Anda di halaman 1dari 15

PRINSIP-PRINSIP METODE PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

Disampaikan dalam Diklat Metodologi Pengajaran Bahasa Indonesia


bagi Penutur Asing di P4TK Bahasa bekerja sama dengan
Kementerian Pendidikan Singapura, 2009.


Liliana Muliastuti, M.Pd.
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta


Setelah mempelajari materi ini, peserta program pelatihan diharapkan
dapat memahami prinsip-prinsip metode pengajaran bahasa Indonesia, baik untuk
penutur asli maupun penutur asing. Melalui pemahaman tersebut, para peserta
diharapkan dapat mengaplikasikannya dalam pengajaran BI.




A. BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA KEDUA

Sebelum dibicarakan perihal pengajaran bahasa Indonesia (BI), perlu
dibahas terlebih dahulu hakikat bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua, baik bagi
sebagian orang Indonesia maupun bagi pelajar asing. Untuk memahami hal
tersebut, ada beberapa terminologi atau istilah yang harus dibahas terlebih dahulu
yakni pemerolehan bahasa, pembelajaran bahasa, bahasa pertama, dan bahasa
kedua.

Istilah pemerolehan bahasa atau language acquisition biasanya dihubungkan
dengan pemerolehan bahasa pertama atau kedua. Pemerolehan bahasa pertama
adalah proses belajar bahasa yang dilakukan tanpa disadari. Pemerolehan bahasa
terjadi dengan ciri-ciri tidak direncanakan dan tidak disadari. Hal ini terjadi pada
masa kanak-kanak. Ketika kanak-kanak, orang tua kita tidak pernah menyusun
suatu program pengajaran bahasa. Kita belajar bahasa pertama secara alamiah
atau natural. Orang-orang dewasa di sekitar kita menjadi guru alamiah kita.
Mereka akan memberi pujian jika kita berbicara benar, dan perbaikan jika kita
berbicara salah.

Pemerolehan bahasa dapat diklasifikasikan atas dua golongan, yakni
pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua. Pemerolehan bahasa
pertama berhubungan dengan segala kegiatan seseorang dalam menguasai bahasa
ibunya. Sedangkan pemerolehan bahasa kedua terjadi setelah setelah seseorang




1







menguasai bahasa pertamanya. Pemerolehan bahasa kedua ini dapat diperoleh
melalui jalur formal maupun informal. Kegiatan pemerolehan B2 melalui jalur
formal ini dapat dikatakan sebagai pembelajaran bahasa. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa pengajaran bahasa secara alamiah disebut pemerolehan
bahasa. Sedangkan pengajaran bahasa secara formal dengan ciri-ciri: direncanakan,
disengaja, dan disadari dapat disebut dengan istilah pembelajaran bahasa.

Bahasa pertama seringkali disamakan dengan bahasa ibu, yakni bahasa yang
dikuasai seseorang sejak lahir secara terwaris. Bahasa ini dikuasai melalui
pemerolehan bahasa secara bawah sadar. Sebaliknya, bahasa kedua merupakan
bahasa yang dipelajari sebagai bahasa asing; dipelajari setelah bahasa pertama.

Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah yang diperoleh sejak lahir oleh
sebagian masyarakat Indonesia. Untuk kasus tersebut, bahasa Indonesia menjadi
bahasa kedua. Namun, saat ini banyak pula anak-anak Indonesia yang langsung
memperoleh bahasa Indonesia sejak lahir sehingga bahasa Indonesia menjadi
bahasa pertama mereka. Pada kasus siswa asing yang belajar bahasa Indonesia,
tentunya belajar bahasa Indonesia dapat dikategorikan sebagai belajar bahasa
kedua.




B.PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

Berdasarkan bahasan di atas, pengajaran bahasa Indonesia (BI) dapat
diklasifikasikan sebagai berikut.

(1) Jika pengajaran BI

dilakukan pada siswa Indonesia yang telah menguasai
bahasa daerah sebagai bahasa pertama (B1), maka pengajaran BI menjadi
pengajaran bahasa kedua (B2).
(2) Jika pengajaran BI dilakukan pada siswa Indonesia yang belum memiliki bahasa
daerah, maka pengajaran BI tersebut dikategorikan sebagai pengajaran bahasa
pertama (B1).
(3) Jika pengajaran BI dilakukan pada orang asing yang telah memiliki B1, maka
pengajaran BI dikategorikan sebagai pengajaran bahasa asing.
Pengajaran BI kepada siswa Indonesia tentu berbeda dibandingkan
pengajaran BI kepada penutur asing yang sering disebut BIPA. Siswa Indonesia
tentunya tidak akan mengalami keterkejutan budaya dalam belajar BI jika mereka
sejak lahir tinggal di Indonesia. Selain itu, pengajaran BI untuk siswa Indonesia



2







dilakukan secara formal di sekolah-sekolah. Dengan demikian, siswa yang dihadapi
pengajar lebih bersifat homogen dari segi usia dan kompetensi.

Berbeda

halnya

dengan

pengajaran

BIPA.

Pengajaran

BIPA

dapat
diklasifikasikan berdasarkan tempat penyelenggaraannya: di Indonesia atau di
negara asal pelajar. Klasifikasi ini menimbulkan kerumitan yang berbeda. Di
Indonesia, pengajaran BIPA lebih banyak dilakukan oleh lembaga penyelenggara
BIPA (nonformal) dan privat daripada di sekolah-sekolah formal. Lembaga
penyelenggara BIPA biasanya akan menerima siswa BIPA yang datang dari berbagai
negara, berbagai profesi, dan berbagai tujuan dengan kompetensi berbeda.
Kompetensi yang berbeda mengharuskan penyelenggara BIPA melakukan seleksi
untuk penempatan siswa pada kelas berbeda. Namun, penyelenggara BIPA biasanya
tidak dapat menempatkan siswa atas klasifikasi asal negara (B1) siswa, jika jumlah
mereka di bawah 15 orang. Dengan demikian, kelas BIPA seringkali sangat
heterogen dari segi bahasa pertama (B1), usia, tujuan, dan profesi. Heterogenitas
tersebut tentunya akan membawa kesulitan tersendiri bagi para pengajar BIPA di
Indonesia.

Pengajaran BIPA juga dilakukan di negara asal siswa. Saat ini berdasarkan
data di Pusat Bahasa, ada sekitar 58 negara menyelenggarakan pengajaran BIPA.
Data tersebut baru merujuk pada penyelenggaraan BIPA secara formal. Kondisi
pengajaran BIPA di berbagai negara tersebut tentu berbeda dengan kondisi di
Indonesia. Kelas BIPA di negara-negara tertentu lebih homogen dibandingkan di
Indonesia. Contoh, kelas BIPA di Korea Selatan, Cina, dan Jepang biasanya akan
terdiri atas siswa-siswa yang memiliki B1 bahasa Korea, Cina Mandarin, dan
Jepang. Keadaan homogen tersebut akan lebih mudah dibandingkan kelas yang
heterogen. Bagaimana dengan kelas BIPA di Singapura? Mengingat Singapura
memiliki multikultural seperti Indonesia, mungkin kelas BIPA di Singapura terdiri
atas siswa yang memiliki B1 berbeda (Melayu, Inggris, Arab, Tamil, dan Cina
Mandarin).

Mengingat kondisi tersebut, pengajar BIPA harus memiliki dua kompetensi
utama: kompetensi berbahasa Indonesia dan kompetensi sebagai pengajar bahasa
Indonesia. Tanpa kompetensi tersebut, pengajar akan banyak menemui kendala.

Keberhasilan pengajaran bukan hanya ditentukan oleh materi atau media
pengajaran yang tersedia tetapi juga ditentukan oleh metode guru dalam
mengajar. Guru juga perlu belajar metode dan pengelolaan kelas yang tepat bagi



3







siswa. Jika materi yang tersedia pada buku paket telah memenuhi harapan, namun
metode dan pengelolaan kelas yang dilakukan guru tidak tepat, maka keberhasilan
sulit juga didapatkan.




C. PRINSIP-PRINSIP PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

Angela scarino dkk (1994: 3-6) memberikan delapan prinsip pengajaran
bahasa yang dapat digunakan pula untuk pengajaran BI. Kedelapan prinsip tersebut
mengacu pada pendekatan komunikatif, yaitu pendekatan yang bertujuan agar
siswa mampu menggunakan bahasa target.

(1) Pembelajar akan belajar bahasa dengan lebih baik bila diperlakukan sebagai
individu yang memiliki kebutuhan dan minat.
(2) Pembelajar akan belajar bahasa dengan lebih baik bila diberikan kesempatan
menggunakan bahasa sasaran secara komunikatif dalam berbagai macam
aktivitas.
(3) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika diberi data komunikatif yang
dapat dipahami dan relevan dengan kebutuhan dan minatnya.
(4) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika memfokuskan
pembelajarannya kepada bentuk, keterampilan berbahasa, dan strategi untuk
mendukung proses pemerolehan bahasa.
(5) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika diberikan data sosiokultural
dan pengalaman langsung dengan budaya bahasa sasaran.
(6) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika mereka menyadari peran dan
hakikat bahasa dan budaya.
(7) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika diberi umpan balik yang
tepat menyangkut kemajuan mereka.
(8) Pembelajar akan belajar bahasa dengan baik jika diberi kesempatan mengatur
pembelajaran mereka sendiri.
Delapan pinsip di atas harus menjadi perhatian pengajar bahasa Indonesia,
baik dalam mengajar siswa Indonesia maupun siswa asing. Di samping itu, berikut
ini adalah tiga prinsip dasar yang harus diperhatikan oleh guru dalam pengajaran
BI, terutama guru BIPA.

(1) Prinsip Prioritas

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, ada prinsip prioritas dalam



4







menyampaikan materi pengajaran. Pertama, mengajarkan mendengarkan dan
bercakap dilakukan sebelum membaca dan menulis. Kedua, mengajarkan kalimat
sebelum mengajarkan kata.



(2) Prinsip Korektisitas

Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi

(fonetik),
(sintaksis), dan (semiotik). Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa tidak
hanya dapat menyalahkan peserta didik, tetapi ia juga harus mampu melakukan
pembetulan dan membiasakan peserta didik untuk kritis.



(3) Prinsip Berjenjang

Jika dilihat dari sifatnya, ada tiga

kategori prinsip berjenjang, yaitu:
pertama, pergeseran dari yang konkret ke yang abstrak, dari yang global ke yang
detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada
kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan
diajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan
yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.




D. METODE PENGAJARAN BAHASA INDONESIA

Sebelum dibicarakan metode yang dapat digunakan oleh guru dalam proses
belajar mengajar bahasa Indonesia, berikut ini akan disajikan terlebih dahulu
pengelolaan kelas yang dapat dilaksanakan oleh guru.

Untuk melatih kemampuan berbahasa siswa, guru dapat melakukan berbagai
cara pengelolaan kelas. Tempat belajar tidak selalu harus di dalam kelas. Guru
dapat mengajak siswa untuk belajar di luar kelas. Misalnya, dalam pembelajaran
berbicara, guru bertujuan melatih siswa pandai berpidato. Siswa dapat diajak ke
halaman sekolah duduk melingkar dan guru mencontohkan cara berpidato yang
baik. Jika keadaan tidak memungkinkan dan siswa harus belajar di kelas, maka
tempat duduk siswa dapat diatur bervariasi. Tempat duduk siswa juga dapat diatur
menjadi setengah lingkaran atau berbentuk U. Intinya, suasana kelas harus dibuat
menyenangkan sehingga siswa merasa senang belajar.





5







Guru yang baik, bukanlah guru yang menertibkan kelas dengan cara
otoriter. Sementara ini, masih ada anggapan bahwa kelas tertib haruslah kelas
yang sunyi, sepi, dan siswa belajar dengan kaku. Anggapan tersebut sudah tidak
lagi sesuai dengan perkembangan ilmu pendidikan.

Contoh-contoh pengelolaan kelas yang telah dibahas dapat pula digunakan dalam
pembelajaran kemampuan bersastra.

Sesuai dengan bahasan pengelolaan

kelas di atas, dalam pembelajaran
bahasa Indonesia disarankan tidak hanya menggunakan satu metode saja. Setiap
metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Di bawah ini hanyalah beberapa
alternatif metode yang dapat digunakan.

(1) Metode Langsung
Metode langsung adalah metode yang berasumsi bahwa belajar bahasa yang
baik adalah belajar menggunakan bahasa secara langsung dengan intensif untuk
kegiatan komunikasi. Tujuan metode ini awalnya hanya pada penggunaan bahasa
lisan, namun pada perkembangannya kemudian metode ini juga digunakan dalam
melatih bahasa tulisan.

Langkah-langkah atau teknik yang digunakan pada metode ini akan
diuraikan berikut ini. Penyuguhan teks pendek (biasanya bersifat naratif) dengan
menggunakan bahasa sasaran. Ekspresi yang sukar dijelaskan dibantu dengan
parafrase, persamaan kata, demonstrasi, atau konteks. Untuk menjelaskan lebih
jauh tentang teks itu guru mengetengahkan pertanyaan-pertanyaan tentang teks
dan pelajar membaca teks dengan keras untuk latihan. Pengamatan gramatika
diperoleh dari teks yang dibaca dan pelajar didorong untuk menemukan sendiri
prinsip gramatika yang terlibat.

Banyak waktu dihabiskan untuk tanya jawab tentang teks atau untuk
pembicaraan mengenai gambar dinding. Latihan melibatkan transposisi, substitusi,
dikte, naratif, dan karangan bebas. Karena metode langsung banyak melibatkan
pemakaian bahasa lisan, penekanan juga diberikan pada pemerolehan ucapan yang
tepat.












6







(2) Metode Membaca

Sesuai dengan namanya, metode ini membatasi tujuan pengajaran bahasa
pada latihan pemahaman bacaan. Dalam metode ini, penggunaan B1 tidak dilarang
dan penyuguhan B2 bersifat lisan seperti pada metode langsung. Fokus
pembelajaran pada kontrol kosa kata ketika membaca teks. Metode ini sangat
memerhatikan keterampilan membaca intensif untuk keperluan studi yang
mendalam dan kemampuan membaca cepat.




(3) Metode Audiolingual

Metode yang telah digunakan sejak tahun 1960 ini memiliki beberapa ciri
khas, seperti:

(a) pemisahan keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis,
(b) pemakaian dialog sebagai alat utama dalam menyuguhkan bahasa,
(c) penekanan pada teknik latihan tertentu, peniruan, pengingatan, latihan runtun
pola,
(d) penggunaan laboratorium bahasa, dan
(e) memantapkan teori linguistik dan psikologis sebagai landasan metode
mengajar.
Pengajaran dengan metode ini dimulai dengan fase pertama, yakni
pemutaran film strip dan penyuguhan rekaman. Rekaman bunyi memperdengarkan
dialog yang diatur dan ditambah komentar naratif. Kerangka film strip sesuai
dengan tuturan. Dengan kata lain, gambaran visual dan tuturan lisan saling
melengkapi dan membentuk unit semantik.

Pada fase kedua,

makna-makna bahasa dijelaskan dengan penunjukan,
demonstrasi, mendengarkan selektif, atau tanya jawab. Fase ketiga, dialog
diulang beberapa kali dan diingat dengan pemutaran ulang dari rekaman dan film
strip atau dengan latihan laboratorium bahasa.

Pada tahap berikut, siswa dibebaskan dari suguhan tape dan film. Siswa
diminta mengingat komentar atau membuat komentar sendiri. Pada tahap ini
dapat dilakukan permainan peran atau tanya jawab.








7







(4) Metode STAD (Student Team Achievement Division)

Metode STAD menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran, seperti
pendekatan kooperatif, kontekstual, dan konstruktif. Keterpaduan
antarpendekatan ini dapat terwujud dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan
penilaian. Melalui metode ini siswa diajak belajar dalam kelompok yang
beranggotakan empat atau lima orang berbeda tingkat prestasi, jenis kelamin, dan
suku.

Metode ini pun dibantu oleh metode pelatihan, penugasan, dan tanya jawab
sehingga ketuntasan materi dapat terwujud. Secara umum metode STAD
menggunakan siklus kegiatan pembelajaran seperti berikut.

(a) Guru mengajar secara klasikal untuk menyampaikan materi pokok dan indikator
yang akan dicapai pada pertemuan kali itu. Misalnya, guru menjelaskan tentang
tata cara menulis surat resmi. Selanjutnya siswa diberi tugas untuk menulis
bermacam-macam surat resmi.
(b) Siswa bekerja menulis surat resmi dalam tim dengan dipandu oleh lembar kerja
siswa.
(c) Siswa mengerjakan kuis atau tugas lain berkaitan dengan tata cara menulis
surat resmi secara individual (misalnya tes esai atau kinerja).
(d) Guru memberikan penghargaan kepada tim. Skor tim dihitung berdasarkan skor
peningkatan anggota tim. Papan pengumuman digunakan untuk memberi
penghargaan kepada tim yang berhasil mencetak skor tinggi.
Untuk memudahkan penerapannya, guru perlu menerapkan hal berikut
dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM).

(a) Meminta anggota kelompok bekerja sama mengatur meja dan kursi, serta
memberikan siswa kesempatan untuk memilih nama tim mereka. Akan lebih
baik jika nama tim berhubungan dengan pelajaran. Misalnya, nama-nama
sastrawan, judul puisi terkenal, dan sebagainya.
(b) Menyiapkan lembar kerja (LKS).
Menganjurkan kepada siswa pada tiap-tiap tim bekerja berpasangan (dua atau
tiga pasangan dalam satu kelompok).
(c) Menjelaskan kepada siswa bahwa LKS itu untuk belajar, bukan untuk sekadar
diisi dan dikumpulkan. Sesudah tugasnya selesai, para siswa akan diberi lembar
kunci jawaban LKS untuk mengecek keberhasilan mereka.





8







(d) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling menjelaskan jawaban
mereka, tidak hanya mencocokkan jawaban mereka dengan lembar kunci
jawaban tersebut.
(e) Apabila siswa memiliki pertanyaan, mereka dapat mengajukan pertanyaan itu
kepada teman atau satu timnya sebelum menanyakan kepada guru.
Ketika siswa bekerja dalam tim, guru berkeliling dalam kelas, sambil
memberikan pujian kepada tim yang bekerja baik. Guru juga dapat duduk
bersama setiap tim untuk memerhatikan bagaimana anggota-anggota tim itu
bekerja. Siswa tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar sampai dapat menjawab
dengan benar soal-soal kuis yang ditanyakan.




(5)Metode Jigsaw

Selain metode STAD di atas, ada pula metode jigsaw yang menggunakan
pendekatan kooperatif juga. Metode ini sangat membantu guru untuk melatih siswa
mengembangkan hubungan inter personalnya. Siswa akan dilatih bekerja dalam
kelompok yang berbeda-beda. Jika pada metode STAD dari awal hingga akhir siswa
hanya berdiskusi dalam kelompok kerjanya saja, dengan metode jigsaw siswa akan
berdiskusi secara bertahap dengan kelompok yang berbeda.

Kelompok pertama disebut kelompok ekspert, yakni kelompok untuk
mendiskusikan hal yang sama. Hasil diskusi akan dibawa siswa kepada kelompok
kerjanya.

Berikut ini adalah langkah umum yang dilakukan guru dengan menggunakan
metode ini.

a. Setelah dibentuk kelompok kerja, siswa diberi tugas. Misalnya, setiap kelompok
kerja ditugasi untuk menulis resensi buku. Untuk menulis resensi ada beberapa
subpokok bahasan yang harus didiskusikan siswa. Setiap anggota kelompok kerja
menerima tugas mempelajari satu subpokok bahasan berbeda.
b. Setelah setiap siswa mendapat tugas tersebut, mereka berpindah tempat ke
kelompok ekspert untuk mendiskusikan subpokok bahasan yang sama.
Misalnya, satu kelompok ekspert membicarakan masalah format penulisan
resensi buku, kelompok ekspert lain membicarakan komponen yang harus ada
pada sebuah resesnsi buku.





9







c. Setelah selesai berdiskusi dengan kelompok ekspert, siswa kembali bekerja
dengan kelompok kerjanya untuk menginformasikan hasil diskusinya dengan
kelompok ekspert. Hasil diskusi setiap subpokok bahasan tersebut kemudian
disintesakan oleh kelompok kerja untuk dilaporkan sebagai hasil kelompok
kerjanya.
d. Dalam proses evaluasi, guru memberi penghargaan kepada kelompok terbaik.
e. Selain hasil belajar kelompok, guru juga menilai siswa secara individual melalui
tes/kuis. Nilai individu tersebut akan mempengaruhi nilai kelompok kerja.
f. Usai pelajaran siswa melakukan refleksi untuk mencatat kegiatan yang telah
dilakukan beserta manfaatnya. Siswa juga dapat mengemukakan saran pada
guru untuk peningkatan mutu pembelajaran selanjutnya.



(6) Metode Teams-Games-Tournament (TGT)

Pembelajaran bahasa harus menyenangkan bagi siswa. Metode TGT
memadukan permainan untuk memotivasi siswa belajar. Secara umum, langkah-
langkah berikut ini dapat dilakukan guru dalam proses belajar mengajar.

(a) Siswa terlebih dahulu mendengarkan guru menyajikan satu tema yang kemudian
akan berkembang menjadi tugas siswa. Misalnya, guru menjelaskan periodesasi
sastra Indonesia khususnya berkaitan dengan prosa. Dari tema tersebut guru
dapat memberi tugas pada siswa untuk mengidentifikasi ciri-ciri setiap
angkatan. Identifikasi dilakukan dengan membaca novel-novel yang mewakili
periode-periode tertentu.
(b) Siswa bekerja dalam kelompok kerja. Kelompok ini terdiri dari siswa yang
memiliki kemampuan beragam.
(c) Setelah setiap kelompok selesai mengerjakan tugas tersebut, guru
mengumumkan jadwal pertandingan antarkelompok. Jumlah ronde dalam
pertandingan sangat tergantung pada banyak kelompok dalam kelas. Misalnya
ada sembilan kelompok, maka pertandingan bisa dilakukan sebayak tiga ronde.
Karena satu ronde akan menampilkan tiga kelompok.
(d) Setiap satu ronde akan muncul satu pemenang yang masuk ke babak final. Pada
pertandingan terakhir akan muncul kelompok terbaik sebagai pemenang.
(e) Evaluasi dilakukan pada saat proses pertandingan berjalan.
(f) Selain ada penilaian kelompok, guru juga mengamati prestasi individu siswa.
Jadi, kelompok dan siswa terbaik akan mendapat penghargaan dari guru.




10







Dalam pengajaran bahasa Indonesia, guru dapat menggunakan







beberapa
pendekatan. Di antaranya adalah pendekatan komunikatif yang menekankan bahwa
fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Untuk itu,
pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi bukan
menghafal kaidah. Konsekuensi dari pendekatan ini adalah guru bahasa Indonesia
diharapkan lebih banyak melatih siswa berbahasa lisan maupun tulisan. Prestasi
siswa bukan hanya dinilai dari ujian tertulis dan bersifat teoritis tetapi harus juga
menilai performansi siswa.

Di samping itu, pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan dilakukan juga
dengan menggunakan pendekatan terpadu (integratif). Terpadu yang dimaksud di
sini adalah memadukan empat keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara,
membaca, dan menulis) dan terpadu dengan mata pelajaran lain.

Contoh pembelajaran bahasa Indonesia yang terpadu dengan empat
keterampilan akan disampaikan berikut ini.

Dalam mengajar kompetensi mendengarkan, para guru tidak hanya akan
mengajarkan keterampilan tersebut. Pada kegiatan pembelajaran tersebut, aspek
yang lain pun mendapat porsi. Misalnya, setelah mendengarkan siaran berita, para
siswa ditugaskan untuk menyimpulkan informasi yang ada dalam berita tersebut.
Kesimpulan itu dapat disampaikan secara lisan maupun tertulis. Selanjutnya, guru
memberikan teks berita yang telah didengar siswa. Siswa diharapkan dapat
mengevaluasi kesimpulannya dengan membaca teks berita tersebut. Pada kegiatan
pembelajaran tadi jelas terlihat ada empat keterampilan yang dilatih guru.

Contoh keterpaduan dengan mata pelajaran lain juga dapat dijelaskan
dengan menggunakan contoh di atas. Teks berita yang didengar siswa bukanlah teks
tentang fonologi atau morfologi dalam bahasa Indonesia. Teks tersebut dapat berisi
materi yang berhubungan dengan pelajaran lain, seperti Sains, Agama, atau Olah
Raga. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan bersifat
tematik. Tema tersebut dapat menjadi sarana memadukan bahasa Indonesia
dengan pelajaran lain.













11























Contoh:

Berbicara













Mendengar













Tema

( Olah Raga)










Membaca













Menulis



Di



samping



pendekatan



di



atas,



para



guru



juga



disarnkan
menggunakan pendekatan kontekstual yang lebih dikenal dengan istilah
contextual learning (CTL). Pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang
menginginkan agar guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya
dengan situasi dunia nyata siswa. Pendekatan tersebut mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan melibatkan
komponen-komponen utama pembelajaran secara efektif.
Pendekatan CTL dalam pembelajaran bahasa Indonesia akan
membantu para guru melakasanan pembelajaran dengan:






membawa siswa untuk mempelajari dunia nyata (Real_World
Learning),
mengutamakan pengalaman nyata,
mengajak siswa berpikir tingkat tinggi ,
memusatkan pelajaran pada siswa ,















12
























membuat siswa aktif, kritis dan kreatif,
memberikan pengetahuan yang bermakna dalam kehidupan siswa,
mendekatkan siswa dengan kehidupan nyata,
mengubah perilaku menjadi lebih positif,
mengajak siswa menggunakan pengetahuannya (praktik) bukan
menghafal,
membelajarkan siswa bukan mengajar ,
membimbing siswa memecahkan masalah , dan
mengukur hasil belajar dengan berbagai cara bukan hanya dengan
tes.




E.KENDALA-KENDALA DALAM PENGAJARAN BI


Dalam praktiknya, setiap pelaksanaaan metode di atas menghadapi
berbagai kendala. Berikut ini adalah beberapa kendala yang dihadapi
pengajar, khususnya pengajar BIPA.


(1) Tidak


ada


metode


yang


sempurna,


mengingat


setiap


siswa


memiliki
karakteristik yang berbeda. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan
sehingga tidak dapat mengakomodasi semua kebutuhan siswa.
(2) Kesenjangan antara bahasa pertama dan bahasa target yang akan dipelajari
akan menyebabkan ketidaklancaran siswa dalam berkomunikasi, baik lisan
maupun tulisan. Hal ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan siswa
tentang bahasa target.
(3) Perbedaan-perbedaan linguistis dan sosiokultural dari bahasa pertama dan
bahasa target akan mengakibatkan kesulitan yang cukup besar bagi siswa asing
dalam belajar berbahasa. Pembelajar harus menguasai kompetensi gramatikal
dan leksikal dari bahasa target jika ingin menguasai bahasa target itu. Namun,
sering juga terjadi seorang pembelajar yang sudah memiliki kompetensi
secukupnya dalam bahasa target tetapi masih menghadapi kesulitan memahami
teks tertentu karena kurangnya pemahaman sosiokultur pemakai bahasa target.
(4) Jika tempat belajar bukan di Indonesia, siswa kesulitan mencari model
berbicara selain gurunya. Akibatnya, dialek guru akan sangat berpengaruh
kepada dialek siswa. Siswa yang belajar bahasa Indonesia dari guru dengan




13







dialek kental Jawa akan mengikuti dialek tersebut karena tidak memiliki model
bahasa yang lain.


F. SOLUSI MENGATASI KENDALA-KENDALA PENGAJARAN BI


Untuk mengatasi berbagai kendala dalam pengajaran BI, berikut ini
adalah beberapa alternatif solusi yang dapat dilakukan guru.


(1) Memvariasikan atau memadukan metode pengajaran sesuai kebutuhan sehingga
dapat meminimalisir kekurangan yang ada pada setiap metode.
(2) Memperpendek kesenjangan antara bahasa pertama dengan bahasa target.
Untuk itu, siswa harus dibekali pengetahuan fonologi, morfologi, sintaksis, dan
semantik bahasa Indonesia secara bertahap mulai dari yang mudah ke sulit.
(3) Pengajar selalu memberikan catatan budaya pada setiap tema untuk
menghindari keterkejutan budaya. Misalnya pada tema perkenalan, pengajar
pun membicarakan budaya orang Indonesia bila berkenalan.
(4) Jika mengajar di negara siswa asing, pengajar yang memiliki dialek bahasa
daerah sangat dianjurkan menyediakan media audiovisual dengan contoh
percakapan-percakapan yang berdialek standar.
(5) Membuat gradasi kesulitan tema, dari tema konkret ke abstrak sehinggga
mempermudah latihan berbicara siswa asing.
(6) Materi ajar yang dipilih diusahakan untuk dikaitkan dengan latar belakang
kondisi pembelajar, misalnya usia (remaja, dewasa), tingkat pendidikan,
kecenderungan minat pembelajar, kebudayaan pembelajar dan kebudayaan
Indonesia.
(7) Bila proses belajar mengajar dilakukan di Indonesia, ragam bahasa setempat
pun harus diperkenalkan kepada pembelajar setelah ragam formal. Hal ini
sangat penting untuk dilakukan agar pembelajar merasakan langsung bahwa
bahasa Indonesia yang dipelajarinya di kelas sangat berterima ketika digunakan
untuk berinteraksi di luar kelas dengan penutur asli/masyarakat.
(8) Konteks yang diajarkan harus bervariasi, misalnya di pasar, di kantor, di
warung, di toko, di terminal bis/stasiun/bandara atau pertemuan yang tidak
terduga seperti di mal, di restoran dst.
(9) Menyarankan siswa asing agar memiliki teman sebaya sebagai pendamping
belajar di luar. Hal ini perlu dilakukan jika tempat belajar di Indonesia. Dengan
memiliki teman pendamping, siswa akan dapat belajar di luar kelas dan lebih
mudah menggunakan metode langsung.



14










G. SUMBER BELAJAR LAIN

Darwowidjojo, Soenjono. Kontroversi di dalam Pendekatan Komunikatif, dalam
Bambang Kaswanti Purwo (Penyunting). 1993. PELLBA 6. Jakarta: Lembaga
Bahasa UNIKA Atmajaya.

Falk, Julia S. (1972). Linguistic and Language. Lexington: Xeroc College Publishing.

Hall, Edward T. (1959). The Silent Language. New York: A Premier Book.


Krashen, Stephen (1989). Principles and Practice in Second Language Acquisition.
Pergamon Press, New York.

Krech, David, Richard S. Crutchfield, dan Egerton L. Ballachey. (1962). Individual
in Society. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha. Ltd.

Koentjaraningrat. (1981). Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan. Jakarta:
Penerbit PT Gramedia.

Lado, Robert. (1981). Linguistic Across Culture. Ann Arbor: University of Michigan
Press.

Laver, John dan Sandy Hutcheson (eds.). (1972). Communication in Face to Face
Interaction. Harmondswoth: Penguin Books.

Mackey, William Francis. (1966). Language Teaching Analysis. London: Longman.



Purwo, Bambang Kaswanti (Penyunting). (1993). PELLBA 6. Jakarta: Lembaga
Bahasa UNIKA Atmajaya.

Richards, Jack C. Communiicative Needs in Foreign Languge Learning, dalam Info
Bahasa, Maret 1987. Jakarta: Lembaga Bahasa UNIKA Atmajaya.

Stern, H.H. (1983). Fundamental Concept of Language Teaching. Oxford University
Press.



















15