Anda di halaman 1dari 18

Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 1

BAB I
PENDAHULUAN



Invaginasi atau intususepsi yang merupakan keadaan masuknya suatu bagi
usus ke bagian usus lainnya merupakan suatu keadaan gawat darurat yang jika
tidak ditangani dengan segera dapat mengakibatkan mortalitas. Dari penelitian
didapatkan jumlah mortalitas pada pasien yang mendapat penanganan 10 jam
setelah gejala timbul adalah sebanyak 10%, sedangkan penanganan yang
dilakukan 72 jam setelah gejala timbul dapat menyebabkan mortalitas sebanyak
60 %.
Adapun invaginasi itu sendiri dapat terjadi baik di usus besar, usus halus,
maupun keduanya, dan yang paling sering terjadi adalah masuknya ileum
terminal ke dalam sekum. Paling banyak diderita oleh anak dibawah 2 tahun
dengan gejala berupa nyeri kolik hebat dengan kram, serta keluarnya darah
disertai lendir dari anus.
Karena termasuk dalam kegawatdaruratan medis, maka perlu dilakukan
penanganan secara cepat yang dimulai dengan perbaiki keadaan umum serta
hidrasi pasien. Penanganan selanjutnya yang dapat digunakan sekaligus untuk
diagnostik invaginasi ini adalah dengan melakukan pemeriksaan barium enema,
dengan tujuan tekanan hidrostatik barium dapat mendorong usus yang terjepit,
sehingga dapat kembali seperti semula.
Pada kesempatan kali ini akan dibahas lebih jauh mengenai invaginasi
termasuk di dalamnya baik penyebab, gejala klinis, ataupun tindakan-tindakan
yang harus dilakukan secara cepat agar penanganan dapat lebih efisien.








Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 2

BAB II
PEMBAHASAN



A. Anatomi
1. Usus Halus
Secara anatomi usus halus dibagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum,
jejenum, dan ileum. Panjang duodenum kira-kira 20 cm, jejenum 100-110 cm,
sedangkan ileum 150-160 cm. Jejunoileum memanjang dari ligamentum Treitz
ke katup ileosekal. Jejenum lebih besar dan lebih tebal jika dibandingkan
dengan ileum, dan hanya memiliki satu atau dua arcade valvular dibandingkan
empat sampai lima pada ileum.
Usus kecil digantung oleh mesenterium yang membawa pasokan vascular dan
limfatik. Mesenterium berjalan secara oblik dari kiri L2 ke kanan dari sendi S1
dan bersifat sangat mobile. Pasokan darah ke jejunum dan ileum melalui
arteri mesenterika superior, yang juga melanjutkan pasokan sampai kolon
transversal proksimal. Arcade vaskular dalam mesenterium menyediakan
pasokan kolateral. Drainase vena sejajar dengan pasokan arteri, membawa ke
vena mesenterika superior, bergabung dengan vena splenika di belakang
pancreas untuk membentuk vena porta. Drainase limfatik dari dinding
usus melalui nodus mesenterikus ke nodus mesenterikus superior ke
dalam sisterna kili dan akhirnya ke duktus torasikus. Lipatan mukosa
membentuk plica plika sirkularis transversal sirkumferensial. Persarafannya
adalah parasimpatis dan mempengaruhi sekresi serta motilitas . Simpatik
berasal dari nervus splanikus melalui pleksus seliaka, mempengaruhi sekresi
dan motalitas usus serta vascular dan membawa aferen rasa nyeri.
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 3


Gambar 1. Anatomi usus halus

Dinding usus halus di bagi dalam 4 lapisan:
a. Tunica Serosa
Terdiri dari jaringan ikat longgar yang dilapisi oleh mesotel.
b. Tunica Muscularis
Dua selubung otot polos tidak bergaris membentuk tunica muskularis usus
halus. Lapisan ini paling tebal di dalam duodenum dan berkurang dalamnya
kearah distal. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya
stratum sirkulare. Plexus myentericus (Auerbach) dan saluran limfe terletak
di antara kedua lapisan otot ini.
c. Tunica Submukosa
Tunica Submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara
tunika muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa, yang terletak
dibawah mukosa. Dalam ruang ini berjalan jalinan pembuluh darah halus
dan pembuluh limfe. Juga ditemukan neuroplexus Meissner.
d. Tunica Mukosa
Tunica mukosa usus halus, kecuali pars superior duodenum tersusun dalam
lipatan sirkuler tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa.
Masing-masing lipatan ini ditutup dengan tonjolan vili. Lipatan dan vili
lebih banyak di dalam jejunum dibandingkan di dalam ileum sehingga
jejunum bertanggung jawab lebih besar dalam absorbsi.




Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 4

2. Usus Besar
Usus besar terdiri dari sekum, kolon dan rectum, panjangnya sekitar 1,5 meter,
terbentang dari ileum terminalis sampai anus. Diameter terbesarnya pada saat
kosong 6,5 cm dalam sekum, dan berkurang menjadi 2,5 cm dalam sigmoid.
Pada sekum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung
sekum. Katup ileosekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam
sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke
usus halus.
Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden, tranversum, descenden dan
sigmoid. Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan
disebut fleksura hepatica dan kiri disebut fleksura lienalis.

Gambar 2. Anatomi usus besar

Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan
suplai darah yang diterimanya. Arteri mesenterika superior memperdarahi
belahan kanan yaitu sekum, kolon ascenden dan dua pertiga proximal kolon
transversum. Sedang arteri mesenterika inferior memperdarahi sepertiga
kolon transversum, kolon descenden, sigmoid dan bagian proximal rectum.
Arteri mesenterika superior akan bercabang ke a. ileokolika, a. kolika dextra,
sedangkan arteri mesenterika inferior akan bercabang ke a. kolika sinistra, a.
sigmoid, a. hemoroidalis superior.
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 5

Aliran balik vena dari kolon berjalan parallel dengan arterinya. V.mesenterika
superior untuk kolon ascenden dan transversum. Sedang v.mesenterika
inferior untuk kolon descenden, sigmoid dan rectum.
Rektum disuplai oleh a. hemoroidalis superior (cabang dari a.mesenterika
inferior) dan a.hemoroidalis inferior (cabang dari a.pudenda interna). Sedang
aliran venanya yaitu v.hemoroidalis superior dan inferior.

Gambar 3. Perdarahan usus

Aliran limfe pada rectum yaitu, inguinal, kelenjar iliaka interna, kelenjar para
kolik, kelenjar di mesenterium, dan kel.para aorta.
Usus besar diperarafi oleh system otonom kecuali sfingter externa diatur
secara volunter. Kolon dipersarafi oleh system parasimpatis yang berasal dari
n.splannikus dan pleksus presakralis serta serabut yang berasal dari n.vagus.
Sedangkan rectum dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari plexus
mesenterikus inferior dan dari system parasakral yang terbentuk dari
ganglion simpatis L 2-4 serta serabut simpatis yang berasal dari S 2-4.

B. Invaginasi
1. Definisi
Invaginasi atau yang juga dikenal sebagai intususepsi adalah suatu keadaan
gawat darurat akut dimana segmen usus masuk ke dalam segmen lainnya
sehingga dapat menyebabkan obstruksi yang disusul dengan strangulasi usus.
Umumnya bagian usus yang proksimal masuk ke bagian distal.
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 6

Bagian segmen usus yang masuk ke bagian distal disebut intususeptum,
sedangkan bagian usus yang membungkus intususeptum disebut intususipien.


Gambar 4. Invaginasi

2. Insidensi
Insidens penyakit ini tidak diketahui secara pasti, namun kelainan ini
umumnya ditemukan pada anak-anak di bawah 1 tahun dan frekuensinya
menurun dengan bertambahnya usia. Umumnya invaginasi ditemukan lebih
sering pada anak laki-laki, dengan perbandingan laki-laki dan perempuan tiga
banding dua.

3. Etiologi
Sebagian besar invaginasi belum diketahui penyebabnya, namun berdasarkan
fakta-fakta yang dikumpulkan diperkirakan penyebab invaginasi adalah:
a. Adanya penebalan Plaque Peyer akibat suatu proses dari infeksi virus pada
usus. Adenovirus ditemukan dari limfonodi mesenterika pada pembedahan
dan juga dari biakan permukaan dengan presentase yang lebih tinggi pada
anak dengan invaginasi daripada control. Invaginasi pada anak biasanya
disebut idiopatik, dimana disebabkan oleh penebalan plaque Peyeri yaitu
suatu jaringan limfoid di dinding ileum bagian distal, yang dapat
merangsang peristaltik usus sebagai upaya untuk mengeluarkan massa
tersebut sehingga menyebabkan invaginasi.
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 7

b. Adanya perubahan flora usus sehingga timbul peristaltik yang meninggi.
Perubahan flora biasa terjadi pada usia 6-9 bulan sehubungan dengan
perubahan pola makan pada bayi. Pada saat ini peristaltik anak akan
meningkat dan dapat menyebabkan terjadinya invaginasi.
c. Gerakan peristaltik yang berlebihan seperti pada polip usus, divertikel
Meckel, limfoma, hemangioma, leiomioma, leiosarkoma, dan mesenteric
hematom merupakan pencetus pada anak di atas usia 2 tahun atau orang
dewasa.

Sekali usus bagian proximal masuk ke bagian usus distal, oleh adanya
peristaltik, maka bagian usus proximal ini akan tetap ada dan bahkan lebih jauh
masuk dalam usus bagian distal.

4. Patofisiologi
Terdapat berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya invaginasi
pada orang dewasa yang pada intinya adalah gangguan motilitas usus yang
terdiri dari dua komponen yaitu satu bagian usus yang bergerak bebas dan satu
bagian usus lainya yang terfiksir atau kurang bebas dibandingkan bagian
lainnya. Karena peristaltik bergerak dari oral ke anal, sehingga bagian yang
masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal. Namun, pada
keadaan khusus seperti pada pasien pasca gastrojejunostomi dapat terjadi
sebaliknya atau yang disebut retrograd intususepsi. Keadaan lain yang sering
menyebabkan invaginasi adalah karena suatu disritmik peristaltik usus. Akibat
adanya segmen usus yang masuk ke segmen usus lainnya dinding usus akan
terjepit sehingga aliran darah menurun dan keadaan akhir adalah akan
menyebabkan nekrosis dinding usus.
Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai
intususeptum. Perubahan pada intususeptum ditimbulkan oleh penekanan
bagian ini karena kontraksi dari intususepien, dan juga karena terganggunya
aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya mesenterium. Edema dan
pembengkakan dapat terjadi sedemikian besarnya sehingga menghambat
reduksi. Adanya bendungan menimbulkan perembesan lendir dan darah ke
dalam lumen yang biasa disebut red currant jelly, selain itu dapat juga terjadi
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 8

ulserasi pada dinding usus. Sebagai akibat strangulasi tidak jarang terjadi
gangren yang dapat berakibat lepasnya bagian yang mengalami prolaps.
Pembengkakan dari intisuseptum umumnya menutup lumen usus. Akan tetapi
tidak jarang pula lumen tetap patent, sehingga obstruksi komplit kadang-
kadang tidak terjadi pada intususepsi. Proses strangulasi tersirat oleh adanya
rasa sakit & perdarahan per rectal. Serangan sakit mula-mula hilang timbul
namun kemudian menetap, gelisah sewaktu serangan dan sering disertai
rangsangan muntah.
Puncak invaginasi dapat berjalan sampai ke kolon tranversum, desenden,
sigmoid, bahkan sampai melewati anus. Tanda ini harus dibedakan dari prolaps
rectum. Proses obstruksi usus sebenarnya sudah dimulai sejak invaginasi
terjadi, tetapi penampilan klinik obstruksi memerlukan waktu. Umumnya
setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam gejala.

5. Klasifikasi
Berdasarkan letaknya invaginasi dibagi menjadi:
a. Enterica atau masuknya segmen usus halus yang satu ke usus halus lainnya;
b. Enterocolica dimana ileum masuk ke dalam kolon atau sekum;
c. Colica dimana kolon masuk ke kolon;
d. Prolapsus ani atau keluarnya rektum melalui anus.

6. Gejala Klinis
Gejala yang timbul cenderung bersifat tiba-tiba, karena anak biasanya dalam
keadaan gizi yang baik, lalu secara tiba-tiba menangis kesakitan sehingga bayi
akan cenderung menarik lutut ke arah perut yang berlangsung beberapa menit.
Serangan nyeri tersebut kemudian berulang dengan jarak 10 sampai 20 menit.
Serangan juga diikuti dengan muntah, lalu diluar serangan penderita akan
terlihat lemas dan tertidur, namun terbangun kembali saat serangan datang.
Pada awalnya saat belum terjadi gangguan pasase usus secara total feses yang
terlihat masih dalam batas normal, namun saat terjadi gangguan total feses
mulai bercampur darah segar dan lendir, yang lama kelamaan tinggal darah
segar dan lendir. Pada pemeriksaan abdomen yang biasa ditemukan adalah
adanya suatu massa berbentuk seperti sosis yang membentang dari daerah
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 9

hipokondrium kanan dan membentang sepanjang colon transversum yang dapat
teraba saat pasien dalam keadaan tenang. Pada kuadran kanan bawah biasanya
terdapat daerah yang kosong dan cekung yang biasa disebut dances sign, dan
jika invaginasi terus berjalan sampai melewati colon desendens dan sigmoid
dapat teraba massa yang prolaps pada daerah anus.
Pembuluh darah mesenterium yang terjepit mengakibatkan gangguan venous
return dan mengakibatkan terjadinya kongesti. Akibat dari kongesti vena yang
dapat terlihat jelas adalah adanya peradarahan rektum. Jika cedera pada
pembuluh darah sudah besar perdarahan biasanya berwarna merah kehitaman
dan disertai dengan lendir yang biasa disebut sebagai red currant jelly.
Perdarahan yang masih relatif sedikit biasanya dapat ditemukan pada saat
melakukan rectal toucher.
Setelah terjadi sumbatan total terdapat tanda-tanda obstruksi seperti perut
kembung dengan gambaran peristaltik yang jelas, serta muntah yang berwarna
kehijauan. Dari pemeriksaan rectal toucher didapatkan tonus sphincter yang
melemah, dan saat jari ditarik keluar terdapat darah yang bercampur dengan
lendir.

7. Diagnosis
Diagnosis invaginasi ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik,
serta pemeriksaan penunjang.
Terdapat gejala khas yang biasa disebut sebagai trias gejala, yaitu:
a. Nyeri perut tiba-tiba, yang hilang timbul dengan periode serangan setiap 10
sampai 20 menit;
b. Teraba masa tumor di daerah hipokondrium kanan dan membentang
sepanjang colon transversum yang dapat teraba saat pasien dalam keadaan
tenang;
c. Buang air besar bercampur darah dan lendir.

Namun ada pula yang mengganti terabanya massa dengan muntah yang
berwarna kehijauan, karena sulitnya meraba massa tumor saat penderita
terlambat memeriksakan diri.

Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 10


8. Pemeriksaan Radiologi
Ada beberapa pemeriksaan radiology yang dapat digunakan sebagai acuan
diagnostik, antara lain:
a. Foto polos abdomen
Pada foto polos abdomen didapatkan distribusi udara di dalam usus yang
tidak merata, usus cenderung terdesak ke kiri atas, dan dalam keadaan lanjut
terlihat gambaran obstruksi usus pada posisi tegak dan lateral dekubitus
berupa gambaran air fluid level, serta dapat terlihat free air jika sudah
terjadi perforasi.
b. Barium enema
Barium enema selain dapat berfungsi sebagai alat diagnostik juga dapat
berfungsi sebagai terapi. Sebagai alat diagnostic barium enema berfungsi
jika gejala klinik yang terlihat sedikit meragukan. Dengan kontras gambaran
yang akan terlihat berupa gambaran cupping atau coiled spring
appearance.


Gambar 5. Gambaran cupping dan coiled spring appearance










Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 11

c. Ultrasonografi (USG)
Tanda invaginasi yang dapat terlihat pada USG berupa target lesion atau
bisa juga disebut doughnut sign.


Gambar 6. Gambaran target lession atau doughnut sign

9. Penatalaksanaan
Invaginasi termasuk dalam kasus gawat darurat, sehinga diperlukan tindakan
secara cepat berupa:
a. Perbaiki keadaan umum pasien;
b. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi & mencegah aspirasi;
c. Rehidrasi;
d. Obat-obat penenang untuk penahan rasa sakit.

Setelah keadaan umum baik dilakukan tindakan pembedahan, bila jelas telah
tampak tanda-tanda obstruksi usus. Atau dilakukan tindakan reposisi bila tidak
terdapat kontraindikasi.
Dasar pengobatan pada invaginasi ialah reposisi usus yang masuk ke lumen
usus lainnya. Reposisi dapat dicapai dengan barium enema, reposisi
pneumostatik atau melalui pembedahan.



Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 12

Reduksi Hidrostatik
Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan
kateter dengan tekanan tertentu dengan diikuti oleh X-ray. Mula-mula tampak
bayangan barium bergerak berbentuk cupping pada tempat invaginasi, dengan
tekanan hidrostatik sebesar sampai 1 meter air, barium didorong ke
arah proksimal. Tekanan hidrostatik tidak boleh melewati 1 meter air agar
tidak terjadi perforasi selain itu tidak boleh dilakukan penekanan manual
di perut sewaktu dilakukan reposisis hidrostatik.
Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum terminalis,
serta pada saat itu, pasase usus kembali normal, norit yang diberikan akan
keluar melalui dubur. Seiring dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat
terlihat coiled spring appearance. Gambaran tersebut disebabkan oleh sisa-sisa
barium pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi
Pada saat sekarang ini barium enema yang digunakan untuk prosedur
diagnostic, kurang lebih 75% berhasil mereduksi invaginasi. Pemberian sedikit
sedative yang cukup sebelum prosedur enema sangat banyak membantu
berhasilnya reduksi hidrostatik ini.


Gambar 7. Terapi dengan menggunakan barium enema

Indikasi:
a. Tidak terdapat gejala & tanda rangsangan peritoneum;
b. Tidak toksik juga tidak terdapat obstruksi tinggi;
c. Tidak dehidrasi;
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 13

d. Gejala invaginasi kurang dari 48 jam.

Kontra indikasi:
a. Distensi abdomen yang berlebihan;
b. Invaginasi rekuren;
c. Gejala invaginasi lebih dari 48 jam;
d. Peritonitis;
e. Perforasi.

Keuntungan reposisi hidrostatik
a. Kemungkinan terjadinya perforasi lebih sedikit;
b. Lama perawatan lebih pendek, karena tidak bersifat traumatik;

Kerugian reposisi hidrostatik itu sendiri adalah cukup banyaknya kasus
invagianasi berulang, karena tidak dilakukan reseksi.

Reduksi Manual dan Reseksi Usus
Indikasi reduksi manual adalah pada pasien dengan keadaan tidak stabil,
didapatkan peningkatan suhu serta angka lekosit, mengalami gejala
berkepanjangan atau ditemukan penyakit sudah lanjut yang ditandai dengan
distensi abdomen, feces berdarah, gangguan sistem usus yang berat sampai
timbul shock atau peritonitis.
Pasien segera dipersiapkan untuk suatu operasi Laparotomi dengan incisi
transversal interspina Jika ditemukan kelainan telah mengalami nekrose,
reduksi tidak perlu dikerjakan dan reseksi segera dilakukan.

Pelaksanaan operatif:
a. Pre-operatif
Penanganan intususepsi pada dewasa secara umum sama seperti penangan
pada kasus obstruksi usus lainnya yaitu perbaikan keadaan umum seperti
rehidrasi dan koreksi elektrolit bila sudah terjadi defisit elektrolit.
Pembedahan sudah dapat dilakukan kalau perfusi jaringan sudah cukup
yang dapat diukur secara klinis dari produksi urin, yaitu 0,5-1 ml/kgBB/jam
melalui kateter. Kriteria lainnya adalah suhu tubuh kurang dari 38C, nadi
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 14

kurang dari 120 kali per menit, pernapasan tidak lebih dari 40 kali/ menit,
turgor kulit membaik, dan paling utama kesadaran yang baik. Biasanya
dengan pemberian cairan sejumlah 50% dari kebutuhan (untuk koreksi &
kebutuhan normal), perfusi jaringan sudah dapat dicapai.
Pembedahan dan anestesi yang dikerjakan pada waktu perfusi
jaringan tidak memadai akan menyebabkan tertimbunnya hasil-hasil
metabolisme yang seharusnya dikeluarkan dari tubuh, dan hal ini akan
mengakibatkan oksigenasi jaringan yang buruk, yang dapat berakibat
kerusakan sel yang irreversible, dan bila menyangkut organ vital akan
menyebabkan kematian.
b. Operatif
Sewaktu operasi awalnya akan dicoba reposisi manual dengan mendorong
invaginatum dari anal kearah sudut ileo-sekal, dorongan dilakukan
dengan hati-hati tanpa tarikan dari bagian proximal.

Gambar 8. Terapi dengan Reseksi manual

Reposisi dengan pembedahan dicapai melalui laparatomi. Setelah dinding
perut dibuka, tindakan selanjutnya tergantung pada temuan yang ada.
Reposisi dikerjakan secara manual diperas seperti memeras susu sapi yang
disebut milking, dikerjakan secara halus dan perlahan dengan sabar, dan
diselingi dengan istirahat beberapa waktu untuk memberi kesempatan agar
aliran darah balik yang mengurangi edema sehingga mempermudah usaha
milking selanjutnya. Jangan sekali-kali menarik bagian usus yang masuk
ke dalam usus lainnya, tetapi diperas dari pihak lainnya.
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 15

Jika terjadi kebocoran usus sebelum atau sesudah milking maka
dilanjutkan dengan reseksi usus. Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm
dari tepi - tepi segmen usus yang terlibat, pendapat lainnya pada sisi
proksimal minimum 30 cm dari lesi, kemudian dilakukan anastosmose end
to end atau side to side.

Gambar 9. Anastomose end to end

Apabila terdapat kerusakan usus yang cukup luas, dan banyak bagian dari
usus itu yang harus diangkat. Maka pada kasus ini tidak dapat dilakukan
anastomosis end to end, harus colostomy supaya proses digestive tetap
berjalan.
Jika ditemukan penyebab yang menjadi factor pencetus seperti divertikulum
atau duplikasi maka perlu dilakukan reseksi.

c. Pasca Operasi
Hindari dehidrasi;
Pertahankan stabilitas elektrolit;
Pengawasan akan inflamasi dan infeksi;
Pemberian analgetika yang tidak menggangu motilitas usus









Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 16

10. Diagnosa Banding
Ada beberapa penyakit yang perlu dibedakan dengan invaginasi, antara lain:
a. Gastroenteritis
Anak dengan gastroenteritis cenderung sulit dibedakan dengan innvaginasi.
Perlu diperhatikan perubahan pola penyakit, karakter rasa sakit,
karakteristik muntah, dan jenis perdarahan untuk membedakannya.
b. Enterocolitis
Pada enterocolitis terdapat feses yang bercampur darah disertai
kram abdomen, namun hal ini dapat dibedakan dari invaginasi karena
sakit cenderung lebih jarang, disertai diare, dan tetap adanya rasa sakit
diantara nyeri.
c. Diverticulum Meckel
Perbedaan invaginasi dan diverticulum Meckel terdapat pada rasa sakit
yang biasanya tidak dirasakan penderita diverticulum Meckel
d. Henoch-Schnlein purpura
Terkadang terdapat gejala perdarahan pada pasien Henoch-Schnlein
purpura, namun yang dapat membedakannya adalah ditemukannya purpura
pada penderita Henoch-Schnlein purpura
e. Prolapsus Recti
Perbedaan prolapses recti dan invaginasi dapat diketahui dengan
melakukan colok dubur, dimana pada prolapsus recti didapati adanya
hubungan antara mukosa dan kulit perianal sedangkan pada invaginasi
didapati adanya celah.

11. Prognosis
Invaginasi pada anak yang tidak diterapi selalu berakibat fatal, karena
kesempatan sembuh tergantung dari lamanya gejala sebelum dilakukan terapi.
Angka mortalitas meningkat khususnya setelah 48 jam setelah gejala muncul.
Angka kekambuhan setelah terapi barium enema adalah sebesar 10 % dan
setelah reduksi manual sebesar 2-5%, namun tidak ada kekambuhan setelah
dilakukan reseksi.
Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 17

Pasien invaginasi yang disebabkan diverticulum Meckel, polip maupun
lymphosarkom tidak dapat di terapi dengan menggunakan barium enema saja
karena factor penyebab tidak dapat dihilangkan.
Dengan penanganan yang adekuat serta cepat tingkat mortalitas dapat menjadi
sangat rendah.



























Intusepsi | Stase Radiologi RSUD Abdoel Moeloek April 2014 18

BAB III
KESIMPULAN



Invaginasi yang merupakan suatu kedaruratan medis biasa terjadi pada
anak kecil berusia kurang dari satu tahun, yang biasanya belum diketahui
penyebabnya, namun pada orang dewasa biasanya merupakan akibat dari suatu
penyakit tertentu.
Diagnosa dapat ditegakkan dengan melihat dari anamnesa, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa dapat diketahui adanya riwayat
nyeri abdomen yang hilang timbul dan berulang setiap 10 sampai 20 menit. Dari
pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya suatu massa pada daerah hipogastrium
kanan, yang berjalan sepanjang kolon transversum, selain itu dapat juga teraba
dances sign pada daerah invaginasi. Feses penderita cenderung bercampur
dengan darah dan lendir yang jika sudah terjadi obstruksi total akan kehilangan
massa feses.
Dari foto polos abdomen dapat dilihat adanya air fluid level jika terjadi
perforasi akibat invaginasi, dari pemeriksaan barium enema dapat terlihat adanya
cupping pada daerah invaginasi, sedangkan pada pemeriksaan USG dapat dilihat
adanya target sign.
Terapi dapat dilakukan dengan melakukan reduksi hidrostatik yag
menggunakan tekanan hidrostatik untuk melepaskan ikatan yang terbentuk, atau
dengan reduksi secara manual yaitu dengan operasi baik dengan reseksi ataupun
tidak.