkan sejumlah uang pada fase usaha yang bersangkutan.

2. Perorganisasian
Sasaran-sasran dan pekerjaan yang diperlukan untuk mencapainya,
menunjukan jumlah oprang yang diperlukan serta keterampilan-
keterampilan yang diperlukakan mereka maksudnya posisi-posisi yang
perlu diisi serta kualifikasi-kualifikasi yang dimiliki orang yang
menduduki posisi demikian
Dalam hal mengorganisasi, pemimpin memutuskan pekerjaan-pekerjaan
mana harus diisi serta tugas-tugas dan tanggungjawab yang berkaitan
dengan masing-masing pekerjaan yang berhubungan dengan yang lain.
3. Pengkoordinasian
Pengkoordinasian merupakan suatu bagian esensial dari organization dan
bukanlah seperti dikatakan oleh Gulick sebuah fungsi mnajemen
tersendiri. Cara mengkoordinasikan paling umum adalah menyediakan
atasan bersama untuk pekerjaan-pekerjaan yang saling berkaitan.
4. Penempatan karyawan atau bawahan
Dalam bidang pergorganisasian , seorang pemimpin pemerintahan
menentukan posisi-posisi dan ia memutuskan siapa saja yang akan
menduduki posisi tersebut. Dalam aktivitas staffing pemimpin berupaya
untuk menentukan orang yang tepat dalam menduduki posisi yang
diharapkan atau diinginkan.
5. Memberikan arah/ pengarahan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

69
Manajemen kadang-kadang dinyatakan orang sebagai the management
of people not thingspernyataan tersebut mengandung makna bahwa sang
pemimpin hanya perlu menggerakkan orang-orang lain sesuai dengan
keinginannya Pemimpin harus mampu mengerakan bawahan atau
masyarakatnya dan ini merupakan bagian penting dari tugas seorang
pemimpin dalam manajemen.


6. Pengawasan
Dalam hal melaksanakan aktivitas-aktivitas Directing pemimpin
menerangkan kepada bawahannya apa yang harus dilakukan dan
seorang pemimpin membantu bawahan untuk melaksanakan tugas
sebaik mungkin. Controlling seorang pemimpin menentukan kemajuan
bagaimana telah dicapai dalam hal menuju kea rah sasaran-sasaran, ia
perlu apa yang terjadi, sehingga seorang pemimpin akan dapat segera
melakukan inetrvensi dan mengubah prosedur-prosedur apabila
perubahan-perubahan itu dianggap perlu.
7. Inovasi
Seorang pemimpin pemerintahan dalam manajemen pemerintahan
harus melaksanakan hal-hal lain diluar kelima macam fungsi esensial
yang telah disebut oleh peter drucker seorang menejer hendaknya
seorang yang innovator. Inovasi senantiasa perlu dimaksudkan ke dalam
fungsi manajemen. Pada dasarnya inovasi terdiri dari tindakan-tindakan
mengembangkan cara-cara baru yang lebih baik untuk melaksanakan
tugas-tugas yang diemban oleh bawahannya taua masyarakatnya.
8. Reppresentasi





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

70
Akhirnya tugas seorang pemimpin pemerintahan dalam memanajemen
bawahan atau masyarakatnya mencakup tugas-tugas mewakili
organisasinya dalam halk menghadapi kelompok-kelompok lain yang
ada
Fokus seorang pemimpin adalah melaksanakan tugas pokok dan
fungsinya dengan kompetensinya. Otoritas dan pengaruh bersifat
formal,hierarkis dan birokratis


B. Perbandingan Manajemen Dan Kepemimpinan
Kepemimpinan tidak dapat mengantikan peran manajemen,
kepemimpinanan harus ditempatkan sebagai tambahan bagi fungsi
manajemen. Manajemen tanpa kepemimpinan hanya akan menjadikan
organisasi bersifat mekanistis dan kaku. Kepemimpinan tanpa manajemen
akan menjadikan organisasi tidak efektif dan kehilangan arah. Keduanya
merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi satu sama lain.
1. Arah dan Tujuan
Jepemimpinan dan manajemen mempunyai penekanan yang sama
yaitu memberikan arah dan tujuan bagi organisasi. Tetapi penekannya
berbeda antara manajemen dan kepemimpinan. Manajemen lebih
berfokus menciptakan rencana rencana secara detail, jadwal-jadwal,
untuk tujuan yang khusus, kemudian mengalokasikan sumber daya
untuk mencapainya. Manajemen lebih banyak mengarahkan titik
fokusnya pada hasil-hasil jangka pendek dan bottom lines.
Kepemimpinan lebih banyak berfokus menciptakan visi ke depan
bagi organisasi dan mengembangkan strategi jauh ke depan tentang





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

71
perubahan-perubahan yang dibutuhkan untuk mewujudkan visi
tersebut bagi organisasi . kepemimpinan lebih banyak memandang
pada horizon yang luas (keeping eye on the horizon dan menekankan
hasil-hasil jangka panjang (long-trem result).
2. Tugas dan kewajiban
Manajemen mengorganisasikan sebuah struktur untuk mencapai
rencana kerja, menempatkan struktur tersebut dengan orang-orang
yang cakap, mengembangkan kebijakan dan system untuk
mengarahkan karyawan dan memonitor proses penerapan rencana
yang telah dibuat, manajer bertindak lebih sebagai pemikir sedangkan
bawahan hanya seorang pelaksana. Akibatnya seorang manajer
menganggap pekikirannya dan ide-idenya selalu benar dan lebih baik
dibandingkan dengan pemikiran dan ide bawahannya. Bawahannya
hanya berperan sebagai robot yang pasif dan hanya menunggu
perintah.
Kepemimpinan lebih menekankan bagaimana mengkomunikasikan
visi dan mengembangkan budaya yang dimiliki bersama-sama dan
meyusun seperangkat nilai-nilai pokok di dalam organisasi yang
menjadi pedoman utama untuk mencapai tujuan tertinggi organisasi.
Penekanan ini melibatkan bawahan sebagai pemikir, pelaksana dan
pemimpin mendorong rasa kebersamaan akan komitmen dan
kepemilikan organisasi. Kalau visi mengembangkan tempat yang
dituju, budaya dan nilai-nilai akan menology organisasi memaknai
visinya.
Manajer lebih banyak mengelompokkan dan memisah-misahkan
orang dengan kemampuan khususnya melalui spesialisasi. Hal ini





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

72
menyebabkan terjadi batasan dan gap antara bagian-bagian di dalam
organisasi. Pemimpin menghilangkan sekat-sekat sehingga setiap
orang memahami apa yang dikerjakan orang lain, menciptakan
koordinasi yang lebih mudah, dan membentuk identitas tim kerja, dan
kedudukan yang sama dari orang-orang dalam mencapi tujuan
organisasi. Manajer lebih banyak mengontrol dan mengarahkan,
sedangkan kepemimpinan berfokus pada bagaimana mengembangkan
memberdayakan orang-orang sehingga mereka benar-benar optimal
dalam bekerja. Manajemen lebih banyak berkomunikasi untuk
menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah, sedanghkan
kepemimpinan lebih banyak bertanya, mendengarkan, dan
melibatkan orang-orang.
Karena komunikasi merupakan salah satu unsure terpenting bagi
proses kepemimpinan untuk menciptakan budaya dan iklim
organisasi, membentuk tim kerja memotivasi serta mendorong
prestasi karyawan.
3. Hubungan dan Interaksi
Manajemen lebih berfokus pada objek, mesin dan laporan-laporan
yang diperlukan sebagai landasan untuk menghasilkan produk-
produk yang berkualitas, sebaliknya kepemimpinan berfokus pada
bagaimana memotivasi dan memberikan inspirasi pada orang-orang.
Manjemen mendasarkan diri pada wewenang formal dan kekuasaan
jabatan, yang lebih banyak menggunakan paksaan dan hukuman
untuk mengarahkan bawahannya.
Kepemimpinan lebih mendasarkan diri pada pengaruh dan jarang
sekali menggunakan paksaan dalam mengarahkan orang-orang.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

73
Bawahaan harus diberdayakan. Seorang pemimpinm harus
memberikan stimulasi, dorongan, tantangan dan memenuhi
kebutuhan bawahan akan partisipasi, bukan sebaliknya menggunakan
hadiah, hukuman dan paksaan untuk menggerakkan bawahan
mencapai tujuan organisasi. Peran pemimpin adalah menimbulkan
antusiasme, ketertarikan, semangat juang dan menumbuhkan sprit
melalui proses identifikasi, modeling bukan hanya pada memberikan
hadiah atau hukuman
Manajer mempunyai kekuasaan melalui kedudukan formal sedangkan
kepemimpinan mendasarkan diri pada kualitas pribadi diri seorang
pemimpin.
4. Kualitas Personal Pemimpin.
Kepemimpinan lebih banyak dari sekedar seperangkat keterampilan
dan keahlian, kepemimpinan memupnyai kualitas personal halus
yang agak sulit dilihat, tetapi sangat berpengaruh. Kulitas-kualitas ini
termasuk antusiame, integritas, keberanian dan kemanusiaan.
Pemimpin yang baik berkembang melalui ketulusan hati pada orang
lain. Kepemimpinan mendorong kedekatan emosional, memberikan
penghargaan pada bawahan, menunjukkan bahwa mereka merupakan
asset yang berharga bagi organisasi. Pemimpinan menekankan ego
mereka sendiri, menghargai kontribusi orang lain dan menunjukkan
pada bahwahan bahwa kontibusi mereka sangat dihargai pemimpin
mendorong keberanian untuk menerima kegagalan dan kesalahan,
mendengar apa yang dikatakan bawahan, menunjukan
kepercayaannya pada orang lain dan mau belajar dari orang lain atau
bawahan.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

74
5. Hasil yang diinginkan
Manajemen lebih banyak mempertahankan status quo stabilitas,
keteraturan dan efisiensi. Manajemen berfokus pada hasil-hasil
jangka pendek dan hanya menekankan pemenuhan segelintir
orang.kepemimpinan selalu mempertanyakan status qua mendorong
dan menciptakan perubahan, meskipun kadang-kadang berupa
perubahan yang radikal, kepemimpinan selalu melihat dan
mempertanyakan budaya serta nilai-nilai yang sudah using, tidak
layak dianut dan seorang pemimpin kemudian mendorong perubahan
untuk menggantikan nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai baru yang
produktif, pemimpin selalu memikirkan produk-produk atau
kebijakan baru.

C. Perbedaan Manajer Dan Pemimpin
Menurut Warren G Bennis, ada perbedaan yang mencolok antara
majer dan pemimpin. Bennis menegaskan bahwa untuk bertahan hidup di
abad 21 ini kita membutuhkan seorang pemimpin generasi baru, pemimpin
menaklukkan hambatan-hambatan yang mengancam organisasi, seperti
perubahan yang serba cepat, ketidak pastian, kekacauan dunia dan perubahan
itu sendiri dan pemimpin akan menyelmatkan kita semua jika kita percaya
sepenuhnya, sementara manajer menyerah kalah dengan itu semua.
Perbedaan antara manajer dan pemimpin dapat dilihat pada table berikut:
Karakteristik Manajer Karakterrisitik Pemimpin





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

75
A. Seorang administrator
B. Seorang peniru
C. Tugasnya
mempertahankan
organisasi
D. Berfokus pada system dan
struktur
E. Mengandalkan control dan
pengawasan
F. Wawasan jangka pendek
G. Bertanya bagaimana dan
kapan
H. Menerima dan
mempertahankan status
quo
I. Melakukan sesuatu dengan
benar
A. Seoarang innovator
B. Seorang yang kreatif dan
original
C. Tugasnya mengembanmgkan
organisasi
D. Berfokus pada orang

E. Mengispirasi kepercayaan
dan komitmen
F. Wawasan jangka panjang
G. Bertanya apa dan mengapa
H. Melihat horizon
I. Menantang status qua dan
memberikan perubahan
J. Melakukan sesuatu yang
benar

Jadi terdapat perbedaan yang mencolok antara seorang manajer dan
seorang pemimpin. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa banyak
pemimpin yang berprilaku seperti seorang manajer, walaupun mereka sendiri
telah memiliki bawahan seorang manajer. Hal ini terjadi karena kebanyakan
mereka belum memahami filosofi dan eksistensi dari seorang pemimpin
sehingga terjebak dalam peran yang salah.





BAB VIII.
KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN






K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

76
Dalam menjalankan pemerintahaan , pencapaian tujuan dengan segala
proses dan ramilifikasinya membutuhkan komunikasi yang efektif . ditinjau
dari segi pembentukan perilaku pemimpin pemerintahan maupun bawahan
dalam adminsitrasi yang diinginkan pun komunikasi memainkan peranan
yang turut menentukan, kalau tidak dikatakan dominan.
Ramifikasi yang selalu dihadapi dalam usaha pencapaian tujuan
dalam pemerintahan antara lain:
1. Dinamika masyarakat yang pada gilirannya menurut organisasi
bekerja dengan tempo yang semakin tinggi
2. Perubahan-perubahan dalam nilai-nilai social dan lingkungan kerja
pemerintahan terhadap mana seluruh anggota bawahan harus peka
dan tanggap dengan sikap proaktif
3. Situasi kelangkaan dalam berbagai bidang seperti dana, sarana dan
sumber insane
4. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang perlu selalu
diikuti dan dimanfaatkan
5. Sarana komunikasi yang semakin
6. Komunikasi Terbuka Antara Pemimpin dan Bawahan
7. Saluran Komunikasi

A. Definisi Komunikasi
Komunikasi merupakan sarana yang penting dalam kehidupan
manusia. Komunikasi merupakan unsure yang mendorong kemajuan
peradaban manusia dan tanpa komunikasi, peradaban manusia tidak akan
berkembang dengan pesat. Melalui kemampuan berkomunikasi menjadikan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

77
kehidupan berbeda secara signifikan dengan makhluk ciptaan tuhan lainnya.
Komunikasi tidak diragukan lagi merupakan keterampilan yang harus
dimiliki oleh tetiap orang yang menginginkan kesuksesan di dalam
kehidupannya.
Di dalam organisasi komunikasi menjadi sarana untuk mengarahkan
dan mengendalikan setiap kegiatan, komunikasi juga menjadi sarana untuk
memahami tujuan organisasi dan mempengaruhi orang-orang untuk
meyakini bahwa tujuan organisasi akan memiliki pemahaman dan perspektif
yang sama dalam memahmi visi dan misi organisasi di masa depan.
Bagi seorang pemimpin keterampilan berkomunikasi merupakan hal
yang tidak bias ditawar-tawar lagi dan merupakan hal yang mutlak untuk
dikuasai secara baik. Pemimpin harus sukses dalam mengkomunikasikan
visinya kepada orang lain. Kesuksesan ini tidak sesederhana dengan hanya
memberitahukan begitu saja karyawan, tetapi melibatkan banyak aktivitas
dans arana untuk menanamkan visi organisasi ke dalam kesadaran setiap
karyawan.
Pemimpin dapat mengarahkan perhatian bawahan secara langsung
dengan menanamkan kepercayaan dan keyakinan bahwa visi dan misi masa
depan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Pempinan bias juga
menanamkan keyakinan pada bawahannya dengan mendefinisikan makna
yang lebih tinggi dari setiap aktivitas di dalam organisasi. pemimpin bisa
juga menyadari secara seksamapesan-pesan simbolik yang muncul dari
setiap perilakunya, penampilannya, dan ekspresi pribadi pemimpinan di
dalam mengemukakan visinya kepada bawahan.
Di dalam komunikasi terdapat unsure-unsur sebagai berikut:
Komunikator (sender), komunikasi (receiver), informasi/pesan, media, dan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

78
umpan balik. Informasi dapat berupa bahasa atau symbol yang disampaikan
melalui media seperti tertulis atau tidak tertulis atau melalui gambar-gambar.
Umpanbalik berguna bagi pengirim untuk mengetahui apakah informasi
yang disampaikannya bias dimengerti oleh si penerima sehingga kesamaan
persepsi bias dicapai.
Peran pemimpin dalam hal komuniasi lebihbanyak
mengkomunikasikan gambaran yang luas, visi ke depan dari pada
sekumpulan data dan fakta. Pemimpin dijadikan sebagai seorang juara
komunikasi , peran ini didasarkan pada keyakinan bahwa komunikasi
merupakan sarana yang penting untuk mencapai visi pemrintahan. Pemimpin
pemerintahan tidak saja dituntut untuk mampu berbicara secara efektif, tetapi
juga harus mampu menjadi pendengar yang efektif. Pimpinan pemerintahan
tidak saja menyebarkan informasi melalui kata-kata dan tindakannya , tetapi
pemimpin juga menyebarkan keyakinan, komitmen, dan semangat pada
bawahannya. Pemimpin pada akhirnya dituntut untuk mampu membangun
visi bersama melalui komunikasi dengan kata-kata dan tindakannya setiap
hari.
Pemimpin harus mempunyai ketajaman pemahaman untuk
menagkap dan mengartikan makna-makna yang tidak terkatakan. Terkadang
dalam komunikasi pesan-pesannya bawahan tidak menyampaikan secara
jujur. Hal ini bias saja disebabkan oleh rasa segan, rasa takut dan khawatir
sebagai konsekwensi apa yang dikatakanya jika tidak disukai oleh pimpinan.

B. Komunikasi Terbuka Antara Pemimpin Dan Bawahan
Pimpinan perlu mendorong dan menciptakan iklim komunikasi yang
terbuka, agar bawahan tidak segan-segan dan mempercayai pimpinan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

79
pemerintahan untuk menerima pesan ap;a saja yang disampaikan bawahan.
Iklim komunikasi yang terbuka adalah iklim komunikasi yang
memungkinkan semua anggota memiliki, memahami, dan menerima semua
tipe informasi yang terdapat di dalam, seluruh bagian pemerintahan,
khususnya pada tingkat fungsional dan hirarkis. Artinya setiap informasi
yang dating dari pimpinan pemerintahan kepada bawahan atau
masyarakatnya dengan sengaja disaring dan dipilih secara selektif, tetapi
pemimpin pemerintahan dengan kesadaran penuh membagi informasi
tersebut pada bawhan dan masyarakatnya. Pada iklim komunikasi yang
terbuka informasi mengalir tanpa adanya batasan, dan bersifat tr ansparan
sehingga setiap orang dari tingkat jabatan manapun bias mengaksesnya.
Pemimpin harus menjiwai setiap ide-ide yang disampaikannya pada
bawahan dan masyarakatnya. Pimpinan pemerintahan dalam berkomunikasi
tanpa mengenal bnatasan komunikasi yang dilakukan pimpinan
pemerintahan harus melingkupi segala arah dan berlangsung secara timbale
balik. Konsistensi dan frekuensi komunikasi yang dilakukan oleh pimpinan
akan memudahkan bahwannya memahami dan menghayati visi dan nilai-
nilai yang disampaikan pimpinan. Iklim komunikasi organisasi yang terbuka,
diologis dan bersifat dua arah kepada seluruh bahwahan, tetapi menyediakan
landasan dasar bagi pimpinan pemerintah untuk mengkomunikasikan visi
dan informasi penting lainnya kepada seluruh bahwahannya.

C. Saluran Komunikasi
Saluran komunikasi adalah sebuah media dimana informasi/pesan
komunikasi dibawa dari pengirim kepada penerima. Pimpinan pemerintahan
mempunyai banyak pilihan untuk memilih jenis media komunikasi apa yang





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

80
diinginkannya dalam menyampaikan komunikasi. Pimpinan pemerintahan
bias memilih dialog tatap muka, mengunakan telpon, melalui surat atau
memo, atau melalui media Internet. Semua media komunikasi tersebut
mempunyai kelebihan dan kekurangannya dalam efektivitas penyampaian
informasi. Saluran komunikasi yang kaya dilihat dari jumlah informasi yang
dapat disebarkan dan dikirimkan selama episode komunikasi. Saluran
komunikasi yang kaya dipengaruhi oleh tiga karakteristik, antara lain:
pertama kemampuan untuk menangapi beragam tipe dari pesan secara
simultan, kedua kemampuan menfasilitasi umpan balik dua arah, ketiga
kemampuan membagun focus personal dalam komunikasi.





















K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

81



BAB VIII
KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI

A. Pengertian Adminsitrasi
Secara etimologis istilah administrasi berasal dari bahasa Inggris dari
kata administration yang berbentuk infinitifnya adalah to administer.
Dengan demikian, secara etimologis admnistrasi dapat diartikan sebagai
kegiatan memberi bantuan dalam mengelola informasi, mengelola manusia,
mengelola harta benda kearah suatu tujuan yang terhimpun dalam organisasi.
Administrasi dalam arti sempit merupakan penyusunan dan pencatatan data
dan informasi secara sitematis dengan maksud untuk menyediakan
keterangan serta memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan
dan dalam hubungannya satu sama lain.
Perkembangan penggunaan istilah dan pengartian administrasi di
Indonesia juga masih menunjukkan ketidaksamaan pandangan atau
pandangan. Di satu pihak administrasi diartikan sebagai tatausaha dan dilain
pihak administrasi diartikan sebagai kegiatan pengelolaan human rasaources
dan material resaouces termasuk pengelolaan informasi atau kegiatan
tatausaha. Dalam pengertian luas administrasi adalah keseluruhan proses
pelaksanaan kegiatan yang dilakukan dua orang atau lebih yang terlibat
dalam suatu bentuk usaha kerja sama demi tercapainya tujuan yang
ditentukan sebelumnya .





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

82
Dengan demikian, administrasi dalam artian luas dapat kita tinjau
dari tiga sudut pandang pengertian, yaitu:
1. Administrasi sebagai proses. Ditinjau dari sudut proses, administrasi
merupakan keseluruhan proses yang dimulai dari proses pemikiran,
perencanaan, pengaturan, penggerakan/bimbingan, pengawasan
sampai proses pencapaian tujuan.
2. Admnistrasi sebagai fungsi. Ditinjau dari sudut fungsi atau tugas,
admnistrasi bererti keseluruhan tindakan (aktivitas) yang mau tidak
mau harus dilakukan dengan sadar oleh seseorang atau kelompok
organisasi orang berkedudukan sebagai administrator atau orang yang
berkedudukan sebagai manajemen puncak suatu organisasi.
3. Administrasi sebagai kepranataan. Administrasi dapat dilihat dan
diartikan sebagai suatu lembaga, misalnya PN Pembangunan
Perumahan (sekarang PT Pembangunan Perumahan). Ini dilihat dari
aktivitas-aktivitas orang-orang di dalamnya dalam perusahaan
tersebut.
Dari beberapa pengertian administrasi tersebut di atas, dapat
penuliskan simpulkan bahwa administrasi adalah sebagai berikut:
1. Aktivitas-aktivitas untuk mencapai suatu tujuan atau sebagai proses
penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah
ditentukan sebeumnya.
2. Administrasi adalah suatu bentuk daya upaya manusia yang
kooperatif, yang mempunyai tingkat rasionalitas yang tinggi.
3. Administrasi adalah sutau ilmu yang mmepelajari apa yang
dikehendaki manusia dan cara mereka memperolehnya. Administrasi
mementingkan aspek-aspek konkrit dari metode-metode dan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

83
prosedur-prosedur manajemen di mana kerja sama merupakan unsur
utama.

B. Konsep Dasar Organisasi
Setiap manusia akan berhubungan dengan bermacam-macam orang
yang begitu kopleks dan bersangkutan dengan kebutuhan baik dari segi
ekonomi, sosial, rekreasi, pendidikan dan lain sebagainya. Disadari atau
tidak disadari, sengaja atau tidak disengaja, setiap manusia selalu berada,
dibesarkan dalam dan menjadi anggota oeganisasi. Ini berlangsung sejak
lahir hingga pada saat meninggal dunia.
Hidup anda banyak bergantung dan dipengaruhi oleh organisasi, sebab
sebagian besar kebutuhan hidup anda dipenuhi melalui organisasi. Apa yang
kita pakai, yang kita makan, dengan apa kita pergi, jalan yang kita lalui dan
lain-lain, semuanya merupakan produk atau output organisasi. Jelasnya,
seseorang masuk dan membentuk suatu organisasi karena dia mengharapkan
bahwa ikut sertanya dalam organisasi akan memuaskan beberapa kebutuhan,
baik emosional, spiritual, intelektual dan ekonomi.
1. Konsep Dasar Organisasi
Setiap manusia akan berhubungan dengan bermacam-macam orang
yang begitu kopleks dan bersangkutan dengan kebutuhan baik dari segi
ekonomi, sosial, rekreasi, pendidikan dan lain sebagainya. Disadari atau
tidak disadari, sengaja atau tidak disengaja, setiap manusia selalu berada,
dibesarkan dalam dan menjadi anggota oeganisasi. Ini berlangsung sejak
lahir hingga pada saat meninggal dunia.
Hidup anda banyak bergantung dan dipengaruhi oleh organisasi,
sebab sebagian besar kebutuhan hidup anda dipenuhi melalui organisasi. Apa





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

84
yang kita pakai, yang kita makan, dengan apa kita pergi, jalan yang kita lalui
dan lain-lain, semuanya merupakan produk atau output organisasi. J elasnya,
seseorang masuk dan membentuk suatu organisasi karena dia mengharapkan
bahwa ikut sertanya dalam organisasi akan memuaskan beberapa kebutuhan,
baik emosional, spiritual, intelektual dan ekonomi
Menurut hemat penulis, inilah salah satu hakikat hidup manusia yaitu
selalu hidup dalam organisasi atau berorganisasi, bukan saja karena manusia
tak mampu hidup sindiri kecuali hidup dan berinteraksi dengan manusia lain
dalam memenuhi kebutuhannya, melainkan juga karena manusia
menghadapi pembatasan, ketidakmampuan fisik dan psikis, pemilikan materi
dan waktu dalam usahanya untuk mencapai tujuan. Pada dasarnya organisasi
itu ada karena organisasi mempersatukan sumber-sumber dan potensi
individu. Dengan demikian, tanpa pengorganisasian musthil suatu rencana
dapat mencapai tujuan, tanpa organisasi para pelaksana tidak memliki
pedoman kerja yang jelas dan tegas sehingga pemborosan dan tumpang-
tindih akan mewarnai pelaksanaan suatu rencana yang akibatnya adalah
kegagalan dalam mencapai tujuan.

2. Pengertian Organisasi
Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama
organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional,
misalnya, sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan dan
badan pemerintahan. Kedua, merujuk kepada proses pengorganisasian yaitu
bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan di antara para anggota,
sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan
organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja
sama untuk mencapai tujuan bersama.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

85
Hicks & Gullen (1981:321) mengatakan bahwa organisasi adalah
kegiatan membagi-bagi tugas, tanggung jawab dan wewenang di antara
sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan
menurut Pierce I dan Robinson (1989:296) organisasi adalah proses
membentuk hubungan-hubungan yang esensial di antara orang-orang, tugas-
tugas dan aktivitas-aktivitas dengan cara mengintegrasikan dan
mengkoordinasikan semua sumber organisasi kearah pencapaian suatu tujuan
secara efektif dan efisien.
Dari uraian di atas, dapat penuliskan katakan bahwa organisasi adalah
proses penentuan, pengelompokan dan penyusunan macam-macam kegiatan
yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dapat penulis
simpulkan bahwa organisasi merupakan fungsi administrasi yang dapat
disimpulkan sebagai kegiatan menyusun struktur dan membentuk hubungan-
hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam usaha mencapai tujuan bersama.
3. Ciri-Ciri Organisasi
Organisasi sebagai suatu sistem, yaitu adanya seperangkat unsur yang
saling bergantung dan saling berhubungan antara yang satu dengan
yang lainnya
Organisasi merupakan struktur, adanya suatu kadar formalitas dan
pembagian tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan oleh
anggota kelompok
Adanya perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan
rasionalitas dan pedoman-pedoman yang jelas
Adanya koordinasi dan kooperasi yang baik diantara orang-orang
yang bekerja sama, menunjukkan bahwa tindakan-tindakan orang-
orang tersebut berjalan kearah suatu tanggung jawab tertentu.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

86
Oleh karena itu, organisasi bukanlah suatu sistem tertutup, tetapi
harus berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi adalah suatu sistem
terbuka dan karena itu di samping mencakup proses produksi juga proses-
proses lain yang bersifat hakiki untuk mempertahankan eksistensinya, ia
mesti menopang fungsi-fungsinya dan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
4. Tujuan Organisasi
Tujuan adalah arah atau sesuatu yang ingin dicapai atau dipengaruhi
yang menjadi sebab dilaksanakannya suatu kegiatan. Untuk mencapai tujuan,
suatu organisasi menggunakan berbagai upaya. Tujuan organisasi pada
hakikatnya merupakan intergrasi dari berbagai tujuan baik yang sifatnya
komplementer yaitu tujuan individu atau anggota organisasi, maupun tujuan
yang sifatnya substantif, yaitu tujuan organisasi secara keseluruhan. Tujuan
substantif merupakan tujuann pokok organisasi yang menjadi sebab utama
dibentuknya suatu organisasi. Oleh sebab itu, kegiatan-kegitan organisasi
diarahkan kepada dua dimensi tujuan, yaitu:
1. Tercapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Keefektifan
adalah yang berhubungan dengan tujuan organisasi baik secara
iksplitis maupun implisit. Efisiensi adalah berhubungan dengan rasio
output dengan input atau keuntungan dengan biaya. Adakalanya
tujuan dapat dicapai secara efektik, tetapi tidak efisien, artinya tujuan
dapat dicapai tetapi terjadi pemborosan tenaga, bahan dan waktu.
Sebaliknya, bisa terjadi tujuan tersebut dicapai secara efisien dan
efektif.
2. Tercapainya kepuasan dari anggota organisasi. Dalam proses
pencapaian tujuan organisasi, setiap orang atau anggota yang bekerja





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

87
atau terlibat dalam aktivitas organisasi harus diberikan kepuasan,
sehingga mereka merasa sebagai anggota organisasi, dan hal tersebut
akan mendorong orang tersebut untuk bekerja dalam kondisi dan
motivasi yang produktif.

C. Hambatan-Hambatan dalam Mengambil Keputusan
1. Pengambilan Keputusan
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan
tegas. Hal itu berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
mengenai apa yang harus dilakukan dan seterusnya mengenai unsur-unsur
perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya
merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan satu diantara
beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang
dihadapinya.
Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat vital.
J iwa kepemimpinan seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan
mengatasi masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang
tepat adalah keputusan yang berbobot dan dapat diterima bawahan. Ini
biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan
dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga
dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada human relations.
Setelah pengertian keputusan disampaikan, kiranya perlu pula diikuti
dengan pengertian tentang pengambilan keputusan. Ada beberapa definisi
tentang pengambilan keputusan, dalam hal ini arti pengambilan keputusan
sama dengan pembuatan keputusan, misalnya Terry, definisi pengambilan
keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih (





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

88
tindakan pimpinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam
organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara
alternatif-alternatif yang dimungkinkan).
Menurut Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan
terhadap hakikat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data,
penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan pengambilan
tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
Dari kedua pengertian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan, dan tidak
boleh sembarangan. Masalahnya telebih dahulu harus diketahui dan
dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan
pemilihan alternatif terbaik dari alternatif yang ada.

2. Tujuan Pengambilan Keputusan
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam organisasi itu dimaksudkan
untuk mencapai tujuan organisasinya yang dimana diinginkan semua
kegiatan itu dapat berjalan lancer dan tujuan dapat dicapai dengan mudah
dan efisien. Namun, kerap kali terjadi hambatan-hambatan dalam
melaksanakan kegiatan. Ini merupakan masalah yang hatus dipecahkan oleh
pimpinan organisasi. Pengambilan keputusan dimaksudkan untuk
memecahkan masalah tersebut.

3. Dasar Pengambilan Keputusan
a. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih
bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

89
faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini
terdapat beberapa keuntungan, yaitu :
a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk
memutuskan.
b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang
bersifat kemanusiaan.
Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan
waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya
terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat
intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan
keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari
pembandingnya dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan
keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-
hal yang lain sering diabaikan.
b. Pengambilan Keputusan Rasional
Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna.
Masalah masalah yang dihadapi merupakan masalah yang
memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat
berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam
masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur apabila kepuasan
optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai
masyarakat yang di akui saat itu.
c. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta
Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan
didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah
fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

90
fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data.
Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan
demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang
kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi
yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid,
namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.
d. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman
Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan
mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah terjadi.
Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip
penhambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-
pengalaman masa lampau. J ika ternyata permasalahan tersebut
pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal melihat apakah
permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi dan kondisi
saat ini. J ika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang
sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul.
Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman
dalam menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan
pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis.
Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang
menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah
penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan pemecaha
masalah.
e. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

91
Banyak sekali keputusan yang diambil karena wewenang (authority)
yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi
mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam
rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi
yang efektif dan efisien.
Keputusan yang berdasarkan wewenang memiliki beberapa
keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut antara lain : banyak
diterimanya oleh bawahan, memiliki otentisitas (otentik), dan juga
karena didasari wewenang yang resmi maka akan lebih permanent
sifatnya.
Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan
menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial.
Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan
sering melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi
kabur atau kurang jelas.

4. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam Pengambilan
Keputusan
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan
menurut Terry, yaitu :
a) Hal-hal yang berwujud maupun yang tidak berwujud, yang emosional
maupun yang rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan
keputusan.
b) Setiap keputusan harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan
organisasi.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

92
c) Setiap keputusan jangan berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi
harus lebih mementingkan kepentingan organisasi.
d) Jarang sekali pilihan yang memuaskan, oleh karena itu buatlah
altenatif-alternatif tandingan.
e) Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental dari tindakan ini
harus diubah menjadi tindakan fisik.
f) Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang
cukup lama.
g) Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan
hasil yang lebih baik.
h) Setiap keputusan hendaknya dilembagakan agar diketahui keputusan
itu benar.
i) Setiap keputusan merupakan tindakan permulaan dari serangkaian
kegiatan mata rantai berikutnya.

5. Keputusan Individual dan Kelompok
Pengambilan keputusan dapat dilakukan secara individual atau
kelompok, tergantung bagaimana sifat dan corak permasalahannya.
Keputusan individual dibuat oleh seorang pemimpin sendirian, sedangkan
keputusan kelompok dibuat sekelompok orang. Keputusan kelompok
dibedakan dalam :
a) Sekelompok pimpinan
b) Sekelompok orang-orang bersama pimpinannya.
c) Sekelompok orang yang mempunyai kedudukan sama dan
keputusan kelompok
A. Keputusan yang dibuat oleh seseorang





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

93
Kebaikannya antara lain :
1. Keputusannya cepat ditentukan atau diambil, karena tidak usah
menunggu persetujuan dari rekan lainnya.
2. Tidak akan terjadi pertentangan pendapat
3. Kalau pimpinan ya ng mengambil keputusan itu mempunyai
kemampuan yang tinggi dan berpengalaman yang luas dalam
bidang yang akan diputuskan, keputusannya besar kemungkinan
tepat.
Kelemahannya antara lain :
1. Bagaimana kepandaian dan kemampuan pimpinan tetapi pasti
memiliki keterbatasan.
2. Keputusan yang terlalu cepat diambil dan tidak meminta
pendapat orang lain seringkali kurang tepat.
3. J ika terjadi kesalahan pengambilan keputusan merupakan beban
berat bagi pimpinan seorang diri.
B. Keputusan yang dibuat oleh Sekelompok Orang
Kelebihannya antara lain :
1. Hasil pemikiran beberapa orang akan saling melengkapi
2. Pertimbangannya akan lebih matang
3. J ika ada kesalahan pada pengambilan keputusan tersebut, beban
ditanggung secara bersama.
Kelemahannya antara lain :
1. Ada kemingkinan terjadi perbedaan pendapat
2. Biasanya memakan waktu lama dan berlarut-larut karena terjadi
perdebatan-perdebatan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

94
3. Rasa tanggung jawab masing-masing berkurang, dan ada
kemungkinan saling melemparkan tanggung jawab jika terjadi
kesalahan.
Mengenai pembuatan keputusan individual dan kelompok Siagian
menyatakan bahwa ada tiga kekuatan yang selalu mempengaruhui suatu
keputusan yang dibuat. Tiga kekuatan itu :

1. Dinamika individu di dalam organisasi
Pengaruh individu dalam organisasi sangat terasa terutama dalam hal ini
adalah
pemimpinnya. Seorang pemimpin yang mempunyai kepribadian yang
kuat, pendidikan yang tinggi, pengalaman ynag banyak akan memberi
kesan dan pengaruh yang besar terhadap bawahannya
2. Dinamika kelompok orang-orang di dalam organisasi
Dinamika kelompok mempunyai pengaruh besar, oleh karena itu
pemimpin hendaknya mengusahakan agar kelompok lebih cepat menjadi
dewasa.
3. Dinamika lingkungan organisasi
Pengaruh lingkungan juga memegang peranan yang cukup penting untuk
diperhatikan. Antara organisasi dan lingkungan itu saling
mempemgaruhi.

6. Proses Pengambilan Keputusan
Setiap keputusan yang diambil itu merupakan perwujudan kebijakan
yang telah digariskan. Oleh karena itu, analisis proses pengambilan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

95
keputusan pada hakikatnya sama saja dengan analisis proses kebijakan.
Proses pengambilan keputusan meliputi :
1. Identifikasi masalah
Dalam hal ini pemimpin diharapkan mampu mengindentifikasikan
masalah yang ada di dalam suatu organisasi.
2. Pengumpulan dan penganalisis data
Pemimpin diharapkan dapat mengumpulkan dan menganalisis data
yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada.
3. Pembuatan alternatif-alternatif kebijakan
Setelah masalah dirinci dengan tepat dan tersusun baik, maka perlu
dipikirkan cara-cara pemecahannya. Cara pemecahan ini hendaknya
selalu diusahakan adanya alternatif-alternatif beserta konsekuensinya,
baik positif maupun negatif. Oleh sebab itu, seorang pimpinan harus
dapat mengadakan perkiraan sebaik-baiknya. Untuk mengadakan
perkiraan dibutuhkan adanya informasi yang secukupnya dan metode
perkiraan yang baik. Perkiraan itu terdiri dari berbagai macam
pengertian:
Perkiraan dalam arti Proyeksi
Perkiraan yang mengarah pada kecenderungan dari data yang
telah terkumpul dan tersusun secara kronologis.
Perkiraan dalam arti prediksi
Perkiraan yang dilakukan dengan menggunakan analisis sebab
akibat.
Perkiraan dalam arti konjeksi





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

96
Perkiraan yang didasarkan pada kekuatan intuisi (perasaan).
Intuisi disini sifatnya subjektif, artinya tergantung dari
kemampuan seseorang untuk mengolah perasaan.
4. Pemilihan salah satu alternatif terbaik
Pemilihan satu alternatif yang dianggap paling tepat untuk
memecahkan masalah tertentu dilakukan atas dasar pertimbangan
yang matang atau rekomendasi. Dalam pemilihan satu alternatif
dibutuhkan waktu yang lama karena hal ini menentukan alternative
yang dipakai akan berhasil atau sebaliknya.
5. Pelaksanaan keputusan
Dalam pelaksanaan keputusan berarti seorang pemimpin harus
mampu menerima dampak yang positif atau negatif. Ketika menerima
dampak yang negatif, pemimpin harus juga mempunyai alternatif
yang lain.
6. Pemantauan dan pengevaluasian hasil pelaksanaan
Setelah keputusan dijalankan seharusnya pimpinan dapat mengukur
dampak dari keputusan yang telah dibuat.














K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

97















BAB IX
KEWIBAWAAN PEMIMPIN DAN BAWAHAN DALAM LINGKUP
PEMERINTAHAN

Dunia kepemimpinan sejak dahulu menarik perhatian apara ahli. Hal
ini dapat dimengerti sebab kepemimpinan mempunyai peranan sentral dalam
dinamika kehidupan organisasi. Kepemimpinan berperan sebagai penggerak
segala sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang ada dalam
organisasi. Keberhasilan organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan
akan sangat bergantung berperannya kepemimpinan.
Kepemimpinan sebgai suatu proses mengandung arti:





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

98
a. Interaksi antara yang melaksanakan kepemimpinan yaitu
pemimpin itu sendiri dan orang lain atau sekelompok orang
yang dipimpinnya.
b. Factor penyebab yang dimiliki seorang pemimpin sehingga
orang atau sekelompok orang yang dipimpinnya melaksanakan
seperti yang dikehendaki oleh yang memimp;in dalam
mencapai tujuan organisasi yang ditentukan
c. Situasi yang mewadahi di mana proses interaksi terjadi.
Karena peranan sentral kepemimpinan dalam kehidupan organisasi timbul
berbagai usaha para ahli untuk meneliti mengapa atau mencari sebab-sebab
mengapa seseorang pemimpin melaksanakan keinginannya di dalam
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Bahkan karena kelebihan
seorang pemimpin sifat-sifat perilaku yang mempribadi sekalipun dapat
diubah dan digerakkan menjadi suatu rasa kebersamaan dan semangat kerja
sama sesuai dengan perilaku organisasi.
Dengan demikian ada factor-faktor tertentu yang menyebab \kan
seseorang pemimpin itu berhasil mempengaruhi dan mengerakkan orang lain
baik orang itu sebagai bawahan, sesame kolega, maupun yang berkedudukan
lebih tinggi untuk mencapai tujuan organisasi. Sekali lagi timbul pertanyaan
apa sebab, mengapa? Dalam usaha menjawab pertanyaan di atas ada
berbagai pendekatan dan penelitian dalam dunia kepemimpinan

A. Kewibawaan Kepemimpinan
Di samping keberhasilan pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat serta
perilaku, juga ditentukan oleh factor kewibawaan. Kewibawaan sebagai
salah satu kepemimpinan menyangkut semua aspek yang berkaitan dengan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

99
kepemimpinan seseorang atau sekolompok orang untuk mempengaruhi orang
lain.
Pengertian kewibawaan dalam ke angka kepemimpinan adalah seperti halnya
dikemukakan oleh Stephen P. Robbin Concept of power as the ability to
induce or influence behavior.
Oleh karena itu kewibawaan mempunyai peran sebagai daya dorong
bagi setiap pemimpin, sebab di dalam mempengaruhi, mengerakkan dan
mengubah perilaku bawahan kearah tercapainya tujuan organiasi di smping
berbagai teknik kepemimpinan diperlukan pula adanya daya dorong tertentu
yang disebut dengan kewibawaan.
Kewibawaan sebagai konsep kepemimpinan menarik untuk dipelajari
dari para ahli, diantaranya ialah Amitai Etzione French dan Raven
a. Amitai Etzione
Ada dua macam kewibawaan yakni position power (kewibawaan
jabatan) dan personal power (kewibawaan pribadi)
Position Power adalah kewibawaan seorang pemimpin yang timbul
karena kedudukan atau hirarki jabatan formal. Dan karena diperoleh
melalui kedudukan yang dipangkunya, maka cirri dari position
power tersebut cenderung mengalir dari pemimpin kea rah bawahan.
Dan penampilan position power ditandai kemungkinan adanya
berbagai situasi yang negative seperti adanya berbagai ancaman,
hukuman, penolakan, penagguhan, keadaan yang tak menentu
(suspension)
Tetapi dari hal-hal negative, position power memungkinkan pula
segi-segi yang lebih positif seperti pemberian hadiah, kenaikan gaji,
promosi berbagai macam penghargaan, pujian dan sebagainya.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

100
Sebaliknya position power merupakan kewibawaan seorang pimpinan
yang menimbulkan kesadaran bawahan untuk menerima
kewibawaannya, karena dirasakan benar dan baik. Sehingga bawahan
merasa bersatu dengan atasan (committed)
Oleh karena itu dikatakan orang bahwa position power adalah
kewibawaan yang mengalir bukan dari atas ke bawah melainkan
kewibawaan yang timbul dari bawah ke atas, sebab timbul kemauan
dari bawah untuk mengikuti dan melaksanakan apa yang dikehendaki
oleh atasan.
Oleh karena itu, kewibawaan yang ada pada pemimpin mempunyai
sifat yang berbeda-beda :
a. Coersive power
Kewibawaan yang menimbulkan berbagai perasaan negative
seperti rasa takut, terancam, sanksi fisik.
b. Renumerative power
Kewibawaan yang menimbulkan berbagai perasaan yang
menyenangkan seperti pujian
c. Normative Power
Kewibawaan yang menimbulkan perasaan puas karena adanya
berbagai pengakuan terhadap prestasi yang dicapai oleh bawahan,
sesuai dengan norma-norma yang berlaku, sehingga menimbulkan
kebanggan bawahan.
Suatu kesimpulan dikemukakan bahwa di dalam
menggerakakan bawahan dalam rangka mencapai tujuan yang telah
dietetapkan, seorang pemimpin mempunyai situasi yang paling baik,





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

101
apabila pemimpin itu didukung oleh adanya kewibawaan jabatan
(positon power) dan kewibawaan pribadi (personal power)
2. Jhon RP French dan Bertram Raven
Kewibawaan bersumber kepada lima hal yakni legitimate,
corsive, reward, referent dan expert. Atas dasar kelima sumber
timbullah macam-macam kewibawaan, masing-masing adalah
sebagai berikut:
a. Legitimate power (kewibawaan formal)
Wibawa seseorang pemimpin di sini semata-mata bersumber
pada formalitas yang diberikan oleh organiasai itu kepada
seorang pemimpin. Formalitas ini dapat berupa surat
keputusan dan dalam surat keputusan itu dapat diketahui
kedudukan dan kewenangan pemimpin itu dalam mengelola
organisasi.
b. Reward Power (kewibawaan berdasarkan hadiah)
Karena kekuasaan formal pemimpin, pemimpin dapat
memberikan hadiah ataupun berbagai tanda penghargaan
sebagai ucapan terimakasih atas prestasi yang telah dicapai
oleh bawahannya.
c. Coersive power (kewibawaan yang dipaksakan)
Dalam kewibawaan formal disertai pula dengan berbagai
ketentuan seperti prosedur kerja, jam kerja dan lain-lain yang
perlu dilaksanakan oleh bawahan. Dan segala sesuatu yang
telah diformalitaskan tersebut disepakati pula sebagai
perjanjian yang perlu dilaksanakan bawahan. Sebaliknya
pemimpin berfungsi sebagai penilai, pengendali terhadap





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

102
tingkah laku bawahan, bahkan dengan wibawa formalnya dia
adakalanya memaksankan pengaruhnya dalam berbagai
bentuk ancaman, hukuman, pemecatan, menghambat dan
sebainya.
d. Referent Power (kewibawaan teladan)
Sesungguhnya keberhasilan seorang pemimpin tidak cukup
ditentukan oleh kewibawaan formal, sebab seorang bahwaan
akan lebih tertarik dan angkat topi kepada atasan, apabila
pemimpin itu sendiri bias memberikan berbagai bentuk
keteladanan
e. Expert Power (Kewibawaan berdasarkan keahlian)
Disamping berbagai keteladanan, kewibawaan formal akan
lebih berhasil apabila disertai pula kewibawaan yang lain
yang disebut keahlian, yang suatu kelebihan seseorang
pemimpin yang diperolehmelalui pendidikan dan pengalaman.
Kewibawaannya tampil dalam bentuk keahlian atau
kemahiran yang mendukung pelaksanaan tugas.
James A Lee membedakan kewibawaan bawahan ke dalam tiga
kategori yaitu:
a. Kewibawaan kolektif (collective power)
Kewibawaan bawahan yang diperoleh karena peran bawahaan
di dalam berbagai perkumpulan, asosiasi di luar pemerintahan
b. Kewibawaan yang sah (Legal Power)
Kewibawaan bawahan yang tercermin di dalam berbagai
perundang-undangan, peraturan maupun perjanjian, dimana





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

103
telah diatur dan ditenmtukan adanya berbagai macam
kesepakatan antara atasan dan bawahan.

c. Affluence Power
Kewibawaan ini Nampak dalam berbagai kecendrungan dan
tindakan para bawahan seperti menolak berbagai perubahan.
Weber mengemukakan adanya tiga macam sumber kewibawaan
atau sumber kewenangan:
1. Rational legal authority
Kewenangan yang diperoleh karena tingkat posisi yang
diduduki seseorang dalam organisasi
2. Traditional authority
Kewenangan yang diperoleh seseorang pemimpin karena
kedudukan social atau adat kebiasaan
3. Charisma authority
Kewenangan yang lahir karena keunggulan pribadi
seseorang pemimpin.
Kesimpulan terakhir daripada kewibawaan sebagai salah satu konsep
kepemimpinan ialah masalah damp[ak kewibawaan pemimpin terhadap
efektifitas bawahan. Sesungguhnya memang belum ada penyelidikan yang
membahas secara khusus terhadap pengaruh kewibawaan pimpinan terhadap
efektifitas kerja bawahan.
Tetapi ada beberapa hal yang berkaitan dengan kewibawaan pemimpin
pemerintahan diantaranya:
1. Kewibawaan pemimpin pemerintahan perlu diterapkan, apbila di
dalam organiasi pemerintahan itu bawahan tidak memperhatikan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

104
adanya motivasi, atu sebaliknya bawahan memiliki motivasi, tetapi
tidak kesepakatan dengan pimpinan dalam mencapai tujuan yang
telah ditetapkan
2. Kewibawaan formal yang dimiliki oleh pemimpin pemerintahan
perlu didukung dengan kewibawaan pribadi yang mencerminkan
keteladanan dan keahlian.
3. Kewibawaan yang efektif dari pemimpin pemerintahan terhadap
bawahan akan sangat tergantung interaksi yang bersifat kompleks
antara kemampuan pemimpin dengan berbagai situasi yang
dihadapinya.
4. Kewibawaan pemimpin pemerintahan yang dipergunakan terhadap
bawahan juga perlu diperhatikan kewibawaan yang dimiliki bawahan.



















K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

105





BAB X
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN YANG STRATEGIS,
EFEKTIF, DAN MOTIVATOR


Semua orang paling tidak memahami dan mengkaitkan motivasi
dengan beberapa kata-kata seperti hasrat, keinginan, tujuan, harapan, sasaran,
dorongan dan impian . asal kata motivasi bersumber dari bahasa latin movere
yang artinya bergerak. Asal kata ini kemudian menjadikan beberapa definisi
tentang motivasi. Definisi pertama motivasi adalah dorongan yang bersifat
internal atau eksternal pada diri individu yang menimbulkan antusiasme dan
ketekunan untuk mengejar tujuan-tujuan spesifik (Daft.1999)
Definisi kedua adalah motivasi diartikan sebagai sebuah proses yang
dimulai dari adanya kekurangan baik secara fisologis maupun psikologis
yang memunculkan perilaku atau dorongan yang diarahkan untuk mencapai
sebuah tujuan spesifik atau insentif.
Dari definisi kedua di atas menekankan keterkaitan antara kebutuhan
(needs), dorongan (drive) dan hadiah (incentives) untuk lebih jelasnya akan
diterangkan di bawah ini:
1. Kebutuhan (needs)
Keadaan yang memunculkan ketidakseimbangan dan kekurangan
baik secara fisiologis maupun psikologis. Kebutuhan biasa diartikan





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

106
juga sebagai seseuatu keadaan internal yang menyebabkan hasil-hasil
tertentu tampak menarik.
2. Dorongan (drives)
Disamakan dengan motif yang memicu munculnya perilaku tertentu
untuk mengurangi atau memenuhi kebutuhan
3. Hadiah (incentives)
Segala sesuatu yang memuaskan, mengurangi dan memenuhi
kebutuhan, sehingga menurunkan ketegangan.
Mengigat pentingnya peranan pemimpin dalam pemerintahan maka
kewajiabn utama bagi setiap pemeimpin pemerintahan untuk selalu secara
terus-menerus berusaha:
1. Mengamati dan memahami tingkah laku bawahan
2. Mencari dan menentukan sebab-sebab tingkah laku bawahan
3. Memperhitungkan mengawasi dan mengubah serta mengarahkan
tingkah laku bawahan.
Tingkah laku bawahan dalam pemerintahan pada dasarnya
berorentasi pada tugas. Artinya bahawa tingkah laku bawahan biasanya
didorong oleh keinginan untuk mencapai tujuan harus selalu diamati,
diawasi, dan diarahkan dalam kerangka pelaksanaan tugas dalam mencapai
tujuan pemerintahan yang telah ditetapkan. Sehingga perilaku para bawahan
dalam kehidupan pemerintahan tidak boleh bertentangan dengan norma atau
system nilai dan segala ketentuan yang ada dalam pemerintahan, dan
serangkaian tingkah laku seseorang pada hakekatnya disebut aktivitas.
Bawahan selalu terikat dalam tingkah laku, untuk itulah pemimpin
perlu mempunyai pengetahuan mengenai motif bawahan yang dapat
mendorong timbulnya tindakan tertentu pada waktu tertentu pula:





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

107
a. Motivasi sebagai suatu yang penting (important subject)
Dikatakan penting karena peran pemimpin pemerintahan itu sendiri
kaitannya dengan bawahannya. Tiap seorang pemimpin tidak boleh
tidak harus bekerja bersama-sama dan melalui orang lain atau
bawahan, utnuk itu diperlukan kemampuan memberikan motivasi
kepada bawahan.
b. Motivasi sebagai suatu yang sulit ( puzzling subject)
Dikatakan sulit sebab motivasi sendiri tidak bias diamati dan diukur
secara pasti dam untuk mengamati dan mengukur motivasi berarti
harus mengkaji lebih jauh perilaku masing-masing bawahan. Bahkan
di samping itu disebabkan adanya berbagai teori motivasi yang
berbeda-beda satu sama lain.
Untuk lebih jauh memhami pengertian dan hakekatnya motivasi itu,
apakah dalam kehidupan suatu organisasi diadakan pengamatan secara
cermat, di dalam organisasi itu akan terjadi hal-hal seperti:
1. Proses interaksi kerja sama antara pemimpin dengan bawahan,
kolega maupun dengan atasan pemimpin itu sendiri,
2. Dalam proses interaksi itu terjadi perilaku bawahan (orang lain) yang
diperhatikan, diarahkan, dibina, dikembangkan, tetapi kemungkinan
juga dipaksakan agar perilaku tersebut sesuai dengan keinginan yang
diharapkan oleh pemimpin
3. Perilaku yang ditampilkan oleh bawahan (orang lain) berjalan sesuai
dengan system nilai atau aturan ketentuan yang berlaku dalam
organisasi yang bersangkutan
4. Berbagai perilaku yang terjadi dan diterampilkan oleh para bawahan
mempunyai latar belakang dorongan yang berbeda-beda.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

108









BAB XI
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAN PEMBERDAYAAN


A. Pemberdayaan Bawahan
Salah satu cara yang bias digunakan oleh pemimpin pemerintahan
untuk menanamkan dan menciptakan tingkat motivasi yang tinggi dari
bawahaan adalah melalui pemerdayaan. Arti nya pimpinan pemerintahan
memberikan tanggungjawab dan kekuasaan pada bawahannya sehingga
pemimpin pemerintahan tidak lagi menerapkan metode hadiah dan hukuman
untuk mengkontrol bawahan tetapi dengan membagi tanggungjawab,
wewnang dan kekuasaan melalui pendelegasian pembagian tanggungjawab
dan kekuasaan ini akan menyebabkan bawahan mampu meyakini tujuan
yang dimiliki oleh pemerintah.
Pemberdayaan (empowerment) diartikan sebagai membagi
kekuasaan (power sharing) atau mendelegasikan kekuasaan dan wewenang
kepada bawahan di dalam pemerintahan. Atau dalam definisi lainnya
pemberdayaan adalah wewenang untuk membuat keputusan dalam kegiatan
operasional individual tanpa harus memperoleh persetujuan dari siapapun,
dalam pendelegasian tersebut pimpinan biasanya memberikan pengetahuan
kepada bawahan tentang seluk-beluk tugas dan wewenangnya sehingga





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

109
bawahan bias berhasil dalam menyelesaikan tugas wewenang yang
diembannya.
Ada dua hal membuat konsep pemberdayaan unik bagi
perkembangan dan kemajuan diri dan karir bawahan. Pertama bawahan
didorong dan dimotivasi untuk mengunakan inisiatifnya yang selama ini
terpendam di dalam diri bawahan akibat adanya prosedur birokratis. Kedua
bawahan tidak saja diberi wewenang, tetapi mereka juga melihat hal itu
ditetapkan.. tim kerja diberikan wewenang untuk mengunakan sumber dana
yang ada, mengatur jadwal kerja, kebijakan, atau mengambil keputusan
dalam menghadapi keluhan yang ada.

B. Alasan Utama Penerapan Pemberdayaan Bawahan Oleh Pemimpin
Pemerintahan
Tentu saja akan muncul pertanyaan di benak pemimpin yaitu apa
manfaat dari pemberdayaan dan memperoleh karyawan yang berdayaguna?
Salah satu penelitian menyimpulkan bahwa memberdayakan karyawan akan
membuat pimpinan mampu menciptakan organisasi yang unik dengan
kemampuan kinerja yang tinggi. Keuntungan dari penerapan konsep
pemberdayaan berhubungan secara langsung dengan munculnya potensi
motivasi yang besar dari karyawan sehingga mampu memacu kemajuan
organisasi.
Alsan-alasan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Pemberdayaan memicu dan menciptakan motivasi yang kuat dari
bawahan, karena berhubungan langsung dengan pemenuhan
kebutuhan tingkat tinggi dari bawahan.





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

110
2. Pemberdayaan secara actual meningkatkan jumlah total dari
kekuasaan yang ada di dalam organisasi, dengan pemberdayaan
pimpinan pemerintahan tidak kehilangan kekuasaan, tetapi sebalinya
menambah jumlah kekuasaan di dalam lingkup kerja. Selain itu
pemberdayaan akan memberikan manfaat kepada pimpinan yakni
pertama, dapat berkonsentrasi secara penuh pada pencapaian visi dan
misi yang telah ditetapkan kedua, pemimpin tidak perlu lagi selalu
mengawasi dan menekan bawahan dalam penyelesaian
tugasnya.karena bawahan telah mampu memimpin diri sendiri
C. Kondisi Dasar Bagi Penerapan Pemberdayaan
Ada empat kondisi dasar yang harus terpenuhi untuk menjadikan
pemberdayaan sebagai budaya organisasi dan menjadi bias dioprasionalkan
yaitu partisipasi, inovasi, akses pada informasi dan akuntabilitas.
1. Partisipasi
Pemberdayaan berasumsi bahwa bawahan bersedia untuk
meningkatkan proses kerjanya dan hubungannya sehari-hari bagi
organisasi. Meningkatnya partisipasi bawahan akan secara langsung
meningkatkan komitmennya terhadap kemajuan organisasi di masa
depan . partisipasi menjadi syarat bagi suksesnya pemberdayaan yang
ditetapkan oleh pimpinan pemerintahan bagi bawahannya.
2. Inovasi
Pemberdayaan mendorong munculnya inovasi karena bawahan
mempunyaim wewnang untuk mencoba hal-hal baru dan mengambil
keputusan tentang bagaimana mengerjakan dan menyelesaikan
tugasnya dengan cara baru yang elbih efektif.
3. Akses pada informasi





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

111
Ketika bawahan diberikan akses yang luas pada informasi maka
bawahan akan berkeinginan untuk bekerjasama dan menggunakan
sumber daya mereka bagi kemajuan organisasi. Dengan
diperbolehkannya bawahan mencari informasi-informasi yang dia
butuhkan, maka pengetahuan bawahan akan meningkat dan tentu saja
keefektifan kerjanya akan meningkat pula.
4. Akuntabilitas
Walaupun bawahan diberdayakan untuk membuat keputusan sendirim,
yang mereka yakini akan berguna bagi pemerintahan, tetapi mereka
juga harus bertanggungjawab terhadap hasil yang diperoleh mereka.
Pertanggungjawaban ini tidak untuk menghukum bawahan, tetapi
untuk memastikan bahwa bawahan mengeluarkan usaha terbaik
mereka, sehingga dalam proses pencapaian kualitas yang diinginkan
bawahan tidak melaksanakannya dengan main-main.

D. Elemen Dari Pemberdayaan
Ada lima elemen pokok yang harus terpenuhi sebelum bawahan dapat
dapat diberdayakan secara sesungguhnya untuk menghasilkan kinerja yang
tinggi yaitu: informasi, pengetahuan, makna, kekuasaan dan hadiah. .
2. Bawahan menerima informasi yang menyeluruh tentang kinerja
pemerintah. . pemerintahan yang menerapkan pemberdayaan,
menciptakan pintu informasi yang luas bagi bawahannya. Tidak ada
informasi yang dirahasikan, informasi apa saja yang menurut bawahan
perlu untuk diketahui.
3. Bawahan menerima pengetahuan dan keterampilan untuk memberikan
konstribusi bagi tujuan pemerintahan. Pemerintah yang
bersanmgkutan juga menyelenggarakan pelatihan yang intensif untuk





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

112
mentrasfer pengetahuan dan meningkatkan keterampilan bawahan.
Pengetahuan dan keterampilan bawahan akan meningkatkan
kompetensi yang ada , sehingga bawahan akan menjadi karyawan
berdaya dalam memikul wewenang dan tanguggjawabnya.
4. Bawahaan mempunyai kekuasaan dan wewnang untu membuat
keputusan penting. Pimpinan pemerintah juga memberikan kekuasaan
dan wewnang bagi bawahannya dalam mengambil keputusan penting,
prosedur yang ditempunya dan hal-hal pentying lainnya bias pula
pemberdayaan ini dilaksanakan melalui kelompok lingkaran kualitas
tim mandiri yang sepenuhnya memegang wewenang dalam mengatur
irama kerja
5. Bawahan memahami makna dan akibat dari pekerjannya. Bawahan
yang diberdayakan mengartikan secara pribadi bahwa tugas-tugas
mereka sangat berarti dan berpengaruh terhadap pencapaian visi
pemerintahan, hal ini membuat bawahan memahami makna tugasnya.
6. Bawahan diberikan hadiah berdasarkan kinerja pemerintahan
Pemimpin dalam pemerintahan syang menerapkan pemberdayaan
memberikan reward berdasarkan kinerja yang dicapai oleh bawahan.
Bahkan pemerintah memberikan penghargaaan bagi bawahannya

E. Penerapan Pemberdayaan Pada Kepemimpinan pemerintahan
Ada perbedaan antara manejemn dan kepemimpinan pemerintahan
dalam metode untuk meningkatkan motivasi bawahan. Kebanyakan
pemimpin pemerintahan hanya berfokus pada pemenuhan motif ekstrinsik
seperti pemberian hadiah berupa tunjangan, bonus atau gaji. Bahwa menurut
motif ekstrinsik hanya menghapus ketidakpuasan, tetapi sangat kuat untuk
menimbulkan kepuasan kerja. Menurut Herzberg kepuasan kerja hanya





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

113
diperoleh melalui pemenuhan motif intrinsic seperti pekerjaan yang
menantang, adanya tangunggjawab dan pengakuan atas kinerjanya.
Pemimpin hanya menerapkan prinsif hadiah dan hukuman yang
merupakan pemenuhan kebutuhan tingkat rendah sehingga kinerja yang
dihasilkan pun masing dalam taraf rata-rata. Akibat yang ingin dituju adalah
pengendalian terhadap bawahan, bukan perkembagan bawahan. Sedangkan
kepemimpinan menfokuskan pada pemenuhan kebutuhan tingkat tinggi,
melalui pemberdayaan yang memenuhi motif instrinsik, sehingga kinerja
yang dihasilkan oleh bawahan akan lebih maksimal dibandingkan dengan
penerapan metode pemenuhan motif oleh pemimpin. Akibat yang ingin
dicapai oleh kepemimpinan adalah perkembangan dan kemajuan bawahan
secara optimal.


DAFTAR PUSTKA


Deviton JA., 1995 The Interpersonal Communication Book, 7
th
Ed., Hunter
College of The City University of New York.

Fattah, Nanang. 2009. Landasan Manajemen Pendidikan Islam. Bandung:
Remaja Rosdakarya

Greenberg J. & Baron RA., 1996 Behavior in Organizations:
Understanding & Managing The Human Side of Work, Prentice Hall
International Inc., p: 283 322.

Jurnal el-Harakah. 2003. Wacana Baru Pendidikan, Keagamaan, dan
Kebudayaan. Malang: Fakultas Tarbiyah UIN-Malang






K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

114
Kasim, Azhar. Teori Pembuatan Keputusan. Jakarta : Lembaga Penerbit FE
UI. 1995

Marno, Triyo Supriyatno. 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan
Islam. Bandung: Refika Aditama

Muchlas M., 1998 Perilaku Organisasi, dengan Studi kasus
Perumahsakitan, Program Pendidikan Pasca Sarjana Magister
Manajemen Rumahsakit, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Nortcraft GB and Neale MA., 1990 Organizational Behavior: A
Management Challenge, The Dryden Press, Rinehart & Winston Inc.

Robbins S., 1996 Organizational Behavior: Concepts, Controversies, and
Applications., San Diego State Uniersity, Prentice Hall International
Inc.

---------------------- 1996 Perilaku Organisasi: Konsep, Kontroversi dan
Aplikasi, San Diego State University, diterbitkan oleh PT
Prenhalinddo, Jakarta.

Silalahi, Ulbert. 1997. Study Tentang Ilmu Administrasi: Konsep Teori dan
Dimensi. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Simbolon, Maringan, Masry. 2003. Dasar-Dasar Administrasi dan
Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Syamsi, Ibnu. 1989. Pengambilan Keputusan (Decision Making). Jakarta :
Bina Aksara.

Wahjosumidjo. 2005. Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan Teoritik dan
Permasalahannya. Jakarta: RajaGrafindo Persada

www.antaranews.com diakses Senin, 16 November 2009









K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

115
















DAFTAR ISI


Halaman
Kata Pengantar .................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................. ii


BAB I PENDAHULUAN
B. Pengertian dan Ruang Lingkup Kepemimpinan ................ 1
C. Pengertian Pemerintahan .................................................. 3
D. Tugas dan Peran Pemimpin .............................................. 7
E. Prinsip-prinsip Dasar Kepemimpinan ............................... 9
F. Kepemimpinan Pemerintahan Sebagai Seni..................... 12





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

116
G. Kepemimpinan pemerintahan sebagai moral. ................... 13
H. Filosofi Kepemimpinan Pemerintahan ............................. 13
I. Kepemimpinan dalam Islam ............................................. 15

BAB II TEORI KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
F. Tipe Otokratis dalam Kepemimpinan Pemerintahan ......... 20
G. Teori Sifat ( Trait Theory) ................................................ 20
H. Teori Perilaku .................................................................. 21
I. Teori Situasional dan Model Kontingensi. ........................ 24


BAB III GAYA DAN MODEL KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
A. Gaya Kepemimpinan ...................................................... 25
B. Gaya Kepemimpinan Pemerintahan ................................. 27
C. Gaya Birokrasi Dalam Kepemimpinan Pemerintahan ....... 28
D. Gaya Kebebasan Dalam Kepemimpinan Pemerintahan .... 29
E. Gaya Otokratis Dalam Kepemimpinan Pemerintahan ....... 30

BAB IV Perkembangan Tugas-tugas Pemerintahan
D. Teknik-Teknik Kepemimpinan Pemerintahan ................. 33
E. Tipologi / gaya kepemimpinan pemerintahan. ................ 38
F. Model kepemimpinan. .................................................... 39
G. Kompetensi Kepemimpinan ............................................ 46


BAB V KEPEMIMPINAN DAN KEKUASAAN
A. Filsafat Kekuasaan ........................................................... 53
B. Sumber Hukum ................................................................ 54
C. Cara berkuasa .................................................................. 55

BAB VI KEPEMIMPINAN DALAM KERANGKA MANAJEMEN
E. Sifat dan Fungsi Manajemen ............................................ 57
F. Perbandingan Manajemen Dan Kepemimpinan ................ 61
G. Perbedaan Manajer Dan Pemimpin .................................. 64

BAB VII KOMUNIKASI KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
E. Definisi Komunikasi ........................................................ 67
F. Komunikasi Terbuka Antara Pemimpin Dan Bawahan ..... 68
G. Saluran Komunikasi ........................................................ 69
ii





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

117


BAB VIII KEPEMIMPINAN ADMINISTRASI
D. Pengertian Adminsitrasi .................................................. 71
E. Konsep Dasar Organisasi ................................................. 72
F. Hambatan-Hambatan dalam Mengambil Keputusan ......... 76

BAB IX KEWIBAWAAN PEMIMPIN DAN BAWAHAN
DALAM LINGKUP PEMERINTAHAN
D. Kewibawaan Kepemimpinan ........................................... 87

BAB X KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN YANG STRATEGIS,
EFEKTIF, DAN MOTIVATOR ............................................ 93

BAB XI KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DAN
PEMBERDAYAAN ...............................................................
G. Pemberdayaan Bawahan .................................................. 96
H. Alasan Utama Penerapan Pemberdayaan
Bawahan Oleh Pemimpin Pemerintahan ........................... 97
I. Kondisi Dasar Bagi Penerapan Pemberdayaan ................. 98
J. Elemen Dari Pemberdayaan ............................................. 99
K. Penerapan Pemberdayaan Pada Kepemimpinan
Pemerintahan ................................................................... 100

Daftar Pustaka ..................................................................................... 101

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah dan puji syukur penulis ucapkan pada Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga diktat ini dapat
disusun dan diselesaikan. Diktat kepemimpinan dalam Pemerintahan ini
berisi mengenai teori dan pijakan tentang fenomena kepemimpinan dalam
pemerintahan yang efektif, hal ini tentu harus dipahami berdasarkan teori-
teori yang ada, semoga Diktat ini bermanfaat bagi mahasiswa, diktat ini
iii





K epemi mpi nan Dalam P emerintahan

118
hendaknya dipandang sebagai usaha sederhana dan merupakan taraf
permulaan untuk menyusun Buku Kepemimpinan Dalam Pemerintahan.
Kepada rekan-rekan sejawat kami mengharapkan petunjuk-petunjuk
dan saran-sarannya yang kiranya dapat dipakai sebagai bahan untuk
menyempurnaan Diktat Kepemimpinan Dalam Pemerintahan.ini.
Kekurangansempurnaan pada Diktat ini pasti tidak terelakkan, seperti
halnya pada hasil karya apapun. Oleh sebab itu semua bentuk saran maupun
kritik untuk menyempurnakan materi yang terkandung di dalam diktat ini.

Wassalamualaikum
Wr.Wb
Pekanbaru, 26 Oktober
2011



Drs. H. Muhammad
Ridwan


i