Anda di halaman 1dari 11

Kajian Teknis atas Peraturan Menteri Dalam Negeri No.

1/2006
tentang Pedoman Penegasan Batas Daerah

M. Iqbal Taftazani, Farid Yuniar, M. Harish Mafaaza dan I Made Andi Arsana

Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika


Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada
Jl. Grafika No. 2 Yogyakarta
Telpon/Fax: 0274 520226, E-mail: geodesi@ugm.ac.id
Website: http://geodesi.ugm.ac.id

Abstrak

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1/2006 tentang Pedoman Penegasan


Batas Daerah (selanjutnya disebut Permendagri) telah ditetapkan pada
tanggal 12 Januari 2006. Permendagri tersebut merupakan tindak lanjut dari
UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 33/2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan Pemerintahan
Daerah. Permendagri No. 1/2006 berisi tentang Pedoman Penegasan Batas
Daerah, yang mengatur teknis penegasan batas antardaerah.

Permendagri No. 1/2006 secara umum terdiri dari delapan bab, yaitu
ketentuan ketentuan umum, penegasan batas daerah, tim penegasan batas
daerah, keputusan penegasan batas daerah, fasilitasi perselisihan batas
daerah, pembiayaan, ketentuan lain-lain dan penutup serta ditambah
dengan lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri yang berisi Pedoman
Penegasan Batas Daerah. Dalam Permendagri ini, banyak dibahas mengenai
aspek-aspek teknis penegasan batas antar daerah, yakni meliputi definisi,
metode penarikan batas, dan sebagainya.

Makalah ini bermaksud untuk mengkaji isi Permendagi terutama dari sudut
pandang teknis/geodetis. Dalam hal ini akan dicoba menelaah aspek
teknis/geodetis yang terkait dengan Permendagri termasuk memberikan
kritik konstruktif terhadapnya. Makalah ini merupakan hasil dari kajian
pustaka dengan memperhatikan praktik penentuan dan penegasan batas
wilayah daerah yang terjadi di Indonesia. Terhadap kelemahan yang
ditemukan dalam Permendagri, dalam makalah ini juga akan disertai
gagasan pemecahan masalah.

1. Pendahuluan
Sampai sekarang, batas wilayah masih menjadi topik pembahasan yang
menarik. Tidak hanya permasalahan batas antarnegara, tetapi juga batas
antardaerah yang lebih sempit, misalnya batas propinsi dan atau batas
kabupaten/kota. Lebih jauh, kini sudah ada peraturan dan pembahasan
mengenai batas desa dan kecamatan.

Pembahasan tentang batas wilayah, terutama untuk propinsi dan


kabupaten/kota tentu tidak lepas dari undang-undang tentang
pemerintahan daerah. Saat ini berlaku Undang-Undang No. 32/2004 yang
menggantikan UU sebelumnya yaitu UU No. 22/1999. UU No. 32/2004 ini
merupakan tindak lanjut dari pasal 18 UUD 1945 yang berisi tentang
pengaturan otoritas antara pemerintahan pusat dan daerah. Dalam hal ini,

1
UU tersebut mempertegas adanya pemerintahan yang bersifat
desentralisasi dan mengatur tentang otonomi daerah. Adapun salah satu isu
menarik dalam UU tersebut adalah tentang pemilihan kepala daerah secara
langsung.

Sebelumnya, dalam UU No. 22/1999 telah diatur mengenai metode-metode


penentuan batas wilayah maritim antarpropinsi dan kabupaten seperti yang
juga diatur dalam UU No. 32/2004. Berikutnya dikeluarkan UU No. 33/2004
yang berisi tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah. Dalam hal
ini, ada sebuah urgensi untuk menetapkan dan menegaskan batas
antardaerah, terkait dengan pembagian Dana Alokasi Umum (DAU) yang
penentuannya berdasarkan salah satunya pada luas daerah tersebut.
Artinya, luas daerah menjadi faktor yang penting. Pertanyaan selanjutnya
adalah bagaimana bisa menentukan luas daerah tanpa ada batas
antardaerah? Oleh karena itulah penegasan batas antardaerah, dalam hal
ini batas propinsi dan batas kota/kabupaten, menjadi satu hal yang sangat
dibutuhkan.

Dari pertimbangan di atas, maka pemerintah pusat, dalam hal ini


Kementerian Dalam Negeri pada tanggal 12 Januari 2006 menetapkan
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengasan Batas Daerah (selanjutnya disebut Permendagri). Dalam
Permendagri ini, dibahas mengenai aspek-aspek teknis penegasan batas
antar daerah, yakni meliputi definisi, metode penarikan batas, dan
ketentuan teknis lainnya.

Dengan adanya Permendagri ini, maka aturan tentang bagaimana


penentuan dan penegasan batas antarpropinsi dan atau
antarkota/kabupaten, baik batas di darat maupun di laut menjadi lebih jelas.
Namun demikian, masih ada beberapa hal dalam Permendagri ini yang
perlu dikaji dan dikoreksi lebih dalam, khususnya pada hal yang berkaitan
dengan aspek teknis.

Makalah ini dimaksudkan untuk mengkaji isi Permendagi terutama dari


sudut pandang teknis/geodetis. Dalam hal ini akan dicoba menelaah aspek
teknis/geodetis yang terkait dengan Permendagri termasuk memberikan
kritik konstruktif terhadapnya. Makalah ini merupakan hasil dari kajian
pustaka dengan memperhatikan praktik penentuan dan penegasan batas
wilayah daerah yang terjadi di Indonesia. Terhadap kelemahan yang
ditemukan dalam Permendagri,dalam makalah ini juga akan disertai
gagasan pemecahan masalah.

2. Garis Besar Isi Permendagri No 1 Tahun 2006


Permendagri No 1 Tahun 2006 terdiri dari delapan bab, yakni: ketentuan
umum, penegasan batas daerah, tim penegasan batas daerah, keputusan
penegasan batas daerah, fasilitasi perselisihan batas daerah, pembiayaan,
ketentuan lain-lain dan penutup. Selain itu ditambah dengan lampiran
Peraturan Menteri Dalam Negeri yang berisi Pedoman Penegasan Batas
Daerah. Dalam lampiran ini memuat penjelasan secara teknis aspek-aspek
penentuan dan penegasan batas daerah.

2
Bab pertama, ketentuan umum, satu pasal, berisi pengertian-pengertian
dalam Permendagri beserta penjelasan secara singkat mengenai
pengertian tersebut

Bab kedua, penegasan batas daerah, berisi tentang pengertian penegasan


batas daerah, terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama tentang
penegasan batas daerah di darat, bagian kedua penegasan batas di laut
dan bagian ketiga tentang peta batas daerah. Dijelaskan dalam bab ini
mengenai tahapan dalam penegasan batas darat, dimulai dari penelitian
dokumen, pelacakan batas, pemasangan pilar batas, pengukuran dan
penentuan pilar batas, dan pembuatan peta batas. Sedangkan untuk batas
di laut, penelitian dokumen, pelacakan batas, pemasangan pilar di titik
acuan, penentuan titik awal dan garis dasar, pengukuran dan penentuan
batas dan pembuatan peta batas. Pada bagian ketiga dijelaskan tentang
skala peta batas untuk masing-masing batas propinsi, kabupaten dan kota.

Bab ketiga berisi tentang tim penegasan batas daerah, baik propinsi,
kabupaten dan kota yang masing-masing ditetepkan oleh pejabat struktural
pemerintahan di atasnya. Bab empat tentang keputusan penegasan batas
daerah yang kesemuanya, baik batas propinsi, kabupaten dan kota
ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri berdasarkan hasil verifikasi batas
oleh Tim Penegasan Batas Daerah Tingkat Pusat.

Bab lima berisi tentang fasilitasi perselisihan batas daerah yang mana jika
terjadi perselisihan tentang batas daerah diselesaikan oleh pejabat
struktural di atasnya. Bab enam tentang pembiayaan penegasan batas,
yakni pembiayaan seluruh rangkaian kegiatan penegasan batas daerah
diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah.

Bab tujuh berisi tentang ketenutan lain-lain, dalam hal ini batas daerah
yang berbatsan dengan negara lain berpedoman pada batas Negara
Kesatuan Republik Indonesia atau perjanjian antara Republik Indonesia
dengan negara yang bersangkutan.

Terakhir bab delapan beisi tentang ketentuan penutup, yakni tentang teknis
penegasan batas daerah yang dicantumkan dalam lampiran Permendagri.

3. Kajian Rinci Terhadap Isi Permendagri No. 1/2006


Dalam kajian rinci ini, akan disajikan secara rinci bab demi bab dalam
bagian berikut :

3.1 Bab I tentang Ketentuan Umum

Pasal 1, tentang pengertian-pengertian :


Ayat (1) dan ayat (2), menegaskan tentang pemerintahan daerah, yaitu
pemerintahan provinsi oleh gubernur, dan kabupaten/kota oleh
bupati/walikota.

Ayat (3), menyatakan bahwa penegasan batas daerah adalah kegiatan


penentuan batas secara pasti di lapangan. Teknis pelaksanaan penegasan
batas daerah terdapat dalam lampiran.

3
Ayat (4), ayat (5), dan ayat (6), menegaskan tentang batas daerah. Ayat (4)
mendefinisikan batas daerah dalam pengertian umum, ayat (5) dan ayat (6)
mendefinisikan batas daerah dalam lingkup yang lebih kecil, yaitu batas
daerah di darat dan batas di daerah laut. Ayat (5) menjelaskan bahwa batas
di darat berupa pilar dan daftar koordinat di peta. Pada ayat (6), disebutkan,
batas di laut adalah berupa garis khayal (imajiner) dan daftar koordinat di
peta. Garis khayal dan daftar koordinat tersebut merupakan batas
kewenangan pengelolaan sumber daya di wilayah laut. Dalam ayat (6), tidak
disebutkan batasan kewenangan pengelolaan di wilayah laut secara
spesifik. Kewenangan pengelolaan sumber daya juga masih rancu
pengertiannya. Perlu ditegaskan lagi bahwa kewenangan ini hanyalah untuk
mengelola sumber daya laut, bukan untuk menguasai secara penuh wilayah
laut, berbeda dengan kekuasaan daerah atas wilayah darat (Arsana, 2005).
Selanjutnya kewenangan pada wilayah laut yang diberikan hanya pada
tubuh air saja atau dapat sampai dasar laut, juga tidak disebutkan. Hal ini
perlu diatur karena tentunya terdapat perbedaan sumber daya yang dapat
dikelola pada tubuh air dan dasar laut. Untuk lebih baiknya, pada lampiran,
perlu ada penambahan informasi tentang kewenangan dan batasan wilayah
laut yang dapat dikelola sumber daya alamnya.

Ayat (7) menjelaskan tentang peta dasar yang memuat unsur


topografi/rupabumi atau batimetri dan digunakan sebagai dasar pembuatan
peta turunan/tematik. Pada lampiran tidak terdapat keterangan tambahan
tentang peta dasar. Pada lampiran, seharusnya, ditambahkan keterangan
tambahan tentang peta dasar, meliputi sumber peta dasar, isi peta dasar
dan skala yang digunakan. Skala juga menjadi penting untuk dicantumkan,
mengingat data spasial yang tersaji pada peta skala besar dan peta skala
kecil tentu saja berbeda. Skala yang dipakai di peta dasar, harus ada
keseragaman dan harus diatur juga batasan kemungkinan penggunan peta
dasar dengan skala terkecil yang boleh digunakan. Ini akan berkaitan
dengan kelayakan sebuah peta untuk dijadikan peta dasar

Ayat (8) menjelaskan peta batas daerah adalah peta tematik yang
menyajikan unsur-unsur batas dan unsur-unsur topografi/rupabumi atau
batimetri yang terkait. Dalam lampiran disebutkan bahwa spesifikasi peta
batas daerah dibagi dalam tiga skala, yaitu skala 1:500.000 untuk batas
propinsi, skala 1:100.000 untuk batas kabupaten, dan skala 1:50.000 untuk
batas kota. Disebutkan pula bahwa peta batas daerah diturunkan berdasar
peta garis batas. Peta garis batas digambarkan pada skala 1:1.000. Jika
lazimnya, peta turunan atau tematik adalah peta dengan skala yang sama
dengan peta dasarnya, maka pada penentuan batas daerah ini berarti peta
batas daerah dengan skala yang lebih kecil,yaitu 1:500.000,
1:100.000,1:50.000, justru dihasilkan dari peta garis batas yang berskala
lebih besar. Ini tentu saja menjadi persoalan tersendiri. Sehingga untuk
mendapatkan peta batas daerah dari peta garis batas maka proses
kartografi ,yaitu generalisasi harus dilakukan untuk dapat menggambarkan
peta batas daerah (Riyadi, 1994).

Ayat (9) dan ayat (10), menjelaskan pelacakan batas daerah di darat dan di
laut. Dua ayat tersebut menjelaskan bahwa dalam menentukan letak batas
baik di darat maupun di laut berdasarkan kesepakatan. Pelacakan garis

4
batas menjadi penting karena dari pelacakan batas ini kemudian akan
ditentukan garis batas sementara yang digunakan sebagai dasar hukum
bagi batas daerah. Yang menjadi pertanyaan kemudian, masih tidak adanya
definisi tentang kesepakatan. Karena pada lampiran tidak disebutkan
bagaimana kesepakatan ini dibuat. Definisi kesepakatan tentu saja menjadi
keharusan, karena terkait erat dengan penentuan garis batas sementara.
Hal-hal yang harus didefinisikan adalah, pihak mana yang dapat
bersepakat, termasuk jumlahnya, tata cara kesepakatan, kekuatan hukum
kesepakatan. Maka sebaiknya, ditambahkan keterangan mengenai
kesepakatan ini. Hal lain yang harus dicermati adalah istilah tanda batas
sementara pada ayat (9). Dalam lampiran tentang pemasangan pilar batas
tidak diberi keterangan mengenai definisi tanda batas sementara. Kondisi
ini dapat memunculkan banyak interpretasi, yaitu : jika tanda batas
sementara ini terkait dengan garis batas sementara, dapat timbul
pertanyaan, apakah tanda batas sementara berfungsi sebagai penanda
adanya garis batas sementara? dimana tanda batas sementara ini
dipasang? bagaimana bentuk tanda batas sementara? apakah berupa pilar.
Dari semua pertanyaan-pertanyaan tersebut maka sebaiknya ditambahkan
keterangan tambahan tentang batas daerah sementara.

Ayat (11) dan ayat (12), memberikan definisi tentang titik acuan dan titik
awal, tidak ada masalah dalam kedua definisi dapat dimengerti dengan
baik. Hal yang harus diperhatikan adalah pada penggunaan istilah garis
dasar. Dari definsi yang ada, garis dasar adalah kata lain dari garis pangkal.
Hal ini kontradiktif dengan fakta bahwa ternyata hampir semua peraturan
pemerintah yang menyangkut masalah laut, menggunakan kata garis
pangkal (misal PP No.38/2004) dan bukan garis dasar. Seharusnya ada
penyeragaman istilah dalam peraturan yang dibuat untuk efektifitas.

Ayat (13) menjelaskan tentang garis pantai. Definsi yang diberikan cukup
jelas dan tidak ada msalah atas hal tersebut.

3.2 Bab II tentang Penegasan Batas Daerah

Pada bab ini dibedakan antara penegasan batas daerah darat dengan
penegasan batas daerah laut.

Pasal 2 terdiri dari dua ayat, ayat (1) dan ayat (2) menjelaskan tentang
penegasan batas daerah, yaitu upaya mewujudkan batas daerah dengan
aspek yuridis dan fisik yang jelas dan baik di lapangan serta penentuan titik
koordinat batas di atas peta. Secara umum tidak ada masalah dalam pasal
ini.

Pasal 3 menegaskan penegasan batas daerah berpedoman pada daerah


yang ditetapkan dalam Undang-undang Pembentukan Daerah.

3.2.1 Bagian Pertama: Batas Darat


Pasal 4 terdiri dari tiga ayat.
Ayat (1) menegaskan tahapan batas daerah di darat, yaitu meliputi
penelitian dokumen, pelacakan batas, pemasangan pilar batas, pengukuran
dan penentuan posisi pilar batas, serta pembuatan peta batas. Ayat (2)
menjelaskan bahwa tahapan penegasan batas pada ayat (1) dilakukan

5
dengan prinsip geodesi. Pada bagian lampiran dijelaskan prinsip geodesi
yang digunakan, terutama untuk pengukuran dan penentuan posisi pilar
batas dan pembuatan peta batas.

Pasal 5 menjelaskan tentang penelitian dokumen. Secara umum tidak ada


masalah mengenai pasal ini.

Pasal 6 terdiri dari dua ayat, ayat (1) menegaskan tentang pelacakan batas
meliputi titik-titik batas dan garis batas sementara di lapangan. Ayat (2)
menjelaskan bahwa penentuan titik-titik batas dan garis batas sementara di
lapangan dituangkan dalam peta kerja sebagai turunan peta dasar. Secara
umum tidak ada masalah dalam pasal ini.

Pasal 7 menjelaskan tentang pemasangan pilar batas. Secara umum tidak


terdapat masalah dalam pasal ini.

Pasal 8 menjelaskan tentang tujuan pengukuran dan penentuan posisi pilar


batas. Secara umum tidak ada masalah pada pasal ini.

Pasal 9 menjelaskan metode pembuatan peta batas. Metode tersebut dibagi


menjadi tiga, yaitu kompilasi/penurunan dari peta topografi/atau peta rupa
bumi, dengan terestris, atau dengan fotogrametris. Secara umum tidak ada
masalah pada pasal ini.

3.2.2 Bagian Kedua: Batas Laut


Pasal 10 ayat (1) menerangkan tentang tahapan penegasan batas daerah
laut seperti diterangkan pada pasal 2, yaitu meliputi penelitian dokumen,
pelacakan batas, pemasangan pilar di titik acuan, penentuan titik awal dan
garis dasar, pengukuran dan penentuan batas, pembuatan peta batas. Ayat
(2) menerangkan tentang penegasan batas daerah dilakukan dengan prinsip
geodesi dan hidrografi. Dalam lampiran, prinsip geodesi dilakukan dengan
menggunakan GPS dalam pengukurannya. Sedang, prinsip hidrografi
dilakukan dengan survei batimetri dan pengukuran pasang surut. Hanya
saja, pada prinsip hidrografi yaitu survei batimetri dan pengukuran pasang
surut tidak dijabarkan mengenai cara dan teknis pengukurannya. Akan lebih
baik dan jelas jika dalam lampiran Permndagri ini, hal tersebut juga
ditampilkan.

Pasal (11), berisikan tentang tahapan penelitian dokumen, yaitu meliputi


penelitian dokumen dari peraturan perudang-undangan tentang
pembentukan daerah dan dokumen lainnya yang disepakati daerah yang
bersangkutan. Secara umum tidak ada masalah di pasal ini.

Pasal 12, terdiri dari dua ayat, ayat (1) pelacakan batas dilakukan untuk
menentukan titik acuan di lapangan, yang digunakan sebagai titik kontrol
dalam penentuan batas di laut. Ayat (2) menerangkan tentang penentuan
titik acuan di lapangan berdasarkan pada peta dasar. Dalam lampiran tidak
disebutkan peta dasar apa yang digunakan, apakah peta rupa bumi, peta
bathimetri atau peta yang lain. Tidak pula disebutkan mengenai skala peta
yang digunakan. Semestinya, peta dasar yang digunakan beserta skala
petanya dicantumkan dalam Permendagri ini, sehingga bisa lebih jelas.

6
Pasal 13, tentang pemasangan pilar acuan sebagai acuan untuk
menentukan titik pangkal dan titik batas, dalam lampiran disebutkan,
penentuan titik pangkal dan garis pangkal dilakukan dengan survei
batimetri dan pengukuran pasang surut. Secara umum, pada pasal ini tidak
ada masalah.

Pasal 14, terdiri dari tiga ayat, berisi tentang penentuan titik pangkal dan
garis pangkal diperoleh dari survei hidrografi atau peta laut skala terbesar
yang tersedia. Tidak disebutkan survei hidrografi apa yang dilakukan,
apakah menggunakan satelit, menggunakan alat ukur terestris (rambu
ukur) atau menggunakan sonar. Semestinya metode survei hidrografi
disebutkan agar menjadi lebih jelas. Selanjutnya menjelaskan tentang
penentuan garis pangkal. Secara umum tidak ada permasalahan terhadap
hal ini.

Pasal 15 terdiri dari dua ayat, berisi tentang pengukuran dan penentuan
batas daerah di wilayah laut menggunakan garis pangkal, selanjutnya
menjelaskan tentang metode pengukuran dan penentuan batas antardaerah
di wilayah laut. Penentuan batas antardaerah (provinsi dan kabupaten/kota)
pada wilayah laut menggunakan prinsip sama jarak (equidistant line) serta
metode garis tengah (median line). Prinsip sama jarak dilakukan jika daerah
yang akan ditentukan batasnya merupakan daerah yang berdampingan
(adjacent), sedang metode garis tengah dilakukan jika daerah yang akan
ditentukan batasnya merupakan daerah yang berseberangan (opposite).
Gambar 1 dan 2 menampilan penarikan garis tengah dan sama jarak.
DAERAH A

DAERAH A

DAERAH B DAERAH B

Gambar 1. Garis tengah (Median line), Gambar 2. Garis sama jarak (equidistant line),
(Permendagri No. 1/2006) (Permendagri No. 1/2006)

Pasal 16, pembuatan peta batas, dilakukan dengan menggunakan metode


kompilasi dan atau penurunan dari peta laut yang tersedia, pemetaan
terestris atau pemetaan fotogrameris. Tidak ada masalah dalam pasal ini.

3.3 Bab III tentang Tim Penegasan Batas Daerah


Pasal 18, terdiri dari tiga ayat. Ayat (1) berisi tentang harus adanya Tim
Penegasan Batas Daerah yang akan melakukan penegasan daerah. Tim
Penegasan Batas Daerah ini terdiri dari tiga tingkatan, yaitu Tim Penegasan
Batas Daerah Tingkat Pusat, Tim Penegasan Batas Daerah Provinsi, dan Tim
Penegasan Batas Daerah Kabupaten/Kota. Ayat (3) mengatur tentang
penetapan Tim Penegasan Batas Daerah ini yang masing-masing ditetapkan
oleh Menteri Dalam Negeri untuk tingkat pusat, Gubernur untuk provinsi,
dan Bupati/Walikota untuk tingkat kabupaten/kota.

7
Mengenai tugas dari Tim Penegasan Batas Daerah ini, baik tingkat pusat
maupun provinsi dan kabupaten/kota telah dijelaskan secara detil pada
lampiran Permendagri. Unsur-unsur penyusun Tim Penegasan Batas Daerah
ini juga telah disebutkan dalam lampiran tersebut yaitu terdiri dari
pemerintah daerah, instansi terkait, tokoh masyarakat, dan perguruan
tinggi. Namun yang menjadi masalah adalah tidak ada persyaratan
spesifikasi kompetensi teknis yang harus dimiliki oleh masing-masing
anggota dari tim, yang nantinya terkait dengan tugas masing-masing
anggota tim dalam melakukan penentuan batas. Representasi jumlah
personil dari masing-masing unsur dalam tim ini juga belum diatur.

Untuk lebih baiknya, dalam lampiran disertakan jumlah pasti dari Tim
Penegasan Batas Daerah ini beserta asal instansinya. Instansi yang terkait
hendaknya disebutkan secara eksplisit sehingga pendefinisian dari tim ini
bisa lebih jelas.

Yang tidak kalah penting dalam pembentukan tim ini adalah, seharusnya
ada persyaratan spesifikasi kompetensi teknis yang harus dimiliki oleh tiap-
tiap anggota dari tim ini, karena nantinya tim ini bertugas melakukan
penegasan batas daerah yang prosesnya dimulai dari penelitian dokumen
sampai dengan pembuatan peta batas daerah dengan ketelitian tertentu
dan pengerjaannya harus menggunakan prinsip-prinsip geodesi dan
hidrografi. Misalnya disyaratkan di dalam tim ini harus ada sarjana geodesi
atau hidrografi yang terlibat. Kalaupun pekerjaan lapangan dalam
penegasan batas wilayah ini akan diserahkan kepada tim teknis tertentu,
maka spesifikasi kompetensi dari tim teknis ini juga harus dijelaskan. Semua
ini dilakukan untuk meminimalisasi kesalahan yang mungkin timbul dalam
proses penegasan batas wilayah.

3.4 Bab IV tentang Keputusan Penegasan Batas Daerah

Pasal 19, terdiri dari tiga ayat. Berisi tentang keputusan penegasan batas
daerah yang harus ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setelah ada
verifikasi dari Tim Penegasan Batas Daerah Tingkat Pusat. Dalam keputusan
ini harus memuat peta batas. Secara umum tidak ada masalah ataupun
kerancuan dalam Bab IV ini.

3.5 Bab V tentang Fasilitasi Perselisihan Batas Daerah

Bab ini terdiri dari satu pasal, yakni pasal 20 yang terdiri dari dua ayat. Pada
intinya berisi tentang fasilitasi perselisihan batas antarkabupaten/kota
dalam satu provinsi yang dilakukan oleh gubernur, jika ada perselisihan
batas antarprovinsi atau antarkabupaten/kota yang berbeda provinsi,
fasilitasi dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri.

Perselisihan batas daerah, baik batas antarkabupaten/kota ataupun


antarprovinsi sangat dimungkinkan akan mengarah kepada hal yang
bersifat teknis. Oleh karena itu akan lebih baik jika dalam Permendagri ini
juga ditambahkan tentang tenaga ahli yang bertugas dalam fasilitasi
perselisihan tersebut. Tenaga ahli tersebut dapat berasal dari instansi atau
perguruan tinggi yang mengerti tentang aspek teknis penegasan batas
daerah. Dengan adanya tenaga ahli dalam tim fasiltator perselisihan batas

8
daerah, akan lebih mempermudah dalam penyelesaian perselisihan batas
daerah tersebut, baik batas antarkabupaten/kota maupun antarprovinsi.

3.6 Bab VI tentang Pembiayaan

Pasal 21, menyatakan bahwa pembiayaan dalam seluruh rangkaian


kegiatan penegasan batas daerah, diambil dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan didukung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah. Tidak ada masalah dalam pasal ini.

3.7 BAB VII tentang Ketentuan Lain-lain

Pasal 22, menyatakan bahwa penegasan batas daerah yang berbatasan


dengan negara lain berpedoman pada batas negara Republik Indonesia dan
berpedoman pada perjanjian antara Republik Indonesaia dengan negara
yang bersangkutan. Tidak ada masalah berkaitan dengan pasal ini.

3.8 Bab VIII tentang Ketentuan Penutup

Pasal 23, berisi pedoman teknis penegasan batas daerah terdapat dalam
lampiran Permendagri.
Pasal 24, berisi penjelasan bahwa Permendagri No. 1/2006 ini berlaku sejak
ditetapkan, yaitu tanggal 12 Januari 2006.

3.9 Lampiran Permendagri No. 1/2006

Lampiran Permendagri No. 1/2006 berisi tentang pedoman teknis dalam


penegasan batas daerah dan penjelasan pasal dalam Permendagri. Pada
bagian awal lampiran, disebutkan definisi-definisi teknis/geodetis.

Salah satu bentuk obyek buatan manusia untuk menegaskan batas daerah
adalah dengan pilar batas. Pilar Batas sendiri terdiri dari tiga macam, yaitu
Pilar Batas Utama (PBU), Pilar Batas Antara (PBA) dan Pilar Kontrol Batas
(PKB). Selain itu, terdapat empat tipe pilar batas yang masing-masing tipe
tersebut sesuai dengan tingkat luasan daerahnya, yakni provinsi,
kabupaten/kota, kecamatan dan desa. Pada kasus ini, terdapat sebuah
permasalahan terkait dengan kerapatan pilar batas utama. Dalam lampiran
Permendagri disebutkan, untuk batas provinsi yang mempunyai potensi
tinggi, kerapatan pilar tidak melebihi 3-5 km, sedangkan untuk batas
provinsi yang kurang potensi, kerapoatannya 5-10 km. Begitu pula untuk
batas kabupaten/kota, kabupaten/kota yang mempunyai potensi tinggi
kerapatan pilar tidak melebihi 1-3 km, yang kurang berpotensi, kerapatan
pilar 3-5 km. Pada batas desa/kecamatan yang berpotensi tinggi, kerapatan
pilar 0,5-1 km, yang kurang berpotensi, kerapatan pilar 1-3 km.

Di sinilah letak permasalahannya, dalam Permendagri ini tidak disebutkan


kriteria daerah (provinsi, kabupaten/kota dan desa/kecamatan) yang
tergolong dalam potensi tinggi maupun kurang berpotensi. Karena kata
Potensi pun sebenarnya mempunyai banyak makna, bisa bermakna potensi
daerah secara umum, potensi ekonomi, potensi lahan, potensi bencana, dan
sebagainya. Oleh karena itu, akan lebih baik jika ada definisi yang jelas
berkenaan dengan kata potensi pada lampiran Permendagri ini.

9
Pada bagian batas laut, disebutkan dalam Permendagri ini bahwa
penentuan batas laut berdasarkan dari titik awal. Dalam hal ini ada
perbedaan istilah, dalam beberapa literatur, UNCLOS misalnya, titik awal
didefinisikan dalam Bahasa Inggris basepoint, kemudian dalam beberapa
peraturan, salah satunya PP No. 38/2002 diartikan sebagai titik pangkal.
Untuk itu, akan lebih efektif jika ada penyeragaman istilah, menggunakan
istilah yang biasa digunakan, yaitu titik pangkal, sehingga tidak ada lagi
kerancuan akan hal tersebut. Titik pangkal/awal mengacu pada UU. No
32/2004, yakni merupakan titik perpotongan antara garis air terendah
dengan garis pantainya. Selanjutnya, pada poin berikutnya, terdapat
kerancuan lagi terkait dengan bahsa teknis, yakni garis dasar. Dalam
UNCLOS, garis dasar didefinisikan (dalam Bahasa Inggris) sebagai baseline,
dalam peraturan yang lain (PP No. 38/2002 misalnya) baseline didefinisikan
sebagai garis pangkal. Oleh karena itu, lebih efektif jika ada penyeragaman
istilah terkait dengan hal ini menggunakan istilah yang umum, yaitu garis
pangkal (IHO, 2006).

Dalam bagian penetapan batas daerah di laut, terdapat satu permasalahan,


yaitu berkenaan dengan penarikan garis sejajar dengan garis pangkal yang
berjarak 12 mil laut atau sepertiganya. Jika garis sejajar itu untuk menandai
klaim wilayah laut, maka ada bagian yang dirasa kurang tepat. Sebeb,
dalam penarikan garis klaim wilayah laut, penarikan garisnya adalah
dengan membuat busur lingkaran (arcs of circle) sepanjang 12 mil laut atau
sepertiganya pada masing-masing titik pangkal, kemudian dari hasil
penarikan busur pada tiap-tiap titik pangkal dihubungkan, dan menjadi
sebuah klaim wilayah laut (IHO, 2006).

4. Kesimpulan dan Saran


Dari kajan secara rinci terhadap isi pasal demi pasal yang sudah dilakukan
dalam Permendagri No. 1/2006, terutama pada hal yang berkaitan dengan
teknis/geodetis, maka dapat dismpulkan beberapa hal, di antaranya :
1. Sebagian besar isi dari Permendagri No. 1/2006 semestinya direvisi,
sebab terdapat beberapa pengertian dan metode yang tidak sesuai
dengan kaidah teknis/geodetis, selain itu beberapa di antaranya
mengandung pengertian teknis yang berbeda. Mekanisme revisi
Permendagri diserahkan kepad pihak yang berwenang, yaitu dalam
hal ini Menteri Dalam Negeri.
2. Usulan revisi dapat dilihat pada bagian lain dari tulisan ini, yaitu pada
bagian kajian rinci pasal demi pasal (bagian tiga).

Saran yang dapat diberikan yaitu :


1. Dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, sebaiknya perlu
diperhatikan mengenai kaidah-kaidah yang bisa digunakan dalam
bidang tersebut.
2. Peraturan yang lebih bersifat pedoman teknis semestinya dapat
mudah dimengerti dan mudah untuk dilakukan, dalam hal ini tidak
ada ambigutitas dalam aspek teknis/geodetis.

DAFTAR PUSTAKA

10
Arsana, I. M. A., 2005, Menetapkan Kewenangan Daerah di Wilayah Laut
Sebuah PR dalam Pilkada 2005,
http://www.kompas.com/kompas-
cetak/0506/23/ilpeng/1823809.htm, (akses tanggal 27
September 2007).
Djunarsjah, E., 2007, Kajian Aspek Teknis Terhadap PP No. 38 Tahun 2002
Tentang Daftar Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal
Kepulauan Indonesia, Jurnal Geoid ITS Surabaya.
IHO., 2006, A Manual on Technical Aspects of the United Nation Convention on the
Law of th Sea – 1982, Special Publication No. 51 (Edisi IV), International
Hydrographic Bureau, Monaco.
Riyadi, G., 1994, Visualisasi Kartografi, Jurusan Teknik Geodesi UGM, Yogyakarta.
U.N., (1983), United Nations Convention on the Law of the Sea (UNLOS).
Wojowasito, S., dan Poerwadarminta, W.J.S., 1980, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia,
Indonesia-Inggiris, Hasta, Bandung

11